BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kehamilan
2.1.1 Definisi Kehamilan
Kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya hamil normal
adalah 280 hari/40 minggu, dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT) hingga
dimulainya persalinan sejati. Yang menandai awal terjadinya periode antepartum
(Varney Helen, 2007).
Kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa
dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Kehamilan normal akan
berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan (Prawirohardjo, 2009).
2.1.2 Perubahan Fisiologis Kehamilan pada Trimester III
1. Sistem reproduksi
a. Vagina dan Vulva
Dinding vagina mengalami banyak perubahan yang merupakan persiapan untuk
mengalami peregangan pada waktu persalinan dengan meningkatnya ketebalan
mukosa, mengendornya jaringan ikat, dan hipertropi sel otot polos. Perubahan
ini mengakibatkan panjangnya dinding vagina.
b. Serviks uteri
Terjadi penurunan lebih lanjut dari konsentrasi kolagen. Konsentrasinya
menurun secara nyata dari keadaan yang relatif dilusi dalam keadaan menyebar
(dispersi). Proses perbaikan serviks terjadi setelah persalinan sehingga siklus
kehamilan yang berikutnya akan berulang.
c. Uterus
Uterus akan terus membesar dalam rongga pelvis dan seiring perkembangannya
uterus akan menyentuh dinding abdomen, mendorong usus kesamping dan
keatas, terus tumbuh hingga menyentuh hati. Pada saat pertumbuhan uterus
akan berotasi kearah kanan, dekstrorotasi ini disebabkan oleh adanya
rektosigmoid di daerah kiri pelvis.
d. Ovarium
Korpus luteum sudah tidak berfungsi lagi karena telah digantikan oleh plasenta
yang telah terbentuk.
2. Sistem payudara
Pertumbuhan kelenjar mamae membuat ukuran payudara semakin meningkat.
Pada kehamilan warna cairan agak putih seperti air susu yang sangat encer. Dari
kehamilan sampai anak lahir, cairan yang keluar lebih kental, berwarna kuning,
dan banyak mengandung lemak. Cairan ini disebut kolostrum.
3. Sistem endokrin
Kelenjar tiroid akan mengalami perbesaran hingga 15 ml pada saat persalinan
akibat dari hiperplasi kelenjar dan peningkatan vaskularisasi. Pengaturan
konsentrasi kalsium sangat berhubungan erat dengan magnesium, fosfat, hormon
pada tiroid, vitamin D dan kalsium. Adanya gangguan pada salah satu faktor itu
akan menyebabkan perubahan pada yang lainnya. Konsentrasi plasma hormon
pada tiroid akan menurun pada trimester I dan kemudian akan meningkat secara
progresif. Aksi penting dari hormon paratiroid adalah untuk memasuk janin
dengan kalsium yang adekuat. Selain itu, untuk produksi peptida pada janin,
plasenta dan ibu.
4. Sistem perkemihan
Kepala janin mulai turun ke pintu atas panggul keluhan sering kencing akan timbul
karena kandung kencing mulai tertekan. Pada kehamilan tahap lanjut pelvis ginjal
kanan dan ureter lebih berdelatasi ke pelvis kiri akibat pergeseran uterus yang
berat kek kanan. Perubahanini membuat pelvis dan ureter mampu menampung
urin dalam volume yang lebih besar dan juga memperlambat laju aliran urin.
5. Sistem pencernaan
Biasanya terjadi konstipasi karena pengaruh hormon progesteron yang meningkat.
Selain itu perut kembung terjadi karena adanya tekanan uterus yang membesar
dalam rongga perut yang mendesak organ-organ dalam perut khususnya saluran
pencernaan, usus besar, ke arah atas dan lateral.
6. Sistem muskuloskeletal
Sendi pelvic pada kehamilan sedikit bergerak. Perubahan tubuh secara bertahan
dan peningkatan berat wanita hamil menyebabkan postur dan cara berjalan wanita
berubah secara menyolok. Peningkatan distensi abdomen yang membuat panggul
miring ke depan, penurunan tonus otot dan peningkatan beban berat badan pada
akhir kehamilan membutuhkan penyesuaian ulang.
7. Sistem kardiovaskuler
Selama kehamilan jumlah leukosit akan meningkat yakni berkisar antara 5000 –
12000 dan mencapai puncaknya pada saat persalinan dan masa nifas berkisar
14000 – 16000. Pada kehamilan trimester tiga terjadi peningkatan jumlah
granulosit dan limfosit dan secara bersamaan limfosit dan monosit.
8. Sistem integumen
Kulit dinding perut akan terjadi perubahan warna menjadi kemerahan, kusam dan
kadang-kadang juga mengenai daerah payudara dan paha, perubahan ini disebut
striae gravidarum. Pada multipara selain striae kemerahan juga ditemukan garis
berwarna perak berkilau yang merupakan sikatrik dari striae sebelumnya. Pada
perempuan kulit digaris pertengahan perut akan berubah menjadi hitam kecoklatan
yang disebut linea nigra. Kadang muncul pada wajah dan leher yang disebut
cloasma gravidarum, selain itu pada aerola dan area genetalia juga terlihat
pigmentasi yang berlebihan.
9. Sistem metabolisme
Perubahan metabolisme adalah metabolisme basal naik sebesar 15% - 20% dari
semula terutama pada terimester tiga.
a. Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari 5 mEq/liter menjadi 145
mEq/liter disebabkan hemodulasi darah dan kebutuhan mineral ynag diperlukan
janin.
b. Kebutuhan protein wanita hamil berkisar ½ gr/kg BB atau sebutir telit ayam
sehari untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, perkembangan organ
kehamilan janin dan persiapan laktasi.
c. Kebutuhan kalori di dapat dari kabohidrat, lemak dan protein.
d. Kebutuhan zat mineral untuk inu hamil meliputi:
1) Um 1,5 gr/hari, 30 – 40 gr untuk pembentukan tulang janin
2) Fosfor rata-rata 2 gr/hari
3) Zat besi 800 mgr atau 30-50 mgr/hari, ibu hamil juga memerlukan cukup
banyak air.
10. Sistem berat badan dan indeks masa tubuh
Kenaikan berat badan sekitar 5,5 kg dan sampai akhir kehamilan 11-12 kg.
Pertambahan berat badan ibu hamil menggambarkan status gizi selama hamil. Jika
terjadi keterlambatan penambahan berat badan ibu, dapat menyebabkan malnutrisi
sehingga mengganggu pertumbuhan janin dalam intra uteri (Romauli Suryati,
2011).
Tabel 2.1
Rekomendasi penambahan BB selama kehamilan berdasarkan IMT
Kategori IMT Rekomendasi (kg)
Rendah <19,8 12,5 – 18
Normal 19,8 – 26 11,5 – 16
Tinggi 26 – 29 7 – 11,5
Obesitas >29 ≥7
Gemeli - 16 – 20,5
Sumber : Prawirohardjo, 2009. Ilmu Kebidanan.
Pada trimester ke-2 dan ke-3 pada perempuan dengan gizi baik dianjurkan
menambah berat badan perminggu sebesar 0,4 kg. Sementara pada perempuan
dengan berat badan kurang atau berlebih dianjurkan menambah berat badan
perminggu masing-masing 0,5 kg atau 0,3 kg (Prawirohardjo, 2009).
Tabel 2.2
Penambahan BB selama kehamilan
Jaringan dan Cairan 10 minggu 20 minggu 30 minggu 40 minggu
Janin 5 300 1500 3400
Plasenta 20 170 430 650
Cairan amnion 30 350 750 800
Uterus 140 320 600 970
Mammae 45 180 360 405
Darah 100 600 1300 1450
Cairan ekstraselular 0 30 80 1480
Lemak 310 2050 3480 3345
Total 650 4000 8500 12500
Sumber : Prawirohardjo, 2009. Ilmu Kebidanan.
11. Sistem persyarafan
a. Kompresi saraf panggul atau statis vaskular akibat pembesaran uterus dapat
menyebabkan perubahan sensori di tungkai bawah.
b. Lordosis dorsolumbal dapat menyebabkan nyeri akibat tarikan pada saraf atau
kompresi akar saraf.
c. Edema yang melibatkan saraf periver dapat menyebabkan carpal tunnel
syndrome selama trimester kehamilan ketiga. Edema menekan saraf median
bagian bawah ligamentum karpalis pergelangan tangan.
d. Akroestesia disebabkan posisi bahu yang membungkuk. Keadaan ini berkaitan
dengan tarikan pada segmen fleksus drakialis.
e. Nyeri kepala akibat ketegangan umu timbul saat ibu merasa cemas dan tidak
pasti tentang kehamilannya.
f. Hipokalsenia dapat menyebabkan timbulnya masalah neuromuskular, seperti
kram otot atau tetani.
12. Sistem pernapasan
Pada 32 minggu ke atas karena usus-usus tertekan uterus yang membesar ke arah
diafragma sehingga diafragma kurang leluasa bergerak mengakibatkan wanita
hamil derajat kesulitan bernafas.
(Romauli Suryati, 2011)
2.1.3 Perubahan dan Adaptasi Psikologis pada Trimester III
1. Rasa tidak nyaman timbul kembali, merasa dirinya jelek, aneh, dan tidak menarik.
2. Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak hadir tepat waktu.
3. Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat melahirkan, khawatir
akan keselamatannya.
4. Khawatir bayi akan dilahirkan dalam keadaan tidak normal, bermimpi yang
mencerminkan perhatian dan kekhawatirannya.
5. Merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya.
6. Merasa kehilangan perhatian.
7. Perasaan mudah terluka (sensitif).
8. Libido menurun.
(Romauli Suryati, 2011)
2.1.4 Ketidaknyamanan pada Trimester III
1. Definisi Kram kaki
Kram kaki adalah kontraksi keras pada otot betis atau otot telapak kaki
(Maulana, 2012).
Kram kaki adalah spasme otot nyeri intermiten pada otot tungkai bawah,
ditandai dengan sensasi kedutan sampai rasa terbakar (Tharpe N, 2008).
Kram atau kejang otot pada kaki adalah berkontraksinya otot-otot betis atau
otot-otot telapak kaki secara tiba-tiba yang cenderung menyerang pada malam hari
lamanya sekitar 1-2 menit (Syafrudin, 2011).
2. Klasifikasi Kram Kaki
a. Derajat I / Mild strain
Yaitu adanya cidera akibat penggunaan yang berlebihan pada penguluran unit
muskulotendinous yang ringan berupa stretching/kerobekan ringan pada
otot/ligamen.
1) Gejala yang timbul
a) Nyeri lokal
b) Meningkat apabila bergerak/bila ada beban pada otot
2) Tanda-tandanya
a) Adanya spasme otot ringan
b) Bengkak
c) Gangguan kekuatan otot
3) Komplikasi
a) Strain dapat berkurang
b) Tendonitis
c) Perioritis
4) Perubahan patologi
Adanya inflasi ringan dan mengganggu jaringan otot namun tanda
perdarahan yang besar.
5) Terapi
Biasanya sembuh dengan cepat dan pemberian istirahat, kompresi dan
elevasi, terapi latihan yang dapat membantu mengembalikan kekuatan otot.
b. Derajat II / Moderate strain
Yaitu adanya cidera pada unit muskulotendinous akibat kontraksi/pengukuran
yang berlebihan.
1) Gejala yang timbul
a) Nyeri lokal
b) Meningkat apabila bergerak/apabila ada tekanan otot
2) Tanda-tandanya
a) Spasme otot sedang
b) Bengkak
c) Terderness
d) Gangguan kekuatan otot dan fungsi sedang
3) Komplikasi sama seperti pada derajat I
a) Strain dapat berulang
b) Tendonitis
c) Perioritis
4) Terapi
a) Impobilisasi pada daerah cidera
b) Istirahat
c) Kompresi
d) Elevasi
5) Perubahan patologi
Adanya robekan serabut otot.
c. Derajat III / Strain severe
Yaitu adanya tekanan/penguluran mendadak yang cukup berat. Berupa tekanan
penuh pada otot dan ligamen yang menghasilkan ketidakstabilan sendi.
1) Gejala yang timbul
a) Nyeri yang berat
b) Adanya stabilitas
c) Spasme kuat
d) Bengkak
e) Tenderness
f) Gangguan fungsi otot
2) Komplikasi
Distabilitas yang sama.
3) Perubahan patologi
Adanya robekan/tendon dengan terpisahnya otot dengan tendon.
4) Terapi
Imobilisai dengan kemungkinan pembedahan untuk mengembalikan
fungsinya.
(Syafrudin, 2011).
3. Penyebab terjadinya kram kaki
Untuk melakukan kontraksi dan relaksasi secara normal, otot-otot kaki
memerlukan cadangan lemak dan gula yang cukup untuk sumber energi. Bila
sumber energi yang dibutuhkan otot tidak mencukupi, timbulah kejang otot.
Penyebabnya yaitu :
a. Kejang otot yang terlalu keras, sehingga asam laktat yang dihasilkan oleh otot
tertimbun dalam darah
b. Kurangnya asupan mineral, pada kalsium dalam darah
c. Pekerjaan ibu yang terlalu banyak berdiri
d. Tekanan rahim pada beberapa titik saraf yang berhubungan dengan kram kaki
e. Menyempitnya pembuluh darah halus (kapiler)
f. Gangguan aliran darah akibat pembuluh darah yang tertekan atau pemakaian
sepatu yang sempit
(Syafrudin, 2011)
4. Pencegahan kram kaki
a. Hindari pekerjaan berdiri dalam waktu yang lama
b. Lakukan olah raga ringan, peregangan pada otot betis dan latihan bersila
c. Posisi tidur dengan kaki lurus dapat meningkatkan kejadian kram
d. Mengurangi makanan yang mengandung sodium (garam)
e. Meninggikan posisi kaki, termasuk kaki dengan bantal saat tidur
f. Mengurut kaki secara teratur dari jari-jari hingga paha
(Syafrudin, 2011)
5. Penatalaksanaan kram kaki saat hamil
Kram kaki dapat diatasi dengan cara :
a. Meregangkan otot yang kejang, duduk lalu luruskan kaki yag kejang. Tekan
kuat-kuat bagian telapak kaki dengan jari-jari tangan, tahan dan ulangi gerakan
hingga beberapa kali.
b. Bila otot kejang sudah mengendur, secara perlahan pijatlah seluruh otot betis
setiap beberapa detik sekali dengan menggunakan seluruh telapak tangan lalu
bisa juga mengompres otot dengan air hangat atau merendam kaki dengan air
hangat, agar aliran darah di kaki menjadi lancar.
c. Meningkatkan konsumsi makanan yang tinggi kalsium dan magnesium, seperti
sayuran, susu dan aneka produk olahan lain.
d. Jika kram datang pada malam hari, bangunlah dari tempat tidur. Lalu berdiri
selama beberapa saat, tetep lakukan meski kaki terasa sakit.
(Syafrudin, 2011)
6. Efek Kram Kaki pada kehamilan, bersalin, dan masa nifas
Efek dari kram kaki yang ditimbulkan yaitu kaki cepat lelah dan kesemutan. Bila
ibu hamil memakai sepatu hak tinggi lebih dari 5 cm, maka posisi tubuh akan
bertumpuh pada jari kaki ibu. Sehingga akan mengganggu ibu saat berjalan,
karena akan menimbulkan rasa nyeri dan tidak nyaman. Dan kram kaki dapat
menentukan aliran darah ke jantung dan menyebabkan varises. Jika terus dibiarkan
akan mengakibatkan pembuluh darah vena bisa pecah atau terjadi akumulasi dan
menyebabkan pembekuan darah (Krisnawati dkk, 2012).
Menurut Maulana (2012), kram kaki dapat diatasi dengan cara pastikan ibu
untuk mendapat cukup kalsium dalam makanan. Salah satu makanan dengan
kandungan gizi yang lengkap adalah susu. Susu mengandung kalsium bagi
pertumbuhan tulang dan gigi janin, serta melindungi ibu hamil dari penyakit
osteoporosis (keropos tulang). Jika kebutuhan kalsium ibu hamil tidak tercukupi,
maka kekurangan kalsium akan diambil dari tulang ibunya. Sumber kalsium yang
lain adalah keju, yogurt, sayuran hijau dan kacang-kacangan.
2.1.5 Kebutuhan Dasar Ibu Hamil Trimester III
1. Oksigen
Kebutuhan oksigen adalah yang utama pada manusia termasuk ibu hamil.
Berbagai gangguan pernapasan bisa terjadi pada saat hamil sehingga akan
menggangu pemenuhan kebutuhan oksigen pada ibu yang akan berpengaruh pada
bayi yang dikandung.
2. Nutrisi
Makanan harus disesuaikan dengan keadaan ibu. Bila ibu hamil memiliki
kelebihan berat badan, maka makanan pokok dan tepung-tepung dikurangi dan
memperbanyak sayuran serta buah segar untuk menghindari sembelit.
3. Personal hygiene
Kebersihan harus dijaga pada masa hamil. Mandi dianjurkan minimal 2 kali sehari
karena ibu hamil cenderung mengeluarkan banyak keringat, menjaga kebersihan
diri terutama lipatan kulit (ketiak, bawah buah dada, daerah genetalia) dengan cara
dibersihkan dengan air dan dikeringkan. Kebersihan gigi dan mulut, perlu
mendapat perhatian karena seringkali mudah terjadi gigi berlubang, terutama pada
ibu yang kekurangan kalsium. Rasa mual selama masa hamil dapat mengakibatkan
perburukan hyhiene mulut dan dapat menimbulkan karies gigi.
4. Pakaian
Pemakaian pakaian dan kelengkapannya yang kurang tepat akan mengakibatkan
beberapa ketidaknyamanan yang akan mengganggu fisik dan psikologis ibu.
5. Eliminasi
Desakan usus oleh pembesaran janin dapat menyebabkan bertambahnya
konstipasi. Pencegahannya adalah mengonsumsi makanan tinggi serat dan banyak
minum air putih. Selain itu, pembesaran janin juga menyebabkan desakan pada
kantong kemih. Tindakan mengurangi asupan cairan tidak dianjurkan, karena
menyebabkan dehidrasi.
6. Seksual
Selama kehamilan berjalan normal, coitus diperbolehkan sampai akhir kehamilan.
Coitus tidak dibenarkan bila terdapat perdarahan pervaginam, riwayat abortus
berulang, abortus / partus prematurus imminens (PPI), ketuban pecah sebelum
waktunya.
7. Mobilisasi
Ibu hamil boleh melakukan kegiatan/aktivitas fisik biasa selama tidak terlalu
melelahkan. Ibu hamil dapat dianjurkan untuk melakukan pekerjaan rumah dengan
dan secara berirama dengan menghindari gerakan menyentak, sehingga
mengurangi ketegangan pada tubuh dan menghindari kelelahan.
8. Istirahat
Wanita hamil dianjurkan untuk merencanakan istirahat yang teratur khususnya
seiring kemajuan kehamilannya. Tidur pada malam hari selama kurang lebih 8 jam
dan istirahat dalam keadaan rileks pada siang hari selama 1 jam.
9. Imunisasi
Imunisasi selama kehamilan sangat penting dilakukan untuk mencegah penyakit
yang dapat menyebabkan kematian ibu dan janin. Jenis imunisasi yang diberikan
adalah Tetanus Toxoid (TT) yang dapat mencegah penyakit tetanus pada bayi
yang akan dilahirkan dan keuntungan bagi wanita untung mendapatkan kekebalan
aktif terhadap tetanus Long Card (LLC).
10. Travelling
Meskipun dalam keadaan hamil, ibu masih membutuhkan reaksi untuk
menyegarkan pikiran dan perasaan, misalnya dengan mengunjungi objek wisata
atau pergi keluar kota.
11. Persiapan laktasi
Payudara merupakan aset yang sangat penting sebagai persiapan menyambut
kelahiran bayi dalam proses menyusui.
12. Persiapan pesalinan dan kelahiran bayi
Rencana persalinan adalah rencana tindakan yang dibuat oleh ibu, anggota
keluarganya dan Bidan. 5 komponen penting dalam rencana persalinan :
a. Langkah 1 : membuat rencana persalinan
b. Langkah 2 : membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi
kegawatdaruratan pada saat pengambilan keputusan utama tidak ada
c. Langkah 3: mempersiapkan sistem transportasi jika terjadi kegawatdaruratan
d. Langkah 4 : membuat rencana/pola menabung
e. Langkah 5 : mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk persalinan
(Romauli Suryati, 2011)
2.1.6 Tanda Bahaya Kehamilan
1. Perdarahan pervagina
a. Plasenta previa
Keadaan dimana plasenta berimplitasi pada tempat abnormal, yaitu pada
segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir.
b. Solusio plasenta
Suatu keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas sebagian atau
seluruhnya sebelum janin lahir, biasanya dihiyung sejak usia kehamilan lebih
dari 28 minggu.
2. Sakit kepala yang hebat
a. Sakit kepala bisa terjadi selama kehamilan, dan sering kali merupakan
ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan
b. Sakit kepala yang menunjukkan masalah serius adalah sakit kepala yang hebat
yang menetap dan tidak hilang setelah beristirahat
c. Kadang-kadang dengan sakit kepala yang hebat tersebut ibu mungkin merasa
penglihatannya menjadi kabur atau berbayang
d. Sakit kepala yang hebat dalam kehamilan adalah gejala dari pre-eklampsi
3. Penglihatan kabur
a. Oleh karena pengaruh hormonal, ketajaman penglihatan ibu dapat berubah
selama proses kehamilan
b. Perubahan ringan (minor) adalah normal
c. Masalah visual yang mengindikasikan keadaan yang mengancam jiwa adalah
perubahan visual yang mendadak, misalnya pandangan yang kabur atau
berbayang secara mendadak
d. Perubahan penglihatan ini mungkin disertai dengan sakit kepalayang hebat dan
mungkin merupakan gejala dari pre-eklampsia
4. Bengkak di wajah dan jari-jari tangan
a. Hampir dari separuh ibu hamil akan mengalami bengkak yang normal pada
kaki yang biasanya muncul pada sore hari dan biasanya hilang setelah
beristirahat dengan meninggikan kaki
b. Bengkak bisa menunjukkan adanya masalah serius jika muncul pada muka dan
tangan, tidak hilang setelah beristirahat, dan disertai dengan keluhan fisik yang
lain
c. Hal ini dapat merupakan pertanda anemia, gagaljantung atau pre-eklampsia
5. Keluar Cairan pervagina
a. Harus dapat dibedakan antara urine dengan air ketuban
b. Jika keluarnya cairan ibu tidak terasa, berbau amis, dan warna putih keruh,
berarti yang keluar adalah air ketuban
c. Jika kehamilan belum cukup bulan, hati-hatiakan adanya persalinan preterm
dan komplikasi infeksi intrapartum
6. Gerakan janin tidak terasa
a. Kesejahteraan janin dapat diketahui dari keaktifan gerakannya
b. Minimal adalah 10 kali dalam 24 jam
c. Jika kurang dari itu, maka waspada akan adanya gangguan janin dalam rahim,
misalnya asfiksia janin sampai kematian jani
7. Nyeri perut yang hebat
a. sebelumnya harus dibedakan nyeri yang dirasakan adalah bukan his seperti
pada persalinan
b. pada kehamilan lanjut, jika ibu merasakan nyeri yang hebat, tidak berhenti
setelah beristirahat, disertai dengan tanda-tanda syok yang membuat keadaan
umum ibu makin lama maik memburuk, dan disertai perdarahan yang tidak
sesuai dengan beratnya syok, maka kita harus waspada akan kemungkinan
terjadinya solusio plasenta
(Sulistyawati, 2012)
2.1.7 Asuhan Kehamilan Terpadu
Dalam melakukan pemeriksaan antenatal, tenaga kesehatan harus memberikan
pelayanan yang berkualitas sesuai standart menurut (KemenKes, 2010) yang terdiri
dari :
1. Timbang Berat Badan
Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk
mendeteki adanya gangguan pertumbuhan janin. Penambahan berat badan yang
kurang dari 9 kg selama kehamilan atau kurang dari 1 kg setiap bulannya
menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan janin.
2. Ukur Lingkar Lengan Atas (LILA)
Pengukuran LILA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk skrining ibu hamil
beresiko kurang energi kronis (KEK). Kurang energi kronis disini maksudnya ibu
hamil mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama (beberapa
bulan/tahun) dimana kurang dari 23,5 cm. Ibu hamil dengan KEK akan dapat
melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR).
3. Ukur Tekanan Darah
Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan untuk
mendeteksi adanya hipertensi (tekanan darah < 140/90 mmHg) pada kehamilan
dan pre-eklamsia (hipertensi disertai edema wajah dan atau tungkai bawah dan
atau proteinuria).
4. Ukur Tinggi Fundus Uteri (TFU)
Pengukuran tinggi fundus uteri pada setiap kali kunjungan antenatal dilakukan
untuk mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak dengan umur kehamilan.
Jika tinggi fundus tidak sesuai dengan umur kehamilan, kemungkinan ada
gangguan pertumbuhan janin. Standar pengukuran menggunakan pita pengukur
setelah kehamilan 24 minggu.
5. Hitung Denyut Jantung Janin (DJJ)
Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya setiap kali
kunjungan antenatal. DJJ lamat kurang dari 120x/menit atau DJJ cepat lebih dari
160x/menit menunjukkan adanya gawat janin.
6. Tentukan Presentasi Janin
Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan selanjutnya
setiap kali kinjungan antenatal. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui
letak janin. Pada trimester III bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala janin
belum masuk PAP berarti ada kelainan letak, panggul sempit atau ada masalah
lain.
7. Beri Imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu hamil harus mendapat
imunisasi TT. Pada saat kontak pertama, ibu hamil diskrining status imunisasi TT-
nya. Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil, sesuai dengan status imunisasi ibu
saat ini.
Vaksinasi tetanus pada pemeriksaan antenatal dapat menurunkan kemungkinan
kematian bayi dan mencegah kematian ibu akibat tetanus. Semua ibu hamil harus
dijelaskan tentang pentingnya imunisasi TT sebanyak 5 kali dalam seumur hidup.
Setiap ibu hamil yang belum pernah imunisasi TT harus mendapat imunisasi TT
paling sedikit 2 kali suntikan selama hamil., yaitu pertama saat kunjungan pertama
dan diulang setelah 4 minggu kemudian. Pemberian imunisasi kedua atau dosis
terakhir saat hamil diberikan paling lambat 2 minggu sebelum melahirkan (Bartini,
2012).
8. Beri Tablet Tambah Darah (Tablet Besi Fe)
Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus mendapat tablet zat besi
minimal 90 tablet selama kehamilan diberikan sejak kontak pertama.
9. Periksa Laboratorium (Rutin dan Khusus)
Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada saat antenatal meliputi :
a. Pemeriksaan golongan darah
b. Pemeriksaa kadar hemoglobin darah (Hb)
c. Pemeriksaan protein dalam urin
d. Pemeriksaan kadar gula darah
e. Pemeriksaan darah malaria
f. Pemeriksaan tes sifilis
g. Pemeriksaan HIV
h. Pemeriksaan BTA
10. Tatalaksana/ Penanganan Kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal diatas dan hasil pemeriksaan
laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu hamilharus ditangani
sesuai dengan standar dan kewenangan tenaga ‘kesehatan. Kasus-kasus yang tidak
dapat ditanani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan.
11. KIE Efektif
KIE efektif dilakukan pada setiap kunjungan antenatal yang meliputi:
a. Kesehatan ibu
b. Perilaku hidup bersih dan sehat
c. Peran suami/keluarga dalam kehamilan dan perencaan persalinan
d. Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas serta kesiapan menghadapi
komplikasi
e. Asupan gizi seimbang
f. Gejala penyakit menular dan tidak menular
g. Penawaran untuk melakukan konseling da testing HIV di daerah tertentu
(resiko tinggi)
h. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemerian ASI eksklusif
i. KB pasca persalinan
j. Imunisasi
k. Peningkatan kesehatan intelegensia pada kehamilan (Brain Booster).
12. Kunjungan Kehamilan
WHO menganjurkan agar setiap wanita hamil mendapatkan paling sedikit 4
kali kunjungan selama periode antenatal :
1. 1 kali kunjungan pada trimester pertama (sebelum usia kehamilan 14 minggu)
2. 1 kali kunjungan pada trimester kedua (usia kehamilan antara 14 – 28 minggu)
3. 2 kali kunjungan selama trimester ketiga (usia kehamilan antara 28 – 36 minggu
dan sesudah usia kehamilan 36 minggu) (Marmi, 2011).
2.2 Persalinan
2.2.1 Definisi Persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah
cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan
lain dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Manuaba, 1998).
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun
kedalam jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proes pengeluaran janin
yang telah terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan
presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik
ibu maupun janin. (Prawirohardjo, 2002).
Persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan hasil konsepsi oleh
ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh
perubahan progesf pada serviks, dan diakhiri dengan pelahiran plasenta
(VarneyHelen, 2007).
2.2.2 Tanda-tanda Persalinan
1. Tanda-tanda persalinan sudah dekat
a. Lightening
Menjelang minggu ke-36, pada primigravida terjadi penurunan fundus uteri
karena kepala bayi sudah masuk pintu atas panggul yang disebabkan oleh :
1) Kontraksi braxton hicks
2) Ketegangan dinding perut
3) Ketegangan ligamentum rotundum
4) Gaya berat janin dengan kepala kearah bawah
b. Terjadinya his permulaan
Pada saat hamil muda sering terjadi kontraksi braxton hicks. Kontraksi ini dapat
dianggap sebagai keluhan, karena dirasakan sakit dan mengganggu. Kontraksi
ini terjadi karena perubahan keseimbangan estrogen, progesteron, dan
memberikan kesempatan ransangan oksitosin. Seiring usia kehamilan,
pengeluaran estrogen dan progesteron makin berkurang sehingga oksitosin
dapat memicu kontraksi yang lebih sering, sebagai his palsu.
Sifat his palsu:
1) Rasa nyeri ringan dibagian bawah
2) Datangnya tidak teratur
3) Tidak ada perubahan serviks
4) Durasinya pendek
5) Tidak bertambah jika beraktivitas
2. Tanda-tanda persalinan
a. Terjadinya his persalinan
His persalinan mempunyai sifat:
1) Pinggang terasa sakit, yang menjalar kedepan
2) Sifatnya teratur, interval makin pendek dan kekuatan makin besar
3) Kontraksi uterus mengakibatkan perubahan uterus
4) Makin beraktivitas, kekuatan makin bertambah
b. Bloody show (pengeluaran lendir disertai darah melalui vagina)
Terjadinya his persalinan mengakibatkan perubahan pada serviks yang
menyebabkan pendataran dan pembukaan, pembukaan menyebabkan lendir
yang terdapat pada kanalis servikalis lepas, dan terjadi perdarahan karena
kapiler pembuluh darah pecah.
c. Pengeluaran cairan ketuban
Pada beberapa kasus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan pengeluaran
cairan. Sebagaian besar ketuban baru pecah menjelang pembukaan lengkap.
Dengan pecahnya ketuban diharapkan persalinan berlangsung dalam waktu 24
jam.
(Lailiyana, 2011)
2.2.3 Faktor yang Mempengaruhi Persalinan
1. Power (kekuatan)
Power adalah kekuatan atau tenaga yang mendorong janin keluar. Kekuatan
tersebut meliputi :
a. His ( kontraksi uterus)
Adalah kekuatan kontraksi uterus karena otot – otot polos rahim bekerja dengan
baik dan sempurna. Kontraksi ini bersifat involunter karena berada dibawah
pengaruh saraf intrinsik. Ini berarti wanita tidak memiliki kendali fisilologis
terhadap frekuensi dan durasi kontraksi. Kontraksi uterus juga bersifat
intermiten sehungga ada periode relaksasi uterus diantara kontraksi, fungsi
penting relaksasi, yaitu : mengistirahatkan otot uterus, memberi kesempatan
istirahat bagi ibu, mempertahankan kesejahteraan bayi karena kontraksi uterus
menyebabkan kontraksi pembuluh darah plasenta
b. Tenaga mengejan
Setelah pembukaan lengkap dan setelah ketuban pecah atau dipecahkan, serta
sebagian presentasi sudah didasar panggul, sifat kontraksi berubah, yakni
mendorong keluar dibantu dengan keinginan ibu untuk mengedan atau usaha
volunter. Keinginan mengedan ini disebabkan karena :
1) Kontraksi otot – otot dinding perut yang mengakibatkan peninggian tekanan
intra abdominal dan takanan ini menekan uterus pada semua sisi dan
menambah kekuatan untuk mendorong keluar.
2) Tenaga ini serupa dengan tenaga mengedan sewaktu buang air besar (BAB),
tapi jauh lebih kuat.
3) Saat kepala sampai kedasar panggul, timbul refleks yang mengakibatkan ibu
mengkontraksikan otot – otot perut dan menekan diafragmanya kebawah.
4) Tenaga mengejan ini hanya dapat berhasil bila pembukaan sudah lengkap
dan paling efektif sewaktu ada his.
5) Tanpa tenaga mengedan bayi tidak akan lahir
(Asrinah, 2010)
2. Passage (jalan lahir)
Jalan lahir terdiri atas bagian keras (tulang panggul) dan bagian lunak (otot – otot
dan ligamen – ligamen).Bidang hodge, untuk menentukan berapa jauhnya bagian
depan anak turun kedalam rongga panggul, maka hodge telah menentukan
beberapa bidang khayalan dalam panggul :
a. H I : sama dengan pintu atas panggul
b. H II : sejajar dengan H I melalui pinggir bawah symphisis
c. H III : sejajar dengan H I melalui spina ischiadica
d. H IV : sejajar dengn H I melalui ujung os coccyges
(Nurasiah dkk, 2012)
3. Passenger (janin dan plasenta)
Passanger sepanjang jalan lahir merupakan akibat interaksi beberapa faktor, yakni
kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin. Kerana plasenta juga
melewati jalan lahir, maka dia dinggap sebagai bagian dari passenger yang
menyertai janin. Namun plasenta jarang menghambat proses persalinan normal
(Nurasiah dkk, 2012).
4. Psikologis
Keadaan psikologis ibu mempengaruhi proses persalinan, ibu bersalin yang
didampingi oleh suami dan orang yang dicintainya cenderung mengalami proses
persalinan yang lebih lancar dibanding ibu bersalin tanpa pendamping. Ini
menunjukkan bahwa dukungan mental berdampak positif bagi keadaan psikis ibu,
yang berpengaruh terhadap kelancaran proses persalinan (Asrinah, 2010).
Perubahan psikologis pada perilaku ibu, terutama yang terjadi pada fase laten,
aktif, dan transisi pada kala 1 persalinan memiliki karakteristikmasing – masing.
Sebagian besar ibu hamil yang memasuki masa persalinan akan merasa takut.
Apalagi untuk seorang primigravida yang pertama kali beradaptasi dengan ruang
bersalin. Hal ini harus disadari dan tidak boleh diremehkan oleh petugas kesehatan
yang akan memberikan pertolongan persalianan (Nurasiah dkk, 2012).
5. Pysician (penolong)
Kompetensi yang dimiliki penolong sangat bermanfaat untuk memperlancar
proses persalinan dan mencegah kematian maternal dan neonatal. Dengan
pengetahuan dan kompetensi yang baik diharapkan kesalahan dan malpraktik
dalam memberikan asuhan tidak terjadi (Asrinah, 2010).
Bidan mempunyai tanggung jawab yang besar dalam proses persalinan.
Langkah utama yang harus dikerjakan adalah mengkaji perkembangan persalinan,
memeberitahu perkembangannya baik fisiologis maupun patologi pada ibu dan
keluarga dengan bahasa yang mudah dimengerti. Kesalahan yang dilakukan bidan
dalam mendiagnosis persalinan dapat menimbulkan kegelisahan dan kecemasan
pada ibu dan keluarga (Nurasiah dkk, 2012).
2.2.4 Perubahan Psikologis Ibu Bersalin
1. Fase Laten
Ibu bisa bergairah atau cemas. Mereka biasanya menghendaki ketegasan mengenai
apa yang sedang terjadi pada tubuh mereka maupun mencari keyakinan dan
hubungan dengan bidannya. Pada primigravida dalam kegembiraannya dan tidak
ada pengalaman mengenai persalinan, kadang mereka salah sangka tentang
kemajuan persalinannya, mereka membutuhkan penerimaan atas kegembiraan dan
kekuatan mereka (Simkin & Anceta, 2000).
2. Fase Aktif
Pada fase ini kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap dan ketakutan
wanita pun meningkat. Pada saat kontraksi semakin kuat, lebih lama, dan terjadi
lebih sering, semakin jelas baginya bahwa semua itu berada diluar kendalinya.
Dengan kenyataan ini, ia menjadi lebih serius. Wanita ingin seseorang
mendampinginya karena ia takut ditinggal sendiri dan tidak mampu mengatasi
kontraksi yang diatasi. Ia mengalami sejumlah kemampuan dan ketakutan yang tak
dapat dijelaskan. Ia dapat mengatakan kepada anda bahwa ia merasa takut, tetapi
tidak menjelaskan dengan pasti apa yang diikutinya (Marmi, 2012).
3. Fase Transisi
Pada fase ini biasanya ibu merasakan perasaan gelisah yang mencolok, rasa tidak
nyaman menyeluruh, bingung, frustasi, emosi meledak-ledak akibat keparahan
kontraksi, kesadaran terhadap martabat diri menurun drastis, mudah marah,
menolak hal-hal yang ditawarkan kepadanya, rasa takut cukup besar.
Dukungan yang diterima atau tidak diterima oleh seorang wanita di lingkungan
tempatnya melahirkan, termasuk dari mereka yang mendampinginya, sangat
mempengaruhi aspek psikologisnya pada saat kondisinya sangat rentan setiap kali
timbul kontraksi juga pada saat nyerinya timbul secara kontinyu. Tindakan
memberi dukungan dan kenyamanan yang didiskusikan lebih lanjut merupakan
ungkapan kepedulian, kesabaran, sekaligus mempertahankan keberadaan orang
lain untuk menemani wanita tersebut (Marmi, 2012).
2.2.5 Fase Persalinan
1. Kala I persalinan
Dimulai sejak adanya his yang teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya)
yang menyebabkan pembukaan, sampai serviks membuka lengkap (10cm). kala I
terdiri dari 2 fase, yaitu fase laten dan fase aktif.
a. Fase laten
1) Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan pembukaan sampai dengan
pembukaan 3
2) Pada umumnya berlangsung 8 jam
b. Fase aktif, dibagi menjadi 3 fase yaitu :
1) Fase akselerasi
Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm
2) Fase dilatasi maksimal
Dalam waktu 2 jam pembukaan serviks berlangsung cepat dari 4 cm menjadi
9 cm
3) Fase deselerasi
Pembukaan serviks menjadi lambat, dalam waktu 2 jam dari pembukaan 9
cm menjadi 10 cm
Pada primipara, berlangsung selama 12 jam dan pada multipara sekitar
8 jam. Kecepatan pembukaan serviks 1cm/jam (primipara) atau lebih dari 1
cm hingga 2 cm (multipara)
2. Kala II persalinan
Persalinan kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap (10cm) dan
berakhir dengan lahirnya bayi. Tanda pasti kala II ditentukan melalui pemeriksaan
dalam yang hasilnya adalah :
a. Pembukaan serviks telah lengkap (10cm), atau
b. Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina
Proses kala II berlangsung 2 jam pada primipara dan 1 jam multipara. Dalam
kondisi yang normal pada kala II kepala janin sudah masuk dalam dasar
panggul, maka pada saat his dirasakan tekanan otot-otot dasar panggul yang
secara reflek menimbulkan rasa mengedan. Wanita merasa adanya tekanan pada
rectum dan seperti akan buang air besar. Kemudian perineum mulai menonjol
dan melebar dengn membukanya anus. Labia mulai membuka dan tidak lama
kemudian kepala janin tampak di vulva saat ada his.
3. Kala III persalinan
Persalinan kala III dimulai segera setelah bayi lahir dan berakhir dengan lahirnya
plasenta serta selaput ketuban yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.
Biasanya plasenta lepas dalam 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir dan keluar
spontan atau dengan tekanan dari fundus uteri. (Prawirohardjo, 1999)
4. Kala IV persalinan
Kala IV persalinan dimulai setelah lahirnya plasenta sampai 2 jam post partum.
(Nurasiah dkk, 2012)
2.2.6 Tanda Bahaya Persalinan
1. Riwayat bedah besar
2. Perdarahan per vaginam
3. Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
4. Ketuban pecah disertai dengan mekonium kental
5. Ketuban pecah lama (lebih dari 24 jam)
6. Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37
minggu)
7. Ikterus
8. Anemia berat
9. Tanda / gejala infeksi
10. Preeklamsia atau hipertensi dalam kehamilan
11. Tinggi fundus uteri 40 cm atau lebih
12. Gawat janin
13. Primi para dalam fase aktif kala satu persalinan dan kepala janin masih
14. Presentasi bukan belakang kepala
15. Presentasi majemuk atau ganda
16. Tali pusat menumbung
17. Syok
(DepKes RI, 2008)
2.2.7 Standart Asuhan Persalinan Normal
1. Kala I
a. Mempersiapkan ruangan untuk persalinan dan kelahiran bayi.
b. Persiapan perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obat yang diperlukan.
c. Persiapan rujukan
d. Memberikan asuhan sayang ibu
2. Kala II
a. Memberikan dukungan terus menerus kepada ibu
b. Menjaga kebersihan
c. Mengatur posisi ibu
d. Menjaga kandung kemih tetap kosong
e. Memberikan cukup minum
f. Memimpin mengedan
g. Bernafas selama persalinan
h. Pemantauan DJJ
i. Melahirkan bayi : menolong kelahiran kepala, periksa tali pusat, melahirkan
bahu dan anggota badan seluruhnya
j. Bayi : dikeringkan dan dihangatkan dari kepala sampai seluruh tubuh
k. Merangsang bayi
3. Kala III
a. Jepit dan gunting tali pusat
b. Memberikan oksitosin tujuannya untuk merangsang uterus berkontraksi yang
juga mempercepat pelepasan plasenta
c. Melakukan peregangan tali pusat terkendali (PTT), PTT dilakukan hanya
selama uterus berkontraksi
d. Masase fundus, agar menimbulkan kontraksi sehingga dapat mencegah
perdarahan postpartum
4. Kala IV
a. Periksa fundus, apakah fundus berkontraksi kuat dan berada dibawah
umbilikus. Periksa fundus setiap 15 menit
b. Periksa selaput ketuban
c. Periksa perinium
d. Memperkirakan pengeluaran darah
e. Periksa lokhea
f. Periksa kandung kemih
g. Periksa kondisi ibu setiap 15 menit pertama dan tiap 30 menit
h. Periksa bayi baru lahir
2.3 Nifas
2.3.1 Definisi Nifas
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil).
Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Sulistyawati Ari, 2009).
Nifas atau periode pascapartum (puerperium) adalah masa dari kelahiran
plasenta dan selaput janin (menandakan akhir periode intrapartum) hingga
kembalinya traktus repodruksi wanita pada kondisi tidak hamil (Varney Helen, 2007).
Masa nifas atau puerperium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta
sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu (Prawirohardjo, 2009).
2.3.2 Tahapan Masa Nifas
Masa nifas dibagi menjadi 3 tahap, yaitu puerperium dini, puerperium
intermedial, dan remote puerperium.
1. Puerperium dini
Puerperium dini merupakan masa kepulihan, yang dalam hal ini ibu telah
diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam, dianggap bersih dan
boleh bekerja setelah 40 hari.
2. Puerperium intermedial
Puerperium intermedial merupakan maa kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia,
yang lamanya sekitar 6-8 minggu.
3. Remote puerperium
Remote puerperium merupakan masa yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai
komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna dapat berlangsung selama berminggu-
minggu, bulanan, bahkan tahunan.
(Sulistyawati Ari, 2009)
2.3.3 Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Tabel 2.4
Asuhan yang diberikan sewaktu melakukan kunjungan masa nifas:
Kunjungan Waktu Tujuan
1 6-8 jam setelah 1. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia
persalinan uteri.
2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan,
rujuk jika perdarahan berlanjut.
3. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu
keluarga mengenai bagaimana cara mencegah
perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
4. Pemberian ASI awal.
5. Melakukan hubungan antara ibu dengan bayi yang
baru lahir.
6. Menjaga bay tetap sehat dengan cara mencegah
hypothermi.
7. Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia
harus tinggal dengan ibu dan bayi yang.
2 6 hari setelah 1. Memastikan involusi uterus berjalan normal: uterus
persalinan berkontraksi, fundus dibawah umbilicus, tidak ada
perdarahan abnormal, tidak ada bau.
2. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau
perdarahan abnormal.
3. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan,
cairan dan istirahat.
4. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak
memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
5. Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan
pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan
merawat bayi sehari-hari.
3 2 minggu Sama seperti kunjungan 6 hari setelah persalinan.
setelah
persalinan
4 6 minggu 1. Menanyakan pada ibu tentang kesulitan-kesulitan
setelah yang ia atau bayi alami.
persalinan 2. Memberikan konseling KB secara dini
Sumber : Sulistyawati Ari, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas.
2.3.4 Perubahan Fisik dan Adaptasi Psikologis Masa Nifas
1. Perubahan fisiologi masa nifas
a. Perubahan Sistem Reproduksi
1) Uterus
a) Pengerutan Rahim (Involusi)
Involusi merupakan suatu proses kembalinya uterus pada kondisi sebelum
hamil. Perubahan ini dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan
palpasi dengan meraba Tinggi Fundus Uteri (TFU).
1. Saat bayi lahir, fundus uteri setinggi pusat dengan berat 1000 gram.
2. Pada akhir kala III, fundus uteri teraba 2 jari dibawah pusat.
3. Pada 1 minggu post partum, fundus uteri teraba pertengahan pusat
simpisis dengan berat 500 gram.
4. Pada 2 minggu post partum, fundus uteri teraba diatas simpisis dengan
berat 350 gram.
5. Pada 6 minggu post partum, fundus uteri mengecil (tak teraba) dengan
berat 50 gram.
b) Lokhea
Lokhea adalah eksresi cairan rahim selama masa nifas. Mengandung
darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus. Lokhea
berbau amis atau anyir dengan volume berbeda-beda pada setiap wanita.
Lokhea dibedakan menjadi 4 jenis berdasarkan warna dan waktu
keluarnya, yaitu:
1. Lokhea rubra: Keluar pada hari ke-1 sampai hari ke-4 masa post
partum. Cairan berwarna merah yang berisi darah segar, jaringan sisa
plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi), dan
mekonium.
2. Lokhea Sanguilenta: Berwarna merah kecokelatan dan berlendir, serta
berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 post partum.
3. Lokhea Serosa: Berwarna kuning kecokelatan karena mengandung
serum, leukosit, dan robekan atau laserasi plasenta. Keluar pada hari
ke-7 sampai hari ke-14.
4. Lokhea Alba: Lokhea mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel,
selaput lender serviks, dan serabut jaringan yang mati. Lokhea
berwarna putih dan dapat berlangsung selama 2-6 minggu post partum.
Lokhea alba atau serosa yang berlanjut dapat menandakan
adanya endometritis, terutama bila disertai dengan nyeri pada
abdomen dan demam. Bila terjadi infeksi, akan keluar cairan nanah
berbau busuk yang disebut dengan “Lokhea Purulenta”. Pengeluaran
lokhea yang tidak lancar disebut dengan “Lokhea Statis”.
b. Perubahan pada serviks
Segera setelah bayi lahir bentuk serviks agak menganga seperti corong yang
disebabkan oleh corpus uteri yang berkontraksi, sedangkan serviks tidak
berkontraksi sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan serviks
berbentuk semacam cincin. Serviks berwarna merah kehitam-hitaman karena
penuh dengan pembuluh darah. Pada minggu ke-6 post partum, serviks sudah
menutup kembali.
c. Vulva dan vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar
selama poses melahirkan bayi. Pada hari pertama vulva dan vagina dalam
keadaan kendur. Setelah 3 minggu sudah kembali dalam keadaan sebelum
hamil dan rugae dalam vagina berangsur-angsur akan muncul kembali,
sementara labia menjadi lebih menonjol.
d. Perubahan Sistem Pencernaan
Biasanya, ibu akan mengalami konstipasi setelah persalinan. Hal ini disebabkan
karena pada waktu persalinan, alat pencernaan mengalami tekanan yang
menyebabkan kolon menjadi kosong, pengeluaran cairan berlebih pada waktu
persalinan, kurangnya asupan cairan dan makanan, serta kurangnya aktivitas
tubuh. Supaya buang air besar kembali normal, dapat diatasi dengan diet tinggi
serat, peningkatan asupan cairan, dan ambulasi awal. Selain konstipasi, ibu juga
mengalami anoreksia akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan
mempengaruhi perubahan sekresi, serta penurunan kebutuhan kalorin yang
menyebabkan kurang nafsu makan.
e. Perubahan Sistem Perkemihan
Setelah proses persalinan, biasanya ibu akan sulit untuk buang air kecil dalam
24 jam pertama. Kemungkinan penyebabnya terdapat spasme sfinker dan
edema leher kandung kemih sesudah bagian ini mengalami tekanan kepala janin
dan tulang pubis selama persalinan berlangsung. Kadar hormone esterogen
yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok yang
disebut “duresis”. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam 6
minggu.
f. Perubahan Sistem Muskuloskeletal
Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah partus, maka pembuluh-pembuluh
darah yang berada diantara anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini
akan menghentikan pendarahan setelah plasenta lahir. Ligamen-ligamen,
diafragma pelvis serta fasia yang meregang pada persalinan secara berangsur-
angsur menjadi ciut dan pulih kembali. Stabilisasi secara sempurna terjadi pada
6-8 minggu post partum.
g. Perubahan Sistem Endokrin
1) Hormon plasenta
Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan. HCG (Human
Chorionic Gonadotropin) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10%
dalam 3 jam hingga hari ke-7 post partum.
2) Hormon pituitary
Prolaktin darah akan meningkat dengan cepat. Pada wanita yang tidak
menyusui, prolaktin menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH akan
meningkat pada minggu ke-3 dan kemudian LH tetap rendah hingga ovulasi
terjadi.
3) Hypotalamik pituitary ovarium
Lamanya wanita mendapat menstruasi juga dipengaruhi oleh faktor
menyusui. Seringkali menstruasi pertama ini bersifat anovulasi karena
rendahnya kadar esterogen dan progesteron.
4) Kadar esterogen
Setelah persalinan, terjadi penurunan kadar esterogen sehingga aktivitas
prolaktin juga sedang meningkat dapat memengaruhi kelenjar mammae
dalam menghasilkan ASI.
h. Perubahan Tanda Vital
1) Suhu badan
Dalam 1 hari post partum suhu badan akan naik sedikit (37,5°C-38°C) akibat
kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan dan kelelahan. Biasanya,
pada hari ke-3 suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI.
2) Nadi
Denyut nadi sehabis melahirkan biasanya akan lebih cepat. Setiap denyut
nadi yang melebihi 100 kali per menit adalah abnormal dan hal ini
menunjukkan adanya kemungkinan infeksi.
3) Tekanan darah
Kemungkinan tekanan darah akan lebih rendah setelah ibu melahirkan
karena adanya perdarahan. Tekanan darah tinggi pada saat post partum dapat
menandakan terjadinya pre eklamsi post partum.
4) Pernapasan
Keadaan pernapasan sberhubungan dengan suhu dan denyut nadi. Bila suhu
dan nadi abnormal maka pernapasan juga akan mengikutinya.
i. Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Selama kehamilan, volume darah normal digunakan untuk menampung aliran
darah yang meningkat yang diperlukan oleh plasenta dan pembuluh darah uteri.
Penarikan kembali esterogen menyebabkan diuresis yang terjadi secara cepat
sehingga mengurangi volume plasma darah pada proporsi normal. Aliran ini
terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi.
j. Perubahan Sistem Hematologi
Selama minggu-minggu terakhir kehamilan kadar fibrinogen dan plasma darah,
serta faktor-faktor pembekuan darah makin meningkat. Pada hari pertama post
partum kadar fibrinogen dan plasma darah akan sedikit menurun tetapi darah
akan mengental sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah. Penurunan
volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan
peningkatan Hmt dan Hb pada hari ke-3 sampai hari ke-7 post partum, yang
akan kembali normal dalam 4-5 minggu post partum.
2. Perubahan psikologi masa nifas
a. Adaptasi psikologi ibu masa nifas
Reva rubin membagi periode ini menjadi 3 bagian, antara lain:
1) Periode “Taking In”
a) Terjadi 1-2 hari sesudah melahirkan.
b) Ia mungkin akan mengulang-ulang menceritakan pengalamannya waktu
melahirkan.
c) Tidur tanpa gangguan sangat penting untuk mengurangi gangguan
kesehatan akibat kurang istirahat.
d) Peningkatan nutrisi dibutuhkan untuk mempercepat pemulihan dan
penyembuhan luka, serta persiapan proses laktasi aktif.
e) Bidan dapat menjadi pendengar yang baik ketika ibu menceritakan
pengalamannya. Bidan harus menciptakan suasana nyaman bagi ibu
sehingga ibu dapat dengan leluasa dan terbuka mengemukakan
permasalahannya.
2) Periode “Taking Hold”
a) Berlangsung pada hari ke 2-4 post partum.
b) Ibu menjadi perhatian pada kemampuannya menjadi orang tua dan
meningkatkan tanggung jawab terhadap bayinya.
c) Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuhnya, BAB, BAK, serta
kekuatan dan ketahanan tubuhnya.
d) Ibu berusaha keras untuk menguasai keterampilan perawatan bayi,
misalnya menggendong, memandikan, memasang popok, dan sebagainya.
e) Pada masa ini, ibu biasanya agak sensitif dan merasa tidak mahir dalam
melakukan hal-hal tersebut.
f) Bidan dapat memberikan bimbingan cara perawatan bayi, tetapi jangan
sampai menyinggung perasaan ibu karena ia sangat sensitive. Hindari
kata “jangan begitu” atau “kalau seperti itu salah” pada ibu karena bisa
menyakiti perasaannya dan akibatnya ibu akan putus asa untuk mengikuti
bimbingan bidan.
3) Periode “Letting Go”
a) Periode ini terjadi setelah ibu pulang kerumah.
b) Ibu mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi dan ia harus
beradaptasi dengan kebutuhan bayi yang sangat bergantung padanya.
c) Depresi post partum umumnya terjadi pada periode ini.
b. Post partum blues
Post partum blues biasanya dimulai pada beberapa hari setelah kelahiran dan
berakhir setelah 10-14 hari. Karakterisktik post partum blues meliputi
menangis, merasa letih karena melahirkan, gelisah, perubahan alam perasaan,
menarik diri, serta reaksi negative terhadap bayi dan keluarga. Faktor penyebab
biasanya merupakan kombinasi dari berbagai factor, termasuk adanya gangguan
tidur selama masa-masa awal menjadi seorang ibu.
c. Kesedihan dan duka cita
Kehilangan maternitas termasuk hal yang dialami wanita yang mengalami
infertilitas, wanita yang mendapatkan bayinya hidup tetapi kemudian
kehilangan harapan (prematuritas atau kecacatan congenital). Dalam hal ini
terdapat 3 tahap “berduka” yaitu:
1) Tahap syok
Manifestasi perilaku meliputi penyangkalan, ketidakpercayaan, ketakutan,
marah, cemas, rasa bersalah, kekosongan, kesendirian, kesedihan, kebencian,
frustasi, mengasingkan diri. Sedangkan manifestasi fisik meliputi menghela
nafas panjang, tidur tidak tenang, keletihan, lesu, penurunan berat badan,
mengeluh tersiksa karena nyeri didada.
2) Tahap penderitaan (fase realitas)
Penerimaan terhadap fakta kehilangan dan upaya penyesuaian terhadap
realitas. Selama fase ini kehidupan orang yang berduka akan terus berlanjut,
dominasi kehilangannya secara bertahap berubah menjadi kecemasan
terhadap masa depan.
3) Tahap resolusi (fase menentukan hubungan yang bermakna)
Selama periode ini, ibu menerima kehilangan, penyesuaian dan kembali pada
fungsi diri secara penuh.
(Sulistyawati Ari,2009)
2.2.5 Kebutuhan Dasar Masa Nifas
1. Kebutuhan gizi ibu menyusui
Ibu menyusui harus mendapatkan tambahan zat makanan sebesar 800 kkal untuk
memproduksi ASI dan untuk memenuhi energy ibu sendiri. Selama menyusui ibu
dengan status gizi baik rata-rata memproduksi ASI sekitar 800cc yang
mengandung sekitar 600 kkal, sedangkan ibu dengan status gizi kurang biasanya
memproduksi kurang dari itu.
a. Energi
Penambahan kalori sepanjang 3 bulan postpartum mencapai 500 kkal. Rata-rata
produksi ASI sehari 800 cc yang mengandung 600 kkal. Sementara itu, kalori
yang dihabiskan untuk menghasilkan ASI sebanyak 750 kkal. Jika laktasi
berlangsung lebih dari 3 bulan, selama itu pula berat badan ibu akan menurun,
yang berarti jumlah kalori tambahan harus ditingkatkan.
b. Protein
Selama menyusui ibu membutuhkan tambahan protein diatas normal sebesar 20
gram/hari. Dasar ketentuan ini adalah tiap 100 cc ASI mengandung 1,2 gram
protein. Selain itu, ibu menyusui juga dianjurkan makan makanan yang
mengandung asal lemak Omega 3 yang banyak terdapat dalam ikan kakap,
tongkol, dan lemuru. Asam ini akan diubah menjadi DHA yang akan
dikeluarkan melalui ASI. Kalsium banyak terdapat pada susu, keju, teri dan
kacang-kacangan. Zat besi banyak terdapat pada ikan laut. Vitamin C banyak
terdapat pada buah-buahan seperti jeruk, mangga, apel, sirsak, tomat. Vitamin
B-1 dan vitamin B-2 terdapat pada nasi, kacang-kacangan, hati, telyr, ikan.
Kebutuhan cairan dalam mengkonsumsi air minum adalah 3 liter sehari dengan
asumsi 1 liter setiap 8 jam dalam beberapa minum, terutama setelah selesai
menyusui bayinya. Ibu harus menghindari asap rokok karena zat nikotin yang
terhirup ibu akan dikeluarkan lagi melalui ASI sehingga bayi dapat keracunan
zat nikotin.
2. Ambulasi dini (early ambulation)
Ambulasi dini adalah kebijaksanaan untuk selekas mungkin membimbing pasien
beranjak dari tempat tidurnya dan membimbingnya untuk berjalan. Ambulasi awal
dilakukan dengan gerakan dan jalan-jalan ringan sambil bidan melakukan
observasi perkembangan pasien.
3. Eliminasi
Dalam 6 jam pertama post partum, pasien sudah harus dapat buang air kecil.
Semakin lama urine tertahan maka dapat mengakibatkan infeksi pada saluran
perkemihan. Dalam 24 jam pertama post partum ibu juga harus dapat buang air
besar karena semakin lama feses tertahan dalam usus maka akan semakin sulit
untuk buang air besar secara lancar. Feses akan tertahan dan mengeras karena
cairan yang terkandung akan selalu terserap oleh usus.
4. Personal hygiene
Beberapa langkah penting untuk perawatan kebersihan diri ibu post partum, yaitu:
a. Jaga kebersihan seluruh tubuh untuk mencegah infeksi pada bayi.
b. Membersihakan area genetalia dengan air bersih. Pastikan bahwa dngan
membersihkan daerah vulva dahulu, dari arah depan ke belakang, baru
kemudian membersihkan daerah anus.
c. Mengganti pembalut setiap kali dirasa darah sudah penuh atau minimal 2 kali
dalam sehari.
d. Mencuci tangan dengan sabun dan air setiap kali ia selesai membersihkan
daerah genetalia.
e. Jika mempunyai luka jahitan pada perineum, berhati-hati saat akan memegang
daerah luka. Apalagi saat pasien kuarng memperhatikan kebersihan tangannya
sehingga tak jarang terjadi infeksi sekunder.
5. Istirahat
Ibu post partum membutuhkan istirahat yang berkualitas untuk memulihkan
kembali kondisi fisiknya. Kurangnya istirahat pada ibu post partum akan
mengakibatkan beberapa kerugian, misalnya:
a. Mengurangi produksi ASI
b. Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan
c. Menyebabkan depresi dan ketidaknyamanan untuk merawat bayinya dan
dirinya sendiri.
6. Seksual
Secara fisik, aman untuk melakukan hubungan seksual jika darah merah berhenti
dan tidak ada nyeri pada vagina. Banyak budaya dan agama yang melarang
dilakukannya hubungan seksual sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40
hari atau 6 minggu setelah kelahiran. Keputusan tergantung pada pasangan yang
bersangkutan.
7. Latihan senam nifas
Latihan senam nifas dilakukan seawal mungkin untuk mencapai hasil pemulihan
otot yang maksimal, dengan catatan ibu menjalani persalinan normal dan tidak ada
penyulit post partum. Sebelum melakukan bimbingan, bidan harus mendiskusikan
dengan ibu mengenai pentingnya otot perut dan panggul untuk kembali normal.
Dengan kembalinya otot perut dan panggul akan mengurangi keluhan sakit
punggung.
(Sulistyawati Ari, 2009)
2.3.6 Ketidaknyamanan pada Masa Nifas
1. Belum berkemih
Penanganan: dirangsang dengan air yang dialirkan ke daerah kemaluanya. Jika
dalam 4 jam post partum, ada kemungkinan bahwa ia tidak dapat berkemih maka
lakukan kateterisasi.
2. Sembelit
Penanganan: dengan ambulasi dini dan pemberian makan dini, masalah sembelit
akan berkurang.
3. Rasa tidak nyaman pada daerah laserasi
Penanganan: setelah 24 jam post partum, ibu dapat melakukan rendam duduk
untuk mengurangi keluhan. Jika terjadi infeksi, diperlukan pemberian antibiotik
sesuai dibawah pengawasan dokter (Farmakologi DepKes RI, 2011).
4. Selama 24 jam post partum, payudara mengalami distensi, menjadi padat dan
nodular
Penanganan: pengompresan dengan es, tetapi dalam beberapa hari akan mereda
(Kenneth dkk, 2012)
2.3.7 Tanda Bahaya Masa Nifas
1. Perdarahan pervaginam
2. Sekret vagina berbau
3. Demam melebihi 38 C
4. Nyeri perut berat
5. Kelelahan atau sesak
6. Sakit kepala berat disertai pandangan kabur
7. Bengkak di tangan, wajah dan tungkai
8. Nyeri payudara, pembengkakan payudara, luka atau perdarahan puting
(Kepmenkes RI, 2013)
1. Kunjungan Ibu Nifas
Anjurkan ibu untuk melakukan kontrol/kunjungan masa nifas setidaknya 4 kali
yaitu :
1. Kunjungan nifas 1 : 6 – 8 jam setelah persalinan (sebelum pulang)
2. Kunjungan nifas 2 : 6 hari setelah pesalinan
3. Kunjungan nifas 3 : 2 minggu setelah persalinan
4. Kunjungan nifas 4 : 6 minggu setelah persalinan
(Kepmenkes RI, 2013)
2.4 Bayi Baru Lahir
2.4.1 Definisi Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan 37 – 42
minggu dan berat badannya 2500 – 4000 gram (Dewi Vivian, 2010).
Bayi baru lahir (BBL) normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu
– 42 minggu dan berat lahir 2500 gam – 4000 gram (Wahyuni Sari, 2011).
Bayi baru lahir (Neonatus) adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran,
berusia 0-28 hari. BBL memerlukan penyesuaian fisiologi berupa maturasi, adapasi
(menyesuaikan diri dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin) dan
toleransi bagi BBL untuk dapat hidup dengan baik (Marmi dan Rahardjo, 2015).
2.4.2 Ciri-ciri Normal Bayi Baru Lahir
1. Lahir aterm antara 37 – 42 minggu
2. Berat badan 2500 – 4000 gram
3. Panjang badan 48 – 52 cm
4. Lingkar dada 30 – 38 cm
5. Lingkar kepala 33 – 35 cm
6. Lingkar lengan 11 – 12 cm
7. Frekuensi denyut jantung 120 – 160 kali/menit
8. Pernapasan ± 40 – 60 kali/menit
9. Kulit kemerah – merahan dan licin karena jaringan subkutan yang cukup
10. Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala biasanya telah sempurna
11. Kuku agak panjang dan lemas
12. Nilai APGAR > 7
13. Gerak aktif
14. Bayi lahir langsung menangis kuat
15. Refleks rooting (mencari puting susu dengan rangsangan taktilpada pipi dan
daerah mulut) sudah terbentuk dengan baik
16. Reflek sucking (isap dan menelan) sudah terbentuk dengan baik
17. Reflek morrow (gerakan memeluk bila dikagetkan) sudah terbentuk dengan baik
18. Reflek grasping (menggenggam) sudah baik
19. Genetalia :
a. Pada laki-laki kematangan ditandai dengan testis yang berada pada skrotum
dan penis yang berlubang
b. Pada perempuan kematangan ditandai dengan vagina dan uretra yang
berlubang, serta adanya labia minora dan mayora
20. Eliminasi baik yang ditandai dengan keluarnya mekonium dalam 24 jam pertama
dan berwarna hitam kecoklatan
(Dewi Vivian, 2010).
2.4.3 Adaptasi Bayi Baru Lahir Terhadap Kehidupan Diluar Uteri
Adaptasi neonatal (bayi baru lahir) adalah proses penyesuaian fungsional
neonatus dari kehidupan di dalam uterus ke kehidupan luar uterus. Kemampuan
adaptasi fisiologi ini disebut juga hemeostasis. Bila terdapat gangguan adaptasi, maka
bayi akan sakit.
1. Konsep esensial adaptasi fisiologi bayi baru lahir :
a. Memulai segera pernapasan dan perubahan dalam pola sirkulasi merupakan hal
yang esensial dalam kehidupan ekstrauterin.
b. Dalam 24 jam setelah lahir, sistem ginjal gastrointestinal (GI), hematologi,
metabolik, dan sistem neurologi bayi baru lahir harus berfungsi secara memadai
untuk maju ke arah, dan mempertahankan kehidupan ekstrauterin.
2. Periode transisi :
a. Periode ini merupakan fase tidak stabil selama 6-8 jam pertama kehidupan,
yang akan dialami oleh seluruh bayi, dengan mengabaikan usia gestasi atau
sifat persalinan dan melahirkan.
b. Pada periode pertama reaktivitas (segera setelah lahir), pernapasan cepat (dapat
mencapai 80x/mnt) dan pernapasan cuping hidung sementara, retraksi, dan
suara seperti mendengkur dapat terjadi. Denyut jantung dapat mencapai
180x/mnt selama beberapa menit pertam kehidupan.
c. Setelah respon awal ini, bayi baru lahir menjadi tenang, rileks, dan jatuh
tertidur, tidur pertama ini (dikenal sebagai fase tidur) dalam 2 jam setelah
kelahiran dan berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam.
d. Periode kedua reaktivitas, dimulai waktu bayi bangun, ditandai dengan respons
berlebihan terhadap stimulus, perubahan warna kulit dari merah muda menjadi
agak sianosis, dan denyut jantung cepat.
e. Lendir mulut dapat menyebabkan masalah besar, misalnya tersedak, tecekik
dan batuk.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi adaptasi bayi baru lahir :
a. Pengalaman antepartum ibu dan bayi baru lahir (misalnya, terpajan zat toksin
dan sikap orang tua terhadap kehamilan dan pengasuhan anak).
b. Pengalaman intrapartum ibu dan bayi baru lahir (misalnya, lama persalinan,
tipe analgestik atau anestesia intrapartum).
c. Kapasitas fisiologis bayi baru lahir untuk melakukan transisi ke kehidupan
ekstrauterin.
d. Kemampuan petugas kesehatan untuk mengkaji dan merespon masalah dengan
tepat pada saat terjadi
(Marmi dan Rahardjo, 2015)
2.4.4 Tanda Bahaya Bayi Baru Lahir
1. Tidak mau minum atau memuntahkan semua
2. Kejang
3. Bergerak hanya jika dirangsang
4. Napas cepat ( ≥ 60 kali/menit ), napas lambat ( < 30 kali/menit )
5. Tarikan dinding dada kedalam yang sangat kuat
6. Merintih
7. Teraba demam ( suhu ketiak > 37 ℃ ), teraba dingin ( suhu ketiak < 36 ℃ )
8. Nanah yang banyak di mata
9. Pusar kemerahan meluas ke dinding perut
10. Diare
11. Tampak kuning pada telapak tangan dan kaki
12. Perdarahan
(Kepmenkes RI, 2013)
2.4.5 Asuhan Bayi Baru Lahir Normal
1. Cara memotong tali pusat
a. Menjepit tali dengan klem dengan jarak 3 cm dari pusat, lalu mengurut tali
pusat ke arah ibu dan memasang klem kedua dengan jarak 2 cm dari klem.
b. Memegang tali pusat di antara 2 klem dengan menggunakan tangan kiri (jari
tengah melindungi tubuh bayi) lalu memotong tali pusat diantara 2 klem.
c. Mengikat tali pusat dengan jarak ± 1 cm dari umbilikus dengan simpul mati lalu
mengikat balik tali pusat dengan simpul mati. Untuk kedua kalinya bungkus
dengan kasa steril, lepaskan klem pada tali pusat, lalu memasukkannya dalam
wadah yang berisi larutan klorin 0,5%.
d. Membungkus bayi dengan kain bersih dan memberikannya pada ibu.
2. Mempertahankan suhu tubuh bayi baru lahir dan mencegah hipotermia
a. Mengeringkan tubuh bayi segera setelah lahir
Kondisi bayi baru lahir dengan tubuh basah karena air ketuban atau aliran udara
melalui jendela/pintu yang terbuka akan mempercepat terjadinya penguapan
yang akan mengakibatkan bayi lebih cepat kehilangan suhu tubuh. Hal ini akan
mengakibatkan serangan dingin (cold stress) yang merupakan gejala awal
hipotermia. Bayi kedinginan biasanya tidak memperlihatkan gejala menggigil
oleh karena kontrol suhunya belum sempurna.
b. Untuk mencegah terjadinya hipotermia, bayi yang baru lahir harus segera
dikeringkan dan dibungkus dengan kain kering kemudian diletakkan telungkup
di atas dada ibu untuk mendapatkan kehangatan dari dekapan ibu.
c. Menunda memandikan bayi baru lahir sampai tubuh bayi stabil
Pada bayi baru lahir cukup bulan dengan berat badan lebih dari 2500 gram dan
menangis kuat bisa dimandikan ±24 jam setelah kelahiran dengan tetap
menggunakan air hangat. Pada bayi baru lahir berisiko yang berat badannya
kurang dari 2500 gram atau keadaannya sangat lemah sebaiknya jangan
dimandikan sampai suhu tubuhnya stabil dan mampu mengisap ASI dengan
baik.
d. Menghindari kehilangan panas pada bayi baru lahir
Ada empat cara membuat bayi kehilangan panas, yaitu melalui radiasi,
evaporasi, konduksi dan konveksi.
(Dewi Vivian, 2010).
2.5 Asuhan Kebidanan
2.5.1 Manajemen Asuhan Kebidanan
1. Definisi
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan
sebahagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori
ilmiah, temuan, keteranpilan, dalam rangkaian/tahapan yang logis untuk
mengambil suatu keputusan yang terfokus pada klien (Yeyeh, 2014).
2. Langkah-langkah Proses manajemen kebidanan
a. Mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk menilai keadaan klien
secara keseluruhan.
b. Menginterprestasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa/masalah.
c. Mengidentifikasi diagnosa/masalah potensial dan menganstisipasi
penanganannya.
d. Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi, kolaborasi,
dengan tenaga kesehatan lain serta rujukan berdasarkan kondisi klien.
e. Menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan mengulang kembali
manajemen proses untuk aspek-aspek sosial yang efektif.
f. Pelaksanaan langusng asuhan secara efisien dan aman.
g. Mengevaluasi keefektifan asuhan yang dibrikan denganmengulang kembali
manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif.
(Yeyeh, 2014).
2.5.2 Standart Pendokumentasian Asuhan Kebidanan
Standar Asuhan Kebidanan Keputusan Menteri Kesehatan
No.938/Menkes/SK/VIII/2007.
1. Standar I : Pengkajian
a. Pernyataan Standar
Bidan mengumpulkan semua informasi yang akurat, relevan dan lengkap dari
semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
b. Kriteria Pengkajian
1) Data tepat, akurat dan lengkap.
Terdiri dari data Subyektif (hasil anamnesa, biodata, keluhan utama, riwayat
obstetric, riwayat kesehatan dan latar belakang social budaya).
2) Data obyektif (hasil pemeriksaan fisik, psikologis dan pemeriksaan
penunjang).
2. Standar II : Perumusan Diagnosa dan atau Masalah Kebidanan.
a. Pernyataan standar
Bidan menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian,
menginterpretasikannya secara akurat dan logis untuk menegakan diagnose dan
masalah kebidanan yang tepat.
b. Kriteria Perumusan diagnose dan atau Masalah.
1) Diagnosa sesuai dengan nomenklatur Kebidanan.
2) Masalah dirumuskan sesuai dengan kondisi klien.
3) Dapat diselesaikan dengan Asuhan kebidanan secara mandiri, kolaborasi dan
rujukan.
3. Standar III : Perencanaan.
a. Pernyataan Standar
Bidan merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnose dan masalah yang
dilegakkan.
b. Kriteria Perencanaan.
1) Rencanakan tindakan disusun berdasarkan prioritas masalah dan kondisi
klien, tindakan segera, tindakan antisipasi dan asuhan kebidanan
komprenhensif.
2) Melibatkan klien/pasien dan atau keluarga.
3) Mempertimbangan kondisi psikologi, social budaya klien/keluarga.
4) Memilih tindakan yang aman sesuai kondisi dan kebutuhan klien
berdasarkan evidence based dan memastikan bahwa asuhan yang diberikan
bermanfaat untuk klien.
5) Mempertimbangkan kebijakan dan peraturan yang berlaku, sumberdaya serta
fasilitas yang ada.
4. Standar IV : Implementasi
a. Pernyataan Standar
Bidan melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara komprehensif, efektif,
efisien dan aman berdasarkan evidence based kepada klien/pasien, dalam
bentuk upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabililatif. Dilaksanakan secara
mandiri, kolaborasi dan rujukan.
b. Kriteria :
1) Memperhatikan keunikan klien sebagai makhluk bio-psiko-spiritual-kultural.
2) Setiap tindakan asuhan harus mendapatkan persetujuan dari klien dan atau
keluarga (inform consent).
3) Melaksanakan asuhan berdasarkan evidence based.
4) Melibatkan klien/pasien dalam setiap tindakan.
5) Menjaga privasi klien/pasien.
6) Melaksanakan prinsip pencegahan infeksi.
7) Mengikuti perkembangan kondisi klien secara berkesinambungan.
8) Menggunakan sumber daya, sarana dan fasilitas yang ada dan sesuai.
9) Melakukan tindakan sesuai standar.
10) Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan.
5. Standar : V
a. Pernyataan Standar.
Bidan melakukan evaluasi secara sitematis dan berkesinambungan untuk
melihat keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, sesuai dengan perubahan
perkembangan kondisi klien.
b. Kriteria Evaluasi
1) Penilaian dilakukan segera setelah selesai melaksanakan asuhan sesuai
kondisi klien.
2) Hasil evaluasi segera dicatat dan dikomunikasikan pada klien dan keluarga.
3) Evaluasi dilakukan sesuai dengan standar.
4) Hasil evaluasi ditindak lanjut sesuai dengan kondisi klien/pasien.
6. Standar VI : Pencatatan Asuhan Kebidanan.
a. Pernyataan standar.
Bidan melakukan pencatan secara lengkap, akurat, singkat dan jelas mengenai
keadaan/kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam memberikan asuhan
kebidanan.
b. Kriteria Pencatatan Asuhan Kebidanan.
1) Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan pada formulir
yang tersedia (Rekam medis/KMS/Status pasien/buku KIA).
2) Ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP.
3) S adalah subyektif, mencatat hasil anamnesa.
4) O adalah hasil obyektif, mencatat hasil pemeriksaan.
5) A adalah hasil analisa, mencatat diagnose dan masalah kebidanan.
6) P adalah penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan dan
penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan
segera, tindakan secara komprehensif : penyuluhan, dukungan, kolaborasi,
evaluasi/follow up dan rujukan.