0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan2 halaman

Juara Serie A: 10 Tahun Terakhir

Edoardo Agnelli mengambil alih Juventus pada tahun 1923 dan membawa klub meraih kesuksesan, termasuk gelar liga dan kontribusi terhadap tim nasional Italia. Setelah Perang Dunia II, Juventus kembali meraih gelar liga dan memperkuat tim dengan pemain baru, mencapai prestasi di Eropa. Di bawah pelatih Giovanni Trapattoni, Juventus menambah gelar liga dan meraih Piala UEFA, dengan banyak pemainnya menjadi bagian penting dari tim nasional Italia yang sukses.

Diunggah oleh

orochia92
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan2 halaman

Juara Serie A: 10 Tahun Terakhir

Edoardo Agnelli mengambil alih Juventus pada tahun 1923 dan membawa klub meraih kesuksesan, termasuk gelar liga dan kontribusi terhadap tim nasional Italia. Setelah Perang Dunia II, Juventus kembali meraih gelar liga dan memperkuat tim dengan pemain baru, mencapai prestasi di Eropa. Di bawah pelatih Giovanni Trapattoni, Juventus menambah gelar liga dan meraih Piala UEFA, dengan banyak pemainnya menjadi bagian penting dari tim nasional Italia yang sukses.

Diunggah oleh

orochia92
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pemilik FIAT, Edoardo Agnelli, mengambil alih kendali atas tim Juventus pada tahun

1923, dan langsung membangun stadion baru.[44] Hal ini pun membantu Juventus untuk
meraih scudetto (gelar juara liga) yang kedua pada musim 1925–1926, setelah
mengalahkan Alba Roma dengan skor agregat 12–1.[47] Pada era 1930-an, Juventus
telah berhasil menjadi kekuatan utama di sepak bola Italia dengan menjadi klub
profesional pertama di negara tersebut dan klub dengan basis penggemar pertama
yang tersebar di berbagai kota. Hal ini mendukung mereka untuk mendapatkan gelar
juara liga selama lima kali berturut-turut sejak tahun 1930 hingga 1935 (empat gelar
pertama diraih di bawah asuhan pelatih Carlo Carcano).[45] Selain itu, Juventus pun
berkontribusi dalam skuad tim nasional Italia yang dilatih oleh Vittorio Pozzo, yang
berhasil menjadi juara dunia pada tahun 1934.[48] Beberapa pemain bintang Juventus
yang turut membela Italia saat itu antara lain Raimundo Orsi, Luigi Bertolini, Giovanni
Ferrari dan Luis Monti.[49]

Juventus kemudian memindahkan kandang mereka ke Stadio Comunale, tetapi gagal


merajai sepak bola Italia pada akhir 1930-an dan awal 1940-an. Mereka bahkan harus
mengakui keunggulan tim sekota, Torino. Secercah harapan muncul saat mereka
berhasil menjuarai Piala Italia untuk pertama kalinya pada musim 1937–1938 dengan
mengalahkan Torino.[50] Mereka sempat mengakhiri musim 1940–1941 di posisi ke-6,
tetapi berhasil meraih Piala Italia kedua di musim berikutnya.[51] Pada periode ini, Italia
tengah mengikuti Perang Dunia II, sehingga menghambat jalannya liga. Pada tahun
1944, Juventus mengikuti sebuah turnamen lokal yang akhirnya urung diselesaikan.
Pada tanggal 14 Oktober 1945, liga kembali bergulir dengan pertandingan derby antara
Juventus dan Torino. Juventus berhasil mengalahkan rival sekotanya dengan skor 2–1,
[52]
tetapi Torino yang saat itu dikenal sebagai “Grande Torino” berhasil mengakhiri
musim sebagai juara.[53]

Setelah Perang Dunia II, para tanggal 22 Juli 1945, Gianni Agnelli terpilih sebagai
presiden kehormatan klub. Selama masa kepemimpinannya, Agnelli mendatangkan
beberapa pemain baru seperti Giampiero Boniperti, Muccinelli, dan pemain asal
Denmark John Hansen. Mereka berhasil menjuarai liga di musim 1949–1950 dan 1951–
1952. Gelar pada tahun 1950 mereka raih lewat kepemimpinan pelatih asal
Inggris, Jesse Carver.[54]

Pada tanggal 18 September 1954, Gianni Agnelli meninggalkan Juventus. Pada tahun
tersebut, Juventus hanya berhasil mengakhiri musim di posisi ke-7. Pada musim
berikutnya, barisan pemain muda di bawah kepemimpinan pelatih Puppo berusaha
untuk bangkit. Semangat mereka pun bertambah setelah masuknya Umberto Agnelli
sebagai komisioner klub pada tahun 1955.[55]

Pada musim 1957–1958, Juventus merekrut dua penyerang baru, yaitu John
Charles yang berasal dari Wales, dan Omar Sivori yang berasal dari Argentina.
[56]
Mereka pun berhasil kembali menjadi juara, dan berhak mengenakan tanda bintang
kehormatan karena telah menjuarai 10 gelar juara liga. Mereka pun menjadi klub Italia
pertama yang mendapat penghargaan tersebut.[57] Di musim tersebut, Sívori menjadi
pemain pertama Juventus yang berhasil mendapatkan gelar Pemain Terbaik Eropa.
[58]
Pada musim berikutnya, mereka mengalahkan Fiorentina di final Coppa Italia,[59] dan
untuk pertama kalinya berhasil mendapatkan gelar ganda (Serie A dan Coppa Italia).
Boniperti memutuskan untuk pensiun pada tahun 1961, dengan status sebagai
pencetak gol terbanyak sepanjang masa bagi Juventus dengan 182 gol di semua
kompetisi. Rekor tersebut bertahan selama 45 tahun.[60]

Pada era 1960-an, Juventus hanya berhasil satu kali menjuarai liga, yaitu pada musim
1966–67. Namun, pada awal tahun 1970-an, Juventus kembali memperkuat posisi
mereka di sepak bola Italia di bawah asuhan mantan pemain mereka Čestmír Vycpálek.
[61]
Pada musim 1970–1971, Juventus berhasil mencapai final Fairs Cup (cikal
bakal Piala UEFA), tetapi harus kalah dari Leeds United.[62]

Pada musim 1972–1973, mereka kedatangan beberapa pemain baru, seperti Dino
Zoff dan Jose Altafini dari Napoli.[63] Saat itu, mereka dihadapkan pada jadwal yang
padat di Serie A dan kompetisi Eropa. Juventus berhasil merebut gelar scudetto ke-15
setelah menyalip AC Milan di detik-detik terakhir, setelah tim asal kota Milan tersebut
secara mengejutkan kalah di pertandingan terakhir mereka. Juventus pun berhasil
masuk final Liga Champions, tetapi harus kalah dari Ajax Amsterdam yang diperkuat
oleh Johan Crujff.[64]

Di musim-musim berikutnya, Juventus berhasil menambah tiga gelar juara liga pada
musim 1974–1975, 1976–1977, dan 1977–1978. Prestasi ini mereka raih berkat
penampilan gemilang bek Gaetano Scirea dan kepemimpinan pelatih Giovanni
Trapattoni,[65] yang membawa Juventus meraih gelar pertama di kancah Eropa, tepatnya
gelar Piala UEFA tahun 1977. Selama era Trapattoni, banyak pemain Juventus yang
kemudian menjadi tulang punggung tim nasional Italia yang sukses di bawah arahan
pelatih Enzo Bearzot, yang berhasil tampil baik di Piala Dunia 1978, Euro 1980, dan
menjuarai Piala Dunia 1982

Anda mungkin juga menyukai