0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan25 halaman

Pelestarian Kearifan Lokal IPS Kelas IX

Modul ajar IPS kelas IX di SMP Negeri 13 Pekalongan membahas pelestarian kearifan lokal di tengah modernisasi dan globalisasi, dengan tujuan akhir peserta didik mampu menyelidiki dan mempresentasikan hasil penyelidikan tersebut. Pembelajaran menggunakan pendekatan Problem Based Learning dan melibatkan diskusi, presentasi, serta refleksi. Materi ini bertujuan untuk menjaga nilai-nilai budaya lokal agar tetap relevan di era global.

Diunggah oleh

slamet subiyanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan25 halaman

Pelestarian Kearifan Lokal IPS Kelas IX

Modul ajar IPS kelas IX di SMP Negeri 13 Pekalongan membahas pelestarian kearifan lokal di tengah modernisasi dan globalisasi, dengan tujuan akhir peserta didik mampu menyelidiki dan mempresentasikan hasil penyelidikan tersebut. Pembelajaran menggunakan pendekatan Problem Based Learning dan melibatkan diskusi, presentasi, serta refleksi. Materi ini bertujuan untuk menjaga nilai-nilai budaya lokal agar tetap relevan di era global.

Diunggah oleh

slamet subiyanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL AJAR IPS KELAS IX

INFORMASI UMUM
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah SMP Negeri 13 Pekalongan Kelas/Fase IX/D
Nama Guru Ni`maturrohmah, [Link]. Semester/TP Ganjil/2024-2025
Mata IPS Alokasi 2 JP (80 Menit)
Pelajaran Waktu
Tema Manusia dan Perubahan
Materi Pelestarian Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi dan Globalisasi
Capaian Pada akhir fase ini, peserta didik mampu menyelidiki pelestarian kearifan
Pembelajaran lokal di tengah arus modernisasi dan globalisasi dengan kritis. Selain itu,
peserta didik mampu membentuk pendapat dan mampu mempresentasikan
hasil penyelidikan pada materi pelestarian kearifan lokal di tengah aruh
modernisasi dan globalisasi.
Kompetensi Peserta didik telah mengetahui makna dan contoh dari modernisasi dan
Awal globalisasi serta peserta didik telah mengetahui makna dan contoh dari
kearifan lokal masyarakat nusantara.
B. PROFIL PELAJAR PANCASILA

1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia dengan cara
peserta didik menjawab salam sebelum dan sesudah pembelajaran serta melatih peserta
didik berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran.
2. Gotong royong dengan cara melatih peserta didik untuk saling membantu dalam
kerjasama kelompok saat berdiskusi, mengerjakan LKPD dan presentasi.
3. Bernalar kritis dengan cara melatih peserta didik untuk menjawab pertanyaan pemantik,
sesi tanya jawab, serta memberikan pendapat atau pertanyaan untuk kelompok yang
melakukan presentasi.
C. TARGET PESERTA DIDIK

Kelas IX C Fase D dengan jumlah peserta didik: 31


D. SARANA DAN PRASARANA

1. Media
a. Powerpoint (Terlampir)
b. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) (Terlampir)
c. Video pembelajaran (Terlampir)
2. Alat
a. Laptop
b. LCD Proyektor
c. Papan tulis
d. Spidol
e. Alat tulis
3. Sumber belajar
a. Buku Siswa (BS) Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas IX, 2022
b. Bahan bacaan
E. MODEL PEMBELAJARAN, PENDEKATAN DAN METODE

1. Model Pembelajaran: Problem Based Learning (PBL)


2. Pendukung Pembelajaran Kurikulum Merdeka: Student Teams Achievement Division
(STAD) dan Kompetensi Sosial Emosional (KSE)
3. Metode Pembelajaran: Ceramah, diskusi, tanya jawab dan presentasi
4. Pendekatan Pembelajaran: Culturally Responsive Teaching (CRT)

KOMPONEN INTI
A. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Peserta didik mampu mengetahui pelestarian kearifan lokal di tengah arus modernisasi
dan globalisasi dengan baik. (L1)
2. Peserta didik mampu mengaitkan pelestarian kearifan lokal di tengah arus modernisasi
dan globalisasi dengan bijak. (L2)
3. Peserta didik mampu menganalisis pelestarian kearifan lokal di tengah arus modernisasi
dan globalisasi dengan kritis. (L3)
4. Peserta didik mampu membentuk pendapat terhadap pelestarian kearifan lokal di tengah
arus modernisasi dan globalisasi dengan baik. (Afektif)
5. Peserta didik mempresentasikan hasil LKPD pelestarian kearifan lokal di tengah arus
modernisasi dan globalisasi dengan kritis. (Psikomotorik)

B. MATERI PEMBELAJARAN

Pelestarian Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi dan Globalisasi


C. ASESMEN

1. Asesmen Formatif (Terlampir)


a. Aspek Pengetahuan:
1. LKPD
b. Aspek Sikap:
1. Observasi (penilaian profil pelajar pancasila)
c. Aspek Ketrampilan:
1. Penilaian kinerja (presentasi)
D. PEMAHAMAN BERMAKNA

Pelestarian kearifan lokal di tengah arus modernisasi dan globalisasi adalah upaya menjaga
nilai-nilai, tradisi, dan budaya lokal yang diwariskan oleh leluhur agar tidak hilang atau
tergerus perkembangan zaman. Kearifan lokal mencakup pengetahuan, adat istiadat, seni,
serta cara hidup yang telah terbukti mampu memberikan keselarasan dalam kehidupan
masyarakat dan lingkungan. Dalam konteks modernisasi dan globalisasi, munculnya banyak
tantangan, seperti hilangnya identitas budaya akibat masuknya budaya asing dan teknologi
yang semakin maju. Namun, dengan memahami pentingnya kearifan lokal sebagai pondasi
sosial dan budaya, masyarakat dapat menyelaraskan antara inovasi dan tradisi. Upaya
pelestarian ini bisa dilakukan melalui pendidikan, dokumentasi, serta penerapan nilai-nilai
lokal dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kearifan lokal tidak hanya akan tetap
hidup, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pembangunan yang berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan.
E. PERTANYAAN PEMANTIK

1. Apakah kalian tahu dimana lokasi tersebut?


2. Apakah kalian sudah pernah ke lokasi tersebut?
3. Bagaimana keadaan lokasi tersebut?
4. Apakah ini termasuk kearifan lokal?
5. Menurut kalian, bagaimana upaya dalam melestarikan kearifan lokal?
F. KEGIATAN PEMBELAJARAN

Kegiatan Pendahuluan 1. Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam,


(10 Menit) dan peserta didik menjawab salam. (Beriman dan
Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa serta
Berakhlak Mulia)
2. Peserta didik dibimbing oleh guru mempersiapkan secara
fisik maupun psikis dengan melakukan doa bersama yang
dipimpin oleh ketua kelas dilanjutkan dengan mengucapkan
rasa syukur. (Beriman dan Bertakwa Kepada Tuhan
Yang Maha Esa serta Berakhlak Mulia)
3. Guru mengecek kehadiran peserta didik dan dijawab oleh
peserta didik. (KSE: Kesadaran Diri & Manajemen Diri)
4. Peserta didik dibimbing oleh guru untuk mempersiapkan
pembelajaran.
5. Peserta didik mendengarkan motivasi dari guru agar
semangat dan bersungguh-sungguh dalam mengikuti
pembelajaran dan diajak tepuk semangat oleh guru.
6. Apersepsi: Peserta didik mendengarkan penjelasan guru
terkait materi pembelajaran pada pertemuan sebelumnya
dengan materi pelestarian kearifan lokal di tengah arus
modernisasi dan globalisasi. (KSE: Kesadaran Diri &
Manajemen Diri)
7. Guru mengajak peserta didik membaca tujuan pembelajaran,
dilanjutkan dengan guru menjelaskan tujuan pembelajaran
kepada peserta didik. (STAD: Menyampaikan Tujuan
Pembelajaran)
8. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru mengenai
mekanisme pembelajaran dan proses penilaiannya.
9. Peserta didik menjawab pertanyaan pemantik dari guru dan
guru juga menampilkan gambar museum batik dan kerajinan
batik serta peserta didik menjawab pertanyaan pemantik
mengenai gambar tesebut. (Culturally Responsive
Teaching), (Bernalar Kritis) (Literasi dan Numerasi)
(Pra Literasi)
Kegiatan Inti Tahap 1
(60 Menit) Orientasi peserta didik pada masalah
1. Peserta didik diminta untuk mengamati tayangan video
terkait kearifan lokal di tengah arus modernisasi dan
globalisasi dengan materi sebelumnya. (Culturally
Responsive Teaching), (STAD: Menyajikan Informasi)
(Literasi dan Numerasi)

Sumber Video:
[Link]
2. Peserta didik menjawab pertanyaan dari guru terkait dengan
video tersebut. (Bernalar Kritis), (KSE: Kesadaran
Sosial)
3. Peserta didik mendengarkan penjelasan dari guru terkait
dengan video yang ditayangkan.
4. Peserta didik dibimbing oleh guru melakukan ice breaking.

Tahap 2
Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar
5. Peserta didik dibagi menjadi 6 kelompok, setiap kelompok
beranggotakan 4 orang. (STAD: Mengorganisir Peserta
Didik ke dalam Kelompok Belajar),
6. Peserta didik membaca bahan bacaan yang diberikan oleh
guru dalam waktu 5 menit. (Literasi dan Numerasi)
(While)
7. Peserta didik diberi waktu untuk bertanya mengenai bahan
bacaan kepada guru. (Bernalar Kritis)
8. Peserta didik diberi LKPD dan mendengarkan petunjuk
kerja serta tugas pada LKPD dari guru. (Literasi dan
Numerasi) (While)

Tahap 3
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
9. Peserta didik secara berkelompok dibimbing oleh guru untuk
mendiskusikan pertanyaan yang sudah terlampir dalam
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). (STAD:
Membimbing Kelompok Dalam Bekerja dan Belajar),
(Gotong Royong)
10. Peserta didik secara berkelompok mengolah informasi yang
diperoleh dari berbagai sumber untuk menemukan jawaban
yang ada di LKPD. (Diferensiasi Proses), (Berpikir Kritis
& Gotong Royong), (KSE: Kesadaran Sosial &
Berhubungan Sosial)

Tahap 4
Mengembangan dan menyajikan hasil
11. Peserta didik secara berkelompok mempresentasikan hasil
diskusi dan pekerjaannya. (KSE: Berhubungan Sosial),
(Diferensiasi Hasil), (Gotong Royong), (Pasca Literasi)
12. Peserta didik diberikan kesempatan oleh guru untuk
mengajukan pertanyaan kepada kelompok yang sedang
melakukan presentasi. (Bernalar Kritis), (KSE:
Kesadaran Sosial & Berhubungan Sosial)

Tahap 5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
13. Peserta didik dibimbing oleh guru untuk mengecek kembali
hasil diskusi LKPD tiap kelompok.
Kegiatan Penutup 1. Peserta didik bersama dengan guru mereview dan
(10 Menit) menyimpulkan pembelajaran. (Pasca Literasi)
2. Peserta didik melakukan refleksi pembelajaran yang
diberikan oleh guru. (KSE: Kesadaran Diri & Manajemen
Diri)
3. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru terkait rencana
pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.
4. Peserta didik mendengarkan motivasi dari guru.
5. Peserta didik bersama dengan guru berdoa yang dipimpin
oleh ketua kelas. (Beriman dan Bertakwa Kepada Tuhan
Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia)
6. Guru menutup pembelajaran dengan salam dan dijawab oleh
peserta didik. (Beriman dan Bertakwa Kepada Tuhan
Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia)
G. REFLEKSI PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK

1. Refleksi Guru
Guru melakukan reflekasi dari hasil refleksi peserta didik dan memperbaiki segala
kekurangannya pada pertemuan selanjutnya, yang meliputi:
a. Materi mana yang membuat peserta didik bosan?
b. Apa usaha guru untuk menghilangkan kendala bosan pada peserta didik tersebut?
c. Apakah ada sesuatu yang menarik pada pembelajaran materi ini?
2. Refleksi Peserta Didik
Pembelajaran hari ini telah kalian selesaikan dengan penuh tanggung jawab dan
semangat. Selama peserta didik menyelesaikan aktivitas-aktivitas pembelajaran tentu ada
hal-hal yang dapat peserta didik ungkapkan, untuk itu silahkan menjawab pertanyaan
berikut:
a. Apa yang peserta didik pahami setelah mempelajari materi pelestarian kearifan lokal
di tengah arus modernisasi dan globalisasi?
b. Bagaimana pembelajaran pada hari ini?
LAMPIRAN-LAMPIRAN
A. SARANA DAN PRASARANA
1. Media
a. Powerpoint
b. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
Era Globalisasi, Kearifan Lokal Justru Modal Dasar untuk Hidup
SEMARANG – Kearifan lokal bukanlah sesuatu yang patut diresahkan, karena
banyak kearifan lokal Bangsa Indonesia yang tidak lekang dimakan zaman. Kearifan
lokal justru merupakan bagian dari jati diri Bangsa Indonesia, yang menjadi modal
dasar untuk hidup di era globalisasi.

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, saat menjadi
keynote speaker Kuliah Kerja Lapangan Online yang diselenggarakan Program Studi
Di luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Diponegoro, Rabu (26/6/2022), Dia
menuturkan, di era globalisasi pasti ada perubahan-perubahan. Namun, kearifan lokal
yang sudah ada sejak dulu, jangan sampai ditinggalkan. Cukup disesuaikan dengan
kondisi saat ini.

Gus Yasin, sapaannya, mencontohkan, gerakan Jogo Tonggo untuk mengatasi


pandemi Covid-19 di Jawa Tengah yang sebenarnya, mengadopsi budaya siskamling
(Sistem Keamanan Keliling), yang pada masa sekarang, sudah hampir ditinggalkan.

“Dulu itu orang Jateng itu ada yang namanya siskamling. Ronda. Ronda itu kan saat
ini juga sudah dilupakan. Ya kan? Di mana-mana sudah (hampir) tidak ada. Tetapi
kemarin itu menjadi pengakuan beberapa negara (soal) ronda itu, tapi dengan nama
yang lain. Kalau di Jateng kemarin kita namai Jogo Tonggo,” bebernya di Rumah
Dinas Wagub (Rinjani).

Pemerintah Australia dan Denmark, lanjutnya, mengapresiasi langkah Pemerintah


Provinsi Jawa Tengah yang melakukan penanganan covid 19 berbasis potensi
masyarakat melalui Jogo Tonggo. Program ini mempertimbangkan kearifan lokal
dan potensi geografis di masing-masing wilayah.

“Rasa-rasanya ini sebenarnya bukan kehebatan kita. Kita hanya mengembalikan


kebiasaan kita saja. Artinya ada identitas lokal yang perlu kita pertahankan, seperti
Jogo Tonggo. Tapi Jogo Tonggo kita perbarui karena dulu kalau Jogo Tonggo itu
kan kalau ada kebakaran, ada maling, kita ubah,” ucapnya.

Perubahan itu, kata wagub, untuk menyesuaikan penanganan persoalan yang saat ini
dialami. Seperti sekarang ini pemerintah sedang mengatasi Penyakit Mulut dan Kuku
(PMK) pada hewan ternak, maka Jogo Tonggo dimodifikasi menjadi Jogo Ternak.
(Humas Jateng)*ul
Soal:
1. Sebutkan contoh kearifan local yang disebutkan dalam teks!
Jawab:

2. Bagaimana gerakan Jogo Tonggo di Jawa Tengah berkaitan dengan kearifan


lokal?
Jawab:

3. Bagaimana cara kita dapat melestarikan kearifan lokal di tengah arus


globalisasi?
Jawab:
c. Video Pembelajaran

Sumber Video: [Link]


2. Sumber Belajar
a. Bahan Ajar
Bagaimana Kondisi Pelestarian Kearifan Lokal di Tengah Arus Modernisasi dan
Globalisasi?
Sebagai budaya yang berwujud gagasan, masyarakat Nusantara melestarikan kearifan
lokal dalam bentuk pepatah, cerita rakyat, syair, peribahasa, dan lain sebagainya.
Bagaimanakah kondisi pelestariannya saat ini? Apakah kearifan lokal hanya ada di
masyarakat-masyarakat pedalaman yang masih memegang adat tradisi? Atau kearifan
lokal juga masih dilestarikan oleh masyarakat kota dan masyarakat Indonesia secara
umum?
Kearifan lokal sebagai sebuah ajaran kebaikan memiliki tujuan untuk memberikan
pedoman kepada masyarakat dalam melakukan aktivitas kehidupan yang berkelanjutan.
Kearifan lokal memastikan adanya keteraturan dan keseimbangan dalam kehidupan
masyarakat. Jika kearifan lokal di sebuah kebudayaan dapat terus diikuti, dipastikan
masyarakat tersebut akan terhindar dari berbagai potensi kerusakan. Misalnya tradisi
yang terkait dengan tata perilaku sesama manusia yang bertujuan untuk menjaga
keharmonisan masyarakat, jika tidak diikuti maka kemungkinan potensi konflik dan
perpecahan akan terjadi. Begitu pula tradisi yang terkait dengan pengelolaan lingkungan
yang bertujuan menjaga keberlanjutan alam, jika tidak diikuti maka kemungkinannya
adalah rusaknya sumber daya alam yang dapat dikonsumsi bahkan hingga terjadinya
bencana alam akibat perbuatan manusia seperti kekeringan, longsor, banjir, dan lain
sebagainya.
Sayangnya, saat ini kearifan lokal sebagai sebuah bentuk budaya yang tidak tampak
mulai memudar dan ditinggalkan oleh generasi penerus kebudayaan di Nusantara.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa seiring dengan perkembangan zaman, kearifan
lokal kini perlahan mulai ditinggalkan. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan
oleh Deny Hidayati, seorang peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
yang telah mengamati dan mempelajari keberlangsungan kearifan lokal di berbagai
pulau di Nusantara. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kearifan lokal masyarakat
di berbagai daerah terkait dengan tradisi gotong royong dan pelestarian alam semakin
memudar seiring dengan adanya perubahan sosial di tengah pembangunan dan
modernisasi.
b. Bahan Bacaan untuk Peserta Didik
B. ASESMEN
1. Asesmen Formatif
a. LKPD

Era Globalisasi, Kearifan Lokal Justru Modal Dasar untuk Hidup

SEMARANG – Kearifan lokal bukanlah sesuatu yang patut diresahkan, karena banyak
kearifan lokal Bangsa Indonesia yang tidak lekang dimakan zaman. Kearifan lokal justru
merupakan bagian dari jati diri Bangsa Indonesia, yang menjadi modal dasar untuk hidup
di era globalisasi.
Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, saat menjadi
keynote speaker Kuliah Kerja Lapangan Online yang diselenggarakan Program Studi Di
luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Diponegoro, Rabu (26/6/2022), Dia
menuturkan, di era globalisasi pasti ada perubahan-perubahan. Namun, kearifan lokal
yang sudah ada sejak dulu, jangan sampai ditinggalkan. Cukup disesuaikan dengan
kondisi saat ini.
Gus Yasin, sapaannya, mencontohkan, gerakan Jogo Tonggo untuk mengatasi pandemi
Covid-19 di Jawa Tengah yang sebenarnya, mengadopsi budaya siskamling (Sistem
Keamanan Keliling), yang pada masa sekarang, sudah hampir ditinggalkan.
“Dulu itu orang Jateng itu ada yang namanya siskamling. Ronda. Ronda itu kan saat ini
juga sudah dilupakan. Ya kan? Di mana-mana sudah (hampir) tidak ada. Tetapi kemarin
itu menjadi pengakuan beberapa negara (soal) ronda itu, tapi dengan nama yang lain.
Kalau di Jateng kemarin kita namai Jogo Tonggo,” bebernya di Rumah Dinas Wagub
(Rinjani).
Pemerintah Australia dan Denmark, lanjutnya, mengapresiasi langkah Pemerintah
Provinsi Jawa Tengah yang melakukan penanganan covid 19 berbasis potensi masyarakat
melalui Jogo Tonggo. Program ini mempertimbangkan kearifan lokal dan potensi
geografis di masing-masing wilayah.
“Rasa-rasanya ini sebenarnya bukan kehebatan kita. Kita hanya mengembalikan
kebiasaan kita saja. Artinya ada identitas lokal yang perlu kita pertahankan, seperti Jogo
Tonggo. Tapi Jogo Tonggo kita perbarui karena dulu kalau Jogo Tonggo itu kan kalau
ada kebakaran, ada maling, kita ubah,” ucapnya.
Perubahan itu, kata wagub, untuk menyesuaikan penanganan persoalan yang saat ini
dialami. Seperti sekarang ini pemerintah sedang mengatasi Penyakit Mulut dan Kuku
(PMK) pada hewan ternak, maka Jogo Tonggo dimodifikasi menjadi Jogo Ternak.
(Humas Jateng)*ul

Soal:
1. Sebutkan contoh kearifan local yang disebutkan dalam teks!
Jawab:

2. Bagaimana gerakan Jogo Tonggo di Jawa Tengah berkaitan dengan kearifan


lokal?
Jawab:

3. Bagaimana cara kita dapat melestarikan kearifan lokal di tengah arus globalisasi?
Jawab:
C. INSTRUMEN PENILAIAN DAN RUBRIK PENILAIAN
1. Aspek Pengetahuan
a. Kisi-kisi LKPD
Tujuan Bentuk Nomor
Kelompok Level Indikator Soal
Pembelajaran Soal Soal
a. Peserta didik 1, 2, 3, 4, L1 Terdapat sebuah Essay/perta 1
mampu 5, dan 6 bacaan/teks nyaan
mengetahui informasi terbuka
pelestarian mengenai
kearifan lokal di kearifan lokal.
tengah arus Peserta didik
modernisasi dan mampu
globalisasi dengan mengetahui
baik. kearifan lokal
b. Peserta didik yang ada pada
mampu teks yang
mengaitkan diberikan.
peletasian kearifan L2 Terdapat sebuah Essay/perta 2
lokal di tengah bacaan/teks nyaan
arus modernisasi informasi terbuka
dan globalisasi mengenai
dengan bijak. kearifan lokal.
c. Peserta didik Peserta didik
mampu mampu
menganalisis mengaitkan teks
pelestarian tersebut dengan
kearifan lokal di kearifan lokal.
tengah arus L3 Terdapat sebuah Essay/ 3
modernisasi dan bacaan/teks Pertanyaan
globalisasi dengan informasi terbuka
kritis. mengenai
d. Peserta didik kearifan lokal.
mampu Peserta didik
membentuk mampu
pendapat terhadap menganalisis
pelestarian pelestarian
kearifan lokal di kearifan lokal
tengah arus yang ada pada
modernisasi dan teks yang
globalisasi dengan diberikan.
baik.
e. Peserta didik
mempresentasikan
hasil penyelidikan
pelestarian
kearifan lokal di
tengah arus
modernisasi dan
globalisasi dengan
kritis.
b. Rubrik penilaian LKPD
Kelompok No Kriteria Penilaian Skor
1, 2, 3, 4, Jawaban benar dan detail terkait investigasi/
5, dan 6 menyelidiki tentang yang dilakukan Wakil Gubernur 15
Jawa Tengah?
1 Jawaban benar, namun kurang terlihat jelas penjabaran
10
tentang yang dilakukan Wakil Gubernur Jawa Tengah
Jawaban kurang tepat dan tidak detail terkait yang
5
dilakukan Wakil Gubernur Jawa Tengah
Jawaban benar dan detail terkait
investigasi/menyelidiki tentang hubungan berita
15
tersebut dengan pelestarian kearifan lokal ditengah
arus modernisasi dan globalisasi
Jawaban benar, namun kurang terlihat jelas penjabaran
2 tentang hubungan berita tersebut dengan pelestarian
10
kearifan lokal ditengah arus modernisasi dan
globalisasi
Jawaban kurang tepat dan tidak detail terkait tentang
hubungan berita tersebut dengan pelestarian kearifan 5
lokal ditengah arus modernisasi dan globalisasi
Jawaban benar dan detail terkait
15
investigasi/menyelidiki tentang gerakan Jogo Tonggo
Jawaban benar, namun kurang terlihat jelas penjabaran
3 10
tentang gerakan Jogo Tonggo
Jawaban kurang tepat dan tidak detail tentang gerakan
5
Jogo Tonggo
2. Aspek Sikap
No Aspek yang Diamati Indikator Skor
1. Beriman, Bertakwa Peserta didik menjawab salam sebelum dan 10
kepada Tuhan Yang sesudah pembelajaran serta melatih peserta
Maha Esa dan didik berdoa sebelum dan sesudah
Berakhlak Mulia pembelajaran.
Peserta didik tidak menjawab salam sebelum 0
dan sesudah pembelajaran serta melatih peserta
didik berdoa sebelum dan sesudah
pembelajaran.
2 Gotong Royong Peserta didik saling membantu dalam 10
kerjasama kelompok saat berdiskusi,
mengerjakan LKPD dan presentasi.
Peserta didik tidak saling membantu dalam 0
kerjasama kelompok saat berdiskusi,
mengerjakan LKPD dan presentasi.
3 Bernalar Kritis Peserta didik menjawab pertanyaan pemantik, 10
sesi tanya jawab, serta memberikan pendapat
atau pertanyaan untuk kelompok yang
melakukan presentasi.
peserta didik tidak menjawab pertanyaan 0
pemantik, sesi tanya jawab, serta memberikan
pendapat atau pertanyaan untuk kelompok yang
melakukan presentasi.

3. Aspek Ketrampilan
Kriteria
Kriteria Kriteria Kriteria
penilaian
Indikator penilaian penilaian penilaian
No perlu
Penilaian cukup baik sangat baik
bimbingan
(2) (3) (4)
(1)
1 Penggunaan Menggunakan Menggunakan Menggunakan Menggunakan
Bahasa bahasa yang bahasa yang bahasa yang bahasa yang
kurang baik, baik, kurang baik, baku baik, baku,
tidak baku dan baku dan tetapi kurang dan
tidak tidak terstruktur terstruktur
terstruktur terstruktur
2 Kejelasan Artikulasi Artikulasi Artikulasi Artikulasi
Menyampaikan tidak jelas, kurang jelas, cukup jelas, jelas, suara
suara tidak suara suara terdengar,
terdengar, terdengar, terdengar dan tidak bertele-
bertele-tele namun agak bertele- tele
bertele-tele tele
3 Kemampuan Tidak dapat Dapat Dapat Dapat
menjawab menjawab menjawab menjawab menjawab
pertanyaan pertanyaan pertanyaan pertanyaan pertanyaan
namun dengan tepat dengan tepat
jawaban dan mudah
kurang tepat dipahami
4 Komunikatif Membaca Lebih sering Pandangan Menjelaskan
catatan membaca lebih banyak tanpa teks dan
sepanjang catatan menatap menggunakan
menjelaskan daripada audiens saat gestur tubuh.
dan tanpa menatap menjelaskan,
gestur tubuh audiens saat dan sedikit
menjelaskan, ada gestur
dan tanpa ada tubuh
gestur tubuh
5 Penguasaan Tidak bisa Menjelaskan Menjelaskan Menjelaskan
materi menjelaskan materi dengan materi dengan materi dengan
materi cukup lancar lancar namun lancar dan
namun kurang dapat dapat
kurang dapat dipahami dipahami
dipahami
4. Daftar Nilai

Ketram

Ketram

Ketram

Ketram

Ketram
LKPD

Akhir
Sikap

Sikap

Sikap

pilan 2

pilan 3

pilan 4

pilan 5
pilan 1
Eval
No Nama

3
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
Keterangan:
• Sikap 1 = Beriman, Bertakwa Kepada • Ketrampilan 2 = Kejelasan
Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Menyampaikan
Mulia
• Sikap 2 = Gotong Royong • Ketrampilan 3 = Kemampuan Menjawab
Pertanyaan
• Sikap 3 = Bernalar Kritis • Ketrampilan 4 = Komunikatif
• Ketrampilan 1 = Penggunaan Bahasa • Ketrampilan 5 = Penguasaan Materi
D. GLOSARIUM

Kearifan Lokal : Bentuk pengetahuan, nilai, norma, tradisi, dan praktik


yang berkembang dalam masyarakat lokal dan diwariskan
secara turun-temurun. Kearifan ini mencerminkan cara
pandang masyarakat terhadap lingkungan alam, sosial, dan
spiritualnya, serta menjadi pedoman dalam kehidupan
sehari-hari.
Jogo Tonggo : Jogo Tonggo adalah sebuah gerakan sosial yang lahir di
Jawa Tengah, sebagai bentuk respons terhadap pandemi
COVID-19. Kata ini berasal dari bahasa Jawa, di mana
"jogo" berarti menjaga, dan "tonggo" berarti tetangga.
Jadi, Jogo Tonggo berarti menjaga tetangga.
Kemenparekraf RI : Kemenparekraf RI adalah singkatan dari Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Ini
adalah kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang
bertanggung jawab atas pengembangan sektor pariwisata
dan ekonomi kreatif di Indonesia.
Loka Karya : Loka karya adalah istilah yang merujuk pada sebuah
pertemuan, diskusi, atau seminar yang bertujuan untuk
membahas suatu topik atau isu tertentu dengan tujuan
menghasilkan solusi, gagasan, atau rencana kerja. Kata
"loka" berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti tempat,
dan "karya" berarti pekerjaan atau kegiatan, sehingga loka
karya dapat diartikan sebagai tempat untuk melakukan
kerja bersama dalam rangka mencapai tujuan tertentu.
Ronda : Ronda adalah kegiatan patroli malam yang dilakukan
secara bergiliran oleh anggota masyarakat di suatu
wilayah untuk menjaga keamanan lingkungan.
E. DAFTAR PUSTAKA

Bidang IKP. (2022). Era Globalisasi, Kearifan Lokal Justru Modal Dasar untuk Hidup.
Semarang: [Link]
CNN Indonesia. (2017, agustus 12). Mewariskan Budaya Lewat Teknologi - TechNews.
Daerah Istimewa Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Satria, M. R., Oktafiana, S., Nursa'ban, M., & Supardi. (2022). Ilmu Pengetahuan Sosial
SMP/MTS Kelas IX. Jakarta : Kemendikbudristek.
Sugidiyanto, R. (2024). Bagaimana Melestarikan Kearifan Lokal di Tengah Arus
Modernisasi dan Globalisasi? Jakarta: [Link].
Tashandra, N. (2024). Melestarikan Budaya lewat Perhiasan. Jakarta: [Link].

Mengetahui, Pekalongan, 24 Oktober 2024


Kepala SMP N 13 Pekalongan Guru Mata Pelajaran IPS

Yeti Eka Erawati, [Link]. Ni’maturrohmah, [Link].


NIP. 197512261999032001 NIP. -

Anda mungkin juga menyukai