0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan21 halaman

Skizofrenia dan Risiko Perilaku Kekerasan

Dokumen ini membahas tentang skizofrenia sebagai gangguan jiwa berat yang berisiko tinggi terhadap perilaku kekerasan, dengan prevalensi di Indonesia mencapai 1,8 per 1000 penduduk. Terdapat penjelasan mengenai tanda dan gejala perilaku kekerasan serta terapi aktivitas kelompok untuk mengendalikan perilaku tersebut. Tujuan dari terapi ini adalah untuk membantu pasien mengenali dan mencegah perilaku kekerasan melalui berbagai aktivitas fisik, sosial, dan spiritual.

Diunggah oleh

Laila Aprilianti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan21 halaman

Skizofrenia dan Risiko Perilaku Kekerasan

Dokumen ini membahas tentang skizofrenia sebagai gangguan jiwa berat yang berisiko tinggi terhadap perilaku kekerasan, dengan prevalensi di Indonesia mencapai 1,8 per 1000 penduduk. Terdapat penjelasan mengenai tanda dan gejala perilaku kekerasan serta terapi aktivitas kelompok untuk mengendalikan perilaku tersebut. Tujuan dari terapi ini adalah untuk membantu pasien mengenali dan mencegah perilaku kekerasan melalui berbagai aktivitas fisik, sosial, dan spiritual.

Diunggah oleh

Laila Aprilianti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang
Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa berat yang bersifat kronis yang
ditandai dengan ganggguan komunikasi, gangguan realitas, resiko perilaku
kekerasan (RPK), afek tidak wajar atau tumpul, gangguan fungsi kognitif serta
mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari (Pardede, 2020).
Skizofrenia merupakan gangguan mental berat dan kronis yang menyerang 20
juta orang diseluruh dunia (WHO,2019). Di Indonesia berdasarkan hasil
Riskesdes (2018) didapatkan estimasiorevalensiorang yang pernah menderita
skizofrenia di Indonesia sebesar 1,8 per 1000 penduduk. Skizofrenia
menimbulkan distorsi pikiran, distorsi persepsi, emosi, dan tingkah laku
sehingga pasien dengan skizofrenia memiliki resiko lebih tinggi berperilaku
agresif dimana perubahan perilaku secara dramatis terjadi dalam beberapa hari
atau minggu. Pasien skizoprenia sering dikaitkan dengan perilaku kekerasan
(Wehring & Carpenter, 2011) yang dapat membahayakan diri sendiri maupun
orang lain ataupun berisiko juga dengan lingkungan sekitarnya, baik secara
fisik, emosional, seksual, dan verbal (Baradero, 2016; Sutejo,2018).

Perilaku kekerasan merupakan salah satu respon terhadap stressor yang


dihadapi oleh seseorang. Respon inidapat menimbulkan kerugian baik kepada
diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Perilaku kekerasan merupakan
suatu bentuk perilaku agresi (aggressivebehavior) yang bertujuan untuk
melukai seseorang secara fisik maupun psikologis. Diperkirakan sekitar 60%
penderita perilaku kekerasan (Wirnata, 2012).

Resiko perilaku kekerasan merupakan salah satu respon marah diekspresikan


dengan melakukan ancaman, mencederai diri sendiri maupun orang lain dan
dapat merusak lingkangan sekitar. Tanda dan gejala resiko perilaku kekerasan
dapat terjadi perubahan pada fungsi kognitif, afektif, fisiologis, perilaku dan
social. Pada aspek fisik tekanan darah meningkat denyut nadi dan pernapasan
meningkat mudah tersinggung, marah, amuk serta dapat mencederai diri
sendiri maupun orang lain (Keliat, dan Muhith, 2016).

World Health Organization (WHO) memperkirakan sebanyak 450 juta orang


diseluruh dunia mengalami gangguan mental. Terdapat sekitar 10% orang
dewasa mengalami gangguan jiwa saat ini dan 25% penduduk diperkirakan
akan mengalami gangguan jiwa pada usia tertentu selama [Link]
jiwa mencapai 13% dari penyakit secara keseluruhan dan kemungkinan akan
berkembang menjadi 25% ditahun 2030 (Wakhid, 2016)

Berdasarkan data nasional Indonesia tahun 2017 dengan resiko perilaku


kekerasan sekitar 0,8 % atau dari 10.000 orang. Dari data tersebut dapatdilihat
bahwa angka kejadian resiko perilaku kekerasan sangatlah tinggi. Dampak
yang dapat ditimbulkan oleh pasien yang mengalami resiko perilaku kekerasan
adalah dapat mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Adapun dampak
yang ditimbulkan oleh pasien yang mengalami perilaku kekerasan yaitu
kehilangan kontrol akan dirinya, dimana pasien akan dikuasi oleh rasa
amarahnya sehingga pasien dapat melukai diri sendiri, orang lain dan
lingkungan, bila tidak ditangani dengan baik maka perilaku kekerasan dapat
mengakibatkan kehilangan kontrol, risiko kekerasan terhadap diri sendiri,
orang lain serta lingkungan, sehingga adapun upaya-upaya penanganan
perilaku kekerasan yaitu mengatasi strees termasuk upaya penyelesaian
masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk
melindungi diri, bersamapasien mengidentifikasi situasi yang dapat
menimbulkan perilaku kekerasan dan terapi medik. Survei awal yang di
lakukan di Ruang Brotojoyo RSJD Dr. Amino Gondohutomo dengan jumlah
pasien 70 orang tetapi yang menjadi subjek di dalam pembuatan TAK ini
adalah 6 orang dengan pasien gangguan Resiko Perilaku Kekerasan.

1.2 Tujuan Umum


Setelah mengikuti kegiatan ini klien dapat lebih menerapkan stategi
pelaksanaan Resiko Perilaku Kekerasan secara fisik dan sosial dalam
mengontrol Resiko Perilaku Kekerasan.

1.3 Tujuan Khusus


1. Klien dapat mengekspresikan perasaannya lewat cerita
2. Klien dapat mengetahui cara mengendalikan Resiko Perilaku Kekerasan
dengan SP
3. Klien dapat melakukan aktivitas kognitif dengan mendengarkan,
bersosialisasi, menebak warna, mempraktikkan SP Resiko Perilaku
Kekerasan
4. Klien dapat melakukan aktivitas motorik dengan bekerja sama dengan
melatih kekompakan dalam kelompok. Klien dapat melatih konsentrasi
melalui permainan.
5. Klien dapat melatih konsentrasi melalui permainan.
BAB2
STANDARPELAKSANAANTERAPIAKTIVITASKELOMPOK STIMULASI
PRESEPSI PADA PASIEN RESIKO
PERILAKUKEKERASAN

2.1 Defenisi
Risiko perilaku kekerasan merupakan salah satu respon marah diekspresikan
dengan melakukan ancaman, mencederai diri sendiri maupun orang lain dan
dapat merusak lingkungan sekitar. Tanda dan gejala resiko perilaku
kekerasan dapat terjadi perubahan pada fungsi kognitif, afektif, fisiologis,
perilaku dan sosial. Pada aspek fisik tekanan darah meningkat, denyut nadi
dan pernapasan meningkat, mudah tersinggung, marah, amuk serta dapat
mencederai diri sendiri maupun orang lain (Pardede, Siregar &Hulu, 2020).

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan hilangnya kendari perilaku seseorang


yang diarahkan pada diri sendiri, orang lain atau lingkungan. Perilaku
kekerasan pada diri sendiri dapat berbentuk melukai diri untuk bunuh diri
atau membiarkan diri dalam bentuk penelantaran diri. Perilaku kekerasan
pada orang adalah tindakan agresif yang ditujukan untuk melukai atau
membunuh orang lain. Perilaku kekerasan pada lingkungan dapat berupa
perilaku merusak lingkungan, melempar kaca, genting dan semua yang ada
di [Link] yang dibawa ke rumah sakit jiwa sebagian besar
melakukan kekerasan dirumah. Perawat harus jeli dalam melakukan
pengkajian untuk menggali penyebab perilaku kekerasan yang dilakukan
selama dirumah (Yusuf, 2015).

2.2 Tanda Dan Gejala Resiko Perilaku Kekerasan


Menurut Pardede,.(2020) Tanda dan gejala dengan perilaku yang ditampilkan

Data Subjektif :
a) Mengungkapkan perasaan kesal atau marah
b) Keinginan untuk melukai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
c) Klien suka membentak dan menyerang orang lain

DataObjektif:
a. Mata melotot/pandangan tajam
b. Tangan mengepal dan Rahang mengatup
c. Wajah memerah
d. Postur tubuh kaku
e. Bicara kasar, ketus
f. Amuk/agresif
g. Menyerang orang lain dan Melukai diri sendiri/ orang lain.

2.3. Hubungan Skizoprenia dengan Resiko Perilaku Kekerasan


Skizofrenia merupakan sekelompok reaksi psikotik yang memengaruhi berbagai
area fungsi individu, termasuk berpikir, berkomunikasi, menerima,
Menginterpretasi kan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi (Pardede,
dkk 2016).
Skizofrenia merupakan gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang
mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi fungsi normal kognitif,
mempengaruhi emosional dan tingkah laku (Depkes RI, 2015). Skizofrenia
menimbulkan distorsi pikiran sehingga pikiran itu menjadi sangat aneh, juga
distorsi persepsi, emosi, dan tingkah laku yang dapat mengarah ke risiko
perilaku kekerasan yang dapat berbahaya dengan diri sendiri maupun orang
lain sekitar (Pardede, 2020).

2.4. Terapi Aktifitas Kelompok


Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Sesi 3: Mengendalikan Perilaku
Kekerasan Dengan Spiritual Pada Pasien Resiko Perilaku Kekerasan
1. Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi
a. Pengertian
Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi merupakan suatu terapiyang
menggunakan aktivitas sebagai stimulus dan terkait dengan pengalaman
dan atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok. Dalam hal ini
klien dilatih untuk mempersepsikan stimulus dari luar secara nyata, terapi
ini bisa digunakan pada pasien dengan resiko perilaku kekerasan
(Prabowo, 2014).

TAK stimulasi persepsi perilaku kekerasan adalah terapi yang menggunakan


aktivitas sebagai latihan mempresepsikan stimulus yang disediakan atau
stimulus yang dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan
ditingkatkan tiap sesi. Dengan proses ini, diharapkan respon klien terhadap
berbagai stimulasi dalam kehidupan menjadi adaptif. Perilaku kekerasan
adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan (Prabowo, 2014)

b. Tujuan terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi


Menurut Muhith (2015), tujuan umum terapi aktivitas kelompok stimulasi
persepsi pada pasien risiko perilaku kekerasan adalah pasien dapat
mengendalikan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan dan tujuan
khususnya adalah :
1) Pasien dapat mengenal perilaku kekerasan yang biasa dilakukannya.
2) Pasien dapat mencegah perilaku kekerasan melalui kegiatan fisik.
3) Pasien dapat mencegah perilaku kekerasan melaui interaksi social.
4) Pasiendapatmencegahperilakukekerasanmelaluikegiatanspiritual yang
biasa dilakukannya.
5) Kliendapatmencegahperilakukekerasandengancara patuh minumobat.

c. Aktivitasdan indikasiterapiaktivitaskelompokstimulasipersepsi
Menurut Dermawan&Rusdi(2013), aktivitas yang dilakukandalamempat sesi
yang bertujuan untuk melatih pasien mengendalikan perilaku kekerasan
yang biasa dilakukan. Pasien yang diindikasikan mendapatkan terapi
aktivitas kelompok stimulasi persepsi adalah pasien yang berisiko
[Link]
padapasiendenganrisikoperilakukekerasandibagimenjadiempatsesi, antara
lain:
1) Sesi1 : Mengendalikanperilaku kekerasansecara fisik
2) Sesi2 : Mengendalikanperilaku kekerasansecara asertif/verbal
3) Sesi3 : Mengendalikanperilaku kekerasansecara spiritual
4) Sesi4:Mengendalikanperilakukekerasandenganminumobat secara
Teratur

2.5. MetodeTerapiaktifitas kelompok(TAK)


Metodeyangdigunakanpadaterapiaktifitaskelompok(TAK)iniadalah metode:
1. Perkenalandiripada seluruhperawat
2. Menanyakanperasaanklienpadasaatterapiberjalan

2.6. WaktudanTempat
Hari/tanggal :25Maret2021
Jam : 10:00WIB
Tempat :YayasanPemenangJiwa Sumatera

2.7. KliendanRuanganKlien
Klienyangmengikuti kegiatanberjumlah 5orangdariyaayasan pemenang jiwa
terdiri dari:
1. Ny.S
2. Ny.A
3. Tn. B
4. Tn.R
5. Tn.N
2.8. Settingtempat
a) Terapisdankliendudukbersamadalam lingkaran
b) Ruanganyangnyamandantenang

Leader [Link]

P P

Fasilitator Fasilitator

P P

P P
KeteranganGambar: L
: Leader
CL:CoLeader F: Observer
FasilitatorO:
Observer

2.9. MediadanAlat
1. Handphone
2. Music/lagu
3. BotolAqua
4. Kertasorigami
5. Kartunama/nametage
6. Bukucatatandanpulpen
7. Jadwalkegiatan pasien

2.10. SusunanPelaksanaan
Yang bertugas dalam TAK kali ini di sesuaikan dengan petugas setiap sesi yang
telah disepakati sebagai berikut :
 Leader :LenaSelviani
 [Link] : HilyatiHusna
 Fasilitator1 :MegaOktafiaSianturi
 Fasilitator2 :RutinaPasaribu
 Observer1 :RidhoMarwannah
 Observer2 :WahyuliRohayati

2.11. UraianTugasPelaksana
Leader:
[Link]
[Link]
sebelum kegiatan dimulai.
[Link].
[Link]
memperkenalkan dirinya.
[Link]
[Link]

[Link]:
1. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang aktifitas
klien
2. Mengingatkanleaderjikakegiatanmenyimpang.

Fasilitator:
1. Menyediakanfasilitasselamakegiatanberlangsung.
2. Memotivasiklienyangkurangaktif.
3. Membantuleadermemfasilitasianggotauntukberperanaktifdan
memfasilitasi anggota kelompok

Observer:
1. Mengobservasijalannyaproseskegiatan
2. MencatatprilakuVerbaldanNon-verbalklienselamakegiatan
berlangsung

2.12. KriteriaKlien
1. KliendenganResikoPerilakuKekerasanyangsudahkooperatif
2. Klienyangtidakmengalamigangguankomunikasiverbal
3. Klienbisatulisdanbaca
4. KlienyangbersediamengikutiTAK

2.13. Antisipasimasalah
1. Sebelumkegiatandilaksanakan,perawatmemberikesempatankepada setiap
peserta untuk BAB dan BAK
2. Fasilitatormemotivasipesertayangtidakberpartisipasi
3. Menjaga pintu keluar unuk mengantisipasiklien melarikandiridaritempat
kegiatan

2.14. Langkah-langkahKegiatan
1. Persiapan
a) Membuatkontrakdengananggota kelompok
b) Mempersiapkanalatdantempatpertemuaan
2. Orientasi
a) Salamteraupetik
Salamdarileader kepada klien. Leader/Co Leadermemperkenalkandiri dan
tim terapis lainnya.
b) Evaluasi/Vasilidasi
Leadermenanyakanperasaandankeadaanklien saatini.
c) Kontrak
1) Menjelaskantujuankegiatan
2) Menjelaskanaturanmain yaitu:
a. Berkenalandengananggotakelompok
b. Jika ada peserta yang akan meninggalkan kelompok, harus minta
izin pada pemimpin TAK
c. LamaKegiatan45menit
d. Setiappasienmengikutikegiatandariawalsampaiakhir

2.15. TahapKerja
a) Seluruhkliendibuatberbentuklingkaran
b) Hidupkanmusicdanedarkan Aquaberlawanandenganarah jarumjam
c) Pada saat tape dimatikan, anggota kelompok yang memegang Aqua,
mendapat giliran untuk perkenalan dengan anggota kelompok yang ada
di sebelah kanan dengan cara:
1) Memberisalam
2) Menyebutkannamalengkap,namapanggilan, asaldanhobby.
3) Menanyakannama lengkap,namapanggilan,asaldanhobby
4) Dimulaiolehterapissebagaicontoh.
d) Setelah memperkenalkan diri klien menebak warna dan mengambil
gulungan kertas yang ada di mangkuk yang berisi SP Resiko Perilaku
Kekerasan(RPK), kemudianpasiendiharuskanmemperagakanSP yang
didapat
e) Ulangi musik kembali, dan klien kembali edarkan Aqua, ketika musik
berhenti, klien yang memegang Aqua, kembali memperagakan point c
dan d.

2.16. TahapTerminasi
a) [Link]
kelompok
b) [Link]
kegiatan TAK
c) FasilitatormembagikanSnack
d) Leader atau [Link] menganjurkan klien untuk sering bersosialisasi,
selalu bekerjasama, dan memasukkan kegiatan mengontrol Resiko
Perilaku Kekerasanke dalam kegiatan harian sebanyak 2x1.
e) Observermengumumkanpemenang
f) Fasilitatormembagikanhadiahkepadapemenang

2.17. Evaluasi
a) Klien mengikutikegiatandariawalhingga akhirkegiatan
b) Kerjasamakliendalamkegiatan
c) Klienmerasasenangselamamengikutikegiatan

2.18. TatatertibdanAntisipasiMasalah
1. TatatertibpelaksanaanTAKResikoPerilakuKekerasan
a. Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK Resiko Perilaku
Kekerasan sampai dengan selesai
b. Pesertawajibhadir5menitsebelum acaraTAKResikoPerilaku
Kekerasan dimulai
c. Pesertaberpakaianrapi,bersih, dansudahmandi
d. Pesertatidakdiperkenankanmakan,minum,merokokselama kegiatan
TAK berlangsung
e. Jika ingin mengajukan/menjawab pertanyaan, peserta mengangkat
tangan kanan dan berbicara setelah dipersilahkan oleh pemimpin
f. Pesertayangmengacaukanjalannyaacaraakandikeluarkandari
permainan
g. PesertadilarangmeninggalkantempatsebelumacaraTAKselesai
h. Apabila waktu yang ditentukan untuk melaksanakan TAK telah
habis, sedangkan permainan belum selesai, maka pemimpin akan
meminta persetujuan anggota untukmemperpanjang waktu TAK
2. AntisipasikejadianyangtidakdiinginkanpadaprosesTAK
1) Penangananklienyangtidakefektifsaataktifitaskelompok
[Link] klien
[Link] klien tersebut untuk menjawab sapaan
perawat atau klien yang lain
2) Bilaklienmeninggalkanpermainantanpapamit:
[Link] nama klien
[Link]
[Link] penjelasan tentang tujuan permainan danberikan
penjelasan pada klien bahwa klien dapat melaksanakan
keperluannya setelah itu klien boleh kembali lagi
3) Bilaadaklienlain ingin ikut
a. Berikanpenjelasanbahwapermainaniniditujukanpadaklien yang
telah dipilih
b. Katakan pada klien lain bahwa ada permainan lain yang mungkin
dapat diikuti oleh klien tersebut
c. Jika klien memaksa,beri kesempatan untuk masuk dengan tidak
memberi peran pada permainan tersebut,
a. EvaluasiAkhir
1. Mampu memahami cara memperkenalkan diri di depan orang lain
dengan baik
2. Mampumengontrolperilaku kekerasandengancara:
a. TarikNafasdalam
b. Memukulkasurdan
3. Mampuberbicara verbal atau bicara dengan baik dengan teman atau
orang lain yang mereka temui.
4. Mampu menceritakan kegiatan spiritual mereka ketika marah
seperti Beribadah,bagi agama Islam Sholat, Bedo’adan
sholwatan,jika Bergama Kristen Beribadah yang diadakan
diayaysan dan berdo’a .
5. MampumenceritakanperasaannyasetelahmelakukanTAK
6. Mampumengikutiperaturankegiatan.
7. Mampumenyebutkanmanfaat dariTAK
[Link]
Dokumentasikankemampuan yang dimilikikliensaat mengikutiTAK pada
catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti sesi 1,
TAK cara mengontrol resiko perilaku kekerasan dengan cara tarik
nafas dalam dan pukul kasur bantal.. Klien mengikuti kegiatan
dariawalsampai akhir dan memutar atau meng-over botolaqua sesuia
irama lagu yang mereka nyanyikan klien mampu memberikanpendapat
tentang kegiatan tak dan berpartisipasi dalam kegiatan.
BAB 3
EVALUASI

Kegiatan TAK dilaksanakan pada 25 Maret 2021 Jam 10.00 WIB sesuai dengan
rencana yang ada diproposal. Kegiatan dilakukan di dalam ruangan Yayasan
Pemenang Jiwa Sumatera. Pasien berjumlah 5 orang peserta, laki-laki2 orang dan
perempuan 3 orang sesuai dengan proposal yang telah diajukan. Dalam terapi
aktivitas kelompok perawat melakukan kontrak kepada pasien sehari sebelum
TAK dilakukan. Mempersiapkan alat dan menyeting tempat dilakukan sebelum
pasien datang di tempat pelaksanaan TAK.

Sebelum TAK dilaksanakan, leader memperkenalkan diri kepada pasien danleader


memberikan kesempatan untuk co-leader, fasilitator dan observer untuk
memperkenalkan diri kepada pasien dan memberikan pasien kesempatan untuk
memperkenalkan dirinya masing-masing. Leader dan co-leader saling bergantian
menjelaskan peraturan terapi aktivitas kelompok, seperti bagiamana peraturan
yangdibuat saatterapiaktivitaskelompokdilaksanakan, durasiberjalannyaterapi
aktivitaskelompokdanmemberikaninfromasikepadapasienbahwaperawat yang
berada disebelah pasien sebagai fasilitator untuk membantu pasien selama
berjalannya terapi aktivitas kelompok.

Dalam terapiaktivitas kelompok, leader dan co-leader sudah melakukan tugasnya


untuk menjelaskan jalannya terapi aktivitas kelompok dan memimpin jalannya
terapi. Fasilitator sudah melakukan tugasnya untuk membantu pasien selama
berjalannyaterapiaktivitaskelompok. Observertelahmelakukantugasnyadengan
mengamati jalannya terapi aktivitas kelompok apakah pasien mampu melakukan
sp yang sudah ditentukan terapis.
Responpasiensaatdiberikanterapiaktivitaskelompok yaitu:
a. MengontrolResikoPerilakuKekerasandengancara:
1. TarikNafasDalam
2. PukulKasurBantal
Pasienmengatakanjikamarah,klienmemukuldinding,melemparbarang
b. MinumObatSecaraTeratur.
Pasien mengatakan minum obat2x/hari,Pasien mengatakan jikaminum obat
pasien dapat mengendalikan amarahnya dan pasien bisa tidur dengan nyenyak
c. MengontrolResiko Perilaku KekerasanDenganCara:BerbicaraVerbal/Bicara
Baik-baik. Klien mampu berbicara sopan atau baik-baik.
Pasienmengatakanmampuberbicarasopanjikamemintasesuatubaik-baik kepada
perawat dan teman di dekatnya
d. SpritualKlien mampu berdo’a dan menyebutkan keinginanya ingin sembuh
Pasienmengatakanselaluberdoasetiapmautidur,banguntidur maupunpada saat
makan dan selalu mengikuti ibadah di yayasan.
BAB 4
PENUTUP

2.1 Kesimpulan
Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Stimulasi Persepsi adalah Pasien dilatih
mempersiapkanStimulus yangdisediakanatauStimulus yangpernahdialami.
Tujuan dari Terapi Aktivitas untuk memantau dan meningkatkan Hubungan
Interpersonal antar anggota. Hasil diskusi kelompok dapat berupakesepakatan
atau Alternatif Penyelesaian masalah. (Maulana, hernawati & Syalahuddin,
2021)

Salah satu bentuk penanganan medis untuk pasien dengan resiko perilaku
kekerasan adalah dengan Terapi Aktifitas Kelompok Stimulasi Persepsi,
dimana TAK (Terapi Aktifitas Kelompok) merupakan salah satu terapi
modalitas yang dilakukan perawat kepada kelompok pasien dengan Resiko
perilaku kekerasan. Aktivitas digunakan sebagai terapi,dan kelompok
digunakan sebagai target asuhan. Di dalam kelompok terjadi dinamika
interaksi yang saling bergantung, saling membutuhkan, dan menjadi
laboratorium tempat pasien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk
memperbaiki perilaku lama yang maladaptif (Keliat & Akemat, 2015).

Setelah mendapatkan terapi aktivitas kelompok resiko perilaku kekerasan, pasien


terapi aktivitas kelompok di yayasan pemenang jiwa sumatera utara
terjadipeningkatan pengetahuan, pemahaman tentang cara mengontrol resiko
perilaku kekerasan dan tahu bagaimana cara melakukannya. Peningkatan
pengetahuan diketahui bahwa pasien mampu mengingat sp 1 - 4 dari
permainan terapi aktivitas kelompok.
[Link]
Diharapkan bagi Perawat di Yayasan Pemenang Jiwa menjadikan Terapi
Aktivitas Kelompok stimulasi persepsi sebagai tindakan keperawatan untuk
setiap pasien dengan masalah gangguan jiwa khususnya pasien Resiko
Perilaku Kekkerasan karena menurut hasil penelitian (Putri, 2017) TAK
Stimulasi persepsi yang diberikan pada Pasien Resiko perilaku kekerasan
memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan mengenal dan
mengontrol resiko perilaku kekerasan baik secara fisik maupun secara social.
DAFTARPUSTAKA
AbdulMuhith(2015).[Link]:AnsiOffest.

Ariandy, W., dkk .(2018).Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi


Berhubungan dengan Kemampuan pasien dalam Mengontrol Resiko
Perilaku Kekerasan (RPK). jurnal keperawatan aisyiyah.14 (1).83-90

Depkes, R.I., (2015) Hasil Riskesdas 2015 Departemen Kesehatan Republik


Indonesia [Link] .[Link]/resource/download/general

Dermawan, R., & Rusdi. (2013). Keperawatan Jiwa: Konsep dan Kerangka Kerja
Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Gosyen Publishing

Keliat, Budi Anna., Akemat. (2012). Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas


Kelompok. Jakarta:EGC

Kelliat, B.A. & Pawirowiyono, A. (2015). Keperawatan jiwa terapi aktivitas


kelompok Edisi 2. Jakarta: EGC

Maulana, I., Hernawaty, T., &Shalahuddin, I. (2021).Terapi Aktivitas Kelompok


menurunkan Tingkat Resiko Perilaku Kekerasan pada Pasien Skizofrenia:
Literature Review. Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ): Persatuan Perawat
Nasional Indonesia, 9(1), 153-160.

Pardede, J. A, Keliat, B.A & Wardani,I.Y. (2013). Pengaruh Acceptance And


Commitment Therapy Dan Pendidikan Kesehatan Kepatuhan Minum Obat
Terhadap Gejala, Kemampuan Berkomitmen Pada Pengobatan Dasar
Kepatuhan Pasien Skizofrenia. Tesis. FIK UI. Depok

Pardede, J. A., Sirait, D., Riandi, R., Emanuel, P., & Laia, R. (2016). Ekspresi
Emosi Keluarga Dengan Frekuensi Kekambuhan Pasien Skizofrenia. Idea
Nursing Journal, 7(3), 53-61.

Pardede, J. A., Siregar, L. M., & Hulu, E. P. (2020). Efektivitas Behaviour


Therapy Terhadap Risiko Perilaku Kekerasan Pada Pasien Skizofrenia Di
Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Muhammad Ildrem Provsu Medan. Jurnal
Mutiara Ners,3(1), 8-14.
[Link]

Pardede, J. A., Siregar, L. M., & Halawa, M. (2020). Beban dengan Koping
Keluarga Saat Merawat Pasien Skizofrenia yang Mengalami Perilaku
[Link] Kesehatan,11(2), 189-196.
[Link]

Pardede, J. A. (2020). Standar Asuhan KeperawatanJiwa


DenganMasalahRisikoPerilaku Kekerasan.
[Link]
Prabowo, E. 2014. Konsep dan Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta :
Nuha Medika

Putri, V. (2017). Pengaruh terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi halusinasi


terhadap kemampuan mengontrol halusinasi pada pasien skizofrenia diruang
rawat inap Arjuna Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Riset
Informasi Kesehatan, 6(2), 174-183. [Link]

Yusuf,AH.(2015)[Link]: Salemba
Medik

Anda mungkin juga menyukai