15
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Pajak Kendaraan Bermotor dan Surat Tanda Nomor
Kendaraan
Pajak Kendaraan Bermotor (selanjutnya disebut PKB) adalah pajak atas
kepemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor (kendaraan beroda dua atau
lebih beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat dan
digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang
berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga
gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat besar yang
bergerak). Adapun jenis kendaraan motor yang dikenakan pajak di antaranya
adalah sebagai berikut: seperti, sepeda motor, scooter, mobil, sedan, pemadam
kebakaran, dan kendaraan lainnya, kendaraan di atas termasuk kendaraan yang
mempunyai wajib pajak yang harus dibayar tiap tahunnya untuk kelancaraan
berjalannya kendaraan tersebut.1
Semula sesuai dengan UU No. 18 tahun 1997 ditetapkan Pajak Kendaraan
Bermotor, dimana pajak atas PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) & PKAA (Pajak
Kendaraan Diatas Air) dicakupkan. Seiring dengan perubahan UU No. 18 tahun
1997 menjadi UU No. 34 tahun 2000, terminologi kendaraan bermotor diperluas
dan dilakukan pemisahan secara tegas menjadi Kendaraan Bermotor dan di
1
Trisni Suryarini, Tarsis Tarmudji, 2012, Pajak Di Indonesia, Graha Ilmu, Yogyakarta,
hlm.79
16
Kendaraan Atas Air. Hal ini membuat Pajak Kendaraan Bermotor diperluas
menjadi PKB & PKAA. Dalam praktiknya jenis pajak ini sering di bagi atas 2,
yaitu PKB dan PKAA. Hal ini wajar saja mengingat kendaraan bermotor pada
dasarnya berbeda dengan kendaraan di atas air. Pengenaan PKB & PKAA tidak
mutlak ada pada seluruh daerah provinsi di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan
kewenangan yang diberikan kepada pemerintah provinsi untuk mengenakan atau
tidak mengenakan suatu jenis pajak provinsi. Untuk dapat dipungut pada suatu
daerah provinsi pemerintah daerah harus terlebih dahulu menerbitkan Peraturan
Daerah tentang PKB, yang akan menjadi landasan hukum operasional dalam
teknis pelaksanaan pengenaan dan pemungutan PKB & PKAA didaerah provinsi
yang bersangkutan. Pemerintah provinsi diberi kebebasan untuk menetapkan
apakah PKB ditetapkan dalam satu peraturan daerah atau ditetapkan dalam dua
peraturan daerah terpisah.2
Dasar hukum pajak kendaraan bermotor diatur dalam :
a. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 65 tahun 2001 tentang Pajak Daerah.
c. Peraturan daerah provinsi yang mengatur tentang PKB. Peraturan daerah ini
dapat menyatu, yaitu satu peraturan daerah untuk PKB, tetapi dapat juga
dibuat secara terpisah misalnya Peraturan Daerah tentang PKB.
2
Ibid
17
d. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 tahun 2006 tentang Perhitungan
Dasar Pengenanan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama
Kendaraan Bermotor Tahun 2006.
e. Peraturan Gubernur yang mengatur tentang PKB sebagai aturan pelaksanaan
peraturan daerah tentang PKB pada provinsi yang dimaksud.
Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang memiliki kendaraan
bermotor, jika wajib pajak merupakan badan maka kewajiban perpajakannya
diwakili oleh pengurus atau kuasa hukum badan tersebut. Dengan demikian,
pada PKB subjek pajak sama dengan wajib pajak, yaitu orang pribadi atau
badan yang memiliki atau menguasai kendaraan bermotor.3
Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK) adalah suatu alat bukti yg
melekat pada suatu kendaraan yang berisi nomor registrasi dan identifikasi suatu
kendaraan bermotor. STNK umumnya diterbitkan bersamaan saat Pendaftaraan
BPKB baru atau juga pada saat perubahan status kepemilikan pada BPKB
(MUTASI). STNK bersifat sebagai kelengkapan saat berkendara, sehingga
dalam situasi apapun saat berkendara dijalan pengendara kendaraan bermotor
wajib membawa STNK dimanapun dan apapun kondisinya. STNK terdiri dari 2
(dua) lembar yaitu sisi STNK dan sisi Ketetapan Pajak Kendaraan.
Mengenai pengesahan STNK diatur dalam Pasal 70 UU 22/2009 sebagai
berikut:
3
R. Santoso Brotodihardjo, 2007, Dasar-dasar Perpajakan, Penerbit Salemba Empat
Jakarta, Jakarta, hlm.22
18
1. Buku Pemilik Kendaraan Bermotor berlaku selama kepemilikannya tidak
dipindahtangankan.
2. Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor dan Tanda Nomor Kendaraan
Bermotor berlaku selama 5 (lima) tahun, yang harus dimintakan
pengesahan setiap tahun.
3. Sebelum berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor dan Tanda Nomor Kendaraan
Bermotor wajib diajukan permohonan perpanjangan.
Yang dimaksud dengan “pengesahan setiap tahun” adalah sebagai pengawasan
tahunan terhadap registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor
serta menumbuhkan kepatuhan wajib pajak Kendaraan Bermotor. Artinya, STNK
dianggap sah hanya apabila wajib pajak telah membayar pajak kendaraan
bermotor tesebut.
Di dalam sisi STNK berisi tentang identitas pemilik kendaraan, identitas
lengkap kendaraan seperti Nomor Rangka, Nomor Mesin, Nomor Polisi, Nomor
registrasi kepemilikan, dan masa berlaku penggunaan kendaraan selama 5 (lima)
tahun. Sedangkan dalam sisi Ketetapan Pajak atau biasa disebut Notice Pajak
Kendaraan berisikan tentang Identitas pemilik kendaraan, Identitas lengkap
kendaraan, Nomor Rangka, Nomor Mesin, Nomor Polisi dan Daftar rincian
jumlah Pajak Kendaraan yang digunakan serta masa berlaku penggunaan
kendaraan bermotor selama 1 (satu) tahun.4
4
www. [Link] (10 DESEMBER 2017) oleh ABHINAYA_JD Pengertian, Fungsi &
Tujuan dibuatnya BPKB dan STNK, diakses pada tanggal 12 Feb 2020.
19
Subjek dari pajak kendaraan bermotor merupakan orang pribadi dan
badan/perusahaan yang memiliki atau menguasai kendaraan bermotor. Pengaturan
subjek pajak kendaraan bermotor dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 28
Tahun 2009. Sedangkan objek pajak kendaraan bermotor adalah:
1. Kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor.
2. Termasuk dalam pengertian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud
pada poin sebelumnya, yakni:
a) Kendaraan bermotor beroda beserta gandengannya yang
dioperasikan di semua jenis jalan darat seperti sepeda motor,
mobil, truk, bis dan lain sebagainya.
b) Kendaraan bermotor yang dioperasikan di air dengan ukuran isi
kotor GT 5 (Lima Gross Tonnage) sampai dengan GT 7.
3. Dikecualikan dari pengertian kendaraan bermotor sebagaimana yang
dimaksud pada poin ke 2 adalah:
a) Kereta api.
b) Kendaraan bermotor yang semata-mata digunakan untuk keperluan
pertahanan dan keamanan negara.
c) Kendaraan bermotor yang dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan,
konsultan, perwakilan negara asing dengan asas timbal balik dan
lembaga-lembaga internasional yang memperoleh fasilitas
pembebasan pajak dari pemerintah.
20
d) Kendaraan bermotor yang dimiliki dan/atau dikuasai oleh pabrikan
atau importir yang semata-mata disediakan untuk keperluan
pameran dan tidak untuk dijual.
B. Kewenangan Polisi Lalu Lintas Dalam Melakukan Penilangan
Kewenangan adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang
lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu.
Kewenangan biasanya dihubungkan dengan kekuasaan. Polisi merupakan alat
negara yang bertugas memelihara keamanan, memberikan perlindungan, dan
menciptakan ketertiban masyarakat.
Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara
Republik Indonesia atau disebut dengan Undang-Undang Kepolisian Negara
Republik Indonesia, dalam Pasal 1 Ayat (1) disebutkan bahwa, “Kepolisian adalah
segala hal ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan
peraturan perundangundangan.” Selanjutnya Pasal 5 Undang-Undang Kepolisian
Negara Republik Indonesia disebutkan bahwa:
1) Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang
berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat,
menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan
pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan
dalam negeri.
2) Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah Kepolisian Nasional
yang merupakan satu kesatuan dalam melaksanakan peran sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1).
21
Salah satu bidang tugas kepolisian adalah pengaturan lalu lintas. Dalam
hal pengaturan lalu lintas, kepolisian bertugas menyelenggarakan registrasi dan
identifikasi kendaraan bermotor, serta memberikan surat izin mengemudi bagi
setiap orang yang memenuhi syarat sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan. Tugas ini secara tegas ditentukan dalam Pasal 15 ayat (2) huruf b dan c
UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dalam hal
ini mengatur lalu lintas di jalan, kepolisian juga berkoordinasi dengan Dinas Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan. Kewenangan pihak kepolisian dalam pengaturan di
jalan raya terbatas pada masalah administratif dan perilaku pengguna jalan, dan
untuk masalah teknis menjadi kewenangan Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Masalah lalu lintas secara konvensional antara lain berupa kemacetan lalu lintas,
pelanggaran lalu lintas, dan kecelakaan lalu lintas.5
Pelanggaran lalu lintas mungkin terjadi dalam keadaan bergerak atau
tidak bergerak. Sebagaimana telah diatur secara tegas dalam Pasal 15 ayat (2)
huruf b dan c tersebut di atas, maka struktur organisasi pelaksana tugas di
kepolisian terdapat bidang tugas lalu lintas, yaitu petugas kepolisian yang
menangani pelanggaran lalu lintas dan pemberi ijin mengemudi. Berkaitan dengan
tugas kepolisian bidang lalu lintas ini, diperlukan suatu pembinaan yang
diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan
dalam keseluruhan transportasi secara terpadu dengan memperhatikan seluruh
aspek kehidupan masyarakat dalam mewujudkan tujuan Undang-undang No. 22
Tahun 2009. Dalam rangka melaksanakan tugas kepolisian, Pasal 7 Undang-
5
Kansil, C.S.T, 1995, Disiplin Dalam Berlalu Lintas di Jalan Raya. Rineka Cipta.
Jakarta. hlm. 3.
22
undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
menentukan perlunya di bentuk suatu susunan organisasi dan tata kerja kepolisian
yang diatur dengan keputusan Presiden, yang pada pelaksanaanya tugas kepolisian
sebagai berikut meliputi:
1. Satuan fungsi Lalu Lintas;
2. Satuan fungsi Bimbingan Masyarakat;
3. Satuan fungsi Samapta Bhayangkara (Sabhara);
4. Satuan fungsi Intelijen;
5. Satuan fungsi reserse.
Satuan fungsi lalu lintas merupakan satuan melaksanakan tugas-tugas yang
menangani dan menanggulangi masalah lalu lintas di masyarakat. Dalam fungsi
lalu lintas juga terdapat bagian-bagian yang tersusun dalam suatu struktur
organisasi di bawah Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Kepolisian di
masing-masing Wilayah Kepolisian, antara lain :
a. Kasatlantas adalah pimpinan tertinggi satuan Lalu Lintas Kepolisian
Wilayah yang bertugas dan bertanggungjawab terhadap pelaksanaan
fungsi lalu lintas.
b. Kaur Bin ops adalah Kepala urusan Pembinaan Operasional, yang
bertugas dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan operasi-operasi di
lapangan.
c. Min Lantas adalah bagian tata usaha dalam, merupakan bagian yang
bertugas terhadap masalah administrasi satuan lalu lintas.
23
d. Kanit Regident adalah pelaksana urusan SIM yang bertugas dan
bertanggung jawab terhadap perpanjangan dan pengajuan SIM serta
registrasi tentang surat-surat kendaraan bermotor.
e. Kanit Laka adalah Kepala Unit Kecelakaan Lalu Lintas, yang bertugas
dan bertanggungjawab terhadap timbulnya segala peristiwa kecelakaan
lalu lintas dan upaya penyelesainnya.
f. Kanit Turjawali adalah Kepala unit Patroli, yang bertugas dan
bertanggungjawab terhadap pengamanan patroli jalan raya dan
pengawalan, pelaksanaan penjagaan dan pengaturan jalan, penegakaan
hukum di bidang lalu lintas, memberikan penjagaan khusus terhadap
orang-orang penting seperti pejabat negara, dan tamu-tamu negara.
g. Kanit Dikyasa adalah Unit Pendidikan dan Rekayasa, yang bertugas dan
bertanggungjawab dalam memberikan penyuluhan dan pendidikan kepada
masyarakat mengenai ketertiban lalu lintas.
Dengan adanya stuktur organisasi dan pembagian tugas serta
tanggungjawab seperti tersebut di atas, maka semakin jelas hal-hal yang harus
dilaksanakan oleh polisi lalu lintas. Untuk pelaksanaan tugas Satuan Lalu Lintas
Kepolisian Wilayah, tidak dapat terlepas dari penanganan pelanggaran lalu lintas,
sedangkan dasar pelaksanaanya tidak lepas dari beberapa peraturan pemerintah
sebagai pelaksanannya. Salah satu peraturan pelaksana dari UU No. 22 tahun
2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah Peraturan Pemerintah No. 42
tahun 1993 tentang Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan. Di dalam
24
Peraturan Pemerintah No. 42 tahun 1993, ditentukan adanya dua institusi yang
berwenang melakukan pemeriksaan kendaraan bermotor, yaitu:
1. Kepolisian, yang dalam hal ini adalah polisis lalu lintas, mempunyai
kewenangan untuk melakukan pemeriksaan administratif kendaraan
bermotor.
2. Pengawai Negeri Sipil, yang dalam hal ini adalah Dinas Lalu lintas dan
Angkutan Jalan, mempunyai kewenangan untuk melakukan pemeriksaan
teknis kendaraan bermotor.
Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 2 tahun 2002 tentang
Kepolisian Negara Republik Indonesia, menyebutkan bahwa : "Kepolisian adalah
segala sesuatu hal ikhwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai
dengan peraturan perundang-undangan".
Tugas POLRI selaku alat penegak hukum diatur dalam pasal 13 Undang-
undang No. 2 tahun 2002, adalah sebagai berikut:
1. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat,
2. Menegakkan hukum, dan
3. Memberikan perlindungan, pengayom dan pelayanan kepada
masyarakat.
Salah satu wewenang POLRl sesuai dengan peraturan perundang-
undangan lainnya berdasarkan Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang No, 2 tahun
2002 antara lain, menyelenggarakan registrasi dan identifikasi kendaraan
25
bermotor, memberikan izin operasional dan melakukan pengawasan terhadap
badan usaha di bidang jasa pengamanan.6
Untuk melaksanakan wewenang tersebut di atas, pemerintah menetapkan
Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan yang
mengatur pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan sebagaimana yang dalam
Pasal 264 sampai Pasal 272.
Negara mewajibkan kendaraan bermotor yang menginjak jalan umum
untuk didaftarkan. Daftarnya ke Polisi sesuai ketentuan Pasal 5 ayat (3) huruf
e Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan Sebagai bukti atas pendaftaran kendaraan bermotor diberikanlah Buku
Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK),
dan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor. Kendaraan yang tidak terdaftar bisa
ditindak secara hukum.
Atas pelanggaran lalu lintas tersebut, Pasal 260 ayat (1) UU No.22 Tahun
2009 mengatur kewenangan bagi Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia
untuk melakukan tindakan sebagai berikut:
a. memberhentikan, melarang, atau menunda pengoperasian dan menyita
sementara Kendaraan Bermotor yang patut diduga melanggar
peraturan berlalu lintas atau merupakan alat dan/atau hasil kejahatan;
b. melakukan pemeriksaan atas kebenaran keterangan berkaitan dengan
Penyidikan tindak pidana di bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
6
Warsiti Hadi Utomo. H, 2005, Hukum Kepolisian Di Indonesia, Prestasi Pustaka
Publisher, Jakarta, hlm 25.
26
c. meminta keterangan dari Pengemudi, pemilik Kendaraan Bermotor,
dan/atau Perusahaan Angkutan Umum;
d. melakukan penyitaan terhadap Surat Izin Mengemudi, Kendaraan
Bermotor, muatan, Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor, Surat
Tanda Coba Kendaraan Bermotor, dan/atau tanda lulus uji sebagai
barang bukti;
e. melakukan penindakan terhadap tindak pidana pelanggaran atau
kejahatan Lalu Lintas menurut ketentuan peraturan perundang-
undangan;
f. membuat dan menandatangani berita acara pemeriksaan;
g. menghentikan penyidikan jika tidak terdapat cukup bukti;
h. melakukan penahanan yang berkaitan dengan tindak pidana kejahatan
Lalu Lintas; dan/atau
i. melakukan tindakan lain menurut hukum secara bertanggung jawab.
Selain tindakan tersebut di atas, berdasarkan Pasal 288 ayat (1) jo. Pasal 106
ayat (5) huruf a UU No. 22 Tahun 2009, setiap orang yang mengemudikan
kendaraan bermotor di jalan yang tidak dilengkapi dengan STNK atau surat tanda
coba kendaraan bermotor yang ditetapkan oleh Kepolisian Negara Republik
Indonesia dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda
paling banyak Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).
27
C. Prosedur Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor
Prosedur adalah serangkaian aksi yang spesifik, tindakan atau operasi yang
harus dijalankan atau dieksekusi dengan cara yang baku agar selalu memperoleh
hasil yang sama dari keadaan yang sama.7
Pajak yang terutang merupakan PKB yang haru dibayar oleh wajib pajak
pada suatu saat dalam masa pajak atau dalam tahun pajak menurut ketentuan
peraturan daerah tentang PKB yang di tetapkan oleh pemerintah daerah provinsi
setempat. Pada PKB pajak terutang dikenakan untuk masa pajak 12 bulan
berturut-turut terhitung mulai saat pendaftaran kendaraan bermotor, pemungutan
PKB merupakan satu kesatuan dengan pengurusan dengan administrasi
kendaraan bermotor lainnya. PKB yang terutang dipungut diwilayah provinsi
tempat kendaraan bermotor, hal ini akan terkait dengan kewenangan
pemerintah provinsi yang hanya terbatas kendaraan bermotor yang terdaftar
dalam lingkup wilayah.
Berdasarkan surat pemberitahuan tanda pajak yang disampaikan oleh wajib
pajak maka gubernur atau pejabat yang ditunjuk oleh gubernur untuk menetapkan
pajak kendaraan bermotor yang terutang dengan menerbitkan surat ketetapan
pajak Selain ketentuan-ketentuannya gubernur juga dapat menerbitkan STPD
apabila kewajiban pembayaran pajak terutang dalam surat keterangan pajak yang
kurang bayar atau surat keterangan pajak kurang bayar. Tidak dilakukan atau
tidak sepenuhnya dilakukan oleh wajib pajak sengan demikian STPD juga
7
Suharsimi Arikunto, 2013, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta, hlm.34
28
merupakan sarana yang digunakan untuk menagih wajib pajak yang kurang
bayar oleh wajib pajak sampai dengan jatuh tempo pembayaran pajak.
Pembayaran pajak motor termasuk ke dalam pajak progresif. Pajak progresif
adalah pajak yang tarif pemungutannya sesuai dengan persentase yang meningkat
sesuai dengan nilai objek pajak dan kuantitas atau jumlah dari objek pajak. Dalam
hal ini motor adalah objek pajaknya. Terdapat dua jenis pajak progresif, yakni
Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Adapun
persentase tarif pajak progresif motor sesuai dengan urutan kepemilikian
kendaraan, antara lain :
A. Kepemilikan kendaraan bermotor pertama dikenakan biaya paling sedikit
1 persen, sedangkan paling besar 2 persen.
B. Kepemilikan kendaraan bermotor kedua, ketiga, dan seterusnya
dibebankan tarif paling rendah 2 persen dan paling tinggi 10 persen.
Meski persentase tarif sudah ditetapkan, setiap daerah memiliki kewenangan
untuk menetapkan besarannya. Syaratnya, jumlah tarif tersebut tidak melebihi
rentang yang dicantumkan dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009.
Setiap orang yang memiliki kendaraan bermotor, tentu saja wajib
membayar kewajiban pajaknya setiap tahun. Pembayaran pajak kendaraan
bermotor dibagi menjadi dua jenis pajak, yaitu pajak yang dibayar setiap tahun
dan pajak yang dibayarkan lima tahun sekali. Pajak tahunan merupakan pajak
rutin yang harus dibayarkan setiap tahun, sedangkan pajak lima tahunan ditandai
29
dengan pergantian plat nomor kendaraan dan STNK. Khusus pajak lima tahunan,
setiap Wajib Pajak harus datang ke Kantor Samsat.8
Pajak Kendaraan Bermotor dilunasi paling lambat 1 bulan (30 hari) sejak
SKPD, STPD, SKPDKB, SKPDKBT, Surat Keputusan Keberatan, Surat
Keputusan Pembetulan, serta Putusan Banding yang mengakibatkan jumlah pajak
yang harus dibayarkan bertambah diterbitkan. Pembayaran Pajak kendaraan
Bermotor dilaksanakan ke kas daerah bank ataupun tempat lain yang telah
ditunjuk oleh Gubernur dengan menggunakan Surat Setoran Pajak [Link]
Pajak yang membayar diberikan tanda bukti pembayaran atau pelunasan pajak dan
Penning. Wajib Pajak yang telat membayar pajak akdan dikenakan sanksi, yaitu:
1. Keterlambatan Pembayaran yang melebihi jatuh tempo dikenakan
sanksi administrasi yang berupa denda yang besarnya 25% dari
pokok pajaknya.
2. Keterlambatan pembayaran yang melebihi 15 hari dienakan sanksi
administrasi yang besarnya 2% sebulan yang dihitung dari pajak
yang terlambat dibayar atau kurang bayar untuk jangka waktu
tempo paling lama 2 tahun atau 24 bulan terhitung sejak ketika
terhutangnya pajak.
Apabila Pajak yang terhutang tidak dilunasi atua dibayar setelah jatuh
tempo, pejabat pajak yang ditunjuk oleh gubernur akan melaksankan tindakan
penagihan pajak yang dilakukan kepada pajak terhutang dalam SKPD,
SKPDKBT, SKPDKB, STPD, Surat Keputusan, Keberatan, Surat Keputusan
8
Dr. Widi Widodo, 2010, Moralitas, Budaya, dan Kepatuhan Wajib Pajak, Alfabeta,
Kota Malang, hlm 46.
30
Pembetulan, serta Putusan Banding yang bisa mengakibatkan pajak yang harus
dibayarkan bertambah. Perhitungan dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor
ditentukan oleh hasil perkalian dari 2 (dua) unsur pokok yaitu Nilai Jual
Kendaraan Bermotor dan bobot yang mencerminkan secara relative tingkat
kerusakan jalan dan atau pencemaran lingkungan akibat penggunaan kendaraan
bermotor. Namun tidak semua dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor
dihitung dengan cara demikian. Khusus untuk kendaraan bermotor yang
digunakan di luar jalan umum, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar serta
kendaraan di air, dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor hanya nilai jual
kendaraan bermotor.9
Pajak kendaraan dihitung setahun sekali. Adapun pemungutan pajaknya
dilakukan bersamaan dengan penerbitan Surat Tanda Kendaraan Bermotor,
biasanya berupa cap pembayaran pajak di lembar STNK. Setelah pajak yang
terutang dihitung, pembayaran pajak dilakukan di wilayah daerah tempat
kendaraan bermotor terdaftar atau melalui tempat-tempat tertentu yang ditentukan
oleh Pemda setempat.10
Sifat dari pembayaran pajak kendaraan bermotor adalah pembayaran dimuka
untuk 1 tahun kedepan. Cara bayar pajak dimuka seperti ini memungkinkan
pembayar pajak untuk meminta kembali pajak yang lebih bayar atau tidak
seharusnya terutang sebagaimana tersebut dalam Pasal 8 Undang-Undang PDRD,
untuk pajak kendaraan bermotor yang karena keadaan kahar atau luar biasa (force
9
Dr. Muhammad Djafar Saidi, S.H., M.H. 2007, Perlindungan Hukum Wajib Pajak
Dalam Penyelesaian Sengketa Pajak. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. hlm. 192.
10
Siti Kurnia Rahayu dan Ely Suharyati, 2010, Perpajakan Teori dan Teknis
Perhitungan, Graha Ilmu, Yogyakarta, hlm. 35.
31
majeure) dimana masa pajaknya tidak sampai 12 (dua belas) bulan, dapat
dilakukan restitusi atau pajak yang mudah dibayar untuk porsi masa pajak yang
belum dilalui.
Setiap kegiatan yang akan dilakukan, tentu saja prosedur atau tata cara yang
harus dapat perhatikan. Dengan tujuan agar kegiatan yang dilakukan tersebut
dapat berjalan sesuai yang diharpkan. Prosedur adalah aturan bermain, aturan
bekerja, aturan berkoordinasi, sehingga unit-unit dalam sistem dan seterusnya
dapat berinteraksi satu sama lain secara efisien dan efektif. Adapun prosedur
pembayaran pajak kendaraan bermotor pertahunan. Berikut adalah prosedur
pembayaran pajak kendaraan bermotor :
1. Isi formulir permohonan pajak kendaraan bermotor sesuai data
yang telah tercantum pada surat tanda nomor kendaraan (STNK) dan
bukti kepemilikan kendaraan bermotor (BKPB). Formulir dapat diambil
di loket pendaftaran, kemudianlengkapi formulir lampiran berkas
yang dibutuhkan, adanya berkas yang harus dilampirkan adalah
sebagai berikut :
Perpanjang STNK 1 tahun :
a) STNK asli dan fotocopy
b) Fotocopy BKPB
c) KTP asli dan fotocopy sesuai nama di STNK dan BPKB
2. Selesai melengkapi berkas, serahkan berkas permohonan pajak STNK
ke loket penyerahan berkas.
32
Silahkan tunggu sampai dipanggil nama sesuai data yang tercantum
dalam STNK
3. Setelah itu, akan diberikan slip pembayaran pajak yang telah tercantum
biaya pajak yang harus dibayar
4. Serahkan slip dan uang sebesar biaya pajak ke kasir
5. Selesai membayar pajak, petugas akan memberikan bukti pelunasan
pembayaran pajak, dan bukti tersebut diserahkan kepada loket
pengambilan STNK
6. Setelah selesai petugas akan memanggil nama pemilik STNK untuk
mengambil STNK yang sudah selesai diperpanjang untuk satu
tahun kedepan. Proses perpanjangan STNK dapat dilakukan di samsat
keliling atau samsat otlet atau kantor samsat terdekat.
Denda pajak kendaraan bermotor dikenakan jika wajib pajak terlambat
membayar pajak ketika jatuh temponya. Denda yang harus dibayarkan berupa
25% dari pajak pokok per tahunnya ditambah denda SWDKLLJ.
- Pajak Kendaraan Bermotor: 25%/tahun
- Terlambat 3 bulan: PKB x 25% x 3/12
- Terlambat 6 bulan: PKB x 25% x 6/12
- Denda SWDKLLJ: Roda 2 = Rp32.000; Roda 4 = Rp100.000