View metadata, citation and similar papers at [Link].
uk brought to you by CORE
provided by Semantik
Seminar Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi Terapan 2012 (Semantik 2012) ISBN 979 - 26 - 0255 - 0
Semarang, 23 Juni 2012
IMPLEMENTASI METODE WORK SAMPLING GUNA MENGUKUR
PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DI [Link] KROM SEMARANG
Dwi Nurul Izzhati1, Dhieka Anendra2
1
Fakultas Teknik, Universitas Dian Nuswantoro, Semarang 50131
E-mail : dwinurul@[Link]
ABSTRAK
Didalam era persaingan bebas seperti sekarang, perusahaan dituntut untuk selalu berkembang agar dapat terus bertahan
dalam menjalankan usahanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa persaingan yang terjadi juga merupakan salah satu pemicu
agar setiap perusahaan selalu meningkatkan produktivitasnya. Peningkatan produktivitas ini dapat dilakukan dengan
berbagai cara, salah satunya dengan melakukan pengukuran produktivitas kerja. Demikian pula halnya dengan CV.
SINAR KROM SEMARANG yang merupakan home industry yang bergerak dibidang jasa pelapisan krom dan poles,
dimana pada perusahaan tersebut belum ada keseimbangan beban kerja dengan pekerjaan yang ada. Oleh karena itu
untuk membuat keputusan lebih lanjut yang berkaitan dengan pengukuran kerja perlu diketahui bagian dari waktu
operator untuk menjalankan aktivitas dan waktu untuk menganggur (idle). Setelah dilakukan penelitian dan pengamatan
secara langsung di lapangan diketahui bahwa jumlah tenaga kerja produktif sebesar 68,96% dan tenaga kerja non
produktif 31,04%. Dari hasil tersebut diketahui jumlah tenaga kerja ideal adalah 3 orang.
Kata kunci : Work Sampling, Produktivitas, Waktu Baku
1. PENDAHULUAN
Untuk meningkatkan produktivitas kinerja karyawan banyak hal yang bisa dilakukan. Pada negara-negara berkembang
pengertian produktivitas kerja akan selalu dikaitkan dan diarahkan pada segala usaha yang dilakukan dengan menggunakan
sumber daya manusia yang ada.
Produktivitas pada dasarnya akan berkaitan erat pengertiannya dengan sistem produksi, yaitu sistem dimana faktor-faktor
semacam : 1)Tenaga kerja/direct atau indirect labor, 2) Modal/capital berupa mesin, perlatan kerja, bahan baku, bangunan
pabrik dan lain-lain. Dikelola dalam suatu cara yang terorganisir untuk mewujudkan barang (finished good product) atau
jasa (service) secara efektif dan efisien. Penghayatan akan arti produktivitas secara mendalam akan menyadarkan kita
tentang kemampuan serta segala kelemahan yang dipunyai.
Aktivitas Kerja tenaga kerja secara sederhana dapat digambarkan dalam bagan input-output berikut :
Kegiatan Produktif
Proses nilai tambah (nilai fungsional
Tenaga dan ekonomis) Produk /
Kerja Kegiatan NonProduktif Jasa
Idle / delays
Gambar 1: Bagan Input-output Dalam Kinerja Karyawan CV. Sinar Krom
Sumber: Studi Gerak dan Waktu, Sritomo
Penelitian kerja dan analisa metoda kerja pada dasarnya akan memusatkan perhatiannya pada bagaimana suatu macam
pekerjaan akan diselesaikan. Dalam menyelesaikan suatu pekerjaan operator kerja tidak bisa terlepas dari kelonggaran-
kelonggaran tertentu yang akan menambah waktu menganggur dari operator tersebut. Suatu ketika operator melakukan
aktivitas kerjanya dan ada saat-saat tertentu operator menganggur. Oleh karena itu untuk membuat keputusan lebih lanjut
yang berkaitan dengan pengukuran kerja perlu diketahui bagian dari waktu operator untuk menjalankan aktivitas dan waktu
menganggur (idle).
Masalah pokok yang dihadapi oleh CV. Sinar Krom Semarang adalah belum adanya keseimbangan beban kerja tenaga
kerja bagian produksi dengan pekerjaan yang dihadapi, sehingga perlu mengukur kinerja tenaga kerja produktif dan non
produktif menggunakan metode Work Sampling.
INFRM 568
Seminar Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi Terapan 2012 (Semantik 2012) ISBN 979 - 26 - 0255 - 0
Semarang, 23 Juni 2012
2. METODE PENELITIAN
2.1 Produktivitas Kerja
Produktivitas kerja didefinisikan sebagai perbandingan (rasio) antara output per input. Dengan diketahui nilai (indeks)
produktivitas, maka akan diketahui pula seberapa efisien pula sumber-sumber input telah berhasil dihemat (Sritomo,2003).
Output
Produktivi tas
Input (measureable) Input (invisible )
Agar supaya produktivitas meningkat, perlu diupayakan proses produksi bisa memberikan kontribusi sepenuhnya terhadap
kegiatan-kegiatan produktif yang berkaitan dengan nilai tambah, dan berusaha menghindari atau meminimalkan langkah-
langkah kegiatan yang tidak produktif.
2.2 Metode Work Sampling
Sampling atau dalam bahasa asingnya sering disebut dengan Work Sampling, Ratio Delay Study, atau Random
Observation Method adalah suatu Teknik untuk mengadakan sejumlah besar pengamatan terhadap aktivitas kerja dari
mesin, proses atau pekerja/ operator. Pengukuran kerja dengan metode sampling kerja ini seperti halnya dengan
pengukuran kerja jam henti ( stop-watch time study) diklasifikasikan sebagai pengukuran kerja langsung, karena
pelaksanaan kegiatan pengukuran harus secara langsung ditempat kerja yang diteliti (Sutalaksana, 2000).
2.2.1 Prosedur Pelaksanaan Sampling Kerja
Metoda Sampling Kerja sangat cocok digunakan dalam melakukan pengamatan atas pekerjaan yang sifatnya tidak
berulang dan yang memiliki siklus, waktu yang relatif panjang. Pada dasarnya prosedur pelaksanaanya cukup sederhana,
yaitu melakukan pengamatan aktivitas kerja untuk selang waktu yang diambil secara acak terhadap suatu atau lebih mesin/
operator dan kemudian mencatatnya apakah mereka ini dalam keadaan bekerja atau menganggur (idle). Frekwensi
pengamatan tergantung pada jumlah pengamatan yang diperlukan dan waktu yang tersedia untuk pengumpulan data yang
direncanakan, apabila frekuensi yang diambil terlalu padat dan sulit sekali dilaksanakan maka frekwensi pengamatan per
hari bisa dikurangi dengan konsekwensi penyelesaian pengamatan akan lebih lama lagi ( Sritomo, 2003 ).
2.3 Waktu Kerja
Waktu kerja didapatkan melalui pengukuran waktu kerja dengan mengamati dan mencatat waktu-waktu kerjanya baik
setiap elemen ataupun siklus dengan menggunakan alat-alat yang telah disiapkan.
2.3.1 Waktu Siklus
Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan elemen-elemen kerja pada umumnya akan diselesaikan dalam waktu yang
sama persis. Sehingga waktu siklus adalah harga akan sedikit berbeda dari siklus-siklus kerja sekalipun operator bekerja
pada kecepatan normal dan uniform, tiap-tiap elemen dalam siklus yang berbeda tidak selalu rata-rata dari sub group
dibagi harga banyaknya sub group yang terbentuk.
Rumus waktu siklus :
Ws
X 1
(1)
N
2.3.2 Waktu Normal (Wn)
Waktu Normal didapat jika operator bekerja secara wajar (tidak cepat dan tidak lambat). Ketidaknormalan dari waktu kerja
yang terjadi bisa diakibatkan oleh operator yang bekerja secara kurang wajar yaitu bekerja dalam tempo atau kecepatan
yang tidak sebagaimana mestinya. Untuk menormalkan waktu kerja yang diperoleh dari hasil pengamatan, maka hal ini
dilakukan dengan mengadakan penyesuaian yaitu dengan cara mengalikan waktu pengamatan rata-rata (bisa waktu siklus
atau waktu tiap-tiap elemen) dengan waktu faktor penyesuaian/ rating “P”
Rumus Waktu Normal (Wn) :
INFRM 569
Seminar Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi Terapan 2012 (Semantik 2012) ISBN 979 - 26 - 0255 - 0
Semarang, 23 Juni 2012
Total waktu pengukuran x % work x rating faktor (2)
Wn
Total unit output yang dihasilkan selama kegiatan sampling kerja
2.3.3 Waktu Baku (Wb)
Waktu normal untuk suatu elemen operasi kerja adalah semata-mata untuk menunjukan bahwa searang operator yang
berkualitas baik akan bekerja menyelesaikan pekerjaan pada kecepatan/tempo kerja yang normal. Waktu baku adalah sama
dengan waktu normal kerja dengan waktu longgar.
Pertimbangan waktu longgar antara lain :
a. Kelonggaran waktu untuk kebutuhan personal (Personal Allowance)
b. Kelonggaran waktu untuk melepaskan lelah (Fatique Allowance)
c. Kelonggaran waktu karena keterlambatan-keterlambatan (Delay Allowance)
Rumus Waktu Baku (Wb) :
100% (3)
Wb Wnx
100% %All
2.4 Test Keseragaman Data
Perubahan pada sistem kerja adalah sesuatu yang wajar karena bagaimanapun juga sistem kerja tidak dipertahankan terus
menerus pada keadaan yang sama. Keadaan sistem yang berubah dapat diterima, asalkan perubahannya adalah yang
memang sepantasnya. Akibat waktu penyelesaian yang dihasilkan sistem selalu berubah-ubah namun juga mesti dalam
batas kewajaran.
Tugas mengukur adalah mendapatkan data seragam ini. Karena ketidak seragaman dapat datang tanpa disadari maka
diperlukan suatu alat yang dapat ”mendeteksi”. Batas – batas kontrol yang dibentuk dari data merupakan batas seragam
tidaknya data. Data yang dikatakan, yaitu berasal dari sistem sebab yang sama bila berada diantara kedua batas kontrol, dan
tidak seragam, yaitu berasal dari sistem sebab yang berbeda jika berada diluar batas kontrol dibuatlah test keseragaman
data.
p(1 p)
BKA p k
n (4)
p(1 p)
BKB p k
n
2.5 Test Kecukupan Data
Untuk mengetahui apakah data yang kita kumpulkan sudah cukup, harus dilakukan test kecukupan data. Idealnya sample
diambil dalam jumlah yang banyak, tetapi mengingat faktor waktu, biaya, tenaga, maka hal tersebut sulit dilakukan. Oleh
karena itu digunakan istilah kepastian yang diinginkan oleh pengamat berkenaan dengan sample yang diambil tersebut,
(Sritomo Wignjosoebroto, 2003).
Banyaknya pengamatan yang harus dilakukan dalam sampling kerja akan dipengaruhi oleh 2 faktor utama, yaitu :
1. Tingkat ketelitian ( degree of accuracy ) dan hasil pengamatan.
2. Tingkat kepercayaan ( level of convidence ) dari hasil pengamatan.
Dengan asumsi bahwa terjadinya kejadian seorang operator akan bekerja atau menganggur mengikuti pola distribusi
normal.
Misalnya dengan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat ketelitian 10%, berarti bahwa sekurang-kurangnya 95 dari 100
harga rata-rata dari data yang diperoleh dari suatu elemen kerja memiliki penyimpangan tidak lebih dari 10%.
Setelah data diperoleh, dilakukan pengujian kecukupan data dengan rumus-rumus sebagai berikut:
k 2 / S2 (1 p)
N (5)
N
Dimana :
S = Tingkat ketelitian yang dikehendaki dan dinyatakan dalam desimal
N = Jumlah pengamatan yang harus dilakukan untuk sampling kerja
P = Prosentase terjadinya kejadian yang diamati dan juga dinyatakan dalam bentuk desimal
INFRM 570
Seminar Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi Terapan 2012 (Semantik 2012) ISBN 979 - 26 - 0255 - 0
Semarang, 23 Juni 2012
k = Tingkat kepercayaan
2.6 Flow Chart Metodologi Penelitian
LANGKAH PERSIAPAN AWAL
- Catat segala informasi dari semua fasilitas yang ingin diamati
- Rencanakan jadwal waktu pengamatan berdasarkan prinsip randomisasi (aplikasi
tabel angka random)
PENGAMATAN AWAL (PRE – WORK SAMPLING)
- Laksanakan pengamatan awal sejumlah pengamatan tertentu secara acak (N
pengamatan)
- Hitung pengamatan awal (1%) untuk N pengamatan tersebut
CEK KESERAGAMAN & KECUKUPAN DATA
p(1 p)
Keseragaman Data : Batas kontrol
N N’ = N + 1
k 2 (1 p)
Common Sense : Kecukupan data N'
S2 p
N’ ≤ N
HUBUNGAN DERAJAT KETELITIAN DARI DATA PENGAMATAN
YANG DIPEROLEH
p(1 p)
Rumus : Sp k
N
CEK BEBAN KERJA
WbxOIU x100%
Waktu pengamatan keseluruhan
ANALISA KESIMPULAN
- Buat analisa hasil akhir yang berkaitan dengan % delay (p)
- Buat analisa beban kerja tenaga kerja
- Hitung jumlah tenaga kerja optimal
- Tarik kesimpulan dan saran
Gambar 2: Alur Penelitian
2.7 Beban Kerja (Barnes,1980)
Dari hasil penelitian yang dilakukan F.W Taylor dari Amerika Serikat pada tahun 1991 diketahui beban kerja seseorang
pada satu saat akan mengalami kenaikan tetapi kemudian akan mengalami penurunan hasil kerja. Secara umum hubungan
antara beban kerja hasil kerja total maka terlihat pada gambar dibawah ini.
Rumus Beban Kerja
Wb x OIU x 100% (6)
Waktu pengamatan keseluruhan
INFRM 571
Seminar Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi Terapan 2012 (Semantik 2012) ISBN 979 - 26 - 0255 - 0
Semarang, 23 Juni 2012
Dimana :
Wb = Waktu Baku
OIU = Output Identifikasi Unit
Penetuan waktu pengamatan berdasarkan tabel bilangan acak :
Rumus : (Permulaan waktu efektif +( Bilangan acak x selang waktu) (7)
Angka random Maksimum (ARM) diperoleh dengan rumusan :
Waktu Kerja Efektif (8)
ARM
Waktu Antar Kunjungan
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Menentukan Waktu Antar Kunjungan
Waktu antar tiap kunjungan adalah 20 menit, hari kerja efektif adalah 7 jam ( 8 jam kerja – 1 jam istirahat ), maka angka
random maksimumnya adalah :
Waktu Kerja Efektif (7 x 60 menit)
ARM 21
Waktu Antar Kunjungan 20
Berdasarkan hasil perhitungan diatas maka kunjungan perhari tidak lebih dari 21 kali. Jika dalam satu hari dilakukan 10
kali kunjungan maka dengan bantuan tabel acak dapat ditentukan saat – saat kunjungan tersebut. Waktu kunjungan tidak
dilakukan pada saat – saat tertentu yang dapat diketahui dalam keadaan tidak bekerja, seperti jam – jam istirahat atau hari
libur, dimana pada saat tersebut tidak ada kegiatan resmi.
Tabel 1: Pengamatan Heri 1
Waktu Kunjungan Tenaga Kerja Tenaga Kerja
No
(08.00 + (Bilangan Acak x 20 menit) Produktif Non Produktif
1 08.20 3 3
2 08.40 5 1
3 09.00 5 1
4 09.40 5 1
5 10.00 5 1
6 10.20 2 4
7 10.40 2 4
8 11.00 4 2
9 11.20 4 2
10 11.40 4 2
11 13.40 5 1
12 14.00 5 1
13 14.20 3 3
14 14.40 4 2
15 15.00 4 2
JUMLAH 60 30
Bilangan Acak : 1,2,3,5,6,7,8,9,10, 11 ,17,18,19,20,21
Dari ke 4140 kali pengamatan frekuensi kegiatan produktif yang teramati adalah 2855, maka :
a. Jumlah pengamatan : 4140
- Jumlah produktif : 2855
- Prosentase produktif : 2855 / 4140 x 100% = 68,96%
INFRM 572
Seminar Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi Terapan 2012 (Semantik 2012) ISBN 979 - 26 - 0255 - 0
Semarang, 23 Juni 2012
- Prosentas non produktif : 31,04%
b. - Jumlah Menit Pengamatan : 420 x 46 = 19320 menit
- Jumlah Menit Produktif : 13323 menit
c. Diagram Pareto Output Identifikasi Unit
Tabel 3: Output Identifikasi Unit (OIU)
Jumlah
Frekuensi OIU Jumlah % OIU Komulatif %
Komulatif
A ( Poles ) 207 207 57.5% 57.5%
B ( Lapis Krom ) 153 360 42.5% 100%
Total 360 100
Dari analisa pareto pada gambar 6 terlihat jenis pekerjaan yang sering dilakukan adalah A, yaitu proses pemolesan baik
pemolesan besi maupun alumunium dan B adalah proses pekerjaan lapis krom yaitu sebesar 37%.
3.2 Pengujian Keseragaman Data
p(1 p)
BKA p k
N
p(1 p)
BKA p k
N
Sehingga :
0,28(1 0,28)
BKA 0,28 2 0,37
90
0,28(1 0,28)
BKB 0,28 2 0,18
90
Karena data pada pengamatan ke-8, ke-23, dank ke-39 diluar batas kontrol yang disebabkan karena sebab khusus (
assignable cause ), maka harus dilakukan revisi, sehingga garis pusat (p) kontrol atas dan kontrol bawah menjadi :
1285 - (44 39 41) 1161
p :100 :100 0,27
43 43
n = 3870 / 43 = 90
Sehingga :
0,27(1 0,27 )
BKA 0,27 2 0,36
90
0,27(1 0, 27)
BKB 0,27 2 0,18
90
3.3 Tes Ketelitian Data
Dari hasil penelitian diketahui:
a) Tingkat kepercayaan = 95%
b) Tingkat ketelitian = 5%
c) k =2
d) Pekerja produktif = 2709
e) Pekerja non produktif = 1161
3870
INFRM 573
Seminar Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi Terapan 2012 (Semantik 2012) ISBN 979 - 26 - 0255 - 0
Semarang, 23 Juni 2012
Idle = 1161 x 100% 30% 0,3
3870
p(1 p)
Sp k
N
0,3(1 0,3)
S.0,3 2 0,0491 4,91%
3870
Tingkat ketelitian yang diambil peneliti adalah 5%, perhitungan tingkat ketelitian data adalah 4,91%. Jadi data yang
diambil oleh dalam penelitian ini lebih teliti dari data yang diisyaratkan.
3.4 Pengukuran Waktu Normal ( Wn )
Pengukuran factor penyesuaian ( rating faktor ) dengan menggunakan analisa Wastinghause. Setelah dilakukannya
pengamatan diketahui :
Ketrampilan : Good ( C2 ) +0,03
Usaha : Good ( C2 ) +0,02
Kondisi Kerja : Average ( D ) 0,00
Konsistensi : Fair ( E ) -0,02
+0,03
Jadi p = ( 1 + 0,03 ) atau p = 1,03
Total waktu pengukuran x % work x rating faktor
Wn
Total unit output yang dihasilkan selama kegiatan sampling kerja
2709
(420 x 43) x x 1,03
Wn1 3870 62,29 menit/unit
207
2709
(420 x 43) x x 1,03
Wn2 3870 81,01 menit/unit
153
3.5 Pengukuran Waktu Baku ( Wb )
Allowance diasumsikan 10%
100%
Wb Wnx
100% % Allowance
100%
Wb1 62,29 x 69,21 menit/unit
90%
100%
Wb2 81,01 x 90,01 menit/unit
90%
Wb total = 69,21 menit/unit + 90,01 menit/unit = 159,22 menit/unit
3.6 Beban Kerja ( Bk )
Bk
Wb x OIU x 100%
Total Waktu Pengamatan
Wb rata-rata = 159,22 / 6 = 52,9 menit/ unit
Total waktu pengamatan = 43 x 420 = 18060 menit
INFRM 574
Seminar Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi Terapan 2012 (Semantik 2012) ISBN 979 - 26 - 0255 - 0
Semarang, 23 Juni 2012
( 26,54 x 360)
Bk x 100% 52,9%
18060
Jadi beban kerja adalah tidak praktis, karena terlalu banyak banyak pekerja yang menganggur.
3.7 Jumlah Tenaga Kerja Yang Dibutuhkan
Jika rata-rata output yang dihasilkan dalam 43 hari pengamatan pada hasil prouksi A dan B, maka tenaga kerja yang
seharusnya dibutuhkan adalah :
1 1
Output Standar Unit / Menit
Wb Total 159,22
360
Jumlah Tenaga Kerja 2,26 Unit / Menit 3 Orang
159,22
Berdasarkan hasil perhitungan diatas, maka jumlah tenaga kerja ideal dalam 43 hari pengamatan adalah 3 orang tenaga
kerja.
4. PENUTUP
Dari hasil penelitian pengukuran produktivitas tenaga kerja bagian produksi di CV. SINAR KROM SEMARANG dengan
menggunakan metode Work Sampling, adalah sebagai berikut :prosentase waktu kerja produktif dibanding dengan waktu
kerja non produktif adalah 68,96% : 31,04%, Identifikasi unit jumlah produk A (jasa poles) yang dihasilkan lebih besar
dibandingkan produk B ( jasa krom ), beban kerja tenaga kerja dari
DAFTAR ISI
[1] Barnes, Ralph M. 1980. ”Motion and Time Sudy Design and Measurement of Work”. United States : John Wiley &
Sons.
[2] Dwi Nurul Izzhati, “Analisis Kinerja Karyawan Dengan Menggunakan Metode Work Sampling (Studi Kasus: Petugas
Teknisi Udinus).” Artikel Ilmiah Majalah Dian Volume 9 No 1, Universitas Dian Nuswantoro Semarang,2009
[3] Hutabarat. 2005. “Modul Diktat Analisa Perancangan Kerja”. Malang : ITN.
[4] Sedarmayanti. 2001. “Sumber Daya Manusia Dan Produktivitas Kerja”. Bandung: Mandar
[5] Wignjoesoebroto. 2003. ”Ergonomi Studi Gerak dan Waktu”. Surabaya : Guna Widya.
INFRM 575