0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan47 halaman

Panduan BLS Dewasa AHA 2020

Dokumen ini membahas pembaruan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penanganan kasus henti jantung berdasarkan pedoman AHA 2020. Ini mencakup prosedur penilaian korban, kompresi dada, dan ventilasi, serta algoritme penatalaksanaan EKG dalam kasus cardiac arrest. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam memberikan pertolongan hidup yang efektif.

Diunggah oleh

HannyNax'Treetham
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan47 halaman

Panduan BLS Dewasa AHA 2020

Dokumen ini membahas pembaruan tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan penanganan kasus henti jantung berdasarkan pedoman AHA 2020. Ini mencakup prosedur penilaian korban, kompresi dada, dan ventilasi, serta algoritme penatalaksanaan EKG dalam kasus cardiac arrest. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam memberikan pertolongan hidup yang efektif.

Diunggah oleh

HannyNax'Treetham
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BLS (Basic Life Support)

in Adult and Cardiac Arrest


with Algorithm Based on AHA 2020

Ns. Tommy J. F Wowor, MM, [Link]


Apa saja yang akan dibahas?

Update BHD Versi AHA 2020

Penanganan Kasus Henti Jantung

Penatalaksanaan EKG
Kasus Cardiac Arrest

Penatalaksanaan
dalam Cardiac Arrest
Tujuan
Acuan berikut dimaksudkan untuk
memperbarui dasar-dasar pemberian
Bantuan Hidup Dasar (BHD)
sebelumnya dengan pedoman terbaru
dari American Heart Association
Update BHD versi perihal Resusitasi Jantung Paru (CPR)
AHA 2020 dan Penanganan Kardiovaskular
Darurat yang dirilis tahun 2020
Basic Life Support

Pengertian:

Usaha yg dilakukan untuk mempertahankan kehidupan pada saat korban


mengalami keadaan yang mengancam jiwa
Tujuan Basic Life Support

– Bagaimana menilai korban yang kolaps

– Bagaimana melakukan kompresi dada dan pernapasan buatan

– Bagaimana memposisikan korban yang tidak sadar yang masih bernapas


spontan dengan posisi aman (Recovery Position)
Indikasi Basic Life Support

– Henti napas dan jantung


– Tenggelam
– Stroke
– Sumbatan jalan napas
– Epiglotitis
– Overdosis obat – obatan
– Tersengat listrik
– Infark miokard
Yang perlu di perhatikan

– Jangan panic
– Jangan emosional
– Jangan tergesa – gesa
– Jangan mendramatisasi
– Jangan putus asa
Keberhasilan Resusitasi VS Waktu
Rantai Keselamatan (Chains of Survival)
Pada Pasien Dewasa dan Anak

Perubahan di 2020:

– Penambahan 1 mata Rantai Keselamatan bagi


kasus henti jantung pada pasien Dewasa Anak
dalam rumah sakit
– Mata rantai keenam, Recovery/ Pemulihan,
Rantai Keselamatan luar rumah sakit (bagi
pasien dewasa dan anak) dan Rantai
Keselamatan di dalam rumah sakit bagi pasien
dewasa.
Rantai Keselamatan bagi Pasien Dewasa
Rantai Keselamatan bagi Pasien Anak
Penyelamatan Pernapasan:
Pasien Dewasa

Perubahan 2015 → 2020:

2015 : RESCUE BREATHING : @5-6 Detik


ADVANCED AIRWAY : @6 DETIK

2020 : RESCUE BREATHING/ADVANCED AIRWAY : @6


DETIK
Tingkat Ventilasi
pada Pasien Anak

Perubahan di 2020:

– Untuk pasien bayi dan anak dengan nadi tidak


teraba lakukan RJP, berikan 1 napas tiap 2 sampai
3 detik (dengan total 20 hingga 30 napas per
menit).
Special Consideration AHA 2020

– Mouth to Mouth → Tidak disarankan (Hands Only CPR)


– Airway Management → Supraglotic (LMA, ETT, Combi Tube)
– Rescue Breathing → Dewasa dan Anak/ Bayi
– Opioid → Naloxon

– Maternal BLS
Penanganan Kasus
Henti Jantung
1. Pastikan 3A
Sebelum Bantuan Hidup Dasar

1. Penolong Aman
Keamanan penolong harus diutamakan agar
penolong tidak menjadi korban selanjutnya

2. Lingkungan Aman
Lokasi sekitar pertolongan tidak mengancam
keselamatan penolong dan korban

3. Korban Aman
Korban tidak terekspos pada situasi yang
mungkin memperparah kondisinya
Atur Posisi Korban

Atur Posisi Korban


– Posisi terlentang dan permukaan rata
– Bila posisi korban miring/ tengkurap
HARUS dibalikkan BERSAMAAN
(mencegah cedera atau komplikasi)
2. Mengecek Kesadaran

– Pastikan 3A
– Cek Kesadaran
– Minta Bantuan
– Panggil Ambulans/ SPGDT
– Kompresi Dada 30 kali
– Buka Jalan Napas
– Cek Pernapasan
– Bantuan Napas 2 kali
3. Minta Bantuan yang Pertama

– Pastikan 3A
– Cek Kesadaran
– Minta Bantuan
– Panggil Ambulans/ SPGDT
– Kompresi Dada 30 kali
– Buka Jalan Napas
– Cek Pernapasan
– Bantuan Napas 2 kali
4. Cek Nadi

1. Lokasi: 2 atau 3 jari dari jakun


(adam’s apple)
2. Gunakan jari telunjuk dan jari tengah
3. Rasakan denyut nadi, cek nadi,
minimal 5 detik, maksimal 10 detik
5. Minta Bantuan yang Kedua

– Pastikan 3A
– Cek Kesadaran
– Minta Bantuan
– Panggil Ambulans/ SPGDT
– Minta Bantuan
– Kompresi Dada 30 kali
– Buka Jalan Napas
– Cek Pernapasan
– Bantuan Napas 2 kali
Panggil Ambulans/ SPGDT atau
Code Blue

– Pastikan 3A
– Cek Kesadaran
– Minta Bantuan
– Panggil Ambulans/ SPGDT/
Code Blue
– Kompresi Dada 30 kali
– Buka Jalan Napas
– Cek Pernapasan
– Bantuan Napas 2 kali
6. Kompresi Dada

– Pastikan 3A
– Cek Kesadaran
– Minta Bantuan
– Panggil Ambulans/ SPGDT
– Kompresi Dada 30 kali
– Buka Jalan Napas
– Cek Pernapasan
– Bantuan Napas 2 kali
30 : 2
Kompresi Dada

– Tempatkan tangan di pertengahan


dada (Sternum)
– Letakan tangan di atas tangan
yang lain
– Kunci jari-jari
– Kompresi dada
– Jumlah 100 x/min – 120x/min
– Kedalaman + 5 - 6 cm
– Seimbang kompresi: relaksasi
– Ganti operator CPR setiap 2 menit
High Quality CPR

– Kecepatan 100 – 120x/m


– Kedalaman 5-6 cm
– Pengembangan dada yang
sempurna
– Minimal interupsi tdk lebih dari
10’
– Jangan Hiperventilasi → sesuai
Tidal volume 8-10 cc/kg/bb
– Berganti peran setiap 2 menit
– Disarankan pake feedback device/
metronom
7. Buka Jalan Napas

– Pastikan 3A
– Cek Kesadaran
– Minta Bantuan
– Panggil Ambulans/ SPGDT
– Kompresi Dada 30 kali
– Buka Jalan Napas
– Cek Pernapasan
– Bantuan Napas 2 kali
Buka Jalan Napas

– Sebelum buka jalan napas lakukan


PEMERIKSAAN JALAN NAPAS:
– Buka mulut (cross finger)
– Bersihkan Mulut (finger sweep)
8. Cek Pernapasan

– Pastikan 3A
– Cek Kesadaran
– Minta Bantuan
– Panggil Ambulans/ SPGDT
– Kompresi Dada 30 kali
– Buka Jalan Napas
– Cek Pernapasan
– Bantuan Napas 2 kali
Cek Pernapasan

– Look/ Lihat
– Listen Dengar
– Feel/ Rasakan
8. Bantuan Napas 2 kali

– Pastikan 3A
– Cek Kesadaran
– Minta Bantuan
– Panggil Ambulans/ SPGDT
– Kompresi Dada 30 kali
– Buka Jalan Napas
– Cek Pernapasan
– Bantuan Napas 2 kali
Bantuan Napas 2 kali

– Tekan Hidung
– Ambil Napas
– Letakan Bibir Mengelilingi
Mulut Pasien
– Tiup Hingga Dada
Mengembang
– Berikan Jeda 1 detik
– Biarkan Dada Mengempis
– Ulangi
Lanjutkan Resusitasi Jantung
Paru (RJP)

30 2
Penilaian Ulang

– Dilakukan sesudah 5 siklus


pemberian napas buatan
dan kompresi dada.
– Bila korban masih dalam
keadaan:
– Tidak sadar
– Tidak ada napas
– → SEGERA lakukan
kembali kompresi dada
dan pernapasan buatan
Penilaian Ulang → Nadi teraba,
Napas spontan sudah ada
Posisi Sisi mantap
Bantuan Hidup Dasar
Dihentikan Bila…

– Korban pulih kembali


– Penolong kelelahan
– Diambil alih oleh tenaga
yang sama atau lebih
terlatih
– Jika ada tanda pasti
kematian
Penatalaksanaan
Jenis EKG Yang Mengancam Nyawa
EKG Kasus Cardiac
Arrest
Ventricular Fibrillation
Pulseless Ventricular Tachycardia
Lethal Arrhytmias

Ventricular Fibrillation Ventricular Tachycardia

Pulseless Eelectrical Activity (PEA) Asystole


Defibrillator

Automatic External Defribillator


(AED)

Drugs
Penatalaksanaan Algoritme
dalam Cardiac Arrest
Algoritme Bradikardia

– Dosis Atropin IV → 1 mg
– Dosis Dopamin IV → 5-20 mcg /
kg /minutes
Algoritme Takikardia

– Dosis Kardioversi/ Cardioversion


yang tersinkronisasi →
Mengikuti anjuran Mesin/ Alat
Defibilator
Algoritme Cardiac Arrest

- Epinephrine 1 mg @4 minutes
- Amiodarone & lidocaine are
equivalentfor treatment
- Recommended using
Waveform capnography
with BVM
Algoritme ROSC/ PCAC

– Pemasangan Endotracheal tube


(ETT) lebih awal
– Target SpO2 → Titrasi 92% – 98%
– Pasien koma: TTM, CT otak, monitor
EEG, manajemen penanganan kritis
lainnya
Terima Kasih atas
Perhatiannya

Ns. Tommy J. Wowor, MM, [Link]

Anda mungkin juga menyukai