14
BAB II
GEOMORFOLOGI
2.1. Geomorfologi Regional
Geomorfologi Regional secara fisiografi daerah palu terdiri dari
pematang timur dan pematang barat, kedua-duanya berarah Utara- Selatan dan
terpisahkan oleh Lemba Palu (Fossa Sarassina). Pematang Barat di dekat Palu
hingga lebih dari 200 meter tingginya, tetapi di Donggala menurun hingga muka
air laut. Pematang Timur dengan tinggi puncak dari 400 meter hingga 1900
meter, dan menghubungkan pegunungan Sulawesi Tengah dengan Lengan Utara.
Dataran tinggi memiliki keterdapatan yang terpisah-pisah di bagian barat,
tengah dan timur Lembar. Di bagian barat satuan ini terdapat di Gintu, Doda,
Wuasa, Sadoa, Palopo, Kuloni, Toro, Labua, hulu S. Sopa, dan sekitar D. Lindu.
Di bagian tengah, merupakan dataran pada jalur tepi barat dan utara D. Palu;
sedangkan di bagian timur terdapat di daerah Bau.
Ketinggian lebih dari 600 m di atas muka laut, umumnya merupakan
daerah pertanian yang subur dengan banyak pemukiman. Daerah pebukitan
terdapat di bagian utara dan tengah selatan Lembar. Di utara terbentang di dua
daerah: yang memanjang utara-selatan dari Pabengko sampai D Palu, dan
memanjang barat-timur dari Tagolu sampai Betaua, menerus sampai Bongkakoi.
Di bagian tengah-selatan, dekat Taripa ke timur sampai Era. Daerah pebukitan
dengan ketinggian antara 200-600 m di atas muka laut.
Daerah pegunungan menempati bagian terbesar. Di barat meliputi deret
pegunungan Tokolekaju, Tineba, dan Tokodoro. Pegunungan Tokolekaju
15
memanjang utara-selatan dari Pontana sampai Gintu, dengan ketinggian antara
1000- 2356 m di atas muka laut. Pegunungan Tineba berarah barat laut -
tenggara, dari Bora sampai Sedoa, dengan ketinggian antara 1000-2610 m di atas
muka laut. Pegunungan Tokodoro memanjang utara-selatan, dari Tokodoro
sampai Kamba, dengan ketinggian antara 1000-2500 m di atas muka laut. Di
bagian tengah terdapat Pegunungan Pompangeo dengan ketinggian antara 700-
2500 m. Di bagian timur terdapat pegunungan memanjang utara-selatan, dari
Marowo sampai Tambayoli, dengan ketinggian antara 700-2000 m di atas muka
laut, puncaknya ada yang mencapai lebih dari 2000 m seperti G. Tambosisi
(2438 m) dan G. Katopasa (2835 m).
Daerah Kras menempati bagian tengah dan timur Lembar. Di bagian
Tengah, memanjang Utara-selatan dari dekat Palu sampai Ratadana dan dari
dekat Malino ke selatan sampai Beteleme. Di bagian timur morfologi Kras
berkembang secara setempat seperti di G. Tamisari, Betauwa, Tongku, serta di
hulu S. Tongku, hulu S. Bongkakoi, dan S. Borneang. Dengan ketinggian antara
beberapa meter sampai 2300 m di atas muka laut. Daerah ini dicirikan oleh
permukaan yang kasar, bergelombang dan berlereng tajam, dengan dolina dan
lubang langgah.
Sungai di Lembar Palu sebagian besar mengalir ke utara menuju ke Teluk
Tomini, selebihnya mengalir ke Teluk Tomori di timur, dan Selat Makasar di
barat. Sungai yang besar adalah S. Palu, S. Koro dan S. La. Pada umumnya
lurus; karena pengikisan ke bawah kuat, lembah umumnya berbentuk V. Hanya
beberapa sungai yang alirannya berliku-liku, terutama di dekat muara. Secara
16
umum saliran di daerah ini berpola dendritik, sebagian berpola siku-siku dan
kisi. Pola dendritik ditemukan pada sistem S. Wuna, S. Sausu, S. Owaingkaia, S.
Puna, S. Palu, S. Tongko, S. La, S. Sumara, S. Tojo, S. Masologi, S. Pancuma
dan S. Bongka. Pola siku-siku pada sistem S. Koro dan S Malei, dan pola kisi
ditemukan pada sistem S. Tongko, S. Malei, S. Bombalo dan S. Taliba. Beberapa
sungai terkendalikan oleh struktur seperti S. Koro, S. Puna, S. Kamba dan S. La.
2.2 Geomorfologi Daerah Penelitian
Geomorfologi daerah penelitian membahas mengenai kondisi
geomorfologi meliputi pembagian satuan geomorfologi, jenis pola aliran sungai,
klasifikasi sungai, tipe genetik dan stadia sungai pada daerah penelitian yang
akhirnya dapat mengetahui stadia daerah penelitian. Pembahasan terhadap unsur-
unsur geomorfologi tersebut berdasarkan pada kondisi geologi di lapangan, hasil
interprestasi peta topografi, studi literatur yang mengacu pada konsep dasar
geomorfologi yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli sehingga dapat dibuat
kesimpulan tentang stadia daerah penelitian.
Pembagian satuan geomorfologi serta analisis kondisi geomorfologi pada
daerah penelitian digunakan beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan
suatu bentangalam. Faktor tersebut adalah proses-proses geomorfologi, stadia
dan jenis batuan penyusun daerah tersebut, serta struktur geologi (Thornbury,
1969).
17
2.2.1 Satuan Geomorfologi
Menurut Thornbury (1969), geomofologi didefinisikan sebagai ilmu
tentang bentuk lahan. Menurut Lobeck (1939), geomorfologi juga didefinisikan
sebagai studi tentang bentuk lahan. Sedangkan menurut Van Zuidam et al.
(1985), geomorfologi didefinisikan sebagai studi yang mendeskripsi bentuk
lahan dan proses serta mencari hubungan antara bentuk lahan dan proses dalam
susunan keruangannya. Dari beberapa definisi para ahli tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa geomorfologi adalah ilmu yang mendeskripsi secara genetis
bentuk lahan dan proses – proses yang dipengaruhi oleh batuannya dan mencari
korelasi hubungan antara bentuk – bentuk lahan tersebut dengan proses – proses
dalam susunan keruangannya yang membentuk bentang alam tersebut.
Proses geomorfologi merupakan perubahan-perubahan baik secara fisik
maupun kimiawi yang dialami permukaan bumi. Penyebab dari proses perubahan
tersebut dikenal sebagai agen geomorfologi, yang disebabkan oleh faktor tenaga
asal dalam (endogen) dan tenaga asal luar (eksogen). Proses endogen ini meliputi
vulkanisme, pembentukan pegunungan lipatan, patahan yang cenderung untuk
bersifat membangun (bersifat konstruktif), sedangkan proses eksogen meliputi
erosi, abrasi, gerakan tanah, pelapukan (kimia, fisika, biologi), serta campur
tangan manusia yang cenderung bersifat merusak (bersifat destruktif).
Kenampakan bentangalam dari suatu daerah merupakan hasil akhir dari proses-
proses geomorfologi yang bekerja (Thornbury, 1969).
Dasar penamaan satuan bentang alam daerah penelitian didasarkan pada
dua aspek pendekatan yaitu pendekatan morfografi dan pendekatan morfogenesa.
18
Pendekatan morfografi, yaitu pendekatan yang didasarkan pada bentuk
permukaan bumi yang dijumpai di lapangan yakni berupa topografi perbukitan
dan pedataran.
Aspek bentukan ini perlu memperhatikan beberapa parameter dari setiap
topografi seperti bentuk puncak, bentuk lembah, dan bentuk lereng yang
dijumpai di lapangan. Pendekatan morfogenesa (genetik) yaitu pendekatan
berdasarkan asal-usul pembentukan atau proses yang membentuk bentangalam di
permukaan bumi, dengan proses pembentukan yang utamanya dikontrol oleh
proses endogen. Selain itu pendekatan morfogenesa dapat pula diinterpretasikan
melalui garis kontur, dimana kontur pada peta lokasi penelitian memperlihatkan
kumpulan kontur yang mempunyai arah-arah yang memanjang. Berdasarkan
pembahasan diatas, pada analisis geomorfologi daerah penelitian menggunakan
dua pendekatan yaitu pendekatan morfografi dan morfogenes.
Berdasarkan kedua pendekatan diatas maka daerah penelitian dapat
dibagi menjadi dua satuan bentangalam yaitu :
1. Satuan Geomorfologi Perbukitan Struktural
2. Satuan Geomorfologi Perbukitan Denudasional
3. Satuan Geomorfologi Pedataran Marine
[Link] Satuan Geomorfologi Perbukitan Struktural
Satuan geomorfologi pegunungan struktural menempati sekitar 60% dari
seluruh daerah penelitian dengan luas 46,61 km 2. Satuan geomorfologi ini
meliputi bagian barat, dan utara daerah penelitian yang mencakup daerah
19
Pomolulu dan Palau. Pada lampiran peta geomorfologi satuan ini ditandai
dengan warna ungu tua.
Gambar 2.1 Kenampakan geomorfologi perbukitan struktural difoto dari daerah
Lewanu dengan arah N 3460 E
Secara umum kenampakan topografi dari satuan ini digambarkan oleh
bentuk kontur yang rapat, dengan puncak tertinggi 500 meter diatas permukaan
laut, bentuk puncak cembung (tumpul) dengan lembah berbentuk huruf “U”
(Gambar 2.1).
Analisis morfogenesa daerah penelitian merupakan analisis terhadap
karakteristik bentukan alam hasil dari proses-proses yang merubah bentuk muka
bumi. Adapun proses morfogenesa yang bekerja pada satuan geomorfologi ini
merupakan morfogenesa struktural.
Dapat ditandai dengan ditemukannya struktur lipatan, kekar dan sesar
berupa sesar naik. Dalam proses pembentukan geomorfologi dipengaruhi oleh
litologi, struktur-struktur geologi yang dihasilkannya dan proses pelapukan.
Proses geomorfologi yang dominan pada satuan geomorfologi ini berupa
proses struktur geologi berupa sesar, kekar, dan lipatan. Jenis lipatan yang bekerja
20
pada daerah penelitian berupa lipatan (Gambar 2.6). Jenis pelapukan yang umum
djumpai pada geomorfologi ini yaitu pelapukan kimia dan biologi. Pelapukan
kimia pada bentangalam ini ditandai dengan adanya perubahan warna pada
litologi filit yang semula berwarna abu-abu kehijauan berubah menjadi berwarna
coklat kemerahan (Gambar 2.2) karena adanya perubahan komposisi kimia dari
batuan tersebut dan pada akhirnya akan menjadi soil. Pelapukan biologi terjadi
oleh adanya pertumbuhan akar dan batang tumbuhan melalui retakan pada batuan
dan kemudian memberikan tekanan ke segala arah, akibatnya batuan akan pecah-
pecah menjadi fragmen- fragmen (Gambar 2.3).
Tingkat pelapukan pada daerah penelitian adalah sedang yang ditandai
dengan ketebalan soil yang dijumpai yaitu ±1 meter dengan warna soil coklat
kemerahan dan jenis soil yang dijumpai adalah residual soil yang terbentuk dari
hasil lapukan batuan dibawahnya.
21
Gambar 2.2 Pelapukan kimia yang menunjukkan perubahan warna
pada litologi Filit, pada stasiun 35 difoto relatif arah N
330o E
Gambar 2.3 Pelapukan biologi yang menunjukkan adanya
rekahan-rekahan pada litologi filit yang diakibatkan
oleh pertumbuhan akar pohon pada stasiun 7 difoto
relatif arah N 266o E
22
Jenis erosi yang berkembang pada satuan geomorfologi ini adalah jenis
creek erosion (Gambar 2.4), merupakan erosi lateral yang bekerja selama proses
pembentukan geomorfologi pada daerah penelitian. Creek erosion merupakan
erosi berbentuk saluran yang telah mengalami pelebaran ke samping akibat dari
peningkatan aliran air.
Pola aliran Sungai pada geomorfologi ini sangat dipengaruhi oleh
pengaruh struktur lipatan dengan dijumpainya pola aliran rectangular pada
daerah Bulu Rauang dan juga dijumpai punggung lipatan berupa antiklin dan
sinklin pada topografi daerah Pomolulu hingga Lewanu.
Satuan geomorfologi ini disusun oleh litologi Batusabak, Filit, dan
Gneiss. Tata guna lahan pada daerah ini sebagai area pemukiman, kebun dan
hutan (Gambar 2.5).
Gambar 2.4 creek erosion pada barat daya desa Walandano pada
stasiun 15 difoto arah N 200o E.
23
Gambar 2.5 Tata guna lahan berupa pemukiman, kebun, dan hutan
desa Pomolulu pada stasiun 35 difoto arah N 256o E.
Gambar 2.6 Limb kiri struktur lipatan sinklin desa Pomolulu pada
stasiun 35 difoto arah N 272o E.
24
Gambar 2.7 Limb kanan struktur lipatan sinklin desa Pomolulu
pada stasiun 35 difoto arah N 272o E.
Terdapat struktur lipatan di daerah selatan dan utara daerah penelitian
yang menunjukkan lipatan jenis sinklin yang memiliki permukaan yang cekung
dengan dua arah limb (sayap) saling mendekat (Gambar 2.6 dan Gambar 2.7).
[Link] Satuan Geomorfologi Perbukitan Denudasional
Satuan geomorfologi perbukitan struktural menempati sekitar 30% dari
seluruh daerah penelitian dengan luas 5,62 km 2. Satuan geomorfologi ini
meliputi bagian selatan daerah penelitian yang mencakup daerah Walandano, dan
Lewanu. Pada lampiran peta geomorfologi satuan ini ditandai dengan warna
coklat tua.
Secara umum kenampakan topografi dari satuan ini digambarkan oleh
bentuk kontur yang agak rapat, dengan puncak tertinggi 310 meter diatas
25
permukaan laut, bentuk puncak cembung (tumpul) dengan lembah berbentuk
huruf “U”, (Gambar 2.8)
Gambar 2.8 Kenampakan geomorfologi perbukitan Denudasional difoto dari daerah
Walandano dengan arah N 200 E
Analisis morfogenesa daerah penelitian merupakan analisis terhadap
karakteristik bentukan alam hasil dari proses-proses yang merubah bentuk muka
bumi. Adapun proses morfogenesa yang bekerja pada satuan geomorfologi ini
merupakan morfogenesa denudasional.
Proses geomorfologi yang dominan pada satuan geomorfologi ini berupa
proses pelapukan, dan erosi. Jenis pelapukan yang terjadi umumnya pelapukan
kimia dan biologi dengan tingkat pelapukan sedang hingga tinggi. Pelapukan
kimia ditandai dengan adanya perubahan warna pada litologi filit pada daerah
penelitian. Perubahan warna pada batuan disebabkan karena adanya perubahan
komposisi kimia akibat oksidasi dan pada akhirnya akan menjadi soil (Gambar
2.9). Pelapukan biologi terjadi oleh adanya pertumbuhan akar dan batang
tumbuhan melalui retakan pada batuan dan kemudian memberikan tekanan ke
segala arah, akibatnya batuan akan pecah-pecah menjadi fragmen- fragmen
(Gambar 2.10).
26
27
Gambar 2.9 Residual soil dengan tebal ± 2,5 meter dan Pelapukan
kimia yang menunjukkan perubahan warna pada litologi
batusabak, pada stasiun 3 difoto relatif arah N 336o E
Gambar 2.10 Pelapukan biologi yang menunjukkan adanya
rekahan-rekahan pada litologi batusabak yang diakibatkan
oleh pertumbuhan akar pohon pada stasiun 5 difoto relatif
arah N 30o E
Tingkat pelapukan pada daerah penelitian adalah sedang-tinggi yang
ditandai dengan ketebalan soil yang dijumpai yaitu ±2,5 meter dengan warna soil
coklat kemerahan dan jenis soil yang dijumpai adalah residual soil yang
terbentuk dari hasil lapukan batuan dibawahnya (Gambar 2.9).
Jenis erosi yang berkembang pada daerah penelitian berupa erosi alur
(rill erosion) (Gambar 2.11). Rill erosion adalah erosi yang berbentuk alur yang
tidak lebih dari 50 cm dan belum mengalami pelebaran.
28
Gambar 2.11 Rill erosion pada selatan Desa Walandano pada
stasiun 4 difoto relative arah N 25o E.
Proses gerakan tanah yang dapat dijumpai berupa debris slide atau
perpidahan material campuran batuan dan tanah pada bidang gelincir, land slide
atau perpindahan material yang didominasi oleh soil pada bidang gelincirnya
(Gambar 2.12). Proses gerakan tanah ini banyak ditemukan pada daerah lereng
yang relatif terjal. Hal itu disesbabkan karena pada daerah dengan lereng terjal,
kemiringan lereng akan semakin besar. Dengan bertambahnya kemiringan
lereng, maka kondisi tanah akan semakin tidak stabil, menyebabkan terjadinya
gerakan tanah.
Proses eksogen lebih banyak bekerja pada daerah penelitian yaitu berupa
pelupakan, erosi, dan terjadinya gerakan tanah. Berdasarkan kesimpulan
29
terhadap uraian karakteristik morfogenesa pada daerah penelitian maka proses
yang mendominasi pada daerah perbukitan ini berupa proses denudasi.
Gambar 2.12 Kenampakan gerakan tanah berupa debris slide pada
stasiun 5 difoto arah N 325o E.
[Link] Satuan Geomorfologi Pedataran Marine
Satuan bentangalam ini berdasarkan atas proses geomorfologi yang terjadi
baik proses geomorfologi yang masing berlangsung maupun telah berlangsung.
Satuan bentangalam pedataran menempati sekitar 5% dari seluruh daerah
penelitian dengan luas 3,24 km2. Satuan bentangalam ini berada di sebelah timur
laut hinggga baratdaya daerah penelitian yang terletak pada Daerah Palau,
Walandano, Lewanu.
Berdasarkan pendekatan morfografi yaitu melalui pengamatan secara
langsung di lapangan daerah ini digolongkan sebagai bentangalam pedataran,
30
dimana satuan bentangalam ini memiliki beda tinggi 0-25 meter di atas
permukaan laut.
Gambar 2.13 Kenampakan bentangalam marine difoto dari Teluk Kekeo pada stasiun 51
dengan arah foto N1200E
Sedangkan berdasarkan pendekatan morfogenesa, proses geomorfologi
yang dominan pada satuan pedataran marine ini yaitu aktivitas, arus gelombang
dan pasang-surut air laut. Morfologi pantai yang dijumpai pada daerah penelitian
antara lain tanjung dan teluk (Gambar 2.14). Tanjung merupakan bentangalam
yang daratannya menjorok ke arah laut sedangkan bagian kiri dan kanannya relatif
sejajar dengan garis pantai dan teluk merupakan bentangalam yang daratannya
menjorok ke arah daratan sedangkan bagian kiri dan kanannya relatif sejajar
dengan garis pantai (Noor, 2010). Selain itu dijumpai pula erosi rill and swash
marks (Gambar 2.15) yang terbentuk pada daerah pecah gelombang atau pasang-
surut.
31
Gambar 2.14 Kenampakan morfologi teluk dan tanjung pada daerah Palau
Gambar 2.15 Kenampakan rill and swash marks erosion
pada daerah Palau.
2.2.2 Sungai
Sungai didefinisikan sebagai tempat air mengalir secara alamiah
membentuk suatu pola dan jalur tertentu dipermukaan, dan mengikuti bagian
bentangalam yang lebih rendah dari daerah sekitarnya (Thornbury,1969).
Pembahasan mengenai sungai atau aliran permukaan pada daerah penelitian
meliputi uraian tentang klasifikasi sungai, jenis pola aliran sungai, tipe genetik
sungai serta penentuan stadia sungai.
32
[Link] Klasifikasi Sungai
Sungai dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa tinjauan, yakni
berdasarkan aspek sifat aliran sungai, kandungan air pada tubuh sungai, maupun
struktur geologi dan tekntonik suatu daerah. Berdasarkan sifat alirannya sungai
dikelompokkan menjadi dua yaitu sungai internal dan sungai eksternal. Sungai
internal adalah sungai yang alirannya berasal dari bawah permukaan seperti
terdapat pada daerah karst, endapan eolian, atau gurun pasir ; Sedangakn sungai
eksternal adalah sungai yang alirannya berasal dari aliran air permukaan yang
membentuk sungai, danau, dan rawa. Berdasarkan sifat alirannya, aliran sungai
pada daerah penelitian merupakan air yang mengalir pada permukaan bumi yang
membentuk sungai.
Berdasarkan kandungan air pada tubuh sungai (Thornbury, 1969) maka
jenis sungai dapaat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu :
a. Sungai permanen/normal (perenial), merupakan sungai yang volume airnya
sepanjang tahun selalu normal.
b. Sungai periodik (intermitten), merupakan sungai yang kandungan airnya
tergantung pada musim, dimana pada musim hujan debit alirannya menjadi
besar dan pada musim kemarau debit alirannya menjadi kecil.
c. Sungai episodik (ephermal), merupakan sungai yang hanya dialiri air pada
musim hujan, tetapi pada musim kemarau sungainya menjadi kering.
Berdasarkan debit air pada tubuh sungai (kuantitas air sungai), maka jenis
sungai pada daerah penelitian dapat diklasifikasikan menjadi sungai periodik dan
33
episodik. Sungai periodik berkembang pada sungai Kuala Kusu (Gambar 2.13)
dan sungai episodik berkembang pada sungai Kuala Rauang (Gambar 2.14),
Gambar 2.16 Jenis Sungai periodik pada Sungai Kuala Kusu dengan arah Foto N
43oE.
Gambar 2.17 Jenis Sungai episodik pada Sungai Kuala Rauang dengan arah Foto N
65oE.
34
[Link] Pola Aliran Sungai
Pola aliran sungai (drainage pattern) merupakan penggabungan dari
beberapa individu sungai yang saling berhubungan membentuk suatu pola dalam
kesatuan ruang (Thornbury, 1969).
Pola pengaliran (drainage pattern) yang berkembang akan berbeda di
setiap daerah. Pola aliran yang berkembang pada suatu daerah baik secara
regional maupun secara lokal dikontrol oleh jenis litologi, tingkat resistensi
litologi, bentuk awal morfologi setempat dan sruktur geologi yang berkaitan
dengan genesa dan evolusi perkembangan sistem pengaliran sungai tersebut
(Howard, 1967, dalam Van Zuidam, 1985)
Berdasarkan klasifikasi pola aliran sungai menurut Howard (1967)
dalam Van Zuidam (1985) dan hasil interpretasi peta topografi, maka pola aliran
sungai yang berkembang pada daerah penelitian adalah pola aliran trellis dan pola
aliran paralel. Pola aliran trellis menunjukkan jaringan sungai yang saling tegak
lurus dengan anak sungai secara umum sungai ini alirannya dipengaruhi oleh
struktur geologi berupa lipatan, arah alirannya searah dengan sumbu lipatan dan
pola aliran trellis terbentuk disepanjang lembah yang paralel pada sabuk
pegunungan lipatan. Pola aliran paralel adalah pola aliran sungai yang cenderung
sejajar akibat dari kemiringan lereng yang terjal (Gambar 2.18).
35
Gambar 2.18 Pola aliran sungai trellis dan paralel pada daerah penelitian
[Link] Tipe Genetik Sungai
Tipe genetik sungai merupakan salah satu jenis sungai yang didasarkan
atas genesanya. Salah satu faktor penentu dalam menentukan tipe genetik sungai
yang berkembang pada suatu daerah merupakan suatu hubungan antara arah aliran
dengan arah jurus kemiringan lapisan batuan. Tipe genetik sungai dibagi atas
Konsekuen, Obsekuen, Subsekuen, dan Insekuen. Konsekuen merupakan tipe
genetic sungai yang aliran sungai searah dengan kemiringan batuan, obsekuen
merupakan tipe genetik sungai yang arah aliran sungai berlawanan arah dengan
kemiringan baruan , subsekuen merupakan tipe genetik sungai yang searah dengan
arah penyebaran batuan, dan insekuen merupakan tipe genetik sungai yang tidak
36
dipengaruhi dengan keudukan batuan biasanya terjadi pada batuan beku
(Thornbury,1969)
Secara umum tipe genetik yang berkembang pada daerah penelitian yaitu
tipe genetik obsekuen dan subsekuen. Tipe genetik obsekuen memiliki arah aliran
yang relatif berlawanan dengan kemiringan lapisan batuan (dip). Pada daerah
penelitian tipe genetik ini terlihat di bagian utara daerah penelitian, yang dijumpai
kemiringan batusabak yang searah dengan aliran sungai (Gambar 2.19).
Gambar 2.19 Foto yang memperlihatkan tipe genetik sungai obsekuen
dengan arah aliran N 26 oE, dengan arah foto N356oE
Tipe genetik subsekuen memiliki arah aliran sungai relatif sejajar
dengan jurus perlapisan batuan. Pada daerah penelitian tipe genetik sungai ini
terdapat pada bagian tenggara daerah penelitian, yang dijumpai foliasi genes
yang searah dengan arah aliran sungai (Gambar 2.20).
37
Gambar 2.20 Singkapan genes dengan foliasi relatif searah dengan arah aliran
sungai yang menandakan tipe genetik subsekuen dengan arah foto N
65oE.
[Link] Stadia Sungai
Penentuan stadia sungai pada daerah penelitian didasarkan pada bentuk
lembah sungai, pola saluran sungai, bentuk aliran sungai, jenis erosi, dan
pengendapan yang bekerja sepanjang sungai.
Pada daerah penelitian sungai Kuala Kusu dan sungai Rauang
memberikan kenampakan profil melintang lembah berbentuk “U”. Berdasarkan
kenampakan tersebut maka erosi vertikal dan lateral yang bekerja pada sungai di
daerah penelitian bekerja bersama-sama dan berimbang. Pada umumnya proses
erosi lateral memiliki arus sungai mulai melambat dan gradient sungai yang
mulai datar. Secara umum sungai pada daerah penelitian mempunyai lebar
sungai yaitu 3 – 8 meter. Proses pengendapan intensif terjadi seiring dengan
38
melemahnya arus sungai dan membentuk endapan-endapan pinggir sungai
(Point bar), material yang diendapkan tersebut berukuran bongkah-pasir kasar
(Gambar 2.21 dan
Gambar 2.22).
Gambar 2.21 Kenampakan point bar pada sungai Kuala Kusu
dengan arah foto relative N 86oE.
39
Gambar 2.22 Kenampakan point bar pada sungai Rauang dengan
arah foto N 44oE
Aliran sungai mulai berkelok yang belum begitu luas dan belum
melewati sabuk meander (meander belt). Erosi vertikal mulai menurun dan erosi
lateral mulai meningkat. Berdasarkan ciri-ciri yang dijumpai pada daerah
penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa stadia sungai pada daerah penelitian
adalah stadia muda menjelang dewasa.
2.2.3 Stadia Daerah Penelitian
Penentuan stadia suatu daerah harus memperhatikan hasil kerja
prosesproses geomorfologi yang diamati pada bentuk-bentuk permukaan bumi
yang dihasilkan dan didasarkan pada siklus erosi dan pelapukan yang bekerja
pada suatu daerah mulai saat terangkatnya sampai terjadi perataan bentangalam
(Thornbury,1969).
Geomorfologi pada daerah penelitian telah mengalami perubahan akibat
proses deformasi, pelapukan, dan erosi yang terjadi di daerah tersebut.
Perubahan geomorfologi yang terjadi pada daerah penelitian menghasilkan suatu
bentukan relief pedataran dan perbukitan, dengan kenampakan bentuk lembah
“U” pada relief perbukitan, bentuk penampang melintang dari lembah sungainya
memperlihatkan bentuk profil menyerupai huruf “U” dimana dijumpai adanya
dataran banjir, endapan sungai, dan tingkat pelapukan dengan ketebalan soil
antara 50 cm hingga 250 cm. Hasil sedimentasi di sekitar sungai umumnya lebih
didominasi oleh material berupa endapan pasir dan lempung yang merupakan
material–material sedimen yang dijumpai sepanjang aliran sungai membentuk
40
point [Link] tersebut menunjukkan bahwa daerah penelitian memiliki
tingkat erosi yang relatif sedang sampai tinggi dimana dapat diamati pada proses
pengikisan lembah-lembah sungai, yang menghasilkan bentuk melintang sungai
dengan seimbangnya antara erosi lateral dan erosi vertikal. Erosi vertikal mulai
menurun dan erosi lateral mulai meningkat.
Struktur geologi yang terjadi pada daerah penelitian yaitu berupa lipatan,
kekar dan sesar, dimana kontrol struktur geologi turut membantu dalam
pembentukan satuan bentangalam pada daerah penelitian.
Berdasarkan ciri-ciri yang dijumpai, maka dapat disimpulkan bahwa
perkembangan daerah penelitian telah berada pada stadia muda menjelang
dewasa.