KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
SAP CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD)
Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah Pada
Semester 3 Program Studi Sarjana Terapan Keperawatan Kemenkes Poltekkes Padang
Dosen Pengampu:
Ns. Nova Yanti, [Link]. Sp. Kep. MB
Disusun Oleh Kelompok 2:
1. Feby Ananda Putri (233311346)
2. Hanifa Khairatunnisa (233311348)
3. Icha Oktavianis (233311350)
4. Mardhatillah (233311352)
5. Vaulin Syafira (233311369)
PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN
KEMENKES POLTEKKES PADANG
2024/2025
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
Topik : CKD (Chronic Kidney Disease)
Sasaran : Mahasiswa TK 2B [Link] Keperawatan
Hari/Tanggal :
Waktu : 08.00 – 08.30
Alokasi Waktu : 30 Menit
Tempat : Gedung Perkuliahan (Kelas)
A. Latar belakang
Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan penyakit akibat ginjal
tidak menjalankan fungsinya, maka diperlukan penatalaksanaan
komprehensif bagi kelangsungan hidup penderita (PERNEFRI, 2014).
Salah satu permasalahan yang terjadi pada penderita CKD adalah
[Link] satu contohnya, perilaku penderita CKD yang tidak
mematuhi diet dan pembatasan cairan yang sudah direkomendasikan
meskipun penderita sudah mengerti dampak yang paling fatal akibat tidak
patuh dalam pembatasan cairan (Ariyanti, 2016; Engelke, 2014;NKDEP,
2015).
Salah satu langkah yang sangat penting untuk kelangsungan hidup
penderita Chronic Kidney Disease (CKD) yaitu pengaturan diet secara tepat
dan pembatasan cairan. Penderita CKD yang tidak patuh dapat berisiko akan
mengalami kelebihan volume cairan di dalam tubuh yang dapat mengancam
nyawa. Ketidakpatuhan merupakan masalah yang sering dialami oleh
penderita CKD. Menurut Ramelan et al (2013) tingkat ketidakpatuhan
terkait dengan pengaturan diet penderita CKD dipengaruhi oleh dukungan
keluarga, tingkat pengetahuan, dan sikap. Menurut Syakira (2013), hal lain
yang berpengaruh terhadap ketidakpatuhan penderita CKD dalam
pengaturan diet dikarenakan pedoman yang tidak jelas mengenai diet CKD.
Penderita CKD harus mengikuti pengobatan, mengikuti diet serta
pembatasan cairan (Sirur et al., 2009).
Ketidakpatuhan penderita CKD secara umum terbagi dalam empat
aspek yaitu, ketidakpatuhan terhadap program hemodialisis, ketidakpatuhan
pada program pengobatan, ketidakpatuhan terhadap restriksi cairan dan
ketidakpatuhan mengikuti program diet (Hadiyanti, 2017; Reach, 2011).
Coaching support merupakan salah satu intervensi yang dapat
memperbaiki perilaku penderita Chronic Kidney Disease (CKD) yaitu peningkatan
kepatuhan dalam penatalaksanaan CKD. Pemberian coaching support dapat
mempengaruhi perilaku penderita CKD untuk melakukan pengelolaan penyakit
CKD sesuai dengan hal-hal yang sudah disarankan oleh coach (Bistara, 2015).
Edukasi pada penderita CKD dengan melibatkan peran serta keluarga dapat
diberikan secara langsung maupun secara tidak langsung karena semakin tinggi
peran keluarga maka semakin tinggi pula penderita CKD berperilaku patuh
terhadap pembatasan cairan dan diet (Thom et al., 2013)
B. Tujuan
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan, diharapkan para peserta
penyuluhan mengerti dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan
perawatan pasien CKD
(Chronic Kidney Disease).
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan selama 1 x 30 menit, diharapkan peserta
penyuluhan kesehatan mampu :
1. Mengetahui pengertian, penyebab, pencegahan CKD dan pengertian
coaching support.
2. Dapat mempengaruhi kepatuhan pada program pengobatan CKD.
3. Menyebutkan pembatasan asupan cairan pada klien CKD.
4. Mengetahui perawatan CKD dengan kepatuhan mengikuti program
diet.
C. Pokok Bahasan
Pendidikan Kesehatan Coaching Support Terhadap Kepatuhan
Penderita Chronic Kidney Disease (CKD)
D. Sub Pokok Bahasan
1. Menjelaskan pengertian, penyebab, pencegahan CKD.
2. Menjelaskan bahwa coaching support dapat mempengaruhi kepatuhan
pada program pengobatan CKD.
3. Menjelaskan mengenai pembatasan asupan cairan pada klien CKD.
4. Menjelaskan perawatan CKD dengan kepatuhan mengikuti program
diet.
E. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
F. Media
1. PPT
2. poster
G. Strategi Pelaksanaan
Strategi yang digunakan dalam penyampaian penyuluhan ini
berupa ceramah dan tanya jawab menggunakan media leaflet.
H. Pengorganisasian
1. Presentator : Hanifa Khairatunnisa
Vaulin Syafira
2. Moderator : Mardhatillah
3. Observer : Feby Ananda Putri
4. Fasilitator : Icha Oktavianis
I. Kegiatan Penyuluhan
No Tahap/ Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Sasaran Metode Media
Waktu
1. Pra Petugas menyiapkan Peserta
Orientasi ruangan dan tempat untuk penyuluhan
3 Menit peserta penyuluhan dan duduk di tempat
Fasilitator membagikan yang telah
leaflet kepada peserta disediakan dan
penyuluhan. memegang leaflet
yang telah
dibagikan oleh
fasilitator.
1. Orientasi Pembukaan : - Menjawab Ceramah
5 Menit 1. Membuka kegiatan salam
dengan
mengucapkan
salam
- Memperhatika
2. Memperkenalkan
n
diri
3. Menjelaskan pokok
bahasan dan tujuan - Memperhatika
penyuluhan n
4. Kontrak waktu
penyuluhan.
2. Kerja Pelaksanaan : Ceramah
10 Menit 1. Menjelaskan - Memperhatika
pengertian, n
penyebab,
pencegahan CKD
dan pengertian - Memperhatika
coaching support. n
2. Menjelaskan dapat
mempengaruhi
kepatuhan pada
program
pengobatan CKD.
3. Menjelaskan - Memperhatika
mengenai n
pembatasan asupan
cairan pada klien
CKD.
4. Menjelaskan
perawatan CKD
dengan kepatuhan
mengikuti program
diet.
3. Penutup Tanya jawab dan evaluasi:
9 Menit 1. Memberi - Klien mampu Diskusi,
kesempatan kepada memahami tanya
peserta untuk dan mengerti jawab, dan
bertanya tentang tentang materi ceramah
materi yang telah yang
disampaikan. disampaikan
2. Menanyakan - Klien
kepada peserta menjawab
tentang materi yang salam
telah diberikan.
Terminasi
1. Mengucapkan
terima kasih atas
peran serta keluarga
2. Mengucapkan
salam penutup
J. Materi Penyuluhan
1. Definisi Chronic Kidney Disease (CKD) dan Coaching support.
a. Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan penyakit akibat
ginjal tidak menjalankan fungsinya, maka diperlukan
penatalaksanaan komprehensif bagi kelangsungan hidup
penderita (PERNEFRI, 2014).
Coaching support merupakan salah satu intervensi yang dapat
memperbaiki perilaku penderita Chronic Kidney Disease (CKD) yaitu
peningkatan kepatuhan dalam penatalaksanaan CKD.
b. Penyebab CKD
1. Kurang minum
2. Minuman Beralkohol
3. Minuman bersoda
4. Tekanan darah tinggi
5. Infeksi penyakit
6. Pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat
7. Penyakit bawaan
8. Batu saluran kencing
c. Pencegahan CKD
1. Pengobatan hipertensi yaitu makin rendah tekanan darah
makin kecil risiko penurunan fungsi ginjal.
2. Pengendalian gula darah, lemak darah, dan anemia.
3. Penghentian merokok.
4. Peningkatan aktivitas fisik.
5. Pengendalian berat badan.
2. Kepatuhan pada program pengobatan CKD.
Pengelolaan masalah kesehatan pada penderita CKD cukup
rumit dan dipengaruhi oleh gaya hidup. Ketidakpatuhan merupakan
masalah yang sering dialami oleh penderita CKD ( Menurut Ramelan
et al (2013).
Tingkat Ketidakpatuhan penderita CKD secara umum
terbagi dalam empat aspek yaitu, ketidakpatuhan terhadap program
hemodialisis, ketidakpatuhan pada program pengobatan,
ketidakpatuhan terhadap restriksi cairan dan ketidakpatuhan mengikuti
program diet (Hadiyanti, 2017; Reach, 2011).
Terjadinya kegawatdaruratan hemodialisis dikarenakan
kelebihan volume cairan di dalam tubuh. Beberapa tanda gejala
kelebihan volume cairan adalah terdengar suara ronkhi saat diauskultasi,
terjadi penumpukan cairan di dalam paru‑paru yang mengakibatkan
sesak, terjadi pembengkakan pada kelopak mata dan berat badan yang
mengalami kenaikan cukup signifikan (Arici, 2014; Sari et al.,2013).
Kondisi tersebut menyebabkan kerja jantung menjadi cukup
berat dikarenakan peningkatan tekanan darah dan juga penumpukan
cairan di paru‑ paru (Arici, 2014). Selain itu, mortalitas pada penderita
CKD juga akan meningkat apabila terjadi peningkatan cairan tubuh
5,7%.
Kesehatan yang optimal merupakan penunjang kehidupan
penderita CKD menjadi produktif. Pemberian coaching support ini
salah satunya adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan secara
bertahap dan berkelanjutan dengan memperhatikan masalah‑masalah
yang dialami oleh penderita CKD sehingga tercapai kesadaran akan
penyakitnya dan hasil akhirnya adalah perbaikan perilaku penderita
(Wolever et al., 2013).
Namun, terdapat faktor lain yang melatarbelakangi orang
berusia lanjut tidak patuh dalam mengelola penyakit CKD yang
dideritanya, diantaranya meliputi ketidakteraturan kontrol dikarenakan
penderita kadang lupaminum obat dan obat masih ada sehingga waktu
kontrol diundur oleh penderita. alasan lain keterlambatan kontrol
dikarenakan tidak ada yang mengantar untuk periksa ke tempat
pelayanan kesehatan (Bistara, 2015).
Pemberian coaching support dapat mempengaruhi perilaku
penderita CKD untuk melakukan pengelolaan penyakit CKD sesuai
dengan hal‑hal yang sudah disarankan oleh coach (Bistara, 2015).
Edukasi pada penderita CKD dengan melibatkan peran serta keluarga
dapat diberikan secara langsung maupun secara tidak langsung karena
semakin tinggi peran keluarga maka semakin tinggi pula penderita CKD
berperilaku patuh terhadap pembatasan cairan dan diet (Thom et al.,
2013).
Peningkatan kepatuhan pada penderita CKD dalam pengelolaan
penyakitnya dilakukan dengan cara berkomitmen mengubah sudut
pandang menjadi positif dengan diawali kesepakatan bersama keluarga
dalam proses pelaksanaan coaching support (van Vugt et al., 2013).
Peran serta keluarga, lingkungan dan juga responden sendiri
menjadi kunci keberhasilan dari intervensi coaching support. Peneliti
harus bisa menjadi role model untuk keberhasilan responden dalam
meningkatkan kepatuhan (Stacey et al., 2013).
3. Pembatasan asupan cairan pada klien CKD.
Pengaturan diet secara tepat dan pembatasan cairan pada penderita
CKD merupakan langkah awal untuk mencegah terjadinya kelebihan
volume cairan di dalam tubuh yang dapat mengancam nyawa penderita.
Salah satu permasalahan yang terjadi pada penderita CKD adalah
kepatuhan. Salah satu contohnya, perilaku penderita CKD yang tidak
mematuhi diet dan pembatasan cairan yang sudah direkomendasikan
meskipun penderita sudah mengerti dampak yang paling fatal akibat
tidak patuh dalam pembatasan cairan (Ariyanti, 2016; Engelke, 2014;
NKDEP, 2015).
Perilaku kontrol yang baik terhadap kepatuhan pembatasan asupan
cairan dapat dipengaruhi oleh pemberian edukasi atau konseling diet
dan cairan (Hadiyanti, 2017). Terapi pengobatan dapat berjalan optimal
jika edukasi pasien dalam pengelolaan CKD diberikan secara efektif.
Selain itu, kepatuhan dan pengelolaan diri penderita CKD akan
meningkat dengan pemberian edukasi yang tepat (Clarke et al, 2016).
Cara pembataan cairan pada klien dengan CKD untuk
mengurangi rasa haus :
a. Hindari makanan dengan rasa asin dan pedas.
b. Berusaha untuk selalu berada di tempat yang sejuk, tidak
berlama – lama di tempat yang udaranya panas.
c. Lakukan perencanaan dan pembagian cairan yang akan
dikonsumsi
dalam sehari.
d. Hindari minum dengan air es atau air es yang manis.
e. Saat minum obat gunakan sedikit air.
f. Gunakan gelas yang kecil saat minum, dan jangan langsung
menelan minuman yang masuk ke mulut, akan tetapi telan secara
perlahan.
4. Perawatan CKD dengan kepatuhan mengikuti program diet.
Pengaturan diet: tinggi energi, rendah protein, rendah natrium,
rendah kalium.
1. Jenis Makanan Yang Diperbolehkan
a. Bahan makanan sumber karbohidrat: Nasi, bihun, jagung,
madu, permen.
b. Bahan makanan sumber protein: Telur, daging, ikan,
ayam, susu rendah protein.
c. Bahan makanan sumber lemak: Minyak jagung, minyak
kelapa sawit, margarin, mentega rendah garam.
d. Bahan makanan sumber vitamin: sayuran dan buah-
buahan dengan pengolahankhusus, yaitu :
1) Kupas buah atau sayur, potong-potong lalu cuci
dengan air mengalir.
2) Letakkan dalam mangkok, tambahkan air hangat
sampai sayur dan buah terndam, rendam selama 2
jam (banyaknya air kurang lebih 10 kali bahan
makanan).
3) Buang air rendaman.
4) Bilas dengan air mengalir.
5) Masak buah dan sayur. Buah dapat dimasak
sebagai setup/cocktail (buang airrebusan buah).
6) Buah yang diperbolehkan yaitu, buah pepaya,
apel, pir, diberikan bila kadar kalium dalam darah
normal.
2. Jenis Makanan yang Tidak Diperbolehkan
a. Bahan makanan sumber karbohidrat: Umbi – umbian
(kentang, singkong, ubi, talas, dll)
b. Bahan makanan sumber protein: Kacang-kacangan dan
hasil olahannya seperti tempedan tahu.
c. Bahan makanan sumber lemak: kelapa, santan, jerohan.
d. Bahan makanan sumber vitamin dan mineral: Sayuran dan
buah-buahan tinggi kalium pada klien yang memiliki
kadar kalium tinggi dalam darah.
Tujuan Diet pada pasien dengan penyakit Gagal
Ginjal Kronik adalah:
1. Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal.
2. Memberikan makanan secukupnya, agar tidak
memberatkan kerja ginjal.
3. Mencegah dan menurunkan kadar ureum darah yang
tinggi (uremia).
4. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.
Contoh menu sehari diet rendah protein :
1. Waktu pagi : Nasi, telur dadar, sup sayuran.
2. Makanan selingan pada pukul 10.00 susu diet, kue lapis.
3. Waktu siang : Nasi, ikan bumbu acar kuning, sayur
asam, pepaya, jelly manis.
4. Makanan selingan pada pukul 16.00 : Talam Maizena.
5. Waktu malam : Nasi, daging bistik, capcay goreng, teh
manis.
SOP COACHING SUPPORT
1. Kontrak dengan keluarga. Pertemuan dengan penderita CKD diawali terlebih
dahulu kontrak dengan keluarga untuk menetapkan kesepakatan, guna mencapai
tujuan pelaksanaan coaching support
2. Pengkajian
Menemukan permasalahan yang dialami penderita mengenai diagnosis,
pengobatan dan pola hidup selama menghadapi suatu penyakit.
3. Mendefinisikan tujuan
Definisi tujuan dalam coaching support berfokus pada permasalahan berupa
ketidakpatuhan dalam penatalaksanaan CKD
4. Analisa
Menganalisa situasi yang terjadi saat ini guna pencapaian tujuan coaching.
Analisa yang dilakukan yaitu pengalaman penderita CKD dalam mengobati
penyakitnya.
5. Explore
Menetapkan berbagai pilihan untuk mencapai tujuan dalam coaching support.
Berbagai alternatif pilihan dalam mengobati penyakit CKD yang diderita, yaitu
meningkatkan kepatuhan penderita CKD dalam empat pilar penatalaksaan CKD.
Adapun yang termasuk dalam empat pilar penatalaksanaan CKD diantaranya
meliputi kepatuhan terhadap program hemodialisis, kepatuhan pada program
pengobatan, kepatuhan terhadap restriksi cairan dan kepatuhan mengikuti
program diet
6. Action plan
Mencapai perubahan dengan mengidentifikasi dan menentukan komitmen dalam
melaksanakan tindakan. Tahapan ini tercapai saat penderita memahami manfaat
dari kepatuhan pengelolaan penyakit CKD
7. Learning/Pembelajaran Pelaksanaan pembelajaran pada penderita CKD untuk
pengelolaan penyakit CKD yang diderita melalui pendidikan kesehatan selama
2 minggu. Pendidikan kesehatan yang diberikan terbagi dalam empat pertemuan,
yang meliputi: pemberian materi dan leaflet tentang empat pilar penatalksanaan
CKD. Pertemuan kedua evaluasi pemahaman materi pertama dan dilanjutkan
demonstrasi kepatuhan pada program pengobatan,. Pertemuan ketiga evaluasi
pertemuan kedua dan dilanjutkan demonstrasi kepatuhan terhadap restriksi
cairan, Pertemuan keempat evaluasi materi pertama sampai materi terakhir.
8. Feed back Pelatih dan yang dilatih yaitu penderita CKD mengadakan diskusi
mengenai hal-hal yang telah dipelajari selama empat kali pertemuan dan
berbagai kesulitan yang dialami untuk merubah perilaku guna meningkatkan
kepatuhan penderita CKD dalam empat pilar penatalaksanaan CKD.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S., 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi, edisi ke-6. Jakarta:
Gramedia.
Arici, M. (2014). Management of Chronic Kidney Disease (M. Arici (ed.)).
Springer Berlin Heidelberg.
Ariyanti, F. W. (2016). Pengaruh Self Efficacy Training Dengan Metode Peer
Mentoring Terhadap Self Efficacy dan Kepatuhan Klien End Stage Renal
Disease (ESRD) Yang Menjalani Hemodialisis [Universitas Airlangga].
h7p://[Link]/id/eprint/ 45520
Bistara, Difran Nobel. (2015). Coaching Support terhadap Peningkatan
Kepatuhan Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Tipe 2. [Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta].
Brunner & Suddarth.2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Jakarta: EGC.
Brown WW et al. 2003. Identification of Persons at High Risk for Kidney
Disease Via Targeted Screening. The NKF Kidney Early Evaluation
Program. Kidney Int Suppl.
Hadiyanti, S. (2017). Pengaruh Self Management Education terhadap Kepatuhan
Asupan Cairan pada Klien yang Menjalani Hemodialisis di RSUD Provinsi
NTB [Universitas Airlangga].
Hadiyanti, S. (2017). Pengaruh Self Management Education terhadap Kepatuhan
Asupan Cairan pada Klien yang Menjalani Hemodialisis di RSUD Provinsi
NTB [Universitas Airlangga]. h7p://[Link]/66438/
Pernefri. (2014). 7th Report Of Indonesian Renal Registry. Indonesian Renal
Registry. H7ps:// [Link]/ Data/Indonesian
Renal Registry [Link]
Rendi, Clevo M. 2012. Asuhan Keperawatan Medikah Bedah Dan
Penyakit Dalam. Jogjakarta: Noha Medika
Ramelan, M. I., Ismonah, & Hendrajaya. (2013). Analisis Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan pada Klien dengan
Chronic Kidney Disease yang Menjalani Hemodialisis. Jurnal Stikes
Telogorejo.
Susanti1 dan Caturia Sasti Sulistyana. 2020. Pengaruh Coaching Support
Terhadap Kepatuhan Penderita Chronic Kidney Disease (CKD). Jurnal
Kesehatan Vokasional, Vol. 5 No. 4 (November 2020)
Thom, D. H., Ghorob, A., Hessler, D., De Vore, D., Chen, E., & Bodenheimer, T.
A. (2013). Impact of Peer Health Coaching on Glycemic Control in
Low-Income Patients With Diabetes: A Randomized Controlled Trial. The
Annals of Family Medicine, 11(2), 137– 144. H
van Vugt, M., de Wit, M., Hendriks, S. H., Roelofsen, Y., Bilo, H. J., & Snoek, F.
J. (2013). Web-based self-management with and without coaching for type
2 diabetes patients in primary care: design of a randomized controlled trial.
BMC Endocrine Disorders, 13(1), 53