100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
14 tayangan5 halaman

Pujian Simeon: Makna Natal dalam Lukas

Dokumen ini membahas tentang figur Simeon dalam Lukas 2:25-35, menyoroti spiritualitas dan pujiannya kepada Allah setelah melihat bayi Yesus. Simeon digambarkan sebagai orang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan ilahi, serta pujiannya mencerminkan keselamatan universal yang telah disiapkan oleh Allah. Penekanan pada respon orang tua Yesus dan makna dari kehadiran Yesus menegaskan pentingnya pujian dan sukacita dalam konteks Natal.

Diunggah oleh

budi setyawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
14 tayangan5 halaman

Pujian Simeon: Makna Natal dalam Lukas

Dokumen ini membahas tentang figur Simeon dalam Lukas 2:25-35, menyoroti spiritualitas dan pujiannya kepada Allah setelah melihat bayi Yesus. Simeon digambarkan sebagai orang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan ilahi, serta pujiannya mencerminkan keselamatan universal yang telah disiapkan oleh Allah. Penekanan pada respon orang tua Yesus dan makna dari kehadiran Yesus menegaskan pentingnya pujian dan sukacita dalam konteks Natal.

Diunggah oleh

budi setyawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Momen-momen menjelang Natal sudah sepantasnya diwarnai dengan

kegembiraan dan keceriaan. Ada banyak cara menungkapkan perasaan sukacita ini.
Salah satu ekspresi terbaik adalah pujian kepada Allah. Pujian merupakan pengakuan
dan ucapan syukur kita atas karya Allah yang ajaib. Itulah yang dilakukan oleh
Simeon di Lukas 2:25-35.

Simeon: identitasnya (ayat 25-27)

Dalam tradisi Kristen di luar Alkitab pada abad permulaan, Simeon dipahami
sebagai seorang imam dan berusia 112 tahun. Jika kita membaca Lukas 2:25-35, tidak
ada petunjuk apapun tentang jabatan dan usia Simeon. Fakta bahwa ia berada di bait
Allah dan memberkati Yusuf dan Maria bukan berarti bahwa ia adalah seorang imam.
Keterangan bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias paling jauh hanya
menyiratkan usianya yang tua, namun tidak ada dasar untuk menebak detil usia
Simeon. Begitulah karakteristik sebuah tradisi: berusaha menambahkan sesuatu agar
terlihat lebih jelas atau menarik, tetapi belum tentu lebih benar.

Lukas justru memilih untuk memfokuskan pada spiritualitas Simeon. Satu-


satunya petunjuk yang tidak berhubungan langsung dengan kerohanian Simeon adalah
domisilinya di Yerusalem (2:25). Sama seperti Lukas menyoroti kesalehan orang tua
Yesus dalam menaati ritual kitab suci (2:21-24, 27), demikian pula ia lebih
menandaskan spiritualitas Simeon (2:25-27).

Simeon adalah seorang yang benar (dikaios, 2:25). Istilah ini memiliki makna
yang beragam dalam Alkitab. Dalam tulisan Paulus, dikaios lebih menekankan status
legal orang percaya di hadapan Allah. Melalui iman kepada penebusan Kristus yang
sempurna, semua orang percaya telah diubah statusnya dari orang berdosa menjadi
orang benar. Status sebagai orang benar mencakup semua orang percaya tanpa
terkecuali. Dalam tulisan Lukas (dan kitab-kitab injil lain), dikaios lebih mengarah
pada keteladanan hidup. Lukas secara khusus menyebut Zakharia (1:6) dan Kornelius
(Kis 10:22) sebagai orang benar. Sebutan ini menyiratkan posisi yang terhormat,
sebagaimana tersirat dari fakta bahwa orang-orang benar seringkali dikaitkan erat
dengan para nabi (Mat 10:41; 13:17; 23:29, 35; 2 Pet 5:7-8). Jadi, dikaios tidak selalu
bisa diterapkan pada semua orang.

Simeon juga seorang yang saleh (eulabēs, 2:25). Dalam Perjanjian Baru istilah
ini hanya muncul dalam tulisan Lukas. Istilah eulabēs dikenakan pada semua orang
Yahudi dari berbagai tempat yang berziarah ke Yerusalem untuk merayakan Hari
Raya Pentakosta (Kis 2:5). Sesudah Stefanus mati dirajam batu, orang-orang saleh
segera menguburkan mayatnya (Kis 8:2). Di Kisah Para Rasul 22:12 Lukas secara
khusus menyematkan istilah eulabēs pada Ananias, dan mengaitkannya dengan
ketaatan kepada Taurat dan kebaikan pada semua orang. Dalam literatur sekuler
Yunani kuno, eulabēs merujuk pada warga negara ideal yang selalu berhati-hati dan
teliti dalam mengikuti peraturan masyarakat dan negara.

Selain benar dan saleh, Simeon juga menantikan penghiburan ilahi (2:25).
Yang dimaksud penghiburan bagi Israel adalah kelepasan Yerusalem (2:25
“menantikan [prosdechomenos] penghiburan bagi Israel”; 2:38 “menantikan
[prosdechomenois] kelepasan untuk Yerusalem”) yang akan dilakukan oleh Mesias
(2:26, 30). Ide tentang penghiburan memang mendominasi nubuat mesianis di
Perjanjian Lama (Yes 40;1; 49:13; 51:3; 57:18; 61:2). Pada periode selanjutnya para
rabi Yahudi menyebut Mesias sebagai Menahem (Penghibur). Kedatangan Kristus ke
dalam dunia merupakan penghiburan ilahi. Tidak heran, kisah Natal di Lukas 1-2
dipadati dengan ide tentang sukacita dan pujian (1:14, 41, 44, 46-47, 58, 64, 68; 2:20,
28, 38).

Spiritualitas Simeon juga ditandai dengan karya Roh Kudus yang nyata dalam
dirinya (2:25b-27a). Tiga kali Roh Kudus muncul di ayat ini. Sebagaimana Yohanes
Pembaptis sejak di dalam kandungan (1:15), Elizabet (1:41), dan Zakaria (1:67)
dipenuhi oleh Roh Kudus, demikian pula Roh Kudus ada atas Simeon. Roh
memberikan pewahyuan khusus kepadanya tentang Mesias (2:26). Roh memimpin dia
ke bait Allah dan mempertemukannya dengan bayi Yesus (2:27).

Simeon: pujiannya (ayat 28-32)

Posisi Simeon tatkala memuji Allah tampaknya signifikan. Lukas


menginformasikan bahwa Simeon menyambut dan menatang bayi Yesus sambil
memuji Allah (2:28). Dalam teks Yunani tertulis: “dan ia menerima Dia di lengannya
dan memuji Allah serta berkata…” (LAI:TB “menyambut”). Bukan Simeon yang
mengambil bayi Yesus. Ia hanya menerima bayi itu. Ini merupakan tanda bahwa apa
yang Simeon sudah nantikan selama ini sudah diberikan Allah kepadanya. Begitu
pentingnya hal ini, sampai-sampai dalam tradisi Kristen Simeon
disebut Theodochos (lit. “Penerima-Allah”).

Dalam pujiannya, Simeon menyiratkan siapa dia di hadapan Allah (2:29). Ia


adalah hamba (doulos) dan Allah adalah tuan (despotēs). Penggunaan kata despotēs di
sini dimaksudkan sebagai penekanan terhadap kedaulatan Allah sebagai tuan (bdk.
NIV “Sovereign Lord”). Simeon benar-benar sadar posisinya di depan Allah.

Ungkapan “biarkanlah hambamu ini pergi dalam damai sejahtera” (2:29, lit.
“lepaskanlah hambamu ini dalam damai sejahtera”) sebaiknya dipahami dalam
konteks kematian. Kata “melepaskan” (apolyō) memang kadangkala dikaitkan dengan
kematian (Kej 15:2 “akan meninggal” = apolyomai; Bil 20:29 “telah mati”
= apelythē), begitu pula dengan kata “damai sejahtera” (Kej 15:15 “tetapi engkau
akan pergi kepada nenek moyangmu dalam sejahtera; engkau akan dikuburkan pada
waktu telah putih rambutmu”).

Ungkapan di atas merupakan respon Simeon sesudah ia menyaksikan


bagaimana rencana Allah sudah digenapi di dalam hidupnya (2:29 “sesuai dengan
firman-Mu”; bdk. 2:26). Simeon sadar bahwa waktu kematiannya sudah tiba.
Permohonannya tidak didorong oleh kekecewaan, kegagalan, maupun penyakit yang
serius. Bagi Simeon, akhir hidup yang sungguh-sungguh dalam damai sejahtera
adalah tatkala rencana Tuhan sudah digenapi di dalam hidup kita.

Salah satu alasan terbaik dalam pujian adalah keselamatan. Itulah yang
melandasi pujian Simeon (2:30 “sebab mataku telah melihat keselamatan dari-Mu”).
Ada beberapa karakteristik dari keselamatan ilahi ini. Pertama, universal. Pemunculan
“segala bangsa” (2:31) dan “bangsa-bangsa lain” (2:32) menjelaskan jangkauan
keselamatan yang tidak dibatasi oleh etnis atau budaya. Siapa saja yang percaya dan
mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus sebagai Mesias (bdk. 2:26) akan
diselamatkan. Jadi, sifat universal ini tidak berarti universalisme (setiap orang pada
akhirnya akan diselamatkan, terlepas dari jenis iman dan tindakannya).

Kedua, telah direncanakan oleh Allah (2:31). Kata “telah Engkau sediakan”
(hētoimasas) sebaiknya diterjemahkan “telah Engkau persiapkan”.
Kata hētoimazō digunakan untuk Yohanes Pembaptis yang mempersiapkan jalan bagi
Yesus Kristus (1:17, 76; 3:4), murid-murid yang mempersiapkan segala sesuatu
menjelang kematian Yesus Kristus (9:52; 22:8-9, 12-13), orang kaya yang
menyiapkan masa depannya secara keliru (12:20) maupun hamba yang tidak
mempersiapkan diri menjelang kedatangan tuannya (12:47). Jadi, Allah memang
mempersiapkan keselamatan di dalam Kristus sudah sejak lama. Ini bukan hasil
pemikiran sesaat atau peristiwa kebetulan.
Ketiga, berisi terang ilahi (2:32). Pemunculan terang di sini berkaitan dengan keadaan
semua bangsa yang berada dalam kegelapan (1:79). Melalui kehidupan dan penebusan
Yesus Kristus, Allah memberikan sinarnya kepada semua bangsa (Kis 26:23).

Bagi bangsa-bangsa lain, terang itu adalah penyataan (apokalypsis, 2:32b),


sedangkan bagi Israel terang itu adalah kemuliaan (doxa, 2:32b). Dua sisi dari terang
ini merupakan penggenapan dari Yesaya 60:1-3. Melalui terang yang datang atas
Israel, semua bangsa akan ditarik untuk datang kepada terang itu. Kemuliaan atas
Israel bukan untuk dinikmati mereka sendiri, melainkan sebagai sarana untuk
membawa orang lain mengenal TUHAN.

Simeon: tindakannya pada orang tua Yesus (ayat 33-35)

Sikap heran yang ditunjukkan oleh Yusuf dan Maria (2:33) dianggap aneh oleh
sebagian penafsir. Mereka berdua sudah mengetahui siapa Yesus, sehingga tidak perlu
heran dengan ucapan Simeon. Anggapan seperti tampaknya kurang tepat. Penekanan
pada universalitas karya Yesus Kristus (3:32) sebelumnya belum dinyatakan. Pujian
Maria terfokus pada Israel (1:46-55), demikian pula dengan nubuat Zakharia (1:67-
79). Di samping itu, keheranan sesudah menerima wahyu ilahi merupakan hal yang
wajar dalam tradisi Yahudi, terlepas dari isi wahyu tersebut.

Sebagai respon terhadap orang tua Yesus, Simeon memberkati mereka (2:34a).
Menariknya, berkat ini tidak selalu terlihat menyenangkan. Perkataan Simeon kepada
Maria menyiratkan sisi lain dari kehidupan dan pelayanan Yesus.

Dalam kaitan dengan banyak orang, keberadaan Yesus akan menimbulkan


perbantahan (2:34b). Maksudnya, orang akan memberikan respon berlainan terhadap
Dia: sebagian menerima, sebagian menolak. Yang menerima akan dimuliakan Allah
(“membangkitkan”, bdk. Yes 28:13-16), yang menolak akan direndahkan
(“menjatuhkan”, bdk. Yes 8:14-15). Perbedaan respon ini sekaligus mengungkapkan
keadaan hati seseorang (3:35b).

Dalam kaitan dengan Maria, keberadaan Yesus juga dalam taraf tertentu akan
menimbulkan kepedihan. Gambaran kesedihan ini semakin kentara sebab kata
“pedang” (rhomphaia) yang muncul di sini merujuk pada pedang yang panjang.
Pedang panjang itulah yang akan menusuk jiwa Maria. Kisah-kisah selanjutnya
menerangkan kepedihan ini. Maria harus belajar menerima kenyataan bahwa Yesus
Kristus akan lebih taat kepada Bapa-Nya daripada orang tua jasmaninya (2:49). Di
penghujung hidup Yesus, Maria harus menyaksikan penderitaan anaknya di atas kayu
salib (23:49; Yoh 19:25).

Jika Simeon yang hanya memandang cicipan keselamatan bisa memuji Allah,
apalagi kita yang sudah melihat penggenapan keselamatan Allah yang jauh lebih
besar. Jika dengan berbekal pengharapan Simeon sudah puas dengan hidupnya,
apalagi kita yang sudah melihat dan menikmati realisasi dari pengharapan itu. Tidak
ada alasan untuk takut dan kuatir. Selalu ada alasan untuk memuji dan bersyukur. Soli
Deo Gloria.

Perayaan Natal mula-mula berbeda dengan perayaan Natal sekarang. Apa yang
dahulu masih sebagai pengharapan, kini sudah menjadi kenyataan. Apa yang dahulu
masih terbentang jauh di depan, sekarang sudah menjadi pengalaman. Jika sebuah
pengharapan saja sudah cukup bagi Simoen untuk bersukacita dan memuji Allah,
apalagi sekarang. Kita seharusnya jauh lebih bersukaria, karena kita telah melihat
penggenapan dari pengharapan tersebut.

Anda mungkin juga menyukai