BAB II
PEMBAHASAN
PERDARAHAN
A. DEFINISI
Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh darah. Jumlahnya dapat
bermacam-macam, mulai dengan sedikit sampai yang dapat menyebabkan
kematian. Luka robekan pada pembuluh darah besar di leher, tangan dan paha
dapat menyebabkan kematian dalam satu sampai tiga menit. Sedangkan
perdarahan dari aorta atau vena cava dapat menyebabkan kematian dalam 30
detik. Sedangkan menurut dr. Hamidi (2011) perdarahan adalah peristiwa
keluarnya darah dari pembuluh darah karena pembuluh tersebut mengalami
kerusakan. Kerusakan ini bisa disebabkan karena benturan fisik, sayatan, atau
pecahnya pembuluh darah yang tersumbat.
B. MACAM-MACAM PERDARAHAN
Perdarahan dibagi menjadi dua yaitu:
1. Perdarahan External
Perdarahan external yaitu perdarahan dimana darah keluar dari dalam
tubuh. Perdarahanexternal dibagi menjadi tiga macam yaitu (Petra & Aryeh,
2012)
a. Perdarahan dari pembuluh kapiler
Tanda-tanda perdarahan dari pembuluh kapiler antara lain:
1) Perdarahannya tidak hebat
2) Darah keluarnya secara perlahan-lahan berupa rembesan
3) Biasanya perdarahan akan berhenti sendiri walaupun tidak diobati
4) Perdarahan mudah dihentikan dengan perawatan luka biasa
5) Darah yang keluar umumnya berwarna merah terang
b. Perdarahan dari pembuluh darah balik (vena)
Tanda-tanda perdarahan dari pembuluh darah vena antara lain:
4
1) Warna darah umunya merah tua (berupa darah kotor yang akan dicuci dalam
paru-paru, kadar oksigennya sedikit)
2) Pancaran darah tidak begitu hebat jika dibandingkan dengan pancaran darah
arteri
3) Perdarahan mudah untuk dihentikan dengan cara menekan dan meninggikan
anggota badan yang luka lebih tinggi dari jantung
c. Perdarahan dari pembuluh darah arteri
Tanda-tanda perdarahan dari pembuluh darah arteri antara lain:
1) Darah yang keluar umumnya berwarna merah muda (merupakan darah bersih
karena habis dicuci didalam paru-paru untuk diedarkan ke seluruh tubuh)
2) Darah keluar secara memancar sesuai irama jantung
3) Biasanya perdarahan sulit untuk dihentikan
2. Perdarahan Internal
Perdarahan internal yaitu perdarahan yang terjadi di dalam rongga dada,
rongga tengkorak dan rongga perut. Dalam hal ini darah tidak tampak mengalir
keluar, tetapi kadang-kadang dapat keluar melalui lubang hidung, telinga, mulut
dan anus. Perdarahan internal dapat diidentifikasi dari tanda-tanda pada korban
sebagai berikut (Hamidi, 2011):
a. Setelah cidera korban mengalami syok tetapi tidak ada tanda-tanda
perdarahan dari luar
b. Tempat cidera mungkin terlihat memar yang terpola
c. Lubang tubuh mungkin mengeluarkan darah
d. Hemoptysis dan hematemisis kemungkinan menunjukkan adanya perdarahan
di paru-paru atau perdarahan saluran pencernaan
Perdarahan internal yang terjadi di rongga dada dapat menghambat
pernafasan dan akan mengakibatkan nyeri dada. Perdarahan pada rongga perut
akan menyebabkan kekakuan pada otot abdomen dan nyeri abdomen.
Beberapa penyebab perdarahan internal antara lain (Petra & Aryeh, 2012):
a. Pukulan keras, terbentur hebat.
b. Luka tusuk, kena peluru.
c. Pecahnya pembuluh darah karena suatu penyakit.
5
d. Robeknya pembuluh darah akibat terkena ujung tulang yang patah.
C. PEMBULUH DARAH ARTERI/NADI
Pembuluh arteri bertugas membawa darah segar yang dipompa dari
jantung menuju ke seluruh tubuh. Pada umumnya pembuluh arteri tersembunyi di
bawah haringan tubuh dan hanya beberapa saja yang dekat ke permukaan kulit
sehingga nampak dari luar. Tanda-tanda perdarahan pembuluh arteri adalah darah
yang keluar menyembur seirama dengan denyut jantung dan berwarna merah
cerah atau segar.
* Tindakan Pertolongan
Pertolongan pada perdarahan arteri harus cepat dilakukan, karena jika
tidak maka korban akan cepat kehilangan darah dan terjadi shock. Pertolongan
utamanya adalahmenghentikan perdarahannya. Ada tiga cara penghentian
perdarahan arteri, yaitu :
1. Penekanan di Tempat Sumber Perdarahan
Cara yang terbaik pada umumnya yaitu dengan mempergunakan kasa steril
(bisa juga dengan kain bersih), dan tekankan pada tempat perdarahan. Tekanan itu
harus dipertahankan terus sampai perdarahan berhenti atau sampai pertolongan
yang lebih baik dapat diberikan. Kasa boleh dilepas jika sudah terlalu basah oleh
darah dan perlu diganti dengan yang baru. Kemudian kasa baru ditekankan
6
kembali sampai perdarahn berehnti, setelah itu kasanya ditutup dengan balutan
yang menekan dan korban dibawa ke rumah sakit.
Selama dalam perjalanan, bagian yang mengalami perdarahan diangkat
lebih tinggi dari letak jantung. Sementara itu, perhatikan pula adanya tanda-tanda
shock dan pastikan bahwa perdarahannya betul-betul sudah berhenti. Apabila
perdarahan masih ada, maka balutan harus segera diperbaiki. Korban diminta
tetap tenang karena kegelisahan dapat menyebabkan perdarahan terjadi kembali.
2. Penekanan dengan Torniket
7
Torniket marupakan balutan yang menekan sehingga aliran darah
dibawahnya berhenti mengalir. Selembar pita kain yang lebar, pembalut segitiga
yang dilipat-lipat atau sepotong karet ban sepeda dapat digunakan untuk
keperluan ini. Panjang torniket harus cukup untuk dua kali melilit ke bagian yang
hendak dibalut. Tempat yang terbaik untuk memasang torniket adalah lima jari di
bawah ketiak (untuk perdarahn lengan) dan lima jari di bawah lipat paha (untuk
perdarahan di kaki).
Cara memasang torniket dilakukan sebagai berikut :
- Buat ikatan di anggota badan yang cidera
- Selipkan sebatang kayu dibawah ikatan itu
- Kencangkan kedudukan kayu itu dengan memutarnya
- Agar kayu tetap erat kedudukannya, ikat ujung satunya
Caranya dengan melilitkan torniket di tempat yang dikehendaki. Lebih
baik lagi apabila sebelumnya dialasi dengan kain atau kain kasa untuk mencegah
lecet di kulit yang terkena torniket.
Untuk torniket kain, masih perlu dikencangkan dengan sepotong kayu.
Caranya, eratkan torniket dengan sebuah simpul hidup, kemudian selipkan
sebatang kayu di atas simpul tersebut. Selanjutnya diikat dengan simpul mati.
Kemudian putar kayu itu seperti memutar keran air untuk mengencangkan
torniket. Akan tetapi jangan diputar terlalu kencang, karena dapat melukai
jaringan-jaringan dibawahnya. Tanda torniket sudah cukup kencang adalah tifak
terabanya denyut nadi di bagian bawah dari torniket dan warna kulit di daerah itu
menjadi pucat kekuningan.
Setelah itu korban segera dibawa ke rumah sakit untuk pertolongan lebih
lanjut. Untuk memudahkan para pengusung, torniket harus terlihat jelas dan tidak
boleh ditutupi, sehingga torniket dapat dikendorkan selama 30 detik setiap 10
menit sekali. Sementara itu, tempat perdarahan diikat dengan kasa steril. Torniket
hanya digunakan untuk perdarahan yang hebat atau untuk lengan atau kaki yang
cedera berat.
Cara terakhir pada pertolongan pertama dalam menghentikan perdarahan
luar yang sangat banyak adalah dengan Torniket, dengan menggunakan teknik ini
8
seluruh aliran darah pada alat gerak akan tertutup, namun torniket dapat
menyebabkan kematian jaringan bagian distal sehingga harus diamputasi. Maka
ketika torniket terpaksa harus dilakukan, pasanglah torniket pada bagian paling
ujung dari alat gerak, guna meminimalisir kemungkinan terburuk dari matinya
jaringan pada alat gerak.
Penolong pertama tetap melakukan teknik penekanan langsung, elevasi
dan titik tekan untuk menghentikan perdarahan. Segera tentukan tempat
pemasangan torniket, tempat tersebut tidak boleh lebih dari 5 cm di atas luka. Bila
cedera terdapat pada sendi, maka pasang torniket di atas sendi.
Pasang bahan torniket melingkari alat gerak, kemudian buat sebuah ikatan
di atasnya. Masukkan tongkat kecil, atau pena atau sejenisnya antara simpul dan
bahan torniket lalu putar perlahan untuk mengencangkan torniket. Putar perlahan,
sehingga perdarahan terkendali dan jangan berlebihan. Pastikan agar tongkat atau
pena tersebut tidak dapat berputar kembali dengan cara mengikat ujungnya.
Berikan tanda dan catat bahwa korban telah dipasangkan torniket. Bagian
yang terpasang torniket harus terbuka dan mudah dilihat siapapun, tetaplah
memantau bagian itu dan jangan lupa untuk mencatat kapan waktu torniket
tersebutdipasang.
3. Penekanan pada Tempat-tempat Tertentu
Cara ini dilakukan sebelum cara di atas dilakukan. Atau dapat pula sebagai
tindakan tambahan apabila cara nomor 1 tidak segera berhasil mengehentikan
perdarahn.
Tempat-tempat yang ditekan adalah pangkal arteri yang terluka. Jadi,
tujuan penekanan ini adalah untuk menghentikan aliran darah yang menuju ke
pembuluh arteri yang robek.
9
Sebagaiseorang pelaku Pertolongan Pertama selain dapat melakukan tindakan
bantuan hidup dasar dan resusitasi jantung paru, anda juga harusnya dapat
mengenali dan mengatasi perdarahan.
Mengenali dan mengatasi perdarahan merupakan salah satu ketrampilan
utama yang juga harus dikuasai oleh seorang pelaku Pertolongan Pertama. Bila
perdarahan ini tidak diatasi dengan segera maka nyawa korban dapat terancam
maut dengan tanda awal menjadi lemah, syok dan akhirnya meninggal.
Untuk mengatasi perdarahan, anda harus tahu dahulu tentang sistem
peredaran darah (sistem sirkulasi) yang bertanggung jawab untuk mengedarkan
(mengalirkan) darah ke seluruh tubuh manusia. Adapun 3 komponen utama dalam
sistem ini adalah Jantung, Pembuluh Darah dan Darah, yang ketiganya harus
berfungsi dengan baik agar tidak terjadi gangguan dalam tubuh.
Dalam dunia kedokteran dikenal adanya istilah Perfusi yaitu sirkulasi
darah yang adekuat ke seluruh tubuh, memasok sel dan jaringan dengan oksigen
dan bahan nutrisi, serta mengangkut kembali zat karbon dioksida dan sisa
pembakaran tubuh.
10
Jika hal di atas terganggu pada salah satu atau lebih sel dan organ tubuh
oleh satu atau beberapa penyebab, maka sel atau organ tersebut akan mengalami
keadaan berbahaya, yaitu akan berkurangnya pasokan darah, oksigen dan nutrisi
sehingga zat sampah (karbon dioksida dan sisa pembakaran) akan bertumpuk.
Keadaan ini dikenal dengan istilah Hipoperfusi atau Syok (akan dibahas lebih
lanjut).
Perdarahan terjadi karena adanya gangguan rusaknya dinding pembuluh
darah yang disebabkan oleh ruda paksa (trauma) atau penyakit.
Perdarahan dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:
[Link] luar (terbuka)
2. Perdarahan dalam (tertutup)
Kedua jenis perdarahan ini sangat berbahaya jika tidak segera ditangani,
untuk lebih jelasnya
tentang keduanya
akan dibahas lebih
lanjut.
Perdarahan Luar
Kerusakan
dinding pembuluh
darah yang disertai kerusakan kulit sehingga darah keluar dari tubuh dan terlihat
jelas keluar dari luka tersebut dikenal dengan nama Perdarahan Luar (Terbuka).
Bila anda sebagai pelaku Pertolongan Pertama menemukan korban dengan
kondisi seperti tersebut, maka anda harus berhati-hati dalam melakukan
pertolongan karena sebagai penolong harus menganggap darah ini dapat menulari
anda. Pastikan untuk memakai alat perlindungan diri, segera membersihkan darah
yang menempel baik pada pakaian, tubuh maupun peralatan anda.
Berdasarkan pembuluh darah yang mengalami gangguan, perdarahan luar
ini dibagi menjadi 3 (tiga) bagian:
11
1. Perdarahan Nadi (Arteri), ditandai dengan darah yang keluar menyembur sesuai
dengan denyutan nadi dan berwarna merah terang karena kaya dengan oksigen.
Perdarahan ini sulit untuk dihentikan, sehingga harus terus dilakukan pemantauan
dan pengendalian perdarahan hingga diperoleh bantuan medis.
2. Perdarahan Balik (Vena), darah yang keluar berwarna merah gelap, walaupun
terlihat luas dan banyak namun umumnya perdarahan vena ini mudah
dikendalikan. Namun perdarahan balik ini juga berbahaya jika terjadi pada
perdarahan vena yang besar masuk kotoran atau udara yang tersedot ke dalam
pembuluh darah melalui luka yang terbuka.
3. Perdarahan Rambut (Kapiler), berasal dari pembuluh kapiler, darah yang keluar
merembes perlahan. Ini karena pembuluh kapiler adalah pembuluh darah terkecil
dan hampir tidak memiliki tekanan. Jika terjadi perdarahan, biasanya akan
12
membeku sendiri. Darah yang keluar biasanya berwarna merah terang seperti
darah arteri atau juga bisa gelap seperti darah vena.
Tips Mengatasi Perdarahan Luar
Bagaimana jika seorang penolong atau pelaku Pertolongan Pertama
menemukan korban yang mengalami perdarahan luar (terbuka)? Jika itu terjadi,
sebelum melakukan pertolongan atau perawatan ada beberapa hal yang harus
selalu diingat, dilakukan dan diperhatikan, yaitu:
Pertolongan atau perawatan perdarahan harus selalu diawali dengan ABC.
Pakailah Alat Perlindungan Diri agar tidak terkena darah atau cairan tubuh
korban.
Jangan menyentuh mulut, hidung, mata dan makanan sewaktu
memberikan pertolongan atau perawatan.
Cucilah tangan segera setelah selesai memberikan pertolongan atau
perawatan, sebaiknya dengan sabun atau cairan anti septik.
Dekontaminasi atau buang bahan yang sudah terkena darah atau cairan
tubuh korban dengan baik.
Cara yang dilakukan untuk mengendalikan perdarahan luar adalah sebagai
berikut:
a. Tekanan Langsung
13
Ini merupakan cara yang paling penting dalam upaya menghentikan
perdarahan. Tekan bagian yang berdarah tepat diatas luka, lakukan sesegera
mungkin dan jangan buang waktu untuk mencari penutup lukanya terlebih
dahulu.
Biasanya perdarahan akan berhenti sekitar 5 - 15 menit kemudian. Penutup
luka harus tebal pada tempat perdarahan, dan jika darah belum berhenti penutup
luka dapat ditambah tanpa harus melepas penutup luka pertama.
Jika perdarahan terjadi pada alat gerak, maka harus dilakukan pemeriksaan
nadi distal untuk memastikan aliran darah tidak terganggu. Jika nadi hilang atau
tidak ada maka penekanan perlu diperbaiki.
b. Elevasi (dilakukan bersamaan dengan tekanan langsung)
Dilakukan hanya untuk perdarahan di daerah alat gerak saja dan dilakukan
bersamaan dengan tekanan langsung. Metode ini tidak dapat digunakan untuk
korban dengan kondisi cedera otot rangka dan benda tertancap.
14
c. Titik Tekan Bila kedua cara di atas belum berhasil maka perlu dilakukan
penekanan pembuluh nadi di atas daerah yang mengalami perdarahan. Ada
beberapa titik tekan yaitu:
- Arteri Brakialis (pembuluh nadi di lengan atas)
- Arteri Femoralis (pembuluh nadi di lipat paha)
[Link] lain yang dapat membantu menghentikan perdarahan lain selain tiga teknik
diatas adalah:
Immobilasasi dengan atau tanpa pembidaian
Torniket (hanya sebagai alternatif terakhir dan akan dibahas lebih lanjut)
Kompres Dingin
15
Perdarahan Dalam
Perdarahan dalam umumnya disebabkan oleh benturan tubuh korban
dengan benda tumpul, atau karena jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor, ledakan
dan lain sebagainya. Luka tusuk juga dapat menyebabkan terjadinya hal tersebut,
berat ringannya luka tusuk bagian dalam sangat sulit dinilai walaupun luka
luarnya terlihat nyata.
Kita tidak akan melihat keluarnya darah dari tubuh korban karena kulit
masih utuh, tapi dapat melihat darah yang terkumpul di bawah permukaan kulit
seperti halnya kasus memar. Perdarahan dalam ini juga bevariasi mulai dari yang
ringan hingga yang dapat menyebabkan kematian. Untuk kasus yang
menyebabkan kematian adalah karena:
Rusaknya alat dalam tubuh dan pembuluh darah besar yang bisa
menyebabkan hilangnya banyak darah dalam waktu singkat.
Cedera pada alat gerak, contohnya pada tulang paha dapat merusak jaringan
dan pembuluh darah sehingga darah yang keluar dapat menimbulkan syok.
Kehilangan darah yang tidak terlihat (tersembunyi) sehingga penderita
meninggal tanpa mengalami luka luar yang parah.
Mengingat perdarahan dalam berbahaya dan tidak terlihat (tersamar),
maka penolong harus melakukan penilaian dari pemeriksaan fisik lengkap
termasuk wawancara dan analisa mekanisme kejadiannya. Lebih baik kita
menganggap korban mengalami perdarahan dalam dari pada tidak, karena
penatalaksanaan perdarahan dalam tidak akan memperburuk keadaan korban yang
ternyata tidak mengalaminya.
Untuk lebih jelas kita mengetahui tentang Perdarahan Dalam guna
memberikan Pertolongan Pertama yang tepat bagi korban, maka berikut saya
berikan tanda-tanda yang mudah dikenali:
Memar dan disertai nyeri tubuh
Pembengkakan terutama di atas alat tubuh penting
Cedera pada bagian luar yang juga mungkin merupakan petunjuk bagian
dalam yang mengalami cedera
Nyeri, bengkak dan perubahan bentuk pada alat gerak
16
Nyeri bila ditekan atau kekakuan pada dinding perut, dinding perut
membesar
Muntah darah
Buang air besar berdarah, baik darah segar maupun darah hitam seperti
kopi
Luka tusuk khususnya pada batang tubuh
Darah atau cairan mengalir keluar dari hidung dan telinga
Batuk darah
Buang air kecil bercampur darah
Gejala dan tanda syok
Jika tanda-tanda di atas dapat terlihat atau teraba pada pemeriksaan fisik
lakukan segera Pertolongan Pertama untuk penatalaksanaan korban dengan
perdarahan dalam.
Ketika anda sebagai seorang pelaku Pertolongan Pertama menemukan
korban yang mengalami perdarahan dalam, maka lakukanlah penatalaksanaan
korban dengan cara-cara sebagai berikut:
- Baringkan korban
- Periksa dan pertahankan ABC
- Berikan oksigen bila ada
- Periksa pernafasan dan nadi secara berkala
- Rawat sebagai syok
- Jangan memberikan makan atau minum
- Jangan lupa menangani cedera atau gangguan lainnya
- Segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat
17
Perdarahan di Bawah Kuku
Kuku termasuk bagian tubuh yang sangat sering mengalami cedera.
Misalnya terjepit pintu, terpukul palu, atau kejatuhan benda yang berat. Hal-hal
tersebut dapat menyebabkan persarahan di bawah kuku. Gejala dan tandanya
adalah kuku akan memerah dan sangat sakit yang ditimbulkan oleh adanya
pembengkakan dan tekanan pada kuku. Kuku tersebut terkadang terlepas karena
desakan darah.
Tindakan Pertolongan yaitu :
Untuk mengurangi rasa sakit, tindakan pertama yang dapat dilakukan adalah
mengompres jari yang cedera dengan es batu atau air dingin.
Kemudian dengan sebuah pisau steril,kuku yang cedera dikorek dan dilobangi
untuk mengeluarkan darah yang ada di bawah kuku.
Tindakan ini dilakukan untuk mengurangi nyeri dan mencegah kuku
terkelupas.
Setelah darah dikeluarkan, kuku yang telah dilobangi tadi ditutup dengan
salap antibiotika dan diplester.
Dapat pula dengan mempergunakan plester cepat yang mengandung obat
(band-aid, Handyplast, Tensoplast, dan sebagainya).
Perdarahan Hidung
Perdarahan hidung atau mimisan dapat terjadi pada mereka yang tekanan
darahnya tinggi, mengidap penyakit darah, influenza, atau karena kelainan
anatomi hidungnya. Tindakan lain yang mengakibatkan perdarahan hidung adalah
18
bersin atau membuang ingus terlalu keras, mencukil-cukil hidung, tekanan udara
merendah (misalnya dipegunungan) atau kekurangan vitamin C, bioflavonoid, dan
vitamin K.
Tindakan Pertolongan yaitu :
Korban duduk dengan kepala agak menunduk. Hal ini bertujuan untuk
mencegah agar darah tidak terhisap masuk ke paru-paru. Lalu tekan atau pijit
hidungnya untuk menghentikan perdarahan.
Caranya, korban duduk tegak dengan nyaman, lalu menengadahkan
kepalanya kemudian tekan sisi hidung yang sedang berdarah.
Tekan lubang hidung sekitar 5 menit atau lebih lama sampai mimisan
berhenti. Saat ditekan, pernapasan dilakukan melalui mulut. Bisa juga
hidungnya ditekan cukup kuat namun masih bisa bernapas.
Menghentikan perdrahan hidung juga dapat dilakukan dengan memasukkan
gulungan kain kasa ke dalam lubang hidung.
Kalau ada, basahi kasa tersebut dengan larutan hidrogen peroksida terlebih
dahulu. Detelah perdarahan berhenti, untuk beberapa waktu jangan
membuang ingus. Kompres batang hidung atau muka dengan kantong es atau
kain dingin.
Untuk perdarahan besar dan tidak mau berhenti, segera bawa ke dokter.
Kadang-kadang suntikan hormon estrogen kadar tinggi melalui pembuluh
darah vena dapat mengentikan perdarahan.
Mimisan ditandai dengan keluarnya darah dari hidung. Darah yang keluar
dari lubang hidung, biasanya berasal dari bagian depan hidung berupa darah segar,
encer dan berwarna merah terang. Perdarahan hidung umumnya terjadi hanya
pada satu lubang hidung, kecuali jika disebabkan oleh penyakit darah atau luka
berat.
Mengapa bisa terjadi perdarahan pada hidung ? Hidung berdarah bisa
terjadi karena pembuluh darah yang berada di selaput lendir hidung pecah.
Pecahnya pembuluh darah tersebut menyebabkan darah keluar secara terus-
menerus dari hidung.
19
D. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN PERAWAT
Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perawat saat memberikan
pertolongan dalam menghentikan perdarahan adalah sebagai berikut:
Jika peristiwa terjadi diluar rumah sakit, maka seorang perawat dalam
memberikan pertolongan pertama sebelum menghentikan perdarahan pastikan
dulu kondisinya aman baik korban, penolong (perawat) maupun
lingkungannya. Selain itu tetap menghubungi ambulance supaya cepat
mendapatkan penanganan di rumah sakit
Memastikan dahulu kondisi Airway, Breathing dan Circulation korban tidak
terganggu
Perawat harus teliti dan akurat dalam melakukan pengkajian luka dan sumber
perdarahan, apakah perdarahan external ataupun internal
Jika perdarahan external perawat harus bisa memahami/ mengetahui tipe
perdarahannya, apakah perdarahan arteri, vena atau kapiler
20
Perawat bisa menggunting atau melepas pakaian korban yang tebal karena
kemungkinan perdarahan external tidak terlihat (tertutup pakaian tebal)
Melakukan teknik penghentian perdarahan sesuai dengan jenis perdarahan dan
tipe perdarahannya
Jika terpaksa dengan pilihan terakhir menggunakan tourniquet maka
pemasangannya dilakukan oleh perawat yang sudah mendapatkan pelatihan
dan tiap 15 menit, ikatannya harus dikendurkan selama 30 detik untuk memberi
kesempatan darah mengalir lagi. Tujuannya, mencegah matinya jaringan akibat
tidak mendapat suplai darah.
Jika ada kotoran pada luka harus dibersihkan dan perawat harus selalu proteksi
diri dengan APD yang ada
Jika membawa alat-alat lengkap, maka perawat bisa mencoba untuk menjahit
lukanya
21
BALUT BIDAI
A. DEFINISI
Balut bidai adalah tindakan memfiksasi /mengimobilisasi bagian tubuh
yang mengalami cidera dengan menggunakan benda yang bersifat kaku maupun
fleksibel sebagai fiksator /imobilisator.
Balut bidai adalah pertolongan pertama dengan pengembalian anggota
tubuh yang dirsakan cukup nyaman dan pengiriman korban tanpa gangguan dan
rasa nyeri ( Muriel Steet ,1995 ).
Balut bidai adalah suatu cara untuk menstabilkan /menunjang persendian
dalam menggunakan sendi yang benar /melindungi trauma dari luar ( Barbara C,
long ,1996)
B. TUJUAN PEMBIDAIAN
1. Mencegah gerakan bagian yang stabil sehingga mengurangi nyeri dan
mencegah kerusakan lebih lanjut.
2. Mempertahankan posisi yang nyaman.
3. Mempermudah transportasi organ
4. Mengistirahatkan bagian tubuh yang cidera.
5. Mempercepat penyembuhan.
6. Memperrtahankan posisi bagian tulang yang patah agar tidak bergerak
7. Memberikan tekanan
8. Melindungi bagian tubuh yang cedera
9. Memberikan penyokong pada bagian tubuh yang cedera.
10. Mencegah terjadinya pembengkakan
11. Mencegah terjadinya kontaminasi dan komplikasi
12. Memudahkan dalam transportasi penderita.
C. TUJUAN PEMBALUTAN
1. Menghindari bagian tubuh agar tidak bergeser dari tempatnya
2. Mencegah terjadinya pembengkakan
22
3. Menyokong bagian badan yang cidera dan mencegah agar bagian itu tidak
bergeser
4. Menutup agar tidak kena cahaya, debu dan kotoran
5. Menahan sesuatu seperti :menahan penutup luka, menahan bidaimenahan
bagian yang cedera dari gerakan dan geseran, menahan rambut kepala di
tempat
6. Memberikan tekanan, seperti terhadap :kecenderungan timbulnya perdarahan
atauhematoma, adanya ruang mati (dead space)
7. Melindungi bagian tubuh yang cedera.
8. Memberikan "support" terhadap bagian tubuh yang cedera
D. INDIKASI PEMBIDAIAN
1. Fraktur (Patah Tulang)
a. Fraktur terbuka yaitu tulang yang patah mencuat keluar melalui luka yang
terdapat pada kulit.
b. Fraktur tertutup yaitu tulang yang patah tidak sampai keluar melalui luka yang
terdapat di kulit.
Kemungkinan patah tulang harus selalu dipikirkan setiap terjadi
kecelakaan akibat benturan yang keras. Apabila ada keraguan, perlakuan korban
sebagai penderita patah tulang. Pada fraktur terbuka tindakan pertolongan harus
hati-hati, karena selain bahaya infeksi gerakan tulang yang patah itu dapat
melukai pembuluh-pembuluh darah sekitarnya sehingga terjadi perdarahan baru.
2. Terkilir
Terkilir merupakan kecelakaan sehari-hari, terutama di lapangan olah raga.
Terkilir disebabkan adanya hentakan yang keras terhadap sebuah sendi, tetapi
dengan arah yang salah. Akibatnya, jaringan pengikat antara tulang (ligamen)
robek. Robekan ini diikuti oleh perdarahan di bawah kulit. Darah yang berkumpul
di bawah kulit itulah yang menyebabkan terjadinya pembengkakan.
Ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi pada sendi yang mengalami
terkilir :
23
a. Terjadi peregangan dan memar pada otot atau ligamen, jenis ini digolongkan
terkilir ringan.
b. Robekan pada ligamen, ditandai dengan rasa nyeri, bengkak dan memar
biasanya lebih berat dari pada jenis tang pertama. Jenis ini digolongkan terkilir
sedang.
c. Ligamen sudah putus total sehingga sendi tidak lagi stabil. Biasanya terjadi
perdarahan sekitar robekan, yang tampak sebagai memaryang hebat.
3. Luka terbuka
4. Penekanan untuk menghentikan pendarahan
Kecurigaan fraktur bisa dimunculkan jika salah satu bagian tubuh
diluruskan.
1. Pasien merasakan tulangnya terasa patah /mendengar bunyi “krek”
2. Ekstremitas yang cidera lebih pendek dari yang sehat /mngalami angulasi
abnormal.
3. Pasien tidak mampu menggerakkan ekstremitas yang cidera
4. Posisi ekstremitas yang abnormal
5. Memar
6. Bengkak
7. Perubahan bentuk
8. Nyeri gerak aktif dan pasif
9. Nyeri sumbu
10. Pasien merasakan sensasi seperti jeruji ketika menggerakkan ekstremitas yang
mengalami k. cidera (krepitasi )
11. Fungsiolaesa
12. Perdarahan bisa ada /tidak.
13. Hilangnya denyut nadi /rasa raba pada distal lokasi cidera.
14. Kram otot sekitar lokasi cidera.
24
E. KONTRA INDIKASI
1. Pembidaian baru boleh dilaksanakan jika kondisi saluran nafas, pernafasan dan
sirkulasi penderita sudah distabilkan. Jika terdapat gangguan sirkulasi dan atau
gangguan yang berat pada distal daerah fraktur, jika ada resiko memperlambat
sampainya penderita ke rumah sakit, sebaiknya pembidaian tidak perlu
dilakukan.
2. Hipermobilitas
3. Efusi Sendi
4. Inflamasi
5. Fraktur humeri dan osteoporosis
F. PENANGANAN BALUT DAN BIDAI
1. Luka Terbuka
Pada luka terbuka, terjadi cedera pada kulit yang menyebabkan jaringan di
bawah kulit tersebut mengalami paparan terhadap dunia luar, sehingga risiko
terjadinya infeksi meningkat. Contoh dari luka terbuka antara lain luka tusuk, luka
tembak/tembus, luka sayat, luka serut/cakar, luka lecet/ laserasi, dan luka
amputasi.
Penanganan pada luka terbuka perlu dilakukan segera terutama jika
disertai perdarahan yang parah karena dapat menyebabkan syok. Beberapa hal
yang harus diperhatikan sebelum melakukan penanganan luka adalah:
a. Pastikan kondisi lingkungan sekitar penolong dan korban aman. Jika kondisi
tidak aman (di tengah jalan, reruntuhan, dll) segera pindahkan korban ke
tempat yang aman.
b. Gunakan alat pelindung diri (APD) seperti masker dan sarung tangan
c. Pastikan tidak ada gangguan pada pernapasan dan sirkulasi pasien
d. Jika terlihat perdarahan yang parah, segera aktifkan SPGDT dengan
menghubungiambulans
Setelah itu, mulai dilakukan penanganan pada luka dengan langkah-langkah
berikut:
25
a. Pastikan lokasi dan jumlah bagian tubuh yang terluka dengan memeriksa
keseluruhantubuh korban (expose)
b. Jika memungkinkan tidak melukai korban lebih jauh, lepaskan perhiasan, jam
tangan, atau aksesoris lainnya pada bagian tubuh korban yang terluka karena
dapat terjadi pembengkakan dan mengganggu aliran darah
c. Bersihkan luka dengan mengalirkan air bersih hingga tidak ada kotoran yang
menempel
d. Lakukan kontrol perdarahan agar perdarahan berhenti. Berikut adalah beberapa
cara untuk mengontrol perdarahan:
1) Penekanan Langsung (Direct Pressure)
Penekanan langsung pada luka adalah cara yang paling baik untuk
menghentikan perdarahan, kecuali pada luka di mata. Cara untuk melakukan
penekanan langsung adalah dengan menggunakan kasa atau kain yang diletakkan
di atas luka lalu ditekan. Jika perdarahan tidak berhenti, tambahkan kain atau kasa
baru di atas yang lama kemudian ditekan kembali. Penekanan langsung dapat juga
dilakukan dengan menggunakan tangan penolong bila memang tidak ada
kain/kassa. Penekanan tidak hanya dilakukan dengan kuat, tetapi juga dalam
waktu yang cukup lama untuk menghentikan perdarahan (sekitar 20 menit atau
lebih). Jika perdarahan tidak berhenti, dapat dilakukan balut tekan dengan cara
menaruh benda padat seperti kasa tebal di atas luka kemudian dibalut.
2) Elevasi
Jika luka terdapat di area tangan/kaki, tinggikan posisi tangan/kaki hingga
di atas ketinggian jantung korban. Hal ini dilakukan untuk mengurangi aliran
darah ke area luka sehingga perdarahan dapat melambat. Cara ini tidak boleh
dilakukan pada korban dengan patah tulang/cedera karena dapat memperparah
kondisi patah tulang/cederanya.
3) Penekanan dengan Jari
Penekanan dengan ujung permukaan jari dilakukan di pembuluh darah
sebelum area luka untuk mengurangi aliran darah ke area luka.2,4 .
Elevasi dan penekanan dengan jari adalah cara yang kurang efektif untuk
menghentikan perdarahan, tetapi dapat membantu dalam prosesnya. Oleh karena
26
itu, ketiga cara di atas dilakukan secara bersamaan seperti ditunjukkan pada
gambar 2.
4) Torniket (Tourniquets)
Cara ini hanya digunakan jika perdarahan masih terus berlanjut walaupun
cara lain seperti penekanan langsung, balut tekan, dll sudah dilakukan dan hanya
dapat dipasang di tangan/[Link] torniket dalam waktu lama dapat
menyebabkan kerusakan jaringan karena tidak adanya aliran darah pada area luka
dan bawahnya dan berakibat hilangnya fungsi dari tangan/kaki.3 Berikut adalah
cara memasang torniket:
a) Lingkarkan kain 5-10cm di atas area luka kemudian diikat
b) Letakkan batang kayu kecil atau pensil di bawah simpul ikatan
c) Kecangkan ikatan kain dengan memutar batang kayu hingga perdarahan
berhenti
d) Ikat ujung batang kayu agar kain tidak kembali kendur
Tiap 10-15 menit, torniket dapat dikendurkan selama 1-2 menit agar aliran
darah tidak sepenuhnya hilang di area luka dan bawahnya.
2. Luka bakar
Luka bakar dapat terjadi akibat suhu yang sangat tinggi, paparan kimia,
radiasi (UV, terapi) dan juga dari listrik.4 Penanganan luka bakar yang dapat
dilakukan adalah:
a. Jauhkan sumber panas dari korban
b. Dinginkan luka bakar dengan cara mengalirkan air atau merendam area luka
bakar jika memungkinkan selama 20 menit seperti pada gambar 17
c. Lepaskan pakaian dan aksesoris lainnya seperti jam tangan dan cincin yang
berada di sekitar area luka bakar dengan hati-hati
d. Jika korban terluka parah, merasa sangat kesakitan, melibatkan mata atau
lebih dari setengah lengannya segera aktifkan SPGDT dengan menelepon
ambulans terdekat
e. Balut area luka bakar dengan pembungkus plastik bersih seperti pada gambar
18
27
Beberapa hal yang tidak boleh dilakukan dalam penanganan luka bakar:
a. Memecahkan bula atau mencabut kulit yang terkelupas
b. Melepaskan secara paksa apapun yang sudah melekat pada kulit akibat luka
bakar
c. Mengoleskan krim, pasta gigi, mentega, atau apapun ke area luka bakar
karena dapat menyebabkan infeksi
Penggantian Balutan
Dalam mengganti balutan, perawat harus menggunakan APD. Balutan atau
kasa yang menempel pada luka dapat dilepas tanpa menimbulkan sakit jika
sebelumnya dibasahi dengan larutan salin atau bial pasien dibiarkan berandam
selama beberapa saat dalam bak rendaman. Pembalut sisanya dapat dilepas
dengan hati-hati memakai forseps atau tangan yang menggunakan sarung tangan
steril. Kemudian luka dibersihkan dan didebridemen untuk menghilangkan debris,
setiap preparat topikal yang tersisa, eksudat, dan kulit yang mati. Selama
penggantian balutan ini, harus dicatat mengenai warna, bau, ukuran, dan
karakteristik lain dari luka.(Smeltzer, 2001)
3. Venous ulcer
Strategi utama dalam penatalaksanaan Insufisiensi Vena dan Hypertensi
Vena (sebagai penyebab utama venous ulcer) adalah:
a. Terapi Kompressi (Compression Therapy).
Terapi kompresi merupakan suatu modalitas yang bertujuan untuk
memberikan tekanan eksternal pada ekstrimitas bawah untuk memfasilitasi aliran
balik vena. Modalitas ini telah digunakan sejak abad ke 17 (dalam bentuk stocking
tali yang keras). Pada abad ke 21 terapi kompressi measih menjadi pilihan utama
dalam manajemen venous ulcer (Cullum, et al 2003; Kantor and Margolis, 2003).
Dan dapat pula diaplikasikan pada LEVD yang disertai dengan dermatitis akut
dan cellulitis (WOCN Society, 2005). Mekanisme kerja terapi kompressi pada
dasarnya adalah memberikan tekanan dari mata kaki ke lutut dan memberikan
28
tekanan untuk mensuport calf muscle pump saat ambulasi dan dorsofleksi. Oleh
karena itu terapi ini meningkatkan aliran balik vena. Sebagai tambahan terapi
kompresi memberikan tekanan pada jaringan superficial sehingga meningkatkan
tekanan interstisial sehingga mencegah kebocoran plasma yang pada akhirnya
akan mengurangi edema.
Besar tekanan atau Level of Compression yang diberikan merupakan
factor penting dalam terapi. Besar tekanan merupakan jumlah tekanan yang
diberikan terhadap jaringan. Umumnya besar tekanan berkisar antara 20-60
mmHg pada mata kaki. Tekanan sebesar 30-40 mmHg pada mata kaki biasa
digunakan untuk venous ulcer. Tekanan sebesar ini dilaporkan efektif dalam
mengontrol hypertensi vena dan mencegah pembentukan edema tungkai pada
kebanyakan pasien dengan venous disease (de Arujo et al, 2003; Kunimot, 2001b;
Paquette and Falanga, 2002; Phillips, 200).
b. Peninggian tungkai (Limb elevation).
Peninggian tungkai merupakan prosedur yang sangat sederhana namun
sangat efektif dalam meningkatkan aliran balik vena dengan memanfaatkan gaya
gravitasi. Modalitas ini sangat penting bagi pasien dengan venous ulcer bahkan
esensisal bagi pasien dengan venous ulcer yang tidak dapat mentoleransi terapi
kompressi. Pasien sebaiknya dianjurkan untuk meninggikan kakinya (lebih tinggi
dari jantung) selama 1-2 jam, dua kali sehari (lebh baik sebelum tidur).
Selanjutnya pasien juga dianjurkan untuk menghindari berdiri lama atau
duduk lama dengan posisi kaki menggantung (dependent). Bila harus berdiri atau
duduk lama, maka sebaiknya disertai dengan “jalan-jalan ringan”. Untuk
memastikan pasien melaksanakan modalitas ini dapat dibuatkan ‘leg-up chart’ dan
dievaluasi setiap kunjungan (Kunimot, 2001b; Wipke-Tevis and Sae-Sia, 2004).
4. Luka kanker
Berikut beberapa tindakan yang dapat dilakukan perawat untuk
mengendalikan gejala dalam perawatan luka kanker;
a. Eksudat yang berlebihan; dapat digunakan balutan yang menyerap eksudat banyak
seperti hidroselulosa (Aquacel), foam, gammge dan lainnya. Usahakan
29
balutanyang digunakan tidak melekat pada luka untuk menghindari perdarahan
ketika membuka balutan. Eksudat juga akan menyebabkan kulit sekitar luka lecet,
untuk itu dapat digunakan film barrier atau cream (zink cream atau metcovazin
cream dll).
b. Bau tidak sedap; ditimbulkan akibat infeksi bakteri. Balutan yang dapat
digunakan adalah yang mengandung silver yang dapat mengurangi pertumbuhan
bakteri, dan efektif mengontrol bau. Charcoal dressing (Carboflex dll) juga dapat
digunakan untuk mengontrol bau. Jika bahan yang digunakan terlalu mahal maka
dapat digunakan metode alami menggunakan madu asli atau pasta gula yang dapat
mencegah pertumbuhan bakteri (6). Penggunakan aromaterapi untuk lingkungan
sekitar juga dapat membantu mengendalikan bau tidak sedap dan dapat
meningkatkan kenyamanan pasien.
c. Nyeri; disebabkan kerusakan saraf akibat kanker atau akibat dressing yang
melekat pada kulit. Obat anti nyeri/ analgetik dapat diberikan sebelum perawatan
dan memilih balutan yang tidak lengket pada luka akan membantu mengurangi
nyeri pada pasien luka kanker.
d. Perdarahan; diakibatkan oleh sel kanker yang merusak pembuluh darah kapiler.
Memilih balutan/dressing yang tidak melekat pada luka akan mengurangi resiko
perdarahan ketika membuka balutan. Selain itu juga dapat digunakan balutan yang
mengandung kalsium alginat (kaltostat, suprasorb A, seasorb dll) yang dapat
menghentikan perdarahan minor. Jika perdarahan tidak berhenti maka dapat
digunakan adrenalin dan tekan lembut pada daerah yang perdarahan
e. Gatal; disebakan oleh kulit yang meregang dan ujung saraf yang teriritasi oleh
kanker. Dapat diberikan anti histamin, TENS machine ( membantu merangsang
otak mengeluarkan endorphin/painkiller), menggunakan lembaran hidrogel untuk
menghidrasi kulit dan krim mentol
G. JENIS PEMBIDAIAN
1. Tindakan pertolongan sementara
a. Dilakukan ditempat cidera sebelum ke rumah sakit
b. Bahan untuk bidai bersifat sederhana dan apa adanya
30
c. Bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri dan meghindarkan kerusakan yang
lebih berat.
d. Bisa dilakukan oleh siapapun yang sudah mengetahui prinsip dan tehnik dasar
pembidaian
2. Tindakan pertolongan definitif
a. Dilakukan di fasilitas layanan kesehatan, klinik / RS
b. Pembidaian dilakukan untuk proses penyembuhan fraktur /dislokasi
menggunakan alat dan bahan khusus sesuai standar pelayanan harus dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang sudah terlatih.
H. JENIS-JENIS BIDAI
1. Bidai keras: Merupakan bidai yang paling baik dan sempurna dalam kesdaan
[Link] adalah mendapatkan bahan yang mempunyai syarat
dilapangan. Contoh pada pasien fraktur tulang
2. Bidai Traksi: Bidai bentuk jadi dan berfariasi tergantung dari pembuatannya
hanya dipergunakan oleh tenaga yang terlatih khusus umumnya dipakai pada
patah tulang paha. Contoh : fraktur tulang paha.
3. Bidai improvisasi: Bidai yang cukup dibut dengan bahan cukup kuat dan
ringan untuk menopang ,pembuatannya sangat tergantung dari bahan yang
tersedia dan kemampuan improvisasi si penolong. Contoh :pasien luka
kecelakaan
4. Gendongan /belat dan bebat: Pembidaian dengan menggunakan pembalut
umumnya dipakai misalnya dan memanfaatkan tubuh penderita ebagai sarana
untuk menghentikan pergerakan daerah cidera contoh pada pasien fraktur pada
tangan.
I. MACAM BIDAI
1. Mitela
a. Bahan mitela terbuat dari kain berbentuk segitiga sama kaki dengan berbagai
ukuran. Panjang kaki antara 50-100 cm.
31
b. Pemabalutan ini dipergunakan pada bagian kaki yang berbentuk bulat atau
untuk menggantung bagian tubuh yang cedera.
c. Pembalutan ini bisa dipakai pada cedera dikepala, bahu, dada, siku, telapak
tangan dan kaki, pinggul serta untuk menggantung lengan.
2. Dasi
a. Pembalut ini adalah mitela yang dilipat-lipat dari satu sisi segitiga agar menjadi
beberapa lapis dan bentuk seperti pita dengan kedua ujung-ujungnya lancip dan
lebarnya antara 5-10 cm.
b. Pembalut ini bisa dipakai pada saat membalut mata, dahi rahang, ketiak,
lengan, siku, paha, serta lutut betis, dan kaki yang terkilir.
3. Pita (Gulungan)
a. Pembalut ini dapat dibuat dari kain katun, kain kasa, bahan elastic. Bahan
yang paling sering adalah dari kasa karena mudah menyerap air, darah, dan
tidak mudah bergeser (kendur).
b. Macam-macam pembalut yang digunakan adalah sebagai berikut;
1) Lebar 2,5 cm : untuk jari-jari
2) Lebar 5 cm : untuk leher dan pergelangan tangan.
3) Lebar 7,5 cm : untuk kepala, lengan atas dan bawah, betis dan kaki.
4) Lebar 10 cm : untuk paha dan sendi panggul.
5) Lebar 15 cm : untuk dada, perut, punggung.
J. PROSEDUR DASAR PEMBIDAIAN
1. Persiapan penderita
a. Menenangkan penderita ,jelaskan bahwa akan memberikan pertolongan.
b. Pemeriksaan mencari tanda fraktur /dislokasi
c. Menjelaskan prosedur tindakan yang dilakukan
d. Meminimalkan gerakan daerah luka. Jangan menggerakkan /memindahkan
korban jika keadaan tidak mendesak.
e. Jika ada luka terbuka tangani segera luka dan pendarahan dengan
menggunakan cairan antiseptik dan tekan perdarahan dengan kassa steril
32
f. Jika mengalami deformitas yang berat dan adanya gangguan pada denyut
nadi ,sebaiknya dilakukan telusuran pada ekstremitas yang mengalami
deformitas. Proses pelurusan harus hati-hati agar tidak memperberat .
g. Periksa kecepatan pengisian kapiler. Tekan kkuku pada ekstremitas yang
cedera dengan ekstremitas yang tidak cedera secara bersamaan. Periksa apakah
pengembalian warna merah secara bersamaan /mengalami keterlambatan pada
ekstremitas yang cedera. Jika terjadi gangguan sirkulasi segera bawa ke
[Link] terjadi edema pada daerah cedera ,lepaskan perhiasan yang dipakai
penderita .
h. jika ada fraktur terbuka dan tampak tulang keluar. Jangan pernah menyentuh
dan membersihkan tulang tersebut tanpa alat steril karena akan memperparah
keadaan .
2. Persiapan alat
a. Bidai dalam bentuk jadi /bidai standart yang telah dipersiapkan
b. Bidai sederhana (panjang bidai harus melebihi panjang tulang dan sendi yang
akan dibidai )contoh :papan kayu, ranting pohon.
c. Bidai yang terbuat dari benda keras (kayu) sebaiknya dibalut dengan bahan
yang lebih lembut (kain, kassa, dsb)
d. Bahan yang digunakan sebagai pembalut pembidaian bisa berasal dari pakaian
atau bahan lainnya. Bahan yang digunakan harus bisa membalut dengan
sempurna pada ekstremitas yang dibidai namun tidak terlalu ketat karena dapat
menghambat sirkulasi.
K. TINDAKAN PELAKSANAAN PEMBIDAIAN
1. Pembidaian meliputi 2 sendi, sendi yang masuk dalam pembidaian adalah sendi
dibawah dan diatas patah tulang .Contoh :jika tungkai bawah mengalami fraktur
maka bidai harus bisa memobilisasi pergelangan kaki maupun lutut
2. Luruskan posisi anggota gerak yang mengalami fraktur secara hati-hati dan jangan
memaksa gerakan ,jika sulit diluruskan maka pembidaian dilakukan apa adanya
33
3. Fraktur pada tulang panjang pada tungkai dan lengan dapat dilakukan traksi,tapi
jika pasien merasakan nyeri ,krepitasi sebaiknya jangan dilakukan traksi, jika
traksi berhasil segara fiksasi,agar tidak beresiko untuk menciderai saraf atau
pembuluh darah.
4. Beri bantalan empuk pada anggota gerak yang dibidai
5. Ikatlah bidai diatas atau dibawah daerah fraktur ,jangan mengikat tepat didaerah
fraktur dan jangan terlalu ketat.
L. PRINSIP PEMBERIAN BALUT BIDAI
1. Prinsip pembalutan
a. Rapat dan rapi
b. Jangan terlalu longgar
c. Ujung jari dibiarkan terbuka untuk mengetahui funsi sirkulasi
d. Bila ada keluhan terlalu erat longgarkan
2. Prinsip pembidaian
a. Lakukan pembidaian pada tempat dimana anggota badan mengalami cedera.
b. Lakukan pembidaian pada dugaan terjadinya patah tulang.
c. Melewati minimal dua sendi yang berbatasan
d. Untuk pemasangan spalk pada saat pemasangan infuse pada bayi dan anak-
anak yang hiperaktivitas
M. PERALATAN
1. Pembalut yang sesuai (Mitella/dasi/pita)
2. Spalk
3. Plaster
4. Kasa steril
5. Handscoon dalam bak instrumen
6. Betadine dan cairan desinfektan dalam kom
7. Bengkok
8. Korentang
9. Gunting plester
34
N. KOMPLIKASI
1. Dapat menekan jaringan pembuluh darah / syaraf dibawahnya bila bidai terlalu
ketat
2. Bila bidai terlalu longgar masih ada gerakan pada tulang yang patah
3. Menghambat aliran darah
4. Memperlambat transportasi penderita bila terlalu lama melakukan pembidaian
5. Bula, kegagalan flap/graf
6. Risiko perdarahan/hematima yang meningkatkan
7. Infeksi gram negatif, infeksi Candida
8. Nyeri dan perdarahan saat penggantian balutan
9. Iritan/dermattis kontak alergi
35