0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan10 halaman

Terapi Bermain Mewarnai untuk Anak Pre-School

Dokumen ini membahas terapi bermain pada anak usia pra-sekolah di rumah sakit, dengan fokus pada kegiatan mewarnai dan meronce untuk mengurangi kecemasan dan mendukung perkembangan motorik anak. Tujuan dari terapi ini adalah untuk meminimalkan dampak hospitalisasi, meningkatkan kreativitas, dan memberikan kesenangan bagi anak. Pelaksanaan terapi melibatkan orang tua dan evaluasi menunjukkan hasil positif dalam komunikasi dan respons anak.

Diunggah oleh

Marsha Friscillia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan10 halaman

Terapi Bermain Mewarnai untuk Anak Pre-School

Dokumen ini membahas terapi bermain pada anak usia pra-sekolah di rumah sakit, dengan fokus pada kegiatan mewarnai dan meronce untuk mengurangi kecemasan dan mendukung perkembangan motorik anak. Tujuan dari terapi ini adalah untuk meminimalkan dampak hospitalisasi, meningkatkan kreativitas, dan memberikan kesenangan bagi anak. Pelaksanaan terapi melibatkan orang tua dan evaluasi menunjukkan hasil positif dalam komunikasi dan respons anak.

Diunggah oleh

Marsha Friscillia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PREPLANNING DAN LAPORAN

TERAPI BERMAIN PADA ANAK PRE – SCHOOL


DI RUANG RAWAT ANAK RUMAH SAKIT RSUD DR. (H.C) Ir. SOEKARNO
PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BEITUNG
TANGGAL 15 MARET 2025

Disusun:
Elisa Yuliana 231440161
Marsha Friscillia 231440123
Nur Tasbiah Ayu Bidariani 231440133
Ratna Purnama sari 231440134

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


PROGRAM STUDI D – III KEPERAWATAN PANGKALPINANG
POLTEKKES KEMENKES PANGKALPINANG
TAHUN 2025
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh
kepuasan. Aktivitas bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan bagi anak,
meskipun hal tersebut tidak meghasilkan komoditas tertentu.
Aktivitas bermain merupakan salah satu stimulasi bagi perkembangan anak secara
optimal. Dalam kondisi sakit atau anak di rawat di rumah sakit, aktivitas bermain ini tetap
dilaksanakan, namun harus disesuaikan dengan kondisi anak. Tujuan bermain di rumah
sakit pada prinsipnya adalah agar dapat melanjutkan fase pertumbuhan. dan perkembangan
secara optimal, mengembangkan. kreativitas anak, dan anak dapat beradaptasi lebih efektif
terhadap stress.
Di ruang Dahlia bagian anak RSU Propinsi NTB terdapat 12 anak, yang 50%
diantaranya atau 6 orang anak berusia pre-school (3-6 tahun). Anak-anak pada usia pre-
school senang bermain dengan warna, oleh karena itu, mewarnai bisa menjadi alternatif
untuk mengembangkan kreatifitas anak dan dapat menurunkan tingkat kecemasan pada
anak selama dirawat. Salah satu karakteristik perkembangan motorik halus pada anak pre-
school adalah mampu mengenali warna. Dengan permainan mewarnai menjadi salah satu
media bagi perawat untuk mampu mengenali tingkat perkembangan anak.
Dinamika secara psikologis menggambarkan bahwa selama mewarnai anak akan
mengekspresikan imajinasinya dalam goresan warna pada gambar sehingga untuk
sementara waktu anak akan merasa lebih rileks. Oleh karena itu, pentingnya kegiatan.
bermain terhadap tumbuh kembang anak dan mengurangi kecemasan akibat hospitalisasi,
maka akan dilaksanakan terapi bermain pada anak usia sekolah dengan cara mewarnai.

B. Tujuan
1. Meminimalkan dampak hospitalisasi pada anak
2. Anak dapat lebih mengenali warna
3. Menurunkan tingkat kecemasan pada anak
4. Mengembangkan imajinasi pada anak
5. Memberikan kesenangan dan kepuasan
C. Sasaran
1. Anak usia pra – sekolah
BAB II
DESKRIPSI KASUS

A. Karateristik Sasaran
Definisi Pre – School menurut George [Link] dalam bukunya Early
Childhood Education Today, usia pra – sekolah dalam kisaran 3 – 5 tahun. George
menyebutkan bahwa pra skeolah sekarang merupakan pondasi menuju sebuah kesuksesan
dimasa depan. Disaat usia pra sekolah merupakan usia dimana mereka memiliki rasa ingin
tahu yang besar dan ingin mencoba segala sesuatu dengan sendirinya. Untuk itu mereka
harus mendapatkan pengarahan yang benar dan juga berada dilingkungan yang baik. Salah
satu sarana yang dapat dmenunjang perkembangan anak dengan baik adalah preschool.
Preschool adalah prasekolah yang diperuntukkan anak – anak balita mulai dari dua hingga
enam tahuun, preschool sendiri berfungsi sebagai sarana bermain dan belajar bagi anak –
anak.

B. Prinsip Terapi Bermain Menurut Teori


- Menyenangkan, artinya permainannya tidak membosankan dan bisa dimainkan dengan
seluruh keluarga
- Aman dan tidak membahayakan, jangan bermain yang diinginkan adalah kesenangan
bersama malah duka bersama
- Membangun kedekatan dan kepercayaan antara keluarga
- Mengembangkann minimal satu kecerdasan anak
- Ada karakter, nilai dan tujuan yang ingin dimasukkan dalam permainan.

C. Karateristik Bermain Menurut Teori


• Karakteristik Bermain Anak pada usia dini
Bermain adalah kegiatan yang menyenangkan dan memberikan kepuasan
tersendiri bagi anak, karena saat bermain, anak memiliki kebebasan bereksplorasi untuk
mengenali dirinya yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Menurut Hurlock
(1978:322-326) karakteristik bermain anak usia dini adalah sebagai berikut:
1. Bermain dipengaruhi tradisi: anak kecil meniru permainan anak yang lebih besar,
yang telah menirunya dari generasi anak sebelumnya;
2. Bermain mengikuti pola perkembangan yang dapat diramalkan, tanpa mempersoalkan
lingkungan, bangsa, status sosial ekonomi, dan jenis kelamin anak;
3. Ragam kegiatan permainan menurun dengan bertambahnya usia;
4. Bermain menjadi semakin sosial dengan meningkatnya usia;
5. Jumlah teman bermain menurun dengan bertambahnya usia;
6. Bermain menjadi lebih sesuai dengan jenis kelamin: bayi dan anak kecil hanya sedikit
membedakan antara mainan anak laki-laki dan anak perempuan. Akan tetapi, ketika
mulai sekolah, anak laki-laki jelas menyadari bahwa mereka tidak akan bermain
dengan beberapa mainan tertentu;
7. Permainan masa kanak-kanak berubah dari tidak formal menjadi formal: permainan
anak kecil bersifat spontan dan informal. Mereka bermain kapan saja dan dengan
mainan apa saja yang mereka sukai, tanpa memperhatikan waktu dan tempat;
8. Bermain secara fisik kurang aktif dengan bertambahnya usia;
9. Bermain dapat diramalkan dari penyesuaian anak: jenis permainan yang dilakukan,
variasi kegiatan permainan, dan jumlah waktu yang dihabiskan;
10. Terdapat variasi yang jelas dalam permainan anak, walaupun semua anak melalui
tahapan bermain yang serupa dan dapat diramalkan, tidak semua anak bermain dengan
cara yang sama pada usia yang sama
• Karakteristik bermain
a. Menyenangkan dan memiliki nilai intrinsik pada anak.
b. Tidak memiliki tujuan ekstrinsik, motivasinya lebih bersifat intrinsik.
c. Bersifat spontan dan sukarela.
d. Melibatkan peran aktif keikutsertaan anak.
e. Memiliki hubungan dengan kreativitas, pemecahan masalah, belajar bahasa
BAB III

METODOLOGI BERMAIN

A. Deskripsi Permainan
Menurut Sumantri (2005, p. 151), arti dari kata meronce sendiri merupakan
sebuah kegiatan pengembangan motorik halus pada tingkatan TK, kegiatan yang
melibatkan menguntai dan membuat untaian dari berbagai bahan yang berlubang dan
disatukan dengan menggunakan tali maupun [Link] memasukkan benang maupun
tali kelubang yang ada juga dapat dibantu dengan menggunakan jarum maupun tidak.
Kegiatan meronce juga dapat ditujukan dalam melatih koordinasi mata serta tangan dari
seorang anak.
Menurut Pamadi (2008), meronce merupakan menata yang dibantu dengan
mengikatkan komponen seutas tali menggunakan teknik ini orang yang membuatnya
dapat memanfaatkan bentuk ikatan tersebut dalam waktu yang lebih lama jika
dibandingkan dengan benda yang di tata tanpa menggunakan ikatan.
Meronce sendiri merupakan sebuah seni menata yang memperhatikan bentuk, warna,
serta ukuran dari benda yang digunakan. Seperti halnya irama dari musik yang memiliki
tingkat rendah, keras, lunak, dan halus kasarnya nada serta suara dari sebuah musik.

B. Tujuan Permaian
Tujuan dari permainan meronce menggunakan sedotan yang di potong-potong dan
dimasukkan kedalam tali hingga membentuk sebuah kalung agar dapat meminimalkan
dampak hospilatisasi pada anak, mengembangkan imajinasi pada anak, anak dapat lebih
mengenal warna, dan memberikan kesenangan dan kepuasan kepada anak.

C. Ketrampilan yang diperlukan


- Koordinasi mata dengan tangan serta jari – jemari untuk memasukkan tali kedalam
lubang manik kancing baju yang membutuhkan kecermatan dan kecepatan.
- Kecermatan: kemampuan koordinasi mata dengan tangan serta keterampilan gerak
jari – jemari untuk menyusun dan merangkai manik kancing baju menggunakan
bantuan seutas tali dengan teliti.
- Kecepatan dalam konteks meronce yaitu anak menyelesaikan kegiatan meronce dalam
waktu yang singkat, yaitu sebelum pembelajaran/sesi berakhir.
D. Jenis Permainan
- meronce
E. Alat Bermain
- Sedotan warna warni
- Tali
F. Proses Bermain
- Pelaksanaan: masukkan sedotan yang sudah dipotong-potong ke dalam tali ,
masukkan satu – persatu hingga membentuk pola yang diinginkan
- Penyelesaian: ikat ujung sedotan tidak lepas.
G. Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan bermain Meronce dilaksanakan di RSUP pada Ruang Rawat Anak
pada tanggal 15 Maret 2025. Dengan durasi 20 menit setiap pertemuan.
H. Hal-Hal yang Perlu Diwaspadai
- Keamanan: pastikan potongan sedotan tidak terlalu kecil sehingga berisiko tertelan.
- Kesabaran: meeronce membutuhkan kesabaran, terutama untuk anak usia dini
- Kebersihan: anjurkan cuci tangan sebelum dan sesudah bermain. Simpan alat dan
bahan dengan rapi.
I. Antisipasi untuk Meminimalkan Hambatan
- Persiapan bahan: siapkan berbagai macam bentuk dan warna sedotan agar menarik
minat anak.
- Bantuan orang tua: orang tua oto mengajarkan teknik dasar meronce.
- Variasi pola: tawarkan berbagai pola meronce agar anak tidak merasa bosan.
J. Pengorganisasian
- Pembagian kelompok: jika dilakukan dalam kelompok, agar lebih mudah dalam
mengerjakan cara meronce.
- Tempat: sediakan tempat yang nyaman dan bersih untuk bermain
K. Sistem Evaluasi
- Observasi: amati perkembangan kemampuan otoric halus, konsentrasi, dan kreativitas
anak selama bermain.
- Dokumentasi: dokumentasikan hasil karya anak untuk melihat perkembangan
- Tanggapan anak: tanyakann pendapat anak mengenai kegiatan meronce.
BAB IV

PELAKSANAAN TERAPI BERMAIN

Terapi bermain yang dilaksanakan dengan media permainan merronce selama 30


menit , dari pukul 11.00-11.30 WIB. Sebelum memulai permainan, pelaksana telah
mempersiapkan tempat yang nyaman dan alat yang lengkap, yang akan digunakan untuk
media bermain pada anak, yang di sediakan di dekat tempat tidur/ bed anak. Pelaksana juga
melibatkan orang tua maupun keluarga yang lain agar memberikan dukungan terhadap anak
saat permainan dilaksanakan, hal tersebut dapat meningkatkan semangat anak dalam proses
terapi bermain. Setelah mempersiapkan peralatan dan tempat, kemudian pelaksana
memperkenalkan diri terlebih dahulu, menjelaskan mengenai Terapi bermain, tujuan, dan tata
cara bermain kepada orang tua dan anak.

Dalam tahap memulai permainan pelaksana menjelaskan dan memberitahu cara


bermain merronce terhadap anak dan menyuruh anak mengikuti cara permainan tersebut.
Dalam tahapan bermain pelaksana memberikan pujian terhadap anak agar anak tidak merasa
gugup maupun bosan selama permainan. Tidak hanya memberikan pujian pelaksana juga
mengajak anak mengobrol dalam permainan, seperti bertanya terhadap anak mengenai warna
apa yang ia suka, dan permainan apa yang ia suka, hal tersebut di lakukan agar anak dapat
bersosialisasi terhadap lingkungan.

Pelaksana juga memperhatikan respon yang di berikan oleh anank saat bermain.
Respon anak saat bermain merronce sanagat senang, sehingga anak sudah tidak canggung
lagi terhadap pelaksana selama terapi bermain berlangsug. Dalam permainan merronce anak
membuatkan sebuah kalung untuk ia berikan kepada kucingnya dirumah.

Dalam tahap terminasi pelaksana dan keluarga memberikan pijian terhadap


kreatifitas anak karena telah berhasil membuat kalung dari terapi bermain merronce tersebut
dan respon anak sangat senang.

Kemudian tahap evaluasi setelah terapi bermain selesai. Kegiatan terapi


bermain berakhir pada 11.30. Hasil dari evaluasi dalam terapi bermain merronce tersebut
sensori anak sangat baik, komunikasi anak pun baik setelah di ajak berbicara saat sedang
bermain karena ia selalu menjawab pertanyaan yang diberikan. Anak sangat senang telah
melakukan permainan yang diberikan dan begitupun orang tua maupun keluarga sangat
mengapresiasi terhadap terapi bermain yang diberikan.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil terapi bermain yang telah dilakukan di Ruang Rawat Anak, maka
penulis mengambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Terapi bermain dapat menyalurkan energi fisik, inspirasi serta merangsang motorik
kasar dan halus pada klien
2. Terapi bermain jenis meronce sangat sesuai dengan kondisi klien, anak merasa senang
ketika diajak bermain, yang berarti efek hospitalisasi dapat dikurangi dengan bermain.
3. Peran orang tua terhadap anak sangat penting dalam pemberian dukungan

B. Saran

Untuk kegiatan terapi bermain selanjutnya disarankan untuk melibatkan teman


sebaya di sekitar anak, agar semakin tercipta tujuan sosialisasi pada anak.

C. Dokumentasi

Anda mungkin juga menyukai