RESUME TINDAKAN
PENATALAKSANAAN ROM (RANGE OF MOTION) PADA PASIEN
STROKE DI RUANG JABAL NUR
RSUD KHZ. MUSTHAFA KABUPATEN TASIKMALAYA
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Perawatan Stroke
Oleh:
Siti salwa
P20620122116
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN
TASIKMALAYA
2024
A. Pengertian Tindakan
Latihan Range of Motion (ROM) merupakan salah satu bagian dari
rehabilitasi mempunyai peranan yang besar untuk mengembalikan kemampuan
penderita untuk kembali bergerak, memenuhi kebutuhan sehari-harinya,
sampai kembali bekerja (kusuma,2020).
B. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), diagnosa
keperawatan yang terkait dengan tindakan ROM pada pasien stroke yaitu
gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kendali otot; penurunan massa otot;
penurunan kekuatan otot d.d mengeluh sulit menggerakkan ekstremitas; kekuatan
otot menurun; rentang gerak ROM menurun; gerakan tidak terkoordinasi;
gerakan terbatas; dan fisik lemah. Hal ini juga ditandai dengan ketidakmampuan
pasien untuk bergerak secara mandiri atau terbatasnya rentang gerak sendi.
C. Tujuan Tindakan
Tujuan utama tindakan ROM pada pasien stroke adalah:
1. Menilai kemampuan otot dan sendi, untuk melihat perkembangan kesehatan
pasien.
2. Mencegah kekakuan sendi, dengan melakukan gerakan sendi secara teratur.
3. Meningkatkan fleksibilitas sendi, sehingga membantu pergerakan aktivitas
pasien.
4. Meningkatkan kekuatan otot, ROM dapat membantu meningkatkan
kekuatan otot yang terkena dampak stroke meskipun secara perlahan.
5. Meningkatkan sirkulasi darah ke area yang terkena stroke, sehingga
membantu proses penyembuhan.
6. Mencegah atrofi otot atau penyusutan otot akibat kurang digunakan.
D. Indikasi Tindakan
Penatalaksaan ROM umumnya diindikasikan pada pasien stroke yang
mengalami:
1. Kelemahan otot, sehingga kesulitan dalam melakukan gerakan sendi secara
aktif.
2. Kekakuan sendi, dapat menghambat aktivitas sehari-hari pasien.
3. Spastisitas atau peningkatan tonus otot yang tidak normal dan dapat
menyebabkan gerakan yang tidak terkontrol.
E. Prinsip dan Rasional Tindakan
1. ROM dilakukan dengan hati-hati dan perlahan agar tidak melelahkan pasien.
2. ROM dapat dilakukan pada seluruh bagian tubuh atau hanya pada bagian
yang sakit.
3. Setiap gerakan ROM diulangi sekitar 8 kali.
4. ROM dapat dilakukan kapan saja dan disesuaikan dengan keadaan pasien.
F. Bahaya dan Pencegahan
Meskipun bermanfaat, tindakan ROM juga memiliki potensi bahaya jika
tidak dilakukan dengan benar, seperti nyeri karena gerakan yang terlalu kuat atau
pada sendi yang mengalami inflamasi dapat menyebabkan nyeri dan jika gerakan
dilakukan secara kasar atau melebihi batas kemampuan pasien maka akan
menyebabkan cedera pada jaringan lunak atau sendi.
G. Referensi
1. Kusuma, A. S., & Sara, O. (2020). Penerapan Prosedur Latihan Range Of
Motion (ROM) Pasif Sedini Mungkin pada Pasien Stroke Non Hemoragik
(SNH). Syntax Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 5(10), 1015-1021.
2. Nurhayati, S., Sudarsih, S., & Windartik, E. (2023). PENGARUH
LATIHAN ROM CYLINDRICAL GRIP TERHADAP PENINGKATAN
KEKUATAN OTOT PADA PASIEN STROKE DI RUANG
FLAMBOYAN RSUD DR. MOH. SALEH KOTA PROBOLINGGO
(Doctoral dissertation, Perpustakaan Universitas Bina Sehat PPNI).
3. Rivaldi Bagus Adi Pratama, I., & Aisyah, S. (2015). ASUHAN
KEPERAWATAN LANJUT USIA PADA NY. T DENGAN GANGGUAN
MOBILITAS FISIK DI UPT PELAYANAN SOSIAL LANJUT USIA
PASURUAN BABAT-LAMONGAN (Doctoral dissertation, Universitas
Muhammadiyah Surabaya).
4. Sudarsih, S., & Santoso, W. (2022). Pendampingan Latihan Range Of
Motion (ROM) Pada Penderita Stroke. Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat,
7(2), 318-325.
5. Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosa Keperawatan
Indonesia Definisi dan Indikator. Diagnostik Edisi 1. Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat PPNI.