BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Pengertian Kurikulum merdeka
Kurikulum pendidikan memainkan peran strategis sebagai instrumen
utama dalam mentransformasi kualitas sumber daya manusia. Sebagaimana
ditekankan oleh John Dewey dalam teori pendidikan progresifnya,
pembelajaran yang efektif harus didasarkan pada pengalaman langsung yang
relevan dengan kehidupan siswa. Dewey percaya bahwa pengalaman nyata
memungkinkan siswa mengembangkan keterampilan kritis, pemahaman
mendalam, dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan. Dalam konteks
Indonesia, Kurikulum Merdeka yang diluncurkan oleh Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek)
merupakan langkah progresif untuk menjawab tantangan pendidikan abad ke-
21. Kurikulum ini dirancang sebagai respons terhadap kebutuhan pembelajaran
yang lebih fleksibel, personal, dan relevan dengan perkembangan zaman,
terutama dalam menghadapi dinamika globalisasi, teknologi, dan kebutuhan
tenaga kerja masa depan.
Prinsip pengembangan kurikulum ini sejalan dengan pandangan klasik
(Tyler, 1949), yang mengidentifikasi empat pertanyaan fundamental dalam
desain kurikulum: Apa tujuan pendidikan yang ingin dicapai?; Pengalaman
belajar apa yang perlu dikembangkan untuk mencapai tujuan tersebut?;
Bagaimana pengalaman belajar ini dapat diorganisasikan dengan efektif?; dan
Bagaimana kita mengevaluasi pencapaian tujuan tersebut? Prinsip-prinsip ini
masih relevan hingga saat ini, karena kurikulum yang baik tidak hanya
merumuskan apa yang diajarkan tetapi juga memastikan bahwa proses
pembelajaran memberikan dampak nyata terhadap pembentukan karakter,
keterampilan, dan pengetahuan siswa.
Secara konseptual, Kurikulum Merdeka dirancang dengan landasan
filosofis pendidikan progresif yang menempatkan kemandirian, kreativitas, dan
pemberdayaan potensi individual peserta didik sebagai inti utama. Filosofi ini
berakar pada gagasan bahwa pendidikan harus menjadi proses yang
membebaskan, seperti yang diungkapkan oleh (Freire, 2000) dalam karya
monumentalnya, Pedagogy of the Oppressed. Freire menekankan bahwa
pendidikan bukanlah sekadar transfer pengetahuan secara pasif, melainkan
sebuah proses dialogis yang memungkinkan siswa mengembangkan kesadaran
kritis terhadap diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka. Melalui
kesadaran kritis ini, peserta didik mampu berpikir secara mandiri, menganalisis
realitas sosial, serta menciptakan solusi kreatif untuk tantangan yang dihadapi.
Kurikulum Merdeka mengadopsi filosofi ini dengan menawarkan
pendekatan yang lebih fleksibel, personal, dan kontekstual dibandingkan
dengan pendekatan sebelumnya yang bersifat sentralistik dan seragam. Sistem
ini memberikan ruang bagi sekolah, guru, dan siswa untuk menyesuaikan
pembelajaran dengan kebutuhan spesifik, kondisi lokal, serta minat individu,
sehingga menciptakan lingkungan belajar yang lebih relevan dan bermakna.
Penelitian yang dilakukan oleh Linda Darling-Hammond (2010) di berbagai
negara menguatkan relevansi pendekatan ini. Ia menemukan bahwa kurikulum
yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan guru, terutama
dalam merancang dan mengimplementasikan strategi pembelajaran, dapat
secara signifikan meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa otonomi pendidikan yang dipadukan dengan
dukungan yang memadai mampu menciptakan inovasi pembelajaran yang
efektif dan memberdayakan seluruh ekosistem pendidikan.
Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran
intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta
didik memiliki waktu yang cukup untuk mendalami konsep dan memperkuat
kompetensi (Retnoasih & Purwanto, 2024).Konsep dasar pengembangan
Kurikulum Merdeka adalah sebuah pendekatan yang memberikan kebebasan
kepada sekolah dan guru untuk merancang serta melaksanakan pembelajaran
sesuai dengan kebutuhan siswa dan konteks lokal masing-masing
(Rahmadayanti & Hartoyo, 2022). Kurikulum Merdeka dirancang dengan
tujuan utama untuk mengembangkan minat dan bakat peserta didik sejak usia
dini, melalui fokus pada materi esensial, penguatan karakter, dan peningkatan
kompetensi siswa. Sebagai kurikulum yang fleksibel dan adaptif, pendekatan
ini memberikan ruang bagi peserta didik untuk mendalami konsep
pembelajaran secara mendalam sekaligus membangun kemampuan yang
relevan dengan kebutuhan masa depan. Implementasi Kurikulum Merdeka
dimulai melalui uji coba di 2.500 Sekolah Penggerak, dan sejak
peluncurannya, penerapannya semakin meluas. Berdasarkan data dari
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud
Ristek), hingga saat ini sebanyak 143.265 sekolah telah menerapkan
Kurikulum Merdeka, jumlah yang terus bertambah sejak diberlakukannya
kurikulum ini secara nasional pada tahun ajaran 2022/2023, mencakup
berbagai jenjang pendidikan dari TK hingga SMA.
Salah satu inovasi utama Kurikulum Merdeka adalah pendekatan
intrakurikuler yang beragam, dengan penyesuaian konten agar lebih optimal.
Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk memiliki cukup waktu dalam
memahami konsep secara mendalam sekaligus mengembangkan kompetensi
yang lebih kuat. Selain itu, guru diberikan kebebasan untuk memilih dan
menggunakan berbagai perangkat pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan
dan minat peserta didik, menciptakan proses pembelajaran yang lebih personal
dan efektif.
Kurikulum ini juga memperkenalkan proyek penguatan profil pelajar
Pancasila, yaitu proyek-proyek tematik yang dirancang untuk mendukung
pengembangan karakter siswa berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Proyek ini
tidak difokuskan pada pencapaian target kurikulum mata pelajaran tertentu,
tetapi lebih pada penguatan nilai-nilai moral, kemampuan berpikir kritis, serta
kesadaran sosial dan lingkungan. Dengan fleksibilitas yang ditawarkan, proyek
ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengeksplorasi tema-tema
tertentu yang ditetapkan pemerintah sesuai kebutuhan kontekstual, sehingga
memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
2.2 Dasar Hukum Pengembangan Kurikulum Merdeka
Dasar Hukum pelaksanaan kurikulum merdeka adalah (Nasution et al.,
2023) : Permendikbudristek No. 5 Tahun 2022 yakni Standar Kompetensi
Lulusan pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan
Pendidikan Menengah. Standar kompetensi lulusan merupakan kriteria
minimal tentang kesatuan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang
menunjukkan capaian kemampuan peserta didik dari hasil pembelajarannya
pada akhir jenjang pendidikan. SKL menjadi acuan untuk Kurikulum 2013,
Kurikulum darurat dan Kurikulum Merdeka (Ariga, 2023).
Permendikbudristek No. 7 Tahun 2022 yakni Standar Isi pada
Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Pendidikan
Menengah. Standar isi dikembangkan melalui perumusan ruang lingkup materi
yang sesuai dengan kompetensi lulusan. Ruang lingkup materi merupakan
bahan kajian dalam muatan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan: 1)
muatan wajib sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; 2)
konsep keilmuan; dan 3) jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Standar isi
menjadi acuan untuk Kurikulum 2013, Kurikulum darurat dan Kurikulum
Merdeka (Nasution et al., 2023).
Permendikbudristek No. 262/M/2022 yakni Perubahan Atas Keputusan
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022
Tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan
Pembelajaran. Memuat struktur Kurikulum Merdeka, aturan terkait
pembelajaran dan asesmen, Projek Penguatan Profil Pelajar Peancasila, serta
beban kerja guru. Keputusan Kepala BSKAP No.008/H/KR/2022 Tahun 2022
yakni Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang
Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, pada Kurikulum Merdeka.
Memuat Capaian Pembelajaran untuk semua jenjang dan mata pelajaran dalam
struktur Kurikulum Merdeka. Keputusan Kepala BSKAP No.009/H/KR/2022
Tahun 2022 yakni Dimensi, Elemen, dan Sub Elemen Profil Pelajar Pancasila
pada Kurikulum Merdeka. Memuat penjelasan dan tahap-tahap perkembangan
profil pelajar Pancasila yang dapat digunakan terutama untuk projek penguatan
pelajar Pancasila. Dan juga mengacu pada dasar hukum Surat Edaran No.
0574/H.H3/SK.02.01/2023 yakni Menindak anjuti Keputusan Menteri
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor
262/M/2022 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 Tentang Pedoman
Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran (Hawali et al.,
2024).
2.3 Implementasi Program P5 Pada Kurikulum Merdeka
Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) merupakan langkah
strategis yang dirancang untuk membentuk karakter generasi muda Indonesia
yang bermartabat, tangguh, dan berintegritas. Program ini tidak hanya menjadi
bagian dari inovasi pendidikan nasional tetapi juga berfungsi sebagai upaya
nyata dalam mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-
hari siswa. Konsep P5 memiliki keselarasan dengan teori perkembangan moral
yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg, yang menyoroti pentingnya
pembelajaran melalui pengalaman langsung, pengambilan keputusan moral,
dan refleksi yang mendalam. Menurut Kohlberg, proses pengembangan moral
melibatkan tahapan-tahapan yang dapat dicapai melalui interaksi aktif dengan
tantangan nyata di lingkungan sekitar.
Melalui implementasi P5, sekolah memiliki tanggung jawab untuk
mengembangkan enam dimensi utama yang menjadi fondasi profil pelajar
Indonesia. Dimensi-dimensi tersebut meliputi: beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, sebagai landasan spiritual yang kuat; berkebinekaan
global, untuk mempersiapkan siswa menjadi warga dunia yang menghargai
keberagaman; gotong royong, sebagai wujud dari solidaritas sosial yang
kokoh; mandiri, yang mencerminkan kemandirian berpikir dan bertindak;
kreatif, untuk mendorong inovasi dan daya cipta; serta bernalar kritis, sebagai
kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mengambil keputusan
yang bijaksana berdasarkan fakta. Semua ini ditujukan untuk membangun
individu yang juga memiliki nilai-nilai kebangsaan, dengan komitmen kuat
terhadap persatuan dan keadilan sosial.
Hasil penelitian (Banks et al., 2008) mengenai pendidikan multikultural
memberikan dukungan teoritis terhadap pendekatan yang diadopsi dalam P5.
Banks menegaskan bahwa pembentukan karakter yang efektif membutuhkan
pendekatan holistik yang tidak hanya terfokus pada materi akademik tetapi
juga mencakup pengalaman emosional, sosial, dan budaya. Dengan pendekatan
lintas disiplin ini, pendidikan dapat melampaui batasan kurikulum tradisional
untuk menciptakan lingkungan belajar yang benar-benar transformatif. P5
memberikan ruang bagi siswa untuk terlibat dalam proyek-proyek kontekstual
yang tidak hanya menanamkan nilai-nilai Pancasila tetapi juga mendorong
mereka untuk berkontribusi pada masyarakat dan lingkungan. Dengan begitu,
P5 tidak hanya menjadi strategi pendidikan tetapi juga sebuah gerakan nasional
untuk menciptakan generasi pelajar yang berkarakter dan berdaya saing global.
Ariga, S. (2023). Implementasi Kurikulum Merdeka Pasca Pandemi Covid-19. Edu
Society: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sosial Dan Pengabdian Kepada Masyarakat,
2(2), 662–670. [Link]
Banks, J. A., A, C., & A, M. B. (2008). Multicultural Education: Issues and
Perspectives. In Sustainability (Switzerland) (Vol. 11, Issue 1).
[Link]
[Link]?sequence=12&isAllowed=y%0A[Link]
[Link].2008.06.005%0A[Link]
305320484_SISTEM_PEMBETUNGAN_TERPUSAT_STRATEGI_MELESTA
RI
Freire, P. (2000). Pedagogy of the oppressed. In The Community Performance Reader.
[Link]
Hawali, R., Udju, A. H., Lopo, R. J. K., & Fomeni, F. I. (2024). Workshop Kurikulum
Merdeka Pada Satuan Paud Di Kota Dan Kabupaten Kupang. Jurnal Altifani
Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 122–128.
[Link]
Merdeka, P. K., Rahmadayanti, D., & Hartoyo, A. (2022). Jurnal basicedu. 6(4), 7174–
7187.
Nasution, A. F., Ningsih, S., Silva, M. F., Suharti, L., & Harahap, J. P. (2023). Konsep
Dan Implementasi Kurikulum Merdeka. COMPETITIVE: Journal of Education,
2(3), 201–211. [Link]
Retnoasih, A., & Purwanto, P. (2024). Peran Filsafat Ilmu Dalam Pengembangan
Kurikulum Merdeka di Indonesia. Jurnal Motivasi Pendidikan Dan Bahasa, 2(1),
150–166.
Tyler, R. W. (1949). Basic Principles of Curriculum and Instruction (T. Ralph W (ed.);
1st ed.). University of Chicago Press. [Link]
id=5NgP8GCD2s0C&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false