0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan14 halaman

Alat dan Teknik dalam Cave Rescue

Dokumen ini membahas tentang kegiatan penelusuran gua (Caving) dan risiko yang terkait, serta pentingnya pengetahuan tentang Cave Rescue untuk penelusur gua. Ditekankan perlunya tim khusus dalam operasi penyelamatan gua yang terdiri dari berbagai peran seperti Incident Commander, Underground Manager, dan tim medis. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan peralatan yang digunakan dalam evakuasi dan rigging selama proses penyelamatan di gua.

Diunggah oleh

Lingga Cahyo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan14 halaman

Alat dan Teknik dalam Cave Rescue

Dokumen ini membahas tentang kegiatan penelusuran gua (Caving) dan risiko yang terkait, serta pentingnya pengetahuan tentang Cave Rescue untuk penelusur gua. Ditekankan perlunya tim khusus dalam operasi penyelamatan gua yang terdiri dari berbagai peran seperti Incident Commander, Underground Manager, dan tim medis. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan peralatan yang digunakan dalam evakuasi dan rigging selama proses penyelamatan di gua.

Diunggah oleh

Lingga Cahyo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

CAVE RESCUE

Kegiatan penelusuran gua atau yang biasa dikenal dengan Caving, merupakan gabungan
dari kegiatan mendaki gunung, memanjat tebing, berenang, bahkan menyelam yang semuanya itu
dilakukan dalam kondisi gelap gulita. Atas dasar itulah kegiatan penelusuran gua merupakan
kegiatan yang memiliki resiko paling besar (High Risk Activity). Musibah dalam kegiatan
penelusuran gua dapat terjadi setiap saat. Untuk itu semua penelusur gua wajib mengantisipasi
terjadinya musibah tersebut, serta terlatih dan terampil dalam menanggulangi musibah kecelakaan
gua bila terjadi. Berdasarkan data rekaman kejadian musibah kecelakaan kegiatan penelusuran
gua yang terjadi di Indonesia,musibah dalam gua terjadi akibat kelalaian penelusur atau human
error. Ditinjau dari penyebab musibah,hampir seluruhnya disebabkan oleh banjir dalam gua,
sebagian akibat salah teknik, dan sebagian oleh kegagalan alat Single Rope Technique (SRT).
Untuk itu perlu kiranya para penelusur gua membekali dirinya masing-masing dengan
pengetahuan Cave Rescue. Mencakup teknis, non teknis, dan medis baik secara teori maupun
praktek. atau dengan katalain paham dan mampu mengaplikasikan tahapan-tahapan Cave Rescue.
Sesuai dengan [Link] Cave Rescue berbeda dengan organisasi SAR pada
umumnya. Karena pada kecelakaan gua, medanyang dijumpai sangat bervariasi dan sangat
menyulitkan upaya pertolongan. Untuk itu dalam organisasi CaveRescue membutuhkan tim
khusus. Di Indonesia sampai saat ini belum ada tim SAR gua yang professional.

Kebutuhan Tim Dalam Operasi Cave Rescue:


 Incident commander
Bertanggungjawab terhadap seluruh aktivitas operasi Cave Rescue, termasuk mengembangkan
danmengimplementasikan keputusan strategis sepanjang pelaksanaan operasi CaveRescue. Tugas
dari seorang IC juga memonitor segala aspek operasi Cave Rescue meliputi perencanaan, logistic,
komunikasi dan informasi.
 Underground manager
Bertanggungjawab terhadap implementasi dari rencana yang telah dibentuk oleh IC. Selain itu
UM jugamenetapkan dan memonitor tugas penting seperti rigging,medis, evakuasi korban, dan
komunikasi bersamaIC di permukaan. UM juga bertanggungjawab terhadap keselamatan seluruh
tim rescuer bawah tanah
 Initial response team
Terdiri dari tim kecil yang bertugas memberikan respon pertama kali. Tugas dari IRT ialah
melakukanpengecekan informasi, korban di dalam gua serta memberikan penilaian dan evaluasi
situasi dan kondisi yangterjadi dengan tujuan memberikan laporan kepada IC. IRT biasanya juga
terdiri dari orang medis gunamelakukan pertolongan pertama kepada korban.

 Medical team
Biasanya terdiri dari tingkatan level dan kemampuan petugas medis.
 Communications team
Bertanggung jawab untuk menciptakan danmengatur komunikasi antara tim yang berada di dalam
guadengan IC.
 Rigging team
Bertanggungjawab terhadappembuatan lintasan rescue dan lintasan medis
 Litter team
Terdiri dari personal rescue yang belum ditugaskan sebagai Rigging team, communicationsteam,
medicalteam, atau posisi management. Bertanggungjawab terhadap keamanan korban (packaging
dan transfer)korban selama operasi Cave Rescue
 Entrance control
Bertanggungjawab atas control semua personil rescue yang akan masuk dan telah meninggalkan
gua. Dalamhal ini berupa kebutuhan tim, mencakup peralatan dan perlengkapan, serta logistik

PERALATAN EVAKUASI DALAM VERTICAL RESCUE

Secara umum peralatan yang digunakan dalam Vertical Rescue sama dengan peralatan Rock
Climbing ata1u peralatan dalam metode Rope Access, baik itu peralatan personal seperti Alat
Pelindung Diri (APD) ataupun peralatan kerja seperti peralatan Ascending dan Descending juga
system Anchor. Namun ada beberapa peralatan tambahan khusus digunakan dalam Vertical
Rescue terkait masalah evakuasi, antara lain :

 TRIPOD

Tripod berfungsi sebagai tempat penghubung semua system tali temali dalam proses vertical
rescue, biasa ditempatkan antara bidang datar dengan bidang vertical dalam system instalasi
untuk mengangkat korban. Tripod juga sangat berguna untuk evakuasi korban dari dalam lubang.

Tripod

 STRETCHER

Stetcher/Basket Rescue atau tandu berfungsi memproteksi korban dalam proses pemindahan ke
tempat yang lebih aman. Dalam proses pemindahannya penggunaan tandu pada korban bisa
dilakukan secara vertical atau horizontal tetapi selama dalam lintasan harus selalu dikawal oleh
seorang rescuer. Tandu ada yang memiliki pelindung disisi luarnya untuk melindungi korban dari
benturan langsung ada juga jenis yang bisa digulung.
Stetcher/Basket Rescue atau Tandu

PERALATAN TAMBAHAN DALAM PROSES RIGGING

Ada juga beberapa peralatan tambahan yang digunakan untuk memudahkan proses Rigging
(instalasi lintasan dalam vertical rescue) antara lain :

 QUICK RELEASE

Alat ini sangat membantu proses rescue terutama untuk melepaskan korban dari jalur lintasan
dalam keadaan berbeban. Beberapa produk dari quick release diantaranya ada yang di
kombinasikan dengan swivel.

Quick Release

 SWIVEL

Swivel adalah alat yang berfungsi mengurangi terjadinya puntiran pada tali utama atau agar tali
tidak berputar saat proses pengangkatan, biasa digunakan pada proses evakuasi dengan helicopter.
Kedua cincin pada swivel terhubung dengan satu poros hal inilah yang memungkinkan keduanya
bergerak dinamis.
Swivel

 RIGGING PLATE

Ringging Plate adalah sebuah plat penghubung untuk beberapa jalur tali. Biasanya dalam instalasi
jalur vertical rescue terdapat beberapa tali dalam satu lintasan.

Ringging Plate
 Roll Module
Dalam suatu pembuatan lintasan/ instalasi rescue kita juga harus selalu memperhatikan
keamanan alat, salah satunya adalah tali. Untuk menghindari gesekan tali dengan tebing dalam
penelusuran goa kita biasa menggunakan padding, ataupun memasang variasi anchor
(intermediete, deviation). Dalam instalasi rescue kita friksi bisa kita hilangkan dengan variasi
anchor. Di sini pemakaian padding tidak bisa selalu digunakan, karena sebagian tali yang harus
dilindungi adalah tali yang bergerak. Dalam kasus seperti ini kita bisa menggunakan “Roll

Module”, alat ini berfungsi sebagai pelindung, mengarahkan tali, maupun landasan untuk tali
yang bergerak. Alat ini berupa berbentuk seperti kotak yang didalamnya ada roller (tabung
berputar).

 PULLEY

Pulley atau katrol adalah peralatan yang digunakan untuk mengurangi friksi pada tali juga
digunakan untuk mengubah arah kerja tali. Dalam proses vertical rescue alat ini sering digunakan
terutama dalam proses evakuasi baik pada hauling, lowering ataupun suspention system.

(Pulley)
Gambar 2. Spesifikasi tiap jenis pulley product petzl.
ANCHOR
Anchor adalah suatu titik pemberat atau titik pengencangan yang digunakan untuk memberikan
dukungan atau keamanan saat melakukan teknik-teknik seperti rappelling (turun dengan tali) atau
ascending (naik dengan tali) di dalam gua. Anchors ini biasanya ditempatkan pada formasi batuan
yang kuat atau titik-titik yang telah dianggap aman dan stabil untuk menahan beban dari
penjelajah gua.
Anchor dalam caving adalah elemen penting untuk keamanan dalam melakukan teknik-teknik
vertikal di dalam gua. Mereka memungkinkan penjelajah gua untuk bergerak secara terkontrol
dan aman di area-area yang curam atau vertikal.
Contoh-contoh anchor alami/natural anchor :
1. Pohon.
Sebelum kita memakai jenis ini, kita harus memeriksa umur pohon yang dapat kita lihat
dari besarnya, posisi pohon, maupun kondisi dari pohon tersebut
2. Lubang tembus
Sebuah lobang yang bisa kita temui di dinding, lantai maupun atap gua. Kita harus
memeriksa kekerasan batuan, keutuhan dan struktur dari batuan tersebut sebelum kita
memutuskan untuk memakainya.
3. Rekahan
Atau celah yang bisa terbentuk dari penglisan lapisan (horizontal) maupun crek (vertical).
Kita harus selalu memperhitungkan bentuk celah arah penyempitan celah dan arah tarikan
yang akan di terima
4. Chock stone
Batu yang terjepit pada sebuah celah schin, berfungsi sebagai pengaman sisip sehingga
sering di sebut natural chock
5. Stalaktit dan stalakmit
Untuk jenis ini hanya di pakai sebagai anchor deviasi karena tidak boleh mendapat beban
yang besar.

Distribution Anchor
Anchor ini berbentuk gabungan dari dua atau lebih posisi anchor yang digabungkan
menjadi satu ketika dibebani. Tujuan dari anchor jenis ini adalah untuk menambahkan
kekuatan pada anchor yang digunakan yaitu dengan cara membagikan beban pada tiap anchor
dan menempatkan posisi lintasan pada titik jatuh tertentu. Penggabungan anchor bisa
menggunakan simpul pada tali utama , webing, ataupun menggunakan potongan tali.
1. Y anchor.
Anchor atau tambatan yang menyerupai huruf Y. Y anchor merupakan gambungan dari
dua tambatan dengan membagi beban tiap tambatanya

Gambar 4. A Y anchor menggunakan 1 webbing B. Y anchor menggunakan2 webbing C. Y anchor menggunakansimpul pada tali.

Pembuatan Y anchor harus memperhatikan pembagian beban pada tiap tambatan dalam hal
ini tiap tambatan memiliku sudut dan sudut yang aman tidak melebihi 120°

Gambar 5. [Link] Perhitungan Y anchor B. Vari.

C
2. Multiple Anchor.
Multiple anchor atau intermediet sama seperti Y anchor yang mempunyai prinsip membabi
beban pada tiap tambatan namun dengan jumlang yang lebih dari 2 tambatan tentunya multiple
anchor akan meningkatkan safety working load dari anchor tersebut ketika digunakan. Variasi
ini bisa dibuat dengan menggunakan webing, sling kern mantel, maupun simpul pada tali
terbebani.

Gambar 6. Multiple Anchor A. Fixed distribuiton menggunakan tali [Link] disimpul pada tambatan carabiner, B. Dinamik distributin
menggunakan tali potongan. C. Dinamik distributin menggunakan simpul pada tali utama. .

3. Tyrolean Anchor.
Jenis anchor ini biasa digunakan untuk membuat lintasan tali hosrisontal maupun slope.
Sebelum digunakan, ketegangan memberikan beban tension dari elongasi tali, saat lintasan ini
dibebani kedua anchor akan bekerja dengan prinsip abnormal Y anchor. Hal ini disebabkan
sudut yang terbentuk antara 2 sisinya akan lebih besar dari 120o, dan beban yang diterima
masing-masing anchor akan berubah-ubah tergantung pada jarak dengan titik beban. Jadi harus
dipatikan bahwa pemilihan anchor tyrolean harus benar-benar kuat.
Gambar 7. Lintasan tyrolean dan prinsip perhitungan bebannya.

4. Anchor Deviasi
Fungsi deviasi ialah untuk merubah arah tali. Besar sudut deviasi dalam operasi cave rescue perlu
diperhatikan dengan seksama terutama pada besar sudut yang terbentuk. Hal ini mengingat dalam
cave rescue, kalkulasi beban rescue sebesar 200 kilogram. Jika sudut yang terbentuk terlalu
besar,beban yang diterima anchor deviasi juga akan semakin besar. Untuk itu besaran sudut
dan pemilihan anchor untuk deviasi perlu diperhatikan dalam operasi Cave Rescue. Sudut yang
terbentuk dari deviasi prinsipnya sama dengan sudut yang terbentuk dari Y-anchor. Semakin besar
sudut, semakinbesar pula beban yang diterima anchor.

Besar Sudut Beban Yang Keterangan


diterima
10 17% Dengan beratLoad Rescue sebesar 200 kg, besar sudut 10°, makabeban
yang diterima anchor deviasi sebesar 17 persen dari berat LoadRescue
(± 34 kg)

20 33% Dengan berat Load Rescue sebesar 200 kg, besar sudut 20°, makabeban
yang diterima anchor deviasi sebesar 33 persen dari berat LoadRescue
(± 66 kg)

30 50% Dengan berat Load Rescue sebesar 200 kg, besar sudut 20°, makabeban
yang diterima anchor deviasi sebesar50persen dari berat LoadRescue
(±100kg)

45 75% Dengan berat Load Rescue sebesar 200 kg, besarsudut 20°, makabeban
yang diterima anchor deviasi sebesar 75 persen dari berat LoadRescue
(± 150 kg)

60 100% Dengan berat Load Rescue sebesar 200 kg, besar sudut 20°, makabeban
yang diterima anchor deviasi sebesar 100 persen dari berat
LoadRescue (±200 kg)

90 142% Dengan berat Load Rescue sebesar 200 kg, besar sudut 20°, makabeban
yang diterima anchor deviasi sebesar 142 persen dari berat LoadRescue
(±284 kg)

120 175% Dengan berat Load Rescue sebesar 200 kg, besar sudut 20°, makabeban
yang diterima anchor deviasi sebesar 175 persen dari berat LoadRescue
(± 350 kg)
180 200% Dengan berat Load Rescue sebesar 200 kg, besar sudut 20°, makabeban
yang diterima anchor deviasi sebesar 200 persen dari berat LoadRescue
(± 400 kg)
Instalasi Vertical Rescue
Lintasan rescue yang dibuat harus bisa menyesuaikan berbagai bentuk medan yang ada, baik pada
medan vertikal, maupun horisontal. Dalam membuat lintasan rescue kita harus bisa menentukan
instalasi apa yang akan kita pergunakan. Instalasi ini juga bisa berarti gerakan dasar pada sebuah
lintasan vertical rescue.
Pemasangan semua lintasan rescue harus selalu memperhatikan rigging yang benar, yaitu dan
kekuatan anchor (dipertimbangkan minimal 2x kekuatan lintasan normal), selalu ada backup baik
untuk anchor maupun peralatannya, dan fall factor, Pada dasarnya ada tiga macam instalasi yang
biasa di gunakan :

A. Instalasi Hauling
Hauling adalah sebuah instalasi yang digunakan untuk menarik korban kearah tertentu, baik mendekati ataupun
menjauhi hauling anchor. Instalasi ini biasanya terdiri atas serangkaian alat berupa pulley (fixe, rescue, oscilante),
ascender (basic/ hand jammer), dan oval carabiner. Pulley berfungsi sebagai pembelok arah tali dan tempat
bergeraknya tali, ascender berfungsi sebagai pengunci gerakan tali.

Gambar 8. Instalai hauling standard..

Prinsip kerjanya adalah saat tali ditarik, maka tali yang dibelokkan pada pulley akan
bergerak, dan agar tali tidak bergerak berlawanan dengan arah tarikan, maka digunakan
ascender sebagai pengunci.
[Link] dengan pulley [Link] dgn Pulley dan [Link] Microtraxion,
dan basic Pursik Hauling compact

Gambar 9. Variasi instalasi Hauling dan simpul prussik (kanan)


Dalam bentuk biasa/ normal gaya (F) yang diperlukan untuk menarik korban/ beban (P)
adalah F= P + fs.
Untuk menurunkan nilai F maka ada beberapa sistem yang bisa ditambahkan pada hauling, yaitu
:
1. Z-rig System
Sistem ini akan menghasilkan F=1/3 P.
2. Yossemite System
Sistem ini akan menghasilkan F=1/2 P.
3. Crowter Lift System
Sistem ini akan menghasilkan F=1/3 P.
4. Piggy Back System
Sistem ini akan menghasilkan F=1/4 P.

1) 2) 3)

4)

Gambar 10. Beberapa sistem pengurangan beban pada proses hauling

Dalam pemakaian sistem diatas kadang kita mendapatkan kasus dimana arah kita menark
tali yang tidak dapat searah dengan arah keluarnya tali atau tidak sejajar dengan arah tali
yang mendapat beban. Untuk mengatasi hal ini kita kadang perlu membuat tambatan baru
dengan pulley guna membelokkan arah tarikan tali.
Dengan makin majunya kegiatan di medan-medan vertikal, makin bertambah pula ragam
peralatan yang sudah tersedia. Kini dengan mengkombinasikan beberapa peralatan makin
mudah untuk menurunkan gaya yang harus diciptakan untuk menarik beban ke atas.

Gambar 11. Instalasi dari beberapa jenis pulley dan ascender, F=P/4 Module Hauling, F=P/4
B. Instalasi Lowering
Lowering adalah instalasi yang digunakan untuk mengulur korban kearah tertentu, dengan
gerakan menjauhi maupun mendekati lowering anchor. Peralatan yang digunakan adalah
descender (bobbin, auto stop, figure of eight dll). Pemilihan jenis descender tergantung dari beban
yang akan diterima descender. Untuk beban yang besar pilih jenis descender dengan friksi yang
lebih besar.

Gambar 12. Instalasi Lowering

Metode Croll to Croll,


caranya yaitu:
1. Rescuer naik mendekati korban, lalu lepas kaki korban dari footloop
2. Pasang cowstail pendek rescuer ke MR bagian bawah korban dengan gate
carabinermenghadap atas
3. Lepaskan hand ascender rescuer dari tali
4. Gunakan footloop korban sebagai pijakan rescuer untuk mendekatkan croll rescuer ke
crollkorban
5. Install descender danCarabiner friksi pada MR korban dengan posisi
descender menghadapke rescuer, lalu kunci descender.
6. Lepas cowstail panjang korban dari hand ascendernya.
7. Longgarkan chest harness rescuer, lalu tempatkan paha dan lutut rescuer di bawah
pantatkorban, hal ini untuk memudahkan rescuer mengangkat korban dengan bantuan
lutut danpaha rescuer sambil menginjak footloop korban.
8. Sebelum melakukan hentakan dan mendorong pantat korban ke atas, pegang belakang
crollkorban dengan menggunakan tangan kanan rescuer, serta tangan kiri rescuerbersiap-
siapuntuk melepaskan Croll dari tali.
9. Gunakan otot perut rescuer lalu dorong pantat korban ke atas dengan menggunakan
lututrescuer sambil menginjak footloop. Pada saat yang sama tangan kanan rescuer
mendorongcroll korban keatas, dan tangan kiri rescuer melepaskan croll korban dari tali.
10. Jika croll korban sudah terlepas, turunkan korban sambil tangan kanan rescuer
tetapmemegang belakang croll korban lalu turunkan korban pelan-pelan hingga beban
korbanpindah ke descendernya.
11. Pijak footloop untuk melepas croll rescuer dari tali
12. Setelah melepaskan croll, rescuer turun pelan-pelan sambil memasang carabiner
konektor(satu carabiner konektor pasang di bagian bawah MR korban, satunya lagi
dipasang di bagianatas MR rescuer, lalu hubungkan kedua Carabiner). Sehingga beban
rescuer pindah ke MRkorban (descender korban).
13. Buka kuncian descender lalu turun perlahan-lahan bersama korban.

Anda mungkin juga menyukai