0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan42 halaman

Analisis Tarikan Perjalanan Sekolah Bangka

Dokumen ini membahas analisis tarikan perjalanan di kawasan pendidikan Jalan Sekolah Sungailiat, Kabupaten Bangka, dengan fokus pada faktor-faktor yang mempengaruhi pola perjalanan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik perjalanan yang dihasilkan oleh kawasan pendidikan dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan sistem transportasi. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi untuk pengembangan kebijakan transportasi yang lebih baik dan menciptakan lingkungan yang aman bagi pengguna jalan, terutama siswa.

Diunggah oleh

qq4vet8b9b
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan42 halaman

Analisis Tarikan Perjalanan Sekolah Bangka

Dokumen ini membahas analisis tarikan perjalanan di kawasan pendidikan Jalan Sekolah Sungailiat, Kabupaten Bangka, dengan fokus pada faktor-faktor yang mempengaruhi pola perjalanan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik perjalanan yang dihasilkan oleh kawasan pendidikan dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan sistem transportasi. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi untuk pengembangan kebijakan transportasi yang lebih baik dan menciptakan lingkungan yang aman bagi pengguna jalan, terutama siswa.

Diunggah oleh

qq4vet8b9b
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Transportasi merupakan aktivitas perpindahan manusia atau barang dari satu


lokasi ke lokasi tujuannya dengan memanfaatkan kendaraan yang digerakkan oleh
tenaga manusia atau mesin. Aktivitas ini sangat penting dalam kehidupan sehari-
hari, karena memudahkan individu untuk menjalani berbagai aktivitas yang
memerlukan mobilitas. Di Kabupaten Bangka, pemanfaatan lahan mencakup
berbagai jenis kawasan, termasuk kawasan industri, pemukiman, perdagangan,
dan pendidikan. Di antara kawasan-kawasan tersebut, kawasan pendidikan
memiliki peran yang signifikan dalam mempengaruhi pola perjalanan masyarakat,
terutama saat berangkat dan pulang sekolah. Aktivitas harian yang intens di
sekitar sekolah menciptakan pola perjalanan yang spesifik dan kompleks, yang
memerlukan perhatian khusus dalam analisis transportasi.
Salah satu aspek penting dalam analisis transportasi di Kawasan Pendidikan
adalah tarikan perjalanan (trip attraction), yaitu jumlah dan karakteristik
perjalanan yang dihasilkan oleh suatu zona akibat adanya fasilitas yang menarik
aktivitas pengguna. Tarikan perjalanan ini sangat relevan untuk dianalisis di
daerah-daerah dengan tingkat mobilitas tinggi, terutama di kawasan yang
mengalami perkembangan pesat. Jalan Sekolah Sungailiat, sebagai pusat akses
menuju beberapa institusi pendidikan di Kabupaten Bangka, menjadi salah satu
contoh kawasan dengan dinamika perjalanan yang cukup kompleks. Kawasan ini
tidak hanya berfungsi sebagai jalur pendidikan, tetapi juga merupakan area
dengan pemanfaatan lahan campuran, yang terdiri dari kawasan perdagangan dan
pemukiman. Jalan Sekolah juga menghubungkan jalan Yos Sudarso dengan jalan
utama yakni Jalan Jenderal [Link] adanya empat sekolah yang berbeda
jenjang pendidikan, yaitu dua Sekolah Dasar (SD), satu Madrasah Ibtida’iyah
(MI), dan satu Sekolah Menengah Pertama (SMP), Jalan Sekolah menjadi jalur
utama bagi siswa yang datang dari berbagai wilayah, baik menggunakan
kendaraan pribadi, transportasi umum, maupun berjalan kaki.
Tarikan perjalanan yang dihasilkan oleh kawasan ini memiliki pola yang
khas, terutama pada jam sibuk pagi hari pada pukul 06.30-07.00 WIB dan siang
hari pada pukul 11.00-12.00. Tingginya volume perjalanan yang terkonsentrasi
sering kali menimbulkan masalah, seperti kemacetan lalu lintas, ketidakteraturan
parkir, serta ketidakamanan bagi siswa pejalan kaki dan pengguna sepeda. Faktor-
faktor yang memengaruhi tingkat tarikan perjalanan di kawasan ini mencakup
jumlah siswa di sekolah, lokasi tempat tinggal mereka, moda transportasi yang
digunakan, serta ketersediaan fasilitas pendukung di sekitar jalan tersebut. Oleh
karena itu, penting untuk melakukan analisis yang mendalam guna memahami
bagaimana fasilitas pendidikan memengaruhi pola mobilitas masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik tarikan
perjalanan di Jalan Sekolah Sungailiat secara spesifik, termasuk menganalisis
jumlah perjalanan yang dihasilkan, distribusi asal dan tujuan perjalanan, serta
faktor-faktor yang memengaruhinya. Dengan pemahaman yang lebih mendalam
mengenai karakteristik perjalanan, diharapkan dapat dirumuskan perencanaan
yang efektif untuk mengatasi masalah transportasi yang muncul di sekitar
kawasan pendidikan. Salah satu langkah awal yang dapat diambil adalah
mengidentifikasi karakteristik pengguna transportasi yang melakukan perjalanan
menuju kawasan pendidikan, khususnya terkait dengan pilihan moda transportasi
yang digunakan. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan
rekomendasi yang konkret untuk meningkatkan kinerja sistem transportasi di area
tersebut, termasuk penambahan fasilitas bagi pejalan kaki, pengaturan zona parkir,
serta perbaikan infrastruktur jalan yang ada.
Berdasarkan kondisi permasalahan pada kawasan tersebut, maka diperlukan
penelitian tentang analisis tarikan perjalanan pada kawasan pendidikan Jalan
Sekolah Sungailiat untuk memahami lebih dalam pola perjalanan yang terjadi.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai
karakteristik perjalanan yang dihasilkan oleh kawasan pendidikan, serta faktor-
faktor yang mempengaruhi tarikan perjalanan tersebut. Dengan demikian, hasil
penelitian ini tidak hanya akan memberikan solusi terhadap permasalahan
transportasi yang ada, tetapi juga dapat menjadi referensi bagi pengembangan
kebijakan transportasi yang lebih baik di masa depan. Hal ini bertujuan untuk
menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh pengguna
jalan, terutama bagi siswa yang beraktivitas di kawasan Pendidikan Jalan Sekolah
Sungailiat. Dengan pendekatan yang komprehensif dan berbasis data, diharapkan
penelitian ini dapat memberikan kontribusi signifikan dalam perencanaan
transportasi yang berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan penulis bahas dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat tarikan perjalanan di
kawasan pendidikan di Jalan Sekolah Sungailiat, Kabupaten Bangka?
2. Bagaimana karakteristik dan pola tarikan perjalanan yang dihasilkan oleh
kawasan Pendidikan di Jalan Sekolah Sungailiat, Kabupaten Bangka?

1.3 Batasan Masalah

Untuk memudahkan proses penyusunan skripsi ini, perlu dilakukan


pembatasan masalah dalam penelitian. Ruang lingkup permasalahan yang akan
dibahas dalam laporan tugas akhir ini meliputi:
1. Penelitian ini difokuskan pada analisis tarikan yang dihasilkan oleh
keberadaan kawasan pendidikan di Jalan Sekolah Sungailiat.
2. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel dari populasi yang terdiri
dari siswa, guru, dan staf di kawasan pendidikan Jalan Sekolah Sungailiat.
3. Objek penelitian ini adalah kawasan pendidikan yang terletak di Jalan
Sekolah Sungailiat.
4. Analisis pola tarikan perjalanan dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah
siswa, guru, dan staf yang berkunjung ke kawasan pendidikan di Jalan
Sekolah Sungailiat.
5. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi linear
berganda.
6. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS versi
30 (Statistical Product and Service Solution).

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :


1. Untuk menganalisa faktor-faktor yang memengaruhi tingkat tarikan
perjalanan di kawasan Pendidikan di Jalan Sekolah Sungailiat, Kabupaten
Bangka.
2. Untuk mengidentifikasi karakteristik dan pola tarikan perjalanan yang
dihasilkan oleh kawasan pendidikan di Jalan Sekolah Sungailiat, Kabupaten
Bangka.

1.5 Manfaat Penelitian

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi


dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang transportasi dan perencanaan
wilayah, khususnya terkait dengan analisis tarikan perjalanan pada kawasan
pendidikan. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi
penelitian-penelitian selanjutnya yang membahas hubungan antara fasilitas
pendidikan dan pola perjalanan masyarakat, serta dapat memperkaya kajian
tentang perencanaan transportasi berbasis kawasan.
Secara praktis, penelitian ini memiliki manfaat yang cukup signifikan bagi
berbagai pihak. Bagi pemerintah daerah, hasil penelitian ini dapat menjadi bahan
pertimbangan dalam merencanakan dan mengelola sistem transportasi di kawasan
pendidikan, terutama terkait dengan perbaikan infrastruktur jalan, pengaturan lalu
lintas, serta pengembangan fasilitas pendukung seperti jalur pejalan kaki dan zona
parkir.

1.6 Keaslian Penelitian


Penulis melakukan penelitian mengenai analisis tarikan perjalanan di
kawasan Pendidikan Jalan Sekolah Sungailiat. Penulis meyakini bahwa penelitian
ini belum pernah dilakukan oleh pihak lain sebelumnya. Meskipun analisis tarikan
perjalanan sering diteliti di kawasan atau lokasi lain, penelitian ini secara khusus
difokuskan pada kawasan Pendidikan di Jalan Sekolah Sungailiat. Oleh karena itu,
dapat disimpulkan bahwa penelitian ini merupakan kajian yang belum pernah
dilakukan oleh pihak manapun selain penulis.

1.7 Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pembahasan dalam penelitian ini, maka sistematika


penulisan penelitian disusun dalam lima bab. Adapun sistematika penulisan
penelitian adalah sebagai berikut :

BAB I. PENDAHULUAN
Menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, maksud dan
tujuan penelitian, ruang lingkup, serta sistematika penulisan.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Menyajikan teori – teori yang digunakan sebagai landasan untuk menganalisis dan
membahas permasalahan penelitian.

BAB III. METODE PENELITIAN


Menjelaskan mengenai langkah – langkah atau prosedur pengambilan dan
pengolahan data hasil penelitian meliputi jenis penelitian, lokasi dan waktu
penelitian, langkah – langkah penelitian, prosedur penelitian, dan variable
penelitian.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


Menyajikan data – data hasil penelitian di lapangan, analisis data, hasil analisis
data, dan pembahasannya.

BAB V. SIMPULAN DAN SARAN


Berisikan Kesimpulan dari rangkaian penelitian dan saran – saran terkait
penelitian.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka


Penelitian serupa telah dilakukan oleh Mardiana (2021) dalam penelitiannya
yang berjudul “Analisis Model Tarikan perjalanan Pada Kawasan pendidikan di
Kota Luwuk (Studi Kasus: Jalan Ki Hajar Dewantara Kelurahan Karathon
Kecamatan Luwuk Kabupaten Banggai)”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengembangkan model tarikan perjalanan dan memperkirakan jumlah tarikan
yang menuju kawasan pendidikan di Kota Luwuk, khususnya di Jalan Ki Hajar
Dewantara. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengatasi
masalah yang muncul akibat tarikan perjalanan dari sekolah-sekolah di kawasan
tersebut. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah analisis regresi
linear berganda, dengan jumlah tarikan perjalanan total dan berdasarkan masing-
masing moda sebagai variabel terikat. Sementara itu, variabel bebas mencakup
luas lahan, luas bangunan, jumlah kelas, jumlah siswa, jumlah guru, kepemilikan
kendaraan, serta mempertimbangkan faktor biaya, jarak, dan waktu tempuh
transportasi. Hasil analisis pemodelan dengan metode tersebut menunjukkan
bahwa model yang dihasilkan memenuhi syarat dan layak digunakan berdasarkan
validitas uji statistik. Untuk perjalanan total, diperoleh persamaan Y = - 6,806 +
(1,583) X3 + (0,361) X4, dimana tarikan perjalanan total (Y) di kawasan
pendidikan Kota Luwuk di jalan Ki Hajar Dewantara dipengaruhi oleh jumlah
kelas (X3) dan jumlah siswa (X4), dengan nilai determinasi (R²) sebesar 1,000.
Sementara itu, untuk tarikan perjalanan dengan berjalan kaki, model yang
dihasilkan adalah Y = 7,600 + (0,200) X7 + (0,800) X10, dimana tarikan
perjalanan dengan berjalan kaki (Y) dipengaruhi oleh variabel tidak punya
kendaraan (X7) dan variabel waktu (X10), dengan nilai R² sebesar 1,000.
Annisa dkk. (2014) dalam penelitian mereka yang berjudul “Studi
Pembuatan Model Tarikan Pergerakan Orang pada Pusat Kegiatan Pendidikan
dengan Metode Analisis Regresi (Studi Kasus: Kampus Universitas Brawijaya)”
bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan memodelkan pola tarikan
pergerakan orang berdasarkan variabel-variabel yang dipengaruhi oleh tata guna
lahan yang berfungsi sebagai pusat kegiatan pendidikan, dengan fokus pada
Universitas Brawijaya (UB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model tarikan
pergerakan untuk Mahasiswa S1 adalah Y = - 719,735 + 4,138 X1, sementara
berdasarkan data karakteristik, modelnya menjadi Y = 0,842 + 0,970 X6 + 0,081
X10. Untuk tarikan pergerakan Mahasiswa S1, S2, dan S3, model yang diperoleh
adalah Y = - 822,022 + 3,865 X1 + 12,843 X2 dan dari data karakteristik,
modelnya menjadi Y = 0,561 - 0,064 X5 + 1,013 X6 + 0,149 X10. Model tarikan
pergerakan untuk dosen adalah Y = 3,71 + 1,82 X2 + 0,75 X9 , sedangkan
berdasarkan data karakteristik modelnya adalah Y = 1,543 + 0,722 X6 + 0,28 X9.
Untuk karyawan, model tarikan pergerakannya adalah Y = − 486,076 + 9,808 X3
+ 134,615 X10. Sementara itu, gabungan tarikan pergerakan dosen dan karyawan
mengikuti model Y = − 337,18 + 1,753 X2 + 7,564 X3 + 55,261 X6 + 44,399 X10
. Model untuk gabungan Mahasiswa S1, S2, S3, dosen, dan karyawan adalah Y =
− 649,997 + 3,813 X1 + 18,375 X2.
Dwipa (2017) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Tarikan
Perjalanan Kawasan Pendidikan (Studi Kasus Jalan Pemuda Sungailiat)”
bertujuan untuk mengembangkan model tarikan perjalanan yang dapat
memprediksi jumlah pergerakan di kawasan Jalan Pemuda Sungailiat. Model
tarikan perjalanan ini diharapkan dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah
tarikan perjalanan yang akan menuju kawasan tersebut di masa mendatang.
Penelitian ini menerapkan metode analisis regresi. Hasil analisis menunjukan
bahwa model tarikan perjalanan total (smp/jam) memiliki persamaan Y = 24,941
+ 0,313 X1, dimana Y merepresentasikan tarikan perjalanan total dan nilai X1
merupakan Jumlah Siswa, dengan nilai R² sebesar 0,970. Untuk model tarikan
perjalanan yang menggunakan sepeda, diperoleh persamaan Y = - 0,511 + 0,232
X7, dimana Y merupakan tarikan perjalanan dengan menggunakan sepeda dan
nilai X7 menunjukan kepemilikan sepeda, dengan nilai R² sebesar 0,716.
Selanjutnya, untuk model tarikan perjalanan menggunakan mobil Y = 1,340 +
0,449 X9, dimana Y adalah tarikan perjalanan menggunakan mobil dan nilai X9
adalah jumlah kepemilikan mobil, dengan nilai R² sebesar 0,905. Terakhir, untuk
tarikan perjalanan menggunakan angkutan umum dengan bentuk model Y = -
0,369 + 3,015X10, dimana Y merepresentasikan tarikan perjalanan dengan
menggunakan angkutan umum dan nilai X10 adalah jumlah tidak memiliki
kendaraan, dengan nilai R² sebesar 0,905.
Dalam penelitian yang pernah dilakukan oleh Guntur & Octaviani (2022)
yang berjudul “Analisis Tarikan Perjalanan dan Pola Sebaran Panjang Perjalanan
ke Kawasan Pendidikan (Studi Kasus : Kawasan Pendidikan Jalan Gatot Subroto,
Kabupaten Blora)” Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya tarik
perjalanan dan pola sebaran perjalanan pada kawasan pendidikan Jalan Gatot
Subroto, Kabupaten Blora. Terdapat dua metode analisis yang digunakan dalam
penelitiannya yaittu metode analisis deskriptif, dengan melihat dari karakteristik
responden jenis kelamin, umur, dan status sebagai : murid, guru atau karyawan)
dan karakteristik perjalanan (asal –tujuan perjalanan, jenis moda, serta jarak dan
atau waktu tempuh). Metode yang kedua adalah metode analisis regresi,
berdasarkan regresi bangkitan perjalanan dan analisis regrsi fungsi hambatan
perjalanan. Analisis regresi tarikan perjalanan dilakukan dengan alat bantu bahasa
pemrograman statistik. Variabel terikat adalah jumlah perjalanan dengan variabel
bebas : jumlah siswa, guru & karyawan, luas lahan, luas lantai, luas parkir.
Berdasarkan hasil analisis, daya tarik perjalanan sangat dipengaruhi oleh populasi
traveler. Variabel kedua yang memiliki pengaruh signifikan secara statistik adalah
ukuran area parkir. Sebagian besar perjalanan ke daerah ini memiliki jangkauan 3-
6 km. Sedangkan fungsi trip barrier yang paling menggambarkan distribusi trip
adalah fungsi eksponensial.
Handriyadi dkk. (2021) melakukan penelitian tentang Studi Analisis
Pemodelan Bangkitan dan Tarikan Lalu Lintas (Studi Kasus : SMAN 1 Taman
dan SMPN 2 Taman Sidoarjo). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
bangkitan dan tarikan di SMA Negeri 1 Taman dan SMP 2 Taman – Sidoarjo.
yang nantinya diharapkan dapat digunakan untuk memperkirakkan banyaknya
tarikan yang menuju kawasan pendidikan tersebur dimasa mendatang, sehingga
dapat digunakan untuk mengantisipasi permasalahan yang timbul akibat tarikan
perjalanan tersebut. Dari hasil penelitian, dapat diketahui bahwa bangkitan dan
tarikan pada SMA Negeri 1 Taman dan SMP 2 Taman - Sidoarjo untuk sepeda
motor dengan bentuk permodelan Y = 42.7142 + 0,2857 X, dimana Tarikan
Perjalanan untuk Sepeda Motor (Y) dari Jumlah Guru 112 (X), dengan uji korelasi
(R) = 1. Kemudian untuk bangkitan dan tarikan untuk antar jemput diperolah
bentuk permodelan Y = 1103,80 + 236 X, dimana Tarikan Perjalanan untuk Antar
Jemput (Y) dari Jumlah Siswa 2333 (X), dengan uji korelasi (R) = 0,1. Sementara
untuk bangkitan dan tarikan perjalanan berdasarkan angkutan umum diperoleh
bentuk permodelan Y = 891,66 + 32,3 X, dimana Tarikan Perjalanan untuk
Angkutan Umum (Y) dari Jumlah Siswa 2333 (X), dengan uji korelasi (R) sebesar
1. Dengan analisis ini didapat Model terbaik untuk meramalkan bangkitan dan
tarikan untuk kendaraan sepeda motor guru di SMAN 1 Taman dan SMPN 2
Taman Sidoarjo Y = 42.7142 + 0.2857 X, dimana setiap 112 guru ada 1 guru yang
menggunakan sepeda motor. Kemudian untuk volume lalu lintas maksimum
terjadi pada hari Senin pukul 6.30 hingga 7.30 pagi untuk arah Surabaya adalah
3923 kendaraan / jam dan arah Sidoarjo sebesar 2276 kend/jam, untuk derajat
kejenuhan didapatkan 0,97.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Transportasi

A. Pengertian Transportasi
Morlok (1985) menjelaskan bahwa transportasi merujuk pada usaha untuk
memindahkan, menggerakkan, atau mengalihkan suatu objek dari satu lokasi ke
lokasi lainnya, di mana objek tersebut akan memiliki nilai atau kegunaan yang
lebih besar untuk tujuan tertentu. Selain itu, transportasi juga dapat dipandang
sebagai suatu proses yang mencakup pemindahan, pergerakan, pengangkutan, dan
pengalihan, yang mana semua proses ini memerlukan alat pendukung untuk
memastikan bahwa perpindahan dapat berlangsung dengan lancar sesuai dengan
waktu yang diinginkan. Di sisi lain, Bowersox (1981) berpendapat bahwa
transportasi adalah kegiatan memindahkan barang atau penumpang dari satu
tempat ke tempat lain, di mana produk tersebut dikirim ke lokasi yang diperlukan.
Secara umum, transportasi sering diasosiasikan dengan angkutan. Angkutan
merujuk pada proses pemindahan orang dan/atau barang dari satu lokasi ke lokasi
lain dengan memanfaatkan kendaraan di ruang lalu lintas jalan, sesuai dengan
ketentuan yang diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan.

B. Fungsi dan Peran Transportasi


Transportasi memiliki berbagai fungsi penting yang mendukung mobilitas
manusia dan barang dalam kehidupan sehari-hari. Secara umum, transportasi
berfungsi sebagai sarana untuk menghubungkan satu lokasi dengan lokasi lainnya,
baik untuk perjalanan orang, barang, maupun informasi. Selain itu, transportasi
juga memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian, di mana sistem
transportasi yang efisien dapat meningkatkan konektivitas antar wilayah,
mempercepat distribusi barang, dan memfasilitasi perdagangan (Morlok, 1985).
Sistem transportasi yang baik tidak hanya mempermudah mobilitas tetapi juga
mendukung aktivitas sosial dan budaya dengan memfasilitasi pertemuan antar
individu dari berbagai tempat (Litman, 2022).
Fungsi lainnya adalah sebagai pendorong pembangunan sosial dan ekonomi.
Banister (2008) menjelaskan bahwa sistem transportasi yang efisien dapat
meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan mengurangi waktu tempuh,
mempermudah akses ke layanan publik, dan memperluas peluang kerja. Selain itu,
sistem transportasi yang baik juga membantu mengurangi kemacetan,
meningkatkan keselamatan perjalanan, dan mengurangi dampak lingkungan. Oleh
karena itu, pengelolaan sistem transportasi yang efektif sangat penting untuk
menciptakan keberlanjutan sosial dan ekonomi di berbagai kawasan.

C. Sistem Transportasi
Sistem transportasi dapat didefinisikan sebagai rangkaian komponen yang
saling berkaitan dan berfungsi untuk memfasilitasi perpindahan manusia, barang,
atau informasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya (Rodrigue, 2013). Komponen
utama dari sistem transportasi meliputi infrastruktur, seperti jalan raya, rel kereta
api, pelabuhan, dan bandara; moda transportasi berupa kendaraan yang digunakan
untuk pengangkutan; serta sistem pengelolaan yang mencakup teknologi, regulasi,
dan manajemen operasional (Morlok, 1985). Sistem ini tidak hanya mencakup
aspek fisik, tetapi juga elemen nonfisik, seperti jaringan komunikasi dan informasi
yang mendukung efisiensi transportasi. Sistem transportasi diselenggarakan
dengan tujuan agar proses transportasi penumpang dan barang dapat dicapai
secara optimum dalam ruang dan waktu tertentu dengan pertimbangan faktor
keamanan, kenyamanan, kelancaran, dan efisiensi waktu dan biaya.
Efektivitas sistem transportasi dipengaruhi oleh kapasitas infrastruktur,
kondisi operasional moda transportasi, tingkat integrasi antar moda, serta
kebijakan transportasi yang diterapkan (Litman, 2022). Sistem transportasi yang
efisien memungkinkan konektivitas yang lebih baik antar wilayah, yang pada
akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, mempercepat distribusi
barang, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat (Banister, 2008).
Sebaliknya, transportasi yang tidak terkelola dengan baik dapat menyebabkan
berbagai masalah, seperti kemacetan, peningkatan emisi gas rumah kaca, dan
pemborosan energi.

D. Komponen Utama Sistem Transportasi


Sistem transportasi terdiri dari beberapa komponen utama yang bekerja
secara terintegrasi untuk mendukung pergerakan orang dan barang. Secara rinci
komponen dalam sistem transportasi tersebut adalah seperti di bawah ini.
1. Infrastruktur Transportasi, mencakup semua fasilitas fisik yang digunakan
untuk mendukung pergerakan tersebut. Infrastruktur ini mencakup jalan raya,
jembatan, rel kereta api, terminal, bandara, dan pelabuhan. Infrastruktur yang
baik akan mempengaruhi kelancaran perjalanan dan dapat meningkatkan
efisiensi sistem transportasi secara keseluruhan. Pembangunan infrastruktur
transportasi yang tepat akan membantu mengurangi kemacetan dan
meningkatkan aksesibilitas antar wilayah.
2. Moda Transportasi, terdiri dari berbagai jenis kendaraan yang digunakan
untuk mengangkut orang atau barang. Moda transportasi ini dapat berupa
kendaraan darat seperti mobil, bus, dan sepeda motor, moda laut seperti
kapal, serta moda udara seperti pesawat terbang (Suryani, 2023). Pemilihan
moda transportasi biasanya dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jarak,
waktu perjalanan, biaya, dan kapasitas angkut yang diperlukan dalam setiap
perjalanan (Litman, 2022). Moda transportasi yang efisien dapat mengurangi
biaya operasional dan waktu tempuh, serta meningkatkan kenyamanan
pengguna.
3. Pengelolaan Sistem Transportasi, meliputi aspek operasional dan manajerial
yang bertujuan untuk memastikan kelancaran dan keselamatan perjalanan.
Hal ini mencakup perencanaan rute, pengelolaan lalu lintas, pemeliharaan
infrastruktur, serta pengawasan terhadap keselamatan dan efisiensi
operasional (Zulkarnain & Julian, 2017). Teknologi seperti Intelligent
Transportation Systems (ITS) telah menjadi komponen penting dalam
manajemen transportasi modern, karena dapat meningkatkan efisiensi dan
mengurangi kemacetan dengan memanfaatkan data dan informasi secara
real-time.

E. Pola Perjalanan
Pola perjalanan merujuk pada kebiasaan atau distribusi perjalanan yang
dilakukan oleh individu atau kelompok dalam suatu wilayah atau kawasan
tertentu. Pola ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tujuan perjalanan,
waktu perjalanan, serta karakteristik pribadi dan sosial pengguna transportasi.
Secara umum, pola perjalanan mencakup jenis perjalanan yang dilakukan, seperti
perjalanan untuk bekerja, bersekolah, atau keperluan lainnya, serta bagaimana
individu memilih moda transportasi dan waktu yang digunakan dalam setiap
perjalanan tersebut (Ortúzar & Willumsen, 2011)
Beberapa faktor yang mempengaruhi pola perjalanan antara lain adalah
lokasi tempat tinggal, tujuan perjalanan, serta faktor sosial-ekonomi seperti
pekerjaan, pendidikan, dan status keluarga. Sebagai contoh, kawasan dengan
banyak fasilitas pendidikan atau perkantoran cenderung memiliki pola perjalanan
yang lebih padat pada jam-jam tertentu, terutama pada pagi dan sore hari.
Pemahaman terhadap pola perjalanan ini sangat penting untuk merancang
kebijakan transportasi yang dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi kemacetan,
serta memastikan bahwa infrastruktur transportasi yang ada dapat memenuhi
kebutuhan mobilitas masyarakat (Litman, 2022).
Selain itu, analisis pola perjalanan juga berperan penting dalam
merencanakan pengembangan sistem transportasi yang lebih baik dengan
mengidentifikasi area-area yang memerlukan peningkatan aksesibilitas atau
pengurangan kemacetan. Oleh karena itu, pengumpulan dan analisis data pola
perjalanan menjadi hal yang krusial dalam merencanakan sistem transportasi yang
efektif dan berkelanjutan.

F. Konsep Perencanaan Transportasi


Perencanaan transportasi merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk
merancang, mengelola, dan mengembangkan sistem transportasi yang dapat
memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat secara efektif, efisien, dan
berkelanjutan. Dalam konteks perencanaan, penting untuk mempertimbangkan
berbagai faktor, termasuk pertumbuhan penduduk, perubahan pola perjalanan, dan
perkembangan infrastruktur yang ada. Perencanaan transportasi juga harus dapat
mengatasi permasalahan transportasi yang terjadi, seperti kemacetan, kurangnya
integrasi antar moda transportasi, dan tingginya polusi udara. Ada beberapa
konsep perencanaan transportasi yang telah berkembang hingga saat ini dan yang
paling popular adalah ‘Model Perencanaan Transportasi Empat Tahap (Four Step
Models)’. Adapun keempat model tersebut sebagai berikut ini.
1. Model Bangkitan Perjalanan (Trip Generation Models), merupakan tahap
pertama dalam Model Perencanaan Transportasi Empat Tahap yang bertujuan
untuk memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona tata
guna lahan atau jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu zona tertentu.
Menurut (Tamin, 2020), tahapan ini bertujuan untuk menghitung jumlah
perjalanan yang dihasilkan atau tertarik oleh suatu wilayah berdasarkan
karakteristik tata guna lahan, seperti permukiman, pusat perbelanjaan, atau
kawasan industri. Sementara itu, (Hobbs, 2016) menjelaskan bahwa
bangkitan pergerakan merupakan jumlah perjalanan yang terjadi dalam satuan
waktu tertentu di sebuah zona, yang bergantung pada aktivitas dan fungsi dari
wilayah tersebut.
2. Model Sebaran Perjalanan (Trip Distribution Models), merupakan tahap
kedua dalam proses perencanaan transportasi yang bertujuan untuk
memprediksi distribusi perjalanan antara zona asal dan zona tujuan. Model ini
menentukan pola interaksi perjalanan antar wilayah dengan menggunakan
data bangkitan dan tarikan perjalanan dari setiap zona (Tamin, 2020). Tahap
ini memberikan gambaran tentang seberapa besar volume perjalanan yang
terjadi di antara dua lokasi, yang sangat penting untuk perencanaan
infrastruktur dan manajemen transportasi.
3. Model Pemilihan Moda Transportasi (Mode Choice Models), merupakan
tahap ketiga dalam proses perencanaan transportasi yang bertujuan untuk
memprediksi moda transportasi yang akan dipilih oleh pengguna untuk
melakukan perjalanan. Tahap ini mempertimbangkan berbagai faktor yang
memengaruhi keputusan individu atau kelompok dalam memilih moda
transportasi tertentu, seperti kendaraan pribadi, angkutan umum, sepeda, atau
berjalan kaki (Tamin, 2020). Munculnya tahap analisis pilihan moda ini
disebabkan oleh tersedia-nya berbagai wujud alat angkutan (moda) yang akan
digunakan, yang jumlahnya bukan hanya satu alternatif di tiap-tiap pasang
zona asal dan zona tujuan.
4. Model Pemilihan Rute (Trip Assigment Models), Tahap ini bertujuan untuk
menentukan rute perjalanan yang akan dipilih oleh pengguna di jaringan
transportasi tertentu. Pemilihan rute ini berdasarkan preferensi pengguna
terhadap rute yang dianggap optimal, baik dari segi waktu, biaya,
kenyamanan, maupun hambatan lain yang ada di sepanjang perjalanan
(Tamin, 2020). Adanya tahap ini disebabkan oleh terdapatnya lebih dari satu
alternatif pilihan jalur gerak (rute tempuh) yang menghubungkan tempat asal
dengan tujuan, sehingga arus orang, kendaraan dan barang yang akan
melakukan pergerakan akan menghadapi dua atau lebih pilihan rute tempat
lewat yang harus dipilih salah satunya.

2.2.2 Bangkitan Perjalanan


Bangkitan perjalanan (Trip Generation) dapat diartikan sebagai banyaknya
jumlah perjalanan/pergerakan lalu lintas yang dibangkitkan oleh suatu zona
(kawasan) per satuan waktu. Dari pengertian tersebut, maka bangkitan perjalanan
merupakan tahap pemodelan transportasi yang memperkirakan dan meramalkan
jumlah perjalanan yang tertarik ke suatu tata guna lahan atau zona. (Tamin, 2020).
Perjalanan dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Home base trip, pergerakan yang berbasis rumah. Artinya perjalanan yang
dilakukan berasal dari rumah dan kembal ke rumah.
b. Non home base trip, pergerakan berbasis bukan rumah. Artinya perjalanan
yang dilakukan bukan berasal dan bertujuan bukan rumah.
Pergerakan lalu lintas merupakan fungsi tata guna lahan yang menghasilkan
aliran lalu lintas. Secara umum, bangkitan perjalanan dibagikan menjadi dua
ktegoru, yaitu :
a. Lalu lintas yang meninggalkan suatu lokasi, disebut juga bangkitan
perjalanan
b. Lalu lintas yang menuju atau tiba ke suatu lokasi, disebut juga tarikan
perjalanan
Bangkitan dan tarikan perjalanan dapat digambarkan sebagai berikut:

Sumber : Tamin, 2020


Gambar 2.1 Bangkitan dan Tarikan Perjalanan

2.2.3 Tarikan Perjalanan


Tarikan perjalanan merujuk pada total perjalanan yang menuju ke lokasi
tertentu. Proses ini umumnya memanfaatkan data berbasis zona untuk
memodelkan volume pergerakan yang terjadi dalam setiap satuan waktu. Kawasan
yang menghasilkan perjalanan biasanya adalah kawasan perumahan, sedangkan
kawasan yang cenderung menarik perjalanan meliputi kawasan pendidikan,
perkantoran, industri, pusat perbelanjaan, dan tempat rekreasi. Bangkitan dan
tarikan perjalanan dapat dilihat pada gambar berikut:
Sumber : Tamin, 2020
Gambar 2.2 Bangkitan dan Tarikan Perjalanan
Tarikan perjalanan merujuk pada perjalanan yang berasal dari rumah, di
mana tempat asal atau tujuannya bukanlah rumah, atau pergerakan yang
dipengaruhi oleh aktivitas yang tidak berbasis di rumah. Menurut Tamin (2020),
terdapat beberapa faktor yang memengaruhi pemodelan bangkitan dan tarikan
perjalanan, yaitu:
1. Bangkitan perjalanan untuk manusia
a. Pendapatan
b. Pemilik Kendaraan
c. Struktur rumah tangga
d. Ukuran rumah tangga
e. Nilai lahan
f. Kepadatan daerah pemukiman
g. Aksesibilitas
2. Tarikan perjalanan untuk manusia
Faktor yang paling umum digunakan dalam pemodelan adalah luas lantai
untuk kegiatan industri, komersial, perkantoran, dan layanan lainnya. Selain itu,
faktor lain yang dapat dipertimbangkan adalah jumlah lapangan kerja. Belakangan
ini, beberapa penelitian mulai mencoba untuk memasukkan ukuran aksesibilitas
sebagai salah satu pertimbangan.
Tujuan akhir perencanaan tahapan bangkitan perjalanan adalah menaksir
setepat mungkin bangkitan dan tarikan perjalanan pada masa sekarang, yang akan
digunakan untuk meramalkan pergerakan pada masa mendatang. Bangkitan
pergerakan ini berhubungan dengan penentuan jumlah keseluruhan yang
dibangkitkan oleh sebuah kawasan parameter tujuan perjalanan yang sangat
berpengaruh di dalam produksi perjalanan adalah :
a. Tempat bekerja
b. Kawasan perbelanjaan
c. Kawasan Pendidikan
d. Kawasan usaha
e. Kawasan hiburan

2.2.4 Model Tarikan Perjalanan


Dalam konteks perencanaan transportasi, model merujuk pada representasi
matematis atau logis yang berfungsi untuk menjelaskan hubungan antara variabel-
variabel tertentu, dengan tujuan memprediksi atau memahami fenomena
perjalanan. Model ini digunakan untuk menyederhanakan dan memberikan
gambaran tentang suatu realitas untuk tujuan tertentu, yang umumnya
dimanfaatkan untuk menjelaskan dan meramalkan kondisi di lapangan.
Model ini mendukung perencana transportasi dalam mengambil keputusan
berdasarkan data yang terorganisir. Dalam analisis transportasi, salah satu model
yang signifikan adalah model tarikan perjalanan (trip attraction model), yang
dirancang khusus untuk memperkirakan jumlah perjalanan yang menuju ke suatu
zona atau area tertentu dalam sistem transportasi.
Model merupakan penyederhanaan dari kondisi yang sebenarnya dan dapat
memberikan panduan dalam perencanaan transportasi. Model ini memungkinkan
penilaian yang cepat terhadap alternatif transportasi di suatu wilayah (Morlok,
1985). Proses pemodelan bangkitan perjalanan bertujuan meramalkan jumlah
pergerakan di setiap zona asal dengan menggunaan data rinci mengenai tingkat
bangkitan pergerakan, atribut sosial-ekonomi, serta tata guna lahan. Menurut
(Tamin, 2020) model dapat didefinisikan sebagai alat bantu atau media yang dapat
digunakan untuk mencerminkan dan menyederhanakan realitas (dunia
sebenarnya) secara terukur, termasuk diantaranya:
1. Model Fisik
2. Peta dan diagram (grafis)
3. Model statistika dan matematika (persamaan)
Semua model tersebut adalah bentuk penyederhanaan realitas untuk tujuan
tertentu, seperti memberikan penjelasan, pemahaman, serta peramalan. Model
berfungsi sebagai representasi dari kondisi yang sebenarnya dan dapat
memberikan panduan dalam perencanaan transportasi. Karakteristik sistem
transportasi di area-area tertentu, seperti CBD, sering dianalisis menggunakan
model. Model ini memungkinkan untuk mendapatkan penilaian yang cepat
terhadap berbagai alternatif transportasi di suatu wilayah (Morlok, 1985).
Model dapat digunakan untuk menggambarkan hubungan antara sistem
prasarana transportasi dengan memanfaatkan serangkaian fungsi atau persamaan
(model matematis). Model ini dapat menjelaskan cara kerja sistem serta hubungan
antar sistem secara terukur. Salah satu alasan untuk menggunakan model
matematis dalam merepresentasikan sistem adalah karena matematika merupakan
bahasa yang lebih akurat dibandingkan dengan bahasa verbal. Ketepatan yang
diperoleh dari penggantian kata dengan simbol sering kali menghasilkan
penjelasan yang lebih baik daripada yang disampaikan dengan bahasa verbal.

2.2.5 Karakteristik Perjalanan


Karakteristik perjalanan merujuk pada berbagai atribut yang
menggambarkan pola dan perilaku perjalanan yang dilakukan oleh individu atau
kelompok dalam suatu wilayah. Pemahaman tentang karakteristik perjalanan
sangat penting dalam perencanaan transportasi, karena informasi ini menjadi dasar
untuk mengidentifikasi kebutuhan sistem transportasi dan mengevaluasi
efektivitas infrastruktur yang ada (Tamin, 2020). Beberapa karakteristik
perjalanan yang umum dianalisis meliputi :
1. Tujuan perjalanan
Tujuan perjalanan mengacu pada alasan utama seseorang melakukan
perjalanan, seperti perjalanan ke tempat kerja, sekolah, pusat perbelanjaan,
rekreasi, atau kebutuhan pribadi. Setiap jenis tujuan memiliki pola waktu,
jarak, dan moda transportasi yang berbeda (Nasution, 2004).
2. Waktu perjalanan
Waktu perjalanan menunjukkan kapan perjalanan dilakukan. berdasarkan hal
tersebut, waktu perjalanan dibagi menjadi jam sibuk (peak hours) dan jam
tidak sibuk (off-peak hours). Analisis waktu perjalanan membantu memahami
tingkat permintaan transportasi pada berbagai periode dan mendesain layanan
transportasi yang lebih efisien (Tamin, 2020).
3. Pemilihan moda transportasi yang digunakan
Pemilihan moda transportasi mencerminkan prefensi pengguna berdasarkan
kenyamanan, biaya, dan aksesibilitas. Secara sederhana moda berkaitan
dengan jenis transportasi yang digunakan. Moda transportasi seperti
kendaraan pribadi, angkutan umum, sepeda, atau berjalan kaki memiliki
keunggulan dan kekurangan masing-masing dalam memenuhi kebutuhan
perjalanan (Nasution, 2004).
4. Durasi dan Jarak Perjalanan
Durasi perjalanan merujuk pada waktu yang dihabiskan untuk menyelesaikan
perjalanan, sementara jarak perjalanan mencerminkan panjang rute yang
ditempuh. Faktor ini dipengaruhi oleh ketersediaan infrastruktur, kepadatan
lalu lintas, dan kecepatan moda transportasi yang digunakan.

5. Frekuensi Perjalanan
Frekuensi perjalanan mengacu pada seberapa sering seseorang melakukan
perjalanan dalam periode waktu tertentu, seperti harian, mingguan, atau
bulanan. Frekuensi ini dipengaruhi oleh kebutuhan individu, aktivitas
ekonomi, dan kondisi geografis wilayah.
6. Asal dan Tujuan
Asal dan tujuan perjalanan menggambarkan lokasi awal dan akhir perjalanan.
Pola sering digunakan dalam pemodelan transportasi untuk menganalisis
distribusi perjalanan dan merancang jaringan transportasi yang efektif
(Tamin, 2020).

2.2.6 Kawasan Pendidikan


A. Karakteristik Kawasan Pendidikan
Kawasan pendidikan merupakan area yang didominasi oleh aktivitas
belajar-mengajar dan kegiatan pendukung lainnya, yang melibatkan pelajar,
tenaga pengajar, serta berbagai fasilitas seperti kantin, parkir, dan akses
transportasi umum. Karakteristik kawasan pendidikan sering kali ditandai dengan
tingginya mobilitas pengguna, terutama pelajar dan tenaga pendidik, yang
memiliki pola perjalanan terjadwal dan terkonsentrasi pada jam masuk dan keluar
sekolah. Menurut Ortúzar & Willumsen (2011), pola perjalanan dalam suatu
kawasan sangat dipengaruhi oleh tujuan perjalanan dan waktu tempuh, di mana
kawasan pendidikan cenderung mengalami lonjakan volume perjalanan pada pagi
dan siang hari. Hal ini sejalan dengan temuan Tamin (2020), yang menyatakan
bahwa perjalanan terkait pendidikan merupakan salah satu faktor dominan dalam
bangkitan dan tarikan perjalanan di perkotaan, sering kali menyebabkan
peningkatan kepadatan lalu lintas di sekitar akses utama menuju sekolah.
Fenomena ini menunjukkan perlunya perencanaan transportasi yang tepat untuk
mengelola arus lalu lintas dan meningkatkan keselamatan di sekitar kawasan
pendidikan.
Di kawasan Jalan Sekolah Sungailiat, yang memiliki beberapa institusi
pendidikan, pola perjalanan ini dapat dilihat dengan jelas. Sebagian besar aktivitas
lalu lintas di kawasan ini dipengaruhi oleh konsentrasi pelajar yang datang dan
pergi setiap harinya. Keberadaan fasilitas penunjang seperti trotoar, tempat parkir,
dan halte transportasi umum turut mendukung pergerakan pelajar menuju lokasi
pendidikan. Infrastruktur yang memadai seperti ini sangat penting dalam
mengelola pergerakan pelajar dan tenaga pengajar agar tidak terjadi kemacetan
yang berlebihan. Sehingga, karakteristik kawasan pendidikan tidak hanya
dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang ada, tetapi juga oleh kualitas
infrastruktur yang tersedia serta pola pergerakan yang timbul akibat konsentrasi
aktivitas pendidikan di kawasan tersebut.

B. Faktor Pengaruh Perjalanan


Faktor-faktor yang memengaruhi perjalanan di kawasan pendidikan
melibatkan berbagai elemen, baik yang bersifat internal, seperti karakteristik
pengguna (usia, jenis kelamin, dan status sosial-ekonomi), maupun eksternal,
seperti kebijakan transportasi, tata guna lahan, dan kondisi infrastruktur (Tamin,
2020). Menurut Ortúzar & Willumsen (2011), volume perjalanan di suatu
kawasan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti jumlah penduduk yang
beraktivitas di area tersebut dan jarak antara tempat tinggal dan tujuan perjalanan.
Kawasan pendidikan, yang didominasi oleh aktivitas belajar-mengajar, cenderung
menghasilkan tarikan perjalanan yang tinggi karena tingginya jumlah pelajar dan
tenaga pengajar. Selain itu, faktor jarak juga berpengaruh terhadap pemilihan
moda transportasi. Pelajar yang tinggal lebih dekat dengan sekolah cenderung
berjalan kaki atau menggunakan sepeda, sedangkan mereka yang tinggal lebih
jauh biasanya memilih menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum
(Morlok, 1985). Peningkatan volume perjalanan pada jam-jam tertentu, seperti
saat masuk dan pulang sekolah, sering kali berkontribusi pada peningkatan
kepadatan lalu lintas di sekitar kawasan pendidikan.
Ketersediaan dan kualitas infrastruktur transportasi sangat memengaruhi
pola perjalanan di kawasan pendidikan. Infrastruktur yang mendukung
kenyamanan pejalan kaki, seperti trotoar yang lebar dan fasilitas transportasi
umum yang efisien, dapat meningkatkan mobilitas pelajar dan mengurangi
ketergantungan pada kendaraan pribadi. Akses yang baik terhadap transportasi
umum, seperti bus atau angkutan kota, dapat mengurangi potensi kemacetan dan
meningkatkan mobilitas pelajar. Selain itu, kebijakan transportasi yang
mengutamakan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan, seperti pengaturan
lalu lintas yang lebih baik di sekitar kawasan pendidikan, juga berperan dalam
menciptakan pola perjalanan yang lebih teratur dan terkelola dengan baik.

2.2.7 Teknik Sampling


A. Definisi
Rancangan sampling adalah metode yang digunakan untuk memilih sampel
yang dapat menghasilkan kumpulan data sampel. Tujuan utama dari setiap
rancangan sampling adalah untuk memberikan panduan dalam memilih sampel
yang mewakili populasi, sehingga dapat menyediakan informasi tentang populasi
dengan biaya yang minimal. Menurut Pasaribu (1964), pengambilan sampel, yang
juga dikenal sebagai penarikan sampel, bertujuan untuk mendapatkan informasi
mengenai populasi dengan mengamati hanya sebagian dari populasi tersebut.
Pengambilan sampel didasarkan pada asumsi bahwa dalam suatu populasi
terdapat perbedaan atau variasi antara anggota-anggotanya, yaitu perbedaan dalam
sifat-sifat individu dan sifat umum populasi tersebut. Setiap anggota populasi
dianggap berbeda dari rata-rata populasi. Jika pengamatan dalam populasi
dinyatakan dalam bentuk angka, maka sebagian anggota populasi akan memiliki
nilai yang lebih rendah dan sebagian lainnya lebih tinggi dibandingkan dengan
nilai rata-rata. Ketika dilihat secara keseluruhan, perbedaan ini mungkin tidak
terlalu terlihat, dan yang tampak secara umum adalah nilai rata-ratanya. Teori
pengambilan sampel berlandaskan pada adanya pengaruh saling menghilangkan di
antara anggota populasi tersebut.

B. Cara Penarikan dan Ukuran Sampel


Berkaitan dengan pengambilan sampel untuk survey transportasi, Bruton
(1985) dalam Tamin (2000) memberikan ukuran sampel yang digunakan
berdasarkan besarnya populasi yang ada seperti pada table 2.1 berikut :

Tabel 2.1 Rekomendasi ukuran sampel wawancara rumah tangga


Ukuran Sampel
Populasi
Rekomendasi Minimum
Dibawah 50.000 1:5 1 : 10
50.000 – 150.000 1:8 1 : 20
150.000 – 300.000 1 : 10 1 : 35
300.000 – 500.000 1 : 15 1 : 50
500.00 – 1.000.000 1 : 20 1 : 70
Diatas 1.000.000 1 : 25 1 : 100
Sumber : Bruton (1985) dalam Tamin (2000)

2.2.8 Analisis Regresi


Analisis regresi merupakan salah satu metode statistik yang digunakan
untuk menguji hubungan antara variabel dependen dan satu atau lebih variabel
independen dalam sebuah model matematis. analisis regresi bertujuan untuk
mengukur besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen
sekaligus memprediksi nilai variabel dependen berdasarkan nilai variabel
independen.
Dalam perencanaan transportasi, analisis regresi sering digunakan untuk
memahami hubungan antara berbagai faktor yang memengaruhi permintaan
perjalanan, seperti jumlah penduduk, tingkat pendapatan, aksesibilitas, dan
karakteristik wilayah (Ortúzar & Willumsen, 2011). Model ini membantu dalam
mengestimasi volume perjalanan dan pola transportasi, yang selanjutnya menjadi
dasar untuk merancang jaringan transportasi yang efisien dan memenuhi
kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, analisis regresi tidak hanya menjadi alat
yang penting dalam penelitian ilmiah, tetapi juga berkontribusi secara langsung
pada pengambilan keputusan di bidang perencanaan transportasi.

A. Model Analisis Regresi Linear


Model analisis regresi dalam permodelan bangkitan dan tarikan (trip
generation) dilakukan untuk mendapatkan hubungan linier antara besarnya
bangkitan dan tarikan dengan atribut sosial ekonomi dan karakteristik tata guna
lahan pada suatu wilayah. Menurut Tamin (2020), analisis regresi linier adalah
metode statistik yang dapat digunakan untuk mempelajari hubungan antar sifat
permasalahan yang sedang diselidiki. Pada model ini terdapat variabel dependen
(y) yang mempunyai hubungan fungsional dengan satu atau lebih variabel
independen (x).

B. Model Analisis Regresi Linear dengan Variabel Tunggal


Variabel analisis regresi dibedakan menjadi dua jenis variable yaitu
independen (X) dan variable independen (Y). Bentuk sederhana dari hubungan
linear dari 2 jenis variable tersebut dituliskan dalam persamaan:
Y = a+bX................................................................................................ (2.1)
Dimana :
Y = Variabel dependen
X = Variabel independen
A = Konstanta regresi
B = Koefisien regresi

C. Model Analisis Regresi Linear Berganda


Analisis ini merupakan pengembangan lanjut dari regresi linear, khususnya
pada kasus yang mempunyai banyak variabel independen. Persamaan umum
untuk model regresi linear berganda adalah sebagai berikut :
Y = a+b1X1+b2X2+b3X3+…..bnXn.................................................... (2.2)
Dimana :
Y = Variabel dependen
X1..Xn = Variabel independen
A = Konstanta regresi
B1…Bn = Koefisien regresi

2.2.9 Analisis Korelasi


Menurut (Tamin, 2020), analisis korelasi adalah alat statistik yang
digunakan untuk mengetahui derajat hubungan linier antara satu variabel dengan
variabel lain. Umumnya, analisis korelasi digunakan dalam hubungannya dengan
analisis regresi untuk mengukur ketepatan garis regresi dalam menjelaskan variasi
nilai variabel dependen. Koefisien korelasi merupakan ukuran yang dapat
digunakan untuk mengetahui eratnya hubungan antara suatu variabel dengan
variabel lain.

A. Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi digunakan untuk menentukan korelasi antara variabel
tidak bebas dengan variabel bebas atau antara sesame variabel bebas. Koefisien
korelasi ini dapat dihitung dengan persamaan :
n∑ XY −( ∑ X )(∑ Y )
Rxy = ............................................. (2.3)
√{n ∑ X ²−(∑ X ²) }{n ∑ Y ²−(∑ Y ²)}
Besaran r berkisar antara -1 dan +1 (-1 S r ≤ +l), harga r = -1 menyatakan
adanya asosiasi linear sempurna tak langsung antara X dan Y. Ini berarti titik-titik
yang ditentukan oleh (X < Y) seluruhnya terletak pada garis regresi linear, dengan
harga X yang besar akan berpasangan dengan harga Y yang kecil dan harga X
yang kecil akap berpasangan dengan harga Y yang besar. Harga r = +1
menyatakan adanya asosiasi linear sempurna langsung antara X dan Y. Letak
titik-titik pada garis regresi linear bersifat bahwa harga X yang besar akan
berpasangan dengan harga Y yang besar pula, demikian juga sebaliknya.
B. Pengujian Nilai Koefisien Korelasi
Pengujian nilai R untuk mengetahui hasilnya signifikan atau tidak, dapat
diuji melalui tabel r-teoritik dengan jumlah pasangan data = N atau dengan derajat
bebas db = N-2. Dalam pengujian ini digunakan r- teoritik dengan taraf signifikan
5%. Apabila R> r-teoritik, berarti korelasi antara X dan Y signifikan Apabila R<
r-teoritik, berarti korelasi antara X dan Y tidak signifikan.
Taraf signifikan 5% maksudnya adalah besarnya kemungkinan membuat
kesalahan dari korelasi tersebut sebesar 5%. Tingkat kebenaran yang dapat
diterima dari korelasi hitungan sebesar 95%.
1. Hipotesis yang digunakan:
a. НО : r = 0, artinya korelasi tidak signifikan.
b. Hi : r # 0, artinya korelasi signifikan.
Uji dilakukan 2 sisi karena akan dicari ada atau tidaknya hubungan/ korelasi,
dan bukan lebih besar/ kecil.
2. Dasar pengambilan keputusan
a. Berdasarkan probabilitas
1. Jika probabilitas > 0.05 maka Ho diterima.
2. Jika probabilitas < 0.05 maka Ho ditolak.
b. Berdasarkan tanda * yang diberikan SPSS Adanya tanda * pada pasangan
data yang dikorelasi menunjukkan adanya korelasi yang signifikan pada
data tersebut.
3. Indeks Determinasi
Indeks determinasi mengukur derajat asosiasi antara variabel X dan Y,
apabila antara X dan Y terdapat hubungan regresi Y = f(X). Sifat indeks
determinasi adalah jika titik-titik diagram pencar letaknya makin dekat kepada
garis regresi, maka harga R' makin dekat kepada 1. Apabila titik-titik itu makin
jauh dari garis regresi maka harga R? makin mendekati O. Secara umum berlaku 0
≤ R' ≤ 1.
Rumus umum dari indeks determinasi :
2
∑ ( Y −Y ) −∑(Y −Y )²
R2 = ...................................................................... (2.4)
∑ (Y −Y )²
dimana:
R2 = Indeks determinasi
Y-Y = Jumlah kuadrat kesalahan pengganggu (Residual sum of square)
Y-Y = Total sum of square

4. Korelasi Regresi Linear Berganda


Untuk menentukan derajat asosiasi antara variabel-variabel yang ada maka
berdasarkan persamaan regresi linear berganda :
Y =a0 +a1X1+a2X2 +......+ akXk.................................................................................................................. (2.5)
R2 ditentukan dengan rumus :
a 1∑ x 1 y+ …+a k ∑ xky
R2 = ................................................................... (2.6)
∑ y²
Dimana :
X1 = X1-X1; x2 = X2-X2; ...; xk = Xk-Xk, dan y = Y-Y
R = koefisien korelasi linear berganda untuk Y, X1, X2,...,Xk
R = koefisien determinasi linear berganda

2.2.10 Uji T
Uji T merupakan salah satu uji hipotesis penelitian dalam analisis regresi
linear berganda, yang bertujuan untuk mengetahui apakah variabel X (masing
masing) berpengaruh terhadap variabel Y. kriteria penerimaan atau penolakan
hipotesis adalah sebagai berikut:

1. Jika sig > 0,05 atau T hitung < T tabel maka tidak terdapat pengaruh
variabel X terhadap variabel Y.
2. Jika sig < 0,05 atau T hitung > T tabel maka terdapat pengaruh variabel X
terhadap variabel Y.

2.2.11 Uji F
Uji F yaitu uji yang digunakan untuk melihat bagaimanakah pengaruh
semua variabel bebasnya secara bersama-sama terhadap variabel terikatnya. Atau
untuk menguji apakah model regresi yang kita buat baik/signifikan atau tidak
baik/non signifikan. Jika model signifikan maka model bisa digunakan untuk
prediksi atau peramalan, sebaliknya jika tidak signifikan maka model regresi tidak
bisa digunakan untuk peramalan. Kriteria penerimaan atau penolakan hipotesis
adalah sebagai berikut:
1. Bila sig>0,05 maka H0 ditolak, sehingga tidak ada pengaruh signifikan
antara variabel bebas dengan variabel terikat.
2. Bila sig>0,05 maka H0 diterima, sehingga ada pengaruh signifikan antara
variabel bebas dengan variabel terikat.
3. Jika F hitung > F tabel maka H0 di terima, sehingga ada pengaruh signifikan
anata variabel bebas dengan variabel terikat.
4. Jika F hitung < F tabel maka H0 di terima, sehingga ada pengaruh signifikan
anata variabel bebas dengan variabel terikat.

2.2.12 Koefisien Determinasi (R²)


Nilai koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar
perubahan secara dependen mampu menjelaskan variasi variabel tidak bebas.
Nilai 𝑅2 berada pada interval (0≤ R 2 ≥ 1), logikanya adalah semakin baik
estimasi model dalam menggambarkan data, semakin dekat nilai R2 ke nilai 1.
Nilai R2 diperoleh dengan rumus :
1 ( 1−N ) ( N −1 )
R2 = ( )............................................................................ (2.7)
( N−K )
Dimana :
R2 = Koefisien determinasi
R = Nilai korelasi ganda
N = Jumlah Sampel

K = Jumlah variabel bebas

2.2.13 Uji Signifikasi


Derajat signifikansi atau tingkat kepercayaan merujuk pada keyakinan
terhadap tingkat kesalahan yang dinyatakan dalam persentase. Jika tingkat
keyakinan ditetapkan pada 95%, maka tingkat kesalahan yang dapat diterima
adalah 5%. Uji signifikansi biasanya didasarkan pada nilai kesalahan yang sering
dinyatakan dalam interval 1%, 5%, 10%, hingga batas tertentu. Semakin tinggi
persentase yang digunakan, semakin rendah tingkat kepercayaan terhadap hasil
penelitian yang dilakukan. Dalam studi ini, interval yang digunakan adalah 5%.

2.2.14 Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menentukan apakah terdapat korelasi
antara variabel bebas (independen) dalam model regresi. Model regresi yang baik
seharusnya tidak menunjukan adanya korelasi diantara variabel independen.
Untuk mendeteksi keberadaan multikolinearitas dalam model regresi, penelitian
ini menggunakan ukuran VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance. Berikut
adalah cara untuk mendeteksi multikolinearitas:
a. Mempunyai nilai VIF +/- 1
b. Mempunyai angka Tolerance +/- 1
c. Atau tolerance = 1/VIF dan VIF = 1/Tolerance
d. Nilai cutoff yang umumnya dipakai untuk menunjukan adanya -
multikolinearitas adalah nilai VIF >5 dipastikan terjadi multikolinearitas.
Untuk mempermudah dalam melakukan perhitungan secara statistik, maka
analisis yang dilakukan dalam penelitian ini akan diolah dengan bantuan software
statistik SPSS.

2.2.15 Uji Normalitas


Uji normalitas adalah metode statistik yang digunakan untuk menentukan
apakah data dalam suatu dataset mengikuti distribusi normal, yang memiliki
bentuk seperti lonceng simetris. Distribusi normal merupakan asumsi penting
dalam banyak analisis statistik parametrik, seperti uji-t, ANOVA, atau regresi,
sehingga pengujian ini diperlukan untuk memastikan keabsahan analisis yang
dilakukan.
Uji normalitas dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu uji statistik
dan uji grafik. Uji statistik, seperti uji Kolmogorov-Smirnov dan uji Shapiro-
Wilk, memberikan hasil kuantitatif untuk menilai normalitas data, di mana nilai p
> 0,05 menunjukkan bahwa data berdistribusi normal (Ghozali, 2016). Di sisi lain,
uji grafik, seperti histogram, Q-Q plot, dan boxplot, memberikan gambaran visual
untuk mengevaluasi pola distribusi data. Jika data tidak berdistribusi normal,
langkah alternatif seperti transformasi data atau penggunaan metode non-
parametrik dapat dilakukan untuk analisis lebih lanjut (Sugiyono, 2020).
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan di Jalan Sekolah Sungailiat, Kabupaten
Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pemilihan lokasi ini didasarkan
pada keberadaan beberapa sekolah yang beroperasi di ruas jalan tersebut, serta
kedekatannya dengan kawasan perdagangan dan permukiman yang terletak di
sepanjang Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Yos Sudarso, dengan Jalan Sekolah
ini yang menjadi penghubung antara kedua jalan utama tersebut, sehingga
memiliki peranan strategis dalam mobilitas masyarakat. Keberadaan sekolah-
sekolah yang berada di kawasan ini menciptakan tarikan perjalanan yang cukup
besar. yang menjadi fokus utama dalam analisis ini. Berikut merupakan sketsa
lokasi pengamatan analisis tarikan perjalanan Kawasan Pendidikan di Jalan
Sekolah Sungailiat.

Sumber : Google Earth, 2025


Gambar 3.1 Peta Lokasi Penelitian
N

UPTD SDN 1
Sungailiat
Gereja

Permukiman warga

3,5 M
UPTD SDN 1
TK Plus Setia Budi Sungailiat
SD Plus Setia Budi
SMP Plus Setia Budi

MIN 1 Bangka

± 1,9 M

Sumber : Pribadi, 2025


Gambar 3.2 Denah Lokasi Penelitian

3.2 Waktu Penelitian


Penelitian dilakukan pada pukul 06.30 - 7.00 WIB dan pukul 11.00 - 11.30
WIB selama 2 hari kerja. Hal ini dimaksudkan agar data yang diperoleh lebih
lengkap dan dapat mewakili karakteristik perjalanan di Jalan Sekolah Sungailiat.

3.3 Studi Pustaka


Studi kepustakaan merupakan teknik pengumpulan data dengan
mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-
catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang
dipecahkan (Nazir, 1985). Dalam pepelitian studi pustaka bertujuan untuk :
1. Menemukan suatu masalah untuk diteliti.
2. Mencari informasi yang relevan dengan masalah yang akan diteliti.
3. Mengkaji beberapa teori dasar yang relevan dengan masalah yang akan
diteliti.
4. Untuk membuat uraian teoritik dan empirik yang berkaitan dengan faktor,
indikator, variabel dan parameter penelitian yang tercermin di dalam
masalah-masalah yang ingin dipecahkan.
5. Memperdalam pengetahuan peneliti tentang masalah dan bidang yang akan
diteliti.
6. Mengkaji hasil hasil penelitian terdahulu yang ada kaitannya dengan
penelitian yang akan dilakukan. Artinya hasil penelitian terdahulu mengenai
hal yang akan diteliti dan atau mengenai hal yang berkaitan dengan hal yang
akan diteliti.

3.4 Pelaksanaan Survei


Pengambilan sampel dilakukan dengan cara membagikan kuisioner dan
survey pada lokasi penelitian secara sampling dan acak. Ukuran sampel menurut
Bruton (1985) dalam Tamin (2020) untuk jumlah populasi < 50.000 diambil
sebanyak 20% dari total populasi, atau minimum sebanyak 10%. Kuisioner
tersebut berisikan pertanyaan-pertanyaan yang meliputi jarak dari tempat tinggal
ke sekolah. kepemilikan kendaraan, moda yang digunakan, lama perjalanan, serta
pertanyaan-pertanyaan pendukung lainnya.

3.5 Pengumpulan Data


Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan cara
membagikan kuisioner kepada sampel populasi sedangkan data sekunder di
peroleh dari instansi terkait.

3.5.1 Data Primer


Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber asli oleh
peneliti untuk memenuhi kebutuhan penelitian. Dalam penelitian ini data primer
didapatkan melalui penyebaran kuisioner terhadap sampel populasi dari siswa,
guru, dan staf pada sekolah-sekolah di Jalan Sekolah Sungailiat. Data primer yang
didapatkan antara lain:
1. Karakteristik perjalanan
2. Jarak perjalanan
3. Waktu perjalanan
4. Waktu tempuh
5. Kepemilikan kendaraan
6. Pemilihan moda
7. Alasan pemilihan moda
8. Tujuan perjalanan

3.5.2 Data Sekunder


Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan dan dipublikasikan
sebelumnya oleh pihak terkait, biasanya dalam bentuk laporan, statistik, dokumen,
atau arsip. Data ini diperoleh dari sumber seperti badan pemerintah, institusi
penelitian, jurnal ilmiah, buku, atau database online. Pada penelitian ini data
sekunder didapatkkan dari sekolah. Data sekunder yang digunakan pada penelitian
ini adalah sebagai berikut :
1. Data jumlah siswa
2. Data jumlah guru dan staf
3. Luas Sekolah
4. Jumlah kelas
5. Kapasitas kelas
6. Luas kelas rata-rata
7. Luas lantai bangunan sekolah
8. Peta lokasi

3.6 Variabel Penelitian


Variabel-variabel yang berpengaruh dalam perancangan model tarikan
perjalanan ke kawasan Pendidikan jalan sekolah sungailiat adalah sebagai
berikut :

A. Variabel Terikat (Dependent Variable)


Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi karena adanya
variabel bebas, variabel tersebut adalah :
Tarikan Perjalanan (Y)
Merupakan akumulasi kendaraan yang digunakan siswa, guru, atau staf ke
kawasan pendidikan jalan sekolah sungailiat per satuan waktu (misalnya, per hari
atau jam puncak).
B. Variabel Bebas (Independent Variable)
Variabel bebas merupakan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tarikan
perjalanan pada kawasan pendidikan jalan sekolah. Variabel ini diberi simbol X,
adapun variabel-variabel hipotesa yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Jumlah siswa (X1)
Merupakan jumlah seluruh siswa pada setiap sekolah yang ditinjau
2. Jumlah guru dan staf (X2)
Merupakan jumlah guru dan staf pada setiap waktu sekolah yang ditinjau
3. Luas sekolah (X4)
Merupakan luas tanah sekolah secara keseluruhan.
4. Jumlah Kelas (X5)
Merupakan banyak kelas yang terdapat di masing-masing sekolah.
5. Kapasitas Kelas (X6)
Merupakan jumlah siswa yang dapat ditampung dalam satu kelas di setiap
sekolah.
6. Luas kelas rata-rata (X7)
Merupakan luas rata-rata dari kelas di setiap sekolah.
7. Luas lantai bangunan (X8)
Merupakan luas lantai keseluruhan masing-masing sekolah.
8. Kepemilikan kendaraan (X9)
Merupakan kepemilikan kendaraan oleh siswa atau keluarganya (misalnya,
memiliki kendaraan pribadi atau tidak).
9. Pemilihan moda (X10)
Merupakan jenis moda transportasi yang dipilih oleh siswa untuk pergi ke
sekolah (misalnya, berjalan kaki, sepeda, angkutan umum, kendaraan
pribadi).
10. Waktu tempuh (X)
Merupakan rata-rata waktu yang diperlukan siswa untuk mencapai sekolah
dari rumah.
3.7 Perhitungan Jumlah Sampel
Kawasan Pendidikan pada Jalan Sekolah Sungailiat terdapat 5 sekolah yang
terdiri dari 1 Taman Kanak-kanak (TK), 2 Sekolah Dasar (SD), 1 Madrasah
Ibtida’iyah (MI), dan 1 Sekolah Menegan Pertama (SMP). Jumlah populasi
sekolah-sekolah tersebut ditunjukan pada tabel 3.1.

Tabel 3.1 Jumlah Siswa dan Guru di Kawasan Pendidikan Jalan Sekolah
Sungailiat
Jumlah Guru &
No Nama Sekolah Jumlah Siswa Jumlah
Staf
1. TK Plus Setia Budi 91 10 110
SD Plus Setia Budi
2. 309 29 338
Sungailiat
UPTD SD Negeri 1
3. 465 32 497
Sungailiat
4. MIN 1 Bangka 387 30 417
SMP Plus Setia Budi
5. 112 13 125
Sungailiat
Jumlah 1.364 114 1.487
(Sumber : [Link], 2025)

Berdasarkan data tersebut diketahui jumlah siswa pada Kawasan jalan


sekolah sungailiat sebanyak 1.364 orang dan jumlah guru dan staf sebanyak 114
orang. Jumlah total populasi sebanyak 1.487 orang. Berdasarkan tabel 2.1 jumlah
sampel untuk populasi dibawah 50.000 direkomendasikan sebesar 1:5, sehingga
untuk penyebaran kuisioner dilakukan kepada sebanyak 296 orang. Untuk
perincian jumlah sampel dijelaskan pada tabel 3.2.

Tabel 3.2 Jumlah Sampel Kuisioner Kawasan Pendidikan Jalan Sekolah


Sungailiat
No Nama Sekolah Jumlah Siswa & Guru Jumlah Sampel
1. TK Plus Setia Budi 110 22
SD Plus Setia Budi
2. 338 68
Sungailiat
3. UPTD SDN 1 Sungailiat 497 100
4. MIN 1 Bangka 417 84
SMP Plus Setia Budi
5. 123 25
Sungailiat
Jumlah 1.487 296
(Sumber : Dihitung, 2025)

3.8 Teknik Pengolahan Data


Pengumpulan data primer yang digunakan pada penelitian ini adalah
pengumpulan data dengan membagikan kuisioner kepada sampel populasi siswa
dan guru untuk mendapatkan data yang valid.
Setelah didapat data-data yang diperlukan, Pengolahan data yang digunakan
dalam analisis tarikan perjalanan kawasan pendidikan ini mengunakan program
SPSS (Statistical Product and Service Solution) versi 30. SPSS merupakan sebuah
program komputer statistik yang berfungi untuk membantu dalam memproses
data-data statistik secara tepat dan cepat, serta menghasilkan berbagai output yang
dikehendaki oleh para pengambil keputusan.

3.9 Analisis Data dan Pembahasan


Analisis data dilakukan dengan metode analisis regresi untuk mendapatkan
model tarikan perjalanan dengan bantuan program SPSS. Adapun langkah-
langkah analisis data adalah sebagai berikut:
1. Melakukan pengujian terhadap koefisien korelasi dan signifikasi koefisien
korelasi, untuk mengetahui hubungan antar variabel yang diselidiki, baik
antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas, maupun antar variabel
bebas, untuk pengujian ini menggunakan persamaan 2.3.
2. Membuat alternatif model berdasarkan hasil yang diperoleh dari uji
signifikansi koefisien korelasi.
3. Menghitung koefisien persamaan regresi untuk mendapatkan model
tarikan perjalanan pada daerah penelitian dengan persamaan 2.5.
4. Melakukan pengujian statistik terhadap alternatif model yang diuji. Tiga
uji statistik yang dilakukan adalah uji determinasi/ nilai R', uji signifikasi
koefisien regresi/ uji-t dan uji simultan/ uji-F. Selain uji statistik tersebut
juga dilakukan uji kolinearitas untuk mendeteksi masalah
multikolinearitas.
5. Menentukan model terbaik dari beberapa alternatif model berdasarkan
hasil uji statistik dan uji kolinearitas yang dilakukan.

3.10 Diagram Alir Penelitian


Diagram Alir Penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.3

Mulai

Latar Belakang Masalah, Rumusan


Masalah, dan Batasan Masalah

Studi Pustaka

Pengumpulan
Data

Data Primer Data Sekunder

- Karakteristik - Jumlah siswa


perjalanan - Jumlah guru
- Jarak dan staf
perjalanan - Luas sekolah
- Waktu - Jumlah kelas
tempuh - Kapasitas
- Kepemilikan kelas
kendaraan - Luas kelas
- Pemilihan rata-rata
moda - Luas lantai
- Alasan bangunan
pemilihan - Peta lokasi
Pengolahan Data
Pengolahan data menggunakan Software
Statical Product and Service Solution
(SPSS) versi 30

Uji Data

- Uji Koefisien
Korelasi
- Uji Koefisien
Determinasi
- Uji Signifikansi
- Koefisien Regresi
- Uji Kolinearitas

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan dan
Saran

Selesai

Gambar 3.3 Diagram Alir Penelitian

3.11 Time Schedule


Time schedule penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.4
KEMAJUAN PELAKSANAAN
TAHUN 2024 2025
NO
URAIAN PELAKSANAAN
BULAN AGUSTUS DESEMBER JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MAY JUNE JULY
MINGGU KE 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 PERSIAPAN ADMINISTRASI
2 PENGAJUAN JUDUL
PENGUMPULAN MATERI
a. Pendahuluan
3 b. Tinjauan Pustaka
c. Landasan Teori
d. Metode Penelitian
4 SEMINAR PROPOSAL
PENGUMPULAN DATA
5 a. Data Primer
b. Data Sekunder
6 PENGOLAHAN DATA
7 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
8 KESIMPULAN DAN SARAN
SEMINAR HASIL
9
Revisi
SIDANG AKHIR
10
Revisi

Gambar 3.4 Time Schedule/Jadwal Penelitian Tugas Akhir


DAFTAR PUSTAKA

Annisa, R. D., Aini, N., Wicaksono, A., & Anwar, M. R. (2014). Studi Pembuatan
Model Tarikan Pergerakan Orang Pada Pusat Kegiatan Pendidikan Dengan
Metode Analisis Regresi (Studi Kasus: Kampus Universitas Brawijaya).
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, 1(1), pp-164.

Banister, D. (2008). The sustainable mobility paradigm. Transport Policy, 15(2),


73–80.

Bowersox, D. J. (1981). Introduction to Transportation. Macmillan.

Dwipa, Z. S. (2017). Analisis Tarikan Perjalanan Kawasan Pendidikan (Studi


Kasus Jalan Pemuda Sungailiat). Jurnal Fropil, 5(2), 124–133.

Ghozali, I. (2016). Aplikasi Analisis Multivariete SPSS 23.

Guntur, H., & Octaviani, K. (2022). Analisis Tarikan Perjalanan dan Pola Sebaran
Panjang Perjalanan ke Kawasan Pendidikan ( Studi Kasus : Kawasan
Pendidikan Jalan Gatot Subroto , Kabupaten Blora ). Simetris, 16(Desember
2), 25–34.

Handriyadi, M. R., Sarya, G., Rizkiardi, A., & Trimurtiningrum, R. (2021). Studi
Analisis Pemodelan Bangkitan Dan Tarikan Lalu Lintas (Studi Kasus : Sman
1 Taman Dan Smpn 2 Taman Sidoarjo). Extrapolasi, 17(1), 1–10.
Hobbs, F. D. (2016). Traffic Planning and Engineering: Pergamon International
Library of Science, Technology, Engineering and Social Studies. Pergamon.

Litman, T. (2022). Evaluating Transportation Equity: Guidance for Incorporating


Distributional Impacts in Transport Planning. ITE Journal (Institute of
Transportation Engineers), 92(4), 44–49.

Mardiana, D. (2021). Analisis Model Tarikan perjalanan Pada Kawasan


pendidikan di Kota Luwuk (Studi Kasus: Jalan Ki Hajar Dewantara
Kelurahan Karathon Kecamatan Luwuk Kabupaten Banggai). SIPARSTIKA:
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Teknik, 1(1), 29–41.

Morlok, E. K. (1985). Pengantar teknik dan perencanaan transportasi. Erlangga.

Nasution, M. N. (2004). Manajemen Jasa Terpadu. Jakarta: PT Ghalia Indonesia.

Nazir, M. (1985). Metode penelitian. Ghalia Indonesia.

Ortúzar, J. de D., & Willumsen, L. G. (n.d.). MODELLING TRANSPORT.

Pasaribu, A. (1964). Pengantar statistik (Nomor v. 1).

Rodrigue, J. P. (2013). The Geography of Transport Systems. Taylor & Francis.

Sugiyono. (2020). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.

Suryani, D. (2023). Pengembangan Mode Transportasi.

Tamin, O. Z. (2020). Penerapan Konsep Interaksi Tata Guna Lahan-Sistem


Transportasi Dalam Perencanaan Sistem Jaringan Transportasi. Jurnal
Perencanaan Wilayah dan Kota, 8(3), 34–52.

Zulkarnain, D., & Julian, E. S. (2017). Perancangan Sistem Parkir Dengan


Rekomendasi Lokasi Parkir. Jetri : Jurnal Ilmiah Teknik Elektro, 14, 17–28.

Anda mungkin juga menyukai