0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan5 halaman

Malin Kundang: Kisah Anak Durhaka

Kisah ini mengisahkan Malin Kundang, seorang pemuda yang meninggalkan desa miskin untuk mencari kesuksesan di kota, namun melupakan ibunya. Ketika kembali, ia menolak mengakui ibunya dan mengalami kutukan akibat kesombongannya. Pesan moralnya adalah pentingnya menghormati orang tua dan tidak melupakan asal-usul.

Diunggah oleh

syefiorenza
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan5 halaman

Malin Kundang: Kisah Anak Durhaka

Kisah ini mengisahkan Malin Kundang, seorang pemuda yang meninggalkan desa miskin untuk mencari kesuksesan di kota, namun melupakan ibunya. Ketika kembali, ia menolak mengakui ibunya dan mengalami kutukan akibat kesombongannya. Pesan moralnya adalah pentingnya menghormati orang tua dan tidak melupakan asal-usul.

Diunggah oleh

syefiorenza
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tokoh:

- Malin Kundang: [Link] FAIZ

- Ibu : MUNIF M. M.

- Adik : FARIDA NUR AZIZAH

- Ratu (Istri Malingkundang) : LOVENITA

- Tetangga : SYELA FIORENZA H. , GISELLA ALODYA J. D.

Prolog

(Narator masuk ke tengah panggung dengan pakaian sederhana. Latar belakang desa
dengan rumah dan pantai terlihat samar.)

Narator:

Di desa kecil Nanggal Suwung, hidup seorang pemuda bernama Malinkundang bersama
ibunya yang penuh kasih. Hidup mereka sederhana, tapi ambisi Malinkundang mengubah
segalanya. Mari kita dengar kisah ini, tentang cinta, kesombongan, dan doa seorang
ibu.

(Narator keluar, lampu menyala, menampilkan suasana desa.)

Adegan 1: Pengenalan Karakter

(Ibu sedang menjemur pakaian di depan rumah. Adik bermain boneka lusuhnya. Tetangga
Julid datang sambil membawa keranjang, berhenti di depan rumah.)

Tetangga Julid 1: Wah, Mbok. kalian tetap saja hidup miskin, ya HAHAHA.

Tetangga julid 2: Sudah dari jaman jahiliyah, nggak berubah juga ternyata.

Ibu: (tersenyum sabar) Rezeki sudah diatur, mbak. Yang penting kami bersyukur.

Tetangga Julid 1: Iya, iya. Tapi kalau cuma bersyukur tanpa usaha, ya hasilnya
tetap nol gimana sih.

Tetangga julid 2: a wa Anakmu itu, Malingkundang, apa dia nggak malu? Sudah besar
kok masih tinggal di rumah begini?

(Malinkundang muncul dari dalam rumah, mendengar pembicaraan.)

Malinkundang: (dengan nada kesal) Bu, kenapa masih mendengar omongan orang berisik
seperti dia sih,buang-buang tenaga banget.

Tetangga Julid: (tersenyum sinis) Eh, Malin! Mau marah? Udah miskin, minimal sopan
dong sama yang lebih tua.

Tetangga julid 2: Tau tuh dasar kere gak tau diri!

(Tetangga pergi sambil tertawa kecil. Malingkundang duduk di depan rumah,


termenung. Adik mendekat.)

Adik: Kak Malin, jangan dengarkan kata-kata dua orang berisik itu. Dia memang suka
ngomong sembarangan,emang dasar ga punya adab.

Malinkundang: (menghela napas) Tapi dia benar, dik. Aku harus pergi dari sini. Aku
tidak mau hidup begini terus.

(Ibu mendekati mereka.)

Ibu: Kau ingin pergi lagi, Nak

Malinkundang: Iya, Bu. Aku ingin ke kota, mencari kehidupan yang jauh lebih baik
pastinya. Aku janji akan kembali membawa kebahagiaan untuk kita semua.

(Adik terlihat sedih, namun tidak berkata apa-apa. Ibu menatap Malingkundang dengan
lembut.)

Ibu: Kalau itu maumu, pergilah. Tapi jangan lupa siapa dirimu dan darimana asalmu.

(Lampu meredup, menandakan pergantian adegan.)

Adegan 2: Kepergian Malingkundang

(Latar terminal angkutan umum. Malingkundang bersiap menaiki angkutan umum. Ibu dan
Adik mengantarnya. Tetangga Julid terlihat mengintip dari kejauhan.)

Ibu: Nak, ini bekal untuk perjalananmu. Jangan lupa makan dan berdoa.

Adik: Kak, kau benaran kembali, kan?

Malinkundang: Tentu dong, dik. Aku pasti kembali membawa kebahagiaan untuk kita
semua.

(Tetangga Julid mendekat dengan suara nyinyir.)

Tetangga Julid: Eh, Maling. Jangan sampai gagal ya di kota. Kalau gagal, jangan
balik ke sini. Malu-maluin tau.

Malinkundang: (tersenyum tipis) Lihat saja nanti, buk sari. Aku akan pulang sebagai
orang sukses.

(Malinkundang menaiki angkutan umum. Ibu dan Adik melambaikan tangan sambil
menangis. Musik haru mengiringi. Lampu meredup, berganti ke latar kota.)
Adegan 3: Kesuksesan di Kota

(Latar berubah menjadi kota. Malingkundang mengenakan pakaian mewah, sedang


berjalan menuju restoran mewah, seorang wanita cantik berpakaian anggun, tidak
sengaja menabrak dan menjatuhkan dompet dan berkas-berkas yang dibawa oleh malin.)

Ratu: eh yaampun, maaf pak saya tidak senga-ja..

Malinkundang: (malin terkesima melihat paras rupawan wanita di ddepannya) oh tidak


apa-apa santai saja, oh iya nama kamu siapa kalau boleh tau?

Ratu: nama aku nita,kalau kamu?

Malinkundang: nama aku malin

(Malinkundang mengajak Nita untuk makan bersama di restoran mewah itu dan mereka
mulai merasakan ketertarikan satu sama lain)

Adegan 4: Kembali ke desa

(
Latar di desa nanggal suwung, kepulangan malin bertujuan untuk membuktikan pada dua
tetangganya yang julid bahwa saat ini dia telah berhasil menjadi orang yang
sukses,tapi di sisi lain..)

Ratu: Sayang, kau sungguh luar biasa. Liat deh semua orang pada sibuk membicarakan
keberhasilanmu tau.

Malinkundang: (tersenyum sombong) ya iyalah jelas,semua ini kan hasil kerja


kerasku. Aku sudah meninggalkan masa laluku yang lusuh menyedihkan.

Ratu: Hah? masa lalu seperti apa?

Malinkundang: (menghindar) Itu tidak penting. Yang penting adalah siapa aku
sekarang.

(Tetangga Julid melihat dari kejauhan, langsung berlari ke rumah Ibu.)

Tetangga Julid: Mbok! Mbok! Anakmu si Maling sudah pulang. Tapi dia tampak seperti
orang kaya sekarang.

Ibu: (tersenyum penuh harap) Hah benarkah?

(Ibu dan Adik bergegas mendatangi malin. Malin Kundang tampak bersama Ratu, tetapi
wajahnya berubah dingin saat melihat mereka.)
Ibu: Nak, kamu pulang! Ibu sangat merindukanmu.

Malinkundang: (terdiam sejenak, lalu menoleh ke Ratu) Dih siapa sih? Aku tidak
mengenalnya.

Ratu: (berbisik) Siapa wanita tua ini? Jangan-jangan dia pengemis.

Malinkundang: kayanya iya deh.

Adik: Kak,plis lah jangan begitu! Jangan pura-pura lupa! Ini Ibu kita!

Malinkundang: (dingin) Duh pergi sana! Jangan mempermalukanku di depan istriku.

(Ibu terjatuh sambil menangis. Tetangga Julid menonton dari kejauhan, menggeleng-
gelengkan kepala.)

Tetangga Julid1: Ih, lihat tuh anak durhaka! Sudah kuduga dia bakal lupa sama
ibunya.

Tetangga julid2: ew amit-amit anak deh.

(Lampu perlahan meredup.)

Adegan 5: Kutukan Ibu

(Ibu berdoa sambil menangis. Adik memeluknya, mencoba menenangkannya.)

Ibu: Tuhan, jika benar dia anakku, biarkan dia menerima akibat dari kesombongannya.
Jangan biarkan dia lupa dari mana dia berasal.

(Terdengar gemuruh. Malingkundang terjatuh, tubuhnya mulai tumbuh sisik-sisik


layaknya ular. Ratu berteriak ketakutan dan melarikan diri.)

Malinkundang: Tidak! Ibu, maafkan aku!

(Tubuh Malinkundang sepenuhnya membeku tidak bergerak. Tetangga Julid mendekat,


terlihat terpana dan takut.)

Tetangga Julid: Astaga, ini pasti akibat doa ibunya. Aku... aku harus pergi!

Tetangga julid2: iya bener bu ayo pergi!


(Tetangga lari ketakutan. Lampu perlahan meredup, kembali ke Narator.)

Epilog

(Narator berdiri di tengah panggung.)

Narator:

Kesombongan dan melupakan orang tua adalah jalan menuju kehancuran. Sebuah doa
seorang ibu bisa menjadi berkah, namun juga bisa menjadi kutukan. Ingatlah selalu
untuk menghormati dan menghargai mereka yang telah membesarkanmu.

(Lampu perlahan padam. Semua pemain keluar untuk penghormatan.)

TAMAT

Anda mungkin juga menyukai