0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan7 halaman

Cinta dan Depresi: Kisah Ara

Cerpen ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Ara yang berjuang melawan depresi dan kesepian akibat perlakuan ibunya dan kehilangan orang-orang terkasih. Kehadiran Alfan, seorang teman dari sekolah, memberikan harapan baru dan dukungan emosional yang membuat Ara merasa tidak sendirian lagi. Melalui cerita ini, Ara belajar untuk berbagi beban hidupnya dan menemukan kekuatan dalam hubungan yang tulus.

Diunggah oleh

Sinar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan7 halaman

Cinta dan Depresi: Kisah Ara

Cerpen ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Ara yang berjuang melawan depresi dan kesepian akibat perlakuan ibunya dan kehilangan orang-orang terkasih. Kehadiran Alfan, seorang teman dari sekolah, memberikan harapan baru dan dukungan emosional yang membuat Ara merasa tidak sendirian lagi. Melalui cerita ini, Ara belajar untuk berbagi beban hidupnya dan menemukan kekuatan dalam hubungan yang tulus.

Diunggah oleh

Sinar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

NAMA : NUR AZZAHRA

KELAS : IX ANDI DEPU

TUGAS : MEMBUAT CERPEN

MAPEL : BAHASA INDONESIA

AKU DAN DEPRESI

Dua tahun lalu , di malam dengan rintikan hujan seeorang gadis bernama ara

sedang meratapi nasibnya yang membuatnya merasa di perlakukan tidak adil oleh ibunya

yang bernama sari. Namun dengan kehadiran aflan yang ia temui di bangku sma, ia dapat

merubah pandangannya terhadap hidup yang ia jalani.

Hidupku terasa hampa, begitu gelap gulita di setiap harinya. Tak ada kebahagiaan,

tak ada sebuah dekapan untuk menguatkan, yang ada hanya kepahitan dan keraguan.

Entah takdir apa yang tuhan tuliskan untukku, kenapa sesakit ini? Aku punya keluarga,

tapi tak utuh. Aku tak memiliki teman selain diriku sendiri dan bintang malam yang

selalu mendengarkan coletehanku yang kelam. Bagiku tak ada pertemanan yang ada

hanya sebuah penghianatan. Aku tak butuh sebuah ucapan manis yang akan menenangkan

dari sebuah pertemanan, nyatanya mereka hanya ingin tahu, tidak untuk mengerti ataupun

peduli.

Bukannya aku tak bersyukur atas apa yang aku miliki sekarang . namun aku

benar-benar capek dengan situasi seperti ini. Orang-orang yang kusayang perlahan

menghilang, meninggalkanku sendiri dengan depresi ini. Aku merasa kesepian , aku

merasa tak berguna, aku merasa tak [Link] hanya ingin mati dan terbebas dari

depresi ini.
Aku hanya bisa menangis dan menangis, meratapi nasibku yang [Link] ini

akan berakhir? Sungguh,aku sudah tak kuat lagi. Malam ini di balik jendela yang tertutup,

aku terdiam menatap butiran hujan yang turun ke bumi seakan-akan berlomba-lomba

menghancurkan diri dan menyisakan sebuah genangan sebagai kenang-kenangan.

Aku menyukai hujan, dengan hujan aku bisa menangis sekencang-kencangnya,

menumpahkan segala keluh kesah lewat tangisan.

“ara!” panggil seseorang sembari mengetuk pintu, aku tahu itu ibuku.

Aku segera menghapus air mataku yang sempat turun bersamaan dengan hujan,

kakiku berjalan membuka pintu. Setelah pintu terbuka, menampakan figur wanita paruh

baya, sari namanya, dia ibuku.

‘kenapa ade kamu belum pulang jam segini hah?!” bentakan ibuku, mampu

membuatku tercengang, rasanya telingaku sakit meski sudah terbiasa dibentak,bahkan

lebih dari itu.

“aku gak tahu, bu....” jawabku sembari menunduk takut, aku tak berani menatap

ibuku yang sedang marah.

“apa kamu bilang? Gak tahu?! Seharian kamu diam di rumah, dan gak tahu ade

kamu pergi ke mana?!” suara ibuku semakin meninggi, aku tahu, ibuku pasti khawatir

pada anaknya yang belum pulang saat larut malam seperti ini.

Aku memberanikan diri untuk menatapnya.

“a-aku benar-benar gak tahu bu, aku berkata [Link] aku tak

mengetahui adikku,arlin, pergi ke mana”.

“dasar kakak tak berguna!” decit ibuku, lalu ia pergi begitu saja setelah

melontarkan kata-kata yang begitu menyakitkan.


Aku menutup pintu kamarku kembali dan menguncinya, punggungku bersandar di

balik pintu sembari menangis tanpa suara. Tubuhku merosat, aku memeluk kedua lututku,

batinku benar-benar sakit. Kenapa? Kenapa selalu aku yang di salahkan?. Butiran bening

terus turun membasahi pipiku tanpa henti. Rasanya dadaku sesak dan hatiku sakit. Aku

memang tak berguna, kedua tanganku menarik kuat rambutku,aku segera bangkit dan

mengambil sesuatu yang berada di dalam laci nakas,lalu aku duduk di kasur.

“kenapa batinku saja yang sakit? Itu tidak adil, fisikku juga harus merasakannya!”

ucapku sembari menangis tersedu- sedu.

Aku menggoreskan sebuah cutter itu ke pergelangan tanganku, rasanya otakku

sudah terkontaminasi dengan emosi. Beberapa sayatan mampu membuatku tenang, meski

darah segar itu keluar begitu banyak. Senyum kecut terletak di bibirku. Aku membanting

cutter yang sudah terlumuri darah itu dengan asal, kemudian aku membaringkan tubuhku,

tatapanku kosong, menatap langit-langit kamar yang begitu datar dan mulus,tidak seperti

hidupku yang rumit dan berliku-liku.

“tuhan, kapan ini akan berakhir?” tanyakudengan lirih sebelum aku benar-benar

terlelap dan masuk ke dalam mimpi.

Pagi yang sangat cerah, langit yang membiru membuat burung-burung terbang

sangat riang,terdengar dari kicauannya yang merdu. Mungkin sebagaian orang malas

untuk bangun pagi itu sangat dindin,tapi tidak dengan aku, aku sudah bangun sejak 1jam

yang [Link] sudah siap dengan seragam sekolahku serta tas yang menempel di

punggungku. Suara detak jarum jam terdendangar begitu jelas di telingaku, ternyata jam

menunjukkan jam 06.00 pagi.

Aku berjalan ke arah cermin, menatap diriku yang rapuh. “ aku gadis kuat,aku

harus senyum!” kataku menyemangati diri sendiri sembari memaksakan tersenyum tipis.
Aku berjalan keluar dari kamarku lalu menuruni tangga, iris coklat milikku

menyapu ke setiap sudut ruangan tak ada tanda-tanda kehidupan, di pagi seperti ini

rumahku benar-benar sepi seperti tak berpenghuni, tapi aku sudah terbiasa. Tidak

berlama-lama aku segera berangkat sekolah seorang diri, menaiki bus yang selalu

mengantarkan sampai tujuan.

Sesampainya di sekolah, aku berjalan menelusuri koridor, tujuanku adalah

kelasku, XI IPA 1 sekolah tampak ramai, banyak murid-murid yang sudah

berdatangan. Sejujurnya aku tidak suka keramaian. Aku menyukai sendiri dan

mengasingkan diri. Selang beberapa menit, aku pun sampai di ruang kelas, aku segera

duduk di kursi paling belakang tanpa teman sebangku, aku memang terbiasa sendiri, aku

nyaman dengan kesendirian.

Suara bel masuk terdengar jelas, seketika murid-murid berhamburan masuk ke

dalam kelas seperti semut yang masuk ke dalam sarangnya, berdesak-desakan. Tak lama

gurupun masuk, serta pembelajaran pun di mulai, aku terus memperhatikan ketika guru

menerangkan di depan. 2 jam kemudian bel istirahat kembali berbunyi, membuat murid-

murid bersorak ria.

“ara sini sebentar!” pinta guru itu kepadaku, lolis namanya.

“yang lain boleh istirahat ya!” katanya, semua murid pun segera keluar.

Aku segera menghampiri bu lolis

“ada apa bu?” tanyaku.

“ibu boleh minta tolong?” aku pun mengangguk kecil.

“tolong simpan buku paket ini ke perpustakaan ya?bisa,kan?” aku menatap buku

paket yang ada di meja guru.


“ bisa bu”, jawabku sembari senyum.

Aku mengambil buku paket tersebut, aku sedikit meringis, mengingat sayatan

yang berada di tanganku terkena buku, sakit, tapi tak sesakit hatiku. Tidak ada yang tahu,

tentang sayatan di tanganku, karena aku memakai seragam lengan panjang. Aku pun

berjalan pelan menuju perpustakaan.

Tak sengaja aku menabrak seseorang, aku benar-benar ceroboh sehingga buku-

buku itu terjatuh ke [Link] segera memungutnya, begitupun seseorang yang

kutabrak,dia membantuku.

“tangan lo berdarah!” katanya,aku langsung mendongak menatap siapa seseorang

itu.

Seketika aku menegang, mataku beralih menatap tanganku yang sudah berlumuri

darah, bahkan seragam sekolah ku sudah terganti dengan merah darahku. Ketika aku

ingin mengambil tumpukan buku yang sudah tersusun rapi, laki-laki itu membawanya

terlebih dahulu.

“biar aku aja” kataku.

“lo gak lihat? Tangan loh berdarah,biar gue ajah!, ini di bawa ke perpustakaan

kan? Ikutin gue”. Perintahnya, aku hanya menghambuskan napasku pelan dan

mengangguk.

Sesampainya di perpustakaan laki-laki itu menyimpan buku tersebut, tak lupa

akupun mengucapkan terima kasih padanya. Aku kira dia akan pergi begitu saja, tapi

malah membawaku ke uks. Dia mengobati pergelangan tanganku dengan telaten, aku

hanya bisa memandangi wajah tampan laki-laki itu. Dia alfan,laki-laki yang mampu

membuatku jatuh hati sejenak .


Setelah mengobati tanganku dia bertanya mengapa tanganku seperti ini.

“tangan lo kenapa?!” tanyanya

“eh,emm ga-k pa-pa....” balasku gegalapan.

“jelas-jelas ini berdarah,lo bilang gak kenapa-napa?! Lo nyayat tangan,ya??!

Aku membisu, tak menjawab apa-pun,mungkin ini baru pertama kalinya ada

seseorang yang mengetahui tentang luka yang aku buat.

“jawab ara?!” aku sediki tercengang, kemudian mengangguk kecil dengan penuh

keraguan,tapi kenapa dia mengetahui namaku? Pikirku.

Ternyata dia adalah seseorang yang telah ku kagumi sejak lama dan ternyata dia

juga menyukaiku,aku merasa ini sebuah mimpi, aku merasa bahagia detik ini juga

ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan lagi. Selang beberapa menit aku dan dia

keluar dari uks dan tujuanku sekarang adalah kelas,karena sebentar lagi bel akan

berbunyi.

“nanti gue tunggu di parkiran!” sebelum laki-laki itu pergi dia mengatakan seperti

itu, aku hanya mengangguk.

Selepas pulang sekolah,alfan mengajakku ke taman, aku pun tak bisa

menolak,karena alfan tanpak memaksa. Kini aku dan alfan sudah duduk di kursi

[Link] melihat ke sekitar taman,tamoak [Link] menyukai situasi seperti ini.

“lo boleh cerita apapun yang bikin lo menderita,asal jangan sakiti diri lo

lagi,oke?!” katanya.

Aku menunduk, merasa ragu untuk bercerita [Link] rasa cukup diriku saja

yang tahu, menelan manis, pahitnya hidup ini. Alfan menggenggam tangan
kananku,seakan menyakinkanku bahwa dirinya adalah orang yang tepat. Aku

menghembuskan napas pelan, kemudian aku bercerita, semuanya, tentang hidupku yang

begitu pahit. Sontak saja aku tak dapat menahan air mataku, aku menangis dalam

pelukannya yang begitu nyaman yang membuatku merasa aku tidak sendirian lagii. Kini

aku sudah memiliki tempat untuk pulang, tempat ku mengaduh dan tempat bercerita

tentang segala masalah ku, aku sudah tidak sendirian lagi kini aku bersamamu, alfan....

Anda mungkin juga menyukai