0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan39 halaman

Teori Kebutuhan dan Perkembangan Anak Toddler

Dokumen ini membahas teori kebutuhan rasa aman dan nyaman menurut Maslow, serta perkembangan anak usia toddler dan prasekolah. Perkembangan anak mencakup aspek motorik, bahasa, personal-sosial, kognitif, dan moral, serta pertumbuhan fisik seperti tinggi dan berat badan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang kejang demam sebagai kondisi yang terjadi pada anak saat demam.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan39 halaman

Teori Kebutuhan dan Perkembangan Anak Toddler

Dokumen ini membahas teori kebutuhan rasa aman dan nyaman menurut Maslow, serta perkembangan anak usia toddler dan prasekolah. Perkembangan anak mencakup aspek motorik, bahasa, personal-sosial, kognitif, dan moral, serta pertumbuhan fisik seperti tinggi dan berat badan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tentang kejang demam sebagai kondisi yang terjadi pada anak saat demam.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori Kebutuhan Rasa Aman Dan Nyaman


Menurut Andina Vita Sutanto & Yuni Fitriana (2017), Abraham
Maslow mengembangkan teori tentang kebutuhan dasar manusia yang
lebih dikenal dengan istilah Hierarki Maslow yang meliputi lima
kategori kebutuhan dasar yaitu : Kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa
aman dan nyaman, kebutuhan rasa cinta, memiliki dan dimiliki,
kebutuhan akan harga diri, kebutuhan aktualisasi diri.
Rasa aman didefinisikan oleh Maslow dalam Potter & Perry
(2017) sebagai sesuatu kebutuhan yang mendorong individu untuk
memperoleh ketentraman, kepastian dan keteraturan dari keadaan
lingkungannya yang mereka tempati. Keamanan adalah kondisi bebas
dari cedera fisik dan psikologis. Kenyamanan / rasa nyaman adalah
suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yaitu
kebutuhan akan ketentraman (suatu kepuasan yang meningkatkan
penampilan sehari-hari), kelegaan (kebutuhan telah terpenuhi), dan
transenden (keadaan tentang sesuatu yang melebihi masalah dan nyeri)
(Potter & Perry, 2017).
B. Konsep Anak usia Toddler
1. Pengertian anak usia toddler
Anak usia toddler merupakan anak yang berada antara rentang usia
12-36 bulan (Soetjiningsih, 2013). Masa ini juga merupakan masa
golden age/masa keemasan untuk kecerdasan dan perkembangan
anak (Loeziana Uce, 2015).
2. Perkembangan anak usia toddler
Perkembangan yang sudah mampu dicapai oleh anak usia toddler
diantaranya sebagai berikut.
a. Perkembangan motorik kasar anak usia toddler

6
7

1) Usia 12-18 bulan anak mampu berdiri sendiri tanpa


berpegangan, membungkuk untuk memungut permainannya
kemudian berdiri tegak kembali secara mandiri, berjalan
mundur lima langkah.
2) Usia 18-24 bulan anak mampu berdiri sendiri tanpa
berpegangan selama 30 detik, anak mampu berjalan tanpa
terhuyung-huyung.
3) Usia 24-36 bulan anak mampu menaiki tangga secara
mandiri, anak dapat bermain dan menendang bola kecil.
b. Perkembangan motorik halus anak usia toddler
1) Usia 12-18 bulan anak mampu menumpuk dua buah kubus,
memasukkan kubus ke dalam kotak.
2) Usia 18-24 bulan anak mampu melakukan tepuk tangan,
melambaikan tangan, menumpuk empat buah kubus,
memungut benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk, anak
bisa menggelindingkan bola ke sasaran.
3) Usia 24-36 bulan anak mampu mencoret-coretkan pensil
diatas kertas (Soetjiningsih, 2013).
c. Perkembangan bahasa
Tahapan perkembangan bahasa pada anak yaitu Reflective
vocalization, Bubbling, Lalling, Echolalia, dan True speech.
Usia 10-16 bulan anak mampu memproduksi kata-kata sendiri,
menunjuk bagian tubuh atau mampu memahami kata-kata
tunggal ; usia 18-24 bulan anak mampu memahami kalimat
sederhana, perbendaharaan kata meningkat pesat, menucapkan
kalimat yang terdiri dari dua kata atau lebih ; usia 24-36 bulan
pengertian anak sudah bagus terhadap percakapan yang sudah
sering dilakukan di keluarga, anak mampu melakukan
percakapan melalui kegiatan tanya-jawab (Soetjiningsih, 2013).
8

d. Perkembangan personal-sosial
Teori Erick Erickson menyatakan perkembangan psikososial
seseorang dipengaruhi oleh masyarakat dibagi menjadi lma
tahap yaitu trust >< mistrust (usia 0-1 tahun), otonomi/mandiri
>< malu/ragu-ragu (usia 2-3 tahun), inisiatif >< rasa bersalah
(usia 3-6 tahun), keaktifan >< rendah diri (usia 6-12 tahun),
identitas >< fungsi identitas (usia 12-20 tahun). Perkembangan
personal-sosial anak pada usia toddler sebagai berikut.
1) Usia 12-18 bulan anak mampu bermain sendiri di dekat
orang dewasa yang sudah dikenal, mampu menunjuk apa
yang diinginkan tanpa menangis, anak mampu mengeluarkan
suara yang menyenangkan atau menarik tangan ibu,
memeluk orang tua, memperlihatkan rasa cemburu atau
bersaing.
2) Usia 18-24 bulan anak mampu minum dari cangkir dengan
dua tangan, belajar makan sendiri, mampu melepas sepatu
dan kaos kaki serta mampu melepas pakaian tanpa kancing,
belajar bernyanyi, meniru aktifitas di rumah, anak mampu
mencari pertolongan apabila ada kesulitan atau masalah,
dapat mengeluh bila basah atau kotor, frekuensi buang air
kecil dan besar sesuai, muncul kontrol buang air kecil
biasanya tidak kencing pada siang hari, mampu mengontrol
buang air besar, mulai berbagi mainan dan bekerja bersama-
sama dengan anak-anak lain, anak bisa mencium orang tua.
3) Usia 24-36 bulan anak mampu menunjukkan kemarahan jika
keinginannya terhalang, mampu makan dengan sendook dan
garpu secara tepat, mampu dengan baik minum dari cangkir,
makan nasi sendiri tanpa banyak yang tumpah, mampu
melepas pakaian sendiri, sering menceritakan pengalaman
baru, mendengarkan cerita dengan gambar, mampu bermain
pura-pura, mulai membentuk hubungan sosial dan mampu
9

bermain dengan anak-anak lain, menggunakan bahasa untuk


berkomunikasi dengan ditambahkan gerakan isyarat.
(Soetjiningsih, 2013).
e. Perkembangan seksualitas Teori psikoseksual oleh Sigmund
Freud menjelaskan bahwa tahap perkembangan anak memiliki
ciri dan waktu tertentu serta diharapkan berjalan secara
kontinyu. Berikut perkembangan psikoseksual anak usia 12-36
bulan menurut Freud.
1) Fase oral (umur 0-1 tahun) Tahap ini anak akan selalu
memasukkan segala sesuatu yang berada di genggamannya
ke dalam mulut. Peran dan tugas ibu disini adalah
memberikan pengertian bahwa tidak semua makanan dapat
dimakan.
2) Fase anal (umur 2-3 tahun) Fungsi tubuh yang memberikan
kepuasan terhadap anus.
3) Fase phallic/oedipal (3-6 tahun) Anak senang memegang
genetalia, anak cenderung akan dekat dengan orang tua yang
berlawanan jenis kelamin (anak perempuan akan lebih dekat
dengan bapak) dan mempunyai rasa persaingan ketat dengan
orang tua sesama jenis (merasa tersaingi oleh bapak dalam
mendapatkan kasih sayang ibu).
4) Fase Laten (6-12 tahun) Anak mulai megeksplor dunia luar,
mulai mencari teman sebaya untuk diajak bermain.
5) Fase Genital Pemusatan seksual pada genetalia, anak belajar
menentukan identitas dirinya, belajar untuk tidak tergantung
dengan orang tua, bertanggung jawab pada dirinya sendiri,
mulai ada perasaan senang dengan lawan jenis (Ridha, 2014).
f. Perkembangan kognitif anak usia toddler Perkembangan
kognitif anak meliputi semua aspek perkembangan anak yang
berkaitan dengan pengertian mengenai proses bagaimana anak
belajar dan memikirkan lingkungan. Kognisi meliputi persepsi
10

(penerimaan indra dan makna yang di indra), imajinasi,


menangkap makna, menilai dan menalar. Semua bentuk
mengenal, melihat, mengamati, memperhatikan,
membayangkan, memperkirakan, menduga dan menilai adalah
kognisi (Sulistyowati, 2019).
Menurut Piaget, perkembangan kognitif anak dibagi dalam
empat tahap, yaitu sebagai berikut.
1) Sensori motor (0-2 tahun) Tahap ini perkembangan panca
indra sangat berpengaruh dalam diri anak. Keinginan
terbesar anak adalah menyentuh atau memegang karena
didorong oleh keinginan untuk mengetahui reaksi dari
perbuatannya.
2) Pra-operasional (usia 2-7 tahun) Anak menjadi egosentris,
sehingga terkesan pelit karena tidak bisa melihat dari sudut
pandang orang lain. Anak memiliki kecenderungan meniru
orang disekitarnya. Usia 6-7 tahun anak sudah mulai
mengerti motivasi, tetapi mereka tidak mengerti cara berpikir
yang sistematis.
3) Operasional konkret (7-11 tahun) Anak mulai berpikir logis
tentang kejadian-kejadian konkrit, proses berpikir menjadi
lebih rasional.
4) Operasional formal (mulai umur 11 tahun)
Perkembangan kemampuan nalar abstrak dan imajinasi lebih
baik, pengertian terhadap ilmu dan teori lebih mendalam
(Sulistyowati, 2019).
Perkembangan kognitif anak toddler dijabarkan sebagai
berikut.
1) Usia 12-18 bulan anak dapat menemukan objek yang
disembunyikan, membedakan bentuk dan warna,
memberikan respon terhadap perintah sederhana,
11

menggunakan trial dan error untuk mempelajari tentang


objek.
2) Usia 18-24 bulan anak mampu menggelindingkan bola
kearah sasaran, membantu atau meniru pekerjaan rumah
tangga, dapat memulai permainan pura-pura, memegang
cangkir sendiri, belajar makan dan minum sendiri, menikmati
gambar sederhana, mengeksplorasi lingkungan, mengetahui
bagianbagian dari tubuhnya.
3) Usia 24-36 bulan anak dapat menunjuk satu atau lebih bagian
tubuhnya ketika diminta, melihat gambar dan dapat
menyebut nama benda dua atau lebih, dapat bercerita
menggunakan paragraf sederhana,menggabungkan dua
sampai tiga kata menjadi kalimat, menggunakan nama
sendiri untuk menyebutkan dirinya. (Soetjiningsih, 2013)
g. Perkembangan moral anak usia toddler Teori Kohlberg
menyatakan perkembangan moral anak sudah harus dibentuk
pada usia toddler. Tahap orientasi hukuman dan kepatuhan
(sekitar usia 2-4 tahun) anak mampu menilai suatu tindakan
apakah baik atau buruk bergantung dari hasilnya berupa
hukuman atau penghargaan. Usia 4-7 tahun anak berada pada
tahap orientasi instrumental naif dimana segala tindakan
ditujukan ke arah pemuasan kebutuhan mereka dan lebih jarang
ditujukan pada kebutuhan orang lain, rasa keadilan konkret.
Timbal balik atau keadilan menjadi landasan mereka (misalkan,
jika kamu memukul tanganku, aku akan memukul tanganmu
juga) tanpa berpikir mengenai loyalitas atau rasa terima kasih
(Wong, 2009).
3. Pertumbuhan anak usia toddler
a. Tinggi badan Rata-rata bertambah tinggi 7,5 per tahun. Rata-rata
toddler usia 2 tahun sekitar 86,6 cm. Tinggi badan pada usia 2
tahun adalah setengah dari tinggi dewasa yang diharapkan.
12

b. Berat badan Rata-rata pertumbuhan berat badan toddler adalah


1,8-2,7 kg pertahun. Rata-rata berat badan toddler usia 2 tahun
adalah 12,3 kg. Pada usia 2,5 tahun berat badan toddler mencapai
empat kali berat lahir.
c. Lingkar kepala Pada usia 1-2 tahun, ukuran lingkar kepala sama
dengan lingkar dada. Total laju peningkatan lingkar kepala pada
tahun kedua adalah 2,5cm, kemudian berkurang menjadi 1,25 cm
per tahun sampai usia 5 tahun.
d. Lingkar Lengan Atas (LAA) Lingkar Lengan Atas mencerminkan
tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang tidak terpengaruh
oleh keadaan cairan tubuh dibandingkan dengan berat badan, laju
tumbuh lambat, dari 11 cm waktu lahir menjadi 16 cm pada satu
tahun, selanjutnya tidak banyak berubah pada umur 1-3 tahun.
e. Karakteristik toddler dengan penonjolan abdomen adalah akibat
otot-otot abdomen yang kurang berkembang.
f. Kaki yang melengkung biasanya menetap selama masa toddler
karena otot kaki harus menahan berat badan tubuh yang relatif
lebih besar (Cahyaningsih, 2011).
C. Konsep anak usia pra sekolah
1. Pengertian anak pra sekolah
Anak usia prasekolah adalah anak usia antara 3-6 tahun, tumbuh
lebih lambat daripada tahun sebelumnya, dan anak prasekolah yang
sehat bertubuh ramping dan tangkap dengan poster tubuh yang tegak
(Kyle & Carman, 2014).
2. Perkembangan anak pra sekolah
Perkembangan Anak Usia Prasekolah Menurut Putra (2014)
menyatakan bahwa perkembangan anak usia prasekolah meliputi :
a. Perkembangan Psikososial (Fase Intiative vs Guilt/ rasa bersalah)
Ciri pada fase ini adalah banyak beriniastif, rasa ingin tahu besar,
sering bertanya, banyak bicara, aktif bermain, bekerja, aktif di
luar rumah. Konflik akan timbul bila anak merasa tidak mampu
13

kemudian ia dicela. Bila fase ini terdapat hambatan akan timbul


kesulitan belajar, pasif, takut, kurang inisiatif.
b. Perkembangan Motorik Pada anak usia 4 tahun perkembangan
motorik kasar kemampuan anak berjalan menjinjit, melompat,
melompat dengan satu kaki, menangkap dan melempar bola dari
atas kepala. Perkembangan motorik halus kemampuan anak
menggunakan gunting dengan lancar, menggambar kotak,
menggambar garis lurus, membuka dan memasang kancing.
Sedangkan pada usia anak 5 tahun kemampuan motorik kasar
kemampuan anak berjalan mundur sambil jinjit, menangkap bola
dan melempar bola dengan baik, melompat dengan kaki
bergantian, sedangkan kemampuan motorik kasar anak dapat
menulis angka dengan huruf, menulis dengan katakata, menulis
nama sendiri, mengikat tali sepatu.
c. Pada masa ini anak sudah mengurangi aktifitas bermain sendiri,
lebih sering berkumpul dengan teman, interaksi sosial selama
bermain meningkat.
d. Perkembangan bicara dan bahasa Menurut Emilda (2015)
menyatakan bahwa perkembangan bicara dan bahasa pada anak
prasekolah diawali dengan adanya kemampuan menyebutkan
hingga empat gambar; menyebutkan satu hingga dua warna;
menyebutkan kegunaan benda; menghitung; mengartikan dua
kata; mengerti empat kata depan; mengerti beberapa kata sifat dan
jenis kata lainnya; menggunakan bunyi untuk mengidentifikasi
objek, orang dan aktivitas; menirukan berbagai bunyi kata;
memahami arti larangan; serta merespon panggilan orang dan
anggota keluarga dekat.
3. Pertumbuhan anak usia pra sekolah
a. Berat Badan Pada masa prasekolah kenaikan berat badan anak
ratarata 2 kg pertahun.
14

b. Tinggi Badan Pada masa prasekolah akan mengalami


pertambahan setiap tahunnya. Pada usia 4 tahun tinggi badan
bertambah 4 cm/tahun.
c. Lingkar Kepala Lingkar kepala berkaitan dengan isi otak, saat
tulang kepala belum menutup masih mungkin bertambah besar.
Perkembangan otak bergantung dari makanan yang bergizi dan
stimulus lingkungan. Pada usia 3 tahun besar otak dan lingkar
kepala bertumbuhnya sebesar 90% dari otak dewasa (Suririnah
(2009), Putra, 2014).
D. Konsep Kejang Demam
1. Pengertian Kejang Demam
Kejang demam (febris seizure/stuip/step) merupakan
kejang yang timbul pada waktu demam karena disebabkan oleh
proses diluar kepala, seperti terdapat infeksi di saluran pernafasan,
telinga, maupun infeksi saluran pencernaan (Marwan, 2017).
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada
kenaikan suhu tubuh (suhu rektal lebih dari, 38° C) akibat suatu
proses ekstra cranial, biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5
tahun (Vebriasa et al., 2016).
Kejang demam dikelompokkan menjadi dua, yaitu kejang
demam sederhana dan kejang demam kompleks. Setelah kejang
demam pertama, 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi
(kekambuhan), dan 9% anak mengalami rekurensi 3 kali atau lebih.
Beberapa penelitian mengatakan rekurensi dari kejang demam akan
meningkat jika terdapat faktor risiko seperti kejang demam pertama
pada usia kurang dari 12 bulan, terdapat riwayat keluarga dengan
kejang demam, dan jika kejang pertama pada suhu <40°C, atau
terdapat kejangdemam kompleks (Deliana, 2016).
2. Etiologi
Penyebab kejang demam Menurut Maiti & Bidinger (2018) yaitu:
Faktor-faktor periental, malformasi otak konginetal
15

a. Faktor Genetika
Faktor keturunan dari salah satu penyebab terjadinya kejang
demam, 25-50% anak yang mengalami kejang demam
memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami kejang
demam.
b. Penyakit infeksi
1) Bakteri : penyakit pada traktus respiratorius,
pharyngitis, tonsillitis, otitis media.
2) Virus : varicella (cacar), morbili (campak), dengue (virus
penyebab demam berdarah)
c. Demam
Kejang demam cenderung timbul dalam 24 jam pertama pada
waktu sakit dengan demam tinggi, demam pada anak paling
sering disebabkan oleh :
1) ISPA
2) Otitis media
3) Pneumonia
4) Gastroenteritis
5) ISK
d. Gangguan metabolisme
Gangguan metabolisme seperti uremia, hipoglikemia, kadar
gula darah kurang dari 30 % pada neonates cukup bulan dan
kurang dari 20 % pada bayi dengan berat badan lahir rendah atau
hiperglikemia
e. Trauma
Kejang berkembang pada minggu pertama setelah kejadian
cedera kepala
f. Neoplasma, toksin
Neoplasma dapat menyebabkan kejang pada usia berapa pun,
namun mereka merupakan penyebab yang sangat penting dari
16

kejang pada usia pertengahan dan kemudian ketika insiden


penyakit neoplastik meningkat
g. Gangguan sirkulasi
h. Penyakit degenerative susunan saraf.
3. Patofisiologi
Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses
oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh
membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan
permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel
neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat
sulit dilalui dengan mudah oleh ion natrium (Na+ ) dan elektrolit
lainnya, kecuali ion klorida (Cl- ). Akibatnya konsentrasi ion K+
dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedang di luar
sel, maka terdapat perbedaan 5 potensial membran yang disebut
potensial membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan
potensial membran diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K
ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan
potensial membran ini dapat diubah oleh :
a. Perubahan konsentrasi ion di ruan ekstraselular
b. Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme,
Kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya
c. Perubahan patofisologi dari membran sendiri karena penyakit
atauketurunan
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1°C akan
mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan
oksigen akan meningkat 20%. Pada anak 3 tahun sirkulasi otak
mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang
dewasa yang hanya 15%. Oleh karena itu kenaikan suhu tubuh
dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam
waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion
natrium akibat terjadinya lepas muatan listrik.
17

Besarnya pelepasan muatan listrik ini mengakibatkan aliran


yang dihantarkan dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran
sel sekitarnya dengan bantuan “neutransmitter” di otak dan terjadi
kejang. Kejang demam yang berlangsung lama (lebih dari 15
menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen
dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh
metabolisme anaerobik, hipotensi artenal disertai denyut jantung
yang tak teratur dan suhu tubuh meningkat yang disebabkan
meningkatnya aktifitas otot dan mengakibatkan metabolisme otak
meningkat (Lestari, 2016).
4. Klasifikasi
Kejang demam dikelompokkan menjadi dua, yaitu kejang demam
sederhana dan kejang demam kompleks.
a. Kejang demam sederhana
Kejang demam yang berlangsung singkat kurang dari 15
menit, dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk
tonik dan klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang
dalam waktu 24 jam.
b. Kejang demam kompleks
Kejang lebih dari 15 menit, kejang fokal atau persial, kejang
berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam (Dervis, 2017).
5. Manifestasi klinis
Umumnya kejang demam berlangsung singkat, berupa
serangan kejang klonik atau tonik klonik bilateral, setelah kejang
berhenti, anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi
setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar
kembali tanpa defisit neurologis. Kejang dapat diikuti oleh
hemiparesis sementara (hemiparesis touch) atau kelumpuhan
sementara yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari.
18

Manifestasi klinis kejang demam pada anak kejang terjadi


apabila demam disebabkan oleh infeksi virus saluran pernapasan
atas, roseola atau infeksi telinga. Namun pada beberapa kasus
tertentu antara lain:
1) Kejang demam terjadi sebagai gejala dari penyakit meningitis
atau masalah serius lainnya.
2) Selain demam yang tinggi, kejang-kejang juga bisa terjadi
akibat penyakit radang selaput otak, tumor, trauma atau
benjolan di kepala serta gangguan elektrolit dalam tubuh.
3) Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam dimana anak
akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku,
kelojotan danmemutar matanya.
4) Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, napas akan
terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya.
Setelah kejang, anak akan segera normal kembali.
5) Kejang biasanya berakhir kurang dari 1 menit.
6) Kejang sendiri terjadi akibat adanya kontraksi otot yang
berlebihan dalam waktu tertentu tanpa bisa dikendalikan.
7) Timbulnya kejang yang disertai demam ini diistilahkan
sebagai kejang demam (convalsio febrillis) atau stuip/step
(Labir & Mamuaya, 2017)
6. Komplikasi
Komplikasi kejang demam meliputi:
a. Kejang Demam Berulang
Faktor risiko terjadinya kejang demam berulang adalah:
1) Riwayat keluarga dengan kejang demam (derajat pertama)
2) Durasi yang terjadi antara demam dan kejang kurang dari 1
jam
3) Usia < 18 bulan
4) Temperatur yang rendah yang membangkitkan bangkitan
kejang
19

b. Epilepsi
Faktor risiko kejang demam yang berkembang menjadi epilepsi
adalah:
1) Kejang demam kompleks
2) Riwayat keluarga dengan epilepsi
3) Durasi demam kurang dari 1 jam sebelum terjadinya
bangkitan kejang
4) Gangguan pertumbuhan neurologis (contoh: cerebralpalsy,
hidrocefalus).
d. Paralisis Todd
Paralisis Todd adalah hemiparesis sementara setelah
terjadinya kejang demam. Jarang terjadi dan perlu
dikonsultasikan ke bagianneurologi. Epilepsi Parsial Kompleks
Dan Mesial Temporal Sclerosis (MTS). Pada pasien epilepsi
parsial kompleks yang berhubungan dengan MTS ditemukan
adanya riwayat kejang demam berkepanjangan.
e. Gangguan Tingkah Laku Dan Kognitif
Meskipun gangguan kognitif, motorik dan adaptif pada
bulan pertama dan tahun pertama setelah kejang demam
ditemukan tidak bermakna, tetapi banyak faktor independen
yang berpengaruh seperti status sosial-ekonomi yang buruk,
kebiasaan menonton televisi, kurangnya asupan ASI dan kejang
demam kompleks.
7. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk penyakit kejang demam adalah :
a. Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi untuk
penyebab demam atau kejang, pemeriksaan dapat meliputi darah
perifer lengkap, gula darah, elektrolit, urinalisi, dan biakan
darah, urin atau feses.
b. Pemeriksaan cairan serebrosphinal dilakukan untuk
menegakkan atau kemungkinan terjadinya meningitis. Pada bayi
20

kecil sering kali sulit untuk menegakkan atau menyingkirkan


diagnosis meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas.
Jika yakin bukam meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan
fungsi lumbal, fungsi lumbal dilakukan pada :
1) Bayi usia kurang dari 12 bulan sangat dianjurkan
2) Bayi berusia 12-18 bulan dianjurkan
3) Bayi lebih usia dari 18 bulan tidak perlu dilakukan
c. Pemeriksaan elektroenselografi (EEG) tidak direkomendasikan,
pemeriksaan ini dapat dilakukan pada kejang demam yang tidak
khas, misalnya kejang demam kompleks pada anak usia lebih
dari 6 tahun, kejang demam fokal.
d. Pemeriksaan CT Scan dilakukan jiak ada indikasi :
1) Kelainan neurologis fokal yang menetap atau kemungkinan
adanya lesi structural di otak
2) Terdapat tanda tekanan intracranial (kesadaran menurun,
muntah berulang, ubun-ubun menonjol, edema pupil)
(Yulianti, 2017).
8. Penatalaksanaan
Menurut Maiti & Bidinger (2018) pengobatan medis saat
terjadi kejang
a. Pemberian diazepam supositoria pada saat kejang sangat efektif
dalam menghentikan kejang, dengan dosis pemberian:
1) 5 mg untuk anak < 3 tahun atau dosis 7,5 mg untuk anak > 3
tahun
2) 4 mg untuk BB < 10 kg dan 10 mg untuk anak dengan BB
> 10 kg 0,5 – 0,7 mg/kgBB/kali
b. Diazepam intravena juga dapat diberikan dengan dosis sebesar
0,2 – 0,5 mg/kg BB. Pemberian secara perlahan – lahan dengan
kecepatan 0,5 – 1 mg/menit untuk menghindari depresi
pernafasan, bila kejang berhenti sebelum obat habis, hentikan
penyuntikan. Diazepam dapat diberikan 2 kali dengan jarak 5
21

menit bila anak masih kejang, Diazepam tidak dianjurkan


diberikan per IM karena tidak diabsorbsi dengan baik.
c. Bila tetap masih kejang, berikan fenitoin per IV sebanyak 15
mg/kg BB perlahan – lahan, kejang yang berlanjut dapat
diberikan pentobarbital 50 mg IM dan pasang ventilator bila
perlu. Bila kejang berhenti dan tidak berlanjut, pengobatan
cukup dilanjutkan denganpengobatan intermitten yang diberikan
pada anak demam untuk mencegah terjadinya kejang demam.
Obat yang diberikan berupa:
1) Antipirentik
Parasetamol atau asetaminofen 10 – 15 mg/kgBB/kali
diberikan 4 kali atau tiap 6 jam. Berikan dosis rendah dan
pertimbangan efek samping berupa hiperhidrosis.
2) Ibuprofen 10 mg/kgBB/kali diberikan 3 kali
3) Antikonvulsan
4) Berikan diazepam oral dosis 0,3 – 0,5 mg/kgBB setiap 8
jam pada saat demam menurunkan risiko berulang
a) Diazepam rektal dosis 0,5 mg/kgBB/hari sebanyak 3
kali perhari. Bila kejang berulang, berikan
pengobatan rumatan dengan fenobarbital atau asamn
valproat dengan dosis asam valproat 15-40
mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis, sedangkan
fenobarbital 3-5 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis.
d. Pengobatan keperawatan saat terjadi kejang demam menurut
adalah:
1) Saat terjadi serangan mendadak yang harus diperhatikan
pertama kali adalah ABC (Airway, Breathing, Circulation)
2) Setelah ABC aman, Baringkan pasien ditempat yang rata
untuk mencegah terjadinya perpindahan posisi tubuh kearah
danger
3) kepala dimiringkan dan pasang sundip lidah yang sudah di
22

bungkus kasa
4) singkirkan benda-benda yang ada disekitar pasien yang
bisa menyebabkan bahaya
5) lepaskan pakaian yang mengganggu pernapasan
6) bila suhu tinggi berikan kompres hangat
7) setelah pasien sadar dan terbangun berikan minum air hangat
8) jangan diberikan selimut tebal karena uap panas akan sulit
dilepaskan.
E. Konsep teori hipertermia
1. Pengertian
Hipertermia adalah suhu inti tubuh di atas kisaran normal karena
kegagalan termoregulasi. Batasan karakteristik pada hipertermia yaitu
postur abnormal, apnea, koma, kulit kemerahan, kejang, takikardi,
takipneu, kulit terasa hangat. Demam adalah suatu kejadian terjadinya
peningkatan suhu tubuh. Demam merupakan kondisi suhu tubuh
diatas 37,5°C, sedangkan hiperpireksia (demam tinggi) adalah
kenaikan suhu tubuh sampai 41°C atau lebih (Pratiwi, 2016).
2. Penyebab
a. Dehidrasi
b. Terpapar lingkungan panas
c. Proses Penyakit (Mis. Infeksi, kanker)
d. Ketidaksesuaian pakaian dengan suhu lingkungan
e. Peningkatan laju metabolism
f. Respon trauma
g. Aktivitas berlebihan
h. Penggunaan incubator
3. Kondisi klinis terkait
a. Proses infeksi
b. Hipertiroid
c. Stroke
d. Dehidrasi
23

e. Trauma
f. Prematuritas
4. Patofisiologi
Jika tingkat panas dalam melebihi 38,5°C, pasien mulai merasa
gelisah, aliran darah menumpuk, aliran darah ke otak, jantung, dan
paru-paru meningkat, aliran darah ke organ berkurang, dan tangan
menjadi dingin. Demam tinggi merangsang pencernaan yang sangat
cepat, jantung di pompa lebih cepat dan laju pernapasan lebih cepat.
Dehidrasi menyebabkan penguapanyang memicu kenaikan suhu, kulit
dan paru-paru. Suhu di atas 41°C akan menyebabkan kerusakan
jaringan otak besar yang menyebabkan kejang pada pasien (Ariani,
2016).
F. Konsep Water Tepid Sponge
1. Pengertian Water Tepid Sponge
Water Tepid Sponge merupakan kombinasi teknik blok dengan
seka. Teknik ini menggunakan kompres blok tidak hanya di satu tempat
saja, melainkan langsung dibeberapa tempat yang memiliki pembuluh
darah besar. Selain itu masih ada perlakuan tambahan yaitu dengan
memberikan seka di beberapa area tubuh sehingga perlakuan yang
diterapkan terhadap pasien pada teknik ini akan semakin komplek dan
rumit dibandingkan dengan teknik lain namun dengan kompres blok
langsung di berbagai tempat ini akan memfasilitasi penyampaian sinyal
ke hipotalamus dengan lebih gencar. Selain itu pemberian seka akan
mempercepat pelebaran pembuluh darah perifer memfasilitasi
perpindahan panas dari tubuh kelingkungan sekitar sehingga
mempercepat penurunan suhu tubuh (Bangun & Ainun, 2017).
Tepid water sponge suatu metode alternatif non farmakologis
untuk menurunkan suhu tubuh. Tepid water sponge adalah sebuah
teknik kompres hangat yang menggabungkan teknik kompres blok pada
pembuluh darah supervisial dengan teknik seka, pemberian tepid
sponge memungkinkan aliran udara lembab membantu pelepasan panas
24

tubuh dengan cara konveksi. Suhu tubuh lebih hangat daripada suhu
udara atau suhu air memungkinkan panas akan pindah ke molekul-
molekul udara melalui kontak langsung dengan permukaan kulit (Dewi,
2016). Menurut Nurlaili, Ain dan Supono (2018) Pelaksanaan tepid
water sponge dilakukan dengan cara mengelap seluruh tubuh dengan
menggunakan waslap lembab hangat selama 15 menit. Efek hangat dari
waslap tersebut dapat memvasodilatasi pembuluh darah sehingga
pembuluh darah lancar.
Penelitian Yuniawati, Wulandari dan Parmilah (2020)
menyebutkan bahwa pemberian tepid water sponge dengan suhu air
hangat 37-40°C berpengaruh dalam penurunan suhu tubuh pada pasien
dengan masalah keperawatan hipertermia. Hal ini disebabkan dengan
pemberian tepid water sponge dengan menyeka tubuh dengan air
hangat akan membuat penurunan suhu tubuh dengan cara konveksi dan
evaporasi. Melalui metode ini panas yang dihantarkan air hangat akan
membuat pori-pori pada tepi kulit melebar sehingga mempercepat
pengeluaran panas melalui evaporasi. Selain itu, dengan cara konveksi
dimana penerapan air hangat yang suhunya lebih rendah dari suhu
tubuh akan mempengaruhi pusat termoregulasi di dalam tubuh,
sehingga tubuh otomatis akan bekerja untuk menurunkan suhu tubuh
minimal 1°C pada pasien demam dengan suhu air 40°C dan dilakukan
evaluasi setelah 15 menit.
2. Manfaat Water Tepid Sponge
Manfaat dari pemberian water tepid sponge adalah menurunkan suhu
tubuh yang sedang mengalami demam, memberikan rasa nyaman,
mengurangi nyeri dan ansietas yang diakibatkan oleh penyakit yang
mendasari demam. Water tepid sponge juga sangat bermanfaat pada
pasien yang memiliki riwayat kejang demam dan penyakit liver (Putra
et al., 2018).
3. Indikasi Tindakan Keperawatan
a. Febris (demam) dengan suhu diatas 38 °C
25

b. Hipertermia
c. Tidak ada luka pada daerah pemberian water tepid sponge
d. Tidak diberikan pada neonatus
4. Mekanisme Pemberian Water Tepid Sponge
Pemberian water tepid sponge pada daerah tubuh akan mengakibatkan
anak berkeringat. Water tepid sponge bertujuan untuk mendorong darah
ke permukaan tubuh sehingga darah dapat mengalir dengan lancar.
Ketika suhu tubuh meningkat dan dilakukan water tepid sponge,
hipotalamus anterior memberi sinyal pada kelenjar keringat untuk
melepaskan keringat. Tindakan ini diharapkan akan terjadi penurunan
suhu tubuh sehingga mencapai keadaan normal kembali (Maharani,
2011).
5. Prosedur Terapi Water Tepid Sponge
Water tepid sponge dilakukan selama 15 menit, apabila dalam 15 menit
setelah dilakukan tepid sponge suhu tubuh belum turun maka tindakan
diberhentikan kemudian hasil tindakan dilaporkan ke perawat ruangan
atau dokter. Pemberian terapi water tepid sponge yang terlalu sering
atau lebih dari 2 kali pemberian dalam 1 waktu akan mengakibatkan
tingkat ketidaknyamanan pada anak meningkat, dan beresiko
mengalami Hipotermia pada anak.
1. Peralatan
a. Baskom
b. Washlap 6 buah
c. Handuk mandi 2 buah
d. Selimut
e. Termometer air
f. Termometer
g. Air dengan Suhu 30-40°C
Terapi Water Tepid Sponge dilakukan dengan menggunakan air
hangat dengan suhu 30-40°C, suhu air disesuaikan dengan suhu
anak pada saat mengalami demam, semakin tinggi demam maka
26

suhu air sebaiknya lebih ditinggikan, hal ini bertujuan untuk lebih
mempercepat pelepasan panas melalui konduksi, konveksi,
radiasi dan evaporasi.
2. Persiapan
a. Jelaskan prosedur dan demonstrasikan kepada keluarga cara
water tepid sponge.
b. Jelaskan manfaat dari dilakukan terapi water tepid sponge pada
anak
3. Prosedur Pelaksanaan
a. Cuci tangan
b. Beri kesempatan pasien untuk buang air sebelum dilakukan
tindakan kompres water tepid sponge.
c. Ukur suhu tubuh pasien dan catat.
d. Buka seluruh pakaian pasien dan alasi pasien dengan handuk
mandi.
e. Tutup tubuh pasien dengan handuk mandi. Kemudian basahkan
washlap atau lap mandi. Letakkan washlap di dahi pasien, aksila,
dan lipatan paha. Menyeka bagian ekstremitas atas dan bawah,
punggung, dan bokong dengan tekanan lembut yang lama, lap
bagian tubuh (Ekstrimitas, punggung, bokong) pasien selama 15
menit. Pertahankan suhu air (30-40°C).
f. Apabila washlap mulai mengering maka rendam kembali dengan
air hangat
g. Lalu ulangi prosedur yang sama.
h. Hentikan prosedur jika pasien kedinginan atau menggigil atau
segera setelah suhu normal
i. Tubuh pasien mendekati normal. Selimuti pasien dengan handuk
mandi dan Keringkan.
j. Pakaikan pasien baju yang tipis dan mudah menyerap keringat.
k. Rapikan alat dan kemudian cuci tangan.
27

l. Catat suhu tubuh pasien sebelum dilakukan tindakan kompres


water tepid sponge, kemudian.
m. Lakukan pegukuran kembali suhu tubuh pasien 15 menit setelah
dilakukan tindakan kompres water tepid sponge
G. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Dalam pengkajian keperawatan menurut Mendri & Prayogi (2018).
a. Data Subjektif
Identitas :
1) Biodata anak mencakup nama, umur, jenis kelamin.
2) Biodata orang tua perlu dipertanyakan untuk mengetahui
statussosial anak meliputi nama, umur, agama, suku/bangsa,
pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat.
3) Riwayat Penyakit
Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang
ditanyakan

4) Apakah betul ada kejang.


Diharapkan ibu atau keluarga yang mengantar dianjurkan
menirukan gerakan kejang si anak.
b. Apakah disertai demam
Dengan mengetahui ada tidaknya demam yang menyertai kejang,
maka diketahui apakah infeksi infeksi memegang peranan dalam
terjadinya bangkitan kejang. Jarak antara timbulnya kejang dengan
demam.
c. Lama serangan
Seorang ibu yang anaknya mengalami kejang merasakan waktu
berlangsung lama. Lama bangkitan kejang kita dapat mengetahui
kemungkinan respon terhadap prognosa dan pengobatan.
d. Pola serangan
1) Perlu diusahakan agar diperoleh gambaran lengkap mengenai
pola serangan apakah bersifat umum, fokal, tonik, klonik.
28

2) Apakah serangan berupa kontraksi sejenak tanpa hilang


kesadaran
3) Apakah serangan berupa tonus otot hilang sejenak disertai
gangguan kesadaran seperti epilepsi akinetik.
4) Apakah serangan dengan kepala dan tubuh mengadakan flexi
sementara tangan naik sepanjang kepala, seperti pada spasme
infantile.
5) Pada kejang demam sederhana kejang ini bersifat umum.
e. Frekuensi serangan
Apakah penderita mengalami kejang sebelumnya, umur berapa
kejang terjadi untuk pertama kali, dan berapa frekuensi kejang per
tahun. Prognosa makin kurang baik apabila kejang timbul pertama
kali pada umur muda dan bangkitan kejang sering timbul.
f. Keadaan sebelum, selama dan sesudah serangan
Sebelum kejang perlu ditanyakan adakah aura atau rangsangan
tertentu yang dapat menimbulkan kejang, misalnya lapar, lelah,
muntah, sakit kepala dan lain-lain. Dimana kejang dimulai dan
bagaimana menjalarnya. Sesudah kejang perlu ditanyakan apakah
penderita segera sadar, tertidur, kesadaran menurun, ada paralise,
menangis dan sebagainya.
g. Riwayat penyakit sekarang yang menyertai
Apakah muntah, diare, truma kepala, gagap bicara (khususnya
pada penderita epilepsi), gagal ginjal, kelainan jantung, Dengue
Hemoragi Fever (DHF) , Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),
Otitis media akut (OMA), Morbili dan lain-lain.
h. Riwayat penyakit dahulu
1) Sebelum penderita mengalami serangan kejang ini ditanyakan
apakah penderita pernah mengalami kejang sebelumnya, umur
berapa saat kejang terjadi untuk pertama kali.
2) Apakah ada riwayat trauma kepala, radang selaput otak, Otitis
media akut (OMA) dan lain-lain.
29

i. Riwayat kehamilan dan persalinan


Kedaan ibu sewaktu hamil per trimester, apakah ibu pernah
mengalami infeksi atau sakit panas sewaktu hamil. Riwayat
trauma, perdarahan per vaginam sewaktu hamil, penggunaan obat-
obatan maupun jamu selama hamil. Riwayat persalinan ditanyakan
apakah sukar, spontan atau dengan tindakan (forcep/vakum),
perdarahan ante partum, asfiksi dan lain-lain. Keadaan selama
neonatal apakah bayi panas, diare, muntah, tidak mau menetek, dan
kejang-kejang.
j. Riwayat imunisasi
Jenis imunisasi yang sudah didapatkan dan yang belum ditanyakan
serta umur mendapatkan imunisasi dan reaksi dari imunisasi. Pada
umumnya setelah mendapat imunisasi difteri, pertusis, dan tetanus
(DPT) efek sampingnya adalah panas yang dapat menimbulkan
kejang.
k. Riwayat perkembangan
Ditanyakan kemampuan perkembangan meliputi:
1) Personal sosial (kepribadian/tingkah laku sosial) berhubungan
dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi, dan berinteraksi
dengan lingkungannya.
2) Gerakan motorik halus berhubungan dengan kemampuan anak
untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan
bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil
dan memerlukan koordinasi yang cermat, misalnya
menggambar, memegang suatu benda, dan lain-lain.
3) Gerakan motorik kasar berhubungan dengan pergerakan dan
sikap tubuh.
4) Bahasa : kemampuan memberikan respon terhadap suara,
mengikuti perintah dan berbicara spontan.
l. Riwayat kesehatan keluarga.
1) Adakah anggota keluarga yang menderita kejang (+25%
30

penderita kejang demam mempunyai faktor turunan)


2) Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit syaraf atau
lainnya.
3) Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit seperti
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare atau penyakit
infeksi menular yang dapat mencetuskan terjadinya kejang
demam.
4) Riwayat sosial
a) Untuk mengetahui perilaku anak dan keadaan
emosionalnya perlu dikaji siapakah yanh mengasuh
anak.
b) Bagaimana hubungan dengan anggota keluarga dan
teman sebayanya.
m. Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan
Ditanyakan keadaan sebelum dan selama sakit bagaimana.
n. Pola kebiasaan dan fungsi ini meliputi :
1) Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
2) Gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan, pengetahuan
tentang kesehatan, pencegahan dan kepatuhan pada setiap
perawatan dan tindakan medis.
3) Bagaimana pandangan terhadap penyakit yang diderita,
pelayanan kesehatan yang diberikan, tindakan apabila ada
anggota keluarga yang sakit, penggunaan obat-obatan
pertolongan pertama.
o. Pola nutrisi
1) Untuk mengetahui asupan kebutuhan gizi anak. Ditanyakan
bagaimana kualitas dan kuantitas dari makanan yang
dikonsumsi oleh anak.
2) Makanan apa saja yang disukai dan yang tidak. Bagaimana
selera makan anak. Berapa kali minum, jenis dan jumlahnya
per hari.
31

p. Pola eliminasi
1) Buang air kecil (BAK) ditanyakan frekuensinya, warnanya,
jumlahnya, secara makroskopis.
2) ditanyakan bagaimana warna, bau, dan apakah terdapat darah,
serta ditanyakan apakah disertai nyeri saat anak kencing.
3) Buang air besar (BAB) ditanyakan kapan waktu BAB, teratur
atau tidak, dan bagaimana konsistensinya lunak,keras,cair atau
berlendir.
q. Pola aktivitas dan latihan
1) Apakah anak senang bermain sendiri atau dengan teman
sebayanya
2) Berkumpul dengan keluarga sehari berapa jam
3) Aktivitas apa yang disukai
r. Pola tidur/istirahat
1) Berapa jam sehari tidur.
2) Berangkat tidur jam berapa.
3) Bangun tidur jam berapa.
4) Kebiasaan sebelum tidur, bagaimana dengan tidur siang.
s. Data Objektif
1) Pemeriksaan Umum
Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat
kesadaran, tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu. Pada
kejang demam sederhana akan didapatkan suhu tinggi
sedangkan kesadaran setelah kejang akan kembali normal
seperti sebelum kejang tanpa kelainan neurologi.

2) Pemeriksaan Fisik
a) Kepala
Adakah tanda-tanda mikro atau makrosepali? Adakah
dispersi bentuk kepala? Apakah tanda-tanda kenaikan
tekanan intrakarnial, yaitu ubun-ubun besar cembung,
32

bagaimana keadaan ubun-ubun besar menutup atau


belum.
b) Rambut
Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta karakteristik
lain rambut. pasien dengan malnutrisi energi protein
mempunyai rambut yang jarang, kemerahan seperti
rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menyebabkan
rasa sakit pada pasien.
c) Muka/ wajah
Paralisis fasialis menyebabkan asimetri wajah; sisi yang
paresis tertinggal bila anak menangis atau tertawa,
sehingga wajah tertarik ke sisi sehat. Adakah tanda rhisus
sardonicus, opistotonus, trimus, Apakah ada gangguan
nervus cranial.
d) Mata
Saat serangan kejang apakah terjadi dilatasi pupil, untuk
itu periksa pupil dan ketajaman penglihatan, keadaan
sklera, dan konjungtiva.
e) Telinga
Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-
tanda adanya infeksi seperti pembengkakkan dan nyeri di
daerah belakang telinga, keluar cairan dari telinga,
berkurangnya pendengaran.
f) Hidung
Apakah ada pernapasan cuping hidung, Polip yang
menyumbat jalan napas, Apakah keluar sekret, bagaimana
konsistensinya, jumlahnya.
g) Mulut
Adakah tanda-tanda sardonicus, cyanosis, Bagaimana
keadaan lidah, Adakah stomatitis, Berapa jumlah gigi
yang tumbuh, Apakah ada caries gigi,
33

h) Tenggorokan
Adakah tanda-tanda peradangan tonsil, Adakah tanda-
tanda infeksi faring, cairan eksudat.
i) Leher
Adakah tanda-tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar
tiroid, Adakah pembesaran vena jugulans.
j) Thorax
Pada infeksi, amati bentuk dada pasien, bagaimana gerak
pernapasan, frekuensinya, irama, kedalaman, adakah
retraksi intercostale? Pada auskultasi, adakah suara napas
tambahan.
k) Jantung
Bagaimana keadaan dan frekuensi jantung serta iramanya,
adakah bunyi tambahan, adakah bradikardi atau
takikardia.
l) Abdomen
Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada
abdomen, bagaimana turgor kulit dan peristaltik usus,
adakah tanda meteorismus, adakah pembesaran lien dan
hepar.
m) Kulit
Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun
warnanya, apakah terdapat edema, hemangioma,
bagaimana keadaan turgor kulit.
n) Ekstremitas
Apakah terdapat oedema, atau paralise terutama setelah
terjadi kejang, bagaimana suhunya pada daerah akral.
o) Genetalia
Adakah kelainan bentuk edema, sekret yang keluar dari
vagina, tanda-tanda infeksi.
34

2. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan
Kejang demam menurut (SDKI, SIKI, DPP PPNI 2017) :
a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit
b. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya
napas
c. Risiko aspirasi dibuktikan dengan penurunan tingkat kesadaran
d. Risiko perfusi perifer tidak efektif dibuktikan dengan trauma
e. Risiko cedera dibuktikan dengan perubahan fungsi psikomotor
35

3. Intervensi
Tabel 1. Tabel Intervensi Keperawatan
No DX Keperawatan Tujuan Rencana tindakan
1. Hipertermia berhubungan Termoregulasi (L.14134, Hal 129) Manajemen Hipertermia (I.15506, Hal 181)
dengan proses penyakit Setelah dilakukan tindakan keperawatan Observasi
selama …x24 jam diharapkan termoregulasi a. Identifikasi penyebab hipertermia.
membaik dengan Kriteria Hasil : b. Monitor suhu tubuh.
a. Menggigil menurun. c. Monitor kadar elektrolit
b. Takikardi menurun. d. Monitor haluaran urine.
c. Suhu tubuh membaik. e. Monitor komplikasi akibat hipertermia
d. Suhu kulit membaik. Terapeutik
a. Sediakan lingkungan yang dingin.
b. Longgarkan atau lepaskan pakaian.
c. Basahi dan kipasi permukaan tubuh
d. Berikan cairan oral
e. Ganti linen setiap hari atau lebih sering jika mengalami
hiperhidrosis (keringat berlebih)
f. Lakukan pendinginan eksternal (mis. Selimut hipotermia atau
kompres dingin pada dahi, leher, dada, abdomen, aksila)
g. Hindari pemberian antipiretik atau aspirin
h. Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi
a. Anjurkan tirah baring
Kolaborasi
a. Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena, jika
perlu.
2. Risiko Cedera Tingkat Cedera (L.14136, Hal 135) Pencegahan Kejang (I.14537, Hal 275)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam Observasi
waktu …x24 jam maka masalah tingkat cedera a. Monitor status neurologis
menurun dengan kriteria hasil : b. Monitor tanda-tanda vital
a. Toleransi aktivitas meningkat Terapeutik
b. Nafsu makan meningkat a. Baringkan pasien agar tidak terjatuh
c. Toleransi makan meningkat b. Rendahkan ketinggian tempat tidur
36

d. Kejadian cedera menurun c. Pasang side-rail tempat tidur


e. Luka/lecet menurun d. Berikan alas empuk di bawah kepala, jika memungkinkan
f. Ketegangan otot menurun e. Jauhkan benda-benda berbahaya terutama benda tajam
g. Fraktur menurun f. Sediakan suction di samping tempat tidur
h. Ekspresi wajah kesakitan menurun Edukasi
i. Gangguan mobilitas menurun a. Anjurkan segera melapor jika merasakan aura
j. Tekanan darah membaik b. Ajarkan keluarga pertolongan pertama pada kejang
k. Frekuensi nadi membaik Kolaborasi
l. Frekuensi napas membaik a. Kolaborasikan pemberian antikonvulsan, jika perlu
m. Pola istirahat/tidur membaik
3. Risiko Aspirasi Tingkat Aspirasi (L.01006, Hal 133) Pencegahan Aspirasi (I.01018, Hal 273)
Setelah dilakukan asuhan keperawaan selama Observasi
…x24 jam diharapkan tingkat aspirasi pada pasien a. Monitor tingkat kesadaran, batuk, muntah dan kemampuan
menurun yang ditandai dengan kriteria hasil: menelan
a. Tingkat kesadaran meningkat b. Monitor status pernapasan
b. Kemampuan menelan meningkat c. Monitor bunyi napas, terutama setelah makan/minum
c. Kebersihan mulut meningkat d. Periksa residu gaster sebelum memberikan asupan oral
d. Dispnea menurun e. Periksa kepatenan selang nasogastrik sebelum memberi
e. Kelemahan otot menurun asupan oral
f. Akumulasi sekret menurun Terapeutik
g. Wheezing menurun a. Posisikan semifowler (30-40 derajat) 30 menit sebelum
h. Batuk menurun memberi asupan oral
i. Sianosis menurun b. Pertahankan posisi semifowler (30-40 derajat) pada pasien
j. Gelisah menurun tidak sadar
k. Frekuensi napas membaik c. Pertahankan kepatenan jalan napas
d. Lakukan penghisapan jalan napas, jika produksi sekret
meningkat
e. Sediakan suction di ruangan
f. Hindari memberi makan melalui selang gastrointestinal, jika
residu banyak
g. Berikan makan dengan ukuran kecil dan lunak
h. Berikan obat oral dalam bentuk cair
Edukasi
a. Anjurkan makan secara perlahan
37

b. Ajarkan strategi mencegah aspirasi


c. Ajarkan teknik mengunyah atau menelan, jika perlu
4 Pola Nafas Tidak Efektif Pola Napas (L.01004, Hal 95) Manajemen Jalan Napas (I.01011, Hal 186)
Setelah dilakukan asuhan keperawaan selama Observasi
…x24 jam diharapkan pola napas pada pasien a. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
membaik yang ditandai dengan kriteria hasil: b. Monitor bunyi napas tambahan
a. Ventilasi semenit meningkat c. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
b. Kapasitas vital meningkat Terapeutik
a. Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-
c. Tekanan ekspirasi meningkat lift
d. Tekanan inspirasi meningkat b. Posisikan semifowler atau fowler
e. Dispnea menurun c. Berikan minum hangat
f. Penggunaan otot bantu napas menurun d. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
g. Pernapasan cuping hidung menurun e. Berikan oksigen, jika perlu
h. Frekuensi napas membaik Edukasi
a. Ajarkan teknik batuk efektif
i. Kedalaman napas membaik
Kolaborasi
a. Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik,
jika perlu
5 Risiko Perfusi Perifer Perfusi Perifer (L.02011, Hal 84) Perawatan Sirkulasi (I.02079, Hal 345)
Tidak Efektif Setelah dilakukan asuhan keperawaan selama Observasi
…x24 jam diharapkan perfusi perifer pada pasien a. Periksa sirkulasi perifer (mis, nadi perifer, edema, pengisian
meningkat yang ditandai dengan kriteria hasil: kapiler, warna, suhu, ankle branchial index)
a. Denyut nadi perifer meningkat b. Identifikasi faktor resiko gangguan sirkulasi (mis. Diabetes,
b. Warna kulit pucat menurun perokok, orang tua, hipertensi dan kadar kolesterol tinggi)
c. Monitor panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak pada
c. Edema perifer menurun ekstremitas
d. Nyeri ekstremitas menurun Terapeutik
e. Kelemahan otot menurun a. Hindari pemasangan infus atau pengambilan darah di area
f. Kram otot menurun keterbatasan perfusi
g. Akral membaik b. Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas dengan
h. Turgor kulit membaik keterbatasan perfusi
c. Hindari pemasangan atau penekanan tourniquet pada area
i. Tekanan darah sistolik membaik
yang cedera
38

j. Tekanan darah diastolik membaik d. Lakukan pencegahan infeksi


e. Lakukan perawatan kaki dan kuku
f. Lakukan hidrasi
Edukasi
a. Anjurkan berolahraga rutin
b. Anjurkan program rehabilitasi vaskuler
c. Ajarkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi (mis.
Rendah lemak jenuh, minyak ikan omega 3)
d. Informasikan tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan
(mis. Rasa sakit yang tidak hilang saat istirahat, luka tidak
sembuh, hilangnya rasa)
39

4. Implementasi
Implementasi merupakan langkah keempat dalam tahap proses
keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan
(tindakan keperawatan) yang telah direncanakan dalam rencana
tindakan keperawatan. Dalam tahap ini perawat harus mengetahui
barbagai hal diantaranya bahaya-bahaya fisik dan perlindungan pada
pasien, teknik komunikasi, kemamapuan dalam prosedur tindakan,
pemahaman tentang hak-hak dari pasien serta dalam memahami tingkat
perkembangan pasien.
Tindakan yang dikerjakan oleh perawat untuk
mengimplementasikan intervensi keperawatan terdiri atas observasi,
terapeutik, edukasi, dan kolaborasi (PPNI, 2018), yaitu :
a. Tindakan Observasi yaitu tindakan yang diajukan untuk
mengumpulkan dan menganalisis data status kesehatan pasien.
Tindakan ini umumnya diawali dengan kata periksa, identifikasi,
atau monitor.
b. Tindakan Terapeutik yaitu tindakan yang secara langsung dapat
berefek memulihkan status kesehatan pasien atau dapat mencegah
perburukan masalah kesehatan pasien dan umumnya
menggunakan kata lakukan, berikan, dan sebagainya.
c. Tindakan Edukasi yaitu tindakan yang ditunjukkan untuk
meningkatkan kemampuan pasien dalam merawat dirinya dengan
membantu pasien dalam memperoleh perilaku baru yang dapat
mengatasi masalah dan umumnya menggunakan kata ajarkan,
anjurkan, latih, dan sebagainya.
d. Tindakan Kolaborasi yaitu tindakan yang membutuhkan
kerjasama baik perawat lainnya maupun profesi kesehatan
lainnya. Tindakan ini membutuhkan gabungan antara
pengetahuan dan keterampilan baik perawat mauput profesi
kesehatan lainnya serta umumnya menggunakan kata kolaborasi,
rujuk, atau konsultasi.
40

5. Evaluasi
Evaluasi adalah fase kelima dan fase terakhir proses keperawatan,
dalam konteks ini aktivitas yang direncanakan, berkelanjutan dan
terarah ketika pasien dan professional kesehatan menentukan kemajuan
kemajuan pasien menuju pencapaian tujuan/hasil dan keefektifan
rencana asuhan keperawatan.
Adapun komponen soap yaitu S (Subjektif) dimana perawat menemui
keluhan pasien yang masih dirasakan setelah dilakukan tindakan
keperawatan, O (Objektif) adalah data yang berdasarkan hasil
pengukuran atau observasi perawat secara langsung pada pasien yang
dirasakan pasien setelah tindakan keperawatan, A (Assessment) adalah
interpretasi dari data subjektif dan data objektif, P (planning) adalah
perencanaan keperawatan yang akan dilanjutkan, dihentikan,
dimodifikasi, atau ditambah dari rencana tindakan keperawatan yang
telah ditentukan sebelumnya.
H. Hasil review literatur jurnal
1. Pertanyaan Klinis (PICOT)
Berisi rumusan pertanyaan klinis yang tepat, sebagai berikut :
a. Problem : Hipertermia
b. Intervention : Terapi water tepid sponge
c. Comparation : Tidak dilakukan
d. Outcome : Suhu tubuh pasien menurun
e. Time : 15-20 menit
Sehingga dapat dirumuskan masalah klinis dari permasalahan
yang ditemukan yaitu “Penerapan terapi water tepid sponge pada anak
kejang demam usia toddler dengan masalah keperawatan hipertermia
di ruang Menur dan Kenanga RSUP dr. Soeradji tirtonegoro Klaten”.
2. Metode Penelusuran Evidence
Pencarian artikel ditetapkan dengan menggunakan jurnal yang
sudah terpublikasi baik nasional maupun international dengan batasan
tahun terbit 2019 sampai dengan 2023 atau 5 tahun terakhir. Pencarian
jurnal dilakukan melalui Science Direct, Research Gate, Google
41

Scholar, Elsevier, dan PubMed pada 07 Maret 2023. Hasil pencarian


melalui pilihan advanced search didapatkan total sebanyak 5 artikel
yang relevan dengan rentang tahun terbit kurang dari 5 tahun dengan
tipe artikel seluruhnya berjenis research articles.
3. Hasil Review Litiatur
Setelah menganalisa artikel yang sudah ditemukan, penulis
menyajikan data dalam tabel.
a. Analisis Jurnal 1
Tabel 2. Tabel Analisis Jurnal 1
Penerapan Tepid Water Sponge Untuk Menurunkan Demam Pada Anak Dengan Kejang Demam Di
Rsud [Link] Ansari Saleh Banjarmasin

P ( Patient/Population) Subyek dalam penelitian ini yaitu satu orang pasien anak dengan
kejang demam yang mengalami hipertermia di Ruang Anak
RSUD Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin dengan kriteria
subyek pasien yang masih mengalami hipertermia (37,5˚C-
38,3˚C), keluarga pasien bersedia menjadi responden, pasien yang
belum pernah mendapatkan tindakan tepid water sponge dan
pasien yang masih berumur 3 tahun.
I (Intervention) Intervensi keperawatan tepid water sponge

C (Comparation) Tidak ada pembanding

O (Outcome) Hasil menunjukan suhu anak sebelum diberikan tepid water


sponge yaitu 38.5˚C dan setelah diberikan tepid water sponge
selama 3 hari yaitu 36.5 ˚C. Intervensi keperawatan tepid water
sponge dilakukan pada pagi dan siang hari dalam rentang waktu
15-20 menit. Dari hasil penelitian ini rata-rata penurunan suhu
dengan nilai 1˚C dan dapat disimpulkan bahwa tepid water
sponge dapat menurunkan suhu tubuh pada anak hipertermia
dengan kejang demam.
T (Time) Tahun 2022
Kesimpulan : Kesimpulan dari penelitian ini adalah tepid water sponge dapat menurunkan suhu tubuh
pada anak yang mengalami demam.

b. Analisis Jurnal 2
Tabel 3. Tabel Analisis Jurnal 2
Penerapan Water Tepid Sponge Pada Anak Demam di Puskesmas Pringsurat Kabupaten
Temanggung

P ( Patient/Population) sampel diambil sebanyak 2 responden yang kemudian diberkan


intervensi kompres hangat dengan water tapid sponge

I (Intervention) Intervensi keperawatan water tepid sponge

C (Comparation) Tidak ada pembanding


42

O (Outcome) Hasil yang diperoleh demam pada kedua kasus mengalami


penurunan setelah dilakukan intervensi selama 3 hari. Kasus I
dari 39,5˚C menjadi 37,3˚C, sementara kasus II dari 39,20C
menjadi 37,2˚C.

T (Time) Tahun 2021


Kesimpulan : Kesimpulan yang diperoleh Water tepid sponge terbukti efektif menurunkan suhu
tubuh pada anak demam.

c. Analisis Jurnal 3
Tabel 4. Tabel Analisis Jurnal 3
Effect of Tepid Sponge on changes in body temperature in children under five who have fever in Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi Hospital

P ( Patient/Population) Responden anak balita yang menderita demam sebanyak 12


orang

I (Intervention) Intervensi keperawatan tepid water sponge

C (Comparation) Tidak ada pembanding

O (Outcome) Sebelum diberikan tepid Sponge semua balita mengalami panas


tinggi (100%) sebanyak 12 responden, setelah diberikan satu
kali pemberian tepid Sponge suhu seluruh responden menjadi
normal (100%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya
pengaruh yang signifikan pemberian tepid Sponge terhadap
perubahan suhu tubuh denganP=0,000 (≤0,05).
T (Time) Tahun 2018
Kesimpulan : Kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat pengaruh tepid Sponge terhadap
perubahan suhu tubuh. Petugas kesehatan diharapkan memberikan tepid Sponge kepada anak balita
yang mengalami peningkatan suhu tubuh.

d. Analisis Jurnal 4
Tabel 5. Tabel Analisis Jurnal 4
The Difference Between the Conventional Warm Compress and Tepid Sponge Technique Warm
Compress in the Body Temperature Changes of Pediatric Patients with Typhoid Fever

P ( Patient/Population) Populasi diambil dari Puskesmas Kampili sedangkan sampel


sebanyak 20 orang diambil dengan menggunakan teknik
purposive sampling.
I (Intervention) Intervensi keperawatan water tepid sponge
C (Comparation) Kompres hangat konvensional dan teknik tepid sponge
O (Outcome) Data hasil uji kemaknaan menggunakan General linear model
repeat measure (nilai p 0,03 untuk kompres hangat konvensional
dan nilai p 0,01 pada kompres hangat teknik tepid sponge)
T (Time) Tahun 2019
43

Kesimpulan : Kesimpulan dari penelitian ini Secara statistik teknik kompres hangat tepid sponge
lebih bermakna dan secara kualitatif perubahan suhu setelah kompresi lebih baik.

e. Analisis Jurnal 5
Tabel 6. Tabel Analisis Jurnal 5
Tepid Sponging And Compress Plaster On Toddlers Who Have A Fever

P ( Patient/Population) 30 orang balita dibedakan menjadi 2 kelompok intervensi

I (Intervention) Intervensi keperawatan tepid sponging dan plester kompres

C (Comparation) Kelompok tepid sponge dan kelompok plester kompres

O (Outcome) Hasil pada kelompok intervensi berupa tepid sponging dengan


mengunakan kain/washlap yang sudah direndam air hangat suhu
34°C di kompres pada daerah dahi ketiak dan selangkangan
(tempat berlalunya pembuluh darah besar) kurang lebih 5-6 kali.
Sedangkan kelompok perlakuan plester kompres pada daerah
bagian dahi, ketiak dan selangkangan. Pengukuran suhu pada
kedua kelompok intervensi dilakukan sebelum dan 30 menit
setalah perlakuan. Rata-rata suhu tubuh sebelum diberikan tepid
sponging 38.29°C mengalami penurunan sebesar 0,82°C
begitupun dengan plester kompres mengalami penurunan
sebesar 0,460C. Uji statistic menggunakan Mann Whitney nilai
P=0,000 < 0,005 (ÿ) yang berarti ada perbedaan yang signifikan
antara lama pemakaian tepid sponging dan plester kompres pada
balita yang mengalami demam.
T (Time) Tahun 2022
Kesimpulan : Kesimpulan dari penelitian ini perawatan tepid sponging lebih baik jika dibandingkan
dengan kompres plester terhadap penurunan suhu tubuh pada balita yang mengalami demam.
44

WEB OF CAUTION (WOC)

Infeksi bakteri dan Rangsangan mekanik dan biokimia.


parasit Gangguan cairan dan elektrolit
Kelainan neurologis
prenatal
Reaksi inflamasi
Perubahan konsentrasi ion
diruang ekstraseluler
Proses demam

Ketidakseimbangan
HIPERTERMIA potensial membran ATP,
ASE Perubahan beda
potensial membrane
sel
Resiko kejang berulang
Pelepasan muatan listrik
semakin meluas keseluruh
Tingkat Cedera (L.14136, Hal
135)
sel maupun membrane sel
Pencegahan Kejang (I.14537, sekitarnya dengan bantuan
Kejang
Hal 275) neutransmiter

Termoregulasi (L.14134, Hal


RISIKO CEDERA 129)
Manajemen Hipertermia Lebih dari 15
(I.15506, Hal 181) menit (KDK)

Kesadaran Menurun
Apnea
Kurang dari menit
Penurunan refleks 15 (KDS)
menelan
Kebutuhan O2 dan
Kontraksi otot energi kontraksi otot
meningkat meningkat
RISIKO ASPIRASI

Metabolisme meningkat RISIKO PERFUSI


PERIFER TIDAK
Tingkat Aspirasi (L.01006, Hal
133) EFEKTIF
Pencegahan Aspirasi (I.01018, Hal Pernafasan meningkat
273)
Perfusi Perifer (L.02011, Hal
84)
Pola Napas (L.01004, Hal 95) POLA NAFAS TIDAK Perawatan Sirkulasi (I.02079,
Manajemen Jalan Napas (I.01011, EFEKTIF Hal 345)
Hal 186)

Gambar 1. Web Of Caution


Sumber referensi: Lestari, 2016.

Anda mungkin juga menyukai