Satu Hari di kediaman Alesxar
Latar waktu ini diambil saat si bungsu masih
berusia 4 tahun. Di cerita ini tidak ada konfljk,
tema atau apapun. Hanya ingin menceritakan
tentang satu hari di keluarga Alesxar.
Pukul enam pagi.
Waktu di mana semua orang sibuk untuk
memulai aktivitasnya, bersiap untuk menjalani
hari-hari seperti biasanya, tapi tidak dengan
Davian. Sosok pria matang berusia kepala empat ini
baru saja tiba di rumahnya setelah melakukan
perjalanan panjang.
Tentu saja setelan formal tak lepas dari
gayanya. Davian berjalan tanpa basa-basi menuju
ke kamar utama. Siapa lagi yang dicari jika bukan
permaisurinya.
Suhu ruangan terasa dingin sesaat Davian
masuk ke dalam kamar, selimut di atas ranjang
yang masih sedikit berantakan dan sangat samar
rungunya menangkap suara gemercik air dari arah
kamar mandi ‘ah rupanya Emilia sedang mandi’
pikir Davian.
Ia memilih duduk di sebuah single sofa,
menunggu sang permaisuri menyelesaikan sesi
mandinya. Davian mengalihkan fokusnya dengan
membaca sebuah majalah edisi bulan lalu yang
tersedia di atas meja.
Ceklek.
Tak perlu menunggu lama. Davian menutup
kembali majalahnya bersamaan dengan suara
pintu kamar mandi yang terbuka.
“Mas?”
Sosok yang sangat Davian rindukan, kini dapat
ia tangkap lagi dalam sorot matanya. Seulas
senyuman terpatri di wajah Davian, dengan kedua
tangan yang terbuka lebar siap menangkap
cintanya ke dalam pelukan.
Emilia tak peduli jika dirinya masih hanya
mengenakan bathrobe yang membalut tubuh.
Wanita ini segera mengambil pelukannya, duduk di
atas pangkuan Davian, menyandarkan kepalanya
pada pundak kokoh sang lelaki dan memeluknya
dengan erat.
“Rindu sekali.”
Davian mengusap pelan punggung wanitanya
penuh cinta dan kasih sayang.
“Kenapa lama sekali sih perginya?” Emilia
menegakkan kepalanya sambil sekilas mengecup
pipi kiri Davian.
“Kan sudah bilang sebelum berangkat,
perginya lama.” Kedua tangan Davian melingkar
tepat pada pinggang Emilia.
“Aku pikir nggak akan se-lama ini.”
Davian terkekeh, lain dengan Emilia yang masih
menunjukkan raut sedihnya.
“Aku pikir kamu lupa punya anak istri.”
“Sembarangan saja.”
Dikecupnya bibir delima favoritnya yang
hampir satu bulan tak terjamah. Benar, mereka
mendadak harus berpisah jarak hampir satu bulan
lamanya karena jadwal Davian yang
mengharuskannya pergi ke beberapa kota di bagian
belahan barat Amerika. Tentu saja, ini adalah
urusan bisnis.
“Padahal saya sudah ajak untuk ikut pergi sama
saya.”
“Iya, terus tinggalkan anak-anak yang sedang
sibuk siapkan ujian semester? Dede juga terserang
flu batuk waktu itu.”
“Sekarang keadaannya bagaimana?” Davian
mengkhawatirkan si bungsu yang selalu rewel jika
sakit.
“Sudah lincah lagi.” Emilia terkekeh.
Davian perlahan menarik kembali tengkuk
Emilia, mengecup bibir itu lebih lama kali ini
dengan diiringi lumatan lembut tanda cinta. Jari
jemari Davian memeta di bagian depan bathrobe,
mencari tali pengaitnya. Hanya tinggal satu tarikan,
tapi Davian gagal melakukannya. Tangan Emilia
lebih cepat menahan, menghentikan Davian untuk
melanjutkan aksinya.
“Jangan sekarang, aku mau pergi.” Tawa Emilia
menampilkan deretan gigi putihnya. Wanita itu pun
kini beranjak dari pangkuan lelakinya. Tapi masih
tertahan sebab satu tangannya yang di genggam
dan belum rela Davian lepaskan.
“Aku sudah janji sama dede mau antar ke
playgroup hari ini.” Jelas Emilia. “Hari ini jadwalnya
piknik ke taman, jadi dede minta diantar samaku.”
Emilia melepaskan genggaman tangan Davian,
lalu berjalan menuju meja rias. Emilia tidak tahu
jika Davian juga beranjak dari duduknya dan
mengekorinya. Davian duduk di tepian ranjang
yang sejajar lurus dengan arah cermin yang mana
Emilia duduk di hadapannya untuk berhias.
Davian tak banyak bicara, pria itu hanya tak
melepas perhatiannya pada punggung Emilia yang
masih terbalut bathrobe. Hingga Emilia menyadari
jika dirinya di perhatikan, wanita itu melempar
senyum kala dua pasang mata itu saling bertemu
melalui pantulan diri di dalam cermin.
Cukup menghabiskan banyak waktu hingga
Emilia selesai merias diri serta berganti pakaian,
dan Davian masih menunggunya di sana.
“Istirahat saja mas.” Emilia berjalan keluar dari
walk in closet, kini penampilannya semakin
menawan di balut dress sebatas lutut berwarna
kuning dengan corak bunga di beberapa bagiannya,
rambut panjang yang sedikit bergelombang di gerai
bebas menambah kesan rupawan.
Emilia mengambil ponsel di atas laci,
memasukkannya ke dalam tas bermerek yang di
pilih menyelaraskan penampilannya.
“Pulang jam berapa?” Tanya Davian, tangannya
terulur kembali menggenggam telapak tangan
Emilia saat wanita itu berdiri di hadapannya.
“Mungkin siang?” Jawab Emilia tak pasti. “Mau
ke bawah?” Tanya Emilia saat Davian ikut beranjak.
“Hm.”
“Kalau turun bertemu anak-anak kamu nggak
bisa istirahat mas.” Tutur Emilia.
“Tidak masalah, saya sudah banyak tidur di
pesawat.”
Mereka keluar kamar berjalan beriringan, tidak
lupa dengan satu tangan Davian yang melingkar
posesif di pinggang wanitanya.
Emilia terkekeh saat sesekali Davian mengecup
pipinya, mengambil kesempatan saat berduaan
sambil menunggu lift sampai di lantai bawah.
“Sudah, ih!” Tegur Emilia namun terkekeh
senang, tentu saja ia dengan mencubit pelan perut
Davian. Tidak bisa, Davian tidak akan berhenti
hanya dengan teguran seperti itu, bahkan hingga
pintu lift sudah terbuka.
Bersamaan dengan langkah keduanya menuju ke
ruang tengah suara ramai perbincangan anak-anaknya
mulai terdengar.
“Papah?” Si bungsu yang pertama kali menyadari
kehadirannya.
Suara ramai itu seketika senyap, ke-tiga putrinya
sama menoleh ke arah yang ditunjuk oleh si bungsu.
“Good morning.” Sapa Davian. Rangkulannya di
pinggang Emilia pun perlahan terlepas. Baiklah, Emilia
kini tersingkirkan. Atensi lelakinya beralih seluruhnya
pada keempat bocah yang berlarian berhamburan
menghampirinya saling berebut untuk memeluk sang
papa—rindu sekali ya tiga minggu lamanya tak bertemu.
Davian sedikit berjongkok guna menyamai dengan
tubuh kecil mereka. Satu persatu mendapat bagiannya,
berbagi peluk dan cium. Begitu juga si bungsu yang tak
ketinggalan hingga Davian membawanya ke dalam
pangkuann.
“Papa, boleh tidak sekolahnya dengan papa?” Ucap
Sienna dengan manjanya.
Davian mengangguk, “tentu saja boleh.” Satu
tangannya terulur mengusap halus sisi kanan pipi Starla,
meratakan bedak di wajah si gadis mungil yang sedikit
berantakan.
“Papah, dede hali ini piknik!”
“Oh, ya. Piknik ke mana?”
“Tidak tahu.”
Davian terkekeh. Selanjutnya,
“Papah...”
“Papa...”
“Papaa...”
“Papaaa...”
Semua mengadu, bercerita, mencari perhatian sang
papa. Semuanya ingin papa. Hampir saja membuat lelaki
ini kewalahan merespons satu persatu dari mereka.
“time to breakfast , kids!” Seru Emilia yang berjalan
menuju ke ruang makan meninggalkan forum temu
kangen papa dan anak hingga mengabaikan kehadiran
dirinya.
Davian membopong si bungsu, juga menggiring ke-
tiga kakaknya untuk pergi menyusul Emilia. “Ayo,
sarapan dulu.” Katanya.
Diturunkannya Fabio duduk di kursi di antara Davian
dan Emilia.
“Duduk dede.” Tegur Emilia juga menahan tubuh
bulat yang berdiri di atas kursi. Kebiasaan Fabio ini,
sering kali naik dan berdiri di atas kursi.
“Mamah, bekal dede mana?” Fabio melongok pada
deretan menu sarapan yang tertata di atas meja.
“Duduk dulu.” Fabio pun menurut, “bekalnya sudah
disiapkan sama mbak Ayu, sekarang sarapan dulu.”
Emilia memberikan sendok ke dalam genggaman
kecil tangan Fabio. “Makannya santai saja ya, jangan
cepat-cepat.” Fabio mengangguk. Bocah itu
memperhatikan sendok di genggamannya selagi
menunggu sang mama selesai memasang celemek di
dadanya. Iya, bocah itu masih belum bisa makan dengan
rapi, masih sering kali berlepotan kemana-mana, jadi
harus menggunakan celemek agar makanan tak tercecer
ke pakaiannya.
Kenapa Fabio tak disuapi saja?
Bocah itu tidak akan mau. Melihat semua orang
menyuap makanannya sendiri, Fabio pun ingin
melakukannya sendiri.
Selesai dengan sesi sarapan, mereka beranjak untuk
berangkat ke tempat tujuannya masing-masing. Ketiga
anak gadis Davian yang bersekolah di yayasan yang
sama, maka Davian yang pergi mengantarnya—sesuai
permintaan princess Sienna yang katanya sangat rindu
dengan sang papa.
Lain dengan si bungsu satu itu yang masih
bersekolah di sebuah playgroup yang bertempat di
lingkungan perumahan, biasanya hanya diantar mbak
Ayu, tapi khusus untuk hari ini bocah bulat itu ingin
sekali diantar sang mama.
Fabio tidak melepas genggam tangan Emilia di sisi
kanan, saat Davian merangkul pinggang ramping itu
dengan posesif di sisi kiri.
“Bawa mobil sendiri?” Tanya Davian.
“Nggak, aku naik motor sama mbak Ayu.” Jawab
Emilia. Davian seketika menoleh dengan tatapan serius.
“Saya antar saja kalau begitu.”
Emilia tertawa, “serius sekali kamu , mas. Aku bawa
mobil kok.” Padahal dekat.
“Mamah ayo, Iyo ingin cepat ke sekolah.” Kedua
tangan kecil itu mengayunkan telapak tangan Emilia
yang sedari tadi digenggamnya.
“Hati-hati.” Ucap Davian yang kemudian mengecup
sekilas bibir delima favoritnya.
“CIUM CIUM TELUSS! IYO HANYA INGIN KE
SEKOLAH!” Protesnya dengan tegas. Fabio melepaskan
genggamannya dari tangan Emilia, beralih memegangi
kedua tali tas di sisi kiri dan kanan. Bocah itu berjalan
mengitari Davian dan Emilia sembari mengentakkan
kakinya dengan keras.
Davian terkekeh melihat tingkah si bungsu.
Mengusak rambutnya sekilas. “Ya sudah ayo berangkat.”
Ucap Davian, di dalam mobilnya pun sama, tiga anak
gadisnya sudah ribut minta segera diantar ke sekolah.
“Saya saja pak.” Ucap Davian saat pak Cecep hendak
masuk ke dalam mobil. “Saya saja yang antar, nanti pak
Cecep bagian jemput saja.”
Mereka pun meninggalkan halaman rumah
bersamaan dengan dua mobil yang terpisah.
Fabio berlarian bergabung dengan teman-
temannya di sana. Emilia ditemani mbak Ayu hanya
memantau dari kejauhan. Mereka berada di sebuah
taman, sedikit jauh dari lingkungan playgroup sebab
berada di luar perumahan.
Sesekali Emilia bertegur sapa dengan orang tua
siswa yang lain, atau sekedar berbincang basa-basi.
Emilia tidak banyak mengenal wajah mereka karena
jarang bertemu—Emilia tidak terlalu sering mengantar
dan menemani Fabio hingga selesai kelas karena
memiliki kesibukan yang lain. Akan tetapi Emilia tetap
aktif di dalam forum diskusi kelas melalui grup
whatsApp.
“Duduk di sini saja Bu.” Ucap mbak Ayu.
Mereka berteduh di sisi lapangan yang tidak terlalu
luas, ada banyak kursi-kursi taman yang tersedia di sana.
Sedangkan anak-anak mereka asyik bermain sambil
belajar bersama gurunya.
Emilia tak melepas pandangannya dari si bungsu, ia
pun sering tersenyum saat melihat si bungsu celingukan
mencarinya.
Lucu, bocah itu melakukan setiap titah gurunya
dengan baik, dan saat melakukannya Fabio menoleh
dulu ke arah Emilia seolah sedang menunjukkan
kehebatannya.
Emilia merentangkan kedua tangannya saat Fabio
berlarian ke arahnya.
“MAMAH LIHAT DEDE TIDAK?”
Nafasnya sedikit terengah. Emilia mengusap peluh
yang membanjiri pelipis si bungsu dengan sapu tangan,
begitu juga mbak Ayu yang buru-buru membuka botol
minum dan memberikannya pada Fabio.
“Minum dulu.”
Fabio menenggak air mineral itu hingga menyisakan
setengah dari botol 200ml.
“Mamah lihat dede tidak?”
“Lihat, mama lihat dede dari sini.” Emilia
tersenyum.
“Dede kelen ya, tadi lompat-lompat di atas batu tapi
tidak jatuh. Miss juga bilang dede hebat!” Jelasnya
dengan penuh semangat.
“Iya, dede keren sekali. Mama sampai lihat seperti
ini...” Emilia mencoba menunjukkan ekspresi terkejut
sekaligus bangga.
Rasa percaya diri Fabio meningkat 100% setelah
mendapat pujian dari sang mama.
Fabio menerima susu kotak kecil yang sudah
diberikan sedotan oleh mbak Ayu.
“Setelah ini kegiatannya apa?” Tanya Emilia.
Fabio menunjuk ke arah tenda yang di dirikan di sisi
lapangan yang lain—menunjuk dengan tangan kirinya.
Sebab tangan kanannya yang memegangi susu kotak dan
bibirnya masih sibuk menenggak susu.
“Mbak sudah habis.” Fabio mengocok kotak susu
yang jelas sudah tak ada isinya.
Fabio memberikan bekas kotak susu itu pada mbak
Ayu. “Sekalang waktunya makan bekal.” Kata Fabio.
Emilia mengambilkan tas bekal milik Fabio,
memakaikannya di pundak si bungsu. Bocah itu sudah
siap kembali bergabung dengan yang lain.
Emilia memegang lengan bulat itu, “Makannya
jangan terburu-buru ya, takut tersedak.”
“Hm!” Fabio mengangguk.
“Mama isi bekal dede banyak makanan, nanti
berbagi dengan teman-teman.” Titahnya lagi.
“Hm!” Fabio mengangguk lagi, tapi kali ini ekor
matanya melirik ke arah lain.
“Mamah ada lagi tidak?” Tatapnya pada Emilia.
“Liam sudah lali ke sana!” Kakinya mulai bergerak
gelisah.
“Sudah.” Ucap Emilia.
Fabio mengecup pipi Emilia yang kebetulan posisi
Emilia sedikit membungkuk condong ke arahnya.
Mwahhh.... Bocah bulat itu pun kembali berlarian
menyusul teman-temannya.
Emilia terkekeh diperlakukan sebegitu manisnya
oleh si Davian mini.
“IM HOME...” Fabio berteriak saat masuk ke dalam
rumah. Bocah itu berlari ke area ruang keluarga,
melepas sendiri sepatunya dan meletakkannya asal
sebelum tubuh bulat itu berguling di atas lantai granit
yang sejuk.
Tubuhnya tengkurap, kepalanya miring ke arah kiri
dengan pipi sebelah kanan yang bersinggungan
langsung dengan lantai. Sesekali kedua telapak
tangannya menepak-nepak pada lantai. “Hm
sejuknya...” kedua pelupuk matanya terpejam. Kalau tak
diawasi, lama-kelamaan bocah ini akan terlelap.
“Dede, ganti dulu bajunya.” Tegur Emilia yang baru
tiba di sana dan melihat kebiasaan Fabio yang
merebahkan diri di atas lantai.
Mbak Ayu memunguti sepatu Fabio, dan beberapa
barang bawaan di bereskannya.
“Lepas sepatunya sembarangan.”
Bocah itu acuh, malah menggoyangkan bokongnya.
Emilia mencubit pelan pipi bulat itu. “Ayo ke kamar,
ganti baju dulu.” Ajak Emilia. Tapi Fabio masih tak
beranjak.
“Mama tinggal ya...”
Barulah kepala bulat itu terangkat, “mamah...”
panggilnya, tapi Emilia tak menghentikan langkahnya
menuju elevator.
Buru-buru Fabio bangun dan mengejar langkah
Emilia yang semakin menjauh. “Mamah tunggu dede.”
“Makan lagi tidak?” Tanya Emilia yang berjongkok di
hadapan Fabio, membantu di bocah bulat itu melepas
dua kancing atas kausnya, lalu menariknya lepas dari
tubuh bulat itu hingga menyisakan kaos dalam berwarna
putih. Omong-omong mereka masih di dalam lift.
Fabio menepuk-nepuk perutnya pelan sambil
sedikit di majukan. “Pelutnya sudah penuh!” Artinya
Fabio masih kenyang.
Tinggg.... Pintu lift terbuka.
Keduanya sama berjalan keluar. Fabio
menggenggam jemari Emilia. “Ingin tidul sama mamah.”
Pintanya.
“Ayo. Di kamar dede ya.” Fabio mengangguk.
Beberapa hari ke belakang saat Davian melakukan
perjalanan bisnis kadang-kadang Fabio memilih tidur
siang di kamar utama—kamar kedua orang tuanya. Tapi
saat ini Davian sudah di rumah, dan dipastikan bapak
empat anak itu sedang beristirahat di kamarnya.
Setelah mengantar Fabio ke alam mimpinya, Emilia
pergi ke kamarnya. Benar saja, Davian terlelap dengan
damai.
Kasihan, lelakinya ini pasti sangat kelelahan.
Emilia kembali meninggalkan kamar setelah dirinya
berganti pakaian, sama sekali tak ingin mengganggu
waktu istirahat Davian.
Bukan hanya Emilia, bahkan keempat anaknya pun
tak ada yang berani mengusik Davian kala lelaki itu
tertidur. Sebab, Emilia yang memberi pengertian pada
mereka untuk tidak mengganggu sang papa saat sedang
istirahat.
Emilia sangat mengerti, lelakinya itu memiliki
banyak sekali kesibukan di luar sana. Jika bukan di
rumah, di mana lagi tempatnya untuk beristirahat. Lagi
pula, Davian bukanlah tipikal orang yang akan tidur
sepanjang hari di waktu libur, sekalipun telah melakukan
perjalanan panjang. Setidaknya dia hanya butuh waktu
kurang lebih satu atau dua jam untuk memejamkan
mata.
Davian terbangun saat merasa tubuhnya lebih
relaks. Ia duduk sejenak meregangkan tubuhnya
sebelum beranjak dari ranjang. Hampir pukul tiga sore,
sepertinya kali ini Davian tidur siang sedikit lebih lama
dari biasanya.
Davian membuka laci paling bawah, mengambil
sebungkus rokok dan koreknya sebelum ia berjalan ke
arah balkon.
Balkon kamar itu menghadap langsung ke arah
halaman belakang, seluruh penjuru tempat di halaman
belakang dapat di awasi dari sudut pandang Davian.
Davian hendak mengeluarkan sebatang nikotin
yang sudah ia bawa, namun urung saat ia mendengar
suara mungil memanggilnya. “Papaahhh...”
Di bawah sana, Fabio melambaikan tangan sambil
berjoget-joget kecil, dan siapa lagi itu yang
meneriakinya? Satu anak gadisnya yang duduk dengan
santai di batang pohon yang paling atas.
Demi Tuhan, Davian memilih menanam pohon
rindang itu untuk menyejukkan halaman belakang,
bukan untuk di panjat oleh Sienna.
“Bocah degil.” Ucap Davian, hanya dirinya sendiri
yang mendengar.
Skip ke waktu malam. Jam-jam intim pasangan ini.
Setelah melakukan makan malam bersama dan
menikmati secangkir teh di ruang keluarga, semua
kembali ke kamar sebelum malam semakin larut.
Terlebih si bungsu yang sudah merengek sejak pukul
setengah sembilan malam. Padatnya aktivitas yang
mereka lakukan, membuat waktu malamnya menjadi
singkat.
Emilia duduk bersandar di atas ranjang. Ia tutup
ponselnya saat melihat Davian keluar dari kamar mandi.
“Kakak sudah tidur?” Tanya Davian.
“Sudah.” Jawab Emilia, singkat. Tentu saja Sheila
yang ditanya, karena si sulung itu yang sering kali tidur
hingga larut malam, jika saja Davian atau Emilia tidak
melongok ke kamar, anak gadisnya itu terus keasyikan
mengerjakan tugas atau membaca buku.
Davian berjalan ke arah Emilia sambil melepas kaos
yang ia kenakan. Pria itu duduk tepat di hadapan sang
puan. Mengecup sekilas bibir Emilia dan tersenyum.
“Mas mau?” Emilia tertarik menyentuh biseps
lelakinya yang terpampang bebas.
Davian mengangguk. “Boleh?”
Emilia tersenyum dan mengangguk. Sebelum
Davian kembali menarik dagunya dan mengambil
ciuman pada bibir delima favoritnya.
Kalian tahukan apa yang terjadi selanjutnya? Tentu
saja sesuai dengan apa yang di pikiran kalian. Silakan
imajinasikan sendiri.
Di dalam selimut yang sama dengan tubuh tanpa
sehelai pakaian. Keduanya masih sangat segar setelah
beberapa menit lalu menyelesaikan aktivitas
dewasanya.
Emilia menggeser posisinya, miring menghadap ke
arah Davian, dengan satu tangan yang menjadi tumpuan
sehingga kepalanya sedikit terangkat. Satu tangan
lainnya usil mengusap-usap perut Davian yang sudah tak
se-sixpack dahulu.
“Kenapa?” Davian menoleh, membalas tatap
wanitanya.
“Sudah?”
“Hm?” Suara Davian terdengar semakin berat.
“Nggak minta tambah?”
Keduanya tertawa hingga Davian kembali
mengungkung Emilia di bawahnya.
“Aku tahu. Kamu sekali saja nggak cukup.”
“I love you.”
.....
Sudah, kita harus benar-benar mengakhiri cerita ini
sampai di sini, biarkan mereka bercinta sepanjang
malam, semoga saja besoknya tidak sakit pinggang.
Dari Meel, sampai bertemu di daily life keluarga
Alesxar yang lainnya. See you bye bye^^