14
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu dilakukan dengan cara mengambil beberapa hasil
penelitian yang telah dilakukan dan berkaitan dengan judul serta permasalahan
yang sedang diteliti bertujuan untuk membandingkan penelitian yang sudah
dilakukan dengan yang sedang dilakukan terkait persamaan dan perbedaannya
dan juga dijadikan sebagai suatu acuan seseorang dalam meneliti. Berdasarkan
penelusuran dan pencarian berbagai literatur yang telah penulis lakukan, maka
didapatlah beberapa karya tulis ilmiah yang telah dilakukan sebelumnya,
diantaranya yaitu :
1. Dalam Skripsi yang ditulis oleh Una Makatita, Fakultas Syariah dan
Ekonomi Islam, Institut Agama Islam Negeri Ambon, Tahun 2020, yang
berjudul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Zakat Fitrah di
Dusun Tapinalu Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat”,
hasil penelitian ini menjelaskan bahwa pelaksanaan zakat fitrah di Dusun
Tapinalu pendistribusiannya diberikan kepada seluruh masyarakat
disebabkan beberapa faktor antara lain yaitu untuk menghindari adanya
kecemburuan sosial, menjaga tradisi turun-temurun, menjaga tali
silaturahim, dan untuk membantu kebutuhan masyarakat setempat.
2. Dalam Skripsi yang ditulis oleh Abd Rahman Kwairumaratu, Fakultas
Syariah dan Ekonomi Islam, Institut Agama Islam Negeri Ambon, Tahun
14
15
2020, dengan judul “Tradisi Masyarakat Desa Malaku dalam Memberikan
Zakat Fitrah Bagi Mama Biang Suatu Perspektif Hukum Islam”, hasil
penelitian ini menjelaskan bahwa pengeluaran zakat fitrah di Desa
Malaku, pelaksanaannya disalurkan secara langsung dari Muzakki kepada
Mustahiq zakat, dalam hal ini adalah Mama Biang yang dianggap berkat
jasanya yang telah membantu dan merawat masyarakat ketika melakukan
persalinan. Kebiasaan ini telah dilakukan secara turun-temurun yang sudah
menjadi tradisi masyarakat setempat.
3. Ilman MHD. Akhyaruddin dkk, Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan
Ahmad Addary, Tahun 2023, dengan judul penelitian “Distribusi Zakat
Fitrah Setelah Shalat „Idul Fitri di Kecamatan Barumun Kabupaten Padang
Lawas di Tinjau dari Hukum Islam”, hasil penelitian ini metode
pendistribusian zakat fitrah di Kecamatan Baramun, Kabupaten Padang
Lawas yaitu pendistribusian zakat fitrah dari amil atau panitia zakat
kepada mustahiq dilaksanakan pada tanggal 26 Ramadhan setelah shalat
Ashar dengan sistem talangan, pendistribsian dari amil kepada mustahiq
pada malam 1 syawal, pendistribusian dari amil kepada mustahiq setelah
shalat Idul Fitri. Faktor penyebab terjadinya pendistribusian zakat fitrah
setelah shalat Idul Fitri pada beberapa desa yang ada di kecamatan
Barumun antara lain karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam
memahami tujuan zakat fitrah, kurangnya Sumber Daya Manusia para
panitia atau amil zakat dan kurangnya manajemen amil terhadap
pengelolaan zakat fitrah.
16
Berdasarkan beberapa penelitian di atas, terdapat perbedaan antara
penelitian ini dan penelitian sebelumnya yaitu pada objek dan lokasi
penelitiannya. Pada penelitian ini, penulis mengkaji tentang penetapan
pendistribusian zakat dimana yang menjadi permasalahan penelitian ini adalah
pendistribusian zakat yang hanya diberikan kepada golongan tertentu saja
seperti janda, yatim/piatu, muallaf, tokoh adat dan penghulu masjid berbeda
dengan penelitian terdahulu dimana zakat diberikan secara merata kepada
semua anggota mustahiq dan mama biang dan lokasi penelitian ini dilakukan
di Negeri Wakasihu Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah.
Perbedaan yang lain juga pada waktu pendistribusian zakat. Sedangkan
persamaan antara penelitian ini dan penelitian sebelumnya adalah sama-sama
meneliti tentang penentuan mustahiq dalam pendistribusian zakat fitrah.
B. Konsep Zakat
1. Pengertian Zakat dan Dasar Hukumnya
Ditinjau dari segi bahasa, zakat merupakan bentuk mashdar dari kata
“zakaa” yang artinya berkah, tumbuh, bersih, dan baik. Sesuatu itu zakaa
berarti tumbuh dan berkembang, dan seseorang dikatakan zakaa berarti orang
itu baik. Dari kata zakaa menjadi “zakat”, adalah sesuatu yang dikeluarkan
oleh manusia dari sebagian hak Allah SWT. untuk disalurkan kepada fakir dan
miskin serta ashnaf lainnya yang telah ditentukan.20 Dalam kitab Lisan al-
20
Julianty Ryzkha L. Mossy, “Optimalisasi Dana Zakat, Infak, dan Sedekah Masjid
Terhadap Pemberdayaan Jamaah (Studi di Masjid Imam Rijali IAIN Ambon,” Al-Qashdu Jurnal
Ekonomi dan Keuangan Syariahi, Vol 1:1 (2021), h. 18.
17
‟Arab zakat berarti suci, tumbuh, berkah dan terpuji. Zakat juga dapat
diartikan pemberian yang wajib diberikan dari harta tertentu, dengan sifat-sifat
juga ukuran tertentu kepada golongan tertentu.21 Menurut K.H. Didin
Hafidhuddin, zakat secara terminologi yaitu nama bagi sejumlah harta tertentu
yang telah mencapai syarat tertentu, yang diwajibkan oleh Allah SWT. untuk
dikeluarkan dan diserahkan kepada orang yang berhak menerimanya dengan
syarat-syarat tertentu pula.22 Adapun dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor
23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat menyebutkan “Zakat adalah harta
yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk
diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam”.
Dalam syariat Islam disebut zakat karena adanya makna linguistik yang
terkandung di dalamnya, yakni pengembangan harta dan pensuciannya,
sekaligus menyucikan jiwa orang yang melaksanakan zakat.
Zakat merupakan ibadah maliyah ijtima‟iyyah yang mempunyai peran
yang sangat penting, strategis, dan menentukan, baik dari kacamata Islam
maupun dari sisi pembangunan kesejahteraan umat. Empat madzhab fiqh
besarpun mengartikan zakat dengan pandangan yang berbeda, sebagai berikut:
1) Menurut madzhab Hanafi, zakat yaitu kepemilikan sebagian harta tertentu
dari harta tertentu sebagai milik orang tertentu, yang ditentukan oleh
syariat karena Allah SWT.
21
Mufti Afif dan Sapta Oktiadi, “Efektifitas Distribusi Dana Zakat Produktif dan
Kekuatan Serta Kelemahannya Pada BAZNAS Magelang,” Islamic Economics Journal, Vol 4:2
(Desember 2018), h. 42.
22
Mila Sartika, “Pengaruh Pendayagunaan Zakat Produktif Terhadap Pemberdayaan
Mustahiq pada LAZ Yayasan Solo Peduli Surakarta,” Jurnal Ekonomi Islam, Vol 2:1 (Juli 2008),
h. 79.
18
2) Menurut madzhab Maliki, zakat adalah mengeluarkan bagian tertentu dari
harta tertentu pula yang telah mencapai nishab (batas kuantitas yang
mewajibkan zakat) bagi orang-orang yang berhak menerimanya. Dengan
catatan harta tersebut milik sempurna, telah mencapai haul (setahun),
bukan barang tambang dan bukan pertanian.
3) Menurut madzhab Syafi‟i, zakat adalah sesuatu yang dikeluarkan dari
harta atau jiwa sesuai dengan cara khusus.
4) Menurut madzhab Hambali, zakat ialah hak wajib yang dikeluarkan dari
harta tertentu untuk kelompok tertentu, dan pada waktu tertentu pula.
Yang dimaksudkan dengan kelompok tertentu yaitu delapan kelompok
yang diisyaratkan oleh Allah SWT.23
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa zakat
merupakan harta tertentu yang diberikan kepada orang-orang tertentu dari
orang tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu pula. Harta yang dikeluarkan
harus mencapai nishab dan haulnya.
Tujuan menunaikan zakat adalah untuk membersihkan harta dan jiwa.
Sehingga dapat dikatakan bahwa orang yang menunaikan zakat berarti ia telah
mebersihkan harta dan jiwanya dari segala kotoran dosa dan noda. Zakat
disebutkan dalam Al-Qur‟an sebanyak 30 kali, 27 nya disebutkan setelah
perintah menegakkan shalat. Hal ini mengisyaratkan bahwa sebelum
menunaikan zakat, terlebih dahulu harus menegakkan shalat. Hal ini juga
sama dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Puasa menjadi kurang
23
[Link] akses 14 Januari 2024
19
sempurna jika tidak menjalankan zakat fitrah. Hal ini berarti zakat
menyempurnakan ibadah shalat dan puasa seseorang.
Diantara dalil yang menjadi dasar hukum disyariatkannya zakat adalah
sebagai berikut :
a. Al-Qur‟an
1) QS. At-Taubah (9) : 103
ع ِه ْٕ ٌم
َ س ِم ْٕ ٌع
َ ُّٰللا َ َعهَٕ ٍِْ ْۗ ْم اِنَّ ص َٰهُح َك
سكَهٌ نَّ ٍُ ْۗ ْم ََ ه َ ََ ص َدقَتً ح ُ َط ِ ٍّ ُس ٌُ ْم ََح َُص ِ ّكٕ ٍِْ ْم ِبٍَا
َ ص ِ ّم َ ُخ ْر ِم ْه ا َ ْم َُا ِن ٍِ ْم
Terjemahan:
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan
menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya
doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah
maha mendengar lagi maha mengetahui”.
Sayyid Sabiq sebagaimana yang dikutip oleh [Link],
[Link], ia menafsirkan ayat diatas dengan : “Ambillah wahai rasul dari
(sebagian) harta orang mukmin sedekah yang tertentu seperti zakat dan
sedekah yang tidak tertentu, dan ia merupakan amalan sunnah. Zakat itu
mensucikan mereka (para muzakki) dari sifat bakhil dan rakus, serta
kerasnya hati terhadap para orang-orang fakir dan orang-orang yang
melarat., serta berbagai hal yang berkaitan dengan itu semua”.24
2) QS. Al-Baqarah (2) : 43
َانس ِك ِع ْٕه
از َكعُ ُْا َم َع ه َّ ََاَقِ ْٕ ُمُا انص َّٰهُةَ ََ ٰاح ُُا
ْ ََ َانص ٰكُة
24
M. Nurzansyah, “Zakat, Rukun Islam yang Sering Dilupakan,” Jurnal Ekonomi dan
Perbankan Syariah, h. 105.
20
Terjemahan:
“Dan laksankanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah
beserta orang yang rukuk”.
b. Al-hadits
Selain Al-Qur‟an, ada beberapa hadits juga yang menerangkan
terkait dengan kewajiban zakat diantaranya yaitu :
1) HR. Thabrani
س ُع فُقَ َسا َء ٌُ ْم ََنَ ْم َٔجْ ٍَدُا ْنفُقَ َسا ُء اِذَاجَائ ُُْا ْ فٓ ا َ ْم َُا ِنٍ ْم َٔقُ ُْ ُل انَّر
َ َٔ ِْ ْ َس ِه ِم ْٕه َ َاِنَّ هللااَ فَ َسض
ْ عهَّ ا َ ْغىَِٕا َءا ْن ُم
َ ًأَُعَ ِرّبُ ٍُ ْم عرَابًاا َ ِن ْٕ ًما
)ٓ(ز ََا ُي انطبساو َ ش ِد ْٔد
َ سابًا ِ صىَ ُع ا َ ْغىَِٕائ ُُْ ٌُ ْم اِالَّ ََاِنَّ هللااَ ُٔحَا
َ سبُ ٍُ ْم ِح ُ َْ َ ا
ْ َٔغ ُس َْااِالَّ ِب َما
Artinya:
“Allah SWT mewajibkan zakat pada harta orang-orang kaya dari
kaum muslimin sejumlah yang dapat memberikan jaminan kepada
orang-orang miskin di kalangan mereka. Fakir miskin tidak akan
menderita kelaparan dan kesulitan sandang pangan melainkan
disebabkan perbuatan golongan orang kaya. Ingatlah bahwa
Allah SWT akan mengadili mereka secara tegas dan menyiksa
mereka dengan azab yang pedih akibat perbuatannya itu.” (HR.
Thabrani)25
2) HR. Bukhari dan Muslim
َ ص َدقَتً فِٓ أ َ ْم َُا ِن ٍِ ْم ح ُؤْ َخر ُ ِم ْه أ َ ْغىَِٕائِ ٍِ ْم ََح َُس ُّد
عهَّ فُقَ َسائِ ٍِ ْم َ عهَٕ ٍِْ ْم ْ َّٰللا
َ َافخ َ َسض َّ َّفَأ َ ْع ِه ْم ٍُ ْم أَن
Artinya:
“Beritahukan kepada mereka bahwa Allah SWT mewajibkan
pemungutan zakat dari orang-orang kaya di kalangan mereka,
untuk diberikan kepada orang-orang miskin di kalangan
mereka”.26
Hadits di atas telah menjelaskan betapa pentingnya zakat dan
bagaimana hikmah juga manfaatnya dalam Islam dan memperkuat nash yang
25
Jauharatun Nisail Hikmah, “Implementasi Manajemen Risiko pada Pengelolaan Dana
Zakat di Lembaga Amil Zakat YDSF (Yayasan Dana Sosial Al-Falah) Jember,” Skripsi IAIN
Jember (2020), h. 43.
26
Ibid.
21
telah ada di dalam Al-Qur‟an. Dari beberapa dalil yang telah dikemukakan
tersebut, sekiranya sudah cukup untuk menjadi dasar dalam menjelasksan
tentang wajibnya zakat bagi kaum muslim, sehingga tidak perlu adanya ijtihad
dan perdebatan dalam menentukan hukum zakat itu sendiri.
2. Jenis-jenis Zakat
Merujuk pada pendapat para ulama, pada prinsipnya zakat dibedakan
menjadi 2, yaitu zakat fitrah (jiwa) dan zakat maal.
1) Zakat Nafs (Zakat Fitrah)
Zakat fitrah merupakan istilah yang diambil dari kata fitrah yang
berasal dari suatu kejadian. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib ditunaikan
oleh setiap Muslim, baik anak-anak maupun orang dewasa, orang merdeka
ataupun hamba sahaya, laki-laki maupun perempuan, sebesar 1 sha‟ atau
2,176 kg beras (jika dibulatkan menjadi 2,5 kg) atau 3,5 liter beras yang
ditunaikan menjelang Idul fitri atau pada penghujung bulan Ramadhan,
sebelum dilaksanakannya shalat Idul Fitri27, apabila yang bersangkutan
memiliki kelebihan harta untuk keperluan pada hari itu dan pada malam
harinya.
Menurut Sayyid Sabiq, sebagaimana dikutip oleh Sumar‟in Asmawi,
zakat fitrah diwajibkan pada bulan sya‟ban tahun ke-2 hijriyah, yaitu tahun
dimana diwajibkannya puasa bulan Ramadhan untuk mensucikan orang yang
berpuasa dari ucapan kotor dan perbuatan yang salah, untuk memberi
27
Oni Sahroni dkk., Fikih Zakat Kontemporer, cet. Ke-2 (Depok: Rajawali Pers, 2019),
h. 48.
22
makanan pada orang-orang miskin demi mencukupi kebutuhan mereka dan
agar mereka tidak meminta-minta pada hari raya idul fitri.28
2) Zakat Maal (Zakat Harta)
Zakat maal atau yang disebut juga dengan zakat harta adalah zakat
yang wajib ditunaikan atas kepemilikan harta dengan ketentuan-ketentuan
khusus yang berhubungan dengan jenis harta, batas nominal (nishab), dan
kadar zakatnya. Zakat Maal mencakup hasil pertanian, hasil laut, perniagaan,
pertambangan, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak, termasuk hasil
kerja (zakat profesi) yang juga mempunyai perhitungan tersendiri.
1. Zakat Fitrah
1) Pengertian Zakat Fitrah
Yang dimaksudkan dengan zakat fitrah ialah nama bagi berbagai
makanan pokok yang dikeluarkan oleh setiap muslim ketika telah berlalunya
bulan Ramadhan. Zakat ini jelas berbeda dengan zakat maal atau zakat harta.29
Zakat fitrah adalah zakat yang dibebankan kepada setiap muslim yang
memiliki kemampuan baik yang sudah dewasa maupun belum, yang dibagikan
sebelum shalat hari raya Idul Fitri. Besar zakat yang harus dibayar adalah 2,5
kg atau 3,5 liter makanan pokok suatu daerah.30 Zakat ini disebut zakat fithr
karena berhubungan dengan bentuk harta yang dikeluarkan yakni berupa
makanan. Selain itu juga karena berkaitan dengan hari lebaran yakni hari raya
Idul Fitri, yang secara bahasa artinya hari raya makan-makan.
28
Sumar‟in Asmawi, Zakat Sebagai Kekuatan Ekonomi Umat, cet. Ke-1 (2017), h. 27-28.
29
Kementerian Agama Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat
Islam, Direktorat Pemberdayaan Zakat, Fiqh Zakat (2015), h. 46.
30
Siska Lis Sulistiani, Hukum Perdata Islam, cet. Ke-2 (Jakarta: Sinar Grafika, 2019), h.
141-142.
23
Jadi zakat fitrah merupakan zakat yang disebabkan sebagai pertanda
bahwa Ramadhan tahun itu telah berakhir. Menurut Sayyid Sabiq,
sebagaimana dikutip oleh Iin Mutmainnah, menjelaskan bahwa hukum zakat
fitrah adalah wajib bagi setiap umat muslim baik anak kecil maupun yang
sudah dewasa, laki-laki ataupun perempuan serta orang yang merdeka maupun
budak. Sebab diwajibkannya zakat fitrah adalah bukan karena kepemilikan
harta secara khusus, melainkan sebagai suatu bentuk kewajiban yang
dibebankan kepada setiap muslim karena sudah sampai pada penghujung
bulan suci Ramadhan.31
2) Hikmah dan Tujuan Zakat Fitrah
Dalam Islam, ketika Allah SWT. memerintahkan dan menganjurkan
melakukan suatu perintah maka pasti di dalamnya ada hikmah yang hendak
dicapai dan tujuan. Oleh karena itu, ketika Allah SWT mensyariatkan perintah
zakat fitrah pasti ada hikmah dan tujuannya, yakni hikmah dari diperintahkan
zakat fitrah adalah:
a) Membantu orang yang lemah atau kekurangan agar mereka dapat
memenuhi kebutuhan hidup dan kewajiban-kewajiban yang sudah
ditetapkan oleh Allah SWT.
b) Sebagai upaya untuk membersihkan diri dari dosa-dosa, serta untuk
menyucikan akhlak dari sifat tamak dan juga kikir.
c) Sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah SWT. atas kelebihan
nikmat yang telah dilimpahkan.
31
Iin Mutmainnah, Fikih, h. 82.
24
Sedangkan tujuan dari zakat fitrah adalah memenuhi kebutuhan orang-
orang miskin atau yang tidak mampu pada hari raya Idul Fitri dan
menyenangkan serta menggembirakan mereka dengan makanan pokok yang
biasa dinikmati atau dikonsumsi oleh masyarakat di daerah tersebut. 32 Zakat
fitrah juga bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan orang yang
berpuasa dari ucapan yang tidak baik dan perbuatan yang merugikan atau
tidak berguna serta memberi makan orang miskin dan memberikan mereka
kecukupan dalam menangani masalah kebutuhan makan pada saat Idul Fitri.33
3) Jenis Benda yang Digunakan dalam Pembayaran Zakat Fitrah
Benda yang dapat digunakan dalam pembayaran zakat fitrah dapat
berupa semua jenis barang yang dianggap sebagai makanan pokok suatu
daerah dan megenyangkan dapat berupa kurma, gandum, anggur, beras,
jagung dan lainnya. Terkait dengan pembayaran zakat fitrah yang dibayarkan
dengan uang, ada perbedaan pendapat diantara para ulama. Ada ulama yang
memperbolehkan dan ada ulama yang tidak membolehkannya. Pendapat yang
membolehkan membayar zakat fitrah dengan uang adalah Imam Abu Hanifah,
Abu Ishak, Al-Thawri, dan Al-Hasan Ata dan salah satunya yaitu Shaikh
Yusuf Al-Qardhawi berpendapat bahwa zakat fitrah boleh dibayarkan dalam
bentuk uang tunai yang setara dengan harga bahan tersebut. Sedangkan ulama
32
Sumar‟in Asmawi, Zakat Sebagai, h. 31.
33
Rini Idayanti, “Distribusi Zakat Fitrah Pada Masyarakat Miskin Kecamatan Tanete
Riattang Barat,” Iltizam Journal Of Shariah Economic Research, Vol 2:1 (2018), h. 49.
25
yang tidak membolehkan adalah Imam Malik, Imam Syafi‟I, Ibnu Hazm dan
Imam Hambali.34
4) Nishab dan Haul Zakat Fitrah
Nishab adalah batas minimal harta yang wajib dikenakan zakat. Haul
adalah batasan waktu satu tahun atau 12 bulan qamariyah kepemilikan harta
yang wajib untuk dikeluarkan zakatnya.
Terkait dengan tata cara penghitungan zakat fitrah, diatur dalam
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2014.
Pasal 30:
(1) Zakat fitrah ditunaikan dalam bentuk beras atau makanan pokok
seberat 2,5 kg atau 3,5 liter per jiwa.
(2) Kualitas beras atau makanan pokok sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) sesuai dengan kualitas beras atau makanan pokok yang dikonsumsi
sehari-hari.
(3) Beras atau makan pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
diganti dalam bentuk uang senilai 2,5 kg atau 3,5 liter beras.
Pasal 31
(1) Zakat fitrah ditunaikan sejak awal Ramadhan dan paling lambat
sebelum pelaksanaan Shalat Idul Fitri.
(2) Zakat fitrah disalurkan paling lambat sebelum pelaksanaan shalat Idul
Fitri.35
34
Andri, “Pola Pembagian Zakat Fitrah di Kabupaten Aceh Singkil,” Jurnal MEDIASAS,
Vol 4:1 (Januari-Juni 2021), h. 26.
26
5) Golongan Penerima Zakat Fitrah
Islam sudah mengatur golongan siapa saja yang berhak menerima
zakat yang dikenal dengan istilah ashnaf sebagaimana firman Allah SWT.
dalam QS. At-taubah ayat 60.
ِّٰللا َ ْٓ ِب ََا ْن ٰغ ِس ِم ْٕهَ ََف
سبِ ْٕ ِم ه ِ انسقَا َ َصد َٰقجُ ِن ْهفُقَ َس ۤا ِء ََا ْن َم ٰس ِكٕ ِْه ََا ْن ٰع ِم ِه ْٕه
ّ ِ ِّعهَ ٍَْٕا ََا ْن ُم َؤنَّفَ ِت قُهُ ُْبُ ٍُ ْم ََف َّ اِوَّ َما ان
ع ِه ْٕ ٌم َح ِك ْٕ ٌم
َ ُّٰللا ْۗ سبِ ْٕ ْۗ ِم فَ ِس ْٔضَتً ِ ّمهَ ه
ّٰللاِ ََ ه َّ ََاب ِْه ان
Terjemahan:
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-
orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya
(mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk
(membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan
untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan
pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah maha mengetahui
lagi maha bijaksana”
Berikut penjelasan terkait dengan kedelapan golongan penerima zakat.
1. Fakir
Orang yang tergolong fakir adalah yang sengsara hidupnya, tidak
mempunyai harta dan tenaga serta fasilitas yang dapat digunakan
sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.36 Fakir merupakan
orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian
untuk memenuhi kebutuhan dasar.37
35
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2014 tentang Syarat
dan Tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah Serta Pendayagunaan Zakat Untuk Usaha
Produktif
36
Iin Mutmainnah, Fikih Zakat, h. 21.
37
Efri Syamsul Bahri dan Sabik Khumaini, “Analisis Efektivitas Penyaluran Zakat Pada
Badan Amil Zakat Nasional,” Al Maal, Vol 2:1 (Januari 2020), h. 167.
27
2. Miskin
Orang yang tergolong miskin adalah orang yang mempunyai mata
pencaharian tetapi tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar
yang baik dan layak bagi kebutuhan hidup dirinya dan atau keluarga
yang menjadi tanggungannya.38
3. Amil
Amil yaitu orang yang mempunyai tugas dan fungsi untuk memungut,
mengumpulkan, menghitung, dan menyalurkan zakat. Amil adalah
orang-orang yang bertanggung jawab mengumpulkan zakat yang
diberikan tugas langsung oleh pimpinan di masyarakat. Mengenai
bagian zakat yang menjadi hak dari „amilin, Imam Abu Hanifah dan
Imam Malik berpendapat bahwa amil diberikan upah sesuai dengan
usahanya secara wajar. Menurut Imam As-Syafi‟i, amil mendapat
seperdelapan bagian dari pungutan zakat yang dikumpulkannya.39
4. Muallaf
Dalam tafsir al-Maraghi seperti yang dikutip oleh M. Ali Hasan, yang
termasuk muallaf adalah orang kafir yang diperkirakan atau
diharapkan mau beriman. Dalam sejarah Rasulullah SAW pernah
memberikan zakat kepada Shafwan bin Umayyah ketika penaklukkan
kota Makkah dan orang yang baru masuk Islam dengan harapan ketika
38
Ibid.
39
H.A. Djazuli, Fiqh Siyasah, cet. Ke-5 (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2013), h.
223.
28
diberikan zakat untuk membantunya, imannya tidak goyah lagi ketika
sudah masuk agama Islam.40
5. Budak Belian (riqab)
Untuk masa sekarang, manusia dengan status belian sepertinya sudah
tidak ada lagi. Akan tetapi, apabila dilihat dari segi maknanya, riqab
merujuk pada kelompok orang yang tertindas dan dieksploitasi oleh
manusia lain baik secara personal juga struktural. Dengan demikian,
dana zakat dapat digunakan untuk membantu para buruh rendahan dan
kuli-kuli kasar dari hegemoni majikan mereka.41
6. Orang yang Terlilit Hutang (gharimin)
Diantara orang yang mempunyai beban hutang untuk mendamaikan
sengketa, atau menjamin utang orang lain sehingga harus
membayarnya yang menyebabkan hartanya habis. Bisa juga orang
yang terpaksa harus berhutang karena kebutuhan yang menuntutnya,
atau juga untuk dapat membebaskan dirinya dari maksiat. Semua itu
diperbolehkan untuk menerima zakat yang cukup guna melunasi
hutangnya.42
7. Fiisabilillah (Orang yang berjuang di jalan Allah)
Yaitu setiap orang yang berjalan di dalam ketaatan kepada Allah SWT.
dan di jalan kebaikan, seperti orang-orang yang berperang, jamaah haji
yang terputus perjalanannya dan mereka tidak mempunyai sumber
40
M. Ali Hasan, Zakat dan Infak (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2006), h. 97-98.
41
Arif Wibowo, MEI, “Distribusi Zakat dalam Bentuk Penyertaan Modal Bergulir
Sebagai Accelerator Kesetaraan Kesejahteraan,” Jurnal Ilmu Manajemen, Vol 12:2 (April 2015),
h. 31-32.
42
Hasbiyallah, Fiqh dan Ushul Fiqh, h. 251.
29
harta lagi, dan para penuntut ilmu yang fakir. Jalan Allah SWT. adalah
jalan menuju keridhaan dan pahala-Nya. Diriwayatkan dari Imam
Ahmad, bahwa dia menjadikan perjalanan ibadah haji termasuk jalan
Allah SWT. Termasuk dalam hal ini ialah seluruh kebaikan, seperti
mengkafani orang mati, membangun jembatan dan benteng,
memakmurkan masjid, dan lainnya.43
8. Ibnu Sabil (Orang yang sedang dalam perjalanan)
Ibnu Sabil merupakan orang yang sedang melakukan perjalanan
(musyafir) dengan tujuan yang baik bukan untuk melakukan suatu
kemaksiatan. Diperkirakan dia tidak akan sampai pada tujuannya jika
tidak dibantu.44
Menurut pendapat Imam Syafi‟i, zakat fitrah wajib diserahkan
kepada delapan golongan sebagaimana yang terdapat dalam [Link]-Taubah
ayat 60. Namun apabila muzakki menyerahkan sendiri zakat fitrahnya
kepada mustahiq maka hak untuk amil atau pengelola zakat telah gugur
dan bagian muallaf juga gugur dengan sendirinya sebab urusan bagian
muallaf adalah diserahkan kepada pengelola zakat. Menurut imam Malik
(madzhab Malikiyah) berpendapat bahwa zakat fitrah itu sesungguhnya
merupakan haknya fakir dan miskin saja bukan kepada yang lainnya.
Bahkan apabila di suatu daerah atau negara tersebut tidak terdapat orang
fakir maupun miskin maka zakat harus diberikan atau dialokasikan ke
43
Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi (Semarang: CV. Toha
Putra Semarang), h. 245.
44
Ibid.
30
tempat lain yang terdapat golongan tersebut. Jumhur ulama berpendapat
bahwa zakat fitrah harus dibagikan kepada kedelapan ashnaf, Sedangkan
pendapat yang mengkhususkan hanya boleh dibagikan kepada fakir miskin
saja adalah pendapat dari madzhab dan golongan Malikiyah. Salah satu
pendapat dari Imam Ahmad, yang diperkuat oleh Ibnu Qayyim dan
gurunya yakni Ibnu Taimiyah. Hal ini diikuti juga oleh Qashim, Abu
Thalib dan Imam Hadi, yang mana mereka berkata bahwa zakat fitrah
hanya boleh dibagikan kepada golongan fakir miskin saja bukan kepada
golongan lain.45
Dalam undang-undang tentang pengelolaan zakat juga mengatur
terkait dengan pendistribusian zakat kepada para mustahiq yaitu Pasal 25
dan 26 disebutkan bahwa:46
1. Zakat wajib didistribusikan kepada mustahiq sesuai dengan syariat
Islam.
2. Pendistribusian zakat dilakukan berdasarkan skala prioritas dengan
memperhatikan prinsip pemerataan, keadilan, dan kewilayahan.
6) Waktu Pembagian Zakat Fitrah
Beberapa ketentuan waktu dalam mengeluarkan zakat fitrah yang
dipakai juga dalam pendistribusian zakat fitrah menurut Imam Syafi‟i yang
dijelaskan dalam kitab Al-Muhazdzab fi fiqhi al-Imam al-Syafi‟I membagi
waktu wajib dalam membagikan zakat fitrah dalam 2 bagian yaitu:
45
Kementerian Agama Republik Indonesia, Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam,
Direktorat Pemberdayaan Zakat, Panduan Zakat Praktis (2013), h. 47-49.
46
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.
31
a. Dalam qaud qadimnya al-imam As-syafi‟i berkata bahwa zakat fitrah
hukumnya adalah wajib dimulai dari terbitnya fajar pada hari raya Idul
Fitri, hal ini karena zakat fitrah adalah suatu ibadah yang berkaitan
dengan hari raya sehingga pelaksanannya tidak boleh didahulukan dari
raya Idul Fitri, sebagaimana ibadah lain seperti shalat dan kurban pada
hari raya Idul Adha.
b. Dalam qaul jadidnya, beliau mengatakan bahwa zakat fitrah itu wajib
hukumnya sebab terbenamnya matahari pada hartaam hari raya Idul
Fitri.
Zakat fitrah seharusnya ditunaikan sebelum shalat Idul Fitri sebab
jika pelaksanannya ditunaikan setelah shalat Idul Fitri maka dihukumi
bukan lagi zakat fitrah melainkan sudah menjadi shadaqah biasa. Hal ini
seperti yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dan Muslim dan para Imam yang lain dari Abdullah bin Umar r.a.
َّ اض اِنَّ ان
صالَ ِة ِ َْ س ُْ ُل هللااِ ﷺ أ َ َم َس بِ َصكَا ِة ا ْن ِف ْط ِسا َ ْن ح ُؤْ دَِ قَ ْب َم ُخ ُس
ِ َّج انى ُ أنَّ َز
Artinya:
“Sesungguhnya Rasulullah Saw. telah memerintahkan untuk
membagikan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk
melaksanakan shalat”.47 (HR. Bukhari Muslim).
Adapun dalam hadits berikut:
ُِ صائِ ِم ِمهَ نَّه ْغ
َّ طٍ َْسةً ِنه ُ فَ َسضَ َز:َع ْىًُ قَال
ُ سُ ُل هللااِ ﷺ َشكَاةَ ا ْن ِف ْط ِس َ ُاض َز ِض َٓ هللاا
ٍ َّعب
َ ع َِه اب ِْه
ََ َم ْه أَدَّا ٌَا بَ ْع َد انص ََّال ِة،ٌ َم ْه أَدَّا ٌَا قَ ْب َم انص ََّال ِة فَ ٍِ َٓ َشكَاةٌ َم ْقبُُنَت،ٕه َ ط ْع َمتً ِن ْه َم
ِ سا ِك ِ َانسف
ُ ََ ،ث َّ ََ
47
Yusuf Qardhawi, Terjemah Fiqhuz Zakat, Terjemah Salman Harun dkk (Jakarta:
Pustaka Litera Antar Nusa, 1990), 960.
32
ث َّ ص َدقَتٌ ِمهَ ان
ِ ص َدقَا َّ فَ ٍِ َٓ ان
Artinya:
“Diriwayatkan dari Ibnu „Abbas ia berkata: Rasulullah SAW
mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang
berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan ucapan yang kotor,
serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin.
Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat ied, itulah zakat yang
diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah salat ied,
maka itu sekedar sadaqah.”48 (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah
serta disahihkan oleh al-Hakim).
Terkait dengan waktu utama mengeluarkan atau membagikan zakat
fitrah, terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama. Berdasarkan
riwayat dari Ibnu Umar yang diterima oleh Imam Bukhari bahwa para sahabat
mengeluarkan zakat fitrah satu atau dua hari sebelum Idul fitri untuk
dibagikan sebelum shalat Idul fitri. Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Anas
bin Malik sepakat dengan pendapat tersebut. Sedangkan menurut Imam
Syafi‟I, zakat fitrah boleh dikeluarkan pada awal bulan Ramadhan (waktu al-
Jawaz) sedangkan untuk waktu wajib adalah pada malam hari raya (malam 1
syawal). Dari pendapat-pendapat tersebut, Yusuf Qardhawi menyatakan
bahwa pendapat yang memperbolehkan untuk zakat fitrah dikeluarkan pada
pertengahan bulan Ramadhan dapat memudahkan masyarakat dan yang utama
jika zakat fitrah dikumpulkan melalui perantara amil maka membutuhkan
waktu untuk mengumpulkan kemudian mendistribusiaknnya sebelum
48
A. Chodry Romli, Risalah Puasa Ramadhan Hukum-Hukum Puasa dan Hikmahnya,
cet. Ke-10 (Surabaya: Pustaka Progressif, 2022), h. 140.
33
melaksanakan shalat Idul fitri karena akan sangat membahagiakan jika zakat
fitrah telah sampai ditangan mustahiq lebih cepat di pagi hari pada hari raya.49
Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mengatakan, “Apabila zakat fithri
ditunaikan jauh hari sebelum hari raya Idul Fithri, maka hal ini dapat
membatalkan maksud dari disyari‟atkannya zakat fithri yaitu untuk memenuhi
kebutuhan orang miskin di hari raya Idul Fitri. Ingatlah bahwa sebab
diwajibkannya zakat fithri adalah hari fitri, hari dimana kita tidak lagi
berpuasa. Sehingga zakat ini pun disebut zakat fitri. Karena maksud dari zakat
fitri adalah untuk mencukupi orang miskin di waktu yang khusus (yaitu hari
raya „Idul Fitri), maka tidak boleh didahulukan jauh hari sebelum waktunya.”
C. Konsep Pendistribusian Zakat
1. Unsur-unsur dalam Pendistribusian Zakat
Unsur-unsur dalam proses pengelolaan zakat mempunyai peranan yang
sangat penting dalam pendistribusian zakat di Indonesia, dimana muzakki
berperan sebagai sumber zakat dan mustahiq sebagai sasaran dalam
pendistribusian zakat yang telah menjadi perjalanan panjang dalam
pengelolaan zakat. Zakat yang telah terkumpul seharusnya didistribusikan
kepada mereka yang benar-benar dalam keadaan membutuhkan (darurat),
apalagi telah diatur dan ditegaskan di dalam syari‟at Islam maupun Undang-
undang bahwa dalam pendistribusian zakat harus berpegang teguh pada
prinsip pemeratan, keadilan dan juga kepastian hukum.
49
Didin Hafidhuddin, Panduan Praktis Tentang Zakat, Infak, dan Sedekah, cet. Ke-1
(Jakarta: Gema Insani Press, 1998), h. 52-53.
34
Untuk memastikan bahwa zakat didistribusikan tepat pada sasaran,
maka ada beberapa unsur penting yang harus diperhatikan yang mana telah
diatur di dalam syariat Islam. Adapun unsur-unsur yang terlibat di dalam
proses pendistribusian zakat yaitu sebagai berikut:50
1) Muzakki (Orang yang dikenai kewajiban membayar zakat)
Muzakki yaitu orang yang mempunyai kemampuan dan dibebankan untuk
mengeluarkan zakat. Khususnya untuk zakat fitrah, muzakki yaitu mereka
yang telah dikenai kewajiban untuk mengeluarkan zakat untuk dikelola
oleh BAZNAZ maupun LAZ, oleh karenanya tidak semua agama bisa
menunaikan ibadah zakat, dan hanya orang-orang yang beragam Islam saja
yang diwajibkan utuk menjalankannya.
2) Mustahiq (Orang yang berhak untuk menerima zakat)
Mustahiq yaitu setiap orang yang berhak untuk menerima zakat dari para
amil sebagaimana yang telah disyariatkan dalam Islam. Kaum mustahiq
juga memiliki golongan prioritas untuk diberikan zakat yaitu golongan
fakir dan miskin. Golongan Fakir dan miskin menurut syariat Islam dan
Undang-undang merupakan golongan yang paling berhak untuk
memperoleh manfaat zakat karena kelompok tersebut memiliki urgensi
yang lebih mendesak diantara golongan mustahiq yang lainnya. Kelompok
fakir dan miskin juga terbagi menjadi 2 kategori, yaitu kategori miskin
50
Muhammad Aidil, “Tinjauan Hukum Pendistribusian Zakat Fitrah di Desa Paladang,
Kabupaten Enrekang,” Skripsi UIN Alauddin Makassar (2021), h. 25.
35
yang sudah tidak bekerja dan juga miskin karena keterbatasan dalam
melakukan suatu pekerjaan, misalnya disabilitas.
3) Amil (Pihak yang bertugas mengelola zakat)
Amil adalah orang yang bertugas untuk mengelola zakat, mulai dari
mengumpulkannya dari para muzakki sampai pada pendistribusiannya
kepada para mustahiq. Namun saat ini, tugas amil tidak hanya terbatas
pada pengelolaan zakat saja melainkan juga untuk memberikan edukasi
kepada para mustahiq terutama fakir dan miskin.
Untuk menjamin efektifnya zakat yang telah diberikan, maka amil
sebagai lembaga pengelola zakat diwajibkan untuk mematuhi persyaratan
sebagai pengelola zakat. Menurut Yusuf Al-Qardhawi, syarat-syarat yang
dimaksud adalah sebagai berikut:51
a) Untuk menjadi amil lembaga tersebut termasuk juga anggota di
dalamnya harus beragama Islam dan memenuhi ketentuan syariat
Islam, tak lain dan tak bukan karena zakat merupakan rukun Islam
sehingga pengelolanya haruslah umat Islam.
b) Mukallaf (orang dewasa yang sehat akalnya).
c) Memiliki sifat amanah, terbuka dan transparan.
d) Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang luas tentang hukum-
hukum zakat sehingga pengelola zakat dapat memberikan edukasi
kepada masyarakat dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan.
51
Rachma Indrarini dan Aditya Surya Nanda, “Transparansi dan Akuntabilitas Laporan
Keuangan Lembaga Amil Zakat: Perspektif Muzaki UPZ BNI Syariah,” Jurnal Akuntansi, Vol 8:2
(April 2017), h. 172.
36
e) Memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas dengan sebaik-
baiknya.
f) Amil bersungguh-sungguh dalam mengelola zakat, diniatkan
dengan ikhlas untuk menegakkan agama Allah SWT.