KARYA ILMIAH AKHIR
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN KANKER PAYUDARA (CA
MAMMAE) POST OP BSO TAH + MASTEKTOMI HARI KE 1
DI RUANG H1 RSPAL dr. RAMELAN
SURABAYA
Oleh :
AISYAH WULAN RACHMAWATI, [Link]
NIM. 2230006
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
SURABAYA
2023
KARYA ILMIAH AKHIR
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN KANKER PAYUDARA (CA
MAMMAE) POST OP BSO TAH + MASTEKTOMI HARI KE 1
DI RUANG H1 RSPAL dr. RAMELAN
SURABAYA
Karya Ilmiah Akhir ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Ners
Oleh :
AISYAH WULAN RACHMAWATI, [Link]
NIM. 2230006
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
SURABAYA
2023
i
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN LAPORAN
Saya bertanda tangan dibawah ini dengan sebenarnya menyatakan bahwa,
karya ilmiah akhir ini saya susun tanpa melakukan plagiat sesuai dengan
peraturan yang berlaku di Stikes Hang Tuah Surabaya. Berdasarkan pengetahuan
dan keyakinan penulis, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk, saya
nyatakan dengan benar. Bila ditemukan adanya plagiasi, maka saya akan
bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh Stikes
Hang Tuah Surabaya.
Surabaya, 06 Desember 2022
Penulis,
Aisyah Wulan Rachmawati, [Link]
NIM. 2230006
ii
HALAMAN PERSETUJUAN
Setelah kami periksa dan amati, selaku pembimbing
mahasiswa: Nama : Aisyah Wulan Rachmawati, [Link]
NIM 2230006
Program Studi : Pendidikan Profesi ners
Judul : Asuhan Keperawatan Pasien Kanker Payudara
(Ca Mammae) Post Op BSO TAH + Mastektomi Hari Ke 1
Di Ruang H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya
Serta perbaikan-perbaikan sepenuhnya, maka kami menganggap dan dapat
menyetujui laporan karya ilmiah akhir ini guna memenuhi sebagian persyaratan
untuk memperoleh gelar :
NERS (Ns.)
Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik
Nur Muji A, [Link].,Ns.,[Link] Letkol Laut Pudji Agung W, [Link].,Ns
NIP. 03044 NRP: 11314/P
Mengetahui,
Stikes Hang Tuah Surabaya
Ka Prodi Pendidikan Profesi
Ners
Dr. Hidayatus Sya’diyah, [Link].,Ns.,[Link]
NIP. 03009
Ditetapkan di : STIKES Hang Tuah Surabaya
Tanggal : 19 Januari 2023
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Ilmiah Akhir dari:
Nama : Aisyah Wulan Rachmawati, [Link]
NIM 2230006
Program Studi : Pendidikan Profesi Ners
Judul : Asuhan Keperawatan Pasien Kanker Payudara
(Ca Mammae) Post Op BSO TAH + Mastektomi Hari Ke 1
Di Ruang H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya
Telah dipertahankan dihadapan dewan penguji Karya Ilmiah Akhir di Stikes
Hang Tuah Surabaya, dan dinyatakan dapat diterima sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar “Ners (Ns.)” pada prodi Pendidikan Profesi Ners Stikes
Hang Tuah Surabaya.
Penguji 1 : Dr. Setiadi, [Link].,Ns.,[Link]
NIP. 03001
Penguji 2 : Nur Muji Astuti, [Link].,Ns.,[Link]
NIP. 03044
Penguji 3 : Letkol Laut Pudji Agung Wibowo, [Link].,Ns
NRP: 11314/P
Mengetahui,
Stikes Hang Tuah Surabaya
Ka Prodi Pendidikan Profesi
Ners
Dr. Hidayatus Sya’diyah, [Link].,Ns.,[Link]
NIP. 03009
Ditetapkan di : STIKES Hang Tuah Surabaya
Tanggal : 19 Januari 2023
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmad dan
hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis
ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Karya Ilmiah Akhir ini disusun
sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan program Pendidikan Profesi Ners.
Penulis menyadari bahwa keberhasilan dan kelancaran Karya Ilmiah ini
bukan hanya karena kemampuan penulis saja, tetapi banyak bantuan dari berbagai
pihak, yang telah dengan ikhlas membantu penulis demi terselesainya penulisan,
oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan
penghargaan yang sebenar-benarnya kepada :
1. Laksamana Pertama Purn. Dr. A.V. Sri Suhardiningsih, SKp.,[Link], selaku
Ketua Stikes Hang Tuah Surabaya yang telah memberikan kesempatan
kepada kami menyelesaikan pendidikan Ners di Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Hang Tuah Surabaya.
2. Laksamana Pertama TNI dr. Gigih Imanta J., [Link], selaku Kepala Rumkital
dr. Ramelan Surabaya, yang telah memberikan ijin dan lahan praktik untuk
penyusunan karya ilmiah akhir.
3. Dr. Hidayatus Sya’diyah, [Link].,Ns.,[Link], selaku Kepala Program Studi
Pendidikan Profesi Ners yang telah memberikan dorongan penuh dengan
wawasan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
4. Letkol Laut Pudji Agung Wibowo, [Link].,Ns, selaku Pembimbing ruangan
yang dengan tulus ikhlas telah memberikan arahan dan bimbingan dalam
penyusunan dan penyelesaian Karya Ilmiah Akhir ini.
v
5. Bapak Dr. Setiadi, [Link].,Ns.,[Link], selaku Penguji ketua yang penuh
kesabaran dan perhatian memberikan pengarahan dan dorongan moral dalam
penyusunan karya ilmiah akhir ini.
6. Ibu Nur Muji Astuti, [Link].,Ns.,[Link], selaku Pembimbing institusi yang
dengan tulus ikhlas bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran serta
perhatian dalam memberikan dorongan, bimbingan dan arahan dalam
penyusunan Karya Ilmiah Akhir ini.
7. Bapak dan Ibu Dosen Stikes Hang Tuah Surabaya, yang telah memberikan
bekal bagi penulis melalui materi-materi kuliah yang penuh nilai dan makna
dalam penyempurnaan penulisan Karya Ilmiah Akhir ini, juga kepada seluruh
tenaga administrasi yang tulus ikhlas melayani keperluan penulis selama
menjalani studi dan penulisannya.
8. Klien Ny. A yang telah memberikan kesempatan untuk dilakukan asuhan
keperawatan dalam mendukung pelaksanaan praktek keperawatan
komprehensif dan penulisan Karya Ilmiah Akhir ini.
9. Sahabat-sahabat seperjuangan tersayang dalam naungan Stikes Hang Tuah
Surabaya yang telah memberikan dorongan semangat sehingga karya Ilmiah
Akhir ini dapat terselesaikan, saya hanya dapat mengucapkan semoga
hubungan persahabatan tetap terjalin.
10. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas
bantuannya. Penulis hanya bisa berdoa semoga Allah SWT membalas amal
baik semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian Karya
Ilmiah Akhir ini.
vi
Selanjutnya, penulis menyadari bahwa Karya Ilmiah Akhir ini masih
banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Maka saran dan kritik
yang konstruktif senantiasa penulis harapkan. Akhirnya penulis berharap, semoga
Karya Ilmiah Akhir ini dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang membaca
terutama bagi Civitas Stikes Hang Tuah Surabaya.
Surabaya, 06 Desember 2022
Penulis
vii
DAFTAR ISI
KARYA ILMIAH AKHIR.......................................................................................i
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN LAPORAN................................................ii
HALAMAN PERSETUJUAN................................................................................iii
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................iv
KATA PENGANTAR..............................................................................................v
DAFTAR ISI.........................................................................................................viii
DAFTAR TABEL....................................................................................................x
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................xi
DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................................xii
DAFTAR SINGKATAN......................................................................................xiii
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang..................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................5
1.3 Tujuan...............................................................................................................5
2.2.1 Tujuan Umum....................................................................................5
2.2.2 Tujuan Khusus...................................................................................5
1.4 Manfaat Karya Tulis Ilmiah..............................................................................6
1.5 Metode Penulisan..............................................................................................7
1.6 Sistematika Penulisan........................................................................................9
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................10
2.1 Konsep Penyakit..............................................................................................10
2.1.1 Anatomi Fisiologi Payudara (Mammae)..........................................10
2.1.2 Definisi Kanker Payudara (CA Mammae)........................................13
2.1.3 Etiologi Kanker Payudara (CA Mammae)........................................13
2.1.4 Klasifikasi Kanker Payudara (CA Mammae)...................................14
2.1.5 Patolofisiologi Kanker Payudara (CA Mammae).............................18
2.1.6 Web Of Caution Kanker Payudara (CA Mammae)...........................20
2.1.7 Manifestasi Klinis Kanker Payudara (CA Mammae).......................21
2.1.8 Komplikasi Kanker Payudara (CA Mammae)..................................21
2.1.9 Pemeriksaan Penunjang Kanker Payudara (CA Mammae)..............22
2.1.10 Penatalaksanaan Kanker Payudara (CA Mammae)..........................25
2.2 Konsep Tindakan Mastektomi.........................................................................26
2.2.1 Pengertian Mastektomi.....................................................................26
2.2.2 Kemungkinan Efek Samping Dari Mastektomi...............................27
2.2.3 Perawatan setelah mastektomi..........................................................27
2.3 Konsep Salphingo Oophorectomi Bilateral Pada Kanker Payudara...............28
2.3.1 Definisi.............................................................................................28
2.3.2 Ruang lingkup..................................................................................28
2.3.3 Indikasi operasi.................................................................................28
2.3.4 Kontra indikasi operasi.....................................................................28
2.3.5 Pemeriksaan penunjang....................................................................29
2.3.6 Prosedur............................................................................................29
2.3.7 Komplikasi operasi...........................................................................29
2.3.8 Perawatan Pasca Bedah....................................................................30
2.3.9 Follow up.........................................................................................30
viii
2.4 Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ca Mammae...................30
2.4.1 Pengkajian........................................................................................30
2.4.2 Diagnosis Keperawatan....................................................................35
2.4.3 Intervensi Keperawatan....................................................................36
2.4.4 Implementasi Keperawatan..............................................................44
2.4.5 Evaluasi Keperawatan......................................................................45
BAB 3 TINJAUAN KASUS.................................................................................47
3.1 Pengkajian.......................................................................................................47
3.1.1 Data Dasar........................................................................................47
3.1.2 Keluhan Utama.................................................................................47
3.1.3 Riwayat Penyakit Sekarang..............................................................47
3.1.4 Riwayat Penyakit Dahulu.................................................................48
3.1.5 Riwayat Keluarga.............................................................................49
3.1.6 Riwayat Sosial..................................................................................49
3.1.7 Keadaan Umum (Penampilan Umum).............................................50
3.1.8 Pemeriksaan Fisik............................................................................50
3.1.9 Pemeriksaan Penunjang....................................................................56
3.1.10 Terapi Medis....................................................................................60
3.2 Analisa Data Keperawatan..............................................................................60
3.3 Prioritas Masalah.............................................................................................62
3.4 Intervensi Keperawatan...................................................................................63
3.5 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan........................................................65
BAB 4 PEMBAHASAN.......................................................................................76
4.1 Pengkajian.......................................................................................................76
4.2 Diagnosis Keperawatan...................................................................................79
4.3 Intervensi Keperawatan...................................................................................82
4.4 Implementasi Keperawatan.............................................................................86
4.5 Evaluasi Keperawatan.....................................................................................89
BAB 5 PENUTUP.................................................................................................92
5.1 Simpulan..........................................................................................................92
5.2 Saran................................................................................................................94
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................96
Tabel 2. 1 Klasifikasi Breast Imaging Reporting and Data System (BIRADS) ...
23 Tabel 2. 2 Intervensi Keperawatan....................................................................36
Tabel 3. 1 Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pasien Ny. A...........................56
Tabel 3. 2 Terapi Medis Pasien Ny. A...................................................................60
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 1 Anatomi Payudara (Mammae)..................................................................11
Gambar 2. 2 Web Of Caution Kanker (CA Mammae)...........................................20
Gambar 3. 1 Genogram Keluarga Ny. A.......................................................................49
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran. 1 Curriculum Vitae.............................................................................100
Lampiran. 2 Motto dan Persembahan...................................................................101
Lampiran. 3 Standart Operasional Prosedur (SOP)..............................................102
Lampiran. 4 SGAS Pembimbing dan Kelompok Mahasiswa..............................108
Lampiran. 5 Pengajuan KIA.................................................................................109
Lampiran. 6 Lembar Bimbingan..........................................................................110
xi
DAFTAR SINGKATAN
(Intra Cerebral Hemorrhage) ICH
ACR: American College of Radiology
BAB: Buang Air Besar
BAK: Buang Air Kecil
BIRADS: Breast Imaging Reporting and Data System
Ca: Cancer
Cc: Cubic Centimeter
Cm: Centimeter
CT Scan: Computerized Tomography Scan
CVP: Central Venous Pressure
DCIS: karsinoma in situ
DO: Data Objektif
DS: Data Subyektif
EMV: Eye, Mobility, Verbal
FNAB: Fine-Needle Aspiration Biopsy
g/dl: gram per desiliter
GCS: Glasglow Coma Scale
HER2: gen pro-proliferasi
HRT: hormon replacement therapy
HRT: Hormon Replacement Therapy
IGD: Instalasi Gawat Darurat
IHC: Immunohistochemistry
ILO: Infeksi Luka Operasi
Inf: Infus
Inj: Injeksi
Iv: Intravena
Kg: Kilo gram
KGB: Kelenjar Getah Bening
LCIS: karsinoma lobulusin situ
Ml: Mililiter
xii
MmHg: Milimeter Merkuri Hydrargyrum
Mnt: Menit
MRI: Magnetic resonance imaging
NGT: Nasogastric Tube
NS: Natrium Chloride
Ny: Nyonya
O₂: Oksigen
ºC: Derajat Celcius
PQRST: Provoking, Quality, Region, Severity, Time
RM: Rekam Medis
RR: respiratory rate
SDKI: Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia
SIKI: Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
SLKI: Standar Luaran Keperawatan Indonesia
SOAP: Subyektif, Obyektif, Assessment, Planning
TTV: Tanda-tanda Vital
USG: Ultrasonografi
Wib: Waktu Indonesia barat
xiii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kanker payudara adalah suatu penyakit neoplasma ganas yang merupakan
suatu pertumbuhan jaringan payudara abnormal yang berbeda dengan jaringan
sekitarnya. Neoplasma ini dapat pula menyebar ke bagian lain di seluruh tubuh.
Penyebaran tersebut disebut dengan metastase (Iqmy, Setiawati, & Yanti, 2021;
Nurrohmah, et all, 2022). Kanker payudara merupakan kanker yang paling sering
ditemukan pada wanita di seluruh dunia (22% dari sernua kasus baru kanker pada
perempuan) dan menjadi urutan kedua sebagai penyebab kematian terkait kanker
setelah kanker paru (Hero, 2021; Sjamsuhidajat & de Jong, 2017). Angka
kejadian kanker payudara tertinggi terdapat pada usia 40-49 tahun, sedangkan
untuk usia dibawah 35 tahun insidennya hanya kurang dari 5% (Cardoso, et all,
2019; Nurrohmah, et all, 2022).
Penyakit kanker payudara memiliki beberapa cara pengobatan diantaranya
kemoterapi, radioterapi, terapi hormonal, dan mastektomi. Mastektomi
merupakan jenis pengobatan yang paling banyak digunakan oleh penderita kanker
payudara, pengobatan ini dapat menghambat proses perkembangan sel kanker
dengan taraf kesembuhan 85% hingga 87%. Efek dari pengobatan mastektomi
adalah pasien akan kehilangan sebagian atau seluruh payudara, mati rasa pada
kulit, serta kelumpuhan apabila tidak ditangani (Sari NN, 2021). Masalah
keperawatan yang muncul pada perawatan pasien post operatif kanker payudara
yang ditemukan antara lain nyeri akut, risiko infeksi, gangguan integritas kulit,
gangguan mobilitas fisik, defisit perawatan diri (Mastura, R. Nurhidayah, 2022)
1
2
Data Global Cancer Observatory tahun 2018 menunjukkan terdapat 18,1
juta kasus baru dengan angka kematian sebesar 9,6 juta kematian dimana 1 dari 5
laki-laki dan 1 dari 6 perempuan di dunia mengalami kejadian kanker. Secara
global, American Cancer Society mencatat jumlah penderita kanker berdasarkan
data insiden, prevalensi, dan mortalitas kanker mencapai setidaknya 18 juta
penderita pada 2018. Dengan Populasi dunia mencapai 7,7 miliar orang, angka
prevalensi kanker mencapai 2,3 perseribu penduduk. Prevalensi kanker payudara
(11,6%). Dan pada tahun 2020, estimasi kejadian kanker di Indonesia terdapat
65.858 kasus baru kanker payudara, dengan jumlah kematian akibat kanker
payudara sebanyak 22.430 kasus (Globocan, 2020). Angka kejadian untuk
perempuan yang tertinggi adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000
penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk. Kasus kanker
yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, yakni 58.256
kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker (Kemenkes RI, 2020).
Angka kejadian kanker payudara di RSPAL dr. Ramelan Surabaya ruang
H1 selama menjalani praktek komprehensif terhitung 3 pasien dari tanggal 28
November sampai dengan 11 Desember 2022 (2 minggu), terdapat 22 pasien
yang masuk ke ruang H1 Bedah RSPAL dr. Ramelan dengan usia 20 sampai 60
tahun, 3 pasien kanker payudara, 3 pasien tumor otak, 2 pasien spondylitis, 2
pasien anemia, 4 pasien spinal stenosis, 2 kanker serviks, 2 pasien hidrosefalus, 1
pasien kanker kolon, 5 pasien fraktur. Seluruh pasien dalam kondisi kesadaran
kompos mentis.
3
Kanker payudara adalah sebuah penyakit yang diakibatkan oleh
pertumbuhan sel yang tak terkendali pada payudara. Kanker payudara dapat
menyebar ke luar payudara melalui pembuluh darah dan pembuluh limfatik, yang
merupakan pertanda terjadinya metastasis (Wolff, Blackford AL, 2018) .
Tindakan yang dilakukan untuk menangani kanker payudara sangat beragam
salah satunya adalah operasi mastektomi, masalah keperawatan yang muncul
karena tindakan pembedahan tersebut adalah nyeri akut. Kerusakan dan inflamasi
pada nervus akan memicu rasa nyeri. Rasa nyeri pasien dipengaruhi oleh berbagai
faktor, termasuk psikologi dari pasien (Yodang dan Nuridah, 2021).
Permasalahan yang sering dihadapi pada post op adalah terjadinya komplikasi
pada luka operasi terutama infeksi, suatu keadaan masuknya kuman, menetap dan
multiaplikasi (Utami et al., 2019). Pasien post op dengan masalah nyeri akut akan
memicu perasaan cemas untuk melakukan mobilisasi dini, di mana pasien dengan
tirah baring yang terlalu lama akan mengakibatkan otot-otot di seluruh tubuh
menjadi kaku, sirkulasi darah terganggu, terjadi gangguan pernapasan, gangguan
peristaltic, berkemih dan luka tekan (Hidayati & fitriyani, 2022). Gangguan
mobilitas fisik dapat menyebabkan defisit perawatan diri berhubungan dengan
kelemahan yang menggambarkan suatu keadaan seseorang yang mengalami
hambatan kemampuan dalam melakukan aktivitas perawatan diri, seperti mandi,
berganti pakaian, makan dan eliminasi (Nadiya Sarah, 2018).
Penatalaksanaan kanker biasanya dilakukan dengan berbagai macam terapi
salah satunya tindakan yang sering digunakan untuk pelaksanaan kanker
payudara lokal yaitu masektomi dengan atau tanpa rekonstruksi dan bedah
penyelamatan payudara yang berkombinasi dengan terapi radiasi (Dhestirati,
4
2022). Kemoterapi yang dilakukan secara berseri dan kontinyu (Meylana EH,
2020). Kemoterapi biasanya terdiri dari enam sampai delapan seri tergantung
pada kondisi pasien, frekuensi dapat berbeda-beda menyesuaikan dengan stadium
kanker, tujuan terapi, jenis obat sitotoksik yang digunakan dan respon tubuh
pasien (Ashariati, 2019). Pengalaman dan pengobatan yang dilalui pada pasien
kanker mempunyai pengaruh yang besar dalam kualitas hidup pasien, kualitas
hidup memiliki empat aspek yang harus dicermati pasien kanker payudara yaitu
kesejahteraan fisik, psikologis, sosial dan spiritual (Ratih Kumala Dewi, 2020).
Mengacu pada kesejahteraan psikologis tidak sedikit pasien yang menjalani
kemoterapi mengalami depresi yang pasien beradaptasi kondisinya saat ini
sehingga mempengaruhi kualitas hidup pasien (Rosyanti, 2018). Keadaan
tersebut bila tidak ditangulangi akan menyebabkan dampak serius bagi kesehatan
jiwa dan tidak sedikit yang berujung pada percobaan bunuh diri.
Seorang perawat harus mengetahui tentang bagaimana perjalanan dan
dampak lebih lanjut dari kanker payudara atau ca mammae. Berdasarkan latar
belakang diatas, maka penulis tertarik membahas mengenai konsep dasar hingga
evaluasi terhadap pasien kanker payudara yang dituangkan dalam bentuk Karya
Ilmiah Akhir dengan judul “Asuhan Keperawatan Pasien (Ca Mammae) Kanker
Payudara Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari ke 1 Di Ruang H1 RSPAL dr.
Ramelan Surabaya”.
5
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka penulis berniat membuat karya
tulis ilmiah tentang asuhan keperawatan pasien dengan Kanker Payudara (Ca
Mammae), untuk itu penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut
“Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Ny. A dengan Diagnosis Medis Kanker
Payudara (Ca Mammae) Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari Ke 1 Di Ruang
H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya?”.
1.3 Tujuan
2.2.1 Tujuan Umum
Mengkaji individu secara mendapalm yang dihubungkan dengan
penyakitnya melalui proses keperawatan pada Ny. A dengan Diagnosis Medis
Kanker Payudara (Ca Mammae) Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari Ke 1 Di
Ruang H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya.
2.2.2 Tujuan Khusus
1. Melakukan pengkajian pada Ny. A dengan Diagnosis Medis Kanker Payudara
(Ca Mammae) Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari Ke 1 Di Ruang H1
RSPAL dr. Ramelan Surabaya.
2. Melakukan analisis masalah, prioritas masalah dan menegakkan diagnosis
keperawatan pada Ny. A dengan Diagnosis Medis Kanker Payudara (Ca
Mammae) Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari Ke 1 Di Ruang H1 RSPAL
dr. Ramelan Surabaya.
3. Menyusun rencana asuhan keperawatan pada masing-masing diagnosis
keperawatan pasien Ny. A dengan Diagnosis Medis Kanker Payudara (Ca
6
Mammae) Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari Ke 1 Di Ruang H1 RSPAL
dr. Ramelan Surabaya.
4. Melaksanakan tindakan asuhan keperawatan pada Ny. A dengan Diagnosis
Medis Kanker Payudara (Ca Mammae) Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari
Ke 1 Di Ruang H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya.
5. Melakukan evaluasi asuhan keperawatan pada Ny. A dengan Diagnosis Medis
Kanker Payudara (Ca Mammae) Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari Ke 1
Di Ruang H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya.
1.4 Manfaat Karya Tulis Ilmiah
Berdasarkan tujuan umum maupun tujuan khusus maka karya tulis ilmiah
ini diharapkan bisa memberikan manfaat baik bagi kepentingan pengembangan
program maupun bagi kepentingan ilmu pengetahuan, adapun manfaat-manfaat
dari karya tulis ilmiah secara teoritis maupun praktis seperti tersebut dibawah ini :
1. Secara Teoritis
Dengan pemberian asuhan keperawatan secara cepat, tepat dan efisien akan
menghasilkan keluaran klinis yang baik, menurunkan angka kejadian mordibitas
dan mortalitas pada pasien dengan Kanker Payudara (Ca Mammae).
2. Secara Praktis
a. Bagi Institusi Rumah Sakit
Dapat sebagai pemasukan untuk menyusun kebijakan atau pedoman
pelaksanaan pasien dengan Kanker Payudara (Ca Mammae) sehingga
penatalaksanaan dini bisa dilakukan dan dapat menghasilkan keluaran
klinis yang baik bagi pasien yang mendapatkan asuhan keperawatan di
institusi rumah sakit yang bersangkutan.
7
b. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat digunakan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien
dengan Kanker Payudara (Ca Mammae). serta meningkatkan
pengembangan profesi keperawatan.
c. Bagi Keluarga dan Pasien
Sebagai bahan penyuluhan kepada keluarga tentang deteksi dini
penyakit Kanker Payudara (Ca Mammae) sehingga keluarga mampu
menggunakan pelayanan medis gawat darurat. Selain itu, agar keluarga
mampu melakukan perawatan pasien dengan Kanker Payudara (Ca
Mammae) dirumah agar meminimalkan aktivitas.
d. Bagi Penulis Selanjutnya
Bahan penulisan ini bisa dipergunakan sebagai perbandingan atau
gambaran tentang asuhan keperawatan pasien dengan Kanker Payudara
(Ca Mammae) sehingga penulis selanjutnya mampu mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang terbaru.
1.5 Metode Penulisan
1. Metode
Studi kasus yaitu metode yang memusatkan perhatian pada satu obyek
tertentu yang diangkat sebagai sebuah kasus untuk dikaji secara mendalam
sehingga mampu membongkar realitas di balik fenomena.
8
2. Teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara
Data diambil atau diperoleh melalui percakapan baik dengan pasien,
keluarga, maupun tim kesehatan lain.
b. Observasi
Data yang diambil melalui pengamatan secara langsung terhadap
keadaan, rekasi, sikap dan perilaku pasien yang dapat diamati.
c. Pemeriksaan
Meliputi pemeriksaan fisik dan laboratorium serta pemeriksaan
penunjang lainnya yang dapat menegakkan diagnose dan penanganan
selanjutnya.
3. Sumber Data
a. Data Primer
Adalah data yang diperoleh dari pasien.
b. Data Sekunder
Adalah data yang diperoleh dari keluarg aatau orang terdekat
dengan pasien, catatan medis perawat, hasil-hasil pemeriksaan dan tim
kesehatan lain.
c. Studi Kepustakaan
Yaitu mempelajari buku sumber yang berhubungan dengan judul
karya tulis dan masalah yang dibahas.
9
1.6 Sistematika Penulisan
Dalam studi kasus secara keseluruhan dibagi dalam 3 bagian, yaitu:
1. Bagian awal memuat halaman judul, abstrak penulisan, persetujuan
pembimbing, pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi,
daftar gambar dan daftar lampiran dan abstraksi.
2. Bagian inti meliputi lima bab, yang masing-masing bab terdiri dari sub bab
berikut ini :
BAB 1 : Pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, perumusan
masalah, tujuan manfaat penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB 2 : Landasan teori yang berisi tentang Konsep penyakit dari sudut medis
dan asuhan keperawatan pasien dengan diagnosa Kanker Payudara
(Ca Mammae)
BAB 3 : Hasil yang berisi tentang data hasil pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan keperawatan,
dan evaluasi dari pelaksanaan.
BAB 4 : Pembahasan kasus yang ditemukan berisi data, teori dan opini serta
analisis.
BAB 5 : Simpulan dan saran.
3. Bagian akhir, terdiri dari daftar pustaka dan lampiran.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Bab 2 Tinjauan Pustaka menguraikan tentang konsep penyakit meliputi :
anatomi fisiologi, definisi, etiologi, klasifikasi, patolofisiologi, Web Of Caution
(WOC), manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan
kanker payudara (CA) Mammae; dan membahas tentang konsep asuhan
keperawatan meliputi : pengkajian, masalah keperawatan, diagnosis keperawatan,
intervensi keperawatan, implementasi keperawatan, evaluasi keperawatan.
2.1 Konsep Penyakit
2.1.1 Anatomi Fisiologi Payudara (Mammae)
Mammae terdapat pada laki-laki dan perempuan. Bentuk mammae sama pada
laki-laki dan perempuan yang belum dewasa. Papilla mammae kecil dan
dikelilingi oleh daerah kulit yang berwarna lebih gelap, disebut areola mammae.
Jaringan mammae tersusun atas sekelompok kecil sistem saluran yang terdapat di
dalam jaringan penyambung dan bermuara di daerah areola. Dasar mammae
terbentang dari iga kedua sampai keenam dan dari pinggir lateral sternum sampai
linea axillaries media. Sebagian besar glandula mammaria terletak didalam fascia
superficialis. Sebagian kecil, yang disebut processus axillaris, meluas ke atas dan
lateral, menembus fascia profunda pada pinggir caudal musculus pectoralis
major, dan sampai axilla. Setiap payudara terdiri dari 15-20 lobus, yang tersusun
radier dan berpusat pada papilla mammaria. Saluran utama dari setiap lobus
bermuara di papilla mammae dan mempunyai ampulla yang melebar tepat
sebelum ujungnya. Dasar papilla mammae dikelilingi oleh areola. Tonjolan-
tonjolan halus pada areola diakibatkan oleh kelenjar areola di bawahnya. Lobus-
10
11
lobus kelenjar dipisahkan oleh septa fibrosa. Septa di bagian atas kelenjar
berkembang dengan baik dan terbentang dari kulit sampai ke fascia profunda dan
berfungsi sebagai ligamentum suspensorium. Glandula mammae dipisahkan dari
fascia profunda yang membungkus otot-otot di bawahnya oleh spatium
retromammary yang berisi jaringan ikat jarang. Pada perempuan muda, payudara
cenderung menonjol ke depan dari dasar yang sirkular, pada perempuan yang
lebih tua payudara cenderung menggantung. Mammae mencapai ukuran maksimal
selama masa laktasi (Siregar karolus & Nugroho, 2022).
Gambar 2. 1 Anatomi Payudara (Mammae) Sumber : (Siregar karolus & Nugroho,
2022)
Mammae mulai berkembang saat pubertas dan perkembangannya distimulasi
oleh estrogen yang berasal dari siklus seksual wanita bulanan. Estrogen
merangsang pertumbuhan kelenjar mammae payudara ditambah dengan deposit
lemak untuk memberi massa payudara. Selain itu pertumbuhan yang lebih besar
terjadi selama kadar estrogen yang tinggi pada kehamilan dan hanya jaringan
kelenjar saja yang berkembang sempurna untuk pembentukan air susu.
12
Terdapat 2 hormon yang berperan dalam proses perkembangan payudara
antara lain:
1. Peranan Estrogen (Pertumbuhan sistem duktus)
Selama kehamilan, sejumlah besar estrogen disekresikan oleh plasenta
sehingga sistem duktus payudara tumbuh dan bercabang. Secara bersamaan,
stroma payudara juga bertambah besar dan sejumlah besar lemak terdapat
dalam stroma. Sedikitnya ada 4 hormon lain yang penting dalam pertumbuhan
sistem duktus diantaranya hormon pertumbuhan, prolaktin, glukokortikoid
adrenal dan insulin. Masing-masing hormon tersebut diketahui memainkan
paling sedikit beberapa peranan dalam metabolisme protein (Siregar karolus &
Nugroho, 2022).
2. Peranan Progesteron (Perkembangan sistem lobulus-alveolus)
Perkembangan akhir mammae menjadi organ yang menyekresi air susu
juga memerlukan progesteron. Sistem duktus telah berkembang, progesteron
bekerja secara sinergistik dengan estrogen, juga dengan semua hormon-
hormon lain menyebabkan pertumbuhan lobulus payudara, dengan pertunasan
alveolus dan perkembangan sifat-sifat sekresi dari sel-sel alveoli. Perubahan-
perubahan ini analog dengan efek sekresi progesteron pada endometrium
uterus selama pertengahan akhir siklus seksual wanita. Walaupun estrogen
dan progesteron penting untuk perkembangan fisik kelenjar mammae selama
kehamilan, namun hormon ini mempunyai pengaruh untuk tidak
menyebabkan alveoli menyekresi air susu.
13
Air susu disekresi hanya sesudah payudara yang siap dirangsang lebih
lanjut oleh prolaktin dari kelenjar hipofisis anterior. Konsentrasi hormon
prolaktin dalam darah ibu meningkat secara tetap dari minggu kelima
kehamilan sampai kelahiran bayi (Siregar karolus & Nugroho, 2022).
2.1.2 Definisi Kanker Payudara (CA Mammae)
Kanker payudara adalah suatu penyakit yang diakibatkan oleh adanya suatu
perkembangan sel kanker pada payudara atau adanya pertumbuhan jaringan yang
tidak terkontrol pada payudara (Liabalingka, 2020). Kanker payudara adalah
neoplasma ganas yang terbentuk dari sel-sel payudara yang tumbuh dan
berkembang tanpa terkendali sehingga dapat menyebar di antara jaringan atau
organ di dekat payudara atau ke bagian tubuh lainnya (Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia, 2018).
Kanker payudara umumnya terjadi pada wanita, tetapi tidak menutup
kemungkinan laki-laki juga dapat terkena kanker payudara akan tetapi kasusnya
hanya 1 : 1000 dibandingkan dengan wanita. Kanker payudara termasuk salah
satu penyakit yang dapat menyebabkan kematian terbesar pada seseorang wanita
(Liabalingka, 2020).
2.1.3 Etiologi Kanker Payudara (CA Mammae)
Penyebab kanker payudara Menurut (Nina et all 2020) yaitu:
1. Faktor genetik, jika mempunyai keluarga yang menderita kanker payudara.
2. Faktor usia, penyakit kanker payudara meningkat pada usia remaja ke atas.
3. Pola hidup tidak sehat, seringnya mengkonsumsi junkfood dan jarang
olahraga.
14
4. Menggunakan obat-obatan, seperti : hormon replacement therapy (HRT) yang
dapat menyebabkan peningkatan resiko terkena penyakit kanker payudara.
5. Faktor lain yang diduga menjadi salah satu penyebab kanker payudara ialah
tidak menikah, menikah tapi tidak punya anak, melahirkan anak pertama
setelah usia 35 tahun, tidak pernah menyusui anak.
6. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa penyakit kanker payudara
meningkat pada orang yang sering menghadapi kondisi stress, dan pada wanita
yang menstruasi pertama kali terjadi pada saat usia dibawah 11 tahun
(Liabalingka, 2020).
7. Perokok pasif
Orang yang tidak merokok akan tetapi ia menghirup asap rokok yang
dikeluarkan oleh orang perokok dan ini biasanya disebut perokok pasif dan ini
lebih beresiko terkena kanker payudara dibandingkan dengan perokok aktif.
Menurut ahli dari California Environtment Protection Agency perokok paif
memiliki hubungan yang sangat erat dengan resiko terkena penyakit kanker
payudara, oleh karena itu jangan menjadi perokok pasif dan jangan menjadi
perokok aktif, hindarilah orang-orang yang merokok disekitar anda agar anda
tidak menjadi perokok pasif karena akan beresiko terkena penyakit kanker
payudara (Liabalingka, 2020).
2.1.4 Klasifikasi Kanker Payudara (CA Mammae)
Perkembangan kondisi abnormal payudara hingga menjadi sel kanker terbagi
menjadi tiga kelas yaitu normal, tumor (benign) dan kanker. Neoplasma itu sendiri
adalah massa jaringan abnormal. Dimana pada kelas ini terdapat dua jenis
15
neoplasma pada payudara, yaitu tumor jinak atau non-kanker dan tumor ganas
atau kanker.
Berikut adalah penjelasan masing-masing klasifikasi kanker payudara (Ami
Ashariati Prayoga, 2019):
1. Diagnosis normal
Payudara normal merupakan payudara dengan pertumbuhan sel normal,
dimana sel-sel payudara yang tumbuh sama dengan sel-sel payudara yang
rusak atau mati.
2. Diagnosis neoplasma (benign)
Neoplasma merupakan pertumbuhan sel yang abnormal dimana
pembelahan sel pada payudara lebih cepat dari pada sel yang rusak atau mati.
Jenis-jenis dari tumor yaitu:
a. Neoplasma Jinak
Meskipun neoplasma ini pada umumnya tidak agresif terhadap
jaringan sekitarnya, tetapi terkadang tumor ini dapat terus tumbuh,
menekan pada organ-organ dan menyebabkan sakit atau masalah lain.
Dalam situasi ini, perlu dilakukan pengangkatan tumor agar
komplikasinya mereda.
b. Neoplasma Ganas
Kanker sangat agresif karena menyerang dan merusak jaringan sekitar.
Selanjutnya biopsi perlu dilakukan untuk menentukan tingkat keparahan
atau agresivitas tumor.
16
3. Diagnosis kanker (Metastasis kanker)
Metastasis kanker adalah ketika sel-sel kanker tumor ganas menyebar ke
bagian lain tubuh. Biasanya melalui sistem getah bening dan membentuk
tumor sekunder. Ada beberapa jenis kanker payudara yaitu sebagai berikut :
a. Karsinoma duktus invasive
Karsinoma ini merupakan jenis yang paling umum (75%). Dilihat
melalui mikroskop, sel ganas tersusun dalam berbagai bentuk mikro
arsitektur, termasuk struktur kelenjar. Banyak tumor mengandung
komponen stroma jarngan ikat yang menonjol (skirus). Perilaku
biologisnya bermacam-macam, dari prognosis baik sampai buruk. Sistem
penentuan penentuan stadium kanker (1 sampai 3) dilakukan berdasarkan :
a. Tingkat pembedaan tumor, seperti yang dikaji melalui pembentukan
tubulus
b. Perbedaan ukuran, bentuk dan penodaan nucleus
c. Frekuensi mitosis
b. Kanker lobulus invasive
Kanker ini merupakan jenis kedua yang paling umum (10%). Dilihat
melalui mikroskop, sel tumor monomorfik tersusun secara berderet,
dengan pola alveolus dan targetoid. Kanker ini sering kali memiliki
banyak pusat dan bisa terjadi di kedua payudara. Kanker ini tidak
berkaitan dengan mikroklasifikasi, dan bisa sulit dideteksi dengan
mamografi atau ultrasonografi. Magnetic resonance mammography
direkomendasikan untuk mengevaluasi kanker jenis ini.
17
c. Karsinoma tubulus
Kanker ini mencakup 5 % dari semua penyakit ganas payudar dan
semakin mudah dideteksi melalui pengamatn. Kanker ini biasanya
merupakan tumor kecil dan secara histologi mengandung kelenjar
berbentuk jelas yang dipisahkan oleh stroma berserat. Sel ganas
mengandung proyeksi sitoplasma. yang memanjang dari puncak sel ke
lumen duktus. Kanker tubulus cenderung tetap berada di suatu tempat dan
sebenarnya tidak pernah bermetastasis ke nodus limfa di wilayah yang
sama. Sampai 95 % pasien mampu bertahan hidup selama 5 tahun.
d. Kanker payudara inflamasi
Kanker ini mencakup 3% dari semua penyakit ganas yang ada di
payudara. Jika dilihat melalui mikroskop, kanker ini bisa menunjukkan
ciri-ciri kanker duktus, lobulus atau medula yang menginfiltrasi, disertai
oleh serangan limfatik ke kult oleh sel ganas, edeam jaringan dan
perembesan sel inflamasi dengan tingkat keparahan berbeda-beda. Kanker
ini cenderung dialami wanita muda pra-menopause dan secara biologi
dengan hasil klinis yang kurang memuaskan.
e. Karsinoma in situ
Karsinoma in situ berasal dari unit duktus-lobulus terminal, dengan
karsinoma in situ (DCIS) hanya ada di duktus atau duktulus, dan
karsinoma lobulusin situ (LCIS) hanya ada di lobulus. Sebelum
pemantauan payudara, insidensi DCIS adalah 1 sampai 3 persen dari
specimen yang diambil dan 3-6% dari semua kanker payudar. Sejak
pemantauan diperkenalkan, DCIS telah didokumentasikan dalam 15
18
sampai 20 persen semua kanker payudara yang telah diangkat dan dalam
20 sampai 40 persen semua kanker payudar sama (tidak bisa diraba) ang
dikeluarkan. Frekuensi LCIS juga meningkat dalma biopsi atau spesimen
yang telah dikeluarkan. LCIS digolongkan sebagai neoplasia lobulus.
Dalam DCIS, terdapat poliferasi lapisan sel kuboid dalam menuju lumen
dan hilangnya lapisan luar sel mioepitelium, namun membran alasnya
masih utuh.
2.1.5 Patolofisiologi Kanker Payudara (CA Mammae)
Untuk dapat menegakkan diagnosa kanker dengan baik, terutama untuk
melakukan pengobatan yang tepat, diperlukan pengetahuan tentang proses
terjadinya kanker dan perubahan strukturnya. Tumor atau neoplasma merupakan
kelompok sel yang berubah dengan ciri proliferasi yang berlebihan dan tak
berguna, yang tak mengikuti pengaruh jaringan sekitarnya. Proliferasi abnormal
sel kanker akan mengganggu fungsi jaringan normal dengan menginfiltrasi dan
memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ yang jauh. Di
dalam sel tersebut telah terjadi perubahan secara biokimia terutama dalam intinya.
Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel yang mengalami transformasi
maligna dan berubah menjadi sekelompok sel ganas di antara sel normal (Yaban,
2019). Sel kanker dapat menyebar melalui aliran pembuluh darah dan
permeabilitas kapiler akan terganggu sehingga sel kanker dapat berkembang pada
jaringan kulit. Sel kanker tersebut akan terus menginfiltrasi jaringan kulit,
menghambat dan merusak pembuluh darah kapiler yang mensuplai darah ke
jaringan kulit. Akibatnya jaringan dan lapisan kulit akan mati (nekrosis) kemudian
timbul luka kanker.
19
Jaringan nekrosis merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri,
baik bakteri aerob atau anaerob. Bakteri tersebut akan menginfeksi dasar luka
kanker sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, sel kanker dan
proses infeksi itu sendiri akan merusak permeabilitas kapiler kemudian
menimbulkan cairan luka (eksudat) yang banyak. Cairan yang banyak dapat
menimbulkan iritasi sekitar luka dan juga gatal-gatal. Pada jaringan yang rusak
dan terjadi infeksi akan merangsang pengeluaran reseptor nyeri sebagai respon
tubuh secara fisiologis, akibatnya timbul gejala nyeri yang hebat. Sel kanker itu
sendiri juga merupakan sel imatur yang bersifat rapuh dan merusak pembuluh
darah kapiler yang menyebabkan mudah pendarahan. Adanya luka kanker, bau
yang tidak sedap dan cairan yang banyak keluar akan menyebabkan masalah
psikologis pada pasien. Akhirnya, pasien cenderung merasa rendah diri, mudah
marah atau tersinggung, menarik dini dan membatasi kegiatannya. Hal tersebut
yang akan menurunkan kualitas hidup pasien kanker (Yaban, 2019).
20
2.1.6 Web Of Caution Kanker Payudara (CA Mammae)
Faktor risiko: Pertumbuhan sel abnormal
Genetic
Hormonal
Merokok, alcohol, Hyperplasia pada sel Tumor jinak
pola makan mammae
CA MAMMAE
Mendesak jaringan Mensuplai nutrisi ke Mendesak pembuluh darah
sekitarnya jaringan Ca
Aliran terhambat hingga
Pembengkakan mammae Pe ↓ hipermetabolisme terjadi hipoxia
jaringan lain (BB turun)
Peningkatan massa tumor Bakteri patogen
Defisit Nutrisi
Keluar cairan putih di
nanah
Tindakan pembedahan
(Mastektomi)
Pre Op Efek anestesi Post Op
Tanda mayor napas
Stress psikologi Massa tumor Fisiologi Psikologi
dispnea
mendesak jaringan
Menanyakan masalah Insisi jaringan Perubahan
Ketidakefektifan
yang dihadapi mammae bentuk mammae
Nyeri menekan pola napas
pada syaraf
Defisit Gangguan
Pengetahuan Kerusakan Terputusnya Citra Tubuh
Nyeri akut
Integritas otot/jaringan
kulit/jaringan sekitar aksila
Tanda mayor
merasa khawatir, Pendidikan
bingung dengan kesehatan Risiko Infeksi
kondisinya saat ini
Ansietas
Gambar 2. 2 Web Of Caussation Kanker (CA Mammae) (Sumber: Nurarif, 2016
dalam Reni A, 2020)
21
2.1.7 Manifestasi Klinis Kanker Payudara (CA Mammae)
Pasien kanker payudara biasanya datang dengan keluhan adanya benjolan
atau massa di payudaranya, terasa sakit, dan adanya cairan yang keluar dari puting
susu, tanpak adanya kelainan pada kulit (dimpling, kemerahan, ulserasi, kulit
keriput seperti kulit jeruk), terjadi pembesaran kelenjar getah bening. Dalam
anamnesis juga ditanyakan adanya faktor-faktor resiko pada pasien, dan pengaruh
siklus haid terhadap keluhan atau perubahan ukuran tumor. Untuk meminimalkan
pengaruh dari hormon estrogen dan progresteron, sebaiknya pemeriksaan pada
payudara dilakukan kurang lebih 1 minggu setelah haid dan dihitung dari hari
pertama saat menstruasi terjadi (Remedios, 2019).
2.1.8 Komplikasi Kanker Payudara (CA Mammae)
Kebanyakan komplikasi timbul akibat operasi, radiasi dan kemoterapi, atau
penggunaan obat tamoxifen, yang efek dalam pencegahan agar kanker pada
payudara tidak kembali lagi, tetapi semua itu dapat meningkatkan resiko wanita
mengalami kanker endometrium (rahim) dan penyakit trombo embolik.
Komplikasi-komplikasi tersebut yaitu (Cardoso, 2019) :
1. Terbatasnya pergerakan bahu
2. Inflamasi (peradangan) jaringan ikat pada lengan yang terlibat
3. Penumpukan cairan pada payudara, pembengkakan dilengan
4. Perubahan warna pada kulit akibat radiasi atau timbulnya bercak merah hitam
5. Peradangan paru akibat radiasi
6. Kematian sel lemak dibawah jaringan payudara
7. Kanker tumbuh kembali (recurrence)
8. Kanker paru-paru, hati, tulang, otak dan kulit.
22
2.1.9 Pemeriksaan Penunjang Kanker Payudara (CA Mammae)
Demi mendukung pemeriksaan klinis dapat dilakukan pemeriksaan penunjang
berupa radiologi untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas terkait kondisi
payudara pasien. Selain itu pemeriksaan radiologi juga bisa digunakan untuk
kepentingan penentuan stadium. Adapun pemeriksaan radiologi yang dianjurkan
pada diagnosis kanker payudara yaitu : Mamografi, Ultrasonografi (USG), CT
Scan, Bone Tumor, dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) (Bonacho, T.,
Rodrigues, F., & Liberal, 2019).
1. Mamografi merupakan pemeriksaan dengan menggunakan sinar X yang
digunakan sebagai bagian dari skrining maupun diagnosis kanker payudara.
Mamografi memiliki sensitifitas pada pasein > 40 tahun, nauman kurang
sensisitif dan memiliki bahaya radiasi pada pasien < 40 tahun.
2. Ultrasonografi (USG) merupakan modalitas diagnosis dengan menggunakan
gelombang suara yang relatif aman, hemat biaya, dan tersedia secara luas.
Pemeriksaan ini aman dilakukan untuk menemukan ukuran lesi dan bisa
menentukan lesi berupa lesi kistik atau lesi solid. Pemeriksaan bersifat
operator dependent yaitu memerlukan ahli radiologi berpengalaman “man
behind the gun”.
3. CT scan merupakan pemeriksaan dengan sinar X yang divisualisasikan oleh
komputer. CT scan thoraks dengan kontras merupakan salah satu modalitas
untuk diagnosis kanker payudara. Selain itu, CT scan kepala juga dapat
memberikan keuntungan dalam penetuan metastasis ke otak.
4. Bone scanning merupakan pemeriksaan yang menggunakan bahan radioaktif.
Pada kanker payudara pemeriksaan ini menentukan ada atau tidaknya
23
metastasis kanker, serta keparahannya. Namun sudah tidak direkomendasikan
karena sulit dan memiliki efektifitas yang kurang.
5. Magnetic resonance imaging (MRI), memanfaatkan gelombang magnet. MRI
cocok dilakukan untuk pasien usia muda dan pasien dengan risiko kanker
payudara tinggi karena memberikan hasil yang sensitif pada tumor kecil.
Namun MRI ini belum digunakan secara luas karena biaya tinggi, dan durasi
waktu yang lama.
6. Melalui pemeriksaan radiologi dapat dilakukan Deteksi Morfologi Palpable
Massa Payudara untuk tingkat keparahan benjolan payudara yang mengacu
pada Breast Imaging Reporting and Data System (BIRADS) oleh American
College of Radiology (ACR)
Tabel 2. 1 Klasifikasi Breast Imaging Reporting and Data System
(BIRADS) Sumber (Bonacho, T., Rodrigues, F., & Liberal,
2019)
Kategori pemeriksaan
BIRADS 0 Inklompet
BIRADS 1 Negatif
BIRADS 2 Jinak
BIRADS 3 Kemungkinan jinak
BIRADS 4 Curiga ke arah aganas
BIRADS 5 Sangat curiga ganas
BIRADS 6 Hasil biopsi positif keganasan
24
7. Biopsi adalah gold standar pemeriksaan kanker payudara untuk memastikan
adanya keganasan atau tidak. Pengambilan sampel pemeriksaan biopsi dapat
dilakukan melalui (fine-needle aspiration biopsy, core biopsy, dan biopsi
terbuka).
a. Fine-Needle Aspiration Biopsy (FNAB) dilakukan dengan menggunakan
jarum halus no. 27, dimana sejumlah kecil jaringan tumor diaspirasi keluar
lalu diperiksa di bawah mikroskop. Jika lokasi tumor dapat diraba dengan
mudah, FNAB dapat dilakukan sambil meraba rumor. Namun bila
benjolan tidak teraba, ultrasonografi dapat digunakan untuk memandu
arah jarum.
b. Core Biopsy merupakan pengambilan jaringan biopsi menggunakan jarum
yang ukurannya cukup besar sehingga diperoleh spesimen jaringan
berbentuk silinder yang tentu saja lebih bermakna dibanding specimen dari
FNAB. Sama seperti FNAB, core biopsy dapat dilakukan sambil
memfiksasi massa dengan palpasi atau dengan bantuan ultrasonografi.
c. Biopsi terbuka dilakukan bila pada pemeriksaan radiologis ditemukan
kelainan yang mengarah ke keganasan namun hasil FNAB atau core
biopsy meragukan. Biopsi terbuka dapat dilakukan secara eksisional
maupun insisional. Biopsi eksisional adalah mengangkat seluruh massa
tumor dan menyertakan sedikit jaringan sehat di sekitar massa tumor,
sedangkan biopsi insisional hanya mengambil sebagian kecil tumor untuk
diperiksa secara patologi anatomi.
25
Selain biopsy, dari sampel dapat dilakukan pemeriksaan
Immunohistochemistry (IHC), yang merupakan pemeriksaan sitologi di bawah
mikroskop. Dari sel-sel ini dievaluasi faktor prognostik dan prediktif kanker
payudara, misalnya gen pro-proliferasi (HER2), reseptor hormone, dan gen.
Melalui IHC, tipe dan kompleksitas sel kanker dapat ditentukan (Bonacho,
2019).
2.1.10 Penatalaksanaan Kanker Payudara (CA Mammae)
Kanker payudara yang masih bisa diobati dengan cara di operasi yaitu
stadium IIIA. Sedangkan, terapi pada stadium IIIB dan IV tidak lagi dengan
mastektomi, melainkan pengobatan dengan paliatif (Bonacho, T., Rodrigues, F.,
& Liberal, 2019). Ada beberapa pengobatan pada kanker payudara tetapi
tergantung pada stadium klinik penyakit kanker payudara tersebut:
1. Pembedahan atau operasi
Dilakukan pada kanker payudara yang ditemukan adanya benjolan lebih
dini pada payudara, maka semakin dini kanker payudara ditemukan maka
semakin besar kemungkinan untuk sembuh setelah menjalani operasi. Jenis
operasi yang dilakukan untuk mengobati kanker payudara yaitu mastektomi
dan pengangkatan kelenjar getah bening (KGB).
2. Radiasi atau penyinaran
Radiasi adalah proses penyinaran yang dilakukan pada daerah yang
terkena kanker dengan menggunakan sinar X dan sinar gamma tindakan ini
bertujuan untuk membunuh sel kanker yang masih tersisa di payudara.
26
3. Kemoterapi
Kemoterapi merupakan tindakan kanker payudaraa dengan cara pemberian
obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil cair atau kapsul melalui infus, ini
bertujuan untuk membunuh sel kanker yang ada di seluruh tubuh bukan hanya
dibagian payudara saja.
2.2 Konsep Tindakan Mastektomi
2.2.1 Pengertian Mastektomi
Operasi kanker payudara yang mengangkat seluruh payudara. Mastektomi
mungkin dilakukan ketika seorang wanita tidak dapat diobati dengan operasi
konservasi payudara (lumpektomi), yang menyelamatkan sebagian besar payudara.
Jika seorang wanita memilih mastektomi daripada operasi konservasi payudara
untuk pribadi alasan. Untuk wanita yang sangat berisiko terkena kanker payudara
kedua yang terkadang memilih untuk menjalani mastektomi ganda (pengangkatan
kedua payudara) (Cancer, 2021).
Usia, kesehatan secara keseluruhan, status menopause, ukuran tumor,
stadium tumor dan luas penyebaran, stadium tumor dan tingkat keganasan, status
reseptor hormon tumor, dan apakah tumor telah bermigrasi ke kelenjar getah
bening, semuanya mempengaruhi jenis mastektomi dan pengobatan kanker
payudara, menurut Kozier (Cancer, 2021).
27
2.2.2 Kemungkinan Efek Samping Dari Mastektomi
Pendarahan dan infeksi di tempat operasi dimungkinkan dengan semua
operasi. Efek samping mastektomi dapat bergantung pada jenis mastektomi yang
Anda miliki (operasi kompleks cenderung memiliki lebih banyak efek samping)
(Cancer, 2021). Efek samping dapat meliputi :
1. Sakit atau nyeri tekan di tempat operasi
2. Pembengkakan di tempat operasi
3. Penumpukan darah di luka (hematoma)
4. Penumpukan cairan bening di luka (seroma)
5. Pergerakan lengan atau bahu terbatas
6. Mati rasa di dada atau lengan atas
7. Nyeri neuropatik (saraf) terkadang digambarkan sebagai nyeri terbakar atau
tertusuk) di dinding dada, ketiak, dan atau lengan yang tidak hilang seiring
waktu. Ini juga disebut sindrom nyeri pasca mastektomi.
8. Jika kelenjar getah bening aksila juga diangkat, efek samping lain seperti
lymphedema mungkin terjadi.
2.2.3 Perawatan setelah mastektomi
Beberapa wanita mungkin mendapatkan perawatan lain setelah mastektomi,
seperti terapi hormon untuk membantu menurunkan risiko kanker kembali.
Beberapa wanita mungkin juga memerlukan kemoterapi, atau terapi yang
ditargetkan setelah operasi. Jika demikian, terapi radiasi dan atau terapi hormon
biasanya ditunda sampai kemoterapi selesai. Bicaralah dengan dokter tentang apa
yang diharapkan (Cancer, 2021).
28
2.3 Konsep Salphingo Oophorectomi Bilateral Pada Kanker Payudara
2.3.1 Definisi
Suatu tindakan pembedahan dengan cara mengangkat ovarium kanan dan
kiri sebagai bagian dari terapi hormonal kanker payudara
2.3.2 Ruang lingkup
Kelenjar ovarium kanan dan kiri
2.3.3 Indikasi operasi
Wanita premenopause dengan kanker payudara stadium lanjut lokal atau
lanjut jauh yang pada pemeriksaan imunohistokimia menunjukkan hasil reseptor
hormonal yang positif (ER dan atau PR).Wanita premenopause dengan kanker
payudara stadium lanjut lokal atau lanjut jauh yang tidak memungkinkan
diperiksa reseptor hormonalnya karena fasilitas pemeriksaan yang tidak
[Link] premenopause dengan kanker payudara yang mengalami
kekambuhan lokal atau sistemik dengan reseptor hormonal (ER dan atau PR) yang
positif.
2.3.4 Kontra indikasi operasi
1. Wanita post menopause
2. Penderita dengan komorbiditas yang berat
3. Tidak ada data mengenai reseptor hormonal (?)
4. Modalitas terapi hormonal pada penderita kanker
payudara Surgery : salphingo oophorectomi bilateral
Non surgery : radio kastrasi
Medical ablation : injeksi zoladex, tapros
29
2.3.5 Pemeriksaan penunjang
1. pemeriksaan imunohistokimia (ER,PR) dari kanker payudara
2. USG abdomen : melihat adanya kelainan dalam ovarium
3. Setelah memahami, menguasai dan mengerjakan modul ini maka diharapkan
seorang dokter ahli bedah mempunyai kompetensi melakukan operasi
salphingo oophorectomi bilateral serta penerapannya dapat dikerjakan di RS
Pendidikan dan RS jaring pendidikan.
2.3.6 Prosedur
2.3.7 Komplikasi operasi
1. Dini : perdarahan dari pembuluh darah ovarium, ileus paralitik
2. lambat : adesi.
30
2.3.8 Perawatan Pasca Bedah
1. Sadar baik boleh minum sedikit sedikit kemudian diet bebas
2. Kateter segera dilepas setelah penderita mobilisasi
3. Evaluasi ILO hari 3, 5, 7
4. Luka operasi diangkat pada hari 10 s/d 14
2.3.9 Follow up
1. Terhadap tindakan operasinya
2. Terhadap respon tumornya setelah dilakukan terapi hormonal.
2.4 Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ca Mammae
2.4.1 Pengkajian
Pengkajian keperawatan merupakan tahap awal dari proses keperawatan
dimana pengkajian ini mencakup pengumpulan data subjektif dan objektif (misal
tanda vital, anamnesis pasien atau keluarga, pemeriksaan fisik) dan peninjauan
informasi riwayat pasien yang diberikan oleh keluarga atau pasien, atau yang
ditemukan pada rekam medik (Herdman, 2018) :
1. Identitas
a. Identitas Pasien : pada penyakit kanker payudara kejadian tertinggi pada
usia 40-49 tahun, sedangkan untuk usia dibawah 35 tahun hanya 3%.
Sering terjadi pada perempuan, kanker payudara jarang terjadi pada pria
dan hanya terhitung 1% dari seluruh kasus kanker payudara (Cardoso, et
all, 2019). Serta mengkaji alamat, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa,
agama, status perkawinan, alamat, tanggal masuk RS (Rumah Sakit),
diagnosis medis, dan nomor RM (Rekam Medik).
31
b. Identitas Penanggungjawab: yang dikaji meliputi nama, umur, alamat,
pendidikan, pekerjaan, dan hubungan dengan klien.
2. Keluhan Utama
Pada pasien Ca mammae keluhan umum yang dikeluhkan pasien adalah
adanya benjolan pada payudara, kadang disertai nyeri atau tidak nyeri,
bengkak dan pada stadium lanjut disertai pengeluaran abnormal dan
perubahan dalam bentuk dan penampakan payudara tidak simetris, kulit
payudara seperti kulit jeruk (peau d’orange putting tertarik kedalam).
3. Riwayat Penyakit Sekarang
a. Pasien mengatakan terasa nyeri pada payudara saat benjolan mulai
membesar
b. Pasien mengatakan timbul benjolan pada payudara yang dapat diraba
dengan tangan, makin lama benjolan ini makin mengeras dan
bentuknya tidak beraturan.
c. Pasien mengeluh keluar pus atau nanah, darah atau cairan encer dari
papilla mammae pada wanita yang tidak hamil
d. Kulit payudara seperti kulit jeruk (mengerut) akibat neoplasma
menyekat drainase limfatik sehingga terjadi edema dan piting kulit
e. Pasien mengatakan tubuhnya terasa lemah, tidak nafsu makan, mual,
muntah, dan cemas (ansietas)
f. Terdapat edema pada lengan atau kelainan kulit, ruam kulit, dan
ulserasi.
32
4. Riwayat Keperawatan Dahulu
Kaji riwayat penyakit yang sama sebelumnya seperti penyakit tumor
payudara jinak, kaji riwayat pemakaian terapi hormone, kaji riwayat
pemakaian kontrasepsi oral, kaji riwayat merokok, konsumsi alkohol,
tinggi kadar lemak, dan makanan yang menggunakan penyedap rasa dan
pengawet, kaji riwayat menarche atau menstruasi pertama pada usia yang
relatif muda dan menopause pada usia yang relatif lebih tua, kaji riwayat
nulipara (belum pernah melahirkan), infertilitas dan melahirkan anak
pertama pada usia yang relatiflebih tua (lebih dari 35 tahun), serta tidak
menyusui bayinya
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji riwayat keluarga tingkat pertama yang menderita kanker (orang
tua, anak, atau saudara kandung). Wanita dengan satu keluarga tingkat
pertama dengan kanker payudara memiliki risiko 1,75 kali lipat lebih
tinggi terkena penyakit ini dibandingkan wanita tanpa kerabat yang
terkena. Risiko menjadi 2,5 kali lipat atau lebih tinggi pada wanita yang
memiliki dua atau lebih kerabat tingkat pertama yang menderita kanker
payudara (Sun, et al, 2017) . Riwayat keluarga dari sisi yang sama yan
terkena kanker payudara. Adanya riwayat kanker payudara bilateral pada
keluarga.
33
6. Riwayat Sosial
a. Kaji riwayat pekerjaan pasien
Wanita yang bekerja shift malam berisiko mengalami kanker
payudara. Hal tersebut berkaitan dengan perubahan melatonin (Youn, H.
J., & Han, 2020).
b. Kaji riwayat dimana pasien tinggal
Kaji apakah klien tinggal di tempat yang dekat dengan pabrik
logam, manufaktur bahan-bahan plastik untuk otomotif, industri
pengalengan makanan dan pertanian. Zat tertentu dalam bahan
tersebut memiliki sifat seperti estrogen (Youn, H. J., & Han, 2020).
7. Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola Nutrisi
Pada pasien dengan kanker payudara tidak ada pantangan tentang
makan, pada metabolisme terjadi perubahan yaitu terjadi peningkatan
nafsu makan dan penurunan berat badan.
b. Pola Aktivitas
Pada pasien pre op tidak ada terbatasan untuk aktivitas semua
dilakukan seperti biasa, mungkin pada post op pasien bisa terjadi
keterbatasan aktivitas karena proses pembedahan.
c. Pola Eliminasi
Pemenuhan kebutuhan eliminasi baik BAB maupun BAK tidak
terdapat gangguan, kalaupun ada mungkin disebabkan faktor lain.
34
8. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
Pada pasien sebelum operasi Ca Mammae biasanya tidak terjadi
penurunan kesadaran (composmentis), untuk pemeriksaan tanda-tanda vital
yang dikaji yaitu tekanana darah, suhu, nadi, respirasi. Tekanan darah
menurun, nadi cepat, suhu dingin, pernapasan lemah sehingga
pengembalian darah 48 jam pertama tidak adekuat.
b. Pemeriksaan Persistem
Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada pasien dengan adalah
sebagai berikut :
1) B1 (Breathing)
Pola nafas irregular (RR> 22x/menit), dispnea, pasien belum
sadar dilalukan evaluasi seperti pola nafas, tanda-tanda obstruksi,
pernafasan cuping hidung frekuensi nafas, pergerakan rongga dada
apakah simetris atau tidak, suara nafas tambahan apakah tidak ada
obstruksi total, udara nafas yang keluar dari hidung, sianosis pada
eksternitas, auskultasi adanya wheezing atau ronkhi. Kepatenan jalan
nafas kedalaman, frekuensi dan karakter permalasan sifat dan bunyi
nafas merupakan hal yang harus dikaji pada klien dengan Ca Mammae.
2) B2 (Blood)
Pada sistem kardiovaskular dinilai tekanan darah, nadi, perfusi
perifer dan sering terjadi irama jantung irregular akibat pasien syok
dan terjadinya tekanan darah tinggi.
35
3) B3 (Brain)
Pada sistem saraf pusat dinilai kesadaran pasien dengan GCS
(Glasglow Coma Scale) dan perhatikan gejala kenaikan TIK 4 Klien
mengalami gangguan pada otak ada terjadi pendarahan dan juga
mengalami penurunan kesadaran.
4) B4 (Bladder)
Pada pasien Ca mammae dilakukan pemeriksaan urin kuantitas,
warna, kepekatan urine, untuk menilai apakah pasien masih dehidrasi,
apakah ada kerusakan ginjal dan keluhan lainnya.
5) B5 (Bowel)
Klien biasanya mengalami mual dan muntah. Pada palpasi
abdomen ditemukan sakit kepala berlebihan penurunan tingkat
kesadaran merupakan tanda utama (Intra Cerebral Hemorrhage) ICH.
6) B6 (Bone)
Aktivitas klien biasanya mengalami perubahan. Klien sering
merasa kelemahan, kelelahan, tidak dapat melakukan kegiatan pola
hidup menetap dan jadwal olahraga teratur, perubahan pestur tubuh.
2.4.2 Diagnosis Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan penekanan syaraf (SDKI, D.0078, Hal: 174)
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek samping terapi radiasi
(SDKI, D.0129, Hal: 282)
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubhana struktur atau bentuk
tubuh (Ca Mammae) (SDKI, D.0083, Hal: 186).
2.4.3 Intervensi Keperawatan
Tabel 2. 2 Intervensi Keperawatan
Diagnosa
No Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi Rasional
Keperawatan
1. Nyeri akut Setelah dilakukan intervensi Nyeri akut (SIKI, Hal: 485) Intervensi Manajemen nyeri (SIKI, 1.08238, Hal:
berhubungan keperawatan selama 1 X 24 jam utama 201)
dengan agen maka nyeri akut menurun dengan Manajemen nyeri (SIKI, 1.08238, Hal: 201) Observasi
pencedera fisik kriteria hasil (SLKI, Hal: 174): Observasi 1. Untuk mengetahui lokasi,
(prosedur operasi) Luaran utama 1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, karakteristik, durasi, frekuensi
(SDKI, D.0078, Tingkat nyeri (SLKI, L.08066, Hal: frekuensi, kualitas, intensitas nyeri dan intensitas nyeri
Hal: 174) 145) 2. Identifikasi skala nyeri 2. Agar kita mengetahui tingkat
1. Kemampuan menuntaskan 3. Identifikası respons nyeri non verbal cedera yang dirasakan oleh
aktifitas meningkat (5) 4. Identifikasi faktor yang memperberat pasien
2. Keluhan nyeri menurun (5) dan memperingan nyeri 3. Agar kita mengetahui
3. Meringis menurun (5) 5. Identifikasi pengetahuan dan tingkatan nyeri yang
4. Sikap protektif menurun (5) keyaninan tentang nyeri sebenarnyadirasakan pasien
5. Gelisah menurun (5) 6. Identifikasi pengaruh budaya terhadap 4. Agar kita dapat mengurangi
6. Kesulitan tidur menurun (5) respon nyeri faktor yang dapat
7. Menarik diri menurun (5) 7. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas memperparah nyeri yang
8. Berfokus pada diri sendiri hidup dirasakan oleh pasien
36
menurun (5) 8. Monitor keberhasilan terapi 5. Agar kita mengetahui sejauh
9. Diaforesis menurun (5) komplementer yang sudah diberikan mana pemahaman dan
10. Perasaan depresi (tertekan) 9. Monitor efek samping penggunaan pengetahuan pasien terhadap
menurun (5) analgetik nyeri yang dirasakan
11. Perasaan takut mengalami Terapeutik 6. Karena budaya pasien dapat
cedera berulang menurun (5) 1. Berikan teknik nonfarmakologis mempengaruhi bagaimana
12. Anoreksia menurun (5) untuk mengurangi rasa nyeri (mis. pasien mengartikan nyeri itu
13. Perineum terasa tertekan TENS, hipnosis, akupresur, terapi sendiri
menurun (5) musik, biofeedback, terapi pijat, 7. Untukmencegah terjadinya
14. Uterus teraba membulat aromaterapi, teknik imajınasi penurunan kualitas hidup dari
menurun (5) terbimbing, kompres hangat atau pasien itu sendiri
15. Ketegangan otot menurun (5) dingin, terapi bermain) 8. Agar kita mengetahui sejauh
16. Pupil dilatasi menurun (5) 2. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa mana kemajuan yang dialami
17. Muntah menurun (5) nyeri (mis. suhu ruangan, pencahayaan pasien setelah dilaukan terapi
18. Mual menurun (5) kebisıngan) komplementer
19. Frekuensi nadi membaik (5) 3. Fasilitasi Istirahat dan tidur 9. Agar ketika timbul ciri-ciri
20. Pola napas membaik (5) 4. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri abnormal pada tubuh pasien
21. Tekanan darah membaik (5) dalam pemilihan strategi meredakan kita dapat menghentikan
22. Proses berpikir membaik (5) nyeri pemberian obat analgesic
23. Fokus membaik (5) Edukasi sendiri
1. Jelaskan penyebab, periode, dan
pemicu nyeri
37
24. Fungsi berkemih membaik (5) 2. Jelaskan strategi meredakan nyeri Terapeutik
25. Perilaku membaik (5) 3. Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri 1. Agar pasien dapat mengetahui
26. Napsu makan membaik (5) 4. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk kondisinya
27. Pola tidur membaik (5) mengurangi rasa nyeri 2. Agar dapat mengurangi nyeri
Kolaborasi 3. Agar nyeri tidak memburuk
1. Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu 4. Agar kebutuhan tidur pasien
terpenuhi
5. Agar tindakan kita kepada
pasien sesuai
Edukasi
1. Agar pasien dapat menghindar
2. Agar pasien dapat meredakan
nyeri secara mandiri
3. Agar ketika nyeri yang
dirasakan klien parah dapat
memberitahu keluargaatau
tenaga medis
4. Agar pasien dapat
menghilangkan nyeri dengan
menggunakan obat
38
Kolaborasi
1. Agar rasa nyeri dirasakan
pasien dapat dihilangkan atau
dikurangi
2. Gangguan Setelah dilakukan intervensi Gangguan integritas kulit (SIKI, Hal: 460) Perawatan integritas kulit (SIKI,
integritas kulit keperawatan selama 1 X 24 jam Intervensi utama 1.11353, Hal: 316)
berhubungan maka integritas kulit meningkat Perawatan integritas kulit (SIKI, 1.11353, Hal: Observasi
dengan dengan kriteria hasil (SLKI, Hal: 316) 1. Untuk mengetahui penyebab
efek 158): Observasi gangguan integritas kulit
samping terapi Luaran utama 1. Identifikasi penyebab gangguan integritas Terapeutik
radiasi (SDKI, Integritas kulit dan jaringan kulit (mis, perubahan sirkulasi, perubahan 1. Untuk mengetahui posisi tiap 2
D.0129, Hal: 282) (SLKI, L.14125, Hal: 33) status nutrisi, penurunan kelembaban, suhu jam jika tirah baring
1. Elastisitas meningkat (5) lingkungan ekstrem, penurunan mobilitas) 2. Untuk mengetahui
2. Hidrasi meningkat (5) Terapeutik pemijatanpada penonjolan
3. Perfusi jaringan meningkat (5) 1. Ubah posisi tiap 2 jam jika tirah baring tulang
4. Kerusakan jaringan menurun 2. Lakukan pemijatan pada area penonjolan 3. Gunakan produk berbhan
(5) tulang, jika perlu Bersihkan perineal petroleum atau minayka pada
5. Kerusakan lapisan kulit dengan air hangat, terutama selama kulit kering
menurun (5) periode diare 4. Agar pasien mengetaui
6. Nyeri menurun (5) 3. Gunakan produk berbahan petrolium atau produkberbahan ringan atau
39
7. Perdarahan menurun (5) minyak pada kulit kering alami dan hipoalergik pada kulit
8. Kemerahan menurun (5) 4. Gunakan produk berbahan ringan/alami sensitive
9. Hematoma menurun (5) dan hipoalergik pada kulit sensitive 5. Agar pasien hindari produk
10. Pigmentasi abnormal 5. Hindari produk berbahan dasar alkohol bahan alcohol pada kulit kering
menurun (5) pada kulit kering Edukasi
11. Jaringan parut Nekrosis Edukasi 1. Agar pasien menggunakan
menurun (5) 1. Anjurkan menggunakan pelembab pelembab
12. Abrasi kornea menurun (5) (mis, lotion, serum) 2. Agar pasien minum air yang
13. Suhu kulit membaik (5) 2. Anjurkan minum air yang cukup cukup
14. Sensasi membaik (5) 3. Anjurkan meningkatkan asupan buah dan 3. Agar pasien meningkatkan
15. Tekstur membaik (5) sayur asupan buah dan sayur
16. Pertumbuhan rambut 4. Anjurkan menghindari terpapar suhu 4. Agar pasien menghindari
membaik (5) ekstrem terpapar suhu ekstrem
5. Anjurkan menggunakan tabir surya SPF 5. Agar pasien menggunakan tabir
minimal 30 saat berada di luar rumah surya SPF minimal 30 saat
6. Anjurkan mandi dan menggunakan sabun berada di luar rumah
secukupnya 6. Agar pasien mandi dan
menggunakan sabun secukupnya
40
3. Gangguan citra Setelah dilakukan intervensi Gangguan citra tubuh (SIKI, Hal: 459) Promosi citra tubuh (SIKI, 1.09305,
tubuh berhubungan keperawatan selama 1 X 24 jam Intervensi utama Hal: 359)
dengan perubahan maka citra tubuh meningkat Promosi citra tubuh (SIKI, 1.09305, Hal: 359) Observasi
struktur atau dengan kriteria hasil (SLKI, Hal: Observasi 1. Agar perawat tahu harapan citra
bentuk tubuh (Ca 157): 1. Identifikasi harapan citra tubuh tubuh pasien berdasarkan tahap
Mammae) (SDKI, Luaran utama berdasarkan tahap perkembangannya
D.0083, Hal: 186) Citra tubuh (SLKI, L.09067, Hal: perkembangan 2. Agar perawat tahu budaya
19) 2. Identifikasi budaya, agama, jenis kelamin, agama jenis tubuh dan umur
1. Melihat bagian tubuh dan umur terkait citra tubuh yang terkait dengan citra tubuh
membaik (5) 3. Identifikasi perubahan citra tubuh yang pasien di lingkungannya
2. Menyentuh bagian tubuh mengakibatkan isolasi sosial 3. Agar perawat tahu perubahan
membaik (5) 4. Monitor frekuensi pernyataan kritik citra tubuh yang mana yang
3. Verbalisasi kecacatan bagian terhadap diri sendiri dapat mengakibatkan pasien
tubuh membaik (5) 5. Monitor apakah pasien bisa melihat bagian melakukan isolasi sosial
4. Verbalisasi kehilangan bagian tubuh yang berubah 4. Diharapkan klien mampu
tubuh membaik (5) Terapeutik mengetahui apa yang
5. Verbalisasi perasaan negatif 1. Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya menjadikan klien merasa kurang
tentang perubahan tubuh 2. Diskusikan perbedaan penampilan fisik akan diriya
menurun (5) terhadap harga diri 5. Diharapkan pasien dapat
6. Verbalisasi kekhawatiran 3. Diskusikan perubahan akibat pubertas, mengetahui dan paham tentang
kehamilan dan penuaan
41
pada penolakan atau reaksi 4. Diskusikan kondisi stres yang bagian tubuhnya yang berubah
orang lain menurun (5) mempengaruhi citra tubuh (mis, luka, Terapeutik
7. Verbalisasi perubahan gaya penyakit, pembedahan) 1. Pasien mengerti perubahan
hidup menurun (5) 5. Diskusikan cara mengembangkan harapan tubuhnya akan berpengaruh juga
8. Menyembunyikan bagian citra tubuh secara realistis pada fungsi tubuhnya sendiri
tubuh berlebihan menurun (5) 6. Diskusikan persepsi pasien dan 2. Merasa lebih percaya diri pada
9. Menunjukkan bagian tubuh keluarga tentang perubahan citra tubuh penampilan fisiknya
berlebihan menurun (5) Edukasi 3. Klien mengerti bahwa pubertas,
10. Fokus pada bagian tubuh 1. Jelaskan kepada keluarga tentang kehamilan dan penuaan juga
menurun (5) perawatan perubahan citra tubuh akan mempengaruhi citra
11. Fokus pada penampilan masa 2. Anjurkan mengungkapkan gambaran diri dirinya
lalu menurun (5) terhadap citra tubuh 4. Pasien merasa tenang setelah
12. Fokus pada kekuatan masa 3. Anjurkan menggunakan alat bantu (mis. diajak diskusi tentang pemicu
lalu menurun (5) pakaian, wig, kosmetik) stress pada dirinya
13. Respon nonverbal pada 4. Anjurkan mengikuti kelompok pendukung 5. Pasien dapat merasa lebih lega
perubahan tubuh membaik (5) (mis. kelompok sebaya) dengan kondisi yang dialami
14. Hubungan sosial membaik (5) 5. Latih fungsi tubuh yang dimiliki 6. Pasien dan keuarga dapat
6. Latih penampilan diri (mis. berdandan) mengetahui tentang apa yang
7. Latih pengungkapan kemampuan diri diharapkannya
kepada orang lain maupun kelompok
42
Edukasi
1. Keluarga dapat mendukung
pasien untuk melakukan
perawatan pada perubahan citra
tubuh
2. Pasien dapat mengungkapkan
tentang arti dirinya
3. Pasien merasa lebih percaya diri
dengan menggunakan alat bantu
4. Apsein merasa lebih bersengata
menjalani hidup dengan
mengikuti kelompok pendukung
5. Diharapkan pasien semakin hari
akan semakin membaik
kondisinya
6. Lebih percaya diri terhadap
penampilannya
7. Pasien diharapkan dapat
berosialisasi dengan orang lain
43
44
2.4.4 Implementasi Keperawatan
Menurut Rendy (2019), pelaksanaan keperawatan merupakan sebuah fase
dimana perawat melaksanakan rencana yang sudah dilaksanakan sebelumnya.
Pelaksanaan keperawatan membutuhkan fleksibilitas dan kreativitas perawat.
Sebelum melakukan suatu tindakan, perawat harus mengetahui alasan mengapa
tindakan tersebut dilakukan. Beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya
tindakan keperawatan yang dilakukan harus sesuai dengan tindakan yang sudah
direncanakan, dilakukan dengan cara yang tepat, aman, serta sesuai dengan
kondisi pasien, selalu dievaluasi mengenai keefektifan dan selalu
mendokumentasikan menurut urutan waktu. Aktivitas yang dilakukan pada tahap
pelaksanaan dimulai dari pengkajian lanjutan, membuat prioritas, menghitung
alokasi tenaga, memulai intervensi keperawatan, dan mendokumentasikan
tindakan dan respon klien terhadap tindakan yang telah dilakukan (Padila, 2019).
Pelaksanaan merupakan tahap ke empat dari proses keperawatan yang dimulai
setelah perawat menyusun rencana keperawatan. Dengan rencana keperawatan
yang dibuat berdasarkan diagnosis yang tepat, intervensi diharapkan dapat
mencapai tujuan dan hasil yang diinginkan untuk mendukung dan meningkatkan
status kesehatan pasien. Tujuan dari implementasi adalah membantu pasien dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan, dan memfasilitasi koping.
Perencanaan asuhan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik, jika klien
mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan.
45
Selama tahap pelaksanaan, perawat terus melakukan pengumpulan data dan
memilih asuhan keperawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan pasien.
Jenis-jenis tindakan pada tahap pelaksanaan adalah (Padila, 2019):
1. Secara mandiri (Independent)
Tindakan yang diprakarsai oleh perawat membantu pasien dalam
mengatasi masalahnya dan menanggapi reaksi karena adanya stressor.
2. Saling ketergantungan (Interdependent)
Tindakan keperawatan atas dasar kerja sama tim keperawatan dengan tim
kesehatan lainnya seperti: dokter, fisioterapi, dan lainlain.
3. Rujukan atau ketergantungan (Dependent)
Tindakan keperawatan atas dasar rujukan dan profesi lainnya diantaranya
dokter, psikiatri, ahli gizi, dan lainnya.
2.4.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan adalah tahap akhir dari proses keperawatan untuk
mengukur respon klien terhadap tindakan keperawatan dan kemajuan respons
klien kearah pencapaian tujuan. Evaluasi dapat berupa evaluasi struktur, proses
dan hasil. Evaluasi terdiri dari evaluasi formatif yaitu menghasilkan umpan balik
selama program berlangsung. Evaluasi sumatif dilakukan setelah program selesai
dan mendapatkan informasi efektivitas pengambilan keputusan (Rasyid, 2018).
46
Menurut Rasyid (2018), evaluasi asuhan keperawatan didokumentasikan
dalam bentuk SOAP (subyektif, obyektif, assessment, planning). Komponen
SOAP yaitu:
1. S (Subyektif) dimana perawat menemukan keluhan klien yang masih dirasakan
setelah dilakukan tindakan.
2. O (Obyektif) adalah data yang berdasarkan hasil pengukuran atau observasi
klien secara langsung dan dirasakan setelah selesai tindakan keperawatan.
3. A (Assesment) adalah kesimpulan dari data subyektif dan obyektif (biasanya
ditulis dala bentuk masalah keperawatan).
4. P (Planning) adalah perencanaan keperawatan yang akan dilanjutkan
dihentikan, dimodifikasi atau ditambah dengan rencana kegiatan yang sudah
ditentukan sebelumnya.
BAB 3
TINJAUAN KASUS
Untuk mendapatkan gambaran nyata tentang pelaksanaan asuhan
keperawatan pada pasien dengan diagnosa medis Kanker Payudara (Ca Mammae)
Post Op TAH BSO + Mastektomi Hari Ke 1, maka penulis menyajikan suatu kasus
yang penulis amati mulai 02 Desember 2022 sampai dengan 04 Desember 2022.
Data diperoleh dari wawancara dengan pasien serta keluarga pasien dan rekam
medis sebagai berikut.
3.1 Pengkajian
3.1.1 Data Dasar
Pasien bernama Ny. A berusia 39 tahun, lahir pada tanggal 09 September
1983, beragama islam. Tinggal di Sidoarjo dan pekerjaan Ny. A ibu rumah tangga
sedangkan suami Ny. A pedagang. Pasien MRS tanggal 15 November 2022 di
ruang H1 RSPAL Dr. Ramelan Surabaya.
3.1.2 Keluhan Utama
Pada saat dilakukan pengkajian tanggal 02 Desember 2022 kondisi pasien
lemah, terdapat luka pada bagian dada sebelah kanan (luka post op mastektomi)
mengeluh nyeri di dada sampai ke punggung.
3.1.3 Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan utama masuk rumah sakit adalah sesak napas, sesak napas terjadi
pada sekitar pukul 06.00 wib, saat pasien ingin menyapu halaman depan rumah
dada terasa ada tahanan dan membuat pasien sampai sesak napas. Kemudian
pasien mulai lemas dan bersandar pada tembok di halaman depan rumahnya, saat
itu hanya ada anak perempuannya yang melihat kejadian tersebut, pasien sempat
47
48
napas tidak teratur langsung di bawa ke IGD RSPAL dr. Ramelan Surabaya pada
pukul 07.00 wib, kemudian dilakukan tindakan yaitu pasien terpasang O₂ nasal
kanul 5 lpm dan kebutuhan cairan pasien NS 500 ml/24 jam, pasien
composmentis, GCS E3V4M5. Reflek cahaya (+/+), diameter pupil 3mm/3mm,
Babinski -/-, tekanan darah 110/70 mmHg, suhu 36,4ºC, frekuensi nadi 94x/menit,
saturasi oksigen 99%, respiratory rate 22x/menit, kejang tidak ada. Data diatas
tersebut diambil dari rekam medis pasien. Pada jam 17.00 pasien dipindahkan ke
ruang perawatan H1 bedah, memberikan tindakan maintenance atau tetap
dipertahankan pengobatan yang diberikan IGD RSPAL dr. Ramelan Surabaya dan
dilakukan tindakan prosedur operasi pada tanggal (01 Desember 2022) yang
sudah terlaksana. Keluhan saat dilakukan pengkajian pada tanggal 02 Desember
2022 adalah nyeri di payudara sebelah kanan dan punggung setelah post operasi
hari pertama, kesadaran Composmentis, GCS E4V5M6.
3.1.4 Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit 3 bulan yang lalu didiagnosa penyakit gastritis saat
periksa di Puskesmas Waru, dan riwayat hipertensi. Pasien mempunyai riwayat
kebiasaan minum air es dalam sehari-hari.
Pasien pernah menjalani pemeriksaan FNAB dan MRI, hasil pemeriksaan
FNAB pada tanggal 10 Oktober 2022 dengan kesimpulan mammae dextra, FNAB
Infiltrating Ductal Carcinoma. Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada tanggal
14 Oktober 2022 didapatkan Corpus vertebra cervico-thoraco-lumbososacral
dengan melibatkan pedicle et processus transversus et lamina bilateral. Serta
hingga ke iliac wing kanan kiri (yang tervisualisasi, incidental finding). Destruksi
49
corpus VTh 12 dengan retropuls fragmen ke canal spinalis, disertai paraspinal
soft tissue mass sisi kiri. Epidural metastasis level VTh 5-12.
3.1.5 Riwayat Keluarga
x x
Gambar 3. 1 Genogram Keluarga Ny. A
: Perempuan : Meninggal
: Laki-laki : Pasien
: Tinggal serumah : Sedarah
pasien mengatakan pasien anak ke 4 dari 6 bersaudara pasien saat ini
berumur 39 tahun, tinggal serumah dengan suami dan anak-anaknya. Pasien
mengatakan suami anak tunggal ibu dan bapaknya sudah lama meninggal,
memiliki 5 anak yang pertama perempuan dan keempat anak lainnya laki-laki,
meninggal dunia satu.
3.1.6 Riwayat Sosial
Ny. A mengatakan hubungan dengan keluarga sangat baik, ayah dan ibu
dari Ny. A sering berkunjung ke rumah Ny. A. Selama di ruang H1 RSPAL dr.
Ramelan Surabaya pasien di rawat oleh dokter dan perawat. Pasien dalam keadaan
bedrest atau masih dalam keadaan tirah baring, terpasang infus di tangan kanan,
kateter urine dan O2 jika dibutuhkan pasien.
50
3.1.7 Keadaan Umum (Penampilan Umum)
1. Cara Masuk
Pasien masuk RSPAL dr. Ramelan Surabaya melalui IGD pada tanggal
15 November 2022 pada pukul 07.00 wib dengan keluhan sesak napas, badan
lemas saat dilakukan anamnesa pasien composmentis, pasien tampak pucat,
konjungtiva anemis GCS E3V4M5. Reflek cahaya (+/+), diameter pupil
3mm/3mm, tekanan darah 110/70 mmHg, suhu 36,4ºC, frekuensi nadi
94x/menit, saturasi oksigen 99%, respiratory rate 22x/menit, kejang tidak ada.,
kejang tidak ada. Diberi tindakan pemasangan O₂ nasal kanul dan kebutuhan
cairan pasien NS 500 ml.
2. Keadaan Masuk
Pasien tampak lemah, composmentis, gerak reflek spontan, turgor kulit
baik, terpasang O2 nasal kanul, infus pada tangan kiri dengan cairan NS 500
ml dan observasi TTV di ruangan H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya tekanan
darah 110/70 mmHg, suhu 36,4ºC, frekuensi nadi 94x/menit, saturasi oksigen
99%, respiratory rate 22x/menit, kejang tidak ada.
3.1.8 Pemeriksaan Fisik
Tekanan darah 124/85 mmHg, suhu 36,4ºC, frekuensi nadi 80 x/menit,
saturasi oksigen 98%, respiratory rate 20x/menit. Tinggi badan 150cm dan berat
badan 80kg.
1. B1 (Breath/ Pernapasan)
Dari hasil wawancara didapatkan hasil pemeriksaan pasien mengatakan
tidak terdapat sesak nafas, pemeriksaan Inpeksi diperoleh data pasien
memiliki bentuk dada normochet napas spontan, pergerakan dada simetris,
51
tidak terdapat otot bantu napas tambahan, tidak terdapat pernapasan cuping
hidung, irama napas regular, pola napas eupnea, tidak batuk, tidak ada sputum
dan tidak ada sianosis, RR 20 x/menit, tidak ada sianosis, tidak ada nyeri
tekan. Pada pemeriksaan palpasi didapatkan suara nafas vesikuler, pada
pemeriksaan auskultasi tidak terdapat suara roncki/wheezing.
2. B2 (Blood/ Sirkulasi)
Dari hasil pemeriksaan didapatkan konjungtiva tidak anemis, wajah
terlihat tidak pucat, mata tidak cowong, tidak ada pembesaran vena jugularis,
pergerakan ictus cordis terlihat, tidak terdapat odema, tidak terdapat sianosis.
Pada pemeriksaan Palpasi didapatkan akral teraba hangat, kering, merah, CRT
<2 detik, ictus cordis teraba (ICS V MID clavicula sinistra), nadi teraba
reguler dan kuat 100x/menit, sklera konjungtiva normal, tidak ada nyeri tekan
di dada. Pada saat pemeriksaan Perkusi didapatkan suara pekak, pada
pemeriksaan Auskultasi didapatkan irama jantung reguler, bunyi jantung
S1/S2 tunggal. Pasien terpasang CVC di klavikula sebelah kanan sambung
infus NS 500 ml/24 jam.
3. Pemeriksaan fisik B3 (Brain/ Persarafan)
Pada pemeriksaan inpeksi didapatkan hasil keadaan umum pasien baik,
pasien mampu merespon arahan dari perawat, kesadaran pasien composmentis,
GCS total 15 (Eye: 4, Verbal: 5, Motorik: 6), Kesadaran composmentis, tidak
terdapat hemiparesis serta tidak ada kelemahan pada anggota tubuh, orientasi
klien baik (klien dapat mengenali waktu, dan tempat). Pada pemeriksaan
Nervus I (Olfaktorius) fungsi penciuman pasien dapat mencium minyak kayu
putih dan bau makanan, Nervus II (Optikus) ketajaman penglihatan, tidak
52
terdapat gangguan penglihatan pada pasein, reflek pupil pasien terhadap
cahaya +/+, Nervus III, IV, VI (Okulomotorius, Troklearis, Abdusen) pasien
dapat membuka kelopak mata, dapat menggerakkan bola mata ke kanan dan
ke kiri, ke atas dan ke bawah, Nervus V (Trigeminus) tidak ditemukan
paralisis pada otot wajah, pasien mampu membuka dan menutup rahang
rahang, Nervus VII (Fasialis) pasien dapat menggerakan lidah, Nervus VIII
(Vestibulokoklearis) tidak terdapat gangguan pendengaran pada pasien,
Nervus IX, X (Glosofaringeus, Vagus) mekanisme kemampuan menelan
pasien normal, pasien dapat minum air putih, Nervus XI (Aksesorius) pasien
mampu menggerakan menggeser kanan dan kiri, Nervus XII (Hipoglosus)
pasien mampu menjulurkan lidah, menggerakkan lidah ke arah atas, ke arah
bawah, ke arah samping kanan dan kiri.
4. B4 (Bladder/ Perkemihan)
Pada pemeriksaan wawancara pasien mengatakan buang air kecil selama
dirumah pasien BAK 7x/hari dengan warna kuning pekat. Selama dirumah
sakit pagi ini pasien BAK dengan penggunaan voley kateter dengan jumlah
±1000cc/24jam dengan warna kuning pekat. Pada pemeriksaan palpasi tidak
ada nyeri tekan pada perkemihan. Saat pemeriksaan perkusi suara kandung
kemih timpani.
5. B5 (Bowel/Pencernaan)
Didapatkan hasil wawancara pasien tidak mengeluh mual muntah. Pada
pemeriksaan inpeksi mulut pasien bersih tidak ada karies dan tidak berlubang,
mukosa bibir kering, pasien tidak terpasang NGT, terdapat nyeri pada dada
karena luka operasi hari ke 1 selama di rumah sakit pasien BAB 1 kali dalam
53
sehari, pemeriksaan auskultasi didapatkan bising usus 10x/menit. saat
dilakukan palpasi tidak terdapat hepatomegali (pembesaran hati), saat
dilakukan perkusi terdapat suara timpani.
6. B6 (Bone/Muskuloskeletal)
Didapatkan hasil wawancara pasien mengatakan badannya merasa tidak
enak, terasa lemas dan mengatakan sesak setelah beraktivitas seperti duduk
ditempat tidur. Pada pemeriksaan pasien mampu menggerakan persendiannya
dengan perlahan, ada nyeri sendi dan nyeri tulang (ca mammae dextra
metastase tulang), tidak terdapat fraktur, tidak ditemukan adanya dislokasi dan
alat bantu seperti traksi atau gips, skala kekuatan otot ekstremitas: skala
kekuatan otot ekstremitas: ekstremitas atas dextra 4444, ekstremitas atas
sinistra 4444, ekstremitas bawah dextra 4444, ekstremitas bawah sinistra
4444.
7. Pemeriksaan Sistem Integumen
Pada pemeriksaan inpeksi didapatkan hasil kulit pasien berwana kuning
langsat seluruh badan, terdapat luka bekas operasi pada dada kanan atas dan
perut, terdapat luka yang terbalut kassa. Pemeriksaan palpasi terdapat nyeri
pada dada sampai ke punggung karena bekas operasi dengan skala 4 (1-10),
nyeri terasa seperti cekot-cekot dan nyeri hilang timbul.
8. Pola Istirahat dan Tidur
Pasien mengatakan sebelum masuk rumah sakit tidur siang ±3 jam
(13.00-16.00 WIB), saat dirumah sakit pasien mengatakan tidur siang selama
2 jam (13.00-15.00 WIB). Pasien mengatakan sejak masuk rumah sakit
54
mengalami gangguan tidur karena keluhan saat ini yaitu nyeri pada post op
mastektomi pada mammae kanan atas.
Ny. A pada kondisi yang lemah ditandai dengan ROM terbatas, tidak
bergerak dan enggan melakukan aktivitas terlalu sering. Pada saat tidur nyeri
timbul membuat Ny. A terbangun di tengah malam serta membuat kekurangan
tidur.
9. Pemeriksaan Sistem Penginderaan
Didapatkan hasil pada sistem penglihatan yaitu lapang pandang normal,
reflek cahaya (+/+), sklera ikterik, pasien tidak buta warna, pasien tidak
mengggunakan kacamata, pasien dapat melihat jam di dinding. Sistem
pendengaran didapatkan hasil telinga simetris, tidak ada serumen, keadaan
telinga bersih, sistem pendengaran baik, tidak menggunakan alat antu dengar.
Sistem penciuman didapatkan hasil tidak ada polip, tidak terdapat sinusitis,
terdapat septum di tengah, pasien mampu mencium bau minyak kayu putih.
Sistem perabaan yaitu pasien bisa membedakan perabaan kasar dan halus
dengan sesuai.
10. Pemeriksaan Sistem Endokrin
Didapatkan keadaan tidak terdapat pebesaran kelenjar tiroid, dan pasien
mengatakan tidak memiliki penyakit diabetes mellitus. Pemeriksaan sistem
reproduksi atau genitalia didapatkan pasien berstatus sudah menikah, tidak ada
kelainana pada genitalia, ada kelainan pada payudara.
11. Personal Hygiene
Pasien mengatakan sebelum masuk rumah sakit mandi 2x sehari dengan
sabun mandi, saat di RS pasien mengatakan hanya diseka tiap pagi dengan
55
bantuan keluarga yaitu anaknya. Pasien mengatakan mencuci rambut 2x
seminggu dengan shampo. Saat masuk rumah sakit, pasien belum mencuci
rambut. Pasien mengganti pakaian 1 kali sehari, menggosok gigi 2x saat pagi
dan sore hari dan saat di RS pasien tetap menggosok gigi dengan bantuan
anggota keluarganya, pada saat di RS pasien memotong kuku 1x seminggu.
12. Psikososiocultural
a. Gambaran diri
Pasien mengatakan tidak ada kekurangan pada dirinya karena semua
merupakan pemberian dari tuhan.
b. Identitas diri
Pasien mengatakan bahwa dia seorang perempuan berusia 39 tahun,
berasal dari suku Jawa atau Indonesia, bahasa yang digunakan sehari-hari
adalah Bahasa Indonesia dan Jawa.
c. Peran diri
Pasien mengatakan bahwa dia adalah seorang ibu yang memiliki 5
orang anak, 4 orang anak masih hidup dan 1 orang anak meninggal dunia
pada tanggal 01 Desember 2022 karena tindakan pembedahan BSO TAH +
Mastektomi, dan tidak bekerja hanya sebagai ibu rumah tangga.
d. Ideal diri
Pasien berharap anaknya semua bisa sukses mendapatkan pekerjaan.
e. Harga diri
Pasien bersabar dan menerima dengan ikhlas serta keluarga selalu
memberikan dukungan kepada pasien.
56
3.1.9 Pemeriksaan Penunjang
1. Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Tabel 3. 1 Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Pasien Ny. A
Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai rujukan
Pemeriksaan DL tanggal 01 Desember 2022
HEMATOLOGI
Darah Lengkap
Leukosit 7,06 10^3/µL 4,00-10,00
Hitung Jenis Leukosit :
• Eosinofil# 0,08 10^3/µL 0,02-0,50
• Eosinofil% 1,00 % 0,5-5,0
• Basofil# 0,02 10^3/µL 0,00-0,10
• Basofil% 0,4 % 0,0-1,0
• Neutrofil# 6,65 10^3/µL 2,00-7,00
• Neutrofil% 84,80 % 50,0-70,0
• Limfosit# 0,83 10^3/µL 0,80-4,00
• Limfosit% 10,60 % 20,0-40,0
• Monofsit# 0,27 10^3/µL 0,12-1,20
• Monofsit% 3,40 % 3,0-12,0
IMG# 0,320 10^3/µL 0,01-0,04
IMG% 1,100 % 0,16-0,62
Hemoglobin 8,90 g/dL 13-17
Hematokrit 27,50 % 40,0-54,0
Eritrosit 3,17 10^6/µL 4,00-5,50
Indeks Eritrosit :
• MCV 86,9 Fmol/cell 80-100
• MCH 28,0 Pg 26-34
• MCHC 32,2 g/dL 32-36
RDW...CV 16,1 % 11,0-16,0
RDW...SD 48,9 fL 35,0-56,0
Trombosit 202,00 10^3/µL 150-450
Indeks Trombosit :
• MPV 10,1 fL 6,5-12,0
• PDW 16,2 %
• PCT 0,204 10^3/µL 0,108-0,282
P-LCC 56,0 10^3/µL
P-LCR 27,5 %
Pemeriksaan DL tanggal 03 Desember 2022
HEMATOLOGI
Darah Lengkap
Leukosit 9,00 10^3/µL
Hitung Jenis Leukosit :
• Eosinofil# 0,01 10^3/µL 0,02-0,50
• Eosinofil% 0,10 % 0,5-5,0
• Basofil# 0,02 10^3/µL 0,00-0,10
• Basofil% 0,2 % 0,0-1,0
57
• Neutrofil# 8,02 10^3/µL 2,00-7,00
• Neutrofil% 89,00 % 50,0-70,0
• Limfosit# 0,64 10^3/µL 0,80-4,00
• Limfosit% 7,40 % 20,0-40,0
• Monofsit# 0,29 10^3/µL 0,12-1,20
• Monofsit% 3,30 % 3,0-12,0
IMG# 0,300 10^3/µL 0,01-0,04
IMG% 0,400 % 0,16-0,62
Hemoglobin 10,79 g/dL 13-17
Hematokrit 31,70 % 40,0-54,0
Eritrosit 3,80 10^6/µL 3,50-5,00
Indeks Eritrosit :
• MCV 83,5 Fmol/cell 80-100
• MCH 28,1 Pg 26-34
• MCHC 33,7 g/dL 32-36
RDW...CV 16,1 % 11,0-16,0
RDW...SD 48,2 fL 35,0-56,0
Trombosit 214,00 10^3/µL 150-450
Indeks Trombosit :
• MPV 9,4 fL 6,5-12,0
• PDW 16,2 % 15-17
• PCT 0,200 10^3/µL 0,108-0,282
P-LCC 50,0 10^3/µL 30-90
P-LCR 23,5 % 11,0-45,0
2. Pemeriksaan FNAB (10 Oktober 2022)
Hasil Pemeriksaan FNAB (10 Oktober 2022)
Makroskopis: Dilakukan puncture pada nodul mamma dextra penareola arah
jam 10-11, ukuran ±2x2 cm, batas tidak tegas, fixed, padat kenyal
Mikroskopik: Hapusan perselular, mendapatkan sebaran dan kelompok-
kelompok diskohesif sel epitel anaplastik berinti bulat-oval, pleomorfik,
nucleoli prominent, sitoplasma sempil. Tidak tampak sel bipolar
Kesimpulan: Mamma Dextra, FNAB
Infiltrating Ductal Carcinoma
58
3. Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) (tgl 14 Oktober 2022)
Klinis: LBP, CA MAMMAE
a. Tampak bone marrow replacement (mixed type lytic blastic) sepanjang
corpus vertebra cervico-thoraco-lumbososacral dengan melibatkan pedicle
et processus transversus et lamina bilateral. Serta hingga ke iliac wing
kanan kin (yang tervisualisasi, incidental finding)
b. Destruksi corpus VTh 12 disertai paraspinal soft tissue mass sisi kiri
setinggi level VTh 10-12, menginfiltrasi ke epidural spaces kiri,
menyebabkan encasement pedicle et lamina et processus transverus kiri ke
costa posterior, massa menyebabkan pendesakan spinal cord ke
anterolateral kanan, kesan tak tampak infiltrasi ke intramedullary maupun
cord edema
c. Epidural enhancement pada VTh 5-12
d. Tampak uterus kurang membesar sesuai gravida, dengan janin tunggal
intrauterine, posisi placenta di anterior hingga menutupi ostium uteri
e. MR Myelografi: tampak hambatan partial aliran liquor cerebrospinalis
KESAN:
Temuan diatas menyokong gambaran proses metastase tulang melibatkan:
a. Corpus vertebra cervico-thoraco-lumbososacral dengan melibatkan pedicle
et processus transversus et lamina bilateral. Serta hingga ke iliac wing
kanan kiri (yang tervisualisasi, incidental finding)
b. Destruksi corpus VTh 12 dengan retropuls fragmen ke canal spinalis,
disertai paraspinal soft tissue mass sisi kiri
c. Epidural metastasis level VTh 5-12
59
4. Pemeriksaan Laboratorium Anatomi (01 Desember
2022) Diagnosa : Ca Mammae metastase tulang
Lokasi: Payudara + Ovarium kanan dan kiri
Makroskopis :
Diterima
a. Potongan jaringan biopsi Ca mamma, ukuran total 1,5 x 1 x 0,5 cm
b. Satu potong jaringan ovarium kanan, ukuran 3,5 x 2,5 x 1 cm, menempel
tuba panjang 6cm
c. Satu potong jaringan ovarium kiri (berupa kista), ukuran 6 x 3 x 1,7 cm,
menempel tuba panjang 2,5 cm diproses sebagian dalam 3 kaset
Mikroskopis : Menunjukkan
a. Potongan jaringan dengan pertumbuhan neoplasma mengandung
proliferasi sel-sel anaplasi berinti bulat-oval, kromatin kasar: tersusun
berkelompok-kelompok, stroma jaringan ikat fibrotik disertai infiltasri sel
radang mononukleus dan PMN
b. Potongan jaringan ovarium dengan kista folikel multiple; tuba tanpa
kelainan tertentu
c. Potongan jaringan ovarium dengan corpus luleum dan multiple simple
cyat; tuba dalam batas normal
Kesimpulan :
Bahan jaringan, menunjukkan
a. Metastase adenocarsinoma (sesuai dengan infiltrating ductal carcinoma)
b. Multiple follicle cyst ovarii
c. Corpus luteum + multiple simple cyst ovarii II.
60
3.1.10 Terapi Medis
Tabel 3. 2 Terapi Medis Pasien Ny. A
Nama Dosis Indikasi
01 Desember 2022
1. Futrolit inf 500 ml/24Untuk memenuhi kebutuhan cairan elektrolit
jam dalam tubuh
2. Peinlos 2x1 Untuk meredakan nyeri dan menurunkan demam
@400mg Untuk mempercepat penyembuhan luka
3. Onoiwa 3x1
@500mgUntuk mengatasi asam lambung berlebih
4. Omeprazole 40mg 2x1 @40mg
5. Asam tranexamat 2x1 Untuk mengurangi atau menghentikan
500mg inj @500mg perdarahan
6. Antrain inj 3x1 @2mlUntuk meringankan rasa sakit, terutama nyeri
kolik dan sakit setelah operasi
Tindakan lain
3.2 Analisa Data Keperawatan
1. Nyeri Akut berhubungan dengan Agen Pencedera Fisik (Prosedur Bedah
Mastektomi) (SDKI, D.0078, Hal: 174) yang ditandai dengan nyeri post
operasi BSO TAH dan Mastektomi.
Saat dilakukan pemeriksaan pasien mengatakan nyeri setelah operasi
terasa di dada sampai ke punggung seperti cekot-cekot, nyeri semakin terasa
bila terlalu banyak bergerak, nyeri hilang beberapa saat dan Ny. A menunjuk
skala 4 dari skala 1 sampai 10. Maka pengkajian nyeri pada Ny. A yaitu P
(Palliative/penyebab) : Prosedur bedah (Post op Mastektomi), Q
(quality/kualitas) : cekot-cekot, R (Radiates/penyebaran) : dada sampai ke
punggung, S (severety/keparahan) : 4 skala 1-10, T (time/waktu) : bila
61
bergerak. Pasien tampak lemah, meringis, gelisah, bersikap protektif (posisi
menghindari nyeri) dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah 124/85
mmHg, nadi 80x/menit, RR 20x/menit.
Hasil pemeriksaan Laboratorium Anatomi (01 Desember 2022) dengan
kesimpulan metastase adenocarsinoma (sesuai dengan infiltrating ductal
carsinoma), multiple follicle cyst ovarii, corpus luteum + multiple simple cyst
ovarii II. Adanya metastase pada tulang menyebabkan nyeri yang tidak
sebanding dengan sebelumnya hingga menyebabkan kelumpuhan, hal tersebut
ditinjau dengan respon nyeri pasien dan memberikan teknik nonfarmakologis
seperti tarik napas dalam serta berkolaborasi dengan dokter untuk diberikan
terapi lebih lanjut bila nyeri belum teratasi.
2. Risiko Infeksi dibuktikan dengan Efek prosedur invasif yang dibuktikan
dengan Post TAH BSO
Saat dilakukan pengkajian pasien bertanya tentang kondisinya saat ini
dan apakah luka pada perut akan baik-baik saja. Data objektif terdapat luka
pada payudara kanan dan luka di perut Post BSO TAH, terjahit ada rembesan
cairan di kassa penutup, Luka tampak basah, akral hangat, suhu 36,4°C, tidak
ada demam, leukosit 7,06 10^3/µL (4,00-10,00 10^3/µL).
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Keengganan melakukan
pergerakan
Dilakukan pengkajian pasien mengatakan takut banyak gerak. Data
objektif pasien tampak takut jahitan terbuka saat menggerakkan anggota tubuh
dan pasien saat ini dalam posisi semi fowler, bedrest atau tirah baring, rentang
gerak ROM pasif, kekuatan otot 4 │ , tekanan darah TD: 124/85 mmHg, suhu
4
4 4
62
36,4°C, nadi 80 x/menit, SpO²: 98%, RR: 20x/menit. Terdapat luka Prosedur
Bedah Histerotomi + TAH BSO + Omentectomi H-4 (ai suspect Ca Mammae)
+ Open Biopsy mammae D H 4 (ai suspect Ca Mammae Dextra), operasi yang
dilakukan oleh Ny. A termasuk operasi besar suatu pembedahan yang
melibatkan area kepala, dada, dan perut. Operasi jenis ini biasanya memiliki
risiko komplikasi yang tinggi dan membutuhkan waktu pemulihan yang lebih
lama. Walau membutuhkan waktu pemulihan yang cukup lama, dianjurkan
pasien melakukan ambulasi agar tidak tubuh tidak kaku dan membuat luka
tambahan di tempat lain seperti dekubitus.
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
Pasien mengatakan sangat susah kalau mandi sendiri dan harus jalan ke
kamar mandi dulu. Data objektif pasien tidak mampu melakukan aktivitas
secara mandiri dan pasien saat ini diseka oleh anaknya, tidak mampu mandi,
ke toilet dan mengenakan pakaian secara mandiri, pemeriksaan patologi
anatomi tanggal 01 Desember 2022 menunjukkan metastase adenocarsinoma
(sesuai dengan infiltrating ductal carcinoma), multiple follicle cyst ovarii,
corpus luteum + multiple simple cyst ovarii II.
3.3 Prioritas Masalah
1. Nyeri Akut berhubungan dengan Agen Pencedera Fisik (Prosedur Bedah
Mastektomi) (SDKI, D.0078, Hal: 174) yang ditandai dengan nyeri post
operasi BSO TAH dan Mastektomi
2. Risiko Infeksi dibuktikan dengan Efek prosedur invasif (SDKI, D.0142, Hal:
304) yang dibuktikan dengan Post TAH BSO
63
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Keengganan melakukan
pergerakan (SDKI, D.0054, Hal: 124)
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan (SDKI, D.0109, Hal:
240).
3.4 Intervensi Keperawatan
1. Nyeri Akut berhubungan dengan Agen Pencedera Fisik (Prosedur Bedah
Mastektomi). Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
maka tingkat nyeri menurun dengan kriteria hasil keluhan nyeri menurun,
meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, frekuensi nadi
membaik, tekanan darah membaik. Intervensi utama yang akan dilakukan
untuk merubah tingkat nyeri dengan manajemen nyeri: 1) monitor penurunan
nyeri (lokasi, karakteristik, durasi, kualitas, intensitas nyeri, skala nyeri), 2)
berikan teknik relaksasi pada saat nyeri, 3) anjurkan teknik distraksi, 4)
kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri, 5) jelaskan tentang
patofisiologi nyeri dan meredakan nyeri, 6) berikan kolaborasi kepada pasien
analgetik (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2017).
2. Risiko Infeksi dibuktikan dengan Efek prosedur invasif. Tujuan setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan tingkat infeksi
menurun, dengan kriteria hasil kemerahan menurun, nyeri menurun, bengkak
menurun, cairan berbau busuk menurun, sensasi membaik, suhu membaik.
Intervensi utama yang akan dilakukan untuk mencegahan infeksi pada luka
pasien post operasi Mastektomi dan sectio caesarea BSO TAH: 1) monitor
tanda dan gejala infeksi, 2) merawat kulit pada area luka dengan mertahankan
64
kondisi aseptic pada luka, 3) jelaskan tanda gejala infeksi, 4) ajarkan pasien dan
keluarga mencuci tangan dengan benar, 5) anjurkan meningkatkan asupan
nutrisi, 6) anjurkan meningkatkan asupan cairan, 7) berikan hasil kolaborasi
antibotik (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2017).
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keengganan melakukan
pergerakan, tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan mobilitas fisik meningkat, dengan kriteria hasil: pergerakan
ekstremitas meningkat, kekuatan otot meningkat, rentang gerak (ROM)
meningkat, nyeri menurun, kecemasan menurun, gerakan terbatas menurun.
Intervensi utama yang akan dilakukan untuk memberikan dukungan ambulasi:
1) observasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya, 2) monitor kondisi umum
selama melakukan mobilisasi, 3) fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat
bantu (misal pagar tempat tidur), 4) libatkan keluarga untuk membantu pasien
dalam meningkatkan pergerakkan, 5) jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi,
6) anjurkan mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (duduk di tempat tidur,
duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi) (Tim Pokja SIKI
DPP PPNI, 2017).
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan terhadap toileting,
tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
perawatan diri meningkat, dengan kriteria hasil : kemampuan ke toileting
meningkat, nyeri menurun, kecemasan menurun, kelemahan fisik menurun.
Intervensi utama yang akan dilakukan memberi dukungan perawatan diri pada
pasien post op TAH BSO + Mastektomi: 1) monitor tingkat kemandirian,
identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, 2) sediakan lingkungan yang
65
terapeutik (suasana hangat, rileks, privasi), 3) siapkan keperluan pribadi (seperti
sabun mandi, sikat gigi, parfum), 4) dampingi dalam melakukan perawatan
diri sampai mandiri, 5) fasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu
melakukan perawatan diri, 6) jadwalkan rutinitas perawatan diri, 7) anjurkan
melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan (Tim Pokja
SIKI DPP PPNI, 2017).
3.5 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan
1. Nyeri Akut berhubungan dengan Agen Pencedera Fisik (Prosedur Bedah
Mastektomi). Nursing intervention (NIC) adalah Manajemen nyeri, teknik
distraksi tarik napas dalam dan pemberian analgetik.
Pelaksanaan rencana asuhan yang telah dibuat diimplementasikan pada
pasien sesuai dengan kondisi pasien, implementasi dilakukan sejak tanggal 02
Desember 2022 sampai dengan 04 Desember 2022. Implementasi untuk
merubah tingkat nyeri dengan manajemen nyeri: 1) Memonitor penurunan
nyeri (lokasi, karakteristik, durasi, kualitas, intensitas nyeri, skala nyeri), 2)
memberikan teknik relaksasi pada saat nyeri (teknik nafas dalam) 3)
menganjurkan teknik distraksi (saat nyeri alihkan dengan menonton video), 4)
mengontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (suhu ruangan
dipertahankan 20°C, kebisingan), 5) menjelaskan tentang patofisiologi nyeri
dan meredakan nyeri, 6) memberikan kolaborasi kepada pasien analgetik
(Peinlos 2x1 @400mg drip NS 100ml dan Antrain inj 3x1 @2ml) (Tim Pokja
SIKI DPP PPNI, 2017).
66
Implementasi hari pertama pada tanggal 02 Desember 2022 membina
hubungan saling percaya dengan pasien dengan respon subjektif pasien
memperkenalkan diri dengan perawat dan mengidentifikasi keluhan pasien
saat ini dengan respon objektif pasien mengeluh nyeri dibekas post op. pada
pukul 07.35 mengobservasi nyeri secara secara komprehensif dengan respon
subjektif P: Post Operasi mastektomi Q: cekot-cekot, R: dada sampai ke
punggung, S: 4 (skala 1-10), T: hilang timbul pasien tampak menyeringai
kesakitan berkurang. Pada jam 11.00 memberikan terapi injeksi (iv) Peinlos
1x400mg drip NS 100ml dan Antrain inj 1x2ml dengan respon objektif pasien
nyeri berkurang.
Implementasi hari kedua pada tanggal 03 Desember 2022 pada jam 10.15
pagi memberikan teknik relaksasi pada saat nyeri dengan teknik
nonfarmakologi yaitu distraksi napas dalam, respon subyektif pasien mencoba
latih tarik napas dalam dan respon obyektif pasien menerapkan terapi distraksi
tarik napas dalam saat nyeri muncul. Memberikan terapi kepada pasien
Peinlos 1x400mg drip NS 100ml dan Antrain inj 1x2ml dengan respon
objektif pasien mengobservasi terapi yang diberikan tidak mengalami alergi.
Mengobservasi nyeri secara komprehensif dengan respon subyektif P: nyeri
saat bergerak, Q: cekot-cekot , R: dada kanan atas sampai punggung, Skala : 3
(1-10), T: nyeri hilang timbul dan respon obyektif pasien meringis.
Implementasi hari ke tiga pada tanggal 04 Desember 2022 pada jam
18.00 dengan memberikan edukasi pada pasien untuk mengonsumsi buah dan
sayur yang di respon subyektif oleh pasien memakan makanan yang bernutrisi
dan respon obyektif pasien menerima edukasi dari perawat. Pada jam 18.30
67
pasien tetap menerapkan teknik distraksi dengan tarik napas dalam dengan
respon obyektif pasien paham cara menerapkan teknik non farmakologis
dengan terapi tarik napas dalam. Pada jam 22.00 memberikan terapi kepada
pasien Peinlos 1x400mg drip NS 100ml dan Antrain inj 1x2ml respon
subyektif pasien tidak terkaji dan respon objektif pasien tidak mengalami
alergi. Pada jam 23.30 mengobservasi nyeri secara komprehensif dengan
respon subyektif pasien P: nyeri saat bergerak, Q: cekot-cekot , R: dada kanan
atas sampai ke punggung, Skala : 2 (1-10), T: nyeri hilang timbul dan respon
obyektif pasien meringis berkurang, nyeri berkurang.
Evaluasi pada hari ke 1 (02/12/22) didapatkan nyeri berkurang saat
melakukan teknik relaksasi, mempunyai riwayat operasi pada tanggal 01
Desember 2022 Operasi mastektomi. Pengkajian nyeri pada pasien P: Post
Operasi mastektomi Q: cekot-cekot, R: dada dan punggung, S: 4 (skala 1-10),
T: hilang timbul pasien tampak menyeringai kesakitan berkurang, tidak ada
efek samping terapi obat, nadi 109x/menit, pasien mempraktekkan teknik
napas dalam guna mengurangi nyeri. Walau kadang nyeri hilang timbul
dengan sendirinya tetapi pasien mampu menerapkan teknik distraksi tarik
napas dalam yang telah diajarkan oleh perawat.
Evaluasi pada hari ke 2 (03/12/22) didapatkan nyeri dada sampai ke
punggung timbul saat bergerak dengan skala nyeri 3 dari 1-10, pengkajian
nyeri pada pasien P: Post Operasi mastektomi, Q: cekot-cekot, R: dada dan
punggung, S: 3 (skala 1-10), T: hilang timbul, tampak menyeringai kesakitan,
bersifat protektif menghindari nyeri, nadi 100x/menit, pasien paham cara dan
tetap mempraktekkan teknik napas dalam guna mengurangi nyeri.
68
Evaluasi pada hari ke 3 (04/12/22) didapatkan nyeri berkurang dengan
pengkajian nyeri pada pasien P: saat bergerak, Q: cekot-cekot, R: dada dan
punggung, S: 2 (skala 1-10), T: hilang timbul. Pasien Tidak tampak
menyeringai kesakitan, pasien tampak rileks, tidak ada efek samping terapi
obat, nadi 101x/menit, pasien tetap menerapkan teknik napas dalam guna
mengurangi nyeri. Dengan menerapkan teknik napas dalam sangat efektif
untuk mengurangi nyeri pada pasien sehingga dapat mengontrol rasa nyeri
yang timbul dan tetap mengkolaborasikan dengan dokter pemberian analgetik.
2. Risiko Infeksi dibuktikan dengan Efek prosedur invasif (SDKI, D.0142, Hal:
304). Nursing intervention (NIC) adalah Pencegahan infeksi dan perawatan
luka
Pelaksanaan rencana asuhan yang telah dibuat diimplementasikan pada
pasien sesuai dengan kondisi pasien, implementasi dilakukan sejak tanggal 02
Desember 2022 sampai dengan 04 Desember 2022. Implementasi untuk
mencegah infeksi pada luka pasien post operasi Mastektomi dan sectio
caesarea BSO TAH (SIKI, 1.14539, Hal: 278) : 1) memonitor tanda dan gejala
infeksi, 2) merawat kulit pada area luka dengan mertahankan kondisi aseptic
pada luka, 3) menjelaskan tanda gejala infeksi, 4) mengajarkan pasien dan
keluarga mencuci tangan dengan benar, 5) menganjurkan meningkatkan
asupan nutrisi, 6) menganjurkan meningkatkan asupan cairan, 7) memberikan
hasil kolaborasi antibotik (Onoiwa 3x1 @500mg) (Tim Pokja SIKI DPP
PPNI, 2017).
Implementasi hari pertama pada tanggal 02 Desember 2022 pada jam
07.00 mengobservasi tanda dan gejala infeksi dengan mempertahankan
69
kondisi aseptic pada luka dengan respon obyektif sekitar luka berwarna merah,
tidak terdapat pus dan cairan yang keluar berbau khas luka. Pada jam 08.20
mengedukasi pasien dengan menjelaskan tanda dan gejala timbulnya infeksi
pada luka setelah operasi dengan respon subyektif pasien mengatakan
bagaimana cara mengatasi hal tersebut dan respon obyektif pasien tampak
menerima edukasi yang diberikan oleh perawat dan menanyakan kembali
bagaimana cara menangani infeksi tersebut.
Implementasi hari kedua pada tanggal 03 Desember 2022 pada jam
12.00 mengedukasi pasien tentang konsep aseptik mencuci tangan dengan
respon subyektif pasien mengatakan bagaimana cara mencuci tangan dengan
benar dan obyektif pasien tampak bertanya kembali, ingin melatih cara cuci
tangan. Pada jam 12.30 diberikan terapi pada pasien Onoiwa 1x500mg
dengan obyektif tidak mengalami alergi.
Implementasi hari ke tiga pada tanggal 04 Desember 2022 pada jam
11.00 perawat mengobservasi dengan kegiatan pada hari ke dua pasien cara
mencuci tangan dengan respon subyektif pasien tetap menerapkan dan respon
obyektif pasien tampak mencuci tangan sesuai tata cara yang diberikan oleh
perawat. Pada jam 13.30 perawat menganjurkan meningkatkan asupan cairan
1 hari minum 1 air mineral dengan respon obyektif pasien tampak meminum
air mineral. Pada jam 15.00 perawat melihat kondisi luka pada pasien dengan
respon obyektif tampak luka kemerahan berkurang, luka tampak mulai
menyatu, jahitan kering.
Evaluasi dilakukan setelah 1 hari perawatan didapatkan bahwa pasien
dalam kondisi yaitu ditemukan data suhu 36,5°C, akral teraba hangat, luka
70
tampak bersih, basah, tidak ada pus atau rembesan pada kassa, tampak luka
mulai menyatu, hasil laboratorium pada tanggal 01 Desember 2022 leukosit
7,06 10^3/µL (4,00-10,00 10^3/µL).
Evaluasi berikutnya yaitu hari ke 2 ditemukan data suhu tubuh 36,4°C,
Leukosit 7,06 10^3/µL (4,00-10,00), pasien, terdapat kemerahan sekitar luka,
tidak ada bengkak atau pus, nyeri pada dada menjalar ke punggung, tampak
lemas, keluarga pasien dan pasien memahami konsep infeksi dan menerapkan
konsep aseptic yaitu dengan cuci tangan.
Evaluasi hari ke 3 ditemukan data suhu 36,5°C, akral teraba hangat, luka
tampak bersih, basah, tidak ada pus atau rembesan pada kassa, tampak luka
mulai menyatu dan menutup, tidak ada tanda-tanda infeksi pada luka, sekitar
luka tidak terlihat kemerahan,. Hasil laboratorium pada tanggal 03 Desember
2022 leukosit 9,00 10^3/µL (4,00-10,00 10^3/µL), hemoglobin 10,79 g/dL
(13-17 g/dL), eritrosit 3,80 10^6/µL (3,50-5,00 10^6/µL), trombosit 214,00
10^3/µL (150-450 10^3/µL). Data diatas dapat disimpulkan bahwa masalah
risiko infeksi teratasi sebagian yang berarti mekanisme adaptasi pasien
terhadap gejala infeksi harus tetap dilaksanakan hingga keluar rumah sakit.
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Keengganan melakukan
pergerakan (SDKI, D.0054, Hal: 124) Implementasi untuk memberikan
dukungan ambulasi dan dukungan kepatuhan program pengobatan adalah: 1)
mengobservasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya, 2) memonitor kondisi
umum selama melakukan mobilisasi, 3) memfasilitasi aktivitas mobilisasi
dengan alat bantu (misal pagar tempat tidur), 4) melibatkan keluarga untuk
membantu pasien dalam meningkatkan pergerakkan, 5) menjelaskan tujuan
71
dan prosedur mobilisasi, 6) menganjurkan mobilisasi sederhana yang harus
dilakukan (duduk di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari
tempat tidur ke kursi) (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2017).
Implementasi hari pertama pada tanggal 02 Desember 2022 pada jam
10.00 mengobservasi adanya keluhan lain pada pasien dengan respon subyektif
mengeluh tidak bisa bergerak, takut jahitan robek kalau bergerak respon
obyektif tampak pasien membatasi gerak, mobilisasi kurang, fungsi otot
ekstremitas atas 4 dan esktremitas bawah 4. Pada jam 10.30 mengobservasi
keadaan umum pasien dengan respon obyektif tekanan darah 124/85 mmHg,
suhu 36,4°C, nadi 92 x/mnt, RR 20x/mnt, SpO2 99%. Pada jam 11.00
memfasilitasi aktivitas mobilisasi pasien (pagar tempat tidur untuk membantu
pasien miring kanan dan kiri) dengan respon subyektif pasien dapat melatih
otot dan sendi dengan respon obyektif pasien tampak cemas dan posisi
menghindari nyeri.
Implementasi hari kedua pada tanggal 03 Desember 2022 pada jam
13.00 mengobservasi kondisi pasien dengan respon obyektif cek TTV dari
tekanan darah 135/87 mmhg, Nadi 104 x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 37 0C,
SPO² 99% Pada jam 15.00 mengajarkan teknik mobilisasi sederhana dengan
(duduk di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke
kursi) dengan respon subyektif saat digerakkan masih sakit dan respon
obyektif pasien tampak duduk di tempat tidur secara perlahan dengan bantuan
anaknya. Pada jam 15.10 mengedukasi pasien mengapa dilakukan mobilisasi
ringan dengan respon subyektif memahami akan kondisi saat ini, respon
obyektif tampak memahami teknik mobilisasi yang diberikan oleh perawat.
72
Implementasi hari ke tiga pada tanggal 04 Desember 2022 pada jam
10.45 perawat mengobservasi kembali kegiatan yang di terapkan pada pasien
dengan respon subyektif pasien mengatakan tetap menerapkan yang diajarkan
perawat, respon obyektif pasien tampak latihan mobilisasi dan respon obyektif
pasien tampak melatih gerakan kaki, tampak perlahan-lahan. Pada jam 11.30
perawat menganjurkan keluarga ikut serta membantu pasien dalam
meningkatkan gerakkan dengan respon obyektif pasien keluarga membantu
pasien duduk di atas tempat tidur atau dengan kondisi semifowler. Pada jam
12.00 perawat melihat kondisi umum pasien dengan respon obyektif tekanan
darah 128/87 mmhg, nadi 102 x/menit, RR 20 x/menit, suhu 36,9°C, SPO²
99%.
Evaluasi dilakukan setiap hari, pada hari pertama pasien dalam tahap
penerimaan pengetahuan terhadap dilakukannya ambulasi, sudah mulai
memahami keuntungan dan kerugian tidak dilakukan teknik ambulasi pasien
tetap menanyakan ulang apakah boleh beraktivitas biasa, tampak tidak dapat
melakukan ambulasi, pasien tampak gelisah, tegang, sulit tidur, membatasi
gerak, kekuatan otot ekstremitas atas 4 dan bawah 4, ROM pasif, bedrest atau
tirah baring dengan hasil tekanan darah 128/80 mmhg, Nadi 109 x/menit, RR
19 x/menit, Suhu 36,50C, SPO² 99%.
Pada hari ke dua perawatan (03/12/22), pasien melakukan aktivitas
ringan seperti duduk, pasien tampak gelisah, tegang, sulit tidur, tidak
membatasi gerak, kekuatan otot ekstremitas atas 4 dan bawah 5, ROM aktif,
posisi semi fowler dengan TTV tekanan darah 125/70 mmhg, nadi 95 x/menit,
RR 20 x/menit, Suhu 36,5°C, SPO² 99%. Pada hari ke tiga perawatan
73
(04/12/22), pasien mampu melakukan aktivitas seperti duduk, pasien tidak
tampak gelisah, tegang, sulit tidur, tidak membatasi gerak, kekuatan otot
ekstremitas atas 5 dan bawah 5, ROM aktif, posisi semi fowler dengan
tekanan darah 128/87 mmhg, nadi 102 x/menit, RR 20 x/menit, suhu 36,9°C,
SPO² 99%. Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa pasien tersebut mampu
melakukan teknik ambulasi dengan kondisinya saat ini, artinya teknik
ambulasi tetap dipertahankan sampai kondisi benar-benar membaik.
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan (SDKI, D.0109, Hal:
240) implementasi yang akan dilakukan memberi dukungan perawatan diri
pada pasien post op BSO TAH + Mastektomi (SIKI, 1.11343, Hal: 36): 1)
memonitor tingkat kemandirian, 2) identifikasi kebutuhan alat bantu
kebersihan diri, 3) menyediakan lingkungan yang terapeutik (suasana hangat,
rileks, privasi), 4) mendampingi dalam melakukan perawatan diri sampai
mandiri, 5) memfasilitasi kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan
perawatan diri, 6) menjadwalkan rutinitas perawatan diri, 7) menganjurkan
melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai kemampuan (Tim Pokja
SIKI DPP PPNI, 2017).
Implementasi hari pertama pada tanggal 02 Desember 2022 pada jam
08.10 mengobservasi tingkat kemandirian perawatan diri dengan respon
subyektif pasien mengatakan ke kamar mandi sulit dan respon obyektif
tampak cemas serta tidak dapat melakukan aktivitas secara mandiri. Pada jam
09.00 mengidentifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri dengan respon
subyektif pasien mengatakan ingin ke kamar mandi untuk BAB dan respon
obyektif pasien tampak tidak menggunakan diapers, terpasang voley kateter,
74
cemas, tegang. Pada jam 09.20 mendampingi dalam melakukan perawatan diri
sampai mandiri dengan respon subyektif pasien menyisir rambut dan respon
obyektif posisi semifowler, tampak perlahan-lahan.
Implementasi hari kedua pada tanggal 03 Desember 2022 pada jam 12.00
mengobservasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri pasien dengan respon
subyektif pasien ingin berpaiakan dan respon obyektif pasien kesulitan
menggunakan pakaian, tampak miring kanan dan kiri. Pada jam 12.05
memberikan rasa nyaman dan privasi bagi pasien sebelum dilakukan tindakan
dengan respon subyektif bersedia dibantu dan respon obyektif pasien tampak
rileks, nyaman, mengenakan pakaian dibantu perawat dan keluarga. Pada jam
13.15 observasi kemandirian melakukan perawatan diri dengan respon
subyektif pasien mengatakan bisa jika tempat terjangkau dan respon obyektif
pasien mengambil sisir yang ada di meja samping tempat tidur. Pada jam
15.00 menganjurkan melakukan perawatan diri secara konsisten sesuai
kemampuan pasien dengan respon subyektif pasien menggapai barang-barang
sekitar dan respon obyektif pasien mampu menggapai sisir, kaca.
Implementasi hari ke tiga pada tanggal 04 Desember 2022 pada jam
11.00 perawat mengobservasi kembali kegiatan yang di terapkan pada pasien
dengan respon subyektif pasien mengambil barang disekitar untuk
keperluannya dan respon obyektif pasien tampak dapat menggapai barang-
barang, posisi semi fowler, bergerak terbatas. Pada jam 11.30 perawat
mengidentifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri dengan respon subyektif
pasien mengatakan ingin duduk untuk melakukan cuci muka serta sikat gigi
dan respon obyektif pasien dibantu untuk duduk, tampak tegang, tidak cemas.
75
Pada jam 13.00 perawat mengobservasi kemampuan mandiri pasien
melakukan perawatan diri dengan respon subyektif pasien mengatakan jika
dekat maka saya mengambilnya dan respon obyektif pasien tampak rileks,
santai dan mampu melakukan aktifitas sesuai kemampuan mandirinya.
Evaluasi pada hari ke 1 (02/12/22) didapatkan pasien tidak mampu
melakukan perawatan diri, mempunyai riwayat operasi pada tanggal 01
Desember 2022 BSO TAH pengangkatan rahim atau uterus dan Mastektomi.
Keadaan pasien cukup kesadaran kompos mentis pasien tampak tidak rapi,
ganti pakaian sekali sehari, rambut terlihat kusut. Evaluasi pada hari ke 2
(03/12/22) kemandirian dalam perawatan diri cukup karena pasien mampu
melakukan kegiatannya dengan cara menggapai, pasien tampak rapi, klien
dikseka sehari sekali, ganti pakaian dibantu keluarga dan perawat, mengosok
gigi setiap hari, pasien mempertahankan kemandirian perawatan dirinya.
Evaluasi pada hari ke 3 (04/12/22) didapatkan data pasien mempertahan
kemandirian perawatan dirinya dengan menyisir rambut, gosok gigi, rias diri.
Pasien Tidak tampak rileks, santai dan cemas berkurang karena pasien dapat
melakukan perawatan diri sebagian dibantu dengan keluarga saat melakukan
BAB dan BAK yang dipasang diapers. Dengan menerapkan perawatan diri
secara mandiri yang dapat dilakukan oleh pasien dan tetap mengkolaborasikan
dengan dokter pemberian analgetik.
BAB 4
PEMBAHASAN
Pada Bab ini akan membahas asuhan keperawatan pada Ny. A dengan
diagnosis Kanker Payudara (Ca Mammae) di Ruang H1 RSPAL dr. Ramelan
Surabaya yang dilaksanakan mulai tanggal 05 Desember 2022 sampai 11
Desember 2022 sesuai dengan pelaksanaan asuhan keperawatan dengan
pendekatan proses keperawatan dari tahap pengkajian keperawatan, diagnosis
keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi
keperawatan.
4.1 Pengkajian
Penulis melakukan pengkajian pada Ny. A. dengan melakukan anamnesis
pada pasien dan keluarga, melakukan pemeriksaan fisik dan mendapatkan data
dari pemeriksaan penunjang medis. Data yang didapatkan, Ny. A Berjenis
kelamin perempuan, berusia 39 tahun, tidak bekerja tetapi menjadi ibu rumah
tangga.
Hal ini juga ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh (Yulianti,
2010 dalam Erlinda & Lia, 2021) bahwa ditemukan adanya hubungan pendidikan
dengan kejadian kanker payudara. Hal ini membuktikan bahwa tingkat pendidikan
tidak mempengaruhi kejadian kanker payudara pada wanita. Walaupun memiliki
pendidikan tinggi, apabila tidak memiliki pola hidup yang sehat maka dapat
menjadi risiko terjadinya kanker payudara. Penelitian yang dilakukan oleh
(Panigoro, Santoso, & Gautami, 2013 dalam Erlinda & Lia, 2021) bahwa wanita
yang memiliki pendidikan tinggi akan lebih peka terhadap gejala dan segera
memeriksakan diri ke rumah sakit sehingga akan mendapatkan pengobatan kanker
76
77
payudara lebih awal. Memeriksakan diri sedini mungkin untuk mencegah
terjadinya kanker payudara sangat penting.
Data selanjutnya pasien didiagnosa kanker Payudara atau Ca Mammae post
operasi hari ke 1. Kanker payudara sering terjadi pada kaum wanita dengan usia
40-70 tahun memiliki resiko menderita ca mammae lebih tinggi karena pada usia
ini fungsi organ tubuh sudah menurun yang menyebabkan sel kanker tumbuh
dengan tidak terkendali (Karnila, 2018).
Keluhan pertama pasien saat ini nyeri pada dada sebelah kanan setelah post
operasi tanggal 01 Desember 2022, dengan nyeri seperti cekot-cekot dengan skala
4 (0 - 10) serta nyeri hilang timbul, hal ini sesuai dengan sebuah penelitian yang
dilakukan oleh Setyaningsih (2019) dalam guntari & Suariyani (2016),
menyebutkan bahwa operasi pengangkatan payudara mengakibatkan rasa nyeri
dan bahkan menyebabkan kerusakan tubuh yang berpotensi menyebabkan
hilangnya fungsi tubuh secara permanen.
Nyeri yang dirasakan pasien ca mammae biasanya berupa nyeri akut
maupun nyeri kronis. Kondisi tersebut membutuhkan tindakan mastektomi,
namun sebagian besar kanker payudara dapat diobati dengan prosedur
“lumpektomi” atau mastektomi parsial, di mana hanya tumor yang diangkat dari
payudara. Tindakan operative yang dilakukan akan menimbulkan permasalahan
baru yaitu nyeri pasca operasi. Nyeri pasca operasi muncul sebagai gejala
lanjutan post operative kanker payudara. Nyeri yang timbul dapat mengganggu
rasa nyaman pasien akibat dari kerusakan jaringan pasca operasi. Nyeri pasca
operasi dapat dievalusai melalui ekspresi wajah pasien, maupun ungkapan
langsung dari pasien (Bahrudin, 2018).
78
Pada pemeriksaan sistem muskuluskeletal pasien mengatakan badan jika
bergerak nyeri timbul dan bergerak harus dengan bantuan keluarga, TD 124/85
mmhg, Nadi 92 x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 36,4°C, SPO² 99%. Dilakukan
pemeriksaan inspeksi: tidak ada edema, kemampuan pergerakan sendi (terbatas),
│
4 4
4 4
skala kekuatan otot , ROM pasif, pasien mengeluh nyeri dada sampai ke
punggung, pada pemeriksaan palpasi: turgor kulit baik. Pada pengkajian sistem
integument dilakukan pemeriksaan inspeksi: warna kulit kuning langsat, kuku
bersih, terdapat luka terbalut kassa post operasi mastektomi + TAH BSO pada
dada kanan atas dan perut, terdapat sayatan, warna sekitar luka kemerahan
terdapat balutan luka bekas operasi pada dada kanan, terdapat kemerahan disekitar
luka, pasien tampak meringis, keadaan umum lemah. Hasil laboratorium darah
lengkap didapatkan nilai hemoglobin 10.50 g/dl (13-17g/dl), leukosit 6.72 10^3/u.
Asumsi penulis dalam pemeriksaan musculoskeletal ini dapat terjadi
masalah gangguan mobilitas fisik maka penulis berpendapat dengan cara
mobilisasi dapat mengembalikan fungsi otot, dalam penelitian yang dilakukan
oleh Yuliana et al (2021) berpendapat bahwa mobilisasi mampu meningkatkan
toleransi aktivitas klien pasca operasi laparatomi. Karena pada dasarnya latihan
mobilisasi dapat meningkatkan kekuatan otot serta mencegah kontraktur sehingga
dapat memulihkan kondisi setelah operasi (Vellyana, D., & Rahmawati, 2021).
Tetap menjaga asupan nutrisi pasien dengan memberikan makanan sesuai dengan
diitnya.
79
4.2 Diagnosis Keperawatan
Menurut Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2017) diagnosis keperawatan yang
muncul pada pasien dengan diagnosis medis kanker payudara ada 4 sebelum
dilakukan operasi yaitu : pola napas tidak efektif, nyeri kronis, defisit
pengetahuan, ansietas dan 6 masalah keperawatan setelah dilakukan operasi yaitu
: gangguan citra tubuh, gangguan mobilitas fisik, kerusakan integritas kulit dan
jaringan, risiko infeksi, nyeri akut. Penulis mengambil masalah keperawatan yang
sesuai dengan keadaan pasien saat ini yaitu nyeri akut, risiko infeksi dan
gangguan mobilitas fisik. Penulis tidak mengambil masalah keperawatan pola
napas tidak efektif karena napas pasien yaitu 20x/menit normal perhitungan nafas
pada orang dewasa 16-20x/menit, saat pengkajian diagnosa keperawatan yang
muncul saat ini nyeri akut, risiko infeksi dan gangguan mobilitas fisik sampai
dalam tahap evaluasi keperawatan.
Diagnosis keperawatan pada Ny. A dengan diagnosis Kanker Payudara atau
Ca Mammae di Ruang H1 RSPAL Dr Ramelan Surabaya ada 4 yaitu :
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis: luka post operasi
kanker payudara (Mastektomi)
Diagnosa ini ditegakkan karena pasien mengatakan nyeri di dada sampai
ke punggung bekas post operasi dengan skala nyeri 4 (1-10), seperti cekot-
cekot dan hilang timbul, nyeri dirasakan pada saat bergerak atau beraktivitas.
Hasil observasi yaitu pasien tampak menyeringai, pasien tampak gelisah,
tekanan darah 124/85 mmHg, Nadi 100x/menit, Post operasi hari ke 1,
terdapat luka pada dada kanan atas dan perut. Nyeri akut adalah pengalaman
sensori dan emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau
80
fungsional, dengan mendadak atau lambat onset dan berintensitas ringan
hingga berat yang berlangsung kurang 3 bulan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI,
2017).
Menurut asumsi penulis bahwa pasien memiliki masalah utama yaitu
nyeri akut karena nyeri timbul pada saat pasien bergerak atau beraktivitas,
maka perlu tindakan utama dalam penanganan pasien. Nyeri yang dirasakan
oleh pasien juga timbul karena adanya kerusakan kulit yang menjadi masalah
utama pada pasien. Oleh sebab itu penulis mengangkat diagnosa ini menjadi
prioritas utama sehingga tindakan pengurangan nyeri harus segera ditangani.
2. Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif (Luka pada mammae
dextra dan luka sesarea)
Diagnosa ini ditegakkan karena ditemukan data pada sistem integumen
didapatkan luka bekas operasi pada dada kanan atas dan perut, terdapat
kemerahan pada luka post operasi, suhu tubuh 36,4 C. Hasil laboratorium
darah lengkap didapatkan nilai hemoglobin 10.50 g/dl (13-17g/dl), leukosit
6.72 10^3/u. Resiko infeksi merupakan berisiko mengalami peningkatan
terserang organisme patogenik (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
Menurut asumsi penulis bahwa adanya luka berarti berisiko untuk
terserang organisme atau bakteri, sehingga dapat diangkat diagnosa risiko
infeksi untuk mencegah adanya infeksi pada luka post operasi.
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keengganan melakukan
pergerakkan
Diagnosa ini ditegakkan karena ditemukan data pasien mengatakan takut
jahitan terbuka, merasa lemas dan membatasi pergerakkan, kekuatan otot
81
ekstremitas atas 4 dan esktremitas bawah 4, bedrest atau tirah baring. Data-
data tersebut menunjukkan bahwa pasien mengalami masalah gangguan
mobilitas fisik. Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam gerakan
fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri. Menurut asumsi penulis,
masalah gangguan mobilitas fisik dijadikan prioritas ketiga karena pasien
merasa cemas saat bergerak dan enggan melakukan pergerakkan (Tim Pokja
SDKI DPP PPNI, 2017).
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
Diagnosa ini ditegakkan karena ditemukan data pada pasien tidak
mampu melakukan perawatan diri secara mandiri, merasa cemas dan tegang
saat perawat membantu pemasangan diapers, pasien tampak tampak tidak rapi,
ganti pakaian sekali sehari, rambut terlihat kusut. Data tersebut menunjukkan
bahwa pasien mengalami masalah dalam perawatan dirinya. Defisit perawatan
diri adalah tidak mampu melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan
diri. Menurut asumsi penulis, masalah defisit perawatan diri dijadikan
prioritas keempat karena pasien merasa cemas dan tegang saat dibantu serta
kemandirian pasien terhadap perawatan diri kurang (Tim Pokja SDKI DPP
PPNI, 2017).
82
4.3 Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan pada Ny. A dengan diagnosis Kanker Payudara atau
Ca Mammae yaitu :
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis: luka post operasi
kanker payudara (Mastektomi)
Tujuan keperawatan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3x24 jam diharapkan tingkat nyeri teratasi. Kriteria hasil yaitu keluhan nyeri
menurun, klien tampak meringis menurun, gelisah menurun, tekanan nadi
membaik (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019).
Rencana Keperawatan dengan intervensi utama, manajemen nyeri yaitu
Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, kualitas dan intensitas nyeri,
Identifikasi skala nyeri, Berikan teknik relaksasi nafas dalam, Anjurkan teknik
distraksi (saat nyeri alihkan dengan menonton video) bertujuan untuk
mengurangi rasa nyeri, berikan terapi kolaborasi analgesik ([Link] 3x1/
IV dan pemberian peinlos drip NS 100ml/12 jam). Manajemen nyeri
merupakan suatu proses atau tindakan keperawatan yang dilakukan baik
secara kolaboratif ataupun secara individu pada pasien pasca pembedahan
guna mengontrol atau mengurangi nyeri serta mengendalikan rasa nyeri yang
dirasa oleh pasien (Ika Yulia, et all, 2022).
Asumsi penulis dalam rencana keperawatan ini pasien dapat mengontrol
nyeri yang dirasakan dengan terapi non farmakologi yaitu teknik relasasi nafas
dalam dan terapi farmakologi ([Link] 3x1/ IV dan pemberian peinlos drip
NS 100ml/12 jam). Data tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan
lestari dkk tahun (2022) yaitu relaksasi nafas dalam terhadap pasien pasca
83
bedah berpengaruh terhadap penurunan intensitas nyeri yang dirasakan oleh
pasien. Teknik relaksasi nafas dalam merupakan suatubentuk asuhan
keperawatan bagaimana cara melakukan napas dalam, napas lambat (menahan
inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan napas secara
perlahan, relaksasi nafas dalam dapat menurunkan intensitas nyeri, selain itu
teknik relaksasi napas dalam juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan
meningkatkan oksigenasi darah.
2. Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif (Luka pada mammae
dextra dan luka sesarea)
Tujuan keperawatan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3x24 jam diharapkan tidak ada tanda-tanda infeksi atau radang yang muncul
(color, dolor, rubor, tumor, fungsio lesa), pasien mengatakan ketat pada luka
dan panas (Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019).
Rencana Keperawatan dengan intervensi pencegahan infeksi yaitu
Monitor tanda dan gejala infeksi, Berikan perawatan kulit pada area luka,
Pertahankan kondisi aseptic pada luka. Pencegahan infeksi adalah
mengidentifikasi dan menurunkan risiko terserang organisme patogenik
(PPNI, 2017).
Asumsi penulis dalam rencana keperawatan yaitu memfokuskan pada
penyembuhan luka. Penyembuhan luka dapat dilakukan dengan perawatan
luka dengan teknik steril untuk mencegah perluasan infeksi pada luka serta
memberikan rasa nyaman pada klien dan kolaborasi dengan dokter teknik
farmakologis pemberian antibiotik. Infeksi luka operasi merupakan hasil
kontaminasi bakteri yang masuk saat dilakukan pembedahan (Hidayatika, A.,
84
Kurniawati, F. and Yasin, 2019). Penggunaan antibiotik yang rasional
menurunkan angka kejadian ILO (Murdiana, 2022).
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keengganan melakukan
pergerakkan
Tujuan keperawatan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3x24 jam diharapkan mobilitas fisik meningkat, nyeri menurun, kelemahan
menurun, identifikasi adanya nyeri atau keluhan fisik lainnya, monitor kondisi
umum selama melakukan mobilisasi, fasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat
bantu (pagar tempat tidur), libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam
meningkatkan pergerakkan, jelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi, anjurkan
mobilisasi sederhana yang harus dilakukan (duduk di tempat tidur, duduk di
sisi tempat tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi) (Tim Pokja SLKI DPP
PPNI, 2019). Asumsi peneliti dalam rencana keperawatan yaitu memfokuskan
pada kemampuan aktivitas pasien meningkat dengan mengajarkan aktivitas
distraksi.
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
Tujuan keperawatan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3x24 jam diharapkan kemampuan ke toileting meningkat, nyeri menurun,
kecemasan menurun, kelemahan fisik menurun.
Rencana Keperawatan dengan intervensi utama, kemandirian perawatan
diri yaitu monitor tingkat kemandirian, identifikasi kebutuhan alat bantu
kebersihan diri, sediakan lingkungan yang terapeutik (suasana hangat, rileks,
privasi), siapkan keperluan pribadi (seperti sabun mandi, sikat gigi, parfum),
mendampingi dalam melakukan perawatan diri sampai mandiri, fasilitasi
85
kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan perawatan diri,
menjadwalkan rutinitas perawatan diri, anjurkan melakukan perawatan diri
secara konsisten sesuai kemampuan (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2017). (Tim
Pokja SLKI DPP PPNI, 2019).
Asumsi penulis dalam rencana keperawatan yaitu memfokuskan pada
meningkatkan perawatan diri pasien meningkat dengan mengajarkan
melakukan perawatan diri secara mandiri terjadwal. Personal hygiene adalah
suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk
kesejahteraan fisik dan psikis. jika pasien tidak mampu melakukan personal
hygiene maka tugas seorang perawat adalah memberikan bantuan dalam
melaksanakan pemenuhan kebutuhan personal hygiene pasien. Salah satu
bentuk perawatan diri adalah pemenuhan kebutuhan manusia. Perawat
memiliki peran untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia meliputi aspek
biologi, sosial, dan spiritual (Sri H. S. M, 2019).
Berdasarkan perencanaan dari empat diagnosa diatas maka penulis
melakukan beberapa tindakan keperawatan yaitu; melatih teknik relaksasi
nafas dalam, memberikan perawatan luka dengan teknik steril untuk
mencegah perluasan infeksi dan memberikan penjelasan atau edukasi
meningkatkan asupan nutrisi untuk membantu mempercepat penyembuhan
luka dan memberikan aktivitas distraksi untuk meningkatkan energi dan
menganjurkan istirahat yang cukup. Membantu melakukan perawatan diri dan
memandirikan pasien melakukan perawatan diri secara terjadwal untuk lebih
memudahkan pasien telah mencapai kemandirian sesuai perawatan dirinya.
86
4.4 Implementasi Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis: luka post operasi
kanker payudara (Mastektomi)
Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis selama melakukan
asuhan keperawatan di rumah sakit adalah mengkaji TTV, mengkaji
karakteristik nyeri pasien, mengajarkan tekhnik relaksasi nyeri dengan nafas
dalam, mengatur posisi yang nyaman bagi pasien menganjurkan pasien posisi
semi fowler atau setengah duduk pada tempat tidur, memberikan obat
analgetik sesuai program injeksi antrain (iv) dan peinlos drip NS 100 ml per
12 jam.
Perawat mempunyai peran penting dalam mengurangi nyeri antara lain
mengurangi ansietas, mengkaji nyeri secara regular, memberi analgesik sesuai
advise, mengevaluasi keefektifannya dan memberikan terapi non farmakologi
yaitu teknik distraksi relaksasi napas dalam. Dalam sebuah penelitian yang
sebelumnya dilakukan, disebutkan bahwa distraction therapy dapat
menurunkan skala nyeri secara efektif (Yaban, 2019).
Asumsi penulis dalam tindakan keperawatan ini yaitu dengan
memberikan teknik non farmakologi relaksasi nafas dalam dan terapi
dikstraksi menonton video melalui handphone dapat menurunkan rasa nyeri
pada klien. Pada klien dengan kanker payudara dapat mengalami nyeri akut
sedang. Kolaborasi obat anti nyeri juga penting pada klien untuk menurunkan
intensitas nyeri rendah sampai sedang.
87
2. Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif (Luka pada mammae
dextra dan luka sesarea)
Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis selama melakukan
asuhan keperawatan di rumah sakit memberikan perawatan luka pada area
luka dengan mempertahankan kondisi aseptic pada luka, menjelaskan tanda
gejala infeksi, mengajarkan mencuci tangan dengan benar, mengajarkan cara
memeriksa luka. Pasien dengan kanker payudara memiliki risiko untuk
terjadinya infeksi, sehingga pengobatan yang dianjurkan dan merupakan
pengobatan lini pertama adalah obat antibiotik (Ezra et al., 2022) . Perawatan
luka operasi juga penting dilakukan untuk mencegah infeksi dan komplikasi
pascaoperasi lainnya (Zakhary, 2017).
Asumsi penulis dalam melakukan tindakan tersebut yaitu untuk
menurunkan infeksi pada luka dan mempercepat penyembuhan luka dengan
memberikan tindakan edukasi untuk mempercepat penyembuhan dan
perawatan luka.
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keengganan melakukan
pergerakkan
Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis selama melakukan
asuhan keperawatan di rumah sakit yaitu mengobservasi adanya nyeri atau
keluhan fisik lainnya, monitor kondisi umum selama melakukan mobilisasi,
memfasilitasi aktivitas mobilisasi dengan alat bantu (pagar tempat tidur),
libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakkan,
menjelaskan tujuan dan prosedur mobilisasi, anjurkan mobilisasi sederhana
yang harus dilakukan (duduk di tempat tidur, duduk di sisi tempat tidur,
88
pindah dari tempat tidur ke kursi). Pada penelitian amalia dan fajar (2020)
sebuah dukungan mobilitas yang diberikan pada pasien secara psikologis akan
memberikan kepercayaan pada pasien bahwa ia mulai merasa sembuh. Asumsi
peneliti dalam melakukan tindakan yaitu memfokuskan pada keinginan pasien
untuk beraktivitas meningkat dengan dukungan mobilitas yang diberikan
keluarga dan perawat.
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan (SDKI, D.0109, Hal:
240)
Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis selama melakukan
asuhan keperawatan yaitu kemandirian perawatan diri dengan memonitor
tingkat kemandirian, identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri,
menyediakan lingkungan yang terapeutik (suasana hangat, rileks, privasi),
menyiapkan keperluan pribadi (seperti sabun mandi, sikat gigi, parfum),
mendampingi dalam melakukan perawatan diri sampai mandiri, memfasilitasi
kemandirian, bantu jika tidak mampu melakukan perawatan diri,
menjadwalkan rutinitas perawatan diri, menganjurkan melakukan perawatan
diri secara konsisten sesuai kemampuan (Tim Pokja SIKI DPP PPNI, 2017;
(Tim Pokja SLKI DPP PPNI, 2019).
89
Menurut Patricia & Anne (2019) Perawatan individual
mempertimbangkan kemampuan pasien untuk melakukan perawatan, jumlah
bantuan yang dibutuhkan dan kebutuhan alat bantu dan keamanan untuk
memfasilitasi perawatan kebersihan yang aman. Ketika pasien mengalami
keterbatasan perawatan diri, keluarga dapat membantu dengan hati-hati.
Tentukan bagaimana keluarga dapat membantu pasien, seberapa sering
mereka dapat memberikan bantuan dan bagaimana perasaan menjadi
caregiver. Asumsi peneliti dalam melakukan tindakan yaitu membantu dan
meningkatkan kemandirian pasien dalam perawatan diri sesuai dengan
kemampuannya.
4.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi yaitu penilaian hasil dan proses. Penilaian hasil menentukan
seberapa jauh keberhasilan yang dicapai sebagai keluaran dari tindakan. Evaluasi
pada pasien Ny. A dengan diagnosa kanker payudara di Ruang H1 RSPAL dr.
Ramelan Surabaya yaitu :
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis: luka post operasi
kanker payudara (Mastektomi)
Evaluasi pada diagnosa ini dilakukan pada hari ketiga tanggal 04
Desember 2022 dengan hasil subjektif pasien mengatakan nyeri berkurang.
Hasil objektif pasien sudah tidak menunjukkan ekspresi wajah meringis atau
kesakitan, ttv dalam batas normal tekanan darah 125/70 mmhg, Nadi 95
x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 36,5°C, SPO² 99%. Assesment masalah
keperawatan sudah teratasi dengan skala nyeri menurun, meringis menurun,
90
gelisah menurun, frekuensi nadi membaik, tekanan darah membaik., Planning
yaitu intervensi dilanjutkan.
2. Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif (Luka pada mammae
dextra dan luka sesarea)
Evaluasi pada diagnosa ini dilakukan pada hari ketiga tanggal 04
Desember 2022 dengan hasil subjektif pasien mengatakan nyeri pada area luka
post operasi berkurang, dan tidak panas. Hasil objektif pasien tidak ada tanda
infeksi pada luka post operasi (tidak terdapat pus, kemerahan berkurang, tidak
ada rembesan pada dressing, tidak ada bledding), ttv normal tekanan darah
125/70 mmhg, Nadi 95 x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 36,5°C, SPO² 99%.
Assesment masalah keperawatan teratasi sebagian dengan kriteria hasil yang
belum tercapai luka kemerahan menurun dan skala nyeri menurun, Planning
yaitu intervensi dilanjutkan dengan merawat kulit pada area luka dengan
mempertahankan kondisi aseptic pada luka, mengkonsumsi makanan dan
minuman yang bernutrisi dan rutin meminum antibotik (Onoiwa 3x1
@500mg) yang telah dianjurkan.
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keengganan melakukan
pergerakkan
Evaluasi pada diagnosa ini dilakukan pada hari ketiga tanggal 04
Desember 2022 dengan hasil subjektif pasien mengatakan badan sudah sedikit
enakan dan tidak lemas. Hasil objektif pasien tampak sudah dapat beraktivitas
secara mandiri (duduk semifowler), ttv normal tekanan darah 125/70 mmhg,
Nadi 95 x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 36,5°C, SPO² 99%. Assesment
masalah keperawatan teratasi sebagian dengan kriteria hasil yang belum
91
tercapai pergerakan ekstremitas yang terbatas, kekuatan otot ekstremitas atas
dan bawah 4/4. Planning yaitu pertahankan kondisi.
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
Evaluasi pada diagnosa ini dilakukan pada hari ketiga tanggal 04
Desember 2022 dengan hasil subjektif pasien mengatakan melakukan sebisa
mungkin, ROM terbatas, keadaan umum baik, komposmentis. Hasil objektif
pasien tampak dibantu oleh keluarga saat melakukan perawatan dirinya (gosok
gigi, mandi dengan di seka, menyisir rambut secara mandiri) dalam posisi
setengah duduk semifowler, ttv normal tekanan darah 125/70 mmhg, Nadi 95
x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 36,5°C, SPO² 99%. Assesment masalah
keperawatan teratasi sebagian dengan kriteria hasil yang belum tercapai
kemampuan ke toileting, nyeri yang dirasakan pasien yang hilang timbul,
kelemahan fisik pada pasien. Planning yaitu pertahankan kondisi tingkatan
kemandirian perawatan diri sesuai kemampuan pasien.
BAB 5
PENUTUP
Setelah penulis melakukan pengamatan dan melaksanakan asuhan
keperawatan secara langsung pada pasien dengan diagnosis medis Kanker
Payudara di Ruang H1 RSPAL dr. Ramelan Surabaya, kemudian penulis dapat
menarik simpulan sekaligus saran yang dapat bermanfaat dalam meningkatkan
mutu asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosis medis Kanker Payudara.
5.1 Simpulan
1. Hasil pengkajian pada pasien pada Ny. A dengan diagnosis medis Kanker
Payudara didapatkan data pada pasien yaitu dengan keluhan utama nyeri akut,
pasien mengatakan nyeri, provoking (P): nyeri menurun dan dirasa saat
aktivitas berlebih saja, quality (Q): klien mengatakan nyeri seperti cekot-
cekot, region (R): dada sebelah kanan menjalar ke punggung, severity (S):
skala nyeri 2 (ringan) dari 0-10 skala nyeri, time (T): hilang timbul.
2. Diagnosis keperawatan pada Ny. A dengan diagnosis medis Kanker Payudara
dan telah diprioritaskan menjadi: Nyeri akut berhubungan dengan agen
pencedera fisiologis: luka post operasi kanker payudara (Mastektomi) (SDKI,
D.0077, Hal: 172), Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif (Luka
pada mammae dextra dan luka sesarea) (SDKI, D.0142, Hal: 304), Gangguan
mobilitas fisik berhubungan dengan keengganan melakukan pergerakkan
(SDKI, D.0054, Hal: 124), Defisit perawatan diri berhubungan dengan
kelemahan (SDKI, D.0109, Hal: 240).
92
93
3. Intervensi keperawatan pada Ny. A dengan diagnosis medis Kanker Payudara
(ca mammae) post op TAH BSO + Mastektomi yaitu nyeri akut berhubungan
dengan agen pencedera fisiologis: luka post operasi kanker payudara
(Mastektomi) (SDKI, D.0077, Hal: 172) dengan intervensi utama manajemen
nyeri, Risiko infeksi dibuktikan dengan efek prosedur invasif (Luka pada
mammae dextra dan luka sesarea) (SDKI, D.0142, Hal: 304) dengan intervensi
utama pencegahan infeksi, Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan
keengganan melakukan pergerakkan (SDKI, D.0054, Hal: 124) dengan
intervensi utama dukungan ambulasi, Defisit perawatan diri berhubungan
dengan kelemahan (SDKI, D.0109, Hal: 240) dengan intervensi utama
dukungan perawatan diri.
4. Implementasi keperawatan pada Ny. A dengan diagnosis medis Kanker
Payudara disesuaikan dengan diagnosis keperawatan yang ada; Nyeri akut
berhubungan dengan agen pencedera fisiologis: luka post operasi kanker
payudara (Mastektomi) dengan memanajemen nyeri dan memberikan
analgesik, Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif (Luka pada
mammae dextra dan luka sesarea) dengan perawatan luka dan pencegahan
infeksi dengan pemberian antibiotic, Gangguan mobilitas fisik berhubungan
dengan keengganan melakukan pergerakkan dengan dukungan melakukan
mobilisasi, defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan melakukan
perawatan diri dibantu dan mandiri sesuai kemampuan pasien.
5. Hasil evaluasi keperawatan pada Ny. A dengan diagnosis medis Kanker
Payudara disesuaikan dengan diagnosis keperawatan yaitu. Nyeri akut
berhubungan dengan agen pencedera fisiologis: luka post operasi kanker
94
payudara (Mastektomi), Risiko infeksi ditandai dengan efek prosedur invasif
(Luka pada mammae dextra dan luka sesarea), Gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan keengganan melakukan pergerakkan dapat teratasi sesuai
dengan tujuan keperawatan yang telah ditetapkan, Defisit perawatan diri
berhubungan dengan kelemahan dapat teratasi sebagian dengan tujuan yang
telah ditetapkan.
5.2 Saran
1. Bagi Pasien
Pasien dan keluarga hendaknya lebih memperhatikan dalam hal
perawatan luka post operasi. Pasien harus bisa menerapkan tindakan untuk
mencegah terjadinya resiko infeksi.
2. Bagi Profesi Keperawatan
Karya ilmiah akhir ini diharapkan dapat dijadikan literature sebagai
wawasan dalam menambah ilmu dan dapat menerapkan tindakan keperawatan
yang sesuai dengan pasien khususnya pada pasien kanker payudara (ca
mammae) post op TAH BSO + Mastektomi.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Karya ilmiah akhir ini diharapkan meningkatkan mahasiswa keperawatan
dalam mengelola pasien dengan kanker payudara khususnya pada pasien post
operasi dan dapat mempermudah melakukan penelitian atau perbandingan
dalam mengelola pasien kanker payudara (ca mammae) post op TAH BSO +
Mastektomi.
95
4. Bagi Ruangan
Petugas kesehatan khususnya perawat dapat mempertahankan tindakan
yang sudah dilakukan yaitu menerapkan teknik aseptik dalam melakukan
perawatan pada pasien dengan kanker payudara.
5. Bagi Penulis Selanjutnya
Hasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan atau
perbandingan bagi penulisan berikutnya, yang akan melakukan studi kasus
pada asuhan keperawatan diagnosa medis kanker payudara.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, F. Y. (2020). Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Pelaksanaan
Mobilisasi Dini Pada Pasien Post Operasi di Ruang Bedah RSUD Dr. H. Bob
Bazar, SKM Kalianda Lampung Selatan. Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia,
Vol 1(1).
Ami Ashariati Prayoga. (2019). Manajemen Kanker Payudara Komprehensif.
Airlangga University Press.
Bahrudin, M. (2018). Patofisiologi Nyeri. Santika Medika.
Bonacho, T., Rodrigues, F., & Liberal, J. (2019). Immunohistochemistry for
diagnosis and prognosis of breast cancer : a review. Biotechnic &
Histochemistry. 0(0), 1–21.
[Link]
Cardoso, F., Kyriakides, S., Ohno, S. Poortmans, P., Rubio, I. T., Z., & S., &
Senkus, E. (2019). Early breast cancer : ESMO Clinical Practice Guidelines
for diagnosis , treatment and follow-up. ESMO, 30(8), 1194–1220.
[Link]
Cardoso, F., Kyriakides, S., Ohno, [Link], P., Rubio, I. T., Z., & S., &
Senkus, E. (2019). Early breast cancer : ESMO Clinical Practice Guidelines
for diagnosis, treatment and follow-up. ESMO, 30(8), 1194–1220.
[Link]
Dhestirati, erna Irawan, Sri H, Ira Marlina, T. P. (2022). Gambaran Diri Pasien
Post Mastektomi di Ruang Kemoterapi Santosa Hospital Bandung Central.
Jurnal Keperawatan BSI, 10, 267.
[Link]
Erlinda Rara Sulviana, L. K. (2021). Hubungan Antara Usia, Pendidikan, dan
Pekerjaan dengan Kejadian Kanker Payudara pada Wanita di Kalimantan
Timur. Borneo Student Research, 2 no. 3.
GLOBOCAN (Global Cancer Observatory). (2020). International Agency for
Research on Cancer. World Health Organization.
[Link]
Herdman, T. . (2018). NANDA International Nursing Diagnoses: definitions and
classification 2018-2020. EGC.
Hidayatika, A., Kurniawati, F. and Yasin, N. . (2019). Kajian Penggunaan
Antibiotik Pasien Bedah Digestif Dewasa di Rumah Sakit Akademik
Universitas Gadjah Mada. 4–5.
96
Ika Yulia Darma, Weni Sartiwi, Honesty Diana Morika, Meldafia Idaman, S. Z.
(2022). Penatalaksanaan Manajemen Nyeri Pada Pasien Post Operasi
Diruang Bedah RSUD Mayjen H.A Thalib Kota Sungai Penuh. Jurnal
Abdimas Saintika, 4 (1). [Link]
Iqmy, L. O., Setiawati, & Yanti, D. E. (2021). Faktor Risiko Yang Berhubungan
Dengan Kanker Payudara. Jurnal Kebidanan, 7(1), 32–36.
Karnila. (2018). Perbandingan Kualitas Hidup Pasien CA Mammae Dengan
Menggunakan Kuesioner EORTC-C30 dan QOL Breast Cancer Version
yang Menjalani Kemoterapi di Rumah Sakit Umum Pusat DR. Wahidin
Sudirohusodo Makassar. UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASAR.
Kemenkes RI. (2020). Hasil utama RISKESDAS 2018. Badan Penelitian Dan
Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan.
[Link]
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Panduan Penatalaksanaan
Kanker Payudara. [Link]
Lestari, S., Faridasari, I., Hikhmat, R., Kurniasih, U., & Rohmah, A. (2022).
Pengaruh Teknik Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Skala Nyeri. Jurnal
Kesehatan, 13 (1), 1–6.
Liabalingka. (2020). Kanker : pentingnya mengenal kanker lebih dekat/
Liabalingka (1st ed.). Gava Media.
Mastura, R. Nurhidayah, I. F. (2022). Asuhan keperawatan post operasi di ICU:
studi kasus. JIM FKep, 1(1), 110–117.
Meylana EH, D. D. (2020). Perbedaan Perceived Academic Stress Ditinjau Dari
Tahun Angkatan Pada Mahasiswa Fakultas X. Jurnal Penelitian Psikologi,
07(02), 32–42.
Murdiana, H. . (2022). Evaluasi penggunaan profilaksis antibiotik bedah umum di
Rumah sakit Pemerintah Yogyakarta. Health Science and Pharmacy Journal,
6 (1), 1–9. [Link]
Nadiya Sarah, M. C. (2018). Hubungan Mobilisasi Dini Post Sectio Caesarea (SC)
Dengan Penyembuhan Luka Operasi di Ruang Kebidanan RSUD dr. Fauziah
Kecamatan Kota Juang Kabupaten Bireuen. Journal Of Healthcare
Technology And Medicine, 4(2).
[Link]
Nurarif, dkk. (2016). Asuhan Keperawatan Praktis jilid 1 (jilid 1). Mediaciton.
Nurrohmah, A., Aprianti, A., & Hartutik, S. (2022). Risk Factors of Breast
Cancer. Gaster Journal Of Health Science, 20(1), 1–10.
Padila. (2019). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Nuha Medika.
97
Patricia A, Potter, Anne GGriffin Perry, patricia A Strockert, RN Bsn MS PhD,
Patricia Strockert, A. H. (2019). Fundamentals Of Nursing Vol 2-9th
Indonesia Edition: Dasar Psikososial Untuk Praktik Keperawatan Unit VII
Dasar Fisiologis Untuk Praktik Kpeerawatan: Glosarium (S. R. Deswani,
Enie Novieastari, Kusman Ibrahim (ed.)). Elsevier Health Sciences.
Ratih Kumala Dewi. (2020). Hubungan Kepatuhan Menjalani Kemoterapi dengan
Kualitas Hidup Pasien Kanker Payudara di RSUD Dr. Meowardi Surakarta.
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat, 12 (4), 158–163.
Remedios, M. D. F. Dos. (2019). Asuhan Keperawatan Komprehensif Pada
Pasien Ny. Y.G Dengan CA Mammae di Ruang Cempaka RSUD Johanes
Kupang. Politeknik Kesehatan Kemenkes Kupang. [Link].W.Z.
Rendy & Margareth. (2019). Konsep Asuhan Keperawatan Fraktur Femur. EGC.
Sari NN, S. M. (2021). Penyesuaian Psikososial Pada Wanita Penderita Kanker
Payudara Pasca Matektomi. J Penelit Psikol, 8 (7).
Siregar karolus & Nugroho, et all. (2022). Keperawatan Onkologi. CV Media
Sains Indonesia.
Sjamsuhidajat & de Jong. (2017). Buku Ajar Ilmu Bedah (3rd ed.). Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Sri H. S. M. (2019). Penerapan Proses Keperawatan Dalam Pemenuhan Peronal
Hygiene Pada Pasien.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Dewan Pengurus Pusat.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2017). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
Dewan Pengurus Pusat.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
DPP PPNI.
V. C., Manjas, M., & Rasyid, R. (2018). Distribusi Fraktur Femur Yang Dirawat
Di Rumah Sakit [Link], Padang (2010-2012). Jurnal Kesehatan
Andalas, 6(3), 586. [Link]
Vellyana, D., & Rahmawati, A. (2021). Dukungan Keluarga Pada Pelaksanaan
Mobilisasi Dini Pasien Pasca Stroke Iskemik. Jurnal Kesehatan Indonesia,
11(2), 94–99.
Wolff, A. C. et al. (2018). Human Epidermal Growth Factor Receptor 2 Testing in
Breast Cancer: American Society of Clinical Oncology/College of American
Pathologists Clinical Practice Guideline Focused Update. Journal of Clinical
Oncology, 36(20), 2105–2122. [Link]
98
Yaban. (2019). Pengaruh Terapi Guided Imagery Terhadap Nyeri Pada Pasien
Post Operasi Kanker Payudara. Jurnal Abuyatama, 2(1).
Youn, H. J., & Han, W. (2020). A review of the epidemiology of breast cancer in
Asia: Focus on risk factors. Asian Pacific Journal of Cancer Prevention,
21(4), 867–880.
[Link]
Yuliana, Johan, A., & Rochana, N. (2021). Pengaruh Mobilisasi Dini terhadap
Penyembuhan Luka dan Peningkatan Aktivitas Pasien Postoperasi
Laparatomi. Jurnal Akademika Baiturrahim Jambi (JABJ), 10(1), 238–249.
[Link]
99
Lampiran. 1 Curriculum Vitae
CURRICULUM VITAE
Nama : Aisyah Wulan Rachmawati
Nim 2230006
Program Studi : Profesi Ners
Tempat Tinggal : Surabaya, 29 Maret 1998
Agama : Islam
Alamat : Jalan. Kutei Kalimir 23-A, Surabaya
[Link] 0895395096369
Email : aisyahwulanrachmawati29@[Link]
Riwayat Pendidikan :
1. TK Qoshrul Ubudiyah Surabaya : 2004-2005
2. SD Kartika IV-9 Surabaya : 2005-2010
3. SMP Rahmat Surabaya : 2011-2013
4. SMK Kesehatan Nur Medika Surabaya : 2014-2016
5. S1 Keperawatan STIKES Hang Tuah Surabaya : 2017-2021
100
Lampiran. 2 Motto dan Persembahan
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
"You'll never be brave if you don't get hurt".
"You'll never learn if you don't make mistakes".
"You'll never be successful if you don't encounter failure".
PERSEMBAHAN
Hasil karyaku ini saya persembahkan kepada :
1. Kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan, kemudahan,
kelancaran, petunjuk sehingga saya mampu menyelasaikan tugas akhir ini
untuk menyelesaikan jenjang Profesi Keperawatan.
2. Kepada kedua orang tua saya (Ayah Wiharmadi dan Ibu Sulistiyani) yang
telah memberikan motivasi, dukungan moril dan materil yang tak pernah lelah
untuk selalu mendoakan saya dengan tulus dan ikhlas dalam menemani dan
membantu saya untuk menyelesaikan tugas akhir saya.
3. Kepada adik kandungku (Moch. Bahrul Ilmi) yang selalu mendoakan,
menemani dan menghibur serta memotivasi saya untuk menyelesaikan tugas
akhir ini.
4. Kepada sahabat terdekat saya dikampus (Tiyas dan Ulfa) yang selalu
menemani dan membantu saya disaat menyusun karya ilmiah akhir ini, serta
yang selalu memberikan Doa dan motvasi dalam penyusunan tugas akhir ini.
5. Kepada semua teman-teman angkatan 23 yang dari awal sampai akhir
perkuliahan tetap saling membantu, semoga bisa tetap kompak selalu dan
meraih keberhasilan sampai ke jenjang setinggi-tingginya.
101
Lampiran. 3 Standart Operasional Prosedur (SOP)
Standart Operasional Prosedur (SOP)
SOP (STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR) PERAWATAN LUKA
PENGERTIANProsedur perawatan yang dilakukan pada luka setelah operasi atau
DAN TUJUAN luka trauma.
1. Mencegah timbulnya infeksi
2. Mengobservasi perkembangan luka
3. Mengobservasi drainase eksudat
4. Meningkatkan kenyamanan fisik dan psikologis
ALAT DAN 1. Sarung tangan
BAHAN 2. Sabun cuci luka
3. Pinset anatomi
4. Pinset sirugi
5. Gunting jaringan
6. Gunting perban
7. Kasa steril
8. Kasa gulung
9. Pengalas
10. Plester
11. Cairan NaCl
12. Bengkok
13. Kapas lidi
14. Kom kecil
15. Plastik sampah
16. Obat topikal atau modern dressing untuk luka sesuai
dengan kebutuhan
PROSEDUR Tahap pra interaksi
PELAKSANAA 1. Mengecek program terapi
N 2. Mencuci tangan
Tahap orientasi
1. Beri salam, panggil klien dengan namanya.
2. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan.
3. Beri kesempatan pada klien untuk bertanya.
102
Tahap kerja
1. Berikan privacy kepada klien.
2. Berikan posisi yang nyaman kepada klien sebelum
melakukan tindakan.
3. Cuci tangan sebelum melakuan tindakan, gunakan sarung
tangan bersih dan masker bila perlu.
4. Pasang perlak
5. Lepaskan verban/balutan dengan cara menyentuh bagian
luarnya saja. Jika kotor, gunakan pinset untuk mengangkat
verban/balutan.
6. Jika verban/balutan menempel pada luka, basahi dengan
larutan NaCl, buka kalau sudah longgar.
7. Buang verban/balutan yang kotor ke dalam kantong tahan
air untuk dibakar.
8. Ganti sarung tangan jika di rasa sangat kotor.
9. Lakukan pengkajian luka.
10. Gunakan pinset untuk memegang gumpalan kasa.
11. Pertahankan ujung pinset agar tetap steril.
12. Ambil kasa steril, kemudian masukan kedalam kom
yang berisi dengan NaCl, peras kasa dan bersikan luka
dengan sekali usap area sekitar luka.
13. Buang kasa yang digunakan untuk membersihkan setiap kali
sekali mengsusap luka.
14. Ambil lagi kasa steril, basahi dengan NaCl, kemudian peras
gunakan kasa untuk membersikan area luka, lakukan
dengan cara mulai dari atas atau dekat dengan luka dan
terus makin keluar.
15. Ambil kasa steril berikan NaCl dan sabun untuk
mencuci luka.
16. Gosok permukaan luka dengan lembut guna membantu
melepaskan benda asing pada luka sebelum
mengaplikasikan balutan.
17. Bersihkan sisa sabun dengan membilasnya dengan
cairan NaCl dan kasa steril.
18. Lakukan beberapa kali hingga luka bersih.
19. Jika ada jaringan mati gunakan gunting jaringan untuk
memotong dan membuang jaringan tersebut.
20. Berikan modern dressing sesuai dengan hasil
pengkajian pada luka
21. Jika menggunakan foam sesuaikan dengan bentuk luka dan
setidaknya perbatasan 1 cm di sekitar luka. Minimal 2 cm
tergantung pada tingkat keparahan luka. Jika menggunakan
103
salep/gel gunakan kapas lidi untuk mengaplikasikan,
22. Kemudian tempelkan kasa kering diatasnya. Gunakan
kasa untuk menutupi area luka dan sekitarnya.
23. Rekatkan kasa dengan mengunakan plester luka hingga rapi.
24. Lepaskan sarung tangan.
25. Cuci tangan
Tahap terminasi
1. Respon
a. Respon verbal: klien mengatakan tidak kaku lagi
b. Respon non verbal: klien tidak terlihat sulit untuk
menggerakkan sisi tubuhnya yang kaku.
2. Beri reinforcement positif
3. Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
4. Mengakhiri kegiatan dengan baik
REFERENSI (Aminuddin, [Link]., 2020)
104
SOP (STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR) PENGKAJIAN LUKA
Tindakan menkaji luka pada pasien untuk :
1. Mengetahui kondisi luka apakah mengalami perbaikan
PENGENTIAN atau tidak
DAN TUJUAN 2. Menentukan dressing yang cocok pada luka agar
mempercepat penyembuhan luka
1. LOCATION ( lokasi luka)
Contoh : Ekstremitas Bawah Sinistra Area Tibia
2. DIMENSION (dimensi luka)
Panjang, lebar, kedalaman, cafelil / lubang
3. WOUND BASE COLOR ( Warna dasar luka)
Red / merah : granulasi luka bagus Yellow / kuning : pus
luka nanah,
Black / hitam : nekrotik jaringan mati, un faskularisasi,
sirkulasi buruk
4. Tipe Jaringan / type of tissue
PROSEDUR 5. STAGE / GRADE ( derajat luka)
PENGKAJIAN kedalaman ( epidermis, dermis, subcutis, tendon / muscul)
6. SUTURE ( jahitan pada luka)
Masih bagus / terlepas/ bernanah/ bengkak/
7. WOUND EDGE (Tepi luka)
Pink : jaringan epitel merah muda Jaringan nekrosis tebal
dan keras
8. PERIWOUND SKIN ( Kulit sekitar luka)
Kemerahan, bengkak
9. EXUDATES / DISCHARGE / DRAINAGE ( keluaran
luka)
Darah / bloody (merah maroon) Serosanguineous (merah
muda) Serous (jernih)
Purulent ( kuning keruh, puss)
10. ODOR ( bau pada luka)
Seperti luka gangren
REFERENSI Ekaputra, E. 2020
105
SOP (STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR) TEKNIK RELAKSASI
NAFAS DALAM
PENGERTIAN Merupakan metode efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada
DAN TUJUAN pasien. Rileks yang sempurna dapat mengurangi ketegangan
otot, rasa jenuh, kecemasan sehingga mencegah menghebatnya
stimulasi nyeri..
1. Posisikan pasien dengan tepat
2. Pikiran beristirahat
3. Lingkungan yang tenang
PROSEDUR Tahap pra interaksi
PELAKSANAA 1. Membaca status pasien
N 2. Mencuci tangan
3. Menyiapkan alat
Tahap orientasi
1. Memberikan salam teraupetik
2. Validasi kondisi pasien
3. Menjaga privacy pasien
4. Menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan
kepada pasien dan keluarga
Tahap kerja
1. Ciptakan lingkungan yang tenang
2. Usahakan tetap rileks dan tenang
3. Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru
dengan udara melalui hitungan 1,2,3,4. Kemudian tahan
napas selama 2 detik.
4. Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut selama 8
detik sambil merasakan ekstremitas atas dan bawah rileks
5. Anjurkan bernafas dengan irama normal 3 kali
6. Menarik nafas lagi melalui hidung dan
menghembuskan melalui mulut secara perlahan-lahan
7. Membiarkan telapak tangan dan kaki rileks
8. Usahakan agar tetap konsentrasi
9. Anjurkan untuk mengulangi prosedur hingga nyeri terasa
berkurang kurang lebih 15 menit
Tahap terminasi
1. Evaluasi hasil kegiatan
2. Lakukan kontrak untuk kegistan selanjutnya
3. Akhiri kegiatan dengan baik
106
4. Cuci tangan
Dokumentasi
1. Catat waktu pelaksaan tindakan
2. Catat respon pasien
3. Paraf dan nama perawat juga
REFERENSI Dewi, 2020
107
Lampiran. 4 SGAS Pembimbing dan Kelompok Mahasiswa
SGAS Pembimbing dan Kelompok Mahasiswa
108
Lampiran. 5 Pengajuan KIA
LEMBAR
PENGAJUAN UJIAN KARYA ILMIAH AKHIR (KIA)
109
Lampiran. 6 Lembar Bimbingan
LEMBAR BIMBINGAN KARYA ILMIAH AKHIR MAHASISWA PRODI
PROFESI NERS STIKES HANG TUAH SURABAYA TAHUN 2022/2023
110