PROPOSAL USAHA
PUDING
“Cita Rasa Puding Indonesia”
Owner :kelompok 5
Nama Perusahaan :PUDING
Bidang
:Kuliner
Usaha Jenis
:PUDING BERBAHAN NUTRIJEL
Produk
PROPOSAL USAHA
PUDING
“Cita Rasa Puding Indonesia”
NAMA KELOMPOK
ADIATNA PUTRA WIJAYA(23271349)
[Link](23271355)
MAULANA IKBAL(23271361)
DIO FEBRIAN(23271386)
DHAIFULLAH AFWI NABIL(23271367)
SAELAN ROSIDIN(23271385)
A. DATA USAHA
Nama Perusahaan : PT KEWIRAUSAHAAN
Bidang Usaha : KULINER
Jenis Produk : PUDING
Lokasi Usaha : [Link] NO.42
Slogan Usaha : “Cita Rasa Puding Indonesia”
B. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar,
kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang sukses. Sesuatu yang baru dan
berbeda adalah nilai tambah barang dan jasa yang menjadi sumber keunggulan
untuk dijadikan peluang. Di Indonesia sendiri belum begitu banyak
masyarakatnya yang berwirausaha, sebagian besar menjadi karyawan atau
buruh di negeri sendiri. Pola pikir kesuksesan hanya didapatkan jika bekerja
di kantoran dan perusahaan yang besar mengakibatkan meningkatnya angka
pengangguran, hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan di masyarakat
untuk memanfaatkan peluang bisnis dan kurangnya pemikiran yang luas untuk
menciptakan lapangan pekerjaan baru. Dari permasalahan diatas kami
mencoba berwirausaha sebagai upaya pelatihan diri bagi kami dan mengubah
mindset bahwa lulusan sarjana tidak hanya menjadi pekerja tetapi dapat
membuka lapangan pekerjaan. Kami membuka usaha kuliner dengan produk
“Bandros” yaitu jajanan khas Kota Bandung yang berbahan dasar tepung beras,
tentunya sangat mudah didapatkan sehingga olahan ini dapat memiliki harga
jual yang cukup tinggi.
C. TUJUAN
1. Menciptakan lapangan kerja sendiri
2. Memiliki penghasilan sendiri
3. Menciptakan inovasi kuliner yang baru dan digemari banyak orang
4. Mengurangi tingkat pengangguran dengan membuka cabang di beberapa lokasi
5. Mengurangi beban pengeluaran keluarga
D. DETAIL PRODUK (bahan baku, proses, dan kapasitas)
Detail Produk: Puding
1. Bahan Baku
Bahan Utama:
o Susu: Dapat menggunakan susu sapi segar, susu UHT, atau susu evaporasi sesuai
selera.
o Agar-agar: Agar-agar bubuk yang terbuat dari rumput laut.
o Gula: Gula pasir atau gula kelapa sebagai pemanis.
o Tepung maizena: Digunakan untuk mengentalkan adonan puding.
o Pewarna dan Perasa (opsional): Pewarna makanan alami (misalnya, dari buah)
dan perasa (vanilla, coklat, stroberi, dll).
Bahan Tambahan:
o Buah-buahan segar atau kalengan: Seperti stroberi, mangga, atau anggur untuk
topping atau campuran dalam puding.
o Whipping cream: Untuk lapisan atau dekorasi.
o Cokelat cair, saus karamel, atau saus buah: Sebagai tambahan untuk
meningkatkan cita rasa.
2. Proses Pembuatan
1. Persiapan:
o Siapkan semua bahan sesuai dengan resep yang diinginkan.
o Potong bahan tambahan (buah, coklat, dll) jika diperlukan.
2. Pembuatan Campuran Puding:
o Rebus Cairan: Rebus susu bersama dengan gula hingga larut sempurna.
o Tambahkan Agar-Agar: Masukkan bubuk agar-agar, aduk hingga merata, dan
biarkan mendidih sambil terus diaduk.
o Tambahkan Tepung Maizena (opsional): Larutkan maizena dengan sedikit air,
kemudian tambahkan ke dalam campuran untuk membuat tekstur lebih lembut.
o Tambahkan Perasa dan Pewarna: Masukkan perasa dan pewarna sesuai
keinginan.
3. Proses Penuangan:
o Tuang campuran puding yang sudah matang ke dalam cetakan atau loyang.
o Jika menggunakan buah atau bahan tambahan, tambahkan di antara lapisan puding
atau sebagai topping.
4. Pendinginan:
o Biarkan puding dalam suhu ruangan hingga agak dingin, lalu masukkan ke dalam
lemari es selama 2-4 jam hingga puding mengeras.
5. Penyajian:
o Setelah dingin, puding siap disajikan. Bisa diberi topping tambahan seperti buah
segar, saus, atau whipped cream.
3. Kapasitas Produksi
Skala Kecil (Rumahan):
o Kapasitas: 1-5 liter per batch.
o Cocok untuk produksi puding dalam jumlah kecil, seperti untuk konsumsi keluarga
atau bisnis skala kecil (misalnya pesanan catering).
Skala Menengah:
o Kapasitas: 5-20 liter per batch.
o Biasanya digunakan untuk produksi puding pada restoran atau usaha kecil
menengah yang memiliki permintaan cukup tinggi.
Skala Besar (Industri):
o Kapasitas: 100-500 liter per batch.
o Puding diproduksi dalam jumlah besar dengan mesin otomatis untuk distribusi
skala besar seperti supermarket, hotel, atau catering besar
E. PASAR dan STRATEGI PEMASARAN
1. Analisis Pasar
Target Pasar:
Segmen Usia:
o Anak-anak: Puding disukai karena teksturnya yang lembut dan rasanya yang
manis. Varian dengan warna cerah dan rasa buah biasanya sangat menarik
untuk anak-anak.
o Remaja dan Dewasa Muda: Segmen ini sering mengonsumsi puding sebagai
camilan atau dessert ringan. Mereka cenderung tertarik pada varian yang
unik, seperti puding dengan topping modern (oreo, boba, coklat, karamel).
o Orang Dewasa dan Keluarga: Kelompok ini cenderung menyukai puding
yang sehat, rendah gula, dan terbuat dari bahan alami. Puding ini dapat dijual
sebagai makanan penutup sehat atau alternatif untuk camilan manis.
o Konsumen yang sadar kesehatan: Produk puding dengan klaim rendah
kalori, tanpa pengawet, bebas gula, dan berbahan organik menarik konsumen
yang peduli dengan kesehatan.
Tren Pasar:
Puding Sehat: Permintaan untuk produk dengan kandungan alami, rendah kalori,
atau vegan terus meningkat seiring dengan tren gaya hidup sehat.
Produk Siap Konsumsi: Konsumen lebih menyukai produk puding siap saji yang
praktis dan bisa langsung dimakan.
Inovasi Rasa dan Varian: Konsumen, terutama generasi muda, mencari pengalaman
baru dalam makanan. Varian rasa yang unik (misalnya, rasa teh hijau, red velvet, atau
boba) akan menarik perhatian mereka.
2. Strategi Pemasaran
A. Pemasaran Produk
1. Varian Rasa dan Kemasan:
o Tawarkan beragam rasa seperti coklat, vanilla, stroberi, mangga, teh hijau,
dan rasa unik lainnya.
o Buat kemasan praktis dan menarik, seperti kemasan sekali makan (single-
serve), toples mini untuk varian premium, atau kemasan keluarga.
o Produk puding sehat bisa dikemas dengan label yang menonjolkan
keunggulan kesehatan (tanpa gula, rendah lemak, organik, dsb.).
2. Produk Eksklusif dan Musiman:
o Buat varian puding eksklusif untuk event tertentu atau musim tertentu
(misalnya puding rasa leci untuk lebaran, atau puding rasa labu untuk
Halloween).
B. Strategi Promosi
1. Digital Marketing:
o Media Sosial: Gunakan Instagram, TikTok, dan Facebook untuk membangun
branding dan menarik pelanggan dengan foto menarik serta video proses
pembuatan puding. Konten user-generated juga bisa membantu
meningkatkan visibilitas.
o Influencer Marketing: Kerjasama dengan influencer di bidang kuliner atau
gaya hidup sehat untuk mempromosikan produk puding.
o E-Commerce & Marketplace: Jual produk secara online melalui platform e-
commerce populer (Tokopedia, Shopee, Blibli) atau melalui website resmi.
2. Penawaran Promo:
o Diskon untuk Pembelian Pertama: Menawarkan potongan harga untuk
pelanggan baru.
o Paket Bundling: Berikan paket bundling dengan harga lebih murah untuk
beberapa varian puding sekaligus.
o Program Loyalitas: Berikan poin atau diskon khusus untuk pelanggan tetap
yang melakukan pembelian berkala.
C. Distribusi Produk
1. Retail dan Supermarket:
o Jalin kerjasama dengan supermarket lokal atau toko retail untuk
menempatkan produk di rak-rak mereka.
2. Penjualan Langsung:
o Bisa melalui usaha rumahan atau outlet kecil di pusat perbelanjaan.
3. Pesanan Online & Catering:
o Buka pesanan online melalui platform pesan antar seperti GoFood atau
GrabFood untuk menjangkau konsumen yang ingin membeli secara cepat dan
praktis.
o Layani pesanan untuk acara seperti ulang tahun, pernikahan, atau meeting
dengan menyediakan paket catering puding dalam jumlah besar.
D. Branding dan Positioning
1. Citra Produk:
o Bangun citra sebagai produk puding yang berkualitas tinggi dengan bahan-
bahan alami dan rasa otentik.
o Jika menargetkan pasar kesehatan, tonjolkan klaim bebas gluten, rendah
kalori, atau vegan pada kemasan dan promosi.
2. Customer Experience:
o Berikan pengalaman terbaik kepada pelanggan, misalnya dengan pengemasan
menarik, pelayanan cepat, dan rasa yang konsisten.
Dengan memadukan inovasi produk, pemasaran digital yang efektif, dan
distribusi yang tepat, puding dapat menjadi produk yang diterima di pasar luas
dan bersaing di berbagai segmen konsumen.
4o
F. ASPEK SUMBER DAYA MANUSIA
Untuk menjalankan usaha Puding ini saya dibantu oleh seorang karyawan yang
akan mengolah dalam proses produksi dan pemasaran.
G. BIAYA PRODUKSI DAN KEBUTUHAN MODAL
1. Biaya Produksi
Biaya produksi puding bergantung pada skala produksi, bahan yang digunakan, dan metode pengolahan.
Berikut adalah perkiraan rincian biaya untuk produksi skala kecil hingga menengah.
A. Bahan Baku:
Susu (UHT atau segar): Rp 12.000 – Rp 15.000 per liter.
Agar-agar bubuk: Rp 3.000 – Rp 5.000 per sachet (7g).
Gula pasir: Rp 13.000 – Rp 15.000 per kg.
Tepung maizena: Rp 8.000 – Rp 10.000 per 250g.
Buah segar atau kalengan (opsional): Rp 10.000 – Rp 20.000 per buah/kaleng.
Whipping cream: Rp 25.000 – Rp 30.000 per 250 ml (opsional).
Pewarna dan perasa: Rp 5.000 – Rp 10.000 per botol (opsional).
Total Biaya Bahan Baku (untuk 1 liter puding):
Rp 50.000 – Rp 70.000 (tergantung varian dan bahan tambahan).
B. Biaya Kemasan:
Cetakan atau cup plastik: Rp 500 – Rp 1.000 per cup.
Label dan stiker: Rp 500 – Rp 1.000 per unit.
Tutup atau seal: Rp 300 – Rp 500 per unit.
Total Biaya Kemasan (untuk 1 liter puding):
Rp 6.000 – Rp 10.000 per liter (untuk 4-5 cup).
C. Biaya Tenaga Kerja:
Pekerja produksi (opsional): Rp 100.000 – Rp 150.000 per hari (untuk skala kecil/rumahan).
D. Biaya Overhead:
Listrik dan gas: Rp 50.000 – Rp 100.000 per bulan (untuk skala kecil/rumahan).
Total Perkiraan Biaya Produksi (per liter puding):
Rp 60.000 – Rp 90.000, tergantung variasi bahan dan jumlah produksi.
2. Kebutuhan Modal Awal
Modal awal yang diperlukan untuk memulai usaha puding bergantung pada skala usaha. Berikut adalah
perkiraan kebutuhan modal untuk skala kecil hingga menengah.
A. Modal untuk Peralatan:
1. Panci besar dan pengaduk: Rp 300.000 – Rp 500.000.
2. Kompor gas: Rp 400.000 – Rp 800.000.
3. Cetakan puding (ukuran bervariasi): Rp 100.000 – Rp 300.000.
4. Blender (untuk pembuatan topping atau bahan tambahan): Rp 300.000 – Rp 500.000.
5. Kulkas atau freezer (untuk pendinginan): Rp 1.500.000 – Rp 3.000.000 (opsional jika belum
ada).
6. Cup, tutup, dan kemasan: Rp 200.000 – Rp 500.000 (untuk stok awal).
Total Kebutuhan Modal Peralatan:
Rp 2.800.000 – Rp 5.600.000.
B. Modal Operasional Awal (untuk 1 bulan):
1. Bahan baku: Rp 3.000.000 – Rp 5.000.000 (tergantung skala produksi).
2. Biaya kemasan: Rp 500.000 – Rp 1.000.000.
3. Biaya pemasaran (iklan, promosi): Rp 500.000 – Rp 1.500.000.
4. Gaji tenaga kerja (opsional): Rp 3.000.000 – Rp 4.500.000 per bulan.
Total Kebutuhan Modal Operasional Awal:
Rp 7.000.000 – Rp 12.000.000.
3. Perhitungan Keuntungan
Harga Jual Puding: Harga jual puding bervariasi tergantung segmen pasar. Rata-rata, puding
dijual dengan harga Rp 5.000 – Rp 15.000 per cup.
Keuntungan: Jika biaya produksi per cup sekitar Rp 10.000 dan dijual dengan harga Rp 15.000,
maka potensi keuntungan per cup sekitar Rp 5.000. Jika dalam sehari bisa menjual 50 cup, maka
pendapatan kotor per hari adalah Rp 750.000 dengan potensi keuntungan bersih Rp 250.000.
4. Break Even Point (BEP)
Untuk menghitung BEP (titik impas), modal awal dibagi dengan keuntungan per bulan. Jika modal awal
adalah Rp 10.000.000 dan keuntungan per bulan adalah Rp 3.000.000, maka BEP tercapai dalam waktu
sekitar 3-4 bulan.
Dengan perhitungan ini, usaha puding dapat menghasilkan keuntungan yang cukup menarik dengan
strategi pemasaran dan efisiensi biaya yang baik.
H. KESIMPULAN
Proposal bisnis ini layak untuk dibiayai karena dari sisi analisis pengembangan
usaha serta peningkatan potensi usaha dapat lebih cepat untuk berkembang
serta dari prospek keuangan cukup menguntungkan dan memiliki prosfek pasar
yang baik.
Mataram, 1 Mei 2010