BAB II
TINJUAN PUSTAKA
Tanaman sawi merupakan salah satu jenis sayuran daun yang mengandung
berbagai macam zat gizi lengkap yang dapat memenuhi kebutuhan gizi
masyarakat. Sawi merupakan produk pertanian yang banyak dimanfaatkan dan
sangat terjangkau oleh masyarakat di pasar tradisional maupun pasar modern.
Tanaman sawi ini biasanya dapat diolah menjadi berbagai aneka masakan dan
tentunya memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Kandungan
sawi diantaranya karbohidrat, lemak, protein, P, Ca, Fe, vitamin A, vitamin B, dan
vitamin C.
Berdasarkan analisis data Badan Pusat Statistik (2021), nilai total produksi
dan luas panen tanaman sawi di Indonesia mengamalami fluktuatif dari tahun
demi tahun, maka perlu dilakukan perbaikan teknik budidaya tanaman sawi yang
tepat. Beberapa perbaikan yang bisa dilakukan adalah dengan cara pemberian
pupuk organik dan anorganik secara berimbang sesuai dengan kebutuhan.
Berdasarkan Barokah (2017), tanaman sawi merupakan jenis sayuran subtropis,
namun juga dapat beradaptasi dengan baik di iklim tropis. Oleh karena itu,
tanaman sawi membutuhkan pemupukan untuk menunjang pertumbuhan tanaman
secara optimal.
Adapun salah satu upaya untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah
penggunaan pupuk hayati. Pupuk hayati merupakan biofertilizer yang dapat
meningkatkan atau mengembalikan kesuburan tanah. Penggunaan pupuk hayati
diperlukan untuk meningkatkan produktivitas pupuk sawi, karena pupuk sawi
memiliki keunggulan dalam penggunaan pupuk anorganik yang efektif, terutama
karena meningkatkan ketersediaan unsur hara N dan P di dalam tanah. Kandungan
N yang tinggi dalam residu dapat meningkatkan aktivitas mikroba, sehingga
terjadi peningkatan mineralisasi dan pelepasan N, dan pada akhirnya
meningkatkan serapan N oleh tanaman (Sholihah dan Sugianto, 2014). Pupuk
hayati juga dapat memperbaiki struktur dan biologi tanah sehingga mampu
mempercepat penguraian bahan organik tanah.
Berdasarkan uraian diatas penelitian ini bertujuan untuk menentukan
6
pengaruh aplikasi pupuk hayati Petrobio terhadap tanaman sawi sehingga dapat
meningkatkan pertumbuhan dan hasil yang optimal.
2.1 Sawi Manis
Klasifikasi tanaman adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Rhoeadales
Famili : Cruciferae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica juncea L.
Sawi manis termasuk tanaman jenis C4. Sawi termasuk famili Brassicaceae,
daunnya panjang, halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Secara umum tanaman
sawi biasanya mempunyai daun lonjong, tidak berbulu dan tidak berkrop. Urat 5 6
daun utama lebih sempit dari pada petai tetapi daunya lebih liat. Pada umumnya
pola pertumbuhan daunnya berserak (roset) hingga sukar membentuk krop.
Akar sawi berfungsi untuk menyerap air, unsur hara, dan berdiri tegaknya
tanaman sawi (Rukmana, 2017). Tanaman sawi umumnya mudah berbunga dan
berbiji secara alami baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Struktur
bunga sawi tersusun dalam tangkai bunga (inflorescentia) yang tumbuh
memanjang (tinggi) dan bercabang banyak.
Sawi memiliki akar serabut yang tumbuh dan berkembang secara menyebar ke
semua arah di sekitar permukaan tanah, perakarannya sangat dangkal pada
kedalaman sekitar 5 cm. Perakaran sawi dapat tumbuh dan berkembang dengan
baik pada tanah yang gembur, subur, mudah menyerap air dan kedalaman tanah
cukup dalam (Fransisca, 2019).
Tangkai daunnya agak pipih, sedikit berliku tetapi kuat (Sunarjono, 2013).
Batang tanaman sawi pendek sekali dan beruas-ruas sehingga hampir tidak
kelihatan. Batang sawi ini berfungsi sebagai alat pembentuk dan pendopang daun
(Rukmana, 2017).
Tiap kuntum bunga sawi terdiri atas empat helai daun kelopak, empat helai
daun mahkota bunga berwarna kuning cerah, empat helai benang sari dan satu
7
buah putik yang berongga dua (Rukmana, 2017). Ukuran kuntum bunganya lebih
kecil dengan warna pucat yang spesifik. Ukuran bijinya kecil dan berwarna hitam
kecoklatan. Bijinya terdapat dalam kedua dinding sekat polong yang lebih gemuk.
Hampir setiap orang gemar memakan sawi karena rasanya segar (enak) dan
banyak mengandung vitamin A, vitamin B, dan sedikit vitamin C namun daun
sawi rasanya agak pahit (Sunarjono, 2014).
Botani Tanaman
Sawi manis (Brassica juncea L.) merupakan tanaman semusim, herba (tidak
berkayu), menyelesaikan siklus hidupnya dalam satu musim (dari biji kembali ke
biji). Pertumbuhan pucuk dimulai setelah perkecambahan biji dan terus berlanjut
dalam pola yang hampir seragam (apabila faktor lingkungan tidak menjadi
pembatas) sampai fase pembungaan dan produksi biji. Pertumbuhan pada akhir
siklus hidup Sawi Manis akan terhenti sebagai akibat senescence atau penuaan
(Zulkarnain, 2010).
Morfologi Tanaman Akar
Sistem perakaran tanaman sawi memiliki akar tunggang (radix primaria)
dan cabang-cabang akar yang bentuknya bulat panjang (silindris) menyebar
kesemua arah dengan kedalaman antara 30-50 cm. Akar-akar ini berfungsi antara
lain mengisap air dan zat makanan dari dalam tanah, serta menguatkan berdirinya
batang tanaman. Tanaman sawi berakar serabut yang tumbuh dan berkembang
secara menyebar kesemua arah disekitar permukaan tanah, perakarannya dangkal
pada kedalaman sekitar 5cm (Tjitrosoepomo, 2013).
Batang
Batang tanaman sawi pendek sekali dan beruas-ruas sehingga hampir tidak
kelihatan. Batang ini berfungsi sebagai alat pembentuk dan penopang daun
(Tjitrosoepomo, 2013).
Daun
Daun tanaman sawi berbentuk bulat dan lonjong, lebar dan sempit, ada yang
berkerut-kerut (keriting), tidak berbulu dan berwarna hijau muda, hijau keputihan
dan sampai hijau tua. Daun memiliki tangkai daun panjang dan pendek, sempit
atau lebar bersifat kuat dan halus. Pelepah daun tersusun saling membungkus
dengan pelepah-pelepah daun yang lebih muda tetapi tetap membuka. Daun
8
memiliki tulang-tulang daun yang menyirip dan bercabang-cabang. Sawi berdaun
lonjong, halus, tidak berbulu dan tidak berkrop. Pada umumnya pola pertumbuhan
daunnya berserak (roset) hingga sukar membentuk krop (Wahyudi, 2010).
Bunga
Struktur bunga sawi manis tersusun dalam tangkai bunga (inflorescentia)
yang tumbuh memanjang (tinggi) dan bercabang banyak. Tiap kuntum bunga
terdiri atas empat helai kelopak daun, empat helai daun mahkota bunga berwarna
kuning-cerah, empat helai benang sari, dan satu buah putik yang berongga dua
(Wahyudi, 2010).
Buah dan Biji
Buah sawi hijau termasuk tipe buah polong, yaitu bentuknya memanjang
dan berongga. Tiap buah (polong) berisi 2-8 butir biji. Biji sawi berbentuk bulat
kecil berwarna coklat atau coklat kehitam-hitaman. Biji sawi manis berbentuk
bulat, berukuran kecil, permukaannya licin mengkilap, agak keras, dan berwarna
coklat kehitaman (Wahyudi, 2010).
Syarat Tumbuh Tanaman Iklim
Sawi bukan tanaman asli Indonesia, tetapi berasal dari Asia. Dikembangkan
di Indonesia karena Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan
tanahnya. Tanaman sawi dapat ditanam di dataran tinggi maupun dataran rendah
(5-1200 mdpl). Ketinggian tempat yang memberikan pertumbuhan optimal pada
tanaman sawi adalah 100-500 mdpl. Sawi dapat tumbuh dengan baik pada suhu
rata-rata 15-300 C serta penyinaran matahari antara 10-13 jam per hari dan
kelembaban 60-100% untuk tumbuh optimal (Maripul, 2010).
Tanah
Pertumbuhan sawi, membutuhkan hawa yang sejuk dan lebih cepat tumbuh
apabila ditanam dalam suasana lembab. Keadaan tanah yang dikehendaki adalah
tanah gembur, banyak mengandung humus dan drainase yang baik. Derajat
keasaman (pH) tanah yang dibutuhkan sekitar 6-7 (Maripul, 2010).
9
Media Tanam
Media tanam memiliki fungsi yang cukup bagi tanaman, yaitu sebagai
tempat tumbuh dan berkembangnya tanaman dan penyedia air dan unsur hara bagi
tanaman. Secara umum, media tanam dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu
media tanam tanah dan non tanah. Media tanam yang termasuk dalam kategori
bahan unsur umumnya berasal dari komponen mikroorganisme, misalnya bagian
dari tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, atau kulit kayu. Bahan tanam
jugamemiliki pori-pori makro dan mikro yang unsur haranya seimbang sehingga
sirkulasi udara yang dihasilkan cukup baik serta memiliki daya serap air yang
tinggi (Manurung, 2016).
2.2 Sawi Putih
Klasifikasi tanaman sawi putih secara sistematik adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rhoeadales
Familia : Cruciferaceae
Genus :Brassica
Species :Brassica pekinensis L.
Akar
Akar Sawi Putih mempunyai akar serabut yang tumbuh ke segala arah di
sekitar permukaan tanah, dengan akar yang dangkal. Tanaman sawi putih
memiliki akar serabut. Sawi putih tumbuh baik di tanah yang gembur, subur,
tanah yang memiliki porositas air yang baik dan memiliki unsur hara yang tinggi .
Daun
Daun sawi putih mempunyai bentuk yang bulat dan lonjong, lebar dan sempit
kadang mengkerut (melingkar), tidak berbulu, hijau muda, hijau putih sampai
hijau tua. Daun sawi mempunyai tangkai yang panjang dan pendek, sempit atau
lebar, berwarna putih hingga hijau, kuat dan halus. Tangkai daun bersusun agar
terjalin dengan tangkai yang lebih muda, tetapi tetap terbuka. Daunnya memiliki
tulang daun yang menyirip dan bercabang. Sawi memiliki sistem akar tunggang
10
(basal primordium) dan cabang akar lonjong (silindris). Akar sawi mempunyai
fungsi menyerap unsur hara dan air dari tanah, serta serta dapat menopang batang
tanaman untuk berdiri.
Batang
Batang sawi tidak panjang yang tersegmentasi sampai tidak kelihatan.
Biasanya digunakan untuk alat pembentuk dan penompang daun (Rukmana,
2017). Daun sawi berbentuk lonjong, halus, tidak berbulu dan tidak dipangkas.
Secara umum pertumbuhan daun tersebar, sehingga sulit untuk membentuk crop
(Sunarjono, 2014).
Bunga
Bunga Sawi mudah berbunga secara alami, baik di dataran tinggi ataupun
dataran rendah. Bunga sawi tertumpuk pada tangkai bunga yang tumbuh meninggi
dan mempunyai cabang yang tidak sedikit. Bunga sawi mempunyai empat
kelopak, yang terdiri dari empat kelopak berwarna kuning, benang sari yang
berjumlah empat dan terdapat satu putik dengan dua rongga (Rukmana, 2007).
Bunga sawi menyerbuk dengan bantuan lebah, serangga atau dapat dilakukan oleh
manusia, dan menghasilkan buah berbiji berupa polong panjang berongga, yang
masing-masing berisi dua sampai delapan biji yang mempunyai bentuk bulat kecil
dengan warna coklat (Supriati [Link], 2010).
Syarat Tumbuh
Tanaman sawi biasanya dibudidayakan di dataran yang tidak tinggi. Sawi
tidak hanya tahan akan suhu yang tidak rendah. Sawi sangat mudah berbunga dan
menghasilkan 10 biji secara alami di iklim tropis indonesia. Selanjutnya selain
cocok tumbuh di dataran rendah, juga dapat tumbuh di dataran tinggi (Pracaya,
2011). Sawi bukan tanaman yang berasal dari Indonesia, melainkan dari Benua
Asia yang dapat ditanam karena iklim, cuaca, dan tanah di Indonesia yang cocok
untuk pertumbuhan tanaman sawi. Daerah yang cocok untuk pertumbuhan mulai
dari 5 sampai 1200 meter di atas permukaan laut. Pada umumnya, sawi tumbuh di
daerah 100-500 meter di atas permukaan laut. Tanaman sawi sendiri toleran
terhadap hujan dan penyiraman teratur selama musim kemarau sangat perlu
diperhatikan. Pada fase vegetatif, sawi menyukai suhu yang sejuk, tumbuh cepat
bila pada masa pertumbuhannya dalam kondisi yang lembab, tetapi sawi tidak
11
cocok pada kondisi tanah yang tergenang oleh air. Sawi akan cocok bila ditanam
bukan di musim kemarau atau di akhir musim penghujan.
Sawi putih termasuk jenis tanaman C4. Sawi putih merupakan salah satu jenis
sayuran daun yang disukai oleh konsumen Indonesia dan memiliki kandungan pro
vitamin A, asam askorbat, dan serat yang tinggi (Kusuma, 2012). Masa panen
yang singkat dan pasar yang terbuka luas merupakan daya tarik untuk
mengusahakan sawi putih. Daya Tarik lainnya adalah harga yang relatif stabil dan
mudah diusahakan petani (Lama [Link], 2016).
Sawi putih diklasifikasikan dalam famili Cruciferae (Brassicaceae), genus
Brassica, dan spesies Brassica rapa L. ssp. pekinensis. Tanaman sawi putih
merupakan salah satu sayuran penting di Asia, atau khususnya di China. Daun
sawi putih bertangkai, berbentuk oval, berwarna hijau keputihan, dan mengkilat,
tidak membentuk kepala, tumbuh agak tegak atau setengah mendatar, tersusun
dalam spiral rapat, melekat pada batang yang tertekan. Tangkai daun, berwarna
putih atau hijau muda. Sawi putih (sawi jabung), memiliki daun berwarna hijau
keputihan dan lebar, batang berwarna hijau dan pendek serta tegap, dan bersayap .
Tanaman Sawi Putih Tanaman sawi putih memiliki akar tunggang (radix
primaria) dan cabang akar yang bentuknya bulat panjang menyebar ke semua akar
pada kedalaman antara 30-50 cm. Akar-akar ini berfungsi antara lain untuk
menyerap air dan zat makanan dari dalam tanah, serta menguatkan berdirinya
batang tanaman.. Struktur bunga sawi putih tersusun dalam tangkai bunga
(Inflorescentia) yang tumbuh memanjang (tinggi) dan bercabang banyak. Tiap
kuntum bunga terdiri atas empat helai kelopak daun, empat helai daun 4 mahkota,
bunga berwarna kuning cerah, empat helai benang sari, dan satu buah putik yang
berongga dua.
Buah sawi putih termasuk tipe buah polong, yaitu bentuknya memanjang dan
berongga. Tiap buah (polong) berisi 2-8 butir biji. Biji sawi putih berbentuk bulat
kecil berwarna coklat atau coklat kehitam-hitaman, dengan permukaannya licin
mengkilat, dan agak keras..
2.3 Sawi Pahit
Klasifikasi sawi pahit adalah sebagai berikut :
12
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Rhoeadales
Famili : Cruciferae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica juncea L.
Akar
Akar tunggang sawi (Radix primaria) mempunyai cabang – cabang akar
yang berbentuk bulat memanjang (silindris) yang menyebar ke semua arah dengan
kedalaman 30 – 50 cm dan berfungsi untuk menyerap air dan unsur hara yang
berada dalam tanah dan sekitarnya serta menopang batang tanaman.
Batang
Batang sawi pendek sekali dan beruas-ruas, sehingga hampir tidak
kelihatan. Batang ini berfungsi sebagai alat pembentuk dan penopang daun. Sawi
memiliki batang sejati pendek dan tegap terletak pada bagian dasar yang berada di
dalam tanah. Batang sejati bersifat tidak keras dan berwarna kehijauan atau
keputih-putihan.
Daun
Tanaman sawi pahit mempunyai bentuk daun yang khas yaitu bulat
lonjong dengan daunnya yang melebar ada yang berkerut-kerut (keriting), tidak
berbulu, berwarna hijau keputih-putihan sampai hijau tua. Daun sawi pahit
memiliki tangkai daun ada yang panjang dan pendek bersifat kokoh dan lembut,
pelepahnya tertata dengan saling membungkus dengan pelapah daun yang lebih
muda dengan keadaan yang tetap terbuka. Tulang – tulang pada daun sawi
berbentuk menyirip dan bercabang.
Bunga
Bunga pada tanaman sawi tersusun dalam tangkai bunga yang tumbuh
memanjang tinggi dengan cabang banyak yang tiap kuntum bunganya terdiri atas
empat helai kelopak daun, empat helai daun mahkota bunga berwarna
kuningcerah, empat helai benang sari dan satu buah putik yang berongga dua
13
(Rukmana, 1994 dalam Fuad, 2010).
Biji
Buah sawi termasuk tipe polong yakni bentuknya panjang dan berongga,
tiap polong berisi 2-8 butir biji. Biji-biji sawi berbentuk bulat kecil berwarna
coklat atau coklat kehitam-hitaman (Supriati dan Herliana, 2010).
Sawi Pahit termasuk jenis tanaman C4. Manfaat Sawi pahit sangat baik
untuk menghilangkan rasa gatal di tenggorokan pada penderita batuk, penyembuh
sakit kepala, bahan pembersih darah, memperbaiki fungsi ginjal, serta
memperbaiki dan memperlancar pencernaan (Abas [Link], 2013).
Sawi merupakan tanaman jenis sayuran daun yang tergolong dalam
tanaman semusim. Tanaman sawi banyak disukai karena rasa dan kandungan
beberapa vitaminnya. Kandungan gizi dalam 100 g bahan sawi segar pada sawi
pahit adalah, kalori 22.00 kl, protein 2.30 g, lemak 0.30 g, karbohidrat 4.00 g,
Serat 1.20 g, Kalsium (CA) 220.50 mg, fosfor (P) 38.40 mg, Besi (FE) 2.90
mg, Vitamin A 969.00 SI, Vitamin B1 0.09 mg, Vitamin B2 0.10 mg, Vitamin
B3 0.70 mg dan Vitamin C 102.00 mg.
Jika melihat kandugan gizi dari sawi maka sudah selayaknya jika
budidaya sawi di Indonesia lebih ditingkatkan lagi. Namun sayang belakangan ini
produksi tanaman sawi mengalami penurunan, hal ini disebabkan oleh degradasi
tanah, pengolahan lahan yang kurang baik, tehnik budidaya serta penggunaan
pupuk yang kurang baik dan tidak tepat, sehingga pertumbuhan dan kualitas
produksi tidakdapat mencapai nilai optimal.
Berdasarkan data statistik , luas panen untuk tanaman sayuran sawi yaitu 114 ha
dengan produksi 555 ton. Pada tahun 2013, luas panen tanaman sawi yaitu 738 ha
dengan produksi 2.028 ton. Selanjutnya pada tahun 2012, luas panen mencapai 744 ha
dengan produksi 2.928 ton, kemudian pada tahun 2011, luas panen sawi 894 ha
dengan produksi 5.492 ton. Menurut data diatas semakin tahun semakin menurun hasil
produksi sawi. Maka perlu menemukan solusi yaitu salah satunya dengan menggunakan
pupuk organik baik padat maupun cair untuk mengurangi kerusakan lingkungan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk petrobio terhadap
pertumbuhandan produksi tanaman sawi pahit
Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Putih (Brassica rapa L. ssp. pekinensis)
Tanaman sawi putih dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik ketika
14
tanaman berada pada syarat tumbuh yang seharusnya. Adapun syarat tumbuh
tanaman sawi putih sebagai berikut.
a. Iklim
Pada stadia pembibitan diperlukan intensitas cahaya lemah sehingga
memerlukan naungan, untuk mencegah cahaya matahari langsung yang dapat
membahayakan pertumbuhan bibit. Pada stadia pertumbuhan diperlukan intensitas
cahaya kuat, sehingga tidak membutuhkan naungan. Secara umum sawi putih
memerlukan penyinaran 10-13 jam/hari. Suhu udara yang untuk budidaya sawi
putih adalah 15-20 0C dan toleran terhadap suhu 32-350C.
b. Media tanam
Syarat yang paling penting adalah tanahnya subur, gembur, kaya bahan
organik dan tidak mudah becek seperti pada tanah lempung berpasir tetapi dapat
hidup dengan baik pada tanah jenis Latosol. Keasaman yang cocok adalah pH
5,5–7,5. Tetapi pada kisaran pH 5,9-8,2 sawi putih masih dapat tumbuh dengan
baik. Kandungan air tanah yang baik adalah pada kandungan air tersedia, yaitu pF
antara 2,5–4. Dengan demikian lahan tanaman sawi putih memerlukan pengairan
yang cukup baik (irigasi maupun drainase). Sawi putih tidak dapat hidup dengan
baik pada tanah yang berlebihan air atau tergenang.
c. Kemiringan lahan
Sawi putih dapat hidup pada tanah-tanah dengan kemiringan 0-20%, pada
tanah dengan kemiringan >20%, lahan harus dibuat dalam bentuk terasering.
Penanaman sawi putih juga harus memperhatikan kemiringan lahan. Semakin
curam lahan tempat tumbuh sawi putih semakin rawan sawi putih tersebut roboh
karena perakaran sawi putih yang tidak terlalu dalam antara 20 – 30 cm.
d. Ketinggian tempat
Umumnya sawi putih tumbuh baik di daerah dataran tinggi pada ketinggian
500 – 2000 m dpl. Sawi putih dapat pula ditanam di daerah dataran rendah
(Haryanto, 2007). Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa
panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan di daerah dataran
tinggi maupun dataran rendah. Meskipun begitu, tanaman sawi akan lebih baik
jika ditanam di dataran tinggi. Sebagian besar daerah-daerah di Indonesia
memenuhi syarat ketinggian tersebut.
15
Pupuk Petrobio
Penggunaan pupuk hayati, seperti Petrobio, telah terbukti sebagai strategi yang
efektif dalam meningkatkan ketersediaan unsur hara utama seperti nitrogen (N),
fosfor (P), dan kalium (K) bagi tanaman. Pupuk hayati ini mengandung
mikroorganisme yang mampu meningkatkan kualitas tanah dan mendukung
penyerapan unsur hara oleh tanaman
Mikroorganisme yang terkandung dalam pupuk hayati seperti Petrobio
berperan penting dalam meningkatkan kesuburan tanah. Mereka membantu dalam
meningkatkan ketersediaan unsur hara melalui proses-proses seperti fiksasi
nitrogen dan solubilisasi fosfat. Selain itu, mikroorganisme ini juga berkontribusi
pada peningkatan aktivitas mikroba tanah yang dapat mendukung tanaman dalam
menyerap unsur hara yang diperlukan.
Penggunaan pupuk hayati Petrobio secara konsisten dapat meningkatkan
produktivitas tanaman. Dengan menyediakan unsur hara utama dalam jumlah
yang cukup, tanaman memiliki akses yang lebih baik ke nutrisi yang mereka
butuhkan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pertumbuhan
dan hasil panen.
Wahyuni, dkk. (2010) mengatakan bahwa pupuk hayati ialah bahan yang
mengandung mikroorganisme hidup. Pemberian pupuk hayati diharapkan akan
meningkatkan jumlah mikrobia dalam tanah sehingga dapat menambah
ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Mikroba yang terdapat di dalam pupuk
hayati selain mempercepat laju dekomposisi juga dapat memfikasi nitrogen, serta
pelarut unsur hara P dan K di dalam tanah. Kelompok mikroorganisme tersebut
antara lain seperti Rhizobium sp, Azospirilium sp, Azotobacter sp, Aspergillus sp,
Pseudomonas sp, dan Lactobacillus sp.
Pupuk hayati sangat efektif dalam penyediaan nutrisi dan perbaikan sifat tanah
dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Menurut Yelianti (2011) Pemanfaatan
pupuk hayati bagi tanaman sangat menguntungkan karena dapat menekan
penggunaan pupuk kimia yang pada akhirnya dapat mengurangi biaya produksi.
16