0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan124 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien Kanker Payudara

Karya Ilmiah Akhir ini disusun oleh Aisyah Wulan Rachmawati sebagai syarat untuk memperoleh gelar Ners, dengan fokus pada asuhan keperawatan pasien kanker payudara pasca operasi. Dokumen ini mencakup berbagai aspek, termasuk latar belakang, tujuan, metode, dan tinjauan pustaka terkait kanker payudara dan perawatan pasca bedah. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan karya ilmiah ini.

Diunggah oleh

ardi bae
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan124 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien Kanker Payudara

Karya Ilmiah Akhir ini disusun oleh Aisyah Wulan Rachmawati sebagai syarat untuk memperoleh gelar Ners, dengan fokus pada asuhan keperawatan pasien kanker payudara pasca operasi. Dokumen ini mencakup berbagai aspek, termasuk latar belakang, tujuan, metode, dan tinjauan pustaka terkait kanker payudara dan perawatan pasca bedah. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan karya ilmiah ini.

Diunggah oleh

ardi bae
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KARYA ILMIAH AKHIR

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN KANKER PAYUDARA (CA


MAMMAE) POST OP BSO TAH + MASTEKTOMI HARI KE 1
DI RUANG H1 RSPAL dr. RAMELAN
SURABAYA

Oleh :
AISYAH WULAN RACHMAWATI, [Link]
NIM. 2230006

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
SURABAYA
2023
KARYA ILMIAH AKHIR

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN KANKER PAYUDARA (CA


MAMMAE) POST OP BSO TAH + MASTEKTOMI HARI KE 1
DI RUANG H1 RSPAL dr. RAMELAN
SURABAYA

Karya Ilmiah Akhir ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Ners

Oleh :
AISYAH WULAN RACHMAWATI, [Link]
NIM. 2230006

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
SURABAYA
2023

i
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN LAPORAN

Saya bertanda tangan dibawah ini dengan sebenarnya menyatakan bahwa,

karya ilmiah akhir ini saya susun tanpa melakukan plagiat sesuai dengan

peraturan yang berlaku di Stikes Hang Tuah Surabaya. Berdasarkan pengetahuan

dan keyakinan penulis, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk, saya

nyatakan dengan benar. Bila ditemukan adanya plagiasi, maka saya akan

bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh Stikes

Hang Tuah Surabaya.

Surabaya, 06 Desember 2022

Penulis,

Aisyah Wulan Rachmawati, [Link]


NIM. 2230006

ii
HALAMAN PERSETUJUAN

Setelah kami periksa dan amati, selaku pembimbing

mahasiswa: Nama : Aisyah Wulan Rachmawati, [Link]

NIM 2230006

Program Studi : Pendidikan Profesi ners

Judul : Asuhan Keperawatan Pasien Kanker Payudara


(Ca Mammae) Post Op BSO TAH + Mastektomi Hari Ke 1
Di Ruang H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya
Serta perbaikan-perbaikan sepenuhnya, maka kami menganggap dan dapat
menyetujui laporan karya ilmiah akhir ini guna memenuhi sebagian persyaratan
untuk memperoleh gelar :
NERS (Ns.)

Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik

Nur Muji A, [Link].,Ns.,[Link] Letkol Laut Pudji Agung W, [Link].,Ns


NIP. 03044 NRP: 11314/P

Mengetahui,
Stikes Hang Tuah Surabaya
Ka Prodi Pendidikan Profesi
Ners

Dr. Hidayatus Sya’diyah, [Link].,Ns.,[Link]


NIP. 03009

Ditetapkan di : STIKES Hang Tuah Surabaya


Tanggal : 19 Januari 2023

iii
HALAMAN PENGESAHAN

Karya Ilmiah Akhir dari:

Nama : Aisyah Wulan Rachmawati, [Link]

NIM 2230006

Program Studi : Pendidikan Profesi Ners

Judul : Asuhan Keperawatan Pasien Kanker Payudara


(Ca Mammae) Post Op BSO TAH + Mastektomi Hari Ke 1
Di Ruang H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya

Telah dipertahankan dihadapan dewan penguji Karya Ilmiah Akhir di Stikes


Hang Tuah Surabaya, dan dinyatakan dapat diterima sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar “Ners (Ns.)” pada prodi Pendidikan Profesi Ners Stikes
Hang Tuah Surabaya.

Penguji 1 : Dr. Setiadi, [Link].,Ns.,[Link]


NIP. 03001
Penguji 2 : Nur Muji Astuti, [Link].,Ns.,[Link]
NIP. 03044
Penguji 3 : Letkol Laut Pudji Agung Wibowo, [Link].,Ns
NRP: 11314/P

Mengetahui,
Stikes Hang Tuah Surabaya
Ka Prodi Pendidikan Profesi
Ners

Dr. Hidayatus Sya’diyah, [Link].,Ns.,[Link]


NIP. 03009

Ditetapkan di : STIKES Hang Tuah Surabaya


Tanggal : 19 Januari 2023

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmad dan

hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis

ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Karya Ilmiah Akhir ini disusun

sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan program Pendidikan Profesi Ners.

Penulis menyadari bahwa keberhasilan dan kelancaran Karya Ilmiah ini

bukan hanya karena kemampuan penulis saja, tetapi banyak bantuan dari berbagai

pihak, yang telah dengan ikhlas membantu penulis demi terselesainya penulisan,

oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan

penghargaan yang sebenar-benarnya kepada :

1. Laksamana Pertama Purn. Dr. A.V. Sri Suhardiningsih, SKp.,[Link], selaku

Ketua Stikes Hang Tuah Surabaya yang telah memberikan kesempatan

kepada kami menyelesaikan pendidikan Ners di Sekolah Tinggi Ilmu

Kesehatan Hang Tuah Surabaya.

2. Laksamana Pertama TNI dr. Gigih Imanta J., [Link], selaku Kepala Rumkital

dr. Ramelan Surabaya, yang telah memberikan ijin dan lahan praktik untuk

penyusunan karya ilmiah akhir.

3. Dr. Hidayatus Sya’diyah, [Link].,Ns.,[Link], selaku Kepala Program Studi

Pendidikan Profesi Ners yang telah memberikan dorongan penuh dengan

wawasan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

4. Letkol Laut Pudji Agung Wibowo, [Link].,Ns, selaku Pembimbing ruangan

yang dengan tulus ikhlas telah memberikan arahan dan bimbingan dalam

penyusunan dan penyelesaian Karya Ilmiah Akhir ini.

v
5. Bapak Dr. Setiadi, [Link].,Ns.,[Link], selaku Penguji ketua yang penuh

kesabaran dan perhatian memberikan pengarahan dan dorongan moral dalam

penyusunan karya ilmiah akhir ini.

6. Ibu Nur Muji Astuti, [Link].,Ns.,[Link], selaku Pembimbing institusi yang

dengan tulus ikhlas bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran serta

perhatian dalam memberikan dorongan, bimbingan dan arahan dalam

penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini.

7. Bapak dan Ibu Dosen Stikes Hang Tuah Surabaya, yang telah memberikan

bekal bagi penulis melalui materi-materi kuliah yang penuh nilai dan makna

dalam penyempurnaan penulisan Karya Ilmiah Akhir ini, juga kepada seluruh

tenaga administrasi yang tulus ikhlas melayani keperluan penulis selama

menjalani studi dan penulisannya.

8. Klien Ny. A yang telah memberikan kesempatan untuk dilakukan asuhan

keperawatan dalam mendukung pelaksanaan praktek keperawatan

komprehensif dan penulisan Karya Ilmiah Akhir ini.

9. Sahabat-sahabat seperjuangan tersayang dalam naungan Stikes Hang Tuah

Surabaya yang telah memberikan dorongan semangat sehingga karya Ilmiah

Akhir ini dapat terselesaikan, saya hanya dapat mengucapkan semoga

hubungan persahabatan tetap terjalin.

10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas

bantuannya. Penulis hanya bisa berdoa semoga Allah SWT membalas amal

baik semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian Karya

Ilmiah Akhir ini.

vi
Selanjutnya, penulis menyadari bahwa Karya Ilmiah Akhir ini masih

banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Maka saran dan kritik

yang konstruktif senantiasa penulis harapkan. Akhirnya penulis berharap, semoga

Karya Ilmiah Akhir ini dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang membaca

terutama bagi Civitas Stikes Hang Tuah Surabaya.

Surabaya, 06 Desember 2022

Penulis

vii
DAFTAR ISI

KARYA ILMIAH AKHIR.......................................................................................i


SURAT PERNYATAAN KEASLIAN LAPORAN................................................ii
HALAMAN PERSETUJUAN................................................................................iii
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................iv
KATA PENGANTAR..............................................................................................v
DAFTAR ISI.........................................................................................................viii
DAFTAR TABEL....................................................................................................x
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................xi
DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................................xii
DAFTAR SINGKATAN......................................................................................xiii

BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang..................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................5
1.3 Tujuan...............................................................................................................5
2.2.1 Tujuan Umum....................................................................................5
2.2.2 Tujuan Khusus...................................................................................5
1.4 Manfaat Karya Tulis Ilmiah..............................................................................6
1.5 Metode Penulisan..............................................................................................7
1.6 Sistematika Penulisan........................................................................................9

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................10


2.1 Konsep Penyakit..............................................................................................10
2.1.1 Anatomi Fisiologi Payudara (Mammae)..........................................10
2.1.2 Definisi Kanker Payudara (CA Mammae)........................................13
2.1.3 Etiologi Kanker Payudara (CA Mammae)........................................13
2.1.4 Klasifikasi Kanker Payudara (CA Mammae)...................................14
2.1.5 Patolofisiologi Kanker Payudara (CA Mammae).............................18
2.1.6 Web Of Caution Kanker Payudara (CA Mammae)...........................20
2.1.7 Manifestasi Klinis Kanker Payudara (CA Mammae).......................21
2.1.8 Komplikasi Kanker Payudara (CA Mammae)..................................21
2.1.9 Pemeriksaan Penunjang Kanker Payudara (CA Mammae)..............22
2.1.10 Penatalaksanaan Kanker Payudara (CA Mammae)..........................25
2.2 Konsep Tindakan Mastektomi.........................................................................26
2.2.1 Pengertian Mastektomi.....................................................................26
2.2.2 Kemungkinan Efek Samping Dari Mastektomi...............................27
2.2.3 Perawatan setelah mastektomi..........................................................27
2.3 Konsep Salphingo Oophorectomi Bilateral Pada Kanker Payudara...............28
2.3.1 Definisi.............................................................................................28
2.3.2 Ruang lingkup..................................................................................28
2.3.3 Indikasi operasi.................................................................................28
2.3.4 Kontra indikasi operasi.....................................................................28
2.3.5 Pemeriksaan penunjang....................................................................29
2.3.6 Prosedur............................................................................................29
2.3.7 Komplikasi operasi...........................................................................29
2.3.8 Perawatan Pasca Bedah....................................................................30

2.3.9 Follow up.........................................................................................30


viii
2.4 Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ca Mammae...................30
2.4.1 Pengkajian........................................................................................30
2.4.2 Diagnosis Keperawatan....................................................................35
2.4.3 Intervensi Keperawatan....................................................................36
2.4.4 Implementasi Keperawatan..............................................................44
2.4.5 Evaluasi Keperawatan......................................................................45

BAB 3 TINJAUAN KASUS.................................................................................47


3.1 Pengkajian.......................................................................................................47
3.1.1 Data Dasar........................................................................................47
3.1.2 Keluhan Utama.................................................................................47
3.1.3 Riwayat Penyakit Sekarang..............................................................47
3.1.4 Riwayat Penyakit Dahulu.................................................................48
3.1.5 Riwayat Keluarga.............................................................................49
3.1.6 Riwayat Sosial..................................................................................49
3.1.7 Keadaan Umum (Penampilan Umum).............................................50
3.1.8 Pemeriksaan Fisik............................................................................50
3.1.9 Pemeriksaan Penunjang....................................................................56
3.1.10 Terapi Medis....................................................................................60
3.2 Analisa Data Keperawatan..............................................................................60
3.3 Prioritas Masalah.............................................................................................62
3.4 Intervensi Keperawatan...................................................................................63
3.5 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan........................................................65

BAB 4 PEMBAHASAN.......................................................................................76
4.1 Pengkajian.......................................................................................................76
4.2 Diagnosis Keperawatan...................................................................................79
4.3 Intervensi Keperawatan...................................................................................82
4.4 Implementasi Keperawatan.............................................................................86
4.5 Evaluasi Keperawatan.....................................................................................89

BAB 5 PENUTUP.................................................................................................92
5.1 Simpulan..........................................................................................................92
5.2 Saran................................................................................................................94

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................96

Tabel 2. 1 Klasifikasi Breast Imaging Reporting and Data System (BIRADS) ...
23 Tabel 2. 2 Intervensi Keperawatan....................................................................36
Tabel 3. 1 Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pasien Ny. A...........................56
Tabel 3. 2 Terapi Medis Pasien Ny. A...................................................................60

ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Anatomi Payudara (Mammae)..................................................................11


Gambar 2. 2 Web Of Caution Kanker (CA Mammae)...........................................20
Gambar 3. 1 Genogram Keluarga Ny. A.......................................................................49

x
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran. 1 Curriculum Vitae.............................................................................100


Lampiran. 2 Motto dan Persembahan...................................................................101
Lampiran. 3 Standart Operasional Prosedur (SOP)..............................................102
Lampiran. 4 SGAS Pembimbing dan Kelompok Mahasiswa..............................108
Lampiran. 5 Pengajuan KIA.................................................................................109
Lampiran. 6 Lembar Bimbingan..........................................................................110

xi
DAFTAR SINGKATAN

(Intra Cerebral Hemorrhage) ICH


ACR: American College of Radiology
BAB: Buang Air Besar
BAK: Buang Air Kecil
BIRADS: Breast Imaging Reporting and Data System
Ca: Cancer
Cc: Cubic Centimeter
Cm: Centimeter
CT Scan: Computerized Tomography Scan
CVP: Central Venous Pressure
DCIS: karsinoma in situ
DO: Data Objektif
DS: Data Subyektif
EMV: Eye, Mobility, Verbal
FNAB: Fine-Needle Aspiration Biopsy
g/dl: gram per desiliter
GCS: Glasglow Coma Scale
HER2: gen pro-proliferasi
HRT: hormon replacement therapy
HRT: Hormon Replacement Therapy
IGD: Instalasi Gawat Darurat
IHC: Immunohistochemistry
ILO: Infeksi Luka Operasi
Inf: Infus
Inj: Injeksi
Iv: Intravena
Kg: Kilo gram
KGB: Kelenjar Getah Bening
LCIS: karsinoma lobulusin situ
Ml: Mililiter

xii
MmHg: Milimeter Merkuri Hydrargyrum
Mnt: Menit
MRI: Magnetic resonance imaging
NGT: Nasogastric Tube
NS: Natrium Chloride
Ny: Nyonya
O₂: Oksigen
ºC: Derajat Celcius
PQRST: Provoking, Quality, Region, Severity, Time
RM: Rekam Medis
RR: respiratory rate
SDKI: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
SIKI: Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
SLKI: Standar Luaran Keperawatan Indonesia
SOAP: Subyektif, Obyektif, Assessment, Planning
TTV: Tanda-tanda Vital
USG: Ultrasonografi
Wib: Waktu Indonesia barat

xiii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kanker payudara adalah suatu penyakit neoplasma ganas yang merupakan

suatu pertumbuhan jaringan payudara abnormal yang berbeda dengan jaringan

sekitarnya. Neoplasma ini dapat pula menyebar ke bagian lain di seluruh tubuh.

Penyebaran tersebut disebut dengan metastase (Iqmy, Setiawati, & Yanti, 2021;

Nurrohmah, et all, 2022). Kanker payudara merupakan kanker yang paling sering

ditemukan pada wanita di seluruh dunia (22% dari sernua kasus baru kanker pada

perempuan) dan menjadi urutan kedua sebagai penyebab kematian terkait kanker

setelah kanker paru (Hero, 2021; Sjamsuhidajat & de Jong, 2017). Angka

kejadian kanker payudara tertinggi terdapat pada usia 40-49 tahun, sedangkan

untuk usia dibawah 35 tahun insidennya hanya kurang dari 5% (Cardoso, et all,

2019; Nurrohmah, et all, 2022).

Penyakit kanker payudara memiliki beberapa cara pengobatan diantaranya

kemoterapi, radioterapi, terapi hormonal, dan mastektomi. Mastektomi

merupakan jenis pengobatan yang paling banyak digunakan oleh penderita kanker

payudara, pengobatan ini dapat menghambat proses perkembangan sel kanker

dengan taraf kesembuhan 85% hingga 87%. Efek dari pengobatan mastektomi

adalah pasien akan kehilangan sebagian atau seluruh payudara, mati rasa pada

kulit, serta kelumpuhan apabila tidak ditangani (Sari NN, 2021). Masalah

keperawatan yang muncul pada perawatan pasien post operatif kanker payudara

yang ditemukan antara lain nyeri akut, risiko infeksi, gangguan integritas kulit,

gangguan mobilitas fisik, defisit perawatan diri (Mastura, R. Nurhidayah, 2022)

1
2

Data Global Cancer Observatory tahun 2018 menunjukkan terdapat 18,1

juta kasus baru dengan angka kematian sebesar 9,6 juta kematian dimana 1 dari 5

laki-laki dan 1 dari 6 perempuan di dunia mengalami kejadian kanker. Secara

global, American Cancer Society mencatat jumlah penderita kanker berdasarkan

data insiden, prevalensi, dan mortalitas kanker mencapai setidaknya 18 juta

penderita pada 2018. Dengan Populasi dunia mencapai 7,7 miliar orang, angka

prevalensi kanker mencapai 2,3 perseribu penduduk. Prevalensi kanker payudara

(11,6%). Dan pada tahun 2020, estimasi kejadian kanker di Indonesia terdapat

65.858 kasus baru kanker payudara, dengan jumlah kematian akibat kanker

payudara sebanyak 22.430 kasus (Globocan, 2020). Angka kejadian untuk

perempuan yang tertinggi adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000

penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk. Kasus kanker

yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, yakni 58.256

kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker (Kemenkes RI, 2020).

Angka kejadian kanker payudara di RSPAL dr. Ramelan Surabaya ruang

H1 selama menjalani praktek komprehensif terhitung 3 pasien dari tanggal 28

November sampai dengan 11 Desember 2022 (2 minggu), terdapat 22 pasien

yang masuk ke ruang H1 Bedah RSPAL dr. Ramelan dengan usia 20 sampai 60

tahun, 3 pasien kanker payudara, 3 pasien tumor otak, 2 pasien spondylitis, 2

pasien anemia, 4 pasien spinal stenosis, 2 kanker serviks, 2 pasien hidrosefalus, 1

pasien kanker kolon, 5 pasien fraktur. Seluruh pasien dalam kondisi kesadaran

kompos mentis.
3

Kanker payudara adalah sebuah penyakit yang diakibatkan oleh

pertumbuhan sel yang tak terkendali pada payudara. Kanker payudara dapat

menyebar ke luar payudara melalui pembuluh darah dan pembuluh limfatik, yang

merupakan pertanda terjadinya metastasis (Wolff, Blackford AL, 2018) .

Tindakan yang dilakukan untuk menangani kanker payudara sangat beragam

salah satunya adalah operasi mastektomi, masalah keperawatan yang muncul

karena tindakan pembedahan tersebut adalah nyeri akut. Kerusakan dan inflamasi

pada nervus akan memicu rasa nyeri. Rasa nyeri pasien dipengaruhi oleh berbagai

faktor, termasuk psikologi dari pasien (Yodang dan Nuridah, 2021).

Permasalahan yang sering dihadapi pada post op adalah terjadinya komplikasi

pada luka operasi terutama infeksi, suatu keadaan masuknya kuman, menetap dan

multiaplikasi (Utami et al., 2019). Pasien post op dengan masalah nyeri akut akan

memicu perasaan cemas untuk melakukan mobilisasi dini, di mana pasien dengan

tirah baring yang terlalu lama akan mengakibatkan otot-otot di seluruh tubuh

menjadi kaku, sirkulasi darah terganggu, terjadi gangguan pernapasan, gangguan

peristaltic, berkemih dan luka tekan (Hidayati & fitriyani, 2022). Gangguan

mobilitas fisik dapat menyebabkan defisit perawatan diri berhubungan dengan

kelemahan yang menggambarkan suatu keadaan seseorang yang mengalami

hambatan kemampuan dalam melakukan aktivitas perawatan diri, seperti mandi,

berganti pakaian, makan dan eliminasi (Nadiya Sarah, 2018).

Penatalaksanaan kanker biasanya dilakukan dengan berbagai macam terapi

salah satunya tindakan yang sering digunakan untuk pelaksanaan kanker

payudara lokal yaitu masektomi dengan atau tanpa rekonstruksi dan bedah

penyelamatan payudara yang berkombinasi dengan terapi radiasi (Dhestirati,


4

2022). Kemoterapi yang dilakukan secara berseri dan kontinyu (Meylana EH,

2020). Kemoterapi biasanya terdiri dari enam sampai delapan seri tergantung

pada kondisi pasien, frekuensi dapat berbeda-beda menyesuaikan dengan stadium

kanker, tujuan terapi, jenis obat sitotoksik yang digunakan dan respon tubuh

pasien (Ashariati, 2019). Pengalaman dan pengobatan yang dilalui pada pasien

kanker mempunyai pengaruh yang besar dalam kualitas hidup pasien, kualitas

hidup memiliki empat aspek yang harus dicermati pasien kanker payudara yaitu

kesejahteraan fisik, psikologis, sosial dan spiritual (Ratih Kumala Dewi, 2020).

Mengacu pada kesejahteraan psikologis tidak sedikit pasien yang menjalani

kemoterapi mengalami depresi yang pasien beradaptasi kondisinya saat ini

sehingga mempengaruhi kualitas hidup pasien (Rosyanti, 2018). Keadaan

tersebut bila tidak ditangulangi akan menyebabkan dampak serius bagi kesehatan

jiwa dan tidak sedikit yang berujung pada percobaan bunuh diri.

Seorang perawat harus mengetahui tentang bagaimana perjalanan dan

dampak lebih lanjut dari kanker payudara atau ca mammae. Berdasarkan latar

belakang diatas, maka penulis tertarik membahas mengenai konsep dasar hingga

evaluasi terhadap pasien kanker payudara yang dituangkan dalam bentuk Karya

Ilmiah Akhir dengan judul “Asuhan Keperawatan Pasien (Ca Mammae) Kanker

Payudara Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari ke 1 Di Ruang H1 RSPAL dr.

Ramelan Surabaya”.
5

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka penulis berniat membuat karya

tulis ilmiah tentang asuhan keperawatan pasien dengan Kanker Payudara (Ca

Mammae), untuk itu penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut

“Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Ny. A dengan Diagnosis Medis Kanker

Payudara (Ca Mammae) Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari Ke 1 Di Ruang

H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya?”.

1.3 Tujuan

2.2.1 Tujuan Umum

Mengkaji individu secara mendapalm yang dihubungkan dengan

penyakitnya melalui proses keperawatan pada Ny. A dengan Diagnosis Medis

Kanker Payudara (Ca Mammae) Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari Ke 1 Di

Ruang H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya.

2.2.2 Tujuan Khusus

1. Melakukan pengkajian pada Ny. A dengan Diagnosis Medis Kanker Payudara

(Ca Mammae) Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari Ke 1 Di Ruang H1

RSPAL dr. Ramelan Surabaya.

2. Melakukan analisis masalah, prioritas masalah dan menegakkan diagnosis

keperawatan pada Ny. A dengan Diagnosis Medis Kanker Payudara (Ca

Mammae) Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari Ke 1 Di Ruang H1 RSPAL

dr. Ramelan Surabaya.

3. Menyusun rencana asuhan keperawatan pada masing-masing diagnosis

keperawatan pasien Ny. A dengan Diagnosis Medis Kanker Payudara (Ca


6

Mammae) Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari Ke 1 Di Ruang H1 RSPAL

dr. Ramelan Surabaya.

4. Melaksanakan tindakan asuhan keperawatan pada Ny. A dengan Diagnosis

Medis Kanker Payudara (Ca Mammae) Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari

Ke 1 Di Ruang H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya.

5. Melakukan evaluasi asuhan keperawatan pada Ny. A dengan Diagnosis Medis

Kanker Payudara (Ca Mammae) Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari Ke 1

Di Ruang H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya.

1.4 Manfaat Karya Tulis Ilmiah

Berdasarkan tujuan umum maupun tujuan khusus maka karya tulis ilmiah

ini diharapkan bisa memberikan manfaat baik bagi kepentingan pengembangan

program maupun bagi kepentingan ilmu pengetahuan, adapun manfaat-manfaat

dari karya tulis ilmiah secara teoritis maupun praktis seperti tersebut dibawah ini :

1. Secara Teoritis

Dengan pemberian asuhan keperawatan secara cepat, tepat dan efisien akan

menghasilkan keluaran klinis yang baik, menurunkan angka kejadian mordibitas

dan mortalitas pada pasien dengan Kanker Payudara (Ca Mammae).

2. Secara Praktis

a. Bagi Institusi Rumah Sakit

Dapat sebagai pemasukan untuk menyusun kebijakan atau pedoman

pelaksanaan pasien dengan Kanker Payudara (Ca Mammae) sehingga

penatalaksanaan dini bisa dilakukan dan dapat menghasilkan keluaran

klinis yang baik bagi pasien yang mendapatkan asuhan keperawatan di

institusi rumah sakit yang bersangkutan.


7

b. Bagi Institusi Pendidikan

Dapat digunakan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi serta meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien

dengan Kanker Payudara (Ca Mammae). serta meningkatkan

pengembangan profesi keperawatan.

c. Bagi Keluarga dan Pasien

Sebagai bahan penyuluhan kepada keluarga tentang deteksi dini

penyakit Kanker Payudara (Ca Mammae) sehingga keluarga mampu

menggunakan pelayanan medis gawat darurat. Selain itu, agar keluarga

mampu melakukan perawatan pasien dengan Kanker Payudara (Ca

Mammae) dirumah agar meminimalkan aktivitas.

d. Bagi Penulis Selanjutnya

Bahan penulisan ini bisa dipergunakan sebagai perbandingan atau

gambaran tentang asuhan keperawatan pasien dengan Kanker Payudara

(Ca Mammae) sehingga penulis selanjutnya mampu mengembangkan

ilmu pengetahuan dan teknologi yang terbaru.

1.5 Metode Penulisan

1. Metode

Studi kasus yaitu metode yang memusatkan perhatian pada satu obyek

tertentu yang diangkat sebagai sebuah kasus untuk dikaji secara mendalam

sehingga mampu membongkar realitas di balik fenomena.


8

2. Teknik Pengumpulan Data

a. Wawancara

Data diambil atau diperoleh melalui percakapan baik dengan pasien,

keluarga, maupun tim kesehatan lain.

b. Observasi

Data yang diambil melalui pengamatan secara langsung terhadap

keadaan, rekasi, sikap dan perilaku pasien yang dapat diamati.

c. Pemeriksaan

Meliputi pemeriksaan fisik dan laboratorium serta pemeriksaan

penunjang lainnya yang dapat menegakkan diagnose dan penanganan

selanjutnya.

3. Sumber Data

a. Data Primer

Adalah data yang diperoleh dari pasien.

b. Data Sekunder

Adalah data yang diperoleh dari keluarg aatau orang terdekat

dengan pasien, catatan medis perawat, hasil-hasil pemeriksaan dan tim

kesehatan lain.

c. Studi Kepustakaan

Yaitu mempelajari buku sumber yang berhubungan dengan judul

karya tulis dan masalah yang dibahas.


9

1.6 Sistematika Penulisan

Dalam studi kasus secara keseluruhan dibagi dalam 3 bagian, yaitu:

1. Bagian awal memuat halaman judul, abstrak penulisan, persetujuan

pembimbing, pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi,

daftar gambar dan daftar lampiran dan abstraksi.

2. Bagian inti meliputi lima bab, yang masing-masing bab terdiri dari sub bab

berikut ini :

BAB 1 : Pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, perumusan

masalah, tujuan manfaat penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB 2 : Landasan teori yang berisi tentang Konsep penyakit dari sudut medis

dan asuhan keperawatan pasien dengan diagnosa Kanker Payudara

(Ca Mammae)

BAB 3 : Hasil yang berisi tentang data hasil pengkajian, diagnosa

keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan keperawatan,

dan evaluasi dari pelaksanaan.

BAB 4 : Pembahasan kasus yang ditemukan berisi data, teori dan opini serta

analisis.

BAB 5 : Simpulan dan saran.

3. Bagian akhir, terdiri dari daftar pustaka dan lampiran.


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Bab 2 Tinjauan Pustaka menguraikan tentang konsep penyakit meliputi :

anatomi fisiologi, definisi, etiologi, klasifikasi, patolofisiologi, Web Of Caution

(WOC), manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan

kanker payudara (CA) Mammae; dan membahas tentang konsep asuhan

keperawatan meliputi : pengkajian, masalah keperawatan, diagnosis keperawatan,

intervensi keperawatan, implementasi keperawatan, evaluasi keperawatan.

2.1 Konsep Penyakit

2.1.1 Anatomi Fisiologi Payudara (Mammae)

Mammae terdapat pada laki-laki dan perempuan. Bentuk mammae sama pada

laki-laki dan perempuan yang belum dewasa. Papilla mammae kecil dan

dikelilingi oleh daerah kulit yang berwarna lebih gelap, disebut areola mammae.

Jaringan mammae tersusun atas sekelompok kecil sistem saluran yang terdapat di

dalam jaringan penyambung dan bermuara di daerah areola. Dasar mammae

terbentang dari iga kedua sampai keenam dan dari pinggir lateral sternum sampai

linea axillaries media. Sebagian besar glandula mammaria terletak didalam fascia

superficialis. Sebagian kecil, yang disebut processus axillaris, meluas ke atas dan

lateral, menembus fascia profunda pada pinggir caudal musculus pectoralis

major, dan sampai axilla. Setiap payudara terdiri dari 15-20 lobus, yang tersusun

radier dan berpusat pada papilla mammaria. Saluran utama dari setiap lobus

bermuara di papilla mammae dan mempunyai ampulla yang melebar tepat

sebelum ujungnya. Dasar papilla mammae dikelilingi oleh areola. Tonjolan-

tonjolan halus pada areola diakibatkan oleh kelenjar areola di bawahnya. Lobus-

10
11

lobus kelenjar dipisahkan oleh septa fibrosa. Septa di bagian atas kelenjar

berkembang dengan baik dan terbentang dari kulit sampai ke fascia profunda dan

berfungsi sebagai ligamentum suspensorium. Glandula mammae dipisahkan dari

fascia profunda yang membungkus otot-otot di bawahnya oleh spatium

retromammary yang berisi jaringan ikat jarang. Pada perempuan muda, payudara

cenderung menonjol ke depan dari dasar yang sirkular, pada perempuan yang

lebih tua payudara cenderung menggantung. Mammae mencapai ukuran maksimal

selama masa laktasi (Siregar karolus & Nugroho, 2022).

Gambar 2. 1 Anatomi Payudara (Mammae) Sumber : (Siregar karolus & Nugroho,


2022)

Mammae mulai berkembang saat pubertas dan perkembangannya distimulasi

oleh estrogen yang berasal dari siklus seksual wanita bulanan. Estrogen

merangsang pertumbuhan kelenjar mammae payudara ditambah dengan deposit

lemak untuk memberi massa payudara. Selain itu pertumbuhan yang lebih besar

terjadi selama kadar estrogen yang tinggi pada kehamilan dan hanya jaringan

kelenjar saja yang berkembang sempurna untuk pembentukan air susu.


12

Terdapat 2 hormon yang berperan dalam proses perkembangan payudara

antara lain:

1. Peranan Estrogen (Pertumbuhan sistem duktus)

Selama kehamilan, sejumlah besar estrogen disekresikan oleh plasenta

sehingga sistem duktus payudara tumbuh dan bercabang. Secara bersamaan,

stroma payudara juga bertambah besar dan sejumlah besar lemak terdapat

dalam stroma. Sedikitnya ada 4 hormon lain yang penting dalam pertumbuhan

sistem duktus diantaranya hormon pertumbuhan, prolaktin, glukokortikoid

adrenal dan insulin. Masing-masing hormon tersebut diketahui memainkan

paling sedikit beberapa peranan dalam metabolisme protein (Siregar karolus &

Nugroho, 2022).

2. Peranan Progesteron (Perkembangan sistem lobulus-alveolus)

Perkembangan akhir mammae menjadi organ yang menyekresi air susu

juga memerlukan progesteron. Sistem duktus telah berkembang, progesteron

bekerja secara sinergistik dengan estrogen, juga dengan semua hormon-

hormon lain menyebabkan pertumbuhan lobulus payudara, dengan pertunasan

alveolus dan perkembangan sifat-sifat sekresi dari sel-sel alveoli. Perubahan-

perubahan ini analog dengan efek sekresi progesteron pada endometrium

uterus selama pertengahan akhir siklus seksual wanita. Walaupun estrogen

dan progesteron penting untuk perkembangan fisik kelenjar mammae selama

kehamilan, namun hormon ini mempunyai pengaruh untuk tidak

menyebabkan alveoli menyekresi air susu.


13

Air susu disekresi hanya sesudah payudara yang siap dirangsang lebih

lanjut oleh prolaktin dari kelenjar hipofisis anterior. Konsentrasi hormon

prolaktin dalam darah ibu meningkat secara tetap dari minggu kelima

kehamilan sampai kelahiran bayi (Siregar karolus & Nugroho, 2022).

2.1.2 Definisi Kanker Payudara (CA Mammae)

Kanker payudara adalah suatu penyakit yang diakibatkan oleh adanya suatu

perkembangan sel kanker pada payudara atau adanya pertumbuhan jaringan yang

tidak terkontrol pada payudara (Liabalingka, 2020). Kanker payudara adalah

neoplasma ganas yang terbentuk dari sel-sel payudara yang tumbuh dan

berkembang tanpa terkendali sehingga dapat menyebar di antara jaringan atau

organ di dekat payudara atau ke bagian tubuh lainnya (Kementrian Kesehatan

Republik Indonesia, 2018).

Kanker payudara umumnya terjadi pada wanita, tetapi tidak menutup

kemungkinan laki-laki juga dapat terkena kanker payudara akan tetapi kasusnya

hanya 1 : 1000 dibandingkan dengan wanita. Kanker payudara termasuk salah

satu penyakit yang dapat menyebabkan kematian terbesar pada seseorang wanita

(Liabalingka, 2020).

2.1.3 Etiologi Kanker Payudara (CA Mammae)

Penyebab kanker payudara Menurut (Nina et all 2020) yaitu:

1. Faktor genetik, jika mempunyai keluarga yang menderita kanker payudara.

2. Faktor usia, penyakit kanker payudara meningkat pada usia remaja ke atas.

3. Pola hidup tidak sehat, seringnya mengkonsumsi junkfood dan jarang

olahraga.
14

4. Menggunakan obat-obatan, seperti : hormon replacement therapy (HRT) yang

dapat menyebabkan peningkatan resiko terkena penyakit kanker payudara.

5. Faktor lain yang diduga menjadi salah satu penyebab kanker payudara ialah

tidak menikah, menikah tapi tidak punya anak, melahirkan anak pertama

setelah usia 35 tahun, tidak pernah menyusui anak.

6. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa penyakit kanker payudara

meningkat pada orang yang sering menghadapi kondisi stress, dan pada wanita

yang menstruasi pertama kali terjadi pada saat usia dibawah 11 tahun

(Liabalingka, 2020).

7. Perokok pasif

Orang yang tidak merokok akan tetapi ia menghirup asap rokok yang

dikeluarkan oleh orang perokok dan ini biasanya disebut perokok pasif dan ini

lebih beresiko terkena kanker payudara dibandingkan dengan perokok aktif.

Menurut ahli dari California Environtment Protection Agency perokok paif

memiliki hubungan yang sangat erat dengan resiko terkena penyakit kanker

payudara, oleh karena itu jangan menjadi perokok pasif dan jangan menjadi

perokok aktif, hindarilah orang-orang yang merokok disekitar anda agar anda

tidak menjadi perokok pasif karena akan beresiko terkena penyakit kanker

payudara (Liabalingka, 2020).

2.1.4 Klasifikasi Kanker Payudara (CA Mammae)

Perkembangan kondisi abnormal payudara hingga menjadi sel kanker terbagi

menjadi tiga kelas yaitu normal, tumor (benign) dan kanker. Neoplasma itu sendiri

adalah massa jaringan abnormal. Dimana pada kelas ini terdapat dua jenis
15

neoplasma pada payudara, yaitu tumor jinak atau non-kanker dan tumor ganas

atau kanker.

Berikut adalah penjelasan masing-masing klasifikasi kanker payudara (Ami

Ashariati Prayoga, 2019):

1. Diagnosis normal

Payudara normal merupakan payudara dengan pertumbuhan sel normal,

dimana sel-sel payudara yang tumbuh sama dengan sel-sel payudara yang

rusak atau mati.

2. Diagnosis neoplasma (benign)

Neoplasma merupakan pertumbuhan sel yang abnormal dimana

pembelahan sel pada payudara lebih cepat dari pada sel yang rusak atau mati.

Jenis-jenis dari tumor yaitu:

a. Neoplasma Jinak

Meskipun neoplasma ini pada umumnya tidak agresif terhadap

jaringan sekitarnya, tetapi terkadang tumor ini dapat terus tumbuh,

menekan pada organ-organ dan menyebabkan sakit atau masalah lain.

Dalam situasi ini, perlu dilakukan pengangkatan tumor agar

komplikasinya mereda.

b. Neoplasma Ganas

Kanker sangat agresif karena menyerang dan merusak jaringan sekitar.

Selanjutnya biopsi perlu dilakukan untuk menentukan tingkat keparahan

atau agresivitas tumor.


16

3. Diagnosis kanker (Metastasis kanker)

Metastasis kanker adalah ketika sel-sel kanker tumor ganas menyebar ke

bagian lain tubuh. Biasanya melalui sistem getah bening dan membentuk

tumor sekunder. Ada beberapa jenis kanker payudara yaitu sebagai berikut :

a. Karsinoma duktus invasive

Karsinoma ini merupakan jenis yang paling umum (75%). Dilihat

melalui mikroskop, sel ganas tersusun dalam berbagai bentuk mikro

arsitektur, termasuk struktur kelenjar. Banyak tumor mengandung

komponen stroma jarngan ikat yang menonjol (skirus). Perilaku

biologisnya bermacam-macam, dari prognosis baik sampai buruk. Sistem

penentuan penentuan stadium kanker (1 sampai 3) dilakukan berdasarkan :

a. Tingkat pembedaan tumor, seperti yang dikaji melalui pembentukan

tubulus

b. Perbedaan ukuran, bentuk dan penodaan nucleus

c. Frekuensi mitosis

b. Kanker lobulus invasive

Kanker ini merupakan jenis kedua yang paling umum (10%). Dilihat

melalui mikroskop, sel tumor monomorfik tersusun secara berderet,

dengan pola alveolus dan targetoid. Kanker ini sering kali memiliki

banyak pusat dan bisa terjadi di kedua payudara. Kanker ini tidak

berkaitan dengan mikroklasifikasi, dan bisa sulit dideteksi dengan

mamografi atau ultrasonografi. Magnetic resonance mammography

direkomendasikan untuk mengevaluasi kanker jenis ini.


17

c. Karsinoma tubulus

Kanker ini mencakup 5 % dari semua penyakit ganas payudar dan

semakin mudah dideteksi melalui pengamatn. Kanker ini biasanya

merupakan tumor kecil dan secara histologi mengandung kelenjar

berbentuk jelas yang dipisahkan oleh stroma berserat. Sel ganas

mengandung proyeksi sitoplasma. yang memanjang dari puncak sel ke

lumen duktus. Kanker tubulus cenderung tetap berada di suatu tempat dan

sebenarnya tidak pernah bermetastasis ke nodus limfa di wilayah yang

sama. Sampai 95 % pasien mampu bertahan hidup selama 5 tahun.

d. Kanker payudara inflamasi

Kanker ini mencakup 3% dari semua penyakit ganas yang ada di

payudara. Jika dilihat melalui mikroskop, kanker ini bisa menunjukkan

ciri-ciri kanker duktus, lobulus atau medula yang menginfiltrasi, disertai

oleh serangan limfatik ke kult oleh sel ganas, edeam jaringan dan

perembesan sel inflamasi dengan tingkat keparahan berbeda-beda. Kanker

ini cenderung dialami wanita muda pra-menopause dan secara biologi

dengan hasil klinis yang kurang memuaskan.

e. Karsinoma in situ

Karsinoma in situ berasal dari unit duktus-lobulus terminal, dengan

karsinoma in situ (DCIS) hanya ada di duktus atau duktulus, dan

karsinoma lobulusin situ (LCIS) hanya ada di lobulus. Sebelum

pemantauan payudara, insidensi DCIS adalah 1 sampai 3 persen dari

specimen yang diambil dan 3-6% dari semua kanker payudar. Sejak

pemantauan diperkenalkan, DCIS telah didokumentasikan dalam 15


18

sampai 20 persen semua kanker payudara yang telah diangkat dan dalam

20 sampai 40 persen semua kanker payudar sama (tidak bisa diraba) ang

dikeluarkan. Frekuensi LCIS juga meningkat dalma biopsi atau spesimen

yang telah dikeluarkan. LCIS digolongkan sebagai neoplasia lobulus.

Dalam DCIS, terdapat poliferasi lapisan sel kuboid dalam menuju lumen

dan hilangnya lapisan luar sel mioepitelium, namun membran alasnya

masih utuh.

2.1.5 Patolofisiologi Kanker Payudara (CA Mammae)

Untuk dapat menegakkan diagnosa kanker dengan baik, terutama untuk

melakukan pengobatan yang tepat, diperlukan pengetahuan tentang proses

terjadinya kanker dan perubahan strukturnya. Tumor atau neoplasma merupakan

kelompok sel yang berubah dengan ciri proliferasi yang berlebihan dan tak

berguna, yang tak mengikuti pengaruh jaringan sekitarnya. Proliferasi abnormal

sel kanker akan mengganggu fungsi jaringan normal dengan menginfiltrasi dan

memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ yang jauh. Di

dalam sel tersebut telah terjadi perubahan secara biokimia terutama dalam intinya.

Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel yang mengalami transformasi

maligna dan berubah menjadi sekelompok sel ganas di antara sel normal (Yaban,

2019). Sel kanker dapat menyebar melalui aliran pembuluh darah dan

permeabilitas kapiler akan terganggu sehingga sel kanker dapat berkembang pada

jaringan kulit. Sel kanker tersebut akan terus menginfiltrasi jaringan kulit,

menghambat dan merusak pembuluh darah kapiler yang mensuplai darah ke

jaringan kulit. Akibatnya jaringan dan lapisan kulit akan mati (nekrosis) kemudian

timbul luka kanker.


19

Jaringan nekrosis merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri,

baik bakteri aerob atau anaerob. Bakteri tersebut akan menginfeksi dasar luka

kanker sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, sel kanker dan

proses infeksi itu sendiri akan merusak permeabilitas kapiler kemudian

menimbulkan cairan luka (eksudat) yang banyak. Cairan yang banyak dapat

menimbulkan iritasi sekitar luka dan juga gatal-gatal. Pada jaringan yang rusak

dan terjadi infeksi akan merangsang pengeluaran reseptor nyeri sebagai respon

tubuh secara fisiologis, akibatnya timbul gejala nyeri yang hebat. Sel kanker itu

sendiri juga merupakan sel imatur yang bersifat rapuh dan merusak pembuluh

darah kapiler yang menyebabkan mudah pendarahan. Adanya luka kanker, bau

yang tidak sedap dan cairan yang banyak keluar akan menyebabkan masalah

psikologis pada pasien. Akhirnya, pasien cenderung merasa rendah diri, mudah

marah atau tersinggung, menarik dini dan membatasi kegiatannya. Hal tersebut

yang akan menurunkan kualitas hidup pasien kanker (Yaban, 2019).


20

2.1.6 Web Of Caution Kanker Payudara (CA Mammae)

Faktor risiko: Pertumbuhan sel abnormal


 Genetic
 Hormonal
 Merokok, alcohol, Hyperplasia pada sel Tumor jinak
pola makan mammae

CA MAMMAE

Mendesak jaringan Mensuplai nutrisi ke Mendesak pembuluh darah


sekitarnya jaringan Ca

Aliran terhambat hingga


Pembengkakan mammae Pe ↓ hipermetabolisme terjadi hipoxia
jaringan lain (BB turun)

Peningkatan massa tumor Bakteri patogen


Defisit Nutrisi

Keluar cairan putih di


nanah

Tindakan pembedahan
(Mastektomi)

Pre Op Efek anestesi Post Op

Tanda mayor napas


Stress psikologi Massa tumor Fisiologi Psikologi
dispnea
mendesak jaringan
Menanyakan masalah Insisi jaringan Perubahan
Ketidakefektifan
yang dihadapi mammae bentuk mammae
Nyeri menekan pola napas
pada syaraf
Defisit Gangguan
Pengetahuan Kerusakan Terputusnya Citra Tubuh
Nyeri akut
Integritas otot/jaringan
kulit/jaringan sekitar aksila
Tanda mayor
merasa khawatir, Pendidikan
bingung dengan kesehatan Risiko Infeksi
kondisinya saat ini

Ansietas
Gambar 2. 2 Web Of Caussation Kanker (CA Mammae) (Sumber: Nurarif, 2016
dalam Reni A, 2020)
21

2.1.7 Manifestasi Klinis Kanker Payudara (CA Mammae)

Pasien kanker payudara biasanya datang dengan keluhan adanya benjolan

atau massa di payudaranya, terasa sakit, dan adanya cairan yang keluar dari puting

susu, tanpak adanya kelainan pada kulit (dimpling, kemerahan, ulserasi, kulit

keriput seperti kulit jeruk), terjadi pembesaran kelenjar getah bening. Dalam

anamnesis juga ditanyakan adanya faktor-faktor resiko pada pasien, dan pengaruh

siklus haid terhadap keluhan atau perubahan ukuran tumor. Untuk meminimalkan

pengaruh dari hormon estrogen dan progresteron, sebaiknya pemeriksaan pada

payudara dilakukan kurang lebih 1 minggu setelah haid dan dihitung dari hari

pertama saat menstruasi terjadi (Remedios, 2019).

2.1.8 Komplikasi Kanker Payudara (CA Mammae)

Kebanyakan komplikasi timbul akibat operasi, radiasi dan kemoterapi, atau

penggunaan obat tamoxifen, yang efek dalam pencegahan agar kanker pada

payudara tidak kembali lagi, tetapi semua itu dapat meningkatkan resiko wanita

mengalami kanker endometrium (rahim) dan penyakit trombo embolik.

Komplikasi-komplikasi tersebut yaitu (Cardoso, 2019) :

1. Terbatasnya pergerakan bahu

2. Inflamasi (peradangan) jaringan ikat pada lengan yang terlibat

3. Penumpukan cairan pada payudara, pembengkakan dilengan

4. Perubahan warna pada kulit akibat radiasi atau timbulnya bercak merah hitam

5. Peradangan paru akibat radiasi

6. Kematian sel lemak dibawah jaringan payudara

7. Kanker tumbuh kembali (recurrence)

8. Kanker paru-paru, hati, tulang, otak dan kulit.


22

2.1.9 Pemeriksaan Penunjang Kanker Payudara (CA Mammae)

Demi mendukung pemeriksaan klinis dapat dilakukan pemeriksaan penunjang

berupa radiologi untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas terkait kondisi

payudara pasien. Selain itu pemeriksaan radiologi juga bisa digunakan untuk

kepentingan penentuan stadium. Adapun pemeriksaan radiologi yang dianjurkan

pada diagnosis kanker payudara yaitu : Mamografi, Ultrasonografi (USG), CT

Scan, Bone Tumor, dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) (Bonacho, T.,

Rodrigues, F., & Liberal, 2019).

1. Mamografi merupakan pemeriksaan dengan menggunakan sinar X yang

digunakan sebagai bagian dari skrining maupun diagnosis kanker payudara.

Mamografi memiliki sensitifitas pada pasein > 40 tahun, nauman kurang

sensisitif dan memiliki bahaya radiasi pada pasien < 40 tahun.

2. Ultrasonografi (USG) merupakan modalitas diagnosis dengan menggunakan

gelombang suara yang relatif aman, hemat biaya, dan tersedia secara luas.

Pemeriksaan ini aman dilakukan untuk menemukan ukuran lesi dan bisa

menentukan lesi berupa lesi kistik atau lesi solid. Pemeriksaan bersifat

operator dependent yaitu memerlukan ahli radiologi berpengalaman “man

behind the gun”.

3. CT scan merupakan pemeriksaan dengan sinar X yang divisualisasikan oleh

komputer. CT scan thoraks dengan kontras merupakan salah satu modalitas

untuk diagnosis kanker payudara. Selain itu, CT scan kepala juga dapat

memberikan keuntungan dalam penetuan metastasis ke otak.

4. Bone scanning merupakan pemeriksaan yang menggunakan bahan radioaktif.

Pada kanker payudara pemeriksaan ini menentukan ada atau tidaknya


23

metastasis kanker, serta keparahannya. Namun sudah tidak direkomendasikan

karena sulit dan memiliki efektifitas yang kurang.

5. Magnetic resonance imaging (MRI), memanfaatkan gelombang magnet. MRI

cocok dilakukan untuk pasien usia muda dan pasien dengan risiko kanker

payudara tinggi karena memberikan hasil yang sensitif pada tumor kecil.

Namun MRI ini belum digunakan secara luas karena biaya tinggi, dan durasi

waktu yang lama.

6. Melalui pemeriksaan radiologi dapat dilakukan Deteksi Morfologi Palpable

Massa Payudara untuk tingkat keparahan benjolan payudara yang mengacu

pada Breast Imaging Reporting and Data System (BIRADS) oleh American

College of Radiology (ACR)

Tabel 2. 1 Klasifikasi Breast Imaging Reporting and Data System


(BIRADS) Sumber (Bonacho, T., Rodrigues, F., & Liberal,
2019)
Kategori pemeriksaan

BIRADS 0 Inklompet

BIRADS 1 Negatif

BIRADS 2 Jinak

BIRADS 3 Kemungkinan jinak

BIRADS 4 Curiga ke arah aganas

BIRADS 5 Sangat curiga ganas

BIRADS 6 Hasil biopsi positif keganasan


24

7. Biopsi adalah gold standar pemeriksaan kanker payudara untuk memastikan

adanya keganasan atau tidak. Pengambilan sampel pemeriksaan biopsi dapat

dilakukan melalui (fine-needle aspiration biopsy, core biopsy, dan biopsi

terbuka).

a. Fine-Needle Aspiration Biopsy (FNAB) dilakukan dengan menggunakan

jarum halus no. 27, dimana sejumlah kecil jaringan tumor diaspirasi keluar

lalu diperiksa di bawah mikroskop. Jika lokasi tumor dapat diraba dengan

mudah, FNAB dapat dilakukan sambil meraba rumor. Namun bila

benjolan tidak teraba, ultrasonografi dapat digunakan untuk memandu

arah jarum.

b. Core Biopsy merupakan pengambilan jaringan biopsi menggunakan jarum

yang ukurannya cukup besar sehingga diperoleh spesimen jaringan

berbentuk silinder yang tentu saja lebih bermakna dibanding specimen dari

FNAB. Sama seperti FNAB, core biopsy dapat dilakukan sambil

memfiksasi massa dengan palpasi atau dengan bantuan ultrasonografi.

c. Biopsi terbuka dilakukan bila pada pemeriksaan radiologis ditemukan

kelainan yang mengarah ke keganasan namun hasil FNAB atau core

biopsy meragukan. Biopsi terbuka dapat dilakukan secara eksisional

maupun insisional. Biopsi eksisional adalah mengangkat seluruh massa

tumor dan menyertakan sedikit jaringan sehat di sekitar massa tumor,

sedangkan biopsi insisional hanya mengambil sebagian kecil tumor untuk

diperiksa secara patologi anatomi.


25

Selain biopsy, dari sampel dapat dilakukan pemeriksaan

Immunohistochemistry (IHC), yang merupakan pemeriksaan sitologi di bawah

mikroskop. Dari sel-sel ini dievaluasi faktor prognostik dan prediktif kanker

payudara, misalnya gen pro-proliferasi (HER2), reseptor hormone, dan gen.

Melalui IHC, tipe dan kompleksitas sel kanker dapat ditentukan (Bonacho,

2019).

2.1.10 Penatalaksanaan Kanker Payudara (CA Mammae)

Kanker payudara yang masih bisa diobati dengan cara di operasi yaitu

stadium IIIA. Sedangkan, terapi pada stadium IIIB dan IV tidak lagi dengan

mastektomi, melainkan pengobatan dengan paliatif (Bonacho, T., Rodrigues, F.,

& Liberal, 2019). Ada beberapa pengobatan pada kanker payudara tetapi

tergantung pada stadium klinik penyakit kanker payudara tersebut:

1. Pembedahan atau operasi

Dilakukan pada kanker payudara yang ditemukan adanya benjolan lebih

dini pada payudara, maka semakin dini kanker payudara ditemukan maka

semakin besar kemungkinan untuk sembuh setelah menjalani operasi. Jenis

operasi yang dilakukan untuk mengobati kanker payudara yaitu mastektomi

dan pengangkatan kelenjar getah bening (KGB).

2. Radiasi atau penyinaran

Radiasi adalah proses penyinaran yang dilakukan pada daerah yang

terkena kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma tindakan ini

bertujuan untuk membunuh sel kanker yang masih tersisa di payudara.


26

3. Kemoterapi

Kemoterapi merupakan tindakan kanker payudaraa dengan cara pemberian

obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil cair atau kapsul melalui infus, ini

bertujuan untuk membunuh sel kanker yang ada di seluruh tubuh bukan hanya

dibagian payudara saja.

2.2 Konsep Tindakan Mastektomi

2.2.1 Pengertian Mastektomi

Operasi kanker payudara yang mengangkat seluruh payudara. Mastektomi

mungkin dilakukan ketika seorang wanita tidak dapat diobati dengan operasi

konservasi payudara (lumpektomi), yang menyelamatkan sebagian besar payudara.

Jika seorang wanita memilih mastektomi daripada operasi konservasi payudara

untuk pribadi alasan. Untuk wanita yang sangat berisiko terkena kanker payudara

kedua yang terkadang memilih untuk menjalani mastektomi ganda (pengangkatan

kedua payudara) (Cancer, 2021).

Usia, kesehatan secara keseluruhan, status menopause, ukuran tumor,

stadium tumor dan luas penyebaran, stadium tumor dan tingkat keganasan, status

reseptor hormon tumor, dan apakah tumor telah bermigrasi ke kelenjar getah

bening, semuanya mempengaruhi jenis mastektomi dan pengobatan kanker

payudara, menurut Kozier (Cancer, 2021).


27

2.2.2 Kemungkinan Efek Samping Dari Mastektomi

Pendarahan dan infeksi di tempat operasi dimungkinkan dengan semua

operasi. Efek samping mastektomi dapat bergantung pada jenis mastektomi yang

Anda miliki (operasi kompleks cenderung memiliki lebih banyak efek samping)

(Cancer, 2021). Efek samping dapat meliputi :

1. Sakit atau nyeri tekan di tempat operasi

2. Pembengkakan di tempat operasi

3. Penumpukan darah di luka (hematoma)

4. Penumpukan cairan bening di luka (seroma)

5. Pergerakan lengan atau bahu terbatas

6. Mati rasa di dada atau lengan atas

7. Nyeri neuropatik (saraf) terkadang digambarkan sebagai nyeri terbakar atau

tertusuk) di dinding dada, ketiak, dan atau lengan yang tidak hilang seiring

waktu. Ini juga disebut sindrom nyeri pasca mastektomi.

8. Jika kelenjar getah bening aksila juga diangkat, efek samping lain seperti

lymphedema mungkin terjadi.

2.2.3 Perawatan setelah mastektomi

Beberapa wanita mungkin mendapatkan perawatan lain setelah mastektomi,

seperti terapi hormon untuk membantu menurunkan risiko kanker kembali.

Beberapa wanita mungkin juga memerlukan kemoterapi, atau terapi yang

ditargetkan setelah operasi. Jika demikian, terapi radiasi dan atau terapi hormon

biasanya ditunda sampai kemoterapi selesai. Bicaralah dengan dokter tentang apa

yang diharapkan (Cancer, 2021).


28

2.3 Konsep Salphingo Oophorectomi Bilateral Pada Kanker Payudara

2.3.1 Definisi

Suatu tindakan pembedahan dengan cara mengangkat ovarium kanan dan

kiri sebagai bagian dari terapi hormonal kanker payudara

2.3.2 Ruang lingkup

Kelenjar ovarium kanan dan kiri

2.3.3 Indikasi operasi

Wanita premenopause dengan kanker payudara stadium lanjut lokal atau

lanjut jauh yang pada pemeriksaan imunohistokimia menunjukkan hasil reseptor

hormonal yang positif (ER dan atau PR).Wanita premenopause dengan kanker

payudara stadium lanjut lokal atau lanjut jauh yang tidak memungkinkan

diperiksa reseptor hormonalnya karena fasilitas pemeriksaan yang tidak

[Link] premenopause dengan kanker payudara yang mengalami

kekambuhan lokal atau sistemik dengan reseptor hormonal (ER dan atau PR) yang

positif.

2.3.4 Kontra indikasi operasi

1. Wanita post menopause

2. Penderita dengan komorbiditas yang berat

3. Tidak ada data mengenai reseptor hormonal (?)

4. Modalitas terapi hormonal pada penderita kanker

payudara Surgery : salphingo oophorectomi bilateral

Non surgery : radio kastrasi

Medical ablation : injeksi zoladex, tapros


29

2.3.5 Pemeriksaan penunjang

1. pemeriksaan imunohistokimia (ER,PR) dari kanker payudara

2. USG abdomen : melihat adanya kelainan dalam ovarium

3. Setelah memahami, menguasai dan mengerjakan modul ini maka diharapkan

seorang dokter ahli bedah mempunyai kompetensi melakukan operasi

salphingo oophorectomi bilateral serta penerapannya dapat dikerjakan di RS

Pendidikan dan RS jaring pendidikan.

2.3.6 Prosedur

2.3.7 Komplikasi operasi

1. Dini : perdarahan dari pembuluh darah ovarium, ileus paralitik

2. lambat : adesi.
30

2.3.8 Perawatan Pasca Bedah

1. Sadar baik boleh minum sedikit sedikit kemudian diet bebas

2. Kateter segera dilepas setelah penderita mobilisasi

3. Evaluasi ILO hari 3, 5, 7

4. Luka operasi diangkat pada hari 10 s/d 14

2.3.9 Follow up

1. Terhadap tindakan operasinya

2. Terhadap respon tumornya setelah dilakukan terapi hormonal.

2.4 Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ca Mammae

2.4.1 Pengkajian

Pengkajian keperawatan merupakan tahap awal dari proses keperawatan

dimana pengkajian ini mencakup pengumpulan data subjektif dan objektif (misal

tanda vital, anamnesis pasien atau keluarga, pemeriksaan fisik) dan peninjauan

informasi riwayat pasien yang diberikan oleh keluarga atau pasien, atau yang

ditemukan pada rekam medik (Herdman, 2018) :

1. Identitas

a. Identitas Pasien : pada penyakit kanker payudara kejadian tertinggi pada

usia 40-49 tahun, sedangkan untuk usia dibawah 35 tahun hanya 3%.

Sering terjadi pada perempuan, kanker payudara jarang terjadi pada pria

dan hanya terhitung 1% dari seluruh kasus kanker payudara (Cardoso, et

all, 2019). Serta mengkaji alamat, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa,

agama, status perkawinan, alamat, tanggal masuk RS (Rumah Sakit),

diagnosis medis, dan nomor RM (Rekam Medik).


31

b. Identitas Penanggungjawab: yang dikaji meliputi nama, umur, alamat,

pendidikan, pekerjaan, dan hubungan dengan klien.

2. Keluhan Utama

Pada pasien Ca mammae keluhan umum yang dikeluhkan pasien adalah

adanya benjolan pada payudara, kadang disertai nyeri atau tidak nyeri,

bengkak dan pada stadium lanjut disertai pengeluaran abnormal dan

perubahan dalam bentuk dan penampakan payudara tidak simetris, kulit

payudara seperti kulit jeruk (peau d’orange putting tertarik kedalam).

3. Riwayat Penyakit Sekarang

a. Pasien mengatakan terasa nyeri pada payudara saat benjolan mulai

membesar

b. Pasien mengatakan timbul benjolan pada payudara yang dapat diraba

dengan tangan, makin lama benjolan ini makin mengeras dan

bentuknya tidak beraturan.

c. Pasien mengeluh keluar pus atau nanah, darah atau cairan encer dari

papilla mammae pada wanita yang tidak hamil

d. Kulit payudara seperti kulit jeruk (mengerut) akibat neoplasma

menyekat drainase limfatik sehingga terjadi edema dan piting kulit

e. Pasien mengatakan tubuhnya terasa lemah, tidak nafsu makan, mual,

muntah, dan cemas (ansietas)

f. Terdapat edema pada lengan atau kelainan kulit, ruam kulit, dan

ulserasi.
32

4. Riwayat Keperawatan Dahulu

Kaji riwayat penyakit yang sama sebelumnya seperti penyakit tumor

payudara jinak, kaji riwayat pemakaian terapi hormone, kaji riwayat

pemakaian kontrasepsi oral, kaji riwayat merokok, konsumsi alkohol,

tinggi kadar lemak, dan makanan yang menggunakan penyedap rasa dan

pengawet, kaji riwayat menarche atau menstruasi pertama pada usia yang

relatif muda dan menopause pada usia yang relatif lebih tua, kaji riwayat

nulipara (belum pernah melahirkan), infertilitas dan melahirkan anak

pertama pada usia yang relatiflebih tua (lebih dari 35 tahun), serta tidak

menyusui bayinya

5. Riwayat Kesehatan Keluarga

Kaji riwayat keluarga tingkat pertama yang menderita kanker (orang

tua, anak, atau saudara kandung). Wanita dengan satu keluarga tingkat

pertama dengan kanker payudara memiliki risiko 1,75 kali lipat lebih

tinggi terkena penyakit ini dibandingkan wanita tanpa kerabat yang

terkena. Risiko menjadi 2,5 kali lipat atau lebih tinggi pada wanita yang

memiliki dua atau lebih kerabat tingkat pertama yang menderita kanker

payudara (Sun, et al, 2017) . Riwayat keluarga dari sisi yang sama yan

terkena kanker payudara. Adanya riwayat kanker payudara bilateral pada

keluarga.
33

6. Riwayat Sosial

a. Kaji riwayat pekerjaan pasien

Wanita yang bekerja shift malam berisiko mengalami kanker

payudara. Hal tersebut berkaitan dengan perubahan melatonin (Youn, H.

J., & Han, 2020).

b. Kaji riwayat dimana pasien tinggal

Kaji apakah klien tinggal di tempat yang dekat dengan pabrik

logam, manufaktur bahan-bahan plastik untuk otomotif, industri

pengalengan makanan dan pertanian. Zat tertentu dalam bahan

tersebut memiliki sifat seperti estrogen (Youn, H. J., & Han, 2020).

7. Pola Fungsi Kesehatan

a. Pola Nutrisi

Pada pasien dengan kanker payudara tidak ada pantangan tentang

makan, pada metabolisme terjadi perubahan yaitu terjadi peningkatan

nafsu makan dan penurunan berat badan.

b. Pola Aktivitas

Pada pasien pre op tidak ada terbatasan untuk aktivitas semua

dilakukan seperti biasa, mungkin pada post op pasien bisa terjadi

keterbatasan aktivitas karena proses pembedahan.

c. Pola Eliminasi

Pemenuhan kebutuhan eliminasi baik BAB maupun BAK tidak

terdapat gangguan, kalaupun ada mungkin disebabkan faktor lain.


34

8. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan umum

Pada pasien sebelum operasi Ca Mammae biasanya tidak terjadi

penurunan kesadaran (composmentis), untuk pemeriksaan tanda-tanda vital

yang dikaji yaitu tekanana darah, suhu, nadi, respirasi. Tekanan darah

menurun, nadi cepat, suhu dingin, pernapasan lemah sehingga

pengembalian darah 48 jam pertama tidak adekuat.

b. Pemeriksaan Persistem

Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada pasien dengan adalah

sebagai berikut :

1) B1 (Breathing)

Pola nafas irregular (RR> 22x/menit), dispnea, pasien belum

sadar dilalukan evaluasi seperti pola nafas, tanda-tanda obstruksi,

pernafasan cuping hidung frekuensi nafas, pergerakan rongga dada

apakah simetris atau tidak, suara nafas tambahan apakah tidak ada

obstruksi total, udara nafas yang keluar dari hidung, sianosis pada

eksternitas, auskultasi adanya wheezing atau ronkhi. Kepatenan jalan

nafas kedalaman, frekuensi dan karakter permalasan sifat dan bunyi

nafas merupakan hal yang harus dikaji pada klien dengan Ca Mammae.

2) B2 (Blood)

Pada sistem kardiovaskular dinilai tekanan darah, nadi, perfusi

perifer dan sering terjadi irama jantung irregular akibat pasien syok

dan terjadinya tekanan darah tinggi.


35

3) B3 (Brain)

Pada sistem saraf pusat dinilai kesadaran pasien dengan GCS

(Glasglow Coma Scale) dan perhatikan gejala kenaikan TIK 4 Klien

mengalami gangguan pada otak ada terjadi pendarahan dan juga

mengalami penurunan kesadaran.

4) B4 (Bladder)

Pada pasien Ca mammae dilakukan pemeriksaan urin kuantitas,

warna, kepekatan urine, untuk menilai apakah pasien masih dehidrasi,

apakah ada kerusakan ginjal dan keluhan lainnya.

5) B5 (Bowel)

Klien biasanya mengalami mual dan muntah. Pada palpasi

abdomen ditemukan sakit kepala berlebihan penurunan tingkat

kesadaran merupakan tanda utama (Intra Cerebral Hemorrhage) ICH.

6) B6 (Bone)

Aktivitas klien biasanya mengalami perubahan. Klien sering

merasa kelemahan, kelelahan, tidak dapat melakukan kegiatan pola

hidup menetap dan jadwal olahraga teratur, perubahan pestur tubuh.

2.4.2 Diagnosis Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan penekanan syaraf (SDKI, D.0078, Hal: 174)

2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek samping terapi radiasi

(SDKI, D.0129, Hal: 282)

3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubhana struktur atau bentuk

tubuh (Ca Mammae) (SDKI, D.0083, Hal: 186).


2.4.3 Intervensi Keperawatan

Tabel 2. 2 Intervensi Keperawatan


Diagnosa
No Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi Rasional
Keperawatan
1. Nyeri akut Setelah dilakukan intervensi Nyeri akut (SIKI, Hal: 485) Intervensi Manajemen nyeri (SIKI, 1.08238, Hal:
berhubungan keperawatan selama 1 X 24 jam utama 201)
dengan agen maka nyeri akut menurun dengan Manajemen nyeri (SIKI, 1.08238, Hal: 201) Observasi
pencedera fisik kriteria hasil (SLKI, Hal: 174): Observasi 1. Untuk mengetahui lokasi,
(prosedur operasi) Luaran utama 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, karakteristik, durasi, frekuensi
(SDKI, D.0078, Tingkat nyeri (SLKI, L.08066, Hal: frekuensi, kualitas, intensitas nyeri dan intensitas nyeri
Hal: 174) 145) 2. Identifikasi skala nyeri 2. Agar kita mengetahui tingkat
1. Kemampuan menuntaskan 3. Identifikası respons nyeri non verbal cedera yang dirasakan oleh
aktifitas meningkat (5) 4. Identifikasi faktor yang memperberat pasien
2. Keluhan nyeri menurun (5) dan memperingan nyeri 3. Agar kita mengetahui
3. Meringis menurun (5) 5. Identifikasi pengetahuan dan tingkatan nyeri yang
4. Sikap protektif menurun (5) keyaninan tentang nyeri sebenarnyadirasakan pasien
5. Gelisah menurun (5) 6. Identifikasi pengaruh budaya terhadap 4. Agar kita dapat mengurangi
6. Kesulitan tidur menurun (5) respon nyeri faktor yang dapat
7. Menarik diri menurun (5) 7. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas memperparah nyeri yang
8. Berfokus pada diri sendiri hidup dirasakan oleh pasien

36
menurun (5) 8. Monitor keberhasilan terapi 5. Agar kita mengetahui sejauh
9. Diaforesis menurun (5) komplementer yang sudah diberikan mana pemahaman dan
10. Perasaan depresi (tertekan) 9. Monitor efek samping penggunaan pengetahuan pasien terhadap
menurun (5) analgetik nyeri yang dirasakan
11. Perasaan takut mengalami Terapeutik 6. Karena budaya pasien dapat
cedera berulang menurun (5) 1. Berikan teknik nonfarmakologis mempengaruhi bagaimana
12. Anoreksia menurun (5) untuk mengurangi rasa nyeri (mis. pasien mengartikan nyeri itu
13. Perineum terasa tertekan TENS, hipnosis, akupresur, terapi sendiri
menurun (5) musik, biofeedback, terapi pijat, 7. Untukmencegah terjadinya
14. Uterus teraba membulat aromaterapi, teknik imajınasi penurunan kualitas hidup dari
menurun (5) terbimbing, kompres hangat atau pasien itu sendiri
15. Ketegangan otot menurun (5) dingin, terapi bermain) 8. Agar kita mengetahui sejauh
16. Pupil dilatasi menurun (5) 2. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa mana kemajuan yang dialami
17. Muntah menurun (5) nyeri (mis. suhu ruangan, pencahayaan pasien setelah dilaukan terapi
18. Mual menurun (5) kebisıngan) komplementer
19. Frekuensi nadi membaik (5) 3. Fasilitasi Istirahat dan tidur 9. Agar ketika timbul ciri-ciri
20. Pola napas membaik (5) 4. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri abnormal pada tubuh pasien
21. Tekanan darah membaik (5) dalam pemilihan strategi meredakan kita dapat menghentikan
22. Proses berpikir membaik (5) nyeri pemberian obat analgesic
23. Fokus membaik (5) Edukasi sendiri
1. Jelaskan penyebab, periode, dan
pemicu nyeri
37
24. Fungsi berkemih membaik (5) 2. Jelaskan strategi meredakan nyeri Terapeutik
25. Perilaku membaik (5) 3. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri 1. Agar pasien dapat mengetahui
26. Napsu makan membaik (5) 4. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk kondisinya
27. Pola tidur membaik (5) mengurangi rasa nyeri 2. Agar dapat mengurangi nyeri
Kolaborasi 3. Agar nyeri tidak memburuk
1. Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu 4. Agar kebutuhan tidur pasien
terpenuhi
5. Agar tindakan kita kepada
pasien sesuai
Edukasi
1. Agar pasien dapat menghindar
2. Agar pasien dapat meredakan
nyeri secara mandiri
3. Agar ketika nyeri yang
dirasakan klien parah dapat
memberitahu keluargaatau
tenaga medis
4. Agar pasien dapat
menghilangkan nyeri dengan
menggunakan obat

38
Kolaborasi
1. Agar rasa nyeri dirasakan
pasien dapat dihilangkan atau
dikurangi
2. Gangguan Setelah dilakukan intervensi Gangguan integritas kulit (SIKI, Hal: 460) Perawatan integritas kulit (SIKI,
integritas kulit keperawatan selama 1 X 24 jam Intervensi utama 1.11353, Hal: 316)
berhubungan maka integritas kulit meningkat Perawatan integritas kulit (SIKI, 1.11353, Hal: Observasi
dengan dengan kriteria hasil (SLKI, Hal: 316) 1. Untuk mengetahui penyebab
efek 158): Observasi gangguan integritas kulit
samping terapi Luaran utama 1. Identifikasi penyebab gangguan integritas Terapeutik
radiasi (SDKI, Integritas kulit dan jaringan kulit (mis, perubahan sirkulasi, perubahan 1. Untuk mengetahui posisi tiap 2
D.0129, Hal: 282) (SLKI, L.14125, Hal: 33) status nutrisi, penurunan kelembaban, suhu jam jika tirah baring
1. Elastisitas meningkat (5) lingkungan ekstrem, penurunan mobilitas) 2. Untuk mengetahui
2. Hidrasi meningkat (5) Terapeutik pemijatanpada penonjolan
3. Perfusi jaringan meningkat (5) 1. Ubah posisi tiap 2 jam jika tirah baring tulang
4. Kerusakan jaringan menurun 2. Lakukan pemijatan pada area penonjolan 3. Gunakan produk berbhan
(5) tulang, jika perlu Bersihkan perineal petroleum atau minayka pada
5. Kerusakan lapisan kulit dengan air hangat, terutama selama kulit kering
menurun (5) periode diare 4. Agar pasien mengetaui
6. Nyeri menurun (5) 3. Gunakan produk berbahan petrolium atau produkberbahan ringan atau

39
7. Perdarahan menurun (5) minyak pada kulit kering alami dan hipoalergik pada kulit
8. Kemerahan menurun (5) 4. Gunakan produk berbahan ringan/alami sensitive
9. Hematoma menurun (5) dan hipoalergik pada kulit sensitive 5. Agar pasien hindari produk
10. Pigmentasi abnormal 5. Hindari produk berbahan dasar alkohol bahan alcohol pada kulit kering
menurun (5) pada kulit kering Edukasi
11. Jaringan parut Nekrosis Edukasi 1. Agar pasien menggunakan
menurun (5) 1. Anjurkan menggunakan pelembab pelembab
12. Abrasi kornea menurun (5) (mis, lotion, serum) 2. Agar pasien minum air yang
13. Suhu kulit membaik (5) 2. Anjurkan minum air yang cukup cukup
14. Sensasi membaik (5) 3. Anjurkan meningkatkan asupan buah dan 3. Agar pasien meningkatkan
15. Tekstur membaik (5) sayur asupan buah dan sayur
16. Pertumbuhan rambut 4. Anjurkan menghindari terpapar suhu 4. Agar pasien menghindari
membaik (5) ekstrem terpapar suhu ekstrem
5. Anjurkan menggunakan tabir surya SPF 5. Agar pasien menggunakan tabir
minimal 30 saat berada di luar rumah surya SPF minimal 30 saat
6. Anjurkan mandi dan menggunakan sabun berada di luar rumah
secukupnya 6. Agar pasien mandi dan
menggunakan sabun secukupnya

40
3. Gangguan citra Setelah dilakukan intervensi Gangguan citra tubuh (SIKI, Hal: 459) Promosi citra tubuh (SIKI, 1.09305,
tubuh berhubungan keperawatan selama 1 X 24 jam Intervensi utama Hal: 359)
dengan perubahan maka citra tubuh meningkat Promosi citra tubuh (SIKI, 1.09305, Hal: 359) Observasi
struktur atau dengan kriteria hasil (SLKI, Hal: Observasi 1. Agar perawat tahu harapan citra
bentuk tubuh (Ca 157): 1. Identifikasi harapan citra tubuh tubuh pasien berdasarkan tahap
Mammae) (SDKI, Luaran utama berdasarkan tahap perkembangannya
D.0083, Hal: 186) Citra tubuh (SLKI, L.09067, Hal: perkembangan 2. Agar perawat tahu budaya
19) 2. Identifikasi budaya, agama, jenis kelamin, agama jenis tubuh dan umur
1. Melihat bagian tubuh dan umur terkait citra tubuh yang terkait dengan citra tubuh
membaik (5) 3. Identifikasi perubahan citra tubuh yang pasien di lingkungannya
2. Menyentuh bagian tubuh mengakibatkan isolasi sosial 3. Agar perawat tahu perubahan
membaik (5) 4. Monitor frekuensi pernyataan kritik citra tubuh yang mana yang
3. Verbalisasi kecacatan bagian terhadap diri sendiri dapat mengakibatkan pasien
tubuh membaik (5) 5. Monitor apakah pasien bisa melihat bagian melakukan isolasi sosial
4. Verbalisasi kehilangan bagian tubuh yang berubah 4. Diharapkan klien mampu
tubuh membaik (5) Terapeutik mengetahui apa yang
5. Verbalisasi perasaan negatif 1. Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya menjadikan klien merasa kurang
tentang perubahan tubuh 2. Diskusikan perbedaan penampilan fisik akan diriya
menurun (5) terhadap harga diri 5. Diharapkan pasien dapat
6. Verbalisasi kekhawatiran 3. Diskusikan perubahan akibat pubertas, mengetahui dan paham tentang
kehamilan dan penuaan

41
pada penolakan atau reaksi 4. Diskusikan kondisi stres yang bagian tubuhnya yang berubah
orang lain menurun (5) mempengaruhi citra tubuh (mis, luka, Terapeutik
7. Verbalisasi perubahan gaya penyakit, pembedahan) 1. Pasien mengerti perubahan
hidup menurun (5) 5. Diskusikan cara mengembangkan harapan tubuhnya akan berpengaruh juga
8. Menyembunyikan bagian citra tubuh secara realistis pada fungsi tubuhnya sendiri
tubuh berlebihan menurun (5) 6. Diskusikan persepsi pasien dan 2. Merasa lebih percaya diri pada
9. Menunjukkan bagian tubuh keluarga tentang perubahan citra tubuh penampilan fisiknya
berlebihan menurun (5) Edukasi 3. Klien mengerti bahwa pubertas,
10. Fokus pada bagian tubuh 1. Jelaskan kepada keluarga tentang kehamilan dan penuaan juga
menurun (5) perawatan perubahan citra tubuh akan mempengaruhi citra
11. Fokus pada penampilan masa 2. Anjurkan mengungkapkan gambaran diri dirinya
lalu menurun (5) terhadap citra tubuh 4. Pasien merasa tenang setelah
12. Fokus pada kekuatan masa 3. Anjurkan menggunakan alat bantu (mis. diajak diskusi tentang pemicu
lalu menurun (5) pakaian, wig, kosmetik) stress pada dirinya
13. Respon nonverbal pada 4. Anjurkan mengikuti kelompok pendukung 5. Pasien dapat merasa lebih lega
perubahan tubuh membaik (5) (mis. kelompok sebaya) dengan kondisi yang dialami
14. Hubungan sosial membaik (5) 5. Latih fungsi tubuh yang dimiliki 6. Pasien dan keuarga dapat
6. Latih penampilan diri (mis. berdandan) mengetahui tentang apa yang
7. Latih pengungkapan kemampuan diri diharapkannya
kepada orang lain maupun kelompok

42
Edukasi
1. Keluarga dapat mendukung
pasien untuk melakukan
perawatan pada perubahan citra
tubuh
2. Pasien dapat mengungkapkan
tentang arti dirinya
3. Pasien merasa lebih percaya diri
dengan menggunakan alat bantu
4. Apsein merasa lebih bersengata
menjalani hidup dengan
mengikuti kelompok pendukung
5. Diharapkan pasien semakin hari
akan semakin membaik
kondisinya
6. Lebih percaya diri terhadap
penampilannya
7. Pasien diharapkan dapat
berosialisasi dengan orang lain

43
44

2.4.4 Implementasi Keperawatan

Menurut Rendy (2019), pelaksanaan keperawatan merupakan sebuah fase

dimana perawat melaksanakan rencana yang sudah dilaksanakan sebelumnya.

Pelaksanaan keperawatan membutuhkan fleksibilitas dan kreativitas perawat.

Sebelum melakukan suatu tindakan, perawat harus mengetahui alasan mengapa

tindakan tersebut dilakukan. Beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya

tindakan keperawatan yang dilakukan harus sesuai dengan tindakan yang sudah

direncanakan, dilakukan dengan cara yang tepat, aman, serta sesuai dengan

kondisi pasien, selalu dievaluasi mengenai keefektifan dan selalu

mendokumentasikan menurut urutan waktu. Aktivitas yang dilakukan pada tahap

pelaksanaan dimulai dari pengkajian lanjutan, membuat prioritas, menghitung

alokasi tenaga, memulai intervensi keperawatan, dan mendokumentasikan

tindakan dan respon klien terhadap tindakan yang telah dilakukan (Padila, 2019).

Pelaksanaan merupakan tahap ke empat dari proses keperawatan yang dimulai

setelah perawat menyusun rencana keperawatan. Dengan rencana keperawatan

yang dibuat berdasarkan diagnosis yang tepat, intervensi diharapkan dapat

mencapai tujuan dan hasil yang diinginkan untuk mendukung dan meningkatkan

status kesehatan pasien. Tujuan dari implementasi adalah membantu pasien dalam

mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan,

pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan, dan memfasilitasi koping.

Perencanaan asuhan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik, jika klien

mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan asuhan

keperawatan.
45

Selama tahap pelaksanaan, perawat terus melakukan pengumpulan data dan

memilih asuhan keperawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan pasien.

Jenis-jenis tindakan pada tahap pelaksanaan adalah (Padila, 2019):

1. Secara mandiri (Independent)

Tindakan yang diprakarsai oleh perawat membantu pasien dalam

mengatasi masalahnya dan menanggapi reaksi karena adanya stressor.

2. Saling ketergantungan (Interdependent)

Tindakan keperawatan atas dasar kerja sama tim keperawatan dengan tim

kesehatan lainnya seperti: dokter, fisioterapi, dan lainlain.

3. Rujukan atau ketergantungan (Dependent)

Tindakan keperawatan atas dasar rujukan dan profesi lainnya diantaranya

dokter, psikiatri, ahli gizi, dan lainnya.

2.4.5 Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan adalah tahap akhir dari proses keperawatan untuk

mengukur respon klien terhadap tindakan keperawatan dan kemajuan respons

klien kearah pencapaian tujuan. Evaluasi dapat berupa evaluasi struktur, proses

dan hasil. Evaluasi terdiri dari evaluasi formatif yaitu menghasilkan umpan balik

selama program berlangsung. Evaluasi sumatif dilakukan setelah program selesai

dan mendapatkan informasi efektivitas pengambilan keputusan (Rasyid, 2018).


46

Menurut Rasyid (2018), evaluasi asuhan keperawatan didokumentasikan

dalam bentuk SOAP (subyektif, obyektif, assessment, planning). Komponen

SOAP yaitu:

1. S (Subyektif) dimana perawat menemukan keluhan klien yang masih dirasakan

setelah dilakukan tindakan.

2. O (Obyektif) adalah data yang berdasarkan hasil pengukuran atau observasi

klien secara langsung dan dirasakan setelah selesai tindakan keperawatan.

3. A (Assesment) adalah kesimpulan dari data subyektif dan obyektif (biasanya

ditulis dala bentuk masalah keperawatan).

4. P (Planning) adalah perencanaan keperawatan yang akan dilanjutkan

dihentikan, dimodifikasi atau ditambah dengan rencana kegiatan yang sudah

ditentukan sebelumnya.
BAB 3

TINJAUAN KASUS

Untuk mendapatkan gambaran nyata tentang pelaksanaan asuhan

keperawatan pada pasien dengan diagnosa medis Kanker Payudara (Ca Mammae)

Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari Ke 1, maka penulis menyajikan suatu kasus

yang penulis amati mulai 02 Desember 2022 sampai dengan 04 Desember 2022.

Data diperoleh dari wawancara dengan pasien serta keluarga pasien dan rekam

medis sebagai berikut.

3.1 Pengkajian

3.1.1 Data Dasar

Pasien bernama Ny. A berusia 39 tahun, lahir pada tanggal 09 September

1983, beragama islam. Tinggal di Sidoarjo dan pekerjaan Ny. A ibu rumah tangga

sedangkan suami Ny. A pedagang. Pasien MRS tanggal 15 November 2022 di

ruang H1 RSPAL Dr. Ramelan Surabaya.

3.1.2 Keluhan Utama

Pada saat dilakukan pengkajian tanggal 02 Desember 2022 kondisi pasien

lemah, terdapat luka pada bagian dada sebelah kanan (luka post op mastektomi)

mengeluh nyeri di dada sampai ke punggung.

3.1.3 Riwayat Penyakit Sekarang

Keluhan utama masuk rumah sakit adalah sesak napas, sesak napas terjadi

pada sekitar pukul 06.00 wib, saat pasien ingin menyapu halaman depan rumah

dada terasa ada tahanan dan membuat pasien sampai sesak napas. Kemudian

pasien mulai lemas dan bersandar pada tembok di halaman depan rumahnya, saat

itu hanya ada anak perempuannya yang melihat kejadian tersebut, pasien sempat

47
48

napas tidak teratur langsung di bawa ke IGD RSPAL dr. Ramelan Surabaya pada

pukul 07.00 wib, kemudian dilakukan tindakan yaitu pasien terpasang O₂ nasal

kanul 5 lpm dan kebutuhan cairan pasien NS 500 ml/24 jam, pasien

composmentis, GCS E3V4M5. Reflek cahaya (+/+), diameter pupil 3mm/3mm,

Babinski -/-, tekanan darah 110/70 mmHg, suhu 36,4ºC, frekuensi nadi 94x/menit,

saturasi oksigen 99%, respiratory rate 22x/menit, kejang tidak ada. Data diatas

tersebut diambil dari rekam medis pasien. Pada jam 17.00 pasien dipindahkan ke

ruang perawatan H1 bedah, memberikan tindakan maintenance atau tetap

dipertahankan pengobatan yang diberikan IGD RSPAL dr. Ramelan Surabaya dan

dilakukan tindakan prosedur operasi pada tanggal (01 Desember 2022) yang

sudah terlaksana. Keluhan saat dilakukan pengkajian pada tanggal 02 Desember

2022 adalah nyeri di payudara sebelah kanan dan punggung setelah post operasi

hari pertama, kesadaran Composmentis, GCS E4V5M6.

3.1.4 Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat penyakit 3 bulan yang lalu didiagnosa penyakit gastritis saat

periksa di Puskesmas Waru, dan riwayat hipertensi. Pasien mempunyai riwayat

kebiasaan minum air es dalam sehari-hari.

Pasien pernah menjalani pemeriksaan FNAB dan MRI, hasil pemeriksaan

FNAB pada tanggal 10 Oktober 2022 dengan kesimpulan mammae dextra, FNAB

Infiltrating Ductal Carcinoma. Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada tanggal

14 Oktober 2022 didapatkan Corpus vertebra cervico-thoraco-lumbososacral

dengan melibatkan pedicle et processus transversus et lamina bilateral. Serta

hingga ke iliac wing kanan kiri (yang tervisualisasi, incidental finding). Destruksi
49

corpus VTh 12 dengan retropuls fragmen ke canal spinalis, disertai paraspinal

soft tissue mass sisi kiri. Epidural metastasis level VTh 5-12.

3.1.5 Riwayat Keluarga

x x

Gambar 3. 1 Genogram Keluarga Ny. A

: Perempuan : Meninggal
: Laki-laki : Pasien

: Tinggal serumah : Sedarah

pasien mengatakan pasien anak ke 4 dari 6 bersaudara pasien saat ini

berumur 39 tahun, tinggal serumah dengan suami dan anak-anaknya. Pasien

mengatakan suami anak tunggal ibu dan bapaknya sudah lama meninggal,

memiliki 5 anak yang pertama perempuan dan keempat anak lainnya laki-laki,

meninggal dunia satu.

3.1.6 Riwayat Sosial

Ny. A mengatakan hubungan dengan keluarga sangat baik, ayah dan ibu

dari Ny. A sering berkunjung ke rumah Ny. A. Selama di ruang H1 RSPAL dr.

Ramelan Surabaya pasien di rawat oleh dokter dan perawat. Pasien dalam keadaan

bedrest atau masih dalam keadaan tirah baring, terpasang infus di tangan kanan,

kateter urine dan O2 jika dibutuhkan pasien.


50

3.1.7 Keadaan Umum (Penampilan Umum)

1. Cara Masuk

Pasien masuk RSPAL dr. Ramelan Surabaya melalui IGD pada tanggal

15 November 2022 pada pukul 07.00 wib dengan keluhan sesak napas, badan

lemas saat dilakukan anamnesa pasien composmentis, pasien tampak pucat,

konjungtiva anemis GCS E3V4M5. Reflek cahaya (+/+), diameter pupil

3mm/3mm, tekanan darah 110/70 mmHg, suhu 36,4ºC, frekuensi nadi

94x/menit, saturasi oksigen 99%, respiratory rate 22x/menit, kejang tidak ada.,

kejang tidak ada. Diberi tindakan pemasangan O₂ nasal kanul dan kebutuhan

cairan pasien NS 500 ml.

2. Keadaan Masuk

Pasien tampak lemah, composmentis, gerak reflek spontan, turgor kulit

baik, terpasang O2 nasal kanul, infus pada tangan kiri dengan cairan NS 500

ml dan observasi TTV di ruangan H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya tekanan

darah 110/70 mmHg, suhu 36,4ºC, frekuensi nadi 94x/menit, saturasi oksigen

99%, respiratory rate 22x/menit, kejang tidak ada.

3.1.8 Pemeriksaan Fisik

Tekanan darah 124/85 mmHg, suhu 36,4ºC, frekuensi nadi 80 x/menit,

saturasi oksigen 98%, respiratory rate 20x/menit. Tinggi badan 150cm dan berat

badan 80kg.

1. B1 (Breath/ Pernapasan)

Dari hasil wawancara didapatkan hasil pemeriksaan pasien mengatakan

tidak terdapat sesak nafas, pemeriksaan Inpeksi diperoleh data pasien

memiliki bentuk dada normochet napas spontan, pergerakan dada simetris,


51

tidak terdapat otot bantu napas tambahan, tidak terdapat pernapasan cuping

hidung, irama napas regular, pola napas eupnea, tidak batuk, tidak ada sputum

dan tidak ada sianosis, RR 20 x/menit, tidak ada sianosis, tidak ada nyeri

tekan. Pada pemeriksaan palpasi didapatkan suara nafas vesikuler, pada

pemeriksaan auskultasi tidak terdapat suara roncki/wheezing.

2. B2 (Blood/ Sirkulasi)

Dari hasil pemeriksaan didapatkan konjungtiva tidak anemis, wajah

terlihat tidak pucat, mata tidak cowong, tidak ada pembesaran vena jugularis,

pergerakan ictus cordis terlihat, tidak terdapat odema, tidak terdapat sianosis.

Pada pemeriksaan Palpasi didapatkan akral teraba hangat, kering, merah, CRT

<2 detik, ictus cordis teraba (ICS V MID clavicula sinistra), nadi teraba

reguler dan kuat 100x/menit, sklera konjungtiva normal, tidak ada nyeri tekan

di dada. Pada saat pemeriksaan Perkusi didapatkan suara pekak, pada

pemeriksaan Auskultasi didapatkan irama jantung reguler, bunyi jantung

S1/S2 tunggal. Pasien terpasang CVC di klavikula sebelah kanan sambung

infus NS 500 ml/24 jam.

3. Pemeriksaan fisik B3 (Brain/ Persarafan)

Pada pemeriksaan inpeksi didapatkan hasil keadaan umum pasien baik,

pasien mampu merespon arahan dari perawat, kesadaran pasien composmentis,

GCS total 15 (Eye: 4, Verbal: 5, Motorik: 6), Kesadaran composmentis, tidak

terdapat hemiparesis serta tidak ada kelemahan pada anggota tubuh, orientasi

klien baik (klien dapat mengenali waktu, dan tempat). Pada pemeriksaan

Nervus I (Olfaktorius) fungsi penciuman pasien dapat mencium minyak kayu

putih dan bau makanan, Nervus II (Optikus) ketajaman penglihatan, tidak


52

terdapat gangguan penglihatan pada pasein, reflek pupil pasien terhadap

cahaya +/+, Nervus III, IV, VI (Okulomotorius, Troklearis, Abdusen) pasien

dapat membuka kelopak mata, dapat menggerakkan bola mata ke kanan dan

ke kiri, ke atas dan ke bawah, Nervus V (Trigeminus) tidak ditemukan

paralisis pada otot wajah, pasien mampu membuka dan menutup rahang

rahang, Nervus VII (Fasialis) pasien dapat menggerakan lidah, Nervus VIII

(Vestibulokoklearis) tidak terdapat gangguan pendengaran pada pasien,

Nervus IX, X (Glosofaringeus, Vagus) mekanisme kemampuan menelan

pasien normal, pasien dapat minum air putih, Nervus XI (Aksesorius) pasien

mampu menggerakan menggeser kanan dan kiri, Nervus XII (Hipoglosus)

pasien mampu menjulurkan lidah, menggerakkan lidah ke arah atas, ke arah

bawah, ke arah samping kanan dan kiri.

4. B4 (Bladder/ Perkemihan)

Pada pemeriksaan wawancara pasien mengatakan buang air kecil selama

dirumah pasien BAK 7x/hari dengan warna kuning pekat. Selama dirumah

sakit pagi ini pasien BAK dengan penggunaan voley kateter dengan jumlah

±1000cc/24jam dengan warna kuning pekat. Pada pemeriksaan palpasi tidak

ada nyeri tekan pada perkemihan. Saat pemeriksaan perkusi suara kandung

kemih timpani.

5. B5 (Bowel/Pencernaan)

Didapatkan hasil wawancara pasien tidak mengeluh mual muntah. Pada

pemeriksaan inpeksi mulut pasien bersih tidak ada karies dan tidak berlubang,

mukosa bibir kering, pasien tidak terpasang NGT, terdapat nyeri pada dada

karena luka operasi hari ke 1 selama di rumah sakit pasien BAB 1 kali dalam
53

sehari, pemeriksaan auskultasi didapatkan bising usus 10x/menit. saat

dilakukan palpasi tidak terdapat hepatomegali (pembesaran hati), saat

dilakukan perkusi terdapat suara timpani.

6. B6 (Bone/Muskuloskeletal)

Didapatkan hasil wawancara pasien mengatakan badannya merasa tidak

enak, terasa lemas dan mengatakan sesak setelah beraktivitas seperti duduk

ditempat tidur. Pada pemeriksaan pasien mampu menggerakan persendiannya

dengan perlahan, ada nyeri sendi dan nyeri tulang (ca mammae dextra

metastase tulang), tidak terdapat fraktur, tidak ditemukan adanya dislokasi dan

alat bantu seperti traksi atau gips, skala kekuatan otot ekstremitas: skala

kekuatan otot ekstremitas: ekstremitas atas dextra 4444, ekstremitas atas

sinistra 4444, ekstremitas bawah dextra 4444, ekstremitas bawah sinistra

4444.

7. Pemeriksaan Sistem Integumen

Pada pemeriksaan inpeksi didapatkan hasil kulit pasien berwana kuning

langsat seluruh badan, terdapat luka bekas operasi pada dada kanan atas dan

perut, terdapat luka yang terbalut kassa. Pemeriksaan palpasi terdapat nyeri

pada dada sampai ke punggung karena bekas operasi dengan skala 4 (1-10),

nyeri terasa seperti cekot-cekot dan nyeri hilang timbul.

8. Pola Istirahat dan Tidur

Pasien mengatakan sebelum masuk rumah sakit tidur siang ±3 jam

(13.00-16.00 WIB), saat dirumah sakit pasien mengatakan tidur siang selama

2 jam (13.00-15.00 WIB). Pasien mengatakan sejak masuk rumah sakit


54

mengalami gangguan tidur karena keluhan saat ini yaitu nyeri pada post op

mastektomi pada mammae kanan atas.

Ny. A pada kondisi yang lemah ditandai dengan ROM terbatas, tidak

bergerak dan enggan melakukan aktivitas terlalu sering. Pada saat tidur nyeri

timbul membuat Ny. A terbangun di tengah malam serta membuat kekurangan

tidur.

9. Pemeriksaan Sistem Penginderaan

Didapatkan hasil pada sistem penglihatan yaitu lapang pandang normal,

reflek cahaya (+/+), sklera ikterik, pasien tidak buta warna, pasien tidak

mengggunakan kacamata, pasien dapat melihat jam di dinding. Sistem

pendengaran didapatkan hasil telinga simetris, tidak ada serumen, keadaan

telinga bersih, sistem pendengaran baik, tidak menggunakan alat antu dengar.

Sistem penciuman didapatkan hasil tidak ada polip, tidak terdapat sinusitis,

terdapat septum di tengah, pasien mampu mencium bau minyak kayu putih.

Sistem perabaan yaitu pasien bisa membedakan perabaan kasar dan halus

dengan sesuai.

10. Pemeriksaan Sistem Endokrin

Didapatkan keadaan tidak terdapat pebesaran kelenjar tiroid, dan pasien

mengatakan tidak memiliki penyakit diabetes mellitus. Pemeriksaan sistem

reproduksi atau genitalia didapatkan pasien berstatus sudah menikah, tidak ada

kelainana pada genitalia, ada kelainan pada payudara.

11. Personal Hygiene

Pasien mengatakan sebelum masuk rumah sakit mandi 2x sehari dengan

sabun mandi, saat di RS pasien mengatakan hanya diseka tiap pagi dengan
55

bantuan keluarga yaitu anaknya. Pasien mengatakan mencuci rambut 2x

seminggu dengan shampo. Saat masuk rumah sakit, pasien belum mencuci

rambut. Pasien mengganti pakaian 1 kali sehari, menggosok gigi 2x saat pagi

dan sore hari dan saat di RS pasien tetap menggosok gigi dengan bantuan

anggota keluarganya, pada saat di RS pasien memotong kuku 1x seminggu.

12. Psikososiocultural

a. Gambaran diri

Pasien mengatakan tidak ada kekurangan pada dirinya karena semua

merupakan pemberian dari tuhan.

b. Identitas diri

Pasien mengatakan bahwa dia seorang perempuan berusia 39 tahun,

berasal dari suku Jawa atau Indonesia, bahasa yang digunakan sehari-hari

adalah Bahasa Indonesia dan Jawa.

c. Peran diri

Pasien mengatakan bahwa dia adalah seorang ibu yang memiliki 5

orang anak, 4 orang anak masih hidup dan 1 orang anak meninggal dunia

pada tanggal 01 Desember 2022 karena tindakan pembedahan BSO TAH +

Mastektomi, dan tidak bekerja hanya sebagai ibu rumah tangga.

d. Ideal diri

Pasien berharap anaknya semua bisa sukses mendapatkan pekerjaan.

e. Harga diri

Pasien bersabar dan menerima dengan ikhlas serta keluarga selalu

memberikan dukungan kepada pasien.


56

3.1.9 Pemeriksaan Penunjang


1. Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Tabel 3. 1 Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pasien Ny. A
Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai rujukan
Pemeriksaan DL tanggal 01 Desember 2022
HEMATOLOGI
Darah Lengkap
Leukosit 7,06 10^3/µL 4,00-10,00
Hitung Jenis Leukosit :
• Eosinofil# 0,08 10^3/µL 0,02-0,50
• Eosinofil% 1,00 % 0,5-5,0
• Basofil# 0,02 10^3/µL 0,00-0,10
• Basofil% 0,4 % 0,0-1,0
• Neutrofil# 6,65 10^3/µL 2,00-7,00
• Neutrofil% 84,80 % 50,0-70,0
• Limfosit# 0,83 10^3/µL 0,80-4,00
• Limfosit% 10,60 % 20,0-40,0
• Monofsit# 0,27 10^3/µL 0,12-1,20
• Monofsit% 3,40 % 3,0-12,0
IMG# 0,320 10^3/µL 0,01-0,04
IMG% 1,100 % 0,16-0,62
Hemoglobin 8,90 g/dL 13-17
Hematokrit 27,50 % 40,0-54,0
Eritrosit 3,17 10^6/µL 4,00-5,50
Indeks Eritrosit :
• MCV 86,9 Fmol/cell 80-100
• MCH 28,0 Pg 26-34
• MCHC 32,2 g/dL 32-36
RDW...CV 16,1 % 11,0-16,0
RDW...SD 48,9 fL 35,0-56,0
Trombosit 202,00 10^3/µL 150-450
Indeks Trombosit :
• MPV 10,1 fL 6,5-12,0
• PDW 16,2 %
• PCT 0,204 10^3/µL 0,108-0,282
P-LCC 56,0 10^3/µL
P-LCR 27,5 %
Pemeriksaan DL tanggal 03 Desember 2022
HEMATOLOGI
Darah Lengkap
Leukosit 9,00 10^3/µL
Hitung Jenis Leukosit :
• Eosinofil# 0,01 10^3/µL 0,02-0,50
• Eosinofil% 0,10 % 0,5-5,0
• Basofil# 0,02 10^3/µL 0,00-0,10
• Basofil% 0,2 % 0,0-1,0
57

• Neutrofil# 8,02 10^3/µL 2,00-7,00


• Neutrofil% 89,00 % 50,0-70,0
• Limfosit# 0,64 10^3/µL 0,80-4,00
• Limfosit% 7,40 % 20,0-40,0
• Monofsit# 0,29 10^3/µL 0,12-1,20
• Monofsit% 3,30 % 3,0-12,0
IMG# 0,300 10^3/µL 0,01-0,04
IMG% 0,400 % 0,16-0,62
Hemoglobin 10,79 g/dL 13-17
Hematokrit 31,70 % 40,0-54,0
Eritrosit 3,80 10^6/µL 3,50-5,00
Indeks Eritrosit :
• MCV 83,5 Fmol/cell 80-100
• MCH 28,1 Pg 26-34
• MCHC 33,7 g/dL 32-36
RDW...CV 16,1 % 11,0-16,0
RDW...SD 48,2 fL 35,0-56,0
Trombosit 214,00 10^3/µL 150-450
Indeks Trombosit :
• MPV 9,4 fL 6,5-12,0
• PDW 16,2 % 15-17
• PCT 0,200 10^3/µL 0,108-0,282
P-LCC 50,0 10^3/µL 30-90
P-LCR 23,5 % 11,0-45,0

2. Pemeriksaan FNAB (10 Oktober 2022)

Hasil Pemeriksaan FNAB (10 Oktober 2022)

Makroskopis: Dilakukan puncture pada nodul mamma dextra penareola arah

jam 10-11, ukuran ±2x2 cm, batas tidak tegas, fixed, padat kenyal

Mikroskopik: Hapusan perselular, mendapatkan sebaran dan kelompok-

kelompok diskohesif sel epitel anaplastik berinti bulat-oval, pleomorfik,

nucleoli prominent, sitoplasma sempil. Tidak tampak sel bipolar

Kesimpulan: Mamma Dextra, FNAB

Infiltrating Ductal Carcinoma


58

3. Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) (tgl 14 Oktober 2022)

Klinis: LBP, CA MAMMAE

a. Tampak bone marrow replacement (mixed type lytic blastic) sepanjang

corpus vertebra cervico-thoraco-lumbososacral dengan melibatkan pedicle

et processus transversus et lamina bilateral. Serta hingga ke iliac wing

kanan kin (yang tervisualisasi, incidental finding)

b. Destruksi corpus VTh 12 disertai paraspinal soft tissue mass sisi kiri

setinggi level VTh 10-12, menginfiltrasi ke epidural spaces kiri,

menyebabkan encasement pedicle et lamina et processus transverus kiri ke

costa posterior, massa menyebabkan pendesakan spinal cord ke

anterolateral kanan, kesan tak tampak infiltrasi ke intramedullary maupun

cord edema

c. Epidural enhancement pada VTh 5-12

d. Tampak uterus kurang membesar sesuai gravida, dengan janin tunggal

intrauterine, posisi placenta di anterior hingga menutupi ostium uteri

e. MR Myelografi: tampak hambatan partial aliran liquor cerebrospinalis

KESAN:

Temuan diatas menyokong gambaran proses metastase tulang melibatkan:

a. Corpus vertebra cervico-thoraco-lumbososacral dengan melibatkan pedicle

et processus transversus et lamina bilateral. Serta hingga ke iliac wing

kanan kiri (yang tervisualisasi, incidental finding)

b. Destruksi corpus VTh 12 dengan retropuls fragmen ke canal spinalis,

disertai paraspinal soft tissue mass sisi kiri

c. Epidural metastasis level VTh 5-12


59

4. Pemeriksaan Laboratorium Anatomi (01 Desember

2022) Diagnosa : Ca Mammae metastase tulang

Lokasi: Payudara + Ovarium kanan dan kiri

Makroskopis :

Diterima

a. Potongan jaringan biopsi Ca mamma, ukuran total 1,5 x 1 x 0,5 cm

b. Satu potong jaringan ovarium kanan, ukuran 3,5 x 2,5 x 1 cm, menempel

tuba panjang 6cm

c. Satu potong jaringan ovarium kiri (berupa kista), ukuran 6 x 3 x 1,7 cm,

menempel tuba panjang 2,5 cm diproses sebagian dalam 3 kaset

Mikroskopis : Menunjukkan

a. Potongan jaringan dengan pertumbuhan neoplasma mengandung

proliferasi sel-sel anaplasi berinti bulat-oval, kromatin kasar: tersusun

berkelompok-kelompok, stroma jaringan ikat fibrotik disertai infiltasri sel

radang mononukleus dan PMN

b. Potongan jaringan ovarium dengan kista folikel multiple; tuba tanpa

kelainan tertentu

c. Potongan jaringan ovarium dengan corpus luleum dan multiple simple

cyat; tuba dalam batas normal

Kesimpulan :

Bahan jaringan, menunjukkan

a. Metastase adenocarsinoma (sesuai dengan infiltrating ductal carcinoma)

b. Multiple follicle cyst ovarii

c. Corpus luteum + multiple simple cyst ovarii II.


60

3.1.10 Terapi Medis

Tabel 3. 2 Terapi Medis Pasien Ny. A


Nama Dosis Indikasi
01 Desember 2022
1. Futrolit inf 500 ml/24Untuk memenuhi kebutuhan cairan elektrolit
jam dalam tubuh
2. Peinlos 2x1 Untuk meredakan nyeri dan menurunkan demam
@400mg Untuk mempercepat penyembuhan luka
3. Onoiwa 3x1
@500mgUntuk mengatasi asam lambung berlebih
4. Omeprazole 40mg 2x1 @40mg

5. Asam tranexamat 2x1 Untuk mengurangi atau menghentikan


500mg inj @500mg perdarahan
6. Antrain inj 3x1 @2mlUntuk meringankan rasa sakit, terutama nyeri
kolik dan sakit setelah operasi
Tindakan lain

3.2 Analisa Data Keperawatan

1. Nyeri Akut berhubungan dengan Agen Pencedera Fisik (Prosedur Bedah

Mastektomi) (SDKI, D.0078, Hal: 174) yang ditandai dengan nyeri post

operasi BSO TAH dan Mastektomi.

Saat dilakukan pemeriksaan pasien mengatakan nyeri setelah operasi

terasa di dada sampai ke punggung seperti cekot-cekot, nyeri semakin terasa

bila terlalu banyak bergerak, nyeri hilang beberapa saat dan Ny. A menunjuk

skala 4 dari skala 1 sampai 10. Maka pengkajian nyeri pada Ny. A yaitu P

(Palliative/penyebab) : Prosedur bedah (Post op Mastektomi), Q

(quality/kualitas) : cekot-cekot, R (Radiates/penyebaran) : dada sampai ke

punggung, S (severety/keparahan) : 4 skala 1-10, T (time/waktu) : bila


61

bergerak. Pasien tampak lemah, meringis, gelisah, bersikap protektif (posisi

menghindari nyeri) dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah 124/85

mmHg, nadi 80x/menit, RR 20x/menit.

Hasil pemeriksaan Laboratorium Anatomi (01 Desember 2022) dengan

kesimpulan metastase adenocarsinoma (sesuai dengan infiltrating ductal

carsinoma), multiple follicle cyst ovarii, corpus luteum + multiple simple cyst

ovarii II. Adanya metastase pada tulang menyebabkan nyeri yang tidak

sebanding dengan sebelumnya hingga menyebabkan kelumpuhan, hal tersebut

ditinjau dengan respon nyeri pasien dan memberikan teknik nonfarmakologis

seperti tarik napas dalam serta berkolaborasi dengan dokter untuk diberikan

terapi lebih lanjut bila nyeri belum teratasi.

2. Risiko Infeksi dibuktikan dengan Efek prosedur invasif yang dibuktikan

dengan Post TAH BSO

Saat dilakukan pengkajian pasien bertanya tentang kondisinya saat ini

dan apakah luka pada perut akan baik-baik saja. Data objektif terdapat luka

pada payudara kanan dan luka di perut Post BSO TAH, terjahit ada rembesan

cairan di kassa penutup, Luka tampak basah, akral hangat, suhu 36,4°C, tidak

ada demam, leukosit 7,06 10^3/µL (4,00-10,00 10^3/µL).

3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Keengganan melakukan

pergerakan

Dilakukan pengkajian pasien mengatakan takut banyak gerak. Data

objektif pasien tampak takut jahitan terbuka saat menggerakkan anggota tubuh

dan pasien saat ini dalam posisi semi fowler, bedrest atau tirah baring, rentang

gerak ROM pasif, kekuatan otot 4 │ , tekanan darah TD: 124/85 mmHg, suhu
4

4 4
62

36,4°C, nadi 80 x/menit, SpO²: 98%, RR: 20x/menit. Terdapat luka Prosedur

Bedah Histerotomi + TAH BSO + Omentectomi H-4 (ai suspect Ca Mammae)

+ Open Biopsy mammae D H 4 (ai suspect Ca Mammae Dextra), operasi yang

dilakukan oleh Ny. A termasuk operasi besar suatu pembedahan yang

melibatkan area kepala, dada, dan perut. Operasi jenis ini biasanya memiliki

risiko komplikasi yang tinggi dan membutuhkan waktu pemulihan yang lebih

lama. Walau membutuhkan waktu pemulihan yang cukup lama, dianjurkan

pasien melakukan ambulasi agar tidak tubuh tidak kaku dan membuat luka

tambahan di tempat lain seperti dekubitus.

4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan

Pasien mengatakan sangat susah kalau mandi sendiri dan harus jalan ke

kamar mandi dulu. Data objektif pasien tidak mampu melakukan aktivitas

secara mandiri dan pasien saat ini diseka oleh anaknya, tidak mampu mandi,

ke toilet dan mengenakan pakaian secara mandiri, pemeriksaan patologi

anatomi tanggal 01 Desember 2022 menunjukkan metastase adenocarsinoma

(sesuai dengan infiltrating ductal carcinoma), multiple follicle cyst ovarii,

corpus luteum + multiple simple cyst ovarii II.

3.3 Prioritas Masalah

1. Nyeri Akut berhubungan dengan Agen Pencedera Fisik (Prosedur Bedah

Mastektomi) (SDKI, D.0078, Hal: 174) yang ditandai dengan nyeri post

operasi BSO TAH dan Mastektomi

2. Risiko Infeksi dibuktikan dengan Efek prosedur invasif (SDKI, D.0142, Hal:

304) yang dibuktikan dengan Post TAH BSO


63

3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Keengganan melakukan

pergerakan (SDKI, D.0054, Hal: 124)

4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan (SDKI, D.0109, Hal:

240).

3.4 Intervensi Keperawatan

1. Nyeri Akut berhubungan dengan Agen Pencedera Fisik (Prosedur Bedah

Mastektomi). Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam

maka tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil keluhan nyeri menurun,

meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi

membaik, tekanan darah membaik. Intervensi utama yang akan dilakukan

untuk merubah tingkat nyeri dengan manajemen nyeri: 1) monitor penurunan

nyeri (lokasi, karakteristik, durasi, kualitas, intensitas nyeri, skala nyeri), 2)

berikan teknik relaksasi pada saat nyeri, 3) anjurkan teknik distraksi, 4)

kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri, 5) jelaskan tentang

patofisiologi nyeri dan meredakan nyeri, 6) berikan kolaborasi kepada pasien

analgetik (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2017).

2. Risiko Infeksi dibuktikan dengan Efek prosedur invasif. Tujuan setelah

dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tingkat infeksi

menurun, dengan kriteria hasil kemerahan menurun, nyeri menurun, bengkak

menurun, cairan berbau busuk menurun, sensasi membaik, suhu membaik.

Intervensi utama yang akan dilakukan untuk mencegahan infeksi pada luka

pasien post operasi Mastektomi dan sectio caesarea BSO TAH: 1) monitor

tanda dan gejala infeksi, 2) merawat kulit pada area luka dengan mertahankan
64

kondisi aseptic pada luka, 3) jelaskan tanda gejala infeksi, 4) ajarkan pasien dan

keluarga mencuci tangan dengan benar, 5) anjurkan meningkatkan asupan

nutrisi, 6) anjurkan meningkatkan asupan cairan, 7) berikan hasil kolaborasi

antibotik (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2017).

3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keengganan melakukan

pergerakan, tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam

diharapkan mobilitas fisik meningkat, dengan kriteria hasil: pergerakan

ekstremitas meningkat, kekuatan otot meningkat, rentang gerak (ROM)

meningkat, nyeri menurun, kecemasan menurun, gerakan terbatas menurun.

Intervensi utama yang akan dilakukan untuk memberikan dukungan ambulasi:

1) observasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya, 2) monitor kondisi umum

selama melakukan mobilisasi, 3) fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat

bantu (misal pagar tempat tidur), 4) libatkan keluarga untuk membantu pasien

dalam meningkatkan pergerakkan, 5) jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi,

6) anjurkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (duduk di tempat tidur,

duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi) (Tim Pokja SIKI

DPP PPNI, 2017).

4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan terhadap toileting,

tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan

perawatan diri meningkat, dengan kriteria hasil : kemampuan ke toileting

meningkat, nyeri menurun, kecemasan menurun, kelemahan fisik menurun.

Intervensi utama yang akan dilakukan memberi dukungan perawatan diri pada

pasien post op TAH BSO + Mastektomi: 1) monitor tingkat kemandirian,

identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, 2) sediakan lingkungan yang


65

terapeutik (suasana hangat, rileks, privasi), 3) siapkan keperluan pribadi (seperti

sabun mandi, sikat gigi, parfum), 4) dampingi dalam melakukan perawatan

diri sampai mandiri, 5) fasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu

melakukan perawatan diri, 6) jadwalkan rutinitas perawatan diri, 7) anjurkan

melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan (Tim Pokja

SIKI DPP PPNI, 2017).

3.5 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

1. Nyeri Akut berhubungan dengan Agen Pencedera Fisik (Prosedur Bedah

Mastektomi). Nursing intervention (NIC) adalah Manajemen nyeri, teknik

distraksi tarik napas dalam dan pemberian analgetik.

Pelaksanaan rencana asuhan yang telah dibuat diimplementasikan pada

pasien sesuai dengan kondisi pasien, implementasi dilakukan sejak tanggal 02

Desember 2022 sampai dengan 04 Desember 2022. Implementasi untuk

merubah tingkat nyeri dengan manajemen nyeri: 1) Memonitor penurunan

nyeri (lokasi, karakteristik, durasi, kualitas, intensitas nyeri, skala nyeri), 2)

memberikan teknik relaksasi pada saat nyeri (teknik nafas dalam) 3)

menganjurkan teknik distraksi (saat nyeri alihkan dengan menonton video), 4)

mengontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (suhu ruangan

dipertahankan 20°C, kebisingan), 5) menjelaskan tentang patofisiologi nyeri

dan meredakan nyeri, 6) memberikan kolaborasi kepada pasien analgetik

(Peinlos 2x1 @400mg drip NS 100ml dan Antrain inj 3x1 @2ml) (Tim Pokja

SIKI DPP PPNI, 2017).


66

Implementasi hari pertama pada tanggal 02 Desember 2022 membina

hubungan saling percaya dengan pasien dengan respon subjektif pasien

memperkenalkan diri dengan perawat dan mengidentifikasi keluhan pasien

saat ini dengan respon objektif pasien mengeluh nyeri dibekas post op. pada

pukul 07.35 mengobservasi nyeri secara secara komprehensif dengan respon

subjektif P: Post Operasi mastektomi Q: cekot-cekot, R: dada sampai ke

punggung, S: 4 (skala 1-10), T: hilang timbul pasien tampak menyeringai

kesakitan berkurang. Pada jam 11.00 memberikan terapi injeksi (iv) Peinlos

1x400mg drip NS 100ml dan Antrain inj 1x2ml dengan respon objektif pasien

nyeri berkurang.

Implementasi hari kedua pada tanggal 03 Desember 2022 pada jam 10.15

pagi memberikan teknik relaksasi pada saat nyeri dengan teknik

nonfarmakologi yaitu distraksi napas dalam, respon subyektif pasien mencoba

latih tarik napas dalam dan respon obyektif pasien menerapkan terapi distraksi

tarik napas dalam saat nyeri muncul. Memberikan terapi kepada pasien

Peinlos 1x400mg drip NS 100ml dan Antrain inj 1x2ml dengan respon

objektif pasien mengobservasi terapi yang diberikan tidak mengalami alergi.

Mengobservasi nyeri secara komprehensif dengan respon subyektif P: nyeri

saat bergerak, Q: cekot-cekot , R: dada kanan atas sampai punggung, Skala : 3

(1-10), T: nyeri hilang timbul dan respon obyektif pasien meringis.

Implementasi hari ke tiga pada tanggal 04 Desember 2022 pada jam

18.00 dengan memberikan edukasi pada pasien untuk mengonsumsi buah dan

sayur yang di respon subyektif oleh pasien memakan makanan yang bernutrisi

dan respon obyektif pasien menerima edukasi dari perawat. Pada jam 18.30
67

pasien tetap menerapkan teknik distraksi dengan tarik napas dalam dengan

respon obyektif pasien paham cara menerapkan teknik non farmakologis

dengan terapi tarik napas dalam. Pada jam 22.00 memberikan terapi kepada

pasien Peinlos 1x400mg drip NS 100ml dan Antrain inj 1x2ml respon

subyektif pasien tidak terkaji dan respon objektif pasien tidak mengalami

alergi. Pada jam 23.30 mengobservasi nyeri secara komprehensif dengan

respon subyektif pasien P: nyeri saat bergerak, Q: cekot-cekot , R: dada kanan

atas sampai ke punggung, Skala : 2 (1-10), T: nyeri hilang timbul dan respon

obyektif pasien meringis berkurang, nyeri berkurang.

Evaluasi pada hari ke 1 (02/12/22) didapatkan nyeri berkurang saat

melakukan teknik relaksasi, mempunyai riwayat operasi pada tanggal 01

Desember 2022 Operasi mastektomi. Pengkajian nyeri pada pasien P: Post

Operasi mastektomi Q: cekot-cekot, R: dada dan punggung, S: 4 (skala 1-10),

T: hilang timbul pasien tampak menyeringai kesakitan berkurang, tidak ada

efek samping terapi obat, nadi 109x/menit, pasien mempraktekkan teknik

napas dalam guna mengurangi nyeri. Walau kadang nyeri hilang timbul

dengan sendirinya tetapi pasien mampu menerapkan teknik distraksi tarik

napas dalam yang telah diajarkan oleh perawat.

Evaluasi pada hari ke 2 (03/12/22) didapatkan nyeri dada sampai ke

punggung timbul saat bergerak dengan skala nyeri 3 dari 1-10, pengkajian

nyeri pada pasien P: Post Operasi mastektomi, Q: cekot-cekot, R: dada dan

punggung, S: 3 (skala 1-10), T: hilang timbul, tampak menyeringai kesakitan,

bersifat protektif menghindari nyeri, nadi 100x/menit, pasien paham cara dan

tetap mempraktekkan teknik napas dalam guna mengurangi nyeri.


68

Evaluasi pada hari ke 3 (04/12/22) didapatkan nyeri berkurang dengan

pengkajian nyeri pada pasien P: saat bergerak, Q: cekot-cekot, R: dada dan

punggung, S: 2 (skala 1-10), T: hilang timbul. Pasien Tidak tampak

menyeringai kesakitan, pasien tampak rileks, tidak ada efek samping terapi

obat, nadi 101x/menit, pasien tetap menerapkan teknik napas dalam guna

mengurangi nyeri. Dengan menerapkan teknik napas dalam sangat efektif

untuk mengurangi nyeri pada pasien sehingga dapat mengontrol rasa nyeri

yang timbul dan tetap mengkolaborasikan dengan dokter pemberian analgetik.

2. Risiko Infeksi dibuktikan dengan Efek prosedur invasif (SDKI, D.0142, Hal:

304). Nursing intervention (NIC) adalah Pencegahan infeksi dan perawatan

luka

Pelaksanaan rencana asuhan yang telah dibuat diimplementasikan pada

pasien sesuai dengan kondisi pasien, implementasi dilakukan sejak tanggal 02

Desember 2022 sampai dengan 04 Desember 2022. Implementasi untuk

mencegah infeksi pada luka pasien post operasi Mastektomi dan sectio

caesarea BSO TAH (SIKI, 1.14539, Hal: 278) : 1) memonitor tanda dan gejala

infeksi, 2) merawat kulit pada area luka dengan mertahankan kondisi aseptic

pada luka, 3) menjelaskan tanda gejala infeksi, 4) mengajarkan pasien dan

keluarga mencuci tangan dengan benar, 5) menganjurkan meningkatkan

asupan nutrisi, 6) menganjurkan meningkatkan asupan cairan, 7) memberikan

hasil kolaborasi antibotik (Onoiwa 3x1 @500mg) (Tim Pokja SIKI DPP

PPNI, 2017).

Implementasi hari pertama pada tanggal 02 Desember 2022 pada jam

07.00 mengobservasi tanda dan gejala infeksi dengan mempertahankan


69

kondisi aseptic pada luka dengan respon obyektif sekitar luka berwarna merah,

tidak terdapat pus dan cairan yang keluar berbau khas luka. Pada jam 08.20

mengedukasi pasien dengan menjelaskan tanda dan gejala timbulnya infeksi

pada luka setelah operasi dengan respon subyektif pasien mengatakan

bagaimana cara mengatasi hal tersebut dan respon obyektif pasien tampak

menerima edukasi yang diberikan oleh perawat dan menanyakan kembali

bagaimana cara menangani infeksi tersebut.

Implementasi hari kedua pada tanggal 03 Desember 2022 pada jam

12.00 mengedukasi pasien tentang konsep aseptik mencuci tangan dengan

respon subyektif pasien mengatakan bagaimana cara mencuci tangan dengan

benar dan obyektif pasien tampak bertanya kembali, ingin melatih cara cuci

tangan. Pada jam 12.30 diberikan terapi pada pasien Onoiwa 1x500mg

dengan obyektif tidak mengalami alergi.

Implementasi hari ke tiga pada tanggal 04 Desember 2022 pada jam

11.00 perawat mengobservasi dengan kegiatan pada hari ke dua pasien cara

mencuci tangan dengan respon subyektif pasien tetap menerapkan dan respon

obyektif pasien tampak mencuci tangan sesuai tata cara yang diberikan oleh

perawat. Pada jam 13.30 perawat menganjurkan meningkatkan asupan cairan

1 hari minum 1 air mineral dengan respon obyektif pasien tampak meminum

air mineral. Pada jam 15.00 perawat melihat kondisi luka pada pasien dengan

respon obyektif tampak luka kemerahan berkurang, luka tampak mulai

menyatu, jahitan kering.

Evaluasi dilakukan setelah 1 hari perawatan didapatkan bahwa pasien

dalam kondisi yaitu ditemukan data suhu 36,5°C, akral teraba hangat, luka
70

tampak bersih, basah, tidak ada pus atau rembesan pada kassa, tampak luka

mulai menyatu, hasil laboratorium pada tanggal 01 Desember 2022 leukosit

7,06 10^3/µL (4,00-10,00 10^3/µL).

Evaluasi berikutnya yaitu hari ke 2 ditemukan data suhu tubuh 36,4°C,

Leukosit 7,06 10^3/µL (4,00-10,00), pasien, terdapat kemerahan sekitar luka,

tidak ada bengkak atau pus, nyeri pada dada menjalar ke punggung, tampak

lemas, keluarga pasien dan pasien memahami konsep infeksi dan menerapkan

konsep aseptic yaitu dengan cuci tangan.

Evaluasi hari ke 3 ditemukan data suhu 36,5°C, akral teraba hangat, luka

tampak bersih, basah, tidak ada pus atau rembesan pada kassa, tampak luka

mulai menyatu dan menutup, tidak ada tanda-tanda infeksi pada luka, sekitar

luka tidak terlihat kemerahan,. Hasil laboratorium pada tanggal 03 Desember

2022 leukosit 9,00 10^3/µL (4,00-10,00 10^3/µL), hemoglobin 10,79 g/dL

(13-17 g/dL), eritrosit 3,80 10^6/µL (3,50-5,00 10^6/µL), trombosit 214,00

10^3/µL (150-450 10^3/µL). Data diatas dapat disimpulkan bahwa masalah

risiko infeksi teratasi sebagian yang berarti mekanisme adaptasi pasien

terhadap gejala infeksi harus tetap dilaksanakan hingga keluar rumah sakit.

3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Keengganan melakukan

pergerakan (SDKI, D.0054, Hal: 124) Implementasi untuk memberikan

dukungan ambulasi dan dukungan kepatuhan program pengobatan adalah: 1)

mengobservasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya, 2) memonitor kondisi

umum selama melakukan mobilisasi, 3) memfasilitasi aktivitas mobilisasi

dengan alat bantu (misal pagar tempat tidur), 4) melibatkan keluarga untuk

membantu pasien dalam meningkatkan pergerakkan, 5) menjelaskan tujuan


71

dan prosedur mobilisasi, 6) menganjurkan mobilisasi sederhana yang harus

dilakukan (duduk di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari

tempat tidur ke kursi) (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2017).

Implementasi hari pertama pada tanggal 02 Desember 2022 pada jam

10.00 mengobservasi adanya keluhan lain pada pasien dengan respon subyektif

mengeluh tidak bisa bergerak, takut jahitan robek kalau bergerak respon

obyektif tampak pasien membatasi gerak, mobilisasi kurang, fungsi otot

ekstremitas atas 4 dan esktremitas bawah 4. Pada jam 10.30 mengobservasi

keadaan umum pasien dengan respon obyektif tekanan darah 124/85 mmHg,

suhu 36,4°C, nadi 92 x/mnt, RR 20x/mnt, SpO2 99%. Pada jam 11.00

memfasilitasi aktivitas mobilisasi pasien (pagar tempat tidur untuk membantu

pasien miring kanan dan kiri) dengan respon subyektif pasien dapat melatih

otot dan sendi dengan respon obyektif pasien tampak cemas dan posisi

menghindari nyeri.

Implementasi hari kedua pada tanggal 03 Desember 2022 pada jam

13.00 mengobservasi kondisi pasien dengan respon obyektif cek TTV dari

tekanan darah 135/87 mmhg, Nadi 104 x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 37 0C,

SPO² 99% Pada jam 15.00 mengajarkan teknik mobilisasi sederhana dengan

(duduk di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke

kursi) dengan respon subyektif saat digerakkan masih sakit dan respon

obyektif pasien tampak duduk di tempat tidur secara perlahan dengan bantuan

anaknya. Pada jam 15.10 mengedukasi pasien mengapa dilakukan mobilisasi

ringan dengan respon subyektif memahami akan kondisi saat ini, respon

obyektif tampak memahami teknik mobilisasi yang diberikan oleh perawat.


72

Implementasi hari ke tiga pada tanggal 04 Desember 2022 pada jam

10.45 perawat mengobservasi kembali kegiatan yang di terapkan pada pasien

dengan respon subyektif pasien mengatakan tetap menerapkan yang diajarkan

perawat, respon obyektif pasien tampak latihan mobilisasi dan respon obyektif

pasien tampak melatih gerakan kaki, tampak perlahan-lahan. Pada jam 11.30

perawat menganjurkan keluarga ikut serta membantu pasien dalam

meningkatkan gerakkan dengan respon obyektif pasien keluarga membantu

pasien duduk di atas tempat tidur atau dengan kondisi semifowler. Pada jam

12.00 perawat melihat kondisi umum pasien dengan respon obyektif tekanan

darah 128/87 mmhg, nadi 102 x/menit, RR 20 x/menit, suhu 36,9°C, SPO²

99%.

Evaluasi dilakukan setiap hari, pada hari pertama pasien dalam tahap

penerimaan pengetahuan terhadap dilakukannya ambulasi, sudah mulai

memahami keuntungan dan kerugian tidak dilakukan teknik ambulasi pasien

tetap menanyakan ulang apakah boleh beraktivitas biasa, tampak tidak dapat

melakukan ambulasi, pasien tampak gelisah, tegang, sulit tidur, membatasi

gerak, kekuatan otot ekstremitas atas 4 dan bawah 4, ROM pasif, bedrest atau

tirah baring dengan hasil tekanan darah 128/80 mmhg, Nadi 109 x/menit, RR

19 x/menit, Suhu 36,50C, SPO² 99%.

Pada hari ke dua perawatan (03/12/22), pasien melakukan aktivitas

ringan seperti duduk, pasien tampak gelisah, tegang, sulit tidur, tidak

membatasi gerak, kekuatan otot ekstremitas atas 4 dan bawah 5, ROM aktif,

posisi semi fowler dengan TTV tekanan darah 125/70 mmhg, nadi 95 x/menit,

RR 20 x/menit, Suhu 36,5°C, SPO² 99%. Pada hari ke tiga perawatan


73

(04/12/22), pasien mampu melakukan aktivitas seperti duduk, pasien tidak

tampak gelisah, tegang, sulit tidur, tidak membatasi gerak, kekuatan otot

ekstremitas atas 5 dan bawah 5, ROM aktif, posisi semi fowler dengan

tekanan darah 128/87 mmhg, nadi 102 x/menit, RR 20 x/menit, suhu 36,9°C,

SPO² 99%. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa pasien tersebut mampu

melakukan teknik ambulasi dengan kondisinya saat ini, artinya teknik

ambulasi tetap dipertahankan sampai kondisi benar-benar membaik.

4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan (SDKI, D.0109, Hal:

240) implementasi yang akan dilakukan memberi dukungan perawatan diri

pada pasien post op BSO TAH + Mastektomi (SIKI, 1.11343, Hal: 36): 1)

memonitor tingkat kemandirian, 2) identifikasi kebutuhan alat bantu

kebersihan diri, 3) menyediakan lingkungan yang terapeutik (suasana hangat,

rileks, privasi), 4) mendampingi dalam melakukan perawatan diri sampai

mandiri, 5) memfasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan

perawatan diri, 6) menjadwalkan rutinitas perawatan diri, 7) menganjurkan

melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan (Tim Pokja

SIKI DPP PPNI, 2017).

Implementasi hari pertama pada tanggal 02 Desember 2022 pada jam

08.10 mengobservasi tingkat kemandirian perawatan diri dengan respon

subyektif pasien mengatakan ke kamar mandi sulit dan respon obyektif

tampak cemas serta tidak dapat melakukan aktivitas secara mandiri. Pada jam

09.00 mengidentifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri dengan respon

subyektif pasien mengatakan ingin ke kamar mandi untuk BAB dan respon

obyektif pasien tampak tidak menggunakan diapers, terpasang voley kateter,


74

cemas, tegang. Pada jam 09.20 mendampingi dalam melakukan perawatan diri

sampai mandiri dengan respon subyektif pasien menyisir rambut dan respon

obyektif posisi semifowler, tampak perlahan-lahan.

Implementasi hari kedua pada tanggal 03 Desember 2022 pada jam 12.00

mengobservasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri pasien dengan respon

subyektif pasien ingin berpaiakan dan respon obyektif pasien kesulitan

menggunakan pakaian, tampak miring kanan dan kiri. Pada jam 12.05

memberikan rasa nyaman dan privasi bagi pasien sebelum dilakukan tindakan

dengan respon subyektif bersedia dibantu dan respon obyektif pasien tampak

rileks, nyaman, mengenakan pakaian dibantu perawat dan keluarga. Pada jam

13.15 observasi kemandirian melakukan perawatan diri dengan respon

subyektif pasien mengatakan bisa jika tempat terjangkau dan respon obyektif

pasien mengambil sisir yang ada di meja samping tempat tidur. Pada jam

15.00 menganjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai

kemampuan pasien dengan respon subyektif pasien menggapai barang-barang

sekitar dan respon obyektif pasien mampu menggapai sisir, kaca.

Implementasi hari ke tiga pada tanggal 04 Desember 2022 pada jam

11.00 perawat mengobservasi kembali kegiatan yang di terapkan pada pasien

dengan respon subyektif pasien mengambil barang disekitar untuk

keperluannya dan respon obyektif pasien tampak dapat menggapai barang-

barang, posisi semi fowler, bergerak terbatas. Pada jam 11.30 perawat

mengidentifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri dengan respon subyektif

pasien mengatakan ingin duduk untuk melakukan cuci muka serta sikat gigi

dan respon obyektif pasien dibantu untuk duduk, tampak tegang, tidak cemas.
75

Pada jam 13.00 perawat mengobservasi kemampuan mandiri pasien

melakukan perawatan diri dengan respon subyektif pasien mengatakan jika

dekat maka saya mengambilnya dan respon obyektif pasien tampak rileks,

santai dan mampu melakukan aktifitas sesuai kemampuan mandirinya.

Evaluasi pada hari ke 1 (02/12/22) didapatkan pasien tidak mampu

melakukan perawatan diri, mempunyai riwayat operasi pada tanggal 01

Desember 2022 BSO TAH pengangkatan rahim atau uterus dan Mastektomi.

Keadaan pasien cukup kesadaran kompos mentis pasien tampak tidak rapi,

ganti pakaian sekali sehari, rambut terlihat kusut. Evaluasi pada hari ke 2

(03/12/22) kemandirian dalam perawatan diri cukup karena pasien mampu

melakukan kegiatannya dengan cara menggapai, pasien tampak rapi, klien

dikseka sehari sekali, ganti pakaian dibantu keluarga dan perawat, mengosok

gigi setiap hari, pasien mempertahankan kemandirian perawatan dirinya.

Evaluasi pada hari ke 3 (04/12/22) didapatkan data pasien mempertahan

kemandirian perawatan dirinya dengan menyisir rambut, gosok gigi, rias diri.

Pasien Tidak tampak rileks, santai dan cemas berkurang karena pasien dapat

melakukan perawatan diri sebagian dibantu dengan keluarga saat melakukan

BAB dan BAK yang dipasang diapers. Dengan menerapkan perawatan diri

secara mandiri yang dapat dilakukan oleh pasien dan tetap mengkolaborasikan

dengan dokter pemberian analgetik.


BAB 4

PEMBAHASAN

Pada Bab ini akan membahas asuhan keperawatan pada Ny. A dengan

diagnosis Kanker Payudara (Ca Mammae) di Ruang H1 RSPAL dr. Ramelan

Surabaya yang dilaksanakan mulai tanggal 05 Desember 2022 sampai 11

Desember 2022 sesuai dengan pelaksanaan asuhan keperawatan dengan

pendekatan proses keperawatan dari tahap pengkajian keperawatan, diagnosis

keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi

keperawatan.

4.1 Pengkajian

Penulis melakukan pengkajian pada Ny. A. dengan melakukan anamnesis

pada pasien dan keluarga, melakukan pemeriksaan fisik dan mendapatkan data

dari pemeriksaan penunjang medis. Data yang didapatkan, Ny. A Berjenis

kelamin perempuan, berusia 39 tahun, tidak bekerja tetapi menjadi ibu rumah

tangga.

Hal ini juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh (Yulianti,

2010 dalam Erlinda & Lia, 2021) bahwa ditemukan adanya hubungan pendidikan

dengan kejadian kanker payudara. Hal ini membuktikan bahwa tingkat pendidikan

tidak mempengaruhi kejadian kanker payudara pada wanita. Walaupun memiliki

pendidikan tinggi, apabila tidak memiliki pola hidup yang sehat maka dapat

menjadi risiko terjadinya kanker payudara. Penelitian yang dilakukan oleh

(Panigoro, Santoso, & Gautami, 2013 dalam Erlinda & Lia, 2021) bahwa wanita

yang memiliki pendidikan tinggi akan lebih peka terhadap gejala dan segera

memeriksakan diri ke rumah sakit sehingga akan mendapatkan pengobatan kanker

76
77

payudara lebih awal. Memeriksakan diri sedini mungkin untuk mencegah

terjadinya kanker payudara sangat penting.

Data selanjutnya pasien didiagnosa kanker Payudara atau Ca Mammae post

operasi hari ke 1. Kanker payudara sering terjadi pada kaum wanita dengan usia

40-70 tahun memiliki resiko menderita ca mammae lebih tinggi karena pada usia

ini fungsi organ tubuh sudah menurun yang menyebabkan sel kanker tumbuh

dengan tidak terkendali (Karnila, 2018).

Keluhan pertama pasien saat ini nyeri pada dada sebelah kanan setelah post

operasi tanggal 01 Desember 2022, dengan nyeri seperti cekot-cekot dengan skala

4 (0 - 10) serta nyeri hilang timbul, hal ini sesuai dengan sebuah penelitian yang

dilakukan oleh Setyaningsih (2019) dalam guntari & Suariyani (2016),

menyebutkan bahwa operasi pengangkatan payudara mengakibatkan rasa nyeri

dan bahkan menyebabkan kerusakan tubuh yang berpotensi menyebabkan

hilangnya fungsi tubuh secara permanen.

Nyeri yang dirasakan pasien ca mammae biasanya berupa nyeri akut

maupun nyeri kronis. Kondisi tersebut membutuhkan tindakan mastektomi,

namun sebagian besar kanker payudara dapat diobati dengan prosedur

“lumpektomi” atau mastektomi parsial, di mana hanya tumor yang diangkat dari

payudara. Tindakan operative yang dilakukan akan menimbulkan permasalahan

baru yaitu nyeri pasca operasi. Nyeri pasca operasi muncul sebagai gejala

lanjutan post operative kanker payudara. Nyeri yang timbul dapat mengganggu

rasa nyaman pasien akibat dari kerusakan jaringan pasca operasi. Nyeri pasca

operasi dapat dievalusai melalui ekspresi wajah pasien, maupun ungkapan

langsung dari pasien (Bahrudin, 2018).


78

Pada pemeriksaan sistem muskuluskeletal pasien mengatakan badan jika

bergerak nyeri timbul dan bergerak harus dengan bantuan keluarga, TD 124/85

mmhg, Nadi 92 x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 36,4°C, SPO² 99%. Dilakukan

pemeriksaan inspeksi: tidak ada edema, kemampuan pergerakan sendi (terbatas),


4 4

4 4
skala kekuatan otot , ROM pasif, pasien mengeluh nyeri dada sampai ke

punggung, pada pemeriksaan palpasi: turgor kulit baik. Pada pengkajian sistem

integument dilakukan pemeriksaan inspeksi: warna kulit kuning langsat, kuku

bersih, terdapat luka terbalut kassa post operasi mastektomi + TAH BSO pada

dada kanan atas dan perut, terdapat sayatan, warna sekitar luka kemerahan

terdapat balutan luka bekas operasi pada dada kanan, terdapat kemerahan disekitar

luka, pasien tampak meringis, keadaan umum lemah. Hasil laboratorium darah

lengkap didapatkan nilai hemoglobin 10.50 g/dl (13-17g/dl), leukosit 6.72 10^3/u.

Asumsi penulis dalam pemeriksaan musculoskeletal ini dapat terjadi

masalah gangguan mobilitas fisik maka penulis berpendapat dengan cara

mobilisasi dapat mengembalikan fungsi otot, dalam penelitian yang dilakukan

oleh Yuliana et al (2021) berpendapat bahwa mobilisasi mampu meningkatkan

toleransi aktivitas klien pasca operasi laparatomi. Karena pada dasarnya latihan

mobilisasi dapat meningkatkan kekuatan otot serta mencegah kontraktur sehingga

dapat memulihkan kondisi setelah operasi (Vellyana, D., & Rahmawati, 2021).

Tetap menjaga asupan nutrisi pasien dengan memberikan makanan sesuai dengan

diitnya.
79

4.2 Diagnosis Keperawatan

Menurut Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2017) diagnosis keperawatan yang

muncul pada pasien dengan diagnosis medis kanker payudara ada 4 sebelum

dilakukan operasi yaitu : pola napas tidak efektif, nyeri kronis, defisit

pengetahuan, ansietas dan 6 masalah keperawatan setelah dilakukan operasi yaitu

: gangguan citra tubuh, gangguan mobilitas fisik, kerusakan integritas kulit dan

jaringan, risiko infeksi, nyeri akut. Penulis mengambil masalah keperawatan yang

sesuai dengan keadaan pasien saat ini yaitu nyeri akut, risiko infeksi dan

gangguan mobilitas fisik. Penulis tidak mengambil masalah keperawatan pola

napas tidak efektif karena napas pasien yaitu 20x/menit normal perhitungan nafas

pada orang dewasa 16-20x/menit, saat pengkajian diagnosa keperawatan yang

muncul saat ini nyeri akut, risiko infeksi dan gangguan mobilitas fisik sampai

dalam tahap evaluasi keperawatan.

Diagnosis keperawatan pada Ny. A dengan diagnosis Kanker Payudara atau

Ca Mammae di Ruang H1 RSPAL Dr Ramelan Surabaya ada 4 yaitu :

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis: luka post operasi

kanker payudara (Mastektomi)

Diagnosa ini ditegakkan karena pasien mengatakan nyeri di dada sampai

ke punggung bekas post operasi dengan skala nyeri 4 (1-10), seperti cekot-

cekot dan hilang timbul, nyeri dirasakan pada saat bergerak atau beraktivitas.

Hasil observasi yaitu pasien tampak menyeringai, pasien tampak gelisah,

tekanan darah 124/85 mmHg, Nadi 100x/menit, Post operasi hari ke 1,

terdapat luka pada dada kanan atas dan perut. Nyeri akut adalah pengalaman

sensori dan emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau
80

fungsional, dengan mendadak atau lambat onset dan berintensitas ringan

hingga berat yang berlangsung kurang 3 bulan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI,

2017).

Menurut asumsi penulis bahwa pasien memiliki masalah utama yaitu

nyeri akut karena nyeri timbul pada saat pasien bergerak atau beraktivitas,

maka perlu tindakan utama dalam penanganan pasien. Nyeri yang dirasakan

oleh pasien juga timbul karena adanya kerusakan kulit yang menjadi masalah

utama pada pasien. Oleh sebab itu penulis mengangkat diagnosa ini menjadi

prioritas utama sehingga tindakan pengurangan nyeri harus segera ditangani.

2. Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif (Luka pada mammae

dextra dan luka sesarea)

Diagnosa ini ditegakkan karena ditemukan data pada sistem integumen

didapatkan luka bekas operasi pada dada kanan atas dan perut, terdapat

kemerahan pada luka post operasi, suhu tubuh 36,4 C. Hasil laboratorium

darah lengkap didapatkan nilai hemoglobin 10.50 g/dl (13-17g/dl), leukosit

6.72 10^3/u. Resiko infeksi merupakan berisiko mengalami peningkatan

terserang organisme patogenik (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).

Menurut asumsi penulis bahwa adanya luka berarti berisiko untuk

terserang organisme atau bakteri, sehingga dapat diangkat diagnosa risiko

infeksi untuk mencegah adanya infeksi pada luka post operasi.

3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keengganan melakukan

pergerakkan

Diagnosa ini ditegakkan karena ditemukan data pasien mengatakan takut

jahitan terbuka, merasa lemas dan membatasi pergerakkan, kekuatan otot


81

ekstremitas atas 4 dan esktremitas bawah 4, bedrest atau tirah baring. Data-

data tersebut menunjukkan bahwa pasien mengalami masalah gangguan

mobilitas fisik. Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam gerakan

fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri. Menurut asumsi penulis,

masalah gangguan mobilitas fisik dijadikan prioritas ketiga karena pasien

merasa cemas saat bergerak dan enggan melakukan pergerakkan (Tim Pokja

SDKI DPP PPNI, 2017).

4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan

Diagnosa ini ditegakkan karena ditemukan data pada pasien tidak

mampu melakukan perawatan diri secara mandiri, merasa cemas dan tegang

saat perawat membantu pemasangan diapers, pasien tampak tampak tidak rapi,

ganti pakaian sekali sehari, rambut terlihat kusut. Data tersebut menunjukkan

bahwa pasien mengalami masalah dalam perawatan dirinya. Defisit perawatan

diri adalah tidak mampu melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan

diri. Menurut asumsi penulis, masalah defisit perawatan diri dijadikan

prioritas keempat karena pasien merasa cemas dan tegang saat dibantu serta

kemandirian pasien terhadap perawatan diri kurang (Tim Pokja SDKI DPP

PPNI, 2017).
82

4.3 Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan pada Ny. A dengan diagnosis Kanker Payudara atau

Ca Mammae yaitu :

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis: luka post operasi

kanker payudara (Mastektomi)

Tujuan keperawatan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama

3x24 jam diharapkan tingkat nyeri teratasi. Kriteria hasil yaitu keluhan nyeri

menurun, klien tampak meringis menurun, gelisah menurun, tekanan nadi

membaik (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019).

Rencana Keperawatan dengan intervensi utama, manajemen nyeri yaitu

Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, kualitas dan intensitas nyeri,

Identifikasi skala nyeri, Berikan teknik relaksasi nafas dalam, Anjurkan teknik

distraksi (saat nyeri alihkan dengan menonton video) bertujuan untuk

mengurangi rasa nyeri, berikan terapi kolaborasi analgesik ([Link] 3x1/

IV dan pemberian peinlos drip NS 100ml/12 jam). Manajemen nyeri

merupakan suatu proses atau tindakan keperawatan yang dilakukan baik

secara kolaboratif ataupun secara individu pada pasien pasca pembedahan

guna mengontrol atau mengurangi nyeri serta mengendalikan rasa nyeri yang

dirasa oleh pasien (Ika Yulia, et all, 2022).

Asumsi penulis dalam rencana keperawatan ini pasien dapat mengontrol

nyeri yang dirasakan dengan terapi non farmakologi yaitu teknik relasasi nafas

dalam dan terapi farmakologi ([Link] 3x1/ IV dan pemberian peinlos drip

NS 100ml/12 jam). Data tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan

lestari dkk tahun (2022) yaitu relaksasi nafas dalam terhadap pasien pasca
83

bedah berpengaruh terhadap penurunan intensitas nyeri yang dirasakan oleh

pasien. Teknik relaksasi nafas dalam merupakan suatubentuk asuhan

keperawatan bagaimana cara melakukan napas dalam, napas lambat (menahan

inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan napas secara

perlahan, relaksasi nafas dalam dapat menurunkan intensitas nyeri, selain itu

teknik relaksasi napas dalam juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan

meningkatkan oksigenasi darah.

2. Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif (Luka pada mammae

dextra dan luka sesarea)

Tujuan keperawatan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama

3x24 jam diharapkan tidak ada tanda-tanda infeksi atau radang yang muncul

(color, dolor, rubor, tumor, fungsio lesa), pasien mengatakan ketat pada luka

dan panas (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019).

Rencana Keperawatan dengan intervensi pencegahan infeksi yaitu

Monitor tanda dan gejala infeksi, Berikan perawatan kulit pada area luka,

Pertahankan kondisi aseptic pada luka. Pencegahan infeksi adalah

mengidentifikasi dan menurunkan risiko terserang organisme patogenik

(PPNI, 2017).

Asumsi penulis dalam rencana keperawatan yaitu memfokuskan pada

penyembuhan luka. Penyembuhan luka dapat dilakukan dengan perawatan

luka dengan teknik steril untuk mencegah perluasan infeksi pada luka serta

memberikan rasa nyaman pada klien dan kolaborasi dengan dokter teknik

farmakologis pemberian antibiotik. Infeksi luka operasi merupakan hasil

kontaminasi bakteri yang masuk saat dilakukan pembedahan (Hidayatika, A.,


84

Kurniawati, F. and Yasin, 2019). Penggunaan antibiotik yang rasional

menurunkan angka kejadian ILO (Murdiana, 2022).

3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keengganan melakukan

pergerakkan

Tujuan keperawatan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama

3x24 jam diharapkan mobilitas fisik meningkat, nyeri menurun, kelemahan

menurun, identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya, monitor kondisi

umum selama melakukan mobilisasi, fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat

bantu (pagar tempat tidur), libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam

meningkatkan pergerakkan, jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi, anjurkan

mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (duduk di tempat tidur, duduk di

sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi) (Tim Pokja SLKI DPP

PPNI, 2019). Asumsi peneliti dalam rencana keperawatan yaitu memfokuskan

pada kemampuan aktivitas pasien meningkat dengan mengajarkan aktivitas

distraksi.

4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan

Tujuan keperawatan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama

3x24 jam diharapkan kemampuan ke toileting meningkat, nyeri menurun,

kecemasan menurun, kelemahan fisik menurun.

Rencana Keperawatan dengan intervensi utama, kemandirian perawatan

diri yaitu monitor tingkat kemandirian, identifikasi kebutuhan alat bantu

kebersihan diri, sediakan lingkungan yang terapeutik (suasana hangat, rileks,

privasi), siapkan keperluan pribadi (seperti sabun mandi, sikat gigi, parfum),

mendampingi dalam melakukan perawatan diri sampai mandiri, fasilitasi


85

kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan perawatan diri,

menjadwalkan rutinitas perawatan diri, anjurkan melakukan perawatan diri

secara konsisten sesuai kemampuan (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2017). (Tim

Pokja SLKI DPP PPNI, 2019).

Asumsi penulis dalam rencana keperawatan yaitu memfokuskan pada

meningkatkan perawatan diri pasien meningkat dengan mengajarkan

melakukan perawatan diri secara mandiri terjadwal. Personal hygiene adalah

suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk

kesejahteraan fisik dan psikis. jika pasien tidak mampu melakukan personal

hygiene maka tugas seorang perawat adalah memberikan bantuan dalam

melaksanakan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pasien. Salah satu

bentuk perawatan diri adalah pemenuhan kebutuhan manusia. Perawat

memiliki peran untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia meliputi aspek

biologi, sosial, dan spiritual (Sri H. S. M, 2019).

Berdasarkan perencanaan dari empat diagnosa diatas maka penulis

melakukan beberapa tindakan keperawatan yaitu; melatih teknik relaksasi

nafas dalam, memberikan perawatan luka dengan teknik steril untuk

mencegah perluasan infeksi dan memberikan penjelasan atau edukasi

meningkatkan asupan nutrisi untuk membantu mempercepat penyembuhan

luka dan memberikan aktivitas distraksi untuk meningkatkan energi dan

menganjurkan istirahat yang cukup. Membantu melakukan perawatan diri dan

memandirikan pasien melakukan perawatan diri secara terjadwal untuk lebih

memudahkan pasien telah mencapai kemandirian sesuai perawatan dirinya.


86

4.4 Implementasi Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis: luka post operasi

kanker payudara (Mastektomi)

Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis selama melakukan

asuhan keperawatan di rumah sakit adalah mengkaji TTV, mengkaji

karakteristik nyeri pasien, mengajarkan tekhnik relaksasi nyeri dengan nafas

dalam, mengatur posisi yang nyaman bagi pasien menganjurkan pasien posisi

semi fowler atau setengah duduk pada tempat tidur, memberikan obat

analgetik sesuai program injeksi antrain (iv) dan peinlos drip NS 100 ml per

12 jam.

Perawat mempunyai peran penting dalam mengurangi nyeri antara lain

mengurangi ansietas, mengkaji nyeri secara regular, memberi analgesik sesuai

advise, mengevaluasi keefektifannya dan memberikan terapi non farmakologi

yaitu teknik distraksi relaksasi napas dalam. Dalam sebuah penelitian yang

sebelumnya dilakukan, disebutkan bahwa distraction therapy dapat

menurunkan skala nyeri secara efektif (Yaban, 2019).

Asumsi penulis dalam tindakan keperawatan ini yaitu dengan

memberikan teknik non farmakologi relaksasi nafas dalam dan terapi

dikstraksi menonton video melalui handphone dapat menurunkan rasa nyeri

pada klien. Pada klien dengan kanker payudara dapat mengalami nyeri akut

sedang. Kolaborasi obat anti nyeri juga penting pada klien untuk menurunkan

intensitas nyeri rendah sampai sedang.


87

2. Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif (Luka pada mammae

dextra dan luka sesarea)

Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis selama melakukan

asuhan keperawatan di rumah sakit memberikan perawatan luka pada area

luka dengan mempertahankan kondisi aseptic pada luka, menjelaskan tanda

gejala infeksi, mengajarkan mencuci tangan dengan benar, mengajarkan cara

memeriksa luka. Pasien dengan kanker payudara memiliki risiko untuk

terjadinya infeksi, sehingga pengobatan yang dianjurkan dan merupakan

pengobatan lini pertama adalah obat antibiotik (Ezra et al., 2022) . Perawatan

luka operasi juga penting dilakukan untuk mencegah infeksi dan komplikasi

pascaoperasi lainnya (Zakhary, 2017).

Asumsi penulis dalam melakukan tindakan tersebut yaitu untuk

menurunkan infeksi pada luka dan mempercepat penyembuhan luka dengan

memberikan tindakan edukasi untuk mempercepat penyembuhan dan

perawatan luka.

3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keengganan melakukan

pergerakkan

Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis selama melakukan

asuhan keperawatan di rumah sakit yaitu mengobservasi adanya nyeri atau

keluhan fisik lainnya, monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi,

memfasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (pagar tempat tidur),

libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakkan,

menjelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi, anjurkan mobilisasi sederhana

yang harus dilakukan (duduk di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur,
88

pindah dari tempat tidur ke kursi). Pada penelitian amalia dan fajar (2020)

sebuah dukungan mobilitas yang diberikan pada pasien secara psikologis akan

memberikan kepercayaan pada pasien bahwa ia mulai merasa sembuh. Asumsi

peneliti dalam melakukan tindakan yaitu memfokuskan pada keinginan pasien

untuk beraktivitas meningkat dengan dukungan mobilitas yang diberikan

keluarga dan perawat.

4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan (SDKI, D.0109, Hal:

240)

Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis selama melakukan

asuhan keperawatan yaitu kemandirian perawatan diri dengan memonitor

tingkat kemandirian, identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri,

menyediakan lingkungan yang terapeutik (suasana hangat, rileks, privasi),

menyiapkan keperluan pribadi (seperti sabun mandi, sikat gigi, parfum),

mendampingi dalam melakukan perawatan diri sampai mandiri, memfasilitasi

kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan perawatan diri,

menjadwalkan rutinitas perawatan diri, menganjurkan melakukan perawatan

diri secara konsisten sesuai kemampuan (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2017;

(Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019).


89

Menurut Patricia & Anne (2019) Perawatan individual

mempertimbangkan kemampuan pasien untuk melakukan perawatan, jumlah

bantuan yang dibutuhkan dan kebutuhan alat bantu dan keamanan untuk

memfasilitasi perawatan kebersihan yang aman. Ketika pasien mengalami

keterbatasan perawatan diri, keluarga dapat membantu dengan hati-hati.

Tentukan bagaimana keluarga dapat membantu pasien, seberapa sering

mereka dapat memberikan bantuan dan bagaimana perasaan menjadi

caregiver. Asumsi peneliti dalam melakukan tindakan yaitu membantu dan

meningkatkan kemandirian pasien dalam perawatan diri sesuai dengan

kemampuannya.

4.5 Evaluasi Keperawatan

Evaluasi yaitu penilaian hasil dan proses. Penilaian hasil menentukan

seberapa jauh keberhasilan yang dicapai sebagai keluaran dari tindakan. Evaluasi

pada pasien Ny. A dengan diagnosa kanker payudara di Ruang H1 RSPAL dr.

Ramelan Surabaya yaitu :

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis: luka post operasi

kanker payudara (Mastektomi)

Evaluasi pada diagnosa ini dilakukan pada hari ketiga tanggal 04

Desember 2022 dengan hasil subjektif pasien mengatakan nyeri berkurang.

Hasil objektif pasien sudah tidak menunjukkan ekspresi wajah meringis atau

kesakitan, ttv dalam batas normal tekanan darah 125/70 mmhg, Nadi 95

x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 36,5°C, SPO² 99%. Assesment masalah

keperawatan sudah teratasi dengan skala nyeri menurun, meringis menurun,


90

gelisah menurun, frekuensi nadi membaik, tekanan darah membaik., Planning

yaitu intervensi dilanjutkan.

2. Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif (Luka pada mammae

dextra dan luka sesarea)

Evaluasi pada diagnosa ini dilakukan pada hari ketiga tanggal 04

Desember 2022 dengan hasil subjektif pasien mengatakan nyeri pada area luka

post operasi berkurang, dan tidak panas. Hasil objektif pasien tidak ada tanda

infeksi pada luka post operasi (tidak terdapat pus, kemerahan berkurang, tidak

ada rembesan pada dressing, tidak ada bledding), ttv normal tekanan darah

125/70 mmhg, Nadi 95 x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 36,5°C, SPO² 99%.

Assesment masalah keperawatan teratasi sebagian dengan kriteria hasil yang

belum tercapai luka kemerahan menurun dan skala nyeri menurun, Planning

yaitu intervensi dilanjutkan dengan merawat kulit pada area luka dengan

mempertahankan kondisi aseptic pada luka, mengkonsumsi makanan dan

minuman yang bernutrisi dan rutin meminum antibotik (Onoiwa 3x1

@500mg) yang telah dianjurkan.

3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keengganan melakukan

pergerakkan

Evaluasi pada diagnosa ini dilakukan pada hari ketiga tanggal 04

Desember 2022 dengan hasil subjektif pasien mengatakan badan sudah sedikit

enakan dan tidak lemas. Hasil objektif pasien tampak sudah dapat beraktivitas

secara mandiri (duduk semifowler), ttv normal tekanan darah 125/70 mmhg,

Nadi 95 x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 36,5°C, SPO² 99%. Assesment

masalah keperawatan teratasi sebagian dengan kriteria hasil yang belum


91

tercapai pergerakan ekstremitas yang terbatas, kekuatan otot ekstremitas atas

dan bawah 4/4. Planning yaitu pertahankan kondisi.

4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan

Evaluasi pada diagnosa ini dilakukan pada hari ketiga tanggal 04

Desember 2022 dengan hasil subjektif pasien mengatakan melakukan sebisa

mungkin, ROM terbatas, keadaan umum baik, komposmentis. Hasil objektif

pasien tampak dibantu oleh keluarga saat melakukan perawatan dirinya (gosok

gigi, mandi dengan di seka, menyisir rambut secara mandiri) dalam posisi

setengah duduk semifowler, ttv normal tekanan darah 125/70 mmhg, Nadi 95

x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 36,5°C, SPO² 99%. Assesment masalah

keperawatan teratasi sebagian dengan kriteria hasil yang belum tercapai

kemampuan ke toileting, nyeri yang dirasakan pasien yang hilang timbul,

kelemahan fisik pada pasien. Planning yaitu pertahankan kondisi tingkatan

kemandirian perawatan diri sesuai kemampuan pasien.


BAB 5

PENUTUP

Setelah penulis melakukan pengamatan dan melaksanakan asuhan

keperawatan secara langsung pada pasien dengan diagnosis medis Kanker

Payudara di Ruang H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya, kemudian penulis dapat

menarik simpulan sekaligus saran yang dapat bermanfaat dalam meningkatkan

mutu asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosis medis Kanker Payudara.

5.1 Simpulan

1. Hasil pengkajian pada pasien pada Ny. A dengan diagnosis medis Kanker

Payudara didapatkan data pada pasien yaitu dengan keluhan utama nyeri akut,

pasien mengatakan nyeri, provoking (P): nyeri menurun dan dirasa saat

aktivitas berlebih saja, quality (Q): klien mengatakan nyeri seperti cekot-

cekot, region (R): dada sebelah kanan menjalar ke punggung, severity (S):

skala nyeri 2 (ringan) dari 0-10 skala nyeri, time (T): hilang timbul.

2. Diagnosis keperawatan pada Ny. A dengan diagnosis medis Kanker Payudara

dan telah diprioritaskan menjadi: Nyeri akut berhubungan dengan agen

pencedera fisiologis: luka post operasi kanker payudara (Mastektomi) (SDKI,

D.0077, Hal: 172), Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif (Luka

pada mammae dextra dan luka sesarea) (SDKI, D.0142, Hal: 304), Gangguan

mobilitas fisik berhubungan dengan keengganan melakukan pergerakkan

(SDKI, D.0054, Hal: 124), Defisit perawatan diri berhubungan dengan

kelemahan (SDKI, D.0109, Hal: 240).

92
93

3. Intervensi keperawatan pada Ny. A dengan diagnosis medis Kanker Payudara

(ca mammae) post op TAH BSO + Mastektomi yaitu nyeri akut berhubungan

dengan agen pencedera fisiologis: luka post operasi kanker payudara

(Mastektomi) (SDKI, D.0077, Hal: 172) dengan intervensi utama manajemen

nyeri, Risiko infeksi dibuktikan dengan efek prosedur invasif (Luka pada

mammae dextra dan luka sesarea) (SDKI, D.0142, Hal: 304) dengan intervensi

utama pencegahan infeksi, Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan

keengganan melakukan pergerakkan (SDKI, D.0054, Hal: 124) dengan

intervensi utama dukungan ambulasi, Defisit perawatan diri berhubungan

dengan kelemahan (SDKI, D.0109, Hal: 240) dengan intervensi utama

dukungan perawatan diri.

4. Implementasi keperawatan pada Ny. A dengan diagnosis medis Kanker

Payudara disesuaikan dengan diagnosis keperawatan yang ada; Nyeri akut

berhubungan dengan agen pencedera fisiologis: luka post operasi kanker

payudara (Mastektomi) dengan memanajemen nyeri dan memberikan

analgesik, Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif (Luka pada

mammae dextra dan luka sesarea) dengan perawatan luka dan pencegahan

infeksi dengan pemberian antibiotic, Gangguan mobilitas fisik berhubungan

dengan keengganan melakukan pergerakkan dengan dukungan melakukan

mobilisasi, defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan melakukan

perawatan diri dibantu dan mandiri sesuai kemampuan pasien.

5. Hasil evaluasi keperawatan pada Ny. A dengan diagnosis medis Kanker

Payudara disesuaikan dengan diagnosis keperawatan yaitu. Nyeri akut

berhubungan dengan agen pencedera fisiologis: luka post operasi kanker


94

payudara (Mastektomi), Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif

(Luka pada mammae dextra dan luka sesarea), Gangguan mobilitas fisik

berhubungan dengan keengganan melakukan pergerakkan dapat teratasi sesuai

dengan tujuan keperawatan yang telah ditetapkan, Defisit perawatan diri

berhubungan dengan kelemahan dapat teratasi sebagian dengan tujuan yang

telah ditetapkan.

5.2 Saran

1. Bagi Pasien

Pasien dan keluarga hendaknya lebih memperhatikan dalam hal

perawatan luka post operasi. Pasien harus bisa menerapkan tindakan untuk

mencegah terjadinya resiko infeksi.

2. Bagi Profesi Keperawatan

Karya ilmiah akhir ini diharapkan dapat dijadikan literature sebagai

wawasan dalam menambah ilmu dan dapat menerapkan tindakan keperawatan

yang sesuai dengan pasien khususnya pada pasien kanker payudara (ca

mammae) post op TAH BSO + Mastektomi.

3. Bagi Institusi Pendidikan

Karya ilmiah akhir ini diharapkan meningkatkan mahasiswa keperawatan

dalam mengelola pasien dengan kanker payudara khususnya pada pasien post

operasi dan dapat mempermudah melakukan penelitian atau perbandingan

dalam mengelola pasien kanker payudara (ca mammae) post op TAH BSO +

Mastektomi.
95

4. Bagi Ruangan

Petugas kesehatan khususnya perawat dapat mempertahankan tindakan

yang sudah dilakukan yaitu menerapkan teknik aseptik dalam melakukan

perawatan pada pasien dengan kanker payudara.

5. Bagi Penulis Selanjutnya

Hasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan atau

perbandingan bagi penulisan berikutnya, yang akan melakukan studi kasus

pada asuhan keperawatan diagnosa medis kanker payudara.


DAFTAR PUSTAKA

Amalia, F. Y. (2020). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Pelaksanaan


Mobilisasi Dini Pada Pasien Post Operasi di Ruang Bedah RSUD Dr. H. Bob
Bazar, SKM Kalianda Lampung Selatan. Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia,
Vol 1(1).

Ami Ashariati Prayoga. (2019). Manajemen Kanker Payudara Komprehensif.


Airlangga University Press.

Bahrudin, M. (2018). Patofisiologi Nyeri. Santika Medika.

Bonacho, T., Rodrigues, F., & Liberal, J. (2019). Immunohistochemistry for


diagnosis and prognosis of breast cancer : a review. Biotechnic &
Histochemistry. 0(0), 1–21.
[Link]

Cardoso, F., Kyriakides, S., Ohno, S. Poortmans, P., Rubio, I. T., Z., & S., &
Senkus, E. (2019). Early breast cancer : ESMO Clinical Practice Guidelines
for diagnosis , treatment and follow-up. ESMO, 30(8), 1194–1220.
[Link]

Cardoso, F., Kyriakides, S., Ohno, [Link], P., Rubio, I. T., Z., & S., &
Senkus, E. (2019). Early breast cancer : ESMO Clinical Practice Guidelines
for diagnosis, treatment and follow-up. ESMO, 30(8), 1194–1220.
[Link]

Dhestirati, erna Irawan, Sri H, Ira Marlina, T. P. (2022). Gambaran Diri Pasien
Post Mastektomi di Ruang Kemoterapi Santosa Hospital Bandung Central.
Jurnal Keperawatan BSI, 10, 267.
[Link]

Erlinda Rara Sulviana, L. K. (2021). Hubungan Antara Usia, Pendidikan, dan


Pekerjaan dengan Kejadian Kanker Payudara pada Wanita di Kalimantan
Timur. Borneo Student Research, 2 no. 3.

GLOBOCAN (Global Cancer Observatory). (2020). International Agency for


Research on Cancer. World Health Organization.
[Link]

Herdman, T. . (2018). NANDA International Nursing Diagnoses: definitions and


classification 2018-2020. EGC.

Hidayatika, A., Kurniawati, F. and Yasin, N. . (2019). Kajian Penggunaan


Antibiotik Pasien Bedah Digestif Dewasa di Rumah Sakit Akademik
Universitas Gadjah Mada. 4–5.

96
Ika Yulia Darma, Weni Sartiwi, Honesty Diana Morika, Meldafia Idaman, S. Z.
(2022). Penatalaksanaan Manajemen Nyeri Pada Pasien Post Operasi
Diruang Bedah RSUD Mayjen H.A Thalib Kota Sungai Penuh. Jurnal
Abdimas Saintika, 4 (1). [Link]

Iqmy, L. O., Setiawati, & Yanti, D. E. (2021). Faktor Risiko Yang Berhubungan
Dengan Kanker Payudara. Jurnal Kebidanan, 7(1), 32–36.

Karnila. (2018). Perbandingan Kualitas Hidup Pasien CA Mammae Dengan


Menggunakan Kuesioner EORTC-C30 dan QOL Breast Cancer Version
yang Menjalani Kemoterapi di Rumah Sakit Umum Pusat DR. Wahidin
Sudirohusodo Makassar. UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASAR.

Kemenkes RI. (2020). Hasil utama RISKESDAS 2018. Badan Penelitian Dan
Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan.
[Link]

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Panduan Penatalaksanaan


Kanker Payudara. [Link]

Lestari, S., Faridasari, I., Hikhmat, R., Kurniasih, U., & Rohmah, A. (2022).
Pengaruh Teknik Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Skala Nyeri. Jurnal
Kesehatan, 13 (1), 1–6.

Liabalingka. (2020). Kanker : pentingnya mengenal kanker lebih dekat/


Liabalingka (1st ed.). Gava Media.

Mastura, R. Nurhidayah, I. F. (2022). Asuhan keperawatan post operasi di ICU:


studi kasus. JIM FKep, 1(1), 110–117.

Meylana EH, D. D. (2020). Perbedaan Perceived Academic Stress Ditinjau Dari


Tahun Angkatan Pada Mahasiswa Fakultas X. Jurnal Penelitian Psikologi,
07(02), 32–42.

Murdiana, H. . (2022). Evaluasi penggunaan profilaksis antibiotik bedah umum di


Rumah sakit Pemerintah Yogyakarta. Health Science and Pharmacy Journal,
6 (1), 1–9. [Link]

Nadiya Sarah, M. C. (2018). Hubungan Mobilisasi Dini Post Sectio Caesarea (SC)
Dengan Penyembuhan Luka Operasi di Ruang Kebidanan RSUD dr. Fauziah
Kecamatan Kota Juang Kabupaten Bireuen. Journal Of Healthcare
Technology And Medicine, 4(2).
[Link]

Nurarif, dkk. (2016). Asuhan Keperawatan Praktis jilid 1 (jilid 1). Mediaciton.

Nurrohmah, A., Aprianti, A., & Hartutik, S. (2022). Risk Factors of Breast
Cancer. Gaster Journal Of Health Science, 20(1), 1–10.

Padila. (2019). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Nuha Medika.

97
Patricia A, Potter, Anne GGriffin Perry, patricia A Strockert, RN Bsn MS PhD,
Patricia Strockert, A. H. (2019). Fundamentals Of Nursing Vol 2-9th
Indonesia Edition: Dasar Psikososial Untuk Praktik Keperawatan Unit VII
Dasar Fisiologis Untuk Praktik Kpeerawatan: Glosarium (S. R. Deswani,
Enie Novieastari, Kusman Ibrahim (ed.)). Elsevier Health Sciences.

Ratih Kumala Dewi. (2020). Hubungan Kepatuhan Menjalani Kemoterapi dengan


Kualitas Hidup Pasien Kanker Payudara di RSUD Dr. Meowardi Surakarta.
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat, 12 (4), 158–163.

Remedios, M. D. F. Dos. (2019). Asuhan Keperawatan Komprehensif Pada


Pasien Ny. Y.G Dengan CA Mammae di Ruang Cempaka RSUD Johanes
Kupang. Politeknik Kesehatan Kemenkes Kupang. [Link].W.Z.

Rendy & Margareth. (2019). Konsep Asuhan Keperawatan Fraktur Femur. EGC.

Sari NN, S. M. (2021). Penyesuaian Psikososial Pada Wanita Penderita Kanker


Payudara Pasca Matektomi. J Penelit Psikol, 8 (7).

Siregar karolus & Nugroho, et all. (2022). Keperawatan Onkologi. CV Media


Sains Indonesia.

Sjamsuhidajat & de Jong. (2017). Buku Ajar Ilmu Bedah (3rd ed.). Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Sri H. S. M. (2019). Penerapan Proses Keperawatan Dalam Pemenuhan Peronal


Hygiene Pada Pasien.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Dewan Pengurus Pusat.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2017). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
Dewan Pengurus Pusat.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
DPP PPNI.

V. C., Manjas, M., & Rasyid, R. (2018). Distribusi Fraktur Femur Yang Dirawat
Di Rumah Sakit [Link], Padang (2010-2012). Jurnal Kesehatan
Andalas, 6(3), 586. [Link]

Vellyana, D., & Rahmawati, A. (2021). Dukungan Keluarga Pada Pelaksanaan


Mobilisasi Dini Pasien Pasca Stroke Iskemik. Jurnal Kesehatan Indonesia,
11(2), 94–99.

Wolff, A. C. et al. (2018). Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 Testing in


Breast Cancer: American Society of Clinical Oncology/College of American
Pathologists Clinical Practice Guideline Focused Update. Journal of Clinical
Oncology, 36(20), 2105–2122. [Link]

98
Yaban. (2019). Pengaruh Terapi Guided Imagery Terhadap Nyeri Pada Pasien
Post Operasi Kanker Payudara. Jurnal Abuyatama, 2(1).

Youn, H. J., & Han, W. (2020). A review of the epidemiology of breast cancer in
Asia: Focus on risk factors. Asian Pacific Journal of Cancer Prevention,
21(4), 867–880.
[Link]

Yuliana, Johan, A., & Rochana, N. (2021). Pengaruh Mobilisasi Dini terhadap
Penyembuhan Luka dan Peningkatan Aktivitas Pasien Postoperasi
Laparatomi. Jurnal Akademika Baiturrahim Jambi (JABJ), 10(1), 238–249.
[Link]

99
Lampiran. 1 Curriculum Vitae
CURRICULUM VITAE

Nama : Aisyah Wulan Rachmawati

Nim 2230006

Program Studi : Profesi Ners

Tempat Tinggal : Surabaya, 29 Maret 1998

Agama : Islam

Alamat : Jalan. Kutei Kalimir 23-A, Surabaya

[Link] 0895395096369

Email : aisyahwulanrachmawati29@[Link]

Riwayat Pendidikan :

1. TK Qoshrul Ubudiyah Surabaya : 2004-2005

2. SD Kartika IV-9 Surabaya : 2005-2010

3. SMP Rahmat Surabaya : 2011-2013

4. SMK Kesehatan Nur Medika Surabaya : 2014-2016

5. S1 Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya : 2017-2021

100
Lampiran. 2 Motto dan Persembahan

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

"You'll never be brave if you don't get hurt".

"You'll never learn if you don't make mistakes".

"You'll never be successful if you don't encounter failure".

PERSEMBAHAN

Hasil karyaku ini saya persembahkan kepada :

1. Kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan, kemudahan,

kelancaran, petunjuk sehingga saya mampu menyelasaikan tugas akhir ini

untuk menyelesaikan jenjang Profesi Keperawatan.

2. Kepada kedua orang tua saya (Ayah Wiharmadi dan Ibu Sulistiyani) yang

telah memberikan motivasi, dukungan moril dan materil yang tak pernah lelah

untuk selalu mendoakan saya dengan tulus dan ikhlas dalam menemani dan

membantu saya untuk menyelesaikan tugas akhir saya.

3. Kepada adik kandungku (Moch. Bahrul Ilmi) yang selalu mendoakan,

menemani dan menghibur serta memotivasi saya untuk menyelesaikan tugas

akhir ini.

4. Kepada sahabat terdekat saya dikampus (Tiyas dan Ulfa) yang selalu

menemani dan membantu saya disaat menyusun karya ilmiah akhir ini, serta

yang selalu memberikan Doa dan motvasi dalam penyusunan tugas akhir ini.

5. Kepada semua teman-teman angkatan 23 yang dari awal sampai akhir

perkuliahan tetap saling membantu, semoga bisa tetap kompak selalu dan

meraih keberhasilan sampai ke jenjang setinggi-tingginya.

101
Lampiran. 3 Standart Operasional Prosedur (SOP)

Standart Operasional Prosedur (SOP)

SOP (STANDAR OPERASIONAL


PROSEDUR) PERAWATAN LUKA

PENGERTIANProsedur perawatan yang dilakukan pada luka setelah operasi atau


DAN TUJUAN luka trauma.
1. Mencegah timbulnya infeksi
2. Mengobservasi perkembangan luka
3. Mengobservasi drainase eksudat
4. Meningkatkan kenyamanan fisik dan psikologis
ALAT DAN 1. Sarung tangan
BAHAN 2. Sabun cuci luka
3. Pinset anatomi
4. Pinset sirugi
5. Gunting jaringan
6. Gunting perban
7. Kasa steril
8. Kasa gulung
9. Pengalas
10. Plester
11. Cairan NaCl
12. Bengkok
13. Kapas lidi
14. Kom kecil
15. Plastik sampah
16. Obat topikal atau modern dressing untuk luka sesuai
dengan kebutuhan
PROSEDUR Tahap pra interaksi
PELAKSANAA 1. Mengecek program terapi
N 2. Mencuci tangan
Tahap orientasi
1. Beri salam, panggil klien dengan namanya.
2. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan.
3. Beri kesempatan pada klien untuk bertanya.

102
Tahap kerja
1. Berikan privacy kepada klien.
2. Berikan posisi yang nyaman kepada klien sebelum
melakukan tindakan.
3. Cuci tangan sebelum melakuan tindakan, gunakan sarung
tangan bersih dan masker bila perlu.
4. Pasang perlak
5. Lepaskan verban/balutan dengan cara menyentuh bagian
luarnya saja. Jika kotor, gunakan pinset untuk mengangkat
verban/balutan.
6. Jika verban/balutan menempel pada luka, basahi dengan
larutan NaCl, buka kalau sudah longgar.
7. Buang verban/balutan yang kotor ke dalam kantong tahan
air untuk dibakar.
8. Ganti sarung tangan jika di rasa sangat kotor.
9. Lakukan pengkajian luka.
10. Gunakan pinset untuk memegang gumpalan kasa.
11. Pertahankan ujung pinset agar tetap steril.
12. Ambil kasa steril, kemudian masukan kedalam kom
yang berisi dengan NaCl, peras kasa dan bersikan luka
dengan sekali usap area sekitar luka.
13. Buang kasa yang digunakan untuk membersihkan setiap kali
sekali mengsusap luka.
14. Ambil lagi kasa steril, basahi dengan NaCl, kemudian peras
gunakan kasa untuk membersikan area luka, lakukan
dengan cara mulai dari atas atau dekat dengan luka dan
terus makin keluar.
15. Ambil kasa steril berikan NaCl dan sabun untuk
mencuci luka.
16. Gosok permukaan luka dengan lembut guna membantu
melepaskan benda asing pada luka sebelum
mengaplikasikan balutan.
17. Bersihkan sisa sabun dengan membilasnya dengan
cairan NaCl dan kasa steril.
18. Lakukan beberapa kali hingga luka bersih.
19. Jika ada jaringan mati gunakan gunting jaringan untuk
memotong dan membuang jaringan tersebut.
20. Berikan modern dressing sesuai dengan hasil
pengkajian pada luka
21. Jika menggunakan foam sesuaikan dengan bentuk luka dan
setidaknya perbatasan 1 cm di sekitar luka. Minimal 2 cm
tergantung pada tingkat keparahan luka. Jika menggunakan

103
salep/gel gunakan kapas lidi untuk mengaplikasikan,
22. Kemudian tempelkan kasa kering diatasnya. Gunakan
kasa untuk menutupi area luka dan sekitarnya.
23. Rekatkan kasa dengan mengunakan plester luka hingga rapi.
24. Lepaskan sarung tangan.
25. Cuci tangan
Tahap terminasi
1. Respon
a. Respon verbal: klien mengatakan tidak kaku lagi
b. Respon non verbal: klien tidak terlihat sulit untuk
menggerakkan sisi tubuhnya yang kaku.
2. Beri reinforcement positif
3. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
4. Mengakhiri kegiatan dengan baik
REFERENSI (Aminuddin, [Link]., 2020)

104
SOP (STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR) PENGKAJIAN LUKA

Tindakan menkaji luka pada pasien untuk :


1. Mengetahui kondisi luka apakah mengalami perbaikan
PENGENTIAN atau tidak
DAN TUJUAN 2. Menentukan dressing yang cocok pada luka agar
mempercepat penyembuhan luka
1. LOCATION ( lokasi luka)
Contoh : Ekstremitas Bawah Sinistra Area Tibia
2. DIMENSION (dimensi luka)
Panjang, lebar, kedalaman, cafelil / lubang
3. WOUND BASE COLOR ( Warna dasar luka)
Red / merah : granulasi luka bagus Yellow / kuning : pus
luka nanah,
Black / hitam : nekrotik jaringan mati, un faskularisasi,
sirkulasi buruk
4. Tipe Jaringan / type of tissue
PROSEDUR 5. STAGE / GRADE ( derajat luka)
PENGKAJIAN kedalaman ( epidermis, dermis, subcutis, tendon / muscul)
6. SUTURE ( jahitan pada luka)
Masih bagus / terlepas/ bernanah/ bengkak/
7. WOUND EDGE (Tepi luka)
Pink : jaringan epitel merah muda Jaringan nekrosis tebal
dan keras
8. PERIWOUND SKIN ( Kulit sekitar luka)
Kemerahan, bengkak
9. EXUDATES / DISCHARGE / DRAINAGE ( keluaran
luka)
Darah / bloody (merah maroon) Serosanguineous (merah
muda) Serous (jernih)
Purulent ( kuning keruh, puss)
10. ODOR ( bau pada luka)
Seperti luka gangren
REFERENSI Ekaputra, E. 2020

105
SOP (STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR) TEKNIK RELAKSASI
NAFAS DALAM

PENGERTIAN Merupakan metode efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada


DAN TUJUAN pasien. Rileks yang sempurna dapat mengurangi ketegangan
otot, rasa jenuh, kecemasan sehingga mencegah menghebatnya
stimulasi nyeri..
1. Posisikan pasien dengan tepat
2. Pikiran beristirahat
3. Lingkungan yang tenang
PROSEDUR Tahap pra interaksi
PELAKSANAA 1. Membaca status pasien
N 2. Mencuci tangan
3. Menyiapkan alat
Tahap orientasi
1. Memberikan salam teraupetik
2. Validasi kondisi pasien
3. Menjaga privacy pasien
4. Menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan
kepada pasien dan keluarga
Tahap kerja
1. Ciptakan lingkungan yang tenang
2. Usahakan tetap rileks dan tenang
3. Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru
dengan udara melalui hitungan 1,2,3,4. Kemudian tahan
napas selama 2 detik.
4. Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut selama 8
detik sambil merasakan ekstremitas atas dan bawah rileks
5. Anjurkan bernafas dengan irama normal 3 kali
6. Menarik nafas lagi melalui hidung dan
menghembuskan melalui mulut secara perlahan-lahan
7. Membiarkan telapak tangan dan kaki rileks
8. Usahakan agar tetap konsentrasi
9. Anjurkan untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa
berkurang kurang lebih 15 menit
Tahap terminasi
1. Evaluasi hasil kegiatan
2. Lakukan kontrak untuk kegistan selanjutnya
3. Akhiri kegiatan dengan baik

106
4. Cuci tangan
Dokumentasi
1. Catat waktu pelaksaan tindakan
2. Catat respon pasien
3. Paraf dan nama perawat juga
REFERENSI Dewi, 2020

107
Lampiran. 4 SGAS Pembimbing dan Kelompok Mahasiswa

SGAS Pembimbing dan Kelompok Mahasiswa

108
Lampiran. 5 Pengajuan KIA
LEMBAR

PENGAJUAN UJIAN KARYA ILMIAH AKHIR (KIA)

109
Lampiran. 6 Lembar Bimbingan

LEMBAR BIMBINGAN KARYA ILMIAH AKHIR MAHASISWA PRODI


PROFESI NERS STIKES HANG TUAH SURABAYA TAHUN 2022/2023

110

Anda mungkin juga menyukai