6
BAB II
LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN
A. Profil Pelajar Pancasila
Profil pelajar pancasila dirancang sesuai dengan tujuan pemerintah yaitu
menciptakan peserta didik yang memiliki kompetensi hasil dari bentuk pendidikan yang
ada di indonesia. Didalam penjelasan tersebut, profil pembelajaran pancasila memiliki
sekumpulan kompetensi yang sepenuhnya mencakup pada setiap kelas individu
mengenai pengembangan karakter yang sejalan dengan Nilai-nilai pancasila.
Kompetensi masing-masing jalur pancasila mengenal faktor internal yang erat
kaitanya dengan sebuah ideologi, kutipan dari pemimpin Indonesia, dan sejarah negara,
serta faktor eksternal yang berhubungan dengan sebuah konteks sosial negara dan
revolusi industri saat ini di Abad-21. 4.0.
Diharapkan pelajar Indonesia memiliki keterampilan yang diperlukan untuk
memimpin negaranya sebagai panglima perang demokrasi di tahun ke-21. Oleh karena
itu, pelajar Indonesia diharapkan dapat berpartisipasi dalam ekonomi global yang kuat
dan siap menghadapi berbagai tantangan.
Melalui budaya yang diterapkan disatuan pendidikan, pembelajaran intrakurikuler,
proyek penguatan profil Pancasila peserta didik, dan kegiatan ekstrakurikuler, profil
peserta didik Pancasila merupakan karakter dan kemampuan yang dibangun dalam
kehidupan sehari-hari dan dihayati oleh setiap individu peserta didik..
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah sebuah pembelajaran lintas
disiplin antar ilmu dalam merumuska sebuah solusi terhadap suatu permasalahan yang
terjadi di lingkungan sekitar dalam upaya penguatan berbagai aspek yang ada dalam
profil pelajar Pancasila. Pembelajaran berbasis projek digunakan dalam projek
Pancasila untuk pembelajaran berbasis proyek, dan berbeda dengan program
intrakurikuler untuk pembelajaran di kelas. Proyek pengembangan profil Pancasila
menawarkan peluang lingkungan belajar nonformal, struktur pembelajaran yang
fleksibel, kegiatan pembelajaran yang lebih interaktif, dan komunikasi berkelanjutan
dengan lingkungan sekitar untuk menilai berbagai keterampilan.
7
Berdasarkan Kemendikbudristek No.56/M/2022 dalam panduan pengembangan
projek penguatan profil pelajar Pancasila hal 5, “Projek penguatan profil pelajar
pancasila adalah inisiatif berbasis kurikulum yang dibangun pada sebuah projek yang
dirancang untuk diselesaikan dalam rangka memenuhi kriteria profil peserta didik
pancasila yang dinyatakan gugur berdasarkan tingkat keterampilan minimum yang
dapat diterima Pengerjaan projek pembuatan profil peserta didik Pancasila dilakukan
dengan cara yang dipengaruhi oleh kalender akademik, struktur organisasi, dan batasan
waktu. Tidak perlu menghubungkan tujuan, sasaran, dan strategi manajemen projek
dengan tujuan internal kurikulum dan bahan baku. dalam memajukan dan
menyelesaikan projek profil peserta didik pancasila, dapat meminta bantuan rakyat
dan/atau dunia kerja. “Menurut buku pendoman pengembangan projek penguatan profil
pelajar Pancasila terdapat prinsip dan manfaat dalam penerapan profil pelajar Pancasila,
berikut prinsip-prinsip dan manfaatnya yaitu:
1. Prinsip-Prinsip Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Menurut pendapat Suhardi (dalam Andriani:2022) Prinsip-Prinsip Projek Penguatan
Profil Pelajar Pancasila adalah sebagai berikut:
a. Holistik
Holistik adalah praktik segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan secara terbuka,
jujur, dan tidak menghakimi. Di P5, ini berarti terlibat dalam diskusi mendalam tentang
topik tertentu sambil terbuka dan menyadari semua hubungan yang dibuat antara
berbagai faktor yang memengaruhi bagaimana sesuatu dipahami secara keseluruhan.
Setiap topik projek yang diluncurkan harus dapat terhubung dengan pemahaman konsep
secara jelas dan ringkas.
b. Kontekstual
Prinsip ini terkait dengan upaya sejumput dalam program pendidikan pengalaman
nyata sehari-hari. Sesuai dengan prinsip-prinsip yang diuraikan di sini, yang mendorong
guru dan peserta didik untuk menggunakan kehidupan sehari-hari sebagai dasar
pembelajaran, projek yang melibatkan satu guru harus dapat menyediakan ruang dan
waktu bagi guru dan peserta didik untuk mengeksplorasi berbagai topik di luar kelas.
Tema projek harus mampu mengakomodir banyaknya kejadian yang terjadi di setiap
daerah secara berurutan. Pembelajaran P5 diharapkan dapat membantu mahapeserta
8
didik dalam memperoleh mata kuliah yang sesuai dengan sumber nyata yang tersedia
di lingkungannya, sehingga meningkatkan pemahaman dan kapasitas mahapeserta didik
untuk belajar.
c. Berpusat Pada Peserta Didik
Peserta Didik Menjadi Pusat Pada Proses Pembelajaran Sehingga Mendorong
Pembelajaran Yang Aktif, Dapatkanya Dengan Peran Sebagai Subjek yang Mengelola
Proses Pembelajaran Secara Mandiri. Dalam pendidikan P5, instruktur tidak lagi
menjadi guru utama; sebaliknya, instruktur harus berfungsi sebagai fasilitator untuk
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi berbagai topik
dengan diri mereka sendiri. Pembelajaran berbasi projek diharapkan dapat
meningkatkan kapasitas pembelajar dan meningkatkan kepercayaan diri pembelajar
untuk mengatasi permasalahan yang muncul.
d. Eksploratif
Pembelajaran P5 tidak didasarkan pada struktur organisasi internal yang sesuai
dengan berbagai standar resmi untuk kursus akademik. Projek Pembelajaran memiliki
ruang lingkup yang luas untuk eksplorasi dalam hal alokasi waktu, keselarasan dengan
tujuan projek, dan konten pendidikan. Pendidikan tetap mampu membuat program
projek secara sistematis dan terstruktur dalam pelaksanaan dan perencanaannya untuk
memudahkan pelaksanaan pembelajarannya. Prinsip ini diharapkan mampu untuk
meningkatkan berbagai kemampuan yang telah dimiliki oleh peserta didik dalam
pembelajaran intrakurikuler.
Menurut Istianah dkk (2021), (dalam Samsul, 2021) berpendapat bahwa dalam
rangka menciptakan peserta didik yang berkarakter Pancasila yang berhasil
menyelesaikan program akademik, sistem pendidikan Pancasila telah melaksanakan
sejumlah projek terkait nilai-nilai karakter. Projek-projek tersebut meliputi
pembudayaan dan penyesuaian yang berkaitan dengan projek-projek yang berkaitan
dengan nilai-nilai karakter tersebut, dengan harapan dapat mengembangkan peserta
didik yang memiliki standar etika dan moral yang sejalan dengan ideologi Pancasila.
2. Manfaat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Projek penguatan profil pelajar pancasila memberikan fasilitas agar semua satuan
pendidikan dapat melaksanakan pembelajaran berbasih profil pelajar pancasila.
9
a. Manfaat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Untuk Satuan Pendidikan
1) Menjadikan sekolah menjadi hal yang terbuka untuk masyarakat.
b. Menjadikan sekolah yang ramah terhadap lingkungan masyarakat.
c. Manfaat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Untuk Pendidik
1) Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kompetensi yang
dimilikinnya.
2) Merenakan tujuan akhir pembelajaran dengan rancangan projek yang jelas.
3) Mengembangkan kompetensi sebagai guru agar dapat bekerja sama dengan pendidik
dari mata pelajaran lain.
d. Manfaat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Untuk Peserta didik
1) Menanamkan karakter agar dapat mengembangkan kompetensi pancasila
2) Bergabung dalam merencanakan pembelajaran yang aktif, kreatif serta berkelanjutan.
3) Mampu mengembangkan keterampilan, sikap serta pengetahuan yang dibutuhkan oleh
peserta didik untuk mengerjakan asesmen projek pada waktu tertentu.
4) Melatih peserta didik untuk mampu memecahkan masalah dalam kegiatan
pembelajaran.
5) Menciptakan rasa tanggung jawab dan kepedulian peserta didik terhadap isu-isu di
sekitar mereka dalam bentuk hasil belajar.
6) Melatih peserta didik agar terus menghargai proses pembelajaran yang telah dilakukan
dan merasa bangga dengan hasil capaian dari kemampuan dirinya.
Profil pelajar pancasila merupakan alat yang digunakan untuk pendidikan
nasional adalah profil peserta didik pancasila. Acuan bagi instruktur dalam
mengembangkan karakter dan keterampilan peserta didik yang profesional. Profil
pendidikan Pancasila memiliki rekam jejak yang terbukti sebagai acuan utama yang
mendukung semua praktik pendidikan. Karena pentingnya materi pelajaran, setiap
mangku harus memahami profil ajaran Pancasila. Agar profil ini dapat digunakan dalam
tugas sehari-hari, harus lugas dan mudah dimengerti oleh guru maupun peserta didik.
Menurut informasi tersebut, profil Pancasila sebagai seorang pelajar terdiri dari delapan
10
ciri sebagai berikut: 1) beriman; 2) Berkebhinekaan Global; 3) bergotong royong; 4)
Mandiri; 5) bernalar kritis; dan 6) kreatif.
Untuk memastikan bahwa setiap orang dapat menjadi peserta didik yang
kompeten, menarik, dan berprestasi sesuai dengan standar Pancasila, penting untuk
membahas detail profil Pancasila setiap peserta didik secara terbuka dan jujur. Sejak
masa pendidikan anak jaman dulu, guru harus mengembangkan keenam mata pelajaran
secara utuh. Selain itu, setiap dimensi profil ajaran pancasila dijelaskan secara rinci dan
dijabarkan perkembangannya sesuai dengan pedoman perkembangan anak usia dini dan
dewasa pada anak usia sekolah. Selain itu, setiap aspek profil pembelajaran Pancasila
tersusun atas sejumlah unsur, yang sebagian besar dari unsur-unsur tersebut
digambarkan sebagai sub unsur. Dimensi elemen dan subelemen profl pelajar Pancasila
sebagai berikut :
1. Dimensi Beriman, Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia
Pelajar Indonesia yang tulus, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Tuhan
YME, dan menunjukan sikap terpuji dalam perilakunya adalah peserta didik yang
menunjukkan perilaku mulia dalam interaksinya dengan Tuhan YME. Ia memahami
kebenaran dan dasar untuk itu, dan dia menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari. Ada
lima unsur dalam orang beriman, yaitu: (1) Akhlak Beragama, (2) Akhlak Pribadi, (3)
Akhlak Kepada Manusia, (4) Akhlak Kepada Alam, dan (5) Akhlak Bernegara.
2. Dimensi Berkebhinekaan Global
Dimensi Berkebhinekaan Global diharapkan dapat memperkuat keunikan budaya dan
identitas masing-masing bangsa dengan tetap berhati-hati dalam berinteraksi dengan
budaya bangsa lain. Pelajar Indonesia harus mampu mengungkapkan kehati-hatian ini
agar dapat muncul budaya-budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan
budaya bangsa lain. Dimensi kewarganegaraan global meliputi cara berdiskusi dan
menilai agama, kapasitas komunikasi lintas budaya dalam interaksi antarpribadi, dan
tetap berpikiran terbuka dalam hubungan antar pribadi.
3. Dimensi Bergotong Royong
Peserta didik indonesia harus memiliki keterampilan “royong”, atau kemampuan
melaksanakan tugas secara kooperatif agar dapat diselesaikan dengan cepat, mudah, dan
11
benar. Unsur-unsur yang termasuk dalam dimensi bergotong royong adalah peserta
harus mampu bekerjasama, saling pengertian, dan berbagai bentuk kesepakatan.
4. Dimensi Mandiri
Sikap Mandiri adalah hal yang harus diperhatikan oleh setiap pelajar Indonesia.
Artinya, setiap peserta didik Indonesia harus jujur tentang hasil belajarnya. Unsur-unsur
komponen Mandiri tersusun atas peraturan-peraturan tersendiri serta situasi dan kondisi
yang melingkupinya.
5. Dimensi Bernalar Kritis
Pelajar yang memiliki nalar kritis dapat secara objektif memproses informasi baik
kualitatif maupun kuantitif, dapat membangun keterkaitan antara berbagai informasi,
menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya.
6. Dimensi Kreatif
Dalam dimensi kreativitas, peserta didik harus mampu mengkonseptualisasikan
dan menghasilkan sesuatu yang unik, bermanfaat, berguna, dan pantang menyerah.
Komponen kunci dari proses kreatif adalah menghasilkan gagasan, karya, dan tindakan
inovatif, serta memiliki tim yang terdiri dari orang-orang yang selalu mencari solusi
lain untuk masalah.
Sesuai pedoman pengembangan P5 (Projek Profil Belajar Pancasila), tahapan P5
dimulai dengan: 1) Membentuk Tim Fasilitator Projek Penguatan Profil Belajar Pancasila;
2) Identifikasi Tingkat Kesiapan Satuan Pendidikan; 3) Merancang Dimensi, Tema, dan
Alokasi Waktu Projek Penguatan Profil Peserta didik Pancasila; 4) Mengembangkan
Modul Projek; dan 5) Merancang Strategi Pelaporan Hasil Projek. Berikut penjelasan dari
tiap tahapan P5 sebagai berikut :
1. Membentuk Tim Fasilitator Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi projek profil adalah tanggung jawab
sekelompok pendidik yang membuat tim fasilitator. Koordinator projek profil dan
kepala satuan pendidikan membentuk dan mengawasi tim fasilitator. Berikut
merupakan kondisi dan kebutuhan satuan pendidikan yang dapat menjadi diantaranya:
a) Peserta didik yang sesuai dengan jumlah di setiap satuan pendidikan.
12
b) Menentukan tema yang akan dipilih selama satu tahun pelajaran.
c) Proses mengajar yang belum terpenuhi dan dipindahkan ke pembelajaran berbasis
projek profil.
d) Faktor lain berdasarkan kebutuhan setiap satuan pendidikan
a. Langkah Pembentukan Tim Fasilitator Projek Profil
1) Bagian atas unit sekolah memutuskan fasilitator projek profil, yang dapat menjadi
delegasi atas unit pelatihan atau seorang guru yang memiliki pengalaman membuat dan
mengawasi projek.
2) Koordinator projek profil sekolah dapat menunjuk koordinator untuk setiap kelas jika
sumber daya manusia mencukupi. Misalnya satu fasilitator kelas 1, satu penyelenggara
kelas 2, dst. Spesialisasi dapat digunakan untuk memilih koordinator untuk pendidikan
khusus.
3) Kepala sekolah membuat pemetaan kepada pendidik dari setiap kelas dapat menjadi
sebuah tim fasilitator projek profil.
4) Koordinator mengumpulkan tim fasilitator untuk projek profil dan mengarahkan
mereka saat merencanakan dan membuat modul untuk setiap kelas atau fase.
b. Pembagian Peran dan Tanggung Jawab dalam Pengelolaan Projek Profil.
1) Satuan Pendidikan
a) Menetapkan sistem dokumentasi projek profil dan sistem perencanaan, evaluasi, dan
refleksi projek profil pada skala satuan pendidikan. Selain itu, sistem ini dapat dijadikan
portofolio bagi satuan pendidikan.
b) Menciptakan peluang kerjasama dengan para ahli untuk meningkatkan materi projek
untuk profil: komunitas, masyarakat, akademisi, dan praktisi. Merujuk kepada daftar
mata pencahariaan orang tua atau ahli narasumber di daerah sekitar satuan pendidikan,
calon orang tua dapat diidentifikasi sebagai narasumber oleh unit. Memahami tentang
Projek Penguatan Profil Peserta didik, Pancasila Pedoman Pengembangan Projek.
Penguatan Profil Peserta didik, dan Merancang Projek Penguatan Profil Peserta didik
Pancasila.
13
c) Presentasikan projek penguatan profil peserta didik Pancasila kepada mitra (narasumber
dan organisasi terkait), lingkungan satuan pendidikan, dan orang tua peserta didik.
d) Memastikan beban kerja tenaga pendidik tetap konsisten dengan arah ketersediaan
waktu projek profil yang telah diatur oleh pemerintah, bukan malah menurun. Mengenai
pendidikan kesetaraan, Program Pemberdayaan dan/atau Keterampilan menentukan
berapa banyak waktu yang dialokasikan untuk projek profil.
e) Libatkan guru bimbingan konseling atau seorang mentor untuk membantu peserta didik
menjalankan projek profil dengan mendukung mereka mengenai upaya akademik
mereka dan dalam memenuhi kebutuhan emosional mereka.
f) Menyediakan dana dan sumber daya yang dibutuhkan untuk mempertahankan projek
profil tetap berjalan.
2) Koordinator Projek Profil
a) Koordinator mungkin wakil kepala satuan pendidikan atau guru yang pernah bekerja
dengan projek profil sebelumnya.
b) Tingkatkan kemampuan kepemimpinan Anda dengan mengatur projek profil satuan
pendidikan.
c) Mengatur sistem yang diperlukan oleh tim pendidik atau fasilitator dan peserta didik
untuk menyelesaikan sebuah projek profil sesuai dengan tujuan yang sudah ditentukan.
d) Menjamin bahwa upaya bersama terjadi antara guru yang merupakan individu dari
kelompok fasilitator projek profil.
e) Untuk mendapatkan hasil maksimal dari prinsip eksploratif, pastikan alur projek profil
memiliki banyak aktivitas yang berbeda.
f) Memeriksa apakah desain penilaian yang dilakukan sesuai dengan kriteria keberhasilan
yang telah ditetapkan.
3) Fasilitator Projek Profil
a) Memperhatikan kebutuhan dan minat belajar masing-masing peserta didik agar dapat
memberikan berbagai stimulan atau tantangan (yang dibedakan) berdasarkan gaya
belajar, kreativitas, orisinalitas, dan minat pada tema projek profil
14
b) Dengan menyesuaikan tingkat keterlibatan berdasarkan kesiapan peserta didik,
memberikan sebuah kesempatan kepada peserta didik untuk merencanakan dan
membuat projek profil.
c) Menerapkan tema projek profil yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik,
memberikan sebuag ruang untuk peserta didik dalam upaya menyelidiki masalah
kontekstual atau topik pembelajaran.
d) Bekerja sama dengan semua orang yang terlibat dalam projek profil—orang tua, mitra,
lingkungan satuan pendidikan, dll. dalam mencapai tujuan pembelajaran setiap tema
projek profil.
e) Melakukan penilaian berdasarkan prinsip-prinsip penilaian yang ditetapkan pada saat
pemantauan perkembangan profil peserta didik Pancasila yang menjadi fokus sasaran.
f) Mendistribusikan bahan pelajaran yang dibutuhkan peserta didik secara proporsional.
Pada tahap pembelajaran, misalnya, peserta didik memerlukan bantuan dalam
menyediakan hal-hal berikut: 1) Buku, surat kabar, majalah, dan jurnal yang berkaitan
dengan projek profil; 2) Orang-orang yang dapat membantu meningkatkan proses
pelaksanaan projek profil.
g) Memerintahkan peserta didik dalam proses inkuiri dan membantu mereka menemukan
sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan, seperti buku, artikel, artikel surat kabar
dan majalah, praktisi atau pakar dalam bidang tertentu, dan sumber belajar lainnya.
h) Mempermudah akses prosedur dan bukti penelitian. Dengan cara: Menyiapkan surat
pengantar untuk dikirim ke sumber belajar; 2) mencari kontak dan menghubungi
narasumber;
i) Terbuka untuk memberi dan menerima umpan balik selama pelaksanaan projek profil.
j) Membantu peserta didik dalam perencanaan dan pelaksanaan setiap tahapan kegiatan
untuk projek profil yang menjadi ruang lingkup pembelajaran peserta didik.
k) Izinkan peserta didik untuk berdebat, membuat keputusan, dan mempresentasikan
projek profil mereka di lingkungan yang aman.
l) Menyeimbangkan beban kerja projek intrakurikuler dan profil di kelas.
2. Mengidentifikasi Tingkat Kesiapan Satuan Pendidikan
15
Identifikasi kompetensi utama satu-satunya pendidik dalam memimpin
pembelajaran berbasis projek didasarkan pada kemampuan pendidik utama. Pancasila
adalah subjek projek. Pembelajaran berbasis projek adalah metode kelas yang dinamis
untuk mendapatkan pengetahuan bersama dengan menyelidiki masalah dan tantangan
dunia nyata. Edutopia) Pembelajaran berbasis projek melibatkan lebih dari sekedar
menciptakan produk atau karya itu juga mencakup serangkaian kegiatan yang semuanya
didasarkan pada masalah kontekstual. Akibatnya, banyak kegiatan dalam pembelajaran
berbasis projek tidak dapat diselesaikan dalam waktu yang [Link] tahapan
dalam mengidentifikasi kesiapan tingkat pendidik adalah sebagai berikut :
Tahap Awal Tahap Berkembang Tahap Lanjutan
a) Saat ini belum ada a) Pembelajaran a) Pembelajaran yang
sistem persiapan berbasis projek sudah mengimplementasikan
dan pelaksanaan didukung oleh sistem Projek dalam setiap
pembelajaran di satuan pendidikan. kegiatan pembelajaran
berbasis projek di sudah dilakukan oleh
b) Beberapa pendidik
satuan pendidikan. setiap satuan Pendidikan,
akrab dengan gagasan
b) Hanya pendidik pembelajaran b) Konsep keterbaruan
yang mengetahui berbasis projek. dalam pembelajaran
konsep berbasid sebuah projek
c) Dalam salah satu
pembelajaran sudah dipahami oleh
kegiatan projek,
berbasis projek. pendidik.
satuan pendidikan
c) Projek dikelola mulai melibatkan c) Satuan pendidikan
secara internal oleh pihak di luar satuan telah bersinergi dan
satuan Pendidikan pendidikan. kerjasama dengan mitra
tidak ada pihak luar di luar satuan pendidikan
yang terlibat. sehingga dampak projek
dapat diperluas secara
berkelanjutan.
Tabel 2.1. Tahapan kesiapan tingkat pendidik
Sumber Buku Panduan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila 2022:27
16
3. Merancang Dimensi, Tema, dan Alokasi Waktu Projek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila
a. Dimensi Profil Pelajar Pancasila
1) Dimensi profil pelajar pancasila menjadi salah satu fokus dalam pembinaan selama satu
tahun pembelajaran yang akan ditentukan oleh tim fasilitator dan kepala sekolah dalam
satuan pendidikan.
2) Pemilihan mengenai dimensi dapat mengacu pada sebuah visi dan misi setiap satuan
pendidikan atau rencana untuk setiap tahun ajaran baru.
3) Untuk fokus pada penargetan profil projek dalam satu tahun akademik, disarankan
untuk memilih dua hingga tiga dimensi yang paling relevan.
4) Untuk memastikan bahwa tujuan penjualan projek profil jelas dan terdefinisi dengan
baik, dimensi tambahan profil peserta didik pancasila minimal.
5) Mengembangkan modul profile project, memilih sebuah elemen dan sub elemen yang
selaras dengan situasi kondisi dan kebutuhan setiap peserta didik dan akan mengikuti
pengukuruan yang sesuai dengan target ketercapaian.
6) Pemilihan dimensi dapat disesuaikan berdasarkan kesiapan dari tiap satuan pendidikan,
dan dipimpin oleh pimpinan dalam satuan pendidikan yang memiliki pengalaman dalam
kegiatan berbasis projek.
b. Tema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Tema-tema yang dapat dijadikan pilihan oleh satuan pendidikan SD/MI, Sederajat
adalah sebagai berikut :
1) Gaya Hidup Berkelanjutan
Peserta didik dapat memahami sebuah dampak kegiatan manusia sebagai sarana
untuk mempertahankan hidup mereka—baik dalam jangka pendek maupun jangka
panjang. Selain itu untuk menumbuhkan kesadaran di kalangan peserta didik untuk
bertindak ramah lingkungan.
2) Kearifan Lokal
Menggali budaya dan kearifan lokal masyarakat atau daerah untuk mengembangkan
rasa ingin tahu dan keterampilan inkuiri peserta didik..
17
3) Bhineka Tunggal Ika
Peserta didik memahami dan mengimplementasikan budaya harmoni dan
kedamaian, belajar bagaimana membangun pertukaran hormat tentang variasi dan
keuntungan dari pelajaran yang mereka ikuti. Selain itu, peserta didik dapat berpikir
kritis dan reflektif dalam mengkaji berbagai strategi penyelesaian dalam dampaknya
komplik dan kekerasan. Serta tidak adanya saling toleransi dengan berbagai agama dan
kepercayaannya.
4) Bangunlah Jiwa dan Raganya
Peserta didik memperoleh pengetahuan dan kemampuan untuk mempertahankan
kesehatan fisik dan mental untuk diri mereka sendiri dan orang lain. Penindasan dan
masalah terkait kesejahteraan lainnya diteliti, didiskusikan, dan diselesaikan oleh
peserta didik. Selain itu, mereka menyelidiki masalah yang berkaitan dengan
kesenjangan fisik dan mental seseorang, seperti pornografi, penyalahgunaan narkoba,
dan kesehatan reproduksi..
5) Rekayasa dan Teknologi
Dalam rangka merancang produk teknologi yang memudahkan peserta didik dan
orang di sekitarnya untuk melakukan aktivitasnya sendiri, peserta didik
mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Dengan menemukan
dan memanfaatkan teknologi untuk memecahkan masalah di masyarakat, peserta didik
dapat menumbuhkan budaya masyarakat cerdas dengan menggabungkan aspek sosial
dan teknologi.
6) Kewirausahaan
peserta didik menentukan hubungan antara potensi ekonomi lokal dengan aspek
lingkungan, sosial, dan kesejahteraan masyarakat, serta tantangan yang terkait dengan
pengembangannya. Budaya kreativitas dan kewirausahaan akan dikembangkan melalui
kegiatan ini. Selain itu, peserta didik mendapatkan wawasan tentang peluang potensial
di masa depan, mengembangkan empati terhadap kebutuhan masyarakat, menjadi
pemecah masalah yang mahir, dan siap memasuki dunia kerja profesional dengan
integritas.
18
4. Menyusun Modul Projek
Modul yang berisi tujuan projek, bahasa, sumber pengajaran, dan penilaian adalah
modul projek penguatan profil peserta didik Pancasila. Modul profil projek yang
disediakan dapat dibuat, dipilih, dan dimodifikasi oleh pendidik sesuai dengan konteks,
karakteristik, dan kebutuhan peserta didik. Inspirasi peserta didik bisa datang dari
contoh kode pemerintah untuk projek profil penguatan Pancasila peserta didik.
Modifikasi dan/atau pemanfaatan profil projek modul yang sudah dibuatkan oleh
pemerintah dapat dilakukan dengan menyesuaikan karakteristik setiapdaerah, satuan
pendidik, dan peserta didik. Satuan pendidikan dan pendidik juga dapat
mengembangkan profil projek modul berdasarkan kebutuhan belajar peserta didik.
Maka dari itu, seorang pendidik yang menerapkan profil modul projek yang sudah
disediakan oileh pemerintah tidak perlu memperbaruinya terus-menerus.. Menurut
pendoman pengembangan projek profil pelajar Pancasila komponen modul projek
penguatan profil pelajar Pancasila antara lain sebagai berikut
a. Komponen Modul Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Komponen-komponen dalam modul projek profil diperlukan untuk pelaksanaan
pembelajaran yang lengkap dan menjadi dasar untuk proses persiapan. Komponen dasar
dari modul projek profil adalah sebagai berikut:
Profil Modul a) Tema dan topik atau judul modul
b) Fase atau jenjang sasaran
c) Durasi kegiatan
Tujuan a) Tujuan Projek Profil Peserta didik
Pancasila meliputi pemetaan
dimensi, elemen, dan sub elemen
dari Profil Peserta didik Pancasila.
b) Rubrik pencapaian mencakup
rumusan kompetensi berdasarkan
fase peserta didik (untuk Pendidikan
Dasar dan Menengah).
Aktivitas a) Alur aktivitas projek profil secara
umum
b) Penjelasan detail tahapan kegiatan
dan asesmennya
19
Asesmen Instrumen pengolahan hasil
asesmen untuk menyimpulkan
pencapaian projek profil
Tabel 2.2. Komponen Modul
Sumber Buku Panduan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila 2022:43
Dengan memilih pengembangan modul profile project berdasarkan tingkat kesiapan
(sesuai dengan kondisi dan kebutuhan), maka dapat ditentukan tahapan pengembangan
modul profile project sebagai berikut:
Tahap Awal Tahap Berkembang Tahap Lanjutan
Menggunakan modul Memanfaatkan modul Mengembangkan
projek profil yang ada: projek profil saat ini: modul projek profil
Menyesuaikan modul menyesuaikan secara mandiri: Dari
dengan kondisi sejumlah komponen memilih sebuah tema
sekolah. modul, termasuk dan tujuan kemudian
topik, tujuan, membuat kegiatan dan
kegiatan, dan penilaian secara
penilaiannya, untuk mandiri,
lebih memenuhi mengembangkan
kondisi dan modul projek profil.
persyaratan peserta
didik.
Tabel 2.3. Tahapan Pengembangan Modul
Sumber Buku Panduan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila 2022:44
b. Langkah Persiapan Modul Projek Profil
1) Mengadaptasi/Memodifikasi Modul
Identifikasi Modifikasi Selaraskan
a) Memilih modul yang a) Mengidentifikasi a) Periksa ulang apakah
sudah dipersiapkan bagian-bagian isi tujuan, kegiatan, dan
untuk tahap modul yang perlu penilaian modul sudah
perkembangan peserta dimodifikasi untuk sesuai.
didik; memenuhi kondisi dan
b) Pastikan ada
kebutuhan sekolah
b) Mempelajari dan keterkaitan antara
atau peserta didik.
mendiskusikan modul sebuah topik atau
Modifikasi dapat
yang dipilih dengan berkenaan dengan isu
dibuat untuk topik,
tim yang akan yang dibahas, sub-
elemen (profil tujuan
20
memfasilitasi projek tujuan, kegiatan, dan projek), dan kondisi
profil penilaian. dan kebutuhan setiap
satuan pendidikan dan
c) Menentukan apakah b) Membuat rencana
peserta didik.
modul projek profil untuk modifikasi.
kompatibel dengan
lingkungan sekolah.
Tabel 2.4. Modifikasi Modul
Sumber Buku Panduan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila 2022:50
2) Merancang modul secara mandiri
Dalam membuat modul secara mandiri guru sebelumnya merancang terlebih dahulu
tujuan dan asesmen dalam pembelajaran setelah itu guru harus mengembangkan
aktivitas dari modul tersebut, Langkah terakhir guru garus melengkapi isi modul dan
menyamakan dengan materi pembelajaran. Berikut cara merancang modul yaitu :
a) Menentukan sub elemen yang akan berfungsi sebagai tujuan profil projek.
b) Menyusun rubik penilaian yang sesuai dengan rumusan kompetensi dan sesuai fase
peserta didik.
c) Menyusun rancangan sesuai dengan indikator dan strategi asesmen.
d) Mengembangkan alur kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk mencapai
tujuan projek profil.
e) Mendetailkan sebuah penjelasan mengenai tahapan alur aktivitas dan kegiatan
evaluasi yang perlu dilakukan.
f) Melengkapi seluruh komponen lain yang serasa diperlukan.
g) Menyamakan isu tema, sub tema, dengan tujuan projek yang sesuai dengan
kebutuhan peserta didik.
5. Merancang Strategi Pelaporan Hasil Projek
Menurut Wiggins, G. McTighe,J. Dalam Buku Panduan Pengembangan Projek
Penguatan Profil Pelajar Pancasila [Link], “metode pembuatan
21
kegiatan pembelajaran yang membantu guru memikirkan kembali ide dari pembuatan
tujuan, pembuatan tes, dan pembuatan kegiatan.” Projek profil bertujuan untuk
meningkatkan pencapaian kompetensi profil peserta didik Pancasila. Strategi desain
mundur dapat dikembangkan oleh pendidik untuk memastikan bahwa tujuan tetap
dirujuk selama eksplorasi atau pengembangan kegiatan projek profil..
Sesuai dengan pendapat wiggins dapat disimpulkan bahwa Projek profil bertujuan
untuk membantu peserta didik mencapai kompetensi profil peserta didik Pancasila,
membantu pendidik dalam menarik kembali ide dari penetapan tujuan ke desain
penilaian dan pembuatan aktivitas. Dan sesuai dengan strategi backward design
pendidik dapat memastikan eksplorasi atau pertumbuhan kegiatan profil projek tetap
sejalan dengan tujuan.
B. Pengembangkan Topik, Alur Aktivitas, dan Asesmen Projek Penguatan Profil
Pelajar Pancasila
1. Pengembangan Topik Projek Profil
Profil projek pancasila guru mempunyai tugas dalam memuat topik yang selaras
dengan tema dan tujuan proyek serta sebuah kondisi dan kebutuhan instruktur,
instruktur satu-satunya, atau lingkungan sekitar. Menurut buku panduan pengembangan
projek penguatan profil pelajar Pancasila cara untuk pengembangan topik spesifik untuk
setiap fase di sekolah dasar diantaranya sebagai berikut :
Tema : Gaya Hidup Berkelanjutan
SD/SDLB/MI dan Fase A Membuat jadwal dalam mengelola
Sederajat kebersihan lingkungan sekolah
atau dirumah. Contohnya
membuat jadwal piket.
Fase B Hasil Ikhtisar infografis tentang
kecenderungan menata dan menata
sampah dirumah dan dalam satuan
pelajaran serta pengaruhnya,
22
digabung dengan sususan yang
diusulkan.
Fase C Kampanye sederhana untuk
mengatasi masalah lingkungan,
seperti pencegahan banjir atau
pencegahan kebakaran hutan.
Tema : Kearifan Lokal
SD/SDLB/MI dan Fase A Pertimbangkan sebuah sistem
Sederajat sederhana untuk membangun dan
memanfaatkan sampah yang ada
di lingkungan sekitar dan fasilitas
pendidikan, seperti piket dan
waktu yang ditentukan untuk
unjuk rasa.
Fase B Hasil ikhtisar infografis tentang
kecenderungan menata dan menata
sampah di rumah dan dalam
satuan pelajaran serta
pengaruhnya, digabung dengan
susunan yang diusulkan.
Fase C Kampanye sederhana untuk
mengatasi masalah lingkungan,
seperti pencegahan banjir atau
pencegahan kebakaran hutan.
Tema : Bangunlah Jiwa dan Raganya
SD/SDLB/MI dan Fase A Dengan menggunakan jurnal
Sederajat bergambar, catat emosi dan tingkat
kesehatan harian, lalu mulailah
23
kebiasaan sehat berdasarkan
refleksi di jurnal.
Fase B Peserta didik berperan sebagai
pemilik restoran yang
mengerjakan menu untuk "restoran
sehat" miliknya. Setelah
bereksperimen dengan berbagai
olahan sayur dan buah, peserta
didik membuat menu. Projek
profil ditutup dengan pesta makan
malam di sebuah restoran yang
menyajikan sayuran dan buah-
buahan olahan sesuai keinginan
siswa.
Fase C Investigasi intimidasi dan
pengaruhnya terhadap kesehatan
mental. Buat aturan untuk kelas
untuk mencegah intimidasi dan
mendorong interaksi yang saling
menghormati di antara peserta
didik.
Tema : Suara Demokrasi
SD/SDLB/MI dan Fase A Dalam tema ini, sekolah dasar
sederajat lebih menerapkan ekosistem
Fase B satuan pendidikan daripada projek,
memberikan ruang seluas-luasnya
Fase C kepada anak-anak untuk
menyuarakan pendapat dan
menggunakan hak pilihnya.
24
Tema : Bhineka Tunggal Ika
SD/SDLB/MI/ dan Fase A kumpulan puisi dan doa tentang
sederajat bersyukur.
Fase B Menciptakan sebuah kumpulan
cerita pendek dengan pesan
mengenai keberagaman individu
dalam meningkatkan hubungan
sosial dalam masyarakat dan
memperkenalkan perbedaan
didalam kehidupan sehari-hari di
daerah sekolah.
Fase C Merancang sebuah produk tata
kota yang dilengkapi oleh ruang
public yang terdapat sarana
prasarana yang dapat memenuhi
kebutuhan masyarakatnya.
Tema : Bangunlah Jiwa dan Raganya
SD/SDLB/MI/ dan Fase A Membuat catatan tentang
sederajat keadaan perasaan dan
kesehatan harian melalui jurnal
yang bergambar, melakukan
kebiasaan baik secara konsisten
berdasarkan refleksi dari jurnal
tersebut.
Fase B Merancang kegiatan cooking class
dimana dapat mengajarkan peserta
didik untuk bereksperimen
bagaimana mengelola sayur dan
buah, sehingga bisa menjadi
sebuah menu makanan.
25
Selanjutnya peserta didik dapat
menikmati hasil makanan yang
telah dibuatnya.
Fase C Mengamati kegiatan yang
mengintimidasi dan menganalisis
bagaimana pengaruhnya terhadap
Kesehatan mental. Dan membuat
aturan mengenai pencegahan
kegiatan yang mengintimidasi dan
mendorong kegiatan positif yang
saling menghormati di antara
peserta didi.
Tema : Suara Demokrasi
SD/SDLB/MI/ dan Fase A Didalam tema ini, SD lebih
sederajat menerapkan ekosistem satuan
pendidikan daripada projek,
Fase B memberikan ruang seluas-luasnya
kepada anak-anak untuk
menyuarakan pendapat dan
Fase C
menggunakan hak pilihnya.
Tema : Rekayasa dan Teknologi
SD/SDLB/MI/ dan Fase A Membuat berbagai jenis mainan
sederajat yang menerapkan prinsip-prinsip
fisika.
Fase B Membuat sebuah model dan maket
gedung yang mengaplikasikan
26
prinsip hemat energi dan ramah
lingkungan.
Fase C Menciptakan sebuah alur
upcycling barang bekas menjadi
berbagai jenis benda fungsional
sebagai solusi penanganan sampah
anorganik.
Tema : Kewirausahaan
SD/SDLB/MI/ dan Fase A Membuat sebuah market day yang
sederajat terdapat aktivitas jual beli dengan
berbagai hasil kreasi mandiri,
berupa benda benda sederhana dari
barang bekas.
Fase B Membuat pameran seni sederhana
dan ditujukan untuk kegiatan
kemanuasiaan.
Fase C Merancang catatan dalam
pengelolaan uang pribadi serta
tabungan kelompok.
Tabel 2.5. Pengembangan topik di jenjang Sekolah Dasar
Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila 2022:115
2. Pengembangan Alur Aktivitas Projek Profil
Menurut buku panduan pengembangan projek penguatan profil pelajar Pancasila,
pendidik bekerja sama dengan tim fasilitator projek profil untuk menciptakan sebuah
alur mengenai kegiatan projek profil, menggunakan struktur kegiatan sistematis yang
disepakati secara bersama-sama.
27
Poin-poin yang telah ditentukan sebelumnya dalam merancang projek profil,
disusun secara teratur dengan menambahkan strategi pembelajaran, alat ajar dan
narasumber yang diperlukan untuk pengembangan serta pendalaman dimensi. Berikut
adalah contoh alur (sequence) projek profil yaitu :
a) Pengenalan, Proses adaptasi awal mliputi pengenalan dalam upaya membangun
sebuah kesadaran siswa mengenai tema yang sedang dipelajari.
b) Kontekstualisasi: Meneliti masalah-masalah yang terkait dengan subjek yang
dihadapi dalam konteks lingkungan.
c) Tindakan: Buat peran yang dapat dilakukan dengan benar-benar melakukan
sesuatu.
d) Refleksi, menyelesaikan proses dengan mengevaluasi dan merefleksi karya sendiri.
e) Tindak lanjut buat tindakan taktis.
3. Pengembangan Asesmen Projek Profil
Dalam projek profil, penilaian merupakan bagian penting dari pembelajaran.
Menurut buku pedoman pengembangan projek profil peserta didik pancasila yang dapat
dilihat di [Link] terdapat
beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat penilaian projek profil.
a. Mempertimbangkan berbagai keadaan peserta didik dan memodifikasi perencanaan
penilaian. Kegiatan yang berbeda dan peserta didik merespons secara berbeda terhadap
jenis penilaian yang berbeda. Pendidik dan peserta didik sama-sama bisa mendapatkan
keuntungan dari berbagai penilaian.
b. Mempertimbangkan tujuan projek dan melakukan evaluasi yang tidak hanya berpusat
kepada materi pembelajaran tetapi juga pada komponen, dimensi, dan sub-komponen
profil peserta didik Pancasila yang dituju.
c. Di awal projek, pembuatan indikator kemajuan untuk sub-elemen antar fase. Indikator
kegiatan sub-elemen berguna untuk menilai kemajuan terhadap tujuan proyek.
d. Menggabungkan penilaian formatif dan sumitif di setiap profil proyek. Merancang
proyek dapat menggunakan hasil penilaian formatif dan sumatif yang disampaikan di
awal proyek sebagai bantuan dalam menentukan kemampuan dan kelemahan peserta
28
didik saat menyelesaikan penilaian. Beban kerja siswa dapat diperkirakan dan
keterkaitan tugas formatif diperjelas dengan menyiapkan penilaian formatif dengan
mempertimbangkan tugas sumatif.
e. Libatkan peserta didik dalam proses penilaian dan jelaskan tujuan tes. Peserta didik
dapat, misalnya, menggunakan topik penilaian, metode penilaian (presentasi atau
pembuatan poster, tertulis atau tidak), dan rubrik. Pendidikan juga dapat membantu
mereka menggunakan kriteria penilaian dan rubrik untuk memberikan peserta didik rasa
kepemilikan atas pengelolaan dan evaluasi pembelajaran mereka sendiri.
C. Pembelajaran Berdiferensiasi
Sesuai UU 20 Tahun 2002 (Buku Prinsip Pengembangan Pembelajaran Diferensiasi
Mariti Purba. et al. ke dalam) menyatakan bahwa seluruh kurikulum menganut asas
diversifikasi sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik, potensi daerah, dan peserta
didik dalam Sistem Pendidikan Nasional. Menurut informasi dalam artikel tersebut, tujuan
pembuatan kurikulum dengan beragam pilihan adalah untuk mengakomodasi semua jenis
peserta didik yang berbeda, termasuk mereka yang berbakat secara akademis, dengan
memungkinkan mereka menyesuaikan pengalaman pendidikan mereka dengan kebutuhan
dan potensi peserta didik. komunitas lokal mereka.
Karena pembelajaran berdiferensiasi adalah suatu proses belajar mengajar dimana
peserta didik dapat mempelajari materi pelajaran sesuai dengan kemampuannya, apa yang
disukainya, dan kebutuhannya masing-masing, sehingga tidak frustasi dan tidak merasa
gagal dalam pengalaman belajarnya, dibedakan pembelajaran merupakan cara bagi guru
untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik. (Magee dan Breaux, 2010; Fox &
Hoffman, 2011; Tomlinson, 2017 dalam Buku Prinsip pengembangan pembelajaran
berdiferensiasi, Mariati [Link] ke dalam).
Menurut Marlina (2020) dan Aiman (2022), koordinasi pembelajaran yang
menekankan aspek minat belajar peserta didik, kesiapan peserta didik untuk belajar, dan
preferensi belajar merupakan tujuan umum dari pembelajaran berdiferensiasi. Khusus
untuk pembelajaran diferensiasi adalah lima tujuan berikut::
1) Membantu semua peserta didik mencapai tujuan belajarnya
2) Meningkatkan motivasi peserta didik dengan menggunakan sistem rangsangan untuk
mendongkrak prestasi akademiknya.
29
3) Mengembangkan hubungan yang harmonis selama proses pembelajaran untuk
meningkatkan semangat peserta didik.
4) Mendorong peserta didik menjadi pembelajar mandiri dan menghargai perbedaan.
5) Untuk meningkatkan kepuasan guru dengan memberi mereka rasa tantangan di kelas,
yang memungkinkan mereka menjadi lebih kreatif dan bersemangat untuk
meningkatkan keterampilan mengajar mereka.
Menurut paradigma pembelajaran yang dibedakan, setiap peserta didik adalah unik.
Peserta didik dapat memperoleh bantuan yang mereka butuhkan melalui instruksi yang
berbeda. Karena berbagai masukan, perbedaan individu peserta didik harus
memprihatinkan. Ini karena peserta didik belajar dari budaya dan lingkungan yang
berbeda. Hal ini disebabkan fakta bahwa peserta didik tumbuh dalam budaya dan
lingkungan yang beragam. Untuk memahami bakat dan minat peserta didik, pembelajaran
dilakukan dengan berbagai cara. Atik Siti Maryam (ke dalam), sebagaimana dilaporkan
dalam Aiman 2022: 2850) “Setidaknya ada tiga jenis diferensiasi pembelajaran, antara
lain: 1) diferensiasi isi, 2) diferensiasi proses, dan 3) diferensiasi produk.”.
Guru harus menyadari fakta bahwa ada lebih dari satu pendekatan untuk
mempelajari mata pelajaran dalam pembelajaran diferensiasi. Guru harus merencanakan
bahan pelajaran, kegiatan, pekerjaan rumah harian untuk kelas dan di rumah, dan ujian
akhir berdasarkan kesiapan peserta didik untuk mempelajari mata pelajaran, minat mereka,
dan pembelajaran yang sesuai dengan profil belajar peserta didik mereka.
Guru dapat membedakan tiga aspek pembelajaran yang berbeda agar peserta didik
dapat mengerti materi yang dipelajarinya: aspek isi yang akan pelajari, aspek proses yaitu
berupa kegiatan bermakna yang akan dilakukan peserta didik didalam kelas, dan aspek
penilaian. berupa menghasilkan barang jadi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi
kemajuan menuju tujuan pembelajaran.
Dalam hal mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, pembelajaran yang dibedakan
berbeda dengan pembelajaran individual. Dalam pembelajaran diferensiasi, instruktur
tidak secara khusus menghadapi setiap peserta didik satu per satu untuk memastikan bahwa
dia memahami materi yang diajarkan. Peserta didik dapat belajar secara mandiri atau
dalam kelompok besar atau kecil.
30
ASCD, sebagaimana disebutkan: 2011) untuk kemajuan pembelajaran berdiferensiasi
dalam Buku Prinsip (Mariati Purba. et al: ke dalam) Pembelajaran berdiferensiasi memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pengajar telah merencanakan pelajaran untuk berbagai peserta didik sebelumnya,
mengantisipasi kelas yang akan dia ajar sejak awal. Akibatnya, alih-alih
menyesuaikan instruksi mereka kepada peserta didik sebagai tanggapan terhadap
penilaian kegagalan pelajaran,
2. Mengutamakan kualitas di atas kuantitas. Kualitas tugas lebih baik disesuaikan
dengan kebutuhan peserta didik dalam pembelajaran yang dibedakan. Oleh karena
itu, tidak berarti anak yang pandai akan diberikan tugas tambahan yang sama
setelah menyelesaikan tugasnya; sebaliknya, dia akan diberi tugas lain yang dapat
meningkatkan keterampilannya.
3. Berdasarkan hasil penilaian, guru dapat menyesuaikan pembelajaran dengan
kebutuhan peserta didik karena guru selalu menilai peserta didik dengan berbagai
cara di setiap pembelajaran.
4. Menyiapkan berbagai konten, proses pembelajaran, produk yang dihasilkan, dan
pendekatan lingkungan belajar. Kualitas tugas lebih disesuaikan dengan kebutuhan
peserta didik dalam pembelajaran yang berdiferensiasi. Oleh karena itu, tidak
berarti anak yang pandai akan diberikan tugas tambahan yang sama setelah
menyelesaikan tugasnya; sebaliknya, dia akan diberi tugas lain yang dapat
meningkatkan keterampilannya.
5. Pembelajaran yang diberikan berdasarkan tingkat kemampuan awal siswa terhadap
sebuag materi yang diajarkan, maka guru harus mampu membuat sebuah proses
pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik.
6. Guru memberikan intruksi kepada peserta didik untuk belajar bersama dan secara
mandiri.
7. guru dan peserta didik dapat berkolaborasi untuk pengembangan kelas dan tujuan
individu bagi peserta didik, guru perlu dapat memantau pembelajaran yang
disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik serta disesuaikan juga dengan
kebutuhan mereka .
31
Menurut Tomlinson:2013 dalam Buku Prinsip pengembangan pembelajaran
berdiferensiasi, (Mariati [Link]) dalam pembelajaran berdiferensiasi terdapat 5
prinsip dasar yaitu :
a. Lingkungan Belajar
Lingkungan belajar yang paling penting adalah lingkungan fisik sekolah dan kelas
tempat peserta didik belajar dan diajar. Lingkungan belajar mengacu pada situasi dan
kondisi yang dirasakan pendidikan saat belajar, koneksi, dan interaksi dengan
pendidikan lain dan guru mereka. Menurut buku prinsip pengembangan pembelajaran
yang dibedakan oleh Hattle dan Tomlinson (2013) guru dapat memperoleh kepercayaan
peserta didik dengan Cara:
1) Memberikan harapan kepada peserta didik bahwa mereka memiliki kemampuan
yang signifikan untuk menguasai materi pelajaran yang diberikan.
2) Aktif dan memberikan pengajaran kepada peserta didik untuk memastikan
keberhasilan mereka.
b. Kurikulum yang berkualitas
Tentu saja, kurikulum yang baik perlu memiliki tujuan khusus agar guru mengetahui
apa yang diharapkan di akhir setiap pelajaran. Pemahaman peserta didik terhadap materi
yang diajarkan harus menjadi fokus kurikulum, bukan kemampuan mereka untuk
menghafalnya. Melalui tugas dan penilaian yang diselesaikan peserta didik, kurikulum
juga menggambarkan bagaimana peserta didik berpartisipasi dalam pembelajaran.
Kurikulumnya juga harus naik, sehingga sudah tidak ditemukan kembali peserta didik
yang tertinggal atau seorang guru yang berhenti mengajar. Instruktur harus mendorong
peserta didik dengan kemampuan yang lebih besar untuk menyelesaikan tugas
tambahan untuk meningkatkan keterampilan mereka. Sementara itu, untuk peserta didik
dengan kemampuan yang lebih rendah. Agar mereka mencapai tujuan pembelajaran
yang ditentukan, instruktur harus membantu mereka dengan tugas-tugas mereka.
Peserta didik harus mampu merespon kurikulum yang ada, terlepas dari apakah
mereka memiliki kelebihan di depan, belakang, atau kedua arah. Guru harus
memberikan gagasan yang lebih mendalam kepada peserta didik tentang pelajaran yang
dipelajarinya agar peserta didik tidak resah dengan materi yang dipelajarinya.
32
Dalam situasi sebaliknya, guru perlu menyediakan materi yang dirancang khusus
yang dapat digunakan untuk membantu peserta didik yang duduk di belakang kelas
dalam memahami materi dan mencapai tujuan pembelajaran.
c. Asesmen yang berkelanjutan
Sebelum membahas topik pelajaran, instruktur melakukan penilaian pertama di
awal pelajaran. Asesmen awal bertujuan untuk menilai kesiapan dan kedekatan peserta
didik dengan tujuan pembelajaran, serta pemahaman mereka terhadap materi atau mata
pelajaran yang akan dipelajari. Oleh karena itu, dari pada merujuk pada kecerdasan
intelektual peserta didik, istilah “kesiapan belajar” lebih merujuk pada pengetahuan
awal atau prapengetahuannya. Guru dapat melakukan penilaian awal ini dengan cara
sebagai berikut:
1) Meminta agar peserta didik melengkapi lembar kerja. Pastikan bahwa peserta didik
benar-benar memahami syarat-syarat lembar kerja. Guru menanyakan pemahaman
peserta didik tentang topik yang sekarang dibahas di kolom K (Tahu). Kemudian, pada
kolom W (Ingin Tahu), peserta didik mencatat apa yang ingin mereka pelajari tentang
materi pelajaran yang akan dibahas pada hari itu. menyebutkan pemahaman mereka
tentang materi yang akan diajarkan.
2) Mengumpulkan ide peserta didik dan mengajukan pertanyaan tentang materi yang akan
dibahas sebelum pelajaran dimulai. Guru dapat menentukan apakah peserta didik siap
untuk mempelajari materi dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini;
3) Membuat rencana pembelajaran yang dimasukkan ke dalam kelas mengharuskan setiap
peserta didik untuk menuliskan materi khusus yang akan mereka gunakan, bagaimana
mereka akan mempelajarinya, dan latar belakang pengetahuan yang mereka miliki
tentang materi atau mata pelajaran yang akan mereka pelajari..
4) Memberikan peserta didik pretest tentang materi yang akan dipelajari agar guru
mengetahui kemampuan awal peserta didiknya.
Penilaian formatif pemeriksaan untuk menentukan apakah peserta didik masih
mengalami berbagai kesulitan untuk memahami sebuah materi pembelajaran. Asesmen
formatif ini bersifat diagnostik karena memungkinkan guru untuk menentukan apakah
peserta didik memahami materi pelajaran yang sedang dibahas, kendala apa saja yang
dihadapi peserta didik yang membuat mereka sulit memahami materi pelajaran, apa
33
upaya yang harus dilakukan oleh guru. Dalam upaya membantu meningkatkan
pemahaman peserta didik, apakah guru telah mengajar dengan mengimolemantiskan
media atau metode yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, atau Apapun metode
atau perilaku guru, hendaknya memungkinkan peserta didik untuk memahami materi
yang diajarkan dengan mudah. Akibatnya, tujuan dari penilaian formatif ini seringkali
bukan untuk mencatat skor numerik, seperti dari tes kuantitatif, melainkan untuk
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengungkapkan perasaan mereka
melalui survei pertanyaan tunggal. Alih-alih hanya mengandalkan pengulangan praktik
yang biasanya diberikan oleh guru, guru dapat mengevaluasi hasil akhir pembelajaran
peserta didik dengan berbagai cara. Seorang anak dapat diberikan izin untuk membuat
berbagai produk untuk gurunya, termasuk video, poster, maket, blog, lagu, puisi, proyek
kemanusiaan, kampanye gerakan, dan lain-lain.
d. Pengajaran yang responsive
Melalui asesmen formatif guru dapat memahami kesulitan yang akan dihadapi
peserta didik Ketika mencoba memahami materi pelajaran dengan menggunakan
asesmen. setelah memahami poin-poin tersebut, guru harus merespon dan memodifikasi
kurikulum untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang hadir di kelas. Oleh karena
itu, guru dapat memastikan bahwa kurikulum untuk kelas yang telah dibuat sesuai
dengan hasil penilaian sebelumnya. Guru juga harus memberi peserta didik akses yang
jelas dan tempat untuk pergi dimana mereka bisa mendapatkan materi kursus yang
kredibel.
Peserta didik harus dapat memahami pandangan guru terhadap tugas yang
diberikan, guru harus menyatakan dengan jelas tugas yang harus diselesaikan, beserta
batas waktu penyelesaian, lokasi penyerahan tugas, dan rubrik penilaian yang akan
disampaikan. akan digunakan. Mengingat pentingnya pengajaran dalam kaitannya
dengan kurikulum sekolah secara keseluruhan, maka guru harus memberikan umpan
balik terhadap hasil kegiatan pembelajaran sebelumnya. Tanggung jawab guru adalah
memastikan bahwa pelajaran yang mengikutinya sejalan dengan tujuan, nilai, dan gaya
belajar peserta didik.
e. Kepemimpinan dan Rutinitas di kelas
Seorang guru yang dapat mengelola kelas secara efektif adalah guru yang baik.
Dalam hal ini, kepemimpinan digambarkan sebagai alat guru untuk mendorong peserta
34
didik berpartisipasi dalam diskusi kelas dan situasi pembelajaran yang menantang
melalui sesi belajar kelas kooperatif. Sebaliknya, "rutin di kelas" mengacu pada alat
guru untuk berhasil mendirikan sekolah melalui rutinitas sehari-hari yang dilakukan
oleh peserta didik yang didik didik untuk memfasilitasi pengajaran yang efektif.
D. Asesmen Pembelajaran Berdiferensiasi
Menurut Tomlinson (2013) “Dalam Prinsip Pengembangan Pembelajaran
Berdiferensiasi menjelaskan prinsip penilaian pada pembelajaran berdiferensiasi adalah
penilaian berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan oleh guru, bukan penilaian
berdasarkan norma. Sebelum melakukan penilaian akhir (evaluasi sumatif), guru perlu
banyak memberikan umpan balik pada asesmen – asesmen yang dilakukan selama
pembelajaran (penilaian proses), sehingga peserta didik dapat mengetahui kesalahan
yang dilakukan dan dapat memperbaiki diri sebelum adanya evaluasi akhir (penilaian
hasil belajar)”.
Dalam Prinsip pengembangan pembelajaran dikatakan bahwa prinsip penilaian
pada saat pengembangan pembelajaran didasarkan pada kriteria yang telah ditetapkan
oleh guru, bukan pada norma. Guru harus selalu mengingatkan peserta didik untuk
mengacungkan tangan saat berdiskusi di kelas (penilaian proses) sebelum evaluasi akhir
(evaluasi sumatif) selesai. Hal ini akan memungkinkan peserta didik untuk memahami
apa yang sedang dibahas dan memungkinkan mereka untuk melakukan proses
perbaikan diri sebelum evaluasi akhir (penilaian hasil belajar).
Secara umum, ada tiga aspek proses pembelajaran yang dibedakan yang harus
dievaluasi. Oleh karena itu, pencapaian kriteria yang ditentukan sesuai dengan tujuan
pembelajaran bukan satu-satunya hal yang diperhatikan dalam penilaian. Berikut adalah
penjelasan dari ketiga aspek yang dimaksud:
35
Gambar 2.1. Aspek penilaian
Sumber Buku Panduan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila 2022:46
Penilaian laporan ditentukan oleh tiga P Penampilan, Siklus, dan Kemajuan.
Akibatnya, siswa diberikan penilaian akhir dengan berfokus pada faktor ketiga. Istilah
"penilaian" mengacu pada seberapa baik siswa memenuhi kriteria guru sehubungan
dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Penilaian Proses adalah istilah yang
digunakan untuk menggambarkan kekhawatiran tentang bagaimana peserta didik yang
terlatih dengan baik menangani tekanan dan stres saat menyelesaikan proses
pembelajaran. Sebaliknya, tujuan Kemajuan adalah untuk mengamati bagaimana motivasi
karyawan berubah dari tugas pertama hingga tugas terakhir. Guru dapat memberikan
gambaran proses melalui berbagai tugas. Hasil dari proses ini sekarang dimasukkan dalam
portofolio kandidat secara keseluruhan. Guru mengungkapkan sifat setiap pertumbuhan
atau perkembangan yang dialami setiap peserta didik selama setiap tugas.