BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Umum
Pada dasarnya dalam merencanakan bangunan, contohnya jembatan terdiri
dari perencanaan struktur atas (upper structure) dan perencanaan struktur bawah
(sub structure). Perencanaan struktur atas terdiri dari bagian-bagian jembatan
yang berada di atas permukaan tanah. Perencanaan struktur bawah adalah
bangunan yang terdapat di bawah permukaan tanah, yaitu abutment dan pondasi.
2.2 Bangunan Bawah Jembatan
Bangunan bawah jembatan berfungsi sebagai bangunan yang menerima
beban-beban dari struktur atas dan didistribusikan ke pondasi. Bangunan bawah
jembatan meliputi (SNI 1725:2016):
2.2.1 Abutment
Abutment atau kepala jembatan berada pada kedua ujung jembatan.
Abutment memiliki fungsi sebagai pendukung bagi bangunan atas, selain itu
abutment juga memiliki fungsi untuk menahan tanah. Dalam merencanakan
bentuk abutment dipengaruhi oleh keadaan di lapangan seperti daya dukung tanah
dasar dan penurunan (settlement) yang terjadi. Pada proses perencanaan abutment,
bahan yang digunakan yaitu batu atau beton bertulang.
2.2.2 Plat Injak
Plat Injak merupakan bagian dari struktur bawah jembatan yang memiliki
fungsi untuk mendistribusikan beban-beban yang diperoleh dari bagian atas
jembatan secara menyeluruh ke tanah dan untuk melindungi terjadinya defleksi
pada permukaan jalan.
2.2.3 Pondasi
Pondasi merupakan struktur bawah jembatan yang terletak di dalam tanah.
Pondasi berfungsi sebagai penahan beban bangunan yang berada di atasnya dan
mendistribusikan ke tanah dasar, baik kearah melintang maupun memanjang.
8
9
Dalam perencanaan suatu bangunan, perlu diperhitungkan beberapa hal untuk
memperoleh bangunan yang kuat, stabil dan ekonomis. Beberapa hal yang perlu
diperhitungkan sebagai berikut:
• Sifat-sifat dan daya dukung tanah.
• Jenis dan ukuran bangunan yang akan dibuat.
• Kondisi lingkungan pada lokasi pelaksanaan.
• Alat-alat yang tersedia.
• Waktu pelaksanaan yang cukup.
2.3 Pembebanan Jembatan
Pada perencanaan struktur jembatan standar peraturan yang digunakan
untuk menganalisa pembebanan yang akan di pikul ialah standar peraturan SNI
1725:2016 tentang pembebanan untuk jembatan. Fungsi, bentuk, dan tipe pada
jembatan ialah hal yang berpengaruh dalam merencanakan beban-beban yang
bekerja. Pada dasarnya pembebanan pada struktur jembatan terbagi atas 3 jenis
yang dapat dilihat pada Gambar 2.1 .
Gambar 2. 1 Skema Pembebanan Jembatan (Sumber SNI 1725:2016)
10
2.3.1 Beban Permanen
[Link] Berat Sendiri (MS)
Berat sendiri ialah berat dari bagian - bagian struktural lain yang dipikul
seperti berat material dan bagian dari jembatan yang termasuk elemen struktural
yang digabungkan dengan elemen non struktural yang dianggap permanen.
Adapun faktor beban untuk berat sendiri yang tertera pada Tabel 2.1 .
Tabel 2. 1 Faktor beban untuk berat sendiri
Tipe Faktor beban (𝜸𝑴𝑺 )
beban Keadaan Batas Layan (𝜸𝑺𝑴𝑺 ) Keadaan Batas Ultimit (𝜸𝑼
𝑴𝑺 )
Bahan Biasa Terkurangi
Tetap Baja 1,00 1,10 0,90
Aluminium 1,00 1,10 0,90
Beton Pracetak 1,00 1,20 0,85
Beton dicor di tempat 1,00 1,30 0,75
Kayu 1,00 1,40 0,70
Sumber SNI 1725:2016
[Link] Beban Mati Tambahan (MA)
Beban mati tambahan adalah berat dari keseluruhan material yang
membentuk suatu beban pada jembatan yang merupakan elemen non struktural,
namun besarnya beban dapat berubah selama umur jembatan. Adapun faktor
beban untuk berat mati tambahan yang tertera pada Tabel 2.2 .
Tabel 2. 2 Faktor beban untuk beban mati tambahan
Faktor beban (𝜸𝑴𝑨 )
Tipe Beban Keadaan Batas Layan (𝜸𝑺𝑴𝑨 ) Keadaan Batas Ultimit (𝜸𝑼
𝑴𝑨 )
Keadaan Biasa Terkurangi
Umum 1,00(1) 2,00 0,70
Tetap Khusus (terawasi) 1,00 1,40 0,80
𝐶𝑎𝑡𝑎𝑡𝑎𝑛 (1) : Faktor beban layan sebesar 1,3 digunakan untuk berat utilitas
Sumber SNI 1725:2016
2.3.2 Beban Lalu Lintas
Pada perencanaan jembatan beban lalu lintas terdiri dari beban lajur “D”
dan beban truk “T”. Dampak yang lebih besar terjadi pada struktur jembatan yang
memiliki bentang cukup panjang ialah diberikan pada beban lajur “D”. Sedangkan
11
pada jembatan yang memiliki bentang yang lebih kecil dan sistem lantai deck,
dampak akan lebih besar pada beban truk “T”.
[Link] Beban Lajur “D” (TD)
Beban terbagi rata (BTR) yang digabung dengan beban garis terpusat
(BGT) ialah bagian dari beban lajur “D” yang terlihat pada Gambar 2.2. Pada
Tabel 2.3 ialah faktor beban yang digunakan pada beban lajur “D”. Pada seluruh
lebar lajur kendaraan beban lajur “D” bekerja dan menimbulkan pengaruh pada
jembatan yang ekuivalen dengan suatu iring-iringan kendaraan yang sebenarnya.
Bergantung pada dimensi lebar jalur kendaraannya total beban lajur “D” tersebut
dapat bekerja.
Tabel 2. 3 Faktor beban untuk beban lajur “D”
Tipe Jembatan Faktor beban (𝜸𝑻𝑫 )
beban
Keadaan Batas Layan (𝜸𝑺𝑻𝑫 ) Keadaan Batas Ultimit (𝜸𝑼
𝑻𝑫 )
Transien Beton 1,00 1,80
Boks Girder 1,00 2,00
Baja
Gambar 2. 2 Beban Lajur "D" (Sumber: SNI 1725:2016 Hal.39)
Beban terbagi rata (BTR) memiliki intensitas q kPa, panjang total (L) ialah
hal yang bergantung akan besarnya nilai q adalah :
Keterangan :
12
Untuk perhitungan beban lajur “D” adalah :
Dtd = (qtd x L) + Ptd …………………………………………(2.3)
Reaksi perletakan akibat beban tersebut adalah :
0,5D = ½ x Dtd ……………………………………………..…(2.4)
Dengan posisi tegak lurus terhadap arah lalu lintas pada jembatan, beban
garis terpusat (BGT) yang bekerja dengan intensitas p kN/m. Nilai intensitas p
sebesar 49,0 kN/m. Agar dapat menghasilkan momen lentur negatif terbesar pada
jembatan, BGT kedua yang identik harus ditempatkan pada posisi dalam arah
melintang jembatan pada bentang yang lainnya.
Hasil interaksi antara kendaraan yang bergerak ialah merupakan Faktor
Beban Dinamis (FBD) dan jembatan. Bergantung pada besarnya frekuensi dasar
suspensi kendaraan agar mendapat nilai FBD, dan frekuensi dari getaran lentur
jembatan. Nilai FBD didapat dengan menggunakan grafik pada Gambar 2.3 .
Gambar 2. 3 Faktor Dinamis untuk Beban T untuk Pembebanan Lajur "D"
(Sumber: SNI 1725:2016 Hal. 45)
[Link] Beban Truck T (T)
Bersama dengan adanya beban “D” ada pula beban lalu lintas lainnya,
yaitu beban truck “T”. Beban truck “T” tidak dapat digunakan bersamaan dengan
beban “D”. Besarnya beban truck “T” ditunjukkan pada Gambar 2.3. Adapun
factor beban untuk beban “T” seperti pada Table 2.4 .
13
Tabel 2. 4 Faktor beban untuk beban “T
Tipe Jembatan Faktor beban (𝜸𝑻𝑻 )
beban
Keadaan Batas Layan (𝜸𝑺𝑻𝑻 ) Keadaan Batas Ultimit (𝜸𝑼
𝑻𝑻 )
Transien Beton 1,00 1,80
Boks Girder 1,00 2,00
Baja
Sumber: SNI 1725:2016 Hal.41
Gambar 2. 4 Pembebanan Truck “T” (500 kN) (Sumber: SNI 1725:2016 Hal.41)
Pada Gambar 2.4 dapat dilihat beban pada truk “T” ialah satu kendaraan
berat dengan 3 as yang ditempatkan pada beberapa posisi dalam lajur lalu lintas
rencana. Beban pada setiap gandar dibagi menjadi 2 beban merata sama besar
yang termasuk bidang kontak antara roda dengan permukaan lantai. Jarak untuk 2
gandar tidak tetap dari 4,0 - 9,0 m agar pengaruh maksimum didapatkan dengan
arah memanjang jembatan.
[Link] Gaya Rem
Nilai untuk gaya rem harus diambil yang terbesar dari:
• 25% dari berat gandar truk desain atau,
14
• 5% dari berat truk rencana ditambah beban lajur terbagi rata BTR
Gaya rem harus ditempatkan pada semua lajur rencana yang dimuati lalu
lintas dengan arah yang sama. Percepatan pada lalu lintas ditetapkan sebagai gaya
yang bekerja arah memanjang yang bekerja dipermukaan jalan dan harus ditinjau
untuk kedua jurusan lalu lintas. Gaya rem tersebut dianggap bekerja horizontal
dalam arah sumbu jembatan dengan titik tangkap setinggi 1,80 m diatas
permukaan lantai jembatan. Faktor kepadatan lajur sudah ditentukan dan berlaku
dalam menghitung gaya rem.
2.3.3 Aksi Lingkungan
[Link] Beban Angin
Berdasarkan SNI 1725:2016 Hal 57 tekanan angin rencana haeus
diperhitungkan pada struktur dan kendaraan yang melintas. Beban angin
diasumsikan sebagai beban menerus 1,46 kN/mm, tegak lueus dan bekerja 1800
mm di atas permukaan jalan.
[Link] Pengaruh Gempa
Dalam merencanakan suatu jembatan perancangan disarankan memiliki
kemungkinan terkecil terjadinya keruntuhan atau kegagalan pada struktur yang
diakibatkan oleh pengaruh gempa. Beban gempa dianggap sebagai gaya
horizontal yang didapat berdasarkan perkalian antara koefisien respons elastik
(Csm) dengan berat struktur ekuivalen yang kemudian dimodifikasi dengan faktor
modifikasi respons (Rd) seperti rumus berikut.
𝐶𝑠𝑚
EQ = × 𝑊𝑡 ............................................................................................ (2.7)
𝑅𝑑
Keterangan:
EQ = gaya gempa yang bekerja secara horizontal statis (kN)
Csm = koefisien respon gempa elastis
Rd = faktor modifikasi respon
Wt = berat keseluruhan pada struktur, yaitu berupa beban mati dan beban hidup
15
yang sesuai (kN)
Sumber: SNI 1725:2016 Hal 58
Dari peta percepatan batuan dasar serta spektra percepatan berdasarkan
daerah gempa dan periode ulang gempa rencana kita dapat menentukan koefisien
respons elastik Csm. Koefisien percepatan didapatkan berdasarkan peta gempa
yang dikalikan dengan faktor amplifikasi yang sesuai dengan kondisi tanah hingga
kedalaman 30 meter di bawah struktur jembatan. Seluruh analisa perhitungan
pengaruh gempa terhadap jembatan termasuk beban gempa, peta gempa, dan
detail struktur mengacu pada SNI 2833:2016 tentang Perencanaan Jembatan
Terhadap Beban Gempa.
2.4 Abutment Jembatan
Abutment atau kepala jembatan merupakan struktur bawah jembatan yang
berada pada ujung-ujung jembatan. Abutment memiliki fungsi untuk memikul
serta meneruskan beban yang bekerja pada jembatan ke pondasi. Apabila syarat
keamanan dari daya dukung tanah yang terletak pada bagian bawah abutment
tidak terpenuhi maka daya dukungnya harus ditambah, yaitu dengan melakukan
perencanaan pondasi.
Ada berbagai bentuk dan jenis abutment jembatan, namun dalam
merencanakan perlu dipertimbangkan tinggi, jenis bangunan atas, kondisi tanah
dan lain lain. Adapun bentuk umum abutment jembatan disajikan seperti Gambar
2.5. Tinggi abutment sebaiknya disesuaikan seperti pada Tabel 2.8.
Gambar 2. 5 Bentuk Umum Kepala Jembatan
Sumber: Sosrodarsono, dkk. 2000. Hal: 303
16
Tabel 2. 5 Tinggi Pemakaian Abutment Jembatan untuk Berbagai Bentuk
Tinggi pemakaian (m)
Macam Kepala Abutment
0 5 10 15 20 25
Tipe dengan penopang 0 - 8 meter
Bentuk T terbalik 0 - 12 meter
Tipe semi gravitasi 0 - 7 meter
Tipe gravitasi 0 - 5 meter
Sumber: Sosrodarsono, dkk. 2000: 303
2.4.1 Perencanaan Struktual dan Dimensi Abutment
Perencanaan abutment, hal pertama yang harus dilakukan adalah
menentukan dimensi abutment. Penentuan dimensi abutment yang direncakanan
merujuk pada Perencanaan Jembatan oleh Direktorat Jembatan dan Direktorat
Jenderal Bina Marga, maka dimensi abutment yang dapat digunakan yaitu seperti
pada Gambar 2.6.
Gambar 2. 6 Perencanaan Dimensi pada Abutment
Sumber: Supriadi & Muntohar. 2007: 122
Pada perencanaan kepala jembatan (abutment) ini akan diperhitungkan
banyak gaya dan beban yang bekerja pada kepala jembatan tersebut. Gaya-gaya
tersebut digambarkan pada Gambar 2.7.
17
Gambar 2. 7 Gaya Luar Yang Bekerja Pada Kepala Jembatan
Sumber: Nakazawa, 2000, “Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi”, Hal.308
Adapun gaya-gaya yang bekerja pada abutment seperti pada gambar diatas
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Gaya Horizontal Tanah
1) Tekanan Tanah Aktif
Beban bekerja pada 1/3 H dari dasar dinding penahan
𝝋
Ka = tg2 (𝟒𝟓𝑶 − 𝟐 )...................................................................................... (2.7)
Tekanan tanah aktif total (Pa) untuk dinding penahan tanah setinggi H
Pa = 0,5 x H2 x 𝜸 x Ka .................................................................................. (2.8)
Keterangan:
Ka = Koefisien tekanan tanah aktif
φ = Sudut geser tanah
Pa = Tekanan tanah aktif (ton)
γ = Berat jenis tanah urug (ton/m3)
H = Tinggi abutment (m)
Sumber: Buku Analisis & Perancangan Pondasi, J. Hary Christady H. Hal 451
2) Tekanan tanah pasif
Beban bekerja pada 1/3 H dai dasar dinding penahan
𝝋
Kp = tg2 (𝟒𝟓𝑶 + 𝟐 ) ..................................................................................... (2.9)
Tekanan tanah pasif total (Pp) untuk dinding penahan tanah setinggi H
Pp = 0,5 x H2 x 𝜸 x Kp ................................................................................. (2.10)
Keterangan:
18
Kp = Koefisien tekanan tanah pasif
Pp = Tekanan tanah pasif (ton)
Sumber: Buku Analisis & Perancangan Pondasi, J. Hary Christady H. Hal 456
b. Gaya Gempa pada Abutment
1) Spektrum Respon Desain
Dalam menentukan beban gempa yang bekerja pada abutment, diperlukan
analisa percepatan dan respon spektrum untuk menentukan nilai periode getar
fundamental struktur (T) pada batuan dasar sesuai dengan kelas situs tanah pada
lokasi pembangunan jembatan.
Grafik korelasi antara percepatan respon spektral tentang periode gempa pada
lokasi pembanguna jembatan pada semua klasifikasi tanah pada Gambar 2.8. Data
gempa tersebut diperoleh melalui situs [Link]
Gambar 2. 8 Grafik percepatan Respon Spektra Gempa Wilayah Lokasi
Jembatan
Penentuan kelas situs tanah berdasarkan nilai N-SPT pada lokasi eksisting
mengacu pada SNI 2833:2016 tentang Perencanaan Jembatan Terhadap Beban
Gempa pada Tabel 2.7.
19
Tabel 2. 6 Kelas Situs Tanah Berdasarkan Nilai N-SPT
Sumber: SNI 2388:2016 Hal 15
2) Perhitungan Koefisien Respon Gempa Elastic
Dalam menghitung koefisien respons gempa elastic (Csm) menurut SNI
2833:2016 Hal 17 terdapat beberapa ketentuan, antara lain:
- Untuk periode lebih kecil dari 𝑻𝟎 dihitung dengan persamaan (2.11)
𝑇
𝐶𝑠𝑚 = (𝑆𝐷𝑆 –𝐴𝑠 ) 𝑇 + 𝐴𝑠 .......................................................................... (2.11)
0
- Untuk periode lebih besar atau sama dengan 𝑻𝟎 dan lebih kecil atau sama
dengan Ts, nilai Csm adalah dama dengan Sds
- Untuk periode lebih besar dari Ts, dihitung dengan persamaan (2.12)
𝑆𝐷1
𝐶𝑠𝑚 = ............................................................................................... (2.11)
𝑇
Keterangan:
Csm = Koefisien respon elastik
𝑆𝐷𝑆 = nilai spektra permukaan tanah pada periode pendek (T=0,2 detik)
𝑆𝐷1 = nilai spektra permukaan tanah pada periode 1,0 detik
𝑇0 = 0,2 Ts
20
𝑆𝐷1
𝐶𝑠𝑚 = 𝑆𝐷𝑠
Sumber: SNI 2833:2016 Hal 17
3) Tekanan Tanah Akibat Gaya Gempa
Kondisi kesetimbangan gaya di belakang abutment diformulasikan dengan
gaya tekan tanah akibat pengaruh gempa seperti rumus berikut :
EAE = 0,5 x 𝛾 x 𝐻𝑡2 x (1 - kv) KAE ................................................................................................(2.12)
Dengan nilai koefisien tanah aktif seismic (KAE) sebagai berikut :
−2
𝑐𝑜𝑠2 (Φ− 𝜃 − 𝛽𝑎 ) sin (𝛿+Φ) 𝑥 sin (Φ− 𝜃 − 𝑖)
KAE = cos 𝜃 𝑐𝑜𝑠2 𝛽 𝑥 (1 + √ cos(𝛿+ Φ+ 𝛽 ) ............ (2.13)
𝑎 cos(𝛿+𝜃+𝛽𝑎 ) 𝑎 ) cos(𝑖− 𝛽𝑎 )
Adapun komponen tekanan tanah pasif yang cenderung mendorong taanah
timbunan dirumsukan sebagai berikut :
EAE = 0,5 x 𝛾 x 𝐻𝑡2 x (1 - kv) KAE .................................................................................................(2.14)
Keterangan:
𝛾 = berat jenis tanah (kN/m3)
Ht = tinggi tanah (m)
Φ = sudut geser internal tanah (o)
𝑘
𝜃 = arc tan ((1−𝑘ℎ ) )(o)
𝑣
𝛿 = sudut geser di antara tanah dan abutment (o)
𝑘ℎ = koefisien percepatan horizontal
𝑘𝑣 = koefisien percepatan vertical (pada umumnya diambil 0)
i = sudut kemiringan timbunan (o)
𝛽𝑎 = kemiringan dinding jembatan terhadap bidang vertical (o)
Sumber : SNI 2833:2016 Perencanaan Jembatan Terhadap Beban Gempa Hal. 54
21
2.4.2 Stabilitas Abutment
Dalam mengontrol kestabilan Abutment dari segi guling, geser,
eksentrisitas, serta tegangan dengan mempertimbangkan dua kondisi, yaitu
kondisi normal dan pada kondisi gempa seperti persamaan dibawah ini:
1) Stabilitas Abutment terhadap Daya Dukung Tanah dihitung menggunakan
persamaan (2.15)
0,3𝐵 0,2𝐵
Qun = [cNc (1 + )] + 𝑃𝑜(𝑁𝑞 − 1) + [0,5𝛾′B𝑁𝛾 (1 − )] ................. (2.15)
𝐿 𝐿
Keterangan :
c = Kohesi tanah (kN/m2)
L = Kedalaman Pondasi (m)
B = Lebar Pondasi (m)
𝛾′ = Berat volume tanah efektif (kN/m3)
Dengan nilai Nc, Nq, dan 𝑁𝛾 menurut Terzaghi tersaji dalam Tabel 2.7.
Tabel 2. 7 Faktor-faktor Kapasitas Dukung Menurut Terzaghi
Keruntuhan Geser Umum Keruntuhan Geser Lokal
φ
Nc Nq 𝑁𝛾 N’c N’q 𝑁′𝛾
0 5,7 1,0 0,0 5,7 1,0 0,0
5 7,3 1,6 0,5 6,7 1,4 0,2
10 9,6 2,7 1,2 8,0 1,9 0,5
15 12,9 4,4 2,5 9,7 2,7 0,9
20 17,7 7,4 5,0 11,8 3,9 1,7
25 25,1 12,7 9,7 14,8 5,6 3,2
30 37,2 22,5 19,7 19,0 8,3 5,7
34 52,6 36,5 35,0 23,7 11,7 9,0
35 57,8 41,4 42,4 25,2 12,6 10,1
40 95,7 81,3 100,4 34,9 20,5 18,8
45 172,3 173,3 297,5 51,2 35,1 37,7
48 258,3 287,9 780,1 66,8 50,5 60,4
50 347,6 415,1 1153,2 81,3 65,6 87,1
Sumber : Buku Teknik Fondasi 1 oleh Hary Christady Hardiyatmo 2017
Hal.94
22
2) Stabilitas abutment terhadap geser
Pengecekan keamanan abutment terhadap geser dapat diketahui dengan
melakukan perhitungan menggunakan persamaan berikut:
∑𝑹
Fgs = ∑ 𝑷𝒉 ≥ FK ............................................................................................... (2.16)
𝒉
Dengan:
FK ≥ 1,5 (kondisi normal)
FK ≥ 1,2 (kondisi gempa)
Keterangan:
∑ 𝑅ℎ = Tahanan abutment terhadap geser
∑ 𝑃ℎ = Jumlah gaya-gaya horizontal
Sumber : Buku Teknik Fondasi 1, Hary Christady Hardiyatmo, 2017:396
3) Stabilitas abutment terhadap guling dirumuskan sebagai berikut:
∑𝑴
Fgl = ∑ 𝑴 𝒘 ....................................................................................................... (2.17)
𝒈𝒍
Dengan :
Fgl ≥ 1,5 untuk tanah dasar granuler
Fgl ≥ 2 untuk tanah dasar kohesif
Keterangan :
∑ 𝑀𝑤 = W𝑏1
∑ 𝑀𝑔𝑙 = ∑ 𝑃𝑎ℎ ℎ1 + ∑ 𝑃𝑎𝑣 B
∑ 𝑀𝑤 = Momen yang melawan gaya guling (kN.m)
∑ 𝑀𝑔𝑙 = Momen yang mengakibatkan guling (kN.m)
W = Berat tanah diatas pelat pondasi + berat sendiri abutment (kN)
B = Lebar kaki abutment (m)
∑ 𝑃𝑎ℎ = Jumlah gaya-gaya horizontal (kN)
∑ 𝑃𝑎𝑣 = Jumlah gaya-gaya vertiksl (kN)
Sumber : Buku Teknik Fondasi 1, Hary Christady Hardiyatmo, 2017:399
4) Stabilitas abutment terhadap eksentrisitas (e)
23
Gaya-gaya resultan yang bekerja pada konstruksi harus diusahakan berada
pada daerah inti, yaitu dari bagian tengah dan dasar dinding dengan jarak kiri dan
kanan sebesar 1/6 lebar dasar. Cek keamanan terhadap eksentrisitas dapat
menggunakan rumus:
𝑩 ∑ 𝑴𝑿 − ∑ 𝑴𝒀 𝑩
e =𝟐− ∑𝑽
< 𝟔 .............................................................................. (2.18)
Keterangan :
B = Lebar dasar abutment (m)
∑ 𝑀𝑋 = Momen yang melawan gaya guling (kN.m)
∑ 𝑀𝑌 = Momen yang mengakibatkan guling (kN.m)
∑𝑉 = Gaya vertikal (kN)
Sumber : Fajar Santoso, 2009. Tinjauan Bangunan Bawah (Abutment) Jembatan
Karang Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Hal. 16 dari 63
5) Kontrol terhadap tegangan
Pengecekan keamaan abutment terhadap tegangan dapat diketahui dengan
melakukan perhitungan menggunakan persamaan berikut:
Ʃ𝑽 𝟔𝒆
σ = 𝑩 . 𝑳 − (𝟏 ± ) ≤ Qijin ....................................................................... (2.19)
𝑩
Jika σmaks = Qall (OK)
Jika σmaks ≤ Qall (OK)
Keterangan:
B = Lebar dasar abutment (m)
L = Panjang dasar abutment (m)
∑𝑉 = Gaya vertikal (kN)
e = Stabilitas abutment terhadap eksentrisitas
Sumber : Fajar Santoso, 2009. Tinjauan Bangunan Bawah (Abutment) Jembatan
Karang Kecamatan Karangpandan Kabupaten Karanganyar Hal. 16 dari 63
Dalam melakukan perhitungan, apabila nilai e > B/6 maka nilai qmin akan
bertanda negatif sehingga lebar dasar dari dinding penahan perlu diperbesar.
Perencanaan abutment harus dilakukan dengan baik dan teliti agar beban yang
bekerja pada abutment tidak menyebabkan terjadinya tekanan yang besar ke tanah
24
di bawahnya. Hal ini dikarenakan, tekanan yang besar dapat menyebabkan
terjadinya penurunan yang besar pula bahkan dapat menyebabkan terjadinya
keruntuhan pada abutment.
2.5 Pondasi Tiang Bor (Bore Pile)
Pondasi bore pile adalah pondasi yang dalam pengerjaannya dilakukan
pengecoran langsung pada lokasi proyek dengan cara melakukan pengeboran pada
titik-titik yang hendak disiapkan sebagai tiang bor. Dalam tahap pengecoran taing
digunakan bantuan pipa selubung baja (casing) yang digunakan sebagai penahan
pada lubang pengeboran agar tidak terjadi kelongsoran. Pemasangan pipa casing
dilakukan dengan rencana seperti Gambar 2.9.
Gambar 2.9 Pengerjaan Pondasi Tiang Bor
Sumber: Pondasi Bor dengan Metode Casing - [Link]
Jenis-jenis pondasi tiang bor terlihat seperti pada Gambar 2.10.
Gambar 2.10 Jenis Pondasi Tiang Bor
Sumber: Das, Braja M (2011:638)
25
a) Tiang bor lurus digunakan untuk lapisan tanah keras
b) Tiang bor yang memiliki ujung diperlebar berbentuk bel
c) Tiang bor yang memiliki ujung diperbesar berbentuk trapesium
d) Tiang bor yang memiliki ujung lurus, biasanya digunakan untuk tanah
bebatuan
Tabel 2. 8 Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Pondasi Tiang Bor
Kelebihan Pondasi Tiang Bor Kekurangan Pondasi Tiang Bor
1) Getaran yang ditimbulkan sangat1) Beton yang terendam air
kecil, cocok untuk pekerjaan kualitasnya lebih rendah dari
padat penduduk tiang pracetak dan pemeriksaan
2) Karena tanpa sambungan, dapat kualitas hanya dapat dilakukan
dibuat tiang yang lurus dengan secara tidak langsung
diameter lebih besar dan 2) Ketika beton dituangkan,
kedalaman tiang yang lebih ditakutkan beton akan bercampur
dalam dengan runtuhan tanah, oleh
3) Diameter biasanya lebih besar karena itu beton harus segera
dari pada tiang pracetak, dan dituangkan dengan baik
daya dukung setiap tiang lebih 3) Terkadang tiang pendukung
besar, sehingga tumpuan dapat kurang sempurna karena adanya
dibuat lebih kecil lumpur pada dasar tiang
4) Cara pemboran dalam arah 4) Diameter yang cukup besar dapat
berlawanan arah jarum jam dan memerlukan banyak beton
lapisan tanah dapat langsung sehingga biaya cukup mahal
diamati 5) Proses pengeboran
5) Pengaruh jelek terhadap menggunakan air dengan
bangunan didekatnya cukup kecil berlawanan arah jarum jam akan
membuat lokasi menjadi kotor
Sumber: Buku Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi, Sosrodarsono dan
Nakazawa Hal. 94
2.6 Daya Dukung Pondasi Bore Pile
Bored pile mempunyai daya dukung diperoleh dari kuat dukung ujung (end
bearing capacity), yang diperoleh dari tekanan pada ujung tiang dan kuat dukung
geser atau selimut (friction bearing capacity) yang diperoleh dari kuat dukung
gesek atau gaya adhesi antara bored pile dengan tanah disekelilingnya. Pondasi
tiang bor berhubungan langsung dengan tanah guna menciptakan daya dukung
yang mampu memikul dan memberikan keamanan untuk struktur atas serta
kenyamanan bagi penggunanya.
26
2.6.1 Daya Dukung Ijin Tekan Tiang Bor
Analisis daya dukung ijin tekan pondasi tiang terhadap kekuatan tanah
menggunakan persamaan sebagai berikut:
a) Daya dukung pada ujung tiang
Qb = qd x Ap ......................................................................................... (2.20)
b) Daya dukung ijin vertikal (tekan) berdasarkan data N-SPT (Meyerhof)
𝒒𝒅 𝒙 𝑨𝒑 Ʃ𝑳𝒊𝒇𝒊 𝒙 𝑨𝒔𝒕
Ra = + .......................................................................... (2.21)
𝑭𝑲𝟏 𝑭𝑲𝟐
Keterangan:
Ra = Daya dukung ijin tekan tiang
qd = nilai intensitas daya dukung ultimate pada ujung tiang (lihat Tabel 2.10
dan Gambar 2.11)
Ap = Luas penampang tiang
li = Panjang segmen tiang yang ditinjau
fi = Gaya geser pada selimut segmen tiang (lihat Tabel 2.11)
FK1, FK2 = Faktor keamanan, 3 dan 5
Sumber: Buku Desain Pondasi Tahan Gempa, Anugerah Pamungkas, dkk. Hal. 43
Untuk mengetahui nilai qd dapat dilihat pada Tabel 2.10 dan digunakan
diagram intensitas daya dukung tanah ujung tiang dilihat dari hubungan L/D dan
qd/N pada Gambar 2.11.
Tabel 2. 9 Perkitaan qd untuk Tiang yang Dicor di Tempat pada Satuan t/m2
Sumber: Sosrodarsono dan Nakazawa, 2000:102
27
Gambar 2. 11 Diagram Intensitas Daya Dukung Tanah Ujung Tiang
Sumber: Sosrodarsono & Nakazawa, 2000:101
Tabel 2.10 Intensitas Gaya Geser Dinding Tiang (fi)
Sumber: Sosrodarsono & Nakazawa, 2000:102
2.6.2 Daya Dukung Horizontal
Pondasi tiang dibedakan menjadi dua macam menurut model ikatan
penutup tiang, yaitu:
a. Tiang ujung jepit (fixed end pile) merupakan tiang yang ujung atasnya terjepit
atau tertanam pada pile cap lebih dari 60 cm
b. Tiang ujung bebas (free and pile) merupakan tiang yang ujung atasnya hanya
tertanam atau terjepit pada pile cap sedalam kurang dari 60cm.
Pada tiang ujung terjepit daya dukung horizontal dapat dihitung dengan
persamaan sesuai ketentuan berikut:
• Tiang Pendek dan Tanah Kohesif
Daya dukung horizontal bisa dihitung dengan rumus berikut:
3𝐷
𝐻𝑢 = 9 + 𝐶𝑢 × D × (Lp − ) ............................................................ (2.22)
2
28
𝐿𝑝 3𝐷
𝑀𝑚𝑎𝑥 = 𝐻𝑢 × ( + ) ..................................................................... (2.23)
2 2
• Tiang Sedang
Daya dukung horizontal pada tiang sedang dapat dihitung dengan rumus:
9 3𝐷 𝑓
𝑀𝑦 = (4)𝐶𝑢 × 𝐷𝑔2 − 9 × 𝐶𝑢 × 𝐷𝑓( + 2) ....................................... (2.24)
2
Nilai Hu dihitung dengan persamaan:
3𝐷
𝐿𝑝 = + f + g........................................................................................ (2.25)
2
• Tiang Panjang
Dikategorikan sebagai tiang panjang apabila nilai Mmax > My, dimana Hu
dinyatakan dengan rumus persamaan :
2×𝑀𝑦
Hu= 3𝐷 𝑓 .................................................................................................. (2.26)
+
2 2
Dengan nilai f yang diperoleh dengan persamaan rumus
𝐻𝑢
f = 9×𝐶𝑢×𝐷 ............................................................................................... (2.27)
Menurut pendekatan Stroud (1974) untuk menentukan kolerasi dengan undrained
shear strength (Cu) dapat dinyatakan dalam rumus persamaan
𝐶𝑢 = 𝑘 × 𝑁 ............................................................................................... (2.28)
Keterangan:
Hu = daya dukung tiang horizontal
Cu = undrained strenght (kN/m2)
D = diameter pondasi tiang (m)
Lp = kedalaman pondasi (m)
K = 3,5 – 6,5 (kN/m2) (Hardiyatmo 2002:363)
N = nilai N-SPT
Sumber: Buku Desain Pondasi Tahan Gempa, Anugerah Pamungkas, dkk. Hal.
60-61
29
2.6.3 Daya Dukung Ijin Tarik Tiang Bor
Analisis daya dukung ijin tarik pondasi tiang terhadap kekuatan tanah
menggunakan persamaan sebagai berikut:
Data N SPT (Meyerhof)
(Ʃ𝑳𝒊𝒇𝒊 𝒙 𝑨𝒔𝒕)𝒙𝟎,𝟕𝟎
Pta = + 𝑾𝒑 ......................................................................... (2.29)
𝑭𝑲𝟐
Keterangan:
Pta = Daya dukung ijin tekan tiang (ton)
Wp = Berat pondasi (ton)
Ast = Keliling penampang tiang
li = Panjang segen tiang yang ditinjau
fi = Gaya geser pada selimut segmen tiang
FK2 = Faktor keamanan, 3 dan 5
Sumber: Buku Desain Pondasi Tahan Gempa, Anugerah Pamungkas, dkk. Hal. 51
2.6.4 Perencanaan Tiang Bor Kelompok
Perhitungan jumlah tiang yang diperlukan pada suatu titik kolom
menggunakan beban aksial dengan kombinasi beban DL + LL (beban tak
terfaktor). Jumlah tiang yang diperlukan dihitung dengan membagi gaya aksial
yang terjadi dengan daya dukung tiang.
∑𝑽
np = 𝑹𝒂 .......................................................................................................... (2.30)
Keterangan:
np = Jumlah tiang
∑𝑉 = Gaya aksial yang terjadi
Ra = Daya dukung izin tiang
Sumber: Buku Desain Pondasi Tahan Gempa, Anugerah Pamungkas, dkk. Hal.
54-55
Dengan jarak antar tiang disyaratkan sesuai dengan ketentuan pada persamaan:
S ≥ 2,5D ......................................................................................................... (2.31)
(Nakazawa, 2000:96)
30
Keterangan:
S = jarak masing-masing tiang dalam kelompok (spacing)
D = diameter tiang
Gambar 2. 12 Jarak Pusat ke Pusat Tiang
Sumber: Sardjono (1991: 13)
2.6.5 Efisiensi Kelompok Tiang Pondasi
Perhitungan jumlah tiang yang diperlukan seperti yang baru dijelaskan
pada point ‘Stabilitas Kepala Jembatan (Abutment)’ masih belum sempurna karena
daya dukung kelompok tiang bukanlah berarti daya dukung satu tiang dikalikan
dengan jumlah tiang. Hal ini karena intervensi (tumpang tindihnya) garis-garis
tegangan dari tiang-tiang yang berdekatan (group action). Pengurangan daya
dukung kelompok tiang yang disebabkan oleh group action ini biasanya
dinyatakan dalam suatu angka efisiensi. Perhitungan efisiensi kelompok tiang
berdasarkan rumus Converse-Labbarre dari Uniform Building Code AASHTO
adalah:
(𝒏−𝟏)𝒎+(𝒎−𝟏)𝒏
Eg = 1 - θ .............................................................................. (2.32)
𝟗𝟎 𝒎𝒏
𝑫
θ = arc ×tg 𝒔 .................................................................................................. (2.33)
Daya dukung vertikal kelompok = Eg x jumlah pile x daya dukung ijin tiang
Keterangan:
Eg = Efisiensi kelompok tiang
θ = Arc tg (D/s) (°)
D = Ukuran penampang tiang
s = Jarak antara tiang (as ke as)
m = Jumlah tiang dalam 1 kolom
n = Jumlah tiang dalam 1 baris
31
Syarat: daya dukung kelompok tiang harus lebih besar daripada gaya aksial yang
terjadi.
Sumber: Buku Desain Pondasi Tahan Gempa, Anugerah Pamungkas, dkk. Hal.
55-56
2.6.6 Beban Maksimum Tiang pada Kelompok Tiang
Akibat beban-beban dari atas dan juga dipengaruhi oleh formasi tiang
dalam satu kelompok tiang pondasi akan mengalami gaya tekan atau tarik, untuk
memastikan bahwa masing-masing tiang dapat menahan beban dari struktur atas
sesuai dengan daya dukungnya maka diperlukan kontrol pada masing-masing
tiang pondasi.
Pada kelompok tiang podasi dan pile cap terjadi pendistribusian beban
aksial dan momen. Beban aksial dan momen yang bekerja direncanakan agar
aman terhadap deformasi atau lengkung maka berdasarkan rumus elastis, pile cap
diasumsikan kaku sempurna. Untuk mengetahui nilai beban maksimum dan beban
minimum yang bekerja pada kelompok tiang pondasi digunakan persamaan:
𝑷𝒖 𝑴𝒚 × 𝑿𝒎𝒂𝒙 𝑴𝒙 × 𝒀𝒎𝒂𝒙
Pmaks = 𝒏𝒑 ± ± ........................................................... (2.34)
𝒏𝒚Ʃ𝑿𝟐 𝒏𝒙Ʃ𝒀𝟐
Keterangan:
Pmaks = Beban maksimum tiang
Pu = Gaya aksial yang terjadi (terfaktor)
My = Momen yang bekerja tegak lurus sumbu y
Mx = Momen yang bekerja tegak lurus sumbu x
Xmax = Jarak tiang arah sumbu x terjauh
Ymax = Jarak tiang arah sumbu y terjauh
ƩX2 = Jumlah kuadrat X
ƩY2 = Jumlah kuadrat Y
nx = Banyak tiang dalam satu baris arah sumbu x
ny = Banyak tiang dalam satu baris arah sumbu y
np = Jumlah tiang
Sumber: Buku Desain Pondasi Tahan Gempa, Anugerah Pamungkas, dkk. Hal. 57
32
Catatan:
- Apabila P maksimum yang terjadi bernilai positif, maka pile mendapatkan
gaya tekan.
- Apabila P maksimum yang terjadi bernilai negatif, maka pile mendapatkan
gaya tarik.
Berdasarkan hasil-hasil tersebut dapat dilihat apakah masing-masing tiang
masih memenuhi daya dukung tekan dan/atau tarik bila ada.
2.6.7 Penurunan (Settlement) Kelompok Tiang
Penurunan tiang pada kelompok tiang merupakan jumlah penurunan elastis
atau penurunan yang terjadi dalam waktu dekat (immediate settlement atau elastic
settlement) Si dan penurunan yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang (long
term consolidation settlement) Sc. Penurunan total merupakan penjumlahan dari
kedua jenis penurunan tersebut.
S = Si + Sc..................................................................................................... (2.35)
Keterangan:
S = Penurunan total (m)
Si = Immediate settlement (m)
Sc = Consolidation settlement (m)
Sumber: Buku Desain Pondasi Tahan Gempa, Anugerah Pamungkas, dkk. Hal. 79
[Link] Segera (Immediate Settlement)
Penurunan segera adalah penurunan yang terjadi secara segera setelah beban
bekerja, hal itu dirumuskan sebagai berikut:
𝒒𝑩
Si = μ1 μ0 .................................................................................................. (2.36)
𝑬
Keterangan:
Si = Penurunan segera (m)
q = Tekanan yang terjadi (Pu/A)
B = Lebar kelompok tiang (m)
E = Modulus elastisitas tanah (kN/m2)
μ1 = Faktor koreksi untuk lapisan tanah dengan tebal terbatas H
μ0 = Faktor koreksi untuk kedalaman pondasi
33
Sumber: Buku Desain Pondasi Tahan Gempa, Anugerah Pamungkas, dkk. Hal. 79
Nilai perkiraa modulus elastis tanah (E) dapat dihitung dari nilai N-SPT pada
tanah di lokasi pembangunan. Menurut Mitchell dan Gardner, hubungan nilai (E)
dan N-SPT adalah:
E = 10 x (N+15) ............................................................................................ (2.37)
Sumber: Hardiyatmo, 2017:281
Untuk menentukan nilai μ1 dan μ0 dapat dilihat pada Gambar 2.13
Gambar 2.13 Grafik Untuk Menentukan Nilai μ1 dan μ0
Sumber: Teknik Fondasi 1, Hary Christady Hardiyatmo 2017 Hal.234
2.6.8 Penulangan Badan Abutment (breast wall)
a. Tulangan Utama
Perencanaan penulangan pada badan abutment (breast wall) mengacu pada
Direktorat Jendral Bina Marga (2021) tentang Panduan Praktis Perencanaan
Teknis Jembatan. Dalam perhitungan kapasitas penampang kolom ini
menggunakan Program spColoumn untuk mengetahui apakah desain penampang
dan tulangan yang direncanakan mampu menahan beban aksial dan momen yang
bekerja (Simanjuntak, 2021).
Perencanaan dikontrol menggunakan diagram interaksi kolom yang
memiliki dua sumbu utama yaitu sumbu vertikal yang menyatakan besar beban
aksial (Pu), dan sumbu horizontal yang menyatakan besar momen (Mu). Setiap
34
kombinasi beban Pu dan Mu yang berada di dalam diagram interaksi menandakan
penampang dapat memikul beban yang terjadi. Diagram interaksi kolom dapat
dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2.14 Diagram Interaksi Kolom
b. Tulangan Geser
Berdasarkan SNI 2847-2013 Hal. 87 desain penampang yang dikenai geser
harus memiliki syarat ∅𝑉𝑐 > 𝑉𝑢 dimana nilai 𝑉𝑛 adalah sebagai berikut.
• Menentukan ∅𝑉𝑐
𝟏
∅𝑽𝒄 = 0,65 x x √𝒇𝒄 ′ x b x d ...................................................................... (2.38)
𝟔
Apabila ∅𝑉𝑐 < 𝑉𝑢 maka diperlukan tulangan geser dengan langkah berikut.
• Menentukan kekuatan geser nominal
𝑉𝑢
𝑉𝑠 = ............................................................................................................ (2.39)
∅
• Menentukan luas tulangan geser yang diperlukan
𝑽𝒔 . 𝒔
𝑨𝒗 = 𝒇𝒚 . ................................................................................................... (2.40)
𝒅𝒆𝒇
• Menentukan luas tulangan minimum
𝑏. 𝑠
𝐴𝑣𝑚𝑖𝑛 = 0, 𝟎𝟖𝟑 x √𝑓𝑐 ′ x ........................................................................ (2.41)
𝑓𝑦
• Menentukan luas tulangan yang digunakan
1 𝑏 𝑠
𝐴𝑣𝑢𝑠𝑒 = 4 x 𝜋 x 𝐷2 𝑥 𝑥 ...................................................................... (2.42)
𝑠ℎ 𝑠𝑣
Av use > Avperlu (Aman)
35
Sumber: Direktorat Jendral Bina Marga tentang Panduan Praktis Perencanaan
Teknis Jembatan (2021), Hal. 108-109.
a. Tulangan Geser
Tulangan bagi: As bagi = 20% x Aspokok ……………………………..…… (2.43)
2.6.9 Penulangan Pile Cap Abutment
a. Perencanaan Tulangan Lentur
Penulangan pada pile cap abutment menggunakan rumus yang sama pada
penulangan struktur seperti berikut:
𝟎,𝟖𝟓 𝒙 𝜷𝟏 𝒙 𝒇′𝒄 𝟔𝟎𝟎
ρb = ( ) × (𝟔𝟎𝟎+𝒇𝒚) .................................................................... (2.44)
𝒇𝒚
ρmax = 0,75 x ρb .......................................................................................................................................... (2.48)
𝟏,𝟒
ρmin = ....................................................................................................... (2.49)
𝒇𝒚
𝒇𝒚
m = 𝟎,𝟖𝟓 𝒙𝒇′𝒄 .................................................................................................. (2.50)
𝑴𝒏
Mn = ....................................................................................................... (2.51)
∅
𝑴𝒏
Rn = ...................................................................................................... (2.52)
𝒃 . 𝒅𝟐
𝟏 𝟐.𝒎.𝑹𝒏
ρperlu = 𝒎 {𝟏 − √𝟏 − ( )} .................................................................... (2.53)
𝒇𝒚
Luas tulangan: As = ρmin x b x d …………………………………………… (2.54)
𝟏 𝒃
Luas tulangan pakai: 𝑨𝒔 𝒑𝒂𝒌𝒂𝒊 = 𝟒 × 𝝅 × 𝑫𝟐 𝒙 𝒔 ....................................... (2.55)
Kontrol momen kapasitas :
𝒂
∅𝑴𝒏 = 0,9 x As x fy x (𝒅 − ) > Mu ......................................................... (2.56)
𝟐
Tulangan bagi: As bagi = 20% x Aspokok ……………………………..…… (2.55)
b. Kontrol geser satu arah
𝐏𝐮
Menentukan gaya geser pada penampang kritis: σ = (2.56)
𝑨
Daerah pembebanan geser satu arah:
𝐩𝐚𝐧𝐣𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐨𝐧𝐝𝐚𝐬𝐢 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐫 𝐤𝐨𝐥𝐨𝐦
G’ = L – ( + + def) (2.57)
𝟐 𝟐
Gaya geser pada penampang kritis: Vu = σ x L x G’.................................... (2.58)
36
Kontrol kuat geser beton:
𝟏
∅𝑽𝒄 = 0,75 x x √𝒇𝒄 ′ x bw x d > Vu........................................................... (2.59)
𝟔
Sumber: Buku Desain Pondasi Tahan Gempa, Anugerah Pamungkas, dkk. Hal.
90-91
2.7 Perencanaan Penulangan Pondasi Tiang Bor
2.7.1 Perencanaan Tulangan Longitudinal
Perencanaan tiang pondasi bor (bore pile) diasumsikan sama dengan
perencanaan kolom dengan penampang lingkaran/bulat, dalam perencanaannya
terdapat beberapa langkah, antara lain:
a. Perhitungan Ast atau luas tulangan longitudinal yang akan digunakan.
Menurut SNI 2847 (2013:78), luas tulangan struktur komponen tekan tidak
boleh kurang dari 0,01 Ag atau lebih dari 0,08 Ag.
1
𝐴𝑔 = 4 × 𝜋 × 𝐷 2 ......................................................................................... (2.66)
1
𝐴𝑠𝑡 = 4 × 𝜋 × 𝐷2 × 𝑛 ................................................................................. (2.67)
Keterangan :
Ag = luas penampang beton (mm2)
Ast = luas tulangan (mm2)
D = diameter penampang beton (mm)
n = jumlah tulangan
Untuk kemudahan perencanaan penampang tiang bor diekuivalenkan
sebagai penampang berbentuk segi empat untuk menentukan eksentrisitas dalam
keadaan balance yang terlihat pada Gambar 2.15.
Gambar 2.15 a. Penampang Lingkaran, b. Penampang Ekuivalen Persegi
• Tinggi ekuivalen penampang segi empat
37
(ℎ𝑒𝑞 )= 0,8D ................................................................................................... (2.68)
• Lebar ekuivalen penampang segi empat
1
x 𝜋 x 𝐷𝑔 2
4
(𝑏𝑒𝑞 ) = ............................................................................................ (2.69)
ℎ𝑒𝑞
• Luas tulangan total Ast didistribusikan pada dua lapis
1
𝐴𝑠 = 𝐴𝑠 ′ = 2 𝐴𝑠𝑡 ......................................................................................... (2.70)
• Menentukan 𝐷𝑠
𝐷𝑠 = D - (2 x selimut beton) - 𝐷𝑠𝑝𝑖𝑟𝑎𝑙 ........................................................... (2.71)
• Jarak antar tuangan
2
𝐷𝑠𝑒𝑞 = 3 x 𝐷𝑠 ............................................................................................... (2.72)
Keterangan :
Ds = tinggi efektif penampang (mm)
b. Cek nilai eksentrisitas rencana (e) terhadap eksentrisitas balance (cb)
• Menentukan 𝑑𝑒𝑞
ℎ𝑒𝑞 − 𝐷𝑠𝑒𝑞
𝑑𝑒𝑞 = 𝐷𝑠𝑒𝑞 + ..................................................................................... (2.73)
2
• Menentukan 𝐶𝑏
ℎ𝑒𝑞 − 𝐷𝑠𝑒𝑞
𝐶𝑏 = 𝑑𝑒𝑞 x ....................................................................................... (2.74)
2
• Menentukan 𝐴𝑏
𝐴𝑏 = 𝛽1 x 𝐶𝑏 .................................................................................................. (2.75)
• Menentukan regangan baja pada tulangan
(ℎ𝑒𝑞 − 𝐷𝑠𝑒𝑞 )
𝜀𝑐 𝑥 (𝐶𝑏 − )
′ 2
𝜀𝑠 = ................................................................................. (2.76)
𝐶𝑏
• Menentukan tekan leleh pada tulangan
𝑓𝑠 ′ = Es x 𝜀𝑠 ′ > fy (tekan leleh) ..................................................................... (2.77)
38
• Pemeriksaan Pnb terhadap Pu untuk mengetahui tiang akan mengalami
keruntuhan tekan atau tarik, dengan menghitung persamaan berikut:
𝑃𝑛𝑏 = (0.85 × 𝑓𝑐 ′ × 𝑎𝑏 × 𝑏𝑒𝑞 ) + (𝐴𝑠 ′ × 𝑓𝑠 ′ ) − (𝐴𝑠 × 𝑓𝑦) ............. (2.78)
∅Pnb = 0,7 x Pnb .......................................................................................... (2.78)
Dengan:
∅Pnb > Pu (mengalami keruntuhan tarik)
∅Pnb < Pu (mengalami keruntuhan tekan)
𝑀𝑢
• e= .................................................................................................... (2.79)
Pu
• emin = 0,05 x D ......................................................................................... (2.80)
• Persamaan untuk penampang bulat jika mengalami keruntuhan tarik:
0,85 ×𝑒 2 𝜌𝑔 × 𝑚×𝐷𝑠 0,85×𝑒
𝑃𝑛 = 0,85 x fc′ 𝑥 ℎ2 × (√( − 0,38) + − ( − 0,38))
ℎ 2.5×ℎ ℎ
......................................................................................................................... (2.81)
• Persamaan untuk penampang bulat jika mengalami keruntuhan tekan:
𝐴𝑠 ×𝑓𝑦 𝐴𝑔 ×𝑓𝑐′
𝑃𝑛 = 3𝑒 + 9,6 ×ℎ×𝑒 ................................................................. (2.82)
+1,0 +1,18
𝐷𝑠 (0,8ℎ+0,67𝐷𝑠)2
𝑓𝑦
• m = 0,85 x fc′ ............................................................................................ (2.84)
𝐴𝑠𝑡 luas penulangan total
• ρg = = luas penampang bruto ............................................................... (2.85)
Ag
Syarat: ∅Pn ≥ Pu
2.7.2 Perencanaan Sengkang
Tiang bor pondasi bor (bore pile) berbentuk lingkaran/bulat, maka untuk
penulangan sengkang atau pengikat digunakan tulangan spiral. Dalam
perencanaan tulangan spril diberlakukan beberapa ketetapan sesuai dalam SNI
2847 (2013:55):
• Tulangan spiral yang digunakan untuk konstruksi yang pengecorannya
dilakukan di tempat tidak boleh kurang dari diameter 10 mm
• Syarat untuk jarak atau spasi antar tulangan spiral tidak kurang dari 25 mm
dan tidak boleh melebihi 75 mm.
• Rasio volume tulangan spiral
39
𝐴𝑔 𝑓𝑐′
𝜌𝑠 = 0,45 × ( 𝐴𝑐 − 1) × 𝑓𝑦𝑡 ......................................................................... (2.86)
• Perencanaan jarak antar tulangan spiral
1
As = 4 × 𝜋 × 𝑑𝑠 2 ......................................................................................... (2.87)
4 𝑥 𝐴𝑠 𝑥 (𝐷𝑐−𝑑𝑠)
S= .......................................................................................... (2.88)
𝜌𝑠 𝑥 𝐷𝑐 2
2.7.3 Perencanaan Tulangan Tusuk Konde
• Dalam kondisi tarik
Menurut SNI 2847:2019 Pasal [Link] panjang jangkar penulangan atau panjang
penyaluran untuk tulangan ulir dalam kondisi tarik, ld, dihitung sebagai berikut:
𝑓𝑦 𝜓𝑡 𝜓𝑒 𝜓𝑠
ld = ( . 𝑐𝑏 +𝐾𝑡 ) x db ........................................................................ (2.89)
1,1𝜆√𝑓𝑐′ 𝑑𝑏
Keterangan:
𝑑𝑏 = diameter tulangan pokok
𝑓𝑦 = kuat Tarik baja tulangan
𝑓𝑐 ′ = mutu beton
λ = untuk beton normal digunakan 1,0
= untuk beton ringan tidak boleh lebih dari 0,75
ψ𝑡 = apabila tulangan horizontal dipasang hingga lebih dari 300 mm beton
segar dicor di bawah Panjang sambungan, ψ𝑡 = 0,3 untuk kondisi yang
lain dipakai ψ𝑡 = 1,0
ψ𝑒 = apabila batang tulangan dilapisi epoksi, atau dilapisi ganda bahan seng
dan epoksi, atau kawat dilapisi epoksi dengan selimut kurang dari 3𝑑𝑏 ,
atau spasi bersih kurang dari 6𝑑𝑏 , maka ψ𝑒 = 1,5. Untuk semua semua
batang tulangan yang dilapisi epoksi, atau batang tulangan dilapisi ganda
bahan seng dan epoksi, atau kawat dilapisi epoksi lainnya, maka ψ𝑒 =
1,2. Apabila tulangan tidak dilapisi dan dilapisi bahan seng (digalvanis),
maka ψ𝑒 = 1,0.
ψ𝑠 = untuk batang tulangan ulir D-19 atau yang lebih kecil maka ψ𝑠 = 0,8.
Untuk batang tulangan D-22 dan yang lebih besar maka ψ𝑠 = 1,0.
40
c𝑏 = yang lebih kecil dari jarak dari pusat batang tulangan atau kawat ke
permukaan beton terdekat, dan setengah spasi pusat ke pusat batang
tulangan atau kawat yang disalurkan.
K 𝑡𝑟 = diizinkan menggunakan 0 sebagai penyederhanaan desain meskipun
terdapat tulangan transversal.
• Dalam kondisi tekan
Menurut SNI 2847-2013 Pasal [Link] panjang jangkar penulangan atau panjang
penyaluran untuk tulangan ulir dalam kondisi tekan, ldc1 harus dihitung sebagai
berikut.
0,24 𝑓𝑦 Ψ𝑟
ldc1 = ( ) .db .............................................................................................................................(2.90)
𝜆√𝑓𝑐′
𝑙𝑑𝑐2 = 𝑑𝑏 x (0,043𝑓𝑦 ) ..................................................................................... (2.91)
Keterangan:
𝑑𝑏 = diameter tulangan pokok
𝑓𝑦 = kuat Tarik baja tulangan
𝑓𝑐 ′ = mutu beton
λ = untuk beton normal digunakan 1,0
= untuk beton ringan tidak boleh lebih dari 0,75