0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan18 halaman

Pajak Kendaraan dan STNK di Medan

Dokumen ini membahas tentang Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) di Indonesia, termasuk definisi, dasar hukum, dan kewenangan pemerintah daerah dalam pemungutannya. Selain itu, dijelaskan juga tentang kewenangan polisi lalu lintas dalam pengaturan dan penegakan hukum terkait lalu lintas serta struktur organisasi kepolisian yang terlibat dalam tugas tersebut. PKB dikenakan pada pemilik kendaraan bermotor dan STNK berfungsi sebagai bukti kepemilikan yang harus diperbaharui setiap tahun.

Diunggah oleh

Gembel Elite
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan18 halaman

Pajak Kendaraan dan STNK di Medan

Dokumen ini membahas tentang Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) di Indonesia, termasuk definisi, dasar hukum, dan kewenangan pemerintah daerah dalam pemungutannya. Selain itu, dijelaskan juga tentang kewenangan polisi lalu lintas dalam pengaturan dan penegakan hukum terkait lalu lintas serta struktur organisasi kepolisian yang terlibat dalam tugas tersebut. PKB dikenakan pada pemilik kendaraan bermotor dan STNK berfungsi sebagai bukti kepemilikan yang harus diperbaharui setiap tahun.

Diunggah oleh

Gembel Elite
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Pajak Kendaraan Bermotor dan Surat Tanda Nomor

Kendaraan

Pajak Kendaraan Bermotor (selanjutnya disebut PKB) adalah pajak atas

kepemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor (kendaraan beroda dua atau

lebih beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat dan

digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang

berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga

gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat besar yang

bergerak). Adapun jenis kendaraan motor yang dikenakan pajak di antaranya

adalah sebagai berikut: seperti, sepeda motor, scooter, mobil, sedan, pemadam

kebakaran, dan kendaraan lainnya, kendaraan di atas termasuk kendaraan yang

mempunyai wajib pajak yang harus dibayar tiap tahunnya untuk kelancaraan

berjalannya kendaraan tersebut.1

Semula sesuai dengan UU No. 18 tahun 1997 ditetapkan Pajak Kendaraan

Bermotor, dimana pajak atas PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) & PKAA (Pajak

Kendaraan Diatas Air) dicakupkan. Seiring dengan perubahan UU No. 18 tahun

1997 menjadi UU No. 34 tahun 2000, terminologi kendaraan bermotor diperluas

dan dilakukan pemisahan secara tegas menjadi Kendaraan Bermotor dan di

1
Trisni Suryarini, Tarsis Tarmudji, 2012, Pajak Di Indonesia, Graha Ilmu, Yogyakarta,
hlm.79
16

Kendaraan Atas Air. Hal ini membuat Pajak Kendaraan Bermotor diperluas

menjadi PKB & PKAA. Dalam praktiknya jenis pajak ini sering di bagi atas 2,

yaitu PKB dan PKAA. Hal ini wajar saja mengingat kendaraan bermotor pada

dasarnya berbeda dengan kendaraan di atas air. Pengenaan PKB & PKAA tidak

mutlak ada pada seluruh daerah provinsi di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan

kewenangan yang diberikan kepada pemerintah provinsi untuk mengenakan atau

tidak mengenakan suatu jenis pajak provinsi. Untuk dapat dipungut pada suatu

daerah provinsi pemerintah daerah harus terlebih dahulu menerbitkan Peraturan

Daerah tentang PKB, yang akan menjadi landasan hukum operasional dalam

teknis pelaksanaan pengenaan dan pemungutan PKB & PKAA didaerah provinsi

yang bersangkutan. Pemerintah provinsi diberi kebebasan untuk menetapkan

apakah PKB ditetapkan dalam satu peraturan daerah atau ditetapkan dalam dua

peraturan daerah terpisah.2

Dasar hukum pajak kendaraan bermotor diatur dalam :

a. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi

Daerah.

b. Peraturan Pemerintah Nomor 65 tahun 2001 tentang Pajak Daerah.

c. Peraturan daerah provinsi yang mengatur tentang PKB. Peraturan daerah ini

dapat menyatu, yaitu satu peraturan daerah untuk PKB, tetapi dapat juga

dibuat secara terpisah misalnya Peraturan Daerah tentang PKB.

2
Ibid
17

d. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 tahun 2006 tentang Perhitungan

Dasar Pengenanan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama

Kendaraan Bermotor Tahun 2006.

e. Peraturan Gubernur yang mengatur tentang PKB sebagai aturan pelaksanaan

peraturan daerah tentang PKB pada provinsi yang dimaksud.

Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang memiliki kendaraan

bermotor, jika wajib pajak merupakan badan maka kewajiban perpajakannya

diwakili oleh pengurus atau kuasa hukum badan tersebut. Dengan demikian,

pada PKB subjek pajak sama dengan wajib pajak, yaitu orang pribadi atau

badan yang memiliki atau menguasai kendaraan bermotor.3

Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (STNK) adalah suatu alat bukti yg

melekat pada suatu kendaraan yang berisi nomor registrasi dan identifikasi suatu

kendaraan bermotor. STNK umumnya diterbitkan bersamaan saat Pendaftaraan

BPKB baru atau juga pada saat perubahan status kepemilikan pada BPKB

(MUTASI). STNK bersifat sebagai kelengkapan saat berkendara, sehingga

dalam situasi apapun saat berkendara dijalan pengendara kendaraan bermotor

wajib membawa STNK dimanapun dan apapun kondisinya. STNK terdiri dari 2

(dua) lembar yaitu sisi STNK dan sisi Ketetapan Pajak Kendaraan.

Mengenai pengesahan STNK diatur dalam Pasal 70 UU 22/2009 sebagai

berikut:

3
R. Santoso Brotodihardjo, 2007, Dasar-dasar Perpajakan, Penerbit Salemba Empat
Jakarta, Jakarta, hlm.22
18

1. Buku Pemilik Kendaraan Bermotor berlaku selama kepemilikannya tidak

dipindahtangankan.

2. Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor dan Tanda Nomor Kendaraan

Bermotor berlaku selama 5 (lima) tahun, yang harus dimintakan

pengesahan setiap tahun.

3. Sebelum berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2),

Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor dan Tanda Nomor Kendaraan

Bermotor wajib diajukan permohonan perpanjangan.

Yang dimaksud dengan “pengesahan setiap tahun” adalah sebagai pengawasan

tahunan terhadap registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor

serta menumbuhkan kepatuhan wajib pajak Kendaraan Bermotor. Artinya, STNK

dianggap sah hanya apabila wajib pajak telah membayar pajak kendaraan

bermotor tesebut.

Di dalam sisi STNK berisi tentang identitas pemilik kendaraan, identitas

lengkap kendaraan seperti Nomor Rangka, Nomor Mesin, Nomor Polisi, Nomor

registrasi kepemilikan, dan masa berlaku penggunaan kendaraan selama 5 (lima)

tahun. Sedangkan dalam sisi Ketetapan Pajak atau biasa disebut Notice Pajak

Kendaraan berisikan tentang Identitas pemilik kendaraan, Identitas lengkap

kendaraan, Nomor Rangka, Nomor Mesin, Nomor Polisi dan Daftar rincian

jumlah Pajak Kendaraan yang digunakan serta masa berlaku penggunaan

kendaraan bermotor selama 1 (satu) tahun.4

4
www. [Link] (10 DESEMBER 2017) oleh ABHINAYA_JD Pengertian, Fungsi &
Tujuan dibuatnya BPKB dan STNK, diakses pada tanggal 12 Feb 2020.
19

Subjek dari pajak kendaraan bermotor merupakan orang pribadi dan

badan/perusahaan yang memiliki atau menguasai kendaraan bermotor. Pengaturan

subjek pajak kendaraan bermotor dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 28

Tahun 2009. Sedangkan objek pajak kendaraan bermotor adalah:

1. Kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor.

2. Termasuk dalam pengertian kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud

pada poin sebelumnya, yakni:

a) Kendaraan bermotor beroda beserta gandengannya yang

dioperasikan di semua jenis jalan darat seperti sepeda motor,

mobil, truk, bis dan lain sebagainya.

b) Kendaraan bermotor yang dioperasikan di air dengan ukuran isi

kotor GT 5 (Lima Gross Tonnage) sampai dengan GT 7.

3. Dikecualikan dari pengertian kendaraan bermotor sebagaimana yang

dimaksud pada poin ke 2 adalah:

a) Kereta api.

b) Kendaraan bermotor yang semata-mata digunakan untuk keperluan

pertahanan dan keamanan negara.

c) Kendaraan bermotor yang dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan,

konsultan, perwakilan negara asing dengan asas timbal balik dan

lembaga-lembaga internasional yang memperoleh fasilitas

pembebasan pajak dari pemerintah.


20

d) Kendaraan bermotor yang dimiliki dan/atau dikuasai oleh pabrikan

atau importir yang semata-mata disediakan untuk keperluan

pameran dan tidak untuk dijual.

B. Kewenangan Polisi Lalu Lintas Dalam Melakukan Penilangan

Kewenangan adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang

lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu.

Kewenangan biasanya dihubungkan dengan kekuasaan. Polisi merupakan alat

negara yang bertugas memelihara keamanan, memberikan perlindungan, dan

menciptakan ketertiban masyarakat.

Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara

Republik Indonesia atau disebut dengan Undang-Undang Kepolisian Negara

Republik Indonesia, dalam Pasal 1 Ayat (1) disebutkan bahwa, “Kepolisian adalah

segala hal ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan

peraturan perundangundangan.” Selanjutnya Pasal 5 Undang-Undang Kepolisian

Negara Republik Indonesia disebutkan bahwa:

1) Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang

berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat,

menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan

pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan

dalam negeri.

2) Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah Kepolisian Nasional

yang merupakan satu kesatuan dalam melaksanakan peran sebagaimana

dimaksud dalam ayat (1).


21

Salah satu bidang tugas kepolisian adalah pengaturan lalu lintas. Dalam

hal pengaturan lalu lintas, kepolisian bertugas menyelenggarakan registrasi dan

identifikasi kendaraan bermotor, serta memberikan surat izin mengemudi bagi

setiap orang yang memenuhi syarat sesuai ketentuan peraturan perundang-

undangan. Tugas ini secara tegas ditentukan dalam Pasal 15 ayat (2) huruf b dan c

UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dalam hal

ini mengatur lalu lintas di jalan, kepolisian juga berkoordinasi dengan Dinas Lalu

Lintas dan Angkutan Jalan. Kewenangan pihak kepolisian dalam pengaturan di

jalan raya terbatas pada masalah administratif dan perilaku pengguna jalan, dan

untuk masalah teknis menjadi kewenangan Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Masalah lalu lintas secara konvensional antara lain berupa kemacetan lalu lintas,

pelanggaran lalu lintas, dan kecelakaan lalu lintas.5

Pelanggaran lalu lintas mungkin terjadi dalam keadaan bergerak atau

tidak bergerak. Sebagaimana telah diatur secara tegas dalam Pasal 15 ayat (2)

huruf b dan c tersebut di atas, maka struktur organisasi pelaksana tugas di

kepolisian terdapat bidang tugas lalu lintas, yaitu petugas kepolisian yang

menangani pelanggaran lalu lintas dan pemberi ijin mengemudi. Berkaitan dengan

tugas kepolisian bidang lalu lintas ini, diperlukan suatu pembinaan yang

diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan

dalam keseluruhan transportasi secara terpadu dengan memperhatikan seluruh

aspek kehidupan masyarakat dalam mewujudkan tujuan Undang-undang No. 22

Tahun 2009. Dalam rangka melaksanakan tugas kepolisian, Pasal 7 Undang-

5
Kansil, C.S.T, 1995, Disiplin Dalam Berlalu Lintas di Jalan Raya. Rineka Cipta.
Jakarta. hlm. 3.
22

undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia

menentukan perlunya di bentuk suatu susunan organisasi dan tata kerja kepolisian

yang diatur dengan keputusan Presiden, yang pada pelaksanaanya tugas kepolisian

sebagai berikut meliputi:

1. Satuan fungsi Lalu Lintas;

2. Satuan fungsi Bimbingan Masyarakat;

3. Satuan fungsi Samapta Bhayangkara (Sabhara);

4. Satuan fungsi Intelijen;

5. Satuan fungsi reserse.

Satuan fungsi lalu lintas merupakan satuan melaksanakan tugas-tugas yang

menangani dan menanggulangi masalah lalu lintas di masyarakat. Dalam fungsi

lalu lintas juga terdapat bagian-bagian yang tersusun dalam suatu struktur

organisasi di bawah Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Kepolisian di

masing-masing Wilayah Kepolisian, antara lain :

a. Kasatlantas adalah pimpinan tertinggi satuan Lalu Lintas Kepolisian

Wilayah yang bertugas dan bertanggungjawab terhadap pelaksanaan

fungsi lalu lintas.

b. Kaur Bin ops adalah Kepala urusan Pembinaan Operasional, yang

bertugas dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan operasi-operasi di

lapangan.

c. Min Lantas adalah bagian tata usaha dalam, merupakan bagian yang

bertugas terhadap masalah administrasi satuan lalu lintas.


23

d. Kanit Regident adalah pelaksana urusan SIM yang bertugas dan

bertanggung jawab terhadap perpanjangan dan pengajuan SIM serta

registrasi tentang surat-surat kendaraan bermotor.

e. Kanit Laka adalah Kepala Unit Kecelakaan Lalu Lintas, yang bertugas

dan bertanggungjawab terhadap timbulnya segala peristiwa kecelakaan

lalu lintas dan upaya penyelesainnya.

f. Kanit Turjawali adalah Kepala unit Patroli, yang bertugas dan

bertanggungjawab terhadap pengamanan patroli jalan raya dan

pengawalan, pelaksanaan penjagaan dan pengaturan jalan, penegakaan

hukum di bidang lalu lintas, memberikan penjagaan khusus terhadap

orang-orang penting seperti pejabat negara, dan tamu-tamu negara.

g. Kanit Dikyasa adalah Unit Pendidikan dan Rekayasa, yang bertugas dan

bertanggungjawab dalam memberikan penyuluhan dan pendidikan kepada

masyarakat mengenai ketertiban lalu lintas.

Dengan adanya stuktur organisasi dan pembagian tugas serta

tanggungjawab seperti tersebut di atas, maka semakin jelas hal-hal yang harus

dilaksanakan oleh polisi lalu lintas. Untuk pelaksanaan tugas Satuan Lalu Lintas

Kepolisian Wilayah, tidak dapat terlepas dari penanganan pelanggaran lalu lintas,

sedangkan dasar pelaksanaanya tidak lepas dari beberapa peraturan pemerintah

sebagai pelaksanannya. Salah satu peraturan pelaksana dari UU No. 22 tahun

2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah Peraturan Pemerintah No. 42

tahun 1993 tentang Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan. Di dalam


24

Peraturan Pemerintah No. 42 tahun 1993, ditentukan adanya dua institusi yang

berwenang melakukan pemeriksaan kendaraan bermotor, yaitu:

1. Kepolisian, yang dalam hal ini adalah polisis lalu lintas, mempunyai

kewenangan untuk melakukan pemeriksaan administratif kendaraan

bermotor.

2. Pengawai Negeri Sipil, yang dalam hal ini adalah Dinas Lalu lintas dan

Angkutan Jalan, mempunyai kewenangan untuk melakukan pemeriksaan

teknis kendaraan bermotor.

Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 2 tahun 2002 tentang

Kepolisian Negara Republik Indonesia, menyebutkan bahwa : "Kepolisian adalah

segala sesuatu hal ikhwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai

dengan peraturan perundang-undangan".

Tugas POLRI selaku alat penegak hukum diatur dalam pasal 13 Undang-

undang No. 2 tahun 2002, adalah sebagai berikut:

1. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat,

2. Menegakkan hukum, dan

3. Memberikan perlindungan, pengayom dan pelayanan kepada

masyarakat.

Salah satu wewenang POLRl sesuai dengan peraturan perundang-

undangan lainnya berdasarkan Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang No, 2 tahun

2002 antara lain, menyelenggarakan registrasi dan identifikasi kendaraan


25

bermotor, memberikan izin operasional dan melakukan pengawasan terhadap

badan usaha di bidang jasa pengamanan.6

Untuk melaksanakan wewenang tersebut di atas, pemerintah menetapkan

Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan yang

mengatur pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan sebagaimana yang dalam

Pasal 264 sampai Pasal 272.

Negara mewajibkan kendaraan bermotor yang menginjak jalan umum

untuk didaftarkan. Daftarnya ke Polisi sesuai ketentuan Pasal 5 ayat (3) huruf

e Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan

Jalan Sebagai bukti atas pendaftaran kendaraan bermotor diberikanlah Buku

Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK),

dan Tanda Nomor Kendaraan Bermotor. Kendaraan yang tidak terdaftar bisa

ditindak secara hukum.

Atas pelanggaran lalu lintas tersebut, Pasal 260 ayat (1) UU No.22 Tahun

2009 mengatur kewenangan bagi Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia

untuk melakukan tindakan sebagai berikut:

a. memberhentikan, melarang, atau menunda pengoperasian dan menyita

sementara Kendaraan Bermotor yang patut diduga melanggar

peraturan berlalu lintas atau merupakan alat dan/atau hasil kejahatan;

b. melakukan pemeriksaan atas kebenaran keterangan berkaitan dengan

Penyidikan tindak pidana di bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;

6
Warsiti Hadi Utomo. H, 2005, Hukum Kepolisian Di Indonesia, Prestasi Pustaka
Publisher, Jakarta, hlm 25.
26

c. meminta keterangan dari Pengemudi, pemilik Kendaraan Bermotor,

dan/atau Perusahaan Angkutan Umum;

d. melakukan penyitaan terhadap Surat Izin Mengemudi, Kendaraan

Bermotor, muatan, Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor, Surat

Tanda Coba Kendaraan Bermotor, dan/atau tanda lulus uji sebagai

barang bukti;

e. melakukan penindakan terhadap tindak pidana pelanggaran atau

kejahatan Lalu Lintas menurut ketentuan peraturan perundang-

undangan;

f. membuat dan menandatangani berita acara pemeriksaan;

g. menghentikan penyidikan jika tidak terdapat cukup bukti;

h. melakukan penahanan yang berkaitan dengan tindak pidana kejahatan

Lalu Lintas; dan/atau

i. melakukan tindakan lain menurut hukum secara bertanggung jawab.

Selain tindakan tersebut di atas, berdasarkan Pasal 288 ayat (1) jo. Pasal 106

ayat (5) huruf a UU No. 22 Tahun 2009, setiap orang yang mengemudikan

kendaraan bermotor di jalan yang tidak dilengkapi dengan STNK atau surat tanda

coba kendaraan bermotor yang ditetapkan oleh Kepolisian Negara Republik

Indonesia dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda

paling banyak Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).


27

C. Prosedur Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor

Prosedur adalah serangkaian aksi yang spesifik, tindakan atau operasi yang

harus dijalankan atau dieksekusi dengan cara yang baku agar selalu memperoleh

hasil yang sama dari keadaan yang sama.7

Pajak yang terutang merupakan PKB yang haru dibayar oleh wajib pajak

pada suatu saat dalam masa pajak atau dalam tahun pajak menurut ketentuan

peraturan daerah tentang PKB yang di tetapkan oleh pemerintah daerah provinsi

setempat. Pada PKB pajak terutang dikenakan untuk masa pajak 12 bulan

berturut-turut terhitung mulai saat pendaftaran kendaraan bermotor, pemungutan

PKB merupakan satu kesatuan dengan pengurusan dengan administrasi

kendaraan bermotor lainnya. PKB yang terutang dipungut diwilayah provinsi

tempat kendaraan bermotor, hal ini akan terkait dengan kewenangan

pemerintah provinsi yang hanya terbatas kendaraan bermotor yang terdaftar

dalam lingkup wilayah.

Berdasarkan surat pemberitahuan tanda pajak yang disampaikan oleh wajib

pajak maka gubernur atau pejabat yang ditunjuk oleh gubernur untuk menetapkan

pajak kendaraan bermotor yang terutang dengan menerbitkan surat ketetapan

pajak Selain ketentuan-ketentuannya gubernur juga dapat menerbitkan STPD

apabila kewajiban pembayaran pajak terutang dalam surat keterangan pajak yang

kurang bayar atau surat keterangan pajak kurang bayar. Tidak dilakukan atau

tidak sepenuhnya dilakukan oleh wajib pajak sengan demikian STPD juga

7
Suharsimi Arikunto, 2013, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta, hlm.34
28

merupakan sarana yang digunakan untuk menagih wajib pajak yang kurang

bayar oleh wajib pajak sampai dengan jatuh tempo pembayaran pajak.

Pembayaran pajak motor termasuk ke dalam pajak progresif. Pajak progresif

adalah pajak yang tarif pemungutannya sesuai dengan persentase yang meningkat

sesuai dengan nilai objek pajak dan kuantitas atau jumlah dari objek pajak. Dalam

hal ini motor adalah objek pajaknya. Terdapat dua jenis pajak progresif, yakni

Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Adapun

persentase tarif pajak progresif motor sesuai dengan urutan kepemilikian

kendaraan, antara lain :

A. Kepemilikan kendaraan bermotor pertama dikenakan biaya paling sedikit

1 persen, sedangkan paling besar 2 persen.

B. Kepemilikan kendaraan bermotor kedua, ketiga, dan seterusnya

dibebankan tarif paling rendah 2 persen dan paling tinggi 10 persen.

Meski persentase tarif sudah ditetapkan, setiap daerah memiliki kewenangan

untuk menetapkan besarannya. Syaratnya, jumlah tarif tersebut tidak melebihi

rentang yang dicantumkan dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009.

Setiap orang yang memiliki kendaraan bermotor, tentu saja wajib

membayar kewajiban pajaknya setiap tahun. Pembayaran pajak kendaraan

bermotor dibagi menjadi dua jenis pajak, yaitu pajak yang dibayar setiap tahun

dan pajak yang dibayarkan lima tahun sekali. Pajak tahunan merupakan pajak

rutin yang harus dibayarkan setiap tahun, sedangkan pajak lima tahunan ditandai
29

dengan pergantian plat nomor kendaraan dan STNK. Khusus pajak lima tahunan,

setiap Wajib Pajak harus datang ke Kantor Samsat.8

Pajak Kendaraan Bermotor dilunasi paling lambat 1 bulan (30 hari) sejak

SKPD, STPD, SKPDKB, SKPDKBT, Surat Keputusan Keberatan, Surat

Keputusan Pembetulan, serta Putusan Banding yang mengakibatkan jumlah pajak

yang harus dibayarkan bertambah diterbitkan. Pembayaran Pajak kendaraan

Bermotor dilaksanakan ke kas daerah bank ataupun tempat lain yang telah

ditunjuk oleh Gubernur dengan menggunakan Surat Setoran Pajak [Link]

Pajak yang membayar diberikan tanda bukti pembayaran atau pelunasan pajak dan

Penning. Wajib Pajak yang telat membayar pajak akdan dikenakan sanksi, yaitu:

1. Keterlambatan Pembayaran yang melebihi jatuh tempo dikenakan

sanksi administrasi yang berupa denda yang besarnya 25% dari

pokok pajaknya.

2. Keterlambatan pembayaran yang melebihi 15 hari dienakan sanksi

administrasi yang besarnya 2% sebulan yang dihitung dari pajak

yang terlambat dibayar atau kurang bayar untuk jangka waktu

tempo paling lama 2 tahun atau 24 bulan terhitung sejak ketika

terhutangnya pajak.

Apabila Pajak yang terhutang tidak dilunasi atua dibayar setelah jatuh

tempo, pejabat pajak yang ditunjuk oleh gubernur akan melaksankan tindakan

penagihan pajak yang dilakukan kepada pajak terhutang dalam SKPD,

SKPDKBT, SKPDKB, STPD, Surat Keputusan, Keberatan, Surat Keputusan

8
Dr. Widi Widodo, 2010, Moralitas, Budaya, dan Kepatuhan Wajib Pajak, Alfabeta,
Kota Malang, hlm 46.
30

Pembetulan, serta Putusan Banding yang bisa mengakibatkan pajak yang harus

dibayarkan bertambah. Perhitungan dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor

ditentukan oleh hasil perkalian dari 2 (dua) unsur pokok yaitu Nilai Jual

Kendaraan Bermotor dan bobot yang mencerminkan secara relative tingkat

kerusakan jalan dan atau pencemaran lingkungan akibat penggunaan kendaraan

bermotor. Namun tidak semua dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor

dihitung dengan cara demikian. Khusus untuk kendaraan bermotor yang

digunakan di luar jalan umum, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar serta

kendaraan di air, dasar pengenaan pajak kendaraan bermotor hanya nilai jual

kendaraan bermotor.9

Pajak kendaraan dihitung setahun sekali. Adapun pemungutan pajaknya

dilakukan bersamaan dengan penerbitan Surat Tanda Kendaraan Bermotor,

biasanya berupa cap pembayaran pajak di lembar STNK. Setelah pajak yang

terutang dihitung, pembayaran pajak dilakukan di wilayah daerah tempat

kendaraan bermotor terdaftar atau melalui tempat-tempat tertentu yang ditentukan

oleh Pemda setempat.10

Sifat dari pembayaran pajak kendaraan bermotor adalah pembayaran dimuka

untuk 1 tahun kedepan. Cara bayar pajak dimuka seperti ini memungkinkan

pembayar pajak untuk meminta kembali pajak yang lebih bayar atau tidak

seharusnya terutang sebagaimana tersebut dalam Pasal 8 Undang-Undang PDRD,

untuk pajak kendaraan bermotor yang karena keadaan kahar atau luar biasa (force

9
Dr. Muhammad Djafar Saidi, S.H., M.H. 2007, Perlindungan Hukum Wajib Pajak
Dalam Penyelesaian Sengketa Pajak. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. hlm. 192.
10
Siti Kurnia Rahayu dan Ely Suharyati, 2010, Perpajakan Teori dan Teknis
Perhitungan, Graha Ilmu, Yogyakarta, hlm. 35.
31

majeure) dimana masa pajaknya tidak sampai 12 (dua belas) bulan, dapat

dilakukan restitusi atau pajak yang mudah dibayar untuk porsi masa pajak yang

belum dilalui.

Setiap kegiatan yang akan dilakukan, tentu saja prosedur atau tata cara yang

harus dapat perhatikan. Dengan tujuan agar kegiatan yang dilakukan tersebut

dapat berjalan sesuai yang diharpkan. Prosedur adalah aturan bermain, aturan

bekerja, aturan berkoordinasi, sehingga unit-unit dalam sistem dan seterusnya

dapat berinteraksi satu sama lain secara efisien dan efektif. Adapun prosedur

pembayaran pajak kendaraan bermotor pertahunan. Berikut adalah prosedur

pembayaran pajak kendaraan bermotor :

1. Isi formulir permohonan pajak kendaraan bermotor sesuai data

yang telah tercantum pada surat tanda nomor kendaraan (STNK) dan

bukti kepemilikan kendaraan bermotor (BKPB). Formulir dapat diambil

di loket pendaftaran, kemudianlengkapi formulir lampiran berkas

yang dibutuhkan, adanya berkas yang harus dilampirkan adalah

sebagai berikut :

Perpanjang STNK 1 tahun :

a) STNK asli dan fotocopy

b) Fotocopy BKPB

c) KTP asli dan fotocopy sesuai nama di STNK dan BPKB

2. Selesai melengkapi berkas, serahkan berkas permohonan pajak STNK

ke loket penyerahan berkas.


32

Silahkan tunggu sampai dipanggil nama sesuai data yang tercantum

dalam STNK

3. Setelah itu, akan diberikan slip pembayaran pajak yang telah tercantum

biaya pajak yang harus dibayar

4. Serahkan slip dan uang sebesar biaya pajak ke kasir

5. Selesai membayar pajak, petugas akan memberikan bukti pelunasan

pembayaran pajak, dan bukti tersebut diserahkan kepada loket

pengambilan STNK

6. Setelah selesai petugas akan memanggil nama pemilik STNK untuk

mengambil STNK yang sudah selesai diperpanjang untuk satu

tahun kedepan. Proses perpanjangan STNK dapat dilakukan di samsat

keliling atau samsat otlet atau kantor samsat terdekat.

Denda pajak kendaraan bermotor dikenakan jika wajib pajak terlambat

membayar pajak ketika jatuh temponya. Denda yang harus dibayarkan berupa

25% dari pajak pokok per tahunnya ditambah denda SWDKLLJ.

- Pajak Kendaraan Bermotor: 25%/tahun

- Terlambat 3 bulan: PKB x 25% x 3/12

- Terlambat 6 bulan: PKB x 25% x 6/12

- Denda SWDKLLJ: Roda 2 = Rp32.000; Roda 4 = Rp100.000

Anda mungkin juga menyukai