BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 TINJAUAN UMUM
Jembatan adalah suatu fasilitas bangunan jalan yang berfungsi mendukung
lalu lintas jalan raya atau beban-beban yang bergerak diatas suatu rintangan atau
tempat rendah seperti danau, sungai, terusan, jalan raya, jalan kecil, atau
kombinasi semuanya (S.P. Bindra, 1970).
Secara umum komponen jembatan dibagi menjadi dua bagian besar yaitu,
uperstructure dan substructure. Uperstructure merupakan bagian atas jembatan
yang terdiri dari sandaran, lantai jembatan, dan pendukung lantai dengan sistem
struktur seperti balok,girder/[Link] substructure merupakan suatu
sistem yang mendukung [Link] terdiri dari abutment,
pier/pilar, dinding sayap/wing wall, serta pondasi pilar dan pondasi abutment (S.P.
Bindra, 1970).
Struktur jembatan dengan gelagar baja adalah jembatan yang menggunakan
baja sebagai gelagar/balok jembatan. Jembatan pada dasarnya terdiri dari pondasi
utama, gelagar/balok, pilar, lantai, dan abutment. Gelagar komposit dan kolom-
kolom pilar merupakan bagian dari bangunan yang meneruskan gaya-gaya dari
lantai jembatan ke pondasi yang berarti ke bawah tanah.
2.2 GELAGAR PELAT (PLATE GIRDER)
Salah satu aplikasi dari jembatan gelagar adalah jembatan gelagar
[Link] pelat merupakan komponen struktur yang terdiri dari beberapa
elemen pelat. Bentuk penampang yang sering digunakan terdiri dari sebuah pelat
badan (web) dengan dua buah pelat sayap (flens) yang dihubungkan satu sama lain
dengan las. Sebelum dikenal metode pengelasan maka digunakan sambungan baut
6
7
maupun paku keling. Beberapa contoh bentuk gelagar pelat dapat dilihat pada
Gambar 2.1 di bawah ini.
(a) (b)
Ganbar 2.1 Penampang Gelagar Pelat
Pada dasarnya gelagar pelat merupakan balok tinggi, sehingga keadaan
batas (limit state) yang berlaku pada balok masih berlaku pada gelagar
[Link] 2.2 menunjukkan kurva hubungan antara kuat momen nominal Mn
dengan rasio kelangsingan λ untuk keadaan batas lentur dasar, tekuk puntir lateral,
tekuk lokal sayap, dan tekuk lokal badan balok.
Mn
Mp
Cb =1
Mr
(a) Keadaan batas tekuk puntir lateral
8
Mn
Mp Non Kompak
Kompak Langsing
Mr
√ √
(b) Keadaan batas tekuk lokal sayap
Mn
Non Kompak
Mp
Kompak Langsing
Gelagar Pelat
Mr
√ √
(c) Keadaan batas tekuk lokal badan balok
Gambar 2.2 Keadaan Batas Lentur (Salmon and Johnson, 1996)
Kuat momen nominal (Mn), untuk penampang yang tidak kompak (λp< λ <
λr) harus ditentukan berdasarkan ketiga macam kondisi batas, yaitu tekuk torsi
lateral, tekuk lokal sayap, serta tekuk lokal badan. Nilai Mnyang terkecil dari
9
ketiga batas tersebut adalah nilai yang menentukan besarnya kuat momen nominal
dari suatu komponen struktur terlentur.
Komponen struktur baja dapat dikategorikan sebagai balok biasa atau
sebagai balok gelagar pelat, tergantung dari rasio kelangsingan badan
, dengan h adalah tinggi bersih bagian badan dan tw adalah tebal dari badan.
Jika;
a. , maka komponen struktur tersebut dikategorikan sebagai
√
balok biasa, dan jika,
b. , maka komponen struktur tersebut harus dikategorikan
√
sebagai gelagar pelat.
Kuat lentur dan geser dari suatu gelagar pelat sangat tergantung dari badan
(web) profil, badan (web)yang langsing akan menimbulkan beberapa hal sebagai
berikut:
1. Tekuk akibat lentur pada bidang badan (web) balok, akan
mengurangi efisiensi badan (web) balok tersebut untuk memikul
momen lentur,
2. Tekuk dalam sayap tekan dalam arah vertikal akibat kurang kakunya
badan (web)
3. Tekuk akibat geser
Hal khusus yang dijumpai pada komponen struktur gelagar pelat adalah
adanya pemasangan pengaku melintang (stiffener).Pengaku tersebut dapat
memperbesar/ meningkatkan kekuatan balok untuk menahan [Link]
tekuk elastis atau tak-elastis suatu badan balok gelagar pelat dalam geser, tidak
mewakili kekuatan maksimum dalam [Link] terdapat kekuatan pasca tekuk
(post buckling strength) setelah tekuk terjadi apabila digunakan pengaku yang
direncanakan dengan tepat. Pengaku yang dipasang pada gelagar pelat juga akan
mengakibatkan gelagar tersebut memiliki perilaku seperti rangka batang (truss),
10
badan (web) akan memikul gaya tarik diagonal sedangkan pengaku akan memikul
gaya tekan. Perilaku yang menyerupai rangka batang ini disebut aksi tarik-medan
(tension-field action).
2.3 GELAGAR KOMPOSIT
Gelagar komposit merupakan struktur jembatan dengan gelagar baja dalam
hal ini gelagar pelat yang dihubungkan dengan pelat lantai beton bertulang dengan
menggunakan alat penyambung geser mekanis (shear connector), yang akan
mentransfer gaya geser longitudinal akibat pembebanan dari pelat ke gelagar dan
menahan agar pelat tidak terangkat. Dengan struktur seperti itu, gelagar baja dan
pelat lantaiakan menjadi satu kesatuan yang kompak dan mendukung beban
secara bersama sebagai satu kesatuan struktur.
Konsep kelakuan gelagar komposit dapat dipahami dengan membandingkan
aksi yang terjadi antara gelagar komposit dan gelagar non-komposit dalam
menahan [Link] gelagar non-komposit, antara balok baja dan slab beton
bukan merupakan satu kesatuan dan tidak terjadi interaksi sehingga masing-
masing memikul beban secara terpisah. Jika pada slab beton diberi beban secara
vertikal maka pada slab beton akan mengalami interaksi tegangan regangan
dimana pada permukaan bawah slab beton akan mengalami gaya tarik sehingga
permukaan bawahnya memanjang. Kemudian beban vertikal tersebut akan
ditransfer kepada balok baja sehingga pada balok baja tersebut juga akan
mengalami interaksi tegangan regangan yang terpisah dari slab beton. Interaksi
tegangan regangan yang terjadi pada balok baja tersebut akan mengakibatkan
bagian atas balok baja mengalami tekan sehingga mengalami perpendekan.
Dengan demikian akan terjadi diskontinuitas pada bidang kontak antara slab beton
dengan balok baja. Tidak adanya interaksi komposit menyebabkan pada bidang
kontak antara balok baja dengan slab beton hanya bekerja arah vertikal.
Pada gelagar komposit, antara balok baja dengan slab beton merupakan satu
kesatuan dan mengalami interaksi yang menyebabkan adanya geser horizontal
pada bidang [Link] geser tersebut disebabkan oleh adanya alat sambung
geser (shear connector) pada bidang kontak tersebut. Dengan adanya shear
11
connector tersebut, maka slab beton dan balok baja akan bekerja sebagai satu
kesatuan. Apabila kesatuan komposit tersebut diberi beban vertikal maka interaksi
tegangan regangan akan terjadi pada struktur tersebut sebagai satu kesatuan.
Apabila garis netral dari struktur tersebut terletak pada balok baja, bagian bawah
slab beton akan akan masuk kedalam daerah yang mengalami tekan, sehingga
seluruh bagian slab beton akan mengalami tekan.
Gambar 2.3 dibawah ini menjelaskan perbedaan antara struktur komposit
dan struktur non-komposit pada saat diberikan beban.
(a) Balok non-komposit yang mengalami (b) Balok komposit yang mengalami
defleksi defleksi
Gambar 2.3 Balok Non-Komposit dan Balok Komposit
12
2.4 ABUTMENT DAN PILAR
Abutment mempunyai dua fungsi pokok, yaitu mendukung ujung-ujung
jembatan dan menyediakan dukungan lateral, paling tidak bagi tanah atau batu
disekitar [Link] karena itu, abutment merupakan kombinasi dari fungsi
pilar dan dinding penahan tanah (Peek, Hanson, Toohrnborn, 1973).
Pilar merupakan bagian dari jembatan yang berfungsi sebagai penyangga
gelagar jembatan pada jembatan bentang panjang, karena gelagar jembatan tidak
mungkin bertumpu pada kedua [Link] biasanya terletak ditengah-
tengah/diantara dua abutment. Bentuk pilar jembatan meliputi masif (solid),
kotak, bundar, oval, dan bisa juga terdiri beberapa kolom atau terdiri dari satu
kolom.
2.5 PONDASI
Pondasi merupakan elemen struktur yang berfungsi meneruskan beban yang
bekerja di atasnya ke bagian bawahnya (tanah). Kegagalan perencanaan pondasi
akan mengakibatkan bangunan secara keseluruhan tidak stabil dan mudah runtuh,
meskipun struktur atas kuat dan aman.
Oleh karena itu data yang diperlukan untuk menentukan jenis pondasi suatu
bangunan antara lain:
1. Susunan, tebal, dan sifat lapisan tanah,
2. Besar, macam, dan sifat khusus bangunan,
3. Peralatan yang tersedia,
4. Beban yang harus didukung,
5. Biaya, tenaga kerja, dan lingkungan sekitar bangunan.
Selain data di atas, terdapat persyaratan teknis yang harus diperhatikan
dalam merencanakan pondasi atara lain:
1. Tanah dasar harus mampu mendukung beban yang bekerja diatasnya,
13
2. Pondasi aman terhadap bahaya geser dan guling yang mungkin terjadi,
3. Dapat menahan tekanan air yang mungkin terjadi,
4. Dapat menyesuaikan terhadap kemungkinan terjadinya gerakan-gerakan
tanah, antara lain, penyusutan tanah, tanah yang labil, ataupun gaya
horizontal akibat beban gempa bumi.
Adapun jenis-jenis pondasi adalah sebagai berikut:
1. Pondasi dangkal, yaitu pondasi dengan kedalaman < 3 m. pondasi dangkal
terdiri dari beberapa jenis, diantaranya adalah:
a. Pondasi staal, yaitu pondasi batu kali yang menerus, biasanya
digunakan pada rumah tinggal sederhana.
b. Pondasi plat kaki, yaitu pondasi yang berbentuk plat dengan
pembebanan terbalik dan kedalaman pondasinya ± 2,5 m.
2. Pondasi dalam, yaitu pondasi dengan kedalaman ≥ 3 m. adapun yang
termasuk pondasi dalam antara lain:
a. Pondasi tiang pancang, yaitu pondasi yang dikerjakan dengan
cara tiang pancang dibuat terlebih dahulu sebelum dipancang.
Untuk memasukkan tiang ke dalam tanah sampai kedalaman
yang telah direncanakan dilakukan dengan cara memukul
kepala tiang berulang kali dengan sebuah palu khusus (alat
pancang).
b. Pondasi tiang bor, yaitu pondasi yang dikerjakan dengan
membuat sebuah lubang ditanah dengan diameter tertendu
menggunakan alat bor hingga dicapai kedalaman yang
diinginkan. Kemudian ke dalam lubang tersebut dimasukkan
tulangan baja yang telah dirangkai dan selanjutnya dilakukan
pengisian (pengecoran) material beton ke dalamnya.
3. Pondasi sumuran, yaitu pondasi yang berfungsi untuk perbaikan tanah
dasar pondasi.
14
Berdasarkan data yang tersedia, dengan berbagai pertimbangan teknis, dan
kondisi di lapangan, maka Jembatan Sardjito II direncanakan menggunakan
pondasi tiang bor (bored pile) untuk pilar (pier) dan pondasi sumuran untuk
abutment.