Standar Asuhan Pasien Terintegrasi KARS
Standar Asuhan Pasien Terintegrasi KARS
Gambaran Umum
Tanggung jawab rumah sakit dan staf yang terpenting adalah memberikan asuhan
dan pelayanan pasien yang efektif dan aman. Hal ini membutuhkan komunikasi yang
efektif, kolaborasi, dan standardisasi proses untuk memastikan bahwa rencana,
koordinasi, dan implementasi asuhan mendukung serta merespons setiap kebutuhan
unik pasien dan target.
Asuhan tersebut dapat berupa upaya pencegahan, paliatif, kuratif, atau
interprofessional termasuk anestesia, tindakan bedah, pengobatan, terapi suportif,
atau kombinasinya, yang berdasar atas pengkajian awal dan pengkajian ulang pasien.
Area asuhan risiko tinggi (termasuk resusitasi dan transfusi) serta asuhan untuk
pasien risiko tinggi atau kebutuhan populasi khusus yang membutuhkan perhatian
tambahan. Asuhan pasien dilakukan oleh professional pemberi asuhan (PPA) dengan
banyak disiplin dan staf klinis lain. Semua staf yang terlibat dalam asuhan pasien
harus memiliki peran yang jelas, ditentukan oleh kompetensi dan kewenangan,
kredensial, sertifikasi, hukum dan regulasi, keterampilan individu, pengetahuan,
pengalaman, dan kebijakan rumah sakit, atau uraian tugas wewenang (UTW).
Beberapa asuhan dapat dilakukan oleh pasien/keluarganya atau pemberi asuhan
terlatih (caregiver). Pelaksanaan asuhan dan pelayanan harus dikoordinasikan dan
diintegrasikan oleh semua profesional pemberi asuhan (PPA) dapat dibantu oleh
staf klinis. Asuhan pasien terintegrasi dilaksanakan dengan beberapa elemen:
a. Dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) sebagai pimpinan klinis/ketua tim
PPA (clinical leader).
b. PPA bekerja sebagai tim interdisiplin dengan kolaborasi interprofesional,
menggunakan panduan praktik klinis (PPK), alur klinis/clinical pathway
terintegrasi, algoritma, protokol, prosedur, standing order, dan catatan
perkembangan pasien terintegrasi (CPPT).
c. Manajer Pelayanan Pasien (MPP)/Case Manager menjaga kesinambungan
pelayanan.
d. Keterlibatan serta pemberdayaan pasien dan keluarga dalam asuhan bersama
PPA harus memastikan:
1) Asuhan direncanakan untuk memenuhi kebutuhan pasien yang unik berdasar
atas pengkajian;
2) Rencana asuhan diberikan kepada tiap pasien;
3) Respons pasien terhadap asuhan dipantau; dan
4) Rencana asuhan dimodifikasi bila perlu berdasarkan respons pasien.
Fokus Standar Pelayanan dan Asuhan Pasien (PAP) meliputi:
a. Pemberian pelayanan yang seragam;
b. Pelayanan pasien risiko tinggi dan penyediaan pelayaann risiko tinggi;
c. Pemberian makanan dan terapi nutrisi;
d. Pengelolaan nyeri; dan
e. e. Pelayanan menjelang akhir hayat.
A. PEMBERIAN PELAYANAN UNTUK SEMUA PASIEN
Standar PAP 1
Pelayanan yang seragam dan terintegrasi diberikan untuk semua pasien sesuai
peraturan perundang-undangan.
Maksud dan Tujuan PAP 1
Pasien dengan masalah kesehatan dan kebutuhan pelayanan yang sama berhak
mendapat mutu asuhan yang seragam di rumah sakit. Untuk melaksanakan prinsip
mutu asuhan yang setingkat, pimpinan harus merencanakan dan mengkoordinasi
pelayanan pasien. Secara khusus, pelayanan yang diberikan kepada populasi pasien
yang sama pada berbagai unit kerja sesuai dengan regulasi yang ditetapkan rumah
sakit. Sebagai tambahan, pimpinan harus menjamin bahwa rumah sakit menyediakan
tingkat mutu asuhan yang sama setiap hari dalam seminggu dan pada setiap shift.
Regulasi tersebut harus sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku sehingga
membentuk proses pelayanan pasien dan dikembangkan secara kolaboratif.
Asuhan pasien yang seragam tercermin dalam hal-hal berikut:
a) Akses untuk mendapatkan asuhan dan pengobatan tidak bergantung pada
kemampuan pasien untuk membayar atau sumber pembayaran.
b) Akses untuk mendapatkan asuhan dan pengobatan yang diberikan oleh PPA yang
kompeten tidak bergantung pada hari atau jam yaitu 7 (tujuh) hari, 24 (dua puluh
empat) jam.
c) Kondisi pasien menentukan sumber daya yang akan dialokasikan untuk
memenuhi kebutuhannya.
d) Pemberian asuhan yang diberikan kepada pasien, sama di semua unit pelayanan
di rumah sakit misalnya pelayanan anestesi.
e) Pasien yang membutuhkan asuhan keperawatan yang sama akan menerima
tingkat asuhan keperawatan yang sama di semua unit pelayanan di rumah sakit.
Keseragaman dalam memberikan asuhan pada semua pasien akan menghasilkan
penggunaan sumber daya yang efektif dan memungkinkan dilakukan evaluasi
terhadap hasil asuhan yang sama di semua unit pelayanan di rumah sakit.
Elemen Penilaian PAP 1 Instrumen Survei KARS Skor
1. Rumah sakit menetapkan R Regulasi tentang pelayanan 10 TL
regulasi tentang Pelayanan dan dan Asuhan Pasien, meliputi: 5 TS
Asuhan Pasien (PAP) yang a) Pemberian pelayanan yang 0 TT
meliputi poin a) – e) dalam seragam;
gambaran umum. b) Pelayanan pasien risiko
tinggi dan penyediaan
pelayanan risiko tinggi;
c) Pemberian makanan dan
terapi nutrisi;
d) Pengelolaan nyeri; dan
e) Pelayanan menjelang akhir
hayat.
W DPJP
PPJA
MPP
Pasien/keluarga
Standar PAP 1.1
Rencana dan pemberian asuhan pasien dibuat, diintegrasikan, dan didokumentasikan.
Maksud dan Tujuan PAP 1.1
Proses pelayanan dan asuhan pasien bersifat dinamis dan melibatkan banyak PPA
dan berbagai unit pelayanan. Agar proses pelayanan dan asuhan pasien menjadi
efisien, penggunaan sumber daya manusia dan sumber lainnya menjadi efektif, dan
hasil akhir kondisi pasien menjadi lebih baik maka diperlukan integrasi dan
koordinasi. Kepala unit pelayanan menggunakan cara untuk melakukan integrasi dan
koordinasi pelayanan serta asuhan lebih baik (misalnya, pemberian asuhan pasien
secara tim oleh para PPA, ronde pasien multidisiplin, formulir catatan perkembangan
pasien terintegrasi (CPPT), dan manajer pelayanan pasien/case manager).
Instruksi PPA dibutuhkan dalam pemberian asuhan pasien misalnya instruksi
pemeriksaan di laboratorium (termasuk Patologi Anatomi), pemberian obat, asuhan
keperawatan khusus, terapi nurtrisi, dan lain-lain. Instruksi ini harus tersedia dan
mudah diakses sehingga dapat ditindaklanjuti tepat waktu misalnya dengan
menuliskan instruksi pada formulir catatan perkembangan pasien terintegrasi (CPPT)
dalam rekam medis atau didokumentasikan dalam elektronik rekam medik agar staf
memahami kapan instruksi harus dilakukan, dan siapa yang akan melaksanakan
instruksi tersebut.
Setiap rumah sakit harus mengatur dalam regulasinya:
a) Instruksi seperti apa yang harus tertulis/didokumentasikan (bukan instruksi
melalui telepon atau instruksi lisan saat PPA yang memberi instruksi sedang
berada di tempat/rumah sakit), antara lain:
1) Instruksi yang diijinkan melalui telepon terbatas pada situasi darurat dan
ketika dokter tidak berada di tempat/di rumah sakit.
2) Instruksi verbal diijinkan terbatas pada situasi dimana dokter yang memberi
instruksi sedang melakukan tindakan/prosedur steril.
b) Permintaan pemeriksaan laboratorium (termasuk pemeriksaan Patologi
Anatomi) dan diagnostik imajing tertentu harus disertai indikasi klinik
c) Pengecualian dalam kondisi khusus, misalnya di unit darurat dan unit intensif
Siapa yang diberi kewenangan memberi instruksi dan perintah catat di dalam berkas
rekam medik/sistem elektronik rekam medik sesuai regulasi rumah sakit.
Prosedur diagnostik dan tindakan klinis, yang dilakukan sesuai instruksi serta hasilnya
didokumentasikan di dalam rekam medis pasien. Contoh prosedur dan tindakan
misalnya endoskopi, kateterisasi jantung, terapi radiasi, pemeriksaan Computerized
Tomography (CT), dan tindakan serta prosedur diagnostik invasif dan non-invasif
lainnya. Informasi mengenai siapa yang meminta dilakukannya prosedur atau
tindakan, dan alasan dilakukannya prosedur atau tindakan tersebut
didokumentasikan dalam rekam medik. Di rawat jalan bila dilakukan tindakan
diagnostik invasif/berisiko, termasuk pasien yang dirujuk dari luar, juga harus
dilakukan pengkajian serta
pencatatannya dalam rekam medis.
Elemen Penilaian PAP 1.1 Instrumen Survei KARS Skor
1. Rumah sakit telah melakukan D 1) Bukti dalam rekam medis 10 TL
pelayanan dan asuhan yang pelaksanaan pelayanan dan 5 TS
terintegrasi serta terkoordinasi asuhan yang terintegrasi 0 TT
kepada setiap pasien. serta terkoordinasi kepada
setiap pasien.
2) Bukti pelaksanaan Asuhan
pasien terintegrasi
dilaksanakan dengan
beberapa elemen poin a. –
d. di Gambaran Umum :
a. Dokter penanggung
jawab pelayanan
(DPJP) sebagai
pimpinan klinis/ketua
tim PPA (clinical
leader).
b. PPA bekerja sebagai
tim intra- dan
interdisiplin dengan
kolaborasi
interprofessional,
dibantu antara lain
dengan panduan
praktik klinis (PPK),
panduan asuhan PPA
lainnya, alur
klinis/clinical pathway
terintegrasi, algoritma,
protokol, prosedur,
standing order, dan
catatan perkembangan
pasien terintegrasi
(CPPT).
c. Manajer Pelayanan
Pasien (MPP)/ Case
Manager menjaga
kesinambungan
pelayanan.
d. Keterlibatan serta
pemberdayaan pasien
dan keluarga dalam
asuhan bersama PPA
harus memastikan:
1) Asuhan
direncanakan
untuk memenuhi
kebutuhan pasien
yang unik berdasar
atas pengkajian;
2) Rencana asuhan
diberikan kepada
tiap pasien;
3) Respons pasien
terhadap asuhan
dipantau; dan
4) Rencana asuhan
dimodifikasi bila
perlu berdasarkan
respons pasien.
(Lihat juga Std AKP 3 di
maksud-tujuan poin a) – f).
W DPJP
PPJA
MPP
Pasien/keluarga
2. Rumah sakit telah menetapkan R Rumah sakit menetapkan 10 TL
kewenangan pemberian kewenangan pemberian 5 TS
instruksi oleh PPA yang instruksi oleh PPA yang 0 TT
kompeten, tata cara pemberian kompeten, tata cara pemberian
instruksi dan instruksi dan
pendokumentasiannya. pendokumentasiannya.
W DPJP
Staf unit laboratorium
Staf unit radiologi
4. Prosedur dan tindakan telah D 1) Bukti prosedur dan 10 TL
dilakukan sesuai instruksi dan tindakan yang dilakukan 5 TS
PPA yang memberikan sesuai dengan instruksi PPA 0 TT
instruksi, alasan dilakukan 2) Bukti alasan dilakukan
prosedur atau tindakan serta prosedur atau tindakan
hasilnya telah serta hasilnya
didokumentasikan di dalam didokumentasikan di dalam
rekam medis pasien. rekam medis pasien.
(Lihat juga SKP 2 EP 1).
W DPJP
PPJA
5. Pasien yang menjalani tindakan D Bukti dalam rekam medis 10 TL
invasif/berisiko di rawat jalan dilakukan pengkajian pada 5 TS
telah dilakukan pengkajian dan pasien rawat jalan yang 0 TT
didokumentasikan dalam menjalani tindakan
rekam medis. invasif/berisiko, termasuk
pencatatan efek samping dll.
W DPJP
Kepala/staf unit pelayanan
diagnostik antara lain Unit
Laboratorium, Unit
Radiologi
Standar PAP 1 .2
Rencana asuhan individual setiap pasien dibuat dan didokumentasikan.
Maksud dan Tujuan PAP 1.2
Rencana asuhan merangkum asuhan dan pengobatan/tindakan yang akan diberikan
kepada seorang pasien. Rencana asuhan memuat satu rangkaian tindakan yang
dilakukan oleh PPA untuk menegakkan atau mendukung diagnosis yang disusun dari
hasil pengkajian. Tujuan utama rencana asuhan adalah memperoleh hasil klinis yang
optimal.
Proses perencanaan bersifat kolaboratif menggunakan data yang berasal dari
pengkajian awal dan pengkajian ulang yang di buat oleh para PPA (dokter, perawat,
ahli gizi, apoteker, dan lain-lainnya)
Rencana asuhan dibuat setelah melakukan pengkajian awal dalam waktu 24 jam
terhitung sejak pasien diterima sebagai pasien rawat inap. Rencana asuhan yang baik
menjelaskan asuhan pasien yang objektif dan memiliki sasaran yang dapat diukur
untuk memudahkan pengkajian ulang serta mengkaji atau merevisi rencana asuhan.
Pasien dan keluarga dapat dilibatkan dalam proses perencanaan asuhan.
Rencana asuhan harus disertai target terukur, misalnya:
a) Detak jantung, irama jantung, dan tekanan darah menjadi normal atau sesuai
dengan rencana yang ditetapkan;
b) Pasien mampu menyuntik sendiri insulin sebelum pulang dari rumah sakit;
c) Pasien mampu berjalan dengan “walker” (alat bantu untuk berjalan).
Berdasarkan hasil pengkajian ulang, rencana asuhan diperbaharui untuk dapat
menggambarkan kondisi pasien terkini. Rencana asuhan pasien harus terkait dengan
kebutuhan pasien. Kebutuhan ini mungkin berubah sebagai hasil dari proses
penyembuhan klinis atau terdapat informasi baru hasil pengkajian ulang (contoh,
hilangnya kesadaran, hasil laboratorium yang abnormal). Rencana asuhan dan
revisinya didokumentasikan dalam rekam medis pasien sebagai rencana asuhan baru
DPJP sebagai ketua tim PPA melakukan evaluasi / reviu berkala dan verifikasi harian
untuk memantau terlaksananya asuhan secara terintegrasi dan membuat notasi
sesuai dengan kebutuhan. Catatan: satu rencana asuhan terintegrasi dengan
sasaransasaran yang diharapkan oleh PPA lebih baik daripada rencana terpisah oleh
masing-masing PPA. Rencana asuhan yang baik menjelaskan asuhan individual,
objektif, dan sasaran
dapat diukur untuk memudahkan pengkajian ulang serta revisi rencana asuhan.
Elemen Penilaian PAP 1.2 Instrumen Survei KARS Skor
1. PPA telah membuat rencana D Bukti dalam rekam medis PPA 10 TL
asuhan untuk setiap pasien membuat rencana asuhan 5 TS
setelah diterima sebagai pasien untuk setiap pasien setelah 0 TT
rawat inap dalam waktu 24 jam diterima sebagai pasien rawat
berdasarkan hasil pengkajian inap dalam waktu 24 jam
awal. berdasarkan hasil pengkajian
awal.
W PPA
2. Rencana asuhan dievaluasi D 1) Bukti dalam rekam medis 10 TL
secara berkala, direvisi atau tentang rencana asuhan 5 TS
dimutakhirkan serta dievaluasi secara berkala, 0 TT
didokumentasikan dalam direvisi atau dimutakhirkan
rekam medis oleh setiap PPA. oleh setiap PPA.
2) Sesuai di maksud dan
tujuan: DPJP sebagai ketua
tim PPA melakukan
evaluasi / reviu berkala dan
verifikasi harian. Lihat EP 5.
W PPA
3. Instruksi berdasarkan rencana D Bukti dalam rekam medis 10 TL
asuhan dibuat oleh PPA yang tentang instruksi dibuat oleh 5 TS
kompeten dan berwenang, PPA yang kompeten dan 0 TT
dengan cara yang seragam, dan berwenang, dengan cara yang
didokumentasikan di CPPT. seragam, dan
didokumentasikan di CPPT, di
kolom Instruksi sesuai Std PAP
1.1. EP 2.
W PPA
4. Rencana asuhan pasien dibuat D Bukti dalam rekam medis 10 TL
dengan membuat sasaran yang tentang rencana asuhan pasien 5 TS
terukur dan di dengan sasaran sesuai 0 TT
dokumentasikan. kebutuhan dan kondisi pasien.
W PPA
5. DPJP telah melakukan D Bukti dalam rekam medis DPJP 10 TL
evaluasi/review berkala dan telah melakukan 5 TS
verifikasi harian untuk evaluasi/review berkala dan 0 TT
memantau terlaksananya verifikasi harian untuk
asuhan secara terintegrasi dan memantau terlaksananya
membuat notasi sesuai dengan asuhan secara terintegrasi dan
kebutuhan. membuat notasi sesuai dengan
kebutuhan. Dan memberi
tandatangan di CPPT kolom
reviu dan verifikasi.
W DPJP
PPJA
Staf Klinis
B. PELAYANAN PASIEN RISIKO TINGGI DAN PENYEDIAAN PELAYANAN
RISIKO TINGGI
Standar PAP 2
Rumah sakit menetapkan pasien risiko tinggi dan pelayanan risiko tinggi sesuai dengan
kemampuan, sumber daya dan sarana prasarana yang dimiliki.
Maksud dan Tujuan PAP 2
Rumah sakit memberikan pelayanan untuk pasien dengan berbagai keperluan.
Pelayanan pada pasien berisiko tinggi membutuhkan prosedur, panduan praktik klinis
(PPK) clinical pathway dan rencana perawatan yang akan mendukung PPA
memberikan pelayanan kepada pasien secara menyeluruh, kompeten dan seragam.
Dalam memberikan asuhan pada pasien risiko tinggi dan pelayanan berisiko tinggi,
Pimpinan rumah sakit bertanggung jawab untuk:
a) Mengidentifikasi pasien dan pelayanan yang dianggap berisiko tinggi di rumah
sakit;
b) Menetapkan prosedur, panduan praktik klinis (PPK), clinical pathway dan rencana
perawatan secara kolaboratif;
c) Melatih staf untuk menerapkan prosedur, panduan praktik klinis (PPK), clinical
pathway dan rencana perawatan rencana perawatan tersebut.
Pelayanan pada pasien berisiko tinggi atau pelayanan berisiko tinggi dibuat
berdasarkan populasi yaitu pasien anak, pasien dewasa dan pasien geriatri. Hal-hal
yang perlu diterapkan dalam pelayanan tersebut meliputi Prosedur, dokumentasi,
kualifikasi staf dan peralatan medis meliputi:
a) Rencana asuhan perawatan pasien;
b) Perawatan terintegrasi dan mekanisme komunikasi antar PPA secara efektif;
c) Pemberian informed consent, jika diperlukan;
d) Pemantauan/observasi pasien selama memberikan pelayanan;
e) Kualifikasi atau kompetensi staf yang memberikan pelayanan; dan
f) Ketersediaan dan penggunaan peralatan medis khusus untuk pemberian
pelayanan.
Rumah sakit mengidentifikasi dan memberikan asuhan pada pasien risiko tinggi dan
pelayanan risiko tinggi sesuai kemampuan, sumber daya dan sarana prasarana yang
dimiliki meliputi:
a) Pasien emergensi;
b) Pasien koma;
c) Pasien dengan alat bantuan hidup
d) Pasien risiko tinggi lainnya yaitu pasien dengan penyakit jantung, hipertensi,
stroke dan diabetes;
e) Pasien dengan risiko bunuh diri;
f) Pelayanan pasien dengan penyakit menular dan penyakit yang berpotensi
menyebabkan kejadian luar biasa;
g) Pelayanan pada pasien dengan “immuno-suppressed”;
h) Pelayanan pada pasien yang mendapatkan pelayanan dialisis;
i) Pelayanan pada pasien yang direstrain;
j) Pelayanan pada pasien yang menerima kemoterapi;
k) Pelayanan pasien paliatif;
l) Pelayanan pada pasien yang menerima radioterapi;
m) Pelayanan pada pasien risiko tinggi lainnya (misalnya terapi hiperbarik dan
pelayanan radiologi intervensi);
n) Pelayanan pada populasi pasien rentan, pasien lanjut usia (geriatri) misalnya
anak-anak, dan pasien berisiko tindak kekerasan atau diterlantarkan misalnya
pasien dengan gangguan jiwa.
Rumah sakit juga menetapkan jika terdapat risiko tambahan setelah dilakukan
tindakan atau rencana asuhan (contoh, kebutuhan mencegah trombosis vena dalam,
luka dekubitus, infeksi terkait penggunaan ventilator pada pasien, cedera neurologis
dan pembuluh darah pada pasien restrain, infeksi melalui pembuluh darah pada
pasien dialisis, infeksi saluran/slang sentral, dan pasien jatuh. Jika terjadi risiko
tambahan tersebut, dilakukan penanganan dan pencegahan dengan membuat
regulasi, memberikan pelatihan dan edukasi kepada staf. Rumah sakit menggunakan
informasi tersebut untuk mengevaluasi pelayanan yang diberikan kepada pasien
risiko tinggi dan pelayanan berisiko tinggi serta mengintegrasikan informasi tersebut
dalam pemilihan prioritas perbaikan tingkat rumah sakit pada program
peningkatan mutu dan
keselamatan pasien.
Elemen Penilaian PAP 2 Instrumen Survei KARS Skor
1. Pimpinan rumah sakit telah D Bukti Pimpinan rumah sakit 10 TL
melaksanakan tanggung telah melaksanakan tanggung 5 TS
jawabnya untuk memberikan jawabnya untuk pasien berisiko 0 TT
pelayanan pada pasien berisiko tinggi dan pelayanan berisiko
tinggi dan pelayanan berisiko tinggi yang meliputi:
tinggi meliputi a) - c) dalam a) Identifikasi pasien risiko
maksud dan tujuan. tinggi dan pelayanan risiko
tinggi sesuai dengan
populasi pasiennya meliputi
a) - n) , disertai penetapan
risiko tambahan yang
mungkin berpengaruh
pada pasien risiko tinggi
dan pelayanan risiko
tinggi
b) Menetapkan prosedur,
panduan praktik klinis
(PPK), clinical pathway dan
rencana perawatan secara
kolaboratif
c) Melatih staf untuk
menerapkan prosedur,
panduan praktik klinis
(PPK), clinical pathway dan
rencana perawatan.
W
DPJP
PPJA
Kepala Unit Pelayanan
2. Rumah sakit telah memberikan D Bukti dalam rekam medis 10 TL
pelayanan pada pasien risiko tentang pelaksanaan 5 TS
tinggi dan pelayanan risiko pemberian pelayanan pada 0 TT
tinggi yang telah diidentifikasi pasien risiko tinggi dan
berdasarkan populasi yaitu pelayanan risiko tinggi pada
pasien anak, pasien dewasa populasi pasien anak, pasien
dan pasien geriatri sesuai dewasa dan pasien geriatri,
dalam maksud dan tujuan. meliputi :
a) Rencana asuhan perawatan
pasien;
b) Perawatan terintegrasi dan
mekanisme komunikasi antar
PPA secara efektif;
c) Pemberian informed
consent, jika diperlukan;
d) Pemantauan/observasi
pasien selama memberikan
pelayanan;
e) Kualifikasi atau
kompetensi staf yang
memberikan pelayanan; dan
f) Ketersediaan dan
penggunaan peralatan medis
khusus untuk pemberian
pelayanan.
W DPJP
PPA lainnya
Staf klinis
3. Pimpinan rumah sakit telah R Regulasi tentang identifikasi 10 TL
mengidentifikasi risiko risiko tambahan yang dapat 5 TS
tambahan yang dapat mempengaruhi pasien dan 0 TT
mempengaruhi pasien dan pelayanan risiko tinggi, sesuai
pelayanan risiko tinggi. penjelasan di maksud dan
tujuan.
Standar PAP 2.1
Rumah sakit memberikan pelayanan geriatri rawat jalan, rawat inap akut dan rawat
inap kronis sesuai dengan tingkat jenis pelayanan.
Standar PAP 2.2
Rumah Sakit melakukan promosi dan edukasi sebagai bagian dari Pelayanan
Kesehatan Warga Lanjut usia di Masyarakat Berbasis Rumah Sakit (Hospital Based
Community Geriatric Service).
Maksud dan Tujuan PAP 2.1 dan PAP 2.2
Pasien geriatri adalah pasien lanjut usia dengan multi penyakit/gangguan akibat
penurunan fungsi organ, psikologi, sosial, ekonomi dan lingkungan yang
membutuhkan pelayanan kesehatan secara tepadu dengan pendekatan multi disiplin
yang bekerja sama secara interdisiplin. Dengan meningkatnya sosial ekonomi dan
pelayanan kesehatan maka usia harapan hidup semakin meningkat, sehingga secara
demografi terjadi peningkatan populasi lanjut usia.
Sehubungan dengan itu rumah sakit perlu menyelenggarakan pelayanan geriatri
sesuai dengan tingkat jenis pelayanan geriatri:
a) Tingkat sederhana (rawat jalan dan home care)
b) Tingkat lengkap (rawat jalan, rawat inap akut dan home care
c) Tingkat sempurna (rawat jalan, rawat inap akut dan home care klinik asuhan
siang)
d) Tingkat paripurna (rawat jalan, klinik asuhan siang, rawat inap akut, rawat
inap kronis, rawat inap psychogeriatri, penitipan pasien Respite care dan
home
care)
Elemen Penilaian PAP 2.1 Instrumen Survei KARS Skor
1. Rumah sakit telah menetapkan R Regulasi tentang tingkat jenis 10 TL
regulasi tentang pelayanan geriatri yang sesuai - -
penyelenggaraan pelayanan dengan kemampuan, sumber 0 TT
geriatri di rumah sakit sesuai daya dan sarana prasarana
dengan kemampuan, sumber rumah sakit, mengacu pada
daya dan sarana prasarana nya. poin a) – d) di maksud – tujuan.
2. Rumah sakit telah menetapkan R Regulasi yang meliputi: 10 TL
tim terpadu geriatri dan telah 1) Penetapan Tim Terpadu 5 TS
menyelenggarakan pelayanan Geriatri 0 TT
sesuai tingkat jenis layanan 2) Pedoman Kerja Tim
Terpadu Geriatri
3) Program Kerja Tim Terpadu
Geriatri.
3. Rumah sakit telah D Bukti pelaksanaan pemantauan 10 TL
melaksanakan proses dan evaluasi kegiatan 5 TS
pemantauan dan evaluasi pelayanan geriatri. 0 TT
kegiatan pelayanan geriatri
W Ketua/anggota Tim
Terpadu Geriatri
Kepala
Bidang/divisi/bagian
Kepala Unit Pelayanan
4. Ada pelaporan D Bukti pelaporan kegiatan 10 TL
penyelenggaraan pelayanan pelayanan geriatri di rumah 5 TS
geriatri di rumah sakit. sakit 0 TT
W Ketua/anggota Tim
Terpadu Geriatri
Kepala Unit Pelayanan
Elemen Penilaian PAP 2.2 Instrumen Survei KARS Skor
1. Ada program PKRS terkait R Ada program PKRS terkait 10 TL
Pelayanan Kesehatan Warga Pelayanan Kesehatan Warga - -
Lanjut usia di Masyarakat Lanjut Usia di Masyarakat 0 TT
Berbasis Rumah Sakit Berbasis Rumah Sakit
(Hospital Based Community (Hospital Based Community
Geriatric Geriatric
Service). Service).
2. Rumah sakit telah memberikan D Bukti laporan pelaksanaan 10 TL
edukasi sebagai bagian dari edukasi sebagai bagian dari 5 TS
Pelayanan Kesehatan Warga Warga Lanjut Usia di 0 TT
Lanjut usia di Masyarakat Masyarakat Berbasis Rumah
Berbasis Rumah Sakit (Hospital Sakit (Hospital Based
Based Community Geriatric Community Geriatric
Service). Service).
W
Kepala/staf PKRS
Ketua/anggota Tim
Terpadu Geriatri
PPA pelayanan geriatri.
3. Rumah sakit telah D 1) Bukti pelaksanaan kegiatan 10 TL
melaksanakan kegiatan sesuai sesuai program 5 TS
program dan tersedia leaflet 2) Bukti leaflet atau alat 0 TT
atau alat bantu kegiatan bantu kegiatan edukasi
(brosur, leaflet, dan lain- memuat materi edukasi
lainnya). tentang pelayanan
kesehatan warga lanjut
usia di masyarakat.
W Kepala/staf PKRS
Ketua/anggota Tim
Terpadu Geriatri
Pasien/keluarga
4. Rumah sakit telah melakukan D Bukti tentang evaluasi dan 10 TL
evaluasi dan membuat laporan laporan meliputi: 5 TS
kegiatan pelayanan secara 1) Pencatatan kegiatan 0 TT
berkala. dengan indikator antara
lain lama rawat inap, status
fungsional, kualitas hidup,
rehospitalisasi dan
kepuasan pasien
2) Bukti pelaporan kegiatan
secara berkala kepada
pimpinan rumah sakit.
W Pimpinan RS
Ketua/anggota Tim
terpadu Geriatri
Standar PAP 2.3
Rumah sakit menerapkan proses pengenalan perubahan kondisi pasien yang
memburuk.
Maksud dan Tujuan PAP 2.3
Staf yang tidak bekerja di daerah pelayanan kritis/intensif mungkin tidak mempunyai
pengetahuan dan pelatihan yang cukup untuk melakukan pengkajian, serta
mengetahui pasien yang akan masuk dalam kondisi kritis. Padahal, banyak pasien di
luar daerah pelayanan kritis mengalami keadaan kritis selama dirawat inap. Seringkali
pasien memperlihatkan tanda bahaya dini (contoh, tandatanda vital yang memburuk
dan perubahan kecil status neurologis) sebelum mengalami penurunan kondisi klinis
yang meluas sehingga mengalami kejadian yang tidak diharapkan.
Ada kriteria fisiologis yang dapat membantu staf untuk mengenali sedini-dininya
pasien yang kondisinya memburuk. Sebagian besar pasien yang mengalami gagal
jantung atau gagal paru sebelumnya memperlihatkan tanda-tanda fisiologis di luar
kisaran normal yang merupakan indikasi keadaan pasien memburuk.
Hal ini dapat diketahui dengan early warning system (EWS). Penerapan EWS
membuat staf mampu mengidentifikasi keadaan pasien memburuk sedini-dininya
dan bila perlu mencari bantuan staf yang kompeten. Dengan demikian, hasil asuhan
akan lebih baik.
Pelaksanaan EWS dapat dilakukan menggunakan sistem skor oleh PPA yang terlatih.
Elemen Penilaian PAP 2.3 Instrumen Survei KARS Skor
1. Rumah sakit telah menerapkan D Bukti di rekam medis tentang 10 TL
proses pengenalan perubahan penerapan proses pengenalan 5 TS
kondisi pasien yang memburuk perubahan kondisi pasien yang 0 TT
(EWS) dan memburuk (EWS).
mendokumentasikannya di
dalam rekam medik pasien. W Staf klinis
W Staf klinis
Staf Diklat
Standar PAP 2.4
Pelayanan resusitasi tersedia di seluruh area rumah sakit.
D Daftar tilik/checklist
W Staf klinis
3. Di seluruh area rumah sakit, D Bila ada, bukti laporan 10 TL
bantuan hidup dasar diberikan pelaksanaan BHD / BHL, 5 TS
segera saat dikenali henti termasuk evaluasi terhadap 0 TT
jantung-paru dan bantuan pelaksanaan sebenarnya
hidup lanjut diberikan kurang resusitasi atau terhadap
dari 5 menit. simulasi pelatihan resusitasi di
rumah sakit.
S Peragaan BHD
Peragaan aktivasi code blue
4. Staf diberi pelatihan pelayanan D Bukti pelaksanaan pelatihan 10 TL
bantuan hidup dasar/lanjut bagi staf tentang pelayanan 5 TS
sesuai dengan ketentuan resusitasi berupa: TOR, 0 TT
rumah sakit. undangan, daftar hadir, materi,
laporan, evaluasi, sertifikat.
W Staf klinis
Staf RS
tri
Diklat
Standar PAP 2.5
Pelayanan darah dan produk darah dilaksanakan sesuai dengan panduan klinis serta
prosedur yang ditetapkan rumah sakit.
W DPJP
PPJA
Staf klinis
Kepala/staf unit
laboratorium/unit BDRS
(Bank Darah)
2. Panduan klinis dan prosedur O Pelayanan darah dan produk 10 TL
disusun dan diterapkan untuk darah dilaksanakan sesuai 5 TS
pelayanan darah serta produk regulasi/PPK. 0 TT
darah.
W PPA
Kepala/staf unit
laboratorium/unit BDRS
(Bank Darah)
3. Staf yang kompeten D Bukti Penanggung jawab 10 TL
bertanggungjawab terhadap Pelayanan Darah kompeten 5 TS
pelayanan darah di rumah dan berwenang. 0 TT
sakit.
O Bukti pelaksanaan pelayanan
darah dilakukan oleh staf yang
kompeten dan berwenang (SPK
dan RKK).
W DPJP
PPJA
Staf klinis
Kepala/staf
unit
laboratorium/unit BDRS
(Bank Darah)
C. PEMBERIAN MAKANAN DAN TERAPI NUTRISI
Standar PAP 3
Rumah sakit memberikan makanan untuk pasien rawat inap dan terapi nutrisi
terintegrasi untuk pasien dengan risiko nutrisional.
W PPA
Kepala instalasi/unit Gizi
Pasien/Keluarga
2. Sebelum pasien rawat inap D Bukti dalam rekam medis 10 TL
diberi makanan, terdapat tentang instruksi 5 TS
instruksi pemberian makanan pemberian makanan pasien 0 TT
dalam rekam medis pasien sesuai dengan status gizi
yang didasarkan pada status dan kebutuhan pasien.
gizi dan kebutuhan pasien.
W PPA
Nutrisionis/dietisien
3. Untuk makanan yang D 1) Makanan dari luar rumah 10 TL
disediakan keluarga, edukasi sakit dapat diadakan sesuai 5 TS
diberikan mengenai batasan- ketentuan RS 0 TT
batasan diet pasien dan 2) Bukti pemberian edukasi
penyimpanan yang baik untuk tentang batasan-batasan
mencegah kontaminasi. diet pasien dan
penyimpanan yang baik
untuk mencegah
kontaminasi bila makanan
disediakan oleh keluarga,
W Staf klinis
Nutrisionis/dietisien
Pasien/keluarga
4. Memiliki bukti pemberian D 1) Bukti dalam rekam medis 10 TL
terapi gizi terintegrasi (rencana, tentang pemberian terapi 5 TS
pemberian dan evaluasi) pada gizi terintegrasi pada 0 TT
pasien risiko gizi. pasien risiko gizi mencakup
rencana, pemberian dan
evaluasi terapi gizi
2) Bukti terapi gizi terintegrasi
berupa pendokumentasian
IAR oleh Dietisien direviu-
verifikasi oleh DPJP
(Lihat juga Std AKP 3 pada
maksud dan tujuan poin e)).
W PPA
Staf klinis
Nutrisionis/dietisien
5. Pemantauan dan evaluasi D Bukti dalam rekam medis 10 TL
terapi gizi dicatat di rekam tentang hasil evaluasi dan 5 TS
medis pasien. monitoring terapi gizi. 0 TT
W PPA
Staf klinis
Nutrisionisampai
denganietisien
Pasien/keluarga
D. PENGELOLAAN NYERI
Standar PAP 4
Pasien mendapatkan pengelolaan nyeri yang efektif.
Maksud dan Tujuan PAP 4
Pasien berhak mendapatkan pengkajian dan pengelolaan nyeri yang tepat. Rumah
sakit harus memiliki proses untuk melakukan skrining, pengkajian, dan tata laksana
untuk mengatasi rasa nyeri, yang terdiri dari:
a) Identifikasi pasien dengan rasa nyeri pada pengkajian awal dan pengkajian ulang.
b) Memberi informasi kepada pasien bahwa rasa nyeri dapat merupakan akibat
dari terapi, prosedur, atau pemeriksaan.
c) Memberikan tata laksana untuk mengatasi rasa nyeri, terlepas dari mana nyeri
berasal, sesuai dengan regulasi rumah sakit.
d) Melakukan komunikasi dan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai
pengelolaan nyeri sesuai dengan latar belakang agama, budaya, nilai-nilai yang
dianut.
e) Memberikan edukasi kepada seluruh PPA mengenai pengkajian dan pengelolaan
nyeri.
Elemen Penilaian PAP 4 Instrumen Survei KARS Skor
1. Rumah sakit memiliki proses R 1) Regulasi tentang proses 10 TL
untuk melakukan skrining, untuk melakukan skrining, 5 TS
pengkajian, dan tata laksana pengkajian, dan tata 0 TT
nyeri meliputi poin a) - e) pada laksana nyeri meliputi :
maksud dan tujuan. a) Identifikasi pasien
dengan rasa nyeri pada
pengkajian awal dan
pengkajian ulang
b) Pemberian informasi
kepada pasien bahwa
rasa nyeri dapat
merupakan akibat dari
terapi, prosedur, atau
pemeriksaan.
c) Tata laksana untuk
mengatasi rasa nyeri,
terlepas dari mana
nyeri berasal
d) Komunikasi dan
edukasi kepada pasien
dan keluarga mengenai
pengelolaan nyeri
sesuai dengan latar
belakang agama,
budaya, nilai-nilai yang
dianut.
e) Edukasi kepada seluruh
PPA mengenai
pengkajian dan
pengelolaan nyeri.
2) Regulasi termasuk
Pengkajian awal pada
pasien nyeri
hebat/membutuhkan
penanganan segera, terdiri
dari skrining
(rapid assessment)
dan pengkajian lanjutan.
(Lihat Std PP 1 EP
1).
2. Informasi mengenai D Bukti pelaksanaan tentang 10 TL
kemungkinan adanya nyeri dan pemberian informasi 5 TS
pilihan tata laksananya kemungkinan timbulnya nyeri 0 TT
diberikan kepada pasien yang dan pilihan tata laksananya
menerima terapi/ prosedur/ diberikan kepada pasien yang
pemeriksaan terencana yang menerima
sudah dapat diprediksi terapi/prosedur/pemeriksaan
menimbulkan rasa nyeri. terencana yang sudah dapat
diprediksi menimbulkan rasa
nyeri.
W DPJP
PPJA
Staf klinis
Pasien/keluarga
3. Pasien dan keluarga D Bukti pasien dan keluarga 10 TL
mendapatkan edukasi mendapatkan edukasi 5 TS
mengenai pengelolaan nyeri mengenai pengelolaan nyeri 0 TT
sesuai dengan latar belakang sesuai dengan latar belakang
agama, budaya, nilai-nilai yang agama, budaya, nilai-nilai yang
dianut. dianut. Lihat juga Std KE 4 EP b)
dan Std KE 5, HPK 1.2 EP 1 dan 2.
W DPJP
PPJA
Staf klinis
Pasien/Keluarga.
4. Staf rumah sakit mendapatkan D Bukti pelaksanaan pelatihan 10 TL
pelatihan mengenai cara staf mengenai cara melakukan 5 TS
melakukan edukasi bagi edukasi bagi pengelolaan nyeri, 0 TT
pengelolaan nyeri. berupa: TOR, Undangan, daftar
hadir, materi, laporan, evaluasi,
sertifikat. Lihat juga Std KE 7.
PPA
W
Staf klinis
E. PELAYANAN MENJELANG AKHIR KEHIDUPAN
Standar PAP 5
Rumah sakit memberikan asuhan pasien menjelang akhir kehidupan dengan
memperhatikan kebutuhan pasien dan keluarga, mengoptimalkan kenyamanan dan
martabat pasien, serta mendokumentasikan dalam rekam medis.
Maksud dan Tujuan PAP 5
Skrining dilakukan untuk menetapkan bahwa kondisi pasien masuk dalam fase
menjelang ajal. Selanjutnya, PPA melakukan pengkajian menjelang akhir kehidupan
yang bersifat individual untuk mengidentifikasi kebutuhan pasien dan keluarganya.
Pengkajian pada pasien menjelang akhir kehidupan harus menilai kondisi pasien
seperti:
1) Manajemen gejala dan respons pasien, termasuk mual, kesulitan bernapas, dan
nyeri.
2) Faktor yang memperparah gejala fisik.
3) Orientasi spiritual pasien dan keluarganya, termasuk keterlibatan dalam
kelompok agama tertentu.
4) Keprihatinan spiritual pasien dan keluarganya, seperti putus asa, penderitaan,
rasa bersalah.
5) Status psikososial pasien dan keluarganya, seperti kekerabatan, kelayakan
perumahan, pemeliharaan lingkungan, cara mengatasi, reaksi pasien dan
keluarganya menghadapi penyakit.
6) Kebutuhan bantuan atau penundaan layanan untuk pasien dan keluarganya.
7) Kebutuhan alternatif layanan atau tingkat layanan.
8) Faktor risiko bagi yang ditinggalkan dalam hal cara mengatasi dan potensi reaksi
patologis.
9) Pasien dan keluarga dilibatkan dalam pengambilan keputusan asuhan.
Elemen Penilaian PAP 5 Instrumen Survei KARS Skor
1. Rumah sakit menerapkan D 1) Bukti dalam rekam medis 10 TL
pengkajian pasien menjelang tentang penerapan 5 TS
akhir kehidupan dan dapat pengkajian pasien 0 TT
dilakukan pengkajian ulang menjelang akhir
sampai pasien yang memasuki kehidupan, didahului
fase akhir kehidupannya, skrining.
dengan memperhatikan poin 1) 2) Selanjutnya dilakukan
– 9) pada maksud dan tujuan. pengkajian awal yg khusus
pada fase menjelang akhir
kehidupan. Kemudian akan
dilakukan dengan
pengkajian ulang).
3) Bukti pengkajian ulang
sampai pasien yang
memasuki fase akhir
kehidupannya, meliputi:
a) Gejala dan respons
pasien, termasuk mual,
kesulitan bernapas,
dan nyeri.
b) Faktor yang
memperparah gejala
fisik.
c) Orientasi spiritual
pasien dan
keluarganya, termasuk
keterlibatan dalam
kelompok agama
tertentu.
d) Keprihatinan spiritual
pasien dan
keluarganya, seperti
putus asa, penderitaan,
rasa bersalah.
e) Status psikososial
pasien dan
keluarganya, seperti
kekerabatan, kelayakan
perumahan,
pemeliharaan
lingkungan, cara
mengatasi, reaksi
pasien dan keluarganya
menghadapi penyakit.
f) Kebutuhan bantuan
atau penundaan
layanan untuk pasien
dan keluarganya.
g) Kebutuhan alternatif
layanan atau tingkat
layanan.
h) Faktor risiko bagi yang
ditinggalkan dalam hal
cara mengatasi dan
potensi reaksi
patologis.
i) Pasien dan keluarga
dilibatkan dalam
pengambilan
keputusan asuhan,
termasuk keputusan
do not
resuscitate/DNR.
Lihat juga HPK 2.2.
W
PPA
Staf klinis
Pasien/keluarga.
2. Asuhan menjelang akhir D Bukti dalam rekam medis 10 TL
kehidupan ditujukan terhadap asuhan menjelang akhir 5 TS
kebutuhan psikososial, kehidupan ditujukan terhadap 0 TT
emosional, kultural dan kebutuhan biopsiko-sosial,
spiritual pasien dan emosional, budaya, dan
keluarganya. spiritual pasien dan keluarga.
W PPA
Staf klinis
Pasien/keluarga