0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan9 halaman

Panduan Lengkap Asma Bronkhial

Dokumen ini membahas tentang asma bronkhial, termasuk pengertian, penyebab, manifestasi klinis, patofisiologi, dan penatalaksanaan. Asma ditandai dengan penyempitan jalan napas yang dapat dipicu oleh berbagai faktor, baik alergik maupun non-alergik. Penatalaksanaan meliputi pengobatan farmakologis dan non-farmakologis untuk mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Diunggah oleh

armyadfitrianto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan9 halaman

Panduan Lengkap Asma Bronkhial

Dokumen ini membahas tentang asma bronkhial, termasuk pengertian, penyebab, manifestasi klinis, patofisiologi, dan penatalaksanaan. Asma ditandai dengan penyempitan jalan napas yang dapat dipicu oleh berbagai faktor, baik alergik maupun non-alergik. Penatalaksanaan meliputi pengobatan farmakologis dan non-farmakologis untuk mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Diunggah oleh

armyadfitrianto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

“ASMA BRONKHIAL”

Di Susun :

M. NURFITRIANTO ARMYAD
1820161071

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


KUDUS
D3 KEPERAWATAN
A. PENGERTIAN
Asma adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea dan
bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan
napas yang luas dan derajatnya dapat berubahubah, baik secara spontan maupun
sebagai hasil pengobatan (Muttaqin, 2008).
Asma adalah wheezing berulang dan atau batuk persisten dalam keadaan
dimana asma adalah yang paling mungkin, sedangkan sebab lain yang lebih jarang
telah disingkirkan (Mansjoer, 2008).
B. PENYEBAB
Sampai saat ini etiologi dari Asma Bronkhial belum diketahui. Suatu hal yang yang
menonjol pada penderita Asma adalah fenomena hiperaktivitas bronkus. Bronkus
penderita asma sangat peka terhadap rangsangan imunologi maupun non imunologi.
Adapun rangsangan atau faktor pencetus yang sering menimbulkan Asma adalah:
1 Faktor ekstrinsik (alergik) : reaksi alergik yang disebabkan oleh alergen atau
alergen yang dikenal seperti debu, serbuk-serbuk, bulubulu binatang.
2 Faktor intrinsik(non-alergik) : tidak berhubungan dengan alergen, seperti
common cold, infeksi traktus respiratorius, latihan, emosi, dan polutan
lingkungan dapat mencetuskan serangan.
3 Asma gabungan : Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai
karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya
serangan Asma Bronkhial yaitu :
a. Faktor predisposisi
Genetik Faktor yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya
mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat
alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit Asma Bronkhial jika terpapar
dengan faktor pencetus. Selain itu hipersensitivitas saluran pernapasannya juga bisa
diturunkan.
b. Faktor presipitasi
1 Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :
a. Inhalan : yang masuk melalui saluran pernapasan
Contoh : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
b. Ingestan : yang masuk melalui mulut
Contoh : makanan dan obat-obatan
c. Kontaktan : yang masuk melalui kontak dengan kulit
Contoh : perhiasan, logam dan jam tangan
2. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi Asma.
Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan Asma.
Kadangkadang serangan berhubungan dengan musim, seperti musim hujan, musim
kemarau.
3. Stres
Stres atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan Asma, selain itu juga
bisa memperberat serangan Asma yang sudah ada. Disamping gejala Asma yang
timbul harus segera diobati penderita Asma yang mengalami stres atau gangguan
emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika
stresnya belum diatasi maka gejala belum bisa diobati.
4. Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan Asma. Hal ini
berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium
hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu
libur atau cuti.
5. Olah raga atau aktifitas jasmani
Sebagian besar penderita Asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas
jasmani atau olah raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan
Asma. Serangan
asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.
C. MANIFESTASI KLINIS

Gejala-gejala yang lazim muncul pada Asma Bronkhial adalah batuk, dispnea, dan
wheezing. Serangan seringkali terjadi pada malam hari. Asma biasanya bermula
mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam dada, disertai dengan pernapasan
lambat,wheezing. Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang dibanding inspirasi, yang
mendorong pasien unutk duduk tegak dan menggunakan setiap otot-otot aksesori
pernapasan. Jalan napas yang tersumbat menyebabkan dispnea. Serangan Asma dapat
berlangsung dari 30 menit sampai beberapa jam dan dapat hilang secara spontan.
Meskipun serangan asma jarang ada yang fatal, kadang terjadi reaksi kontinu yang lebih
berat, yang disebut “status asmatikus”, kondisi ini mengancam hidup
D. PATOFISIOLOGI

Suatu serangan Asma merupakan akibat obstruksi jalan napas difus reversible. Obstruksi
disebabkan oleh timbulnya tiga reaksi utama yaitu kontraksi otot-otot polos baik saluran
napas, pembengkakan membran yang melapisi bronki, pengisian bronki dengan mukus
yang kental. Selain itu, otot-otot bronki dan kelenjar mukusa membesar, sputum yang
kental, banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflasi, dengan udara terperangkap
didalam jaringan [Link] yang dihasilkan (IgE) kemudian menyerang sel-sel mast
dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan
antibody, menyebabkan pelepasan produk sel-sel mast (disebut mediator) seperti
histamine, bradikinin, dan prostaglandin serta anafilaksis dari substansi yang bereaksi
lambat (SRS-A). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos
dan kelenjar jalan napas,menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membran mukosa,
dan pembentukan
mucus yang sangat banyak. Selain itu, reseptor α- dan β- adrenergik dari sistem saraf
simpatis terletak dalam bronki. Ketika reseptor α- adrenergik dirangsang, terjadi
bronkokonstriksi, bronkodilatasi terjadi ketika reseptor β- adrenergik yang dirangsang.
Keseimbangan antara reseptor α- dan β- adrenergik dikendalikan terutama oleh siklik
adenosine monofosfat
(cAMP). Stimulasi reseptor α- mengakibatkan penurunan cAMP, yang mengarah pada
peningkatan mediator kimiawi yang dilepaskan oleh sel-sel mast bronkokonstriksi.
Stimulasi reseptor β- mengakibatkan peningkatan tingkat cAMP yang menghambat
pelepasan mediator kimiawi dan menyebabakan bronkodilatasi. Teori yang diajukan
adalah bahwa penyekatan β- adrenergik terjadi pada individu dengan Asma. Akibatnya,
asmatik rentan terhadap peningkatan pelepasan mediator kimiawi dan konstriksi otot
polos
E. PATHWAY
F. PENATALAKSANAAN
 Farmakologi
pengobatan Asma diarahkan terhadap gejalagejala yang timbul saat serangan,
mengendalikan penyebab spesifik dan perawatan pemeliharaan keehatan optimal yang
umum. Tujuan utama dari berbagai macam pengobatan adalah pasien segera mengalami
relaksasi bronkus. Terapi awal, yaitu:
a. Memberikan oksigen pernasal
b. Antagonis beta 2 adrenergik (salbutamol mg atau fenetoral 2,5 mg atau terbutalin
10 mg). Inhalasi nebulisasi dan pemberian yang dapat diulang setiap 20 menit
sampai 1 jam. Pemberian antagonis beta 2 adrenergik dapat secara subcutan atau
intravena dengan dosis salbutamol 0,25 mg dalam larutan dekstrose 5%
c. Aminophilin intravena 5-6 mg per kg, jika sudah menggunakan obat ini dalam 12
jam sebelumnya maka cukup diberikan setengah dosis.
d. Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg intravena jika tidak ada respon segera
atau dalam serangan sangat berat
e. Bronkodilator, untuk mengatasi obstruksi jalan napas, termasuk didalamnya
golongan beta adrenergik dan anti kolinergik.
 Pengobatan secara sederhana atau non farmakologis penatalaksanaan
nonfarmakologis asma yaitu:
a. Fisioterapi dada dan batuk efektif membantu pasien untuk mengeluarkan sputum
dengan baik
b. Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik
c. Berikan posisi tidur yang nyaman (semi fowler)
d. Anjurkan untuk minum air hangat 1500-2000 ml per hari
e. Usaha agar pasien mandi air hangat setiap hari
f. Hindarkan pasien dari faktor pencetus
G. PENGKAJIAN FOKUS
a. Pola pemeliharaan kesehatan
Gejala Asma dapat membatasi manusia untuk berperilaku hidup normal sehingga
pasien dengan Asma harus mengubah gaya hidupnya sesuai kondisi yang
memungkinkan tidak terjadi serangan Asma
b. Pola nutrisi dan metabolik
Perlu dikaji tentang status nutrisi pasien meliputi, jumlah, frekuensi, dan kesulitan-
kesulitan dalam memenuhi kebutuhnnya. Serta pada pasien sesak, potensial sekali
terjadinya kekurangan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi, hal ini karena dispnea saat
makan, laju metabolism serta ansietas yang dialami pasien.
c. Pola eliminasi
Perlu dikaji tentang kebiasaan BAB dan BAK mencakup warna, bentuk, konsistensi,
frekuensi, jumlah serta kesulitan dalam pola eliminasi.
d. Pola aktifitas dan latihan
Perlu dikaji tentang aktifitas keseharian pasien, seperti olahraga, bekerja, dan aktifitas
lainnya. Aktifitas fisik dapat terjadi faktor pencetus terjadinya Asma.
e. Pola istirahat dan tidur
Perlu dikaji tentang bagaiman tidur dan istirahat pasien meliputi berapa lama pasien
tidur dan istirahat. Serta berapa besar akibat kelelahan yang dialami pasien. Adanya
wheezing dan sesak dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat pasien.
f. Pola persepsi sensori dan kognitif
Kelainan pada pola persepsi dan kognitif akan mempengaruhi konsep diri pasien dan
akhirnya mempengaruhi jumlah stresor yang dialami pasien sehingga kemungkinan
terjadi serangan Asma yang berulang pun akan semakin tinggi.
g. Pola hubungan dengan orang lain
Gejala Asma sangat membatasi pasien untuk menjalankan kehidupannya secara
normal. Pasien perlu menyesuaikan kondisinya berhubungan dengan orang lain.
h. Pola reproduksi dan seksual
Reproduksi seksual merupakan kebutuhan dasar manusia, bila kebutuhan ini tidak
terpenuhi akan terjadi masalah dalam kehidupan pasien. Masalah ini akan menjadi
stresor yang akan meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan Asma.

H. DIAGNOSA
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan bronkospasme
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan
utama atau imunitas
5. Cemas berhubungan dengan kurangnya tingkat pengetahuan
I. INTERVENSI

DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI


1. Bersihan Tujuan : jalan 1. Kaji tanda-tanda vital dan auskultasi
jalan napas napas menjadi bunyi napas
tidak efektif efektif 2. Berikan pasien untuk posisi yang
berhubungan Kriteria hasil : nyaman
dengan a. Jalan napas 3. Pertahankan lingkungan yang
peningkatan bersih nyaman
produksi b. Sesak 4. Tingkatkan masukan cairan,
sekret berkurang denganmemberi air hangat.
c. Batuk efektif 5. Dorong atau bantu latihan napas
d. Mengeluarkan dalam dan batuk efektif
sekret 6. Dorong atau berikan perawatan
mulut
7. Kolaborasi : pemberian obat dan
humidifikasi, seperti nebulizer

Ketidakefektif Tujuan : pola napas 1 Kaji frekuensi kedalaman


an pola napas kembali efektif pernapasan dan ekspansi dada
berhubungan Kriteria hasil : 2 Auskultasi bunyi napas
dengan a. Pola napas 3 Tinggikan kepala dan bentuk
bronkospasme efektif mengubah posisi
b. Bunyi napas 4 Kolaborasi pemberian oksigen
normal kembali
c. Batuk
berkurang
Gangguan Tujuan :dapat 1. Kaji frekuensi, kedalaman
pertukaran gas mempertahankan pernapasan
berhubungan pertukaran gas 2. Tinggikan kepala tempat tidur,
dengan Kriteria hasil : bantu pasien untuk memilih
gangguan a. Tidak ada 3. posisi yang nyaman untuk bernapas
suplai dispnea 4. Kaji atau awasi secar rutin kulit dan
oksigen b. Pernapasan warna membran mukosa
normal 5. Dorong pengeluaran sputum:
penghisapan bila diindikasikan
6. Auskultasi bunyi napas
7. Palpasi Fremirus
8. Evaluasi tingkat toleransi aktivitas
9. Kolaborasi : Berikan oksigen
tambahan sesuai indikasi

Resiko tinggi Tujuan :tidak 1. Monitor tanda-tanda vital


terhadap mengalami infeksi 2. Observasi warna, karakter, jumlah
infeksi noskomial sputum
berhubungan Kriteria hasil : 3. Berikan nutrisi yang adekuat
dengan tidak a. Tidak ada 4. Berikan antibiotik sesuai indikasi
adekuatnya tanda-tanda
pertahanan infeksi
utama atau b. Mukosa mulut
imunitas lembab
c. Batuk
berkurang
b. Intervensi

Cemas Tujuan : 1 Kaji tingkat kecemasan


berhubungan kecemasan pasien 2 Berikan pengetahuan tentang
dengan berkurang penyakit yang diderita
kurangnya Kriteria hasil : 3 Berikan dukungan pada pasien
tingkat a. Pasien terlihat untuk mengungkapkan
pengetahuan tenang perasaannya
b. Cemas 4 Ajarkan teknik napas dalam pada
berkurang pasien
c. Ekspresi wajah
tenang
J. REFERENSI

Baratawidjaja, K. (2010) “Asma Bronchiale”, dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam,


Jakarta : FK UI.
Brunner & Suddart (2008) “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”, Jakarta : AGC.
Crockett, A. (2009) “Penanganan Asma dalam Penyakit Primer”, Jakarta :
Hipocrates.

Anda mungkin juga menyukai