0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan22 halaman

Panduan Lengkap Appendicitis: Gejala & Penanganan

Appendicitis adalah peradangan pada apendiks yang umum terjadi, terutama pada laki-laki berusia 10 hingga 30 tahun, dan dapat menyebabkan nyeri abdomen akut serta memerlukan tindakan bedah. Penyebabnya termasuk infeksi bakteri dan sumbatan pada lumen apendiks, yang dapat dipicu oleh kebiasaan makan rendah serat dan konstipasi. Penatalaksanaan meliputi observasi, pemberian antibiotik, dan operasi apendektomi jika diperlukan.

Diunggah oleh

Adel Putri sari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan22 halaman

Panduan Lengkap Appendicitis: Gejala & Penanganan

Appendicitis adalah peradangan pada apendiks yang umum terjadi, terutama pada laki-laki berusia 10 hingga 30 tahun, dan dapat menyebabkan nyeri abdomen akut serta memerlukan tindakan bedah. Penyebabnya termasuk infeksi bakteri dan sumbatan pada lumen apendiks, yang dapat dipicu oleh kebiasaan makan rendah serat dan konstipasi. Penatalaksanaan meliputi observasi, pemberian antibiotik, dan operasi apendektomi jika diperlukan.

Diunggah oleh

Adel Putri sari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

APPENDICITIS

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Pengertian Appendicitis
Appendisitis adalah peradangan pada apendiks vermiformis dan merupakan
penyebab nyeri abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini menyerang semua
umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki-laki
berusia 10 sampai 30 tahun dan merupakan penyebab paling umum inflamasi akut
pada kuadran bawah kanan dan merupakan penyebab paling umum untuk bedah
abdomen darurat (Smeltzer & Bare, 2013).
Appendisitis adalah kondisi dimana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam
kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan
laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi (Anonim, 2007
dalam Docstoc, 2010).
2. Anatomi & Fisiologi Appendicitis
a. Anatomi Appendisitis
Permukaan aspek posteromedial caecum, 2,5 cm dibawah junctura
iliocaecal dengan lainnya bebas. Lumennya melebar di bagian distal dan
menyempit di bagian proksimal (S. H. Sibuea, 2014).
Appendiks vermiformis atau yang sering disebut sebagai apendiks adalah
organ berbentuk tabung dan sempit yang mempunyai otot dan banyak
mengandung jaringan limfoid. Panjang apendiks vermiformis bervariasi dari 3-
5 inci (8-13 cm).
Hampir seluruh permukaan apendiks dikelilingi oleh peritoneum dan
mesoapendiks (mesenter dari apendiks) yang merupakan lipatan peritoneum
berjalan kontinue disepanjang apendiks dan berakhir di ujung apendiks.
Vaskularisasi dari apendiks berjalan sepanjang mesoapendiks kecuali di ujung dari
apendiks dimana tidak terdapat mesoapendiks. Arteri apendikular, derivate cabang
inferior dari arteri ileocoli yang merupakan trunkus mesentrik superior.
Selain arteri apendikular yang memperdarahi hampir seluruh apendiks,
juga terdapat kontribusi dari arteri asesorius. Untuk aliran balik, vena
apendiseal cabang dari vena ileocolic berjalan ke vena mesentrik superior dan
kemudian masuk ke sirkulasi portal (Eylin, 2009).
b. Fisiologi Appendisitis
Secara fisiologis, apendiks menghasilkan lendir 1 – 2 ml per hari. Lendir
normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalirkan ke sekum.
Hambatan aliran lendir di muara apendiks berperan pada patogenesis apendiks.
Immunoglobulin sekreator yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated
Lympoid Tissue) yang terdapat di sepanjang saluran pencerna termasuk
apendiks ialah IgA. Immunoglobulin tersebut sangat efektif sebagai
perlindungan terhadap infeksi. Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak
mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfa disini kecil
sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya disaluran cerna dan diseluruh tubuh
(Arifin, 2014). adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E.
histolytica (Jong, 2010).
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan
rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya appendisitis.
Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya
sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora
kolon biasa. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya appendisitis akut
(Jong, 2010).

3. Etiologi

Appendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai


hal berperan sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen
apendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor
pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor
apendiks, dan cacing askaris dapat pula menyebabkan
sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan
appendicitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit
seperti E. histolytica (Jong, 2010).
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan
makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi
terhadap timbulnya appendisitis. Konstipasi akan menaikkan
tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya sumbatan
fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman
flora kolon biasa. Semuanya ini akan mempermudah timbulnya
appendisitis akut (Jong, 2010).

4. Patofisiologi
Appendisitis kemungkinan dimulai oleh obstruksi dari lumen yang
disebabkan oleh feses yang terlibat atau fekalit. Penjelasan ini sesuai dengan
pengamatan epidemiologi bahwa appendisitis berhubungan dengan asupan serat
dalam makanan yang rendah (Burkitt, 2007).
Pada stadium awal dari appendisitis, terlebih dahulu terjadi inflamasi
mukosa. Inflamasi ini kemudian berlanjut ke submukosa dan melibatkan
lapisan muskular dan serosa (peritoneal). Cairan eksudat fibrinopurulenta
terbentuk pada permukaan serosa dan berlanjut ke beberapa permukaan
peritoneal yang bersebelahan, seperti usus atau dinding abdomen, menyebabkan
peritonitis lokal (Burkitt, 2007).
Dalam stadium ini mukosa glandular yang nekrosis terkelupas ke dalam
lumen, yang menjadi distensi dengan pus. Akhirnya, arteri yang menyuplai
apendiks menjadi bertrombosit dan apendiks yang kurang suplai darah menjadi
nekrosis atau gangren. Perforasi akan segera terjadi dan menyebar ke rongga
peritoneal. Jika perforasi yang terjadi dibungkus oleh omentum, abses lokal
akan terjadi (Burkitt, 2007).

5. Klasifikasi
Klasifikasi appendisitis terbagi menjadi dua yaitu, appendisitis akut dan
appendisitis kronik (Sjamsuhidajat & de jong, 2010):
a. Appendisitis akut.
Appendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh
radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai
maupun tidak disertai rangsang peritonieum lokal. Gajala appendisitis akut
talah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral didaerah
epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang
muntah. Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan
berpindah ketitik mcBurney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih
jelas letaknya sehingga merupakan nyeri somatik setempat.
b. Appendisitis kronik.
Diagnosis appendisitis kronis baru dapat ditegakkan jika ditemukan
adanya : riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik
apendiks secara makroskopik dan mikroskopik. Kriteria mikroskopik
appendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan
parsial atau total lumen apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama
dimukosa, dan adanya sel inflamasi kronik. Insiden appendisitis kronik
antara 1-5%.

6. WOC
7. Manifestasi Klinis

a. Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan


b. Mual, muntah
c. Anoreksia, malaise
d. Nyeri lepas lokal pada titik Mc. Burney
e. Spasme otot
f. Konstipasi, diare
8. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang
1) Pemeriksaan Laboratorium
Kenaikan sel darah putih (Leukosit) hingga 10.000 – 18.000/mm3. Jika
terjadi peningkatan yang lebih, maka kemungkinan apendiks sudah
mengalami perforasi
2) Pemeriksaan Radiologi
a. Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit (jarang
membantu)
b. Ultrasonografi (USG) Pemeriksaan USG dilakukan untuk menilai
inflamasi dari apendiks
c. CT – Scan Pemeriksaan CT – Scan pada abdomen untuk mendeteksi
apendisitis dan adanya kemungkinan perforasi.
d. C – Reactive Protein (CRP) C – Reactive Protein (CRP) adalah sintesis
dari reaksi fase akut oleh hati sebagai respon dari infeksi atau inflamasi.
Pada apendisitis didapatkan peningkatan kadar CRP (Mutaqqin, Arif &
Kumala Sari 2011).
9. Penatalaksanaan Medis
Menurut (Wijaya & Putri, 2013) penatalaksanaan medis pada appendisitis
meliputi :
a. Sebelum operasi
1) Observasi
Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala appendisitis
seringkali belum jelas, dalam keadaan ini observasi ketat perlu dilaksanakan.
Klien diminta melakukan tirah baring dan dipuasakan.
Pemeriksaan abdomen dan rektal serta pemeriksaan darah (leukosit dan
hitung jenis) diulang secara periodik, foto abdomen dan toraks tegak
dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya penyulit lain. Pada
kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan dengan lokalisasi nyeri di daerah
kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.
2) Antibiotik
Antibiotik diberikan untuk mencegah terjadinya infeksidan abses intra
abdominal luka operasi pada klien [Link] diberikan sebelum,
saat, hingga 24 jam pasca operasi dan melalui cara pemberian intravena (IV)
(Sulikhah, 2014).
b. Operasi
Tindakan operasi yang dapat dilakukan adalah apendiktomi.
Apendiktomi adalah suatu tindakan pembedahan dengan cara membuang
apendiks (Wiwik Sofiah, 2017). Indikasi dilakukannya operasi apendiktomi
yaitu bila diagnosa appendisitis telah ditegakkan berdasarkan gejala klinis.
Pada keadaan yang meragukan diperlukan pemeriksan penunjang USG atau
CT scan.
Apendiktomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum atau spinal
dengan insisi pada abdomen bawah. Anastesi diberikan untuk memblokir
sensasi rasa sakit. Efek dari anastesi yang sering terjadi pada klien post
operasi adalah termanipulasinya organ abdomen sehingga terjadi distensi
abdomen dan menurunnya peristaltik usus. Hal ini mengakibatkan belum
munculnya peristaltik usus (Mulya, 2015) .
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Kiik, 2018) dalam 4 jam
pasca operasi klien sudah boleh melakukan mobilisasi bertahap, dan dalam 8
jam pertama setelah perlakuan mobilisasi dini pada klien pasca operasi
abdomen terdapat peningkatan peristaltik ususbahkan peristaltik usus dapat
kembali normal. Kembalinya fungsi peristaltik usus akan memungkinkan
pemberian diet, membantu pemenuhan kebutuhan eliminasi serta
mempercepat proses penyembuhan.
Operasi apendiktomi dapat dilakukan dengan 2 teknik, yaitu operasi
apendiktomi terbuka dan laparaskopi apendiktomi. Apendiktomi terbuka
dilakukan dengan cara membuat sebuah sayatan dengan panjang sekitar 2 – 4
inci pada kuadran kanan bawah abdomen dan apendiks dipotong melalui
lapisan lemak dan otot apendiks. Sedangkan pada laparaskopi apendiktomi
dilakukan dengan membuat 3 sayatan kecil di perut sebagai akses, lubang
pertama dibuat dibawah pusar, fungsinya untuk memasukkan kamera super
mini yang terhubung ke monitor ke dalam tubuh, melalui lubang ini pula
sumber cahaya dimasukkan. Sementara dua lubang lain di posisikan sebagai
jalan masuk peralatan bedah seperti penjepit atau gunting. Ahli bedah
mengamati organ abdominal secara visual dan mengidentifikasi apendiks.
Apendiks dipisahkan dari semua jaringan yang melekat, kemudian apendiks
diangkat dan dikeluarkan melalui salah satu sayatan (Hidayatullah, 2014).
Jika apendiks mengalami perforasi bebas, maka abdomen dicuci
dengan garam fisiologis dan [Link] pembedahan dapat
menimbulkan luka insisi sehingga pada klien post operatif apendiktomi dapat
terjadi resiko infeksi luka operasi.
c. Pasca operasi
Dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya
perdarahan di dalam, syok, hipertermia atau gangguan pernapasan. Klien
dibaringkan dalam posisi terlentang. Klien dikatakan baik bila dalam 12 jam
tidak terjadi gangguan. Puasa diteruskan sampai fungsi usus kembali normal.

C. Konsep Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan proses


sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Setiadi,
2015).

Data tersebut berasal dan pasien (data primer), dan keluarga (data sekunder)
dan data dan catatan yang ada (data tersier). Pengkajian dilakukan dengan
pendekatan proses keperawatan melalui wawancara, observasi langsung, dan
melihat catatan medis, adapun data yang diperlukan pada klien
appendiksitis adalah sebagai berikut (Doenges et al (2014).
a. Identitas Pasien

Meliputi nama, usia, jenis kelamin dan sering terjadi pada perempuan, alamat,
pendidikan, nama penanggung jawab, pekerjaan, dll.
b. Keluhan utama
Pasien mengatakan nyeri pada daerah abdomen kanan bawah.
c. Pemeriksaan fisik ROS (review of system)
1) Kedaan umum : kesadaran composmentis, wajah tampak
menyeringai, konjungtiva anemis.
2) Sistem kardiovaskuler : ada distensi vena jugularis, pucat,
edema, TD >110/70mmHg; hipertermi.
3) Sistem respirasi : frekuensi nafas normal (16-20x/menit),
dada simetris, ada tidaknya sumbatan jalan nafas, tidak
ada gerakan cuping hidung, tidak terpasang O2, tidak ada
ronchi, whezing, stridor.
4) Sistem hematologi : terjadi peningkatan leukosit yang
merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan.
5) Sistem urogenital : ada ketegangan kandung kemih dan
keluhan sakit pinggang serta tidak bisa mengeluarkan urin
secara lancer.
6) Sistem muskuloskeletal : ada kesulitan dalam pergerakkan
karena proses perjalanan penyakit.
7) Sistem Integumen : terdapat oedema, turgor kulit menurun,
sianosis, pucat.
8) Abdomen : terdapat nyeri lepas, peristaltik pada usus
ditandai dengan distensi abdomen.

d. Pola fungsi kesehatan menurut Gordon.


1) Pola nutrisi dan metabolism.
Klien biasanya akan mengalami gangguan pemenuhan
nutrisi akibat pembatasan intake makanan atau minuman
sampai peristaltik usus kembali normal.
2) Pola Eliminasi.
Pada pola eliminasi urine akibat penurunan daya konstraksi
kandung kemih, rasa nyeri atau karena tidak biasa BAK
ditempat tidur akan mempengaruhi pola eliminasi urine. Pola
eliminasi alvi akan mengalami gangguan yang sifatnya
sementara karena pengaruh anastesi sehingga terjadi
penurunan fungsi.
3) Pola aktifitas.
Aktifitas dipengaruhi oleh keadaan dan malas bergerak
karena rasa nyeri, aktifitas biasanya terbatas karena harus
bedrest berapa waktu lamanya setelah pembedahan.
4) Pola sensorik dan kognitif.
Ada tidaknya gangguan sensorik nyeri, penglihatan serta
pendengaran, kemampuan berfikir, mengingat masa lalu,
orientasi terhadap orang tua, waktu dan tempat.
5) Pola Tidur dan Istirahat.
Insisi pembedahan dapat menimbulkan nyeri yang sangat
sehingga dapat mengganggu kenyamanan pola tidur klien.
6) Pola Persepsi dan konsep diri.
Penderita menjadi ketergantungan dengan adanya
kebiasaan gerak segala kebutuhan harus dibantu. Klien
mengalami kecemasan tentang keadaan dirinya sehingga
penderita mengalami emosi yang tidak stabil.
7) Pola hubungan.
Dengan keterbatasan gerak kemungkinan penderita tidak
bisa melakukan peran baik dalam keluarganya dan dalam
masyarakat. penderita mengalami emosi yang tidak stabil.
8) Pemeriksaan diagnostic.
a) Ultrasonografi adalah diagnostik untuk apendistis akut.
b) Foto polos abdomen : dapat memperlihatkan distensi
sekum, kelainan non spesifik seperti fekalit dan pola gas
dan cairan abnormal atau untuk mengetahui adanya
komplikasi pasca pembedahan.
c) Pemeriksaan darah rutin : untuk mengetahui adanya
peningkatan leukosit yang merupakan tanda adanya
infeksi.
d) Pemeriksaan Laboratorium.
i. Darah : Ditemukan leukosit 10.000 – 18.0000 μ/ml.
ii. Urine : Ditemukan sejumlah kecil leukosit dan
eritrosit.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan merupakan penilaian klinis mengenai respon klien
terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang
berlangsung aktual maupun potensial (PPNI, 2017). Berdasarkan pada semua data
pengkajian diagnosa keperawatan utama yang dapat muncul pada kl appendicitis,
antara lain :
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologi
(inflamasi appendicitis).
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera
fisik(Prosedur oprasi).
c. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (Infeksi
pada appendicitis).
d. Risiko Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan
secara aktif (muntah).
e. Resiko hipovolemia ditandai dengan efek agen farmakologis
f. Ansietas berhubungan dengan kurang terpapar informasi
g. Resiko Infeksi ditandai dengan efek prosedur infasive
3. Perencanaan Keperawatan
Perencanaan keperawatan atau intervensi keperawatan
adalah perumusan tujuan, tindakan dan penilaian rangkaian
asuhan keperawatan pada klien berdasarkan analisa pengkajian
agar masalah kesehatan dan keperawatan klien dapat diatasi
(Nurarif, A. H., & Kusuma, 2016).
Intervensi keperawatan Pre operatif
Diagnosa keperawatan Tanda dan Gejala Tanda dan Gejala Minor
Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen nyeri
berhubungan dengan tindakan Observasi :
agen pencedera keperawatan 1. Identifikasi lokasi ,
fisiologi (inflamasi diharapkan Tingkat karakteristik, durasi,
appendicitis) nyeri frekuensi, kulaitas nyeri,
dapat menurun skala nyeri, intensitas nyeri
dengan Kriteria Hasil 2. Identifikasi respon nyeri non
: verbal.
1. Keluhan nyeri 3. Identivikasi faktor yang
menurun. memperberat dan
2. Meringis menurun memperingan nyeri.
3. Sikap protektif 4. Terapeutik :
menurun. 5. Berikan teknik
4. Gelisah menurun nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri.
6. Fasilitasi istirahat dan tidur.
7. Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri.

Edukasi :
8. Jelaskan strategi meredakan
nyeri
9. Ajarkan teknik non
farmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri .

Kolaborasi
Hipertermia Setelah dilakukan Manajemen hipertermia
berhubungan dengan tindakan Observasi :
proses penyakit (Infeksi keperawatan 1. Identifikasi penyebab
pada appendicitis). diharapkan hipertermia.
Termoregulasi 2. Monitor suhu tubuh.
membaik dengan 3. Monitor haluaran urine.
Kriteria Hasil : Terapeutik :
1. Menggigil 4. Sediakan lingkungan yang
menurun. dingin.
2. Takikardi 5. Longgarkan atau lepaskan
menurun. pakaian.
3. Suhu tubuh 6. Berikan cairan oral
membaik. Edukasi :
4. Suhu kulit 7. Anjurkan tirah baring
membaik Kolaborasi :
Ansietas berhubungan Setelah dilakukan Reduksi ansietas
dengan kurang terpapar tindakan Observasi :
informasi keperawatan 1. Identivikasi saat tingkat
Tingkat ansietas ansietas berubah.
menurun dengan 2. Monitor tanda tanda ansietas
Kriteria Hasil : verbal non verbal.
1. Verbalisasi 3. Temani klien untuk
kebingungan mengurangi kecemasan jika
menurun. perlu.
2. Verbalisasi 4. Dengarkan dengan penuh
khawatir akibat perhatian.
menurun. 5. Gunakan pendekatan yang
3. Perilaku gelisah tenang dan meyakinkan.
menurun. 6. Jelaskan prosedur, termasuk
4. Perilaku tegang sensasi yang mungkin
menurun. dialami.
7. Anjurkan keluarga untuk
tetap bersama klien, jika
perlu.
8. Anjurkan mengungkapkan
perasaan dan persepsi.
Intervensi keperawatan post operatif

Diagnosa Tanda dan Gejala Mayor Tanda dan Gejala Minor


Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen nyeri
berhubungan dengan tindakan keperawatan Observasi :
agen pencedera Tingkat nyeri 1. Identifikasi lokasi ,
fisik(Prosedur menurun dengan karakteristik, durasi,
operasi). Kriteria Hasil : frekuensi, kulaitas nyeri,
1. Keluhan nyeri intensitas nyeri, skala
menurun. nyeri.
2. Meringis menurun. 2. Identifikasi respon nyeri
3. Sikap protektif non verbal.
menurun. 3. Identivikasi factor yang
4. Gelisah menurun. memperberat dan
5. Frekuensi nadi memperingan nyeri.
membaik. Terapeutik :
4. Berikan teknik non
farmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri.
5. Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri.
6. Pertimbangkan jenis dan
sumber nyeri dalam
pemilihan strategi
meredakan nyeri.
Edukasi :
7. Jelaskan penyebab,
periode, dan pemicu
nyeri.
8. Jelaskan strategi
meredakan nyeri
9. Ajarkan teknik non
farmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri.
10. Kolaborasi pemberian
terapy
Risiko hipovolemia Setelah dilakukan tindakan Manajemen hypovolemia
ditandai dengan efek keperawatan Status cairan Observasi :
agen farmakologis membaik dengan 1. Periksa tanda dan gejala
Kriteria Hasil : hipovolemia.
1. Kekuatan nadi 2. Monitor intake dan
meningkat. output cairan.
2. Membrane mukosa Terapeutik :
lembap. 3. Berikan asupan cairan
3. Frekuensi nadi oral
membaik. Edukasi :
Tekanan darah 4. Anjurkan memperbanyak
membaik. asupan cairan oral.
4. Turgor kulit membaik. 5. Anjurkan menghindari
perubahan posisi mendadak.
Kolaborasi :
6. Kolaborasi peberian
cairan IV. infeksi
Risiko Infeksi Setelah dilakukan tindakan Pencegahan
ditandai dengan efek keperawatan Observasi :
prosedur i Tingkat infeksi 1. Monitor tanda dan gejala
Infasive dengan Kriteria Hasil : infeksi local dan sistemik.
1. Kebersihan tangan 2. Batasi jumlah pengunjung
meningkat. 3. Berikan perawatan kulit
2. Kebersihan badan pada area edema.
meningkat. 4. Cuci tangan seblum dan
3. Demam, kemerahan, sesudah kontak dengan
nyeri, bengkak klien dan lingkungan klien.
menurun. 5. Pertahankan teknik aseptic
4. Kadar sel darah putih pada klien beresiko tinggi.
meningkat.
Edukasi :
6. Jelaskan tanda dan gejala
infeksi.
7. Ajarkan cara mencuci
tangan dengan benar
4. Pelaksanaan Tindakan keperawatan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status
kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang baik yang
menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Potter, P., & Perry,
2014).
Implementasi merupakan tahap keempat dari proses
keperawatan dimana rencana keperawatan dilaksanakan
melaksanakan intervensi/aktivitas yang telah ditentukan, pada tahap
ini perawat siap untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas yang
telah dicatat dalam rencana perawatan klien. Agar implementasi
perencanaan dapat tepat waktu dan efektif terhadap biaya, pertama-
tama harus mengidentifikasi prioritas perawatan klien, kemudian bila
perawatan telah dilaksanakan, memantau dan mencatat respons klien
terhadap setiap intervensi dan mengkomunikasikan informasi ini
kepada penyedia perawatan kesehatan lainnya. Kemudian, dengan
menggunakan data, dapat mengevaluasi dan merevisi rencana
perawatan dalam tahap proses keperawatan berikutnya
(Wilkinson.M.J, 2012).
Komponen tahap implementasi :
1) Tindakan keperawatan mandiri.
2) Tindakan keperawatan edukatif.
3) Tindakan keperawatan kolaboratif.
4) Dokumentasi tindakan keperawatan dan respon klien terhadap
asuhan keperawatan.
5. Evaluasi Keperawatan
Menurut (Setiadi, 2012) dalam buku konsep dan penulisan
asuhan keperawatan tahapan penilaian atau evaluasi adalah
perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan klien
dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara
berkesinambungan dengan melibatkan klien, keluarga dan tenaga
kesehatan lainnya. Terdapa dua jenis evaluasi:
a. Evaluasi Formatif (Proses)
Evaluasi formatif berfokus pada aktivitas proses keperawatan
dan hasil tindakan keperawatan. Evaluasi formatif ini dilakukan
segera setelah perawat mengimplementasikan rencana
keperawatan guna menilai keefektifan tindakan keperawatan yang
telah dilaksanakan. Perumusan evaluasi formatif ini meliputi 4
komponen yang dikenal dengan istilah SOAP :
1) S (subjektif) : Data subjektif dari hasil keluhan klien, kecuali
pada klien yang afasia.
2) O (objektif) : Data objektif dari hasi observasi yang dilakukan
oleh perawat.
3) A (analisis) : Masalah dan diagnosis keperawatan klien yang
dianalisis atau dikaji dari data subjektif dan data objektif.
4) P (perencanaan) : Perencanaan kembali tentang pengembangan
tindakan keperawatan, baik yang sekarang maupun yang akan
datang dengan tujuan memperbaiki keadaan kesehatan klien.
b. Evaluasi Sumatif (Hasil)
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan setelah
semua aktivitas proses keperawatan selesi dilakukan. Evaluasi
sumatif ini bertujuan menilai dan memonitor kualitas asuhan
keperawatan yang telah diberikan. Ada 3 kemungkinan evaluasi
yang terkait dengan pencapaian tujuan keperawatan (Setiadi,
2012), yaitu:
1) Tujuan tercapai atau masalah teratasi jika klien menunjukan
perubahan sesuai dengan standar yang telah ditentukan.
2) Tujuan tercapai sebagian atau masalah teratasi sebagian atau
klien masih dalam proses pencapaian tujuan jika klien
menunjukkan perubahan pada sebagian kriteria yang telah
ditetapkan.
3) Tujuan tidak tercapai atau masih belum teratasi jika klien hanya
menunjukkan sedikit perubahan dan tidak ada kemajuan sama
sekali.
No DIAGNOSA
TUJUAN & KRITERIA INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN
HASIL

1. Nyeri akut berhubungan Setelah diberikan intervensi SLKI : Manajemen Nyeri 1. Mengethaui keadaan sejauh mana
dengan agen pencedera keperawatan selama 3x24 jam, Observasi nyeri yang terjadi pada pasien
fisiologi inflamasi diharapkan Tingkat Nyeri 1. Identifikasi lokasi 2. Mengetahui skala nyeri yang timbul
menurun, ditandai dengan karakteristik, pada pasien
Gejala dan tanda kriteria hasil : durasi,frekuensi, kualitas, 3. Memberikan rasa nyaman
mayor 1. Keluhan nyeri (menurun) intentias nyeri 4. pada pasien dengan mengurangi faktor
DS : 2. Meringis (menurun) 2. Identifikasi skala nyeri nyeri
1. Mengeluh nyeri 3. Sikap protektif (menurun) 3. Identifikasi faktor yang 5. Membantu pasien terhadap memberi
DO : 4. Gelisah (menurun) memperberat dan keberhasilan terapi nyeri yang telah
1. Tampak meringis 5. Kesulitan tidur (menurun) memperingannyeri (mis. diberikan pada pasien
2. Bersikap protektif suhu ruangan, pencahayaan, 6. Mengetahui pengaruh nyeri pada
Kontrol nyeri meningkat kebisingan) pasien bagiman respon terhadap nyeri
(mis. waspada,
ditandai dengan kriteria hasil : 4. Identifikasi pengetahuan dan atau berperilaku dalam merespon
posisi menghindari
nyeri) keyakinan tentang nyeri terhadap nyeri
1. Melaporkan
3. Gelisah 5. Identifikasi pengaruh budaya 7. Nyeri mempengaruhi pengalaman
nyeri terkontrol
4. Frekuensi nadi terhadap respon nyeri nyeri dan secara seseorang beradaptasi
2. Kemampuan
meningkat 6. Identifikasi pengaruh nyeri dalam merespon terhadap nyeri
mengenali onset nyeri
5. Sulit tidur pada kualitas hidup 8. Mengetahui fungsi analgetik untuk
3. Kemampuan
7. Monitor efek samping menurunkan nyeri dan menghentikan
mengenali
Gejala dan tanda penggunaan analgetik perkembangan bakteri yang ada
penyebab
minor 8. Ajarkan dan menganjurkan didalam tubuh.
nyeri
DS : teknik nonfarmakologis
4. Kemampuan
(tidak tersedia) untukmengurangi rasa nyeri,
menggunakan teknik
DO : yaitu dengan teknik relaksasi
nonfarmakologi
1. Tekanan darah napas dalam
5. Dukungan orang
meningkat 9. Menganjurkan pada pasien
terdekat
2. Pola napas dan keluarga untuk
berubah melakukankompres hangat
pada bagian epigastrium
pasien yang nyeri
4. Proses berpikir Terapeutik : 9. Melakukan teknik relaksasi napas
terganggu 10. Kontrol lingkungan yang dalam dapat mengalihkan perhatian
5. Menarik diri memperberat rasa nyeri pasien sehingga dapat menurunkan
6. Berfokus pada
diri sendiri (mis. suhu ruangan, nyeri (Sunaryo, 2017)
7. Diaforesis pencahayaan, kebisingan) 10. Melakukan kompres air hangat pada
8. Nafsu makan [Link] istirahat dan tidur pasien untuk dapat membantu proses
berubah [Link] jenis dan terhadap harapan pasien dan
sumber nyeri dalam penanganan nyeri
pemilihan strategi
11. Mengetahui keadaan pasien secara
meredakan nyeri
umum
Edukasi : 12. Strategi meredahkan rasa nyeri juga
13. Jelaskan penyebab jenis dan dapat mempengaruhi terhadap
sumber nyeri penanganan nyeri
14. Jelaskan strategi meredakan 13. Mengajurkan pasien untuk menangani
nyeri
nyeri secara mandiri
15. Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat 14. Fungsi analgetik ini untuk
Kolaborasi : menurunkan rasa nyeri terhadap pasien
16. Kolaborasi pemerian 15. pemebrian analgetik sangat
analgetik, jika perlu berpengaruh terhadap keseimbangan
penyakit
4. Implementasi

Dalam proses keperawatan, implementasi merupakan fase tindakan dimana


perawat melaksanakan rencana keperawatan yang telah disusun sebelumnya.
Implementasi terdiri dari tindakan pelaksanaan dan pendokumentasian kegiatan
yang merupakan tindakan keperawatan spesifik yang diperlukan untuk
melaksanakan intervensi. Perawat melakukan aktivitas keperawatan yang
dikembangkan dari langkah perencanaan dan kemudian menyimpulkan langkah
implementasi dengan mencatat aktivitas keperawatan serta respon pasien terhadap
tindakan yang telah diberikan (Potter & Perry, 2017).
5. Evaluasi

Evaluasi adalah fase kelima dari proses keperawatan. Dalam konteks ini,
evaluasi adalah aktivitas terencana, berkelanjutan yang tujuannya menentukan
kemajuan klien dalam mencapai tujuan/hasil tertentu dan menilai efektivitas
rencana asuhan keperawatan. Evaluasi merupakan aspek penting dari proses
keperawatan karena kesimpulan yang diambil dari evaluasi menentukan apakah
intervensi keperawatan harus dihentikan, dilanjutkan, atau diubah. Evaluasi yang
digunakan berbentuk S (Subjektif), O (Objektif), A (Analisis), P (Perencanaan
terhadap analisis).
Melalui evaluasi, perawat menunjukkan tanggung jawab dan akuntabilitas
atas tindakan mereka, menunjukkan keberhasilan atas kegiatan keperawatan dan
menunjukkan rencana untuk tidak melanjutkan tindakan yang tidak efektif yang
kemudian digantikan dengan tindakan yang lebih efektif (Potter& Perry, 2017).
DAFTAR PUSTAKA

Bruner.,& Sudarth. (2018). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8


Volume 2. Jakarta EGC
Bulechek, M Gloria, dkk, (2016) Asuhan Keperawatan Prioritas Masalah
Kebutuhan Dasar Nutrisi Jakarta: ECG.
Dalley & More. (2013). Antomi Fisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Jakarta: EGC
[Link] Asuhan Keperawatan Pada Pasien Gastritis.2019.
Dermawan & Rahayuningsih, (2016). Keperawatan Pada Sistem Pencernaan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Dina (2019). Masalah Gangguan Kebutuhan Nutrisi Kurang Oleh Naomi F.A
Munthe 142500088.
Eni Kusyati (2016). Relaksasi Nafas dalam menurunkan tingkat nyeri pasien
Gastritis. Jakarta : EGC
Hardi & Amin, (2015). Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 12. Jakarta : EGC

Krisdiana.H, (2018). Kompres air hangat menurunkan nyeri pada pasien


Gastritis. [Link] cipta,Jakarta
Mia Khoirul, (2017). Kompres air hangat menurunkan nyeri pada pasien
Gastritis. [Link] cipta,Jakarta
Muttaqin & Sari, (2013). Gangguan Gastrointestinal. Aplikasi Asuhan
Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta: Salemba Medika
Potter & Perry. (2017). Buku Ajar Fundamental Keperawatanvolume 1 &2
:konsep, proses, [Link]: Ghara Ilmu
Ratu & Adwan,(2013).Keperawatan Medikal Bedah : Manajemen Klinis untuk
Hasil yang Diharapkan. Jakarta : Elsevier
Setiadi, (2015). Konsep & penulisan dokumentasi asuhan [Link] :
Graha Ilmu
Sri utami.S,2016. Efektifitas Relaksasi Napas Dalam Terhadap Nyeri Post
[Link]
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Jakarta:
Dewan Pengurus PPNI
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus PPN
Tussakinah, Masrul and Burhan, 2018. Kejadian Gastritis . Dunia Keperawatan,
4(1), 48. [Link]

Anda mungkin juga menyukai