0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan12 halaman

Modul P5 Kewirausahaan untuk SMP 7 Semarang

Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan memfasilitasi modul P5 tema kewirausahaan di SMP Negeri 7 Semarang, dengan fokus pada pembuatan ecoprint untuk menumbuhkan jiwa technopreneur di kalangan siswa. Modul P5 yang telah divalidasi menunjukkan tingkat validitas 91,10%, sehingga dapat diimplementasikan sebagai kegiatan alternatif di sekolah. Kegiatan ini diharapkan dapat membentuk wirausahawan yang kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab di masa depan.

Diunggah oleh

anggi.anggi310505
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan12 halaman

Modul P5 Kewirausahaan untuk SMP 7 Semarang

Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan memfasilitasi modul P5 tema kewirausahaan di SMP Negeri 7 Semarang, dengan fokus pada pembuatan ecoprint untuk menumbuhkan jiwa technopreneur di kalangan siswa. Modul P5 yang telah divalidasi menunjukkan tingkat validitas 91,10%, sehingga dapat diimplementasikan sebagai kegiatan alternatif di sekolah. Kegiatan ini diharapkan dapat membentuk wirausahawan yang kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab di masa depan.

Diunggah oleh

anggi.anggi310505
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Abdi Negeri

Vol.
Vol.2,2,No.
No.11Oktober
Januari2024
2024

Memfasilitasi Modul P5 Tema Kewirausahaan: Menumbuhkan Jiwa


Technopreneur melalui Pembuatan Ecoprint

Moh. Qalfin1, Aizah Tifani2, Desy Kurniasari3, Ai Rohaeti4, Rizqi Kurnia Safitri5, Prasetyo Listiyaji*6
1,2,3,4,5, 6Program Studi Pendidikan IPA, Universitas Negeri Semarang

*e-mail: [Link]@[Link]

Abstrak
Penelitian ini merupakan kegiatan pengabdian masyarakat yang sasarannya yaitu SMP Negeri 7
Semarang sebagai tempat peneliti untuk merancang dan memfasilitasi modul P5 tema kewirausahaan yang
akan diberikan kepada pihak sekolah. Pembuatan modul P5 bertujuan untuk membentuk dan
menumbuhkan wawasan dalam berwirausaha peserta didik SMP Negeri 7 Semarang sehingga dapat
menjadi wirausahawan yang kreatif, inovatif, peduli dan bertanggung jawab. Modul P5 yang sudah
divalidasi selanjutnya dianalisis menggunakan metode deskripsi kualitatif. Hasil validasi yang diperoleh
menunjukan persentase sebesar 91,10% dan berkategori sangat valid. Berdasarkan hal tersebut modul P5
dapat diimplementasikan sebagai salah satu alternatif kegiatan P5 di SMP Negeri 7 Semarang.

Kata kunci: Ecoprint, Kewirausahaan, Modul P5

Abstract
This research is a community service activity whose target is SMP Negeri 7 Semarang as a place for researchers
to design and facilitate the P5 module on the theme of entrepreneurship which will be given to the school. The
creation of the P5 module aims to form and foster insight into entrepreneurship for students at SMP Negeri 7
Semarang so that they can become creative, innovative, caring and responsible entrepreneurs. The validated
P5 module is then analyzed using the qualitative description method. The validation results obtained show a
percentage of 91,10%% and are categorized as very valid. Based on this, the P5 module can be implemented
as an alternative P5 activity at SMP Negeri 7 Semarang.

Keywords: Ecoprint, Entrepreneurship, P5 Module

1. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah aspek yang penting dalam mengawali seseorang dalam mencapai
tujuan hidupnya. Manusia dapat mentransfer ilmu pengetahuan melalui pendidikan serta
menjamin keberlangsungan kebudayaan dan peradaban manusia. Dewasa ini, proses pendidikan
di Indonesia menerapkan Kurikulum Merdeka yaitu kurikulum dengan proses pembelajaran yang
beragam di mana konten akan lebih optimal dan pembelajaran lebih bermakna. Dalam Kurikulum
Merdeka, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Nadiem
Anwar Makarim menyatakan bahwa penguatan pendidikan karakter peserta didik
dimanifestasikan melalui berbagai strategi yang berpusat pada upaya untuk mewujudkan peserta
didik dengan Profil Pelajar Pancasila [1]. Adapun yang melatar belakangi hadirnya Profil Pelajar
Pancasila adalah kemajuan pesat teknologi, pergeseran sosio-kultural, perubahan lingkungan
hidup, dan perbedaan dunia kerja masa depan dalam bidang pendidikan pada setiap tingkatan
dan bidang kebudayaan. Profil Pelajar Pancasila adalah profil lulusan yang diharapkan dapat
diraih oleh peserta didik dengan tujuan untuk mewujudkan dan memperkuat karakter peserta
didik dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

P-ISSN 2986-5425 | E-ISSN 2985-9387 14


[2]mengatakan bahwa pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang
kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila. Hal ini sejalan dengan visi
Pendidikan Indonesia yaitu “mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan
berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila.” Pada profil Pelajar Pancasila, kompetensi
dan karakter yang dikembanagkan tertuang dalam enam dimensi yaitu (1) beriman, bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia; (2) berkebhinekaan global; (3) bergotong
royong; (4) mandiri; (5) bernalar kritis; (6) kreatif. Dengan identitas budaya Indonesia dan nilai-
nilai Pancasila yang berakar dalam, masyarakat Indonesia pada masa mendatang menjadi
masyarakat terbuka yang berkewarganegaraan global, dapat menerima dan memanfaatkan
keragaman sumber, pengalaman, serta nilai-nilai dari beragam budaya di dunia, namun sekaligus
tidak kehilangan ciri dan identitas khasnya. Harapannya adalah agar peserta didik mampu secara
mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji, dan menginternalisasi
serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia yang diwujudkan dalam kehidupan
sehari-hari [3].
Penguatan profil Pelajar Pancasila menjadi penting untuk dikembangkan terutama pada
perkembangan zaman yang sangat pesat seperti saat ini karena dapat menjadi sebuah solusi
dalam menyelesaikan permasalahan krisis karakter yang terjadi dalam setiap pergerakan
reformasi. Projek penguatan profil pelajar pancasila digalakan dalam Kurikulum Merdeka melalui
budaya sekolah, pembelajaran intrakurikuler, kegiatan kokulikuler dan ekstrakulikuler yang
didalamnya focus pada pembentukan karakter dan kemampuan yang dibangun dalam keseharian
dan dihidupkan dalam diri setiap individu. Proyek penguatan ini hadir sebagai sebuah
pembelajaran lintas disiplin ilmu untuk mengamati dan memikirkan solusi terhadap
permasalahan di lingkungan sekitarnya dengan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis
proyek (project-based learning). Yang dimaksud dengan proyek yaitu pembelajaran berbasis
proyek yang kontekstual dan interaksi dengan lingkungan sekitar. Dalam mengembangkan
proyek penguatan profil pelajar Pancasila, Kemendikbud Ristek mencanangkan tujuh tema dan
dikembangkan berdasarkan isu prioritas yang dinyatakan dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional
2020-2035, Sustainable Development Goals, dan dokumen lain yang relevan. Lima tema umum
yang dicanangkan untuk tingkatan Sekolah Dasar adalah Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan
Lokal, Bhinneka Tunggal Ika, Berekayasa dan Berteknologi untuk Membangun NKRI dan
Kewirausahaan [4].
Kewirausahaan adalah proses dimana seorang individu atau kelompok individu
menggunakan usaha yang terorganisir serta peluang untuk menciptakan nilai untuk tumbuh
sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui inovasi dan keunikan [5]. Pada saat
ini rasio kewirausahaan di Indonesia masih rendah pada posisi 3,47 persen, bila dibandingkan
dengan beberapa negara di Asia Tenggara. Misalnya dengan negara Thailand yang berada pada
posisi 4, 26 persen, sedangkan Malaysia sudah mencapai 4,74 persen, bahkan Singapura sudah
pada posisi 8,76 persen [6]. Padahal kewirausahaan merupakan urat nadi yang menjadi
pengendali perekonomian suatu Negara. Berdasarkan hal tersebut, untuk dapat meningkatkan
rasio kewirausahaan dapat dilakukan melalui sektor pendidikan. Menurut [7]. kewirausahaan
merupakan hal yang penting dalam praksis pendidikan, sehingga dapat dipelajari melalui
berbagai ranah pendidikan. Dengan kata lain kewirausahaan dapat dipelajari melalui proses
belajar atau pendidikan sepanjang hayat pada era apapun termasuk pada era Society 5.0 seperti
sekarang ini.
Society 5.0 adalah konsep Society 5.0 adalah konsep kebaruan hidup yang mengubah
tatanan kehidupan manusia yang berbasiskan teknologi digital untuk mempermudah aktivitas
manusia [8]. Society 5.0 sebagai simbol dari reformasi sosial melahirkan masyarakat berwawasan
global yang meruntuhkan sikap pesimisme akan kemajuan dan persaingan dunia serta
menumbuhkan rasa saling menghormati satu sama lain. Konsep ini memungkinkan ruang ilmu
pengetahuan yang berbasis modern lebih terbuka dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi
sehingga masyarakat dapat mengakses berbagai informasi dalam ruang maya seperti ruang fisik.
Dengan berkembangnya era Society 5.0 dapat memudahkan pelaku wirausaha dalam
menyebarluaskan informasi mengenai hasil ide inovasi yang telah dikembangkan kepada
masyarakat luas.

P-ISSN 2986-5425 | E-ISSN 2985-9387 15


Ecoprint merupakan salah satu bentuk kerajinan yang dapat mendukung upaya
menumbuhkan wirausaha baru yang kini diperlukan untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan
yang terbilang masih rendah di Indonesia. Ecoprint merupakan sebuah teknik memindahkan pola
(bentuk) dedaunan dan bunga-bunga ke atas permukaan berbagai kain yang sudah diolah untuk
menghilangkan lapisan lilin dan kotoran halus pada kain agar warna tumbuhan mudah menyerap
[9]. Kerajinan Ecoprint saat ini semakin digemari dan menjadi trend gaya hidup ramah lingkungan
karena meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian alam. Istilah ecoprint
terdiri dari kata eco yang berarti alam dan print yang berarti mencetak. Pada umumnya teknik
ecoprint dilakukan dengan menggunakan bagian dari tanaman misalnya daun dan bunga.
Dari dari Badan Pusat Statistik (2022) Indonesia diperkirakan memasuki masa bonus
demografi dengan periode puncak antara tahun 2020-2030. Jumlah penduduk usia produktif yang
besar menyediakan sumber tenaga kerja, pelaku usaha, dan konsumen potensial yang sangat
berperan dalam percepatan pembangunan. Melihat fenomena di atas, merupakan suatu
kewajiban sekolah untuk membimbing para peserta didik SMP dalam menyiapkan pengetahuan,
sikap dan keterampilan untuk bekal kehidupan di dunia nyata. Salah satu upaya sekolah untuk
membentuk peserta didik yang unggul adalah dengan memperkenalkan para peserta didik
tentang sikap wirausaha.
Tidaklah berlebihan sebagai calon guru profesional yang memiliki visi kuat, berdaya, siap,
dan tangguh dalam memimpin serta mengelola apapun yang diperlukan untuk perbaikan kualitas
pendidikan memberikan sebuah prakarsa perubahan. Perubahan yang dilakukan untuk
memajukan kualitas pendidikan di Indonesia bukanlah suatu hal yang mudah. Semua titik yang
ingin kita ubah ternyata tidak berdiri sendiri, mereka saling terkoneksi, saling mempengaruhi,
dan terangkai dalam sistem yang kompleks. Di mulai dari mengidentifikasi tantangan dan
kekuatan suatu komunitas atau sekolah perlu ditangkap dan disadari oleh para pembawa
perubahan demi meningkatkan kualitas pembelajaran peserta didik. Memahami kompleksitas
sistem membuat kita lebih awas dalam menyiapkan program atau kegiatan yang membawa
dampak besar bagi para peserta didik.
Berdasarkan hasil observasi yang telah kami lakukan di SMPN 7 Semarang, diperoleh
informasi berupa potensi dan tantangan yang dapat menjadi celah diterapkannya prakarsa
perubahan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Beberapa potensi yang dinilai mendukung
dalam terlaksananya proyek kelompok atau tim ditinjau dari sekolah diantaranya yaitu sekolah
sudah menerapkan kurikulum merdeka dan proyek penguatan profil pelajar pancasila di Tingkat
Kota Semarang pada tahun 2023. Proses pembelajaran di sekolah sudah memanfaatkan android
secara keseluruhan, terfasilitasi oleh koneksi jaringan berupa Wifi, literasi digital yang dimiliki
oleh peserta didik dalam operasional teknologi yang cukup memadai dan literasi peserta didik
yang mulai terbentuk melalui pembiasaan membaca menggunakan android masing-masing.
Ditinjau dari potensi, tantangan dan problem yang telah dipaparkan, maka kami
menyusun sebuah prakarsa perubahan yaitu “Memfasilitasi Modul Proyek Penguatan Profil
Pelajar Pancasila (P5) Tema Kewirausahaan dengan judul Menumbuhkan Jiwa Technopreneur
melalui Pembuatan Kerajinan Ecoprint”. Prakarsa perubahan yang disusun sebagai bentuk
pengabdian dengan tujuan untuk membentuk dan menumbuhkan wawasan dalam berwirausaha
peserta didik SMP Negeri 7 Semarang sehingga dapat menjadi wirausahawan yang kreatif,
inovatif, peduli dan bertanggung jawab.

2. METODE
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Menurut Sugiyono
(2016) metode penelitian kualitatif adalah metode yang digunakan untuk meneliti kondisi objek
yang alamiah dimana peneliti sebagai instrumen kunci[10]. Penelitian ini bertujuan untuk
memfasilitasi sekolah sasaran dengan modul P5 tema kewirausahaan. Penelitian ini merupakan
kegiatan pengabdian masyarakat yang sasarannya yaitu SMP Negeri 7 Semarang yang digunakan
sebagai tempat peneliti untuk merancang dan memfasilitasi modul P5 tema kewirausahaan yang
akan diberikan kepada pihak sekolah.

P-ISSN 2986-5425 | E-ISSN 2985-9387 16


Kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan partisipatif, dimana mitra terlibat dalam
kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Tim pelaksana bersama mitra
melakukan perencanaan yang dapat menjawab permasalahan dan kebutuhan. Tahapan yang
dilakukan secara umum adalah (1) analisis kebutuhan; (2) perencanaan; (3) sosialisasi; dan (4)
tindak lanjut [11].
a. Analisis kebutuhan
Pada kegiatan analisis kebutuhan, dilakukan wawancara dengan guru IPA, waka
kurikulum dan koordinator P5 SMPN 7 Semarang. Wawancara tersebut dilakukan untuk
mengetahui permasalahan yang ada di sekolahan. Tim pelaksana melakukan wawancara
terkait pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Hasil wawancara diketahui bahwa guru
belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran. Selain itu pada
tahap ini tim pelaksana juga melakukan observasi dalam proses pembelajaran. Observasi ini
digunakan untuk mengetahui karakteristik peserta didik dan penggunaan teknologi selama
proses pembelajaran.
Berdasarkan hasil wawancara dari pihak sekolah, dan hasil observasi diketahui bahwa
pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran belum maksimal sehingga tim pelaksana
berinisiatif untuk merencanakan sebuah proyek yang memanfaatkan teknologi dalam
pembelajaran. Sesuai hasil tersebut tim pelaksana mempertimbangkan proyek yang akan
dibuat yaitu berencana untuk membuat modul P5 tema rekayasa dan berteknologi. Pemilihan
proyek tersebut dilakukan sesuai dengan visi yang telah dibuat oleh tim yaitu fokus pada
teknologi.
b. Perencanaan
Setelah tahap analisis kebutuhan, tim pelaksana mengkonsultasikan rencana proyek
tersebut ke pihak sekolah. Respon dari pihak sekolah mengenai rencana proyek yang akan
tim pelaksana buat yaitu kurang positif, karena modul P5 yang akan dibuat menyerupai tema
yang sudah dilaksanakan oleh sekolah sehingga tim pelaksana merubah rencana proyek
tersebut dengan merevisi tema rekayasa dan berteknologi menjadi tema kewirausahaan yang
menghasilkan produk ecoprint. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan sekolah dan peserta
didik. Perubahan tema menjadi wirausahawan disepakati oleh pihak sekolah.
Pada tahap ini tim pelaksana mulai menyusun modul P5, dan menyusun lembar validasi
serta respon peserta. Setelah selesai penyusunan modul P5 tema kewirausahaan selesai, tim
pelaksana melakukan uji validasi ke pihak sekolah dan merevisi modul P5 yang sudah
divalidasi oleh ahli. Pada tahap ini juga tim pelaksana membuat rencana kerja yang meliputi
(1) penentuan jadwal kegiatan; (b) mempersiapkan materi sosialisasi dan; (3)
mempersiapkan angket respon.
c. Sosialiasi
Pada tahap ini tim pelaksana melakukan sosialisasi modul P5 yang berjudul
“Menumbuhkan Jiwa Technopreneur melalui Pembuatan Produk Ecoprint”. Kegiatan
sosialisasi dimulai dengan pembukaan oleh MC, sambutan oleh koordinator tim dan
koordinator proyek oleh pihak SMP N 7 Semarang, penyampaian isi modul P5 oleh salah satu
anggota kelompok, penyampaian produk ecoprint melalui video tutorial pembuatan ecoprint
yang telah dibuat oleh tim pelaksana, dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan ecoprint
kemudian diskusi dan tanya jawab, pengisian angket respon dan ditutup dengan doa serta
foto bersama.
d. Rencana Tindak lanjut
Tindak lanjut berupa perbaikan dan saran dari peserta sosialisasi sebelum modul P5
diberikan kepada pihak sekolah SMP Negeri 7 Semarang.
Pelaksanaan kegiatan ini di SMP Negeri 7 Semarang yang beralamat di Jl. Imam Bonjol 191a,
Pendrikan Kidul, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang Prov. Jawa Tengah. Waktu pelaksanaan
kegiatan sosialisasi modul P5 dilaksanakan pada hari Senin, 10 Juli 2023 di ruang kelas 9A SMP
Negeri 7 Semarang yang diikuti oleh guru yang akan mengampu proyek P5 baik guru kelas 7
maupun kelas 8 sejumlah 15 orang.
Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu wawancara, observasi,
lembar validasi, angket respon dan dokumentasi. Wawancara digunakan untuk mengidentifikasi

P-ISSN 2986-5425 | E-ISSN 2985-9387 17


permasalahan yang terjadi baik di lingkungan kelas maupun sekolah oleh waka kurikulum dan
koordinator P5. Observasi digunakan untuk mengamati proses pembelajaran yang berlangsung
dikelas. Lembar validasi digunakan untuk mengetahui tingkat kevalidan modul P5 yang telah
disusun. Angket respon pasca kegiatan sosialisasi digunakan untuk mengetahui keberhasilan
proyek yang telah dibuat oleh tim pelaksana melalui google form. Dokumentasi dilakukan dengan
pengumpulan dokumen berupa foto dan video baik selama kegiatan observasi maupun sosialisasi
modul P5.
Analisis data yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Analisis data deskriptif didapatkan
dari hasil instrumen validasi ahli dan angket respon dengan menggunakan persentase. Rumus
persentase yang digunakan yaitu sebagai berikut:

(𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ)


𝑥= 𝑥100
(𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙)

Hasil validasi dan respon diubah menjadi data kualitatif sesuai standar yang ditunjukkan
pada Tabel 1.

Tabel 1. Kriteria persentase validasi dan respon


Interval Kriteria Validasi Kriteria Respon
0 %≤ x 44% Tidak Valid Tidak Baik
45% ˂ x ≤ 58% Kurang Valid Kurang Baik
59% ˂ x ≤ 72% Cukup Valid Cukup Baik
73% ˂ x ≤ 86% Valid Baik
87% ˂ x ≤ 100% Sangat Valid Sangat Baik

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


Modul P5 merupakan bagian dari upaya mewujudkan pendidikan karakter di sekolah. P5
hadir untuk mewujudkan penguatan karakter Profil Pelajar Pancasila pada setiap peserta didik
melalui pembelajaran berbasis proyek. Para praktisi dan pendidik menyadari bahwa proses
pendidikan harus berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini juga didukung oleh
filosofi Ki Hajar Dewantara yang menyatakan pentingnya mempelajari hal-hal diluar kelas agar
peserta didik tidak hanya memiliki pengetahuan tetapi juga mengalaminya [13]. P5 sebagai
wadah peserta didik untuk belajar, mengamati dan memikirkan solusi permasalahan di
lingkungan sekitar [14]. Melalui fasilitas modul P5 Tema Kewirausahaan: Menumbuhkan Jiwa
Technopreneur melalui Pembuatan Ecoprint ini, diharapkan dapat mendorong peserta didik
untuk senantiasa berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya, menjadi pelajar sepanjang hayat,
berkompeten, cerdas dan berkarakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Khususnya
membekali peserta didik dengan jiwa kewirausahaan yang berkarakter dan terampil dalam
berteknologi. Oleh karena itu, pengabdian ini pada sekolah harus diwujudkan.
Sebelum kegiatan dilakukan, tim pelaksana pengabdian melakukan analisis kebutuhan
untuk mengetahui permasalahan dan kondisi di sekolah. Analisis kebutuhan dilakukan dengan
cara wawancara bersama guru IPA, waka kurikulum dan koordinator P5 SMPN 7 Semarang serta
peserta didik. Hasil wawancara menunjukkan bahwa pelaksanaan P5 pada tahun ajaran
sebelumnya mengangkat tema suara demokrasi dengan produk akhir berupa kegiatan pemilihan
OSIS, tema gaya hidup berkelanjutan dengan produk akhir berupa kompos dan eco enzim, dan
tema kearifan lokal dengan produk akhir berupa miniatur warak ngendhog. Selain itu, lingkungan
sekolah sudah terfasilitasi dengan Wifi dan peserta didik diperbolehkan untuk menggunakan
handphone untuk menunjang proses pembelajaran.
Mengingat potensi yang ditemukan di sekolah, maka tim pengabdian melakukan sebuah
inovasi berupa memfasilitasi pembuatan modul P5 dengan tema yang berbeda dari yang sudah
dikembangkan sebelumnya. Selanjutnya tim pelaksana pengabdian melakukan koordinasi

P-ISSN 2986-5425 | E-ISSN 2985-9387 18


dengan pihak sekolah terkait prakarsa perubahan yang digagas tim pelaksana pengabdian yang
dibuat berdasarkan hasil analisis kebutuhan yaitu memfasilitasi modul P5 Tema Kewirausahaan:
Menumbuhkan Jiwa Technopreneur melalui Pembuatan Ecoprint. Dalam koordinasi tersebut
diperoleh persetujuan dan perizinan pelaksanaan pengabdian.
Setelah tahap analisis kebutuhan, tim pelaksana pengabdian mulai merencanakan atau
mendesain modul P5 yang didasarkan pada hasil analisis kebutuhan. Ada enam tahap dalam
merencanakan modul P5. Tahap Pertama, merancang alokasi waktu dan dimensi Profil Pelajar
Pancasila. Mengacu kepada Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Republik Indonesia Nomor 162/M/2021 tentang Program Sekolah Penggerak, durasi
pelaksanaan untuk setiap Tema Projek Fase D adalah 120 JP dengan persebarannya dilakukan
setiap minggu ke 4 setiap bulan. Selanjutnya pemilihan dimensi karakter Profil Pelajar Pancasila.
Tahapan ini diperlukan karena pencapaian akhir implementasi P5 yakni membentuk karakter
peserta didik sesuai Profil Pelajar Pancasila [15]. Pada dasarnya terdapat 6 dimensi karakter
Profil Pelajar Pancasila. Namun, tim pelaksana pengabdian dan sekolah mitra memilih 3 dimensi
karakter yang dikembangkan yaitu mandiri, kreatif, dan gotong royong. Hal ini sesuai dengan
panduan P5 bahwa jumlah dimensi profil pelajar Pancasila yang dikembangkan dalam suatu
proyek hendaknya tidak terlalu banyak, disarankan 2-4 dimensi agar tujuan pencapaian proyek
profil jelas dan terarah [13]. Pemilihan dimensi karakter tersebut didasarkan pada visi dan misi
sekolah mitra yaitu berbudi pekerti luhur dan berprestasi. Pertimbangan dalam pemilihan
dimensi ini sesuai dengan teori, yang mana berdasarkan visi misi sekolah, kebutuhan peserta
didik, kemampuan peserta didik, atau kebiasaan yang ingin ditanamkan pada peserta didik [16].
Adapun secara spesifik dimensi karakter Profil Pelajar Pancasila yang dipilih, ditunjukkan pada
Tabel 2. berikut.

Tabel 2. Dimensi karakter profil pelajar pancasila


Dimensi yang dirumuskan Elemen yang dicapai
Mandiri Pemahaman diri dan situasi yang dihadapi
Regulasi Diri
Kreatif Menghasilkan gagasan yang orisinil
Menghasilkan karya dan tindakan yang orisinil
Gotong royong Kolaborasi

Tahap kedua, membentuk tim fasilitasi projek. Tim fasilitas proyek terdiri dari tim
pelaksana pengabdian yang bermitra dengan tim fasilitas proyek sekolah mitra. Semua
memperoleh peran masing-masing dengan persetujuan kepala sekolah. Hal ini sesuai dengan
peran kepala sekolah sebagai pembentuk tim P5 sekaligus melakukan pengawasan terhadap
jalannya implementasi P5 [17]. Tahap ketiga, mengidentifikasi tingkat kesiapan satuan
pendidikan. Proses ini bertujuan untuk memetakan pada tahap mana sekolah dapat
mengimplementasikan P5. Kesiapan implementasi P5 dibagi menjadi 3 tahap yaitu tahap awal,
tahap berkembang dan tahap lanjutan [16]. Berdasarkan identifikasi kesiapan implementasi P5,
Sekolah sekolah mitra berada pada tahap berkembang. Kesiapan implementasi dikatakan pada
tahap berkembang karena sesuai dengan kriteria yaitu sekolah telah terbiasa melaksanakan
pembelajaran berbasis proyek. Lebih dari 50% guru pernah melaksanakan pembelajaran berbasis
proyek. Peserta didik juga telah memahami pembelajaran berbasis proyek. Selain itu, sekolah juga
memiliki mitra yang dilibatkan dalam kegiatan proyek [18].
Tahap keempat, pemilihan tema umum yang menjadi jembatan untuk menguatkan
karakter peserta didik. Tema kewirausahan dipilih tim pelaksana pelaksana pengabdian dan
sekolah mitra karena beberapa alasan seperti tema tersebut belum pernah dilakukan oleh sekolah
mitra, lingkungan sekitar sekolah mitra memiliki permasalahan terkait pencemaran air sungai
akibat limbah atau sampah, dan disesuaikan dengan dimensi karakter Profil Pelajar Pancasila
yang hendak dicapai. Hal ini sejalan dengan teori bahwa pemilihan tema harus didasari pada
dimensi yang ingin dikembangkan [19]. Selain itu, penentuan tema juga dapat berangkat dari
permasalahan yang terjadi di sekolah, agenda, tujuan sekolah ataupun keinginan peserta didik
[20]. Tahap kelima, penentuan topik spesifik. Berdasarkan hasil diskusi bersama sekolah mitra

P-ISSN 2986-5425 | E-ISSN 2985-9387 19


maka ditentukan tema spesifiknya adalah Modul P5 Tema Kewirausahaan: Menumbuhkan Jiwa
Technopreneur melalui Pembuatan Ecoprint. Tema tersebut diharapkan dapat membentuk
kebiasaan dan karakter yang baik untuk peduli lingkungan sekaligus terampil dalam
berwirausaha dan berteknologi.
Meningkatnya kesadaran masyarakat menjaga kelestarian alam menjadikan trend gaya
hidup ramah lingkungan semakin digemari dan merambah luas ke berbagai sektor usaha. Tidak
terkecuali dengan trend adi busana khususnya batik. Akhir-akhir ini berkembang batik Ecoprint,
yakni batik kontemporer yang menambah khasanah batik etnik di samping batik tulis dan batik
cap. Sesuai namanya ecoprint dari kata eco asal kata ekosistem (alam) dan print yang artinya
mencetak, batik ini dibuat dengan cara mencetak dengan bahan-bahan yang terdapat di alam
sekitar sebagai kain, pewarna, maupun pembuat pola motif. Bahan yang digunakan berupa
dedaunan, bunga, batang, dan ranting. Penggunaan bahan alam untuk pewarnaan batik sejalan
dengan konsep pemanfaatan produk ramah lingkungan dengan memanfaatan sumber-sumber
pewarna alami. Di beberapa negara seperti Jerman dan Belanda, telah dilakukan pelarangan
penggunaan zat pewarna berbahan kimia sejak tahun 1996. Oleh karena itu, mulai bermunculan
produk-produk tekstil yang menggunakan bahan pewarna alami, khususnya batik.
Tahap keenam, merancang modul projek. Tim pelaksana pengabdian dan fasilitasi sekolah
mitra bekerja sama dalam merancang modul projek dan berdiskusi dalam menentukan elemen
dan sub elemen profil, alur kegiatan projek, serta tipe asesmen yang sesuai dengan tujuan dan
kegiatan projek. Tim pelaksana pengabdian dan fasilitasi sekolah mitra memutuskan
menggunakan model alur yang meliputi pengenalan, kontekstualisasi, aksi, refleksi dan tindak
lanjut. Alur P5 tersebut secara spesifik ditunjukkan pada Tabel 3. berikut.

Tabel 3. Hasil validasi modul P5


Tahap Pengenalan Tahap Tahap Aksi Tahap Refleksi dan
Kontekstualisasi Tindak Lanjut
5 tahap 4 tahap 4 tahap 5 tahap
Konsep Dasar Pengumpulan, Pengembangan ide Perbaikan hasil
Kewirausahaan pengorganisasian, dan dan inovasi produk: inovasi produk dan
penyajian informasi Rancangan produk rencana bisnis
tentang perancangan kerajinan ecoprint kerajinan ecoprint
produk dan
pengemasan benda
kerajinan
Materi Pencemaran Pengumpulan, Pembuatan produk Persiapan perayaan
Lingkungan pengorganisa- sian, kerajinan ecoprint projek dengan
dan penyajian (Asesmen Sumatif 1) pendampingan
informasi tentang fasilitator
media promosi
Asesmen Formatif : Persiapan presentasi Identifikasi ide dan Pameran hasil inovasi
Konsep Dasar hasil observasi pelaku pengemba- ngan produk kerajinan
Kewirausahaan usaha usaha: Penyusunan ecoprint
rencana bisnis
kerajinan ecoprint
Materi Struktur dan Pengumpulan, Pengembangan dan Pameran hasil inovasi
Jaringan Daun pengorganisasian, dan pembuatan media produk kerajinan
penyajian informasi promosi kerajinan ecoprint
tentang proses ecoprint (Asesmen
pembuatan ecoprint Sumatif 2)
Pengenalan Tokoh - - Pelaporan kegiatan
Inspiratif pameran
Wirausahawan

P-ISSN 2986-5425 | E-ISSN 2985-9387 20


Asesmen yang digunakan pada modul proyek ini berupa formatif dan sumatif. Asesmen
formatif dilakukan pada setiap kegiatan. Objek asesmen berupa perkembangan dimensi karakter
peserta didik. Asesmen sumatif dilakukan pada akhir projek. Objek asesmen meliputi dimensi
karakter yang dicapai peserta didik berdasarkan indikator, dokumen penugasan dan produk
akhir. Indikator yang digunakan meliputi belum berkembang, mulai berkembang, berkembang
sesuai harapan dan sangat berkembang. Berdasarkan hasil perencanaan atau desain modul P5 di
atas kemudian tim pelaksana pengabdian dan fasilitasi dari sekolah mitra membuat modul P5.
Berikut adalah tampilan modul P5 yang telah dibuat.

Gambar 1. Tampilan Modul P5

Berdasarkan gambar diatas, modul terdiri dari judul modul, nama sekolah, tim penyusun,
tema P5, dimensi yang ingin dicapai, alokasi waktu, jumlah tahapan, waktu pelaksanaan, tujuan
dan target pencapaian projek, alur kegiatan P5, tahapan detail kegiatan P5, materi yang
mendukung dan perencanaan asesmen. Hal ini sesuai dengan substansi yang harus ada pada
modul P5 meliputi identitas, dimensi profil pelajar Pancasila yang ingin dicapai, target peserta
didik, deskripsi singkat projek, tujuan, alur kegiatan P5, materi yang mendukung serta asesmen
[16]
Sebelum diimplementasikan, modul P5 divalidasi terlebih dahulu untuk mengetahui
apakah modul P5 yang dikembangkan sudah sesuai kaidah dan dapat digunakan dalam
implementasi P5. Validasi dilakukan menggunakan instrumen validasi produk yang terdiri dari 3
aspek yang dinilai antara lain aspek isi, bahasa, dan kegrafikaan. Validator pada hal ini antara lain
kepala sekolah, waka kurikulum, dan ahli P5 yang ada pada sekolah mitra. Berikut hasil validasi
modul P5 pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil validasi modul P5


Aspek Penilaian Persentase % Kriteria
Aspek Isi 94,16 Sangat Valid
Aspek Bahasan 91,66 Sangat Valid
Aspek Kegrafikaan 87,49 Sangat Valid
Rata-rata 91,10 Sangat Valid

Berdasarkan tabel, menunjukan bahwa modul P5 yang dikembangakan sudah valid


digunakan dalam implementasi P5 dengan rata-rata skor sebesar 91,34 % atau kriteria sangat
valid. Setelah modul P5 dinyatakan valid, selanjutnya tim pengabdian melakukan koordinasi
bersama sekolah mitra. Dalam koordinasi ditentukan jadwal dan teknis pelaksanaan sosialisasi
modul P5. Pembuatan ecoprint yang akan dilatih juga di diskusikan. Selanjutnya kegiatan
sosialisasi dan pelatihan dilakukan pada tanggal 10 Juli 2023 selama 3 jam. Materi sosialisasi
yang disampaikan adalah: pemahaman P5, komponen modul P5 yang telah dikembangkan, dan
cara mengimplementasikan nya. Sedangkan pelatihan dilakukan dengan menyampaikan materi
pengantar tentang ecoprint kemudian dilanjut demonstrasi oleh pemandu dari tim pelaksana
pengabdian.

P-ISSN 2986-5425 | E-ISSN 2985-9387 21


Secara garis besar, kegiatan sosialisasi pada penelitian ini dilaksanakan dalam dua fase
yaitu fase pelatihan pemberian materi terkait modul P5 tema kewirausahaan yang berjudul
“Menumbuhkan Jiwa Technopreneur melalui Pembuatan Produk Ecoprint” oleh tim pelaksana
kepada peserta, dan fase pelatihan pembuatan ecoprint yang dipandu oleh tim pelaksana dan
diikuti oleh peserta pelatihan. Pelatihan pemberian materi dilaksanakan didalam ruangan kelas
dengan pemateri dari tim pelaksana. Dalam hal ini, anggota tim pelaksana terbagi menjadi
beberapa tugas yaitu sebagai pemateri 2 orang, sebagai Mc 1 orang, sebagai dokumenter 1 orang
dan terakhir konsumsi 1 orang. Pada fase ini Mc bertugas membuka kegiatan dan membacakan
susunan acara sebagaimana mestinya. Hal ini ditujukan untuk memberi informasi kepada peserta
terkait kegiatan yang akan dilaksanakan dalam kegiatan sosialisasi tersebut. Sebelum
membacakan susunan acara, kegiatan terlebih dahulu dibuka dengan do’a dan menyanyikan lagu
nasional indonesia raya, selanjutnya sambutan oleh ketua tim pelaksana dan kepala sekolah.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk seminar yang dihadiri oleh 15 orang peserta yang sangat
antusias terlihat dalam sesi diskusi munculnya beberapa pertanyaan yang sangat mendasar
dalam mengimplementasikan Modul P5 yang telah dikembangkan.

(a) (b)
Gambar 2. Sosialisasi (a) pemaparan isi modul P5 dan (b) pelatihan pembuatan ecoprint

Pelaksanaan untuk fase kedua memberikan pelatihan kepada guru-guru pengampu P5


mengenai pembuatan ecoprint sebagai kegiatan utama dalam proyek ini. Pelatihan diawali
dengan kegiatan pemaparan materi dan penayangan video tutorial pembuatan ecoprint yang
diproduksi dan disampaikan oleh tim pelaksana serta sesi tanya jawab. Pada kegiatan fase kedua
ini peserta terlihat antusias dalam mengikutinya ditunjukkan dengan beberapa pertanyaan yang
diajukan oleh peserta dalam pembuatan ecoprint yang baik. Setelah sesi tanya jawab, kegiatan
sosialisasi memasuki tahap pelatihan pembuatan ecoprint yang dipandu oleh tim pelaksana dan
diikuti oleh peserta. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membuat ecoprint secara
langsung yang dipandu oleh instruktur/pemandu. Fase ini dilaksanakan diluar ruangan kelas,
dengan beberapa alat dan bahan yang diperlukan seperti palu, kain, plastik putih, gunting, dan
daun, yang telah disiapkan oleh tim pelaksana. Kain yang digunakan, merupakan kain yang sudah
melalui tahap mordanting sehingga kain sudah siap pakai sebagai dasar pembuatan ecoprint.

(a) (b)
Gambar 3. (a) proses pembuatan ecoprint dan (b) hasil pembuatan ecoprint oleh peserta

Peserta juga memberikan evaluasi atau respon terhadap modul P5 yang telah
dikembangkan dan dipaparkan. Adapun tiga aspek yang dinilai oleh peserta antara lain

P-ISSN 2986-5425 | E-ISSN 2985-9387 22


penggunaan modul, isi modul, dan manfaat modul. Berdasarkan penilaian peserta menunjukkan
informasi pada Tabel 5.
Tabel 5. Hasil
Respon Aspek Penilaian Persentase % Kriteria Peserta
Penggunaan Modul 87 Sangat Baik
Isi Modul 85 Baik
Manfaat Modul 87 Sangat Baik
Rata-rata 86 Baik

Berdasarkan hasil respon peserta pada Tabel, menunjukan bahwa peserta memberikan
respon baik terhadap modul P5 yang telah digunakan sebagai bentuk implementasi P5 pada
kurikulum merdeka. Hal ini terlihat skor rata-rata diperoleh sebesar 86% atau kriteria baik.

Gambar 4. Penyerahan Modul P5 kepada Kepala Sekolah

Berdasarkan hasil validasi dan respon peserta menunjukan bahwa prakarsa perubahan
yang digagas tim pelaksana pengabdian yang telah dilakukan telah berhasil sesuai indikator
ketercapaian yakni Memfasilitasi Modul Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Tema
Kewirausahaan dengan judul Menumbuhkan Jiwa Technopreneur melalui Pembuatan Kerajinan
Ecoprint” dikatakan berhasil dan mencapai target, jika menghasilkan satu modul projek dengan
penilaian validasi produk memperoleh lebih dari 73% atau kriteria valid sehingga dapat
digunakan untuk diimplementasikan pada peserta didik. Hal ini didukung dengan memperoleh
respon yang baik oleh peserta sosialisasi yang mana sebagai guru pengampu P5.
Adapun tindak lanjut berupa terpilihnya modul P5 yang telah dikembangkan menjadi
salah satu modul P5 yang akan diimplementasikan di sekolah mitra. Setelah itu dilakukan
pemantauan kepada Koordinator proyek dan tim fasilitator P5 dari sekolah mitra yang akan
mengimplementasikan kepada peserta didik. Pemantauan dilakukan baik dalam bentuk
kunjungan langsung maupun komunikasi via media sosial selama berlangsungnya kegiatan P5.

Gambar 3. Pemantauan implementasi modul P5 yang telah dikembangkan di sekolah mitra

P-ISSN 2986-5425 | E-ISSN 2985-9387 23


4. KESIMPULAN
Ditinjau dari penelitian yang telah dilaksanakan melalui pemaparan hasil dan
pembahasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian berupa memfasilitasi
modul P5 Tema Kewirausahaan: Menumbuhkan Jiwa Technopreneur melalui Pembuatan Ecoprint
menggunakan pendekatan partisipatif dengan 5 tahapan dalam pelaksanaannya yaitu analisis
kebutuhan; perencanaan; sosialisasi; dan tindak lanjut. Kegiatan pengabdian ini menghasilkan
modul P5 Tema Kewirausahaan: Menumbuhkan Jiwa Technopreneur melalui Pembuatan Ecoprint
dengan perolehan skor persentase validitas sebesar 91,10% dan termasuk dalam kategori sangat
valid. Sehingga terbukti layak diimplementasikan sebagai salah satu alternatif kegiatan P5 di SMP
Negeri 7 Semarang.

5. UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis mengucapkan terima kasih kepada sekolah mitra SMPN 7 Semarang yang telah
memberi dukungan dan kerjasama yang baik terhadap pengabdian ini.

DAFTAR PUSTAKA
[1] S. Ismail, S. Suhana, and Q. Y. Zakiah, “Analisis Kebijakan Program Penguatan Pendidikan
Karakter Dalam Mewujudkan Pelajar Pancasila Di Sekolah,” JMPIS J. Manaj. Pendidik. Dan
Ilmu Sos., vol. 2, no. 1, pp. 466–474, 2021, doi: 10.58578/tsaqofah.v2i4.469.
[2] Kemendikbud Ristek, Tentang profil pelajar Pancasila. Jakarta: Kemendikbud, 2021.
[Online]. Available: [Link]
[3] Kemendikbud, “Pendidikan Karakter Wujudkan Pelajar Pancasila,” Kemendikbud, 2020.
[Link]
KarakterWujudkan-Pelajar-Pancasila
[4] M. Mery, M. Martono, S. Halidjah, and A. Hartoyo, “Sinergi Peserta Didik dalam Proyek
Penguatan Profil Pelajar Pancasila,” J. Basicedu, vol. 6, no. 5, pp. 7840–7849, 2022, doi:
10.31004/basicedu.v6i5.3617.
[5] A. R. Rahim and B. Basir, “Peran Kewirausahaan Dalam Membangun Ketahanan Ekonomi
Bangsa,” J. Econ. Resour., vol. 2, no. 1, pp. 34–39, 2019, doi: 10.33096/jer.v1i2.160.
[6] Sulaeman, “irausaha Indonesia Kalah Dibanding Thailand dan Malaysia,” Menkop Teten,
2021. [Link]
[Link]
[7] L. Siwiyanti, “Menanamkan Nilai Kewirausahaan Melalui Kegiatan Market Day Activity,”
Golden Age J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 1, no. 1, pp. 83–89, 2017, doi:
10.29313/ga.v1i1.2861.
[8] P. Purwoto, A. R. E. Sumiwi, A. R. Tampenawas, and J. C. Santo, “Aktualisasi Amanat Agung
di Era Masyarakat 5.0,” Dun. J. Teol. dan Pendidik. Kristiani, vol. 6, no. 1, pp. 315–332, 2021,
doi: 10.30648/dun.v6i1.640.
[9] N. Irianingsih, Yuk Membuat ECO PRINT motif kain dari daun dan bunga. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2018.
[10] D. U. Utami, D. Meliani, F. N. Maolana, F. Marliyanti, and A. Hidayati, “Iklim Organisasi
Kelurahan Dalam Perspektif Ekologi,” JIP J. Dan Ilmu Pendidik., vol. 1, no. 12, pp. 2735–
2742, 2021.
[11] L. Noviani, F. Setyowibowo, and B. Wahyono, “Penguatan kompetensi guru dalam
implementasi proyek penguatan profil pelajar pancasila,” Tranformasi Dan Inov. J.
Pengabdi. Masy., vol. 3, no. 2, pp. 90–95, 2023.
[12] Y. Pratama and L. Dewi, “Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila sebagai Program
Kokurikuler : Studi Analisis Persepsi Guru. Jurnal Riset Pedagogik,” J. Ris. Pedagog., vol. 7,

P-ISSN 2986-5425 | E-ISSN 2985-9387 24


no. 2, pp. 1–23, 2023.
[13] Kemendikbud, Panduan Pengembangan Projek Penguatan profil Peljar pancasila. Jakarta:
Kemendikbud, 2022.
[14] M. R. Hamzah, Y. Mujiwati, I. M. Khamdi, M. I. Usman, and M. Z. Abidin, “Proyek Profil Pelajar
Pancasila sebagai Penguatan Pendidikan Karakter pada Peserta Didik,” J. Jendela Pendidik.,
vol. 2, no. 04, pp. 553–559, 2022, doi: 10.57008/jjp.v2i04.309.
[15] P. A. A. Shalikha, “Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Sebagai
Upaya Menumbuhkan Jiwa Kewirausahaan,” J. Ilm. Profesi Pendidik., vol. 15, no. 2, pp. 86–
93, 2023, doi: 10.29303/jipp.v8i1b.1373.
[16] M. Rizal, M. Iqbal, R. Rahima, and Khairunnisa, “Pelatihan Merancang Modul Projek Profil
Pelajar Pancasila Bagi Guru Sdn 6 Peusangan Selatan Melalui in House Training Sekolah
Penggerak,” Community Dev. J. J. Pengabdi. Masy., vol. 3, no. 3, pp. 1574–1580, 2022, doi:
10.31004/cdj.v3i3.6878.
[17] S. Asiati and U. Hasanah, “Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Di
Sekolah Penggerak,” J. Lingk. Mutu Pendidik., vol. 19, no. 2, pp. 61–72, 2022, doi:
10.54124/jlmp.v19i2.78.
[18] Z. Nisa, “IMPLEMENTASI KETERAMPILAN PEMBELAJARAN ABAD 21 BERORIENTASI
KURIKULUM MERDEKA PADA PEMBELAJARAN PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR
PANCASILA DI SMP Al-FALAH DELTASARI SIDOARJO,” 2022.
[19] H. Yanzi, E. El Faisal, A. Mentari, R. Rohman, and E. Seftriyana, “Analysis of the
Implementation of the Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5) in Junior High
School Category of the Independent Changed Bandar Lampung City,” J. Pendidik. Progresif,
vol. 12, no. 3, pp. 1423–1432, 2022, doi: 10.23960/jpp.v12.i3.202232.
[20] A. Widyastuti, “Implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum
Merdeka PAUD,” Referen, vol. 1, no. 2, pp. 189–203, 2022, doi:
10.22236/referen.v1i2.10504.

P-ISSN 2986-5425 | E-ISSN 2985-9387 25

Anda mungkin juga menyukai