CONTRACTOR SAFETY MANAGEMENT SYSTEM
2025
AGENDA
INTRODUCTION
✓LATAR BELAKANG
✓DEFINISI
✓DASAR HUKUM
✓TUJUAN CSMS
✓TAHAPAN CSMS
• TAHAP KUALIFIKASI
• TAHAP IMPLEMENTASI
Fajar Nur Rahman
HSSE Officer
Bekerja di bidang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) mulai dari tahun 2017.
Berpengalaman dalam aspek HSSE kurang
lebih 8 tahun di sektor Konstruksi Bangunan
Gedung dan Industri Minyak & Gas.
0811 777 001
@fajaaar_nr
Fajar Nur Rahman
LATAR BELAKANG
▪ Kontraktor merupakan unsur penting dalam
perusahaan sebagai mitra yang membantu
kegiatan operasi perusahaan :
• Kontraktor Konstruksi
• Kontraktor Jasa
• Kotraktor Operasi
• Dll
▪ Kontraktor rawan terhadap kecelakaan dalam
menjalankan kegiatan pekerjaannya, karena :
• Tenaga kontraktor bersifat sementara
• Pekerja kasar dan status pendidikan kurang
• Tingkat disiplin dalam bekerja kurang
• Pemahaman peraturan K3L masih kurang
DEFINISI
Contractor Safety Management System (CSMS) adalah Sistem Manajemen Kesehatan
Keselamatan Kerja (SMK3) yang diterapkan kepada kontraktor, vendor dan supplier yang
bermitra dengan perusahaan, merupakan sistem komprehensif dalam pengelolaan
kontraktor sejak tahap perencanaan sampai pelaksanaan pekerjaan dengan
menghubungkan Sistem Manajemen K3 perusahaan dengan sistem manajemen K3
kontraktor.
CSMS ini sangat penting bagi perusahaan untuk membantu pihak K3 dan pengguna jasa
dalam mempersiapkan proses seleksi awal sebelum para
kontraktor, vendor dan supplier melakukan pekerjaan di lingkungan mereka, di mana
para pihak ketiga harus mematuhi dan mengikuti peraturan sistem manajemen yang
dianut oleh perusahaan tersebut.
DASAR HUKUM
➢ UU No. 1/1970 (Perusahaan bertanggung jawab menjamin keselamatan setiap orang yang berada di
tempat kerjanya).
➢ Permenaker 5/1996 (Simtem Manajemen K3 / Perencanaan SMK3)
➢ UU No. 13/2003 (Setiap perusahaan wajib menerapkan SMK3 yang terintegrasi dengan majamen
perusahaan).
➢ ISO 45001 Standard for Occupational Health and Safety Management System (Elemen 4 – Elemen 10)
➢ ILO Tahun 2001 (Perencanaan dan Implementasi K3)
➢ PP No. 50/2012 (SMK3)
Elemen 3.2. Peninjauan Ulang Kontrak
321. Prosedur yang terdokumentasi harus mampu mengidentifikasi dan menilai potensi bahaya keselamatan dan Kesehatan kerja
tenaga kerja, lingkungan dan masyarakat, dimana prosedur tersebut digunakan pada saat memasok barang dan jasa dalam
suatu kontrak.
322. Indentifikasi Bahaya, dan penilaian risiko dilakukan pada tahap tinjauan ulang kontrak oleh personel yang berkompeten.
323. Kontrak-kontrak ditinjau ulang untuk menjamin bahwa pemasok dapat memenuhi persyaratan keselamatan dan Kesehatan
kerja bagi pelanggan.
324. Catatan tinjau ulang kontrak dipelihara dan didokumentasikan.
TUJUAN CSMS
Bagi Perusahaan
✓ Untuk meyakinkan bahwa kontraktor yang bekerja di lingkungan perusahaan
telah memenuhi standar dan kriteria K3 yang ditetapkan perusahaan.
✓ Sebagai alat untuk menjaga dan meningkatkan kinerja K3 di lingkungan
kontraktor
✓ Untuk mencegah dan menghindarkan kerugian yang timbul akibat aktivitas
kerja kontraktor
Bagi Kontraktor, Vendor & Supplier
✓ Sebagai Syarat untuk dapat lolos prakualifikasi di Perusahaan pemilik proyek
✓ Meningkatkan profit perusahaan.
✓ Mengurangi angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
✓ Membangun citra positif perusahaan
TAHAPAN CSMS
ADA 6 LANGKAH PELAKSAN AAN CSMS YANG TERBAGI MENJADI 2 TAHAP :
Risk Pra- Pre Job- Work in Final
Seleksi
Assessment Kualifikasi Activity Progress Evaluation
TAHAP KUALIFIKASI TAHAP IMPLEMENTASI
1 Risk Assessment (Penilaian Resiko)
Pada langkah awal prosedur CSMS ini, perusahaan akan mengkaji seberapa
besar risiko pekerjaan yang akan dikontrakkan terhadap keselamatan
manusia, peralatan/aset, lingkungan hidup dan citra perusahaan.
Setiap jenis pekerjaan yang akan dikontrakkan harus dikaji risikonya dan untuk
menentukan kategorinya menjadi :
• Risiko Rendah (Low Risk)
• Risiko Menengah (Medium Risk)
• Risiko Tinggi (High Risk)
1 Risk Assessment (Penilaian Resiko)
Hal-hal yang mempengaruhi penilaian risiko mengacu kebeberapa faktor, antara lain :
1. Jenis / Sifat Pekerjaan
2. Lokasi Pekerjaan
3. Bahan / Material / Peralatan Yang Digunakan
4. Potensi Pemaparan Terhadap Bahaya Di Tempat Kerja
5. Potensi Bahaya Yang Dapat Memapari Bagi Semua Pekerja
6. Pekerjaan Simultan Operation / Dilaksanakan Oleh Beberapa
Kontraktor
7. Lamanya Pekerjaan
8. Potensi Terjadi Insiden
9. Pengalaman & Keahlian Kontraktor
[Link] Dampak Sosial & Lingkungan Yang Negatif
1 Risk Assessment (Penilaian Resiko)
PENENTUAN TINGKAT RISIKO
• Penentuan Tingkat Risiko dimulai dengan menilai
dengan Matriks Penilaian Risiko dari pekerjaan yang
dilakukan. Mengalikan antara tingkat keparahan
(konsekuensi) dan kemungkinan (probabilitas) yang
dapat terjadi untuk memunculkan angka dari tingkat
risiko dari pekerjaan tersebut.
• Model Matriks menyesuaikan dengan standar yang
digunakan oleh masing-masing perusahan
• Output dari penilaian ini adalah mengetahui
Kategori Risiko dari Pekerjaan yang akan dilakukan
• Tim yang melaksanakan Penetapan Risiko adalah
berasal dari user (fungsi pengguna barang/jasa) dan
dibantu fungsi HSE
2 Pra-Kualifikasi
• Pra-Kualifikasi adalah proses yang terpenting dari CSMS, dimana pada proses ini adalah
penyeleksian kontraktor potensial yang memiliki kemampuan untuk mengelola risiko
pekerjaan yang akan dikontrakan dengan menerapkan Sistem Manajemen HSE secara
konsisten.
• Proses pra-kualifikasi CSMS harus diikuti oleh semua kontraktor yang akan menjadi
kontraktor/mitra kerja Perusahaan, dengan mengisi jawaban dari daftar pertanyaan
Kualifikasi CSMS, dan harus disertai dengan lampiran bukti yang mendukung
implementasinya.
• Daftar pertanyaan & checklist dokumen sebagai persyaratan kualifikasi ditentukan sesuai
acuan standart perusahaan masing-masing.
2 Pra-Kualifikasi
Daftar periksa Pra-Kualifikasi terdiri dari beberapa penilaian, diantaranya :
➢ Kepemimpinan & Komitmen Manajemen
➢ HSE Performance
➢ Pelatihan HSE
➢ Inspeksi & Audit
➢ Accident & Incident Investigation
➢ Emergency Drills
3 Seleksi
• Seleksi bertujuan untuk memilih kontraktor terbaik diantara mereka yang mengikuti tender
yang memenuhi persyaratan aspek HSE yang diisyaratkan pada proses tender oleh Perusahaan
(Pemberi Kerja).
• Pada proses seleksi, Perusahaan (Pemberi Kerja) akan meminta penjelasan kepada kontraktor
peserta tender untuk menjelaskan tentang HSE Plan yang mereka buat untuk pekerjaan yang
ditenderkan.
• Setelah proses seleksi dilaksanakan, hasil seleksi dan rekomendasi terhadap persyaratan HSE Plan
Kontraktor calon pemenang tender akan diteruskan ke Fungsi Pengadaan untuk menentukan
calon pemenang tender dan kemudian Pejabat Perusahaan (Pemberi Kerja) akan
menandatangani kontrak tersebut.
3 Seleksi
Daftar periksa Seleksi terdiri dari beberapa penilaian, diantaranya :
➢ Kepemimpinan & Komitmen Manajemen
➢ HSE Performance
➢ Pelatihan HSE
➢ Inspeksi & Audit
➢ Accident & Incident Investigation
➢ Emergency Drills
3 Seleksi
• Dalam proses seleksi, sistem pembobotan sering digunakan untuk pertimbangan
diterima atau tidaknya penawaran. Nilai HSE Plan harus memenuhi skor atau nilai
minimal yang telah ditentukan.
• Bila diperlukan, perusahaan dapat melakukan pemeriksaan lapangan dan audit terhadap
dokumen HSE Plan yang disampaikan dalam dokumen penawaran untuk
membandingkan dengan kesiapan kontraktor dilapangan.
4 Pre-Job Activity
Pre-Job Activity adalah tahapan komunikasi awal antara Pemberi Kerja (Perusahaan)
dengan Konraktor. Pre-Job Activity terdiri dari 2 tahapan yaitu Pra-Mobilisasi dan Mobilisasi.
1. Pra-Mobilisasi
Pra-Mobilisasi adalah tahap evaluasi terakhir sebelum pekerjaan dimulai, dimana
Perusahaan dan Kontraktor bersama-sama mereview kembali aspek HSE. Tahap ini juga
untuk memastikan HSE Plan, Risk Assessment dan Aspek EPC (Engineering,
Procurement, Construction) sudah dikomunikasikan dan dipahami oleh semua bagian
agar pekerjaan dimulai dengan awal yang mulus.
4 Pre-Job Activity
Tahap Pra-Mobilisasi terdiri dari:
KICK OFF MEETING HSE SITE ORIENTATION INSPECTION & AUDIT
4 Pre-Job Activity
2. Mobilisasi
Mobilisasi dapat dilakukan setelah semua aspek HSE dari Pre-Job Activity sudah
dipenuhi dan dikomunikasikan antara Perusahaan dan Kontraktor. Tahap Mobilisasi
terdiri dari:
✓ Mobilisasi Personnel
✓ Mobilisasi Peralatan
✓ Mobilisasi Material
5 Work in Progress
Work in Progress merupakan tahapan untuk memastikan pekerjaan yang dilakukan oleh
Kontraktor telah sesuai dengan HSE Plan yang disepakati. Untuk itu Pemberi Kerja
(Perusahaan) akan melakukan kunjungan dan evaluasi secara langsung dilapangan melalui
aktivitas inspeksi. Hasil temuan pada aktivitas inspeksi harus segera diperbaiki dan
ditindaklanjuti oleh Kontraktor dengan batas waktu yang telah disepakati. Evaluasi yang
dilakukan pada Work in Progress merupakan evaluasi sementara berdasarkan HSE Plan
yang disepakati dengan aktivitas evaluasi yang terdiri dari:
➢ Kepemimpinan & Komitmen Manajemen
➢ HSE Performance
➢ Pelatihan HSE
➢ Inspeksi & Audit
➢ Accident & Incident Investigation
➢ Emergency Drills
6 Final Evaluation
Final Evaluation harus dilaksanakan oleh Pemberi Kerja (Perusahaan) segera setelah
pekerjaan selesai dilaksanakan dan sebelum kontrak berakhir, sebagai feedback untuk
Pemberi Kerja (Perusahaan) maupun pihak Kontraktor terkait dengan kinerja HSE selama
pelaksanaan pekerjaan dan untuk perbaikan pada pekerjaan yang akan datang.
Final Evaluation dilakukan berdasarkan pada : FINAL
✓ HSE Plan yang telah disepakati sebelumnya. EVALUATIOAN
✓ Penerapan HSE Plan oleh Kontraktor selama tahapan Pre Job
Activity dan Work in Progress.
✓ Pencapaian Indikator Kinerja HSE Kontraktor.
✓ Tanggapan terhadap Kontraktor melalui perbaikan dan tindak
lanjut hasil temuan selama pelaksanaan pekerjaan.
Hasil dari Final Evaluation tersebut akan digunakan sebagai dasar dalam menentukan
penghargaan atau sanksi yang akan diberikan oleh Pemberi Kerja (Perusahaan) kepada
Kontraktor.
Perusahaan memiliki tanggungjawab dan kewajiban dalam melakukan
pengelolaan K3 pada Kontraktor di bawahnya agar menerapkan kaidah-kaidah
K3 untuk menjaga seluruh pekerja tetap aman dan selamat selama bekerja.
0811 777 001 @fajaaar_nr Fajar Nur Rahman
TERIMA KASIH
2025