1
TUGAS BESAR 1
PENGAUDITAN
Dosen Pengampu:
Dr. Afly Yessie, SE, [Link],Ak,CA,CPA
Disusun Oleh:
Muhammad Hafizh Abdullah (43222010056)
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2024
2
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum [Link].
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan makalah. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas besar 1
mata kuliah Pengauditan.
Dalam penulisan Makalah ini, penulis menyadari Makalah ini tidak sepenuhnya sempurna baik
pada teknik penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis masih
terbatas. Tapi penulis berharap tugas ini dapat berguna bagi pembacanya sekarang atau masa
depan dan menjadi pengalaman berharga bagi penulis dalam proses pembuatanya. Kritik dan
saran yang membangun sangat penulis harapkan.
Waalaikumsalam [Link].
Jakarta, 18 Oktober 2024
Muhammad Hafizh Abdullah
3
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................................... 2
DAFTAR ISI .................................................................................................................................. 3
BAB I .............................................................................................................................................. 4
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................................... 4
1.2 Landasan Teori ...................................................................................................................... 5
1.3 Rumusan Masalah ................................................................................................................. 5
1.4 Tujuan Penulisan ................................................................................................................... 6
BAB II ............................................................................................................................................ 7
2.1 Perkembangan profesi akuntan publik di Indonesia sebelum pemberlakuan UU KAP No. 5
Tahun 2011 dan setelah pemberlakuan UU KAP No. 5 Tahun 2011 .......................................... 7
2.2 Perbedaan standar jasa-jasa yang diberikan oleh akuntan publik di Indonesia sebelum
pemberlakuan Internasional Standard On Auditing dan setelah pemberlakuan Internasional
Standard On Auditing ................................................................................................................. 9
2.3 Kovergensi ISA di Indonesia .............................................................................................. 11
2.4 Jelaskan kasus-kasus yang pernah terjadi di Indonesia terkait profesi akuntan dan Kantor
Akuntan Publik di Indonesia? ................................................................................................... 12
BAB III......................................................................................................................................... 14
3.1 Kesimpulan ......................................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................. 15
4
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Akuntan Publik merupakan profesi yang beraktivitas utama dalam pekerjaan audit
eksternal. Audit harus dilakukan secara profesional oleh orang yang independen dan kompeten.
Persyaratan auditor, pekerjaan sampai laporannya diatur oleh standar audit. Standar audit tidak
akan terlepas dari etika, apalagi profesi akuntan publik adalah profesi yang memerlukan tingkat
kepercayaan yang tinggi dari publik. Standar audit ini berfungsi sebagai pijakan akuntan publik
dalam merencanakan, melakukan aktivitas dan melaporkan hasil pekerjaannya. Sehingga dengan
dipakainya standar audit, hal yang dilarang dapat dihindari oleh akuntan publik, sedangkan hal
yang diwajibkan dapat dilaksanakan dengan baik. Akuntan publik juga dapat merupakan akuntan
yang menjalankan fungsi pemeriksaan secara bebas/independen terhadap laporan keuangan
perusahaan atau organisasi lain,serta memberikan jasa kepada pihak-pihak yang memerlukan.
Dalam melaksanakan suatu pekerjaan, akuntan publik dituntut untuk dapat lebih meningkatkan
kemampuan dan profesionalismenya dalam memberikan jasa. Akuntan publik sebagai auditor
eksternal dituntut untuk memiliki dedikasi terhadap profesinya mengikuti kode etik profesi yang
ditetapkan oleh organisasi profesinya yaitu, Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), yang terdiri dari
standar umum, Standar Pekerjaan Lapangan, dan Standar Pelaporan guna menunjukkan
profesionalisme
Profesi akuntan publik juga merupakan profesi yang menyediakan layanan akuntansi secara
independen kepada perusahaan atau individu yang memerlukannya. Berdasarkan UU RI No. 3
Tahun 2011, profesi ini didefinisikan sebagai profesi yang menawarkan layanan yang dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat umum untuk membantu dalam pengambilan keputusan penting.
Peraturan Menkeu No. 443/KMK.01/2011 juga menetapkan bahwa setiap akuntan publik harus
terdaftar sebagai anggota IAPI (Institut Akuntan Publik Indonesia). Layanan yang diberikan oleh
akuntan publik meliputi audit laporan keuangan, analisis laporan keuangan, audit pajak, konsultasi
manajemen, dan lainnya. Akuntan publik memegang peran penting dalam dunia bisnis dan
ekonomi karena mereka membantu entitas mengelola sumber daya keuangan secara efisien dan
5
efektif, serta menyediakan informasi yang akurat, relevan, dan dapat dipercaya bagi para
pemangku kepentingan.
1.2 Landasan Teori
Menurut UU Akuntan Publik No. 5 Tahun 2011, Akuntan Publik adalah individu yang telah
memperoleh izin untuk memberikan layanan tertentu sesuai dengan ketentuan dalam undang-
undang tersebut. Sebagai akuntan independen, Akuntan Publik memberikan jasa akuntansi khusus
dan menerima imbalan atas jasa yang diberikan. Peran Akuntan Publik sangat penting dalam
menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan, seperti investor, kreditur, dan pihak lain yang
berkepentingan, terhadap laporan keuangan perusahaan.
Akuntan Publik bertanggung jawab atas pelaksanaan audit. Audit yang dilakukan harus
independen, yang berarti bebas dari konflik kepentingan dan tidak terpengaruh oleh hubungan
dengan entitas yang diaudit. Selama proses audit, Akuntan Publik menilai risiko dan mengevaluasi
efektivitas pengendalian internal yang diterapkan oleh entitas untuk merancang program audit
yang tepat dan efisien. Audit biasanya dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP), yang
merupakan firma yang terdiri dari akuntan publik yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan
keahlian yang dibutuhkan untuk melakukan audit. Dalam menjalankan audit, Akuntan Publik
mengikuti standar audit yang menjadi pedoman, seperti ISA, untuk memastikan audit dilakukan
dengan konsistensi dan kualitas tinggi.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka, penulis mengkaji beberapa permasalahan yaitu:
1. Bagaimana perkembangan profesi akuntan publik di Indonesia sebelum pemberlakuan
UU KAP No. 5 Tahun 2011 dan setelah pemberlakuan UU KAP No. 5 Tahun 2011?
2. Bagaimana perbedaan standar jasa-jasa yang diberikan oleh akuntan publik di Indonesia
sebelum pemberlakuan Internasional Standard On Auditing dan setelah pemberlakuan
Internasional Standard On Auditing?
3. Bagaimana kovergensi ISA di Indonesia?
4. Jelaskan kasus-kasus yang pernah terjadi di Indonesia terkait profesi akuntan
dan Kantor Akuntan Publik di Indonesia?
6
1.4 Tujuan Penulisan
Tujuan yang diharapkan oleh penulis dengan adanya penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui perkembangan profesi akuntan publik di Indonesia sebelum pemberlakuan
UU KAP No. 5 Tahun 2011 dan setelah pemberlakuan UU KAP No. 5 Tahun 2011.
2. Mengetahui dan memahami mengenai perbedaan standar jasa-jasa yang diberikan oleh
akuntan publik di Indonesia sebelum pemberlakuan Internasional Standard On Auditing
dan setelah pemberlakuan Internasional Standard On Auditing.
3. Dapat memahami kovergensi ISA di Indonesia.
4. Mampu menganalisis kasus-kasus yang pernah terjadi di Indonesia terkait
profesi akuntan dan Kantor Akuntan Publik di Indonesia.
7
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perkembangan profesi akuntan publik di Indonesia sebelum pemberlakuan UU KAP
No. 5 Tahun 2011 dan setelah pemberlakuan UU KAP No. 5 Tahun 2011
Ketika Undang-Undang No. 5 Tahun 2011 tentang jasa Akuntan Publik belum diberlakukan,
menjadi Akuntan Publik harus berasal dari Sarjana Ekonomi yang berasal Jurusan Akuntansi,
setelah itu harus mengikuti Pendidikan Profesi Akuntansi sckitar 1-1,5 tahun dan setelah lulus PPA
akan mendapatkan gelar Akuntan. Kemudian, Akuntan harus mendaftar di Kementrian Keuangan
untuk mendapat Register Akuntan.
Berikutnya Akuntan tersebut dapat mengikuti Ujian Profesi Akuntan Publik, dan apabila lulus
dan memiliki pengalaman sebagai auditor, barulah dapat mengurus permohonan jin untuk menjadi
Akuntan Publik dan mendirikan Kantor Akuntan Publik, namun sebelum disahkan dan
diberlakukannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2011 tentang Profesi Akuntan Publik di
Indonesia, sebagian kalangan yang notabene adalah seorang akuntan publik sangat menentang
keras Undang-Undang_ tersebut diberlakukan, karena menurut_sebagian kalangan profesi akuntan
haruslah berasal dari kalangan yang benar-benar mengerti mengenai tugas dan tanggung jawab
seorang akuntan publik, dan mempunyai latar belakang dari bidang akuntansi.
Diberlakukannya Undang-Undang No.5 tahun 2011 tentang Akuntan Publik ini secara tidak
langsung akan memengaruhi pemilihan karir seorang mahasiswa untuk menjadi seorang akuntan
publik di masa yang akan datang, karena akan mempermudah mahasiswa untuk berkarir menjadi
akuntan publik apabila dibandingkan dengan sebelum diberlakukannya Undang-Undang tersebut,
sebab setelah pemberlakuan UU KAP No. 5 Tahun 2011, profesi akuntan publik di Indonesia
mendapatkan landasan hukum yang lebih kuat dan jelas untuk melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya. Karena didalamnya terdapat Undang-Undang tentang Akuntan Publik yang mengatur
berbagai hal mendasar dalam profesi Akuntan Publik, dengan tujuan untuk:
1. Melindungi kepentingan publik
2. Mendukung perekonomian yang sehat, efisien, dan transparan
3. Memelihara integritas profesi Akuntan Publik
8
4. Meningkatkan kompetensi dan kualitas profesi Akuntan Publik
5. Melindungi kepentingan profesi Akuntan Publik sesuai dengan standar dan kode etik
profesi.
9
2.2 Perbedaan standar jasa-jasa yang diberikan oleh akuntan publik di Indonesia sebelum
pemberlakuan Internasional Standard On Auditing dan setelah pemberlakuan
Internasional Standard On Auditing
Sebelum penerapan International Standard on Auditing (ISA) di Indonesia, standar jasa-
jasa yang diberikan oleh akuntan publik umumnya berpedoman pada standar nasional,
yaitu Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI). SPAP ini lebih menekankan pada praktik audit yang sesuai dengan regulasi
dan konteks lokal. Pendekatan ini kadang tidak sepenuhnya sejalan dengan praktik
internasional, yang dapat menimbulkan ketidaksesuaian saat berhadapan dengan perusahaan
multinasional atau transaksi lintas negara.
Setelah penerapan ISA di Indonesia, yang dimulai pada tahun 2013, standar audit
mengalami perubahan yang signifikan. ISA yang diterbitkan oleh International Auditing and
Assurance Standards Board (IAASB) mencakup prinsip-prinsip audit yang lebih komprehensif
dan terstruktur secara global. Salah satu perubahan besar adalah fokus yang lebih kuat
pada pendekatan berbasis risiko (risk-based audit approach), yang menuntut auditor untuk
mengidentifikasi risiko signifikan dalam laporan keuangan sejak awal audit dan menyesuaikan
prosedur audit berdasarkan tingkat risiko tersebut. ISA juga menuntut dokumentasi yang lebih
rinci serta penggunaan prosedur pengumpulan bukti audit yang lebih canggih dan sistematis,
yang membantu meningkatkan akurasi serta keandalan opini audit yang diberikan.
Selain itu, penerapan ISA juga memperketat prinsip independensi dan etika auditor, yang
merupakan salah satu pilar penting dalam audit modern. ISA mengharuskan akuntan publik di
Indonesia untuk mematuhi standar yang ketat dalam menjaga objektivitas dan independensi
selama proses audit, baik dalam hal kepentingan pribadi maupun dalam hubungan dengan
klien. Hal ini menjadi semakin penting dalam rangka menjaga kredibilitas hasil audit, terutama
bagi perusahaan yang memiliki pemangku kepentingan internasional.
Perbedaan antara SPAP dan ISA terletak pada beberapa aspek, antara lain:
10
1. ISA lebih komprehensif dan detail dalam mengatur berbagai aspek audit, seperti risiko
audit, materialitas, bukti audit, penggunaan pekerjaan pihak lain, estimasi akuntansi, pihak-
pihak berelasi, peristiwa setelah tanggal neraca, dan lain-lain.
2. ISA lebih menekankan pada pendekatan berbasis risiko dalam audit, yaitu mengidentifikasi
dan menilai risiko salah saji material melalui pemahaman terhadap entitas dan
lingkungannya, serta merancang dan melaksanakan respons audit yang tepat untuk
menanggapi risiko tersebut.
3. ISA lebih fleksibel dalam mengakomodasi perbedaan kerangka pelaporan keuangan yang
digunakan oleh entitas, baik yang bertujuan umum maupun khusus. ISA juga memberikan
panduan khusus untuk audit atas laporan keuangan tunggal atau unsur tertentu dalam
laporan keuangan.
4. ISA lebih mengharuskan auditor untuk berkomunikasi dengan pihak-pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola entitas, seperti manajemen, dewan komisaris, atau
komite audit. Komunikasi ini mencakup hal-hal seperti tujuan dan ruang lingkup audit,
temuan audit yang signifikan, kelemahan pengendalian internal, dan tanggapan
manajemen.
11
2.3 Kovergensi ISA di Indonesia
Konvergensi International Standard on Auditing (ISA) di Indonesia adalah proses penyesuaian
standar audit nasional, yaitu Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), agar selaras dengan
standar audit internasional yang diterbitkan oleh International Auditing and Assurance Standards
Board (IAASB). Upaya konvergensi ini dimulai pada tahun 2013, dipelopori oleh Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI) dan didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Langkah ini dilakukan untuk
meningkatkan kualitas audit di Indonesia, sehingga lebih dapat diterima di pasar global dan
mampu mengikuti perkembangan tata kelola perusahaan serta kebutuhan investor yang semakin
kompleks dan lintas negara.
Proses konvergensi ini tidak hanya sebatas mengadopsi ISA secara teknis, tetapi juga
mencakup penyesuaian dalam praktik pelaksanaan audit oleh akuntan publik di Indonesia. ISA
memberikan panduan yang lebih rinci dan berbasis risiko, yang mengharuskan auditor untuk fokus
pada area yang paling signifikan dalam laporan keuangan. Auditor di Indonesia kini dituntut untuk
mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko audit secara lebih sistematis, serta menggunakan
metodologi yang lebih canggih dalam pengumpulan bukti audit. Selain itu, ISA juga memperketat
persyaratan independensi dan etika bagi auditor, guna menjaga integritas dan kredibilitas audit.
Konvergensi ini bertujuan untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola
perusahaan di Indonesia, terutama bagi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa efek atau
yang beroperasi di pasar internasional. Dengan adopsi ISA, laporan keuangan yang diaudit oleh
akuntan publik di Indonesia menjadi lebih dapat dipercaya oleh investor global, sehingga
meningkatkan daya saing perusahaan Indonesia di kancah internasional. Proses konvergensi ini
juga mendukung harmonisasi regulasi di kawasan Asia Tenggara dan global, sejalan dengan upaya
integrasi ekonomi regional dan global.
12
2.4 Jelaskan kasus-kasus yang pernah terjadi di Indonesia terkait profesi akuntan dan
Kantor Akuntan Publik di Indonesia?
Kasus terkait PT Garuda Indonesia pada tahun 2018 adalah salah satu kasus yang cukup
kontroversial di Indonesia dan melibatkan Kantor Akuntan Publik (KAP) yang bertanggung
jawab atas audit laporan keuangan perusahaan tersebut. Kasus ini mencuat ketika PT Garuda
Indonesia melaporkan bahwa perusahaan mencetak laba sebesar USD 809.846 ribu pada
laporan keuangan tahun 2018, padahal perusahaan sebenarnya mengalami kerugian
sebesar USD 114.08 juta di tahun tersebut. Hal ini memicu investigasi lebih lanjut, yang
kemudian menemukan adanya pengakuan pendapatan yang tidak sesuai dengan standar
akuntansi yang berlaku.
Kronologi Kasus
Pada laporan keuangan Garuda Indonesia tahun 2018, terdapat transaksi yang dipertanyakan,
yaitu pengakuan pendapatan dari kerja sama kontrak jangka panjang antara Garuda Indonesia
dan dua perusahaan, yakni PT Mahata Aero Teknologi dan Sriwijaya Air Group. Kerja sama
ini melibatkan penyediaan layanan konektivitas internet dalam penerbangan. PT Mahata Aero
Teknologi berjanji untuk membayar USD 239 juta kepada Garuda Indonesia, namun pada akhir
2018, belum ada pembayaran aktual yang diterima oleh Garuda. Meski demikian, perusahaan
mengakui pendapatan dari kontrak tersebut dalam laporan keuangannya, meskipun secara
nyata pembayaran tersebut belum diterima dan belum memenuhi kriteria pengakuan
pendapatan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, yakni PSAK 23(yang berkaitan
dengan pengakuan pendapatan).
Peran KAP dan Temuan Audit
Laporan keuangan ini diaudit oleh KAP Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan, yang
merupakan bagian dari jaringan internasional BDO International. KAP ini memberikan opini
wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion), yang berarti bahwa menurut KAP, laporan
keuangan Garuda Indonesia telah sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku dan
mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara akurat. Namun, setelah laporan ini
dipublikasikan, dua komisaris Garuda Indonesia, yaitu Chairal Tanjung dan Dony Oskaria,
menolak untuk menandatangani laporan tersebut. Mereka mengungkapkan ketidaksetujuan
terhadap pengakuan pendapatan yang dianggap tidak wajar dan tidak sesuai dengan standar
akuntansi, sehingga mereka menolak untuk bertanggung jawab atas laporan tersebut.
13
Investigasi OJK dan Sanksi
Ketidaksetujuan ini memicu penyelidikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang kemudian
menemukan bahwa pengakuan pendapatan yang dilakukan oleh Garuda Indonesia tidak sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. OJK menyatakan bahwa
pengakuan pendapatan dari kontrak dengan Mahata tidak memenuhi syarat untuk diakui pada
periode tersebut, karena pembayaran belum diterima dan terdapat ketidakpastian signifikan
terkait realisasi pendapatan tersebut.
Sebagai hasil dari investigasi, OJK menjatuhkan sanksi terhadap Garuda Indonesia,
manajemen perusahaan, serta KAP yang terlibat. Manajemen Garuda, termasuk Direktur
Utama, diberikan peringatan keras, dan dua direktur diberhentikan. Sementara itu, KAP yang
mengaudit laporan keuangan tersebut juga diberikan sanksi pembatasan izin praktik selama 12
bulan serta denda sebesar 100 juta, karena dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai
auditor eksternal. KAP tersebut dinilai tidak menerapkan standar audit yang memadai dalam
mengaudit pengakuan pendapatan, yang mengakibatkan opini audit yang menyesatkan bagi
publik dan investor.
14
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Akuntan Publik merupakan profesi yang beraktivitas utama dalam pekerjaan audit
eksternal. Audit harus dilakukan secara profesional oleh orang yang independen dan kompeten.
Persyaratan auditor, pekerjaan sampai laporannya diatur oleh standar audit. Standar audit tidak
akan terlepas dari etika, apalagi profesi akuntan publik adalah profesi yang memerlukan tingkat
kepercayaan yang tinggi dari publik. Standar audit ini berfungsi sebagai pijakan akuntan publik
dalam merencanakan, melakukan aktivitas dan melaporkan hasil pekerjaannya. Sehingga dengan
dipakainya standar audit, hal yang dilarang dapat dihindari oleh akuntan publik, sedangkan hal
yang diwajibkan dapat dilaksanakan dengan baik. Akuntan publik juga dapat merupakan akuntan
yang menjalankan fungsi pemeriksaan secara bebas/independen terhadap laporan keuangan
perusahaan atau organisasi lain,serta memberikan jasa kepada pihak-pihak yang memerlukan.
Menurut UU Akuntan Publik No. 5 Tahun 2011, Akuntan Publik adalah individu yang
telah memperoleh izin untuk memberikan layanan tertentu sesuai dengan ketentuan dalam undang-
undang tersebut. Sebagai akuntan independen, Akuntan Publik memberikan jasa akuntansi khusus
dan menerima imbalan atas jasa yang diberikan. Peran Akuntan Publik sangat penting dalam
menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan, seperti investor, kreditur, dan pihak lain yang
berkepentingan, terhadap laporan keuangan perusahaan.
Konvergensi International Standard on Auditing (ISA) di Indonesia adalah proses
penyesuaian standar audit nasional, yaitu Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), agar selaras
dengan standar audit internasional yang diterbitkan oleh International Auditing and Assurance
Standards Board (IAASB). Upaya konvergensi ini dimulai pada tahun 2013, dipelopori oleh Ikatan
Akuntan Indonesia (IAI) dan didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Langkah ini dilakukan
untuk meningkatkan kualitas audit di Indonesia, sehingga lebih dapat diterima di pasar global dan
mampu mengikuti perkembangan tata kelola perusahaan serta kebutuhan investor yang semakin
kompleks dan lintas negara.
15
DAFTAR PUSTAKA
Ikatan Akuntan Indonesia. 2010. Adopsi ISA dalam Rangkaian Konvergensi IFRS di Indonesia.
Jakarta
Solomon Consultant Group, (UU No.5 tahun 2011),
[Link]
Tuanakotta, Audit Berbasis ISA, 2013, Penerbit Salemba Empat
Darmawan, P. Kajian Perbedaan SPAP dengan ISA
Bisnis Indonesia. (2019). "Kasus Garuda Indonesia: Pengakuan Pendapatan Tidak Sesuai Standar
Akuntansi." Diakses dari [Link]
DetikFinance. (2019). "OJK Beri Sanksi ke Garuda Indonesia dan Auditor, Ini Alasannya."
Diakses dari [Link]
Kompas. (2019). "Skandal Laporan Keuangan Garuda Indonesia dan Sanksi untuk Auditor."
Diakses dari [Link]