BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
4.1.1 Luas Wilayah
Kecamatan Binuang mempunyai wilayah kerja sebanyak 8 Desa dan 3
Kelurahan, berada didataran rendah dengan wilayah kerja yang
hampir semuanya dapat dilewati dengan kenderaan bermotor . Batas-
batas dari wilayah kerja Puskesmas Binuang adalah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara dengan Kecamatan Tapin Selatan 2. Sebelah Selatan
dengan Kabupaten Banjar 3. Sebelah Barat dengan Kecamatan Candi
Laras Selatan dan [Link] 4. Sebelah Timur berbatasan dengan
Kecamatan Perwakilan Hatungun Puskesmas Binuang berada
diwilayah Kelurahan Binuang dengan jarak 28 Km dari Ibukota
Kabupaten (Rantau), sedangkan dengan Banjarmasin berjarak 84Km.
Jumlah penduduk Kecamatan Binuang berdasarkan data dari Badan
Pusat Statistik tahun 2021 adalah 31.276. Dengan Jumlah laki-laki
sebanyak 15.528, perempuan sejumlah 15.748 dan jumlah KK
sebanyak 10.345.
Penelitian dilakukan di Puskesmas Binuang. Penelitian ini
dilaksanakan oleh peneliti dengan melakukan wawancara dan
pengisian kuesioner secara langsung terhadap tingkat pengetahuan
terhadap kepatuhan diet pada pasien diabetes mellitus. Jumlah
responden yang didapat selama penelitian berjumlah sama dengan
sampel yang ditentukan yaitu 67 responden. Wawancara dan
pengisian kuesioner dilakukan selama satu kali serta dilakukan oleh
peneliti dan asisten peneliti. Pengolahan data yang dilakukan adalah
analisis univariat, dan analisis bivariate.
4.2 Karakteristik Responden
4.2.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Setelah dilakukan penelitian karakteristik responden yang dibahas
dalam penelitian ini meliputi Umur.
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
No. Umur Frekuensi (orang) Presentasi (%)
1. 23-33 tahun 10 14.9
2. 34-43 tahun 42 62.7
3 44-51 tahun 15 22.4
Jumlah 67 100
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 67 orang responden
didapatkan sebagian besar responden berusia 34-43 tahun sebanyak 42
orang (62.7%), dan yang paling sedikit berusia 23-33 tahun sebanyak
10 orang (14.9%).
4.2.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Setelah dilakukan penelitian karakteristik responden yang dibahas
dalam penelitian ini meliputi Jenis Kelamin
Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No Pekerjaan Frekuensi (Orang) Presentase
(%)
1 Laki-laki 36 53.7
2 Perempuan 31 46.3
Jumlah 67 100
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 67 orang responden
didapatkan sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki
sebanyak 36 orang (53,7%), dan paling sedikit berjenis kelamin
perempuan sebanyak 31 orang (46.3%).
4.2.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Setelah dilakukan penelitian karakteristik responden yang dibahas
dalam penelitian ini meliputi Pendidikan
Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
No Pekerjaan Frekuensi (Orang) Presentase
(%)
1 SD 3 4.5
2 SMP 11 16.4
3 SMA 30 44.8
4 Perguruan Tinggi 23 34.3
Jumlah 67 100
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 67 orang responden
didapatkan sebagian besar responden memiliki Pendidikan terakhir
SMA sebanyak 30 orang (44.8%), dan paling sedikit memiliki
Pendidikan terakhir SD sebanyak 3 orang (4.5%).
4.2.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Setelah dilakukan penelitian karakteristik responden yang dibahas
dalam penelitian ini meliputi Pekerjaan
Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
No Pekerjaan Frekuensi (Orang) Presentase
(%)
1 IRT 24 35.8
2 Pegawai Swasta 18 26.9
3 Wiraswasta 16 23.9
4 PNS 9 13.4
Jumlah 67 100
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 67 orang responden
didapatkan sebagian besar responden memiliki pekerjaan IRT
sebanyak 24 orang (35.8%), dan paling sedikit memiliki Pekerjaan
PNS sebanyak 9 orang (13.4%)
4.3 Analisa Univariat & Bivariat
4.3.1 Analisa Univariate
Analisa univariate dilakukan terhadap tiap variabel hasil penelitian
yaitu Tingkat Pengetahuan. Analisis ini menunjukkan jumlah dan
persentase dari tiap variabel.
[Link] Distribusi Frekuensi dan Persentase Tingkat Pengetahuan di
Puskesmas Binuang
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan
No Tingkat Frekuensi (orang) Presentasi (%)
. Pengetahuan
1. Baik 3 4.5
2. Cukup 35 52.2
3 Kurang 29 43.3
Jumlah 67 100
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 67 orang didapatkan
sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 35
orang (52.2%), dan paling sedikit memiliki tingkat pengetahuan
baik sebanyak 3 orang (4.5%).
[Link] Distribusi Frekuensi dan Persentase kepatuhan diet pasien
diabetes mellitus di Puskesmas Binuang
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Kepatuhan diet
No Kepatuhan diet Frekuensi (orang) Presentasi (%)
.
1. Patuh 37 55.2
2. Tidak Patuh 30 44.8
Jumlah 67 100
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 67 orang didapatkan
sebagian besar Patuh dalam menjalani diet diabetes mellitus
sebanyak 37 orang (55.2%), serta paling sedikit tidak patuh
menjalani diet diebets mellitus sebanyak 30 orang (44.8%).
4.3.2 Analisa Bivariate
Analisa bivariat dilakukan terhadap dua variabel antara variabel bebas
yaitu Tingkat pengetahuan, dan varibel terikat yaitu Kepatuhan diet.
Analisis ini menunjukkan ada tidaknya hubungan yang bermakna antara
kedua variabel tersebut.
[Link] Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan kepatuhan diet
Tabel 4.5 Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan kepatuhan
diet
Tingkat Pengetahuan Kepatuhan Diet
Jumlah
Patuh Tidak Patuh
F % F % ∑ %
Baik 2 66.7 1 33.3 3 4.5
Cukup 24 68.6 11 31.4 35 52.2
Kurang 11 37.9 18 62.1 19 43.3
Total 37 55.2 30 44.8 67 100
Nilai Uji Spearman Rho 0,016 (p=0,05)
r=0,294
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa terdapat Hubungan
Tingkat Pengetahuan dengan kepatuhan diet didapatkan hasil
tingkat pengetahuan baik dengan pasien yang patuh menjalani
diet diabetes mellitus sebanyak 2 orang (66.7%), serta tidak
patuh sebanyak 1 orang (33.3%). Sedangkan tingkat
pengetahuan cukup dengan pasien yang patuh menjalani diet
diabetes mellitus sebanyak 24 orang (68.6%), serta tidak patuh
sebanyak 11 orang (31.4%), serta tingkat pengetahuan kurang
dengan pasien yang patuh menjalani diet diabetes mellitus
sebanyak 11 orang (37.9%), serta tidak patuh sebanyak 18 orang
(62.1%),
Berdasarkan hasil dari pengujian uji statistik Spearman Rho
didapatkan nilai p Value = 0,016 yang lebih kecil dari nilai α
yaitu 0,05 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa H0 dinyatakan
ditolak dan H1 dinyatakan diterima dengan nilai r = 0,294, maka
menunjukkan secara statistik ada hubungan yang signifikan
antara Tingkat Pengetahuan dengan kepatuhan diet
4.4 Pembahasan
4.4.1 Analisa Univariat
[Link] Distribusi Frekuensi dan Persentase tingkat pengetahuan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 67 orang didapatkan
sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan cukup sebanyak 35
orang (52.2%), dan paling sedikit memiliki tingkat pengetahuan
baik sebanyak 3 orang (4.5%). Pengetahuan gizi adalah satu
variabel yang mempengaruhi pola konsumsi, sehingga orang
yang memiliki pengetahuan gizi baik akan memiliki pola
konsumsi baik sesuai dengan kondisi dirinya. Pengetahuan
dikelompokkan menjadi enam tingkatan yaitu tingkat mengenal,
mengerti, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. (Notoatmodjo,
2017). Pengetahuan gizi pada hakekatnya adalah kemampuan
seseorang memahami konsep dan prinsip serta informasi yang
berhubungan dengan gizi, makanan dan hubungannya dengan
kesehatan. Meningkatnya pengetahuan diikuti dengan
meningkatnya keterampilan dan sikap serta kegiatannya
berinteraksi membentuk pola perilaku yang khas
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kurangnya
pengetahuan tentang DM menyebabkan pasien cenderung untuk
tidak mematuhi pengobatan, diet dan insulin (Kong, Yein &
Jenn, 2022). Pengetahuan tingkat awal yang harus diperkenalkan
pada pasien DM adalah perjalanan penyakit DM, pengendalian
dan pemantauan DM, penyulit DM, terapi farmakologi dan non
farmakologis, interaksi antara asupan makanan dengan aktifitas
fisik serta olahraga, cara pemantauan glukosa darah mandiri,
mengatasi hipoglikemia, pentingnya olahraga, perawatan kaki
dan menggunakan fasiliitas kesehatan yang ada (PERKENI,
2013).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 67 orang responden
didapatkan sebagian besar responden berusia 34-43 tahun
sebanyak 42 orang (62.7%), dan yang paling sedikit berusia 23-
33 tahun sebanyak 10 orang (14.9%). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dari 67 orang responden didapatkan
sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 36
orang (53,7%), dan paling sedikit berjenis kelamin perempuan
sebanyak 31 orang (46.3%). Penyakit Diabetes Mellitus (DM)
terbagi menjadi dua kelompok yakni DM tipe I dan DM tipe II.
DM tipe I terjadi pada seseorang yang usianya dibawah 45 tahun
karena kerusakan sekresi produksi insulin sel- sel beta pankreas,
sehingga penurunan insulin sangat cepat sampai akhirnya tidak
adalagi yang disekresi, sedangkan DM tipe II merupakan DM
turunan dari orang tua yang resikonya akan semakin tinggi jika
kelebihan berat badan dan kurangnya aktivitas. DM tipe II
dikategorikan dalam DM yang tidak tergantung insulin
(Arisman, 2010). Jenis kelamin merupakan identitas responden
yang dapat digunakan untuk membedakan pasien laki-laki atau
perempuan (Notoadmojo, 2020). Hal ini sejalan dengan
pernyataan Irawan (2018), perempuan lebih mudah terkena DM
dibandingkan dengan laki – laki karena perempuan lebih banyak
memiliki LDL atau kolesterol jahat tingkat trigliserida
dibandingkan dengan laki – laki. Hasil penelitian ini sesuai
dengan penelitian Awad, Langi dan Pandelaki (2014) yang
menemukan bahwa sebanyak 138 pasien di Poliklinik Endokrin
RSU [Link].R.D. Kandou Manado dimana 78 pasien (57%)
adalah wanita dan 60 pasien (43%) adalah pria.
[Link] Distribusi Frekuensi dan Persentase Kepatuhan diet
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 67 orang didapatkan
sebagian besar Patuh dalam menjalani diet diabetes mellitus
sebanyak 37 orang (55.2%), serta paling sedikit tidak patuh
menjalani diet diebets mellitus sebanyak 30 orang (44.8%).
Terapi gizi merupakan komponen utama keberhasilan
penatalaksanaan DM. Kepatuhan pasien terhadap prinsip gizi
dan perencanaan makan merupakan salah satu kendala pada
pasien DM. Pasien DM banyak yang merasa tersiksa
sehubungan dengan jenis dan jumlah makanan yang dianjurkan
(Smeltzer & Bare dalam Maulana, 2019). Kepatuhan diet
merupakan suatu hal yang penting untuk dapat mengembangkan
rutinitas (kebiasaan) yang dapat membantu penderita dalam
mengikuti jadwal diet penderita. Pasien yang tidak patuh dalam
menjalankan terapi diet menyebabkan kadar gula yang tidak
terkendali. Kepatuhan dapat sangat sulit dan membutuhkan
faktor-faktor yang mendukung agar kepatuhan dapat berhasil,
faktor pendukung tersebut adalah dukungan keluarga,
pengetahuan, dan motivasi agar menjadi bias dengan perubahan
yang dilakukan dengan cara mengatur untuk meluangkan waktu
dan kesempatan yang dibutuhkan untuk menyesuaikan diri
(Lolulapan, 2018).
Kepatuhan diet pada penelitian ini diukur dari perimbangan
energi dalam penelitian ini adalah didasarkan pada tujuan akhir
penatalaksanaan diet DM dimana sedapat mungkin seorang
penderita DM mampu mengontrol kenaikan gula darah yang
terlalu tinggi melalui pengaturan makanan. Energi merupakan
zat gizi yang diperoleh dari karbohidrat, lemak dan protein yang
ada didalam bahan makanan, jadi jika kecukupan energi
responden kurang, otomatis kandungan zat gizi makro lainnya
pun tidak cukup, karena karbohidrat, lemak dan protein suatu
bahan makanan menentukan nilai energinya (Almatsier, 2014).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Prabowo, dkk
(2014) mengenai “Hubungan Pendidikan dan Dukungan
Keluarga dengan Kepatuhan Menjalani Diet pada Penderita DM
di wilayah Puskesmas Plosorejo Giribangun Matesih Kabupaten
Karanganyar” yang menunjukkan bahwa sebagian besar (56.3%)
pasien tidak patuh dalam menjalani dietnya.
Penelitian yang tidak sejalan dilakukan oleh Nurhidayanti
(2011) mengenai “Hubungan dukungan Keluarga dengan
Kepatuhan Diet pada Pasien DM Rawat Jalan di RS PKU
Muhammadiyah Yogyakarta” yang menunjukkan bahwa
ebagian besar (85.3%) pasien patuh terhadap diet yang
dijalaninya.
Kepatuhan adalah tingkat seseorang dalam melaksanakan suatu
aturan dalam dan perilaku yang disarankan. Kepatuhan
merupakan tingkat seseorang dalam melaksanakan perawatan,
pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh perawat, dokter
atau tenaga kesehatan lainnya. Ketidakpatuhan adalah keadaan
di mana seorang individu atau kelompok berkeinginan untuk
mematuhi, tetapi ada faktor yang menghalangi kepatuhan
terhadap nasehat yang berkaitan dengan kesehatan yang
diberikan oleh profesional kesehatan (Carpenito, 2016).
Menurut (Ramadhan, 2018) Pengaturan makan merupakan pilar
utama dalam pengelolaan diabetes mellitus, namun penderita
diabetes mellitus sering memperoleh informasi yang kurang
tepat yang dapat merugikan penderita tersebut. Sebenarnya
anjuran makan pada penderita diabetes mellitus sama seperti
anjuran makan sehat umumnya yaitu makan menu seimbang dan
sesuai dengan kalori masingmasing penderita diabetes mellitus.
4.4.2 Analisa Bivariat
[Link] Hubungan Tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan diet
Berdasarkan hasil dari pengujian uji statistik Spearman Rho
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa terdapat Hubungan
Tingkat Pengetahuan dengan kepatuhan diet didapatkan hasil
tingkat pengetahuan baik dengan pasien yang patuh menjalani
diet diabetes mellitus sebanyak 2 orang (66.7%), serta tidak
patuh sebanyak 1 orang (33.3%). Sedangkan tingkat
pengetahuan cukup dengan pasien yang patuh menjalani diet
diabetes mellitus sebanyak 24 orang (68.6%), serta tidak patuh
sebanyak 11 orang (31.4%), serta tingkat pengetahuan kurang
dengan pasien yang patuh menjalani diet diabetes mellitus
sebanyak 11 orang (37.9%), serta tidak patuh sebanyak 18 orang
(62.1%),
Berdasarkan hasil dari pengujian uji statistik Spearman Rho
didapatkan nilai p Value = 0,016 yang lebih kecil dari nilai α
yaitu 0,05 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa H0 dinyatakan
ditolak dan H1 dinyatakan diterima dengan nilai r = 0,294, maka
menunjukkan secara statistik ada hubungan yang signifikan
antara Tingkat Pengetahuan dengan kepatuhan diet
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Astuti Sri (2015)
tentang “Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dan Dukungan
Keluarga dengan Kepatuhan dalam Menjalani Terapi Diet pada
Penderita DM Tipe 2 di Puskesmas Kasihan II Bantul
Yogyakarta” yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan responden dalam
terapi diet DM tipe 2 dengan menggunakan uji Kolmonogorov-
Smirnov, didapatkan hasil p= 0.537. Penelitian ini juga sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Phitri & Widyaningsih
(2013) yang menyatakan bahwa ada hubungan pengetahuan
dengan kepatuhan diet (Phitri&Widyaningsih, 2013). Hasil ini
sejalan dengan Ningsih & Rahma (2018) yang menunjukan
adanya hubungan antara pengetahuan dengan tingkat kepatuhan
terapi diet pada pasien. Hasil berbeda ditemukan dalam
penelitian Astuti, Yhona dan Wahyuningsih (2015) yang
menunjukan hasil bahwa tidak ada hubungan antara
pengetahuan dengan kepatuhan responden dalam terapi diet DM
tipe 2 (p>0,05). Hasil tersebut dapat disebabkan oleh faktor
lamanya responden dalam menjalani terapi DM. Pengetahuan
juga mempengaruhi kepatuhan dalam terapi diet DM.
Pengetahuan merupakan hal yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang (Ropiks dan Rahma, 2018).
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah
seseorang menggunakan pengindraan terhadap suatu obyek
tertentu, pengindraan terhadap obyek yang terjadi melalui panca
indra manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman rasa
dan raba sendiri. Pengendalian diabetes dapat dilakukan dengan
pengontrolan nutrisi, latihan fisik yang teratur, minum obat anti
diabetik atau injeksi insulin, monitoring gula darah, dan
mengendalikan stres (Perkeni, 2013). Namun, karena sifat
diabetes yang kronis dan pengendalian harus dilakukan seumur
hidup pasien, hal ini menjadi pemicu timbulnya stres dan
kecemasan pada pasien diabetes. Akhirnya banyak terjadi
ketidakpatuhan. Hasil penelitian mengindikasikan perilaku
ketidakpatuhan terhadap diet yang disarankan berkisar antara
35-70%, 20-80% untuk injeksi insulin, pemeriksaan gula darah
yang tidak akurat 30-70%, 23-52% untuk perawatan kaki yang
tidak baik dan 70-80% dalam latihan yang teratur
4.5 Keterbatasan Penelitian
4.5.1 Waktu Penelitian yang sangat pendek, sehingga sulit mengumpulkan
responden untuk melakukan penelitian.
4.6 Implikasi Hasil Penelitian Dalam Keperawatan
4.6.1 Sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya yang berkaitan
dengan tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan diet
4.6.2 Penelitian ini bersifat informatif sehingga perlu dikembangkan untuk
meningkatkan pelayanan keperawatan khususnya dia area
keperawatan medical bedah.