0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan22 halaman

Laporan KB di Puskesmas Lawang 2025

Laporan ini membahas tentang Keluarga Berencana (KB) di Puskesmas Lawang, bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mengatur kelahiran. Dokumen ini mencakup definisi, etiologi, klasifikasi metode kontrasepsi, serta penatalaksanaan pelayanan KB pasca persalinan. Penulis berharap laporan ini dapat memberikan manfaat dan masukan untuk perbaikan di masa depan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan22 halaman

Laporan KB di Puskesmas Lawang 2025

Laporan ini membahas tentang Keluarga Berencana (KB) di Puskesmas Lawang, bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mengatur kelahiran. Dokumen ini mencakup definisi, etiologi, klasifikasi metode kontrasepsi, serta penatalaksanaan pelayanan KB pasca persalinan. Penulis berharap laporan ini dapat memberikan manfaat dan masukan untuk perbaikan di masa depan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN KELUARGA BERENCANA (KB)

DI PUSKESMAS LAWANG

Disusun untuk Memenuhi Tugas Pendidikan Profesi Ners


Kompartemen Keperawatan Maternitas

Oleh :
Muhammad Sahadewo Pintarto
NIM. 240170100011145

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


DEPARTEMEN KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2025
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN
KOMPARTEMEN KEPERAWATAN MATERNITAS
KELUARGA BERENCANA (KB)

Disusun oleh:
Muhammad Sahadewo Pintarto
NIM: 240170100011145
.

Malang, 24 Februari 2025


Menyetujui,
Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan Praktek

(Ns. Ayut Merdikawati, [Link]., [Link].) ( )


KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga pelaksanaan penyusunan
laporan pendahuluan yang berjudul ”Laporan Pendahuluan Keluarga Berencana
(KB)” dapat dilaksanakan dengan lancar, sehingga laporan ini dapat diselesaikan
tepat pada waktunya.

Adapun tujuan daripada pembuatan laporan pendahuluan praktikum ini


adalah untuk menambah wawasan, kreatifitas, ilmu pengetahuan mahasiswa dan
untuk mempelajari lebih dalam lagi tentang laporan pendahuluan pada Laporan
Pendahuluan Keluarga Berencana (KB) di Puskesmas Lawang

Penulis menyadari bahwa laporan pendahuluan ini jauh dari kata sempurna
baik isi maupun penyajian. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan
kritik yang bersifat membangun bagi perbaikan laporan di masa yang akan datang.

Akhir kata semoga laporan pendahuluan ini dapat memberikan manfaat


bagi semua pihak yang berkepentingan.

Malang, 24 Februari 2024

PENULIS
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
KB merupakan salah satu usaha mencapai kesejahteraan dengan jalan
memberikan nasehat perkawinan, pengobatan kemandulan dan penjarangan
kelahiran. KB merupakan tindakan membantu individu atau pasangan suami
istri untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan
kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval diantara kelahiran. KB
adalah proses yang disadari oleh pasangan untuk memutuskan jumlah dan
jarak anak serta waktu kelahiran (Matahari, Utami and Sugiharti, 2018).

2.2. Etiologi
Tujuan Keluarga Berencana meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak
serta mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui
pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia.
Di samping itu KB diharapkan dapat menghasilkan penduduk yang
berkualitas, sumber daya manusia yang bermutu dan meningkatkan
kesejahteraan keluarga. Sasaran dari program KB, meliputi sasaran langsung,
yaitu pasangan usia subur yang bertujuan untuk menurunkan tingkat kelahiran
dengan cara penggunaan kontrasepsi secara berkelanjutan, dan sasaran tidak
langsung yang terdiri dari pelaksana dan pengelola KB, dengan cara
menurunkan tingkat kelahiran melalui pendekatan kebijaksanaan
kependudukan terpadu dalam rangka mencapai keluarga yang berkualitas,
keluarga sejahtera (Matahari, Utami and Sugiharti, 2018).
2.3. Tanda dan Gejala, Klasifikasi
Berikut merupakan perbandingan berbagai metode kontrasepsi (WHO,
2018; Kemenkes RI, 2014).
a. Perbandingan Metode Kombinasi
Patch Vaginal
Karakteristi Pil Suntik
Kombinas Ring
k Kombinasi Bulanan
i Kombinasi
Cara Oral Suntikan Partch Ring
pemakaian intramuskula digunakan dimasukkan
r pada ke dalam
lengan vagina
atas
bagian
luar,
punggung,
abdomen.
Bukan
digunakan
di dada
Frekuensi Harian Bulanan: Mingguan: Bulanan:
pemakaian suntik setiap Patch Ring
4 minggu diganti digunakan
setiap selama 3
minggu minggu
selama 3 kemudiN
minggu dikeluarkan
pada
minggu ke-4
Efektifitas Tergantung Tidak Perlu Tergantung
pada bergantung perhatian masa
kemampuan pada akseptor simpan
akseptor kemampuan sekali patch yaitu
Patch Vaginal
Karakteristi Pil Suntik
Kombinas Ring
k Kombinasi Bulanan
i Kombinasi
untuk akseptor. seminggu selama 48
mengkonsum Akseptor jam
si pil setiap harus
hari mendapatka
n suntikan
selama 4
minggu
Perdarahan Perdarahan Hampir Hampir
tidak teratur sama dengan sama
atau tidak COC. dengan
setiap bulan Biasanya COC
terjadi terjadi
perdarahan, perdarahan
pada beberapa yang tidak
akseptor teratur pada
perdarahan awal-awal
terjadi pada masa
waktu yang menstruasi
lama dalam
jangka bulan
tertentu
Privasi Tidak ada Tidak ada Patch bisa Pasangan
tanda fisik tanda fisik terlihat ada
pemakaian penggunaan oleh kemungkina
KB Pil tetapi alokon pasangan n bisa
orang lain atau orang merasakan
bisa lain adanya ring
menemukan
pil KB
b. Perbandingan Metode Suntik
Karakteristik DMPA NET-EN Suntik Bulanan
Waktu
melakukan 3 bulan 2 bulan 1 bulan
suntik
Waktu 2 minggu 2 minggu 7 hari sebelum
melakukan sebelum atau 4 sebelym atau atau sesudah dari
suntik minggu sesudah sesudah dari jadwal sungik
berikutnya jadwal jadwal suntik yang ditetapkan
melakukan yang ditetapkan
suntik berikutnya
Teknik Suntik deep Suntikan deep Suntikan deep
suntikan intramuscular intramuscular intramuscular
(IM) pada (IM) pada (IM) pada
pinggang, lengan pinggang, lengan pinggang, lengan
atas, atau pantat. atas, atau pantat atas, atau pantat
Suntikan
subkutan pada
lengan dalam
bagian atas,
abdomen
Pola Perdarahan yang Perdarahan yang Perdarahan yang
perdarahan tidak teratur pada tidak teratur pada tidak teratur
pada tahun jangka waktu 6 bulan pertama dalam 3 bulan
pertama lama pada awal tetapi durasi pertama
masa pemakaian, perdarahan bisa
kemudian lebih singkat
perdarahan akan dengan DMPA.
berhenti. Sekitar Setelah 6 bulan
40% akseptor pola perdarahan
KB suntik tidak akan seperti
mengalami DMPA
menstruasi
(perdarahan
bulanan) pada
tahun pertama
pemakaian
Rata-rata
kenaikan berat 1-2 kg per tahun 1-2 kg per tahun 1 kg per tahun
badan
Rata-rata Sekitar 4 Diasumsikan Sekitar 3
kehamilan kehamilan per sama seperti kehamilan per
(penggunaan 100 wanita di DMPA 100 wanita di
KB suntik tahun pertama tahun pertama
pada
umumnya)
Rata-rata 4 bulan lebih 1 bulab lebih 1 bulan lebih
waktu tunggu lama lama lama
kehamilan dibandingkan dibandingkan dibandingkan
setelah pada perempuan wanita yang wanita yang
berhenti yang menggunakan menggunakan
menggunakan menggunakan metode KB yang metode KB yang
suntik KB metode lain lain lain

c. Perbandingan Metode Implant


Karakteristik Jadelle Implanon NXT Levoplant
Tipe progestin Levonorgestrel Etonogestrel Levonorgestrel
Jumlah 2 rods 1 rods 2 rods
Masa 5 tahun 3 tahun 4 tahun
pemakaian

d. Perbandingan Metode Kondom


Karakteristik Kondom Pria Kondom Wanita
Cara Pemakaian Dipakaikan pada penis Dimasukkan ke dalam
saat ereksi. Kondom vagina. Bentuknya
akan menyesuaikan lebih longgar tidak
bentuk penis seperti kondom pria

Kapan kondom dapat Kondom dipasang pada Kondom wanita dapat


dipasang saat penis ereksi dimasukkan 8 jam
sebelum melakukan
hubungan seksual
Bahan Mayoritas kondom Mayoritas kondom
terbuat dari bahan latex, wanita terbuat dari film
beberapa jenis kondom sintetis, dan sangat
terbuat dari bahan sedikit terbiat dari latex
sintetis atau jaringan
hewan
Penggunaan Pelumas Pengguna dapat Pengguna dapat
(Lubrikan) menambahkan menambahkan pelumas
lubrikan(pelumas) (lubrikan) berbahan
berbahan dasar air atau dasar air atau silicon
silicon yang sebelum kondom
diaplikasikan di bagian dimasukkan ke dalam
luar kondom vagina dan lubrikan
diaplikasikan di bagian
luar kondom. Apabila
kondom telah
digunakan maka,
penambahan lubrikan
bisa dilakukan di
bagian dalam kondom
atau pada penis.
Organ yang Kondom melindungi Melindungi bagian
Karakteristik Kondom Pria Kondom Wanita
dilindungi kondom penis dan genitalia genitalia wanita dalam
dalam wanita dan luar
Pemakaian ulang Tidak dapat digunakan Penggunaan ulang tidak
ulang dianjurkan
Harga dan Pada umumnya harga Biasanya harga lebih
keterjangkauan murah dan mudah mahal dan sulit
terjangkau didapatkan
dibandingkan kondom
pria

e. Perbandingan Metode IUD


Karakteristik Copper-Bearing IUD Levonorgestrel IUD
Efektifitas Hampir sama. Kedua jenis tersebut merupakan
jenis IUD yang paling efektif
Jangka pemakaian Dianjurkan 10 tahun Dianjurkan 3-5 tahun
Pola perdarahan Terjadi perdarahan Terjadi perdarahan tidak
dalam volume banyak teratur dan timbul flek
dan lama, perdarahan pada bulan pertama
tidak teratur, dan pemakaian alokon
terjadi kram perut atau tersebut. Setelah
nyeri pada saat pemakaian 1 tahun tidak
menstruasi ada perdarahan.
Anemia Turut berkontribusi Bisa mencegah
terhadap terjadinya terjadinya kekurangan
anemia/ kekurangan zat zat besi yang
besi jika akseptor mengakibatkan anemia
memiliki jumlah zat
besi yang rendah
sebelum pemakaian
IUD
Alasan utama tidak Menyebabkan Tidak ada perdarahan
menggunakan IUD perdarahan dan rasa bulanan dan efek
kembali nyeri samping hormonal

Keuntungan non IUD dapat mencegah IUD dapat membantu


kontrasepsi terjadinya kanker mengurangi nyeri
endometri menstruasi.
Membantu terapi
hormone progestin
Pemakaian setelah Dapat digunakan 48 jam setelah melahirkan atau
melahirkan dapat ditunda hingga 4 minggu atau lebih setelah
melahirkan
Penggunaan sebagai Dapat digunakan dalam Tidak dianjurkan
kontrasepsi darurat 5 hari setelah
melakukan hubungan
seksual tanpa kondom
Pemasangan Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terampil
Biaya Tidak begitu mahal Lebih mahal

2.4. Patofisiologi (narasi & pohon masalah beserta masalah keperawatan)


Kontrasepsi

Hormon Alami Mekanik


Pil, suntik, Kalender, MOW, MOP, IUD/AKDR
impant, IUD suhu basal,
dengan mukosa Insersi pemasangan
progestin serviks,
coitus
interruptus,
amenorea
laktasi

Suntikan Kurang Peralatan Meningkatkan Benda asing


progestin pajanan kurang steril kontraksi di dalam
informasi rahim rahim

Menurunkan Defisit Meningkatkan Nyeri akut Mengganggu


kadar FSH & pengetahuan resiko kuman koitus
LH masuk ke
dalam tubuh Pola seksual
Perkembangan tidak efektif
folikel
terhambat
(ovulasi Risiko
terganggu) infeksi

Amenorrhea,
spotting

Ansietas

2.5. Pemeriksaan Penunjang


a. Tes kehamilan
Wajib dilakukan sebelum pemasangan KB. Tes kehamilan sebaiknya
dilakukan kurang dari 7 hari sejak hari pertama menstruasi terakhir, kurang
dari 7 hari post-abortus, masih dalam 4 minggu postpartum, atau kurang dari
6 bulan postpartum dengan syarat amenore dan sedang menyusui.
b. Kadar hemoglobin/hematokrit
Gambaran paling penting dari hemoglobin adalah kemampuannya untuk
dapat berikatan secara longgar dan reversible dengan oksigen. Ketika
mengalami perdarahan yang cepat, tubuh akan berusaha mengganti plasma
dalam waktu satu sampai tiga hari yang akan menyebabkan konsentrasi sel
darah merah menjadi rendah. Penurunan kadar hemoglobin yang disebut
juga sebagai anemia mempengaruhi viskositas darah.

2.6. Penatalaksanaan
Kemenkes RI (2014), pelayanan KB pasca persalinan dilaksanakan
seperti kegiatan pelayanan KB pada umumnya dengan mengikuti kaidah
manajemen program yang meliputi beberapa kegiatan berikut ini:
a. Perencanaan
Langkah pertama perencanaa pelayanan KB pasca persalinan adalah
menentukan target/sasaran KB pasca persalinan, perencanaan dan
penghitungan kebutuhan alokon. Perencanaan pelayanan KB pasca
persalinan dilaksanakan setiap kegiatan evaluasi kegiatan di puskesmas
yang berupa mini lokakarya dan terpadu dengan pelayanan KIA lainnya
seperti P4K dengan stiker, kelas ibu hamil, dan sistem rujukan dan lain-lain.
Menentukan Target / Sasaran Peserta KB Pasca Persalinan secara sederhana,
jumlah target atau sasaran peserta KB pasca persalinan adalah pasangan usia
subur yang istrinya sedang dalam kondisi masa nifas (sampai 42 hari pasca
persalinan). Jadi sasaran jumlah peserta KB pasca persalinan sama dengan
sasaran jumlah ibu bersalin.

b. Pelaksanaan
1) Persiapan
Sebelum pelayanan KB pasca persalinan di- lakukan tahapan persiapan
dengan melakukan konseling pada pemeriksaan kehamilan, juga dapat
dilaksanakan terpadu dalam P4K melalui amanat persalinan serta
penyampian informasi pada kelas ibu hamil dan diingatkan kembali pada
setiap kunjungan pemeriksaan kehamilan berikutnya. Tahap persiapan ini
diakhiri dengan pengisian informed consent.
2) Pelaksanaan
Fasilitas pelayanan KB merupakan salah satu mata rantai fasilitas
pelayanan medis keluarga be- rencana yang terpadu dengan pelayanan
kesehatan umum di fasilitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan
oleh tenaga professional yaitu dokter spesialis, dokter umum, bidan.
Klasifikasi Fasilitas Pelayanan KB diklasifikasikan menjadi:
a) Fasilitas Pelayanan KB Sederhana: Fasilitas yang mampu dan
berwenang memberikan pelayanan kontrasepsi metode sederhana
(kondom, obat vaginal), pil KB, suntik KB, AKDR/Implan (jika
terdapat bidan terlatih), penanggulangan efek samping, komplikasi
ringan dan upaya rujukan. Fasilitas ini merupakan bagian dari Pustu,
Balai pengo- batan swasta, BKIA swasta, Pos Kesehatan TNI/Polri,
Fasilitas KB Khusus (Pemerin- tah/swasta), Dokter/Bidan Praktik
Mandiri, Polindes.
b) Fasilitas Pelayanan KB Lengkap: Fasilitas yang mampu dan
berwenang memberikan pelayanan kontrasepsi metode sederhana
(kondom, obat vaginal), pil KB, Suntik KB, AKDR,
pemasangan/pencabutan Implant dan vasektomi bagi yang memenuhi
persyaratan. Faslitas ini merupakan bagian dari Pus-
kesmas/Puskesmas dengan rawat inap, Balai pengobatan swasta,
BKIA Swasta, Poliklinik TNI/POLRI, dan Rumah Bersalin.
c) Fasilitas Pelayanan KB Sempurna, yaitu fasilitas yang mampu dan
berwenang mem- berikan pelayanan kontrasepsi metode: se- derhana
(kondom, obat vaginal), pil KB, Suntik KB, AKDR,
pemasangan/pencabutan implant, MOP, dan MOW bagi yang me-
menuhi persyararatan. Fasilitas ini merupakan bagian dari RSU kelas
C, RSU swasta setara, RSU TNI/POLRI yang mempunyai SpOG dan
dokter spesialis bedah, serta dokter umum yang telah mendapatkan
pelatihan, dan RS bersalin.
d) Fasilitas Pelayanan KB Paripurna, yaitu Fasilitas yang mampu dan
berwenang memberikan pelayanan semua jenis pelayanan kontrasepsi
ditambah dengan pelayanan rekanalisasi dan penanggulangan
infertilitas. Fasilitas ini merupakan bagian dari RSU Kelas A, RSU
TNI/POLRI Kelas I, RSU Swasta setara, RSU Kelas B yang sudah
ditetapkan sebagai tempat rekanalisasi.
c. Pemantauan dan Evaluasi
Hasil pelayanan KB merupakan hasil kegiatan pelayanan KB yang
dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan KB, baik pada unit pelayanan
kesehatan pemerintah (Poskesdes/Polindes, Puskesmas/Pustu, RS
Pemerintah, unit pelayanan milik TNI/Polri) maupun pada fasilitas pe-
layanan kesehatan swasta (Bidan Praktik Mandiri, Dokter Praktik Swasta,
RS Swasta, Klinik KB, Rumah Bersalin, dan Praktik Bersama).
Agar hasil pelayanan KB pasca persalinan dapat meng- gambarkan kinerja
seorang tenaga kesehatan maka semua kegiatan pelayanan KB pasca
persalinan yang dilaksanakan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan harus
dicatat dalam format yang ada (Kohort KB, kohort nifas,kartu status peserta
KB/K4, dan F2 KB) dan kemudian dilaporkan kepada Dinas Kesehatan dan
BKKBN Setempat.
2.7. Masalah keperawatan dan data pendukung
a. Ansietas
b. Defisit pengetahuan
c. Risiko infeksi
d. Nyeri akut
e. Pola seksual tidak efektif

2.8. Diagnosis keperawatan yang mungkin timbul (minimal 3)


a. Ansietas b.d kurang terpapar informasi d.d merasa bingung, merasa
khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapai, tampak gelisah, dan
tampak tegang (D.0080)
b. Defisit pengetahuan b.d kurang terpapar informasi d.d menanyakan
masalah yang dihadapi, menunjukkan perilaku tidak sesuai anjuran, dan
menunjukkan persepsi yang keliru terhadap masalah (D.0111)
c. Risiko infeksi d.d efek prosedur invasif (D.0142)
d. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis d.d mengeluh nyeri, tampak
meringis, bersikap protektif, gelisah, frekuensi nadi meningkat, dan sulit
tidur (D.0077)
e. Pola seksual tidak efektif b.d kurang terpapar informasi tentang
seksualitas d.d mengeluh sulit melakukan aktivitas seksual,
mengungkapkan aktivitas seksual berubah, dan mengungkapkan perilaku
seksual berubah (D.0071)

2.9. Tujuan rencana keperawatan dan Kriteria hasil


a. Dx 1: Ansietas b.d kurang terpapar informasi d.d merasa bingung,
merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapai, tampak
gelisah, dan tampak tegang
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan
ansietas menurun.
Kriteria hasil:
a) Verbalisasi kebingungan menurun
b) Verbalisasi khawatir menurun
c) Tampak gelisah menurun
d) Tampak tegang menurun
b. Dx 2: Defisit pengetahuan b.d kurang terpapar informasi d.d
menanyakan masalah yang dihadapi, menunjukkan perilaku tidak sesuai
anjuran, dan menunjukkan persepsi yang keliru terhadap masalah
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan
pengetahuan membaik.
Kriteria hasil:
a) Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun
b) Perilaku sesuai anjuran meningkat
c) Persepsi yang keliru terhadap masalah menurun
c. Dx 3: Risiko infeksi d.d efek prosedur invasif
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan
risiko infeksi menurun.
Kriteria hasil:
a) Demam menurun
b) Kemerahan menurun
c) Nyeri menurun
d) Bengkak menurun
d. Dx 4: Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis d.d mengeluh nyeri,
tampak meringis, bersikap protektif, gelisah, frekuensi nadi meningkat,
dan sulit tidur
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan
nyeri menurun.
Kriteria hasil:
a) Mengeluh nyeri menurun
b) Tampak meringis menurun
c) bersikap protektif menurun
d) Gelisah menurun
e) Frekuensi nadi membaik
e. Dx 5: Pola seksual tidak efektif b.d kurang terpapar informasi tentang
seksualitas d.d mengeluh sulit melakukan aktivitas seksual,
mengungkapkan aktivitas seksual berubah, dan mengungkapkan perilaku
seksual berubah
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan
pola seksual membaik.
Kriteria hasil:
a) Keluhan sulit melakukan aktivitas seksual menurun
b) Verbalisasi aktivitas seksual berubah menurun
c) Kepuasan hubungan seksual meningkat

2.10. Intervensi keperawatan & rasionalnya


a. Dx 1: Ansietas b.d kurang terpapar informasi d.d merasa bingung,
merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapai, tampak
gelisah, dan tampak tegang
Intervensi Keperawatan Rasional
Monitor tanda-tanda ansietas Membantu menentukan intervensi
selanjutnya
Ciptakan suasana terapeutik untuk Membuat klien merasa tenang dan
menumbuhkan kepercayaan mengurangi kekhawatiran klien
Pahami situasi yang membuat Mengidentifikasi sumber
ansietas kecemasan klien
Anjurkan mengungkapkan perasaan Mengungkapkan perasaan,
dan persepsi ketakutan, dan persepsi akan
mengurangi kecemasan klien
Anjurkan keluarga untuk selalu Keluarga dapat memberi dukungan
disamping dan mendukung pasien positif kepada klien
Latih teknik relaksasi Pemberian teknik relaksasi sesuai
dengan kebutuhan klien dapat
mengurangi kecemasan klien

b. Dx 2: Defisit pengetahuan b.d kurang terpapar informasi d.d


menanyakan masalah yang dihadapi, menunjukkan perilaku tidak sesuai
anjuran, dan menunjukkan persepsi yang keliru terhadap masalah
Intervensi Keperawatan Rasional
Identifikasi kesiapan dan Membantu menentukan jenis
kemampuan menerima informasi pengetahuan yang akan diberikan
pada klien
Sediakan materi dan media Menjelaskan tentang kontrasepsi,
pendidikan kesehatan jenis-jenis kontrasepsi, kekurangan
& kelebihan tiap kontrasepsi dan
cara penggunaannya
Jelaskan cara mengatasi masalah Meningkatkan pemahaman klien
yang mungkin muncul setelah dan membantu klien mengatasi
pemakaian kontrasepsi masalah yang muncul
Diskusikan pemilihan kontrasepsi Memilih kontrasepsi yang tepat dan
sesuai dapat mengurangi
kecemasan klien dan memenuhi
kebutuhan klien
Dukung klien untuk Memperluas pemahaman klien
mengeksplorasi atau mendapatkan
second opinion dengan tepat

c. Dx 3: Risiko infeksi d.d efek prosedur invasif


Intervensi Keperawatan Rasional
Monitor tanda gejala infeksi lokal Mengetahui adanya gejala awal
dan sistemik dari proses infeksi
Cuci tangan sebelum dan sesudah Menghindari infeksi nosokomial
kontak dengan pasien dan
lingkungan pasien
Pertahankan teknik aseptik pada Mencegah terjadinya infeksi pada
pasien berisiko tinggi saat insersi pemasangan kontrasepsi
Jelaskan tanda dan gejala infeksi Agar pasien dan keluarga
mengetahui tanda dan gejala infeksi

d. Dx 4: Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis d.d mengeluh nyeri,


tampak meringis, bersikap protektif, gelisah, frekuensi nadi meningkat,
dan sulit tidur
Intervensi Keperawatan Rasional
Identifikasi lokasi, karakteristik, Mengetahui keluhan nyeri klien
durasi, frekuensi, kualitas, dan secara subjektif dan objektif
intensitas nyeri
Berikan teknik nonfarmakologis Membantu klien rileks dan nyaman
untuk mengurangi rasa nyeri sehingga dapat mengurangi nyeri
Fasilitasi istirahat dan tidur Istirahat akan membuat klien
merasa nyaman, sehingga nyeri
dapat berkurang
Jelaskan penyebab, periode, dan Membantu klien memahami
pemicu nyeri kondisi nyeri yang timbul
Kolaborasi: Penggunaan agens-agens
Berikan analgetik untuk farmakologi untuk mengurangi
mengurangi nyeri, seperti nyeri

e. Dx 5: Pola seksual tidak efektif b.d kurang terpapar informasi tentang


seksualitas d.d mengeluh sulit melakukan aktivitas seksual,
mengungkapkan aktivitas seksual berubah, dan mengungkapkan perilaku
seksual berubah
Intervensi Keperawatan Rasional
Identifikasi tingkat pengetahuan Membantu menentukan jenis
dan masalah seksualitas pengetahuan yang akan diberikan
pada klien
Berikan kesempatan kepada Mengeksplorasi permasalahan
pasangan untuk menceritakan seksual
permasalahan seksual

Jelaskan efek kontrasepsi Mengetahui efek pemasangan


kontrasepsi
Kolaborasi dengan spesialis Mengatasi pola seksual dengan
seksologi, jika perlu bantuan ahli

Anda mungkin juga menyukai