0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Asuhan Keperawatan RDS Neonatus di NICU

Dokumen ini membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan Respiratory Distress Syndrome (RDS) di ruang NICU, termasuk pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan medis dan keperawatan, serta komplikasi yang mungkin terjadi. RDS adalah gangguan pernapasan pada neonatus yang disebabkan oleh imaturitas paru dan kekurangan surfaktan. Penatalaksanaan meliputi perbaikan oksigenasi, pemantauan kondisi, dan tindakan keperawatan yang sesuai untuk mendukung perawatan bayi prematur.

Diunggah oleh

nsuswatunskep
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Asuhan Keperawatan RDS Neonatus di NICU

Dokumen ini membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan Respiratory Distress Syndrome (RDS) di ruang NICU, termasuk pengertian, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan medis dan keperawatan, serta komplikasi yang mungkin terjadi. RDS adalah gangguan pernapasan pada neonatus yang disebabkan oleh imaturitas paru dan kekurangan surfaktan. Penatalaksanaan meliputi perbaikan oksigenasi, pemantauan kondisi, dan tindakan keperawatan yang sesuai untuk mendukung perawatan bayi prematur.

Diunggah oleh

nsuswatunskep
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.M DENGAN


RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME DI RUANG
NICU RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH

OLEH :

SITI NURJANNAH, [Link]


NIM. 2407901050

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
MUHAMMADIYAH LHOKSEUMAWE
TAHUN 2025
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Dasar Medis Respiratory Distress Syndrome


1. Pengertian RDS (Respiratory Distress Syndrome)
Sindroma gagal nafas (respiratory distress sindrom, RDS) adalah
istilah yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. Gangguan
ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan
perkembangan maturitas paru atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam
paru (Marmi & Rahardjo, 2012).
Sindrom gawat napas RDS (Respiratory Distress Syndrom) biasanya
juga dikenal dengan nama hyaline membran desease (HMD) atau penyakit
membran hialin, karena pada penyakit ini selalu ditemukan membran hialin
yang melapisi alveoli (Surasmi, dkk, 2003).

2. Etiologi RDS (Respiratory Distress Syndrome)


Penyebab kegagalan pernafasan pada neonatus yang terdiri dari faktor
ibu, faktor plasenta, faktor janin dan faktor [Link] ibu meliputi
hipoksia pada ibu, usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun,
gravida empat atau lebih, sosial ekonomi rendah, maupun penyakit pembuluh
darah ibu yang mengganggu pertukaran gas janin seperti hipertensi, penyakit
jantung, diabetes melitus, dan lain-lain. Faktor plasenta meliputi solusio
plasenta, perdarahan plasenta, plasenta kecil, plasenta tipis, plasenta tidak
menempel pada tempatnya.
Faktor janin atau neonatus meliputi tali pusat menumbung, tali pusat
melilit leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir,gemeli, prematur,
kelainan kongenital pada neonatus dan lain-lain. Faktor persalinan meliputi
partus lama, partus dengan tindakan dan lain-lain (Marmi & Rahardjo, 2012).
Sindroma gagal nafas adalah perkembangan imatur pada sistem
pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan pada paru-paru-paru.
Sementara afiksia neonatorum merupakan gangguan pernafasan akibat
ketidakmampuan bayi beradaptasi terhadap asfiksia. Biasanya masalah ini
disebabkan karena adanya masalah-masalah kehamilan dan pada saat
persalinan (Marmi & Rahardjo, 2012).
3. Patofisiologi RDS (Respiratory Distress Syndrome)
Kegawatan pernafasan dapat terjadi pada anak dengan gangguan
pernafasan yang dapat menimbulkan dampak yang cukup berat bagi anak
berupa kerusakan otak atau bahkan kematian. Akibat dari gangguan pada
sistem pernafasan adalah terjadinya kekurangan oksigen (hipoksia) pada
tubuh anak akan beradaptasi terhadap kekurangan oksigen dengan
mengaktifkan metabolisme anaerob. Apabila keadaan hipoksia semakin berat
dan lama,metabolisme anaerob akan menghasilkan asam laktat (Marmi &
Rahardjo, 2012).
Dengan memburukya keadaan asidosis dan penurunan aliran darah
keotak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ lain karena hipoksia dan
iskemia. Pada stadium awal terjadi hiperventilasi diikuti stadium apneu
primer. Pada keadaan ini anak tampak sianosis,tetapi sirkulasi darah relative
masih baik. Curah jantung yang meningkat dan adanya vasokontriksi perifer
ringan menimbulkan peninggkatan tekanan darah dan reflek bradikardi
ringan. Depresi pernafasan pada saat ini dapat diatasi dengaan meningkatkan
implus aferen seperti perangsangan pada kulit. Apneu normal berlangsung
sekitar 1-2 menit. Apnea primer dapat memanjang dan diikuti dengan
memburuknya sistem sirkulasi. Hipoksia miokardium dan asidosis akan
memperberat bradikardi,vasokontraksi dan hipotensi. Keadaan ini dapat
terjadi sampai 5menit dan kemudian terjadi apneu sekunder. Selama apneu
sekunder denyut jantung,tekanan darah dan kadar oksigen dalam darah terus
menurun. Anak tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak menunjukkan
upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadikecuali pernafasan
buatan dan pemberian oksigen segera dimulai (Marmi & Rahardjo, 2012).
4. Pathway
Primer Sekunder
`
Bayi prematur Perdarahan antepartum, Ibu diabetes Seksio sesaria Aspirasi mekonium Asfiksia Resusitasi Pneumotorak,
hipertensi hipotensi (pneumonia aspirasi) neonatorum neonatus sindrom wilson,
(pada ibu) mikity
Pembentukan Hiperinsulinemia Pengeluaran
membran hialin janin Pernapasan intra uterin Janin kekurangan Pemberian kadar
Gangguan perfusi darah hormon stress oleh
surfaktan paru ibu O2 dan kadar CO2 O2 yang tinggi Insufisiensi pada
uterus Sumbatan jalan napas meningkat bayi prematur
belum sempurna
Imaturitas paru parsial oleh air ketuban Trauma akibat
Sirkulasi utero plasenter Mengalir ke janin Gangguan kadar O2 yang
pematangan paru dan mekonium
kurang baik perfusi tinggi
bayi yang berisi air Kerusakan surfaktan
Bayi prematur; dismaturitas Menekan sintesis
surfaktan
Pertumbuhan surfaktan paru belum matang

Penurunan produksi surfaktan

Meningkatnya tegangan permukaan alveoli

Ketidakseimbangan inflasi saat inspirasi

Surfaktan menurun Kolaps paru (atelektasis) saat ekspirasi

Janin tidak dapat menjaga RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME / RDS


rongga paru tetap
mengembang Kolaps paru
Hipoksia Gangguan ventilasi pulmonal
Retensi CO2 Peningkatan pulmonary
Tekanan negatif intra Kerusakan endotel kapiler vaskular resistence (PVR)
toraks yang besar Kontriksi vaskularisasi dan epitel duktus arteriousus Asidosis respiratorik
pulmonal Hipoperfusi Pembalikan parsial
Transudasi alveoli Pe↓ pH dan PaO2 jaringan paru sirkulasi darah janin
Usaha inspirasi yang lebih Masukan oral
P↓ oksigenasi jaringan
kuat tidak adekuat/ Membran hialin
Pembentukan fibrin Me↓nya aliran Aliran darah dari
menyusu buruk melapisi alveoli Vasokontriksi berat
Metabolisme anaerob darah pulonal kanan ke kiri
- Dispena Fibrin & jaringan yang melalui arteriosus
- Takipnea nekrotik membentuk lapisan Menghambat Pe↓ sirkulasi paru dan foramen ovale
- Apnea Timbunan asam laktat membran hialin pertukaran gas dan pulmonal
- Retraksi dinding Peningkatan MK : kerusakan
dada metabolisme Asidosis metabolik Penurunan curah MK : Resti penurunan pertukaran gas
MK : Perubahan jantung curah jantung
- Pernapasan cuping nutrisi kurang (membutuhkan
glikogen lebih Kurangnya cadangan
hidung dari kebutuhan glikogen dan lemak coklat
banyak M↓nya perfusi ke Paru Me↓nya aliran darah pulmonal - Pe↓ kesadaran
- Mengorok tubuh
organ vital - Kelemahan otot
- Kelemahan Respon menggigil pada Otak Iskemia Gangguan
- Dilatasi pupil MK :
MK : Pola nafas tidak bayi kurang/tidak ada Bayi kehilangan panas tubuh/tdk fungsi
Hipoglikemia MK : Termoregulasi - Kejang Resti
efektif, intoleransi aktivitas serebral
dapat me↑kan panas tubuh tidak efektif - Letargi cidera
5. Manifestasi klinis
Berat atau ringannya gejala klinis pada penyakit RDS (Respiratory
Distress Syndrom) ini sangat dipengaruhi oleh tingkat maturitas paru.
Semakin rendah berat badan dan usia kehamilan, semakin berat gejala klinis
yang ditunjukan. Gejala dapat tampak beberapa jam setelah kelahiran. Bayi
RDS (Respiratory Distress Syndrom) yang mampu bertahan hidup sampai 96
jam pertama mempunyai prognosis yang lebih baik (Surasmi, dkk 2003).
Gejala umum RDS yaitu:
a. Takipnea (>60x/menit)
b. Pernapasan dangkal
c. Mendengkur
d. Sianosis atau pucat
e. Kelelahan
f. Apnea dan pernapasan tidak teratur
g. Penurunan suhu tubuh
h. Retraksi suprasternal dan substernal
i. Adanya pernapasan cuping hidung (Surasmi, dkk 2003).

6. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Cecily & Sowden (2009) pemeriksaan penunjang pada
anak dengan RDS yaitu:
a. Kajian foto thoraks
1) Pola retikulogranular difus bersama udara yang saling tumpang tindih.
2) Tanda paru sentral dan batas jantung sukar dilihat, hipoinflasi paru.
3) Kemungkinan terdapat kardiomegali bila sistem lain juga terkena
(bayi dari ibu diabetes, hipoksia atau gagal jantung kongestif).
4) Bayangan timus yang besar.
5) Bergranul merata pada bronkogram udara yang menandakan
penyakit berat jika muncuk pada beberapa jam pertama.
b. Gas darah arteri-hipoksia dengan asidosis respiratorik dan atau metabolik
1) Hitung darah lengkap.
2) Elektrolit, kalsium, natrium, kalium, glukosa serum.
3) Tes cairan amnion (lesitin banding spingomielin) untuk menentukan
maturitas paru.
4) Oksimetri nadi untuk menentukan hipoksia.

7. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan medis
Menurut Cecily & Sowden (2009) penatalaksanaan medis pada
anak RDS (Respiratory Distress Syndrom) yaitu:
1) Perbaiki oksigenasi dan pertahankan volume paru optimal
a. Penggantian surfaktan melalui selang endotrakeal
b. Tekanan jalan napas positif secara kontinu melalui kanul nasal untuk
mencegah kehilangan volume selama ekspirasi
c. Pemantauan transkutan dan oksimetri nadi
d. Fisioterapi dadaTindakan kardiorespirasi tambahan
2) Pertahankan kestabilan suhu
3) Berikan asupan cairan, elektrolit, dan nutrisi yang tepat
4) Pantau nilai gas darah arteri, Hb dan Ht serta bilirubin
5) Lakukankan transfusi darah seperlunya
6) Hematokrit guna mengoptimalkan oksigenasi
7) Pertahankan jalur arteri untuk memantau PaO₂ dan pengambilan
sampel darah
8) Berikan obat yang diperlukan

b. Penatalaksanaan Keperawatan
Menurut Surasmi (2003) penatalaksanan keperawatan terhadap RDS
meliputi tindakan pendukung yang sama dalam pengobatan pada bayi
prematur dengan tujuan mengoreksi ketidakseimbangan. Pemberian minum
per oral tidak diperbolehkan selama fase akut penyakit ini karena dapat
menyebabkan aspirasi. Pemberian minum dapat diberikan melalui
perenteral.

8. Komplikasi
Menurut Cecily & Sowden (2009) komplikasi RDS yaitu:
1. Ketidakseimbangan asam basa.
2. Kebocoran udara (Pneumothoraks, pneumo mediastinum, pneumo
perikardium, pneumoperitonium, emfisema subkutan, emfisema interstisial
pulmonal).
3. Perdarahan pulmonal.
4. Penyakit paru kronis pada bayi 5%-10%.
5. Apnea.
6. Hipotensi sistemik.
7. Anemia.
8. Infeksi (pneumonia, septikemia, atau nosokomial).
9. Perubahan perkembangan bayi dan perilaku orangtua.

B. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian adalah proses pengumpulan data untuk mendapatkan berbagai
informasi yang berkaitan dengan masalah yang dialami klien. Pengkajian
dilakukan dengan berbagai cara yaitu anamnesa, observasi, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan diagnostik yang dilakukan dilaboratorium (Surasmi, 2003).
Data yang dicari dalam riwayat keperawatan adalah
a. Kaji riwayat kehamilan sekarang (apakah selama hamil ibu menderita
hipotensi atau perdarahan )
b. Kaji riwayat neonatus (lahir afiksia akibat hipoksia akut, terpajan pada
keadaan hipotermia)
c. Kaji riwayat keluarga (koping keluarga positif
d. Kaji nilai apgar rendah (bila rendah di lakukkan tindakan resustasi pada
bayi).
e. Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan tanda dan gejala RDS. Seperti:
takipnea (>60x/menit), pernapasan mendengkur, retraksi dinding dada,
pernapasan cuping hidung, pucat, sianosis, apnea.
Pengkajian secara keseluruhan meliputi (Surasmi,2003) :
1) Riwayat maternal
a. Menderita penyakit seperti diabetes mellitus
b. Kondisi seperti perdarahan placenta
c. Tipe dan lamanya persalinan
d. Stress fetal atau intrapartus
2) Status infant saat lahir
a. Prematur, umur kehamilan
b. Apgar score, apakah terjadi aspiksia
c. Bayi prematur yang lahir melalui operasi caesar
3) Cardiovaskular
a. Bradikardi (dibawah 100 x per menit) dengan hipoksemia berat
b. Murmur sistolik
c. Denyut jantung dalam batas normal
4) Integumen
a. Pallor yang disebabkan oleh vasokontriksi peripheral
b. Pitting edema pada tangan dan kaki
c. Mottling
5) Neurologis
a. Immobilitas, kelemahan, flaciditas
b. Penurunan suhu tubuh
c. Pulmonary
d. Takipnea (pernafasan lebih dari 60 x per menit, mungkin 80 – 100 x )
e. Nafas grunting
f. Nasal flaring
g. Retraksi intercostal, suprasternal, atau substernal
h. Cyanosis (sentral kemudian diikuti sirkumoral) berhubungan dengan
persentase desaturasi hemoglobin
i. Penurunan suara nafas, crakles, episode apnea
6) Status Behavioral
a. Lethargy
7) Study Diagnostik
a. Seri rontqen dada, untuk melihat densitas atelektasis dan elevasi
diaphragma dengan overdistensi duktus alveolar
b. Bronchogram udara, untuk menentukan ventilasi jalan nafas.
8) Data laboratorium
a. Profil paru, untuk menentukan maturitas paru, dengan bahan cairan
amnion (untuk janin yang mempunyai predisposisi RDS)
i. Lecitin/Sphingomielin (L/S) ratio 2 : 1 atau lebih
mengindikasikan maturitas paru
ii. Phospatidyglicerol : meningkat saat usia gestasi 35 minggu
iii. Tingkat phosphatydylinositol
b. Analisa Gas Darah, PaO2 kurang dari 50 mmHg, PaCO2 kurang dari
60 mmHg, saturasi oksigen 92% – 94%, pH 7,31 – 7,45
c. Level pottasium, meningkat sebagai hasil dari release potassium dari
sel alveolar yang rusak

2. Diagnosa Keperawatan
Setelah didapatkan data dari pengkajian, data tersebut dianalisis.
Selanjutnya semua masalah yang ditemukan dirumuskan menjadi diagnosa
keperawatan untuk menentukan intervensi keperawatan (Cecily & Sowden,
2009) . Diagnosa keperawatan dari RDS yang sering muncul yaitu :
1) Pola napas tidak efektif (D.0005)
2) Defisit nutrisi (D.0019)
3) Ikterik neonates ( D.0024)
3. Intervensi
DIAGNOSA
NO TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI
KEPERAWATAN
1. Pola Napas Tidak Setelah dilakukan intervensi selama 1x24 jam Terapi Oksigen – 1.01026 Observasi:
Efektif (D.0005) diharapkan pola napas menjadi efektif dengan a.
Monitor kecepatan aliran O2
kriteria hasil : b.
Monitor posisi alat terapi O2
Pola Napas : c.
Monitor aliran oksigen secara periodik
a. Dispnea dari skala 2 (cukup meningkat) dan pastikan fraksi yang diberikan cukup
menjadi 4 (cukup menurun) d.
Monitor efektifitas terapi O2
b. Tekanan ekspirasi dari skala 2 (cukup e.
Monitor tanda-tanda hipoventilasi
menurun) menjadi 4 (cukup meningkat) f.
Monitor tanda dan gejala toksitasi
c. Tekanan inspirasi dari skala 2 (cukup Monitor tingkat kecemasan akibat terapi
menurun) menjadi 4 (cukup meningkat) O2
d. Pemanjangan fase ekspirasi dari skala 2 Terapeutik :
(cukup meningkat) menjadi 4 (cukup a. Bersihkan sekret pada mulut, hidung,
menurun) trakea (jika perlu)
e. Frekuensi napas dari skala 3 (sedang) b. Pertahankan kepatenan jalan napas
menjadi 5 (membaik)
c. Siapkan dan atur peralatan pemberian O2
d. Gunakan perangkat O2 yang sesuai
dengan tingkat mobilitas pasien
Edukasi :
a. Ajarkan pasien dan keluarga cara
menggunakan O2 dirumah
Kolaborasi :
a.
Kolaborasi penentuan dosis O2
b.
Kolaborasi penggunaan O2 saat
aktivitas dan tidur
Pemantauan Respirasi – 1.01014
Observasi :
a. Monitor frekuensi, irama, kedalaman
dan upaya napas
b. Monitor pola napas
c. Monitor kemampuan batuk efektif
d. Monitor adanya produksi sputum
e. Monitor adanya sumbatan jalan
napas
f. Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
g. Auskultasi bunyi napas
h. Monitor saturasi oksigen
i. Monitor nilai AGD (analisa Gas Darah)
Terapeutik :
a. Atur interval pemantauan respirasi
sesuai kondisi pasien
b. Dokumentasi hasil
pemantauan
Edukasi :
a. Jelaskan tujuan dan prosedur
pemantauan
b. Informasi hasil pemantauan

2 Defisit Nutrisi (D.0019) Status Nutrisi Menejemen nutrisi


Setelah melakukan tindakan keperawatan selama Observasi :
3 x 24 jam maka status nutrisi pasien a. Identifikasi status nutrisi
membaik dengan kriteria hasil b. Identifikasi alergi dan intoleransi
1. Porsi makanan yang di habiskan makanan
meningkat c. Identifikasi makanan yang di sukai
2. Kekuatan otot pengunyah meningkat d. Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis
3. Verbalisasi keinginan untuk nutrient
meningkatkan nutrisi meningkat e. Identifikasi perlunya pengguanaan selang
4. Pengetahuan tentang pilihan makana yang Nasogastric
sehat meningkat f. Monitor asupan makanan
5. Pengetahuan tentang pilihan minuman g. Monitor berat badan
yang sehat meningkat h. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
6. Pengetahuan tentang standar asupan Terapeutik :
nutrisi yang tepat meningkat a. Melakukan oral hygiene sebelum
7. Sikap terhadap makanan/minumam sesuai makan, jika perlu
dengan tujuan kesehatan meningkat b. Fasilitasi menentukan pedoman diet
8. Sariawan menurun (mis, piramida makanan)
9. Berat badan membaik c. Sajikan makanan secara menarik dan
10. indeks masa tubuh membaik suhu yang sesuai
11. frekuensi makanan membaik d. Berikan makana tinggi serat utuk
12. nafsu makan membaik mencegah konstipasi
e. Berikan makanan tinggi kalori dan
tinggi protein
f. Berikan suplemen makanan , jika perlu
g. Hentikan pemberian makan melalui
selang nasogatrik, jika asupan oral
dapat ditoleransi
Edukasi :
a. Anjurkan posisi duduk , jika mampu
b. Ajarkan diet yang diprogramkan
Kolaborasi :
a. Kolaborasi pemberian medikasi sebelum
makan
b. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan jenis
nutrient yang di butuhkan, jika perlu

3 Ikterik Neonatus Tujuan : Fototerapi Neonatus


(D.0024) Adaptasi neonatus meningkat Observasi :
a. Monitor ikterik pada sklera dan kulit bayi
Kriteria Hasil b. Identifikasi kebutuhan cairan sesuai dengan
1. Berat badan meningkat usia gestasi dan berat badan
2. Memberan mukosa kuning menurun c. Monitor suhu dan tanda vital setiap 4 jam
3. Kulit kuning menurun sekali
4. Sklera kuning menurun d. Monitor efek samping fototerapi (mis:
hipertermi, diare, rush pada kulit,
penurunan berat badan lebih dari 8 – 10%
Terapeutik :
a. Siapkan lampu fototerapi dan incubator
atau kotak bayi
b. Lepaskan pakaian bayi kecuali popok
c. Berikan penutup mata (eye
protector/biliband) pada bayi
d. Ukur jarak antara lampu dan permukaan
kulit bayi (30 cm atau tergantung
spesifikasi lampu fototerapi)
e. Biarkan tubuh bayi terpapar sinar
fototerapi secara berkelanjutan
f. Ganti segera alas dan popok bayi jika
BAB/BAK
g. Gunakan linen berwarna putih agar
memantulkan cahaya sebanyak mungkin
Edukasi :
a. Anjurkan ibu menyusui sekitar 20 – 30
menit
b. Anjurkan ibu menyusui sesering mungkin
Kolaborasi :
a. Kolaborasi pemberian darah vena bilirubin
direk dan indirek
4. Implementasi keperawatan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang
dihadapi kestatus kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria hasil yang
diharapkan. Ukuran implementiasi keperawatan yang diberikan kepada klien
terkait dengan dukungan, pengobatan, tindakan untuk memperbaiki kondisi,
pendidikan untuk klien- keluarga, atau tindakan untuk mencegah masalah
kesehatan yang muncul dikemudian hari. Proses pelaksanaan implementasi
harus berpusat kepada kebutuhan klien, faktor-faktor lain yang mempengaruhi
kebutuhan keperawatan, strategi implementasi keperawatan dan kegiatan
komunikasi (Taqiyyah & Mohamad, 2013).

5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari rangkaian proses
keperawatan yang berguna apakah tujuan dari tindakan keperawatan yang telah
dilakukan tercapai atau perlu pendekatan lain. Evaluasi keperawatan mengukur
keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan tindakan keperawatan yang
dilakukan dalam memenuhi kebutuhan klien. Penilaian adalah tahap yang
menentukan apakah tujuan tercapai. Evaluasi selalu berkaitan dengan tujuan
yaitu pada komponen kognitif, afektif, psikomotor, perubahan fungsi dan tanda
gejala yang spesifik. Terdapat duajenis evaluasi yaitu evaluasi sumatif dan
formatif dengan menggunakan beberapa metode (Taqiyyah & Mohamad,
2013).
DAFTAR PUSTAKA

Cecily & Sowden (2009). Buku Saku Keperawatan Pedriatik. Edisi 5. Jakarta:
EGC.
Marmi dan Rahardjo (2012). Asuhan Neonatus, Bayi, Balita dan Prasekolah.
Jakarta : Pustaka Belajar.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan
Indonesia. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Indonesia.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar Interfensi Keperawatan
Indonesia. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Indonesia.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia. (2018). Standar Luaran Keperawatan
Indonesia. Jakarta : Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Indonesia.
Surasmi,[Link] Bayi Resiko [Link]: EGC.
Suriadi dan Yuliani, R. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak, edisi 1 Jakarta :
CV Agung Seto.
Taqiyyah & Mohamad. (2013). Asuhan Keperawatan panduan lengkap menjadi
perawat profesional. Jakarta: Prestasi Pustaka Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai