100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
55 tayangan18 halaman

Revisi UU TNI: Perubahan Penting 2023

Dokumen ini adalah rancangan undang-undang tentang perubahan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 mengenai Tentara Nasional Indonesia (TNI). Perubahan ini mencakup penyesuaian tugas dan struktur organisasi TNI serta ketentuan mengenai usia pensiun prajurit. Tujuan utama dari perubahan ini adalah untuk meningkatkan profesionalisme TNI dalam melaksanakan tugas pertahanan negara dan menjaga kedaulatan Indonesia.

Diunggah oleh

Miss Hear
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
55 tayangan18 halaman

Revisi UU TNI: Perubahan Penting 2023

Dokumen ini adalah rancangan undang-undang tentang perubahan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 mengenai Tentara Nasional Indonesia (TNI). Perubahan ini mencakup penyesuaian tugas dan struktur organisasi TNI serta ketentuan mengenai usia pensiun prajurit. Tujuan utama dari perubahan ini adalah untuk meningkatkan profesionalisme TNI dalam melaksanakan tugas pertahanan negara dan menjaga kedaulatan Indonesia.

Diunggah oleh

Miss Hear
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

-1-

RANCANGAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR … TAHUN …
TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 34 TAHUN 2004
TENTANG
TENTARA NASIONAL INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa tujuan nasional Indonesia adalah untuk


melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah
darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan
sosial;
b. bahwa pertahanan negara adalah segala usaha
untuk menegakkan kedaulatan negara,
mempertahankan keutuhan wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia, dan keselamatan
segenap bangsa dari ancaman militer serta ancaman
bersenjata terhadap keutuhan bangsa dan negara;
c. bahwa Tentara Nasional Indonesia sebagai alat
pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia,
bertugas melaksanakan kebijakan pertahanan
negara untuk menegakkan kedaulatan negara,
mempertahankan keutuhan wilayah, melindungi
keselamatan bangsa, menjalankan operasi militer
untuk perang dan operasi militer selain perang, serta
ikut secara aktif dalam tugas memelihara
perdamaian dunia;
d. bahwa Tentara Nasional Indonesia dibangun dan
dikembangkan secara profesional sesuai
kepentingan politik negara, mengacu pada nilai dan
prinsip demokrasi, supremasi sipil, hak asasi
manusia, ketentuan hukum nasional, dan
ketentuan hukum internasional yang telah
disahkan, dengan dukungan anggaran belanja
negara yang dikelola secara transparan dan
akuntabel;
-2-

e. bahwa beberapa ketentuan dalam Undang-Undang


Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional
Indonesia perlu disesuaikan dengan perkembangan
organisasi dan kelembagaan serta peraturan
perundang-undangan;
f. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d,
dan huruf e, perlu membentuk Undang-Undang
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 34
Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia;

Mengingat : 1. Pasal 20, Pasal 21, Pasal 30 ayat (2), ayat (3), dan
ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang
Pertahanan Negara (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2002 Nomor 3, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4169);
3. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang
Tentara Nasional Indonesia (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 127,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4439);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA


dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS


UNDANG-UNDANG NOMOR 34 TAHUN 2004 TENTANG
TENTARA NASIONAL INDONESIA.

Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 34
Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor
127, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4439) diubah sebagai berikut:
-3-

1. Ketentuan ayat (2) Pasal 3 diubah sehingga berbunyi


sebagai berikut:

Pasal 3
(1) Dalam pengerahan dan penggunaan kekuatan
militer, TNI berkedudukan di bawah Presiden.
(2) Kebijakan dan strategi pertahanan serta
dukungan administrasi yang berkaitan dengan
aspek perencanaan strategis TNI, berada di
dalam koordinasi Kementerian Pertahanan.

2. Ketentuan Pasal 7 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:

Pasal 7
(1) Tugas pokok TNI adalah menegakkan
kedaulatan Negara, mempertahankan keutuhan
Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, serta melindungi segenap bangsa dan
seluruh tumpah darah Indonesia dari Ancaman
dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan
Negara.
(2) Tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan dengan:
a. operasi militer untuk perang;
b. operasi militer selain perang, yaitu untuk:
1. mengatasi gerakan separatis bersenjata;
2. mengatasi pemberontakan bersenjata;
3. mengatasi aksi terorisme;
4. mengamankan Wilayah perbatasan;
5. mengamankan objek vital nasional yang
bersifat strategis;
6. melaksanakan tugas perdamaian dunia
sesuai dengan kebijakan politik luar
negeri;
7. mengamankan Presiden dan Wakil
Presiden beserta keluarganya;
8. memberdayakan Wilayah pertahanan
dan kekuatan pendukungnya secara dini
sesuai dengan sistem pertahanan
semesta;
-4-

9. membantu tugas pemerintahan di


daerah;
10. membantu Kepolisian Negara Republik
Indonesia dalam rangka tugas keamanan
dan ketertiban masyarakat yang diatur
dalam Undang-Undang;
11. membantu mengamankan tamu negara
setingkat kepala negara dan perwakilan
pemerintah asing yang sedang berada di
Indonesia;
12. membantu menanggulangi akibat
bencana alam, pengungsian, dan
pemberian bantuan kemanusiaan;
13. membantu pencarian dan pertolongan
dalam kecelakaan;
14. membantu Pemerintah dalam
pengamanan pelayaran dan penerbangan
terhadap pembajakan, perompakan, dan
penyelundupan;
15. membantu dalam upaya menanggulangi
Ancaman siber; dan
16. membantu dalam melindungi dan
menyelamatkan Warga Negara serta
kepentingan nasional di luar negeri.
(3) Pelaksanaan operasi militer untuk perang
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
dilaksanakan berdasarkan kebijakan dan
keputusan politik Negara.
(4) Pelaksanaan operasi militer selain perang
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b
diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah
atau Peraturan Presiden, kecuali untuk ayat (2)
huruf b angka 10.

3. Ketentuan Pasal 8 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:

Pasal 8
(1) Angkatan Darat bertugas:
a. melaksanakan tugas TNI matra darat di
bidang pertahanan;
b. melaksanakan tugas TNI dalam menjaga
keamanan Wilayah darat termasuk
perbatasan dengan negara lain;
-5-

c. melaksanakan tugas TNI dalam


pembangunan dan pengembangan kekuatan
matra darat; dan
d. melaksanakan pemberdayaan Wilayah
pertahanan di darat.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas Angkatan
Darat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan Peraturan Pemerintah.

4. Ketentuan Pasal 9 diubah sehingga berbunyi sebagai


berikut:

Pasal 9
(1) Angkatan Laut bertugas:
a. melaksanakan tugas TNI matra laut di
bidang pertahanan;
b. menegakkan hukum dan menjaga keamanan
di Wilayah laut sesuai dengan ketentuan
hukum nasional dan hukum internasional
yang telah disahkan;
c. melaksanakan tugas diplomasi Angkatan
Laut dalam rangka mendukung kebijakan
politik luar negeri yang ditetapkan oleh
Pemerintah;
d. melaksanakan tugas TNI dalam
pembangunan dan pengembangan kekuatan
matra laut; dan
e. melaksanakan pemberdayaan Wilayah
pertahanan laut.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas Angkatan
Laut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dengan Peraturan Pemerintah.

5. Ketentuan Pasal 10 diubah sehingga berbunyi


sebagai berikut:

Pasal 10
(1) Angkatan Udara bertugas:
a. melaksanakan tugas TNI matra udara di
bidang pertahanan;
-6-

b. menegakkan hukum dan menjaga keamanan


di ruang udara sesuai dengan ketentuan
hukum nasional dan hukum internasional
yang telah disahkan;
c. melaksanakan tugas TNI dalam
pembangunan dan pengembangan kekuatan
matra udara; dan
d. melaksanakan pemberdayaan Wilayah
pertahanan udara.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas Angkatan
Udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan Peraturan Pemerintah.

6. Ketentuan Pasal 47 diubah sehingga berbunyi


sebagai berikut:

Pasal 47
(1) Prajurit dapat menduduki jabatan pada
kementerian/lembaga yang membidangi
koordinator bidang politik dan keamanan
negara, pertahanan negara termasuk dewan
pertahanan nasional, kesekretariatan negara
yang menangani urusan kesekretariatan
presiden dan kesekretariatan militer presiden,
intelijen negara, siber dan/atau sandi negara,
lembaga ketahanan nasional, pencarian dan
pertolongan, narkotika nasional, pengelola
perbatasan, penanggulangan bencana,
penanggulangan terorisme, keamanan laut,
Kejaksaan Republik Indonesia, dan Mahkamah
Agung.
(2) Selain menduduki jabatan pada
kementerian/lembaga sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), Prajurit dapat menduduki jabatan
sipil lain setelah mengundurkan diri atau
pensiun dari dinas aktif keprajuritan.
(3) Prajurit yang menduduki jabatan tertentu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan
atas permintaan pimpinan
kementerian/lembaga serta tunduk pada
ketentuan administrasi yang berlaku dalam
lingkungan kementerian dan lembaga.
-7-

(4) Pengangkatan dan pemberhentian jabatan


tertentu bagi Prajurit sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan sesuai kebutuhan
organisasi kementerian dan lembaga.
(5) Pembinaan karir Prajurit yang menduduki
jabatan tertentu sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilaksanakan oleh Panglima melalui
koordinasi dengan pimpinan kementerian dan
lembaga.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai Prajurit yang
menduduki jabatan tertentu pada kementerian
dan lembaga sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan Peraturan
Pemerintah.

7. Ketentuan Pasal 53 diubah sehingga berbunyi


sebagai berikut:

Pasal 53
(1) Prajurit melaksanakan dinas keprajuritan
sampai dengan batas usia pensiun.
(2) Batas usia pensiun Prajurit sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur dengan ketentuan
sebagai berikut:
a. bintara dan tamtama paling tinggi 55 (lima
puluh lima) tahun;
b. perwira sampai dengan pangkat kolonel
paling tinggi 58 (lima puluh delapan)
tahun;
c. perwira tinggi bintang 1 (satu) paling tinggi
60 (enam puluh) tahun;
d. perwira tinggi bintang 2 (dua) paling tinggi
61 (enam puluh satu) tahun; dan
e. perwira tinggi bintang 3 (tiga) paling tinggi
62 (enam puluh dua) tahun.
(3) Khusus bagi Prajurit yang menduduki jabatan
fungsional dapat melaksanakan masa dinas
keprajuritan yang ditetapkan dengan peraturan
perundang-undangan.
-8-

(4) Khusus untuk perwira tinggi bintang 4 (empat),


batas usia pensiun paling tinggi 63 (enam puluh
tiga) tahun dan dapat diperpanjang maksimal
2 (dua) kali sesuai dengan kebutuhan yang
ditetapkan dengan Keputusan Presiden.
(5) Ketentuan mengenai perpanjangan sebagaimana
dimaksud pada ayat (4) yaitu 1 (satu) kali
perpanjangan untuk 1 (satu) tahun.
(6) Khusus bagi perwira yang telah memasuki usia
pensiun dan memenuhi persyaratan dapat
direkrut sebagai perwira komponen cadangan
dalam rangka mobilisasi.
(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai masa dinas
keprajuritan dan perekrutan perwira yang telah
memasuki usia pensiun untuk menjadi perwira
komponen cadangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) sampai dengan ayat (6) diatur
dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal II
1. Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku,
ketentuan tentang usia pensiun sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 53 diatur sebagai berikut:
a. bintara dan tamtama:
1) yang berusia 52 (lima puluh dua) tahun
baginya diberlakukan masa dinas keprajuritan
sampai dengan usia paling tinggi 53 (lima
puluh tiga) tahun;
2) yang berusia 51 (lima puluh satu) tahun
baginya diberlakukan masa dinas keprajuritan
sampai dengan usia paling tinggi 54 (lima
puluh empat) tahun; dan
3) yang belum berusia 51 (lima puluh satu) tahun
baginya diberlakukan masa dinas keprajuritan
sampai dengan usia paling tinggi 55 (lima
puluh lima) tahun;
b. perwira tinggi bintang 1 (satu):
1) yang berusia 57 (lima puluh tujuh) tahun
baginya diberlakukan masa dinas keprajuritan
sampai dengan usia paling tinggi 58 (lima
puluh delapan) tahun;
-9-

2) yang berusia 56 (lima puluh enam) tahun


baginya diberlakukan masa dinas keprajuritan
sampai dengan usia paling tinggi 59 (lima
puluh sembilan) tahun; dan
3) yang belum berusia 56 (lima puluh enam)
tahun baginya diberlakukan masa dinas
keprajuritan sampai dengan usia paling tinggi
60 (enam puluh) tahun;
c. perwira tinggi bintang 2 (dua):
1) yang berusia 57 (lima puluh tujuh) tahun
baginya diberlakukan masa dinas keprajuritan
sampai dengan usia paling tinggi 58 (lima
puluh delapan) tahun;
2) yang berusia 56 (lima puluh enam) tahun
baginya diberlakukan masa dinas keprajuritan
sampai dengan usia paling tinggi 59 (lima
puluh sembilan) tahun; dan
3) yang belum berusia 56 (lima puluh enam)
tahun baginya diberlakukan masa dinas
keprajuritan sampai dengan usia paling tinggi
61 (enam puluh satu) tahun; dan
d. perwira tinggi bintang 3 (tiga):
1) yang berusia 57 (lima puluh tujuh) tahun
baginya diberlakukan masa dinas keprajuritan
sampai dengan usia paling tinggi 58 (lima
puluh delapan) tahun;
2) yang berusia 56 (lima puluh enam) tahun
baginya diberlakukan masa dinas keprajuritan
sampai dengan usia paling tinggi 59 (lima
puluh sembilan) tahun; dan
3) yang belum berusia 56 (lima puluh enam)
tahun baginya diberlakukan masa dinas
keprajuritan sampai dengan usia paling tinggi
62 (enam puluh dua) tahun.
2. Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan.
-10-

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan


pengundangan Undang-Undang ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Negara Republik
Indonesia.

Disahkan di Jakarta
pada tanggal ...

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRABOWO SUBIANTO

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal ...

MENTERI SEKRETARIS NEGARA


REPUBLIK INDONESIA,

PRASETYO HADI

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ... NOMOR ...


-11-

PENJELASAN
ATAS
RANCANGAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR … TAHUN …
TENTANG
PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 34 TAHUN 2004
TENTANG
TENTARA NASIONAL INDONESIA

I. UMUM

Untuk mewujudkan tujuan nasional sebagai amanat Undang-Undang


Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 diperlukan upaya bersama
segenap bangsa Indonesia dalam mempertahankan kelangsungan hidup
berbangsa dan bernegara. Upaya bersama dimaksud diwujudkan dalam
peran, fungsi, dan tugas tiap-tiap komponen bangsa serta dilaksanakan
secara sungguh-sungguh untuk Pertahanan Negara.
Pertahanan Negara merupakan salah satu bentuk upaya bangsa
Indonesia dalam mencapai tujuan nasional. Hakikat Pertahanan Negara
adalah keikutsertaan tiap-tiap Warga Negara sebagai perwujudan hak dan
kewajiban dalam usaha Pertahanan Negara. Usaha Pertahanan Negara
juga dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat
semesta, yaitu TNI sebagai kekuatan utama dan rakyat sebagai kekuatan
pendukung. TNI sebagai kekuatan utama bertugas mempertahankan,
melindungi, dan memelihara keutuhan dan kedaulatan Negara.
Dalam menghadapi kompleksitas tantangan Pertahanan Negara
seperti tantangan geopolitik, stabilitas pertahanan nasional dan
internasional, Ancaman Militer, nonmiliter, dan hibrida (terorisme dan
perang siber) perlu dilakukan penguatan terhadap tugas dan fungsi TNI.
Selain itu, dalam rangka mendukung optimalisasi pencapaian tugas dan
fungsi, kementerian/lembaga tertentu dapat melibatkan Prajurit sesuai
dengan kekhususannya. Selanjutnya, dalam rangka pemenuhan
kebutuhan organisasi TNI perlu dilakukan peninjauan terhadap batas usia
pensiun Prajurit yang merupakan tindak lanjut Putusan Mahkamah
Konstitusi Nomor 62/PUU-XIX/2021 tentang Pengujian Undang-Undang
Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia terkait masa
dinas Prajurit TNI.
Untuk itu, Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara
Nasional Indonesia perlu dilakukan perubahan, khususnya terhadap
substansi yang mengatur:
1. kedudukan TNI;
2. tugas TNI;
3. penempatan Prajurit pada kementerian/lembaga; dan
4. usia masa dinas keprajuritan TNI.
-12-

Perubahan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara


Nasional Indonesia tersebut tetap mengacu pada nilai dan prinsip
demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia, ketentuan hukum
nasional, dan ketentuan hukum internasional yang telah disahkan.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal I
Angka 1
Pasal 3
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “berkedudukan di bawah
Presiden” adalah keberadaan TNI di bawah kekuasaan
Presiden.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan “berada di dalam koordinasi
Kementerian Pertahanan” adalah segala sesuatu yang
berkaitan dengan perencanaan strategis TNI yang
meliputi aspek pengelolaan Pertahanan Negara,
kebijakan penganggaran, pengadaan, pemeliharaan,
dan/atau perawatan, perekrutan, pengelolaan sumber
daya nasional, serta pembinaan teknologi industri
pertahanan yang diperlukan oleh TNI dan komponen
pertahanan lainnya. Adapun pembinaan kekuatan TNI
yang berkaitan dengan pendidikan, latihan, penyiapan
kekuatan, dan doktrin militer berada pada Panglima
dengan dibantu Kepala Staf Angkatan.

Angka 2
Pasal 7
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “menegakkan kedaulatan
Negara” adalah mempertahankan kekuasaan Negara
untuk melaksanakan pemerintahan sendiri yang bebas
dari Ancaman.
Yang dimaksud dengan “mempertahankan keutuhan
Wilayah” adalah menjaga kesatuan Wilayah kekuasaan
Negara dengan segala isinya, di darat, laut, dan udara
yang batas-batasnya ditetapkan dengan Undang-
Undang.
Yang dimaksud dengan “melindungi segenap bangsa
dan seluruh tumpah darah” adalah melindungi jiwa,
kemerdekaan, dan harta benda setiap Warga Negara.
-13-

Ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa


dan Negara, antara lain:
a. agresi berupa penggunaan kekuatan bersenjata
oleh negara lain terhadap kedaulatan Negara,
keutuhan Wilayah, dan keselamatan segenap
bangsa atau dalam bentuk dan cara, antara lain:
1. invasi berupa kekuatan bersenjata;
2. bombardemen berupa penggunaan senjata
lainnya;
3. blokade pelabuhan, pantai, ruang udara, atau
seluruh Wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
4. serangan bersenjata negara lain terhadap unsur
satuan darat, laut, dan udara;
5. keberadaan atau tindakan unsur kekuatan
bersenjata asing dalam Wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang bertentangan
dengan ketentuan atau perjanjian yang telah
disepakati;
6. tindakan suatu Negara yang mengijinkan
penggunaan wilayahnya oleh negara lain untuk
melakukan agresi atau invasi terhadap Negara
Kesatuan Republik Indonesia;
7. pengiriman kelompok bersenjata atau tentara
bayaran untuk melakukan tindakan kekerasan
di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
dan
8. Ancaman lain yang ditetapkan oleh Presiden;
b. pelanggaran Wilayah yang dilakukan oleh negara
lain;
c. pemberontakan bersenjata, yaitu suatu gerakan
bersenjata yang melawan Pemerintah yang sah;
d. sabotase dari pihak tertentu untuk merusak
instalasi penting dan objek vital nasional;
e. spionase yang dilakukan oleh negara lain untuk
mencari dan mendapatkan rahasia militer;
f. aksi teror bersenjata yang dilakukan oleh teroris
internasional atau bekerja sama dengan teroris
dalam negeri atau oleh teroris dalam negeri;
g. Ancaman keamanan di Wilayah laut atau ruang
udara, yang dilakukan pihak tertentu, dapat
berupa:
-14-

1. pembajakan atau perompakan;


2. penyelundupan senjata, amunisi, dan bahan
peledak atau bahan lain yang dapat
membahayakan keselamatan bangsa; dan
3. penangkapan ikan secara ilegal atau pencurian
kekayaan di laut; dan
h. konflik komunal yang terjadi antarkelompok
masyarakat yang dapat membahayakan
keselamatan bangsa.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan “operasi militer untuk
perang” adalah segala bentuk pengerahan dan
penggunaan kekuatan TNI, untuk melawan
kekuatan militer negara lain yang melakukan
agresi terhadap Indonesia, dan/atau dalam
konflik bersenjata dengan suatu negara lain
atau lebih, yang didahului dengan adanya
pernyataan perang dan tunduk pada hukum
perang internasional.
Huruf b
Angka 1
Dalam ketentuan ini, Pemerintah
menginformasikan kepada Dewan
Perwakilan Rakyat terkait rencana awal
dalam mengatasi separatis bersenjata.
Angka 2
Dalam ketentuan ini, Pemerintah
menginformasikan kepada Dewan
Perwakilan Rakyat terkait rencana awal
dalam mengatasi pemberontakan
bersenjata.
Angka 3
Cukup jelas.
Angka 4
Cukup jelas.
Angka 5
Yang dimaksud dengan “objek vital
nasional yang bersifat strategis” adalah
objek yang menyangkut hajat hidup
orang banyak, harkat dan martabat
bangsa, serta kepentingan nasional yang
ditentukan oleh keputusan Pemerintah.
-15-

Angka 6
Cukup jelas.
Angka 7
Cukup jelas.
Angka 8
Yang dimaksud dengan
“memberdayakan Wilayah pertahanan”
adalah:
a. membantu Pemerintah menyiapkan
potensi nasional menjadi kekuatan
pertahanan yang dipersiapkan secara
dini meliputi Wilayah pertahanan
beserta kekuatan pendukungnya,
untuk melaksanakan operasi militer
untuk perang, yang pelaksanaannya
didasarkan pada kepentingan
Pertahanan Negara sesuai dengan
sistem pertahanan semesta;
b. membantu Pemerintah
menyelenggarakan pelatihan dasar
kemiliteran secara wajib bagi Warga
Negara sesuai dengan peraturan
perundang-undangan; dan
c. membantu Pemerintah
memberdayakan rakyat sebagai
kekuatan pendukung.
Angka 9
Yang dimaksud dengan “membantu
tugas pemerintahan di daerah” adalah
membantu pelaksanaan fungsi
Pemerintah dalam situasi dan kondisi
yang memerlukan sarana, alat, dan
kemampuan TNI untuk menyelesaikan
permasalahan yang sedang dihadapi,
antara lain membantu mengatasi akibat
bencana alam, merehabilitasi
infrastruktur, serta mengatasi masalah
akibat pemogokan dan konflik komunal.
Angka 10
Cukup jelas.
Angka 11
Cukup jelas.
-16-

Angka 12
Cukup jelas.
Angka 13
Cukup jelas.
Angka 14
Cukup jelas.
Angka 15
Yang dimaksud dengan “membantu
dalam upaya menanggulangi Ancaman
siber” adalah TNI berperan serta dalam
upaya menanggulangi Ancaman siber
pada sektor pertahanan (cyber defense).
Angka 16
Yang dimaksud dengan “membantu”
adalah TNI berperan serta.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.

Angka 3
Pasal 8
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Yang dimaksud dengan “menjaga keamanan
Wilayah darat” adalah segala upaya, pekerjaan,
dan kegiatan untuk menjamin tegaknya
kedaulatan Negara, keutuhan Wilayah, dan
keselamatan bangsa dari segala bentuk
Ancaman, dan gangguan dari dan/atau di
Wilayah darat.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Angka 4
Pasal 9
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
-17-

Huruf b
Yang dimaksud dengan “menegakkan hukum
dan menjaga keamanan di Wilayah laut” adalah
segala bentuk kegiatan yang berhubungan
dengan penegakan hukum di laut sesuai dengan
kewenangan TNI Angkatan Laut (constabulary
function) yang berlaku secara universal dan
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
yang berlaku untuk mengatasi Ancaman
tindakan kekerasan, Ancaman navigasi, serta
pelanggaran hukum di Wilayah laut.
Menegakkan hukum yang dilaksanakan oleh
TNI Angkatan Laut di laut, terbatas dalam
lingkup pengejaran, penghentian, penangkapan,
penyelidikan, dan penyidikan perkara yang
selanjutnya diserahkan kepada Kejaksaan
Republik Indonesia.
Penegakan hukum di laut dilakukan oleh kapal
perang Republik Indonesia dan kapal Angkatan
Laut serta kewenangannya dilakukan oleh
perwira TNI Angkatan Laut sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Huruf c
Yang dimaksud dengan “diplomasi Angkatan
Laut” adalah fungsi diplomasi sesuai dengan
kebijakan politik luar negeri yang melekat pada
peran Angkatan Laut secara universal sesuai
dengan kebiasaan internasional, serta sudah
menjadi sifat dasar dari setiap kapal perang
suatu negara yang berada di negara lain
memiliki kekebalan diplomatik dan kedaulatan
penuh.
Huruf d
Cukup jelas.
Huruf e
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Angka 5
Pasal 10
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
-18-

Huruf b
Yang dimaksud dengan “menegakkan hukum dan
menjaga keamanan di ruang udara” adalah segala
upaya dan kegiatan untuk menjamin terciptanya
kondisi ruang udara yang aman serta bebas dari
Ancaman kekerasan, Ancaman navigasi, serta
pelanggaran hukum di ruang udara.
Huruf c
Cukup jelas.
Huruf d
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

Angka 6
Pasal 47
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “jabatan pada Kejaksaan
Republik Indonesia” adalah jabatan pada Kejaksaan
Republik Indonesia di bidang pidana militer.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Ayat (4)
Cukup jelas.
Ayat (5)
Cukup jelas.
Ayat (6)
Cukup jelas.

Angka 7
Pasal 53
Cukup jelas.

Pasal II
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR …

Anda mungkin juga menyukai