TUGAS
KOMUNIKASI BISNIS
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Komunikasi Bisnis
Disusun Oleh:
Putri Rahayu (2410003510904)
Dosen Mata Kuliah :
Dr AGUS SUTARJO SE, [Link]
ROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS EKASAKTI
Pendahuluan
Komunikasi merupakan bagian penting dalam interaksi sosial, baik di tempat kerja,
dalam hubungan pribadi, maupun di masyarakat. Cara kita berkomunikasi dapat
memengaruhi hubungan, penyelesaian masalah, dan pemahaman antar individu.
Salah satu cara untuk memahami komunikasi adalah melalui tiga gaya komunikasi
utama: komunikasi asertif, komunikasi non-asertif, dan komunikasi agresif.
Ketiganya memiliki ciri khas dan dampak yang berbeda dalam interaksi sosial.
Dalam makalah ini, akan dibahas masing-masing gaya komunikasi tersebut beserta
contoh narasi dalam konteks pekerjaan yang menggambarkan perbedaan ketiga gaya
komunikasi ini.
A. Narasi Non Asertif
a. Pengertian
Narasi non-asertif merujuk pada cara komunikasi yang cenderung pasif, di mana
individu tidak menyampaikan pendapat atau perasaan mereka secara jelas dan tegas.
Dalam konteks ini, narasi non-asertif sering kali ditandai oleh ketidakmampuan
untuk mengungkapkan kebutuhan atau keinginan, serta menghindari konflik. Berikut
adalah penjelasan lebih lanjut dan contoh narasi non-asertif.
b. Ciri-ciri Narasi Non-Asertif
1. Suara Halus: Individu yang non-asertif sering berbicara dengan suara pelan,
sehingga sulit didengar dalam percakapan kelompok.
2. Selalu Setuju: Mereka cenderung setuju dengan pendapat orang lain tanpa
menyampaikan pandangan pribadi, untuk menghindari konflik.
3. Menghindar dari Masalah: Mereka sering menghindar dari situasi yang
berpotensi menimbulkan ketegangan atau konflik.
4. Tidak Percaya Diri: Komunikasi mereka sering disertai keraguan,
menggunakan frasa seperti "mungkin" atau "saya harap".
5. Berbelit-belit: Sulit untuk menyampaikan poin penting secara langsung,
sering kali bertele-tele.
6. Menyerah tanpa Mencari Solusi: Mereka cenderung mengucapkan kalimat
seperti "Saya tidak bisa" tanpa berusaha mencari solusi
c. Contoh Narasi Non-Asertif
Situasi 1
Ketika Reni mendengar Tati mengatakan, “Ren, hari ini aku tidak bersemangat
dan malas sekolah,” Reni tidak langsung memberikan tanggapan yang tegas.
Sebaliknya, ia hanya menjawab dengan lembut, “Oh, ya sudah,” tanpa
menanyakan lebih lanjut tentang perasaan Tati atau menawarkan dukungan.
Situasi 2
Dalam sebuah diskusi kelompok, saat seorang teman mengajukan ide yang
menurut Reni kurang baik, dia hanya berkata, “Mungkin itu ide yang bagus,”
meskipun di dalam hati dia merasa sebaliknya. Reni merasa tidak nyaman untuk
menyatakan ketidaksetujuannya karena takut menimbulkan konflik
.Situasi 3
Ketika ditanya tentang pendapatnya mengenai tugas kelompok, Reni menjawab,
“Saya tidak tahu apakah saya bisa membantu banyak,” menunjukkan
ketidakpastian dan keraguan dalam [Link] non-asertif seperti ini
sering kali menyebabkan kesalahpahaman dan kurangnya komunikasi yang efektif
dalam interaksi sosial. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan berlatih
komunikasi asertif agar dapat mengekspresikan diri dengan lebih baik dan
membangun hubungan yang lebih sehat dengan orang lain
B. Narasi Asertif
a. Pengertian
Komunikasi asertif adalah suatu bentuk interaksi yang mencerminkan ketegasan,
kejelasan, dan keterbukaan dalam menyampaikan pendapat, perasaan, atau
kebutuhan tanpa melanggar hak orang lain. Ini merupakan keterampilan penting
dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat dan efektif.\
b. Ciri-ciri Narasi Asertif
Orang yang bersikap asertif umumnya memiliki beberapa ciri khas, antara lain:
Menghormati hak orang lain dan diri sendiri: Mereka mampu
menyampaikan pendapat meskipun berbeda dengan orang lain.
Berani mengungkapkan pendapat secara langsung: Mereka tidak ragu
untuk berbicara tentang perasaan dan kebutuhan mereka.
Memberikan kritik konstruktif: Mereka dapat menerima kritik dengan baik
dan memberikan umpan balik yang membangun.
Berbicara dengan suara tenang: Komunikasi dilakukan dengan nada suara
yang tenang dan sikap tubuh positif
c. Contoh Narasi Asertif
1. Menyampaikan Pendapat dengan Jelas:
Di sekolah: Seorang siswa berani mengungkapkan pendapatnya saat diskusi
kelas.
Di rumah: Anak dapat menyatakan pendapat tentang film atau acara TV yang
ingin ditonton dengan mengatakan, "Saya lebih suka menonton film animasi
karena saya suka ceritanya."
2. Menegaskan Batasan Diri:
Di sekolah: Siswa menolak untuk terlibat dalam perilaku negatif yang
dilakukan teman-temannya.
Di rumah: Anak bisa mengatakan, "Saya tidak mau berbagi mainan jika teman
saya tidak merawatnya dengan baik."
3. Berbicara dengan Nada Tenang:
Di sekolah: Saat berhadapan dengan guru atau teman, siswa berbicara dengan
tenang meskipun ada perbedaan pendapat.
Di rumah: Anak dapat menyampaikan perasaannya kepada orang tua dengan
nada tenang, seperti, "Saya merasa sedih ketika tidak diajak bermain."
C. Narasi Agresif Berkelompok
a. Pengertian
Narasi agresif berkelompok merujuk pada perilaku agresif yang muncul dalam
konteks kelompok, di mana individu terpengaruh oleh dinamika sosial dan
interaksi antar anggota kelompok. Penelitian dalam bidang psikologi
menunjukkan bahwa perilaku agresif sering kali dipicu oleh faktor konformitas
dan solidaritas kelompok
b. Cara Mengidentifikasi Perilaku Agresif dalam Kelompok
Mengidentifikasi perilaku agresif dalam kelompok memerlukan pemahaman
tentang ciri-ciri dan indikator yang dapat diamati. Berikut adalah beberapa cara
untuk mengenali perilaku agresif di antara individu dalam suatu kelompok:
c. Ciri-ciri Perilaku Agresif
1. Tindakan Fisik dan Verbal: Perilaku agresif dapat terlihat melalui tindakan
fisik seperti memukul, menendang, atau mendorong, serta tindakan verbal
seperti menghina, mengancam, atau menggunakan kata-kata kasar
2. Kecenderungan Mengganggu: Individu yang menunjukkan perilaku agresif
sering kali senang mengganggu orang lain dan menunjukkan sikap
permusuhan
3. Marah Tanpa Alasan: Tindakan marah yang tidak beralasan atau berlebihan
juga merupakan indikator perilaku agresif
Kesimpulan
Komunikasi yang baik dan efektif sangat bergantung pada bagaimana kita
menyampaikan perasaan, kebutuhan, dan pendapat kita. Komunikasi asertif adalah
gaya yang paling dianjurkan karena memungkinkan kita untuk menyampaikan diri
dengan jelas, langsung, dan penuh penghargaan terhadap orang lain. Sebaliknya,
komunikasi non-asertif sering kali menyebabkan ketidakjelasan, dan komunikasi
agresif dapat merusak hubungan dan menambah konflik. Oleh karena itu, penting
bagi setiap individu untuk memahami perbedaan antara ketiga gaya komunikasi ini
dan berusaha untuk mengembangkan kemampuan komunikasi asertif dalam
kehidupan sehari-hari.