BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Dasar Teori
1. Pengertian Air
Pengertian air bersih berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1405/Menkes/SK/XI/2002 yaitu, air bersih
adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari – hari kualitasnya
memenuhi persayaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan
perundang – undangan yang berlaku dan dapat diminum bila dimasak.
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan higiene
sanitasi seperti pemeliharaan kebersihan perorangan untuk mandi, sikat gigi
serta untuk keperluan mencuci, ataupun keperluan sehari-hari lainnya. Air
juga dikonsumsi manusia untuk diminum setalah dimasak dan memenuhi
persyaratan Permenkes RI Nomor 32 Tahun 2017.
Air merupakan aspek penting di bumi. Air sangat dibutuhkan oleh
manusia. Sekitar 71% permukaan bumi ditutupi oleh air. Air tawar hanya
terdapat kurang leih 2,5% dari seluruh air yang ada dan air permukaan hanya
sekitar 0,007% dari total air. Manusia sangat membutuhkan air untuk
kelangsungan hidup. Manusia menggunakan air sebagai bagian tak
terpisahkan, untuk air minum, mencuci, pembangkit tenaga listrik dan
sebagainya (Sudarmadji, Hadi dan Widyastuti, 2014).
2. Sumber Air Bersih
Menurut Asmadi, air yang ada di bumi berasal dari beberapa
sumber. Sumber – sumber air tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber
air minum sebagai berikut :
a. Air laut
Air laut mempunyai sifat asin, karena mengandung garam Nacl.
Kadar NaCl dalam air laut 3% dengan keadaan ini makan air laut tidak
memenuhi syarat untuk diminum.
8
9
b. Air atmosfer
Air atmosfer adalah air yang terjadi karena proses penguapan yang
kemudian terkondensasi dan akhirnya jatuh sebagai air hujan, salju,
salju, dan es. Contoh air atmosfer adalah air hujan. Cara untuk
menjadikan air hujan sebagai air minum hendaknya jangan saat air hujan
baru mulai turun, karena masih mengandung banyak kotoran. Air hujan
juga mempunyai sifat agresi terutama terhadap pipa – pipa penyalur
maupun bak – bak reservoir, sehingga hal ini akan mempercepat
terjadinya korosi atau karatan. Air hujan juga mempunyai sifat lunak,
sehingga akan boros terhadap pemakaian sabun.
c. Air permukaan
Air permukaan adalah air hujan yang mengalir di permukaan bumi.
Pada umumnya ini akan mendapat pengotoran selama pengalirannya,
misalnya oleh lumpur, batang – batang kayu, daun – daun, kotoran
industri, dan lainnya. Air permukaan ada dua macam yaitu :
1) Sungai
Air sungai yang digunakan sebagai air minum hendaknya melewati
pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air sungai ini pada
umumnya mempunyai derajat pengotoran yang tinggi. Debit yang
tersedia untuk memenuhi kebutuhan akan air minum pada umumnya
dapat mencukupi.
2) Rawa atau danau Air rawa kebanyakan berwarna disebabkan oleh
adanya zat – zat organik yang telah membusuk, yang menyebabkan
warna kuning coklat, sehingga untuk pengambilan air sebaiknya
dilakukan pada kedalaman di tengah – tengah.
3) Air tanah
Air tanah adalah air yang berada di bawah permukaan tanah di dalam
zona jenuh dimana tekanan hidrostatiknya sama atau lebih besar dari
tekanan atmosfer (Suyono, 1993). Air tanah terbagi atas air tanah
dangkal dan air tanah dalam. Air tanah dangkal terjadi karena
adanya daya proses peresapan air dari permukaanntanah. Air tanah
10
dangkal ini pada kedalaman 15,0 m2 sebagai sumur air minum, air
dangkal ini ditinjau dari segi kualitas agar baik, segi kuantitas
kurang cukup dan tergantung pada musim. Air tanah dalam, terdapat
setelah lapis rapat air yang pertama. Pengambilan air tanah dalam
tidak semudah air tanah dangkal karena harus digunakan bor dan
memasukkan pipa kedalamannya sehingga dalam suatu kedalaman
biasnya antara 100 – 300 m2.
4) Mata air
Mata air yaitu air tanah yang keluar dengan sendirinya ke
permukaan tanah dengan hampir tidak dipengaruhi oleh musim,
sedangkan kaulitas atau kuantitasnya sama dengan air dalam.
Berdasarkan keluarnya (munculnya permukaan tanah) terbagi atas
rembesan, diman air keluar dari lereng - lereng dan umbul, dimana
air keluar ke permukaan pada suatu dataran.
3. Persyaratan Kualitas Air Bersih
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan
Persyaratan Kesehatan Air Untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam
Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum kualitas air bersih harus
memenuhi persyaratan yang meliputi persyaratan fisik, kimia, dan
bakteriologis antara lain sebagai berikut :
a. Persyaratan Fisik
Persyaratan fisik adalah persyaratan air yang dapat diindera, baik
dengan indera penglihatan, penciuman, maupun indera perasa, meliputi:
1) Air harus jernih, bersih, dan tidak berwarna.
2) Tidak berbau dan tidak mempunyai rasa apapun.
3) Suhu air kira-kira sama dengan suhu ruang, sehingga air bersih tidak
terlalu dingin tetapi memberikan rasa segar.
b. Persyaratan Kimia
11
Persyaratan kimia air bersih adalah persyaratan yang menyangkut
kadar atau kandungan zat kimia dalam air. Air bersih tidak boleh
mengandung zat – zat yang dapat menganggu kesehatan manusia atau
zat korosif yang dapat merusak pipa air bersih. Salah satu zat yang dapat
menimbulkan berbagai masalah bagi kehidupan manusia adalah
kandungan besi (Fe) yang terlalu tinggi dalam air. Konsentrasi besi
terlarut yang masih diperbolehkan dalam air bersih adalah 1,0 mg/L.
apabila konsentrasi besi terlarut dalam air melebihi batas tersebut akan
menyebabkan berbagai masalah, diantaranya gangguan teknis,
gangguan fisik, gangguan kesehatan, dan gangguan ekonomis (Joko,
2010).
c. Persyaratan Bakteriologis
1) Tidak mengandung bakteri pathogen, misalnya bakteri golongan
colil, Salmonella thyphi, Vibrio cholera, dan lain – lain. Kuman –
kuman ini mudah tersebar melalui air.
2) Tidak mengandung bakteri nonpathogen, seperti actinomycete,
phytoplankton, coliform,cladocera, dan lain – lain.
4. Kadar Fe dalam Air
Besi atau Fe adalah metal berwarna putih keperakan. Di dalam air
minum Fe menimbulkan rasa, warna (kuning), pengendapan pada dinding
pupa, pertumbuhan bakteri besi, dan kekeruhan. Besi dibutuhkan oleh tubuh
dalam pembentukan hemoglobin. Banyaknya Fe dalam tubuh dikendalikan
pada fase adsorpsi. Tubuh manusia tidak dapat mengekskresikan Fe,
karenanya mereka yang sering mendapat tranfusi darah, warna kulitnya
menjadi hitam karena akumulasi Fe (Soemirat, 2011).
Kandungan besi di dalam air dapat menimbulkan air berwarna coklat
kemerahan, menimbulkan bau amis, dan membentuk lapisan minyak. Air
yang mengandung Fe (besi) sangatlah tidak baik untuk keperluan rumah
tangga karena meninggalkan noda kekuningan dan air minum menjadi tidak
enak. Kandungan besi pada tubuh diperlukan untuk pembentukan
hemoglobin namun dalam jumlah yang sedikit.
12
Menurut (Joko, 2010) penyebab utama tingginya kadar besi dalam
air yaitu :
a. Rendahnya pH air
Potensial Hidrogen atau pH air normal yang tidak menyebabkan
masalah adalah ≤ 7 dapat melarutkan logam termasuk besi
b. Temperatur air
Kenaikan temperatur akan menyebabkan meningkatnya derajat korosif.
c. Gas – gas yang terlarut dalam air
Adanya gas – gas terlarut diantaranya adalah O2, CO2, dan H2S.
Beberapa gas terlarut dalam air tersebut akan bersifat korosif.
d. Bakteri
Secara biologis tingginya kadar terlarut dipengaruhi oleh bakteri besi
yaitu bakteri yang dalam hidupnya membutuhkan makanan dengan
mengoksidasi besi sehingga larut.
5. Dampak Fe
Menurut (Joko, 2010 : 187 dan 188) kandungan Fe dalam air dapat
menimbulkan masalah jika melebihi batas diantaranya:
a. Gangguan Teknis
Endapan Fe(OH)3 dapat menyebabkan efek – efek yang merugikan
seperti mengotori bak dari seng, wastafel, dan kloset serta bersifat
korosif terhadap pipa terutama pipa GI dan akan mengendap pada
saluran pipa, sehingga mengakibatkan pembuntuan.
b. Gangguan Fisik
Gangguan fisik yang ditimbulkan oleh adanya besi terlarut dalam air
adalah timbulnya warna, rasa, bau. Air minum akan terasa tidak enak
bila konsentrasi besi terlarutnya > 1,0 mg/L.
c. Gangguan Kesehatan
Sebenarnya zat Fe dibutuhkan oleh tubuh untuk pembentukan
hemoglobin. Perkiraan minimum kebutuhan harian besi tergantung pada
13
usia, jenis kelamin, status fisik serta metabolism tubuh. Tetapi zat Fe
yang melebihi dosis yang diperlukan oleh tubuh dapat menimbulkan
masalah kesehatan. Hal ini dikarenakan tubuh manusia tidak dapat
mengekskresi Fe, sehingga bagi mereka yang sering mendapatkan
transfuse darah warna kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe. Air
minum yang mengandung besi cenderung menimbulkan rasa mual
apabila dikonsumsi. Selain itu dalam dosis besar dapat merusak dinding
usus. Kematian seringkali disebabkan oleh rusaknya dinding usus ini.
Kadar Fe yang lebih dari 1 mg/L akan menyebabkan terjadinya iritasi
pada mata dan kulit. Apabila kelarutan besi dalam air melebihi 10 mg/L
akan menyebabkan air berbau seperti telur busuk.
Pada hemokromotasis primer besi yang diserap dan disimpan dalam
jumlah yang berlebihan. Feritin berada dalam keadaan jenuh akan besi
sehingga kelebihan mineral ini akan disimpan dalm bentuk kompleks
dengan mineral lain yaitu hemosiderin. Akibatnya terjadilah sirosis hati
dan kerusakan pancreas sehingga menmbulkan diabetes. Hemokromatis
sekunder terjadi karena transfusi yang berulang – ulang dalam keadaan
ini besi masuk ke dalam tubuh sebagai hemoglobin dari darah yang
ditransfusikan dan kelebihan besi ini tidak diekskresikan
d. Gangguan Ekonomis
Gangguan ekonommis yang ditimbulkan yaitu yang disebabkan oleh
kerusakan alat dan adanya gangguan kesehatan sehingga secara tidak
sadar mengeluarkan biaya
6. Keramik
Keramik berasal dari bahasa Yunani keramikos yang berarti suatu
bentuk dari tanah liat yang telah mengalami proses pembakaran. Kamus dan
ensiklopedia pada tahu 1950 – an mendefinisikan keramik sebagai salah
satu hasil seni dan teknologi untuk dapat menghasilkan barang dari tanah
liat yang dibakar seperti gerabah, genteng, porselin dan sebagainya. Tetapi
untuk saat ini tidak semua keramik berasal dari tanah liat. Keramik adalah
produk dari industri kimia yang dihasilkan dari pengolahan tambang seperti
14
clay, feldspar, pasir silika dan kaolin melalui tahapan pembakaran dengan
suhu industri keramik yang terdiri dari ubin (tile), saniter, perangkat rumah
tangga (tableware), dan genteng ([Link]
keramik).
Keramik merupakan bahan yang mencakup semua benda atau
sesuatu yang dapat di buat biasanya dari tanah liat atau biasa disebut tanah
lempung yang melalui beberapa tahapan - tahapan seperti menggunakan
energi panas atau proses pembakaran sampai bentuknya mengeras. Bahan
dasar pembuatan keramik berasal dari tanah lempung yang banyak
mengadung bahan kimia yang dapat di gunakan sebagai adsorben dan
berfungsi untuk mengikat berbagai kation dalam proses pembuatan
keramik(Wahyudi, 2021).
Metode penurunan kandungan besi menggunakan metode filtrasi
dengan saringan keramik. Proses filtrasi merupakan proses pengolahan
dengan cara mengalirkan air melewati suatu media filtrasi yang disusun dari
bahan-bahan butiran dengan diameter dan tebal tertentu. Proses ini
ditujukan untuk menghilangkan bahan-bahan terlarut dan tidak terlarut
dengan cara adsorbsi. Adsorpsi adalah proses penyerapan atau
penggumpalan pada benda yang berlangsung hanya pada permukaan benda
tersebut(Febrina, 2014).
Menurut golongannya, keramik dapat dibagi dalam dua kelompok
yaitu :
a. Keramik bakaran rendah (gerabah lunak) Keramik bakaran rendah
adalah semua bahan keramik yang dibakar dan dapat mencapai suhu
pembakaran antara 900° C sampai 1050° C, misalnya keramik Plered
Purwakarta, Kasongan, Keramik Pajetan Bali dan Iain-lain. Keramik
bakaran rendah pada umunya berpori (porous), sehingga air didalamnya
dapat merembes keluar melalui pori-pori dindingnya. Sering kita jumpai
sebuah kendi terbuat dari tanah Hat merah setelah diisi air tampak basah
bagian dinding luarnya.
15
b. Keramik bakaran tinggi (gerabah keras) Keramik bakaran tinggi adalah
semua barang keramik yang dibakar hingga mencapai suhu pembakaran
antara 1250° C dan 1350° C atau lebih. Yang termasuk dalam kelompok
gerabah keras diantaranya adalah stoneware (lempung batu) dan
porselen. Pada umumnya barang-barang keramik hasil dari bakaran
tinggi sangat baik untuk tempat menyimpan air. Air tidak akan
merembes keluar dari dinding keramik, karena tidak berpori-pori. Bila
dipukul-pukul suaranya berdenting nyaring serta tidak akan mudah
pecah bila saling bersentuhan dengan benda lainnya. Benda-benda
porselen dapat dibuat setipis mungkin, seperti misalnya cangkir
porselen yang tipis sekali sehingga dapat ditembus cahaya lampu.
7. Pasir
Pasir merupakan media penyaring yang baik dan bisa digunakan
dalam proses penjernihan karena sifatnya yang berupa butiran beras yang
porous, berdegradasi dan uniformity. Butiran pasir memiliki pori – pori dan
celah yang mampu menyerap dan menahan partikel di dalam air. Butiran
pasir memiliki keuntungan dalam pengadaan mudah dan juga harga relatif
murah. Pasir berfungsi menyaring kotoran dalam air, pemisahan sisa – sisa
flok dan juga partikel besi yang terbentuk sesudah kontak dengan udara.
Selama penyaringan koloid atau tersuspensi di dalam air akan ditahan dalam
media porous tersebut sehingga kualitas air meningkat (Fransisca dalam
Krisnawati, 2009).
Pasir yang akan digunakan harus memenuhi kualitas yang baik
karena kualitas bahan penyaring akan mempengaruhi hasil penyaringan.
Ukuran butiran pasir akan memengaruhi daya absorpsi terhadap air.
Semakin kecil ukuran pasir maka struktur agregat atau kelompok mineral
akan semakin rapat sehingga hasil penyaringan akan semakin baik pada
batas tertentu. Ukuran pasr menurut klasifikasi USDA (1938) dibagi
menjadi (Kusnaedi, 2006) :
a. Pasir sangat kasar (very coarse sand) memiliki ukuran 1,0 – 2,0 mm.
b. Pasir kasar (coarse sand) memiliki ukuran 0,5 – 1,0 mm.
16
c. Pasir sedang (medium sand) memiliki ukuran 0,25 – 0,5 mm.
d. Pasir halus (fine sand) memiliki ukuran 0,1 – 0,25 mm.
e. Pasir sangat halus (very fine sand) memiliki ukuran 0,05 – 0,1 mm.
Persyaratan yang digunakan adalah pasir yang harus bersih, tidak
bercampur dengan tanah dan kotoran. Pasir sebelum digunakan sebagai
media filtrasi sebaiknya dicuci hingga bersih.
8. Kekeruhan
Kekeruhan pada air adalah sifat yang tidak membahayakan akan
tetapi tidak disenangi kaena memberikan warna atau rupa yang berlumpur
dan juga kotor. Kekeruhan disebabkan oleh zat padat tersuspensi, baik yang
bersifat organik maupun anorganik(Sutrisno 1996). Air yang baik adalah
air yang bening atau jernih dan tidak keruh. Batas maksimal kekeruhan air
menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 32 Tahun
2017 adalah 25 NTU (Nephelometric Turbidity Unit).
17
B. Kerangka Konsep
Air Sumur Gali
Kadar besi (Fe) pada air
sumur gali
Tidak diolah Diolah
1. Terjadi gangguan Filtrasi dengan filter keramik dan
kesehatan pasir
2. Terjadi gangguan
teknis
3. Terjadi gangguan
kualitas Kadar Fe dan kekeruhan dalam air
turun
Kadar Fe dan kekeruhan dalam
Air sumur gali tidak air sesuai dengan Permenkes
aman digunakan Nomor 32 Tahun 2017
Air sumur gali aman untuk
digunakan
Diteliti :
Tidak diteliti :
Gambar 1. Kerangka Konsep
18
C. Pertanyaan Penelitian
1. Berapakah penurunan kadar Fe air setelah dilakukan penyaringan dengan
filter keramik dan pasir?
2. Berapakah penurunan kadar kekeruhan air setelah dilakukan penyaringan
dengan filter keramik dan pasir?
3. Apakah hasil penurunan kadar Fe dan kekeruhan pada air summur gali telah
sesuai dengan Permenkes Nomor 32 Tahun 2017?