Book
Book
i
Undang-undang No.19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta
Pasal 72
ii
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Perspektif Moral dan Karakter
PENERBIT:
CV. AA. RIZKY
2020
iii
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Perspektif Moral Dan Karakter
Penulis:
Arief Wahyudi, S.H, M.H.
Dr. Deny Setiawan, [Link].
Jamaludin, [Link]., M. Pd.
Penerbit:
CV. AA. RIZKY
Jl. Raya Ciruas Petir, Puri Citra Blok B2 No. 34
Kecamatan Walantaka, Kota Serang - Banten, 42183
Hp. 0819-06050622, Website : [Link]
E-mail: [Link]@[Link]
Anggota IKAPI
No. 035/BANTEN/2019
ISBN : 978-623-6942-27-7
x + 186 hlm, 23 cm x 15,5 cm
iv
PRAKATA
v
Kebangsaan; Bab IX, Penguatan Jati Diri Pendidikan
Kewarganegaraan Melalui Penumbuhan Budaya Politik
Partisipan
Segala upaya telah dilakukan oleh penulis untuk
mewujudkan buku ajar ini dengan baik sebagai
penuntun bagi para pembaca dan mahasiswa dalam
menambah wawasan keilmuwannya mengenai
Pendidikan Kewarganegaraan (Perspektif Moral dan
Karakter). Namun demikian, penulis menyadari masih
banyak kekurangan dalam penyusunan bahan ajar ini.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari para pembaca sebagai masukan
dalam melakukan perbaikan selanjutnya. Akhirnya
penulis berharap, semoga buku ajar ini dapat bermanfaat
bagi para pembaca yang budiman.
Penulis,
vi
DAFTAR ISI
PRAKATA v
DAFTAR ISI vii
BAB I HAKIKAT PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN 1
A. Pendidikan Kewarganegaraan 1
B. Sejarah Singkat Pendidikan Kewarga-
negaraan 3
C. Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan 6
D. Karakteristik Pendidikan
Kewarganegaraan 8
E. Ruang Lingkup Pendidikan Kewarga-
negaraan 9
BAB II DIMENSI DAN SUBSTANSI PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN 13
A. Pendahuluan 13
B. Kecenderungan Global dalam
Pendidikan Kewarganegaraan 17
C. Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan 21
D. Restrukturisasi Isi Kurikulum
Pendidikan Kewarganegaraan dalam
Dimensi Global 29
BAB III PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
PERSPEKTFI MORAL 41
A. Pendahuluan 41
B. Kajian Moral dalam Pendidikan
Kewarga-negaraan 42
vii
C. Moral dalam Konteks Norma, Hukum
dan Peraturan 51
BAB IV PENTINGNYA PENDIDIKAN MORAL BAGI
WARGA NEGARA 55
A. Pendahuluan 55
B. Pendidikan Moral bagi Generasi
Penerus Bangsa 57
C. Pendidikan Moral dalam Upaya
Pengembangan Warga Negara 64
BAB V PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
SEBAGAI PENDIDIKAN KARAKTER
BERORIENTASII MORAL 71
A. Pendahuluan 71
B. Pembahasan 75
C. Penutup 103
BAB VI ETIKA KEWARGANEGARAAN
PERSPEKTIF GLOBAL 105
A. Pendahuluan 105
B. Pembahasan 107
C. Penutup 114
BAB VII PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
DALAM KONTEKS MULTIKULTURALISME
BERORIEN-TASI NILAI MORAL
PANCASILA 119
A. Pendahuluan 119
B. Konsep BTI dalam Konteks Wacana
Multikultralisme 121
C. Pendidikan Multikultural Berorientasi
Nilai-nilai Pancasila 124
D. Penutup 131
viii
BAB VIII PENDIDIKAN MULTIKULTURAL BERBASIS
KEBANGSAAN 135
A. Pendahuluan 135
B. Pendidikan Multikultural untuk
Mutikultural 138
C. Membangun Pendidikan
Multikulturalisme 144
D. Merumuskan Tujuan Pendidikan
Multikul-turalisme Berbasis
Kebangsaan 150
BAB IX PENGATAN JATI DIRI PKN MELALUI
PENUMBUHAN BUDAYA POLITIK
PARTISIPAN 155
A. Pendahuluan 155
B. Penumbuhan Partisipasi Warga
Negara Melalui Budaya Politik
Partisipan 157
C. Membangun Pendidikan
Multikulturalisme 163
D. Penutup 174
DAFTAR PUSTAKA 175
TENTANG PENULIS 184
ix
x
BAB I
HAKIKAT PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN
1
Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945. Dua pengertian ini,
menempatkan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai
program pendidikan pada dimensi politik atau
demokrasi politik. Sedangkan Sapriya (2012), lebih
menempatkan pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
sebagai program pendidikan karakter dan moral.
Sebagaimana dinyatakan, Pendidikan Kewarganegaraan
merupakan program pendidikan untuk membangun
karakter warga negara dengan tujuan akhir agar ia
menjadi warga negara yang cerdas dan baik (to be smart
and good citizens).
Pendidikan Kewarganegaraan sebagai program
pendidikan bagi warga negara, dirancang dan disiapkan
khususnya bagi generasi muda agar dapat berperan
secara aktif sebagai warga negara yang cerdas dan
bertanggung-jawab. Menurut Kerr (Winataputra dan
Budimansyah, 2007: 4), Citizenship Education atau Civics
Education didefinisikan sebagai “… construed broadly to
encompass the preparation of young people for their roles
and responsibilities as citizens and, in particular, the role
of education (trough schooling, teaching, and learning) in
that preparatory process. Definisi ini, menunjukkan
pengertian Pendidikan Kewarganegaraan secara luas
mencakup proses penyiapan generasi muda untuk
mengambil peran dan tanggung jawab sebagai
warganegara. Sementara itu di Indonesia, Pendidikan
Kewarganegraan dirancang sebagai program pendidikan
dengan tujuan mempersiapkan peserta didik menjadi
warga negara yang memiliki komitmen yang kuat dan
konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Hakikat Negara Kesatuan Republik
Indonesia adalah negara kesatuan modern. Negara
kebangsaan adalah negara yang pembentuknya
2
didasarkan pada pembentukan semangat kebangsaan
yaitu tekad suatu masyarakat untuk membangun masa
depan bersama di bawah satu negara yang sama,
walaupun warga masyarakat itu berbeda agama, ras,
etnik, atau golongannya. Ditambahkan oleh Branson
(1999:4), Civic Education dalam konteks demokrasi
adalah pendidikan untuk mengembangkan dan
memperkuat pemerintahan otonom (self goverman).
Pemerintah otonom demokratis berarti negara aktif
terlibat dalam pemerintahannya sendiri untuk
membangun negara kebangsaannya itu bersama seluruh
warga. Oleh karena itu, pengembangan Pendidikan
Kewarganegaraan di Indonesia sebagai program
pendidikan di persekolahan (Somantri, 2001:158) tidak
boleh terlepas dari unsur: 1) kebudayaan Indonesia dan
tujuan pendidikan nasional; 2) dokumen negara,
khususnya Pancasila, UUD 1945 dan perundangan negara
serta sejarah perjuangan bangsa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan
bahwa Pendidikan Kewarganegaraan sebagai program
pendidikan dirancang dengan memfokuskan pada
pembentukan kepribadian yang meliputi aspek religius,
sosio-kultural, berbahasa, berbangsa dan bernegara
untuk menjadi warga negara yang cerdas (civic
knowledge), terampil (civic skills), dan bertanggung jawab
(civic responsibility/dispositions) sehingga dapat
berperan aktif dalam masyarakat sesuai dengan
ketentuan Pancasila dan UUD Negara Republik
Indoinesia Tahun 1945.
3
negaraan sesudah kemerdekaan diawali dengan
pendidikan moral di Indonesia yang berisi nilai-nilai
kemasyarakatan, adat dan agama. Pada tahun 1957,
pelajaran kewarganegaraan membahas cara memperoleh
dan kehilangan kewargaan negara. Pada tahun 1961,
istilah kewarganegaraan berubah menjadi civics yang
membahas tentang sejarah nasional, sejarah Proklamasi,
UUD 1945 Pancasila, pidato-pidato kenegaraan presiden,
pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa.
Pembelajaran civic dilaksanakan dengan meng-
gunakan metode indoktrinasi. Pada tahun 1968,
pemerintah menetapkan kurikulum yang baru dengan
mengganti nama pelajaran Kewargaan Negara menjadi
Pendidikan Kewargaan Negara/PKn. Kemudian diadakan
Seminar Nasional Pengajaran dan pendidikan civic di
Tawangmangu Surakarta tahun 1972 yang menghasilkan
antara lain; menetapkan istilah Ilmu Kewargaan Negara
(IKN) sebagai pengganti civic, dan Pendidikan Kewargaan
Negara sebagai pengganti stilah civic education.
Pada kurikulum tahun 1989, Pendidikan Kewarga-
negaraan diatur dalam Undang-Undang No.2 Tahun 1989
tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 39 ayat 2, yaitu
Pancasila yang mengarah pada dimensi moral,
diharapkan dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-
hari. Kemudian kurikulum 1994, bergulir lebih pada
upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya.
Kurikulum 1994 sebagai salah satu upaya dalam
melaksanakan UU No. 2 Tahun 1989, yaitu memilih
mengintegrasikan antara pengajaran pendidikan
Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan menjadi
PPKn. Kurikulum tahun 2004/kurikulum KBK juga
membawa perubahan nama dari Pendidikan Pancasila
dan Kewarganegaraan menjadi Pendidikan Kewarga-
4
negaraan, isinya meliputi beberapa aspek yaitu,
Pancasila, persatuan dan kesatuan, norma, hukum dan
peraturan, hak asasi manusia, kebutuhan warga negara,
konstitusi negara, kekuasaan dan politik, dan globalisasi.
Tetapi dengan adanya perubahan UU No. 2 Tahun
1989 yang diubah dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional nama pendidikan Pancasila
tidak dieksplisitkan lagi, sehingga berubah nama menjadi
Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan Pancasila
dimasukkan dalam PKn. Begitu pula kurikulum 2004
memperkenalkan istilah pengganti PPKn dengan
Kewarganegaraan/Pendidikan Kewarganegaraan. Peru-
bahan ini juga nampak diikuti dengan perubahan isi PKn
yang lebih memperjelas akar keilmuan yakni politik,
hukum, dan moral (Cholisin, 2004: 57).
Perkembangan paradigma PKn di Indonesia
antara paradigma lama dan paradigma baru untuk
memberikan istilah PKn yang sejalan dengan tuntunan
era reformasi yang sekarang dikembangkan dengan
standar isi. Paradigma baru PKn antara lain memiliki
struktur organisasi keilmuan yang jelas yakni berbasis
pada ilmu politik, hukum, filsafat moral/filsafat Pancasila
dan memiliki visi yang kuat nation and character
building, citizen empowerment (pemberdayaan warga
negara), yang mampu mengembangkan civil society
(masyarakat kewargaan) yang memiliki arti penting
dalam pembaharuan.
Pendidikan Kewarganegaraan yang sejalan
dengan sistem politik demokratis. Paradigma baru ini
merupakan upaya untuk menggantikan paradigma lama
PKn/PPKn, yang antara lain bercirikan struktur keilmuan
yang tidak jelas, materi disesuaikan dengan kepentingan
politik rezim, memiliki visi untuk memperkuat state
5
building (negara otoriter birokratis) yang bermuara pada
posisi warga negara sebagai kaula atau obyek yang
sangat lemah ketika berhadapan dengan penguasa.
Akibat dari kondisi tersebut, PKn semakin sulit untuk
mengembangkan karakter warga negara yang
demokratis (Cholisin, 2008:10).
Sejarah perkembangan PKn di Indonesia
mengalami pergantian nama dari Civics, Kewargaan
Negara, PMP, PMK-Kn, PPKn, PKn, dan dalam kurikulum
2013 kembali menjadi PPKn. Perubahan ini juga nampak
diikuti dengan perubahan isi/konten pendidikan
kewarganegaraan yang lebih memperjelas akar keilmuan
(body of knowledge) yakni: politik, hukum dan moral. Ini
berarti PKn sebagai program pendidikan dirancang
berdasarkan keilmuannya yakni Civic yang
dikembangkan dari: rumpun keilmuan politik (dengan
berfokus pada demokrasi); rumpun keilmuan hukum
(dengan berfokus pada rule of law dan penegakkannya);
dan rumpun keilmuan filsafat moral (dengan berfokus
pada general values/moral/etika).
6
selalu mengalami perubahan.
3. Mempersiapkan warga negara yang mampu
menentukan pilihan yang tepat diantara berbagai
macam alternatif yang terdapat dalam suatu
masyarakat.
4. Mempersiapkan warga negara yang dapat berperan
serta dalam proses pembuatan keputusan melalui
pernyataan pendapat kepada wakil-wakil rakyat, dan
dapat melaksanakan keputusan secara bertanggung
jawab.
Sedangkan mengenai tujuan Pendidikan
Kewarganegaraan di Indonesia untuk tingkat persekolah
antara lain telah diatur dalam Permendiknas Nomor 22
Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan
Dasar dan Menengah. Tujuannya adalah agar peserta
didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Berpikir secara kritis, rasional dan kreatif dalam
menanggapi isu kewarganegaraan.
2. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab,
dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta anti-
korupsi.
3. Berkembang secara positif dan demokratis untuk
membentuk diri berdasarkan karakter-karakter
masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama
dengan bangsa-bangsa lain.
4. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam
percaturan dunia secara langsung atau tidak langsung
dengan memanfaatkan teknologi informasi dan
komunikasi.
7
D. Karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan
Karakteristik merupakan suatu ciri khas yang
menunjukan adanya perbedaan dengan lainnya, begitu
pula pelajaran Pendidikan Kewarganegaran yang
memiliki karakteristik yang membedakan dengan mata
pelajaran yang lainnya yang diajarakan disekolahan pada
umumnya. Adapun karakteristik Pendidikan Kewarga-
negaraan menurut Branson, (1999:4) materi Pendidikan
Kewarganegaraan harus mencakup tiga komponen, yaitu
Civic Knowledge (pengetahuan kewarganegaraan), Civic
Skill (kecakapan kewarganegaraan) dan Civic Disposition
(sikap kewarganegaraan).
Komponen pertama Civic Knowledge “berkaitan
dengan kandungan atau nilai apa yang seharusnya
diketahui oleh warganegara” (Branson, 1999:8). Aspek
ini menyangkut kemampuan akademik keilmuan yang
dikembangkan dari berbagai teori atau konsep politik,
hukum dan moral. Dengan demikian, mata pelajaran
Pendiidkan Kewarganegaraan merupakan bidang kajian
multidisipliner.
Kedua, Civic Skills meliputi keterampilan intektual
(intelectual skills) dan keterampilan berpartisipasi
(participatory skills) dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Contoh keterampilan intelektual adalah
keterampilan dalam merespon berbagai persoalan
politik, missal merancang dialog dengan DPRD. Contoh
keterampilan berpartisipasi adalah keterampilan
menggunakan hak dan kewajiban dibidang hukum,
misalnya segera melapor kepada polisi atas terjadinya
kejahatan yang diketahui.
Ketiga, Civic Dispossitions merupakan dimensi
yang paling subtantif dan esensial dalam mata pelajaran
PKn. Dimensi karakter kewarganegaraan dapat
8
dipandang sebagai ”muara” dari pengembangan kedua
dimensi sebelumnya. Dengan memperhatikan visi, misi,
dan tujuan mata pelajaran PKn, karakteristik mata
pelajaran ini ditandai dengan penekanan pada dimensi
watak, karakter, sikap dan potensi lain yang bersifat
afektif.
Berdasarkan rumusan PP No.19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan antara lain
menyatakan: kurikulum untuk jenis pendidikan umum,
pada jenjang pendidikan menengah, terdiri atas lima
kelompok mata pelajaran, yang salah satunya adalah
PKn, sebagai kelompok mata pelajaran yang
dimaksudkan untuk peningkatkan kesadaran dan
wawasan peserta didik akan status, hak, dan kewajibanya
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara, serta peningkatan kualitasnya dirinya sebagai
manusia. Didalam UU Nomor 20 tahun 2003 tentang
sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa
Pendidikan Kewarganegaraan wajib dimasukkan didalam
kurikulum pendidikan kurikulum pendidikan dasar dan
menengah. Dalam penjelasan pasal 37 Ayat (1) UU
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, menyatakan bahwa Pendidikan Kewarga-
negaraan dimaksudkan untuk membentuk peserta didik
menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan
cinta tanah air.
9
pendidikan dasar dan menengah secara umum meliputi
aspek-aspek sebagai berikut:
1. Persatuan dan kesatuan bangsa, meliputi hidup rukun
dalam perbedaan, cinta lingkungan, kebanggaan
sebagai bangsa Indonesia, sumpah pemuda, keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia, partisipasi
dalam pembelaan negara, sikap positif terhadap
Negara Kesatuan Republik Indonesia, keterbukaan
dan jaminan keadilan.
2. Norma, hukum dan peraturan, meliputi tertib dalam
kehidupan keluarga, tata tertib di sekolah, norma yang
berlaku di masyarakat, peraturan-peraturan daerah,
norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, sistem hukum dan peradilan nasional,
hukum dan peradilan internasional.
3. Hak Asasi Manusia, meliputi hak dan kewajiban anak,
hak dan kewajiban anggota masyarakat, instrumen
nasional dan internasional HAM, pemajuan
penghormatan dan perlindungan HAM.
4. Kebutuhan warga negara, meliputi hidup gotong
royong, harga diri sebagai masyarakat, kebebasan
berorganisasi, kemerdekaan mengeluarkan pendapat,
menghargai keputusan bersama, prestasi diri,
persamaan kedudukan warga negara.
5. Konstitusi negara, meliputi proklamasi kemerdekaan
dan konstitusi yang pertama, konstitusi-konstitusi
yang pernah digunakan di Indonesia, hubungan dasar
negara dengan konstitusi.
6. Kekuasaan dan politik, meliputi pemerintahan desa
dan kecamatan, pemerintahan daerah dan otonomi,
pemerintah pusat, demokrasi dan sistem politik,
budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat
10
madani, sistem pemerintahan, pers dalam masyarakat
demokrasi.
7. Pancasila, meliputi, kedudukan pancasila sebagai
dasar negara dan ideology negara, proses perumusan
pancasila sebagai dasar negara, pengamalan nilainilai
pancasila dalam kehidupan sehari-hari, pancasila
sebagai ideology terbuka.
8. Globalisasi, meliputi: globalisasi di lingkungannya,
politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, dampak
globalisasi, hubungan internasional dan organisasi
internasional, serta mengevaluasi dampak globalisasi.
Berdasarkan ruang lingkup PKn di atas, dapat
dipahami bahwa materi yang ada pada PKn terdiri dari
materi yang bermuatan pada basic keilmuannya yakni
Civics. Dengan muatan materi tersebut, diharapkan PKn
sebagai program pendidikan dapat membekali peserta
didik dengan sejumlah kompetensi (civic competence)
yang meliputi: civic intellectual, civic participation, dan
civic responsibility.
*****
11
12
BAB II
DIMENSI DAN SUBSTANSI PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN
A. Pendahuluan
Di era globalisasi, esksitensi pendidikan kewarga-
negaraan kembali mendapat perhatian penting di
berbagai negara. Di Amerika Serikat, petunjuk dan
standar nasional untuk pendidikan kewarganegaraan
dirancang dalam rangka pembentukan warga negara
yang baik (a good citizenship) (Center for Civic Education,
1994). Di Australia, Pemerintah Federal juga sudah
melaksanakan tiga penelitian penting yang dijadikan
sebagai landasan atau pedoman bagi pengembangan
kurikulum pendidikan kewarganegaraannya. Begitu pun
di Indonesia, pendidikan kewarganegaraan mendapat
perhatian dari pemerintah dan dirancang sebagai bagian
dalam sistem pendidikannya.
Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan secara
umum baik untuk pendidikan dasar dan menengah, pada
prinsipnya sama, yaitu untuk memberikan kompetensi
dasar pada peserta didik dalam hal (1) berpikir secara
kritis, rasional dan kreatif dalam menangani isu
kewarganegaraan; (2) berpartisipasi secara cerdas dan
bertanggung jawab, serta bertindak secara sadar dalam
kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; (3)
pembentukan diri yang didasarkan pada karakter-
karakter positif masyarakat Indonesia dan masyarakat
dunia yang demokratis. Sementara di Perguruan Tinggi
tujuan Pendidikan Kewarganegaraan lebih diarahkan
pada kompetensi utama yaitu membentuk warga negara
13
yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara, dengan
berfokus pada tiga komponen dasar pengembangan,
yaitu (1) Civic knowledge, (2) civic skills, (3) civic
disposition/traits.
Namun demikian kita menyadari bahwa masih
banyak kelemahan dalam Pendidikan Kewarganegaraan,
paling tidak terdiri atas kelemahan pokok, yaitu sebagai
berikut:
1) Kelemahan dalam filosofis Pendidikan Kewarga-
negaraan;
2) Lebih bersifat indoktrinatif dan terlalu menonjolkan
moral behavioristik
3) Terjadi kesenjangan antara materi pelajaran dengan
basic keilmuan dari kewarganegaraan.
4) Terlalu banyak diintervensi oleh kepentingan politik
yang berkuasa.
5) Penekanannya pada pembentukan warga negara yang
“loyalitas”.
6) Kurang mengembangkan kehidupan demokrasi yang
partisipatif.
Sejalan dengan penilaian di atas, Wahab (1999)
mengemukakan beberapa kelemahan yang ada pada
Pendidikan Kewarganegaraan di masa yang lalu, antara
lain:
1) Terlalu menekankan pada aspek nilai moral belaka.
Jadi, menempatkan siswa sebagai obyek yang
berkewajiban untuk menerima nilai-nilai moral
tertentu.
2) Kurang diarahkan pada pemahaman struktur, proses,
dan institusi-institusi negara dengan segala keleng-
kapannya.
3) Pada umumnya bersifat dogmatis dan relatif.
14
4) Berorientasi kepada kepentingan rezim yang
berkuasa.
Sementara Somantri (2001), dalam kajiannya
berkesimpulan bahwa:
a. Mata pelajaran ilmu-ilmu sosial, termasuk juga PKn
terlalu dikuasai oleh hafalan dan pemahaman
mengenai fakta-fakta;
b. Keterkaitan antara buku pelajaran dengan masalah-
masalah sosial dalam masyarakat sangat rendah;
c. Bahan pelajaran sangat membosankan dan tidak
menarik, karena proses mengajar dan belajar selalu
ada dalam kedudukan “passive learning”;
d. Bahan pelajaran kurang membantu peserta didik
dalam mempersiapkan diri ke Perguruan Tinggi,
sementara peserta didik yang putus sekolah/tidak
melanjutkan ke Perguruan Tinggi (80%) hampir tidak
bisa menarik manfaatnnya untuk tugas pekerjaan
maupun hidup sebagai warga negara yang baik.
Menyikapi kelemahan-kelemahan yang ada,
diusulkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan baru,
sebagai tujuan utamanya, hendaknya dapat mengem-
bangkan kompetensi warga negara (civic competence),
akhlak warga negara yang diinginkan (desirable personal
qualities atau civic virtue) dan budaya warga negara (civic
culture), serta nilai dan kepercayaan terhadap demokrasi
(democratic values and beliefs) menuju terbentuknya
kepribadian yang mantap dan mandiri serta memiliki
rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan
(Winataputra, 2002).
Dengan demikian, lebih lanjut upaya pengem-
bangan pendidikan kewarganegaraan di masa yang akan
datang hendaknya:
15
a. Memiliki konsistensi antara tujuan idealnya dengan
struktur program kurikulernya, yang mengacu pada
misi dan fungsi pembentukan kepribadian warga
negara yang mantap dan mandiri serta memiliki rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan;
b. Seimbang antara pengembangan nilai moral dengan
pemahaman struktur, proses dan institusi-institusi
negara dengan segala kelengkapannya;
c. Menerapkan pendekatan pedagogis dan metodologis
yang tidak bernuansa dogmatis-indoktrinatif,
melainkan menumbuhkembangkan budaya berfikir
kritis, sistematis, kreatif, dan inovatif;
d. Terintegrasi dengan konteks disiplin keilmuan dan
lingkungan sosial budanya. (Winataputra, 2002)
Ini berarti pengembangan Pendidikan Kewarga-
negaraan di masa depan, membutuhkan sebuah
paradigma baru sebagai tuntutan globalisasi dan proses
reformasi ke arah “New Indonesian Civic Education”.
Reformasi untuk membangun paradigma baru ini,
dimulai dari aspek yang mendasar, yaitu reorientasi visi
dan misi, revitalisasi fungsi dan peranan, hingga
restrukturisasi isi kurikulum dan materi pembelajaran.
Restrukturisasi isi kurikulum tidak lagi dilakukan
secara formalitas tambal sulam, tetapi yang terpenting
bagaimana membangun “higher levels of knowledge”
sehingga memberi kesempatan pada peserta didik agar
mampu mengambil informasi dari masyarakat dan
menerapkannya dalam kehidupan masyarakat baik
dalam dimensi lokal, nasional, maupun global.
16
B. Kecenderungan Global dalam Pendidikan
Kewarganegaraan
Perkembangan Pendidikan Kewarganegaraan
sejak tahun 1980 mulai diwarnai oleh pentingnya nilai-
nilai demokrasi, yang kemudian masyarakat di berbagai
negara di belahan dunia mulai memahami dan kemudian
menerapkan prinsip-prinsip demokrasi. Hal ini menuntut
sebuah metoda pembelajaran yang mampu mengarahkan
dan mendidik warga negara agar dapat berperan aktif
dalam kehidupan demokrasi dan jalannya pemerintahan.
Sejak tahun 1990, berkembang tren atau kecenderungan
teori dan praktek demokrasi dalam Pendidikan
Kewarganegaraan.
John J. Patrick (Quiqley, 2000:4-7) menuliskan
kecenderungan perkembangan PKn secara global,
menyangkut hal-hal sebagai berikut:
1) Pendidikan Kewarganegaraan memiliki keterkaitan
antara pengetahuan kewarganegaraan (civic know-
ledge), keterampilan dalam kehidupan bermasyarakat
dalam masyarakat (civic skill) dan berkembangnya
nilai-nilai kebajikan dalam masyarakat (civic virtue).
Pengetahuan kewarganegaraan menyangkut prinsip-
prinsip teori demokrasi, jalannya pemerintahan yang
demokratis dan perilaku demokratis masyarakat serta
perbandingan nilai demokrasi antar negara.
Pemahaman ini kemudian akan mengarahkan warga
negara (siswa) untuk memiliki pengetahuan dan
keterampilan warga negara tersebut kemudian
didukung oleh nilai kebajikan dalam masyarakat
seperti saling menghargai, kepribadian, disiplin diri,
toleransi, patriotisme dan tanggung jawab.
2) Pendidikan Kewarganegaraan memiliki pola
pembelajaran yang sistematik mengenai konsep-
17
konsep utama. Konsep utama pola pembelajaran PKn
menyangkut pemerintahan demokratis dan hak-
kewajiban warga negara. Dalam pengajaran digunakan
kriteria untuk mengorganisasi dan menerjemahkan
informasi tentang bentuk dan tugas lembaga politik.
3) Pola pembelajaran yang mengaplikasikan konsep
utama PKn untuk menganalisis berbagai kasus yang
berkembang dalam kehidupan bernegara.
4) Pengembangan keterampilan dan kemampuan siswa
untuk membuat keputusan. Studi kasus dan legal isu
dapat dijadikan guru untuk mendorong siswa agar
mampu membuat keputusan.
5) Analisis perbandingan internasional tentang
pemerintah dan kewarganegaraan. Kebangkitan
demokrasi di dunia mendorong dunia pendidikan
untuk mengembangkan pola pembelajaran PKn. Siswa
dapat didorong untuk mempelajari dan kemudian
membandingkan demokrasi antar negara.
6) Pengembangan keterampilan partisipatoris dan
kebajikan warga negara melalui kegiatan-kegiatan
belajar. Pembelajaran kooperatif dalam kelompok
kecil dapat mengarahkan siswa untuk memahami dan
melaksanakan keterampilan memimpin, resolusi
konflik, kompromi, negosiasi, kritik membangun,
toleransi, civilisasi dan kepercayaan.
7) Penggunaan buku sumber di dalam mengajarkan
kebajikan warga negara (civic virtues).
8) Mempelajari secara aktif pengetahuan, keterampilan
dan kebajikan-kebajikan warga negara.
9) Menghubungkan antara isi dan proses dalam belajar-
mengajar pengetahuan, keterampilan dan kebajikan-
kebajikan warga negara.
18
Dari kesembilan kecenderungan di atas
diharapkan bahwa dalam mengembangkan dan
melaksanakan kurikulum dan pembelajaran di kelas,
guru dapat memahami kebajikan-kebajikan warga
negara, dan keterampilan-keterampilan intelektual dan
partisipasi, tidak terpisahkan sebagai sosok pengetahuan
warga negara (a body of civic knowledge). Hal ini harus
diasumsikan bahwa jika siswa diharapkan dapat berpikir
secara kritis dan bertindak secara efektif, serta pandai
dalam menjawab berbagai isu-isu sosial kemasyarakatan
(virtuously response to a public issue), maka mereka harus
memahami permasalahan-permasalahan, sumber isu dan
alternatif jawaban terhadap isu, serta kemungkinan
akibat dari jawaban-jawaban terhadap permasalahan/isu
tersebut. Semua ini harus didasari oleh pengetahuan
siswa. Penggunaan pengetahuan tersebut adalah untuk
menjelaskan, menilai dan memecahkan isu-isu sosial dan
kemasyarakatan yang pada dasarnya amat bergantung
pada keterampilan proses kognitif siswa.
Perkembangan di atas merupakan kecenderungan
yang terjadi dalam Pendidikan Kewarganegaraan. Di
samping kecenderungan global, Pendidikan Kewarga-
negaraan untuk demokrasi, Pendidikan Kewarga-
negaraan juga dipengaruhi perkembangan global lainnya.
Menurut Wahab (1999) perkembangan tersebut
diantaranya gagalnya penerapan konsep Pendidikan
Kewarganegaraan yang lalu, sebagai akibat dari
penekanan pada kebenaran yang bersifat monovision dan
sama sekali mengabaikan kemungkinan multivision atau
jika itu dilakukan hanya bersifat semu. Multivision ini
akan memungkinkan lahirnya perbedaan, pilihan
alternatif dalam berbagai aspek kehidupan warga negara,
tumbuhnya rasa kebebasan dan persamaan dalam
19
konteks hukum yang berkeadilan dan penghargaan
terhadap hak-hak sipil warga negara.
Pengaruh kecenderungan global lainnya yang
bersifat umum meliputi: “The global economy”,
“Technology and Communications” dan “Population and
environment”. Kecenderungan-kecenderungan global itu
secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi
pula konsep dan pelaksanaan Pendidikan Kewarga-
negaraan seperti yang dikemukakan oleh Cogan (1998:
11) bahwa: “…that current modes of educating for
citizenship will not be sufficient as we enter a new century.
They require that citizens be able to focus upon many
diverse elements, issues and contexts simultaneously …the
central recommendation … that future educational policy
must be based upon a conception of what we describe as
multidimensional citizenship appropriate to the needs and
demands of the early part of the 21st century.
Konseptualisasi warga negara multidimensional
tersebut, mencakup empat dimensi, yaitu: personal,
sosial, temporal dan spatial, yang secara keseluruhan
akan melengkapi konsep dan paradigma baru Pendidikan
Kewarganegaraan. Uraian ini, sekaligus menggambarkan
bahwa di dalam Pendidikan Kewarganegaraan, persoalan
kehidupan warga negaa dalam sistem nilai demokrasi
telah mengalami globalizing (Patrick, 1999). Hal ini
berarti di dalam pengembangan Pendidikan Kewarga-
negaraan saat ini kajian isi/materi kurikulum Pendidikan
Kewarganegaraan, tidak hanya berorientasi dalam
perspektif lokal dan nasional, namun harus
menyesuaikan dengan perkembangan global yang tengah
mengalir membawa nilai-nilai baru, seperti demokrasi
dan civil society.
20
C. Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan
Upaya pemberdayaan warga negara adalah upaya
pembangunan sumber daya manusia, sehingga cara yang
strategis adalah melalui proses pendidikan. Untuk itulah,
paradigma pendidikan yang seharusnya dianut pada era
reformasi adalah “pendidikan untuk pemberdayaan.”
Dalam sistem pendidikan nasional, tanpa menge-
sampingkan mata pelajaran yang lain, mata pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan tentu saja harus lebih
mampu berfungsi secara efektif dalam pemberdayaan
warga negara, sebab objek material mata pelajaran ini
terutama adalah mengenai hak dan kewajiban warga
negara. Dari sinilah perlu dirumuskan visi, misi, dan
peran Pendidikan Kewarganegaraan baru. Pendidikan
Kewarganegaraan dengan paradigma lama jelas tidak
dapat berfungsi sebagai sarana pemberdayaan warga
negara, bahkan sebaliknya justru dapat menjadikan
warga negara semakin tidak berdaya.
Pendidikan Kewarganegaraan paradigma baru
berorientasi pada terbentuknya masyarakat sipil (civil
society), dengan memberdayakan warga negara melalui
proses pendidikan, agar mampu berperan serta secara
aktif dalam sistem pemerintahan negara yang
demokratis. Print [Link] (1999: 25) mengemukakan, civic
education is necessary for the building and consolidation of
a democratic society. Inilah visi Pendidikan
Kewarganegaraan yang perlu dipahami oleh guru, siswa,
dan masyarakat pada umumnya. Kedudukan warga
negara yang ditempatkan pada posisi yang lemah dan
pasif, seperti pada masa-masa yang lalu, harus diubah
pada posisi yang kuat dan partisipatif. Mekanisme
penyelenggaraan sistem pemerintahan yang demokratis
semestinya tidak bersifat top down, melainkan lebih
21
bersifat bottom up. Untuk itulah diperlukan pemahaman
yang baik dan kemampuan mengaktualisasikan
demokrasi di kalangan warga negara, yang hal ini dapat
dikembangkan melalui Pendidikan Kewarganegaraan.
Secara klasik sering dikemukakan bahwa tujuan
Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia adalah untuk
membentuk warga negara yang baik (a good citizen).
Akan tetapi pengertian “warga negara yang baik” itu
pada masa-masa yang lalu lebih diartikan sesuai dengan
tafsir penguasa. Pada masa Orde Lama, warga negara
yang baik adalah warga negara yang berjiwa
“revolusioner”, anti imperialisme, kolonialisme, dan neo
kolonialisme. Pada masa Orde Baru, warga negara yang
baik adalah warga negara yang Pancasilais, manusia
pembangunan dan sebagainya. Sejalan dengan visi
Pendidikan Kewarganegaraan paradigma baru, misi mata
pelajaran ini adalah meningkatkan kompetensi siswa
agar mampu menjadi warga negara yang berperan serta
secara aktif dalam sistem pemerintahan negara yang
demokratis. Agar siswa memiliki kompetensi seperti itu
diperlukan seperangkat pengetahuan dan keterampilan,
serta watak yang mendukung pengembangan
kemampuan tersebut. Sehubungan dengan hal itu,
Suryadi dan Somardi (2000: 5) mengemukakan bahwa
Pendidikan Kewarganegaraan memfokuskan pada tiga
komponen pengembangan, yaitu (1) civic knowledge, (2)
civic skills, dan (3) civic disposition. Inilah pengertian
“warga negara yang baik” yang diharapkan oleh
Pendidikan Kewarganegaraan.
Dengan memperhatikan tiga komponen/dimensi
di atas yang berorientasi pada sistem kehidupan global
maka materi Pendidikan Kewarganegaraan yang memuat
komponen-komponen pengetahuan, keterampilan, dan
22
disposisi kepribadian warga negara, tidak saja fungsional
dalam tataran kehidupan berbangsa dan bernegara
melainkan juga dalam era kehidupan global.
Pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge)
berkaitan dengan materi atau substansi yang harus
diketahui warga negara. Komponen pengetahuan
diwujudkan dalam bentuk pemaknaan terhadap struktur
dasar sistem kehidupan bermasyarakat, berpolitik,
berpemerintahan, dan bernegara. Setiap orang perlu
memiliki kesempatan untuk mempelajari pemerintahan
dan masyarakat madani. Pembekalan materi tersebut
akan membantu siswa membuat pertimbangan yang luas
dan penuh nalar tentang hakekat kehidupan
bermasyarakat, berpolitik, dan berpemerintahan, dan
mengapa politik dan pemerintahan itu diperlukan; tujuan
pemerintahan; ciri-ciri penting pemerintahan (terbatas
dan tidak terbatas); hakekat dan tujuan konstitusi; dan
cara-cara altenatif mengorganisasikan pemerintahan.
Pembelajaran materi ini hendaknya meningkatkan
pemahaman yang lebih banyak tentang hakekat dan
pentingnya masyarakat madani atau jaringan kompleks
asosiasi-asosiasi politik, sosial, dan ekonomi yang
dibentuk secara bebas dan sukarela. Masyarakat madani
bukan hanya mencegah penyelewengan atau pemusatan
kekuasaan yang berlebihan oleh pemerintah; organisasi-
organisasi masyarakat madani berfungsi sebagai
laboratorium publik tempat warga negara belajar
demokrasi dengan cara mempraktekkannya secara
langsung (Suryadi dan Somardi, 2000).
Sementara keterampilan kewarganegaraan (civic
skills), merupakan keterampilan yang dikembangkan dari
pengetahuan kewarganegaraan, agar pengetahuan yang
diperoleh menjadi sesuatu yang bermakna, karena dapat
23
dimanfaatkan dalam menghadapi masalah-masalah
kehidupan berbangsa dan bernegara. Civic skills
mencakup intellectual skills (keterampilan intelektual)
dan participation skills (keterampilan partisipasi).
Keterampilan intelektual yang terpenting bagi
terbentuknya warga negara yang berwawasan luas,
efektif dan bertanggung jawab antara lain adalah
keterampilan berpikir kritis. Keterampilan berpikir kritis
meliputi mengidentifikasi, menggambarkan/mendes-
kripsikan, menjelaskan, menganalisis, mengevaluasi,
menentukan dan mempertahankan pendapat yang
berkenaan dengan masalah-masalah publik.
Keterampilan partisipasi dalam demokrasi telah
digambarkan oleh Aristoteles dalam bukunya Politics
(Branson, dkk., 1999:4) yang menyatakan: “Jika
kebebasan dan kesamaan sebagaimana menurut
sebagian pendapat orang dapat diperoleh terutama
dalam demokrasi, maka kebebasan dan kesamaan itu
akan dapat dicapai apabila semua orang tanpa kecuali
ikut ambil bagian sepenuhnya dalam pemerintahan.”
Dengan kata lain cita-cita demokrasi dapat diwujudkan
dengan sesungguhnya bila setiap warga negara dapat
berpartisipasi dalam pemerintahannya. Pengembangan
keterampilan kewarganegaraan dalam praktek
pembelajaran kewarganegaraan, bisa mengacu pada
rincian seperti dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Keterampilan Kewarganegaraan
Keterampilan
Keterampilan Intelektual
Partisipasi
1. Mengidentifikasi 1. Berinteraksi (termasuk
(menandai/menunjukkan) berkomu-nikasi
dibedakan menjadi tentunya) terhadap
keterampilan: obyek yang berkaitan
24
- Membedakan; dengan masalah-masalah
- Mengelompokkan/mengklas publik, yang termasuk
i-fikasikan; dalam keterampilan ini,
- Menentukan bahwa sesuatu antara lain:
itu asli. - Bertanya, menjawab,
2. Menggambarkan berdiskusi dengan sopan
(memberikan santun;
uraian/ilustrasi), misalnya - Menjelaskan artikulasi
tentang: kepentingan;
- Proses; - Membangun koalisi,
- Lembaga; negoisasi, kompromi;
- Fungsi; - Mengelola konflik secara
- Alat; damai;
- Tujuan; - Mencari konsensus.
- Kualitas. 2. Memantau/memonitor
3. Menjelaskan masalah politik dan
(mengklasifikasi/ pemerintahan terutama
menafsirkan), misalnya dalam penanganan
tentang: persoalan-persoalan
- Sebab-sebab terjadinya publik, yang termasuk
sesuatu peristiwa; keterampilan ini, antara
- Makna dan pentingnya lain:
peristiwa atau ide; - Menggunakan berbagai
- Alasan bertindak. sumber informasi seperti
4. Menganalisis, misalnya perpustakaan, surat
tentang kemampuan kabar, TV, dll untuk
menguraikan: mengetahui persoalan-
- Unsur-unsur atau persoalan publik;
komponen-komponen ide - Upaya mendapatkan
(gagasan), proses politik, informasi tentang
institusi-institusi; persoalan publik dari
- Konsekuensi dari ide, proses kelompok-kelompok
politik, institusi-institusi; kepentingan, pejabat
25
- Memilah mana yang pemerintah, lembaga-
merupakan cara dengan lembaga pemerintah.
tujuan, mana yang Misalnya dengan cara
merupakan fakta dan menghadiri berbagai
pendapat, mana yang pertemuan publik
merupakan tanggung jawab seperti: pertemuan
pribadi dan mana yang organisasi siswa, komite
merupakan tanggung jawab sekolah, dewan sekolah,
publik. pertemuan desa/ BPD,
5. Mengevaluasi pertemuan wali kota,
pendapat/posisi: LSM, dan organisasi
menggunakan kemasyarakatan lainnya.
kriteria/standar untuk
membuat keputusan 3. Mempengaruhi proses
tentang: politik, pemerintah baik
- Kekuatan dan kelemahan secara formal maupun
isu/ pendapat; informal, yang termasuk
- Menciptakan pendapat baru. keterampilan ini, antara
6. Mengambil lain:
pendapat/posisi: - Melakukan simulasi
- Dari hasil seleksi berbagai tentang kegiatan:
posisi; kampanye, pemilu,
- Membuat pilihan baru. dengar pendapat di
7. Mempertahankan DPR/DPRD, pertemuan
pendapat/ posisi: wali kota, lobby,
- Mengemukakan peradilan;
argumentasi berdasarkan - Memberikan suara dalam
asumsi atas posisi yang suatu pemilihan;
dipertahankan/diambil/ - Membuat petisi;
dibela; - Melakukan
- Merespons posisi yang tidak pembicaraan/ memberi
disepakati. kesaksian di hadapan
lembaga publik;
26
- Bergabung atau bekerja
dalam lembaga advokasi
untuk memperjuangkan
tujuan bersama atau
pihak lain;
- Meminta atau
menyediakan diri untuk
menduduki jabatan
tertentu.
Sumber: Diolah dari Center for Civic Education. (1994).
27
jabatan kepemimpinan sesuai dengan bakat dan
kemampuan sendiri;
3. Hormat terhadap harga diri dan martabat
kemanusiaan. Menghormati orang lain berarti
mendengarkan pandangan-pandangannya, berperi-
laku menurut cara yang santun, menghargai hak dan
kepentingan sesama warga negara, dan mematuhi
prinsip aturan mayoritas tetapi dengan menghormati
hak minoritas yang berbeda pandangan dengannya;
4. Berpartisipasi dalam urusan-urusan kemasyarakatan
menurut cara yang penuh pemikiran dan efektif.
Disposisi ini menghendaki wawasan yang luas
sebelum memberikan suara atau berpartisipasi dalam
debat publik, keterlibatan dalam wacana yang santun
dan reflektif, dan memangku kepemimpinan jika
sesuai. Disposisi ini pun menghendaki penilaian
apakah dan kapankah kewajiban seseorang sebagai
warga negara menghendaki bahwa keinginan dan
kepentingan pribadi dikesampingkan demi
kepentingan umum dan penilaian apakah dan
kapankah kewajiban-kewajiban seseorang atau
prinsip-prinsip konstitusi mewajibkan seseorang
untuk menolak harapan-harapan kewarganegaraan
tertentu;
5. Meningkatkan fungsi demokrasi konstitusional yang
sehat. Disposisi ini meliputi wawasan dan perhatian
terhadap urusan-urusan publik, mempelajari dan
memperluas pengetahuan tentang nilai-nilai dan
prinsip-prinsip konstitusi, memantau kepatuhan para
pemimpin politik dan lembaga publik terhadap nilai-
nilai dan prinsip-prinsip konstitusi tersebut dan
mengambil tindakan yang tepat jika mereka tidak
mematuhinya. Disposisi ini pun memberi
28
kecenderungan warga negara untuk bekerja melalui
cara-cara damai dan berdasar hukum untuk
mengubah peraturan hukum yang dianggap tidak bijak
atau tidak adil.
Uraian di atas, menunjukkan bahwa civic
dispositions merupakan komponen penting yang
berkaitan dengan nilai-nilai (values) yang berkontribusi
dalam pembentukan karakter warga negara. Ketiga
komponen tersebut, lebih lanjut perlu dikembangkan,
diklasifikasi guna menghasilkan a body of civic
knowledge, yang dapat memenuhi harapan demokrasi
dan civil society.
29
2) Kecakapan kognitif dari kewarganegaraan demokrasi;
3) Kecapakan partisipasi dari kewarganegaraan
demokratis, dan
4) Keutamaan karakter kewargenegaraan yang
demokratis.
Uraian lengkap mengenai Pendidikan Kewarga-
negaraan Demokratis dapat dilihat pada substansi kajian
kewarganegaraan demokratis, seperti di bawah ini:
1. KNOWLEDGE OF CITIZENSHIP AND GOVERNMENT
IN DEMOCRACY
a. Concepts and principles on the substance of
democracy
b. Perennial issues about the meaning and uses of
core ideas
c. Continuing issues and landmark decisions about
public policy and constitutional interpretation
d. Constitutions and institutions of representative
democratic government
e. Practices of democratic citizenship and the roles
of citizens
f. History of democracy in particular states and the
throughout the world
2. COGNITIVE SKILLS OF DEMOCRATIC CITIZENSHIP
a. Identifying and describing information about
political and civic life
b. Analyzing and explaining information about
political and civic life
c. Synthesizing and explaining information about
political and civic life
d. Evaluating, taking, and defending positions on
public events and issues
e. Thinking critically about conditions of political
and civic life
30
f. Thinking constructively about how to improve
political and civic life
3. PARTICIPATORY SKILLS OF DEMOCRATIC
CITIZENSHIP
a. Interacting with other citizens to promote
personal and common interests
b. Monitoring public events and issues
c. Deliberating and making decisions on public
issues
d. Implementing policy decision on public issues
e. Taking action to improve political and civic life
4. VIRTUES AND DISPOSITIONS OF DEMOCRATRIC
CITIZENSHIP
a. Affirming the common and equal humanity and
dignity of each person
b. Respecting, protecting, and exercising rights
possessed equally by each person
c. Participating responsibility in the political and
civic life of the community
d. Practicing self-government and supporting
government by consent of the governed
e. Exemplifying the moral traits of democratic
citizenship
f. Promoting the common good
Sumber: Patrick, 1999.
31
Pendidikan Kewarganegaraan dimasukkan unsur-unsur;
pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan sikap
terhadap isu-isu global. Hal ini dimaksudkan agar peserta
didik dapat mengembangkan pemikiran kritis tentang
masalah-masalah global yang kompleks dalam
pembelajaran di kelas.
Uraian lengkap mengenai substansi Pendidikan
Kewarganegaraan dalam kurikulum Pendidikan
Kewarganegaraan di Inggris, dapat disajikan seperti di
bawah ini:
Values and Skills and Knowledge and
Key Concepts
Dispositions Aptitudes Understanding
Democracy and Concern for Ability to Topical and
autocracy the common make a contemporary
Co-operation good reasoned issues and
and conflict Belief argument both events at local,
Equality and inhuman verbally and national, EU,
diversity dignity and writing Commonwealth
Fairness, equality Ability to and
justice, the rule Concern to cooperate and international
of law, rules, resolve work levels
law and human conflicts effectively with The nature of
rights A disposition others. democratic
Freedom and to work with Ability to communities,
community and for consider and including how
Individual and others with appreciate the they function
community sympathetic experience of and change
Power and understanding others The
Proclivity to Ability to interdependence
authority
act tolerance of individuals
Rights and
responsibilit; other view and lical and
responsibilities
that is care points voluntary
for others Ability to communities
and oneself; develop a The nature of
premediation problem- diversity,
and solving dissent and
calculation approach social conflict
about the Ability to use Legal and
effect actions modern media moral rights
are likely to and and
have on technology responsibilities
32
others; and critically to of individuals
acceptance of gather and
responsibility information communities
for A critical The nature of
unforeseen or approach to social, moral
unfortunate evidence put and political
consequences before one and challenges
Practice of ability to look faced by
tolerance for fresh individuals and
Judging and evidence communities
acting by a Ability to Britain’s
moral code recognize parliamentary
Courage to forms of political and
defend a manipulation legal systems
point of view and at local,
Willingness persuasion national,
to be open to Ability to European,
changing identify, Commonwealt
one’s respond to and h and
opinions and influence international
attitudes in social, moral level, including
the light of and political how they
discussion challenge and function and
and evidence situations change
Individual The nature and
initiative and responsibilities
effort of citizens as
Civility and consumers,
respect for employees,
the rule of employers and
law family and
Determination community
to act justly members
Commitment The economic
to equal system as it
opportunities relates to
and gender individuals and
equality communities
Commitment Human rights
to active charters and
citizenship issues
Commitment Sustainable
to voluntary development
service and
33
Concern for environmental
human rights issues
Concern for
the
environment
Sumber: Qualifications and Curriculum Authority (1998: 44)
34
and to world and to world and to world
affairs? affairs? affairs?
V. What are the V. What are the V. What are the
roles of the roles of the roles of the
citizen in citizen in citizen in
American American American
democracy? democracy? democracy?
Sumber: Center for Civic Education, 1994: 141-145
35
Secara garis besar mata pelajaran kewarga-
negaraan terdiri dari:
a) Dimensi pengetahuan kewarganegaraan (civic
knowledge) yang mencakup bidang politik, hukum dan
moral. Secara lebih terperinci, materi pengetahuan
kewarganegaraan meliputi pengetahuan tentang
prinsip-prinsip dan proses demokrasi, lembaga
pemerintahan dan non pemerintahan, identitas
nasional, pemerintahan berdasar hukum (rule of law)
dan peradilan yang bebas dan tidak memihak,
konstitusi, sejarah nasional, hak dan kewajiban warga
negara, hak asasi manusia, hak sipil, dan hak politik.
b) Dimensi keterampilan kewarganegaraan (civic skills)
meliputi keterampilan partisipasi dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara, misalnya berperan serta
aktif mewujudkan masyarakat madani (civil society),
keterampilan mempengaruhi dan monitoring jalannya
pemerintahan, dan proses pengambilan keputusan
politik, keterampilan memecahkan masalah-masalah
sosial, keterampilan mengadakan koalisi, kerjasama,
dan mengelola konflik.
c) Dimensi nilai-nilai kewarganegaraan (civic values)
mencakup antara lain percaya diri, komitmen,
penguasaan atas nilai religius, norma dan moral luhur,
nilai keadilan, demokratis, toleransi, kebebasan
individual, kebebasan berbicara, kebebasan pers,
kebebasan berserikat dan berkumpul, dan
perlindungan terhadap minoritas (Depdiknas, 2003).
Mata pelajaran kewarganegaraan merupakan
bidang kajian interdisipliner, artinya materi keilmuan
kewarganegaraan dijabarkan dari beberapa disiplin ilmu
antara lain ilmu politik, ilmu negara, ilmu tata negara,
hukum, sejarah, ekonomi, moral dan filsafat. Dengan
36
memperhatikan visi dan misi mata pelajaran
kewarganegaraan yaitu membentuk warga negara yang
baik, maka selain mencakup dimensi pengetahuan,
karakteristik mata pelajaran kewarganegaraan ditandai
dengan pemberian penekanan pada dimensi sikap dan
keterampilan civics. Jadi, pertama-tama seorang warga
negara perlu memahami dan menguasai dan
pengetahuan yang lengkap tentang konsep dan prinsip-
prinsip politik, hukum, dan moral civics. Setelah
menguasai pengetahuan, selanjutnya seorang warga
negara diharapkan memiliki sikap atau karakter sebagai
warga negara yang baik, dan memiliki keterampilan
kewarganegaraan dalam bentuk keterampilan
berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara serta keterampilan menentukan posisi diri,
serta kecakapan hidup (life skills).
Dari tiga dimensi di atas, kemudian dijabarkan ke
dalam substansi kajian dan uraian materi kajian
Pendidikan Kewarganegaraan, seperti di bawah ini:
Topik
Substansi Uraian Materi Kajian
Kajian
1. Persatuan dan Hidup rukun dalam perbedaan; Cinta
Kesatuan lingkungan; Kebangsaan sebagai
Bangsa bangsa Indonesia; Sumpah Pemuda;
Keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia; Partisipasi dalam
pembelaan negara; Sikap positif
terhadap Negara Kesatuan Republik
Indonesia; Keterbukaan dan jaminan
keadilan.
2. Norma, Hukum, Tertib dalam kehidupan keluarga;
dan Peraturan Tertib di sekolah; Norma yang
37
berlaku di masyarakat; Peraturan-
peraturan daerah; Norma-norma
dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara; Sistem hukum dan
peradilan nasional; Hukum dan
peradilan internasional.
3. Hak Asasi Hak dan kewajiban anak; Hak dan
Manusia kewajiban anggota masyarakat;
Instrumen nasional dan
internasional HAM; Pemajuan, dan
penghormatan HAM.
4. Kebutuhan Hidup gotong royong; Harga diri
Warga Negara sebagai warga masyarakat;
Kebebasan berorganisasi;
Kemerdekaan mengeluarkan
pendapat; Menghargai keputusan
bersama; Prestasi diri; Persamaan
kedudukan warga negara.
5. Konstitusi Proklamasi Kemerdekaan dan
Negara Konstitusi pertama; Konstitusi-
konstitusi yang pernah digunakan di
Indonesia; Hubungan dasar negara
dengan konstitusi.
6. Kekuasaan dan Pemerintahan desa dan kecamatan;
Politik Pemerintahan daerah dan otonomi;
Pemerintahan pusat; Demokrasi dan
sistem politik; Budaya politik;
Budaya demokrasi menuju
masyarakat madani; Sistem
pemeritahan; Pers dalam
masyarakat demokrasi.
7. Pancasila Kedudukan Pancasila sebagai dasar
negara dan ideologi negara; Proses
38
perumusan Pancasila sebagai dasar
negara; Pengamalan nilai-nilai
Pancasila dalam kehidupan sehari-
hari; Pancasila sebagai ideologi
terbuka.
8. Globalisasi Globalisasi di lingkungannya; Politik
luar negeri Indonesia di era
globalisasi; Dampak globalisasi;
Hubungan internasional dan
internasional; dan Mengevaluasi
globalisasi.
Sumber: Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22
Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah
39
yang core atau intinya relevan dan tidak bertentangan
dengan sistem demokrasi.
Artinya bahwa restrukturisasi isi kurikulum PKn
di Indonesia dalam dimensi global telah meliputi
komponen: civic knowledge, civic skills, dan civic values/
dispositions, bagaimanapun jangan terlepas dari “akar”
nya; membentuk warga negara Indonesia yang
demokratis, cerdas, dan “religius”. Hal ini sejalan dengan
muatan cita-cita, nilai, dan konsep demokrasi yang
seyogyanya menjadi isi dari PKn pada dasarnya diangkat
dari pilar-pilar demokrasi konstitusional Indonesia
(Sanusi, 1998) yang antara lain meliputi: demokrasi yang
ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, demokrasi yang
menjunjung tinggi hak asasi manusia, demokrasi yang
berkedaulatan rakyat, demokrasi dengan kecerdasan
warga negara, demokrasi dengan pembagian kekuasaan
negara, demokrasi dengan otonomi daerah, demokrasi
dengan “rule of law”, demokrasi dengan peradilan yang
merdeka, demokrasi dengan kesejahteraan masyarakat,
dan demokrasi dengan keadilan sosial.
*****
40
BAB III
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
PERSPEKTFI MORAL
A. Pendahuluan
Dalam konteks berbangsa dan bernegara, manusia
yang hadir menjadi warganegara merupakan ikatan
komitmen atas kaidah aturan baku yang disepakati
bersama. Aturan-aturan dengan prinsip mengikat dan
memaksa semata-mata dijadikan alat untuk
mengendalikan semua unsur yang terdapat didalam
tatanan kehidupan manusia, agar dapat terwujud
ketertiban dalam kehidupan bermasyrakat, berbangsa
dan bernegara. Hubungan emosional dan sosial dalam
wujud relasi, interaksi dan komunikasi adalah
keniscayaan. Oleh karenanya, mengedepankan
kenyamanan, ketertiban dan stabilitas menjadi suatu
keharusan dan harus bisa diselenggarakan selama
kehidupan tersebut berlangsung.
Manusia sebagai warganegara menjadi bagian
utama dengan segala potensi yang dimilikinya, disamping
harus berhubungan dengan relasi antar sesama, ia juga
dituntut untuk mampu menjaga dan melestarikan tempat
yang menjadi media relasi sebagai wahana berinteraksi
dan komunikasi, karena teritorial adalah salah satu unsur
yang kuat sebagai pembuktian keberadaan manusia
hadir di dalam alam semesta ini. Oleh karena itu, untuk
terwujudnya kehidupan bersama yang nyaman dan tertib
dalam suatu territorial melalui relasi antar sesame, sikap,
perilaku dan tindakan manusia harus memper-
timbangkan dan mengedepankan prinsip-prinsip moral.
41
B. Kajian Moral dalam Pendidikan Kewarganegaraan
Kata moral secara etimologis, dimaknai dalam
bahasa Latin mos/mores yang berarti tata-cara atau adat-
istiadat. Penerjemahan kamus besar bahasa Indonesia
moral disebut sebagai akhlak, budi pekerti, atau susila.
Oleh karenanya, moral menjadi kata yang sering disama
artikan dengan etika. Etika dalam bahasa Yunani disebut
ethos artinya kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan,
sikap atau cara berfikir. Dalam bahasa Arab, moral kerap
disematkan pada telaah ahlak yang dalam bahasa arab
sendiri ahlak adalah perangai, watak atau tabiat yang
menetap kuat dalam jiwa manusia dan merupakan
sumber timbulnya perbuatan tertentu dari dirinya secara
mudah dan ringan, tanpa perlu dipikirkan dan
direncanakan sebelumnya.
Beberapa ahli dalam kajian moral dalam
padangan etika menurut Bertens, (1993) mengartikan
moral sebagai; 1) sistem nilai mengenai benar dan salah
yang dianut suatu kelompok atau kumpulan manusia di
dalam kehidupan; 2) kumpulan asas atau nilai yang
berkenaan dengan akhlak atau kepribadian yang
menjadikan identitas atau karakteristik; 3) llmu tentang
pengetahuan atas apa yang baik dan apa yang buruk dan
tentang hak dan kewajiban moral.
Moral dalam pendekatan telaah etika sebagai
kajian ilmu, dijabarkan oleh Bertens (1993) dan Suseno
(1987), yang membagi moral menjadi beberapa bagian
yakni:
1. Etika deskriptif yaitu ilmu yang mempelajari tingkah
laku moral dalam arti luas, sebatas menggambarkan
atau memperkenalkan dan sama sekali tidak
memberikan penilaian moral.
42
2. Etika normatif yaitu ilmu yang mempelajari tentang
bagaimana tujuan merumuskan prinsip-prinsip etis
yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional
dan dapat diterapkan dalam perbuatan nyata dalam
memberikan penilaian tingkah laku moral
berdasarkan norma-norma tertentu kemudian
menjadi sebuah nilai konsensus atua yang disepakati
3. Meta-etika yaitu ilmu yang mempelajari tentang
bahasa-bahasa moral baik secara nalar moral dalam
bahasa-bahasa yang memuat moralitas
4. Moral dalam telaah perspektif objektivistik yaitu
bagaimana baik dan buruk itu bersifat pasti atau tidak
berubah. Suatu perilaku yang dianggap baik akan
tetap baik, bukan kadang baik atau kadang tidak baik.
Baik dan buruk bersifat mutlak, sepenuhnya, dan
tanpa syarat; pandangan universal prinsip-prinsip
moral.
5. Moral dalam perspektif relativistik yaitu bagaimana
memandang baik dan buruk suatu perilaku bersifat
relatif, “tergantung” kepada konteks, kultural, situasi,
atau masing-masing individu terbatas kepada dimensi
ruang dan waktu.
Dimensi moral selalu terkait dengan nilai (value)
yang dimaknai sebagai sesuatu yang berharga atau
penghargaan. Nilai adalah sesuatu sesuatu yang
dijunjung tinggi yang menjiwai tindakan manusia. Nilai
merupakan preferensi yang tercermin dari perilaku
seseorang, sehingga seseorang akan melakukan atau
tidak melakukan sesuatu akan tergantung pada sistem
nilai yang dipegangnya (Hall, [Link]., 1982). Dengan
demikian, konsep nilai terkait erat dengan konsep moral.
Nilai akan selalu berhubungan dengan kebaikan dan
kebajikan sebagai sesuatu yang berharga dan dijunjung
43
tinggi. Nilai memang merupakan konsep yang abstrak,
namun menurut Raths, [Link]. (1966) konsep nilai bisa
dipelajari dengan memahami indikator-indikatornya,
seperti antara lain:
1. Nilai memberi tujuan atau arah (goals or purpose)
kepada sesorang dalam menentukan tujuan dan arah
kehidupannya.
2. Nilai memberi aspirasi (aspirations) kepada seseorang
untuk hal yang berguna dan positif bagi
kehidupannya.
3. Nilai mengarahkan seseorang untuk bersikap
(attitudes) sesuai dengan moralitas masyarakat atau
menjadi pedoman bagi seseorang dalam bertingkah-
laku.
4. Nilai terkait dengan keyakinan atau kepercayaan
(beliefts and convictions) dari seseorang terhadap
nilai-nilai tertentu yang diyakininya sebagai sesuatu
yg paling berharga.
5. Nilai menuntut adanya aktivitas (activities) perbuatan
atau tingkah laku tertentu sesuai dengan nilai
tersebut.
Sedangkan kaitan moral dengan norma menjadi
sebuah telaah yang lainnya, namun masih tetap saling
terkait. Norma adalah aturan, ukuran, patokan, atau
kaidah bagi pertimbangan dan penilaian atas perilaku
manusia. Norma dijadikan petunjuk tingkah laku yang
harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam hidup
sehari-hari, berdasarkan suatu alasan tertentu yang
disertai sanksi. Dengan demikian, norma menjadi
petunjuk sikap dan perilaku moral manusia dalam
kehidupan sehari-hari baik berdasarkan norma agama,
norma kesusilaan, norma kesopanan, dan norma hukum.
Suseno (1987) membedakan norma menjadi dua, yakni:
44
norma umum yang terdiri dari norma moral dan norma
hukum; serta norma khusus yakni norma sopan santun
yang hanya berlaku pada wilayah dan waktu tertentu.
Norma sopan santun terbentuk oleh kebiasaan
masyarakat di daerah tertentu yang pada umumnya tidak
tertulis atau menjadi kebiasaan lisan. Norma ini jika
dilanggar akan mendapat celaan dari masyarakat, dan
jika ditaati akan mendapat pujian dari masyarakat. Sama
halnya dengan norma moral, norma sopan santun ini
walaupun bersumber pada nilai-nilai universal tidak
mempunyai sanksi yang pasti dan tegas. Berbeda dengan
norma hukum sebagai aturan yang dibuat oleh
pemerintah yang diundangkan secara resmi, norma ini
mempunyai rumusan yang jelas dengan sanksi yang pasti
dan tegas.
Kajian tentang moral memang banyak
menyangkut berbagai aspek kehidupan. Moral berkaitan
dengan nilai sebagai sesuatu yang berharga, ketika moral
ditempatkan dalam menentukan mana nilai-nilai yang
diyakini paling berharga bagi dirinya. Moral juga terkait
dengan norma sebagai kaidah atau aturan, ketika moral
ditempatkan sebagai prinsip perbuatan baik-buruk,
benar-salah. Oleh karena itu, moral harus dibelajarkan
sehingga seseorang dapat memiliki pemikiran moral,
perasaan moral dan perilaku moral yang berguna bagi
dirinya dalam menjalani kehidupannya. Menurut James
Rest (2004) komponen moralitas meliputi: pemikiran
moral, perasan moral, dan perilaku moral. Pemikiran
moral atau penalaran moral adalah keidealan berfikir
yang mengarah pada suatu proses pertimbangan moral
sebelum suatu tindakan moral dilakukan oleh seseorang.
Menurut Kohlberg (1995), dalam penalaran moral suatu
prinsip moral tidak sekadar merupakan aturan bagi
45
suatu tindakan, melainkan sekaligus merupakan alasan
orang bertindak. Penalaran moral tidak sekadar
melibatkan aktivitas intelektualitas (rasionalitas), tetapi
juga hati nurani sebagai upaya pertimbangan moral.
Perasaan moral dimaknai sebagai suatu perasaan
yang berorientasi kepada sentimen harga diri yaitu
dimana suatu sistem emosi dan kecenderungan perasaan
dan impuls yang berpusat di sekitar objek, yaitu ide
tentang diri sendirinya. Perasaan moral dianggap
sebagai emotivisme, karena terkait dengan masalah
penilaian moral yang tidak dapat disebut salah dan
benar. Menurut David Hume (Suseno, 1987) penilaian
moral tidak didasarkan kepada rasio atau pertimbangan
objektif, melainkan berdasarkan perasaan. Etika adalah
perasaan moral. Unsur bersama sifat dari perasaan atau
penilaian adalah kegunaan (utilitarisme). Perasaan kita
tertarik karena ada kegunaan yang diharapkan dapat
menghasilkan sesuatu.
Perilaku moral diartikan sebagai suatu pola
perilaku di dalam kerangka konteks tertentu, dengan
memperhatikan proses-proses batin yang melahirkan
perilaku moral tersebut. Pentingnya proses batin dilihat
sebagai aspek penyebab manifestasi perilaku moral.
Menurutnya, komponen proses pokok yang
mempengaruhi lahirnya perilaku moral, antara lain:
bagaimana fungsi utama untuk menafsirkan situasi,
menarik inferensi tentang bagaimana orang akan
terpengaruh, dan merasakan empatik; kemudian
bagaimana fungsi utama untuk merumuskan kehendak
atau tindakan moral; dan selanjutnya bagaimana perilaku
moral sebagai fungsi utama untuk menyeleksi berbagai
hasil penilaian tentang citra moral, mana yang patut
46
dilaksanakan dan mana yang tidak patut untuk
dilaksanakan.
Berdasarkan paparan singkat di atas,
menunjukkan konsep moral perlu dibelajarkan melalui
program pendidikan secara sistemik. Dalam konteks
pendidikan, dimensi moral dibelajarkan dalam rangka
membangun prinsip-prinsip umum tentang kandungan
moralitas dengan menggunakan metode pertimbangan
moral yang mengedepankan penalaran moral, perasan
moral, perilaku moral dan tindakan moral. Program
sistemik pembelajaran moral dirancang untuk
membelajarkan kepada peserta didik bagaimana cara-
cara memberikan pertimbangan moral yang patut dan
dapat diterima secara konsensus. Dengan demikian
maksud dan tujuan pembelajaran moral dalam konteks
pendidikan, menjadikan moral sebagai dasar berfikir
dalam wujud tindakan yang nyata berdasarkan nilai-nilai
yang telah disepakati bersama dalam masyarakat sebagai
sesuatu yang berharga.
Pembelajaran moral mengejewantahkan rasa
menghargai, kepatutan, standar kesepakatan hidup,
pemandu perilaku, evaluasi diri dalam kesadaran
berperilaku serta menjadikan personal yang intergritas.
Konsep pokok nilai dalam telaah moral yakni bagaimana
prinsip dan nilai-nilai utama sebagai standar dalam
kehidupan bermasyarakat dapat dijadikan sebagai
pedoman dalam bertingkah laku dan dalam melakukan
tindakan moral. Menurut (Halstead & Taylor, 2000: 169):
“…the prnciples and fundamental convictions which act as
general guides to behaviour, the standards by which
particular actions are judged as good or desirable.”
Ditambahkan oleh Hill (1991), bahwa nilai sebagai acuan
tingkah laku hidup, mempunyai tiga tahapan, yaitu:
47
1. Values thingking, yaitu nilai-nilai pada tahapan
dipikirkan atau values cognitive;
2. Values affective, yaitu nilai-nilai yang menjadi
keyakinan atau niat pada diri orang untuk melakukan
sesuatu, pada tahap ini dapat dirinci lagi menjadi, a)
dispotition; b) commitmens
3. Tahap terakhir adalah values actions, yaitu tahap
dimana nilai yang telah menjadi keyakinan dan
menjadi niat (komitmen kuat) diwujudkan menjadi
suatu tindakan nyata atau perbuatan konkret.
Dalam pandangan Hill, dapat saja seseorang hanya
berhenti pada tahap pertama, yaitu tahu atau paham
tentang nilai-nilai kehidupan, tetapi tidak sampai pada
perwujudan tingkah laku. Secara kognitif seseorang
memang dapat tahu banyak tentang nilai, tetapi tidak
sampai melangkah pada values affective, apalagi sampai
values action. Oleh karena itu, nilai dan moral merupakan
sesuatu yang penting bagi kehidupan manusia, yang
perlu dijaga dan dikembangkan bagi kelangsungan
harmoninya kehidupan. Dalam konteks pendidikan, nilai
dan moral menjadi kajian yang harus dipelajari secara
akademis dan dibelajarkan kepada peserta didik serta
dapat diimplementasikan secara praksis ke dalam
kehidupan sehari-hari. Tanpa mendeskriditkan fungsi
pendidikan yang lain, Pendidikan Kewarganegaraan
dapat dijadikan sebagai program pembelajaran moral
yang dilakukan secara sistemik untuk menghasilkan
warga negara yang baik (a good citizen). Dalam
Pendidikan Kewarganegaraan, pembelajaran moral dapat
dirancang agar peserta didik dapat menguasai
kompetensi moral knowing, moral feeling, dan moral
acting (Lickona, 1992).
48
Berdasarkan pandangannya, pendidikan moral
dilakukan dengan menghubungkan pengetahuan moral,
perasaan moral dan tindakan moral sebagaimana pada
gambar berikut:
49
sampai pada moral knowing dan berhenti sebatas
memahami. Namun bisa jadi pada orang lain sampai
kepada tahap moral feeling, dan yang lainnya mengalami
perkembangan dari moral knowing sampai ke moral
action. Pada dimensi pertama, yakni moral knowing
merupakan tahap awal bagi seseorang untuk diajarkan
dan belajar tentang moral. Moral knowing ini, meliputi:
moral awareness (kesadaran moral), knowing moral
values (mengetahui nilai-nilai moral), perspective taking,
moral reasoning, decision making dan self knowledge.
Tetapi pembelajaran moral atau berkarakter
hanya sampai pada moral knowing tidaklah cukup,
karena jika hanya sebatas memahami nilai-nilai atau
moral tanpa melaksanakannya, maka akan menghasilkan
orang cerdas namun tidak bermoral. Oleh karenanya
pembelajaran moral harus dilanjutkan sampai pada
moral feeling sebagai sumber energi dari diri manusia
untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral.
Dimensi moral feeling meliputi enam aspek emosi yang
harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi
manusia bermoral atau berkarakter, yakni: conscience
(nurani), self esteem (percaya diri), empathy (merasakan
penderitaan orang lain), loving the good (mencintai
kebenaran), self control (mampu mengontrol diri) dan
humility (kerendahan hati). Namun begitu, pendidikan
moral atau karakter yang hanya sampai pada tahap moral
feeling saja juga tidak cukup. Oleh karena itu, perlu
disertai dengan dengan perbuatan nyata (moral action)
sebagai warga negara yang bermoral.
Dengan demikian, moral action adalah bagaimana
membuat pengetahuan moral dan perasaan moral dapat
diwujudkan menjadi tindakan nyata. Dimensi moral
50
action ini meliputi: yaitu kompetensi (competence),
keinginan (will) dan kebiasaan (habit).
51
Pada dasarnya norma merupakan perwujudan
secara kongkrit dari nilai-nilai yang terdapat dalam
masyarakat. Nilai-nilai tersebut pada awalnya bersifat
abstrak yang hanya dapat dipahami, dipikirkan,
dimengerti dan dihayati oleh manusia. Disamping itu,
nilai juga berkaitan dengan harapan, cita-cita, keinginan
dan segala sesuatu melalui pertimbangan internal
(batiniah) manusia. Agar nilai tersebut menjadi lebih
berguna dalam menuntun sikap dan tingkah laku
manusia, maka perlu lebih dikongkritkan lagi serta
diformulasikan menjadi lebih obyektif sehingga
memudahkan manusia untuk menjabarkannya dalam
tingkah laku secara kongkrit. Wujud kongkrit dari nilai
tersebut adalah norma.
Ada empat macam norma yang mengatur
pergaulan hidup bersama dalam masyarakat, yakni:
norma agama, kesusilaan, kesopanan, dan hukum. Kaidah
(norma) sifatnya abstrak, tidak dapat ditangkap dengan
pancaindera. Peraturan hukum tertulis dalam
perundang-undangan adalah pembadanan (manifestasi)
dari kaidah (norma) itu. Kaidah juga dimanifestasikan
dalam bentuk rambu-rambu, simbol-simbol dan lain
sebagainya. Dari empat macam norma tersebut norma
hukum merupakan yang paling kuat keberlakuannya,
sebab dapat dipaksakan melalui suatu kekuasaan
eksternal misalnya penguasa atau penegak hukum.
Hukum yang berlaku di dalam masyarakat,
bangsa, dan negara secara konsisten atau taat asas
mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi serta
berlaku dalam kehidupan masyarakat yang
bersangkutan. Dengan demikian, hukum yang baik
ataupun ideal merupakan aktualisasi nilai-nilai yang
hidup di dalam masyarakat guna mengatur kehidupan
52
dalam mengupayakan tujuan hidup bermasyarakat itu
(Soejadi, 1998). Istilah “hukum” hingga kini masih
merupakan bahan perdebatan di kalangan para ahli
hukum. Walaupun belum ditemukan definisi yang
memuaskan semua pihak, namun sebagai bahan acuan
perlu diberikan rumusan atau definisi tentang “hukum”.
Mertokusumo (1985) memberikan defenisi tentang
hukum sebagai rangkaian kaidah, peraturan-peraturan,
tata aturan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis,
yang menentukan atau mengatur hubungan-hubungan
dalam suatu kehidupan bersama, yang dapat dipaksakan
pelaksanaannya dengan suatu sanksi”. Selanjutnya
dikemukakan, hukum sebagai kumpulan peraturan atau
kaidah yang mempunyai isi yang bersifat umum dan
normatif. Hukum bersifat umum karena berlaku bagi
setiap orang, kepada siapa saja tanpa kecuali. Hukum
bersifat normatif karena menentukan apa yang
seharusnya dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan
atau harus dilakukan serta menentukan bagaimana
caranya melaksanakan kepatuhan pada kaidah-kaidah
hukum yang berlaku.
Paparan mengenai materi norma, hukum dan
peraturan di atas, sebenarnya ingin menunjukkan bahwa
materi tersebut dapat dijadikan sebagai bahan ajar dalam
pembelajaran moral di dalam Pendidikan
Kewarganegaraan. Materi norma, hukum, dan peraturan
dalam Pendidikan Kewarganegaraan telah dijabarkan
lebih luas yang meliputi kajian: tertib dalam kehidupan
keluarga, tertib di sekolah, norma yang berlaku di
masyarakat, peraturan-peraturan daerah, norma-norma
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem
hukum dan peradilan nasional, hukum dan peradilan
internasional.
53
54
BAB IV
PENTINGNYA PENDIDIKAN MORAL
BAGI WARGA NEGARA
A. Pendahuluan
Konsep “moral” sering disinonimkan dengan
“etika”. Moral selalu dikaitkan dengan kewajiban khusus,
dihubungkan dengan norma sebagai cara bertindak yang
berupa tuntutan relatif atau mutlak. Moral merupakan
wacana normatif dan imperatif, yakni prinsip perbuatan
baik-buruk, benar-salah. Jadi kata “moral” mengacu pada
baik-buruknya manusia terkait dengan tindakannya,
sikapnya dan cara mengungkapkannya. Moral menunjuk
pada baik buruknya perbuatan atau tingkah laku
manusia sebagai manusia. Tolok ukur untuk menilai
baik-buruknya tingkah laku manusia disebut norma.
Prinsip moral yang amat penting adalah melakukan yang
baik dan menolak yang buruk. Apabila prinsip ini tidak
dimiliki maka tidak admoralitas. Inilah kekhasan norma
moral. Jika seseorang berkata: “pembantu rumah tangga
itu amat jujur”, maka “jujur” merupakan kualitas moral,
artinya kualitas manusia sebagai manusia. Bisa saja
pembantu rumah tangga itu bodoh. “Jujur” merupakan
penilaian moral, sedangkanbodoh merupakan penilaian
kemampuan atau ketrampilan berpikir. ”Menurut
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20
tahun 2003 pasal 1 ayat (1): “Pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
55
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
bangsa dan negara.” Sedangkan “nilai merupakan suatu
ide sebuah konsep mengenai sesuatu yang dianggap
penting dalam kehidupan. Ketika seseorang menilai
sesuatu ia menganggap sesuatu tersebut berharga
berharga untuk dimiliki, berharga untuk dikerjakan, atau
berharga untuk dicoba maupun untuk diperoleh. Studi
tentang nilai biasanya terbagi ke dalam area estetik dan
etik.
Moral dan kepatuhan terhadap hukum bukan
terutama untuk mendapatkan pahala, melainkan untuk
membuat hidup manusia semakin manusiawi (memiliki
kualitas moral). Kehidupan moral yang melulu
berdasarkan ketaatan pada hukum akan membuat hidup
seseorang menjadi minimalis (legalis) karena kehidupan
moral menjadi terbatas pada melaksanakan hukum. Yang
penting hukum dilakukan dan tidak dilanggar. Kaum
legalis ini akan cenderung menjadi egoistis, karena
hukum sering dimanfaatkan sebagai dukungan untuk
pemikiran, gagasan dan perbuatan mereka sendiri,
Mereka memandang hukum berdasrkan untung rugi,
bukan berdasarkan nilai-nilai moral. Jadi supaya hidup
manusia memiliki kualitas moral, dalam melaksanakan
hukum juga dibutuhkan refleksi dan pertimbangan-
pertimbangan yang mempertegas kekhususan moralitas.
Kita perlu mencari dasar pemikiran yang ada di balik
norma-norma hukum, yang tersembunyi di dalam
hukum.
Menurut Soegarda, P dan Harahap, H.A.H.
(Nawawi: 2010), ciri-ciri yang menunjukkan adanya
pendidikan moral: (1) cukup memperhatikan instink dan
dorongan-dorongan spontan dan konstruktif, (2) cukup
56
membuka kondisi untuk membentuk pendapat yang baik,
(3) cukup memperhatikan perlunya ada kepekaan untuk
menerima dan sikap responsive, (4) pendidikan moral
memungkinkan memilih secara bijaksana mana yang
benar mana yang tidak. Adapun ruang lingkup materi
Pendidikan Nilai Moral antara lain meliputi: ketuhanan,
kejujuran, budi pekerti, akhlaq mulia, kepedulian dan
empati, kerjasama dan integritas, humor, mandiri dan
percaya diri, loyalitas, sabar, rasa bangga, banyak akal,
sikap respek, tanggungjawab, dan toleransi, serta
ketaatan, penuh perhatian, dan tahu berterima kasih.
57
moral sebagai kesepakatan tradisi sosial; (c) tingkat
moralitas pascakonvensional, yaitu ketikamanusia telah
memasuki fase perkembangan masa remaja dan pasca
remaja (usia 13 tahun ke atas), yang memandang moral
lebih dari sekedar kesepakatan tradisi sosial.
Sering kita menemukan di banyak media massa
elektronik dan cetak, fenomena tingkah laku amoral
remaja yang semakin hari semakin meningkat, dari
tindakan amoral yang paling ringan, seperti:
membohong, menipu, perilaku menyontek di sekolah,
tidak menaati peraturan, mélanggar norma, mencaci
maki, dll., sampai pada tingkat yang paling
menghawatirkan, mencemaskan dan meresahkan orang
tua dan masyarakat, bahkan mengganggu ketertiban
umum, kenyamanan, ketenteraman, dan kesejahteraan,
serta merusak fasilitas umum, seperti: mencuri,
menodong/merampok, menjambret, memukul, tawuran
pelajar, tindak kekerasan, criminal, demonstrasi yang
anargis, mabuk, dan bahkan sampai membunuh, serta
mutilasi. Pendek kata perilaku amoral ini mengancam
keselamatan fisik dan jiwa diri mereka dan orang lain.
Menurut Susilawati, dkk. (2010), macam-macam
keutamaan dari Pendidikan Moral yang perlu
ditanamkan bagi warga negara antara lain;
1. Kujujuran adalah sesuatu yang penting. Kejujuran
merupakan dasar setiap usaha untuk menjadi orang
kuat secara moral. Tanpa kejujuran kita tidak pernah
maju selangkahpun, karena belum berani menjadi diri
sendiri. Tidak jujur berarti belum sanggup untuk
mengambil sikap yang lurus. Tanpa kejujuran,
keutamaan moral lainnya kehilangan nilainya. Sikap
baik terhadap orang lain, tanpa kejujuran berarti
kemunafikan dan sering menjadi racun. Bersikap jujur
58
berarti terbuka, dan fair. Terbuka tidak dimaksudkan
bahwa orang lain berhak tahu semua pikiran dan
perasaan kita, melainkan bahwa kita selalu tampil
sebagai diri kita sendiri sesuai dengan keyakinan kita
dan tidak menyembunyikan wajah kita yang
sebenarnya (bertopeng). Terbuka berarti orang boleh
tahu siapa kita ini. Sikap wajar atau fair, berarti
memperla kukan orang lain menurut standar yang
dipergunakan orang lain terhadap dirinya. Ia
menghormati hak orang lain dan selalu memenuhi
janji, tidak bertindak bertentangan dengan suara hati
atau keyakinannya. Berkaitan dengan kejujuran sangat
penting diperhatikan bahwa kita harus menjadi
otentik. Otentik berarti asli, menjadi diri kita sendiri,
bukan jiplakan, tiruan, membeo, atau hanya ikut mode.
Manusia otentik adalah manusia yang menghayati dan
menunjukkan diri sesuai dengan keaslian dan
kepribadian yang sebenarnya.
2. Kesediaan Untuk Bertanggungjawab, kejujuran
menjadi operasional kalau orang bersedia untuk
bertanggungjawab. Artinya: Pertama, kesediaan untuk
melakukan apa yang harus dilakukan sebaik mungkin.
Bertanggungjawab berarti mengambil suatu sikap
terhadap tugas yang membebani kita. Tugas itu
dilaksanakan sebaik mungkin meskipun dituntut
pengorbanan, ditentang maupun tidak mengun-
tungkan. Bahkan andaikata tidak ada orang yang
peduli atau melihatnya, kita tidak begitu saja puas
karena pekerjaan sudah selesai. Kedua, sikap ini
mengatasi segala etika peraturan. Etika peraturan
hanya mempertanyakan apakah sesuatu boleh atau
tidak, sedangkan bertanggung jawab merasa terikat
pada yang memang perlu. Ia terikat pada nilai yang
59
mau dihasilkan. Ketiga, wawasan orang yang
bertanggungjawab secara prinsipial tidak terbatas. Ia
tidak membatasi perhatiannya pada apa yang menjadi
urusan dan kewajibannya saja, melainkan merasa
bertanggungjawab di mana saja ia diperlukan.
Bersedia mengerahkan tenaga dan kemampuan di
mana ia ditantang untuk menyelamatkan sesuatu. Ia
bersikap positif, kreatif, kritis, dan obyektif. Keempat,
bertanggungjawab berarti juga bersedia untuk
diminta memberikan pertanggungjawaban atas
tindakannya, atas pelaksanaan tugas dan
kewajibannya.
3. Kemandirian Moral, yakni kekuatan batin untuk
mengambil sikap moral sendiri dan bertindak sesuai
dengan nya. Mandiri secara moral artinya tidak dapat
dibeli oleh mayoritas, dan tidak pernah akan rukun
hanya demi kebersamaan, kalau kerukunan itu
melanggar keadilan.
4. Keberanian Moral, menunjukkan diri dalam tekad
untuk tetap mempertahankan sikap yang telah
diyakini sebagai kebenaran dan sekaligus
kewajibannya. Keberanian moral adalah kesetiaan
terhadap suara hati yang menyatakan diri dalam
kesediaan untuk membela kebenaran tanpa
kompromi, dan berani mempertahankan sikap yang
diyakininya.
5. Kerendahan Hati, bukan berarti merendahkan diri.
Kerendahan hati yang dimaksud adalah kekuatan
batin untuk melihat diri sesuai dengan kenyataannya.
Orang rendah hati tidak hanya melihat diri
kelemahannya, tetapi juga kekuatannya. Maka, ia
menerima diri dan tahu diri dalam arti yang
sebenarnya. Dalam kaitannya dengan moral berarti
60
mampu memberikan penilaian moral terbatas, dan
juga sadar akan keterbatasan kebaikan kita. Berani
memperhitungkan pendapat orang lain. Ia tahu atau
dengan kata lain empan papan. Kerendahan hati tidak
bertentangan dengan keberanian moral, justru
menjadi prasyarat bagi kemurniannya. Tanpa
kerendahan hati, keberanian moral mudah menjadi
kesombongan atau kedok untuk menyembunyikan
diri. Kerendahan hati menjamin kebebasan dari
pamrih dalam keberanian. Kita tidak merasa kalah
kalau pendapat kita tidak menang. Justru orang yang
rendah hati sering menunjukkan daya tahan yang
paling besar kalau ada perlawanan. Orang rendah hati
tidak merasa diri penting (bukan karena rendah diri),
karena itu berani mempertaruhkan diri dalam sikap
dan tanggungjawabnya.
6. Nilai-Nilai Otentik, artinya menjadi diri sendiri, bukan
jiplakan, bukan tiruan, orang-orangan yang hanya
membeo saja, yang tidak punya sikap dan pendirian
sendiri karena ia dalam segala-segalanya mengikuti
mode/ pendapat umum dan arah angin. Otentik
berarti asli. Manusia otentik: manusia yang
menghayati dan menunjukkan diri sendiri dengan
keasliannya, dengan pribadi yang sebenarnya.
Sedangkan manusia yang tidak otentik adalah yang
hanya tiruan/jiplakan. Ketidak otentikan seseorang
biasanya diakibatkan oleh rasa takut tak diakui
kelompok, hanya ikut mode tanpa kreativitas sendiri.
Ini berlaku juga dibidang religius (masuk biara),
bidang estetik, dan lain-lain. Menjadi otentik berarti
berani muncul engan diri sendiri, bukan perkiraan kita
terhadap harapan orang.
61
8. Realistik dan Kritis, berarti mempelajari/melihat
keadaan dengan serealis-realisnya sesuai dengan
tuntutan prinsip-prinsip dasar. Sikap ini tentunya
dibarengi oleh sikap kritis. Kritis berarti tajam dalam
menganalisa sesuatu, tidak mudah percaya dan selalu
berusaha menemukan yang baik dan yang buruk.
Sikap kritis perlu juga terhadap segala macam
kekuatan, kekerasan dan wewenang dalam
masyarakat, juga terhadap segala macam aturan moral
dalam masyarakat. Tanggung jawab moral yang nyata,
menuntut sikap realistik dan kritis dengan pedoman
untuk menjamin keadilan dan menciptakan suatu
keadaan masyarakat yang membuka kemungkinan
lebih besar bagi warganya untuk membangun hidup
yang lebih bebas dari penderitaan dan lebih bahagia.
Segala peraturan dinilai secara kritis. Ada aturan yang
mengatur dan perlu dinilai dari dalam.
Dalam hal ini, remaja dikatakan sebagai generasi
penerus bangsa memiliki peran dan posisi yang strategis.
Mereka merupakan harapan masa depan bangsa. Maju
atau mundurnya bangsa dan Negara ada di pundak
mereka. Kalau mereka maju maka majulah Negara, tetapi
kalau meraka bobrok, mundur, dan loyo, maka
mundurlah Negara. Sudut pandang psikologi para remaja
sebagai generasi penerus memiliki potensi yang bisa
dikembangkan secara maksimal. Potensi mereka yang
prospektif, dinamis, energik, penuh vitalitas, patriotism
dan idealism harus dikembangkan melalui pendidikan
dan pelatihan yang terrencana dan terprogram.
Sebagai generasi penerus, remaja harus memiliki
kemampuan potensial yang dapat diolah menjadi
kemampuan actual. Selain itu juga memiliki potensi
kecerdasan intelektual, emosi dan sosial, berbahasa, dan
62
keserdasan seni yang bisa diolah menjadi kecerdasan
aktual yang dapat membawa mereka kepada prestasi
yang tinggi dan kesuksesan. Mereka memiliki potensi
moral yang dapat diolah dan dikembangkan menjadi
moral yang positif sehingga mampu berpartisipasi aktif
dalam pembangunan bangsa dan Negara yang penuh
dengan kejujuran, tidak korup, semangat yang tinggi dan
bertanggungjawab. Potensi mereka yang prospektif,
dinamis, energik, penuh vitalitas, patriotisme dan
idealisme telah dibuktikan ketika jaman Pergerakan
Nasional, pemuda pelajar telah banyak memberikan
kontribusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hal itu bisa terwujud apabila semua potensi mereka
dikembangkan dan salah satunya adalah potensi moral.
Oleh karena itu remaja sebagai generasi penerus harus
diselamatkan melalui Pendidikan Nilai Moral. Sehingga
harkat dan martabat bangsa bisa terangkat. Kualitas
hidup meningkat, dan kesejahteraan serta kenyamanan
pun bisa didapat.
Melihat dan memperhatikan fenomena dan
kondisi ideal remaja sebagai generasi penerus maka
Pendidikan Nilai Moral perlu ditanamkan sejak usia dini
dan harus dikelola secara serius. Dilaksanakan dengan
perencanaan yang matang dan program yang berkualitas.
Misalnya dengan jumlah jam pelajaran yang memadai,
program yang jelas, teknik dan pendekatan proses
pembelajaran yang handal serta fasilitas yang memadai.
Jika hal ini bisa dilaksanakan dengan baik, niscaya
generasi penerus akan memiliki moral yang baik, akhlaq
mulia, budi pekerti yang luhur, empati, dan
tanggungjawab. Sehingga yang kita saksikan bukan lagi
kekerasan dan tawuran, melainkan saling membantu,
menolong sesama, saling menyayangi, rasa empati, jujur
63
dan tidak korup, serta tanggungjawab. Jangankan
memukul atau membunuh, sedangkan mengejek,
mengeluarkan kata-kata kotor dan menghina teman pun
tidak boleh karena dinilai sebagai melanggar nilai-nilai
moral.
64
kebutuhan individual dan sosial. Tidak ada nilai yang
lebih tinggi dari apa yang akan dicapai oleh
masyarakat. Contoh: Hobbes – negara dibentuk hanya
untuk menjamin kebersamaan. Freud – agama ada
hanya untuk memenuhi kebutuhanp psikologis saja.
Masyarakat merupakan sumber dan asal kewajiban
moral/otonomi tertinggi dari moralitas adalah
masyarakat.
2. Pandangan reduksionistis, pandangan ini
mereduksikan keberlakuan moral sebagai realisasi
kehidupan sosial yang ada. Hanya kebutuhan sosial
saja dijadikan penentu keberlakuan moral, pada hal
ada kebutuhan lain. Pandangan ini tidak cukup; sebab
orang masih bisa bertanya terhadap apa yang
dianggap baik oleh masyarakat, “mengapa ini baik?” –
dengan kata lain orang masih bisa bersikap kritis (cat:
kalau ini benar maka kita akan setuju dengan praktek
A. partheid di Afrika Selatan).
3. Pandangan immanentist. Keberlakuan norma moral
ditentukan oleh manusia sendiri, berdasarkan
kesadaran moral imanent (yang ada dalam dirinya).
Apabila manusia mengikuti penentuan akal budinya,
maka manusia akan menyadari norma norma yang
mengikat dirinya untuk bertindak. Sehingga
keberlaukan moral terbatas dalam dirinya (akal budi)
di dunia ini. Tak ada dasar yang lebih dalam dari
kehendak rasio manusia. Manusia akhirnya menjadi
otoritas terakhir (tolok ukur).
4. Pandangan transendentalist. Dasar moral yang paling
dalam adalah Tuhan. KehendakNya menjadi norma
yang secara kodrat mengikat manusia. Kehendak
Tuhan menjadi sesuatu norma yang mutlak mengikat
manusia. Di sini manusia sungguh dilihat sebagai
65
pribadi, karena menjadi citra Allah sendiri. Meskipun
akal budi penting, namun ada sesuatu yang terbuka
yaitu terhadap yang transenden. Kodrat manusia
(terluka) membuka diri bagi kenyataan yang
mengatasi dirinya.
Meskipun tingginya tingkat perkembangan dan
perubahan yang berlaku disebahagian besar masyarakat
modern, keluarga tetap memelihara fungsi
pendidikannya dan menganggap bahwa hal itu
merupakan sebagian tugasnya, khususnya dalam rangka
menyiapkan sifat cinta mencintai dan keserasian di
antara anggota-anggotanya. Begitu juga ia harus
memberi pemeliharaan kesehatan, psikologikal, spiritual,
akhlak, jasmani, intelektual, emosional, sosial di samping
menolong mereka menumbuhkan pengetahuan,
keterampilan, sikap dan kebiasaan yang diingini yang
berguna dalam segala lapangan hidup mereka serta
sanggup mengambil manfaat dari pelajaran lembaga-
lembaga lain.
Melihat dan memperhatikan fenomena dan
kondisi ideal remaja sebagai generasi penerus, maka
pendidikan nilai moral perlu ditanamkan sejak dini dan
harus dikelola secara serius. Dilaksanakan dengan
perencanaan yang matang dan program yangberkualitas.
Misalnya dengan jumlah jam pelajaran yang memadai,
program yang jelas, teknik dan pendekatan proses
pembelajaran yang handal serta fasilitas yang memadai.
Jika hal ini bisa dilaksanakan dengan baik, niscaya
generasi akan memiliki moral yang baik, akhlak mulia,
budi pekerti yang luhur, empati, dan tanggungjawab.
Sehingga yang kita saksikan bukan lagi kekerasan dan
tawuran, melainkan saling membantu, menolong sesama,
saling menyayangi, rasa empati, jujur dan tidak korup,
66
serta tanggungjawab. Jangankan memukul atau
membunuh, mengejek, mengeluarkan kata-kata kotor
dan menghina teman pun tidak boleh karena dinilai
sebagai melanggar nilai-nilai moral.
Bagaimanapun krisis mentalitas, moral, dan
karakter anak didik berkaitan dengan krisis-krisis
multidimensional lain, yang dihadapi bangsa ini pada
umumnya dan pendidikan nasional pada khususnya. Oleh
karena itu, jika dicermati dan dinilai lebih adil dan
objektif, makro krisis yang mentalitas dan moral peserta
didik merupakan cermin dari krisis yang lebih luas, yang
terdapat dan berakar kuat dalam masyarakat pada
umumnya. Dengan kata lain, krisis mentalitas dan
moralitas di antara peserta didik pada jenjang
pendidikan persekolahan, baik jenjang pendidikan dasar,
menengah, dan tinggi, merupakan cermin dari krisis
mentalitas dan moralitas dalam masyarakat yang lebih
luas. Oleh karena itu, dapat diasumsikan bahwa upaya
mengatasi krisis seperti itu tidak memadai jika hanya
dilakukan secara parsial di lingkungan persekolahan saja.
Harus ada kesatupaduan atau sinergitas untuk mengatasi
krisis moralitas dan mentalitas ini dalam masyarakat
yang lebih luas, dalam rumah tangga, dan lingkungan
lainnya. Pendidikan moral dan budi pekerti bukan hanya
tanggungjawab sekolah, tetapi juga tanggungjawab
keluarga dan lingkungan sosial yang lebih luas. Jadi
meskipun sekolah misalnya menyelenggarakan
pendidikan moral dan budi pekerti, tetapi lingkungan
masyarakatnya tidak atau kurang baik, maka pendidikan
moral di sekolah tidak banyak artinya.
Kemajuan negara juga membawa dampak negatif
bagi kehidupan: pola pikir cenderung praktis-ekonomis
yang mengakibatkan banyak orang mengabaikan
67
pertimbangan moral. Banyak orang cenderung
menekankan kebebasan pribadi, sehingga kepentingan
sesama kurang diperhatikan; arogansi kekuasaan,
penindasan, penggusuran, budaya “suap”, dan
sebagainya. Penyalahgunaan teknologi untuk
menghancurkan sesama yang mengakibatkan semakin
merosotnya penghargaan terhadap matabat manusia
(pengguguran, kejahatan yang semakin canggih,
merosotnya penghargaan terhadap nilai perkawinan,
menyingkirkan orang yang dianggap kurang produktif
secara ekonomis (euthanasia, dan lain-lain.). Dalam
situasi demikian, banyak kegelisahan diantara manusia
dan mulai menyadari pentingnya norma moral yang bisa
dipegang dan dipertanggungjawabkan. Norma moral itu
dibutuhkan sebagai tolok ukur untuk menentukan benar
tidaknya sikap dan tindakan manusia dilihat dari baik
buruknya manusia sebagai pribadi. Penilaian moral
adalah penilaian terhadap baik buruknya manusia yang
menyangkut inti kepribadiannya (hati, watak, perangai,
dan tindakannya).
Menurut Susilawati, dkk (2010), ada empat alasan
mengenai pentingnya membahas pendidikan dalam
membentuk moral hidup, yakni:
1. Amanat seluruh agama Semua agama mengajarkan
bahwa Allah adalah sumber kehidupan, karenanya
Allah sungguh menyayangi kehidupan. Allah
mengasihi manusia dengan kerahiman-Nya dan
menghendaki agar manusia mengalami kehidupan
yang sejati.
2. Nilai dan indahnya kehidupan Hidup adalah anugerah
Allah yang amat berharga. Oleh karena itu, manusia
selalu berusaha mempertahankan hidupnya dan
memperjuangkannya untuk hidup bahagia. Kehidupan
68
sungguh amat bernilai, indah, dan mengagumkan.
Kekayaan dan keindahan dunia tidak sebanding
dengan hidup manusia. Orang akan memberikan
segala kepunyaannya sebagai ganti nyawanya.
Kehidupan yang amat bernilai dan indah ini terancam
oleh ulah manusia sendiri (senjata, nuklir, berbagai
racun kehidupan, serta keserakahan manusia sendiri).
3. Moralitas kehidupan kerap kali dikacaukan Moralitas
kehidupan seringkali dikacaukan oleh sikap manusia
yang sewenang-wenang terhadap sesamanya, oleh
ketidakpastian hukum (salah-benar menjadi tidak
jelas). Moralitas sering dikacaukan pula oleh situasi
kehidupan yang teleologis (bahwa hidup selalu
mempunyai tujuan tertentu, demi tujuan yang baik
tidak menghalalkan segala cara). Semua orang ingin
memperoleh kebahagiaan. Akan tetapi, pandangan dan
pengertian mengenai kebahagiaan kadang keliru.
Akibatnya, banyak orang menghalalkan segala cara
untuk mendapatkan “kebahagiaan” dan menjadikan
orang lain sebagai tumbal.
4. Moralitas merupakan tuntutan hakiki hidup manusia
Moralitas menyangkut hati, sifat, perangai, dan
tingkah laku manusia. Moralitas berkaitan dengan
baikburuknya manusia sebagai manusia (inti
kepribadiannya). Moralitas merupakan tuntutan sikap
hidup dalam kehidupan bersama di tengah
masyarakat. Norma moral penting bagi kehidupan
manusia, agar kehidupan bersama dapat berlangsung
dengan baik dan masingmasing individu tetap dihargai
martabatnya (tanpa dirugikan).
Dengan memperkaya dimensi nilai, moral, dan
norma pada aktivitas pendidikan di sekolah, akan
memberi pegangan hidup yang kokoh bagi anak-anak
69
dalam menghadapi perubahan sosial. Kematangan secara
moral (morally mature) akan menjadikan seorang anak
mampu memperjelas dan menentukan sikap terhadap
substansi nilai dan norma baru yang muncul dalam
proses perubahan atau transformasi sosial yang sangat
cepat ini. Demikian juga, dengan bekal pendidikan moral
secara memadai, akan memperkuat konstruksi moralitas
peserta didik sehingga mereka tidak gampang goyah
dalam menghadapi aneka macam godaan dan pengaruh
negatif di sekolah. Menurut Lubis (2015:232) nilai-nilai
moralitas perlu ditanamkan sejak dini kepada anak didik
untuk dapat membentuk warga negara yang bermoral
berdasarkan nilai-nilai Pancasila, yakni: pada sila
pertama, menanamkan nilai-nilai religius; pada sila
kedua, menanamkan nilai-nilai kemanusiaan; pada sila
ketiga, menanamkan nilai-nilai kebangsaaan; pada sila
keempat, menanamkan nilai-nilaoi kerakyatan; dan pada
sila kelima, menanamkan nilai-nilai keadilan sosial.
*****
70
BAB V
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
SEBAGAI PENDIDIKAN KARAKTER
BERORIENTASI MORAL
A. Pendahuluan
Pembangunan karakter bangsa yang sudah
diupayakan dengan berbagai bentuk, hingga saat ini
belum terlaksana dengan optimal. Hal itu tercermin dari
semakin meningkatnya kriminalitas, pelanggaran hak
asasi manusia, ketidakadilan hukum, kerusakan
lingkungan yang terjadi di berbagai pelosok negeri,
pergaulan bebas, pornografi dan pornoaksi, tawuran
yang terjadi di kalangan remaja, kekerasan dan
kerusuhan, serta korupsi yang kian merambah pada
semua sektor kehidupan. Masyarakat Indonesia yang
terbiasa dengan kesantunan dalam berperilaku,
musyawarah-mufakat dalam menyelesaikan masalah,
kearifan lokal yang kaya dengan pluralitas, sikap toleran
dan gotong royong, mulai cenderung berubah menjadi
hegemoni kelompok-kelompok yang saling mengalahkan
dan berperilaku egois individual. Gambaran fenomena
tersebut, menunjukkan bangsa ini tengah mengalami
krisis moral yang menegaskan terjadinya ketidakpastian
jati diri dan karakter bangsa.
Memperhatikan situasi dan kondisi karakter
bangsa paska-reformasi yang dinilai sudah
memprihatinkan, seyogyanya seluruh komponen bangsa
sepakat untuk menempatkan pembangunan karakter
bangsa (nation and character building) sebagai prioritas
yang utama. Ini berarti setiap upaya pembangunan harus
71
selalu dipikirkan keterkaitan dan dampaknya terhadap
pengembangan karakter bangsa. Pemerintah reformasi
memang telah merumuskan misi pembangunan nasional
yang memosisikan pendidikan karakter sebagai misi
pertama dari delapan misi guna mewujudkan visi
pembangunan nasional. Hal ini sebagaimana tercantum
dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
Tahun 2005-2025 yakni; terwujudnya karakter bangsa
yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral
berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan
perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang
beragam, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotongroyong,
berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi
ipteks. Pembangunan karakter bangsa memiliki urgensi
yang sangat luas dan bersifat multidimensional. Sangat
luas karena terkait dengan pengembangan multiaspek
potensi-potensi keunggulan bangsa, dan bersifat
multidimensional karena mencakup dimensi-dimensi
kebangsaan yang hingga saat ini sedang dalam proses
“menjadi”. Urgensi pembangunan karakter dengan
sifatnya yang demikian, mensaratkan karakter sebagai:
(1) perekat fondasi bangunan kehidupan berbangsa dan
bernegara; (2) “kemudi” dalam mencapai cita-cita dan
tujuan hidup bersama; dan (3) kekuatan esensial dalam
membangun karakter bangsa yang bermartabat.
Namun, pembangunan karakter bangsa bukanlah
urusan sepihak yang datang dari atas. Gerakan
pembangunan karakter bangsa harus mendapat
dukungan seluruh komponen pada akar bawah. Krisis
moral yang tengah melanda bangsa ini, mensyaratkan
untuk segera dilakukannya rediscovery nilai-nilai luhur
budaya bangsa atau revitalisasi atau semacam invented
72
tradition (Hobsbawm, 1983: 1) melalui gerakan nasional
yang melibatkan seluruh komponen sebagai konsensus
yang lahir dari kesadaran nasional.
Pembangunan karakter bangsa harus
diaktualisasikan secara nyata dalam bentuk aksi nasional
dalam rangka memantapkan landasan spiritual, moral,
dan etika pembangunan bangsa sebagai upaya untuk
menjaga jati diri bangsa dan memperkukuh persatuan
dan kesatuan bangsa dalam naungan NKRI.
Pembangunan karakter bangsa harus dilakukan melalui
pendekatan sistematik, integratif dan berkelanjutan.
Strategi pembangunan karakter dapat dilakukan melalui
sosialisasi, enkulturasi dan internalisasi melalui berbagai
institusi dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan
kebutuhan masyarakat serta pendekatan multidisiplin
yang tidak menekankan pada indoktrinasi.
Tanpa bermaksud mengucilkan arti institusi yang
lain, pendidikan sebagai institusi masih dinilai layak
sebagai wahana sistemik dalam membangun karakter
anak bangsa. Namun sayang, puluhan tahun kepercayaan
publik terhadap institusi pendidikan (baca: pendidikan
formal) sebagai wahana sistemik pembangunan karakter
belum memberikan luaran optimal terhadap
pembentukan karakter peserta didik. Hal ini diduga
pendidikan saat ini lebih cenderung mementingkan
capaian kompetensi akademik ketimbang capaian
kompetensi karakter. Untuk itu usulan adanya
pendidikan karakter yang teraktualisasikan secara
integralistik sebagai wahana sistemik pengembangan
kecerdasan moral (building moral intelligence) perlu
mendapat dukungan berbagai pihak dalam menghasilkan
luaran peserta didik yang memiliki kompetensi
kecerdasan plus moral. Tetapi fakta di lapangan
73
menunjukkan dominasi pembelajaran konvensional dalam
proses pembelajaran di kelas, masih menjadi indikator kuat
sebagai penghalang teraktualisasikannya pengembangan
kecerdasan moral peserta didik. Pembelajaran konvensional
dengan ciri: (1) pendekatan teacher centered; (2) dominasi
ekspositori; (3) pembelajaran berorientasi tekstual; (4)
evaluasi berorientasi pada kognitif tingkat rendah; dan (5)
posisi guru sebagai transfer of knowledge (Setiawan, 2012), dari
berbagai hasil kajian dan penelitian belum secara optimal
memberikan kontribusi terhadap pengembangan kecerdasan
moral peserta didik. Bahkan, pembelajaran dalam dunia
pendidikan yang masih didominasi oleh transfer of
knowledge sebagai akibat tumbuhnya budaya verbalistik
(Sanusi, 1993), menjadi penyebab implementasi
pembelajaran dalam dunia pendidikan cenderung lebih
memprioritaskan kompetensi akademik. Menghadapi fakta
di atas, pendidikan formal sebagai institusi pengemban
pendidikan karakter secara mikro perlu melakukan
pembenahan diri. Pertama, mendesain peran pendidikan
karakter dengan pola integralistik dalam mengembangkan
kecerdasan moral sebagai upaya pengkondisian moral
(moral conditioning). Kedua, mengembangkan pembelajaran
inovatif dalam pendidikan karakter sebagai upaya aplikatif
dalam melatih moral (moral training). Hal ini
sebagaimana ditegaskan oleh (Halstead dan Taylor,
2000: 169) bahwa: “to build on and supplement the
values children have already begun to develop by offering
further exposure to a range of values that are current in
society (such as equal opportunities and respect for
diversity); and to help children to reflect on, make sense of
and apply their own developing values”.
74
B. Pembahasan
1. Membentuk Karakter dalam Pendidikan
Dewasa ini ada kehendak pengembangan
karakter sebagai gerakan nasional, terutama melalui
pendidikan. Baik di perguruan tinggi maupun
persekolahan. Berikut ini digambarkan tentang grand
design pendidikan karakter yang diajukan oleh Tim
Pendidikan Karakter Kementerian Pendidikan
Nasional (2010):
75
Untuk pengembangan pendidikan karakter di
persekolahan mata pelajaran PKn dan mata pelajaran
agama merupakan ujung tombak. Dalam PP Nomor 19
Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
pasal 6 ayat (1) antara lain ada ketentuan bahwa
“Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan
kepribadian dimaksudkan untuk peningkatan
kesadaran dan wawasan peserta didik akan status,
hak, dan kewajibannya dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta
peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia.
Kesadaran dan wawasan termasuk wawasan
kebangsaan, jiwa dan patriotisme bela negara,
penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia,
kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup,
kesetaraan gender, demokrasi, tanggung jawab sosial,
ketaatan pada hukum, ketaatan membayar pajak, dan
sikap serta perilaku anti korupsi, kolusi, dan
nepotisme”.
Dalam perkembangan terakhir sebagai upaya
agar pendidikan karakter mudahdilaksanakan telah
diidentifikasi nilai-nilai karakter untuk Mata Pelajaran
PKn meliputi nilai karakter pokok dan nilai karakter
utama. Nilai karakter pokok Mata Pelajaran PKn yaitu:
Kereligiusan, Kejujuran, Kecerdasan, Ketangguhan,
Kedemokratisan dan Kepedulian. Sedangkan nilai
karakter utama Mata Pelajaran PKn yaitu: Nasionalis,
Kepatuhan pada aturan sosial, Menghargai
keberagaman, Kesadaran akan hak dan kewajiban diri
dan orang lain, Bertanggung jawab, Berpikir logis,
kritis, kreatif, dan inovatif, dan [Link]-nilai
karakter utama ini dapat dikembangkan lebih luas,
76
untuk upaya memperkokoh fungsi PKn sebagai
pendidikan karakter.
Nilai karakter di atas, sebenarnya telah cukup
memadai. Bung Hatta salah seorang bapak pendiri
Negara tercinta mengajukan nilai karakter dalam
jumlah tidak begitu banyak tetapi sangat esensial.
Menurut Bung Hatta, pendidikan. karakter rakyat
adalah: mandiri, tahu hak dan kewajiban, mau
mengambil tanggung jawab.
Apabila nilai-nilai karakter telah menjadi watak
bangsa Indonesia, maka bangsa kita akan menjadi
bangsa yang maju dan sejahtera, karena telah
memenuhi karakteristik sebagai bangsa yang maju
dan modern (Zamroni 2009), yaitu :
1. Dalam kehidupan sehari-hari warga memiliki etika
yang dipegang teguh
2. Warga masyarakat memiliki tanggungjawab
3. Masyarakat memiliki trust, yang didasarkan pada
kejujuran
4. Warga masyarakat saling menghormati hak orang
lain
5. Warga masyarakat patuh kepada hukum dan aturan
6. Warga masyarakat memegang teguh tepat waktu
7. Masyarakat memiliki ethos kerja.
77
Strategi Mikro di Sekolah
78
meningkatnya pergaulan seks bebas, pornografi dan
pornoaksi, keterlibatan dalam narkoba, kebiasaan
bullying di sekolah dan tawuran di kalangan remaja
yang berulang kali terjadi, seakan menunjukkan
bangsa ini tengah melahirkan generasi yang hedonis
dan radikalis. Gambaran fenomena demoralisasi ini
menandakan pengetahuan yang diperoleh melalui
pembelajaran di tingkat persekolahan tidak
berdampak positif terhadap perubahan perilaku
berkarakter pada peserta didik. Banyak orang
berpandangan, kondisi ini terjadi karena
pembelajaran di sekolah cenderung teks book, terjebak
dalam budaya verbalistik, dan terfokus pada
pengayaan pengetahuan (kognitif). Sedangkan
pembentukan sikap (afektif) dan pembiasaan
(psikomotorik) sangat minim bahkan kurang
mendapatkan tempat. Institusi pendidikan lebih
menitikberatkan pada pengembangan intelektual
semata, namun aspek soft skills sebagai unsur utama
pendidikan karakter cenderung terabaikan. Alhasil,
dunia pendidikan banyak menghasilkan anak dengan
kecerdasan intelektual namun tidak dilengkapi dengan
kecerdasan moral.
Sekaitan dengan fenomena di atas, sudah
seharusnya seluruh komponen bangsa sepakat untuk
menempatkan pembangunan karakter bangsa (nation
and character building) sebagai prioritas yang utama.
Hal ini berarti setiap upaya pembangunan pada segala
aspek di negeri ini, harus selalu dipikirkan keterkaitan
dan dampaknya terhadap pengembangan karakter
bangsa. Begitupun halnya dengan pembangunan
pendidikan, harus rancang suatu model pendidikan
yang mampu menghasilkan luaran karakter berbasis
79
nilai moral dan nilai-nilai kebangsaan. Tanpa
mengenyampingkan pentingnya bentuk pendidikan
yang lain, pendidikan karakter sudah seharusnya
dapat diimplementasikan melalui peran institusi
pendidikan dalam menumbuhkan moralitas anak
bangsa dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Penguatan pendidikan karakter di era global
yang penuh dengan paradoks dan pergeseran nilai,
sangat relevan dan urgen dalam mengatasi krisis
moral yang tengah terjadi. Meski penyebab
merosotnya moral bersifat kompleks, namun ada dua
faktor yang tidak dapat dipungkiri, yakni faktor sosial
internal dan faktor eksternal. Pada faktor sosial
internal, muncul fenomena mulai runtuhnya secara
perlahan fungsi sosial terhadap pembentukan moral
anak, seperti: berkurangnya pengawasan orang-tua,
ketidakpedulian masyarakat, hilangnya contoh
ketauladanan, dan disharmonisasi. Sementara pada
faktor eksternal, deraan masuknya nilai-nilai dari luar
melalui berbagai kemajuan IT secara terus-menerus
telah menyebabkan terjadinya pertentangan nilai
dalam diri anak, bahkan bertentangan dengan norma-
norma yang tengah ditumbuhkan pada keluarga,
sekolah dan masyarakatnya. Kedua faktor inilah yang
menjadi penyebab kemerosotan moral pada anak,
hingga memunculkan demoralisasi dalam kehidupan
bermasyarakat dan berbangsa.
Faktualitas merosotnya moral di kalangan anak
bangsa, menjadikan kehadiran pendidikan karakter
sebagai bagian dari upaya membangun moral bangsa.
Untuk itu, rancangan pendidikan karakter berbasis
nilai moral sebagai usulan perlu mendapat perhatian
dan masukan secara berkelanjutan dalam menguatkan
80
aktualisasi dan implementasi pendidikan karaker.
Pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang
mirip dengan pendidikan moral. Tujuannya adalah
membentuk pribadi anak agar menjadi manusia,
warga masyarakat, dan warga negara yang baik.
Tujuan pendidikan karakter pada dasarnya adalah
mendorong lahirnya anak-anak yang baik (insan
kamil). Tumbuh dan berkembangnya moral yang baik
akan mendorong peserta didik tumbuh dengan
kapasitas dan komitmennya untuk melakukan
berbagai hal yang terbaik dan melakukan segalanya
dengan benar serta memiliki tujuan hidup. Pendidikan
karakter merupakan proses pendidikan yang secara
holistik menghubungkan dimensi moral dengan ranah
sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai fondasi
bagi terbentuknya generasi yang berkualitas yang
mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip suatu
kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penekanan pendidikan karakter pada dimensi
moral juga diulas secara komprehensif oleh Lickona
(1991), yang menyatakan pendidikan karakter pada
hakikatnya adalah pembentukan moral. Dalam
pendidikan karakter diperlukan adanya tiga
komponen karakter yang baik (components of good
character), yakni: moral knowing (pengetahuan
tentang moral), moral feeling atau perasaan
(penguatan emosi) tentang moral, dan moral action
atau perbuatan bermoral. Hal ini diperlukan agar
peserta didik yang terlibat dalam sistem pendidikan
dapat memahami, merasakan, menghayati, dan
mengamalkan nilai-nilai kebajikan (moral).
Selanjutnya diuraikan, masing-masing komponen
karakter yang baik ke dalam beberapa dimensi.
81
Dimensi pertama adalah moral knowing, dimensi ini
yang akan mengisi ranah kognitif dengan kesadaran
moral (moral awareness), pengetahuan tentang nilai-
nilai moral (knowing moral values), penentuan sudut
pandang (perspective taking), logika moral (moral
reasoning), keberanian mengambil sikap (decision
making), dan pengenalan diri (self knowledge).
Sedangkan dimensi kedua moral feeling, merupakan
penguatan aspek emosi peserta didik untuk menjadi
manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan
bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh
peserta didik, yaitu kesadaran akan jati diri
(conscience), percaya diri (self esteem), kepekaan
terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran
(loving the good), pengendalian diri (self control),
kerendahan hati (humility). Berikutnya dimensi moral
action, sebagai perbuatan atau tindakan moral yang
merupakan hasil (outcome) dari dua komponen
karakter lainnya. Untuk memahami apa yang
mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act
morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari
karakter yaitu kompetensi (competence), keinginan
(will), dan kebiasaan (habit).
Pandangan Thomas Lickona di atas, pada
hakekatnya menunjukkan pendidikan karakter
sebagai pendidikan moral yang dalam penerapannya
harus menyentuh pada tiga dimensi secara utuh, yakni
kognitif, afektif dan psikomotorik. Karakter
dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing),
pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit)
(Direktorat Pembinaan SMP, 2010). Karakter tidak
terbatas pada pengetahuan saja. Seseorang yang
memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu
82
bertindak sesuai dengan pengetahuannya, jika tidak
terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan
kebaikan tersebut. Karakter juga menjangkau wilayah
emosi dan kebiasaan diri. Dijelaskan oleh Buchori
(2007), bahwa pengembangan karakter seharusnya
membawa anak ke pengenalan nilai secara kognitif,
penghayatan nilai secara afektif, akhirnya ke
pengamalan nilai secara nyata. Untuk sampai ke
praksis, ada satu peristiwa batin yang amat penting
yang harus terjadi dalam diri anak, yaitu munculnya
keinginan yang sangat kuat (tekad) untuk
mengamalkan nilai. Peristiwa ini disebut conatio, dan
langkah untuk membimbing anak membulatkan tekad
ini disebut langkah konatif. Pendidikan karakter
mestinya mengikuti langkah-langkah yang sistematis,
dimulai dari pengenalan nilai secara kognitif, langkah
memahami dan menghayati nilai secara afektif, dan
langkah pembentukan tekad secara konatif.
Paparan di atas menunjukkan, pentingnya
penekanan pendidikan karakter pada dimensi moral.
Melalui penekanan dimensi moral, pendidikan
karakter membelajarkan peserta didik untuk dapat
belajar nilai dalam membedakan mana perbuatan
baik-buruk, benar-salah. Nilai moral berperan penting
dalam membantu pengembangan karakter peserta
didik, karena didalamnya melibatkan proses
pengenalan dan internalisasi nilai-nilai sosial,
termasuk nilai-nilai luhur kebangsaan demikian,
aktualisasi pendidikan karakter berbasis nilai moral
dalam pembelajarannya juga melibatkan nilai-nilai
sosial kebangsaan dalam menyiapkan generasi
penerus bangsa yang berkualitas dan berintegritas
sebagai anak bangsa Indonesia.
83
Berkaitan dengan tantangan besar bangsa yang
dihadapi, perlu upaya menumbuhkan kembali nilai-
nilai luhur budaya bangsa melalui pendidikan karakter
berbasis nilai. Re-discovery, revitalisasi, atau invented
tradition nilai-nilai sosial-budaya kebangsaan perlu
dilakukan melalui medium pendidikan karakter bagi
generasi bangsa sebagai figur generasi bangsa
bermoral. Atas dasar core value yang mengarah pada
nation and character building, sudah saatnya bangsa
ini merumuskan kembali nilai-nilai asli sosial-budaya
bangsa. Terlebih di era global yang tengah mendera,
konsep kebangsaan Indonesia perlu diperkuat melalui
internalisasi nilai-nilai. Atas dasar pemikiran tersebut,
pendidikan karakter berbasis nilai-nilai kebangsaan
perlu berfokus pada karakter kebangsaan melalui
latar belakang sejarah, bahasa, karakteristik budaya
dan kondisi sosial, politik, ekonomi dari berbagai
kelompok etnis. Informasi ini harus komprehensif,
analistis, dan komparatif, dan harus memasukkan
persamaan dan perbedaan di antara kelompok-
kelompok yang ada. Pengetahuan tentang pluralisme
budaya merupakan dasar yang diperlukan untuk
menghormati, mengapresiasi, menilai dan menghargai
keberagaman dalam keperbedaan (politic of
recognition). Fokus selanjutnya adalah penanaman
rasa kebangsaan melalui kepemilikan nilai moral dan
nilai-nilai kebangsaan sekaligus dua basis nilai
tersebut mempribadi dan kemampuan dalam
mengaktualisasikannya dalam kehidupan kebangsaan.
Untuk itu, pendidikan karakter berbasis nilai-
nilai kebangsaan bagi generasi muda perlu dirancang
sebagai wahana sistemik dengan tujuan : (1)
mengembangkan potensi afektif generasi bangsa
84
sebagai warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya
dan karakter bangsa; (2) mengembangkan perilaku
generasi bangsa melalui kepemilikan dan kepribadian
nilai-nilai budaya bangsa; (3) mengembangkan
kemampuan generasi bangsa menjadi nasionalis
berwawasan kebangsaan.
Bila ditilik kandungan isi dari tujuan di atas,
pendidikan karakter bukan semata berbobot pada
transfer of knowledge tetapi juga bermuatan transfer of
values. Oleh karena itu, pendidikan karakter berbasis
nilai-nilai kebangsaan dalam aktualisasinya harus
bersumber pada nilai-nilai luhur, seperti nilai agama,
nilai ideologi Pancasila, dan nilai budaya. Dalam hal ini
PUSKUR (2010) menjelaskan nilai-nilai dalam
pendidikan karakter dikembangkan dengan
bersumber pada:
a. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat
beragama. Oleh karena itu kehidupan individu,
masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran
agama. Secara politis kehidupan kenegaraan pun
didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama.
Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai
pendidikan budaya dan karakter bangsa harus
didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal
dari agama.
b. Pancasila: negara Republik Indonesia ditegakkan
atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan
kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila
terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan
dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang
terdapat dalam UUD 1945 tersebut. Artinya, nilai-
nilai yang ada dalam Pancasila menjadi nilai-nilai
yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi
85
dan kemasyarakatan diatur dalam pasal-pasal UUD
1945. Pendidikan budaya dan karakter bangsa
bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi
warga negara yang baik, yaitu warga negara yang
memiliki kemampuan dan kemauan, dalam
menerapkan nilai-nilai Pancasila pada kehidupan-
nya sebagai warga negara.
c. Budaya, adalah suatu kebenaran bahwa tidak ada
manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak
didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui
masyarakat tersebut. Nilai-nilai budaya tersebut
dijadikan dasar dalam memberi makna terhadap
suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar
anggota masyarakat tersebut. Posisi budaya yang
demikian penting dalam kehidupan masyarakat
mengharuskan budaya menjadi sumber nilai-nilai
dari pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Melalui pendidikan Karakter berbasis nilai-nilai
diharapkan pendidikan karakter bagi generasi bangsa
dapat mengembalikan peran generasi bangsa dalam
pembangunan karater bangsa, yakni perannya sebagai
patriotis, nasionalis yang inklusif, intelektualis yang
moralis. Dengan bersumber pada nilai luhur bangsa
dan tiga kompetensi di atas, pendidikan karakter
sebagai wahana program sistemik pembelajaran
moral dan kebangsaan, dapat turut membentuk
karakter generasi bangsa yang mampu: (1)
mengamalkan ajaran agama yang dianutnya dan
menghargai keberagaman agama, suku, ras, dan
golongan sosial-ekonomi lainnya; (2) mematuhi
aturan-aturan, norma dan peraturan hukum yang
berlaku; (3) kemampuan menganalisis dan
memecahkan masalah sosial-budaya bangsa (4)
86
demokratis dengan menghargai keperbedaan dan mau
menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi
terwujudnya persatuan bangsa; (5) mengaktuali-
sasikan hak dan kewajibannya sebagai warga negara;
(6) memiliki nasionalisme yang tinggi dan kesetiaan
terhadap NKRI; (7) memiliki nilai-nilai moral dan
nilai-nilai budaya bangsa sebagai jatidiri
kebangsaannya.
Pembangunan karakter bangsa melalui
pendidikan karakter bagi generasi bangsa
memerlukan strategi pembelajaran yang berprinsip
pada: bermakna (meaningful) bagi perannya sebagai
figur generasi bangsa , integratif (integrative) bagi
perannya dalam membangun persatuan dan kesatuan,
berbasis nilai (value based) bagi perannya sebagai
gerakan moral, menantang (challenging) bagi
perannya dalam menyongsong masa depan, dan aktif
(active) bagi perannya sebagai dinamisator
pembangunan bangsa. Pendidikan Karakter diharap-
kan dapat membekali generasi bangsa dengan
seperangkat pengetahuan (knowledge), sikap
(disposition) yang berpangkal pada kebajikan (virtues)
dengan sejumlah nilai-moral didalamnya serta
keterampilan (skill), sebagai kompetensi yang dapat
berkontribusi bagi eksistensi dan kemajuan hidup
bangsa dan negara.
87
dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah
individu yang bisa membuat keputusan dan siap
mempertanggungjawabkan akibat dari keputusan
yang dibuatnya (Suyatno, 2009). Pendidikan karakter
pada hakekatnya adalah pendidikan nilai
(Kirschenbaum, 2000; Golemen, 2001) yang
melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan
(feeling), dan tindakan (action). Menurut pandangan
Lickona (1992), pendidikan nilai/moral yang
menghasilkan karakter, didalamnya terkandung tiga
komponen karakter yang baik (components of good
character), yakni: pengetahuan tentang moral (moral
knowing), perasaan tentang moral (moral feeling) dan
perbuatan moral (moral action) sebagaimana
tergambar berikut ini:
88
pengetahuan diri, adalah hal esensial yang perlu
diajarkan kepada peserta didik. Namun, pendidikan
karakter sebatas moral knowing tidaklah cukup. Untuk
itu perlu berlanjut sampai pada moral feeling yang
meliputi: kata hati, rasa percaya diri, empati, cinta
kebaikan, pengendalian diri dan kerendahan hati.
Bahkan terus berlanjut pada tahap yang paling penting
yakni moral action. Disebut penting karena pada tahap
ini motif dorongan seseorang untuk berbuat baik,
nampak pada aspek kompetensi, keinginan dan
kebiasaan yang ditampilkannya. Ketersusunan tiga
komponen moral yang saling berhubungan secara
sinergis, menjadi syarat aktualisasi pendidikan
karakter dalam mengembangkan kecerdasan moral
peserta didik. Kecerdasan moral (moral intelligence)
adalah kemampuan memahami hal yang benar dan
yang salah dengan keyakinan etika yang kuat dan
bertindak berdasarkan keyakinannya tersebut dengan
sikap yang benar serta perilaku yang terhormat
(Borba, 2008: 4). Pendidikan karakter berbasis
kecerdasan moral menjadi sesuatu yang urgen, karena
kecerdasan moral terbangun dari beberapa kebajikan
utama yang kelak akan membantu peserta didik dalam
menyikapi dan menghadapi tantangan hidup yang
penuh dengan kontradiktif. Lebih lanjut, Borba (2008:
7) menguraikan tujuh kebajikan utama yang perlu
dimiliki peserta didik dalam mengembangkan
kecerdasan moral, yakni: empati, hati nurani, kontrol
diri, rasa hormat, kebaikan hati, toleransi, dan
keadilan.
Dengan desain pendidikan karakter berbasis
kecerdasan moral yang diaktualisasikan secara
sistematis dan berkelanjutan, peserta didik akan
89
memiliki sejumlah kebajikan utama yang berguna bagi
dirinya dalam menghadapi segala macam tantangan
kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara
akademis. Dengan demikian, pendidikan karakter
berbasis kecerdasan moral merupakan upaya
pengembangan kemampuan peserta didik yang
berorientasi pada pemilikan kompetensi kecerdasan
plus karakter.
Agar pendidikan karakter berbasis kecerdasan
moral dapat terlaksana secara efektif, maka perlu
didesain pengkondisian moral (moral conditioning)
sebagai tahap awal implementasi. Menurut Lickona
(1991: 187-189; 220-221), ada sebelas prinsip agar
pendidikan karakter dapat terlaksana secara efektif:
(1) mengembangkan nilai-nilai universal sebagai
fondasi; (2) mendefenisikan karakter secara
komprehensif yang mencakup aspek pikiran, perasaan
dan perilaku; (3) menggunakan pendekatan yang
komprehensif dan proaktif; (4) menciptakan
komunitas sekolah yang penuh perhatian; (5)
memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
melakukan tindakan moral; (6) membuat kurikulum
akademik yang bermakna; (7) mendorong motivasi
peserta didik; (8) melibatkan seluruh komponen
sekolah sebagai komunitas pembelajaran moral; (9)
menumbuhkan kebersamaan dalam kepemimpinan
moral; (10) melibatkan keluarga dan anggota
masyarakat sebagai mitra; dan (11) mengevalusi
karakter sekolah baik terhadap staf sekolah sebagai
pendidik karakter maupun peserta didik dalam
memanifestasikan karakter yang baik.
Desain pengkondisian moral di atas, pada
konteks mikro mensyaratkan pendidikan karakter di
90
sekolah dapat diaktualisasikan melalui empat pilar,
yakni: (1) kegiatan belajar mengajar di kelas, dengan
mengimplementasikan pendidikan karakter yang
menggunakan pendekatan terintegrasi dalam semua
mata pelajaran (embeded approach); (2) kegiatan
keseharian dalam bentuk penciptaan budaya sekolah
(school culture); (3) kegiatan ko kurikuler dan atau
ekstrakurikuler; dan (4) kegiatan keseharian di rumah
dan dalam masyarakat (Katresna72, 2010: 9). Dari
desain ini, menunjukkan bahwa dalam pendidikan
karakter mengharuskan adanya tiga basis desain
dalam pemrogramannya yang terbagi menjadi: (1)
desain pendidikan karakter berbasis kelas. Desain ini
berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan
peserta didik sebagai pembelajar di dalam kelas.
Konteks pendidikan karakter adalah proses relasional
komunitas kelas dalam konteks pembelajaran; (2)
desain pendidikan karakter berbasis kultur sekolah.
Desain ini mencoba membangun kultur sekolah yang
mampu membentuk karakter peserta didik dengan
bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu
terbentuk dan terbatinkan dalam diri peserta didik;
dan (3) desain pendidikan karakter berbasis
komunitas. Dalam mendidik, komunitas sekolah tidak
berjuang sendirian. Masyarakat di luar lembaga
pendidikan, seperti keluarga, masyarakat umum, dan
negara, juga memiliki tanggung jawab moral untuk
mengintegrasikan pembentukan karakter dalam
konteks kehidupan peserta didik.
Pendidikan karakter hanya akan bisa efektif jika
tiga desain pendidikan karakter ini dilaksanakan
secara simultan dan sinergis. Melalui desain seperti
ini, diharapkan pendidikan karakter dapat berperan
91
dalam mengembangkan kecerdasan moral secara
komprehensif dan berkelanjutan.
92
dimaksud, dapat ditampilkan seperti pada tabel
berikut:
Pembelajaran
Pembelajaran Inovatif
Konvensional
Pendekatan Teacher Pendekatan Student
Centered Centered
Multi model dan
Dominasi Ekspositori
metode
Minim media Multimedia
Textbook Center Multi sumber belajar
Pembelajaran
Pembelajaran Verbalistik
Konstektual
Evaluasi dominasi kognitif Evaluasi: Kognitif,
tingkat rendah (C1, C2) Afektif dan Psikomotor
Posisi guru sebagai Posisi guru sebagai
transfer of knowledge director of learning
Sumber: Setiawan (2012)
93
pengalaman belajar bervariasi dengan suasana belajar yang
menyenangkan; (3) peserta didik lebih kritis dan kreatif;
(4)) meningkatkan kematangan emosional; dan (5)) mau
berpartisipasi dalam proses perubahan. Moral training
menjadi lebih penting, ketika dikaitkan dengan tujuan
pendidikan moral yang hendak dicapai. Menurut
Frankena (Adisusilo, 2012: 128), tujuan pendidikan
moral mencakup: (1) membantu peserta didik untuk
dapat mengembangkan tingkah-laku yang secara
moral baik dan benar; (2) membantu peserta didik
untuk dapat meningkatkan kemampuan refleksi
secara otonom,…; (3) membantu peserta didik untuk
menginternalisasikan nilai-nilai moral, norma-norma
dalam menghadapi kehidupan konkretnya; (4)
membantu peserta didik untuk mengadopsi prinsip-
prinsip universal, nilai-nilai kehidupan sebagai pijakan
untuk pertimbangan moral dalam menentukan suatu
keputusan; dan (5) membantu peserta didik untuk
mampu membuat keputusan yang benar, bermoral,
dan bijaksana.
Paparan di atas, sekaligus menunjukkan bahwa
pergeseran pola pembelajaran dari konvensional ke
inovatif dalam melatih moral peserta didik, menuntut
guru secara profesional untuk dapat mengusai
berbagai pendekatan, model, strategi, metode, teknik,
berikut komponen lainnya, dalam kegiatan belajar-
mengajar yang kemudian diskenariokan dalam
rencana program pembelajaran.
Sekaitan dengan keterhubungan antara
pembelajaran inovatif dengan pendidikan karakter,
sudah selayaknya seorang guru profesional mampu
merancang RPP berkarakter sebagai skenario moral
training dalam mengembangkan kecerdasan moral
94
peserta didik. Dalam menyusun RPP berkarakter, guru
sebagai aktor pendidik karakter dapat berpedoman
pada deskripsi nilai-nilai karakter utama sebagai
berikut:
Nilai
No Indikator
Karakter
1 Taqwa 1 mengucapkan doa setiap
memulai dan mengakhiri suatu
pekerjaan.
2 bersyukur atas setiap nikmat
yang diberikan Allah
mengerjakan setiap perintah
3 agama dan menjauhi larangan-
Nya.
4 menyesal setiap membuat
kesalahan dan segera mohon
ampun kepada Tuhan.
5 menolak setiap ajakan untuk
melakukan perbuatan tercela.
2 Jujur 1 berkata benar (tidak bohong).
2 berbuat sesuai aturan (tidak
curang).
3 menepati janji yang diucapkan.
4 bersedia menerima sesuatu
atas dasar hak
5 menolak sesuatu pemberian
yang bukan haknya.
6 berpihak pada kebenaran.
7 menyampaikan pesan orang
lain.
8 satunya kata dengan
perbuatan.
95
Nilai
No Indikator
Karakter
3 Disiplin 1 patuh pada setiap peraturan
yang berlaku.
2 patuh pada etika sosial/
masyarakat setempat
3 menolak setiap ajakan untuk
melanggar hukum.
4 dapat mengendalikan din
terhadap perbuatan tercela.
5 hemat dalam menggunakan
uang dan barang.
6 menyelesaikan tugas tepat
waktu.
7 meletakkan sesuatu pada
tempatnya.
8 dapat menyimpan rahasia.
4 Demokrati 1 bersedia mendengarkan
s pendapat orang lain.
2 menghargai perbedaan pendapat
3 tidak memaksakan kehendak
kepada orang lain.
4 toleran dalam bermusyawarah
diskusi.
5 bersedia melaksanakan setiap
hasil keputusan secara
bersama.
6 menghargai kritikan yang
dilontarkan orang lain.
7 membuat keputusan yang adil.
5 Adil 1 memperlakukan orang lain
atas dasar kebenaran.
96
Nilai
No Indikator
Karakter
2 mampu meletakkan sesuatu
menurut tempatnya.
3 tidak ingin lebih atas sesuatu
yang bukan haknya.
4 membela orang lain yang
diperlakukan tidak adil.
5 memperlakukan orang lain
sesuai haknya.
6 tidak membeda-bedakan
orang dalam pergaulan.
7 menghargai kerja orang lain
sesuai basil kerjanya.
6 Bertanggu 1 menyelesaikan setiap
ng Jawab pekerjaan yang dibebankan
sampai tuntas. .
2 tidak mencari-cari kesalahan
orang lain.
3 berani menanggung resiko
terhadap perbuatan yang
dilakukan.
4 bersedia menerima pujian
atau celaan terhadap tindakan
yang dilakukan.
5 berbicara dan berbuat secara
berterus-terang (tidak seperti
ungkapan, lempar batu
sembunyi tangan).
6 melaksanakan setiap
keputusan yang sudah diambil
dengan tepat dan bertanggung
97
Nilai
No Indikator
Karakter
jawab.
7 Cinta 1 merasa bangga sebagai orang
tanah air yang bertanah air Indonesia.
2 bersedia membela tanah air
untuk kejayaan bangsa.
3 peduli terhadap rusaknya
hutan/lingkungan di tanah air.
4 bersedia memelihara
Iingkungan dan melindungi
flora dan fauna Indonesia.
5 dapat menyimpan rahasia
negara.
6 mau hidup dimanapun di
wilayah negara kesatuan
Indonesia.
8 Orientasi 1 gemar membaca.
pada 2 belajar dengan bersungguh-
keunggula sungguh. .
n 3 mengerjakan sesuatu
pekerjaan dengan sebaik
mungkin.
4 berupaya mendapat hasil yang
terbaik.
5 senang dalam kegiatan yang
bersifat kompetitif.
6 tidak cepat menyerah
mengerjakan sesuatu yang
mengandung tantangan.
7 memiliki komitmen kuat
dalam berkarya.
98
Nilai
No Indikator
Karakter
8 menjaga din hidup sehat.
9 Gotong 1 memahami bahwa kerjasama
Royong merupakan kekuatan.
2 memahami hasil kerjasama
adalah untuk kebaikan
bersama.
3 dapat menyumbangkan
pikiran dan tenaga untuk
kepentingan bersama.
4 dapat melaksanakan
pekerjaan bersama dengan
cara yang menyenangkan.
5 bantu-membantu demi
kepentingan umum.
6 bersedia secara bersama-sama
membantu orang lain.
7 bersedia secara bersama-sama
membela kebenaran.
8 dapat bekerja dengan giat
dalam setiap kelompok kerja.
10 Mengharg 1 mengucapkan terima kasih
ai atas pemberian atau bantuan
orang lain.
2 santun dalam setiap kontak
sosial.
3 menghormati pemimpin dan
orang tua.
4 menghormati simbol-simbol
negara.
5 tidak mencela hasil karya
99
Nilai
No Indikator
Karakter
orang lain.
6 memanfaatkan waktu dengan
sebaik mungkin.
7 tidak mengganggu orang yang
sedang beribadah menurut
agamanya.
11 Rela 1 mau mendengarkan teman
Berkorban berbicara sampai selesai
walaupun ada keperluan lain
yang mendesak.
bersedia membantu teman
2 orang lain yang mengalami
musibah.
3 ikhlas bekerja membantu
orang lain dan harus
meninggalkan pekerjaan
sendiri untuk sementara.
4 bersedia menyumbang untuk
kepentingan dana kemanu-
siaan dalam keuangan pribadi
sangat terbatas.
5 rela memberi fasilitas
(kemudahan) kepada orang
lain sungguh pun secara din
sendiri sangat membutuhkan
fasilitas tersebut.
6 mau memperjuangkan
kepentingan orang lain
walaupun mengandung resiko
untuk diri sendiri.
100
Beberapa nilai karakter pada tabel, dapat
dikemas melalui penerapan model-model
pembelajaran inovatif dalam mengembangkan
kecerdasan moral peserta didik. Ada begitu banyak
model-model pembelajaran dengan segala kelebihan
dan kekurangan. Tanpa mengecilkan arti model-model
pembelajaran yang begitu banyak, guru dapat
menggunakan model analisis nilai sebagai salah satu
modifikasi yang termasuk ke dalam Values
Clarification Technique (VCT). Hall (1973:11)
menjelaskan bahwa VCT sebagai ”by values
clarification we mean a methodology or process by
which we help a person to discover values througth
important choices he has made and is continually, in
fact, acting upon in and through his life”. Melalui VCT,
peserta didik dilatih untuk menentukan nilai-nilai
hidup yang tepat sesuai dengan tujuan hidupnya dan
menginternalisasikannya ke dalam pribadi sebagai
pedoman dalam bernalar, bersikap dan berperilaku
moral. Moral training dengan VCT dinilai pas dalam
menerapkan pembelajaran nilai, dan dapat
dimodifikasi secara kreatif oleh guru dalam
mengembangkan kecerdasan moral peserta didik,
seperti pada contoh di bawah ini:
1. Menginformasikan topik;
2. Menginformasikan langkah kegiatan, dengan
langkah-langkah, seperti:
memberi contoh masalah/kasus yang bertentangan
dengan topik mengkaji nilai yang terkait dengan
esensi contoh kasus Menguji komitmen peserta
didik terhadap suatu nilai tertentu memberikan
penguatan terhadap komitmen peserta didik;
101
3. Meminta peserta didik mengemukakan contoh-
contoh perbuatan yang mencerminkan sikap sesuai
topik dari media massa, ilustrasi, dan pengalaman;
4. Menugaskan peserta didik menganalisis kasus
dengan menunjukkan berbagai nilai yang terkait;
5. Menugaskan peserta didik mendiskusikan nilai
yang terkait dengan suatu kasus;
6. Merumuskan dan melaporkan hasil diskusi dengan
menggunakan format model analisis nilai, seperti
contoh berikut:
Kategori
Media- Kecerdasan
Kelompok Nilai
Stimulus Moral
Karakter
Nama Gambar, foto, Esensi nilai- Penalaran
Kelompok lagu, film, nilai terhadap
puisi, cerita, karakter indikator-
kasus yang (Pilih salah indikator
mengandung satu nilai karakter
dilema moral karakter (moral
yang ada knowing,
pada tabel) moral feeling,
dan moral
action)
7. Silang pendapat secara klasikal;
8. Ajukan pertanyaan secara klasikal;
9. Menugaskan peserta didik mengemukakan contoh-
contoh akibat tindakan seseorang yang
bertentangan dengan nilai esensial.
Langkah-langkah moral training dalam
pembelajaran VCT di atas, dapat dirancang dengan
memberikan media-stimulus, seperti: (1) gambar-
gambar yang sarat dengan pesan moral dan berkaitan
dengan materi pembelajaran; (2) pemanfaatkan
musik/lagu yang dapat membangkitkan motivasi
peserta didik dalam berlatih moral; (3) penayangkan
102
film yang mengisahkan nilai-nilai kehidupan; (4)
pemanfaatkan cerita, puisi dan karya sastra lainnya
yang mengandung nilai-nilai moral; dan (5) kasus-
kasus yang berisi masalah-masalah kehidupan yang
sarat dengan dilema moral.
C. Penutup
Pendidikan formal sebagai wahana sistemik
pembangunan karakter bangsa belum memberikan
luaran optimal terhadap pembentukan karakter peserta
didik. Hal ini diduga karena dunia pendidikan hingga saat
ini lebih cenderung mementingkan capaian kompetensi
akademik ketimbang capaian kompetensi karakter.
Untuk itu, usulan adanya pendidikan karakter yang
teraktualisasikan secara integralistik sebagai wahana
sistemik pengembangan kecerdasan moral (building
moral intelligence), perlu mendapat dukungan berbagai
pihak dalam menghasilkan luaran peserta didik yang
memiliki kompetensi kecerdasan plus moral. Usulan ini
menuntut pendidikan formal sebagai pengemban
pendidikan karakter, melakukan upaya keratif dengan
menggeserr pembelajaran konvensional ke arah pembelajaran
inovatif. Pendidikan karakter dengan pola pembelajaran
konvensional, hanya akan mengajarkan pendidikan moral
sebatas tekstual semata dan kurang mempersiapkan peserta
didik untuk menyikapi kehidupan yang kontradiktif. Dengan
demikian dalam konteks mikro, pola pembelajaran inovatif
menjadi syarat dalam mengaplikasikan pendidikan
karakter untuk dapat mengembangkan kecerdasan moral
secara efektif.
Menghadapi tuntutan di atas, pendidikan formal
sebagai institusi pengemban pendidikan karakter perlu
melakukan pembenahan diri. Desain peran pendidikan
103
karakter dengan pola integralistik dalam mengembangkan
kecerdasan moral akan berjalan efektif dan bermakna, melalui
upaya kreatif pihak sekolah dalam merancang pengkondisian
moral (moral conditioning) dan aplikasi melatih moral
(moral training) secara komprehensif, sistemik dan
berkelanjutan.
*****
104
BAB VI
ETIKA KEWARGANEGARAAN
PERSPEKTIF GLOBAL
A. Pendahuluan
Konsep moral yang telah dipaparkan sebelumnya
merujuk nilai yang tertuang dari perbuatan manusia
yang sesuai dengan kaidah atau norma. Hal ini tampak
pada pengertian nilai manusia yang dikategorisasikan
baik atau buruk dari apa yang telah dilakukan. Artinya
moral identik dengan wujud perbuatan atas apa yang
telah dipahami atau bentuk refleksi. Berkaitan dengan
kategori perilaku manusia itu maka ada kaidah yang
menjadi perenungan atas refleksi tersebut yang masih
dalam kaitan erat dengan moral yaitu etika.
Etika acap kali disamaartikan dengan moral,
kendatipun memiliki kesamaan maksud yang
berorientasi dengan sikap atau perilaku manusia, namun
etika bermuara pada telaah berfikir atas apa yang akan
dikehendaki. Artinya sebelum manusia berkehendak,
kehendak tersebut dimanajemen oleh perenungan atau
refleksi yang dalam atas daya berfikir tentang
pertanyaan baik/buruk, benar/salah yang dimaksud
kategori manusia berkehendak.
Kepatutan akan manusia berkehendak dalam
kategorisasi kolektif (moralitas) maka manusia akan
dikepung oleh segala pertimbangan-pertimbangan yang
argumentatif dan kritis. Pertimbangan inilah akhirnya
dinamakan ruang dialogis etika dalam telaah ilmu atau
teorinya orang berperilaku dalam segala perbuatannya.
105
Bertens (2004), mengatakan etika sebuah cara
untuk menyelidiki perilaku manusia, yang akhirnya jatuh
pada pilihan sesuatu yang dianut dan diwariskan terus
menerus dan menjadi standar perilaku yang dilebelkan
menjadi kepatutan, yang ideal dan yang diterima. Oleh
karena itu, etika akan membangun kebiasaan, prinsip dan
tradisi manusia dalam bersikap dan berperilaku dalam
kehidupannya. Sedangkan Suseno (2016), mendefenisi-
kan etika yang berasal dari kata ethos yang berarti
watak, yaitu sebuah ‘ilm (bukan ajaran), cabang filsafat
atau pemikiran yang kritis dan mendasar tentang ajaran
moral, nilai baik/buruk, mengajari tentang orientasi
hidup. Etika merupakan kelompok filsafat praktis
tentang apa yang dilakukan oleh manusia. Lebih lanjut,
Suseno (1987) mengutarakan bahwa etika sebagai ilmu
yang mencari orientasi bagi usaha manusia untuk
menjawab pertanyaan yang amat fundamental,
“bagaimana saya harus hidup dan bertindak”.
Mencoba menelusuri akan apa yang dilakukan
manusia dalam segala tindakan dan upaya hidup atau
mempertahankan hidupnya, maka manusia tidak
melepaskan diri terhadap pertimbangan-pertimbangan
standar kepatutan manusia. Berkaitan dengan itu, etika
menjadi sesuatu hal yang suci dalam membedah segala
hal-ikhwal tentang baik dan benar. Pada prakteknya
dalam sebuah kehidupan manusia memiliki keragaman
perilaku. Ini memungkinkan konsep keidealan dibangun
atas tafsir manusia itu sendiri tetapi tidak melepaskan
akan pertimbangan yang lain, untuk itu pertimbangan
tersebut harus beroreintasi terhadap kepatutan yang
kolektif atau motaliras.
Pada masyarakat global yang menitik beratkan
pada persoalan dunia, akhirnya manusia jatuh pada
106
pilihan standar etis dunia yang menjadi pijakan manusia
melangkah pada pergaulan global. Mencatatkan namanya
pada interaksi dan komunikasi umat tanpa batas (agama,
ideologi dan warga global) maka dirinya akan
mengupgrade kesadaran prinsip yang telah diyakini
sebagai bentuk nilai warisan atau kemampuan untuk
mendaur nilai yang di pedomani sebagai standar
moralitas manusia modern yang bergaul secara global.
Namun disisi lain cakap menjadi warga global menjadi
tuntutan atas konsekuensi kemajuan teknologi diera
sekarang ini.
Dalam pembahasan ini etika kewargaan mengarah
pada etika global yang menjadi isu masyarakat tanpa
batas, khususnya diera digital dampak dari pada
teknologi yang diciptakan manusia menjadi alat atau
media dalam bergaul, beradaptasi dan mempertahankan
dirinya sebagai manusia dunia.
B. Pembahasan
Perkembangan kehidupan manusia beriringan
dengan masalah dan kanekaragaman yang ditemuinya,
terkait perilaku manusia tetap menjadi daya
pertimbangan sendiri dalam keberlangsungan kehidupan
yang terus berkelanjutan dan mewariskan. Maka etika
memungkinkan akan bergeser pada pola pemahaman itu
sendiri, karena etika akan berhadapan pada persoalan
baru dan kemungkinan tidak dapat dijawab oleh konsep
lama (standar moralitas baku) artinya etika tidak lagi
dirujuk dari yang telah dibakukan melainkan akan di-
upgrade dengan segala pertimbagan dengan ruang
dialogis fenomena. Misalnya diera digital atau manusia
elektornik yang kian masif mengurung pada persoalan
yang kompleks dalam segala pertimbangan moral dalam
107
dialog antar-agama, antar-ideologi, antar-warga global
(kosmopolitan). Maka standar moral baku akan di daur
menjadi sebuah konsep etika global yang berusaha
menggapai titik temu antara berbagai ruang dialogis
manusia yang bervariasi dalam segala masalah dan dapat
merujuk pertimbagan ideal bersama sebagai warga
global.
Kung (1991), salah seorang tokoh yang mencoba
menelusuri titik temu warga global dengan segala
kompleksitas kehidupannya dimulai dari suatu realitas
yang konkrit dan fleksibel. Misalnya mengintai persoalan
terorisme, konflik, agama dan ideologi yang tidak
dijumpai akar masalahnya, dan salah satu hal mendasar
adalah adanya standar yang berseberangan diantarnya.
Maka perlu ada sebuah konsensus global yang
membangun konsep lintas atau antar yang berpotensi
membangun persoalan dunia. Untuk menangkis musibah
global akibat perilaku manusia maka harus mengacu
kepada konsep manusia etis yang bertanggung jawab
dari manusia yang bebas etik/nilai (tidak bermoral),
kemudian menuju manusia global yang melepaskan
budaya teknokrasi, berorientasi kepada industri yang
ramah lingkungan dari pada merusak lingkungan,
menuju tatanan demokrasi berkeadilan dan kebebasan
lalu beranjak dari demokrasi legal.
Patut disadari etika global pada masyarakat
moderen tidak mengesampingkan urusan ekonomi dunia
dalam keadilan kesejahteraan umat manusia. Karena
pergerakan ekonomi akan mempengaruhi hubungan
sosial masyarakat, hal ini tercatat pada perjalanan
manusia di dalam buku-buku transformasi manusia dari
zaman klasik hingga sekarang. Karenanya cabang
maupun sentral produksi yang mengglobal mampu
108
membangun pandangan dan pola hubungan antar
manusia yang memanusiakan.
Orientasi manusia berfikir acap kali dipengaruhi
oleh nilai transaksi ekonomi yang berkutat pada
persoalan hidup manusia, ini yang akhirnya
mempengaruhi hubungan antar-manusia. Ketimbangan
pada persoalan alamiah manusia dalam hubungan sebab-
sebab yang lain. Karena cara pandang ini lebih realitas
dan konkrit. Maka etika pada posisi ini memandang
harus menunjukan diri sebagai reaksi kepedulian antar
sesama manusia (global) yang mendasar pada
pengetahuan objektif tentang ketimpangan/kontradiksi
yang ada (ekonomisasi).
Soyomukti (2011), mengatakan dalam konsep
warga global memandang bagaimana orang tidak
mungkin akan memiliki patokan etis kalau tidak
didahului dengan penilaian tentang mana yang baik-dan
buruk. Kualitas dapat dilihat dari bentuk-bentuk
hubungan material yang ada dalam kenyataan sehari-
hari. Kesadaran tentang permasalaan akan membuat
orang menilai apakah masyarakat sekarang ini akan
berjalan menuju humanitas atau dehumanitas. Struktur
objektif adalah tempat individu-individu dalam
masyarakat saling berhubungan dalam rangka memenuhi
dan meningkatkan kebutuhan hidupnya. Apabila
hubungan itu saling mendukung dan memenuhi (kerja
sama), masyarakat berjalan secara harmonis. Apabila
dalam hubungan ekonomis itu terjadi konflik, dapat
dipastikan secara sosial-politik dan budaya (bahkan
agama) akan terjadi konflik secara terus-menerus. Lebih
lanjut dijelaskan dalam perilaku yang dibangun dalam
konsep etika global adalah semacam patokan budi yang
lahir dari cara memandang realitas kemiskinan, sebab-
109
sebab objektifnya, dan imbasnya bagi disharmoni sosial,
budaya, agama, dan etnisitas yang sangat rawan terjadi di
era ini. Etika global tidak hanya mencari titik temu antara
berbagai macam kekayaan lokalitas yang terbangun dan
mendukung keragaman budaya manusia, tetapi juga
mencari titik temu untuk mengatasi kontradiksi
(ketidakadilan) global yang manifes dalam hubungan
ekonomi-politik.
Kaidah toleransi yang didefenisikan dalam etika
global yang menjebatani hubungan antar-sesama
manusia adalah watak yang dicita-citakan oleh
pendukung etika global atau komunitas moderen.
Toleransi menjadi sebuah dimensi psikologis berupa
harpan perasaan dan berfikir terhadap realitas dan
hubungan antar-sesama manusia. Maka makna toleransi
menjadi kepekaan rasa dan memandang manusia lain
sebagai bagian dari dirinya atau memanusiakan manusia
yang saling berkaitan dalam usaha mempertahankan
hidupnya dan fakta nyata manusia saling ketergantungan
satu dengan yang lain sekalipun memiliki sikap mandiri
namun kolaborasi menjadi sesuatu yang niscaya dalam
keberlangsungan hidup didunia nyata ini.
Bahá’u’lláh dalam karyanya Soyomukti (2011),
menjelaskan sebuah peringatan, “The well-being of
mankind, its peace and security, are unattainable unless
and until its unity is firmly established (umat manusia,
kedamaian dan keamanannya, hanya atas suatu pondasi
kesatuan sejati, harmoni dan pemahaman antara
manusia dari bermacam-macam bangsa di dunia,
masyarakat global yang berkelanjutan bisa
dicanangkan).” Dapat kita fahami manusia yang
mencatatkan namanya sebagai umat global harus mampu
memetik etika global sebagai konsekuensi dari
110
globalisasi yang berpotensi memiskinkan manusia dan
juga dapat menimbulkan rasa solidaritas untuk
memecahkan persoalan-persoalan lain akibat
ketidakadilan global. Globalisasi akan mengarah pada
adanya kewarganegaraan global (world citizenship)
melampaui identitas bangsa, suku, dan agama untuk
menyikapi isu-isu global dan mengatasi permasalahan-
permasalahan yang ada.
Aristoteles seorang filsuf yang berkutat objek
manusia memaparkan etika menjadi hal yang suci karena
bersifat teologis yang memiliki arah dan tujuan. Lebih
tegas lagi ia mengatakan bahwa segala sesuatu tentang
manusia pasti memiliki cita-cita dan maksud yang dituju.
Sehingga apa yang diraih manusia dalam segala hal
memiliki tujuan oleh karenanya kecakapan sikap,
perilaku dan pengatuhuaanya memiliki arti penting
sebagai orientasi dari tujuan tersebut. Imbuhnya lagi
etika yang baik adalah berpusat pada karakter atau
watak/kepribadian.
Dalam bahasa ilmu sosial modern, menurut M.
Newcomb dalam bukunya Soerjono (1985), kepribadian
merupakan organisasi dari sikap-sikap (predispositions)
yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap
perikelakuan. Kepribadian menunjuk pada organisasi
dari sikap-sikap seseorang untuk berbuat, mengetahui,
berpikir, dan merasakan secara khususnya apabila dia
berhubungan dengan orang lain atau menanggapi suatu
keadaan. Oleh karena kepribadian tersebut merupakan
abstraksi dari individu dan kelakuannya sebagaimana
halnya dengan masyarakat dan kebudayaan, ketiga aspek
tersebut mempunyai hubungan yang saling
memengaruhi satu dengan lainnya baik dalam ranah
pengetahuan, sikap dan perilakunya.
111
Majuanya kehidupan manusia dalam teknologi
akan mempengaruhi realitas kehidupannya dalam ketiga
ranah tersebut, dalam persepektif manusia yang
berdialog tanpa batas (warga global) akan berkontribusi
pada karakter dan kepribadian. Menurut Borba (2008),
karakter yang dibangun lewat kecerdasan moral (moral
intelligence) adalah kemampuan memahami hal yang
benar dan yang salah dengan keyakinan etika yang kuat
dan bertindak berdasarkan keyakinannya tersebut
dengan sikap yang benar serta perilaku yang terhormat.
Menurut Soyomukti (2011), istilah karakter juga
menunjukkan bahwa tiap- tiap sesuatu memiliki
perbedaan. Dalam istilah modernnya, tekanan pada
istilah perbedaan (distinctiveness) atau individualitas
(individuality) cenderung membuat kita menyamakan
antara istilah “karakter” dengan “personalitas”
(kepribadian). Memiliki karakter berarti pemiliki
kepribadian. Karakter diartikan sebagai totalitas nilai
yang mengarahkan manusia dalam menjalani hidupnya.
Jadi, ia berkaitan dengan sistem nilai yang dimiliki oleh
seseorang. Orang yang matang dan dewasa biasanya
menunjukkan konsistensi dalam karakternya. Ini
merupakan akibat dari keterlibatannya secara aktif
dalam proses pembangunan karakter. Jadi, karakter
dibentuk oleh pengalaman dan pergumulan hidup.
Orang-orang yang melakukan segala sesuatu dengan baik
dan konsisten adalah orang yang baik. Setiap tindakan
tidak dianggap sebagai suatu tindakan yang terisolasi
(seperti yang sering dilakukan dalam sistem etika
lainnya), tetapi dalam hubungan dengan gagasan yang
bajik. Sikap terhadap etika ini disebut “Etika Kebajikan”
atau etika yang berpusat pada watak: tindakan-tindakan
setiap orang harus membuat orang itu lebih baik dan
112
membangun watak yang lebih baik pula. Dengan
demikian, etika dapat membantu masyarakat mengatasi
persoalan-persoalan moral yang dihadapinya dalam
kehidupan kongkritnya. Etika menjadi batu pijakan
dalam menentukan sikap terhadap dilema moral yang
dihadapinya. Secara sederhana etika dalam konteks
kewarganegaraan dapat diartikan sebagai landasan atau
patokan bagaimana warga negara Indonesia dalam
bertindak dan berperilaku di tengah-tengah kehidupan
bermasyarakat (Pasandaran:2016).
Berkaitan dengan etika, pemerintah melalui TAP
MPR No. VI/MPR/2001 telah mengeluarkan kebijakan
untuk internalisasi dan sosialisasi etika kehidupan
berbangsa sesuai dengan kaidah-kaidah berikut.
1. Internalisasi dan sosialisasi etika kehidupan
berbangsa tersebut menggunakan pendekatan agama
dan budaya.
2. Internalisasi dan sosialisasi etika kehidupan
berbangsa dilakukan melalui pendekatan komunikatif,
dialogis dan persuasif, tidak melalui cara indoktrinasi.
3. Mendorong swadaya masyarakat secara sinergis dan
berkesinambungan untuk melakukan internalisasi dan
sosialisasi etika kehidupan berbangsa.
4. Mengembangkan dan mematuhi etika-etika profesi:
etika profesi hukum, politik, ekonomi, kedokteran,
guru, jurnalistik, dan profesi lainnya sesuai dengan
pokok-pokok etika kehidupan berbangsa.
5. Internalisasi dan sosialisasi serta pengamalan etika
kehidupan berbangsa merupakan bagian dari
pengabdian kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.
113
C. Penutup
Meminjam pemikiran Plato yang mengidealkan
sebuah konsep masyarakat dengan membangun sistem
pemerintahan bergaya Aristokrasi dijajaran ketata-
negaraan. “Republic” adalah karyanya yang termashur,
republik yang diidam-idamkan dengan sistem aristokrasi
yang dimaksud adalah aristokrasi kepiawaian atau
kecakapan seorang ahli atau pakar yang mumpuni
dibidangnya. Tidak menitik beratkan pada warisan atau
kerabat dekat. Kepiawaian yang dimaksud Plato adalah
meraka yang siap secara bekal dengan potensi yang
dimilikinya menjadi kaum bijak di negerinya. Bukan
berangkat dari pemungutan suara kolektif melainkan
proses seleksi kemuliaan bidang dan kesadaran
kemampuan.
Berkaitan dengan ide Plato yang diagungkan
tersebut serasi dengan bagaimana menjadi manusia
global, pemaknaan aristokrasi disini adalah membangun
konsep ideal yang bermuara pada manusia yang layak
hadir dipergaulan global dengan membangun kesadaran
yang menyandra keegoan yang berpihak pada individu
atau kelompok tertentu berdasarkan suara yang
menggelembung, melainkan menyerahkan kepada
konsensus global yang disepakati dan mampu diterima
oleh mereka para tamu yang mencatatkan namanya
sebagai warga global.
Menyiapkan standar kepatutan dan keidealan
sebagai warga global menjadi barometer yang menjadi
pertimbangan bernilai etis yang memanusiakan manusia.
Kepiawaian manusia global menjadi ukuran kemuliaan
yang patut di jadikan norma “etika global”. Karena
aktivitas manusia bertindak secara terus menerus tanpa
henti sehingga melahirkan nilai yang dapat diterima bagi
114
para pengguna global community. Artinya setiap tindakan
tersebut harus memenuhi standar atau kriteria normatif
tertentu (warga global). Bahwa manusia bertindak itu
normal yang menggambarkan eksistensi manusia secara
mendalam, karena tindakan manusia tidak hanya
berkaitan dengan eksistensinya sebagai makhluk hidup,
melainkan juga mencetuskan nilai-nilai manusiawi yang
akhirnya membentuk karakter atau kepribadian.
Karakter atau kepribadian harus memenuhi syarat
moral atau dialogis etika yang disuguhkan. Maurice
Blondel (Dewantara, 2017), mengatakan bahwa tindakan
manusia adalah representasi dirinya yang paling umum.
Selain yang paling umum, tindakan manusia juga
merupakan representasi dirinya yang paling lengkap.
Dengan tindakannya, manusia menghadirkan dirinya
secara mempesonakan. Lebih lanjut Blondel menulis,
“Tindakan adalah fakta yang paling menyeluruh
sekaligus konstan dalam hidupku.” Blondel hendak
menegaskan bahwa tindakan adalah realitas yang paling
meyakinkan perihal siapa dirinya. Jika manusia hendak
mengomunikasikan diri kepada sesamanya, Tuhannya,
atau siapa pun, dia pasti merealisasikannya dalam
tindakan. Hampir tidak ditemukan sarana lain untuk itu
selain melalui tindakan. Sudah barang tentu tindakan di
sini tidak dimaksudkan sebagai tindakan yang
sembarangan, melainkan tindakan yang sungguh keluar
dari dirinya sebagai manusia. Tindakan itu membangun
pengalaman. Apa yang disebut dengan pengalaman
langsung menunjuk pada rangkaian peristiwa dari suatu
perbuatan.
Di era globalisasi berbasis teknologi digital
menuntut manusia memiliki kesiapan tindakan yang
matang dalam mental percaya diri untuk berinteraksi
115
maupun berkomunikasi untuk meraih daya hasil dan
daya guna secara mandiri dan kolaborasi. Jamaludin
mengatakan bahwa kepercayaan diri yang dibangun
untuk meraih sesuatu di masa yang akan datang dengan
bekal sikap, pengetahuan serta keterampilan. Keyakinan
ini dikelola lewat manajemen menakar diri seseorang
kemudian mendorong untuk mampu berbuat nilai
kebajikan. Nilai moral menjadi perhatian khusus ketika
manusia hidup di dalam sebuah tatananan konsensus
maka keterampilan sosial menjadi orientasi penting yang
harus dimiliki. Kecakapan olah fikir, rasa, karsa dan raga
adalah pengejewantahan semangat gotong royong yang
dibekali kamandirian yang matang (Jamaludin, dkk.,
2020).
Pada dasarnya tindakan manusia dalam karakter
global mendayagunakan rasa kemanusiaan yang
mengenal batas-batas manusia. Karena di dalam
kelompok manusia yang global memiliki variasi gaya
interaksi dan komunikasi oleh karenanya media kontrol
dan alat kendali yang disiapkan adalah kesadaran
sebagai upaya menakar diri sebagai tamu warga global.
Menurut Jamaludin sebagai manusia yang berkelompok
dari kerumunan sosial dengan media global internet akan
mempola keadaan manusia hadir menjadi tamu digital
untuk bersama dalam kelompok modern yang secara
aktif maupun pasif dalam membangun persepsi untuk
kediriannya “to know and to be or to have” menjelma
dalam situasi dan keadaan baru, kelompok baru,
pemikirian baru dan pengalaman baru (Mastuti, dkk.,
2020).
Lebih lanjut Jamaludin, dkk. (2020), menegaskan
tentang To know and to be or to have dapat mencetak
karakter manusia bahkan kepada penguatan karakter,
116
karena hal tersebut sebagai barometer nilai yang
terkandung di dalam tamu digital. Dalam teori
pemikirian konstruktivisme, manusia dalam konteks
sosial yaitu membangun pengetahuan disusun lewat
pengalaman dari apa yang diketahui kemudian ditata
menjadi pengetahuan yang terhimpun dan tersusun
dengan alatnya kendali berfikir. Menyarikan kesadaran
akal dalam berpikir knowledge akan menuju kepada
manusia tentang suatu pesan/makna dari apa yang
dipelajari, suatu pengalaman/salinan diri tentang apa
yang dilalui dalam kehidupan. Hal ini merupakan
rekrutmen dan inventaris secara terstruktur yang
bersifat dinamis dan mandiri. Pengetahuan yang
terhimpun mampu mempola karakter manusia menjadi
sesuatu hal yang dikehendaki, oleh karenanya
pengetahuan memiliki peran penting dalam membangun
karakter manusia.
*****
117
118
BAB VII
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM
KONTEKS MULTIKULTURALISME
BERORIENTASI NILAI MORAL DALAM
KONTEKS MULTIKULTURALISME
A. Pendahuluan
Secara bahasa, istilah “Civic Education” oleh
sebagian pakar diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia menjadi Pendidikan Kewargaan dan
Pendidikan Kewarganegaraan. Istilah “Pendidikan
Kewargaan” diwakili oleh Azra dan Tim ICCE (Indonesian
Center for Civic Education) dari Universitas Islam Negeri
(UIN) Jakarta, sebagai pengembang Civic Education
pertama di perguruan tinggi. Penggunaan istilah
“Pendidikan Kewarganegaraan” diwakili oleh
Winataputra dkk dari Tim CICED (Center Indonesian for
Civic Education), Tim ICCE (2008). Menurut Kerr
(Winataputra dan Budimansyah, 2007:4),
mengemukakan bahwa Citizenship education or civics
education didefinisikan sebagai berikut: Citizenship or
civics education is construed broadly to encompass the
preparation of young people for their roles and
responsibilities as citizens and, in particular, the role of
education (trough schooling, teaching, and learning) in
that preparatory process.
Dari definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa
Pendidikan Kewarganegaraan dirumuskan secara luas
untuk mencakup proses penyiapan generasi muda untuk
mengambil peran dan tanggung jawabnya sebagai warga
negara, dan secara khusus, peran pendidikan termasuk di
119
dalamnya persekolahan, pengajaran dan belajar, dalam
proses penyiapan warga negara tersebut. Cogan (1999:4)
mengartikan civic education sebagai "the foundational
course work in school designed to prepare young citizens
for an active role in their communities in their adult lives",
maksudnya adalah suatu mata pelajaran dasar di sekolah
yang dirancang untuk mempersiapkan warga negara
muda, agar kelak setelah dewasa dapat berperan aktif
dalam masyarakatnya.
PKn sebagai program pendidikan diharapkan
dapat menjadikan warga negara yang selalu ikut
berpartisipasi dalam pembangunan negara, yaitu
menjaga keutuhan bangsa dan mampu hidup rukun dan
harmonis dalam masyarakat Indonesia yang ber-Bhineka
Tunggal Ika. Untuk itu diperlukan konsepsi generik
pendidikan bagi warga negara agar mampu hidup rukun
dan harmonis dalam masyarakat Indonesia yang ber-
Bhinneka Tunggal Ika. Secara keilmuan pembahasan
tersebut perlu diletakkan dalam dalam konteks
pendidikan kewarganegaran secara sistemik dalam
rangka perwujudan fungsi dan tujuan pendidikan
nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang dasar 1945. Dalam pasal 3 UU No.20 tahun 2003
tentang Sisdiknas, secara imperatif digariskan bahwa
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak dan peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga negara yang demokratis dan
bertanggung jawab”. Idealisme pembentukan watak dan
120
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menjadikan
manusia sebagai warga negara yang demokratis dan
bertanggung jawab. Secara filosofis, sosio-politis dan
psikopedagogis, idealisme tersebut merupakan misi suci
(mission sacre) dari pendidikan kewarganegaraan.
121
antara pilihan menjadi monocultural nation-state yang
didasarkan pada prinsip each nation is entitled to its own
souvereign state and to engender, protect and preserve its
own unique culture and history, atau menjadi multilingual
and multi-ethnic empires yang dianggap sangat opresif,
seperti Austro-Hungarian Empire dan Ottoman Empires.
Namun demikian dalam praksis kehidupan kenegaraaan
yang berbasis pemikiran monoculturalism ternyata
ideology nation-state dengan prinsip unity of disscent,
unity of culture, unity of language and often unity of
religion tidak mudah diwujudkan. Oleh karena itu dalam
kondisi tidak dicapainya cultural unity, karena dalam
kenyataannya justru memiliki cultural diversity, Negara
melakukan berbagai kebijakan, yang salah satunya yang
paling umum adalah melakukan compulsory primary
education dalam satu bahasa. Walaupun demikian hal
tersebut potensial menimbulkan konflik budaya sebagai
akibat dari pengabaian terhadap bahasa lokal/daerah.
Menarik untuk dicermati bagaimana modus
kebijakan multikulturalisme yang ada selama ini.
Pertama, model Amerika Serikat yang memiliki kebijakan
multikulturalime yang dikenal the Melting Pot’ ideal, yang
pada dasarnya bahwa immigrant cultures are mixed and
amalgamated without state intervention. Setiap individu
immigrant diharapkan mampu berasimilasi ke dalam
kondisi masyarakat Amerikan menurut kecepatannya
dalam beradaptasi. Pemikiran tentang melting pot ini
dirancang untuk bergandengan secara harmonis dengan
konsep Amerika sebagai suatu national unity. Kedua,
model Australia, dengan multikulturalisme yang
dikonsepsikan dalam format ethnic selection, dimana
masyarakat Australia yang sebelum datangnya
immigrant Eropa secara besar-besaran, sesungguhnya
122
memiliki bayak indigenous cultures (aborigin) atau
kebudayaan asli untuk diarahkan menjadi masyarakat
Australia yang mencerminkan the British ethno-cultural
identity. Ketiga, di lain pihak Canada menggunakan
kebijakan multilkulturalisme dalam bentuk
pembangunan national unity melalui konsepsi pluralistic
and particularist multiculturalism yang kemudian dikenal
sebagai Canada’s cultural mosaic yang pada dasarnya
memandang bahwa setiap budaya atau sub-budaya di
dalam masyarakar Canada memberikan kontribusi
keunikan dan nilai luhur terhadap keseluruhan
kebudayaan dengan prinsip preserving the distinctions
between cultures. Keempat, model Argentina yang
menerapkan kebijakan multikulturalisme untuk
mengakomodasikan budaya immigrant dengan prinsip
multikulturalisme sebagai cerminan dari social
assortment of Argentine culture dengan menerapkan
individual’s multiple citizenship. Kelima, model Malaysia,
yang menerap kebijakan multikulturalisme dengan
prinsip coexistence between the three ethnicities (Malays,
Chinese, and Indian) dengan jaminan konstitusional that
immigrant groups are granted citizenship, and Malays’
special rights are guranted, yang kemudian dikenal
dengan Bumiputera policy.
Bagaimana halnya dengan konsep dan kebijakan
multikulturalisme Bhinneka Tunggal Ika Indonesia?
Indonesia dikonsepsikan dan dibangun sebagai
multicultural nation-state dalam konteks negara-
kebangsaan Indonesia modern, bukan sebagai
monocultural nation-state. Hal itu dapat dicermati dari
dinamika praksis kehidupan bernegara Indonesia sejak
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945
sampai saat ini dengan mengacu pada konstitusi yang
123
pernah dan sedang berlaku, yakni UUD 1945, Konstitusi
RIS 1949, dan UUDS 1950, serta praksis kehidupan
bernegara dan bermasyarakat yang menjadi dampak
langsung dan dampak pengiring dari berlakunya setiap
konstitusi serta dampak perkembangan internasional
pada setiap jamannya itu.
124
menggariskan program kurikuler pendidikan
kewarganegaraan sebagai muatan wajib kurikulum
pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta
pendidikan tinggi.
Semua proses pendidikan pada akhirnya harus
menghasilkan perubahan prilaku yang lebih matang
secara psikologis dan sosiokultural. Karena itu inti dari
pendidikan, termasuk pendidikan Pancasila adalah
belajar atau learning. Dalam konteks pendidikan formal
dan nonformal, proses belajar merupakan misi utama
dari proses pembelajaran atau instruction. Secara
normatif, dalam Pasal 1 butir 20 UU No. 20 tahun 2003
tentang Sisdiknas, dirumuskan bahwa ”Pembelajaran
adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik
dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.
Satuan pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA,
SMK/MAK, sekolah tinggi, institut, dan universitas)
merupakan suatu lingkungan belajar pendidikan formal
yang terorganisasikan mengikuti legal framework yang
ada. Oleh karena itu proses belajar dan pembelajaran
harus diartikan sebagai proses interaksi sosiokultural-
edukatif dalam konteks satuan pendidikan, bukan hanya
dibatasi pada konteks klasikal mata pelajaran atau mata
kuliah. Dalam kontes itu, maka pendidikan Pancasila
dalam pengertian generik, harus diwujudkan dalam
keseluruhan proses pembelajaran, bukan hanya dalam
pembelajaran mata pelajaran/mata kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan dan Kajian Pancasila. Karena itu
konsep pembudayaan Pancasila yang menjadi tema
sandingan pendidikan Pancasila, menjadi sangat relevan
dalam upaya menjadikan nilai-nilai yang terkandung
dalam Pancasila sebagai peradaban Indonesia yang
bermartabat dalam konteks multikulturalisme Indonesia.
125
Dalam konteks itu maka satuan pendidikan seyogyanya
dikembangkan sebagai satuan sosiokultural-edukatif
yang mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam praksis
kehidupan satuan pendidikan yang membudayakan dan
mencerdaskan.
Untuk itu perlu dikembangkan budaya
kewarganegaraan indonesia yang multikultural, yang
berintikan “civic virtue” atau kebajikan atau akhlak
kewarganegaraan. Kabajikan itu sepenuhnya harus
terpancar dari nilai-nilai Pancasila yang secara substantif
mencakup keterlibatan aktif warganegara, hubungan
kesejajaran/egaliter, saling percaya dan toleran,
kehidupan yang kooperatif, solidaritas, dan semangat
kemasyarakatan multikultural. Semua unsur akhlak
kewarganegaraan itu diyakini akan saling memupuk
dengan kehidupan “civic community” atau “civil society”
atau masyarakat madani untuk Indonesia yang
berdasarkan Pancasila.
Dengan kata lain tumbuh dan berkembangnya
masyarakat madani-Pancasila bersifat interaktif dengan
tumbuh dan berkembangnya akhlak kewarganegaraan
(civic virtue) yang merupakan unsur utama dari budaya
kewarganegaraan yang ber-Pancasila (civic culture). Oleh
karena itu diperlukan adanya dan berperannya
pendidikan Pancasila yang menghasilkan demokrasi
konstitusional yang mampu mengembangkan akhlak
kewarganegaraan-Pancasila. Dalam waktu bersamaan
proses pendidikan tersebut harus mampu memberi
kontribusi terhadap berkembangnya multikulturalime
Pancasila yang menjadi inti dari masyarakat madani-
Pancasila yang demokratis. Inilah tantangan konseptual
dan operasional bagi pendidikan Pancasila untuk
membangun demokrasi konstitusional di Indonesia.
126
Masyarakat madani-Pancasila yang multikultural
merupakan “civic community” atau “civil society” yang
ditandai dengan berkembangnya peran organisasi
kewarganegaraan di luar organisasi kenegaraan dalam
mencapai keadilan dan kesejahteraan sosial sesuai
Pancasila. Maksudnya adalah bahwa dalam kehidupan
masyarakat madani tersebut harus terwujudkan kualitas
pribadi yang ditandai oleh keimanan dan ketakwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, penghormatan terhadap
hak azasi manusia, perwujudan negara hukum,
partisipasi warganegara yang luas dalam pengambilan
kebijakan publik dalam berbagai tingkatan, dan
pelaksanaan paradigma baru pendidikan kewarga-
negaraan untuk mengembangkan warganegara
(Indonesia) yang cerdas dan baik. Dari situ dapat
ditangkap tantangan bagi pendidikan demokrasi
konstitusional di Indonesia adalah bersistemnya
pendidikan Pancasila dengan keseluruhan upaya
pengembangan kualitas warganegara dan kualitas
kehidupan multikultural yang ber-Pancasila dan
berkonstitusi UUD 1945, dalam masyarakat, bangsa dan
negara Indonesia.
Identitas pribadi warganegara yang bersumber
dari civic culture Indonesia yang multikulturalistik perlu
dikembangkan melalui pendidikan kewarganegaraan
dalam berbagai bentuk dan latar. Elemen civic culture
yang paling sentral dan sangat perlu dikembangkan
adalah civic virtue. Yang dimaksud dengan civic virtue
adalah the willingness of the citizen to set aside private
interests and personal concerns for the sake of the common
good (Quigley, dkk,1991:11)- atau kemauan dari
warganegara untuk menempatkan kepentingan umum di
atas kepentingan pribadi. Civic virtue merupakan domain
127
psikososial individu yang secara substantif memiliki dua
unsur, yaitu civic dispositions dan civic committments.
Sebagaimana dirumuskan oleh Quigley,dkk (1991:11)
yang dimaksud dengan civic dispositions adalah those
attitudes and habit of mind of the citizen that are
conducive to the healthy functioning and common good of
the democratic system atau sikap dan kebiasaan berpikir
warganegara yang menopang berkembangnya fungsi
sosial yang sehat dan jaminan kepentingan umum dari
sistem demokrasi.
Sedangkan civic committments adalah the freely-
given, reasoned committments of the citizen to the
fundamental values and principles of constitusional
democracy atau komitmen warganegara yang bernalar
dan diterima dengan sadar terhadap nilai dan prinsip
demokrasi konstitusional. Kedua unsur dari civic virtue
tersebut diyakini akan mampu menjadikan proses politik
berjalan secara efektif untuk memajukan the common
good atau kemaslahatan umum dan memberi kontribusi
terhadap perwujudan ide fundamental dari system
politik termasuk “protection of the rights of the
individual” atau pelindungan hak-hak azasi manusia
(Quigley, dkk,1991:11) Proses politik yang berjalan
dengan efektif untuk memajukan kepentingan umum dan
memberi kontribusi berarti terhadap perwujudan ide
fundamental dari sistem politik termasuk di dalamnya
perlindungan terhadap hak-hak individu itu adalah ciri
kehidupan politik yang ditopang kuat oleh civic culture.
Secara konseptual civic dispositions meliputi
sejumlah karakteristik kepribadian, yakni civility atau
keadaban (hormat pada orang lain dan partisipatif dalam
kehidupan masyarakat), individual responsibility atau
tanggung jawab individual, self-discipline atau disiplin
128
diri, civic-mindednes atau kepekaan terhadap masalah
kewargaan, open-mindedness (terbuka, skeptis, mengenal
ambiguitas), compromise (prinsip konflik dan batas-batas
kompromi), toleration of diversity atau toleransi atas
keberagaman, patience and persistence atau kesabaran
dan ketaatan, compassion atau keterharuan, generosity
atau kemurahan hati, and loyalty to the nation and its
priciples atau kesetiaan pada bangsa dan segala
aturannya. (Quigley,dkk,1991:13-14).
Kesemua itu, yakni keadaban yang mencakup
penghormatan dan interaksi manusiawi, tanggungjawab
individual, disiplin diri, kepedulian terhadap masyarakat,
keterbukaan pikiran yang mencakup keterbukaan,
skeptisisme, pengenalan terhadap kemenduaan, sikap
kompromi yang mencakup prinsip-prinsip konflik dan
batas-batas kompromi, toleransi pada keberagaaman,
kesabaran dan keajekan, keharuan, kemurahan hati, dan
kesetiaan terhadap bangsa dan segala prinsipnya
merupakan karakter intrinsik dari sikap warganegara.
Sedangkan civic commitments adalah kesediaan warga
negara untuk mengikatkan diri dengan sadar kepada ide
dan prinsip serta nilai fundamental demokrasi
konstitusional, dalam hal ini di Amerika, yang meliputi
popular souvereignty, constitutional government, the rule
of law, separation of powers, checks and balances, minority
rights, civilian control of the military, separation of church
and state, power of the purse, federalism, common good,
individual rights (life, liberty: personal, political, economic,
and the pursuit of happiness), justice, equality (political,
legal, social, economic), diversity, truth, and patriotism.
(Quigley, dkk,1991:14-16).
Kesemua itu adalah kedaulatan rakyat,
pemerintahan konstitusional, prinsip negara hukum,
129
pemisahan kekuasaan, kontrol dan penyeimbangan, hak-
hak minoritas, kontrol masyarakat terhadap meliter,
pemisahan negara dan agama, kekuasaan anggaran
belanja, federalisme, kepentingan umum, hak-hak
individual yang mencakup hak hidup, hak kebebasan
(pribadi, politik, ekonomi,dan kebahagiaan), keadilan,
persamaan (dalam bidang politik, hukum, sosial,
ekonomi), kebhinekaan, kebenaran, dan cinta tanah air,
tentu saja tidak semua hal tersebut berlaku untuk
Indonesia.
Pengembangan dimensi civic virtue merupakan
landasan bagi pengembangan civic participation yang
memang merupakan tujuan akhir dari civic education,
atau pendidikan Pancasila untuk Indonesia. Dimensi civic
participation dikembangkan dengan tujuan untuk
memberikan the knowledge and skills required to
participate effectively, practical experience in
participation designed to foster among students a sense of
competence and efficacy dan mengembangkan … an
understanding of the importance of citizen participation
(Quigley, dkk, 1991:39), yakni pengetahuan dan
ketrampilan yang diperlukan untuk berperanserta secara
efektif dalam masyarakat, pengalaman berperanserta
yang dirancang untuk memperkuat kesadaran
berkemampuan dan berprestasi unggul dari siswa, dan
mengembangkan pengertian tentang pentingnya
peranserta aktif warganegara.
Untuk dapat berperan secara aktif tersebut
diperlukan A knowledge of the fundamental concepts,
history, contemporary events, issues, and facts related to
the matter and the capacity to apply this knowledge to the
situation; a disposition to act in accord with the traits of
civic characters; and a commitment to the realization of
130
the fundamental values and principles. (Quigley, dkk,
1991:39). Semua hal tersebut, menunjuk pada
pengetahuan tentang konsep fundamental, sejarah, isu
dan peristiwa aktual, dan fakta yang berkaitan dengan
subsantsi dan kemampuan untuk menerapkan
pengetahuan itu secara kontekstual, dan kecenderungan
untuk bertindak sesuai dengan watak dari warganegara.
Dalam konteks Indonesia secara keseluruhan harus
ditempatkan dalam konteks nilai-nilai Pancasila dan UUD
NRI Tahun 1945 yang menghargai komitmen kolektif dan
semangat ke-Indonesia-an yang multikultural.
D. Penutup
Bertolak dari pembahasan dimuka, dapat ditarik
beberapa kesimpulan:
1. Konsep Bhinneka Tunggal Ika yang diangkat dari
penggalan kakawin Sutasoma karya besar Mpu
Tantular dan secara harfiah diartikan sebagai bercerai
berai tetapi satu atau Although in pieces yet One,
merupakan ilustrasi dari jati diri bangsa Indonesia
yang secara natural, dan sosial-kultural dibangun
diatas keanekaragaman. (etnis, bahasa, budaya dll).
Secara akademis, konsep bhinneka tunggal ika
tersebut dapat dipahami dalam konteks konsep
generik multiculturalism atau multikulturalisme.
2. Multikulturalisme setidaknya menunjuk pada tigal hal,
yakni: (1) sebagai bagian dari pragmatism movement
pada akhir abad ke 19 di Eropa dan Amerika Serikat;
(2) sebagai political and cultural pluralism pada abad
ke 20 sebagai respon terhadap imperialisme Eropa di
Afrika dan imigrasi besar-besaran orang Eropa ke
Amerika Serikat dan Amerika Latin; dan (3) sebagai
official national policy yang dilakukan di Canada pada
131
1971 dan Australia tahun 1973 dan di beberapa
Negara Eropa.
3. Dalam konteks multikulturalisme, komitmen final
tentang NKRI, Pembukaan UUD 1945 yang diterima
secara konsisten dengan Pancasila di dalamnya,
wawasan Nusantara yang mempersatukan wilayah
Indonesia dari Merauke sampai Sabang, serta
pengakuan kebudayaan Indonesia yang merajut
puncak-puncak budaya dari semua etnis yang ada di
Indonesia, merupakan indikasi yang kuat bahwa
Indonesia tidak menganut konsep American’s melting
pot, atau Australia’s ethnic selection, atau Malaysia’s
three ethnicity coexistence, atau Argentina’s social-
cultrural assortment tetapi lebih mendekati pada
konsep eclectic model dari Canada’s cultural mosaic
dengan konsepsi Bhinneka Tunggal Ika Mpu Tantular.
4. Pendidikan Pancasila yang berisikan interaksi antara
peserta didik dalam latar pendidikan formal dan
nonformal, dan antara anggota masyarakat dalam
latar pendidikan informal, dengan seluruh sumber
inspirasi dan informasi yang memungkinkan setiap
orang baik secara individual maupun kolektif mampu
mewujudkan esensi nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila dan sebagai proses idealisasi kehidupan
masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia yang
multikultural-bhinneka tunggal ika. Yang menjadi
integrating forces adalah sistem nilai Pancasila yang
baik secara substantif masing-masing silanya maupun
secara sistemik keseluruhan lima silanya sangat
menghargai dan mewadahi keberagaman dalam
keyakinan, dalam dimensi kemanusiaan, dalam
semangat mempersatukan Indonesia, dalam
mewujudkan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
132
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,
dan dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.
5. Pendidikan kewarganegaraan untuk Indonesia, secara
filosofik dan substantif-pedagogis/andragogis,
merupakan pendidikan untuk memfasilitasi
perkembangan pribadi peserta didik agar menjadi
warga negara Indonesia yang religius, berkeadaban,
berjiwa persatuan Indonesia, demokratis dan
bertanggung jawab, dan berkeadilan, serta mampu
hidup secara harmonis dalam konteks
multikulturalime-bhinneka tunggal ika.
6. Perlu dikembangkan budaya kewarganegaraan
Indonesia yang multikultural, yang berintikan “civic
virtue” atau kebajikan atau akhlak kewarganegaraan.
Kabajikan itu sepenuhnya harus terpancar dari nilai-
nilai Pancasila yang secara substantif mencakup
keterlibatan aktif warganegara, hubungan
kesejajaran/egaliter, saling percaya dan toleran,
kehidupan yang kooperatif, solidaritas, dan semangat
kemasyarakatan multikultural. Semua unsur akhlak
kewarganegaraan itu diyakini akan saling memupuk
dengan kehidupan “civic community” atau “civil
society” atau masyarakat madani yang multikultural
berdasarkan Pancasila.
*****
133
134
BAB VIII
PENDIDIKAN MULTIKULTURAL
BERBASIS KEBANGSAAN
A. Pendahuluan
Istilah multikultur berakar dari kata kultur. Pada
umumnya, kultur diartikan sebatas pada budaya dan
kebiasaan sekelompok orang pada daerah tertentu
(Yaqin, 2005:6). Secara etimologis, multikulturalisme
dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya), dan
isme (aliran/paham) (Tilaar, 2003). Multikultur
sebenarnya merupakan kata dasar yang mendapat
awalan. Kata dasar itu adalah kultur yang berarti
kebudayaan atau pemeliharaan, sedang awalannya
adalah multi yang berarti banyak, ragam, atau aneka.
Dengan demikian, multikultur berarti keragaman
kebudayaan atau banyak pemeliharaan.
Multikulturalisme dapat dikatakan berkembang
dari negara besar demokrasi yaitu Amerika Serikat.
Amerika Serikat sebagai pentolan demokrasi,
masyarakatnya dapat hidup dengan subur dalam
segregasi dan diskriminasi ras. Sejarah mencatat
terjadinya perang saudara pada per-tengahan abad ke-19
sebenarnya merupakan cikal-bakal lahirnya
multikulturalisme di dunia. Abraham Lincoln sebagai
pejuang demokrasi dengan politik abolisinya dapat
menghapus perbudakan. Hasil perjuangannya
menempatkan ras negro pada tempat yang layak di
Amerika Serikat. Hal ini dapat dijadikan bukti bahwa ras
dengan kultur minoritas dapat berbaur dengan ras dan
kultur yang lebih kompleks, yang berarti menjadikan
135
multikultur dapat bersinergi dalam ras dan kultur yang
bervariatif.
Lalu bagaimana dengan Indonesia sendiri?
Indonesia, tanah air kita memiliki karakteristik yang
amat mengagumkan apabila dilihat dari aspek fisik,
sosial, dan budaya. Dengan lebih dari 17.000 pulau besar
dan kecil tersebar pada wilayah seluas lebih dari
5.000.000 kilometer persegi, dari kota Sabang di
penghujung sebelah barat sampai kota Merauke di
penghujung sebelah timur dan dari pulau Miangas di
ujung utara sampai pulau Rote di ujung sebelah selatan.
Luas geografis kepulauan Indonesia lebih luas dari Eropa
Barat, dan hampir sebanding dengan Amerika Serikat
dan Australia. Dengan jumlah penduduk sekitar 230 juta
jiwa, Indonesia kini menduduki peringkat keempat
negara paling padat di dunia. Di samping itu, dengan
jumlah sekitar 500 kelompok etnis dan 700 bahasa,
Indonesia merupakan negara yang memiliki budaya
paling beranekaragam di planet ini (Kalidjernih,
2008:130). Indonesia memiliki warisan dan tantangan
pluralisme budaya (cultural pluralism) secara lebih
mencolok, sehingga dipandang sebagai “lokus klasik”
bagi bentukan baru “masyarakat majemuk” (plural
society). Kemajemukan masyarakat Indonesia paling
tidak dapat dilihat dari dua cirinya yang unik, pertama
secara horizontal, ia ditandai oleh kenyataan adanya
kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku
bangsa, agama, adat, serta perbedaan kedaerahan, dan
kedua secara vertikal ditandai oleh adanya perbedaan-
perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah
yang cukup tajam (Nasikun, 2007:33). Fenomena
masyarakat dan kompeks kebudayaannya yang masing-
masing plural (jamak) dan sekaligus juga heterogen
136
(aneka ragam) itu tergambar dalam prinsip bhinneka
tunggal ika, yang berarti bercorak-ragam kehidupan dan
penghidupan, tetapi terintegrasi dalam kesatuan.
Fakta realitas, jelas menggambarkan masyarakat
Indonesia sebagai masyarakat multikultural. Sesuai
dengan prinsip bhineka tunggal ika, maka sebenarnya
pendidikan multikultural sebagai pendidikan alternatif
patut dikembangkan dan dijadikan sebagai model
pendidikan di Indonesia. Ada beberapa alasan mengenai
hal tersebut. Pertama, realitas bahwa Indonesia adalah
negara yang dihuni oleh berbagai suku, bangsa, etnis,
agama, dengan bahasa yang beragam dan membawa
budaya yang heterogen serta tradisi dan peradaban yang
beraneka ragam. Kedua, pluralitas tersebut secara
inheren sudah ada sejak bangsa Indonesia ini ada. Ketiga,
masyarakat menentang pendidikan yang berorientasi
bisnis, komersialisasi, dan kapitalis yang mengutamakan
golongan atau orang tertentu. Keempat, masyarakat tidak
menghendaki kekerasan dan kesewenang-wenangan
pelaksanaan hak setiap orang. Kelima, pendidikan
multikultur sebagai resistensi fanatisme yang mengarah
pada berbagai jenis kekerasan, dan kesewenang-
wenangan. Keenam, pendidikan multikultural
memberikan harapan dalam rnengatasi berbagai gejolak
masyarakat yang terjadi akhir-akhir ini. Ketujuh,
pendidikan multikultur sarat dengan nilai-nilai
kemanusiaan, sosial, kealaman, dan ke-Tuhan-an.
Dari beberapa alasan di atas, nampaknya perlu
dibangun paradigma pendidikan multikultural di
Indonesia. Menurut Dawam (2003: 153-15), paradigma
pendidikan multikultural dapat dikatakan bahwa
sebenarnya paradigma yang telah muncul sampai saat ini
adalah paradigma teosentrisme, kosmosentrisme, dan
137
antroposenirisme. Suatu paradigma yang rnemandang
segala sesuatu ada yang memiliki kekuatan yang paling
menentukan segala sesuatunya, yaitu Tuhan. Tuhan
diposisikan sedemikian sentralnya menjadi acuan
seluruh perilaku manusia. Sebagai bukti ke maha
kuasaannya Tuhan memberikan alam dan segala isinya
untuk menjadikan manusia hidup dengan bergantung
pada kemampuan kosmos. Atas ketergantungan tersebut
manusia hendaknya memiliki kesadaran kosmosentrisme
untuk memanfaatkan, mengembangkan, dan
melestarikan seluruh tatanan bumi dengan arif dan
bijaksana. Paham antroposentrisme yang mengakui
ukuran kebaikan dan kebenaran itu terletak pada akal
budi manusia. Untuk meraih kebaikan hidup, baik
individu maupun sosial, manusia harus mengembangkan
akal budinya. Menurut Khoironi (2004:10) di samping
itu, manusia harus siap dengan perubahan-perubahan
yang terjadi pada setiap ruas kehidupannya, termasuk
kebudayaan yang progresif.
Dengan totalitas ketiga paradigma tersebut,
diharapkan dapat menerbitkan manusia yang mampu
menjalankan tugas hidup manusia yang saling
bekerjasama sehingga mampu hidup (to make a living),
mengembangkan kehidupan yang bermakna (to lead a
meaningful life), dan untuk turut memuliakan kehidupan
(to ennoble life).
138
multikultural. Banks (1994) mendifiniskan pendidikan
multikultural sebagai berikut: "Multicultural education is
a progressive approach for transforming education that
hostically critique and address currents shortcomings,
failings, discriminatory practices in education. It is
grounded in deals of social justice, education equity, and a
dedication to facilitating seducation experiences in which
all students reach their full potensial as learners and as
socially aware and active beings, locally, and globally”.
Bagaimana mengimplementasikan konsep
pendidikan multikultural ini dalam pendidikan praktis di
sekolah? Terdapat 3 (tiga) komponen implementasi yang
dapat dipergunakan sebagai strategi program
pembelajaran, yaitu sebagai berikut: (1) Content oriented
program, yang terdiri dari: a. mengembangkan materi
pendidikan multikultural dalam semua disiplin ilmu, b.
memadukan keberagaman pandangan dan cara pandang
dalam kurikulum, c. mentransfer tujuan dalam konsep
kurikulum baru; (2) Student oriented program, yang
terdiri dari: a. melakukan penelitian terhadap model
belajar berbagai kelompok murid, b. program
menggunakan sekaligus dua atau lebih bahasa pengantar
dalam sekolah, c. spesial program untuk murid-murid
yang terkebelakang atau terpinggirkan secara sosio-
ekonomi dalam masyarakat; (3) Socially oriented
program, yang terdiri dari: a. kontak antara kelompok-
kelompok yang berbeda (ras, agama, dan sosio-ekonomi),
b. program belajar bersama.
Dalam pendidikan multikultur selalu muncul kata
kunci kultural, pluralitas dan pendidikan. Pemahaman
terhadap pluralitas mencakup segala perbedaan dan
keragaman, sedangkan kultur itu sendiri tidak dapat
lepas dari empat terma penting yaitu aliran (agama), ras
139
(golongan), suku (etnis), dan budaya. Dalam pendidikan
multikultur berarti pengakuan atas empat terma penting
tersebut untuk memprogramkan berlangsungnya
pendidikan multikultur.
Pengakuan keempat terma penting tersebut
menjadikan ciri khas pendidikan multikultur. Pendidikan
yang berorientasi multikultur harus dapat memahami
keberadaan masyarakat plural yang memiliki groupthink
yang membutuhkan ikatan-ikatan keadaban (the bound
of civility). The bound of civility berupa pergaulan antar
kultur yang diikat dengan suatu civility (keadaban).
Ikatan ini dibangun dari nilai-nilai universal manusia.
Nilai-nilai universal manusia tersebut, perlu ditransfer
kepada masyarakat agar menemukan tujuan kepemilikan
dan kelanggengan. Kepemilikan nilai-nilai universal yang
dapat melembaga pada masyarakat untuk mewujudkan
budaya luhur yang sesuai dengan nilai keuniversalan
manusia. Dengan demikian, nilai-nilai luhur dapat
diwujudkan untuk menciptakan kehidupan masyarakat
yang aman, tertib, berwibawa, dan bermartabat. Untuk
mentransfer nilai-nilai keuniversalan, maka masyarakat
harus tetap meyakini dan mengakui bahwa transmitter
nilai-nilai universal tersebut adalah melalui proses
pendidikan. Oleh karena itu, segala perangkat yang
mengacu pada pencapaian hasil tersebut diorientasikan
pada tujuan utama pendidikan dengan kesiapan
menghadapi masyarakat multikultur.
Berdasarkan paparan di atas, maka pendidikan
multikultural pada era ini sudah selayaknya mengangkat
multikulturalisme sebagai paham yang humanis, dan bila
dikaji dari perjalanan pluralisme di Indonesia dapat
diprioritaskan pada pembangunan: multikulturalisme
sebagai politic of recognition. Multikulturalisme sebagai
140
sebuah paham (politic of recognition) menekankan pada
kesenjangan dan kesetaraan budaya-budaya lokal tanpa
mengabaikan hak-hak dan eksistensi budaya yang ada.
Dengan demikian, multikulturalisme bukan sekedar
pengenalan terhadap berbagai jenis budaya di dunia ini,
tetapi juga telah merupakan tuntutan dari berbagai
komunitas yang memiliki budaya-budaya tersebut
(Tilaar, 2004: 73-74).
Pengakuan berarti penghargaan akan
keberbedaan yang dimiliki oleh orang lain. Memaknai
menghargai perbedaan berarti siap untuk menerima
kehadiran orang lain di tengah kehidupan manusia
secara kolektif, learning to live togather (Assegaf, 2004:
107). Dengan demikian, setiap individu merasa dihargai
sekaligus merasa bertanggung jawab untuk hidup
bersama komunitasnya. Secara idealis, penghargaan dan
pengakuan masing-masing individu tersebut akan
terbangun komunitas yang harmonis. Pengakuan dan
penerimaan atas keanekaan tersebut merupakan politic
of recognition yang harus dijunjung tinggi. Secara politis,
pengakuan tersebut bermuatan cukup strategis. Nilai
strategis tersebut terdapat pada unsur penerimaan
secara timbal balik. Berlangsungnya timbal balik tersebut
menjadi jaminan berkembangnya antar kultur.
Pengingkaran terhadap berkembangnya kultur
masyarakat terhadap kebutuhan untuk diakui
merupakan akar dari ketimpangan-ketimpangan dalam
berbagai bidang kehidupan.
Masyarakat multikultur berasal dari dua kata
yaitu masyarakat dan multikultur. Masyarakat
merupakan satu kata yang mengandung banyak arti.
Masyarakat ada dari proses berhimpun, saling mengasihi,
serta kebersamaan dalam tujuan, kemaslahatan, dan
141
keikhlasan untuk mencapai tujuan umum (Dewey: 1953).
Masyarakat multikultur atau multibudaya berarti mereka
yang telah mempelajari dan menggunakan kebudayaan
secara cepat, efektif, jelas, serta ideal dalam interaksi dan
komunikasi dengan orang lain. Definisi ini jelas merujuk
kepada masyarakat yang memiliki budaya sekaligus
melaksanakan budaya yang dijunjung tinggi dalam
masyarakat yang bersangkutan. Melaksanakan ritual
budaya yang dijunjung tinggi tersebut digunakan untuk
berinteraksi dan berkomunikasi dengan budaya lain.
Interaksi dan komunikasi tersebut dalam rangka saling
menghargai/menghormati sekaligus memperkaya
budaya masing-masing.
Masyarakat multikultur merupakan masyarakat
yang mampu memerankan dirinya sebagai arbiter,
penengah bagj proses rekonsiliasi ketika proses
dialektika tersebut menemui kejumudan/titik jenuh.
Untuk keperluan ini masyarakat dituntut untuk
meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional, dan
spiritual agar dapat memiliki sensitifitas, sensibilitas,
apresiasi, simpati dan empati terhadap outsider.
Sebagaimana disampaikan oleh Tilaar (2004:37)
masyarakat multikultur menyimpan banyak kekuatan
dari masing-masing kelompok, sekaligus menjadi benih
perpecahan. Apabila pertimbangan-pertimbangan
emosional yang dipentingkan, maka akan lahir pendapat-
pendapat fundamentalis atau yang mementingkan
kepentingan kelompok sendiri dan menganggap
kelompok-kelompok lain sebagai musuh. Tetapi apabila
analisis rasio yang jernih digunakan dalam memilah-
milah kekuatan yang dimiliki oleh suatu kelompok
budaya atau kapital budaya, kekuatan sosial (social
capital), dan kekuatan intelektual dari suatu komunitas,
142
maka diyakini multikultur menyimpan cukup energi
untuk menggerakkan masyarakat dalam skala yang
berdampak luas dalam sendi-sendi kehidupan manusia
itu sendiri.
Multikulturalisme sebenarnya merupakan konsep
dimana sebuah komunitas dalam konteks kebangsaan
dapat mengakui keberagaman, perbedaan dan
kemajemukan budaya, baik ras, suku (etnis), dan agama.
Sebuah konsep yang memberikan pemahaman bahwa
sebuah bangsa yang plural atau majemuk adalah bangsa
yang dipenuhi dengan budaya-budaya yang beragam.
Bangsa yang multikultur adalah bangsa yang kelompok-
kelompok etnik atau budaya (etnic and cultural groups)
yang ada dapat hidup berdampingan secara damai dalam
prinsip co-existence yang ditandai oleh kesediaan untuk
menghormati budaya lain. Pluralitas ini juga dapat
ditangkap oleh agama, selanjutnya agama mengatur
untuk menjaga keseimbangan masyarakat plural
tersebut. Hal ini dapat dimengerti, mengingat dalam
agama (sebagaimana diabadikan dalam kitab suci) lebih
dahulu disampaikan adanya multikultur sebagai dasar
kebangunan manusia untuk lebih dewasa (Wahid,
Kompas, 23 Juni 2004).
Secara umum, multikulturalisme dalam
karakteristik sosial digunakan dalam rangka berjalannya
interaksi sosial dalam masyarakat. Interaksi sosial
merupakan kunci dari semua kehidupan sosial. Tanpa
interaksi sosial, tidak mungkin ada kehidupan bersama.
Interaksi sosial selalu didahului oleh suatu kontak sosial
dan komunikasi. Terjadinya interaksi sosial dapat
dipengaruhi oleh adanya jarak sosial dari pelaku
interaksi itu sendiri. Proses interaksi sosial dimulai
dengan kontak atau komunikasi sosial. Kontak ini
143
dilanjutkan dengan proses-proses yang asosiatif
(associative prosseses) ataupun disosiatif atau oposisional
(dissociative processes). Proses-proses asosiatif dimulai
dengan kerjasama (cooperation) dan dilanjutkan dengan
akomodasi (accomodation), asimilasi (assimilation), dan
akulturasi (acculturation). Adapun disosiasi dimulai dari
persaingan (competition), kontravensi (contravention),
antara kompetisi dan konflik, dan konflik. Interaksi sosial
dalam multikultur memerlukan pengenalan dan
pemahaman atas karakteristik sosial yang menjadi ciri
khas komunitasnya.
144
berbeda itu untuk membeda-bedakan.
Pendidikan Multikultural ini memberikan
pemahaman mengenai berbagai jenis kegiatan
pendidikan sebagai bagian integral dari kebudayaan
universal. Di dalamnya akan dibahas kebudayaan yang
teraktualisasi secara internasional, regional, dan lokal
sepanjang sejarah kemanusiaan. Kegiatan pendidikan
sebagai interaksi sosio-kultural paedagogis di Indonesia
bukan hanya dilakukan oleh suku bangsa Indonesia, tapi
berbagai bangsa. Di dalam Pendidikan Multikultural ini
akan diungkap pula aktivitas paedagogis masa lalu, masa
kini dan masa depan di berbagai belahan dunia dengan
fokus kebudayaan Indonesia.
Ide penting yang lain dalam Pendidikan
Multikultural adalah bahwa sebagian siswa karena
karakteristik tersebut di atas, ternyata ada yang memiliki
kesempatan yang lebih baik untuk belajar di sekolah
favorit tertentu sedangkan siswa dengan karakteristik
budaya yang berbeda tidak memiliki kesempatan itu.
Beberapa karakteristik institusional dari sekolah secara
sistematis menolak kelompok siswa untuk mendapatkan
kesempatan pendidikan yang sama, walaupun itu
dilakukan secara halus. Dalam arti, dibungkus dalam
bentuk aturan yang hanya bisa dipenuhi oleh segolongan
tertentu dan tidak bisa dipenuhi oleh golongan yang lain.
Kita perhatikan di lingkungan sekitar kita. Ada
kesenjangan ketika muncul fenomena sekolah favorit
yang didominasi oleh golongan orang kaya karena ada
kebijakan lembaga yang mengharuskan untuk membayar
uang pangkal yang mahal untuk bisa masuk dalam
kelompok sekolah favorit itu. Ada kebijakan yang
dipandang tidak adil bagi golongan Tionghoa karena ada
diskriminasi terhadap kelompok mereka sehingga
145
mereka hanya berkecimpung di bidang yang sangat
terbatas, misalnya dagang, pengacara, dokter dan
mengalami kesulitan berkarier di bidang ketentaraan dan
pemerintahan. Mereka dan sebagian warga negara asing
lainnya sulit mendapatkan status kewarganegaraan bagi
anak-anak mereka sebelum tahun 2006.
Pendidikan Multikultural bisa muncul berbentuk
bidang studi, program, dan praktek yang direncanakan
lembaga pendidikan untuk merespon tuntutan,
kebutuhan dan aspirasi berbagai kelompok. Sebagaimana
ditunjukkan Banks (1994), pendidikan multikultur bukan
sekedar merupakan praktek aktual satu bidang studi
atau program pendidikan semata, namun mencakup
seluruh aspek pendidikan.
Pendidikan Multikultural juga merupakan proses
(pendidikan) yang tujuannya tidak akan pernah
terrealisasikan secara penuh. Pendidikan multikultural
adalah proses “menjadi”. Pendidikan multikultural harus
dipandang sebagai suatu proses yang terus-menerus dan
bukan sebagai sesuatu yang langsung bisa tercapai.
Tujuan utama dari pendidikan multikultural adalah
untuk memperbaiki prestasi secara utuh bukan sekedar
meningkatkan skor.
Persamaan pendidikan, seperti juga kebebasan
dan keadilan, merupakan ide umat manusia yang harus
dicapai dengan perjuangan keras namun tidak pernah
dapat mencapainya secara penuh. Ras, gender, dan
diskriminasi terhadap orang yang berkebutuhan akan
tetap ada sekalipun kita telah berusaha sekeras mungkin
menghilangkan masalah ini. Jika prasangka dan
diskriminasi dikurangi pada suatu kelompok, biasanya
keduanya terarah pada kelompok lain atau mengambil
bentuk yang lain. Karena tujuan Pendidikan Multikultur
146
tidak akan pernah tercapai secara penuh, kita seharusnya
bekerja secara kontinyu meningkatkan persamaan
pendidikan untuk semua siswa (educational equality for
all students).
Gorski (2001) menjelaskan bahwa sejak konsep
paling awal muncul pada tahun 1960-an, pendidikan
multikultural telah berubah, difokuskan kembali dan
dikonseptualisasikan kembali. Pendidikan multikultural
berada di dalam kondisi perubahan baik teoritis maupun
praktek sehingga jarang ada dua pengajar atau ahli
pendidikan yang memiliki definisi yang sama tentang
pendidikan multikultural. Seperti halnya dalam suatu
dialog pendidikan, individu cenderung mengubah konsep
untuk disesuaikan dengan fokus tertentu. Beberapa di
antaranya membahas pendidikan multikultural sebagai
suatu perubahan kurikulum, mungkin dengan menambah
materi dan perspektif baru. Yang lain berbicara tentang
isu iklim kelas dan gaya mengajar yang dipergunakan
kelompok tertentu. Yang lain berfokus pada isu sistem
dan kelembagaan seperti jurusan, tes baku, atau ketidak
cocokan pendanaan antara golongan tertentu yang
mendapat jatah lebih sementara yang lain kurang
mendapat perhatian. Yang lain lagi melihat perubahan
pendidikan sebagai bagian dari perubahan masyarakat
yang lebih besar di mana kita mengeksplorasi dan
mengkritik dasar-dasar kemasyarakatan yang menindas
dan bagaimana pendidikan berfungsi untuk memelihara
status quo seperti di Amerika Serikat yang terlalu
berpihak pada supremasi kulit putih, kapitalisme, situasi
sosio-ekonomi global dan eksploitasi. Sekalipun banyak
perbedaan konsep pendidikan multikultural, ada
sejumlah ide yang dimiliki bersama dari semua
pemikiran dan merupakan dasar bagi pemahaman
147
pendidikan multikultural: (1) kesempatan yang sama
bagi setiap siswa untuk mewujudkan potensi
sepenuhnya; (2) penyiapan pelajar untuk berpartisipasi
penuh dalam masyarakat antar budaya; (3) penyiapan
pengajar agar memudahkan belajar bagi setiap siswa
secara efektif, tanpa memperhatikan perbedaan atau
persamaan budaya dengan dirinya; (4) partisipasi aktif
sekolah dalam menghilangkan penindasan dalam segala
bentuknya; (5) pendidikan yang berpusat pada siswa
dengan mendengarkan aspirasi dan pengalaman siswa,
pendidik, aktivis, dan yang lain harus mengambil
peranan lebih aktif dalam mengkaji kembali semua
praktek pendidikan, termasuk teori belajar, pendekatan
mengajar, evaluasi, psikhologi sekolah dan bimbingan,
materi pendidikan dan buku teks, dan lain-lain.
Menurut Gorski (2001), pendidikan multikultural
merupakan pendekatan progresif untuk mengubah
pendidikan secara holistik dengan mengkritik dan
memusatkan perhatian pada kelemahan, kegagalan, dan
praktek diskriminatif di dalam pendidikan. Keadilan
sosial, persamaan pendidikan, dan dedikasi menjadi
landasan pendidikan multikultural dalam memfasilitasi
pengalaman pendidikan agar semua siswa dapat
mewujudkan semua potensinya secara penuh dan
menjadikannya sebagai manusia yang sadar dan aktif
secara lokal, nasional, dan global.
Paparan di atas sekaligus mengisyaratkan,
perlunya upaya membangun pendidikan multikultural.
Pendidikan multikultural dapat menjadi elemen yang
kuat dalam kurikulum Indonesia untuk mengembangkan
kompetensi dan ketrampilan hidup (life skills).
Masyarakat Indonesia terdiri dari masyarakat
multikultur yang mencakup berbagai macam perspektif
148
budaya yang berbeda. Jadi sangat relevan bagi sekolah di
Indonesia untuk menerapkan pendidikan multikultural.
Pendidikan Multikultural dapat melatih siswa untuk
menghormati dan toleransi terhadap semua kebudayaan.
Pendidikan multikultural sebagai kesadaran merupakan
suatu pendekatan yang didasarkan pada keyakinan
bahwa budaya merupakan salah satu kekuatan yang
dapat menjelaskan perilaku manusia. Budaya memiliki
peranan yang sangat besar di dalam menentukan arah
kerjasama maupun konflik antar sesama manusia.
Atas dasar pemikiran ini, maka sudah saatnya
pendidikan multikultural di Indonesia dirumuskan
melalui pencarian nilai-nilai inti untuk pendidikan
multikultural. Menurut Bennett dalam Tilaar (2003: 171)
orientasi nilai-nilai inti (core value) pada pendidikan
multikultur antara lain: (1) Apresiasi terhadap adanya
kenyataan pluralitas budaya dalam masyarakat; (2)
Pengakuan terhadap harkat dan martabat dan hak asasi
manusia; (3) Pengembangan tanggung jawab masyarakat
dunia; dan (4) Pengembangan tanggung jawab menusia
terhadap planet bumi.
Core value pendidikan multikultur mengingatkan
pada sirkulerisme pendidikan multikultur. Sirkulerisme
pendidikan multikultur, dapat mencakup empat
hubungan dimensi; dimensi manusia dengan Allah,
manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta,
dan manusia dengan dirinya sendiri. Dengan demikian,
core value pada pendidikan multikultur mencapai
totalitas hubungan yang menjadi titik pusat perhatian.
Totalitas hubungan sesuai dengan derajat nilai-nilai diri,
kemanusiaan, dan kealaman.
Perumusan core value ini sangat penting untuk
membangun tujuan pendidikan multikultur. Menurut
149
Bennett dalam Tilaar (2003: 171-172) nilai-nilai inti
(core value) yang rnengarah pada tujuan pendidikan
multikultur antara lain:
1) Mengembangkan perspektif sejarah (ethnohistorisitas)
yang beragam dari kelompok-kelompok masyarakat,
2) Memperkuat kesadaran budaya hidup di masyarakat,
3) Menerima dan menghargai perbedaan dalam
keberagaman,
4) Memperkuat kompetensi interkultural dari budaya-
budaya yang hidup di masyarakat,
5) Membasmi rasisme, seksisme, dan berbagai jenis
prasangka (prejudice),
6) Mengembangkan kesadaran atas kepemilikan planet
bumi dan mengembangkan keterampilan aksi sosial
(social action).
150
memasukkan persamaan dan perbedaan di antara
kelompok-kelompok yang ada. Pengetahuan tentang
pluralisme budaya merupakan dasar yang diperlukan
untuk menghormati, mengapresiasi, menilai dan
memperingati keragaman, baik lokal, nasiorral dan
internasional.
Tujuan yang kedua adalah menekankan pada
pengembangan pemahaman diri yang lebih besar, konsep
diri yang positif, dan kebanggaan pada identitas
pribadinya. Penekanan bidang ini merupakan bagian dari
tujuan pendidikan multikultural yang berkontribusi pada
perkembangan pribadi siswa, yang berisi pemahaman
yang lebih baik tentang diri yang pada akhirnya
berkontribusi terhadap keseluruhan prestasi intelektual,
akademis, dan sosial siswa. Siswa merasa baik tentang
dirinya sendiri karena lebih terbuka dan reseptif
(menerima) dalam berinteraksi dengan orang lain dan
menghormati budaya dan identitasnya.
Pendidikan multikultural mengangkat nilai-nilai
inti yang berasal dari prinsip martabat manusia (human
dignity), keadilan, persamaan, kebebasan, dan demokrasi,
merupakan tujuan yang ketiga dengan penekanan pada
klarifikasi nilai dan sikap. Mengajari generasi muda
untuk menghargai dan menerima pluralisme etnis,
menyadarkan bahwa perbedaan budaya tidak sama
dengan kekurangan atau rendah diri, dan untuk
mengakui bahwa keragaman merupakan bagian integral
dari kondisi manusia. Pengklarifikasian sikap dan nilai
etnis didesain untuk membantu siswa memahami bahwa
berbagai konflik nilai itu tidak dapat dielakkan dalam
masyarakat pluralistik; dan bahwa konflik tidak harus
menghancurkan dan memecah belah. Jika kita mengelola
dengan baik hal itu akan dapat menjadi katalis kemajuan
151
sosial dan ada kekuatan dalam pluralisme etnis dan
budaya; bahwa kesetiaan etnis (ethnic allegiance) dan
loyalitas nasional (national loyalty) bukan tidak dapat
didamaikan; dan bahwa kerjasama dan koalisi di antara
kelompok etnis tidak tergantung pada pemilikan
keyakinan, nilai, dan perilaku yang sama. Menganalisa
dan mengklarifikasi sikap dan nilai etnis merupakan
langkah kunci dalam proses melepaskan potensi kreatif
individu untuk memperbarui diri dan masyarakat untuk
tumbuh-kembang lebih lanjut.
Tujuan berikutnya adalah mengembangkan
kompetensi multikultural. Penting sekali bagi siswa
untuk mempelajari bagaimana berinteraksi dengan dan
memahami orang yang secara etnis, ras, dan kultural
berbeda dari dirinya. Dunia kita menjadi semakin lebih
beragam, kompak, dan saling tergantung. Pendidikan
multikultural dapat meredakan ketegangan ini dengan
mengajarkan ketrampilan dalam komunikasi lintas
budaya, hubungan antar pribadi, pengambilan perspektif,
analisis kontekstual, pemahaman sudut pandang dan
kerangka berpikir alternatif, dan menganalisa bagaimana
kondisi budaya mempengaruhi nilai, sikap, harapan, dan
perilaku. Pendidikan multikultural dapat membantu
siswa mempelajari bagaimana memahami perbedaan
budaya tanpa membuat pertimbangan nilai yang semena-
mena tentang nilai intrinsiknya. Untuk mencapai tujuan
ini anak dapat diberi pengalaman belajar dengan
memberi berbagai kesempatan pada siswa untuk
mempraktekkan kompetensi budaya dan berinteraksi
dengan orang, pengalaman, dan situasi yang berbeda.
Tujuan yang kelima adalah mengembangkan rasa
kesadaran sosial (a sense of social consciousness),
keberanian moral, dan komitmen terhadap persamaan;
152
dan memperoleh ketrampilan dalam aktivitas politik
untuk mereformasi masyarakat untuk membuatnya lebih
manusiawi, simpatik terhadap pluralisme kultural,
keadilan moral, dan persamaan.
Terakhir, tujuan yang dinilai paling penting adalah
memperkokoh rasa kebangsaan. Dengan mengetahui
kekayaan budaya bangsa itu akan tumbuh rasa
kebangsaan yang kuat. Rasa kebangsaan itu akan tumbuh
dan berkembang dalam wadah negara Indonesia yang
kokoh. Untuk itu, pendidikan multikultural perlu
menambahkan materi, program dan pembelajaran yang
memperkuat rasa kebangsaan dengan menghilangkan
etnosentrisme, prasangka, diskriminasi dan stereotipe.
Kontribusi dari pengayaan materi ini, sekaligus akan
memperkaya siswa dalam hal pemilikan wawasan hidup
yang lintas budaya dan lintas bangsa sebagai warga
dunia. Hal ini berarti individu dituntut memiliki wawasan
sebagai warga dunia (world citizen). Namun siswa juga
harus tetap dikenalkan dengan budaya lokal, diajak
berpikir tentang apa yang ada di sekitarnya, diajak
berpikir secara internasional dengan mengajak mereka
untuk tetap peduli dengan situasi yang ada di sekitarnya
(act locally and globally).
Atas dasar rumusan tujuan pendidikan
multikultural berbasis kebangsaan di atas, diharapkan
pendidikan multikultural dapat berfungsi dalam: (1)
memberi konsep diri yang jelas; (2) membantu
memahami pengalaman kelompok etnis dan budaya
ditinjau dari sejarahnya; (3) membantu memahami
bahwa konflik antara ideal dan realitas itu memang ada
pada setiap masyarakat; (4) membantu mengembangkan
pembuatan keputusan (decision making), partisipasi
sosial dan ketrampilan kewarganegaraan (citizenship
153
skills); dan (5) mengenal dan menghargai perbedaan
dalam keberagaman. (Gorski, 2001).
*****
154
BAB IX
PENGATAN JATI DIRI PKN MELALUI
PENUMBUHAN BUDAYA POLITIK PARTISIPAN
A. Pendahuluan
Partisipasi berasal dari bahasa Inggris yaitu
“participation” yang berarti pengambilan bagian atau
pengikutsertaan dalam suatu kelompok ataupun
kegiatan. Partisipasi merupakan keterlibatan mental dan
emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut
bertanggung jawab didalamnya. Sebenarnya partisipasi
adalah suatu gejala demokratis dimana seseorang
dilibatkan dan diikutsertakan dalam perencanaan serta
pelaksanaan dan juga ikut memikul tanggungjawab
sesuai tingkat kematangan dan tingkat kewajiban.
Dengan demikian, makna partisipasi menjadi lebih baik
jika bidang fisik maupun bidang mental bersinergis
dalam penentuan kebijakan (Sastropoetro, 1986).
Menurut Gordon Allport, partisipasi adalah
keterlibatan ego atau diri sendiri/pribadi/personalitas
yang lebih dari sekedar keterlibatan jasmaniah saja. Oleh
karena itu, partisipasi membutuhkan kesungguhan
partisipan dalam segala hal bukan hanya keterlibatan
tapi juga pengorbanan. Seseorang yang berpartisipasi
berarti turut memikul beban pembangunan dan
menerima kembali hasilnya dan juga harus ikut
bertanggungjawab (Sastropoetro, 1986).
Seseorang dikatakan telah berpartispasi bukan
hanya dengan ia terlibat dalam kegiatan praktis lapangan
saja, namun juga keterlibatan aktif dalam proses
pengambilan keputusan. Sebagaimana disampaikann
juga oleh A. White, bahwa partisipasi adalah keterlibatan
155
komunitas internal secara aktif dalam proses
pengambilan keputusan dan pelaksanaannya terhadap
proyek-proyek pembangunan. Hal ini didukung juga oleh
pendapat Daryono, bahwa partisipasi berarti
keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan,
menentukan kebutuhan, dan menentukan tujuan dari
prioritas. (Sastropoetro, 1986).
Selanjutnya, Sastropoetro menambahkan (1986)
ada tiga unsur penting partisipasi yang dimaksud Keith
Davis yang memerlukan perhatian khusus, yakni:
1. Partisipasi merupakan keterlibatan mental dan
perasaan, bukan semata-mata keterlibatan secara
jasmaniah.
2. Kesediaan memberikan sumbangan untuk mencapai
tujuan kelompok yang berarti ada rasa senang dan
kesukarelaan untuk membantu kelompok.
3. Ada rasa tanggung jawab yang menonjol dari rasa
menjadi seorang anggota. Diakui sebagai anggota
artinya ada rasa sense of belonginess.
Dalam konteks kehidupan bernegara, makna
partisipasi mensaratkan seorang warga negara turut
terlibat baik secara mental maupun fisik untuk
memberikan sumbangan atas dasar kesukarelaan dalam
pencapaian tujuan yang disertai dengan tanggung jawab
sebagai seorang anggota dari negara. Apa yang ingin
dicapai dengan adanya partisipasi adalah meningkatnya
kepercayaan dan rasa kepemilikan (having) setiap warga
negara yang terlibat baik langsung maupun tidak
langsung dalam sebuah program atau kebijakan
negara. Namun yang terpenting dalam kehidupan
bernegara, bukanlah sekedar having, wujud nyata
dari partisipasi seyogyanya menjadi being
156
(mendarahdaging) sebagai budaya perilaku warga
negara yang berkarakter kebangsaan demokratis.
157
tipe budaya politik, lebih lanjut dapat dilihat pada tabel
berikut:
Klasifikasi Budaya Politik
Budaya
No. Uraian / Keterangan
Politik
1. Parokial a. Frekuensi orientasi terhadap
sistem sebagai obyek umum,
obyek-obyek input, obyek-obyek
output, dan pribadi sebagai
partisipan aktif mendekati nol.
b. Tidak terdapat peran-peran politik
yang khusus dalam masyarakat.
c. Orientasi parokial menyatakan
alpanya harapan-harapan akan
perubahan yang komparatif yang
diinisiasikan oleh sistem politik.
d. Kaum parokial tidak
mengharapkan apapun dari sistem
politik.
e. Parokialisme murni berlangsung
dalam sistem tradisional yang
lebih sederhana dimana
spesialisasi politik berada pada
jenjang sangat minim.
f. Parokialisme dalam sistem politik
yang diferensiatif lebih bersifat
afektif dan normatif dari pada
kognitif.
2. Subyek/ a. Terdapat frekuensi orientasi
Kaula politik yang tinggi terhadap sistem
politik yang diferensiatif dan aspek
output dari sistem itu, tetapi
frekuensi orientasi terhadap
obyek-obyek input secara khusus,
dan terhadap pribadi sebagai
partisipan yang aktif mendekati
158
nol.
b. Para subyek menyadari akan
otoritas pemerintah
c. Hubungannya terhadap sistem
plitik secara umum, dan terhadap
output, administratif secara
esensial merupakan hubungan
yang pasif.
d. Sering wujud di dalam masyarakat
di mana tidak terdapat struktur
input yang terdiferensiansikan.
e. Orientasi subyek lebih bersifat
afektif dan normatif daripada
kognitif.
3. Partisipan a. Frekuensi orientasi politik sistem
sebagai obyek umum, obyek-obyek
input, output, dan pribadi sebagai
partisipan aktif
b. Bentuk kultur dimana anggota-
anggota masyarakat cenderung
diorientasikan secara eksplisit
terhadap sistem politik secara
komprehensif dan terhadap
struktur dan proses politik serta
administratif (aspek input dan
output sistem politik)
c. Anggota masyarakat partisipatif
terhadap obyek politik
d. Masyarakat berperan sebagai
aktivis.
Sumber: Almond dan Verba (1963)
159
partisipan, seorang warga negara tampil sebagai warga
negara yang aktif, memiliki kompetensi dan kecakapan
sebagai warga negara, berpartisipasi secara aktif dalam
kegiatan politik, dan berperan sebagai aktivis dalam
kehidupan masyarakat. Perilaku nyata yang dicontohkan
para warga negara partisipan, merupakan wujud
partisipasi dirinya sebagai warga negara dalam kehidupan
berpolitik, sekaligus upaya nyata mereka dalam
menumbuhkan budaya kewarganegaraan demokratis
berkarakter kebangsaan. Winataputra dan Budimansyah
(2007) menjelaskan, “civic culture ...menekankan
pentingnya hak partisipasi warga negara untuk mengambil
keputusan-keputusan yang berkaitan dengan berbagai
aspek kepentingan publik”. Diperjelas oleh Putnam (1993),
bahwa partisipasi tersebut harus dibangun atas hal-hal
yang mendasar, yakni: (1) egalitarianisme atau hubungan
timbal-balik secara horizontal sesama warga; (2)
pluralisme, di mana perbedaan paham, kepercayaan dan
kepentingan sesama warga diterima sebagai kenyataan
hidup yang harus dihargai, karena toleransi sosial-politik
memberi ciri krusial terhadap civic community; dan (3)
rasa saling percaya (trust) dan solidaritas sesama warga.
Budaya kewarganegaraan merupakan perilaku
masyarakat demokratis yang menyadari pentingnya
partisipasi sebagai penggerak demokrasi dalam
masyarakat, yang kemudian warga negara tersebut
menyadari konsekuensi dari perilakunya tersebut.
Perilaku ini merupakan pengakuan atas potensi manusia
yang memiliki rasa, karsa dan karsa yang atas
kesadarannya mengusung sikap saling menghormati di
antara pribadi masyarakat dan antar masyarakat. Dengan
demikian budaya kewarganegaraan menuntut pada
pribadi individu dan masyarakat untuk tidak hanya
160
berbicara, melainkan secara sadar siap terlibat dengan
keberadaannya di tengah kehidupan masyarakat.
Keterlibatan dalam kehidupan politik berwujud perilaku
politik yang diperlihatkan dengan sikap dan tindakan
individu atau kelompok yang diwarnai orientasinya
terhadap kehidupan politik.
Berkenaan dengan orientasi politik, Almond dan
Verba (1963) mengklasifikasi tipe-tipe orientasi politik
yang meliputi: (1) orientasi kognitif, berkenaan dengan
pengetahuan dan kepercayaan pada politik; (2) orientasi
afektif, berkenaan dengan perasaan terhadap sistem
politik dan peranannya sebagai aktor serta
penampilannya; dan (3) orientasi evaluatif, berkenaan
dengan keputusan dan pendapat tentang obyek-obyek
politik yang secara tipikal melibatkan kombinasi standar
nilai dan kriteria dengan informasi dan perasaan.
Kepemilikan tiga orientasi politik secara bersamaan
yang disertai partisipasi konkrit, menjadi pola tingkah-laku
individu atau kelompok yang memberi kontribusi kondusif
bagi tumbuhnya budaya politik partisipan.
Paparan di atas menunjukkan budaya politik
partisipan merupakan lahan yang ideal bagi tumbuh
suburnya demokrasi. Hal ini dikarenakan terjadinya
harmonisasi hubungan antar warga dan warga negara
dengan pemerintah yang ditunjukkan dengan tingkat
kompetensi politik, yakni menyelesaikan sesuatu hal
secara politik, dan tingkat efficacy atau keberdayaan
karena mereka merasa memiliki kekuatan politik yang
dapat ditunjukkannya sebagai warga negara. Oleh karena
itu, warga negara yang partisipan merasa perlu untuk
terlibat dalam proses pembangunan politik dan
mempercayai perlunya keterlibatan dalam politik untuk
nation and character building.
161
Anggota masyarakat
tidak menaruh minat
Anggota masyarakat terhadap objek
mempunyai minat,
Parochi
politik luas, kecuali
perhatian dan kesadaran dalam batas tertentu.
terhadap sistem politik
secara keseluruhan
terutama terhadap hasil
atau dari kebijakan politik,
belumada partisipasi untuk
membuat kebijakan.
BUDAY
A
Kau
Partisi
162
C. Pendidikan Karakter sebagai Wahana Sistemik
Pembangunan Karakter Kebangsaan
Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku
yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan
bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat
dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah
individu yang bisa membuat keputusan dan siap
mempertanggungjawabkan akibat dari keputusan yang
dibuatnya (Suyatno, 2009). Beberapa ciri orang yang
memiliki karakter menurut Kirschenbaum (1995) antara
lain: hormat, tanggungjawab, peduli, disiplin, loyal,
berani, dan toleran. Seseorang yang berkarakter mulia
memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang
ditandai dengan nilai-nilai seperti percaya diri, rasional,
logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup
sehat, bertanggung jawab, sabar, berhati-hati, rela
berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati
janji, adil, rendah hati, ramah, cinta keindahan (estetis),
sportif, dan tabah. Individu juga memiliki kesadaran
untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan bertindak
sesuai potensi dan kesadarannya. Individu yang
berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang
berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap
Tuhan YME, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan
negara serta dunia internasional pada umumnya dengan
mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan
disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya
(perasaannya).
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi
pekerti yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive),
perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut
Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, pendidikan
karakter tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter
163
yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan,
peserta didik akan memiliki kecerdasan emosi.
Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam
mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena
seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi
segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan
untuk berhasil secara akademis (Suyatno, 2009).
Ditambahkan oleh Elkind dan Sweet 2004), bahwa
pendidikan karakter merupakan upaya-upaya untuk
membantu peserta didik memahami, peduli, dan
berperilaku sesuai nilai-nilai etika yang berlaku. Lebih
lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah
segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu
mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu
membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup
keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru
berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru
bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya. Pendidikan
karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan
pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya
adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi
manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga
negara yang baik. Adapun kriterianya adalah nilai-nilai
sosial tertentu yang banyak dipengaruhi oleh budaya
masyarakat dan bangsanya. Dengan demikian, tujuan
pendidikan karakter pada dasarnya adalah mendorong
lahirnya anak-anak yang baik (insan kamil). Tumbuh dan
berkembangnya karakter yang baik akan mendorong
peserta didik tumbuh dengan kapasitas dan
komitmennya untuk melakukan berbagai hal yang
terbaik dan melakukan segalanya dengan benar serta
memiliki tujuan hidup. Masyarakat juga berperan
164
membentuk karakter anak melalui orang tua dan
lingkungannya.
Karakter dikembangkan melalui tahap
pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan
kebiasaan (habit) (Direktorat Pembinaan SMP, 2010).
Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja.
Seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan belum
tentu mampu bertindak sesuai dengan pengetahuannya,
jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan
kebaikan tersebut. Karakter juga menjangkau wilayah
emosi dan kebiasaan diri. Dengan demikian diperlukan
tiga komponen karakter yang baik (components of good
character) yaitu moral knowing (pengetahuan tentang
moral), moral feeling atau perasaan (penguatan emosi)
tentang moral, dan moral action atau perbuatan
bermoral. Hal ini diperlukan agar peserta didik dan atau
warga sekolah lain yang terlibat dalam sistem pendidikan
tersebut sekaligus dapat memahami, merasakan,
menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai kebajikan
(moral).
Dimensi-dimensi yang termasuk dalam moral
knowing yang akan mengisi ranah kognitif adalah
kesadaran moral (moral awareness), pengetahuan
tentang nilai-nilai moral (knowing moral values),
penentuan sudut pandang (perspective taking), logika
moral (moral reasoning), keberanian mengambil sikap
(decision making), dan pengenalan diri (self knowledge).
Moral feeling merupakan penguatan aspek emosi peserta
didik untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini
berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus
dirasakan oleh peserta didik, yaitu kesadaran akan jati
diri (conscience), percaya diri (self esteem), kepekaan
terhadap derita orang lain (emphaty), cinta kebenaran
165
(loving the good), pengendalian diri (self control),
kerendahan hati (humility). Moral action merupakan
perbuatan atau tindakan moral yang merupakan hasil
(outcome) dari dua komponen karakter lainnya. Untuk
memahami apa yang mendorong seseorang dalam
perbuatan yang baik (act morally) maka harus dilihat tiga
aspek lain dari karakter yaitu kompetensi (competence),
keinginan (will), dan kebiasaan (habit) (Lickona, 1991).
Pandangan Thomas Lickona di atas, pada
hakekatnya sama, bahwa pendidikan karakter sebagai
pendidikan moral dalam penerapannya harus menyentuh
pada tiga dimensi secara utuh, yakni kognitif, afektif dan
psikomotorik. Dijelaskan oleh Buchori (2007), bahwa
pengembangan karakter seharusnya membawa anak ke
pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara
afektif, akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Untuk
sampai ke praksis, ada satu peristiwa batin yang amat
penting yang harus terjadi dalam diri anak, yaitu
munculnya keinginan yang sangat kuat (tekad) untuk
mengamalkan nilai. Peristiwa ini disebut conatio, dan
langkah untuk membimbing anak membulatkan tekad ini
disebut langkah konatif. Pendidikan karakter mestinya
mengikuti langkah-langkah yang sistematis, dimulai dari
pengenalan nilai secara kognitif, langkah memahami dan
menghayati nilai secara afektif, dan langkah
pembentukan tekad secara konatif. Ki Hajar Dewantoro
menterjemahkannya dengan kata-kata cipta, rasa, karsa.
Untuk memenuhi keberhasilan akademis yang
dimaksud, Pusat Pengembangan Kurikulum (PUSKUR,
2010)) telah mengembangkan konsep pendidikan
budaya dan karakter bangsa dan menuangkannya dalam
suatu dokumen resmi yang berjudul “Pedoman
Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa di Sekolah”.
166
Dalam dokumen tersebut “budaya diartikan sebagai
keseluruhan sistem berpikir, nilai,moral, norma dan
keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat.
Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan itu
adalah hasil dari interaksi manusia dengan sesamanya
dan lingkungan alamnya”. Sedangkan karakter dimaknai
sebagai “watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian
seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi
berbagai kebajikan (virtues) yang diyakininya dan
digunakannya sebagai landasan untuk cara pandang,
berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas
sejumlah nilai, moral, dan norma seperti jujur, berani
bertindak, dapat dipercaya, hormat kepada orang lain,
dan sebagainya. Interaksi seseorang dengan orang lain
menumbuhkan karakter masyarakat dan karakter
bangsa. Berdasarkan kedua pengertian tersebut dan
pengertian pendidikan yang dinyatakan dalam Undang-
undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional maka “pendidikan budaya dan karakter bangsa”
diartikan sebagai proses internalisasi serta penghayatan
nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang dilakukan
peserta didik secara aktif di bawah bimbingan guru,
kepala sekolah dan tenaga kependidikan serta
diwujudkan dalam kehidupannya di kelas, sekolah, dan
masyarakat.
Rumusan di atas, tetap menampilkan konsep
pendidikan ideal yang secara umum menanamkan
pengetahuan (kognitif), menanamkan nilai-nilai atau
sikap (afektif), dan melatih keterampilan (psikomotorik)
kepada para peserta didik untuk mempersiapkan masa
depannya yang lebih baik. Karakter adalah ‘distinctive
trait, distinctive quality, moral strength, the pattern of
behavior found in an individual or group’. Kamus Besar
167
Bahasa Indonesia memang belum memasukkan kata
karakter, yang ada adalah kata ‘watak’ yang diartikan
sebagai: sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap
pikiran dan tingkah laku; budi pekerti; tabiat. Jadi, dapat
diartikan secara umum bahwa karakter itu berkaitan
dengan kekuatan moral, berkonotasi ‘positif’. Orang
berkarakter adalah orang punya kualitas moral tertentu
yang positif.
Dengan demikian pendidikan membangun
karakter secara implisit mengandung arti membangun
sifat atau pola perilaku yang didasari atau berkaitan
dengan dimensi moral yang positif atau yang baik, bukan
yang negatif atau yang buruk. Karakter atau watak adalah
ekspresi dari keseluruhan nilai-nilai yang kita taati.
Karakter seseorang merupakan ekspresi dari suatu
moralitas. Kini, krisis moral tengah melanda para
generasi bangsa, sebagai akibat pergeseran (shift) nilai-
nilai yang berdampak terhadap warna moralita bangsa.
Pembentukan karakter bukanlah hal yang mudah.
Karakter dibangun dari berbagai aspek yang
mendukungnya dan melalui proses yang berkelanjutan
serta komitmen yang kuat. Dengan demikian,
pembentukan karakter perlu waktu panjang, dari masa
kanak-kanak sampai usia dewasa ketika seseorang
mampu mengambil keputusan mengenai dirinya sendiri.
Di era globalisasi, karakter yang kuat memiliki
peran yang sangat strategis dalam menyiapkan generasi
penerus bangsa yang berkualitas yang memiliki
integritas yang tinggi sebagai bangsa Indonesia.
Berkaitan dengan tantangan besar bangsa yang dihadapi,
kita perlu menumbuhkan kembali nilai-nilai luhur
budaya bangsa melalui pendidikan karakter berbasis
nilai. Re-discovery, revitalisasi, atau invented tradition
168
nilai-nilai sosial-budaya kebangsaan perlu dilakukan
melalui medium pendidikan karakter bagi generasi
bangsa sebagai figur generasi bangsa.
Untuk itu, pendidikan karakter berbasis nilai-nilai
kebangsaan bagi generasi muda perlu dirancang sebagai
wahana sistemik dengan tujuan:
a. Mengembangkan potensi afektif generasi bangsa
sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-
nilai budaya dan karakter bangsa
b. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku generasi
bangsa yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai
universal dan tradisi budaya bangsa yang religius
c. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab
generasi bangsa sebagai penerus bangsa
d. Mengembangkan kemampuan generasi bangsa
menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan
kebangsaan
e. Mengembangkan kreativitas dan persahabatan dengan
rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan
(dignity).
Bila ditilik kandungan isi dari tujuan di atas,
pendidikan karakter bukan berbobot pada transfer of
knowledge tetapi lebih memiliki kedudukan sebagai
transfer of values. Nilai-nilai dalam Pendidikan Karakter
(PUSKUR, 2010) dikembangkan dengan bersumber
pada:
1. Agama: masyarakat Indonesia adalah masyarakat
beragama. Oleh karena itu kehidupan individu,
masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran
agama. Secara politis kehidupan kenegaraan pun
didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas
dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan
169
budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada
nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.
2. Pancasila: negara Republik Indonesia ditegakkan atas
prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan
kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat
pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih
lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam UUD
1945 tersebut. Artinya, nilai-nilai yang ada dalam
Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur
kehidupan politik, hukum, ekonomi dan
kemasyarakatan diatur dalam pasal-pasal UUD 1945.
Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan
mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara
yang baik, yaitu warga negara yang memiliki
kemampuan dan kemauan, dalam menerapkan nilai-
nilai Pancasila pada kehidupannya sebagai warga
negara.
3. Budaya, adalah suatu kebenaran bahwa tidak ada
manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak
didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui
masyarakat tersebut. Nilai-nilai budaya tersebut
dijadikan dasar dalam memberi makna terhadap suatu
konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota
masyarakat tersebut. Posisi budaya yang demikian
penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan
budaya menjadi sumber nilai-nilai dari pendidikan
budaya dan karakter bangsa.
4. Tujuan Pendidikan Nasional; tujuan pendidikan
nasional adalah kualitas yang harus dimiliki setiap
warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai
satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Di
dalam tujuan pendidikan nasional terdapat berbagai
nilai kemanusiaan yang harus dimiliki seorang warga
170
negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan
nasional adalah sumber yang paling operasional dalam
pengembangan pendidikan budaya dan karakter
bangsa dibandingkan ketiga sumber yang disebutkan
di atas.
Pendidikan karakter berbasis kebangsaan, sejak
awal kemerdekaan sebenarnya telah terpikirkan oleh
Bung Karno sebagai salah satu pendiri bangsa yang
dengan tegas menyatakan pentingnya nation and
character building. Pengisian kemerdekaan, bukan hanya
menekankan pembangunan welfare-state, tetapi juga
pembangunan karakter bangsa yang kuat untuk
membedakan dengan bangsa-bangsa lainnya.
Dalam penanaman karakter, pendidikan memiliki
fungsi yang paling utama. Pendidikan, baik dalam
keluarga (in-formal), masyarakat (non-formal) maupun
di sekolah (formal) memiliki peran yang sangat penting.
Melalui sinergi tiga lingkungan pendidikan ini, proses
pembelajaran karakter terjadi sepanjang hayat, untuk
membentuk watak dan mengembangkan potensi diri,
sehingga terbentuk kepribadian unggul, cerdas, kreatif,
inovatif dan mampu beradaptasi dengan lingkungan
sekitar, baik secara lokal, nasional maupun global.
Sekaitan dengan paparan Pendidikan Karakter di
atas, diharapkan pendidikan karakter bagi generasi
bangsa dapat mengembalikan peran generasi bangsa
dalam pembangunan karater bangsa, yakni perannya
sebagai patriotis, nasionalis yang inklusif, intelektualis
yang moralis. Untuk menginternalisasi ketiga karakter
tersebut bagi generasi bangsa, maka pendidikan karakter
harus dirancang dengan membekali beberapa
kompetensi, yakni:
171
1. Kompetensi personal, kemampuan dasar yang
berkaitan dengan pembentukan dan pengembangan
kepribadian diri peserta didik sebagai makhluk
individu yang merupakan hak dan tanggung jawab
personalnya. Kompetensi yang dikembangkan adalah
pembentukan konsep dan pengertian diri, sikap
objektif terhadap diri sendiri, aktualisasi diri,
kreativitas diri, kemandirian itu sendiri, termasuk
bagaimana menumbuhkembangkan budi pekerti
luhur, disiplin dan kerja keras serta sebagai makhluk
ciptaan Tuhan, sehingga perlu menumbuh-
kembangkan dan memantapkan keimanan dan
ketaqwaannya.
2. Kompetensi sosial, kemampuan dasar yang berkaitan
dengan pengembangan kesadaran sebagai makhluk
sosial dan makhluk yang berbudaya. Kompetensi yang
dikembangkan adalah kesadaran dirinya sebagai
anggota masyarakat sehingga perlu saling
menghormati dan menghargai; pemahaman dan
kesadaran atas kesantunan hidup bermasyarakat dan
berbangsa; kemampuan berkomunikasi dan kerja
sama antara sesama; sikap pro-sosial atau altruisme;
kemampuan dan kepedulian sosial termasuk
lingkungan; memperkokoh semangat kebangsaan,
pemahaman tentang perbedaan.
3. Kompetensi intelektual, merupakan kemampuan
berpikir yang didasarkan pada adanya kesadaran atau
keyakinan atas sesuatu yang baik yang bersifat fisik,
sosial, psikologis, yang memiliki makna bagi dirinya
maupun orang lain. Kompetensi yang dikembangkan
adalah daya pikir untuk menerima dan memproses
serta membangun pengetahuan, nilai dan sikap, serta
tindakannya baik dalam kehidupan personal maupun
172
sosial, kemampuan mengidentifikasi masalah sosial,
merumuskan masalah sosial dan memecahkan
masalah.
Dengan tiga kompetensi di atas, Pendidikan
Karakter sebagai wahana program sistemik pendidikan
karakter bangsa, dapat turut membentuk karakter
generasi bangsa yang mampu:
a. Mengamalkan ajaran agama yang dianut dan
menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras,
dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional;
b. Memahami sikap percaya diri terhadap kekurangan
dan kelebihan diri sendiri;
c. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam
lingkungan yang lebih luas;
d. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis,
kreatif, dan inovatif serta menerapkan menerapkan
informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber
lain;
e. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri
sesuai dengan potensi yang dimilikinya;
f. Kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah
gejala alam dan sosial dalam kehidupan sehari-hari;
g. Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab,
menghargai karya seni dan budaya nasional;
h. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan
santun dengan menerapkan nilai-nilai kebersamaan
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara demi terwujudnya persatuan dan kesatuan;
i. Memiliki jiwa kewirausahaan dan menghargai tugas
pekerjaan serta memiliki kemampuan untuk berkarya;
j. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain
dalam pergaulan di masyarakat serta menghargai
adanya perbedaan pendapat;
173
k. Memiliki nasionalisme yang tinggi dan kesetiaan
terhadap NKRI;
l. Pemilikan nilai-nilai budaya bangsa (having) sekaligus
menjadikannya (being) sebagai jatidiri bangsa
sekaligus mampu mengaktualisasikannya dalam
kehidupan sehari-hari baik dalam lingkup kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
D. Penutup
Pembangunan karakter bangsa melalui
pendidikan karakter bagi generasi bangsa memerlukan
strategi pembelajaran yang berprinsip pada: bermakna
(meaningful) bagi perannya sebagai figur generasi
bangsa, integratif (integrative) bagi perannya dalam
membangun persatuan dan kesatuan, berbasis nilai
(value based) bagi perannya sebagai gerakan moral,
menantang (challenging) bagi perannya dalam
menyongsong masa depan, dan aktif (active) bagi
perannya sebagai dinamisator pembangunan bangsa.
Pendidikan Karakter diharapkan dapat membekali
generasi bangsa dengan seperangkat pengetahuan
(knowledge), sikap (disposition) yang berpangkal pada
kebajikan (virtues) dengan sejumlah nilai-moral
didalamnya serta keterampilan (skill), sebagai
kompetensi yang dapat berkontribusi bagi eksistensi dan
kemajuan hidup bangsa dan negara.
*****
174
DAFTAR PUSTAKA
175
Cholisin, (2000). Materi Pokok Ilmu Kewarganegaraan-
Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarta
Cholisin, (2000). Ikn-PKn. Jakarta: Universitas Terbuka
Cholisin, 2004. Konsolidasi Demokrasi Melalui
Pengembangan Karakter Kewarganegaraan,.
Journal Civic, Vol. 1, No. 1, Juni, pp. 14-28.
Cogan, J.J. (1998). Citizenship for the 21st Century: An
International Perspective on Education. London:
Cogan Page Perspective on Education. London:
Cogan Page.
Daradjat, Z. (1971). Membina Nilai-nilai Moral di
Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang
Dawam, A.. (2003). Emoh Sekolah: Menolak
"Komersialisasi Pendidikan dan Kanibalisme
Intelektual", Jogjakarta: Jnspeal Ahimsakarya
Press, Cetakan Pertama.
Depdiknas. (2003). Mata Pelajaran Kewarganegaraan.
Jakarta: Depdiknas Dirjen Pendidikan Dasar dan
Menengah Direktorat Pendidikan Menengah
Umum.
Depdiknas. (2006). Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006
tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan
Dasar dan Menengah. Jakarta: BSNP
Dewantara, A. (2017). Filsafat Moral Pergumulan Etis
Keseharian Hidup Manusia. Jogjakarta : Kanisius.
Dewey, J., (1953). How We Think, Boston: [Link].
Direktorat Pembinaan SMP. (2010). Panduan Pendidikan
Karakter. (Depdiknas: Jakarta).
Elkind, D. & Sweet, F. 2004. How to do character educatio
([Link]
(Diunduh 20 September 2014).
176
_______, 2016, Etika Dasar Masalah-Masalah Pokok Filsafat
Moral. Yogjakarta: kanisius
Gorski. (2001). Educating Citizens for Democracy,
London: Oxford University Press.
Goleman, D. (2001). Kecerdasan Emosional, Terj.
Hermaya, T. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Hall, B. (1973). Value Clarification as Learning Process.
New York: Paulist Press.
Hall., B. at all. (1982). Reading in Value Development. New
Jersey: Paulist Press.
Halstead, J. Mark dan Taylor, Monica J. (2000). “Learning
and Teaching about Values: A Review of Recent
Research.” Cambridge Journal of Education. Vol. 30
No.2, pp. 169-202.
Hill, B.V. (1991). Values Education in Australian Schools.
Victoria The Australian Council for Education
Research Ltd. Radhford House.
Hobsbawm, E.J. and Ranger, T.O. (eds). (1983). The
Invention of Tradition. New York: Cambridge
university Press.
Jamaludin, dkk. (2020). Belajar dari Covid-19: Perspektif
Sosiologi, Budaya, Hukum, Kebijakan dan
Pendidikan. Medan: Kita menulis.
Bertens. (1993). Etika, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama
_______, (2004). Etika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Kalidjernih, F.K. (2008). Cakrawala Pendidikan
Kewarganegaraan. Bandung: Grasindo.
177
_______, (2009). Puspa Ragam Konsep dan Isu
Kewarganegaraan. Bandung: Widya Aksara Press.
Katresna, “Grand Design Pendidikan Karakter” dalam
Katresna72. [Link], Dipublikasikan 23
Oktober 2010, [Link] [Link].
com/2010/10/23 rand-design-pendidikan-
karakter/.
Kemko Kesejahteraan Rakyat. (2010). Kebijakan Nasional
Pembangunan Karakter Bangsa. Jakarta: Kemko
Kesejahteraan Rakyat.
Khoironi. (2004). Pendidikan Profetik, Jogjakarta: Pustaka
Pelajar, Cetakan Pertama.
Kirschenbaum, H. (1995). 100 Ways To Enhance Values
And Morality In Schools And Youth Settings.
Massachusetts: Allys & Bacon.
Kirschenbaum, Howard. (2000). ”From Values
Clarification to Character Education: A Personal
Journey.” The Journal of Humanistic Counseling,
Education and Development. Vol. 39, No. 1,
September, pp. 4-20.
Kohlberg, L. (1995). Tahap-tahap Perkembangan Moral
(alih Bahasa: John de Santo dan Agus Cremmers).
Yogyakarta: Kanisius
Kung, H. (1991). Global Responsibility In Search of a New
World Ethic. New York : Crossroad Pub. Co.
Lickona, Thomas. (1991) . Educating for Character: How
Our School can Teach Respect and Responsibility.
New York: Bantan Books.
Lubis, M.A. (2015). Pengembangan Nilai Karakter Pada
Anak Sekolah Dasar Sesuai Pancasila Sila Kedua
Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Prosiding
Seminar Nasional AP3Knl Sumut dan IMAPENDAS
UNIMED. Medan: Larispa Indonesia.
178
Mastuti, R, dkk (2020). Teaching From Home: dari Belajar
Merdeka menuju Merdeka Belajar, Medan: Kita
menulis
Mertokusumo, S. (1985). Mengenal Hukum: Suatu
Pengantar. Yogyakarta: Liberty1988.
NCSS. (1994). Curriculum Standard for Social Studies.
Washington: Expectation of Excellence
Washington.
Nasikun. (2007). Sistem Politik [Link]:
Pustaka pelajar.
Nawawi, 2010. Pentingnya Pendidikan Moral Bagi
Generasi Penerus Bangsa, Bandung. Vol.16 No. 2
Patrick, John J. (1999). “Concepts, at the Core Education
for Democratic Citizenship,” dalam Charles F.
Bahmueller dan John J. Patrick (eds)., Principles
and Practices of Education for Democratic
Citizenship. Bloomington, IN: ERIC Clearinghouse
for Social Studies/Social Science Education, pp. 1-
40.
_______, (1999). “Defining, Delivering, and Defending a
Common Education for Citizenship in a
Democracy,” dalam John J. Patrick, Gregory E.
Hamot, dan Robert S. Leming (eds)., Civic Learning
in Teacher Education. Vol 2, Bloomington, IN:
ERIC Clearinghouse for Social Studies/Social
Science Education, pp. 5-23.
Pasandaran, S. (2016). Etika Kewarganegaraan.
Yogyakarta: Ombak
Print, Murray, [Link]. (1999). Civic Education for Civil
Society. London: Asian Academic Press.
PUSKUR. (2010). Pendidikan Budaya dan Karakter
Bangsa. Jakarta: PUSKUR.
179
Putnam, R.D. (1993) .Making Democracy Work: Civic
Tradition In Modern Italy. Princeton, New Jersey:
Princeton University Press.
Rachels, J. (2004). Filsafat Moral. Yogyakarta: Kanisius.
Quiqley, Charles, N. (2000). Global Trends in Civic
Eduction. Calabasas: CCE.
Sanusi, H.A. (1998). Memberdayakan Masyarakat dalam
Pelaksanaan 10 Pilar Demokrasi. Bandung: Panitia
Semlok PPKn IKIP Bandung.
_______, (1993). “Quo Vadis Pendidikan IPS?” dalam Jurnal
Pendidikan Ilmu Sosial Edisi Kedua Volume 1 No.
2 Juli-Desember, hlm 9.
Suyatno. (2009). Urgensi Pendidikan Karakter. Jakarta:
Depdiknas.
Sapriya. (2012). Konsep Dasar Pendidikan
Kewarganegaraan. Jakarta : Direktorat Jenderal
Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik
Indonesia.
Sastroepoetro, AS. 1986. Partisipasi, komunikasi, persuasi
dan disiplin dalam pembangunan nasional.
Semarang: Alumni.
Setiawan, D. (2012). “Pendidikan Kewarganegaraan
Berbasis Karakter Melalui Penerapan Pendekatan
Pembelajaran Aktf, Kreatif, Efektif, dan
Menyenangkan”. Makalah disampaikan pada
Seminar internasional dan Konferensi Internasional
Pendidikan Dasar dengan tema “Early-Childhood
Education: Active, Creative, Joyful. Medan:
Universitas Negeri Medan 6-7 Juli 2012.
Soerjono.S. (1985). Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta:
CV. Rajawali.
180
Somantri, M. N. (2001). Menggagas Pembaharuan
Pendidikan IPS. Bandung: Rosdakarya.
_______, (1993). Beberapa Pokok Pikiran MengenaiMasalah
“Sara” dalam Bahan dan Metode Pendidikan
Kewarganegaraan pada 3 Lingkaran Pendidikan di
Indonesia. (Makalah). Bandung: Jurusan PMPPKN
FPIPS IKIP Bandung.
Soyomukti, N. (2011). Pengantar filsafat umum: Dari
Pendekatan Historis, Pemetaan Cabang-Cabang
Filsafat, Pertarungan Pemikiran, Memahami
Filsafat Cinta, hingga Panduan Berpikir Kritis-
Filosofis. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Supriadi, D. (2001). Budi Pekerti dalam Kurilulum 1947-
1994. Harian Umum Pikiran Rakyat, Bandung, 12
Juni 2001
Suryadi, A dan Somardi. (2000). Pemikiran Ke Arah
Rekayasa Kurikulum Pendidikan Kewarga-
negaraan. (Makalah). Bandung: CICED.
Suseno, F.M. (1987), Etika Dasar: Masalah-masalah Pokok
Filsafat Moral, Yogyakarta: Kanisius
Susilawati, Suryanti dkk. (2010). Urgensi Pendidikan
Moral Sebagai Upaya Membangun Komitmen Diri.
Yogyakarta: Surya Perkasa
Suyatno. (2009). Urgensi Pendidikan Karakter. Jakarta:
Depdiknas.
Soejadi. (1998). Pancasila sebagai Sumber Tertib Hukum
Indonesia. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
Tilaar, H.A.R. (2000). Pendidikan Kebudayaan, dan
Masyarakat Madani Indonesia: Strategi Reformasi
Pendidikan Nastonal, Bandung: Remaja
Rossdakarya, Cetakan Kedua.
181
_______, 2003 Multikulturalisme: Tantangan Global Masa
Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional,
Jakarta: Grasindo.
Tim ICCE, UIN (2008). Demokrasi. Hak Asasi Manusia Dan
Masyarakat Madani. Jakarta: Prenata Media Group.
Wahab, A.A. (1999). Pengembangan Konsep dan
Paradigma Pendidikan Kewarganegaraan Baru
Indonesia Bagi Terbinanya Warga Negara
Multidimensional. (Makalah). Bandung: CICED.
Wahid, A. (2004) Keragaman Budaya Bangsa, Kompas, 23
Juni 2004. Wahab. A dan Winataputra. (1998).
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
(PPKn), UUD 1945 GBHN. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Winataputra U.S. (2006). Jatidiri Pendidikan
Kewarganegaraan Sebagai Wahana Sistemik
Pendidikan Demokrasi. Bandung: Progam
Pascasarjana UPI.
Winataputra (2002), U.S.(2002), Pengembangan
Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan Untuk Mahasiswa Perguruan
Tinggi Agama Islam. (Laporan). Jakarta:STAIN.
Winataputra dan Budimansyah. (2007). Civic Education.
Konteks, Landasan Bahan Ajar dan Kultur Kelas.
Bandung: Program studi Pendidikan
Kewarganegaraan SPs UPI.
Winataputra, dkk. (2008). Materi dan Pembelajaran PKn
SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Yaqin, A. (2005). Pendidikan Multikultural: Cross-Culttiral
Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan,
Yogjakarta: Pilar Media, Cetakan Pertama.
182
Zamroni, (2009). Pembelajaran IPS dan Kultur Baru
Sekolah. Yogyakarta: FISE UNY.
Zubaedi. (2011). Desain Pendidikan Karakter Konsepsi
dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan.
Jakarta: Kencana
183
TENTANG PENULIS
*****
184
Dr. Deny Setiawan, [Link]., lahir di
Bandung tanggal 8 Maret 1968 dari
pasangan Bapak S. Gunawan dan Ibu
Budiningrum Saptarini (Alm). Menikah
dengan E. Hartini dikarunia tiga putera,
yakni: Ega Maulana Kumbara (1996),
Giovanny Ashar merupakan anak
pertama dari empat bersaudara. My (2002) dan Argie
Jullyan (2008). Riwayat Pendidikan. SDN Kartika
Putera Jakarta Selatan (1981); SMPN Cimalaka Sumedang
(1984); SMAN 1 Bogor (1987); Lulusan S1 FPIPS IKIP
Bandung pada Jurusan PMP-Kn (1992); Lulus S2 pada
Program Studi Ketahanan Nasional Universitas Gajah
Mada (1998); dan lulus S3 pada Program Studi
Pendidikan IPS dengan Konsentrasi Pendidikan
Kewarganegaraan di Universitas Pendidikan Indonesia.
Riwayat Pekerjaan. Dosen Jurusan PPKn Fakultas Ilmu
Sosial Universitas Negeri Medan (1994-sekarang); Tutor
Universitas Terbuka (UT) Medan (2002-sekarang); Ketua
Penyunting Jurnal Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial
Universitas Negeri Medan (2009-sekarang); dan asesor
BAN-PT (2014-sekarang).
*****
185
Jamaludin, dilahirkan di Bengkalis
pada tanggal 19 februari 1988,
menyelesaikan Studi S1 di FKIP
Universitas Riau dan studi S2 di
Universitas Pendidikan Indonesia.
Pada saat ini menjadi dosen tetap di
Pendidikan Pancasila dan Kewarga-
negaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.
Dan pernah mengajar dibeberapa perguruan tinggi
swasta. Terlibat aktif dalam penulisan buku tentang
pendidikan dan pembelajaran, serta berpartisipasi
sebagai narasumber dan moderator dibeberapa diskusi
publik.
*****
186