0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan13 halaman

Perlindungan Konsumen Pangan Berkualitas

Dokumen ini membahas pentingnya pangan sebagai kebutuhan dasar manusia dan hak asasi setiap rakyat Indonesia untuk mendapatkan pangan yang aman, bermutu, dan bergizi. Selain itu, terdapat penekanan pada perlunya perlindungan konsumen terhadap produk pangan, terutama terkait dengan makanan kadaluwarsa, serta tanggung jawab pemerintah dalam mengatur dan mengawasi keamanan pangan. Undang-undang Perlindungan Konsumen dan Undang-undang Pangan diharapkan dapat memberikan jaminan keamanan dan kualitas pangan bagi masyarakat.

Diunggah oleh

Mahfudhotin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan13 halaman

Perlindungan Konsumen Pangan Berkualitas

Dokumen ini membahas pentingnya pangan sebagai kebutuhan dasar manusia dan hak asasi setiap rakyat Indonesia untuk mendapatkan pangan yang aman, bermutu, dan bergizi. Selain itu, terdapat penekanan pada perlunya perlindungan konsumen terhadap produk pangan, terutama terkait dengan makanan kadaluwarsa, serta tanggung jawab pemerintah dalam mengatur dan mengawasi keamanan pangan. Undang-undang Perlindungan Konsumen dan Undang-undang Pangan diharapkan dapat memberikan jaminan keamanan dan kualitas pangan bagi masyarakat.

Diunggah oleh

Mahfudhotin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pangan merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendasar karena
berpengaruh terhadap eksistensi dan ketahanan hidupnya, baik dipandang dari
segi kuantitas dan kualitasnya. Mengingat kadar kepentingan yang demikian
tinggi, pada dasarnya pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia
yang sepenuhnya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia. Tersedianya pangan
yang cukup, aman, bermutu dan bergizi merupakan prasyarat utama yang harus
dipenuhi dalam upaya mewujudkan insan yang berharkat dan bermartabat serta
mempunyai basis sumberdaya manusia yang berkualitas. Bangsa Indonesia
mempunyai basis sumberdaya nasional yang tersebar di seluruh wilayah,
sebagai tumpuan bagi upaya pemantapan dan peningkatan ketahanan pangan
(Suryana,2003:95).
Industri pangan di Indonesia dari tahun ke tahun semakin berperan
penting dalam pembangunan industri nasional, sekaligus dalam perekonomian
keseluruhan. Perkembangan industri pangan nasional menunjukkan
perkembangan yang cukup berarti. Hal ini ditandai oleh berkembanganya
berbagai jenis industri yang mengolah bahan baku yang berasal dari sektor
pertanian.
Komoditi pangan merupakan salah satu komoditi strategis berhubung
dengan bobotnya yang cukup besar dalam pengeluaran rumah tangga (Amang,
1995:3). Kondisi seperti ini, pada satu sisi memberikan manfaat bagi konsumen
karena kebutuhan akan produk yang diinginkan dapat terpenuhi, serta semakin
terbuka lebar. Namun, di sisi lain kondisi ini juga berdampak buruk bagi
konsumen, dimana konsumen menjadi objek aktivitas bisnis para pelaku usaha
yang mencari keuntungan semata, baik melalui promosi, cara penjualan, mutu
produk, maupun kandungan makanan yang akan dikonsumsi oleh konsumen.

1 Universitas Indonesia

Konsistensi pengawasan..., Heny Andayani, FISIP UI,


2009
Setiap manusia disadari atau tidak adalah konsumen. Setiap orang pada
suatu waktu dalam posisi sendiri maupun berkelompok bersama orang lain, pasti
menjadi konsumen untuk produk barang dan/jasa tertentu. Keadaan konsumen
yang universal ini pada satu sisi menunjukkan kelemahan bagi konsumen itu
sendiri karena secara mendasar konsumen juga membutuhkan perlindungan
hukum yang sifatnya universal (Hartono, 2000:33).
Sebagai kebutuhan dasar bagi manusia maka pangan yang berkualitas
sangat dibutuhkan untuk dikonsumsi dalam menciptakan sumber daya manusia
yang berkualitas untuk pembangunan bangsa. Bangsa yang besar dan kuat sudah
barang tentu diperlukan tokoh-tokoh calon pemimpin bangsa yang tangguh dan
berkualitas yang dimulai dari ketersediaan pangan yang berkualitas sedini
mungkin yang disediakan dalam keluarga.
Menurut Hafsah, pangan memegang peranan penting dalam upaya
peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, pemenuhan
penyediaan pangan juga tergolong sebagai hak asasi manusia. Kemampuan
menyediakan pangan bagi rakyat merupakan indikator kemajuan suatu bangsa
(Hafsah, 2006:13).
Dengan semakin meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat
serta perkembangan teknologi, diperlukan inovasi produk olahan dari hasil
pertanian yang terus menerus dalam hal jenis, bentuk, kemasan, maupun teknik-
teknik pemasaran secara terpadu. Industri juga dituntut untuk dapat
menyediakan produk-produk pangan olahan yang menarik dengan mutu yang
baik, bergizi, aman serta memiliki harga jual yang terjangkau oleh daya beli
masyarakat.
Lajunya pertumbuhan perusahaan makanan dan minuman di Indonesia
ternyata telah mendorong pula berkembangnya pola makan masyarakat yang
makin semarak. Makanan pada mulanya hanya asal kenyang, kini berubah
menjadi, makin harus bergizi dan mampu menggugah selera, serta menarik
dilihat. Untuk sebagian kelompok masyarakat menengah ke atas yang tidak
mempunyai persoalan dengan soal makanan, jenis makanan yang tersedia harus
mampu menggugah selera, tetapi lain soal bagi masyarakat rentan dipedesaaan
(menengah kebawah), makanan yang mampu dipilih cukup sekedar mengganjal

2 Universitas Indonesia
Konsistensi pengawasan..., Heny Andayani, FISIP UI,
2009
perut dan tidur nyenyak. Kondisi ini tentunya tidak dilewatkan oleh produsen,
karena saat ini bisnis makanan dan minuman, ladang emas yang menggiurkan
untuk meraup keuntungan.
Fenomena menarik ini yang perlu disikapi dipraktikkannya
ketidakjujuran sebagian produsen dan pedagang dalam menghasilkan dan
menjual pangan yang membahayakan kesehatan konsumen khususnya pangan yang
sudah kadaluwarsa . Praktik ketidakjujuran tersebut dimungkinkan karena
produk mereka dapat diperjualbelikan meski tanpa labelisasi/sertifikasi Badan
Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM).
Dalam standar yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM), jelas ditetapkan bahwa makanan yang kadaluwarsa tidak boleh
diperdagangkan. Bahkan makanan, minuman yang dijual bebas, wajib
mencantumkan tanggal kadaluwarsa, artinya makanan mempunyai batas akhir
yang aman untuk dapat dikonsumsi dan dijamin mutunya, dengan penyimpanan
yang sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh produsen atau pelaku usaha.
Beredarnya makanan yang kadaluwarsa memang tidak lepas dari
tanggung jawab pemerintah sebagai pihak yang berwenang membuat peraturan.
Dalam hal ini Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen telah mengatur bahwa masyarakat wajib mendapat perlindungan hak
yang paling asasi yaitu mendapatkan informasi dan keamanan terhadap
makanan yang dibeli di pasaran, karena jika masyarakat mengkonsumsi makanan
kadaluwarsa, tentu akan sangat membahayakan kesehatan. Analisis medis
membuktikan bahwa makanan kadaluwarsa dipastikan mengandung bakteri dan
jamur. Kedua jasad renik tersebut akan sangat membahayakan kesehatan
manusia.
Kondisi ini jelas sangat tidak menguntungkan bagi negeri kita ini, selain
berdampak langsung terhadap masalah kesehatan, hal ini juga mempengaruhi
aspek-aspek sosio-ekonomi lainnya, seperti produktifitas kerja, aspek
perdagangan, kepariwisataan dan sebagainya.
Didalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan
Konsumen pasal 4 telah diatur dengan tegas hak konsumen, yaitu :

3 Universitas Indonesia
Konsistensi pengawasan..., Heny Andayani, FISIP UI,
2009
a. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa;
b. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau
jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang
dijanjikan;
c. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa;
d. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan;
e. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut;
f. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
g. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
h. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila
barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak
sebagaimana mestinya;
i. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.

Dari kesembilan butir hak konsumen yang dikemukakan di atas, terlihat


bahwa masalah kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen merupakan
hal yang paling pokok dan utama dalam perlindungan konsumen. Barang
dan/atau jasa yang penggunaannya tidak memberikan kenyamanan, terlebih lagi
tidak aman atau membahayakan keselamatan konsumen, jelas tidak layak untuk
diedarkan dalam masyarakat. Selanjutnya, untuk menjamin bahwa suatu barang
dan/atau jasa dalam penggunaannya akan nyaman, aman maupun tidak
membahayakan konsumen penggunaannya, maka konsumen diberikan hak
untuk memilih barang dan/atau jasa yang dikehendakinya berdasarkan atas
keterbukaan informasi yang benar, jelas dan jujur. Jika terdapat penyimpangan
yang merugikan, konsumen berhak untuk didengar, memperoleh advokasi,
pembinaan, perlakuan yang adil, kompensasi sampai ganti rugi
(Widjaja&Yani,2003:30).

4 Universitas Indonesia
Konsistensi pengawasan..., Heny Andayani, FISIP UI,
2009
Jika membicarakan tentang hak maka kita juga harus membicarakan
mengenai kewajiban konsumen yang harus dilaksanakan. Kewajiban konsumen
adalah menurut pasal 5 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen, yaitu :
a. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
b. beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
c. membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
d. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen
secara patut.

Menurut substansinya perlindungan konsumen ada 3 asas yaitu :


1. Asas kemanfaatan yang di dalamnya meliputi asas keamanan dan
keselamatan konsumen;
2. Asas keadilan yang di dalamnya meliputi asas keseimbangan, dan;
3. Asas kepastian hukum (Miru&Yodo,2004:26).
Menurut Samsul, dari perspektif teori tentang perlindungan kepentingan
konsumen beberapa standar perlindungan konsumen yang menjadi tolok ukur
adalah :
a. Kontrol /pengawasan terhadap kualitas produk barang atau jasa;
b. Pembatasan harga maksimum;
c. Biaya marjinal;
d. Terbuka bagi setiap industri yang efisien;
e. Keuntungan industri yang rendah;
f. Penyediaan service terhadap produk secara luas dan tersedianya
jaminan (Samsul, 2000:210-211).

Yang diperlukan tidak hanya upaya pemberdayaan konsumen melalui


pembentukan undang-undang yang dapat melindungi kepentingan konsumen
secara integratif dan komprehensif, tetapi perlu juga tentang peraturan
pelaksanaan, pembinaan aparat, pranata dan perangkat-perangkat yudikatif,

5 Universitas Indonesia

Konsistensi pengawasan..., Heny Andayani, FISIP UI,


2009
administratif dan edukatif, serta sarana dan prasarana penunjang lainnya
(Widjaja&Yani, 2001:101).
Sejak diberlakukannya Undang-undang nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen, konsumen Indonesia mempunyai harapan yang lebih
baik, karena undang-undang tersebut dapat menjadi landasan bagi konsumen
dan lembaga perlindungan konsumen untuk memberdayakan dan melindungi
kepentingan konsumen serta membuat produsen lebih bertanggungjawab.
Namun, di sisi lain dengan berlakunya Undang-undang Perlindungan Konsumen
tersebut, tidak menutup kemungkinan bagi para pelaku usaha di dalam
menjalankan usahanya melakukan suatu pelanggaran-pelanggaran yang
berdampak buruk bagi konsumen, karena masih banyak pihak-pihak yang tidak
bertanggungjawab melakukan suatu pelanggaran hukum dengan mencari
kelemahan-kelemahan hukum yang ada.
Menurut Nasution, kondisi konsumen di Indonesia secara umum masih
rentan terhadap pelanggaran hak dan selalu berada di posisi yang dirugikan
(Widjaya&Yani,2003:27).
Menurut Oughton & Lowry, Laws intended to protect consumers, as
opposed to tradors, are seen as a comparatively recent development. But it
needs to be asked why such laws are necessary. The early attempts at regulation
could be said to be based on discouraging fraudulent or dangerous practices
and protection against such practices is clearly desirable. However, many
modern consumer protection measures no longer require proof of fraud
(Oughton & Lowry, 1997:14).
Pangan yang aman dan sehat seharusnya merupakan hak dasar bagi
setiap warga negara yang dijamin pemerintah, kenyatannya penjualan terhadap
produk- produk pangan kadaluwarsa masih marak dilakukan (Andang, 2006 : 6-
18).
Mengingat makanan secara langsung masuk kedalam tubuh manusia
melalui mulut, maka makanan dapat secara langsung memberikan pengaruh
terhadap kesehatan manusia, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif
yang dapat membahayakan keamanan konsumen, makanan yang
diproduksi dan

Konsistensi pengawasan..., Heny Andayani, FISIP UI,


2009
6 Universitas Indonesia

Konsistensi pengawasan..., Heny Andayani, FISIP UI,


2009
diedarkan di masyarakat tentunya harus mempunyai persyaratan-persyaratan, baik
persyaratan mutu maupun persyaratan kesehatan.
Adanya kerja sama di bidang ekonomi antara negara-negara di dunia,
seperti Asean Free Trade Area (AFTA), Asia Pasific Economic Coorperatioan
(APEC) dan World Trade Organization (WTO), telah menciptakan sistem
perdagangan dunia yang bebas (free trade). Sistem ini nantinya akan
memperoleh gerak arus transaksi barang dan atau jasa melintasi batas-batas
wilayah suatu negara. Sehingga pasar nasional nantinya akan bersifat terbuka
terhadap barang dan atau jasa impor. Untuk mendukung pasar nasional dalam
menghadapi proses globalisasi perdagangan tersebut, dipandang perlu untuk
menyiapkan perangkat hukum nasional di bidang standardisasi yang tidak saja
mampu menjamin perlindungan terhadap masyarakat khususnya di bidang
keselamatan, keamanan, kesehatan, dan lingkungan hidup, tetapi juga
meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Lebih lanjut, di dalam Perjanjian World Trade Organization (WTO),
sebagaimana telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia dengan Undang-
undang Nomor 7 Tahun 1994, khususnya mengenai Agreement on Technical
Barrier to Trade (TBT) yang mengatur mengenai standardisasi ditegaskan
bahwa negara anggota, dalam hal ini Pemerintah Indonesia, diwajibkan untuk
menyesuaikan peraturan perundang-undangan nasional di bidang standardisasi.
(BPHN,2007:33) Standardisasi dimaksud untuk meningkatkan
perlindungan kepada konsumen, pelaku usaha, tenaga
kerja, dan masyarakat lainnya baik untuk keselamatan, keamanan maupun
pelestarian fungsi lingkungan hidup, serta untuk membantu kelancaran
perdagangan dan mewujudkan persaingan usaha yang sehat
dalam perdagangan.
Undang-undang nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan telah mengatur
dasar-dasar penyediaan pangan yang aman, bermutu, bergizi, dan cukup bagi
kepentingan kesehatan rakyat. Undang-Undang Pangan juga telah menekankan
tersedianya pangan yang aman, bermutu dan bergizi. Dalam undang-undang ini
dijelaskan bahwa tujuan dari pengaturan, pembinaan dan pengawasan pangan
adalah (1) untuk menyediakan pangan yang memenuhi persyaratan keamanan,

7 Universitas Indonesia
Konsistensi pengawasan..., Heny Andayani, FISIP UI,
2009
mutu, dan gizi bagi kepentingan kesehatan manusia, (2) untuk menciptakan
perdagangan pangan yang jujur dan bertanggungjawab, (3) untuk mewujudkan
tingkat kecukupan pangan dengan harga yang wajar dan terjangkau sesuai
dengan kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan uraian diatas terlihat bahwa konsumen dalam hal ini sangat
dirugikan. Apalagi hal ini menyangkut kepentingan fisik konsumen di dalam
mengkonsumsi makanan yang dihasilkan oleh pelaku usaha. Dari perspektif
Perlindungan Konsumen jelas terlihat bahwa produk pangan kadaluwarsa yang
dibeli dan dikonsumsi oleh masyarakat sangat merugikan konsumen. Oleh
karena itu jaminan keamanan pangan adalah merupakan kewajiban semua pihak
yang bertanggungjawab bagi keselamatan dan terpenuhi kebutuhan pangan yang
aman untuk dikonsumsi.
Aspek keamanan pada pangan merupakan hal yang patut mendapat
perhatian serius dari pemerintah, kerena menyangkut hak asasi manusia untuk
mendapatkan pangan yang sehat. Tinjauan hukum yang terkait dengan pangan
kadaluwarsa dilakukan untuk melihat sejauh mana relevansi pengaturan yang
berkaitan dengan keamanan pangan (Undang-undang No.7 tahun 1996 tentang
Pangan, Undang-Undang No.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Undang-
undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan konsumen, Peraturan
Pemerintah No.69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan dan Peraturan
Pemerintah No.28 Tahun 2004 tentang Keamanan Mutu dan Gizi pangan)
menurut kondisi sekarang.
Berlandaskan latar belakang diatas maka penulis ingin meneliti lebih
jauh dan membahasnya dalam tesis penulis yang berjudul :
“Konsistensi Pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
terhadap Peredaran Produk Pangan Kadaluwarsa”.

Pangan kadaluwarsa yang akan penulis teliti hanya dibatasi pada pangan
olahan saja, di mana dalam pasal 22 ayat 2 menyebutkan bahwa Kepala Badan
berwenang menetapkan jenis pangan olahan yang wajib diuji secara laboratories
sebelum diedarkan. Demikian juga dalam pasal 37 ayat 2 disebutkan bahwa

8 Universitas Indonesia
Konsistensi pengawasan..., Heny Andayani, FISIP UI,
2009
terhadap pangan olahan yang akan dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia untuk
diedarkan, Kepala Badan dapat menetapkan persyaratan bahwa :
a. Pangan telah diuji dan/atau diperiksa serta dinyatakan lulus dari segi
keamanan, mutu dan /atau gizi oleh instansi berwenang di negaranya;
b. Pangan telah memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
pasal 21;
c. Pangan dilengkapi dengan dokumen hasil pengujian dan/atau
pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada huruf a, dan
d. Pangan terlebih dahulu diuji dan/atau diperiksa di Indonesia dari segi
keamanan, mutu dan/atau gizi sebelum peredarannya.

1.2. Permasalahan
Setiap tahun BPOM selalu mengadakan pengawasan terhadap produk-
produk yang dicurigai telah habis masa berlakunya atau disebut kadaluwarsa.
Pengawasan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
terhadap pangan kadaluwarsa lebih diintensifkan terutama pada saat menjelang
hari-hari besar keagamaan. Kalau melihat peraturan yang mengatur tentang
produk pangan untuk saat ini, sebenarnya sudah cukup memadai. Tetapi,
masalahnya adalah bagaimana pemerintah dalam hal ini BPOM secara efektif
dan berkelanjutan melakukan pengawasan terhadap setiap produk pangan tanpa
ada laporan dari anggota masyarakat, lembaga atau yayasan perlindungan
konsumen
Selama tahun 2008 kasus pangan kadaluwarsa yang ditemukan oleh
BPOM adalah sebanyak 5.533 sarana distribusi yang diperiksa, ditemukan 506
sarana yang melakukan penjualan pangan daluwarsa. Pengawasan ini dirasakan
masih belum optimal dilakukan, ini dikarenakan masih sebatas jika ada kasus
yang sedang hangat (booming), dan tidak dilaksanakan secara terus-menerus.
Proses pengawasan terhadap pangan olahan yang beredar hanya di intensifkan
pada saat menjelang hari-hari Besar Keagamaan, sehingga pengawasan yang
telah dilakukan tidak berdampak banyak terhadap pelanggaran-pelanggaran
kasus peredaran produk pangan kadaluwarsa.

9 Universitas Indonesia
Konsistensi pengawasan..., Heny Andayani, FISIP UI,
2009
Mengingat kesadaran dan tanggung jawab para penjual yang masih
minim terhadap perlindungan konsumen tentang keamanan produk pangan yang
dijualnya. Oleh karena itu, sangat diperlukan pengawasan dan pembinaan yang
dilakukan secara terus-menerus oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM). Pengawasan ini sangat penting dilakukan agar konsumen merasa aman
dalam mengkonsumsi suatu produk pangan.
Para penjual dalam menjual pangan tersebut, mereka sebenarnya
mengetahui bahwa pangan yang yang dijual telah kadaluwarsa. Tapi demi
meraup keuntungan yang besar para produsen serta pedagang ini seakan tidak
mau perduli dan bahkan tidak mengindahkan peraturan yang ada. Sehingga apa
yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana mencari keuntungan yang banyak
dan masalah keamanan konsumen yang memakan produknya seolah bukan
menjadi tanggung jawab mereka.

1.3. Pertanyaan Penelitian


1. Faktor-faktor apa yang menyebabkan konsistensi pengawasan BPOM
terhadap peredaran produk pangan kadaluwarsa?
2. Bagaimanakah dampak konsistensi pengawasan BPOM terhadap
peredaran produk pangan kadaluwarsa?

1.4. Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini yaitu :
1. Untuk mengkaji faktor-faktor apa yang mempengaruhi kekonsistenan
pengawasan yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) terhadap peredaran produk pangan kadaluwarsa.
2. Untuk menganalisis bagaimana tanggung jawab BPOM terhadap
konsumen yang mengkonsumsi makanan yang telah kadaluwarsa

1.5. Signifikansi Penelitian


Mengapa penelitian ini peneliti anggap penting karena ada
beberapa hal yang dapat dihasilkan, yaitu :

10 Universitas Indonesia

Konsistensi pengawasan..., Heny Andayani, FISIP UI,


2009
1. Sebagai bahan yang dapat memberikan informasi dan masukan bagi
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang terkait dengan
pengawasan dan penanggulangan pelanggaran yang merugikan
konsumen khususnya peredaran produk pangan kadaluwarsa.
2. Sebagai bahan bagi pihak yang berkepentingan yang dapat
digunakan untuk membantu dalam menyelesaikan masalah-masalah
yang timbul dalam pelaksanaan perlindungan konsumen.

1.6. Sistematika Penulisan


BAB 1 : PENDAHULUAN, bab ini menguraikan tentang latar belakang
penelitian, permasalahan penelitian, pertanyaan penelitian,
tujuan penelitian, signifikansi penelitian, serta sistematika
penulisan.
BAB 2 : KERANGKA PEMIKIRAN, bab ini menguraikan tentang
kajian pustaka yang berkaitan dengan keamanan pangan dan
pengawasan, konsep pengawasan, pangan kadaluwarsa, Alur
pemikiran.
BAB 3 : METODE PENELITIAN, bab ini menguraikan mengenai
metode yang dipergunakan dalam penelitian, serta teknik
pengumpulan data, kesulitan penelitian dan materi wawancara
BAB 4 : GAMBARAN UMUM, berisikan tentang pengertian pangan,
sejarah pangan dan tujuannya, peraturan yang mengatur tentang
pangan kadaluwarsa, Peran Pemerintah dalam Melakukan
Pengawasan Sebagai Upaya Perlindungan Konsumen Terhadap
Produk Pangan Kadaluwarsa , fungsi dari BPOM
BAB 5 : HASIL PENELITIAN, bab ini menguraikan tentang data
penelitian yang telah dilakukan yaitu hasil dari wawancara
yang dilakukan penulis terhadap beberapa narasumber yaitu,
pejabat yang terkait dengan pengawasan terhadap produk
pangan kadaluwarsa dan dari Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia (YLKI),

11 Universitas Indonesia

Konsistensi pengawasan..., Heny Andayani, FISIP UI,


2009
BAB 6 : ANALISIS, bab ini menguraikan tentang hasil penelitian dan
di kaji lebih mendalam dengan teori yang digunakan
BAB 7 : PENUTUP, berisi Kesimpulan dan Saran

12 Universitas Indonesia

Konsistensi pengawasan..., Heny Andayani, FISIP UI,


2009

Anda mungkin juga menyukai