PERCOBAAN 2
SPEKTROSKOPI SERAPAN ATOM
(AA7000 SHIMDZU)
2.1 Tujuan Instruksional khusus:
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapakan dapat:
1. Menjelaskan prinsip penentuan kadar unsur logam (Fe) dengan instrumen
spektrofotometer serapan atom dengan benar
2. Mengoperasikan instrumen spektrofotometer serapan atom (AA7000
Shimadzu) dengan benar
3. Menentukan kadar unsur logam (Fe) pada air sampel dengan metode kurva
kalibrasi
2.2 Dasar Teori:
Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) adalah suatu alat yang digunakan pada
metode analisis untuk penentuan unsur unsur logam dan metaloid yang didasarkan pada
penyerapan (absorbsi) radiasi oleh atom bebas. Analisis Spektroskopi serapan atom
merupakan teknik analisis kuantitafif dari unsur logam yang terkandung pada sampel yang
pemakainnya sangat luas di berbagai bidang karena prosedurnya selektif, spesifik, biaya
analisisnya relatif murah, sensitivitasnya tinggi (ppm/ppb), dapat dengan mudah membuat
matriks yang sesuai dengan standar, waktu analisis sangat cepat dan mudah dilakukan.
Air baku untuk air minum atau untuk keperluan industri memiliki persyaratan
ambang batas logam yang dikandungnya, sebagai contoh kandungan unsur besi (Fe) pada
air dengan konsentrasi ±1 ppm telah mengakibatkan aroma dan rasa yang tidak layak untuk
dikonsumsi.
2.2.1 Prinsip Metode Spektroskopi
Spektroskopi serapan atom adalah suatu metode analisis yang didasarkan pada
proses penyerapan energi radiasi oleh atom‐atom yang berada pada tingkat energi dasar
(ground state). Penyerapan tersebut menyebabkan tereksitasinya elektron dalam kulit atom
ke tingkat energi yang lebih tinggi. Keadaan ini bersifat labil, elektron akan kembali ke
tingkat energi dasar sambil mengeluarkan energi yang berbentuk radiasi. Dalam AAS, atom
bebas berinteraksi dengan berbagai bentuk energi seperti energi panas, energi
elektromagnetik, energi kimia dan energi listrik. Interaksi ini menimbulkan proses‐proses
dalam atom bebas yang menghasilkan absorpsi dan emisi (pancaran) radiasi dan panas.
Radiasi yang dipancarkan bersifat khas karena mempunyai panjang gelombang
karakteristik untuk setiap atom bebas. Adanya absorpsi atau emisi radiasi disebabkan
adanya transisi elektronik yaitu perpindahan elektron dalam atom, dari tingkat energi yang
satu ke tingkat energi yang lain. Absorpsi radiasi terjadi apabila ada elektron yang
mengabsorpsi energi radiasi sehingga berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Emisi
terjadi apabila ada elektron yang berpindah ke tingkat energi yang lebih rendah sehingga
terjadi pelepasan energi dalam bentuk radiasi. Panjang gelombang dari radiasi yang
menyebabkan eksitasi ke tingkat eksitasi tingkat‐1 disebut panjang gelombang radiasi
resonansi. Radiasi ini berasal dari unsur logam/metaloid. Radiasi resonansi dari unsur X
hanya dapat diabsorpsi oleh atom X, sebaliknya atom X tidak dapat mengabsorpsi radiasi
resonansi unsur Y. Tak ada satupun unsur dalam susunan berkala yang radiasi resonansinya
menyamai unsur lain. Hal inilah yang menyebabkan metode AAS sangat spesifik dan
hampir bebas gangguan karena frekuensi radiasi yang diserap adalah karakteristik untuk
setiap unsur. Gangguan hanya akan terjadi apabila panjang radiasi resonansi dari dua unsur
yang sangat berdekatan satu sama lain.
Praktikum Kimia Analisis II Prodi TK 2019-2020 Page 10
Bila seberkas sinar radiasi dengan intensitas awal (Io) dilewatkan melalui medium
yang panjangnya b dan mengandung atom-atom pada tingkat energi dasar dengan
konsentrasi c, maka radiasi akan diserap sebagian (Absorbans) dan intensitas radiasi yang
diteruskan (Transmitans) akan berkurang menjadi It, sehingga berlaku persamaan:
Log Io/It = A = a.b.c = -log It/Io = -logT
Persamaan di atas dikenal sebagai hukum Lambert-Beer, yang merupakan dasar
bagi semua analisis kuantitatif dalam spektrofotometri, termasuk spektrofotometri serapan
atom (AAS). Persamaan tersebut menunjukkan bahwa Absorbansi berbanding lurus
dengan Konsentrasi atom pada tingkat energi dasar dalam nyala (sel absorbsi). Besarnya
konsentrasi atom-atom ini sebanding dengan konsentrasi unsur-unsur dalam sampel.
Pada metode AAS, sampel dibuat dalm bentuk larutan dan atomisasi dilakukan
dengan memasukkan larutan sampel ke dalam burner (nyala gas bakar). Besarnya suhu
nyala yang diperlukan untuk atomisasi setiap unsur berbeda. Campuran gas yang paling
umum digunakan adalah Udara : C2H2 (suhu nyala 1900 – 2000 ºC), N2O : C2H2 (suhu nyala
2700 – 3000 ºC), Udara : propana (suhu nyala 1700 – 1900 ºC). Banyaknya atom dalam
nyala tergantung pada suhu nyala. Suhu nyala tergantung perbandingan gas bahan bakar
(combustible gas) dan gas oksidan (support gas)
2.2.2 Atomisasi
Tahapan perubahan yang terjadi pada larutan sampel saat dianalisis dengan AAS
adalah sebagai berikut:
1. Larutan unsur logam M (garam M+A-)
2. Molekul-molekul netral garam logam M (garam MA dalam bentuk gas)
3. a. Atom-atom M pada tingkat energi dasar (atom normal)
b. senyawa oksida dari logam M yang sukar pecah
c. molekul garam MA dalam keadaan tereksitasi
4. a. Atom M dalam keaadaan tereksitasi (M*)
b. senyawa oksida logam M dalam keadaan tereksitasi
5. Ion logam M (elektron terluar dari logam M lepas)
6. Ion logam M dalam keadaan tereksitasi
Pada analisis spektrofotometri serapan atom, tahapan kejadian yang diharapkan adalah
mengikuti 1 2 3a, selanjutnya dengan adanya radiasi resonansi dari lampu katoda
berongga yang sesuai yang dilewatkan, akan terjadi penyerapan dan atom-atom akan
tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi menjadi M* (3a 4a).
Ada tiga cara atomisasi (pembentukan atom) dalam AAS :
1. Atomisasi dengan nyala
Suatu senyawa logam yang dipanaskan akan membentuk atom logam pada suhu ± 1700
ºC atau lebih. Sampel yang berbentuk cairan akan dilakukan atomisasi dengan cara
memasukan cairan tersebut ke dalam nyala campuran gas bakar. Tingginya suhu nyala
yang diperlukan untuk atomisasi setiap unsur berbeda. Beberapa unsur dapat ditentukan
dengan nyala dari campuran gas yang berbeda tetapi penggunaan bahan bakar dan
oksidan yang berbeda akan memberikan sensitivitas yang berbeda pula. Syarat‐syarat
gas yang dapat digunakan dalam atomisasi dengan nyala:
• Campuran gas memberikan suhu nyala yang sesuai untuk atomisasi unsur yang akan
dianalisa
• Tidak berbahaya misalnya tidak mudah menimbulkan ledakan.
• Gas cukup aman, tidak beracun dan mudah dikendalikan
• Gas cukup murni dan bersih (UHP)
Praktikum Kimia Analisis II Prodi TK 2019-2020 Page 11
2. Atomisasi tanpa nyala
Atomisasi tanpa nyala dilakukan dengan mengalirkan energi listrik pada batang karbon
(CRA – Carbon Rod Atomizer) atau tabung karbon (GTA – Graphite Tube Atomizer)
yang mempunyai 2 elektroda. Sampel dimasukan ke dalam CRA atau GTA. Arus listrik
dialirkan sehingga batang atau tabung menjadi panas (suhu naik menjadi tinggi) dan
unsur yang dianalisa akan teratomisasi. Suhu dapat diatur hingga 3000 ºC. Pemanasan
larutan sampel melalui tiga tahapan yaitu :
• Tahap pengeringan (drying) untuk menguapkan pelarut
• Pengabuan (ashing), suhu furnace dinaikkan bertahap sampai terjadi dekomposisi dan
penguapan senyawa organik yang ada dalam sampel sehingga diperoleh garam atau
oksida logam
• Pengatoman (atomization)
3. Atomisasi dengan pembentukan senyawa hidrida
Atomisasi dengan pembentukan senyawa hidrida dilakukan untuk unsur As, Se, Sb
yang mudah terurai apabila dipanaskan pada suhu lebih dari 800 ºC sehingga atomisasi
dilakukan dengan membentuk senyawa hidrida berbentuk gas atau yang lebih terurai
menjadi atom‐atomnya melalui reaksi reduksi oleh SnCl2 atau NaBH4, contohnya
merkuri (Hg).
2.2.3 Komponen Peralatan
Susunan alat AAS terdiri atas 5 bagian penting, yaitu sumber radiasi, atomizer,
monokromator, detektor dan rekorder.
1. Sumber radiasi
Sumber radiasi resonansi yang digunakan adalah lampu katoda berongga (Hollow Cathode
Lamp) atau Electrodeless Discharge Tube (EDT). Elektroda lampu katoda berongga
biasanya terdiri dari wolfram dan katoda berongga dilapisi dengan unsur murni atau
campuran dari unsur murni yang dikehendaki. Tabung lampu dan jendela (window) terbuat
dari silika atau kuarsa, diisi dengan gas pengisi yang dapat menghasilkan proses ionisasi.
Gas pengisi yang biasanya digunakan ialah Ne, Ar atau He. Pemancaran radiasi resonansi
terjadi bila kedua elektroda diberi tegangan, arus listrik yang terjadi menimbulkan ionisasi
gas‐gas pengisi. Ion‐ion gas yang bermuatan positif ini menembaki atom‐atom yang terdapat
pada katoda yang menyebabkan tereksitasinya atom‐atom tersebut. Atom‐atom yang
tereksitasi ini bersifat tidak stabil dan akan kembali ke tingkat dasar dengan melepaskan
energi eksitasinya dalam bentuk radiasi. Radiasi ini yang dilewatkan melalui atom yang
berada dalam nyala.
2. Atomizer
Atomizer terdiri atas Nebulizer (sistem pengabut), spray chamber dan burner (sistem
pembakar).
• Nebulizer berfungsi untuk mengubah larutan menjadi aerosol (butir‐butir kabut dengan
ukuran partikel 15 – 20 μm) dengan cara menarik larutan melalui kapiler (akibat efek
dari aliran udara) dengan pengisapan gas bahan bakar dan oksidan, disemprotkan ke
ruang pengabut. Partikel‐partikel kabut yang halus kemudian bersama‐sama aliran
campuran gas bahan bakar, masuk ke dalam nyala, sedangkan titik kabut yang besar
dialirkan melalui saluran pembuangan.
• Spray chamber berfungsi untuk membuat campuran yang homogen antara gas oksidan,
bahan bakar dan aerosol yang mengandung contoh sebelum memasuki burner.
• Burner merupakan sistem tempat terjadinya atomisasi yaitu pengubahan kabut/uap
garam unsur yang akan dianalisis menjadi atom‐atom normal dalam nyala.
Praktikum Kimia Analisis II Prodi TK 2019-2020 Page 12
3. Monokromator
Setelah radiasi resonansi dari lampu katoda berongga melalui populasi atom di dalam nyala,
energi radiasi ini sebagian diserap dan sebagian lagi diteruskan. Fraksi radiasi yang
diteruskan dipisahkan dari radiasi lainnya. Pemilihan atau pemisahan radiasi tersebut
dilakukan oleh monokromator. Monokromator berfungsi untuk memisahkan radiasi
resonansi yang telah mengalami absorpsi tersebut dari radiasi‐radiasi lainnya. Radiasi
lainnya berasal dari lampu katoda berongga, gas pengisi lampu katoda berongga atau logam
pengotor dalam lampu katoda berongga. Monokromator terdiri atas sistem optik yaitu celah,
cermin dan kisi.
4. Detektor
Detektor berfungsi mengukur radiasi yang ditransmisikan oleh sampel dan mengukur
intensitas radiasi tersebut dalam bentuk energi listrik.
[Link]
Sinyal listrik yang keluar dari detektor diterima oleh piranti yang dapat menggambarkan
secara otomatis kurva absorpsi.
2.2.4 Metode Kurva Kalibrasi
Analisis kadar logam dalam larutan dengan AAS dapat dilakukan dengan berbagai
cara, diantaranya melalui kurva kalibrasi. Penentuan kadar logam dalam sampel larutan
dilakukan dengan cara mengukur nilai absorbansi atau transmitansi dari larutan blanko dan
sederetan larutan standar dengan konsentrasi meningkat secara bertahap (sebaiknya tidak
kurang dari 5 konsentrasi larutan standar). Hasil pengukuran tersebut dibuat kurva kalibrasi,
yaitu nilai absorbansi (A) sebagai ordinat (sumbu y) dan nilai konsentrasi larutan standar
(C) sebgai absis (sumbu x), dihasilkan kurva garis lurus yang memenuhi persamaan
Lambert-Beer, y = ax + b. Konsentrasi unsur logam dalam sampel dapat dihitung dengan
persamaan yang dihasilkan dari kurva kalibrasi atau dapat juga diketahui dengan cara
menginterpolasikan data pada kurva kalibrasi.
2.3 Alat dan bahan yang digunakan:
2.3.1 Alat: Spektrofotometer serapan atom AA7000 Shimadzu
Lampu katoda berongga Fe
Tempat sampel
Labu takar 50ml 6 buah
Pipet ukur 5ml 1 buah beserta ball pipet
Corong gelas dan pipet tetes 1 buah
Botol semprot 1 buah
Gelas kimia 250ml dan 50ml masing-masing 1 buah
2.3.2 Bahan: Larutan standar Fe 50 ppm
Aquades
Air sampel (minimal 3 jenis)
2.4 Keselamatan Kerja:
Dalam pengoperasiannya peralalatan AAS menggunakan gas-gas yang mudah
terbakar, perhatikan petunjuk pengaturan tekanan dan laju alir gas, periksa jangan ada
kebocoran sehingga kebakaran dapat dicegah. Jangan lupa menyalakan blower (exhaust fan)
sebelum mengoperasikan peralatan karena atom2 logam berbahaya bagi pernafasan. Hati-
hati dalam melakukan pengenceran larutan standar, gunakan jas lab, sarung tangan karet,
kacamata dan masker.
Praktikum Kimia Analisis II Prodi TK 2019-2020 Page 13
2.5 Rangkaian/Gambar alat:
Gambar 2.1 Alat AA7000 Shimadzu
2.6 Prosedur Kerja:
A. PERSIAPAN
1. Hubungkan kabel power ke sumber listrik. Power On
2. Siapkan kebutuhan analisis (blanko, larutan standar 1-5 ppm, sampel, dll).
3. Buka aliran gas Asetilen (tekanan suplai adalah 1kgf/cm2)
4. Hidupkan kompresor udara (tekanan suplai adalah 0.35MPa)
5. Hidupkan blower.
6. Pasang lampu katoda dari unsur yang akan digunakan (perhatikan nomor soket
lampu yang digunakan, Fe nomor 2).
7. Isi drain tank dengan air.
8. Hidupkan PC dan printer.
9. Tempatkan larutan blanko, standar, dan sampel pada tempatnya dan susun
sesuai urutan pada ASC (R1-R7)
B. INSTRUMENTASI
1. Pada menu utama windows, klik Wizard
2. Klik icon AAS. Jika muncul tampilan Login, isi Login ID dengan Admin
(tanpa password). Klik OK
3. Klik Element Selection, klik OK
4. Klik Select Elements.
5. Isi parameter unsur target analisis. Pilih Fe, Posisi lampu nomor 2, klik Using
ASC.
6. Klik Next.
7. Klik Calibration Curve Setup.
8. Isi parameter baku: Satuan konsentrasi (ppm), dan jumlah larutan standar
(number of line, misalnya 7 dengan blanko), klik update, posisi R1, R2, dst.,
Klik OK.
9. Klik Sample Group Setup.
10. Isi parameter sampel: Satuan konsentrasi (ppm) dan jumlah sampel (missal 3),
posisi 1, 2, 3. Klik OK.
11. Klik Next
Praktikum Kimia Analisis II Prodi TK 2019-2020 Page 14
12. Hidupkan AA-7000,klik Connect/Send Parameters. Klik Next dan akan
berlangsung proses inisialisasi, tunggu sampai semua hijau kecuali yang tidak
digunakan (GFA, support gas pressure N2O).
13. Klik Purge C2H2, akan terdengar proses purging asetilen, tunggu sampai
selesai. Ulangi hingga 5 kali (warna status huruf akan menjadi abu-abu)
14. Klik Purge Air, akan terdengar proses purging udara, tunggu sampai selesai.
15. Klik Close.
16. Klik No (service dilakukan oleh teknisi)
17. Klik No (karena kita tidak menggunakan N2O)
18. Klik Check it
19. Klik OK.
20. Lakukan cek item-item fitur keamanan (semua beri tanda ). Klik OK. Tunggu
sampai selesai.
21. Klik Next.
22. Pastikan nomer soket lampu sudah sesuai, beri tanda pada parameter Lamp
ON. Tunggu sampai selesai (kotak di ujung kiri atas berubah dari biru menjadi
abu-abu)
23. Klik Line Search.
24. Pastikan muncul status OK pada parameter Line Search dan Beam Balance.
Klik Close.
25. Klik Next.
26. Klik Finish akan muncul tampilan MRT (Measurement Result Table).
27. Klik Parameters, Edit parameters, Repeat Measurement: isi no of response 2,
maximum of respons 3, RSD limit 2, klik OK. Tunggu sampai READY
28. Nyalakan AAS dengan menekan 2 tombol IGNITE, lepaskan tombol hingga
muncul nyala.
29. Klik AUTO ZERO.
30. Klik START, tunggu sampai selesai (kurva kalibrasi muncul di layar monitor)
dan nilai absorbansi sampel terukur.
31. Untuk menyimpan hasil, klik File, Save As, isi nama file, klik Save.
32. Untuk mengatur layout laporan klik File, Print Style, atur parameter sesuai
layout yang diinginkan.
33. Untuk mencetak, klik File, Print Data/Parameters. Klik OK, klik OK dan
laporan akan langsung tercetak.
C. SHUT DOWN SISTEM
1. Untuk mematikan nyala, tekan tombol EXTINGUISH hingga nyala padam.
2. Untuk memutuskan koneksi alat dengan PC, klik Instrument, klik Connect,
klik OK.
3. Shut down computer
4. Matikan blower.
5. Tutup aliran gas asetilen.
6. Matikan kompresor udara, keluarkan sisa air dalam tangki kompresor.
2.7 Data Percobaan:
1. Wavelength Fe (248.52 nm)
2. Tabel data Kurva kalibrasi (konsentrasi larutan standar dan absorbans terukur)
3. Persamaan kurva kalibrasi yang dihasilkan
4. Nilai Absorbans sampel dan Konsentrasi/kadar logam Fe dalam air sampel
Praktikum Kimia Analisis II Prodi TK 2019-2020 Page 15
No Konsentrasi Larutan Standar Fe (ppm) Absorbans (A)
1
2
3
4
5
6
Persamaan kurva kalibrasi :
No Nama Sampel Absorbans (A) Konsentrasi Fe (ppm)
1
2
3
2.8 Pertanyaan/Tugas:
1. Jelaskan prinsip analisis dengan spektrofotometer serapan atom
2. Sebutkan tahapan perubahan pada larutan sampel pada saat dianalisis dengan AAS
3. Sebutkan cara-cara atomisasi pada metode AAS
4. Gambarkan rangkaian komponen peralatan pada AAS
5. Sebutkan fungsi dari masing-masing komponen peralatan tersebut
6. Berapa konsentrasi Fe yang memenuhi persyaratan air minum, air bersih dan air limbah
2.9 Daftar Pustaka:
Budi Santoso, dkk. 2006. Buku Petunjuk Praktikum Instrumentasi Analitik. Polban:
Bandung.
Day, RA & Underwood, AL. 1990. Quantitative Analysis. New Delhi: Prentice Hall.
Mulyono, HAM. 2006. Membuat Reagen Kimia di Laboratorium. Jakarta: Bumi
Aksara
Shimadzu Corporation. 2008. Instruction Manual Operation Guide AA-7000
Shimadzu Atomic Absorption Spectrophotometer. Kyoto. Japan
Praktikum Kimia Analisis II Prodi TK 2019-2020 Page 16