0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan20 halaman

Spesifikasi dan Metode Konstruksi Jembatan

Dokumen ini membahas spesifikasi teknis dan metode pelaksanaan untuk pekerjaan konstruksi jalan dan jembatan berdasarkan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018. Proses pelaksanaan meliputi mobilisasi, pekerjaan tanah, perkerasan, dan struktur beton dengan penekanan pada keselamatan kerja dan kualitas material. Setiap tahap pekerjaan harus disetujui oleh Direksi dan dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.

Diunggah oleh

Gusti raihaaan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan20 halaman

Spesifikasi dan Metode Konstruksi Jembatan

Dokumen ini membahas spesifikasi teknis dan metode pelaksanaan untuk pekerjaan konstruksi jalan dan jembatan berdasarkan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018. Proses pelaksanaan meliputi mobilisasi, pekerjaan tanah, perkerasan, dan struktur beton dengan penekanan pada keselamatan kerja dan kualitas material. Setiap tahap pekerjaan harus disetujui oleh Direksi dan dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.

Diunggah oleh

Gusti raihaaan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

3.5 Spesifikasi Teknis


Untuk spesifikasi teknis menggunakan Spesifikasi Umum Bina Marga
2018. Spesifikasi Umum 2018 diterbitkan sebagai pembaharu atau revisi dari
versi sebelumnya yaitu Spesifikasi umum jalan dan jembatan tahun 2010. Hal
ini disampaikan berdasarkan surat Edaran Direktoran Jendral Bina Marga
No.02/SE/Db/2018 pada tanggal 20 September 2018 tentang Spesifikasi
Umum Bina Marga 2018. untuk pekerjaan konstruksi jalan dan jembatan.
Yang dapat dijadikan acuan spesifikasi umum untuk perencanaan konstruksi
jalan dan jembatan. Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 mengenai rehabilitasi
jembatan selengkapnya kami lampirkan.

3.6 Metode Pelaksanaan Jembatan


3.6.1 Umum
Pekerjaan ini mencakup pekerjaan Mobilisasi dan Pengukuran.
Pekerjaan ini meliputi penyiapan fasilitas kontraktor seperti pembuatan base
camp, kantor, barak, bengkel dan gudang. Mendatangkan/Mobilisasi
peralatan yang dibutuhkan hingga lokasi pekerjaan dan
mengembalikannya/Demobilisasi setelah seluruh pekerjaan selesai.
Mendatangkan personil sesuai dengan kebutuhan dan persetujuan Direksi.
Menyiapkan fasilitas laboratorium di lapangan hingga dapat digunakan
selama masa konstruksi berlangsung. Menyiapkan laporan-laporan sesuai
yang disyaratkan serta gambar-gambar pelaksanaan pekerjaan.

3.6.2 Pekerjaan Tanah


A. Pekerjaan Timbunan Biasa Dari Sumber Galian
Pekerjaan timbunan Biasa dilaksanakan pada lokasi oprit jembatan
atau lokasi lain menurut kebutuhannya dengan persetujuan Direksi
Teknis, urutan pelaksanaan pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
 Sebelum pekerjaan dimulai, terlebih dahulu mempersiapkan gambar
design dari data-data awal yang diambil pada saat survey awal dan
gambar design lokasi ini diajukan dan disetujui oleh Direksi

KELOMPOK 4 89
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

Pekerjaan terlebih dahulu, timbunan ini terletak pada oprite


jembatan.
 Dilakukan juga inspeksi kondisi alat, alat pelindung diri (sepatu
Safety, helm) rambu-rambu beserta petugas pengatur lalu lintas
dilengkapi bendera merah dan semua harus dipersiapkan terlebih
dahulu.
 Setelah gambar design disetujui, kemudian dilaksanakan
pemasangan patok-patok elevasi (bowplank)
 Sebelum material didatangkan dari quarry yang telah disepakati
bersama-sama dengan direksi teknis, diadakan pengujian simple
material selected terlebih dahulu. Dan setelah pengujian material
telah disetujui oleh Direksi dan kemudian dituangkan ke dalam
report hasil investigasi dan menjadi pegangan untuk pelaksanaan
pengiriman material untuk pekerjaan.
 Setelah itu, material dari quarry dikirim ke lokasi dengan memakai
dump truck, dan pada lokasi telah tersedia peralatan penghamparan
dan pemadatan serta water tank untuk menjaga pada saat
penghamparan material tetap dalam kadar air yang telah disepakati
bersama dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
 Material dihampar dengan Motor Grader secara per layer dengan
tebal hampar maksimum 15 cm dan kemudian diikuti dengan
pemadatan oleh Vibro Roller yang juga telah disepakati jumlah
lintasan pemadatan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Kemudian,
apabila penghamparan dilaksanakan pada saat terik matahari yang
mengakibatkan material menjadi kering dan terburai oleh embusan
angin maka segera dilakukan penyiraman air dengan water tank.
 Selanjutnya dilakukan test pemadatan dan jika hasil test sudah sesuai
lanjutkan pekerjaan lain.

B. Pekerjaan Timbunan Pilihan Dari Sumber Galian


Pekerjaan timbunan Pilihan dilasanakan setelah pekerjaan
timbunan biasa siap dilaksanakan dan sempurna menurut spesifikasi

KELOMPOK 4 90
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

Teknis dan persetujuan Direksi Teknis, urutan pelaksanaan sebagai


berikut urutan Pelaksanaan :
 Sebelum pekerjaan dimulai, terlebih dahulu mempersiapkan gambar
design dari data-data awal yang diambil pada saat survey awal dan
gambar design lokasi ini diajukan dan disetujui oleh Direksi
Pekerjaan terlebih dahulu, timbunan ini terletak pada oprite jembatan
atau lokasi lain yang ditentukan.
 Untuk menjamin keselamatan kerja, sebelumnya dilakukan juga
inspeksi kondisi alat, alat pelindung diri (sepatu Safety, helm)
rambu-rambu beserta petugas pengatur lalu lintas dilengkapi bendera
merah dan semua harus dipersiapkan terlebih dahulu.
 Setelah gambar design disetujui, kemudian dilaksanakan
pemasangan patok kontrol elevasi (bowplank)
 Sebelum material didatangkan dari quarry yang telah disepakati
bersama-sama dengan direksi teknis, diadakan pengujian simple
material selected terlebih dahulu. Dan setelah pengujian material
telah disetujui oleh Direksi dan kemudian dituangkan ke dalam
report hasil investigasi dan menjadi pegangan untuk pelaksanaan
pengiriman material untuk pekerjaan.
 Setelah itu, material dari quarry dikirim ke lokasi dengan memakai
dump truck, dan pada lokasi telah tersedia peralatan penghamparan
dan pemadatan serta water tank untuk menjaga pada saat
penghamparan material tetap dalam kadar air yang telah disepakati
bersama dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
 Material dihampar dengan Motor Grader secara per layer dengan
tebal hampar maksimum 15 cm dan kemudian diikuti dengan
pemadatan oleh Vibro Roller yang juga telah disepakati jumlah
lintasan pemadatan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Kemudian,
apabila penghamparan dilaksanakan pada saat terik matahari yang
mengakibatkan material menjadi kering dan terburai oleh embusan
angin maka segera dilakukan penyiraman air dengan water tank.

KELOMPOK 4 91
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

 Selanjutnya dilakukan test pemadatan dan jika hasil test sudah sesuai
dilanjutkan dengan pengukuran guna dituangkan dalam sertifikasi
pembayaran.

3.6.3 Perkerasan Berbutir Dan Perkerasan Beton Semen


Perkerasan beton semen dengan anyaman tulangan tunggal. Pekerjaan
yang ditetapkan dalam Pasal ini terdiri dari Konstruksi Perkerasan jalan
Beton semen portland diberi anyaman tulangan tunggal sebagaimana
disyaratkan, diatas oprite jembatan atau badan jalan yang telah dipersiapkan
dan diterima sesuai dengan spesifikasi ini, menurut garis-garis ketinggian,
kelandaian, ukuran, penampang melintang dan penyelesaian akhir yang
diperlihatkan dalam gambar atau sebagaimana diarahkan oleh Direksi
Pekerjaan. Urutan Pelaksanaan :
 Terlebih dahulu disiapkan lokasi pekerjaan yang akan dilakukan
Perkerasan Beton Semen dengan Anyaman Tulangan Tunggal dengan
cara membersihkan lokasi pekerjaan dari kotoran dan sisa-sisa pekerjaan
timbunan sebelumnya, kondisi timbunan harus telah dalam keadaan
padat.
 Untuk meminimalisir kecelakaan kerja, sebelumnya dilakukan juga
inspeksi kondisi peralatan, alat pelindung diri (sepatu Safety, helm) para
pekerja yang akan melaksanakan kegiatan pekerjaan dilapangan.
 Setelah gambar design disetujui, kemudian dilaksanakan dengan
kegiatan pemasangan patok kontrol elevasi (bowplank), formwork acuan
kerja pada lokasi pengecoran dan kegiatan pabrikasi baja tulangan.
 Setelah pekerjaan baja tulangan selesai lalu dilanjutkan dengan kegiatan
pengecoran beton dengan mutu, desain dan ketebalan seperti yang telah
dipersyaratkan dalam gambar.
 Pengecoran beton harus dilaksanakan dengan tanpa berhenti sampai pada
suatu sambungan konstruksi yang telah ditentukan dan disetujui
sebelumnya atau sampai pekerjaan tersebut diselesaikan.
 Beton harus dicor dengan cara sedemikian rupa untuk menghindari
segregasi/pemisahan partikel-partikel halus dan kasar dalam campuran.

KELOMPOK 4 92
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

Beton harus dicor ke dalam acuan sedekat mungkin dengan posisi


akhirnya untuk menghindari pengaliran campuran beton dan tidak
diijinkan untuk mengalirkan campuran beton lebih dari satu meter
setelah pengecoran.
 Selanjutnya dilakukan perawatan beton sesuai spesifikasi teknis dan
apabila telah selesai dilanjutkan dengan pengukuran guna dituangkan
dalam sertifikasi pembayaran.

3.6.4 Pekerjaan Struktur


Untuk Pekerjaan struktur ini dilaksanakan terlebih dahulu setelah
diperoleh hasil Job mix dari laboratorium dan pengujian bahan material,
kemudian setelah pekerjaan selesai harus diuji/dievaluasi mutunya dari
laboratorium.

A. Beton mutu sedang dengan fc’=30 Mpa Lantai Jembatan


Untuk pekerjaan beton 30 Mpa digunakan pada Lantai Jembatan,
Approaching Slab atau Plat Injak ataupun pada masing-masing lokasi
lainnya yang ditentukan oleh direksi teknis. Pekerjaan ini dimulai setelah
pekerjaan pembesian selesai, diaduk dengan menggunakan concrete
mixer dan pemadatannya dilakukan dengan menggunakan concrete
vibrator, untuk menjaga mutu beton sesuai spesifikasi yang diinginkan
perlu diambil slump test pada saat pengecoran dan selinder untuk uji
tekan beton dilaboratorium.
1) Pekerjaan Persiapan
 Pekerjaan yang termasuk dalam hal ini adalah pekerjaan struktur
beton.
 Material campuran beton (semen, pasir, aggregate) didatangkan
dari supplier ke lokasi pekerjaan dan disimpan dalam tempat
penyimpanan/ Gudang/Storage.
 Mutu beton yang digunakan sesuai dengan mutu beton pada
dokumen lelang yang diminta.

KELOMPOK 4 93
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

 Jenis semen Portland yang digunakan sesuai dengan permintaan


dokumen lelang.
 Air yang digunakan dalam campuran, dalam perawatan, atau
pemakaian lainnya digunakan air bersih dan bebas dari bahan
yang merugikan seperti minyak, garam, asam, basa, gula atau
organic.
 Agregat kasar dan halus yang digunakan (ukuran/dimensi) sesuai
dengan permintaan dari spesifikasi dokumen lelang dan telah
mendapat persetujuan direksi.
 Material agregat diperoleh dengan pemecahan batu (rock) atau
berangkal (boulder), atau dari pengayakan dan pencucian (jika
perlu) dari kerikil dan pasir sungai.
 Agregat bebas dari bahan organic seperti spesifikasi teknis yang
ada dalam dokumen pelelangan.
 Selama kegiatan pengecoran dilakukan, keselamatan dan
kesehatan kerja di lokasi pekerjaan harus tetap diperhatikan guna
menghindari terjadinya resiko kecelakaan kerja yang tidak
diinginkan.
2) Pencampuran dan Penakaran
 Rancangan Campuran Proporsi bahan dan berat penakaran
menggunakan metode sesuai yang disyaratkan.
 Campuran Percobaan dilakukan dan hasil dari percobaan tersebut
akan dijadikan acuan pembuatan beton pada saat dilakukan
pekerjaan beton di lapangan dan disaksikan oleh direksi
pekerjaan.
 Campuran percobaan sesuai dengan permintaan spesifikasi dalam
dokumen lelang dan mendapat persetujuan dari direksi pekerjaan.
 Ketentuan sifat-sifat campuran sesuai dengan spesifikasi teknis
yang diminta dalam dokumen pelelangan.
 Pencampuran :
 Beton dicampur dalam mesin yang dijalankan secara mekanis
(concrete mixer)

KELOMPOK 4 94
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

 Pencampur dilengkapi dengan tangki air bersih yang


memadai dan alat ukur yang akurat untuk mengukur dan
mengendalikan jumlah air yang digunakan dalam setiap
penakaran.
 Pertama-tama alat pencampur diisi dengan aggregate, pasir
dan semen yang telah ditakar, selanjutnya alat pencampur
dijalankan sebelum air ditambahkan.

3) Pelaksanaan Pengecoran.
 Sebagai persiapan, lokasi pengecoran dibersihkan dari sampah,
potongan kayu, bendrat, paku dan sampah lainnya dengan
penghisap debu, kompresor dan atau air.
 Bekisting dilumuri mould oil hingga rata. Kebocoran bekisting
telah dicek dan disumbat. Sambungan dengan pengecoran
sebelumnya (jika ada) telah disiram dengan calbond atau air
semen serta bekisting dibebaskan dari genangan air. Sebelum
instruksi pengecoran segala persetujuan yang diperlukan telah
diurus dan disetujui oleh direksi/owner dan pengawas pekerjaan.
 Penuangan dilakukan dengan tenaga manusia (sebelumnya
material beton ditampung pada tempat penampungan untuk
kemudian dituang langsung ke tempat bekisting. Tinggi jatuh
beton pada scat pengecoran tidak lebih dari 1,5 meter agar tidak
terjadi pemisahan antara batu pecah yang berat dengan pasta
beton, (segregasi).
 Pemadatan dibantu dengan vibrator mekanikal type tertentu
dalam jumlah yang memadai. Selang vibrator dibenamkan
sampai batas kedalaman beton sebelumnya dan agar tidak terjadi
kantong udara. Vibrator tidak mengenai tulangan atau penutup
(shutter) kecuali penutup dari beton.
 Selanjutnya dilakukan perawatan beton sesuai spesifikasi teknis.

B. Beton mutu sedang dengan fc’=20 Mpa

KELOMPOK 4 95
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

Beton mutu sedang dengan fc’20 Mpa umumnya digunakan pada


elemen struktur abutment, trotoar jembatan, kolom dan balok struktur
tembok penahan tanah ataupun pada masing-masing lokasi lainnya yang
ditentukan oleh direksi teknis. Pekerjaan ini dimulai setelah pekerjaan
baja tulangan selesai dilaksanakan, campuran beton diaduk dengan
menggunakan concrete mixer dan pemadatan selama pengecoran
dilakukan dengan menggunakan concrete vibrator, untuk menjaga mutu
beton sesuai spesifikasi yang diinginkan perlu diambil slump test pada
saat pengecoran dan silinder untuk uji tekan beton dilaboratorium.
Teknis pekerjaan beton mutu sedang dengan fc’ 20 Mpa ini dapat
diuraikan sebagai berikut :
 Sebagai persiapan lokasi pengecoran dibersihkan dari sampah,
potongan kayu, bendrat, paku dan sampah lainnya.
 Alat-alat pelindung diri bagi para pekerja seperti helm, sepatu safety
dan lainnya harus digunakan untuk mencegah adanya resiko
kecelakaan kerja saat pengecoran.
 Bekisting dilumuri mould oil hingga rata. Kebocoran bekisting telah
dicek dan disumbat. Sambungan dengan pengecoran sebelumnya
(jika ada) telah disiram dengan calbond atau air semen serta
bekisting dibebaskan dari genangan air.
 Penuangan dilakukan dengan tenaga manusia (sebelumnya material
beton ditampung pada tempat penampungan untuk kemudian dituang
langsung ke tempat bekisting. Tinggi jatuh beton pada saat
pengecoran tidak lebih dari 1,5 meter agar tidak terjadi pemisahan
antara batu pecah yang berat dengan pasta beton, (segregasi).
 Pemadatan dibantu dengan vibrator mekanikal type tertentu dalam
jumlah yang memadai. Selang vibrator dibenamkan sampai bates
kedalaman beton sebelumnya dan agar tidak terjadi kantong udara.
Vibrator tidak mengenai tulangan atau penutup (shutter) kecuali
penutup dari beton.

KELOMPOK 4 96
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

 Selanjutnya dilakukan perawatan beton sesuai spesifikasi teknis dan


apabila telah selesai dapat dilanjutkan dengan pengukuran kuantitas
kerja guna dituangkan dalam sertifikat pembayaran.

C. Beton mutu rendah dengan fc’=15 Mpa


Untuk pekerjaan beton 15 Mpa digunakan pada patok pengarah,
beton kerb struktur tembok penahan tanah pada oprite ataupun pada
masing-masing lokasi lainnya yang ditentukan oleh direksi teknis.
Pekerjaan ini dimulai setelah pekerjaan pembesian selesai, diaduk
dengan menggunakan concrete mixer dan pemadatannya dilakukan
dengan menggunakan concrete vibrator, untuk menjaga mutu beton
sesuai spesifikasi yang diinginkan perlu diambil slump test pada saat
pengecoran dan selinder untuk uji tekan beton dilaboratorium.
1) Pelaksanaan Pencampuran
 Rancangan Campuran Proporsi bahan dan berat penakaran
menggunakan metode sesuai yang disyaratkan.
 Campuran Percobaan dilakukan dan hasil dari percobaan tersebut
akan dijadikan acuan pembuatan beton pada saat dilakukan
pekerjaan beton di lapangan dan disaksikan oleh direksi
pekerjaan.
 Campuran percobaan sesuai dengan permintaan spesifikasi dalam
dokumen lelang dan mendapat persetujuan dari direksi pekerjaan.
 Ketentuan sifat-sifat campuran sesuai dengan spesifikasi teknis
yang diminta dalam dokumen pelelangan.
 Pencampuran :
 Beton dicampur dalam mesin yang dijalankan secara mekanis
(concrete mixer)
 Pencampur dilengkapi dengan tangki air bersih yang
memadai dan alat ukur yang akurat untuk mengukur dan
mengendalikan jumlah air yang digunakan dalam setiap
penakaran.

KELOMPOK 4 97
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

 Pertama-tama alat pencampur diisi dengan aggregate, pasir


dan semen yang telah ditakar, selanjutnya alat pencampur
dijalankan sebelum air ditambahkan.
2) Pelaksanaan Pengecoran.
 Lokasi pengecoran dibersihkan dari kotoran, potongan kayu,
bendrat, paku dan sampah lainnya
 Sebelum pengecoran, bekisting dilumuri dengan mould oil
hingga rata. Kebocoran bekisting telah dicek dan disumbat.
Sambungan dengan pengecoran sebelumnya (jika ada) telah
disiram dengan calbond atau air semen serta bekisting
dibebaskan dari genangan air. Sebelum instruksi pengecoran
segala persetujuan yang diperlukan telah diurus dan disetujui
oleh direksi/owner dan pengawas pekerjaan.
 Penuangan dilakukan dengan tenaga manusia. Tinggi jatuh beton
pada saat pengecoran tidak lebih dari 1,5 meter agar tidak terjadi
pemisahan antara batu pecah yang berat dengan pasta beton,
(segregasi).
 Apabila dirasa perlu, pemadatan dibantu dengan vibrator
mekanikal type tertentu dalam jumlah yang memadai. Selang
vibrator dibenamkan sampai batas kedalaman beton sebelumnya
dan agar tidak terjadi kantong udara.
 Selanjutnya dilakukan perawatan (curing) beton sesuai
spesifikasi teknis.

D. Pekerjaan Baja Tulangan U – 24 Polos


Pekerjaan Baja Tulangan U-24 Polos ini dilaksanakan setelah
terlebih dahulu besi didatangkan kelokasi pekerjaan dan dilakukan
pemotongan dan pembengkokkan sesuai dengan ukuran dan bentuk yang
telah ditentukan dalam gambar teknik (rencana). Pekerjaan pembesian
dimulai sebelum pekerjaan pengecoran beton dilaksanakan.
1) Persiapan:

KELOMPOK 4 98
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

 Pekerjaan dilakukan secara manual (tenaga manusia) dan alat


bantu berupa bar bender dan bar cutter.
 Lokasi pekerjaan : Struktur pondasi, dinding dan lantai
jembatan.
 Sarung tangan, helm dan sepatu safety harus dikenakan oleh para
pekerja guna menghindari cedera serius saat melaksanakan
pekerjaan pembesian dilapangan.
2) Uraian pelaksanaan :
 Material baja tulangan didatangkan dari pabrik/supplier ke lokasi
pekerjaan.
 Material diletakkan pada stock area material baja tulangan atau
dalam gudang proyek.
 Selanjutnya dilakukan perakitan tulangan/pabrikasi, yaitu berupa
pengukuran panjang yang diperlukan, pemotongan dengan bar
cutter dan pembengkokan dengan bar bender dan dikerjakan pada
saat suhu dingin.
 Batang tulangan kemudian disusun/dipasang sesuai dengan
Gambar pelaksanaan dan persilangannya diikat kuat dengan
kawat bendrat.

E. Pekerjaan Baja Tulangan U – 39 Ulir


Pekerjaan Baja Tulangan U-39 Ulir ini dilaksanakan setelah
terlebih dahulu besi didatangkan kelokasi pekerjaan dan dilakukan
pemotongan dan pembengkokkan sesuai dengan ukuran dan bentuk yang
telah ditentukan dalam gambar teknik (rencana). Pekerjaan pembesian
dimulai sebelum pekerjaan pengecoran beton dilaksanakan.
1) Asumsi:
 Pekerjaan dilakukan secara manual (tenaga manusia) dan alat
bantu berupa bar bender dan bar cutter.
 Lokasi pekerjaan : Struktur pondasi, dinding dan lantai
jembatan.

KELOMPOK 4 99
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

 Alat pelindung keselamatan seperti Sarung tangan, helm dan


sepatu safety harus dikenakan oleh para pekerja guna
menghindari cedera serius saat melaksanakan pekerjaan
pembesian di lapangan.
2) Uraian pelaksanaan :
 Material baja tulangan didatangkan dari pabrik/supplier ke lokasi
pekerjaan.
 Material diletakkan pada stock area material baja tulangan atau
dalam gudang proyek.
 Selanjutnya dilakukan perakitan tulangan/pabrikasi, yaitu berupa
pengukuran panjang yang diperlukan, pemotongan dengan bar
cutter dan pembengkokan dengan bar bender dan dikerjakan pada
saat suhu dingin.
 Batang tulangan kemudian disusun/dipasang sesuai dengan
Gambar pelaksanaan dan persilangannya diikat kuat dengan
kawat bendrat.

F. Pengadaan dan Pengangkutan Bahan Jembatan Klas B Span : 40 m


Pengadaan jembatan rangka baja terdiri dari komponen-komponen
baja standar prafabrikasi yang dipasok lengkap hingga batas tumpuan,
termasuk tumpuan elastomer, penahan dan peredam gempa lateral,
sandaran dan plat baja gelombang untuk lantai jembatan yang diproduksi
di pabrikan rangka baja. Bentang jembatan dan ketentuan-ketentuan
lainnya mengikuti spesifikasi teknis yang telah ditentukan dalam
dokumen teknis yaitu jembatan rangka baja klas B40.
Komponen-komponen jembatan rangka baja didatangkan ke lokasi
pekerjaan dengan menggunakan jasa pengangkutan/ekspedisi sampai
seluruh komponen-komponen tersebut diterima dilapangan. Dapat
diuraikan sebagai berikut :
 Komponen rangka baja diproduksi dipabrik/supplier dan diangkut ke
lokasi pekerjaan.

KELOMPOK 4 100
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

 Semua komponen rangka baja dilapisi dengan perlindungan karat


galvanis celup panas mutu tinggi guna mencegah terjadinya korosif.
 Selama pengangkutan, semua komponen jembatan di pak dan di
bundel dengan strap anti karat dan ganjal kayu untuk menghindari
kerusakan selama pemuatan, pengiriman dan penurunan.
 Gunakan Crane dan peralatan angkut dengan kapasitas yang
memadai untuk mengangkat seluruh komponen hingga
pengangkutan ke lokasi pekerjaan.
 Selama proses pengangkutan keselamatan pekerja harus tetap
diperhatikan guna menghindari resiko terjepit ataupun resiko
kecelakaan kerja lainnya.
 Komponen-komponen yang telah diangkut ke lokasi pekerjaan
disimpan dilokasi yang terlindungi dari resiko kerusakan.
 Setelah semua komponen tiba dilokasi, dilakukan pengecekan dan
serah terima guna dilanjutkan dengan proses perakitan/pemasangan.

G. Pemasangan jembatan rangka baja Klas B Span : 40 m


Perakitan dengan sistem kantilever adalah suatu sistem perakitan
jembatan rangka baja yang dilakukan tanpa alat penyangga/perancah
tetapi merupakan sistem pemasangan komponen per komponen yang
dipasang setempat secara bertahap mulai dari abutment atau pilar hingga
posisi akhir (abutment atau pilar berikutnya) dengan cara penambahan
dan pemasangan masing-masing komponen pada sebagian bentang yang
telah dipasang sebelumnya, hingga membentuk kantilever yang bergerak
segmen demi segmen menuju ke perletakan jembatan
[Link] sistem kantilever ini bersifat statis dan
membutuhkan bentang pemberat dan rangka penghubung.
1) Tempat Perakitan
Panjang bagian belakang abutment yang dibutuhkan untuk
memasang konstruksi baja adalah sepanjang bentang pemberat

KELOMPOK 4 101
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

ditambah daerah bebas untuk jalan kerja, misalnya panjang bentang


pemberat ditambah ± 10 m.
Lebar yang dibutuhkan untuk masing-masing keadaan ± 10 m untuk
bentang pemberat ditambah 5 m untuk jalan kerja. Sebagai tambahan
dibutuhkan juga tempat untuk menumpukan komponen baja dan
sebagainya.
2) Perletakan Penumpu Sementara
Penumpu sementara yang akan digunakan disediakan oleh kontraktor
pelaksana atau erektor. Ganjal kayu yang kuat harus dipasang
dibawah masing-masing titik tumpuan pada abutment atau pilar
untuk menumpu bagian pangkal dari bentang kantilever selama
pemasangan. Persyaratan kayu penumpu ini harus mengikuti pokok
bahasan Area Perakitan dan Pekerjaan Persiapan, butir d. Pada
embankment yang terdekat dengan level akhir, maka sebaiknya
untuk pemasangan bentang pertama berkisar ± 1.50 m di atas level
akhir. Dengan demikian akan sangat berguna jika terjadi lendutan di
bagian bawah ujung kantilever.

3) Tumpuan Bentang Pemberat


Ujung belakang bentang pemberat harus ditumpu dengan ganjal kayu
atau landasan beton yang dirancang sesuai dengan kondisi tanah
yang ada dan secara umum pelaksanaannya harus sepenuhnya sesuai
dengan Pokok Bahasan Bentang Pemberat.
4) Bentang Pemberat dan Perangkat Penghubung
Bentang pemberat adalah suatu bentang rangka standard yang
berguna untuk manahan berat sendiri komponen rangka baja yang
sedang dirakit di atas sungai sehingga dengan pengimbang beban
lawan yang berada di tempat yang disediakan pada bentang pemberat
(biasa terletak di pangkal bentang), bentuk kantilever yang terjadi di
atas sungai tetap stabil (momen guling terjadi ditahan oleh beban
lawan). Bentang pemberat dihubungkan dengan bentang permanen
yang sedang dirakit melalui rangka penghubung/linking steel.

KELOMPOK 4 102
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

Bentang pemberat dan rangka penghubung disediakan oleh


kontraktor pelaksana atau [Link] beban lawan untuk
mengimbangi momen guling dari bentang kantilever, menyesuaikan
terhadap kemajuan panjang bentang permanen yang sedang dirakit.
5) Perakitan
Secara umumnya perakitan dilaksanankan seperti dijelaskan pada
sub bahasan 1 di atas. Bila komponen-komponen telah duduk
(terpasang) pada pelat buhul, komponen tersebut harus ditempatkan
dengan tepat dan harus ditahan dengan pasak (drift) yang ada agar
semua komponen terpasang dengan tepat sebelum dibautkan.
6) Urutan Perakitan
Sistem perakitan ini telah direncanakn dengan langkah-langkah yang
mudah dan dimulai dengan perakitan bentang pemberat di atas tanah
pada area oprit hingga selesai. Adapun urutan-urutan perakitan
adalah sebagai berikut :
 Langkah 1
Sebagai dasar perakitan statis awal adalah pembuatan satu
rangkaian bentuk frame segitiga awal/pertama tepat setelah
susunan rangka penghubung, tentunya dapat dimulai dengan
pemasangan batang diagonal (2) pada sambungan/join J1 dimana
pelat sambungnya sudah terpasang lebih dahulu. Setelah
kelengkapan sambungan sudah terpasang semua pada J1, maka
baut dapat segera dimasukan dan diputar dalam kondisi
sementara sehingga batang diagonal (2) masih mudah diatur
posisinya untuk menunggu dipasangnya batang datar bawah (3)
yang dipasangkan dan dibautkan pada J2 lebih dahulu. Sambung
dan pasang baut batang (2) dan (3) pada sambungan J3 dengan
dilengkapi keperluan plat sambung dan kelengkapannya (missal
jika diperlukan plat sisipan dan lain-lain). Setelah terbentuk
frame segitiga pada posisi yang benar maka lengkapi semua baut
pada tiap-tiap sambungan dan dapat dikencangkan sepenuhnya
sehingga terbentuklah “segitiga awal” (segitiga, J1 J2 J3) sebagai

KELOMPOK 4 103
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

segitiga pijakan awal untuk perakitan selanjutnya. Pembentukan


segitiga ini harus dua sisi bersama-sama agar setelah disusul
dengan pemasangan girder melintang dari J3 akan membentuk
kantilever sebagai pegangan untuk perakitan komponen demi
komponen berikutnya. Pasang pengikat sementara batang bawah
dan baut pada tempatnya, dimana pembautan ini juga bersifat
sementara, kemudian pasang gelagar melintang atas ujung (5)
pada J1 (dua sisi).
 Langkah 2
Pasang batang datar tepi atas pada pelat-pelat buhul dan pelat
penyambung bagian bawah pada titik sambungan/join J1 yang
telah selesai sebelumnya. Sisipkan pelat penyambung atas dan
pelat pengisi bagian dalam (jika diperlukan). Setelah join J1
terpasang, pelat penyambung badan dan pengisi badan dan dalam
keadaan pembautan penuh (baut dikencangkan sepenuh-
penuhnya).
 Langkah 3
Rakit dan pasang dua batang diagonal (2) berikut pelat
penyambung buhul termasuk pelat penyambung batang diagonal
yang sudah ditandai bersama-sama sehingga membentuk rakitan
^ (V terbalik). Angkat dalam keadaan tegak dan sisipkan ujung
bawahnya (dari bentuk ^) diantara pelat buhul batang bawah pada
sambungan J3. Sisipkan pelat pengisi sanyap dan pelat
penyambung ke bagian bawah jalur diagonal, lalu dikunci dengan
kunci pas ujung lancip dan sisipkan agar pelat buhul atas bisa pas
dengan batang atas (1) pada sambungan J4. Pasang pelat
penyambung sayap bawah dan bagian dalam dan bagian luar
pelat pengisi pada J3 dan pasang bagian baut-baut pada J4 dan J5
(yaitu setengah ke bawah).
 Langkah 4
Pasang batang datar tepi bawah (3), masukan diantara pelat
buhul pada bagian pertemuan J3 yang telah selesai sebagian.

KELOMPOK 4 104
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

Pasang pelat pengisi jika dijelaskan pada Gambar Erection


Jembatan dan pelat penyambung atas selesai (J4) setelah
pemasangan pelat penghubung badan bagian atas dan pelat
penyambung badan yang ada dan baut seluruhnya pada
pertemuan J4. Pada ujung depan dari batang datar bawah, pasang
pelat buhul luar dan pelat penyambung bawah secara bersamaan
dengan pengisi yang ditentukan, bautkan pada batang datar
bawah dan batang diagonal pada sambungan/join (J5).
 Langkah 5
Pasang ikatan angin batang atas dan hubungksn pada pertemuan
di J1 dan J4 saling [Link] kerja dari kayu dapat
dipasang pada gelagar melintang batang atas (5) dan rangka
pengangkat dipindahkan satu panel berikutnya dipasang dan
diikat kembali.
 Langkah 6
Ulangi langkah ke (1). Pasangkan batang penghubung atas
berikutnya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dan
selesaikan titik hubung J3.
 Langkah 7
Ulangi langkah ke (2) dan lanjutkan tahapan perakitan seperti
sebelumnya. “Penting sekali bahwa seluruh baut harus
dikencangkan penuh setelah semua komponen pada suatu titik
pertemuan terpasang”.
7) Pengikat Sementara Pada Bagian Bawah.
Pasa saat pemasangan kantilever, pengikat silang sementara harus
dipasang pada bagian bawah batang di setiap ujung batang yang
disesuaikan jalurnya, pengikat silang sementara ini dibutuhkan untuk
mengurangi lendutan lateral pada kantilever akibat beban angin dan
untuk mengikat batang bagian bawah (dalam tekanan) untuk
mengimbangi [Link] ini harus dilepas setelah konstruksi
selesai dan bentang telah menopang keempat sudutnya. Penopang
tidak dapat dipasang sebelum pengikat sementara dilepas.

KELOMPOK 4 105
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

8) Pengangkutan dan Pengangkatan


Pengangkatan dan pengangkutan komponen-komponen dari tempat
penumpukan ke tempat pemasangan (penyambungan) perlu
dilakukan selama proses pemasangan. Hal ini dapat dilakukan
dengan berbagai macam sarana atau metode tergantung dari keadaan
lokasi. Metode-metode yang digunakan bisa berbagai alternatif
antara lain :
 Melalui jembatan lama dengan menggunakan crane kecil.
 Kabel-kabel yang digantung diantara kedua abutment dibawah
jembatan.
 Menggeser komponen di atas alas kayu melalui bagian
konstruksi baja yang sudah selesai. Disarankan untuk mencengah
kerusakan komponen, sebaiknya digunakan rol.
 Sebaiknya digunakan dua rangka pengangkat sederhana yang
terbuat dari profil baja ringan dan dipasang pada kedua batang
paling atas dengan membautnya melalui lubang drainase atau
baut pada pelat badan. Penggunaan rangka pengangkat ini
bersama-sama dengan katrol rantai atau katrol tangan, menjamin
kemudahan pengoperasian dan alat ini dapat dipindah-pindah
sepanjang bentang selama berlangsungnya pemasangan
jembatan.
9) Lendutan Kantilever dan Pembatasan Badan
Rangka jembatan akan melendut secara elastis sebagai akibat adanya
kantilever dan bentang pemberat juga akan melendut dan akan
menambah besar lendutan pada bagian ujung bentang yang sedang
dikerjakan. Seperti dijelaskan pada sub bahasan 3 di atas, lawan
lendut pada bentang rangka terbentuk sebagai bentuk pabrikasi pelat
buhul batang atas dan batang bawah dan tidak diperlukan tindakan
khusus atau penyesuaian-penyesuaian selama pelaksanaan system
kantilever ini. Yang perlu diperhatikan adalah, perakitan baja
ditempatkan pada level yang ditentukan untuk mengantisipasi
lendutan hingga bagian ujung kantilever berada diatas bagian

KELOMPOK 4 106
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

abutment dan pilar. Untuk menentukan ketinggian dari penyangga


dengan ganjalan kayu disetiap ujungnya dimana bentang menumpu
pada salah satu atau kedua ujungnya di pilar, maka hal-hal yang
harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
 Geometri dari tempat pabrikasi bentang pemberat, bentang
terkantilever dan rangka penghubung;
 Lendutan elastis dari ujung kentilever dan;
 Ketinggian relatif dari ketiga pilar atau abutment pada alur
jembatan.
 Tidak dimungkinkan untuk menentukan tinggi rata-rata untuk
setiap kombinasi bentang karena level pilar dan abutment relatif
bervariasi disetiap lokasi dan ditentukan kemudian dengan
alinyemen vertical jalan yang dibutuhkan.
10) Baja Penopang (stringer) dan Pelat Lantai Baja.
Sebelum rangka jembatan selesai terpasang (sebaiknya didongkrak
turun lebih dahulu) batang penopang dan panel lantai profil baja
tidak dapat dipasang. Lepaskan pengikat sementara batang bagian
bawah bagian sebelum pemasangan batang penopang dan dudukan.
Sistem lain selain system kantilever dipasang setempat yang dapat
digunakan adalah system kantilever yang ditumpu ditengah bentang
sehingga mengurangi sifat pangkantileveran dan mengurangi
bentang pemberat dan beban lawan. Dalam hal ini, penopang bagian
tengah harus sebagai titik berat bentang . Metode ini biasa dipakai
khususnya untuk jembatan rangka bentang panjang.

H. Pekerjaan Pasangan Batu


Pekerjaan pasangan batu ini merupakan pekerjaan pada bangunan
struktur pelengkap jembatan, dilaksanakan pada lokasi jalan pendekat
(oprit) jembatan sebagai pengaman sisi terluar dari oprit jembatan
tersebut, untuk itu maka dipasang tembok pengaman dengan pasangan
batu. Urutan Pelaksanaan dapat diuraikan sebagai berikut :

KELOMPOK 4 107
PERANCANGAN BANGUNAN REKAYASA SIPIL III (TKS3802)

 Sebelum pelaksanaan dilakukan, terlebih dahulu mempersiapkan


gambar kerja bersama dengan Direksi Pekerjaan.
 Setelah lokasi yang akan dikerjakan ditentukan, kemudian
dipasang patok dan elevasi serta diberi rambu-rambu lalu lintas
pada lokasi pekerjaan tersebut agar lalu lintas tidak terhambat dan
tidak merusak pekerjaan.
 Selain persiapan di lokasi, material yang akan dipergunakan
terlebih dahulu diusulkan kepada direksi.
 Setelah material disetujui direksi, penyiapan material pada lokasi
pekerjaan harus telah diperhitungkan terhadap kapasitas pekerja
pada satu hari pekerjaan sehingga tidak terdapat pekerjaan yang
terlantar.
 Kemudian pekerjaan dilaksanakan dengan pekerjaan lantai kerja
sebelum pemasangan batu dan setelah umur dari lantai kerja
tercapai, pekerjaan pasangan batu dimulai dari pondasi bawah dan
kearah dinding atas.
 Setelah pekerjaan selesai, dilakukan pengukuran bersama hasil
pekerjaan dengan Direksi Pekerjaan dan setelah disetujui dapat
dibuat berita acara pemeriksaan pekerjaan sebagai dasar untuk
menjadikan hasil pekerjaan pada progress prestasi pekerjaan.
3.6.5 Penutup
Demikian metode pelaksanaan jambatan secara garis besarnya, metode
pelaksanaan yang lebih detail akan dibuat pada saat pelaksanaan nanti.
Tentu saja di dalam pelaksanaannya nanti dapat timbul alternatif – alternatif
lain yang mungkin lebih efisien dan efektif. Mudah-mudahan uraian ini
dapat memberikan gambaran yang cukup jelas tentang langkah-langkah
yang akan dilakukan dalam pelaksanaan proyek ini.

KELOMPOK 4 108

Anda mungkin juga menyukai