0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan7 halaman

Panduan Resusitasi Jantung Paru RJP

Dokumen ini menjelaskan tentang Resusitasi Jantung Paru (RJP) sebagai tindakan pertolongan pertama untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan sirkulasi pada pasien yang mengalami henti napas dan henti jantung. Terdapat penjelasan mengenai diagnosis keperawatan, tujuan, indikasi, prinsip, dan bahaya serta pencegahan dalam melakukan RJP. Selain itu, dokumen ini juga mencantumkan daftar pustaka yang relevan dengan topik RJP.

Diunggah oleh

indy hunafa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan7 halaman

Panduan Resusitasi Jantung Paru RJP

Dokumen ini menjelaskan tentang Resusitasi Jantung Paru (RJP) sebagai tindakan pertolongan pertama untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan sirkulasi pada pasien yang mengalami henti napas dan henti jantung. Terdapat penjelasan mengenai diagnosis keperawatan, tujuan, indikasi, prinsip, dan bahaya serta pencegahan dalam melakukan RJP. Selain itu, dokumen ini juga mencantumkan daftar pustaka yang relevan dengan topik RJP.

Diunggah oleh

indy hunafa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

RESUME TINDAKAN RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP)

DI RUANG IGD RSUD SMC KABUPATEN TASIKMALAYA

Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Praktik Klinik Keperawatan Gawat Darurat
dan Manajemen Bencana

Dosen Pengampu :

1. Arip Rahman, [Link]


2. Novi Indriani, [Link]
3. Yudi Triguna, [Link], Ners, [Link]

Disusun Oleh :

INDY HUNAFA
P2.[Link].053

PRODI D-III KEPERAWATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES TASIKMALAYA

2023/2024
A. PENGERTIAN TINDAKAN
Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan upaya pertolongan pertama untuk
mengembalikan fungsi pernapasan dan sirkulasi akibat henti napas (respiratory arrest) dan
henti jantung (cardiac arrest).
Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau dikenal juga dengan sebutan RJP
(Resusitasi Jantung Paru) adalah tindakan penyelamatan hidup untuk korban yang
mengalami tanda-tanda henti jantung, ditandai dengan tidak ada respon, tidak ada nadi, dan
tidak ada napas/gasping (American Heart Association, 2020).

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) (D.0008) – Penurunan Curah Jantung
Penurunan Curah Jantung b.d. perubahan irama jantung d.d. palpitasi (dada terasa
berdebar kencang), bradikardia/takikardia.
2) (D.0004) – Gangguan Ventilasi Spontan
Gangguan Ventilasi Spontan b.d. gangguan metabolisme, kelelahan otot pernapasan d.d.
klien mengeluh sesak (dispnea), penggunaan otot bantu napas meningkat, PCO2
meningkat, PO2 menurun.
3) (D.0017) – Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif d.d. cedera kepala, infark miokard akut.

C. TUJUAN TINDAKAN
Tujuan utama dari tindakan Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah untuk
mengembalikan fungsi sistem pernafasan, sistem sirkulasi dan otak yang terhenti atau
terganggu agar menjadi normal kembali dalam waktu sesingkat mungkin.
Tindakan Resusitasi Jantung Paru dapat memberikan aliran darah dan suplai oksigen
menuju otak dan otot jantung (Rachman, 2022).

D. INDIKASI TINDAKAN
 Klien dengan henti napas dan henti jantung
E. PRINSIP DAN RASIONAL TINDAKAN
No. Prinsip Tindakan Rasional
1.  DANGER (Pastikan Keamanan) Untuk memastikan keamanan
a. Memastikan kondisi lingkungan lingkungan, diri sendiri (penolong), dan
sekitar aman. pasien.
b. Memakai Alat Proteksi Diri
(APD).
c. Memposisikan pasien dalam
posisi telentang dan baringkan
pasien di tempat yang datar dan
keras.
2.  RESPONSE (Menilai Kesadaran) Untuk mengetahui status kesadaran
Cek Respon Klien : pasien.
Teriak “Bangun Pak/Bu!” atau “Buka
Mata Pak/ Bu!” dan tepuk bahu atau
beri stimulus nyeri (Alert, Verbal,
Pain, Unresponsive).
3.  SHOUT FOR HELP (Memanggil Meminta bantuan segera untuk
Bantuan) meminimalkan tingkat keparahan saat
Minta bantuan orang-orang di sekitar: menghadapi situasi kritis dan darurat.
Teriak “Tolong-tolong disini ada
yang tidak sadarkan diri!” dan
telepon SPGDT sebutkan nama,
kondisi korban, lokasi, kronologi,
dan nomor HP.
4.  CIRCULATION AND - Untuk menilai nadi carotis dan napas
COMPRESSION (Cek Nadi, Cek pasien.
Napas, dan Kompresi 30 x) - Untuk mengetahui tanda-tanda vital
Cek nadi karotis dan napas secara pasien dan untuk melanjutkan
bersamaan kurang dari 10 detik. tindakan selanjutnya.
Jika nadi tidak teraba, segera berikan
bantuan 30 kompresi dan 2 ventilasi;
jika nadi teraba beri 1 ventilasi tiap 6
detik.
 Kompresi
- Posisi : berlutut di samping klien / Pemberian tindakan kompresi ini
berdiri di samping tempat tidur bertujuan untuk memaksimalkan kerja
klien, letakkan tumit telapak tangan pompa jantung sehingga sirkulasi darah
pada pertengahan dada atau sternum (O2) dapat mengalir dengan lancar ke
(di antara kedua papila mamae), seluruh tubuh terutama ke organ tubuh
dengan telapak tangan ditumpuk bagian otak agar sel tidak mengalami
dan jari ditautkan. banyak kematian.
- Berikan kompresi dengan
kedalaman 5 cm - 6 cm, kecepatan
100-120x/menit, perbandingan
kompresi : ventilasi = 30 : 2, dan
berikan kesempatan “RECOIL”
sempurna.
5.  AIRWAY (Membebaskan Jalan - Teknik Head Tilt dan Chin Lift ini
Napas) bertujuan untuk membuka jalan napas
- Buka jalan napas klien dengan pasien / korban secara maksimal.
memposisikan Head Tilt (tengadah - Teknik Cross Finger dan Finger
kepala) dan Chin Lift (topang Sweep dilakukan bertujuan untuk
dagu). membebaskan jalan napas dan
- Apabila ada fraktur cervical atau mencegah terjadinya sumbatan jalan
cedera pada tulang leher, gunakan napas yang disebabkan oleh benda
Jaw-Thrust Maneuver (angkat asing.
rahang).
- Apabila terdapat sumbatan jalan
napas karena adanya benda asing
dalam rongga mulut, lakukan Cross
Finger dan Finger Sweep.
6.  BREATHING (Bantuan Napas 2x) Untuk memaksimalkan pemberian O2
- Berikan napas 2 kali dengan saat terjadi situasi darurat atau dalam
volume tidal. keadaan kritis.
- Berikan ventilasi sebanyak 2x (> 1
detik / ventilasi) dengan volume
udara disesuaikan dengan volume
tidal pasien (6-8 ml/Kg BB) atau
sampai dada pasien mengembang.
7.  EVALUATION (Evaluasi / Cek - Evaluasi dilakukan untuk mengetahui
Nadi dan Napas setelah 5 Siklus) kondisi actual pasien / korban setelah
Evaluasi klien dilakukan setelah 2 dilakukan tindakan RJP dan segera
menit atau 5 siklus. mengetahui tindakan tepat yang akan
- Jika napas (-) dan nadi (-) → dilakukan selanjutnya.
Kompresi dan Ventilasi 30 : 2 - Evaluasi penting dilakukan untuk
- Jika napas (-) dan nadi (+) → terus memantau kondisi pasien dan
berikan 1 Ventilasi tiap 6 detik menyesuaikan tindakan sesuai dengan
atau 10 kali / menit. kebutuhan.
- Jika napas (+) dan nadi (+) →
lakukan Recovery Position,
monitoring jantung dan
pernapasan pasien..

F. BAHAYA DAN PENCEGAHANNYA


 Bahaya Resusitasi Jantung Paru (RJP) :
1. Cedera Tulang dan Jaringan : Teknik RJP melibatkan kompresi dada yang kuat,
yang dapat menyebabkan cedera tulang atau jaringan seperti patah tulang atau
kerusakan pada organ dalam.
2. Kerusakan Jantung : Kompresi yang tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan pada
jantung, terutama jika ditekan terlalu keras atau terlalu cepat.
3. Aspirasi : Saat melakukan RJP, kemungkinan akan terjadi risiko aspirasi, yaitu
masuknya cairan atau benda asing ke dalam saluran pernapasan, yang dapat
menyebabkan kerusakan paru-paru atau infeksi.
4. Risiko Infeksi : Kontak langsung dengan mulut atau cairan tubuh pasien dapat
meningkatkan risiko infeksi bagi petugas medis yang melakukan RJP.

 Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan diantaranya yaitu :


1. Pelatihan yang Adekuat : Semua petugas medis dan orang-orang yang berpotensi
memerlukan RJP harus mendapatkan pelatihan yang tepat. Pelatihan ini akan
mengajarkan teknik-teknik yang tepat untuk melakukan RJP dengan aman dan efektif.
2. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) : Petugas medis harus menggunakan Alat
Pelindung Diri seperti sarung tangan dan masker untuk mengurangi risiko infeksi dan
kontaminasi selama RJP.
3. Evaluasi dan Pemantauan : Selama RJP, penting untuk terus memantau kondisi
pasien dan menyesuaikan tekanan serta frekuensi kompresi dada sesuai dengan
kebutuhan.
4. Koordinasi Tim : Jika memungkinkan, melakukan RJP dengan tim yang
terkoordinasi dapat membantu mengurangi risiko cedera dan meningkatkan
efektivitas resusitasi.
5. Pemilihan Pasien yang Tepat : RJP harus dilakukan hanya pada pasien yang
memenuhi kriteria tertentu, seperti tidak sadar dan tidak bernapas dengan tidak ada
denyut jantung yang terdeteksi. Pencegahan terbaik adalah menghindari RJP yang
tidak perlu pada pasien yang tidak membutuhkannya.

G. DAFTAR PUSTAKA
Hidayati, Ratna dkk. (2014). Praktik Laboratorium Keperawatan Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Prakoso, Radityo. (2021). Panduan Kursus Bantuan Hidup Jantung Dasar. Perhimpunan
Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia. 7 – 11.
American Heart Association (AHA). (2020). "Part 6 : Pediatric Basic Life Support and
Pediatric Advanced Life Support". Guidelines for CPR and ECC. Retrieved
from [Link]
2020/cpr-guidelines-2020-
[Link]?la=en&hash=CF93A7A15C2D07BBEBE5ABD6BFAEDF13
American Heart Association. (2020). Retrieved from AHA : CPR & First Aid Emergency
Cardiovascular Care: [Link]
Rachman, d. A. (2022, Juli 27). Yuk, Mengenal Resusitasi Jantung Paru (RJP). Retrieved
from KEMENTERIAN KESEHATAN DIREKTORAT JENDERAL
PELAYANAN KESEHATAN:
[Link]
jantung-paru-rjp

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan Indikator


Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta : PPNI.

Anda mungkin juga menyukai