0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan23 halaman

Asuhan Keperawatan Patent Ductus Arteriosus

Makalah ini membahas tentang Patent Ductus Arteriosus (PDA), yaitu kelainan jantung kongenital yang terjadi akibat kegagalan penutupan ductus arteriosus setelah kelahiran. PDA dapat menyebabkan aliran darah dari aorta ke arteri pulmonalis, yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius seperti gagal jantung kongestif dan infeksi. Tujuan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang konsep medis dan asuhan keperawatan terkait PDA pada anak.

Diunggah oleh

fangkaniuflapu121
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan23 halaman

Asuhan Keperawatan Patent Ductus Arteriosus

Makalah ini membahas tentang Patent Ductus Arteriosus (PDA), yaitu kelainan jantung kongenital yang terjadi akibat kegagalan penutupan ductus arteriosus setelah kelahiran. PDA dapat menyebabkan aliran darah dari aorta ke arteri pulmonalis, yang berpotensi menimbulkan komplikasi serius seperti gagal jantung kongestif dan infeksi. Tujuan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang konsep medis dan asuhan keperawatan terkait PDA pada anak.

Diunggah oleh

fangkaniuflapu121
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

PATENT DUCTUS ARTERIOUS

OLEH

NAMA- NAMA ANGGOTA KELOMPOK :

1. WULAN I. LUDJI/ 201302722


2. YOLI E. DETHAN/ 201402722
3. YUFRINA ASBANU/ 201502722

SEMESTER/ KELAS : V/B


MATA KULIAH : KEPERAWATAN ANAK

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MARANATHA

KUPANG

2024
Kata pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan berkatnya kami
dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “MAKALAH ASUHAN
KEPERAWATAN PATENT DUCTUS ARTERIOUS” dengan tepat waktu makalah
ini di susun untuk memenuhi tugas yang di berikan. Selain itu, makalah ini bertujuan
menambah wawasan bagi para pembaca.

Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu di


selaikan makala ini. Kami menyadari makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh sebab
itu, saran dan kritik yang membangun di harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Penulis

Kupang , Desember 2024


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Duktus Arteriosus adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI
pada janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens.
Pada bayi normal duktus tersebut menutup secara fungsional 10 – 15 jam
setelah lahir dan secara anatomis menjadi ligamentum arteriosum pada usia 2 –
3 minggu. Bila tidak menutup disebut Duktus Arteriosus Persisten (Persistent
Ductus Arteriosus : PDA).
Kegagalan penutupan ductus anterior (arteri yg menghubngkn aorta &
arteri pulmonalis) dalam minggu I kelahiran selanjutnya terjadi patensy /
persisten pada pembuluh darah yang terkena aliran darah dari tekanan > tinggi
pada aorta ke tekanan yg > rendah di arteri pulmonal à menyebabkan Left to
Right Shunt.
Penyakit jantung kongenital atau penyakit jantung bawaan adalah
sekumpulan malformasi struktur jantung atau pembuluh darah besar yang telah
ada sejak [Link] jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan
pada bayi dan anak. Apabila tidak dioperasi, kebanyakan akan meninggal
waktu bayi. Apabila penyakit jantung bawaan ditemukan pada orang dewasa,
hal ini menunjukkan bahwa pasien tersebut mampu melalui seleksi alam, atau
telah mengalami tindakan operasi dini pada usia muda.( Carpenito, Lynda
Juall, 2021).
Ductus Arteriosus adalah saluran yang berasal dr arkus aorta VI pada janin
yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta descenden. Bayi normal
menutup secara fungsional 10-15 jam setelah lahir secara anatomis mjd
ligamentum arteriosum usia 2-3 mgg. Jika tidak menutup PDA.

Patent Ductus Arteriosus (PDA) atau Duktus Arteriosus Paten (DAP)


adalah kelainan jantung kongenital (bawaan) dimana tidak terdapat penutupan
(patensi) duktus arteriosus yang menghubungkan aorta dan pembuluh darah
besar pulmonal setelah 2 bulan pasca kelahiran bayi. Biasanya duktus
arteriosus akan menutup secara normal dalam waktu 2 bulan dan
meninggalkan suatu jaringan ikat yang dikenal sebagai ligamentum
arteriosum. PDA dapat merupakan kelainan yang berdiri sendiri (isolated),
atau disertai kelainan jantung lain.

B. Rumusan masalah
1. Bagaimana konsep medis dari Patent Ductus Arterious (PDA) ?
2. Bagaimana konsep asuhan keperawatan mengenai Patent Ductus Arterious
(PDA) ?

C. Tujuan
Agar mahasiswa lebih mengetahui bagaimana konsep medis maupun
asuhan keperawatan dari Patent Ductus Arterious (PDA) pada anak.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus
(arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama
kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan
tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. (Suriadi, Rita Yuliani,
2021,)
Patent Duktus Arteriosus (PDA) adalah tetap terbukanya duktus arteriosus
setelah lahir, yang menyebabkan dialirkannya darah secara langsung dari aorta
(tekanan lebih tinggi) ke dalam arteri pulmoner (tekanan lebih rendah). (Betz
& Sowden, 2019)

B. Anatomi Fisiologi
Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran
darah pulmonal (arteri pulmonalis) ke aliran darah sistemik (aorta) dalam
masa kehamilan (fetus). Hubungan ini (shunt) diperlukan oleh karena sistem
respirasi fetus yang belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut. Aliran
darah balik fetus akan bercampur dengan aliran darah bersih dari ibu (melalui
vena umbilikalis) kemudian masuk ke dalam atrium kanan dan kemudian
dipompa oleh ventrikel kanan kembali ke aliran sistemik melalui duktus
arteriosus, dan hanya sebagian yang diteruskan ke paru.
Duktus Arteriosus adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI pada
janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens. Pada
bayi normal duktus tersebut menutup secara fungsional 10 – 15 jam setelah
lahir dan secara anatomis menjadi ligamentum arteriosum pada usia 2 – 3
minggu. (Buku ajar kardiologi FKUI, 2018 )
Dinding duktus arteriosus terutama terdiri dari lapisan otot polos (tunika
media) yang tersusun spiral. Diantara sel-sel otot polos terdapat serat-serat
elastin yang membentuk lapisan yang berfragmen, berbeda dengan aorta yang
memiliki lapisan elastin yang tebal dan tersusun rapat (unfragmented). Sel-sel
otot polos pada duktus arteriosus sensitif terhadap mediator vasodilator
prostaglandin dan vasokonstriktor (pO2). Setelah persalinan terjadi perubahan
sirkulasi dan fisiologis yang dimulai segera setelah eliminasi plasenta dari
neonatus. Adanya perubahan tekanan, sirkulasi dan meningkatnya pO2 akan
menyebabkan penutupan spontan duktus arteriosus dalam waktu 2 minggu.

Diagram skematik pirau aliran darah kiri ke kanan dari aorta desendens
melalui paten ductus arteriosus ke arteri pulmonalis utama.

Diagram yang menggambarkan paten ductus arteriosus


Diagram yang menggambarkan ligasi paten ductus arteriosus

Diagram menunjukkan pembagian dan pengawasan paten ductus arteriosus

Diagram yang menggambarkan penutupan patch paten ductus arteriosus

C. Etiologi
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui
secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada
peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan :
a. Faktor Prenatal :
• Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella.
• Ibu alkoholisme, peminum obat penenang atau jamu
• Umur ibu lebih dari 40 tahun.
• Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan
insulin.
b. Faktor Genetik :
• Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
• Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.
• Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
• Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.
(Suriadi, Rita Yuliani, 2021)

D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis PDA pada bayi prematur sering disamarkan oleh
masalah-masalah lain yang berhubungan dengan prematur (misalnya sindrom
gawat nafas).Tanda-tanda kelebihan beban ventrikel tidak terlihat selama 4 – 6
jam sesudah lahir. Bayi dengan PDA kecil mungkin asimptomatik, bayi dengan
PDA lebih besar dapat menunjukkan tanda-tanda gagal jantung kongestif
(CHF) diantaranya :
1. Kadang-kadang terdapat tanda-tanda gagal jantung.
2. Machinery mur-mur persisten (sistolik, kemudian menetap, paling nyata
terdengar di tepi sternum kiri atas).
3. Tekanan nadi besar (water hammer pulses) / Nadi menonjol dan meloncat-
loncat, Tekanan nadi yang lebar (lebih dari 25 mmHg).
4. Takhikardia (denyut apeks lebih dari 170), ujung jari hiperemik.
5. Resiko endokarditis dan obstruksi pembuluh darah pulmonal.
6. Infeksi saluran nafas berulang, mudah lelah.
a. Apnea dan Tachypnea.
b. Nasal flaring dan Retraksi dada.
c. Hipoksemia
Peningkatan kebutuhan ventilator (sehubungan dengan masalah paru).
Jika PDA memiliki lubang yang besar, maka darah dalam jumlah yang besar
akan membanjiri paru-paru. Anak tampak sakit, dengan gejala berupa:
1) Tidak mau menyusu
2) Berat badannya tidak bertambah
3) Berkeringat
4) Kesulitan dalam bernafas
5) Denyut jantung yang cepat.
Timbulnya gejala tersebut menunjukkan telah terjadinya gagal jantung
kongestif, yang seringkali terjadi pada bayi prematur.
(Doenges, M.E.,Moorhouse M.F.,Geissler A.C., 2020,).

E. Komplikasi
1. Endokarditis, merupakan gangguan yang terjadi karena adanya infeksi
pada lapisan jantung, yaitu endokardium.
2. Obstruksi pembuluh darah pulmonal
3. CHF merupakan kondisi saat jantung tidak mampu memompa darah
dalam jumlah yang cukup, terutama untuk memenuhi kebutuhan jaringan
terhadap oksigen dan nutrisi.
4. Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur)
5. Enterokolitis nekrosis merupakan penyakit usus yang terjadi pada bayi
yang menyebabkan jaringan usus neradang dan mati.
6. Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas
atau displasia bronkkopulmoner)
7. Perdarahan gastrointestinal (GI), penurunan jumlah trombosit
8. Hiperkalemia (penurunan keluaran urin.

F. Patofisiologi
Normalnya duktus arteriosis menutup pada saat kadar prostaglandin yang
di hasilkanplasenta menurun dan kadar oksigen meningkat. Proses penutupan
ini harus segera dimulai ketika bayi menarik nafas yang pertama tetapi bisa
saja memerlukan waktu 3 bulan pada beberapa anak.
Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran
darah pulmonal ke aliran darah sistemik dalam masa kehamilan (fetus).
Hubungan ini (shunt) ini diperlukan oleh karena sistem respirasi fetus yang
belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut. Pada saat lahir resistensi
dalam sirkulasi pulmonal dan sistemik hampir sama, persamaan tersebut juga
pada resistensi dalam aorta dan arteri pulmonalis. Karena tekanan sistemik
melebihi tekanan pulmonal, darah mulai mengalir dari aorta, melintasi ke
duktus ke arteri pulmonalis (left to right shunt) darah kembali bersirkulasi
melalui paru & turun ke atrium kiri ventrikel kiri pengaruh perubahan sirkulasi
meningkatkan kerja jantung bagian kiri meningkatkan kongesti pembuluh
darah pulmonal & memungkinkan resistensi meningkatkan tekanan ventrikel
kanan & hypertrofi. Jika duktus tetap terbuka, darah yang seharusnya mengalir
ke seluruh tubuh akan kembali ke paru-paru sehingga memenuhi pembuluh
paru-paru( Engram, Barbara, 2020,)
a. Mekanisme Sirkulasi Darah Janin
Dalam sistem perdarahan darah janin tidak hanya melibatkan pembuluh
dara saja tetapi juga melibatkan organ tubuh janin, sebagai berikut :
1) Plasenta, merupakan tempat terjadinya pertukaran darah bersih dengan
yang kotor.
2) Umbilikalis, mengalirkan darah dari plasenta ke janin dan dari janin ke
plasenta.
3) Hati, terdapatnya percabangan antara vena porta dengan duktus
venosus aranti.
4) Jantung, terdapatnya foramen ovale yang langsung menyalurkan darah
dari atrium dekstra ke atrium sinistra.
5) Paru- paru, terdapatnya duktus arteriosis bothali.
Mekanisme sirkulasi darah janin
Perdarahan darah janin digambarkan sebagai berikut :
Mula- mula darah yang kaya akan oksigen dana nutrisi yang berasal dari plasenta
masuk ke jaringan melalui vena umbilikus yang bercabang dua setelah memasuki
dinding perut, yaitu :
a. Cabang yang kecil bersatu dengan vena aorta, darahnya beredar dalam hati
dan kemudian diangkut melalui vena hepatika ke vena cava inferior.
b. Cabang satunya lagi duktus venosus arantii yang langsung masuk ke dalam
vena cava inferior. Darah dari vena cava inferior masuk ke atrium kanan dan
sebagian besar darah dari atrium kanan akan dialirkan ke atrium kiri melalui
foramen ovale. Sebagian kecil darah dari atrium kanan masuk ke ventrikel
kanan bersama- sama dengan darah yang berasal dari vena cava superior.
c. Darah dari ventrikel kanan ini dipompakan ke paru- paru yang mengembung
maka darah yang terdapat pada arteri pulmonalis sebagian akan dialirkan ke
aorta melalui duktus arteriosis bothali dan sebagian kecil akan menuju paru-
paru dan selnajutnya ka atrium sinistra melalui vena pulmonalis.
Sementara itu, darah yang terdapat pada atrium kiri kemudian dialirkan
ke ventrikel kiri dan diteruskan ke seluruh tubuh melalui aorta guna
memberikan oksigen dan nutrisi bagi tubuh bawah. Cabang aorta bagian
bawah ini menjadi 2 arteri hipograstika interna yang mempunyai cabang
arteri umbilikalis. Darah yang miskin nutrisi dan banyak karbondioksida
serta sisa metabolisme akan dikembalikan ke plasenta melalui arteri
umbilikalis ke plasenta melalui arteri umbilikalis untuk diteruskan ke ibu.

Mekanisme sirkulasi darah pada bayi baru lahir


Setelah janin dilahirkan, bayi menghisap udara dan meningkat kuat, hal ini
akan membuat paru- parunya mengembang, tekanan dalam paru- paru mengecil
dan darah akan terisap ke dalam paru- paru, dengan demikian duktus arteriosi
botali tidak berfungsi dan karena tekanan dalam atrium sinistra meningkat maka
foramen ovale akan tertutup dan menjadi tidak berfungsi lagi. Perubahan pasca
lahir :
1. Tahanan vascular paru menurun dana tahanan sistemik meningkat sehingga
aliran darah ke paru meningkat.
Ketika bayi menangis untuk pertama kalinya akan mengakibatkan paru-
paru berkembang, hal itu akan mengakibatkan tahanan vaskular paru
berkurang denganc epat tapi tidak segera diikuti penurunan tekanan arteri
pulmonalis. Penurunan tekanan arteri pulmonalis disebabkan perubahan
pada dinding arteriol paru.
2. Tahanan sistemik meningkat
Tekanan darah sistemik tidak segera meningkat tapi berangsur bahkan bisa
terjadi penurunan tekanan darah dulu dalam 24 jam pertama. Pengaruh
hipoksi disini tidak bermakna.
3. Penutupan duktus arterosus
Penutupan anatomis dimulai segera setelah lahir tapi penutupan sempurna.
Sebagian besar bayi baru terjadi setelah beberapa bulan. Pada sebagian
kecil sampai umur satu tahun.
4. Penutupan foramen ovale
Tidak menutup secara fungsional pada jam- jam pertama setelah lahir.
Pirau kanan ke kiri masih dapat terjadi 50% bayi yang menangis sampai
usia 8 hari paska lahir.
5. Penutupan duktus venosus
Bila semua perubahan fisiologis berlangsung normal maka sirkulasi ekstra
uterin yang terjadi akan berlangsung normal yaitu darah dari paru menuju
ka atrium kiri lalu ke ventrikel kiri selanjutnya menuju aorta ke seluruh
tubuh kemudian darah dari perifer melalui vena kava superior dan inferior
menuju atrium kanan, ventrikel kanan dan melalui arteri pulmonalis masuk
lagi ke dalam paru.

G. Pathway

Faktor genetik
Faktor parental
1. Ayah / Ibu menderita
1. Ibu menderita penyakit infeksi :
penyakit jantung bawaan.
Rubella.
2. Kelainan kromosom
2. Ibu alkoholisme
seperti Sindrom Down.
3. Umur ibu lebih dari 40 tahun
4. Ibu menderita penyakit Diabetes

Bayi lahir prematur

Kelainan Patent
ductus arteriosus
(PDA)
Darah pada aorta
melalui PDA
Aliran darah ke
(bertekanan )tinggi
sirkulasi sistemik
menurun

Shunting/pirau kiri ke
Stimulasi sistem saraf kanan (dari aorta ke Murmur sistolik
simpatik HR arteri pulmonalis)
meningkat

Aliran darah arteri Tekanan paru>aorta


Kerja vertrikel
pulmonalis
meningkat
meningkat

Beban vertikal
Aliran darah ke paru kanan meningkat
meningkat ( hipertensi
pulmonal )
Hipertropi vertikel
kanan
Aliran darah keatrium
Aliran
kiri darah melalui
meningkat ke
katup mitral
vebtrikel kiri Mk. Penurunan
curah jantung
Seolah-olah stenosis
Pencampuran darah yang
terogsingenasi dengan
darah yang belum
Mumur mid
diastolik

O2 dalam darah ke Kompensasi O2


sirkulasi sistemik dengan napas
menurun cepat

Takipnea

Respirasi anaerob
meningkat
Sianosis sentral
Mk. Gangguan Sesak napas
pola napas
Pembentukan energi Mk. Gangguan
menurun perfusi jaringan
Sulit makan
dan minum
Kelelahan
Nutrisi ke sel
menurun
Kurang aktif

BB dan BT
menurun
[Link]
aktifitas

Mk. Gangguan Mk. Defisit nutrisi


tumbuh
kembang

H. Pemeriksaan Diagnostik
1. Radiologi: foto rontgen dada hampir selalu terdapat kardiomegali.
2. Elektrokardiografi/EKG, rasio atrium kiri terhadap pangkal aorta lebih dari
1,3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih tinggi dari 1,0 pada bayi pratern
(disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai akibat darinpirau
kiri ke kanan)
3. Pemeriksaan dengan Doppler berwarna : digunakan untuk mengevaluasi
aliran darah dan arahnya.
4. Kateterisasi jantung, kateter tersebut akan melewati duktus dan masuk ke
dalam aorta desenden. Penyuntikan bahan kontraks ke dalam aorta asenden
memperlihatkan opasitas arteri pulmonalis berasal dari aorta dan dapat
mengenai duktus.
5. Pemeriksaan roengenografis, untuk memperlihatkan arteri pulmonalis
yang menonjol dan peningkatan tanda- tanda pembuluh darah paru.

I. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan pemberian obat-obatan :
Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan
diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskular, Pemberian
indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan
duktus, pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis
bakterial.
2. Pembedahan :Pemotongan atau pengikatan duktus.
3. Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu
kateterisasi jantung. (Betz & Sowden, 2020, Suriadi, Rita Yuliani, 2021).
4. Terapi profilaksis dengan antibiotik untuk melindungi bayi dari
endokarditis infeksiosa
5. Penanganan gagal jantung melalui pembatasan cairan, pemberian diuretic
dan digoksin.
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pemberian Asuhan Keperawatan merupakan proses terapeutik yang
melibatkan hubungan kerjasama dengan klien, keluarga atau masyarakat untuk
mencapai tingkat kesehatan yang optimal. ( Carpenito, 2021 ).
a. Anamnesa
1) Identitas ( Data Biografi)
Nama ,Umur,Jenis kelamin,Pendidikan,Pekerjaan,[Link]
2) Keluhan Utama
Pasien dengan PDA biasanya merasa lelah, sesak napas.
3) Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien PDA, biasanya akan diawali dengan tanda-tanda
respiratory distress, dispnea, tacipnea, hipertropi ventrikel kiri, retraksi
dada dan hiposekmia.
4) Riwayat penyakit terdahulu
Perlu ditanyakan apakah pasien lahir prematur atau ibu menderita
infeksi dari rubella.
5) Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit
PDA karena PDA juga bisa diturunkan secara genetik dari orang tua
yang menderita penyakit jantung bawaan atau juga bisa karena kelainan
kromosom.
6) Riwayat Psikososial
Meliputi tugas perasaan anak terhadap penyakitnya, bagaimana perilaku
anak terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya, perkembangan
anak, koping yang digunakan, kebiasaan anak, respon keluarga terhadap
penyakit anak, koping keluarga dan penyesuaian keluarga terhadap
stress.
b. Pengkajian fisik (ROS : Review of System)
1) Pernafasan B1 (Breath)
Nafas cepat, sesak nafas ,bunyi tambahan ( marchinery murmur),
adanyan otot bantu nafas saat inspirasi, retraksi.
2) Kardiovaskuler B2 ( Blood)
Jantung membesar, hipertropi ventrikel kiri, peningkatan tekanan darah
sistolik, edema tungkai, clubbing finger, sianosis.
3) Persyarafan B3 ( Brain)
Otot muka tegang, gelisah, menangis, penurunan kesadaran.
4) Perkemihan B4 (Bladder)
Produksi urine menurun (oliguria).
5) Pencernaan B5 (Bowel)
Nafsu makan menurun (anoreksia), porsi makan tidak habis.
6) Muskuloskeletal/integument B6 (Bone)
Kemampuan pergerakan sendi terbatas, kelelahan.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan Curah jantung b.d perubahan afterload ( D.0008)
2. Perfusi perifer tidak efektif b.d penurunan aliran darah dan atau/vena
(D.0009)
3. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh
tubuh dan suplai oksigen ke sel.(D.0056)
4. Gangguan tumbuh kembang b.d tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat
nutrisi ke jaringan.(D.0056)
5. Defisit nutrisi b.d kelelahan pada saat makan dan meningkatnya
kebutuhan kalori.(D.0019)
6. pola napas tidak efektif b.d hambatan upaya napas ([Link] saat
bernapas,kelemahan otot pernapasan)(D.0005)
C. Intervensi Keperawatan
No Diangnosa SLKI SIKI
keperawatan
1 Penurunan Curah Curah jantung Perawatan jantung (I0275)
jantung b.d . (L.02008) Observasi
Setelah dilakukan  Identifikasi tanda dan gejala
tindakan penurunan curah jantung
keperawatan (meliputi dispnea,kelelahan
diharapkan curah edema,ortopnea)
jantung meningkat  Identifikasi tanda dan gejala
dengan kriteria sekunder penurunan curah
hasil : jantung (meliputi peningkatan
1. kekuatan nadi berat
perfier badan,hepatomegali,distensi
meningkat(5) vena jugularis,palpitasi)
2. dispnea  Monitor tekanan darah
menurun(5) Terapeutik
 Posisikan pasien semi fowler
atau fowler dengan kaki
kebawah atau posisi nyaman.
 Fasilitasi pasien dengan
keluarga untuk modifikasi gaya
hidup sehat
 Berikan dukungan emosional
dan spritual
 Berikan oksigen untuk
mempertahankan saturasi
oksigen >9empat%
Edukasi
 Anjurkan baraktifitas fisik
sesuai toleransi
 Anjurkan beraktifitas fisik
secara bertahap
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian
antiaritmia,jika perlu

2 Intoleransi Toleransi aktifitas Manajement Energi (I.05178)


aktivitas b.d (L.0507) Observasi
ketidakseimbang Setelah dilakukan  dentifikasi gangguan fungsi
an ventilasi- tindakan tubuh yang mengakibatkan
kapiler (D.0056) keperawatan kelelehan
diharapkan  monitor kelelahan fiik dan
toleransi aktifitas emosional
meningkat dengan  monitor pola dan jam tidur
kriteria hasil: Terapeutik
[Link] nadi  sediakan lingkungan nyaman
meningkatk(5) dan rendah stimulus
[Link] lelah (mis,cahaya,suara,kunjungan)
menurun(5)  lakukan latihan rentang gerak
[Link] saat pasif dan/atau aktif
aktifitas menurun  fasilitasi duduk disisi tempat
(5) tidur,jika dapat berpindah atau
berjalan
Edukasi
 anjurkan tirah baring
 anjurkan menghubungi perawat
jika tanda dan gejala kelelahan
tidak dapat berkurang
 fasilitasi duduk disisi tempat
tidur,jika tidak dapat berpindah
atau berjalan
3 Perfusi perifer Perfusi perifer Manajement sensasi perifer
tidak efektif b.d (L.02011) (I.06195)
penurunan aliran Setelah dilKUKn Observasi
darah arteri dan tindakan  identifikasi penyebap
atau/vena keperawatan perubahan sensasi
(D.00009) diharapkan perfusi  identifikasi penggunaan alat
perifer meningkay pengikat,prostesis,dan pakian
dengan keriteria  monitor perubahan kulit
hasil:  monitor adanya tromboflebitis
[Link] nadi dan tromboemboli
perfier meningkay terapeutik
(5)  hindari pemakaian benda-benda
[Link] kulit pucat yang berlebihan suhunya
menurun (5) (terlalu panas atau dingin )
Edukasi
 anjurkan penggunaan
termometer untuk menguji suhu
air
 anjurkan memakai sepatu
lembut
kolaborasi
 kolaborasi pemberian
analgesik,jika perlu
Type equation here .
D. Implementasi Keperawatan
Proses pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien dengan PDA
membutuhkan pendidikan kesehatan yang komprehensif pada keluarga untuk
bersama – sama melakukan asuhan keperawatan yang sesuai dengan keluhan
dan respon pasien selama melakukan tindakan dan implementasi keperawatan.

E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi didasarkan pada keberhasilan pencapaian melalui catatan
perkembangan dan disesuaikan dengan kriteria hasil yang ditetapkan pada
evaluasi masalah dengan diagnose keperawatan pada kasus PDA masalah
teratasi
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah kelainan jantung kongenital (bawaan)
dimana tidak terdapat penutupan (patensi) duktus arteriosus yang menghubungkan
aorta dan pembuluh darah besar [Link] ini sering ditemui pada bayi
yang lahir prematur namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada bayi cukup
bulan. Duktur arteriosus umumnya menutup 12-24 jam setelah bayi lahir dan
mencapai penutupan sempurna pada usia 3 minggu. Apabila duktus tersebut
masih terbuka, penutupan spontan 75% dapat terjadi sampai bayi berusia 3
[Link] dari 3 bulan, penutupan spontan sangat jarang terjadi.
Gejala dari PDA tergantung dari besarnya kebocoran, apabila Duktus Arteriosus
(DA) kecil mungkin saja tidak menimbulkan gejala, apabila DA sedang sampai
besar dapat mengalami batuk, sering infeksi saluran pernapasan, dan infeksi paru.
Apabila DA besar, maka gagal jantung serta gagal tumbuh dapat [Link]
PDA manapun juga, penutupan baik dengan operasi maupun kateterisasi (tanpa
operasi) sebaiknya dilakukan mempertimbangkan risiko terinfeksinya jantung
akibat kelainan ini. Apabila tetap tidak ditangani, dapat terjadi kemungkinan
risiko kematian 20% pada usia 20 tahun, 42% pada usia 45 tahun, dan 60% pada
usia 60 tahun.

B. SARAN
Diharapkan dapat menjadi acuan bagi pembaca terutama perawat dalam
membuat asuhan keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall, 2021, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC,
Jakarta.

Doenges, M.E.,Moorhouse M.F.,Geissler A.C., 2020, Rencana Asuhan


Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta.

Engram, Barbara, 2020, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Volume


3, EGC, Jakarta.
( Carpenito, 2021 ).pengkajian,( Carpenito, Lynda Juall, 2021) latar belakang
(Betz & Sowden, 2020, Suriadi, Rita Yuliani, 2021).Penatalaksanaan Medis
( Engram, Barbara, 2020,) pengertian, (Betz & Sowden, 2019) patofisiologi

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia
Edisi 1. Jakarta: PPNI

Judith M. Wilkinson dan Nancy R. Ahern. Buku Saku DIAGNOSIS


KEPERAWATAN

Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria hasil NOC Edisi 9. Alih Bahasa Ns.

Esti Wahuningsih, [Link] dan Ns. Dwi Widiarti, S,Kep. EGC. Jakarta.

NANDA International. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi, Dan Klasifikasi

2012-2014/Editor, T. Heather Herdman; Alih Bahasa, Made Sumarwati, Dan


Nike

Budhi Subekti ; Editor Edisi Bahasa Indonesia, Barrah Bariid, Monica Ester, Dan
Wuri Praptiani. Jakarta; EGC.

Anda mungkin juga menyukai