0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan23 halaman

Tinjauan Penelitian Zakat Fitrah 2020-2023

Dokumen ini membahas tinjauan pustaka terkait penelitian zakat fitrah, mencakup penelitian terdahulu yang menunjukkan perbedaan dalam objek dan lokasi penelitian. Selain itu, dijelaskan pengertian zakat, dasar hukum, dan pentingnya zakat dalam Islam sebagai ibadah yang membersihkan harta dan jiwa. Penelitian ini berfokus pada pendistribusian zakat kepada golongan tertentu di Negeri Wakasihu, berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih merata.

Diunggah oleh

Aisah Tuanaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan23 halaman

Tinjauan Penelitian Zakat Fitrah 2020-2023

Dokumen ini membahas tinjauan pustaka terkait penelitian zakat fitrah, mencakup penelitian terdahulu yang menunjukkan perbedaan dalam objek dan lokasi penelitian. Selain itu, dijelaskan pengertian zakat, dasar hukum, dan pentingnya zakat dalam Islam sebagai ibadah yang membersihkan harta dan jiwa. Penelitian ini berfokus pada pendistribusian zakat kepada golongan tertentu di Negeri Wakasihu, berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih merata.

Diunggah oleh

Aisah Tuanaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu dilakukan dengan cara mengambil beberapa hasil

penelitian yang telah dilakukan dan berkaitan dengan judul serta permasalahan

yang sedang diteliti bertujuan untuk membandingkan penelitian yang sudah

dilakukan dengan yang sedang dilakukan terkait persamaan dan perbedaannya

dan juga dijadikan sebagai suatu acuan seseorang dalam meneliti. Berdasarkan

penelusuran dan pencarian berbagai literatur yang telah penulis lakukan, maka

didapatlah beberapa karya tulis ilmiah yang telah dilakukan sebelumnya,

diantaranya yaitu :

1. Dalam Skripsi yang ditulis oleh Una Makatita, Fakultas Syariah dan

Ekonomi Islam, Institut Agama Islam Negeri Ambon, Tahun 2020, yang

berjudul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Zakat Fitrah di

Dusun Tapinalu Kecamatan Huamual Kabupaten Seram Bagian Barat”,

hasil penelitian ini menjelaskan bahwa pelaksanaan zakat fitrah di Dusun

Tapinalu pendistribusiannya diberikan kepada seluruh masyarakat

disebabkan beberapa faktor antara lain yaitu untuk menghindari adanya

kecemburuan sosial, menjaga tradisi turun-temurun, menjaga tali

silaturahim, dan untuk membantu kebutuhan masyarakat setempat.

2. Dalam Skripsi yang ditulis oleh Abd Rahman Kwairumaratu, Fakultas

Syariah dan Ekonomi Islam, Institut Agama Islam Negeri Ambon, Tahun

14
15

2020, dengan judul “Tradisi Masyarakat Desa Malaku dalam Memberikan

Zakat Fitrah Bagi Mama Biang Suatu Perspektif Hukum Islam”, hasil

penelitian ini menjelaskan bahwa pengeluaran zakat fitrah di Desa

Malaku, pelaksanaannya disalurkan secara langsung dari Muzakki kepada

Mustahiq zakat, dalam hal ini adalah Mama Biang yang dianggap berkat

jasanya yang telah membantu dan merawat masyarakat ketika melakukan

persalinan. Kebiasaan ini telah dilakukan secara turun-temurun yang sudah

menjadi tradisi masyarakat setempat.

3. Ilman MHD. Akhyaruddin dkk, Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan

Ahmad Addary, Tahun 2023, dengan judul penelitian “Distribusi Zakat

Fitrah Setelah Shalat „Idul Fitri di Kecamatan Barumun Kabupaten Padang

Lawas di Tinjau dari Hukum Islam”, hasil penelitian ini metode

pendistribusian zakat fitrah di Kecamatan Baramun, Kabupaten Padang

Lawas yaitu pendistribusian zakat fitrah dari amil atau panitia zakat

kepada mustahiq dilaksanakan pada tanggal 26 Ramadhan setelah shalat

Ashar dengan sistem talangan, pendistribsian dari amil kepada mustahiq

pada malam 1 syawal, pendistribusian dari amil kepada mustahiq setelah

shalat Idul Fitri. Faktor penyebab terjadinya pendistribusian zakat fitrah

setelah shalat Idul Fitri pada beberapa desa yang ada di kecamatan

Barumun antara lain karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam

memahami tujuan zakat fitrah, kurangnya Sumber Daya Manusia para

panitia atau amil zakat dan kurangnya manajemen amil terhadap

pengelolaan zakat fitrah.


16

Berdasarkan beberapa penelitian di atas, terdapat perbedaan antara

penelitian ini dan penelitian sebelumnya yaitu pada objek dan lokasi

penelitiannya. Pada penelitian ini, penulis mengkaji tentang penetapan

pendistribusian zakat dimana yang menjadi permasalahan penelitian ini adalah

pendistribusian zakat yang hanya diberikan kepada golongan tertentu saja

seperti janda, yatim/piatu, muallaf, tokoh adat dan penghulu masjid berbeda

dengan penelitian terdahulu dimana zakat diberikan secara merata kepada

semua anggota mustahiq dan mama biang dan lokasi penelitian ini dilakukan

di Negeri Wakasihu Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah.

Perbedaan yang lain juga pada waktu pendistribusian zakat. Sedangkan

persamaan antara penelitian ini dan penelitian sebelumnya adalah sama-sama

meneliti tentang penentuan mustahiq dalam pendistribusian zakat fitrah.

B. Konsep Zakat

1. Pengertian Zakat dan Dasar Hukumnya

Ditinjau dari segi bahasa, zakat merupakan bentuk mashdar dari kata

“zakaa” yang artinya berkah, tumbuh, bersih, dan baik. Sesuatu itu zakaa

berarti tumbuh dan berkembang, dan seseorang dikatakan zakaa berarti orang

itu baik. Dari kata zakaa menjadi “zakat”, adalah sesuatu yang dikeluarkan

oleh manusia dari sebagian hak Allah SWT. untuk disalurkan kepada fakir dan

miskin serta ashnaf lainnya yang telah ditentukan.20 Dalam kitab Lisan al-

20
Julianty Ryzkha L. Mossy, “Optimalisasi Dana Zakat, Infak, dan Sedekah Masjid
Terhadap Pemberdayaan Jamaah (Studi di Masjid Imam Rijali IAIN Ambon,” Al-Qashdu Jurnal
Ekonomi dan Keuangan Syariahi, Vol 1:1 (2021), h. 18.
17

‟Arab zakat berarti suci, tumbuh, berkah dan terpuji. Zakat juga dapat

diartikan pemberian yang wajib diberikan dari harta tertentu, dengan sifat-sifat

juga ukuran tertentu kepada golongan tertentu.21 Menurut K.H. Didin

Hafidhuddin, zakat secara terminologi yaitu nama bagi sejumlah harta tertentu

yang telah mencapai syarat tertentu, yang diwajibkan oleh Allah SWT. untuk

dikeluarkan dan diserahkan kepada orang yang berhak menerimanya dengan

syarat-syarat tertentu pula.22 Adapun dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor

23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat menyebutkan “Zakat adalah harta

yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk

diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam”.

Dalam syariat Islam disebut zakat karena adanya makna linguistik yang

terkandung di dalamnya, yakni pengembangan harta dan pensuciannya,

sekaligus menyucikan jiwa orang yang melaksanakan zakat.

Zakat merupakan ibadah maliyah ijtima‟iyyah yang mempunyai peran

yang sangat penting, strategis, dan menentukan, baik dari kacamata Islam

maupun dari sisi pembangunan kesejahteraan umat. Empat madzhab fiqh

besarpun mengartikan zakat dengan pandangan yang berbeda, sebagai berikut:

1) Menurut madzhab Hanafi, zakat yaitu kepemilikan sebagian harta tertentu

dari harta tertentu sebagai milik orang tertentu, yang ditentukan oleh

syariat karena Allah SWT.

21
Mufti Afif dan Sapta Oktiadi, “Efektifitas Distribusi Dana Zakat Produktif dan
Kekuatan Serta Kelemahannya Pada BAZNAS Magelang,” Islamic Economics Journal, Vol 4:2
(Desember 2018), h. 42.
22
Mila Sartika, “Pengaruh Pendayagunaan Zakat Produktif Terhadap Pemberdayaan
Mustahiq pada LAZ Yayasan Solo Peduli Surakarta,” Jurnal Ekonomi Islam, Vol 2:1 (Juli 2008),
h. 79.
18

2) Menurut madzhab Maliki, zakat adalah mengeluarkan bagian tertentu dari

harta tertentu pula yang telah mencapai nishab (batas kuantitas yang

mewajibkan zakat) bagi orang-orang yang berhak menerimanya. Dengan

catatan harta tersebut milik sempurna, telah mencapai haul (setahun),

bukan barang tambang dan bukan pertanian.

3) Menurut madzhab Syafi‟i, zakat adalah sesuatu yang dikeluarkan dari

harta atau jiwa sesuai dengan cara khusus.

4) Menurut madzhab Hambali, zakat ialah hak wajib yang dikeluarkan dari

harta tertentu untuk kelompok tertentu, dan pada waktu tertentu pula.

Yang dimaksudkan dengan kelompok tertentu yaitu delapan kelompok

yang diisyaratkan oleh Allah SWT.23

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa zakat

merupakan harta tertentu yang diberikan kepada orang-orang tertentu dari

orang tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu pula. Harta yang dikeluarkan

harus mencapai nishab dan haulnya.

Tujuan menunaikan zakat adalah untuk membersihkan harta dan jiwa.

Sehingga dapat dikatakan bahwa orang yang menunaikan zakat berarti ia telah

mebersihkan harta dan jiwanya dari segala kotoran dosa dan noda. Zakat

disebutkan dalam Al-Qur‟an sebanyak 30 kali, 27 nya disebutkan setelah

perintah menegakkan shalat. Hal ini mengisyaratkan bahwa sebelum

menunaikan zakat, terlebih dahulu harus menegakkan shalat. Hal ini juga

sama dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Puasa menjadi kurang

23
[Link] akses 14 Januari 2024
19

sempurna jika tidak menjalankan zakat fitrah. Hal ini berarti zakat

menyempurnakan ibadah shalat dan puasa seseorang.

Diantara dalil yang menjadi dasar hukum disyariatkannya zakat adalah

sebagai berikut :

a. Al-Qur‟an

1) QS. At-Taubah (9) : 103

‫ع ِه ْٕ ٌم‬
َ ‫س ِم ْٕ ٌع‬
َ ُ‫ّٰللا‬ َ َ‫عهَٕ ٍِْ ْۗ ْم اِنَّ ص َٰهُح َك‬
‫سكَهٌ نَّ ٍُ ْۗ ْم ََ ه‬ َ ََ ‫ص َدقَتً ح ُ َط ِ ٍّ ُس ٌُ ْم ََح َُص ِ ّكٕ ٍِْ ْم ِبٍَا‬
َ ‫ص ِ ّم‬ َ ‫ُخ ْر ِم ْه ا َ ْم َُا ِن ٍِ ْم‬

Terjemahan:

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan


menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya
doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah
maha mendengar lagi maha mengetahui”.
Sayyid Sabiq sebagaimana yang dikutip oleh [Link],

[Link], ia menafsirkan ayat diatas dengan : “Ambillah wahai rasul dari

(sebagian) harta orang mukmin sedekah yang tertentu seperti zakat dan

sedekah yang tidak tertentu, dan ia merupakan amalan sunnah. Zakat itu

mensucikan mereka (para muzakki) dari sifat bakhil dan rakus, serta

kerasnya hati terhadap para orang-orang fakir dan orang-orang yang

melarat., serta berbagai hal yang berkaitan dengan itu semua”.24

2) QS. Al-Baqarah (2) : 43

َ‫انس ِك ِع ْٕه‬
‫از َكعُ ُْا َم َع ه‬ َّ ‫ََاَقِ ْٕ ُمُا انص َّٰهُةَ ََ ٰاح ُُا‬
ْ ََ َ‫انص ٰكُة‬

24
M. Nurzansyah, “Zakat, Rukun Islam yang Sering Dilupakan,” Jurnal Ekonomi dan
Perbankan Syariah, h. 105.
20

Terjemahan:
“Dan laksankanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah
beserta orang yang rukuk”.
b. Al-hadits

Selain Al-Qur‟an, ada beberapa hadits juga yang menerangkan

terkait dengan kewajiban zakat diantaranya yaitu :

1) HR. Thabrani

‫س ُع فُقَ َسا َء ٌُ ْم ََنَ ْم َٔجْ ٍَدُا ْنفُقَ َسا ُء اِذَاجَائ ُُْا‬ ْ ‫فٓ ا َ ْم َُا ِنٍ ْم َٔقُ ُْ ُل انَّر‬
َ َٔ ِْ ْ َ‫س ِه ِم ْٕه‬ َ َ‫اِنَّ هللااَ فَ َسض‬
ْ ‫عهَّ ا َ ْغىَِٕا َءا ْن ُم‬

َ ‫ًأَُعَ ِرّبُ ٍُ ْم عرَابًاا َ ِن ْٕ ًما‬


)ٓ‫(ز ََا ُي انطبساو‬ َ ‫ش ِد ْٔد‬
َ ‫سابًا‬ ِ ‫صىَ ُع ا َ ْغىَِٕائ ُُْ ٌُ ْم اِالَّ ََاِنَّ هللااَ ُٔحَا‬
َ ‫سبُ ٍُ ْم ِح‬ ُ َْ َ ‫ا‬
ْ َٔ‫غ ُس َْااِالَّ ِب َما‬

Artinya:

“Allah SWT mewajibkan zakat pada harta orang-orang kaya dari


kaum muslimin sejumlah yang dapat memberikan jaminan kepada
orang-orang miskin di kalangan mereka. Fakir miskin tidak akan
menderita kelaparan dan kesulitan sandang pangan melainkan
disebabkan perbuatan golongan orang kaya. Ingatlah bahwa
Allah SWT akan mengadili mereka secara tegas dan menyiksa
mereka dengan azab yang pedih akibat perbuatannya itu.” (HR.
Thabrani)25
2) HR. Bukhari dan Muslim

َ ‫ص َدقَتً فِٓ أ َ ْم َُا ِن ٍِ ْم ح ُؤْ َخر ُ ِم ْه أ َ ْغىَِٕائِ ٍِ ْم ََح َُس ُّد‬


‫عهَّ فُقَ َسائِ ٍِ ْم‬ َ ‫عهَٕ ٍِْ ْم‬ ْ َ‫ّٰللا‬
َ َ‫افخ َ َسض‬ َّ َّ‫فَأ َ ْع ِه ْم ٍُ ْم أَن‬

Artinya:

“Beritahukan kepada mereka bahwa Allah SWT mewajibkan


pemungutan zakat dari orang-orang kaya di kalangan mereka,
untuk diberikan kepada orang-orang miskin di kalangan
mereka”.26

Hadits di atas telah menjelaskan betapa pentingnya zakat dan

bagaimana hikmah juga manfaatnya dalam Islam dan memperkuat nash yang

25
Jauharatun Nisail Hikmah, “Implementasi Manajemen Risiko pada Pengelolaan Dana
Zakat di Lembaga Amil Zakat YDSF (Yayasan Dana Sosial Al-Falah) Jember,” Skripsi IAIN
Jember (2020), h. 43.
26
Ibid.
21

telah ada di dalam Al-Qur‟an. Dari beberapa dalil yang telah dikemukakan

tersebut, sekiranya sudah cukup untuk menjadi dasar dalam menjelasksan

tentang wajibnya zakat bagi kaum muslim, sehingga tidak perlu adanya ijtihad

dan perdebatan dalam menentukan hukum zakat itu sendiri.

2. Jenis-jenis Zakat

Merujuk pada pendapat para ulama, pada prinsipnya zakat dibedakan

menjadi 2, yaitu zakat fitrah (jiwa) dan zakat maal.

1) Zakat Nafs (Zakat Fitrah)

Zakat fitrah merupakan istilah yang diambil dari kata fitrah yang

berasal dari suatu kejadian. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib ditunaikan

oleh setiap Muslim, baik anak-anak maupun orang dewasa, orang merdeka

ataupun hamba sahaya, laki-laki maupun perempuan, sebesar 1 sha‟ atau

2,176 kg beras (jika dibulatkan menjadi 2,5 kg) atau 3,5 liter beras yang

ditunaikan menjelang Idul fitri atau pada penghujung bulan Ramadhan,

sebelum dilaksanakannya shalat Idul Fitri27, apabila yang bersangkutan

memiliki kelebihan harta untuk keperluan pada hari itu dan pada malam

harinya.

Menurut Sayyid Sabiq, sebagaimana dikutip oleh Sumar‟in Asmawi,

zakat fitrah diwajibkan pada bulan sya‟ban tahun ke-2 hijriyah, yaitu tahun

dimana diwajibkannya puasa bulan Ramadhan untuk mensucikan orang yang

berpuasa dari ucapan kotor dan perbuatan yang salah, untuk memberi

27
Oni Sahroni dkk., Fikih Zakat Kontemporer, cet. Ke-2 (Depok: Rajawali Pers, 2019),
h. 48.
22

makanan pada orang-orang miskin demi mencukupi kebutuhan mereka dan

agar mereka tidak meminta-minta pada hari raya idul fitri.28

2) Zakat Maal (Zakat Harta)

Zakat maal atau yang disebut juga dengan zakat harta adalah zakat

yang wajib ditunaikan atas kepemilikan harta dengan ketentuan-ketentuan

khusus yang berhubungan dengan jenis harta, batas nominal (nishab), dan

kadar zakatnya. Zakat Maal mencakup hasil pertanian, hasil laut, perniagaan,

pertambangan, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak, termasuk hasil

kerja (zakat profesi) yang juga mempunyai perhitungan tersendiri.

1. Zakat Fitrah

1) Pengertian Zakat Fitrah

Yang dimaksudkan dengan zakat fitrah ialah nama bagi berbagai

makanan pokok yang dikeluarkan oleh setiap muslim ketika telah berlalunya

bulan Ramadhan. Zakat ini jelas berbeda dengan zakat maal atau zakat harta.29

Zakat fitrah adalah zakat yang dibebankan kepada setiap muslim yang

memiliki kemampuan baik yang sudah dewasa maupun belum, yang dibagikan

sebelum shalat hari raya Idul Fitri. Besar zakat yang harus dibayar adalah 2,5

kg atau 3,5 liter makanan pokok suatu daerah.30 Zakat ini disebut zakat fithr

karena berhubungan dengan bentuk harta yang dikeluarkan yakni berupa

makanan. Selain itu juga karena berkaitan dengan hari lebaran yakni hari raya

Idul Fitri, yang secara bahasa artinya hari raya makan-makan.

28
Sumar‟in Asmawi, Zakat Sebagai Kekuatan Ekonomi Umat, cet. Ke-1 (2017), h. 27-28.
29
Kementerian Agama Republik Indonesia, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat
Islam, Direktorat Pemberdayaan Zakat, Fiqh Zakat (2015), h. 46.
30
Siska Lis Sulistiani, Hukum Perdata Islam, cet. Ke-2 (Jakarta: Sinar Grafika, 2019), h.
141-142.
23

Jadi zakat fitrah merupakan zakat yang disebabkan sebagai pertanda

bahwa Ramadhan tahun itu telah berakhir. Menurut Sayyid Sabiq,

sebagaimana dikutip oleh Iin Mutmainnah, menjelaskan bahwa hukum zakat

fitrah adalah wajib bagi setiap umat muslim baik anak kecil maupun yang

sudah dewasa, laki-laki ataupun perempuan serta orang yang merdeka maupun

budak. Sebab diwajibkannya zakat fitrah adalah bukan karena kepemilikan

harta secara khusus, melainkan sebagai suatu bentuk kewajiban yang

dibebankan kepada setiap muslim karena sudah sampai pada penghujung

bulan suci Ramadhan.31

2) Hikmah dan Tujuan Zakat Fitrah

Dalam Islam, ketika Allah SWT. memerintahkan dan menganjurkan

melakukan suatu perintah maka pasti di dalamnya ada hikmah yang hendak

dicapai dan tujuan. Oleh karena itu, ketika Allah SWT mensyariatkan perintah

zakat fitrah pasti ada hikmah dan tujuannya, yakni hikmah dari diperintahkan

zakat fitrah adalah:

a) Membantu orang yang lemah atau kekurangan agar mereka dapat

memenuhi kebutuhan hidup dan kewajiban-kewajiban yang sudah

ditetapkan oleh Allah SWT.

b) Sebagai upaya untuk membersihkan diri dari dosa-dosa, serta untuk

menyucikan akhlak dari sifat tamak dan juga kikir.

c) Sebagai perwujudan rasa syukur kepada Allah SWT. atas kelebihan

nikmat yang telah dilimpahkan.

31
Iin Mutmainnah, Fikih, h. 82.
24

Sedangkan tujuan dari zakat fitrah adalah memenuhi kebutuhan orang-

orang miskin atau yang tidak mampu pada hari raya Idul Fitri dan

menyenangkan serta menggembirakan mereka dengan makanan pokok yang

biasa dinikmati atau dikonsumsi oleh masyarakat di daerah tersebut. 32 Zakat

fitrah juga bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan orang yang

berpuasa dari ucapan yang tidak baik dan perbuatan yang merugikan atau

tidak berguna serta memberi makan orang miskin dan memberikan mereka

kecukupan dalam menangani masalah kebutuhan makan pada saat Idul Fitri.33

3) Jenis Benda yang Digunakan dalam Pembayaran Zakat Fitrah

Benda yang dapat digunakan dalam pembayaran zakat fitrah dapat

berupa semua jenis barang yang dianggap sebagai makanan pokok suatu

daerah dan megenyangkan dapat berupa kurma, gandum, anggur, beras,

jagung dan lainnya. Terkait dengan pembayaran zakat fitrah yang dibayarkan

dengan uang, ada perbedaan pendapat diantara para ulama. Ada ulama yang

memperbolehkan dan ada ulama yang tidak membolehkannya. Pendapat yang

membolehkan membayar zakat fitrah dengan uang adalah Imam Abu Hanifah,

Abu Ishak, Al-Thawri, dan Al-Hasan Ata dan salah satunya yaitu Shaikh

Yusuf Al-Qardhawi berpendapat bahwa zakat fitrah boleh dibayarkan dalam

bentuk uang tunai yang setara dengan harga bahan tersebut. Sedangkan ulama

32
Sumar‟in Asmawi, Zakat Sebagai, h. 31.
33
Rini Idayanti, “Distribusi Zakat Fitrah Pada Masyarakat Miskin Kecamatan Tanete
Riattang Barat,” Iltizam Journal Of Shariah Economic Research, Vol 2:1 (2018), h. 49.
25

yang tidak membolehkan adalah Imam Malik, Imam Syafi‟I, Ibnu Hazm dan

Imam Hambali.34

4) Nishab dan Haul Zakat Fitrah

Nishab adalah batas minimal harta yang wajib dikenakan zakat. Haul

adalah batasan waktu satu tahun atau 12 bulan qamariyah kepemilikan harta

yang wajib untuk dikeluarkan zakatnya.

Terkait dengan tata cara penghitungan zakat fitrah, diatur dalam

Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2014.

Pasal 30:

(1) Zakat fitrah ditunaikan dalam bentuk beras atau makanan pokok

seberat 2,5 kg atau 3,5 liter per jiwa.

(2) Kualitas beras atau makanan pokok sebagaimana dimaksud pada ayat

(1) sesuai dengan kualitas beras atau makanan pokok yang dikonsumsi

sehari-hari.

(3) Beras atau makan pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat

diganti dalam bentuk uang senilai 2,5 kg atau 3,5 liter beras.

Pasal 31

(1) Zakat fitrah ditunaikan sejak awal Ramadhan dan paling lambat

sebelum pelaksanaan Shalat Idul Fitri.

(2) Zakat fitrah disalurkan paling lambat sebelum pelaksanaan shalat Idul

Fitri.35

34
Andri, “Pola Pembagian Zakat Fitrah di Kabupaten Aceh Singkil,” Jurnal MEDIASAS,
Vol 4:1 (Januari-Juni 2021), h. 26.
26

5) Golongan Penerima Zakat Fitrah

Islam sudah mengatur golongan siapa saja yang berhak menerima

zakat yang dikenal dengan istilah ashnaf sebagaimana firman Allah SWT.

dalam QS. At-taubah ayat 60.

ِ‫ّٰللا‬ َ ْٓ ِ‫ب ََا ْن ٰغ ِس ِم ْٕهَ ََف‬


‫سبِ ْٕ ِم ه‬ ِ ‫انسقَا‬ َ َ‫صد َٰقجُ ِن ْهفُقَ َس ۤا ِء ََا ْن َم ٰس ِكٕ ِْه ََا ْن ٰع ِم ِه ْٕه‬
ّ ِ ِّ‫عهَ ٍَْٕا ََا ْن ُم َؤنَّفَ ِت قُهُ ُْبُ ٍُ ْم ََف‬ َّ ‫اِوَّ َما ان‬

‫ع ِه ْٕ ٌم َح ِك ْٕ ٌم‬
َ ُ‫ّٰللا‬ ْۗ ‫سبِ ْٕ ْۗ ِم فَ ِس ْٔضَتً ِ ّمهَ ه‬
‫ّٰللاِ ََ ه‬ َّ ‫ََاب ِْه ان‬

Terjemahan:
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-
orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya
(mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk
(membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan
untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan
pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah maha mengetahui
lagi maha bijaksana”
Berikut penjelasan terkait dengan kedelapan golongan penerima zakat.

1. Fakir
Orang yang tergolong fakir adalah yang sengsara hidupnya, tidak

mempunyai harta dan tenaga serta fasilitas yang dapat digunakan

sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.36 Fakir merupakan

orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian

untuk memenuhi kebutuhan dasar.37

35
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2014 tentang Syarat
dan Tata Cara Penghitungan Zakat Mal dan Zakat Fitrah Serta Pendayagunaan Zakat Untuk Usaha
Produktif
36
Iin Mutmainnah, Fikih Zakat, h. 21.
37
Efri Syamsul Bahri dan Sabik Khumaini, “Analisis Efektivitas Penyaluran Zakat Pada
Badan Amil Zakat Nasional,” Al Maal, Vol 2:1 (Januari 2020), h. 167.
27

2. Miskin

Orang yang tergolong miskin adalah orang yang mempunyai mata

pencaharian tetapi tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar

yang baik dan layak bagi kebutuhan hidup dirinya dan atau keluarga

yang menjadi tanggungannya.38

3. Amil

Amil yaitu orang yang mempunyai tugas dan fungsi untuk memungut,

mengumpulkan, menghitung, dan menyalurkan zakat. Amil adalah

orang-orang yang bertanggung jawab mengumpulkan zakat yang

diberikan tugas langsung oleh pimpinan di masyarakat. Mengenai

bagian zakat yang menjadi hak dari „amilin, Imam Abu Hanifah dan

Imam Malik berpendapat bahwa amil diberikan upah sesuai dengan

usahanya secara wajar. Menurut Imam As-Syafi‟i, amil mendapat

seperdelapan bagian dari pungutan zakat yang dikumpulkannya.39

4. Muallaf

Dalam tafsir al-Maraghi seperti yang dikutip oleh M. Ali Hasan, yang

termasuk muallaf adalah orang kafir yang diperkirakan atau

diharapkan mau beriman. Dalam sejarah Rasulullah SAW pernah

memberikan zakat kepada Shafwan bin Umayyah ketika penaklukkan

kota Makkah dan orang yang baru masuk Islam dengan harapan ketika

38
Ibid.
39
H.A. Djazuli, Fiqh Siyasah, cet. Ke-5 (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2013), h.
223.
28

diberikan zakat untuk membantunya, imannya tidak goyah lagi ketika

sudah masuk agama Islam.40

5. Budak Belian (riqab)

Untuk masa sekarang, manusia dengan status belian sepertinya sudah

tidak ada lagi. Akan tetapi, apabila dilihat dari segi maknanya, riqab

merujuk pada kelompok orang yang tertindas dan dieksploitasi oleh

manusia lain baik secara personal juga struktural. Dengan demikian,

dana zakat dapat digunakan untuk membantu para buruh rendahan dan

kuli-kuli kasar dari hegemoni majikan mereka.41

6. Orang yang Terlilit Hutang (gharimin)

Diantara orang yang mempunyai beban hutang untuk mendamaikan

sengketa, atau menjamin utang orang lain sehingga harus

membayarnya yang menyebabkan hartanya habis. Bisa juga orang

yang terpaksa harus berhutang karena kebutuhan yang menuntutnya,

atau juga untuk dapat membebaskan dirinya dari maksiat. Semua itu

diperbolehkan untuk menerima zakat yang cukup guna melunasi

hutangnya.42

7. Fiisabilillah (Orang yang berjuang di jalan Allah)

Yaitu setiap orang yang berjalan di dalam ketaatan kepada Allah SWT.

dan di jalan kebaikan, seperti orang-orang yang berperang, jamaah haji

yang terputus perjalanannya dan mereka tidak mempunyai sumber

40
M. Ali Hasan, Zakat dan Infak (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2006), h. 97-98.
41
Arif Wibowo, MEI, “Distribusi Zakat dalam Bentuk Penyertaan Modal Bergulir
Sebagai Accelerator Kesetaraan Kesejahteraan,” Jurnal Ilmu Manajemen, Vol 12:2 (April 2015),
h. 31-32.
42
Hasbiyallah, Fiqh dan Ushul Fiqh, h. 251.
29

harta lagi, dan para penuntut ilmu yang fakir. Jalan Allah SWT. adalah

jalan menuju keridhaan dan pahala-Nya. Diriwayatkan dari Imam

Ahmad, bahwa dia menjadikan perjalanan ibadah haji termasuk jalan

Allah SWT. Termasuk dalam hal ini ialah seluruh kebaikan, seperti

mengkafani orang mati, membangun jembatan dan benteng,

memakmurkan masjid, dan lainnya.43

8. Ibnu Sabil (Orang yang sedang dalam perjalanan)

Ibnu Sabil merupakan orang yang sedang melakukan perjalanan

(musyafir) dengan tujuan yang baik bukan untuk melakukan suatu

kemaksiatan. Diperkirakan dia tidak akan sampai pada tujuannya jika

tidak dibantu.44

Menurut pendapat Imam Syafi‟i, zakat fitrah wajib diserahkan

kepada delapan golongan sebagaimana yang terdapat dalam [Link]-Taubah

ayat 60. Namun apabila muzakki menyerahkan sendiri zakat fitrahnya

kepada mustahiq maka hak untuk amil atau pengelola zakat telah gugur

dan bagian muallaf juga gugur dengan sendirinya sebab urusan bagian

muallaf adalah diserahkan kepada pengelola zakat. Menurut imam Malik

(madzhab Malikiyah) berpendapat bahwa zakat fitrah itu sesungguhnya

merupakan haknya fakir dan miskin saja bukan kepada yang lainnya.

Bahkan apabila di suatu daerah atau negara tersebut tidak terdapat orang

fakir maupun miskin maka zakat harus diberikan atau dialokasikan ke

43
Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi (Semarang: CV. Toha
Putra Semarang), h. 245.
44
Ibid.
30

tempat lain yang terdapat golongan tersebut. Jumhur ulama berpendapat

bahwa zakat fitrah harus dibagikan kepada kedelapan ashnaf, Sedangkan

pendapat yang mengkhususkan hanya boleh dibagikan kepada fakir miskin

saja adalah pendapat dari madzhab dan golongan Malikiyah. Salah satu

pendapat dari Imam Ahmad, yang diperkuat oleh Ibnu Qayyim dan

gurunya yakni Ibnu Taimiyah. Hal ini diikuti juga oleh Qashim, Abu

Thalib dan Imam Hadi, yang mana mereka berkata bahwa zakat fitrah

hanya boleh dibagikan kepada golongan fakir miskin saja bukan kepada

golongan lain.45

Dalam undang-undang tentang pengelolaan zakat juga mengatur

terkait dengan pendistribusian zakat kepada para mustahiq yaitu Pasal 25

dan 26 disebutkan bahwa:46

1. Zakat wajib didistribusikan kepada mustahiq sesuai dengan syariat

Islam.

2. Pendistribusian zakat dilakukan berdasarkan skala prioritas dengan

memperhatikan prinsip pemerataan, keadilan, dan kewilayahan.

6) Waktu Pembagian Zakat Fitrah

Beberapa ketentuan waktu dalam mengeluarkan zakat fitrah yang

dipakai juga dalam pendistribusian zakat fitrah menurut Imam Syafi‟i yang

dijelaskan dalam kitab Al-Muhazdzab fi fiqhi al-Imam al-Syafi‟I membagi

waktu wajib dalam membagikan zakat fitrah dalam 2 bagian yaitu:

45
Kementerian Agama Republik Indonesia, Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam,
Direktorat Pemberdayaan Zakat, Panduan Zakat Praktis (2013), h. 47-49.
46
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.
31

a. Dalam qaud qadimnya al-imam As-syafi‟i berkata bahwa zakat fitrah

hukumnya adalah wajib dimulai dari terbitnya fajar pada hari raya Idul

Fitri, hal ini karena zakat fitrah adalah suatu ibadah yang berkaitan

dengan hari raya sehingga pelaksanannya tidak boleh didahulukan dari

raya Idul Fitri, sebagaimana ibadah lain seperti shalat dan kurban pada

hari raya Idul Adha.

b. Dalam qaul jadidnya, beliau mengatakan bahwa zakat fitrah itu wajib

hukumnya sebab terbenamnya matahari pada hartaam hari raya Idul

Fitri.

Zakat fitrah seharusnya ditunaikan sebelum shalat Idul Fitri sebab

jika pelaksanannya ditunaikan setelah shalat Idul Fitri maka dihukumi

bukan lagi zakat fitrah melainkan sudah menjadi shadaqah biasa. Hal ini

seperti yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam

Bukhari dan Muslim dan para Imam yang lain dari Abdullah bin Umar r.a.

َّ ‫اض اِنَّ ان‬


‫صالَ ِة‬ ِ َْ ‫س ُْ ُل هللااِ ﷺ أ َ َم َس بِ َصكَا ِة ا ْن ِف ْط ِسا َ ْن ح ُؤْ دَِ قَ ْب َم ُخ ُس‬
ِ َّ‫ج انى‬ ُ ‫أنَّ َز‬

Artinya:

“Sesungguhnya Rasulullah Saw. telah memerintahkan untuk


membagikan zakat fitrah sebelum orang-orang keluar untuk
melaksanakan shalat”.47 (HR. Bukhari Muslim).

Adapun dalam hadits berikut:

ُِ ‫صائِ ِم ِمهَ نَّه ْغ‬


َّ ‫طٍ َْسةً ِنه‬ ُ ‫ فَ َسضَ َز‬:َ‫ع ْىًُ قَال‬
ُ ‫سُ ُل هللااِ ﷺ َشكَاةَ ا ْن ِف ْط ِس‬ َ ُ‫اض َز ِض َٓ هللاا‬
ٍ َّ‫عب‬
َ ‫ع َِه اب ِْه‬

‫ ََ َم ْه أَدَّا ٌَا بَ ْع َد انص ََّال ِة‬،ٌ‫ َم ْه أَدَّا ٌَا قَ ْب َم انص ََّال ِة فَ ٍِ َٓ َشكَاةٌ َم ْقبُُنَت‬،‫ٕه‬ َ ‫ط ْع َمتً ِن ْه َم‬
ِ ‫سا ِك‬ ِ َ‫انسف‬
ُ ََ ،‫ث‬ َّ ََ

47
Yusuf Qardhawi, Terjemah Fiqhuz Zakat, Terjemah Salman Harun dkk (Jakarta:
Pustaka Litera Antar Nusa, 1990), 960.
32

‫ث‬ َّ ‫ص َدقَتٌ ِمهَ ان‬


ِ ‫ص َدقَا‬ َّ ‫فَ ٍِ َٓ ان‬

Artinya:
“Diriwayatkan dari Ibnu „Abbas ia berkata: Rasulullah SAW
mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang
berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan ucapan yang kotor,
serta sebagai pemberian makanan bagi orang-orang miskin.
Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat ied, itulah zakat yang
diterima, dan barangsiapa yang menunaikannya setelah salat ied,
maka itu sekedar sadaqah.”48 (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah
serta disahihkan oleh al-Hakim).

Terkait dengan waktu utama mengeluarkan atau membagikan zakat

fitrah, terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama. Berdasarkan

riwayat dari Ibnu Umar yang diterima oleh Imam Bukhari bahwa para sahabat

mengeluarkan zakat fitrah satu atau dua hari sebelum Idul fitri untuk

dibagikan sebelum shalat Idul fitri. Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Anas

bin Malik sepakat dengan pendapat tersebut. Sedangkan menurut Imam

Syafi‟I, zakat fitrah boleh dikeluarkan pada awal bulan Ramadhan (waktu al-

Jawaz) sedangkan untuk waktu wajib adalah pada malam hari raya (malam 1

syawal). Dari pendapat-pendapat tersebut, Yusuf Qardhawi menyatakan

bahwa pendapat yang memperbolehkan untuk zakat fitrah dikeluarkan pada

pertengahan bulan Ramadhan dapat memudahkan masyarakat dan yang utama

jika zakat fitrah dikumpulkan melalui perantara amil maka membutuhkan

waktu untuk mengumpulkan kemudian mendistribusiaknnya sebelum

48
A. Chodry Romli, Risalah Puasa Ramadhan Hukum-Hukum Puasa dan Hikmahnya,
cet. Ke-10 (Surabaya: Pustaka Progressif, 2022), h. 140.
33

melaksanakan shalat Idul fitri karena akan sangat membahagiakan jika zakat

fitrah telah sampai ditangan mustahiq lebih cepat di pagi hari pada hari raya.49

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi mengatakan, “Apabila zakat fithri

ditunaikan jauh hari sebelum hari raya Idul Fithri, maka hal ini dapat

membatalkan maksud dari disyari‟atkannya zakat fithri yaitu untuk memenuhi

kebutuhan orang miskin di hari raya Idul Fitri. Ingatlah bahwa sebab

diwajibkannya zakat fithri adalah hari fitri, hari dimana kita tidak lagi

berpuasa. Sehingga zakat ini pun disebut zakat fitri. Karena maksud dari zakat

fitri adalah untuk mencukupi orang miskin di waktu yang khusus (yaitu hari

raya „Idul Fitri), maka tidak boleh didahulukan jauh hari sebelum waktunya.”

C. Konsep Pendistribusian Zakat

1. Unsur-unsur dalam Pendistribusian Zakat

Unsur-unsur dalam proses pengelolaan zakat mempunyai peranan yang

sangat penting dalam pendistribusian zakat di Indonesia, dimana muzakki

berperan sebagai sumber zakat dan mustahiq sebagai sasaran dalam

pendistribusian zakat yang telah menjadi perjalanan panjang dalam

pengelolaan zakat. Zakat yang telah terkumpul seharusnya didistribusikan

kepada mereka yang benar-benar dalam keadaan membutuhkan (darurat),

apalagi telah diatur dan ditegaskan di dalam syari‟at Islam maupun Undang-

undang bahwa dalam pendistribusian zakat harus berpegang teguh pada

prinsip pemeratan, keadilan dan juga kepastian hukum.

49
Didin Hafidhuddin, Panduan Praktis Tentang Zakat, Infak, dan Sedekah, cet. Ke-1
(Jakarta: Gema Insani Press, 1998), h. 52-53.
34

Untuk memastikan bahwa zakat didistribusikan tepat pada sasaran,

maka ada beberapa unsur penting yang harus diperhatikan yang mana telah

diatur di dalam syariat Islam. Adapun unsur-unsur yang terlibat di dalam

proses pendistribusian zakat yaitu sebagai berikut:50

1) Muzakki (Orang yang dikenai kewajiban membayar zakat)

Muzakki yaitu orang yang mempunyai kemampuan dan dibebankan untuk

mengeluarkan zakat. Khususnya untuk zakat fitrah, muzakki yaitu mereka

yang telah dikenai kewajiban untuk mengeluarkan zakat untuk dikelola

oleh BAZNAZ maupun LAZ, oleh karenanya tidak semua agama bisa

menunaikan ibadah zakat, dan hanya orang-orang yang beragam Islam saja

yang diwajibkan utuk menjalankannya.

2) Mustahiq (Orang yang berhak untuk menerima zakat)

Mustahiq yaitu setiap orang yang berhak untuk menerima zakat dari para

amil sebagaimana yang telah disyariatkan dalam Islam. Kaum mustahiq

juga memiliki golongan prioritas untuk diberikan zakat yaitu golongan

fakir dan miskin. Golongan Fakir dan miskin menurut syariat Islam dan

Undang-undang merupakan golongan yang paling berhak untuk

memperoleh manfaat zakat karena kelompok tersebut memiliki urgensi

yang lebih mendesak diantara golongan mustahiq yang lainnya. Kelompok

fakir dan miskin juga terbagi menjadi 2 kategori, yaitu kategori miskin

50
Muhammad Aidil, “Tinjauan Hukum Pendistribusian Zakat Fitrah di Desa Paladang,
Kabupaten Enrekang,” Skripsi UIN Alauddin Makassar (2021), h. 25.
35

yang sudah tidak bekerja dan juga miskin karena keterbatasan dalam

melakukan suatu pekerjaan, misalnya disabilitas.

3) Amil (Pihak yang bertugas mengelola zakat)

Amil adalah orang yang bertugas untuk mengelola zakat, mulai dari

mengumpulkannya dari para muzakki sampai pada pendistribusiannya

kepada para mustahiq. Namun saat ini, tugas amil tidak hanya terbatas

pada pengelolaan zakat saja melainkan juga untuk memberikan edukasi

kepada para mustahiq terutama fakir dan miskin.

Untuk menjamin efektifnya zakat yang telah diberikan, maka amil

sebagai lembaga pengelola zakat diwajibkan untuk mematuhi persyaratan

sebagai pengelola zakat. Menurut Yusuf Al-Qardhawi, syarat-syarat yang

dimaksud adalah sebagai berikut:51

a) Untuk menjadi amil lembaga tersebut termasuk juga anggota di

dalamnya harus beragama Islam dan memenuhi ketentuan syariat

Islam, tak lain dan tak bukan karena zakat merupakan rukun Islam

sehingga pengelolanya haruslah umat Islam.

b) Mukallaf (orang dewasa yang sehat akalnya).

c) Memiliki sifat amanah, terbuka dan transparan.

d) Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang luas tentang hukum-

hukum zakat sehingga pengelola zakat dapat memberikan edukasi

kepada masyarakat dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan.

51
Rachma Indrarini dan Aditya Surya Nanda, “Transparansi dan Akuntabilitas Laporan
Keuangan Lembaga Amil Zakat: Perspektif Muzaki UPZ BNI Syariah,” Jurnal Akuntansi, Vol 8:2
(April 2017), h. 172.
36

e) Memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas dengan sebaik-

baiknya.

f) Amil bersungguh-sungguh dalam mengelola zakat, diniatkan

dengan ikhlas untuk menegakkan agama Allah SWT.

Common questions

Didukung oleh AI

Penelitian di Negeri Wakasihu berbeda dari penelitian terdahulu di objek dan lokasi, fokus pada pendistribusian zakat hanya kepada kelompok tertentu. Namun, persamaannya adalah penelitian-penelitian tersebut menyoroti penentuan mustahiq dalam distribusi zakat fitrah .

Yusuf Qardhawi mendukung pendapat bahwa zakat fitrah boleh dikeluarkan pada pertengahan bulan Ramadhan. Namun, yang paling utama adalah zakat fitrah ditunaikan sebelum shalat Idul Fitri agar tepat sampai ke mustahiq pada pagi hari raya .

Secara terminologi menurut K.H. Didin Hafidhuddin, zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu dan diwajibkan oleh Allah SWT untuk dikeluarkan dan diserahkan kepada pihak yang berhak menerimanya .

Pendistribusian zakat fitrah di Dusun Tapinalu diberikan kepada seluruh masyarakat untuk menghindari kecemburuan sosial, menjaga tradisi turun-temurun, menjaga tali silaturahim, dan membantu kebutuhan masyarakat setempat .

Menurut madzhab Hanafi, zakat adalah kepemilikan sebagian harta tertentu. Madzhab Maliki melihatnya sebagai bagian dari harta dengan nishab. Madzhab Syafi'i memandang zakat sebagai sesuatu yang dikeluarkan sesuai cara khusus. Madzhab Hambali mendefinisikannya sebagai hak wajib dari harta untuk kelompok tertentu pada waktu tertentu .

Di Kecamatan Barumun, zakat fitrah didistribusikan dari amil kepada mustahiq dengan beberapa tahapan: setelah Shalat Ashar pada tanggal 26 Ramadhan, pada malam 1 Syawal, dan setelah Shalat Idul Fitri. Kendala pendistribusian yang tertunda terkait kurangnya kesadaran masyarakat dan manajemen amil .

Dalam Al-Qur'an, zakat disebutkan setelah perintah menegakkan shalat sebanyak 27 kali dari total 30. Salah satu dalilnya adalah QS. Al-Baqarah (2) : 43 yang berbunyi 'Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk' .

Di Desa Malaku, zakat fitrah diberikan langsung dari muzakki kepada mustahiq yang disebut Mama Biang. Tradisi ini dilakukan sebagai penghargaan kepada Mama Biang atas jasa membantu dan merawat masyarakat saat persalinan, yang sudah menjadi tradisi turun-temurun .

Hikmah zakat fitrah termasuk membantu yang kurang mampu, membersihkan diri dari dosa, dan sebagai rasa syukur. Tujuannya adalah memenuhi kebutuhan fakir miskin pada Idul Fitri, termasuk mencukupi kebutuhan makan dan memberikan kebahagiaan saat hari raya .

Madzhab Maliki berpendapat bahwa zakat fitrah seharusnya hanya diberikan kepada golongan fakir dan miskin, dan bukan kepada yang lainnya. Bahkan jika di daerah tersebut tidak ada fakir miskin, zakat harus dialokasikan ke tempat lain yang memiliki golongan ini .

Anda mungkin juga menyukai