BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Konsep Kehamilan
a. Defenisi Kehamilan
Kehamilan adalah suatu masa yang dimulai dari kontrasepsi sampai
lahirnya janin, lamanya hamil normal adalah 280 hari (9 bulan 7 hari, atau
40 minggu) dihitung dari hari pertama haid terakhir (Febrianti & Aslina,
2019).
Kehamilan merupakan fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan
ovum yang dilanjutkan dengan implantasi, bila dihitung dari saat fertilisasi
hingga lahirnya bayi, kehamilan umumnya akan berlangsung dalam waktu
40 minggu atau 9 bulan. Kehamilan dibagi dalam tiga trimester, dimana
trimester pertama berlangsung sampai 12 minggu, trimester kedua
berlangsung dari minggu ke 13 sampai minggu ke 27, trimester ketiga
berlangsung dari minggu ke 28 sampai minggu ke 40 (WHO, 2019).
b. Klasifikasi Usia Kehamilan
Menurut Ophie (2019) kehamilan terjadi selama 40 minggu, yang
terbagi ke dalam tiga trimester dengan ciri-ciri prkembangan janin yang
spesifik :
1) Trimester pertama (0-13 minggu): Struktur tubuh dan sistem
organ bayi berkembang. Kebanyakan keguguran dan kecacatan
lahir muncul selama periode ini.
2) Trimester kedua (14-26 minggu): Tubuh bayi terus
berkembang dan ibu dapat merasakan pergerakan pertama
bayi.
3) Trimester ketiga (27-40 minggu): Bayi berkembang
seutuhnya
c. Perubahan Fisiologis Dan Psikologis Pada Kehamilan Trimester
III
1) Perubahan Fisiologis Pada Kehamilan Trimester III
a) Sistem Respirasi
Pada usia kehamilan diatas 32 minggu terjadi desakan
diafragma karena dorongan rahim yang membesar. Sebagai
kompensasi terjadinya desakan rahim dan peningkatan
kebutuhan oksigen, ibu hamil akan bernapas lebih dalam 20-
25% daripada biasanya (Wulan Purnamayanti, 2022).
Relaksasi otot dan kartilago toraks menjadikan bentuk dada
berubah. Diafragma menjadi lebih naik sampai 4 cm dan
diameter melintang dada menjadi 2 cm. Kapasitas inspirasi
meningkat progresif selama kehamilan volume tidak
meningkat sampai 40% (Yuliani, 2021).
b) Sistem Endokrin
Trimester III hormon oksitosin mulai meningkat sehingga
menyebabkan ibu mengalami kontraksi. Oksitosin merupakan
salah satu hormon yang sangat diperlukan dalam persalinan
dan dapat merangsang kontraksi uterus ibu. Selain hormon
oksitosin ada hormon prolaktin juga meningkat 10 kali lipat
saat kehamilan aterm.
c) Sistem Muskuloskeletal
Perubahan tubuh yang terjadi secara bertahap kemudian
peningkatan estrogen menyebabkan peningkatan elastisitas
dan relaksasi ligament sehingga menimbulkan gejala nyeri
sendi. Sedangkan peregangan otot abdomen karena
pembesaran uterus menyebabkan diastasis recti (Karjatin,
2019).
d) Sistem Perkemihan
Hormon estrogen dan progesteron dapat menyebabkan ureter
membesar, tonusotot saluran kemih menurun. Kencing lebih
sering (poliuria), laju filtrasi glomerulus meningkat sampai 69
%. Dinding saluran kemih dapat tertekan oleh pembesaran
uterus yang terjadi pada trimester III, menyebabkan
hidroureter dan mungkin hidronefrosis sementara. Kadar
kreatinin, urea dan asam urat dalam darah mungkin menurun
namun hal ini dianggap normal (Wulan Purnamayanti, 2022).
e) Sitem Kardiovaskuler
Volume darah akan bertambah banyak, kira-kira 25 % dengan
puncaknya padakehamilan 32 minggu, diikuti curah jantung
(cardiac output) yang meningkat sebanyak kurang lebih 30%
dari nadi dan tekanan darah. Tekanan darah arteri cenderung
menurun terutama selama trimester kedua dan naik lagi seperti
pada pra hamil. Pada ekstremitas atas dan bawah cenderung
naik setelah akhir trimester pertama. Nadi biasanya naik, nilai
rata- ratanya 84 kali permenit (Rustikayanti, 2018).
f) Uterus
Perubahan uterus mulai menekan ke arah tulang belakang,
menekan vena kavadan aorta sehingga aliran darah tertekan.
Pada akhir kehamilan sering terjadi kontraksi uterus yang
disebut his palsu (braxton hicks). Istmus uteri menjadi bagian
korpus dan berkembang menjadi segmen bawah rahim yang
lebih lebar dan tipis, servik menjadi lunak sekali dan lebih
mudah dimasuki dengan satu jari pada akhir kehamilan. Uterus
yang semula hanya berukuran sebesar jempol atau seberat 30
gram akan mengalami hipertrofi dan hiperplasia, sehingga
menjadi seberat 1000 gram di akhir masa kehamilan. Otot
dalam rahim mengalami hiperplasia dan hipertrofi sehingga
dapat menjadi lebih besar, lunak dan dapat mengikuti
pembesaran janin karena pertumbuhan janin (Wulan
Purnamayanti, 2022).
g) Payudara
Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai
persiapan memberikan ASI pada saat laktasi. Perkembangan
payudara tidak dapat dilepaskan dari pengaruh hormon saat
kehamilan, yaitu estrogen, progesteron, dan somatotropin.
Kedua payudara akan bertambah ukurannya dan vena-vena di
bawah kulit akan lebih terlihat, puting payudara akan
membesar, berwarna kehitaman, dan tegak (Wulan
Purnamayanti, 2022).
h) Kenaikan Berat Badan
Peningkatan berat badan pada trimester III merupakan
petunjuk penting tentang perkembangan janin. Keperluan
penambahan berat badan semua ibu hamil tidak sama tetapi
harus melihat dari BMI atau IMT sebelum hamil. IMT
merupakanproporsi standar berat badan (BB) terhadap tinggi
badan (TB). IMT perlu diketahuiuntuk menilai status gizi catin
dalam kaitannya dengan persiapan kehamilan. Jika perempuan
atau catin mempunyai status gizi kurang ingin hamil,
sebaiknya menunda kehamilan, untuk dilakukan intervensi
perbaikan gizi sampai status gizinya baik. Ibu hamil dengan
kekurangan gizi memiliki risiko yang dapat membahayakan
ibu dan janin, antara lain anemia pada ibu dan janin, risiko
perdarahan saat melahirkan, BBLR, mudah terkena penyakit
infeksi, risiko keguguran, bayi lahir mati, serta cacat bawaan
pada janin (Kemenkes RI, 2021).
2) Perubahan Psikologis Pada Ibu Hamil Trimester III
Peribahan psikologis pada ibu hamil trimester III dapat terjadi
karena masa ini menjadi mada kehamilan yang penuh penantian
dan kewaspadaan. Perubahan psikologis pada ibu hamil trimester
III menurut Wulan Purnamayanti (2022) yaitu :
a) Rasa tidak nyaman timbul, merasa diri buruk, jelek, aneh dan
tidak menarik.
b) Merasa tidak menyenangkan ketika bayi tidak hadir tepat
waktu.
c) Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada
saat melahirkan, khawatir akan keselamatannya.
d) Khawatir bayi yang akan dilahirkannya dalam keadaan
tidak normal.
e) Bermimpi yang mencerminkan perhatian dan
kekhawatirannya. Kecemasan pada ibu hamil meningkat
muncul karena adanya stresor yang dapat merangsang
merangsang sistem saraf simpatis dan modula kelenjar adrenal
sehingga terjadi peningkatan sekresi hormon adrenalin
(efinefrin) yang mampu meningkatkan ketegangan pada ibu
hamil sehingga ibu hamil akan gelisah dan tidak mampu
berkonsetrasi dengan baik. Kondisi ini menyebabkan ibu
hamil trimester III kesulitan untuk tidur.
f) Merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya.
g) Merasa kehilangan perhatian.
h) Merasa mudah terluka (sensitif)
i) Libido menurun
d. Kebutuhan Dasar Ibu Hamil Trimester III
1) Kebutuhan Fisik Ibu Hamil
a) Kebutuhan oksigen
Seorang ibu hamil biasanya sering mengeluh mengalami sesak
nafas. Hal ini disebabkan karena diafragma yang tertekan
akibat semakin membesarnya uterus sehingga kebutuhan
oksigen akan meningkat hingga 20% (Yuliani, dkk, 2021).
b) Kebutuhan nutrisi
Pada prinsipnya nutrisi selama kehamilan adalah makanan sehat
dan seimbang, saat hamil seorang ibu memerlukan gizi
seimbang lebih banyak, sehingga secara umum porsi makan
saat hamil 1 porsi lebih banyak dibandingkan sebelum hamil.
Asupan gizi tersebut meliputi sumber kalori (karbohidrat dan
lemak), protein, asam folat, vitamin B 12, zat besi, zat zeng,
kalsium, vitamin C, vitamin A, vitamin B6, vitamin E, kalium,
yodium, serat dan cairan. Selama kehamilan ibu tidak perlu
berpantang makanan, namun batasi asupan gula, garam dan
lemak (Yuliani, dkk, 2021).
c) Kebutuhan personal hygine
Ibu hamil dianjurkan untuk mandi dua kali sehari, menyikat
gigi secara benar dan teratur minimal setelah sarapan dan
sebelum tidur, membersihkan payudara dan daerah kemaluan,
mengganti pakaian dan pakaian dalam setiap hari serta mencuci
tangan dengan sabun dan air bersih sebelum makan, setelah
buang air besar dan buang air kecil (Kemenkes R.I., 2019).
d) Kebutuhan elimiasi
Keluhan yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan
eliminasi adalah konstipasi dan sering buang air kecil. Sering
buang air kecil merupakan keluhan umum dirasakan ibu hamil,
terutama pada trimester I dan trimester III, hal tersebut adalah
kondisi yang fisiologis, pada trimester III terjadi pembesaran
janin yang juga menyebabkan desakan pada kantong kemih.
(Nugroho, dkk., 2023).
e) Kebutuhan mobilitas
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara
bebas, mudah dan teratur dan mempunyai tujuan dalam rangka
pemenuhan kebutuhan hidup sehat. Manfaat mobilisasi adalah
sirkulasi darah menjadi baik, nafsu makan bertambah,
pencernaan lebih baik dan tidur lebih nyenyak. Gerak badan
yang melelahkan, gerak badan yang menghentak atau tiba-tiba
dilarang untuk dilakukan. Ibu hamil dianjurkan berjalan-jalan
pagi hari dalam udara yang bersih, masih segar, gerak badan
ditempat seperti berdiri-jongkok, terlentang kaki diangkat,
terlentang perut diangkat, melatih pernafasan. Latihan normal
tidak berlebihan, istirahat bila lelah (Walyani, 2019).
f) Kebutuhan istirahat dan tidur
Kehamilan trimester III merupakan masa penantian kelahiran
bayi. Memasuki fase ini, ibu hamil mengalami kecemasan.
Tingkat kecemasan akan semakin meningkat karena mendekati
persalinan dan selalu memikirkan kelahiran bayi yang akan
lahir nantinya sehingga ibu hamil akan sulit memulai tidur dan
sering terbangun pada malam hari. Kecemasan tersebut muncul
karena adanya stresor yang dapat merangsang sistem saraf
simpatis dan modula kelenjar adrenal sehingga terjadi
peningkatan sekresi hormon adrenalin (efinefrin) yang mampu
meningkatkan ketegangan pada ibu hamil sehingga ibu hamil
akan gelisah dan tidak mampu berkonsetrasi dengan baik.
Kondisi ini menyebabkan ibu hamil trimester III kesulitan
untuk tidur (Yuliani, dkk, 2021).
Gangguan kenyamanan tidur kehamilan trimester III dapat
terjadi karena kesulitan mendapatkan posisi yang nyaman saat
tidur akibat dari ukuran perut yang semakin besar sehingga
tidak leluasa tidur dengan nyaman. Seiring dengan usia
kehamilan tua, perut akan berkontraksi/ gerakan janin yang
aktif seperti menendang-nendang sehingga membuat ibu
merasa tidak nyaman dan kesulitan tidur di malam hari. Uterus
yang membesar akan menekan diafragma keatas akibatnya
kerja diafragma pada pernapasan perut akan terbatas, terjadi
kekurangan oksigen dan ibu hamil kesulitan bernapas. Jika
pernapasan ibu hamil tidak normal maka oksigen yang masuk
ke otak akan berkurang sehingga mengganggu kenyamanan ibu
hamil untuk tertidur dan jumlah tidur menurun (Walyani,
2019).
Tiga bulan terakhir kehamilan merupakan saat penting untuk
persiapan dalam menyambut kelahiran bayi. Ibu hamil harus
memenuhi kebutuhan gizi, emosional, dan fisik menjelang
kelahiran bayi. Banyak wanita yang masih tetap bekerja pada
trimester ini, tetapi istirahat yang cukup merupakan komponen
yang sangat penting. Pada trimester ini, volume darah
meningkat 40%, sendi panggul melebar, jaringan payudara
melebar, dan janin tumbuh lebih cepat dari sebelumnya. Tidur
yang cukup dapat membantu dalam mengatasi
ketidaknyamanan yang muncul pada trimester III serta
memperkuat diri ibu hamil untuk persiapan melahirkan
(Walyani, 2019).
Perubahan fisik pada ibu hamil, salah satunya beban berat pada
perut sehingga terjadi perubahan sikap tubuh, tidak jarang ibu
akan mengalami kelelahan, oleh karena itu istirahat dan tidur
sangat penting untuk ibu hamil. Istirahat dan bersantai sangat
penting bagi wanita hamil dan menyusui. Jadwal ini harus
diperhatikan dengan baik, karena istirahat dan tidur secara
teratur dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani
untuk kepentingan pertumbuhan janin dan juga membantu
wanita tetap kuat serta mencegah penyakit (Sulwiati, 2020)
Pada trimester akhir kehamilan sering diiringi dengan
bertambahnya ukuran janin, sehingga terkadang ibu kesulitan
untuk menentukan posisi yang paling baik dan nyaman untuk
tidur. Posisi tidur yang nyaman dan dianjurkan pada ibu hamil
adalah miring ke kiri, kaki lurus, kaki kanan sedikit menekuk
dan ganjal dengan menggunakan bantal dan untuk mengurangi
rasa nyeri pada perut, ganjal dengan bantal pada perut bawah
sebelah kiri (Tyastuti and Wahyuningsih, 2020).
2) Kebutuhan Psikologi Ibu Hamil
a) Support keluarga
Meliputi motivasi suami, keluarga, dan usaha untuk
mempererat ikatan keluarga. Sebaiknya keluarga menjalin
komunikasi yang baik, dengan itu untuk membantu ibu dalam
menyesuaikan diri dan menghadapi masalah selama
kehamilannya karena sering kali merasa ketergantungan atau
butuh pantauan orang- orang di sekitarnya (Asrinah, 2019).
b) Persiapan menjadi orang tua
Dapat dilakukan dengan memberikan pendidikan antenatal
untuk membantu menyelesaikan ketakutan dan kehawatiran
yang dialami para calon orang tua (Asrinah, 2019).
e. Tanda Bahaya Ibu Hamil Trimester III
Tanda bahaya ibu hamil trimester III yang harus diwaspadai antara lain:
1) Nyeri perut atau panggul
2) Penurunan atau tidak ada gerakan janin
3) Mual berkepanjangan dan muntah (dehidrasi, hyperemesis
gravidarum)
4) Demam, menggigil (infeksi)
5) Dysuria, infeksi saluran kemih (ISK)
6) Perdarahan pervaginam
7) Nyeri di bagian abdomen
8) Ketuban pecah dini atau sebelum waktunya
9) Preeklampsia (preeklampsia ditandai dengan sakit kepala yang
hebat, penglihatan kabur, tekanan darah sistolik meningkat 20-30
mmHg dan diastolik 10-20 mmHg di atas normal, proteinuria
diatas positif 3, edema menyeluruh) (Karjatin, 2019).
2. Konsep Gangguan Pola Tidur
a. Defenisi Tidur
Tidur di definisikan sebagai keadaan bawah sadar dimana seoarang
tersebut masih bisa dibangunkan dengan pemberian rangsangan sensorik
atau ransangan lainnya (Guyton & Hall, 2021) . Menurut Fakihan (2019)
mengakatan tidur adalah suatu kondisi dimana seseorang tidak sadar
karena perseptual individu terhdadap lingkungan yang menurun, pada
kondisi demikian keadaan seseorang dapat dibangunkan kembali dengan
rangsangan yang cukup.
Tidur merupakan kegiatan normal yang dialami oleh semua individu
sehingga menjadikan tidur sebagai kegiatan yang manusiawi didalam
kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut dianggap sebagai aktivitas
sederhana yang tidak memerlukan perhatian khusus. Menurut National
Sleep Foundation durasi waktu tidur yang cukup ialah 7-9 jam. Tidur juga
merupakan salah satu bentuk atau cara untuk melepaskan keleahan baik
jasmani atau mental seseorang (Iqbal, 2020).
b. Defenisi Gangguan Pola Tidur
Gangguan pola tidur adalah kondisi yang mengganggu pola tidur
normal, tidur yang tidak memadai atau tidak memulihkan dapat
mengganggu fungsi fisik, mental, sosial, dan emosional yang normal.
Gangguan tidur dapat mempengaruhi kesehatan, keamanan, dan kualitas
hidup secara keseluruhan (Karna and Gupta, 2021).
c. Penyebab Gangguan Pola Tidur
Adapun penyebab gangguan pola tidur dalam Standar Diagnosis
Keperawatan Indonesia antara lain:
1) Hambatan lingkungan (mis. Kelembapan lingkungan sekitar, suhu
lingkungan, pencahayaan, kebisingan, bau tidak sedap, jadwal
pemantauan/pemeriksaan/tindakan)
2) Kurang kontrol tidur
3) Kurang privasi
4) Restrain fisik
5) Ketiadaan teman tidur
6) Tidak familiar dengan peralatan tidur
(PPNI, 2016)
Keadaan kehamilan ada kondisi dimana ibu mengalami perubahan
fisik dan psikologis yang pesat terutama pada saat trimester ke III. Ibu
hamil mengalami kekhawatiran proses persalinan, posisi tidur yang tidak
nyaman, gerakan janin di malam hari membuat ibu mengalami insomnia
dan gangguan tidur mencapai puncaknya pada trimester ini. Banyak
faktor yang menyebabkan buruknya kualitas tidur pada ibu hamil.
Perubahan fisiologis normal selama kehamilan seperti peningkatan
ukuran uterus dan ketidaknyamanan fisik, serta peningkatan hormon
progesteron berkontribusi pada kualitas tidur yang buruk pada ibu hamil
trimester III. Progesteron yang meningkat mempunyai efek melemaskan
otot, termasuk kandung kemih. Akibatnya, dalam tidur pun bisa
terganggu oleh dorongan untuk kencing di malam hari sehingga
menyebabkan kualitas tidur buruk (Iqbal, 2020).
Gangguan pola tidur pada ibu hamil sering dirasakan saat kehamilan
trimester II dan III, hal tersebut terjadi karena perubahan adaptasi
fisiologis dan psikologis, perubahan fisiologis yang dialami ibu hamil,
dikarenakan bertambahnya usia kehamilan seperti pembesaran perut,
perubahan anatomis dan perubahan hormonal. Kualitas tidur pada ibu
hamil sangat penting untuk kesehatan ibu dan janin. Penyebab gangguan
tidur ibu hamil karena bertambahnya berat janin, sesak nafas, pergerakan
janin, sering terbangun karena ingin berkemih, dan nyeri punggung.
Lebih dari 79% wanita hamil mengalami ketidakteraturan dalam
tidurnya. Gangguan tidur dan sering lelah adalah salah satu keluhan yang
paling sering dilaporkan oleh ibu hamil. Rata-rata 60% dari ibu hamil
merasakan sering lelah pada akhir trimester dan lebih dari 75%
mengeluhkan gangguan tidur (Riyadi and Widuri, 2019).
d. Tanda Dan Gejala Gangguan Pola Tidur
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, menyatakan
bahwa gejala dan tanda masalah keperawatan gangguan pola tidur antara
lain:
1) Gejala dan tanda mayor
a) Subjektif
(1) Mengeluh sulit tidur
(2) Mengeluh sering terjaga
(3) Mengeluh tidak puas tidur
(4) Mengeluh pola tidur berubah
(5) Mengeluh istirahat tidak cukup
b) Objektif (tidak tersedia)
2) Gejala dan tanda minor
a) Subjektif
(1) Mengeluh kemampuan beraktivitas menurun
b) Objektif (tidak tersedia)
(PPNI, 2016)
e. Kondisi Klinis Terkait Gangguan Pola Tidur
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, menyatakan
bahwa kondisi klinis terkait masalah keperawatan gangguan pola tidur
antara lain:
1) Nyeri / kolik
2) Hipertiroidisme
3) Kecemasan
4) Penyakit paru obstruktif kronis
5) Kehamilan
6) Periode pasca partum
7) Kondisi pasca operasi
(PPNI, 2016)
f. Proses Tidur
Menurut Ratnasari (2021) berdasarkan prosesnya, terdapat dua jenis
tidur, pertama jenis tidur yang disebabkan oleh menurunnya kegiatan di
dalam sistem pengaktivasi retikularis. Jenis tidur tersebut disebut dengan
tidur gelombang lambat karena gelombang otaknya sangat lambat, atau
disebut tidur nonrapid eye movement (NREM). Kedua jenis tidur yang
disebabkan oleh penyaluran isyarat-isyarat abnormal dari dalam otak,
meskipun kegiatan otak tidak tertekan secara berarti. Jenis tidur yang
kedua disebut dengan jenis tidur paradox atau rapid eye movement (REM).
1) Tidur gelombang lambat/NREM, jenis tidur ini dikenal dengan
tidur yang dalam, atau juga dikenal dengan tidur yang nyenyak.
Ciri-ciri tidur nyenyak adalah menyegarkan, tanpa mimpi atau
tidur dengan gelombang delta. Ciri lainnya adalah individu berada
dalam keadaan istirahat penuh, tekanan darah menurun, frekuensi
napas menurun, pergerakan bola mata melambat, mimpi berkurang
dan metabolisme menurun. Perubahan selama proses NREM
tampak melalui elektroensefalografi dengan memperlihatkan
gelombang otak berada pada setiap tahap tidur NREM. Tahap
tersebut yaitu ; kewaspadaan penuh dengan gelombang delta yang
berfrekuensi tinggi dan bervoltase rendah, istirahat tenang yang
dapat diperlihatkan pada gelombang alfa, tidur ringan karena
terjadi perlambatan gelombang alfa ke jenis beta atau delta yang
bervoltase rendah, dan tidur nyenyak gelombang lambat dengan
gelombang delta bervoltase tinggi dan berkecepatan 1-2 perdetik.
Tahapan tidur jenis NREM :
a) Tahap I
Tahap ini adalah tahap transisi antara bangun dan tidur dengan
ciri sebagai berikut : rileks, masih sadar dengan lingkungan,
merasa mengantuk, bola mata bergerak dari samping ke samping,
frekuensi nadi dan napas sedikit menurun, serta dapat bangun
segera selama tahap ini berlangsung selama 5 menit.
b) Tahap II
Tahap ini merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus
menurun dengan ciri sebagai berikut : mata pada umumnya
menetap, denyut jantung dan frekuensi napas menurun,
temperature tubuh menurun, metabolisme menurun, serta
berlangsung pendek dan berakhir 10-15 menit.
c) Tahap III
Tahap III merupakan tahap tidur dengan ciri denyut nadi,
frekuensi napas, dan proses tubuh lainnya lambat. Hal ini
disebabkan oleh adanya dominasi sistem parasimpatis sehingga
sulit dibangunkan.
d) Tahap IV
Tahap ini merupakan tahap tidur dalam dengan ciri kecepatan
jantung dan pernapasan menurun, jarang bergerak, sulit
dibangunkan, gerak bola mata cepat, sekresi lambung menurun
dan tonus otot menurun.
2) Tidur paradox/REM, tidur jenis ini dapat berlangsung pada tidur
malam yang terjadi selama 5-20 menit, rata-rata timbul 90 menit.
Periode pertama timbul 80-100 menit. Namun apabila kondisi
seseorang sangat lelah, maka awal tidur sangat cepat dan bahkan
jenis tidur ini tidak ada. Ciri tidur REM adalah sebagai berikut :
a) Biasanya disertai dengan mimpi aktif
b) Lebih sulit dibangunkan daripada selama tidur nyenyak NREM
c) Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan, menunjukan
inhibisi kuat proyeksi spinal atas sistem pengaktivasi retikularis
d) Frekuensi jantung dan pernapasan menjadi tidak teratur
e) Pada otot perifer, terjadi gerakan otot yang tidak teratur
f) Mata cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan irregular, tekanan
darah meningkat atau berfluktuasi, sekresi gaster meningkat, dan
metabolism meningkat Tidur ini penting untuk keseimbangan
mental, emosi, juga berperan dalam belajar, memori, dan adaptasi
Apabila seseorang mengalami kehilangan tidur REM, maka akan
menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut :
a) Cenderung hiperaktif
b) Kurang dapat mengendalikan diri dan emosi
c) Nafsu makan bertambah
d) Bingung dan curiga
Secara umum, siklus tidur normal adalah sebagai berikut:
Bangun (Pratidur)
NREM I Tidur REM
NREM II NREM II
NREM III NREM III
NREM IV
Gambar. Siklus tidur (sumber : Potter & Perry, 1997 dalam
Ratnasari, 2020)
g. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tidur
Kualitas tidur seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain:
1) Kondisi kesehatan
Selama kehamilan seorang wanita mengalami perubahan secara
fisik seperti uterus akan membesar karena didalamnya telah
tumbuh janin, tentunya dengan adanya perubahan tersebut keadaan
kesehatan ibu akan berubah pula karena tubuh ibu dipersiapkan
untuk mendukung perkembangan dari kehidupan yang baru dan
untuk menyiapkan janin hidup di luar kandungan. Keadaan ini
dapat diperberat dengan adanya status yang buruk atau penyakit
yang diderita seperti penyakit jantung, asma, diabetes, hipertensi,
dan penyakit lainnya (Ratnasari, 2020)
2) Stres
Stres itu adalah ketegangan, dimana setiap ketegangan yang
dirasakan oleh seseorang akan mengganggu dan dapat
menimbulkan reaksi fisiologis, emosi, kognitif maupun perilaku.
Stres tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi dapat dikurangi
dengan mengabaikan hal-hal yang tidak begitu penting (Candra,
dkk, 2021)
3) Lingkungan
Lingkungan dapat menghambat proses tidur dan menyebabkan
penurunan kualitas tidur. Stimulus lingkungan seperti suhu dan
kebisingan dapat menjadi salah satu contoh stimulus lingkungan
yang dapat menghambat tidur. Suara gaduh yang ditimbulkan dari
suara kendaraan bermotor dan suara-suara lainnya termasuk
kedalam suara-suara yang dapat mengganggu kenyamanan.
Lingkungan rumah yang gaduh atau bising dapat menimbulkan
rasa ketidaknyamanan dan dapat memengaruhi kualitas tidur
seseorang. Hal ini dapat terjadi kerena sumber suara atau bunyi
yang ditangkap oleh indra pendengaran dapat memberikan
rangsangan pada otak, sehingga mereka akan terbangun jika
mendengar suara yang gaduh (Sulistiyani, 2022).
Pencahayaan juga dapat menjadi salah satu faktor yang
memengaruhi kualitas tidur, semakin minim pencahayaan saat tidur
(gelap) maka akan semakin baik juga kualitas tidur. Cahaya lampu
dapat memengaruhi hormon melatonin. Hormon ini dihasilkan
oleh kelenjar pineal yang berada dekat dengan otak manusia.
Hormon melatonin ini sangat penting untuk menjadikan tidur lebih
nyenyak (Rusmiyati, 2021)
4) Gaya hidup dan aktivitas fisik
Kebiasaan mengkonsumsi makanan atau minuman kafein seperti
kopi atau teh juga dapat menjadi salah satu penyebab kesulitan
tidur di malam hari. Selain konsumsi kafein, konsumsi alcohol, jam
kerja yang tinggi menjadi salah satu faktor yang dapat
menyebabkan gangguan tidur. Wanita hamil yang membatasi
aktivitasnya selama masa kehamilan dan cenderung tidak
melakukan olahraga memiliki resiko lebih tinggi untuk kesulitan
tidur nyenyak di malam hari. Aktivitas fisik dan olahraga tetap
diperlukan oleh wanita hamil, hal tersebut juga membantu wanita
hamil untuk bisa tidur lebih nyenyak dan cenderung memiliki
kualitas tidur yang baik. Kurang beraktivitas dan berolahraga dapat
memicu seseorang menjadi sulit memasuki fase kedalaman tidur
atau tidur yang dalam (Shariat et al., 2019).
3. Konsep Sleep Hygine
a. Defenisi Sleep Hygine
Sleep hygiene merupakan suatu istilah yang menggambarkan kebiasaan
tidur yang baik yang dapat memberikan kesempatan untuk tidur dengan
rileks (australian SD, 2020). Perilaku Sleep Hygiene merupakan kebiasaan
yang dapat mengoptimalkan tidur dengan latihan perilaku yang baik
sehingga dapat melakukan aktivitas maksimal disiang hari, tujuan menjaga
sleep hygiene untuk dapat meningkatkan periode REM dan
mempertahankan durasi REM yang cukup.(Nolan H dkk,2021). Perbaikan
dalam sleep hygiene adalah cara yang mudah dan sederhana namun efektif
dalam meningkatkan kualitas tidur (Stanley M, 2023) .
b. Komponen Sleep Hygiene
Komponen sleep hygiene dibagi menjadi 4 bagian besar yang terdiri
dari jadwal tidur bangun, lingkungan, diet dan kebiasaan tidur yang dapat
menginduksi tidur seperti aktivitas siang hari (Amir N, 2020)
1) Jadwal tidur – bangun
Jadwal bangun tidur terbagi atas kebiasaan tidur siang, kebiasaan
jam tidur, kebiasaan jam bangun, dan aktivitas latihan sebelum
tidur (Mastin D, 2020).
2) Lingkungan
Lingkungan terdiri dari tempat tidur yang tidak nyaman (seperti
matras dan guling yang tidak nyaman, selimut yang terlalu tebal
atau terlalu tipis), kamar tidur yang tidak nyaman (terlalu terang,
suhu ruangan yang panas, suara berisik), perasaan yang buruk
sebelum tidur (seperti marah, stress, khawatir). Studi
menunjukkan bahwa sinar cahaya dalam ruangan akan
mempengaruhi hormone melatonin. Kamar yang tetap terang saat
tidur akan mengurangi kadar melatonin hingga 50%.
Dari hasil penelitian sebelumnya, tidur dengan tidak
menggunakan lampu akan memberikan kualitas tidur yang baik,
jarang terbangun di malam hari dan merasa bangun dalam
keadaan segar. Lampu yang mati saat tidur akan membuat kinerja
hormon melantonin maksimal sehingga tubuh dan otak
beristirahat secara penuh (Suci R, 2019)
3) Diet
Komponen Diet terdiri dari perilaku konsumsi alkohol, merokok
dan konsumsi kafein 4 jam sebelum tidur (Mastin D, 2021).
Konsumsi kafein yang berlebih dapat menyebabkan perburukan
jumlah jam tidur, onset tidur, frekuensi terbangun dimalam hari,
kedalaman tidur, ketidakpuasan tidur dan disfungsi pada pagi hari
(Binti N, 2020). Tindakan non-spesifik untuk menginduksi tidur
(sleep hygiene) dapat dilakukan dengan bangun pada waktu yang
sama setiap hari, batasi waktu ditempat tidur, hindari tidur sekejap
di siang hari, aktif berolahraga di sore hari. Merendam dalam air
panas menjelang waktu tidur selama 20 menit, hindari makan
banyak sebelum tidur, makan pada waktu yang teratur, lakukan
relaksasi sebelum tidur dan mempertahankan kondisi tidur yang
menyenangkan merupakan tindakan yang dapat menginduksi
tidur juga (Prayitno A,2022).
4) Kebiasaan yang menginduksi Tidur
Tindakan non-spesifik untuk menginduksi tidur sleep hygiene
dapat dilakukan dengan bangun pada waktu yang sama setiap
hari, batasi waktu ditempat tidur, hindai tidur sekejap disiang hari,
aktif berolahraga disore hari. Merendam dalam air panas
menjelang waktu tidur selama 20 menit, hindai makan banyak
sebelum tidur, makan pada waktu yang teratur, lakukan relaksasi
sebelum tidur dan mempertahankan kondisi tidur yang
menyenangkan merupakan tindakan yang dapat menginduksi
tidur juga (Prayitno A 2022). Menurut Gumilar dalam studi yang
dilakukan mengatakan bahwa dengan diberikan perlakuan
rendam kaki menggunakan air hangat selama 5 hari berturut-turut
memberikan pengaruh baik terhadap gangguan kualitas tidur
(Gumiler 2019).
c. Intervensi Sleep Hygiene
Kebiasaan tidur yang sehat dapat membuat perbedaan besar dalam
kualitas hidup. Seiring dikatakan memiliki tidur yang sehat sama halnya
memiliki sleep hygiene yang baik. Menurut National Sleep Foundation
pada tahun 2018 langkahlangkah tidur yang baik yaitu :
1) Tetaplah pada jadwal tidur dan bangun yang sama, bahkan pada
akhir pekan. Jadwal tidur-bangun ini sangat membantu untuk
mengatur jam tidur anda dan dapat membantu anda tertidu dan
tetap tidur dimalam hari.
2) Melatih kebiasaan pengantar tidur yang menenangkan. Aktivitas
santai dan rutin tepat sebelum tidur dari cahaya terang membantu
memisahkan waktu tidur dari aktivitas yang dapat menyebabkan
dampak psikologis yang dapat membuat sulit untuk tidur.
3) Hindari tidur pada siang hari. Tidur siang yang sangat lama dapat
membantu dalam beraktivitas sehari-hari namun jika tidak dapat
tertidu pada malam hari dapat menghindarkan tidur pada siang
hari.
4) Berolahraga setiap hari membantu untuk membuat tidur dengan
menenangkan.
5) Evaluasi ruangan, rancang lingkangan ruangan untuk menetapkan
kondisi yang dibutuhkan untuk tidur.
6) Cobalah tidur menggunakan kasur dan bantal yang akan membuat
nyaman.
7) Gunakan cahaya terang untuk mengatur ritme irama sikardian,
hindari cahaya terang pada saat tidur dan biarkan terkena sinar
matahari dipagi hari sehingga dapat menjaga ritme sikardian tetap
terkendali
8) Hindari alkohol, rokok, kafein dan makanan berat dimalam hari.
Alkohol, rokok dan kafein dapat mengganggu tidur dan makan
makanan besar ataupun pedas dapat menyebabkan
ketidaknyamanan yang menyebabkan gangguan pencernaan
sehingga mengakibatkan sulitnya untuk tidur. cobalah makan
makanan ringan 45 menit sebelum tidur jika merasa lapar.
9) Lakukan aktivitas seperti membaca dalam waktu singkat sebelum
tidur, sehingga dapat menenangkan dalam tidur, hindari
penggunaan cahaya seperti menonton tv ataupun bermain laptop
ataupun handponeyang dapat membuat sulitnya untuk tidur.
d. Indikasi Sleep Hygine
Sleep hygiene adalah serangkaian kebiasaan dan praktik yang
dilakukan untuk meningkatkan kualitas tidur. Indikasi sleep hygiene
mencakup berbagai kondisi dan situasi di mana praktik-praktik ini
dapat bermanfaat, termasuk tetapi tidak terbatas pada:
1) Insomnia: Kesulitan tidur yang sering atau berkepanjangan, baik
dalam hal memulai tidur maupun mempertahankan tidur
sepanjang malam
2) Gangguan Tidur Terfragmentasi: Tidur yang sering terganggu
oleh terbangun di tengah malam, yang mengakibatkan perasaan
tidak segar saat bangun pagi
3) Kualitas Tidur yang Buruk: Rasa kantuk di siang hari, kelelahan
yang berlebihan, dan ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas
harian dengan baik karena tidur yang tidak nyenyak
4) Stres dan Kecemasan: Kondisi mental yang dapat mengganggu
kemampuan seseorang untuk tidur nyenyak. Sleep hygiene dapat
membantu menenangkan pikiran dan mengurangi gejala
kecemasan sebelum tidur
5) Perubahan Rutinitas: Situasi di mana jadwal tidur seseorang
terganggu oleh perubahan rutinitas, seperti perjalanan, kerja shift,
atau perubahan besar dalam kehidupan yang mempengaruhi
waktu tidur
6) Gangguan Tidur yang Terkait dengan Kehamilan: Ibu hamil
sering mengalami gangguan tidur karena berbagai perubahan
fisik dan hormonal. Sleep hygiene dapat membantu mereka
mendapatkan tidur yang lebih baik selama kehamilan.
e. Penatalaksanaan Gangguan Pola Tidur menggunakan sleep
hyigene terapi
Berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia, menyatakan
bahwa masalah keperawatan gangguan pola tidur dapat dilakukan
intervensi utama dengan dukungan tidur dan edukasi aktivitas/istirahat
(PPNI, 2018).
Penatalakasanaan atau tindakan keperawatan yang dapat dilakukan
untuk mengatasi gangguan pola tidur yaitu berupa intervensi penerapan
senam yoga, penggunaan aromaterapi, manajemen nyeri, penerapan sleep
hygine therapy (Beliana, 2021). .Dalam penggunaan intervensi yang dapat
dlakukan secara mandiri dan lebih praktis, dapat diberikan yaitu intervensi
sleep hygine. Sleep hygiene berarti memiliki lingkungan tidur dan rutinitas
sehari-hari yang mendorong tidur yang konsisten dan tidak terganggu,
menjaga jadwal tidur, membuat lingkungan tidur nyaman, bebas dari
gangguan, mengikuti rutinitas sebelum tidur yang santai, dan membangun
kebiasaan sehat di setiap harinya untuk membantu kebiasaan tidur yang
lebih baik (CDC, 2019).
Adapun penelitian dengan judul ―The effectiveness of healthy
behavior education on sleep quality in pregnant women with sleep disorder
mendapatkan hasil bahwa pemberian intervensi perilaku sleep hygiene dan
pelatihan yang sehat dapat secara efektif memperbaiki gangguan tidur pada
wanita hamil. Berdasarkan analisis komparians variabel dependen,
perbedaan yang signifikan dan positif antara skor rata-rata yang
disesuaikan kelompok yang diberikan intervensi dan tidak diberikan
intervensi diamati dalam hal gangguan tidur, efisiensi tidur kebiasaan,
durasi tidur, latensi tidur, dan kualitas tidur subjektif (p = 0,0001) (Darvish
and Zarbakhsh, 2016).
Penelitian oleh Wong, P.F et al (2022), dengan judul “sleep disorsers
in pregnancy” mengatakan bahwa sleep hygiene mencakup pengembangan
tidur/ bangun dengan jadwal yang konsisten, memastikan lingkungan tidur
yang bebas gangguan, menghindari tidur siang, melakukan aktivitas secara
teratur,berolahraga, dan mengembangkan rutinitas santai sebelum tidur.
Sebuah uji kontrol secara acak mendapatkan bahwa wanita hamil trimester
III mengalami kualitas tidur yang baik setelah melakukan penerapan sleep
hygiene.
Adapun tujuan dilakukannya sleep hygiene therapy yaitu untuk
membangun kebiasaan sehat di setiap harinya dan membantu kebiasaan
tidur yang lebih baik (Irish et al., 2019). Adapun pelaksanaan sleep hygiene
therapy terdiri dari :
1) Fase orientasi
a) Beri salam dan tanyakan nama klien
b) Perkenalkan diri perawat
c) Lakukan pengkajian pada klien
d) Jelaskan tujuan, prosedur, lamanya tindakan yang akan
dilaksanakan
e) Beri kesempatan pada klien untuk bertanya sebelum terapi
dilakukan
2) Fase kerja
a) Jaga privasi klien dengan menutup pintu (bila perlu).
b) Atur posisi klien agar nyaman.
c) Berikan penjelasan mengenai pentingnya istirahat tidur untuk
ibu hamil.
d) Berikan edukasi untuk pergi tidur dan bangun pada waktu yang
sama setiap hari, bahkan pada akhir pekan. Jika tidak
memungkinkan pada waktu yang sama karena hal lain, dapat
dilakukan dengan menyesuaikan dengan waktu istirahat yang
dimiliki.
e) Anjurkan Klien pergi ke tempat tidur harus digunakan hanya
untuk tidur. Hindari bekerja, menonton TV, atau menggunakan
layar di tempat tidur.
f) Anjurkan klien menghindari lingkungan tempat tidur yang tidak
nyaman seperti kebisingan, lampu yang terlalu terang,
berantakan atau tidak sesuai dengan kenyamanan ibu hamil.
g) Anjurkan kurangi cairan sekitar 2-3 jam sebelum tidur tetapi
minum banyak cairan di siang hari.
h) Anjurkan akan sering, makanan kecil di siang hari, menghindari
sejumlah besar di malam hari.
i) Anjurkan tidur dengan lebih banyak bantal untuk membantu
mengurangi rasa tidak nyaman.
j) Saat tidur, anjurkan klien berbaring di sisi kiri, dengan lutut dan
pinggul ditekuk; Tempatkan bantal di antara lutut, di bawah
perut, dan di belakang punggung klien.
k) Letakkan lampu malam di kamar mandi sehingga Klien tidak
perlu menyalakan lampu. Ini akan kurang membangkitkan
gairah dan membantu Klien kembali tidur dengan lebih mudah.
l) Anjurkan klien dapat menambahkan tidur siang hari jika perlu,
tetapi jika klien mengalami kesulitan tidur di malam hari,
cobalah mengurangi tidur siang.
m) Anjurkan klien menciptakan ritual tidur yang disukai klien
(misalnya mendengarkan musik lembut, doa-doa, meditasi,
mandi dengan air hangat, massage tubuh dengan lembut secara
mandiri atau dibantu orang terdekat, menghidupkan
aromaterapi, sebelum tidur dapat dilakukan rendam kaki dengan
air hangat untuk relaksasi).
n) Evluasi pasien (Rottapel et al., 2020).