0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan9 halaman

Ekstrak Kulit Jeruk dan Bonggol Pisang Antibakteri

Penelitian ini mengeksplorasi potensi ekstrak kulit jeruk nipis dan bonggol pisang sebagai penghambat bakteri Staphylococcus aureus. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak kulit jeruk nipis memiliki daya hambat yang lebih kuat (35,77mm) dibandingkan dengan ekstrak bonggol pisang (12,03mm), dengan keduanya mengandung senyawa antibakteri seperti flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin. Penelitian ini mendukung pengelolaan sampah organik berbasis prinsip 3R dengan memanfaatkan limbah untuk tujuan kesehatan.

Diunggah oleh

Muh Fauzi Ramadhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan9 halaman

Ekstrak Kulit Jeruk dan Bonggol Pisang Antibakteri

Penelitian ini mengeksplorasi potensi ekstrak kulit jeruk nipis dan bonggol pisang sebagai penghambat bakteri Staphylococcus aureus. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak kulit jeruk nipis memiliki daya hambat yang lebih kuat (35,77mm) dibandingkan dengan ekstrak bonggol pisang (12,03mm), dengan keduanya mengandung senyawa antibakteri seperti flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin. Penelitian ini mendukung pengelolaan sampah organik berbasis prinsip 3R dengan memanfaatkan limbah untuk tujuan kesehatan.

Diunggah oleh

Muh Fauzi Ramadhan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

JURNAL KESEHATAN

Vol 17 No 2 Tahun 2024

Ekstrak Sampah Kulit Jeruk Nipis Dan Bonggol Pisang Terhadap Daya Hambat
Bakteri Staphylococcus aureus
Anisatul Jannah1🖂, Demes Nurmayanti2, Marlik Marlik3, Fitri Rohkmalia4
1,2,3,4
Jurusan Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Kemenkes Surabaya, Indonesia

1
Surel/Email anisari31@[Link]/ 085334754721

Info Artikel Abstrak


Sejarah Artikel: Latar Belakang: Kandungan senyawa aktif yang terdapat pada bonggol
Diterima: Agustus 2024 pisang kulit jeruk nipis yaitu flavonoid, alkoloid, saponin dan tanin. Upaya
Disetujui: Agustus 2024 mengatasi permasalahan dapat dilakungan dengan Pengelolaan sampah
Di Publikasi: Nov 2024 berbasis prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Tujuan: Untuk
mengetahui kandungan ekstrak kulit jeruk nipis dan bonggol pisang
Keywords: terhadap daya hambat bakteri Staphylococcus aureus. Metode: True
Bonggol Pisang, Kulit Jeruk, experiment menggunakan bentuk Posttest Only Control Group Design.
Staphylococcus aureus
Objek penelitian yang digunakan adalah kandungan senyawa antibakteri
yang terdapat pada kulit jeruk nipis dan bonggol pisang. Metode
modifikasi KirbyBauer dengan menggunakan sumuran. Pengulangan
dilakukan sebanyak 3 kali pada setiap perlakuan dan kontrol. Analisis data
dalam penelitian ini menggunakan uji T-Test untuk membandingkan
efektivitas kedua perlakuan terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
Hasil: Ekstrak kulit jeruk nipis dan bonggol pisang memiliki kandungan
flavonoid, alkoloid, saponin dan tanin yang berpotensi membunuh bakteri
Staphylococcus aureus. Rata-rata daya hambat bakteri dengan ekstrak
DOI: 10.32763/6aszfe38 kulit jeruk nipis kosentrasi 75% sebesar 35,77mm, sedangkan rata-rata
daya hambat bakteri dengan ekstrak bonggol pisang kosentrasi 75%
sebesar 12,03mm. Kesimpulan: Berdasarkan kategori zona hambat
bakteri, kemampuan dalam menekan bakteri Staphylococcus aureus pada
ekstrak bonggol pisang tergolong kuat dan ekstrak kulit jeruk nipis
tergolong sangat kuat sebab pada hasil uji didapatkan bahwa besar zona
hambat pertumbuhan bakteri pada ekstrak bonggol pisang sebesar
12,03mm dan kulit jeruk nipis sebesar 35,77mm.

Lime Peel And Banana Corn Waste Extract On The Inhibition Of Bacteria (Staphylococcus aureus)

Abstrak
Background: The active compounds contained in banana stem lime peel
are flavonoids, alkaloids, saponins and tannins. Efforts to overcome the
problem can be done by waste management based on the 3R principle
(Reduce, Reuse, Recycle). Purpose: To determine the content of lime peel
and banana stem extract on the inhibitory power of Staphylococcus aureus
bacteria. Methods: True experiment using the Posttest Only Control Group
Design form. The object of research used is the content of antibacterial
compounds found in lime peel and banana stem. KirbyBauer modification
method using wells. Repetition was carried out 3 times for each treatment
and control. Data analysis in this study used the T-Test test to compare the
effectiveness of the two treatments against Staphylococcus aureus bacteria.
Results: Lime peel and banana stem extracts contain flavonoids, alkaloids,
saponins and tannins that have the potential to kill Staphylococcus aureus
bacteria. The average bacterial inhibition power with lime peel extract at a
concentration of 75% was 35.77mm, while the average bacterial inhibition
power with banana stem extract at a concentration of 75% was 12.03mm.
Conclusion: Based on the category of bacterial inhibition zone, the ability

Vol. 17 No. 2 / 2024 | 142


to suppress Staphylococcus aureus bacteria in banana stem extract is
classified as strong and lime peel extract is classified as very strong
because the test results showed that the size of the bacterial growth
inhibition zone in banana stem extract was 12.03mm and lime peel was
35.77mm.

🖂
Alamat korespondensi: ISSN 2597-7520
Poltekkes Kemenkes Ternate, Ternate - West Maluku Utara , Indonesia
Email: uppmpoltekkesternate@[Link]

© 2021 Poltekkes Kemenkes Ternate

Vol. 17 No. 2 / 2024 | 143


Pendahuluan terjaga yang kemudian berdampak kepada
Seiring perkembangan ekonomi di kesehatan masyarakat [Link] satu cara
Indonesia, maka komposisi sampah akan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah
mengalami perubahan. Yayasan pengelola ialah memanfaatkannya kembali sampah
sampah indonesia mengatakan bahwa organik agar lebih efektif adalah dengan
masyarakat Indonesia sebanyak 271.292.732 memanfaatkan kulit jeruk nipis dan bonggol
jiwa dapat berpotensi menambah volume pisang sebagai daya hambat bakteri
sampah di Indonesia pada tahun 2022, sekitar Staphylococcus aureus.
191 ribu ton setiap hari. Sampah jika ditotal Jeruk nipis merupakan tanaman yang
dalam setahun akan berubah menjadi 68 juta berasal dari Indonesia, Menurut sejarah sentra
ton, naik 2 juta pada tahun 2021 (Rahmat, utama asal jeruk nipis adalah Asia tenggara.
2023). Seiring perkembangan ekonomi di Tanaman jeruk nipis masuk ke Indonesia karena
Indonesia, maka komposisi sampah akan dibawa oleh orang Belanda(Aldi [Link] 2016).
mengalami perubahan. Sampah yang dibuang Buah jeruk nipis sering dimanfaatkan
ke lingkungan akan menimbulkan masalah bagi masyarakat sebagai obat dan pengawet
kehidupan dan kesehatan lingkungan, terutama makanan, namun untuk kulit buah jeruk nipis
kehidupan manusia. sendiri kurang dimanfaatkan karena masyarakat
Secara umum sampah dapat dibagi menjadi tidak mengetahui khasiat yang terkandung
dua jenis, yaitu sampah organik dan sampah dalam kulit buah jeruk nipis sehingga kulit
anorganik (Batubara et al., 2022). Sampah buah jeruk nipis terbuang sia-sia dan berakhir
organik adalah limbah yang berasal dari sisa menjadi limbah (Aldi [Link] 2016). Kulit jeruk
makhluk hidup (alam) seperti hewan, manusia, nipis juga mengandung unsur-unsur senyawa
tumbuhan yang mengalami pembusukan atau kimia yang bemanfaat, seperti minyak atsiri
pelapukan. Sampah anorganik adalah sampah yang mempunyai fungsi sebagai antibakteri
yang berasal dari sisa manusia yang sulit untuk yaitu flavanoid yang dapat menghambat
di urai oleh bakteri, sehingga membutuhkan pertumbuhan Staphylococcus aureus kuman
waktu yang cukup lama (hinga ratusan tahun) pada kulit dan juga memiliki aroma yang khas
untuk dapat di uraikan (Turahman et al., 2018). (Triyani et al., 2021).
Sampah dapat menjadi pencemar di lingkungan Bonggol pisang kepok terdapat senyawa
dimana menjadi penyebab timbulnya gas metabolit sekunder seperti saponin, glikosida
metana dan air lindi sehingga diperlukan dan tanin bersifat sebagai antibakteri. Ekstrak
pengelolaan sampah yang baik. Menurut UU bonggol pisang juga terbukti memiliki aktivitas
Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengolahan antibakteri terbesar dan pada ekstrak bonggol
Sampah. sudah pernah diteliti dan terbukti memiliki
Pengelolaan sampah dilakukan berbasis aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus
prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Prinsip aureus (Nugraha et al., 2023). Ekstrak pelepah
reduce yakni suatu usaha untuk mengurangi dan batang pisang sudah pernah diteliti dan
jumlah timbulan sampah. Prinsip reuse artinya terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap
memanfaatkan kembali suatu bahan ataupun Staphylococcus aureus (Hastari, 2012).
material supaya tidak menjadi sampah tanpa Bonggol pisang mengandung senyawa
adanya proses pengelolaan. Prinsip recycle flavonoid, saponin, steroid, triterpenoid,
maknanya mendaur ulang bahan yang tidak alkaloid dan tanin (Azizah et al., 2019).
memiliki nilai guna (sampah) menjadi bahan Bakteri merupakan organisme yang
lain (Arisona, 2018). Menerapkan prinsip 3R mempunyai dinding sel. Oleh sebab itu,jika
diharapkan jumlah sampah rumah tangga dikaji dari struktur selnya (kandungan dinding
terutama sampah organik yang berasal dari kulit sel), maka bakteri dikelompokkan kedalam
buah, sayur-mayur, dan sisa makanan akan tumbuhan. Jika dikaji dari kemampuan
mengurangi beban lingkungan, kebersihan akan beberapa sel bakteri yang bergerak pindah

Vol. 17 No. 2 / 2024 | 143


tempat, maka bakteri dikelompokkan kedalam kemenkes surabaya untuk mendapatkan izin
hewan. Namun demikian, dalam klasifikasi persetujuan melakukan penelitian dengan
makhluk hidup dengan system 5 dunia nomor surat EA/ 2349/KEPK-
menurut Whittaker pada tahun 1969, bakteri Poltekkes_Sby/V/2024.
dikelompokkan ke dalam dunia monera. Bakteri Sampah kulit jeruk nipis dan bonggol
sebagai makhluk uniseluler, yang memiliki pisang dengan berat 3kg yang dikumpulkan
ukuran yang mikroskopik. Makhluk dicuci bersih dan dipotong-potong kecil
mikroskopis, termasuk bakteri tidak dapat untuk dilakukan pengeringan di bawah sinar
dilihat denganmata telanjang matahari. Kulit jeruk nipis dan bonggol pisang
Bisul ( furunkel) adalah infeksi kulit yang yang telah kering dengan blender kemudian
disebabkan bakteri jamur atau bakteri diayak hingga halus. Lakukan ekstraksi kulit
Staphylococcus aureus, karena itu bisul dapat jeruk nipis dan bonggol pisang dengan metode
juga diartikan sebagai infeksi lokal pada kulit maserasi sehingga dihasilkan ekstrak kental
dalam. Penyakit bisul ini bisa menyerang siapa kulit jeruk nipis dan ekstrak bonggol pisang.
saja, bayi, anak-anak mengingat daya tahan Hasil dan Pembahasan
tubuh mereka masih rentang terhadap
(1) Hasil Kandungan Senyawa Antibakteri
penyakit. Bukan berarti orang dewasa
Dalam Ekstrak Kulit Jeruk nipis.
terbebas dari bisul. Penyakit bisul dapat
menyerang hampir semua bagian tubuh, Tabel 1. Senyawa Dalam Ektrak Kulit Jeruk Nipis
terutama pada bagian yang ada lipatannya,
yang memungkinkan sering terjadi gesekan Kode Jenis Senyawa Kadar Senyawa
sampel
seperti ketiak dan bokong(Kamal, [Link] 2019).
Flavonoid 1,2%
Dalam penelitian ini, para peneliti tertarik
untuk mempelajari dua limbah organik, yaitu Kulit jeruk Alkoloid 1,46%

kulit jeruk nipis dan bonggol pisang, yang nipis Tanin 1,9%
digunakan sebagai penghambat pertumbuhan Saponin 2,8%
bakteri Staphylococcus aureus dengan judul Aktivitas Memiliki
"Ekstrak Kulit Jeruk Nipis dan Bonggol Pisang bakteri aktifitas bakteri
terhadap Penghambatan Bakteri Staphylococcus Staphylococcus
aureus aureus dengan
(Staphylococcus aureus)".
zona hambat
Metode 35,77mm
Sumber: Data Primer
Jenis penelitian yang digunakan ini yaitu
true experiment menggunakan bentuk Posttest Berdasarkan tabel tersebut, pada ekstrak
Only Control Group Design. Dalam penelitian kulit jeruk nipis memiliki kandungan senyawa-
ini terdapat kelompok perlakuan dan kelompok senyawa yang memiliki sifat antibakteri yaitu
kontrol. Objek penelitian yang digunakan untuk flavonoid sebesar 1,2%, alkoloid sebesar 1,46%,
mengetahui kandungan senyawa antibakteri tanin sebesar 1,9%, saponin sebesar 2,8%.
yang terdapat pada kulit jeruk nipis dan bonggol Senyawa dengan kadar tertinggi yaitu saponin
pisang. Antibakteri yang terkandung pada kulit sebesar 2,8%, sedangkan senyawa dengan kadar
jeruk nipis dan bonggol pisang kemudian diuji
terendah yaitu flavonoid yaitu sebesar 1,2%.
daya hambat bakteri Staphylococcus aureus,
Terdapat kandungan senyawa-senyawa
sedangkan kontrol dalam penelitian ini tidak
yang memiliki sifat antibakteri pada ekstrak
diberikan perlakuan. Pengulangan pada
kulit jeruk nipis yaitu flavonoid, alkaloid, tanin
penelitian ini dilakukan sebanyak 3 kali pada
dan saponin. Terlarutnya metabolit sekunder
setiap perlakuan dan kontrol (Notoatmodjo,
dari kulit jeruk nipis dapat terjadi karena
2012). Peneliti mengajukan surat Komisi Etik
kesesuaian metode ekstraksi yang dilakukan.
Penelitian Kesehatan (KEPK) poltekkes
Teknik maserasi dipilih karena tidak

Vol. 17 No. 2 / 2024 | 144


menggunakan panas dalam metode tersebut Flavonoid 0,99%
sehingga tidak akan merusak senyawa-senyawa Alkoloid 2,27%
antibakteri yang sensitif terhadap panas. Di sisi Tanin 1,7%
lain, prosedur dan peralatan yang dipakai dalam
Bonggol Saponin 1,2%
metode maserasi sederhana (Junaidi L., 2019). pisang Memiliki aktifitas
Kadar senyawa antibakteri yang mana Aktivitas
bakteri
merupakan metabolit sekunder tumbuhan dapat bakteri
Staphylococcus
Staphylococcus
dipengaruhi oleh fase pertumbuhan. Utamanya aureus dengan zona
aureus
hambat 12,03mm.
tumbuhtumbuhan akan menghasilkan sebagian
Berdasarkan tabel tersebut, pada ekstrak
besar senyawa metabolit primer, sementara
bonggol pisang memiliki kandungan senyawa-
produksi senyawa metabolit sekunder masih
senyawa yang memiliki sifat antibakteri yaitu
belum dimulai atau hanya dalam jumlah yang
flavonoid sebesar 0,99%, alkoloid sebesar
terbatas. Metabolit primer yang terbentuk pada
2,27%, tanin sebesar 1,7%, saponin sebesar
tumbuhan kemudian akan mengalami berbagai
1,2%. Senyawa dengan kadar tertinggi yaitu
reaksi dan menghasilkan suatu senyawa yang
alkoloid sebesar 2,27%, sedangkan senyawa
mana termasuk dalam metabolit sekunder
dengan kadar terendah yaitu flavonoid yaitu
(Tarigan, I.L. dan Muadifah, A., 2020).
sebesar 0,99%.
Keberadaan senyawa antibakteri dalam
Bonggol pisang kepok terdapat senyawa
ekstrak kulit jeruk nipis telah dibuktikan dalam
metabolit sekunder seperti saponin, glikosida
artikel penelitian yang diteliti oleh Ulfa, A.M.,
dan tanin bersifat sebagai antibakteri. Ekstrak
(2020), yakni ekstrak kulit jeruk nipis telah
bonggol pisang juga terbukti memiliki aktivitas
dibuktikan positif mengandung flavonoid,
antibakteri terbesar dan pada ekstrak bonggol
alkaloid, dan saponin. Dengan adanya
sudah pernah diteliti dan terbukti memiliki
kandungan senyawa-senyawa tersebut,
aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus
pemulihan luka dapat lebih efektif dengan
aureus (Yogi Rahman Nugraha, N. Ai
adanya tambahan ekstrak kulit jeruk nipis pada
Erlinawati, 2023). Ekstrak bonggol pisang
pembuatan krim untuk kulit.
kepok kuning terbukti memiliki aktivitas
Dalam artikel penelitian yang disusun oleh
antibakteri terbesar dibandingkan dengan akar,
Rahmawati et al. (2021), ekstrak kulit jeruk nipis
pelepah, daun, jantung pisang dan buahnya
memiliki kandungan saponin dan flavonoid.
(Ningsih et al., 2013). Ekstrak batang pisang mas
Hindun et al. (2017) juga menguatkan
muli telah diteliti mengandung saponin yang
keberadaan senyawa antibakteri dalam artikel
memilik khasiat sebagai antiseptik dan
penelitiannya, bahwa terdapat kandungan
pembersih, serta mengandung flavonoid yang
senyawa flavonoid pada ekstrak kulit jeruk nipis.
memiliki sifat sebagai antibakteri (Apriasari et
Octariani, Putri, and Rijai (2021) telah menguji
al., 2013). Ekstrak kulit pisang raja telah
perihal senyawa yang tergolong metabolit
diketahui mengandung senyawa flavonoid,
sekunder dalam ekstrak kulit jeruk nipis.
terpenoid dan tanin (Supriyanti, F.M.T., Suanda,
Temuan mereka menunjukkan bahwa terbukti
H. &Rosdiana, 2021).
adanya senyawa kimia yang berada dalam kulit
Pisang kepok kuning juga memiliki
jeruk nipis yakni flavonoid, alkaloid, dan tanin.
aktivitas terhadap Staphylococcus aureus dan
Oleh sebab itu kulit jeruk nipis dapat dianggap
Escherichia coli, serta pada ekstrak bonggol
sebagai termasuk dari sumber alami antioksidan.
pisang kepok kuning juga terbukti memiliki
(2) Hasil Kandungan Senyawa Antibakteri aktivitas antibakteri terbesar dibandingkan akar,
Dalam Ekstrak Bonggol Pisang pelepah, daun, jantung pisang dan buahnya
Tabel 2. Senyawa Dalam Ektrak Bonggol (Putri Ningsih & dan Anthoni Agustien, 2013).
Pisang
Ekstrak etanol kulit pisang kepok (Musa
Kode Jenis Kadar Senyawa
balbisiana) mampu menghambat pertumbuhan
sampel Senyawa

Vol. 17 No. 2 / 2024 | 145


bakteri Escherichia coli, Konsentrasi 25%, 50%, Diameter zona (mm)
75% dan 100%, zona hambat yang didapat Bakteri Kontrol Kontrol
r1 r2 r3 x̄
berturut – turut sebesar 18 mm, 23 mm, 25 mm, (+) (-)
dan 28 mm dan hasil secara maksimal Ekstrak
didapatkan pada konsentrasi 100 % dengan Bonggol 11,85 12,25 12,00 12,03
diameter zona hambat 28 mm (Fauziah et al., Pisang
2022). Ekstrak 18,85 7,50
Kulit
(3) Hasil Mengukur Zona Bening Sekitar 36,30 34,40 36,60 35,77
Jeruk
Sumuran Dengan Jangka Sorong Terhadap Nipis
Bakteri Staphylococcus aureus Keterangan:
Pengujian daya hambat dilakukan dengan
• r: Replikasi
mengukur diameter zona hambat yang
dihasilkan pada media yang mengandung bakteri • x̄ : Rata- rata

Staphylococcus aureus setelah dilakukan Berdasarkan tabel 3, diketahui adanya daya


inkubasi selama 24 jam pada suhu 37oC. Media hambat bakteri Staphylococcus aureus pada
yang sudah diinkubasi diukur diameternya ekstrak kulit jeruk nipis dan bonggol pisang.
dengan menggunakan jangka sorong dalam Rata-rata daya hambat bakteri dari ekstrak kulit
satuan milimeter. Luas zona hambat dihitung jeruk nipis pada replikasi pertama (r1) yaitu
dengan rumus lalu dimasukan pada tabel hasil 36,30mm, replikasi kedua (r2) yaitu 34,40mm,
pengamatan. Media yang sudah diinkubasi dan replikasi ketiga (r3) yaitu 36,60mm. Rata-rata
siap diamati dapat dilihat pada gambar di bawah daya hambat bakteri dari ekstrak bonggol pisang
ini: pada replikasi pertama (r1) yaitu 11,85mm,
replikasi kedua (r2) yaitu 12,25mm, replikasi
ketiga (r3) yaitu 12,00mm Rata-rata ekstrak
bonggol pisang. Rata-rata daya hambat bakteri
dengan ekstrak kulit jeruk nipis kosentrasi 75%
sebesar 35,77mm, sedangkan rata-rata daya
hambat bakteri dengan ekstrak bonggol pisang
kosentrasi 75% sebesar 12,03mm. Dalam buku
yang ditulis oleh Tarigan, I.L. dan Muadifah, A.,
pada tahun( 2020), disebutkan bahwa kategori
Gambar 1. Pengukuran Zona Bening Pada Bakteri zona hambat bakteri berdasarkan besar zona
Staphylococcus aureus hambat (mm) yang terbentuk yaitu:
Keterangan: (1) > 20 mm = Sangat kuat
• K(+): Kontrol Positif (2) 10-20 mm = Kuat
• K(-) : Kontrol Negatif (3) 5-10 mm = Sedang
• (191-1) : Ekstrak Kulit Jeruk Nipis (4) < 5 mm = Lemah
• (186-1) : Ekstrak Bonggol Pisang Berdasarkan kategori zona hambat bakteri,
Zona hambat yang dihasilkan dari masing- kemampuan dalam menekan bakteri
masing perlakuan memiliki diameter yang Staphylococcus aureus pada ekstrak bonggol
berbeda-beda dan bentuk yang tidak beraturan. pisang tergolong kuat dan ekstrak kulit jeruk
Oleh karena itu, pengamatan dilakukan dengan nipis tergolong sangat kuat sebab pada hasil uji
mengukur diameter horizontal dan diameter didapatkan bahwa besar zona hambat
vertikal dari zona yang terbentuk di sekitar pertumbuhan bakteri pada ekstrak bonggol
sumuran. Hasil pengukuran luas zona hambat pisang sebesar 12,03mm dan kulit jeruk nipis
yang terbentuk di sekitar sumuran dapat dilihat sebesar 35,77mm. Hal tersebut dapat
pada Tabel berikut ini. dipengaruhi dari kadar senyawa antibakteri jeruk
Tabel 3. Daya Habat Pertumbuhan Bakteri
nipis dan bonggol pisang. Pada studi ini, peneliti
Staphylococcus aureus

Vol. 17 No. 2 / 2024 | 146


menggunakan sampel sampah kulit jeruk nipis assu
med
dan bonggol pisang sehingga tidak dilakukan
penyortiran berdasarkan umur tanaman. Selain
itu setelah dilakukan proses/tahapan maserasi,
ekstrak kulit jeruk nipis dan bonggol pisang Berdasarkan Tabel 4 diketahui nilai
disimpan selama 2x24 jam terlebih dahulu signifikan dari hasil perhitungan dapat ditarik
sebelum dilakukan pengujian. kesimpulan bahwa nilai sig adalah sebesar
(4) Menganalisis Perbedaan Daya Hambat (0,011>0,05), maka dapat diartikan bahwa
Bakteri Menggunakan Ekstrak Kulit Jeruk varian data antara bonggol pisang dan kulit jeruk
Nipis Dan Bonggol Pisang. nipis adalah homogen. Berdasarkan nilai sig (2-
Data yang didapatkan berupa zona hambat talled) sebesar 0,070>0,05, maka dapat diartikan
bakteri Staphylococcus aureus menggunakan bahwa Ho diterima. Dengan demikian dapat
kulit jeruk nipis dan bonggol pisang dengan disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan
menggunakan uji T-tes. Hasil dari rata- rata zona signifikan secara statistik diameter zona hambat
hambat bakteri Staphylococcus aureus yang bakteri Staphylococcus aureus pada kulit jeruk
menggunakan bonggol pisang sbesar 12,03mm, nipis dan bonggol pisang.
sedangkan rata-rata zona hambat bakteri
Penutup
Staphylococcus aureus menggunakan kulit jeruk
Dalam penelitian ini berdasarkan hasil
nipis sebesar 35,77mm. Dengan demikian secara
pengukuran kandungan ekstrak kulit jeruk nipis
deskriptif statistik dapat disimpulkan ada
an bonggol pisang memiliki senyawa aktif yaitu
perbedaan rata-rata hasil zona hambat bakteri
flavonoid, alkoloid, tanin, saponin. Rata-rata
Staphylococcus aureus menggunakan ekstrak
daya hambat bakteri dengan ekstrak kulit jeruk
kulit jeruk nipis dan bonggol pisang. Selanjutnya
nipis kosentrasi 75% sebesar 35,77mm,
untuk membuktikan apakah ada perbedaan
sedangkan rata-rata daya hambat bakteri dengan
secara signifikan atau tidak maka perlu
ekstrak bonggol pisang kosentrasi 75% sebesar
menggunakan output berikut ini:
12,03mm. Berdasarkan kategori zona hambat
Tabel 4. Hasil Uji T-Tes Zona Hambat Bakteri bakteri, kemampuan dalam menekan bakteri
Staphylococcus aureus Pada Ekstrak Kulit Jeruk Nipis Staphylococcus aureus pada ekstrak bonggol
Dan Bonggol Pisang
pisang tergolong kuat dan ekstrak kulit jeruk
Lave nipis tergolong sangat kuat sebab pada hasil uji
95%
ne’s
Test
Confiden didapatkan bahwa besar zona hambat
ce
for t-test for Equality of pertumbuhan bakteri pada ekstrak bonggol
Interval
Equal Means pisang sebesar 12,03mm dan kulit jeruk nipis
of the
ity of
Differenc sebesar 35,77mm.
Varia
e
nces Daftar Pustaka

S
Sig
Mean
Std Arisona, R. D. (2018). Pengolahan Sampah 3R
(2- Error Low Up (Reduce, Reuse, Rechcle) Pada Pembelajaran
F i t df Diffe
tail Diffe er per
g rence IPS Untuk Menumbuhkan Karakter Peduli
ed) rence
Lingkungan. Jurnal Pendidikan Islam, 3, 39–
Equa 51.
l
0
-
- - - [Link]
varia 10. 2. 04 6.106
1 8 14.24 28.3 158 Aldi, A. T. U. D. R. . (2016). Efektivitas Ekstrak
nces 983 33 8 45
1 000 2150 50
Dia assu 2 Kulit Jeruk Nipis (CitrusAurantifolia)dengan
mete med NaCL 5,25 % sebagai Alternatif Larutan
r
Equa Irigasi SaluranAkar dalam Menghambat
Zona -
l
2.
4.
07
-
6.106
-
1.68 Bakteri Enterococcus Faecalis. Skripsi.
varia
33
77
0
14.24
45
30.1
734 FakultasKedokteran Gigi Universitas
nces 0 000 6734 Hasanuddin.
2
not

Vol. 17 No. 2 / 2024 | 147


Azizah, R., & Antarti, A. N. (2019). Uji Aktivitas UIniversitais AIndailais (J. Bio. UIAI.), 2(3),
Antibakteri Ekstrak Dan Getah Pelepah Serta 207– 213.
Bonggol Pisang Kepok Kuning (Musa Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian
paradisiaca Linn.) Terhadap Bakteri Kesehatan. RINEKA CIPTA.
Pseudomonas aeruginosa dan Klebsiella Novriyanti, R., Putri, N. E. K., & Rijai, L. (2022).
pneumoniae Dengan Metode Difusi Agar. Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas
JPSCR : Journal of Pharmaceutical Science Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Jeruk Nipis
and Clinical Research, 4(1), 29. (Citrus aurantifolia) Menggunakan Metode
[Link] DPPH. Proceeding of Mulawarman
Batubara, R., Mardiansyah, R., & Sukma A.M, A. Pharmaceuticals Conferences, 15, 165–170.
(2022). Pengadaan Tong Sampah Organik Dan [Link]
Anorganik Dikelurahan Indro Kecamatan Rahmat, F. N. (2023). Analisis Pemanfaatan Sampah
Kebomas Gresik. DedikasiMU : Journal of Organik Menjadi Energi Alternatif Biogas.
Community Service, 4(1), 101. Jurnal Energi Baru Dan
[Link] Terbarukan, 4(2), 118–122.
7 [Link]
Boleng, D. (2015). Bakteriologi. Universitas Octariani, Salwa, Novita Eka Kartab Putri, and
Muhammadiyah Malang Laode Rijai. 2021. “Skrining Fitokimia Dan
Fauziah, F., Dewi Safrida, Y., Azmi, M., & Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol
Zarwinda, I. (2022). Uji Daya Hambat Ekstrak Kulit Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia)
Etanol Kulit Pisang Kepok (Musa balbisiana) Menggunakan Metode DPPH.” Proceeding of
Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia Mulawarman Pharmaceuticals Conferences
coli. Jurnal Sains Dan Kesehatan 135–38. Panche, A. N., Diwan, A. D., & C.,
Darussalam, 2(2), 1–7. & R., S. (2016). Flavonoids: An overview.
[Link] Journal of Nutritional Science,5.
Hastari, R. (2012).Uji Aktifitas Antibakteri Ekstrak [Link]
Pelepah dan Batang Tanaman Pisang Ambon Putri Ningsih, A., & dan Anthoni Agustien, N.
(Musa paradisiaca [Link]) terhadap (2013). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak
Staphylococcus aureus Laporan Hasil Karya Kental Tanaman Pisang Kepok Kuning (Musa
Tulis Ilmiah Diajukan sebagai syarat untuk paradisiaca Linn.) terhadap Staphylococcus
mengikuti ujian hasil Karya Tulis Ilmiah aureus dan Escherichia coli Antibacterial
mahasiswa Pro. Activity of Crude Extracts of Pisang Kepok
Kuning (Musa paradisiaca Linn.) Against
Hindun, Siti, Taofik Rusdiana, Marline Abdasah, Staphylococc. Jurnal Biologi Universitas
and Reti Hindritiani. 2017. “Potensi Limbah Andalas (J. Bio. UA.), 2(3), 207–213.
Kulit Jeruk Nipis (Citrus Auronfolia) Sebagai Ramadhani, S. H., S. dan I. (2017). Isolasi dan
Inhibitor Tironase.” Indonesian Journal of Identifikasi Jamur Endofit pada Daun Jamblang
Pharmaceutical Science and Technology (Syzygium cumini L).Jurnal Ilmiah
4(2):64. doi: 10.15416/ijpst.v4i2.12642. Mahasiswa FakultasKeguruan Dan Ilmu
Pendidikan Unsyiah
Ismarani. (2012). Potensi Senyawa Tannin Dalam
Rahmat, F. N. (2023). Analisis Pemanfaatan Sampah
Menunjang Produksi Ramah Lingkungan
Organik Menjadi Energi Alternatif Biogas.
Ismarani Abstract menjadi hydrolyzable
Jurnal Energi Baru Dan Terbarukan, 4(2),
tannin dan condensed tannins (
118–122.
proanthocyanidins ). Jurnal Agribisnis Dan
[Link]
Pengembangan Wilayah, 3(2), 46–55.
Rahmawati, P. A., Purwati, E., P., F. A., & Safitri, C.
Junaidi, Lukman. 2019. Teknologi Ekstraksi Bahan I. N. H. (2021). Formulasi dan Uji Mutu
Aktif Alami. Bogor: Penerbit IPB Press. Fisik Sediaan Sabun Padat Herbal Ekstrak
Kuliat Buah Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia)
Kamal, S. edi. (2019). Uji Efek Antimikroba Dengan Penambahan Madu. Prosiding
Infusa Daun Pare (Momordicacharantia SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan
L.)Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus Biologi Dan Saintek), 6, 486–491.
aureus. Jurnal FarmasiSandi Karsa (JFS), V [Link]
Ningsih [Link]. (2019). UIji AIktivitais AIntibaikteri Septiani, D. (2017). Aktivitas antibakteri ekstrak
Ekstraik Kentail Tainaimain Pisaing Kepok lamun (Cymodocea rotundata)terhadap
Kuining (Muisai pairaidisiaicai Linn.) bakteri Staphylococcus aureus dan
terhaidaip Staiphylococcuis aiuireuis dain Escherichia coli. SaintekPerikanan.
Escherichiai coli. Juirnail Biologi

Vol. 17 No. 2 / 2024 | 148


Supriyanti, F.M.T., Suanda, H. &Rosdiana, R.
(2021). PEMANFAATAN EKSTRAK KULIT
PISANG KEPOK (Musa bluggoe )
Krisdayanti, SEBAGAI SUMBER
ANTIOKSIDAN PADA PRODUKSI
TAHUWike. Analisi Kualitas Layanan, 393–
400.
Tarigan, Indra Lasmana, and A. M. (2020). Senyawa
Antibakteri Bahan Alam.
Triyani, M. A., Pengestuti, D., Khotijah, S. L.,
Susilaningrum, F. D., & Ujilestari, T. (2021).
Aktivitas Antibakteri Hand Sanitizer Berbahan
Ekstrak Daun Sirih dan Ekstrak Jeruk Nipis.
NECTAR: Jurnal Pendidikan Biologi, 2(1),
16–23.
Turahman, T., Nurfiana, G., & Sari, F. (2018).
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Dan Fraksi Daun
Manggis (Garcinia Mangostana) Terhadap
Staphylococcus aureus Antibacterial Activity
of Mangosteen (Garcinia Mangostana) Leaf
Extracts and
Fractions Against Staphylococcus aureus.
Jurnal Farmasi Indonesia, 15(2), 115–
122.
[Link]
masi-indonesia
Ulfa, A. M., Marcellia, S., & Rositasari, E. (2020).
Efektivitas Formulasi Krim Ekstrak Kulit
Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia- Pericappium)
Sebagai Pengobatan Luka Sayat Stadium Ii
Pada Tikus Putih (Rattus Novergicus) Galur
Wistar. Jurnal Farmasi Malahayati, 3(1), 42–
52. [Link]
Yogi Raihmain Nuigraihai, N. AIi Erlinaiwaiti, E. S.
D. (2023). Uji AIktivitais AIntibaikteri
Ekstraik Etil AIsetait Bonggol Pisaing Kepok (
Muisai Pairaidisiaicai L ) Terhaidaip Baikteri
Staiphylococcuis AIuireuis dain Escherichiai
Coli Dengain Metode Difuisi AIgair. 01(01), 7–
9.

Vol. 17 No. 2 / 2024 | 149

Anda mungkin juga menyukai