0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan13 halaman

Pendidikan Karakter untuk Generasi Unggul

Pendidikan karakter adalah upaya pemerintah untuk menciptakan generasi yang berbudi luhur dan berprestasi, melibatkan pemahaman nilai-nilai perilaku manusia. Di perguruan tinggi, pendidikan karakter penting untuk membentuk mahasiswa yang memiliki moral, sosial, dan kemampuan kepemimpinan, serta berperan dalam pembangunan bangsa. Meskipun ada tantangan dalam implementasinya, pendidikan karakter di perguruan tinggi tetap diperlukan untuk menghasilkan individu yang seimbang antara intelektual dan nilai-nilai spiritual.

Diunggah oleh

blesia saragih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan13 halaman

Pendidikan Karakter untuk Generasi Unggul

Pendidikan karakter adalah upaya pemerintah untuk menciptakan generasi yang berbudi luhur dan berprestasi, melibatkan pemahaman nilai-nilai perilaku manusia. Di perguruan tinggi, pendidikan karakter penting untuk membentuk mahasiswa yang memiliki moral, sosial, dan kemampuan kepemimpinan, serta berperan dalam pembangunan bangsa. Meskipun ada tantangan dalam implementasinya, pendidikan karakter di perguruan tinggi tetap diperlukan untuk menghasilkan individu yang seimbang antara intelektual dan nilai-nilai spiritual.

Diunggah oleh

blesia saragih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDIDIKAN KARAKTER

A. Pengertian Pendidikan Karakter


Pendidikan karakter adalah suatu upaya baru yang dicanangkan
pemerintah guna meraih dan menghasilkan generasi-genarasi masa depan yang
prestatif dan berbudi luhur. Pendidikan karakter berasal dari dua suku kata ,
pendidikan dan karakter.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan adalah suatu
proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam
usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan dan
didikan. Sedangkan istilah karakter secara harfiah berasal dari bahasa Latin
“charakter”, ialah sifat batin manusia yg mempengaruhi segenap pikiran dan
tingkah laku, seperti watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian
atau akhlak yang menjadi ciri khas seseorang.
Maka, pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan
dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-
nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam
pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma
agama, hukum, tata krama, budaya, dan
adat istiadat.

B. Pendidikan Karakter dalam Berbagai Pandangan.


Adapun beberapa pandangan tentang pendidikan karakter :
Ø Ki Hadjar Dewantara pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk
memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran
(intelek), dan tubuh anak, dalam Taman Siswa tidak boleh dipisahkan
bagian-bagian itu agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup,
kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan
dunianya.
Ø Karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap
individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga,
masyarakat, bangsa, dan Negara, Suyanto (2009).

C. Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi


Proses perkembangan karakter pada seseorang dipengaruhi oleh banyak
faktor yang khas baik faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dimana
orang yang bersangkutan tumbuh dan berkembang. Pembentukan karakter
mahasiswa merupakan proses pendidikan yang memerlukan keterlibatan dari
berbagai pihak antara lain, keluarga, sekolah/kampus maupun masyarakat. Wadah
dari pengembangan ini adalah keluarga, kampus dan masyarakat, serta lembaga
formal maupun nonformal.
Pendidikan sebagai proses hominisasi dan humanisasi, membantu manusia
yang utuh, bermoral, bersosial, berkarakter, berkepribadi, berpengetahuan dan
berohani. Pendidikan merupakan proses yang dilakukan oleh setiap individu
menuju kearah yang lebih baik sesuai dengan potensi kemanusiaan. Pendidikan
berperan penting dalam membentuk karakter. Untuk membangun bangsa yang
berkarakter dimulai dari manusia yang berakhlak mulia atau berbudi pekerti luhur.
Setiap individu dianjurkan untuk membangun karakter bangsa sesuai
kapasitasnya, sebagai ilmuwan, pemimpin, hartawan maupun orang awam.
Soemarno Sudarsono mengatakan ada enam hal dalam membentuk karakter, yaitu
kejujuran, keterbukaan, keberanian mengambil resiko, bertanggung jawab,
memenuhi komitmen dan kemampuan berbagi.
Menurut Djohar, membangun karakter dikategorikan sebagai komponen
“the hidden curriculum” yang pencapaiannya tergantung pada proses pendidikan
pada substansi pendidikannya. Kebiasaan mahasiswa belajar akan mewarnai
karakter mereka. Karakter tidak dapat diajarkan, akan tetapi diperoleh dari
pengalaman, oleh karena itu harus dilatihkan. Kebiasaan sehari-hari dapat
menghasilkan pengalaman belajar. Pembangunan moral dan karakter lebih efektif
melalui dialogik dengan mendiskusikan kasus nyata yang diangkat melalui proses
pelatihan itu. Proses dalam pendidikan terbuka kondusif untuk pembangunan
karakter itu.
Mahasiswa berperan sebagai kontrol sosial dan menjadi golongan
masyarakat yang memberikan perubahan. Di dalam civil society, mahasiswa harus
memberikan peranan yang adil, egaliter, beretika, aspiratif-partisipatif, dan
nonhegemonik. Intinya kekuatan mahasiswa terletak pada ide, pemikiran, dan
gagasannya.
Perguruan Tinggi membentuk insan akademis yang dapat melakukan
learning by themselves atau belajar secara mandiri dengan melakukan self
improvement serta mencari dan membela kebenaran ilmiah. Dengan adanya
pendidikan karakter yang diterapkan di Perguruan Tinggi maka diharapkan
mahasiswa dapat merancang visi masa depan untuk diri sendiri, lingkungan, dan
keluarga dan membentuk masyarakat madani yang kreatif dan inovatif.
Pendidikan yang diberikan dari Perguruan Tinggi ini mengarahkan pada
perjuangan mahasiswa untuk mendekatkan realita dengan kondisi ideal. Di
lingkungan perguruan tinggi mahasiswa merupakan elemen yang paling peka
merespon problematika bangsa sebagai promotor “people power” yang
menyangkut kepentingan masyarakat umum. Begitu banyak kegiatan yang
dijalankan, mulai dari diskusi, seminar sampai pada demonstrasi damai yang
kritis-analisi untuk memperjuangkan kebenaran dan menjunjung tinggi
kesejahteraan. Mahasiswa sebagai agen perubahan dimaksudkan bahwa dalam
mengadakan sebuah perubahan yang holistik dan sistematik demi kemaslahatan
bersama, maka mahasiswa dituntut memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk itu.
Pendidikan yang hanya berbasis pada pengembangan intelektual tanpa
pengembangan nilai-nilai spiritual dan keseimbangan emosional, merupakan
metode pendidikan yang perlu dikoreksi. Sebab, intelegensia tinggi tanpa
diimbangi dengan nilai-nilai spiritual dan keseimbangan emosional, tidak akan
menghasilkan kecerdasan sosial yang diharapkan.
Dalam kaitan dengan pengembangan karakter dan kepribadian secara
sistemik di perguruan tinggi, dalam pembinaan pembelajaran dan kemahasiswaan
akan sangat dibutuhkan tahapan yang jelas dan terukur dengan program yang
sistemik dan berkesinambungan, yaitu :
1. Tahap pertama, antara semester 1 sampai semester 3 adalah pembelajaran
untuk pembentukan jati diri. Mengantarkan mahasiswa menemukan jati
dirinya sebagai manusia yang memiliki beragam potensi, sekaligus memiliki
beragam kelemahan.
2. Tahap kedua, antara semester 4 sampai 6, tahap pembelajaran dan
pembimbingan untuk pembentukan daya kreasi dan inovasi mahasiswa.
Proses pembelajaran dikembangkan untuk mempersiapkan, membangun
suatu kondisi sehingga kreasi, kreatifitas dan daya inovasi mahasiswa
dapat ditingkatkan dan mahasiswa berperan aktif dalam berbagai aktivitas
belajar dan kegiatan kemahasiswaan.
3. Tahap ketiga, antara semester 7 sampai 8 adalah tahapan pembelajaran
yang lebih diorientasikan pada pembentukan dan pematangan jiwa
kewirausahaan, kepemimpinan dan manajemen mahasiswa. Sehingga
peningkatan karakter dan kepribadian mahasiswa lebih berfokus pada
latihan kepemimpinan dan keterampilan komunikasi, berargumentasi
secara ilmiah. Tahap ini merupakan tahap terakhir dari proses pembinaan
pembelajaran bagi mahasiswa di kampus.
Kapasitas seseorang dapat ditentukan oleh akumulasi 2 fungsi yaitu
kompetensi bidang ilmu (hard skills) dan karakter (soft skills), sehingga
pengembangan karakter harus dimulai dari pelatihan soft skills. Pendidikan
karakter adalah bagian dari pendidikan soft skills. Dengan adanya karakter yang
kuat adalah kelebihan dan kekuatan seseorang, apabila tidak disertai dengan
karakter yang baik, kelebihan dan kekuatan itu akan muncul sebagai kelemahan.
Sebaliknya orang yang memiliki potensi sederhana tetapi karakternya luar biasa,
maka dapat dipastikan dia memiliki potensi yang besar. Satu unsur penting yang
sepertinya selama ini diabaikan dalam praktek pendidikan adalah metode
keteladanan yang proposional. Keteladanan dianjurkan dalam rangka mengantar
pendidikan yang mampu membentuk karakter mahasiswa.
Pembentukan karakter generasi muda bangsa merupakan hal yang sangat
penting bagi suatu bangsa dan bahkan menentukan nasib bangsa itu di masa depan
termasuk juga Indonesia. Namun pada kenyataannya, di era globalisasi yang telah
menempatkan generasi muda Indonesia pada derasnya arus informasi yang
semakin bebas, sejalan dengan kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi
sebagai akibat dari globalisasi. Akibat dari globalisasi tersebut, nilai-nilai asing
secara disadari maupun tidak disadari telah memberi pengaruh langsung maupun
tidak langsung kepada generasi muda Indonesia.
Pembangunan karakter dikalangan generasi muda perlu dilakukan secara
serius, karena generasi miuda memiliki peran penting dalam pembangunan
bangsa. Menurut Hatta Rajasa, fungsi generasi muda dalam pembangunan
karakter bangsa adalah:
1. Generasi muda sebagai pembangun- kembali karakter bangsa (character
builder). Di era globalisasi ini, peran generasi muda adalah membangun
kembali karakter positif bangsa seperti misalnya meningkatkan dan
melestarikan karakter bangsa yang positif sehingga pembangunan
kemandirian bangsa sesuai pancasila dapat tercapai sekaligus dapat
bertahan ditengah hantaman globalisasi.
2. Generasi muda sebagai pemberdaya karakter (character enabler).
Pembangunan kembali karakter bangsa tentu tidak cukup, jika tidak
dilakukan pemberdayaan secara terus menerus. Sehingga generasi muda
juga dituntut untuk mengambil peran sebagai pemberdaya karakter atau character
enabler. Misalnya dengan kemauan yang kuat dan semangat juang dari generasi
muda untuk menjadi role model dari pengembangan dan pembangunan karakter
bangsa Indonesia yang positif di masa depan agar menjadi bangsa yang mandiri.
3. Generasi muda sebagai perekayasa karakter (character engineer) sejalan
dengan dibutuhkannya adaptifitas daya saing generasi muda untuk
memperkuat ketahanan bangsa Indonesia. Character engineer menuntut
generasi muda untuk terus melakukan pembelajaran. Pengembangan dan
pembangunan karakter positif generasi muda bangsa juga menuntut
adanya modifikasi dan rekayasa yang sesuai dengan perkembangan dunia.
Contohnya adalah karakter pejuang dan patriotism yang tidak harus
diartikulasikan dalam konteks fisik, tetapi dapat dalam konteks lainnya
yang bersifat non-fisik. Esensinya adalah peran genarasi muda dalam
pemberdayaan karakter tersebut.
Khususnya di Perguruan Tinggi, peran semua civitas akademika kampus
sangat penting. Hal ini karena pendidikan karakter bukan untuk mahasiswa saja
akan tetapi juga selluruh elemen kampus. Mahasiswa selalu melihat perilaku
dosen dan meniilai dosen mana yang baik dan buruk dari kacamata mahsiswa.
Dosen yang baik akan menjadi panutan mahasiswa, artinya baik bukan hanya
sekedar member nilai yang baik, tetapi baik karena memenuhi criteria sebagai
dosen.

D. Pentingnya Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi


Secara khusus, Pemerintah Indonesia melalui kebijakan nasional
pembangunan karakter bangsa, menekankan perlunya pendidikan karakter bagi
bangsa dengan beberapa alasan adanya (1) disorientasi dan belum dihayatinya
nilai-nilai Pancasila; (2) keterbatasan perangkat kebijakan terpadu dalam
mewujudkan nilai-nilai Pancasila; (3) bergesernya nilai etika dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara; (4) memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya
bangsa; ancaman disintegrasi bangsa; dan (5) melemahnya kemandirian bangsa
(Buku Induk Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025,
dalam Siswanto 2011).
Melalui UU no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
ditegaskan komitmen tentang pendidikan karakter sebagaimana termuat dalam
rumusan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. Dalam kaitannya dengan perguruan tinggi, Peraturan Pemerintah no 17
tahun 2010 pasal 84 ayat 2, menyebutkan bahwa perguruan tinggi memiliki tujuan
membentuk insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur, sehat, berilmu dan cakap, kritis,
kreatif, inovatif, mandiri, percaya diri, dan berjiwa wirausaha, serta toleran, peka
sosial dan lingkungan, demokrtis dan bertanggung jawab.
Berdasarkan UU Sisdiknas tahun 2003 dan PP no 17 tahun 2010 diatas,
nampak jelas bahwa pemerintah Indonesia memberikan dukungan secara konkrit
pada pendidikan karakter ini. Mengingat keberhasilan institusi pendidikan
terletak tidak saja pada penguasaan ilmu pengetahuan namun juga pada
pembentukan karakter yang baik pada anak didiknya, maka tanggungjawab
pembentukan karakter baik tidak hanya terletak pada tingkat pendidikan sekolah
dasar dan menengah namun juga perguruan tinggi. Meskipun demikian, yang
selama ini terjadi adalah penerapan pendidikan karakter dominan dilakukan pada
pendidikan dikedua level sebelumnya, dan belum pada level perguruan tinggi.

Pendid ikan karakter di perguruan tinggi : masihkah diperlukan ?


Perguruan tinggi, menurut Flexner (dalam Syukri 2009) merupakan tempat
pencarian ilmu pengetahuan, pemecahan berbagai masalah, tempat mengkritisi
karya-karya yang dihasilkan, dan sebagai pusat pelatihan manusia. Senada dengan
Flexner, Syukri (2009) menyatakan dunia perguruan tinggi merupakan tempat
menyemai, mendidik dan melatih mahasiswa agar menjadi mahasiswa yang
memiliki daya nalar tinggi, analisis tajam dan luas. Sayangnya perguruan tinggi
kurang memberikan porsi pada pembentukan karakter mahasiswa. Bahkan Arthur
(dalam Syukri, 2009) menyatakan jika perguruan tinggi menjanjikan
pembentukan dan pengembangan karakter mahasiswa seperti yang terjadi di
Inggris, semua itu hanya retorika institusi universitas modern.
Sementara itu, menurut Syukri (2009) masyarakat Indonesia masih
menaruh harapan pada perguruan tinggi sebagai tempat latihan dan pendidikan
putra putrinya menjadi kaum intelektual yang memiliki ilmu tinggi dan perilaku
terpuji. Ironisnya tak ada perguruan tinggi yang menjamin lulusannya memiliki
moral etika yang baik.
Disisi lain, misi perguruan tinggi adalah pengajaran, penelitian dan
aplikasi ilmu pengetahuan (Arthur, dalam Syukri 2009), sehingga secara eksplisit
pembentukan karakter dianggap bukan merupakan tugas perguruan tinggi. Oleh
karena itu implementasi pendidikan karakter di perguruan tinggi akan menemui
tantangan tersendiri. Schwartz (2000) menyatakan beberapa hal yang
menyebabkan pendidikan karakter di perguruan tinggi akan menemui kendala
karena adanya pendapat yang keliru yaitu :
1. Karakter seseorang sudah terbentuk sebelum masuk ke perguruan tinggi
dan merupakan tanggung jawab orangtua untuk membentuk karakter
anaknya.
2. Perguruan tinggi, khususnya dosen, tidak memiliki kepentingan dengan
pembentukan karakter, karena mereka direkrut bukan untuk melakukan hal
tersebut
3. Karakter merupakan istilah yang mengacu pada agama atau idiologi
konservatif tertentu, sementara itu perguruan tinggi di barat secara umum
melepaskan diri dari agama atau idiologi tertentu.
Keengganan perguruan tinggi di barat seperti Inggris dan Amerika Serikat,
mengurus masalah moral antara lain karena masalah moral merupakan wilayah
pribadi dan mereka dipengaruhi oleh idiologi liberal yang telah menjadi gaya
hidup. Selain itu, ada empat alasan perguruan tinggi, khususnya di Inggris yang
tidak menaruh perhatian pada pembentukan moral mahasisiwa: 1) takut dengan
tuntutan berbagai macam karakter dan perilaku mahasiswa untuk mendapatkan
pembinaan, 2) menjalankan pendidikan sesuai dengan kebijakan politik
pemerintah, 3) mahasiswa diarahkan menjadi warga negara yang demokratis, 4)
perguruan tinggi mengembangkan karakter sesuai dengan tuntutan pasar dan
jaringan (Arthur, dalam Syukri 2009).
Uraian diatas menggambarkan bahwa meskipun pendidikan karakter di
perguruan tinggi bisa melengkapi puzzle karakter yang belum terbentuk pada
tingkatan pendidikan sebelumnya, namun hal tersebut tidak akan berjalan dengan
mudah. Schwartz (2000) juga menyatakan hanya ada relatif sedikit institusi,
biasanya institusi kecil yang berafiliasi agama atau berjuang untuk menginspirasi,
yang memiliki komitmen luas dan komprehensif terhadap perkembangan karakter
dalam semua dimensi kehidupan perguruan tinggi.
Meskipun demikian, perguruan tinggi tidak boleh lepas tangan atau lepas
tanggung jawab dengan alasan apapun termasuk menganggap bahwa karakter
sudah terbentuk sebelum mahasiswa masuk perguruan tinggi, merupakan
tanggung jawab orangtua dan institusi pendidikan di tingkat bawahnya, apalagi
dengan alasan beban berat menghasilkan lulusan sesuai tuntutan pasar. Sebagai
institusi pencetak sumber daya manusia yang akan menjadi penyokong utama
kualitas sumber daya manusia Indonesia, perguruan tinggi memikul tanggung
jawab mewujudkan amanat UU sistem pendidikan nasional tahun 2003 dan PP no
17 tahun 2010 tentang perguruan tinggi.
Selain itu, ketiadaan koordinasi mengenai karakter apa yang akan dibentuk
pada tingkat pendidikan dasar, menengah pertama maupun menengah atas,
menjadikan kedudukan perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan yang paling
akhir untuk melengkapi puzzle karakter yang belum ada dan membentuk karakter
menjadi “bangunan moral yang sudah jadi dan kokoh” pada mahasiswa. Dengan
demikian, lulusan perguruan tinggi akan menjadi manusia dengan kualitas ganda
baik kualitas profesional sesuai keilmuannya dan kualitas moral yang tinggi,
sehingga dapat berkiprah sebagai warga negara yang baik sesuai bidang
pekerjaannya.
Untuk mewujudkan pembentukan karakter Schwartz (2000) menyatakan
universitas, baik yang berlatarbelakang religius maupun yang sekuler, dapat
menggunakan kekuatan kurikulumnya, khususnya efek baiknya, untuk
membentuk pemikiran tetapi juga karakternya. Kurikulum ini tidak saja
membentuk intelectual habits namun juga moral habits mahasiswa.
Perguruan tinggi memiliki pilihan dalam mengajarkan pembentukan karakter
yaitu dapat mengintegrasikannya secara alami dengan kurikulum standar maupun
mengajarkan beriringan dengan kurikulum standar. Dibandingkan dengan
menambahkan serangkaian pertemuan terpisah pada kurikulum yang
sesungguhnya sudah padat, pilihan yang mudah adalah mengintegrasikan dengan
mata pelajaran/mata kuliah pada semua kelas oleh semua pendidik (Stiff- William,
2010). Hal ini sesuai dengan salah satu pilar pendidikan yang digariskan
UNESCO dalam memberikan rambu-rambu menyusun kurikulum untuk
pengembangan kepribadian mahasiswa yaitu learning to be (belajar memahami
diri sendiri). Perguruan tinggi di Indonesia, menggunakan istilah khusus berkaitan
dengan hal tersebut yaitu Mata Kuliah Pengembangan kepribadian (Syukri,
2009).
Dengan demikian jika perguruan tinggi tidak menyusun program
pendidikan karakter tersendiri namun mengintegrasikannya kedalam kurikulum
standar yang sudah ada, maka yang perlu dilakukan adalah meninjau kembali
muatan mata kuliah pengembangan kepribadian dan mengembalikannya ke arah
pembentukan karakter sesuai amanat Undang- undang Sisdiknas. Tentu saja hal
ini membawa konsekuensi cara pengajaran yang berbeda dan cara pemberian nilai
yang berbeda, tidak lagi mengevaluasi penguasaan teori atau kemampuan kognitif
mahasiswa namun lebih jauh mengevaluasi implementasi karakter atau nilai-nilai
luhur. Adapun bentuk evaluasi maupun formula penilaiannya dapat didiskusikan
lebih lanjut dengan dosen-dosen sehingga kepemilikan program ini menjadi ada
pada seluruh civitas akademika.
Selain melalui mata kuliah pengembangan kepribadian, semua dosen pada
semua mata kuliah hendaknya menjadi figur yang mempraktekkan pembentukan
karakter ini dalam semua aktivitas di kelas maupun di luar kelas. Jika hal ini bisa
dilakukan maka semua lingkungan di kampus, baik di kelas, luar kelas maupun
kantor administratif akan mencerminkan lingkungan yang mendukung
pembentukan karakter.
Beberapa kondisi diluar kurikulum yang perlu diperhatikan perguruan
tinggi karena hal-hal tersebut mendukung suksesnya implementasi pendidikan
karakter menurut Melinda dan Berkowitz (2005) adalah : 1) budaya kampus dan
praktik-praktik interpersonal yang menjamin bahwa mahasiswa diperlakukan
dengan perhatian dan hormat, 2) Dosen, staf menjadi model karakter yang baik
bagi mahasiswa, menghidupkan nilai-nilai dalam interaksi keseharian dengan
mahasiswa, 3) memberikan kesempatan pada mahasiswa memiliki otonomi dan
pengaruh dalam pengelolaan perguruan tinggi seperti memberikan wadah untuk
menampung aspirasi mahasiswa, 4) memberikan kesempatan mahasiswa untuk
reflesi, berdebat maupun berkolaborasi mencari pemecahan masalah isu-isu
moral, 5) sharing visi dan sense of collectivity and responsibility, 6) social skill
training artinya kampus menyelenggarakan pelatihan bagi mahasiswa yang
tujuannya agar mahasiswa dapat melakuan penyesuaian jangka panjang dengan
memperkuat ketrampilan pemecahan masalah interpersonal, 7) memberi
kesempatan lebih pada mahasiswa untuk berpartisipasi dalam dalam kegiatan
pelayanan masyarakat oleh kampus yang bisa menaikkan perilaku moral.
Dengan demikian, dosen maupun staf administratif akan menemui
tantangan tersendiri karena mereka akan menjadi pribadi yang juga berupaya
menjadi model yang baik bagi mahasiswa. Schwartz (2000) menyebutnya dengan
istilah mendorong dan menginspirasi agar mahasiswa mengembangkan moral
yang baik dan trait, yang akan membuat mereka menjadi orang dewasa yang
matang dan bertanggung jawab.
Hal yang tak kalah penting menurut Syukri (2009) adalah kejujuran
perguruan tinggi akan ketidakmampuannya untuk berdiri sendiri
menyelenggarakan pendidikan karakter. Perguruan tinggi harus mengakui bahwa
kerjasama dengan stake holder, dalam hal ini orangtua dan masyarakat sekitar
adalah penting. Satu hal yang bisa dilakukan, menurut Melinda dan Berkowitz
(2005) adalah dengan memberikan newsletter mengenai pembentukan karakter
dalam keluarga dan masyarakat.
Meskipun berbagai strategi dan pendekatan yang digunakan mungkin
berbeda namun tujuannya adalah sama yaitu mendorong dan menginspirasi
mahasiswa untuk mengembangkan dan menerapkan moralnya sendiri ketika
berada dalam tekanan lingkungan (Schwartz, 2000)

E. Model-Model Implementasi Pendidikan Karakter di Perguruan


Tinggi
Sebagai individu dewasa, mahasiswa dicirikan dengan ciri-ciri, antara lain:
1. Merupakan pribadi mandiri yang memiliki identitas diri
2. Pentingnya keterlibatan / partisipasi
3. Mengharapkan pengakuan, saling percaya dan menghargai
4. Tidak senang dipaksa atau ditekan
5. Memiliki kepercayaan dan tanggung jawab diri
6. Pengawasan dan pengendalian berada disekililingnya
7. Belajar mengarahkan pada pencapaian pemantapan identitas diri
8. Belajar merupakan proses untuk mencapai aktualisasi diri (self
actualization)
Selaian sebagai orang dewasa, mahasiswa juga disebut sebagai pebelajar
dewasa (adult learner/adult student) adalah individu yang sedang dalam proses
belajar yang oleh lingkungan sosialnya sudah dianggap dewasa, baik dalam
pendidikan formal maupun non formal. Pebelajar dewasa dicirikan belajar
berbasis masalah dan mencari ilmu untuk memecahkan solusi tertentu dank arena
suatu kebutuhan yang jelas, terutama berhubungan dengan karier dan
kehidupannya (Budu:2012).
Mahasiswa dengan berbagai karakternya memiliki peranan dan fungsi
yang sangat strategi dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Ada tiga
peran dan fungsi utama mahasiswa, yaitu: agent of change, social of control, dan
moral force (manggala:2011). Sebagai agen perubahan (agent of change),
mahasiswa memiliki tanggung jawab yang besar dalam membuat perubahan-
perubahan mendasar dalam masyarakat.
Melihat peran dan fungsi mahasiswa yang begitu strategis, mahasiswa
perlu memiliki karakter yang kuat. Karakter tersebut tidak bisa dibentuk secara
otomatis. Seorang mahasiswa yang menyelesaikan pendidikan disebuah perguruan
tinggi misalnya, tidak serta merta memiliki karakter mulia tertentu secara otomatis
setelah melalui semua proses pembelajarannya.
Karakter mahasiswa dapat dikembangkan diperguruan tinggi. Karena
karakter seseorng dapat tumbuh secara perlahan dan berkelanjutan melalui proses
pendidikan. Perguruan tinggi merupakan jenjang pendidikan kelanjutan dari
jenjang-jenjang pendidikan sebelumnya, dari TK, SD, SMP dan SMA. Seorang
tidak mungkin menjadi mahasiswa tanpa melalui jenjang-jenjang pendidikan
sebelumnya.
Buchori(2010) mengungkapkan: “pembentukan karakter perlu waktu
panjang, dari masa kanak-kanak sampai usia dewasa ketika seseorang mampu
mengambil keputusan mengenai dirinya sendiri dan mempertanggung jawabkan
kepada dirinya sendiri.”
Berdasarkan pada pemikiran bahwa karakter mahasiswa dapat
dikembangkan secara perlahan dan berkelanjutan, pendidikan karakter
diperguruan tinggi haruslah memperhatikan bahwa terbentuknya karakter
seseorang dipengaruhi banyak factor. Djohar(2011) mengidentifikasi tiga factor
yang mempengaruhi terbentuknya karakter seseorag yaitu:
1. Modal budaya yang dibawa sejak kecil
2. Dampak lingkungannya
3. Kekuatan individu orang merespons dampak lingkungannya.
Dalam konteks perguruan tinggi, modal budaya dipengaruhi oleh konteks
lingkungan dimana mahasiswa hidup, sehingga membentuk pengalaman,
sekaligus karakternya. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan yang kondusif
dan mendukung menjadi sangat penting dalam rangka menumbuhn kembangkan
karakter seorang mahasiswa. Dalam konteks perguruan tinggi, lingkungan
kampus, baik ekosistem dan akademiknya seharusnya disusun sedemikian rupa,
sehingga mendukung pengembangan karakter mahasiswa.
Pada tahun 2010, pemerintah telah membuat dan menetapkan kebijakan
Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Tahun 2010-2025. Tujuan tersebut
adalah “membina dan mengembangkan karakter warga Negara sehingga mampu
mewujudkan masyarakat yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan
yang adil dan beradab., berjiwa pemersatu Indonesia, berjiwa kerakyatan yang
dimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, dan
keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia (Pemerintahan RI, 2010:4).
Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa memiliki tiga fungsi utama,
yaitu:
1. Pegembangan potensi dasar, agar berhati baik, berpikiran baik, dan
berperilaku baik.
2. Perbaikan perilaku yang kurang baik dan penguatan perilaku yang sudah
baik.
3. Penyaring budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai luhur pancasila.

Anda mungkin juga menyukai