0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan118 halaman

Pola Komunikasi Mahasiswa Antarbudaya

Skripsi ini membahas pola komunikasi antarbudaya di kalangan mahasiswa asal Lombok, Sumbawa, Bima, dan Dompu yang tergabung dalam UKM Olahraga Universitas Islam Negeri Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggambarkan tantangan komunikasi yang dihadapi mahasiswa akibat perbedaan bahasa, budaya, dan perspektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan berbagai jenis komunikasi, meskipun menghadapi hambatan dalam penyampaian pesan dan interaksi.

Diunggah oleh

macboy290
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan118 halaman

Pola Komunikasi Mahasiswa Antarbudaya

Skripsi ini membahas pola komunikasi antarbudaya di kalangan mahasiswa asal Lombok, Sumbawa, Bima, dan Dompu yang tergabung dalam UKM Olahraga Universitas Islam Negeri Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggambarkan tantangan komunikasi yang dihadapi mahasiswa akibat perbedaan bahasa, budaya, dan perspektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan berbagai jenis komunikasi, meskipun menghadapi hambatan dalam penyampaian pesan dan interaksi.

Diunggah oleh

macboy290
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

POLA KOMUNIKASI ANTARBUDAYA MAHASISWA ASAL


LOMBOK, SUMBAWA, BIMA, DOMPU
(Studi Kasus UKM Olahraga Universitas Islam Negeri Mataram
Tahun 2022-2023)

Oleh
Muhamad Rivan Riyandi
NIM 170301056

PRODI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM


FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS IS LAM NEGERI MATARAM
MATARAM
2024

SKRIPSI

POLA KOMUNIKASI ANTARBUDAYA MAHASISWA ASAL


LOMBOK, SUMBAWA, BIMA, DOMPU
(Studi Kasus UKM Olahraga Universitas Islam Negeri Mataram
Tahun 2022-2023)

Skripsi
Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram
untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Sosial ([Link].)

Oleh
Muhamad Rivan Riyandi
NIM 170301056

PRODI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM


FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

II
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
MATARAM
2024

HALAMAN LOGO

III
IV
V
VI
VII
Dr. Muhammad Saleh Ending, MA
NIP.197209121998031001

MOTTO

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan


kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang
diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika
kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan
kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada
orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan
kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami;
ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka
tolonglah kami terhadap kaum yang kafir (QS: Al-Baqarah/1: 286).

PERSEMBAHAN

VIII
tercinta Ibu Hj. Yandha dan Bapak H. Ridwan, saudaraku Adam dan Ridho
terkasih dan kepada seseorang yang sudah, sedang, dan akan mencurahkan

IX
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala Puji bagi Allah yang telah memberikan


nikmat iman,islam dan kesehatan sebagai akibatnya penulis berhasil
merampungkan penulisan skripsi ini sebagai tugas akhir dalam memperoleh
gelar Sarjana Sosial ([Link].) dalam bidang Komunikasi Penyiaran Islam.
Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan keharibaan baginda Nabi
Muhammad Saw, pula pada keluarga, teman dan semua pengikutnya.
Aamiin. Semoga nantinya skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua,
khususnya bagi peneliti sendiri. namun, peneliti menyadari bahwa skripsi
ini masih jauh asal kata sempurna, peneliti menulis sebatas pengetahuan
serta kemampuan.
Untuk itu, dengan rendah hati peneliti mengharapkan adanya
masukan berupa saran dan kritik yang membangun dari para pembaca, baik
mahasiswa, dosen ataupun kalangan akademisi lainnya guna menunjang
penulisan berikutnya agar lebih baik. Penulis menyadari bahwa proses
penyelesaian skripsi ini tak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan
banyak sekali pihak di dalamnya. Oleh sebab itu, penulis menyampaikan
penghargaan dan apresiasi dengan tinggi serta ucapan terimakasih dari
lubuk hati yang paling dalam pada pihak-pihak yang sudah membantu
sebagai berikut:
1. Bapak sebagai Dosen Pembimbing I dan
Bapak Dr. Najamudin, M. Si selaku Dosen Pembimbing II yang selalu
membimbing, memberikan motivasi, koreksi mendetail yang terus
menerus tanpa adanya kata lelah, dan selalu meluangkan waktu di
tengah kesibukan sehingga skripsi ini lebih matang dan cepat selesai.
2. Dr. Muhammad Saleh, MA. Selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu
Komunikasi UIN Mataram.
3. Bapak Rektor Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M. Ag. telah memberikan
wadah bagi penulis untuk menuntut ilmu serta pengalaman yang luar
biasa selama pada dunia kampus ini.
4. Teman-teman UKM Olahraga yang telah membantu hingga saat ini,
waktu, energi, ilmu semoga bermanfaat terus untuk kalian yang sudah
menemani perjalan Panjang ini .
5. Kepada kedua orang tua yang sudah memberikan dukungan secara
moril dan moral dengan segenap kemampuannya dan tidak lupa juga

X
dengan doa yang telah mereka panjatkan untuk penulis dalam
menyelesaikan penelitiannya.
6. Kepada semua orang yang sudah mendukung penulis untuk selalu
menyelesaikan penelitian ini, saya mengucapkan terimakasi banyak atas
dukungan dan doa-doa kalian.
Semoga Allah SWT menyampaikan balasan yang setimpal kepada
semua pihak yang sudah membantu proses penulisan skripsi ini. pada
seluruh pihak tadi semoga amal baik yang sudah diberikan bisa diterima
oleh Allah SWT, dan menerima limpahan rahmatnya. Amin Allahum
aamin. Demikian istilah pengantar dari penulis, apabila ada kesalahan
penulis memohon maaf yang sedalam-dalamnya, semoga skripsi ini dapat
bermanfaaat khususnya bagi penulis serta pembaca seluruhnya.

Mataram, 26 Desember 2023


Penulis,

Muhamad Rivan Riyandi

XI
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ............................................................................. i


HALAMAN JUDUL..................................................................................ii
HALAMAN LOGO..................................................................................iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING...........................................................iv
NOTA DINAS PEMBIMBING................................................................v
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI.................................................vi
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI.....................................................vii
HALAMAN MOTTO.............................................................................viii
HALAMAN PERSEMBAHAN...............................................................ix
KATA PENGANTAR................................................................................x
DAFTAR ISI............................................................................................xii
DAFTAR GAMBAR...............................................................................xiv
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................xv
ABSTRAK...............................................................................................xvi
1
PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah . 5
C. Tujuan dan Manfaat 5
1. Tujuan Penelitian ...........................................................................5
2. Manfaat Penelitian .........................................................................5
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 6
E. Telaah Pustaka . 6
F. Kerangka Teori 14
1. Pola Komunikasi Antarbudaya .......................................................... 14

XII
2. Teori Komunikasi Antarbudaya ........................................................ 20

3. Teori Interaksi Simbolik ........................................................................ 35


4. Teori Persepsi .............................................................................................. 36
G. Metode Penelitian 39
1. Jenis Penelitian ........................................................................................... 39
2. Jenis dan Sumber Data ........................................................................... 40
3. Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 41
44
1. Triangulasi 44
2. Kecukupan Refrensi 45
I. Sistematika Pembahasan
BAB II 47
POLA KOMUNIKASI ANTARBUDAYA MAHASISWA UKM
OLAHRAGA 47
A. Profil UIN Mataram Dan UKM Olahraga 47
1. Struktur UIN Mataram
2. Visi UIN Mataram..................................................................................... 48
3. Misi UIN Mataram ................................................................................... 48
4. Tujuan UIN Mataram ............................................................................. 49
5. Sasaran UIN Mataram ............................................................................ 49
6. Sejarah UKM Olahraga ......................................................................... 50
7. Visi UKM Olahraga.................................................................................. 50
8. Misi UKM Olahraga ................................................................................ 50
9. Cabang Olahraga Di UKM Olahraga
10. Susunan Kepengurusan Di UKM Olahraga
B. Pola Komunikasi Mahasiswa UKM Olahraga 57

XIII
1. Deskripsi Sulistiamikasari (20 tahun ) ............................................ 57
2. Deskripsi Tengku (22 tahun)................................................................ 58
3. Deskripsi Dimas (20 tahun) .................................................................. 58
4. Deskripsi Gunawan (23 tahun) ........................................................... 59
5. Deskripsi David (21 tahun) ................................................................... 60
6. Deskripsi Irfani (20 tahun) ................................................................... 60
7. Deskripsi Dias (21 tahun)....................................................................... 61
8. Deskripis Melika (19 tahun) ................................................................. 62
9. Deskripsi Sri (22 tahun).......................................................................... 62
C. Analisi dan Pembahasan 63
BAB III
HAMBATAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA MAHASISWA UKM
OLAHRAGA
A. Hambatan-Hambatan Dalam Komunikasi Mahasiswa Di Ukm
Olahraga
B. Hambatan-Hambatan Dalam Komunikasi Antarbudaya Di UKM
Olahraga
C. Analisis Dan Pembahasan

BAB IV 79
PENUTUP ..79
A. Kesimpulan .......79
B. Saran 79
Daftar Pustaka

XIV
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Pola Komunikasi Primer

Gambar 1.2 Pola Komunikasi Skunder


Gambar 1.3 Pola Komunikasi Linear

Gambar 1.4 Pola Komunikasi Sirkuler


Gambar 1.5 Model Komunikasi Antarbudaya

Gambar 1.6 Bagan Interaktif Miles And Hubberman 201

XV
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Bagan Pertanyaan


Lampiran 2 Foto Wawancara Informan
Lampiran 3 Kartu Konsultasi
Lampiran 4 Surat Penelitian
Lampiran 5 Surat Bebas Pinjam
Lampiran 6 Sertifikat Plagiasi

XVI
POLA KOMUNIKASI ANTARBUDAYA MAHASISWA ASAL
LOMBOK, SUMBAWA, BIMA, DOMPU
(STUDI KASUS UKM OLAHRAGA UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI MATARAM TAHUN 2022-2023)

Oleh:

Muhamad Rivan Riyandi


NIM 170301056

ABSTRAK

Keberagaman budaya di dalam lingkungan pendidikan, seperti di


kampus, menimbulkan tantangan unik bagi setiap individu yang terlibat.
Hal ini disebabkan oleh perbedaan-perbedaan, seperti bahasa, ras, dan
budaya. Contohnya dapat terlihat pada mahasiswa yang berasal dari
Lombok, Sumbawa, Bima, dan Dompu yang mengambil kuliah di
Universitas Islam Negeri Mataram.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yang
mengadopsi pendekatan kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
memberikan gambaran yang sistematis, faktual, dan akurat mengenai suatu
objek, sehingga dapat ditarik kesimpulan yang berlaku secara umum.
Pemilihan metode ini disesuaikan dengan jenis data yang diperoleh, yakni
data berupa kata-kata, bukan data berupa angka.
Dan metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode
observasi, metode wawancara, dan metode dokumentasi untuk dapat
mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, dan Teknik analisis data
menggunakan Teknik reduksi data, penyajian data atau uraian singkat, dan
verifikasi data.
Hasil penelitian ini adalah mahasiswa melakukan pola komunikasi
menggunakan semua jenis komunikasi di dalam UKM Olahraga dari
komunikasi pribadi, komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok,
komunikasi organisasi, dan terakhir komunikasi massa, hambatan yang
ditemui adalah bahasa, penyampaian pesan, Perspektif dan cara berpikir
yang beragam dalam interaksi komunikasi di antara mahasiswa.

Kata Kunci: Pola, Komunikasi, Antarbudaya, UKM, Olahraga.

XVII
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sebagai manusia, kita tidak dapat eksis secara independen;
terdapat hubungan dan ketergantungan yang saling terjalin antara satu
dengan yang lain. Dalam konteks ini, terbentuklah konsep
masyarakat, yang berasal dari akar kata Arab "musyarak" yang artinya
bersama-sama. Dalam bahasa Inggris, istilah yang setara dengan
"masyarakat" adalah "society," yang berasal dari bahasa Latin
"socius," yang berarti kawan. Pandangan Aguste Comte dalam
Maryati mencerminkan pentingnya konsep ini. Kun & Juju
Suryawati1
dengan realitas-realitas baru yang berkembang menurut hukum-
Dengan
perkembangan pengetahuan dan teknologi, masyarakat secara tidak
langsung akan menyesuaikan diri dan merumuskan aturan baru yang
menjadi panduan dalam mengembangkan diri sesuai dengan
lingkungan mereka. Fenomena ini terjadi di Indonesia yang terdiri
dari 17.508 pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke. 2.
Sebagai negara kepulauan terluas di dunia, Indonesia
memperlihatkan beragam kebudayaan yang membuatnya menjadi
negara majemuk dengan keanekaragaman yang mencakup seluruh
daerahnya. Dalam masyarakat majemuk atau plural, pembagian
kelompok berdasarkan perbedaan ras, etnis (suku bangsa), klan, dan
agama disebut sebagai kemajemukan sosial, Maryati, Kun & Juju
Suryawati3,
Maryati, Kun & Juju Suryawati4, Menganalisis keragaman
sosial yang dicirikan oleh perbedaan, terdapat beberapa dimensi yang

1
Maryati, Kun dan Juju Suryawati, Sosiologi dan Antropologi untuk SMA/MA
Kelas X Kurikulum 2013, (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2013), hlm 6.
2
[Link]
5/kemajemukan-Indonesia diakses 15 desember 2023jam 15:08).
3
Ibid.,hlm 100.
4
Ibid.

1
dapat diidentifikasi. Pertama, variasi fisik melibatkan sejumlah aspek
seperti warna kulit, bentuk mata, rambut, hidung, rahang, dan dagu.
Kedua, variasi sosial muncul dari perbedaan jenis pekerjaan, yang
menghasilkan perspektif dan perilaku yang beragam dalam
masyarakat. Ini mencakup perbedaan dalam peran, prestise, dan
kekuasaan, di mana, sebagai contoh, perilaku seorang tentara dapat
berbeda dari perilaku seorang dokter, atau perilaku seorang pedagang
dapat berbeda dari perilaku seorang guru. Ketiga, perbedaan budaya
memiliki peran yang signifikan dan erat kaitannya dengan pandangan
hidup suatu masyarakat, terutama terkait dengan nilai-nilai yang
mereka anut.
Nilai-nilai ini mencakup aspek seperti nilai agama, sistem
kekeluargaan, keuletan, dan ketangguhan. Sistem budaya ini dapat
mempengaruhi sikap individu dan, sebagai konsekuensinya,
menciptakan pola perilaku dalam masyarakat. Dampak dari nilai-nilai
yang dianut oleh masyarakat tercermin dalam berbagai aspek, seperti
pakaian, adat istiadat, bahasa, kesenian, arsitektur, dan agama. Data
BPS tahun 2010 telah memproyeksikan jumlah penduduk di tahun
2020. Untuk jumlah penduduk Indonesia, data terakhir mencatatkan
sekitar 238.518.000 jiwa pada tahun 2010 dan diproyeksikan
meningkat menjadi sekitar 271.066.000 jiwa pada tahun 2020.
Sementara di Pulau Lombok pada tahun 2010 terdapat sekitar
4.500.212 jiwa dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar
5.320.092 jiwa pada tahun 2020.5
Berdasarkan data tersebut, pertumbuhan penduduk di Pulau
Lombok, termasuk peningkatan jumlah mahasiswa dari Sumbawa,
Bima, dan Dompu, menunjukkan tren yang pesat di berbagai wilayah
Indonesia. Mereka banyak yang melakukan migrasi baik untuk
meningkatkan kondisi ekonomi maupun untuk menempuh pendidikan
tinggi, terutama di perguruan tinggi. Dinamika komposisi ini
seringkali menjadi pemicu potensial untuk konflik sosial, budaya,
ekonomi, dan politik, terutama dalam konteks kesalahpahaman dalam
berkomunikasi.

5
[Link]
[Link] diakses pada 25
desember 2023 jam 12.01.

2
Kehidupan manusia dituntut untuk tidak terlepas dari
komunikasi. Suryawati6 Dalam bukunya, ia menyajikan definisi
umum Komunikasi sebagai suatu proses pertukaran pesan atau
informasi antara dua orang atau lebih, dengan tujuan agar pesan yang
disampaikan dapat dipahami. Manusia mengandalkan komunikasi
sebagai alat untuk berinteraksi dengan makhluk sosial lainnya, di
manapun mereka berada. Proses komunikasi dapat melibatkan pesan
verbal atau nonverbal yang diungkapkan oleh individu dalam konteks
sosial, sering kali dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan
sekitarnya. Interaksi antar individu dapat terjadi secara langsung
maupun tidak langsung. Dalam hidup sebagai makhluk sosial yang
tergabung dalam kelompok dan berkomunikasi dengan sesama,
manusia atau masyarakat juga mencerminkan keberagaman latar
belakang budaya yang mereka miliki.
Menurut Selo Soemardjan dalam Maryati, Kun & Juju
Suryawati7 Masyarakat dapat diartikan sebagai individu-individu
yang hidup bersama dan menciptakan kebudayaan. Terbentuknya
kebudayaan ini dipengaruhi oleh kebiasaan, tradisi, dan sikap yang
diyakini dan diterapkan oleh mereka dalam suatu lingkungan tertentu.
Kebudayaan merujuk pada hasil karya, perasaan, dan kreasi
masyarakat yang mencakup sistem ide atau gagasan yang terdapat
dalam pikiran manusia, melibatkan pengetahuan, kepercayaan, seni,
moral, hukum, adat istiadat, kemampuan, kebiasaan, sikap, dan pola
perilaku yang dimiliki dan diwariskan oleh suatu masyarakat tertentu.
Pengaruh budaya dalam perilaku komunikasi sangat signifikan,
seperti yang dinyatakan oleh Desiderdia, bahwa setiap interaksi
manusia dipengaruhi oleh tingkat budaya, sosial, dan fisik di tempat
di mana interaksi itu terjadi, sehingga proses komunikasi terbentuk
seiring dengan konteks tersebut.
Memahami keterkaitan antara budaya dan komunikasi
merupakan hal yang sangat esensial untuk meraih pemahaman dalam
konteks komunikasi antarbudaya. Oleh karena itu, cara individu
memahami dan melibatkan diri dalam proses komunikasi sangat
dipengaruhi oleh pengaruh budaya yang membentuk identitas

6
Maryati, Kun dan Juju Suryawati, Sosiologi dan Antropologi untuk SMA/MA
Kelas X Kurikulum 2013, hlm 38.
7
Ibid., hlm 6.

3
mereka. Faktor budaya yang melekat pada setiap individu memiliki
dampak yang signifikan terhadap dinamika proses komunikasi.
Keberagaman budaya yang terdapat dalam suatu lingkungan
menciptakan fenomena yang mendorong terjadinya interaksi. Dalam
kehidupan sehari-hari, terciptanya interaksi menjadi suatu prasyarat
yang mendasar, di mana komunikasi menjadi sarana utama untuk
mencapai pemahaman dan saling berhubungan antara individu yang
berasal dari latar belakang budaya yang berbeda.
Berbagai bentuk interaksi dalam konteks komunikasi
antarbudaya dapat melibatkan pertemuan langsung antar individu,
sementara bentuk lainnya terjadi melalui media massa dan platform
media sosial. Ada juga interaksi yang bersifat singkat atau
berlangsung dalam jangka waktu pendek, sedangkan yang lainnya
bersifat berkelanjutan atau permanen. Sementara proses pertukaran
informasi berlangsung, nilai-nilai sosial budaya juga terlibat dalam
pertukaran tersebut, menciptakan pandangan bahwa pentingnya
komunikasi antarbudaya saat ini melebihi relevansinya pada masa
sebelumnya.
Perbedaan budaya dalam komunikasi, dikenal sebagai
komunikasi antarbudaya, terjadi ketika dua orang atau lebih dengan
latar belakang budaya yang berbeda terlibat dalam interaksi.
Penelitian ini mengadopsi teori komunikasi antarbudaya untuk
memahami fenomena ini. Komunikasi antarbudaya tidak hanya
terbatas pada lingkungan masyarakat umum, melainkan juga
berlangsung dalam konteks pendidikan, termasuk di UKM Olahraga
di Universitas Islam Negeri Mataram. Mahasiswa di kampus tersebut,
terutama di UKM Olahraga, berasal dari berbagai latar belakang
sosial budaya, baik dari wilayah lokal seperti Lombok maupun dari
luar kota dan pulau. Keanekaragaman budaya di lingkungan
pendidikan seperti kampus memberikan tantangan bagi setiap
individu, mengingat perbedaan-perbedaan seperti bahasa, ras, dan
budaya. Terutama, mahasiswa asal Lombok, Sumbawa, Bima, dan
Dompu yang berkuliah di Universitas Islam Negeri Mataram,
khususnya di UKM Olahraga, menghadapi beberapa hambatan dalam
proses komunikasi.

4
B. Rumusan Masalah
Dengan merujuk pada konteks sebelumnya, rumusan masalah
yang akan diselidiki adalah:
1. Bagaimana pola komunikasi antarbudaya mahasiswa asal
Lombok, Sumbawa, Bima, Dompu di UKM Olahraga?
2. Bagaimana hambatan komunikasi mahasiswa asal Lombok,
sumbawa, bima, dompu di dalam UKM Olahraga?

C. Tujuan dan Manfaat


1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui pola komunikasi antarbudaya pada
mahasiswa asal Lombok, Sumbawa, Bima, Dompu di UKM
Olahraga.
b. Untuk mengetahui hambatan pola komunikasi mahasiswa
asal Lombok, Sumbawa, Bima, Dompu yang ada di UKM
Olahraga.

2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
a. Manfaat Teoretis
penelitian ini memberikan kontribusi positif pada
bidang studi komunikasi dan menjadi sumber referensi
berharga bagi peneliti masa depan, terutama mereka yang
tertarik dalam konteks komunikasi antarbudaya.
b. Manfaat Praktis
Secara praktis, tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengidentifikasi kebutuhan dalam pemahaman pola
komunikasi antarbudaya di lingkungan pendidikan. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
sebagai referensi yang berharga dan meningkatkan
pemahaman mahasiswa mengenai komunikasi antarbudaya
di konteks pendidikan.

5
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
Pola
Komunikasi antarbudaya Mahasiswa Asal Lombok, Sumbawa,
Bima, Dompu (Studi Kasus Ukm Olahraga Universitas Islam
Negeri Tahun 2022-2023)
Adapun penelitian ini berlangsung di UKM Olahraga
Universitas Islam Negeri Mataram. Pemilihan lokasi ini didasarkan
pada keberadaan UKM Olahraga di lingkungan Universitas Islam
Negeri Mataram. Peneliti berharap bahwa hasil penelitian ini
memberikan dampak positif yang signifikan, Pola Komunikasi
Mahasiswa Lombok, Sumbawa, Bima, Dompu di UKM Olahraga
Universitas Islam Negeri Mataram Tahun 2022-2023.
E. Telaah Pustaka
Peneliti melakukan telaah literatur pada penelitian serupa
yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Terdapat
beberapa penelitian sebelumnya yang telah mengkaji aspek
komunikasi antarbudaya. Fokus penelitian ini terutama meneliti
penerimaan komunikasi antarbudaya. Beberapa contoh penelitian
sebelumnya yang relevan mencakup:

Nama Peneliti dan Marselina Lagu, Universitas Sam Ratulangi


Asal Instansi Manado
Judul penelitian Komunikasi Antarbudaya Di Kalangan
Mahasiswa Enik Papua Dan Etnik Manado
Di Universitas Sam Ratulangi Manado

Tahun Penelitian 2016


Metode Penelitian Kualitatif
Teori Penelitian Teori Fenomenologi
Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa
komunikasi antarbudaya di antara mahasiswa
etnik Papua dan etnik Manado di Fakultas
Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL),

6
Universitas Sam Ratulangi Manado,
berlangsung secara positif. Mereka saling
menyadari perbedaan yang ada, namun
perbedaan tersebut tidak menjadi hambatan
bagi mereka untuk terus berinteraksi. Kedua
etnik ini menunjukkan sikap saling
menghargai perbedaan, baik dalam aspek
budaya seperti bahasa dan dialek, gaya hidup,
maupun perilaku. Meskipun demikian, hasil
penelitian juga menunjukkan bahwa makna
dalam komunikasi antarbudaya, baik melalui
interaksi langsung maupun melalui media
sosial (Facebook, Line, dan BBM), belum
mencapai tingkat optimal. Hal ini disebabkan
karena masing-masing etnik masih
menggunakan bahasa dan dialek daerah asal
dalam berinteraksi, sehingga setiap individu
memiliki persepsi yang berbeda dalam
memahami pesan yang disampaikan.

Peneliti merujuk pada penelitian sebelumnya yang berjudul


"Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa Etnik Papua dan
Etnik Manado," yang disusun oleh Marselina Lagu pada tahun 2016,
sebagai bahan referensi utama atau panduan dalam penelitian ini.
Referensi ini dipilih karena memiliki kesamaan tema utama dengan
penelitian saat ini, yaitu "Komunikasi Antarbudaya di Kalangan
Mahasiswa." Secara khusus, penelitian terdahulu menerapkan teori
fenomenologi, sebuah kesamaan yang juga ditemukan dalam
pendekatan teoretis yang akan digunakan peneliti untuk mengatasi
permasalahan dalam penelitian ini. Selain itu, dalam hal metode
penelitian, terdapat kesamaan antara penelitian terdahulu dan
penelitian ini, keduanya mengadopsi metode penelitian kualitatif.
Perbedaan terletak pada lokasi penelitian sebelumnya yang
dilakukan di Universitas Sam Ratulangi Manado, sementara
penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti berlokasi di Universitas

7
Islam Negeri Mataram Tegal. Selain itu, perbedaan lainnya terletak
pada etnik yang menjadi objek penelitian. Penelitian sebelumnya
meneliti etnik Papua dan etnik Manado, sementara penelitian yang
akan dilakukan oleh peneliti akan fokus pada mahasiswa Lombok dan
mahasiswa asal Sumbawa, Bima, dan Dompu.

Nama Peneliti dan Khefti Al Mawaldia, Universitas Islam


Asal Instansi Negeri Sunan Kalijaga
Judul Penelitian Komunikasi Antarbudaya Madura Dan
Yogyakarta (Studi Etnografi Adaptasi
Speech Code Pada Mahasiswa Madura di
Masyarakat Yogyakarta)
Tahun Penelitian 2017
Metode Penelitian Kualitatif
Teori Penelitian Teori Komunikasi Antarbudaya
Hasil Penelitian Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa
mahasiswa Madura, saat berinteraksi dengan
masyarakat Yogyakarta, umumnya
mengalami adaptasi speech code
menggunakan metode asimilasi, integrasi,
dan hibriditas budaya. Diantara ketiga
metode adaptasi speech code tersebut,
hibriditas budaya merupakan pilihan yang
paling sesuai bagi mahasiswa Madura
sebagai perantau. Pendekatan hibriditas
budaya memungkinkan mereka
mempertahankan speech code asal mereka,
sehingga tetap dapat berbaur dengan

8
masyarakat Yogyakarta. Terkadang, mereka
juga menggunakan atau meniru dialek
Yogyakarta sebagai upaya negosiasi dan
adaptasi, dengan tujuan menciptakan
persepsi yang sesuai dengan lingkungan
sekitar. Selama proses adaptasi sebagai
perantau, mahasiswa Madura tidak
menerapkan metode separasi, karena mereka
tidak mengurangi interaksi dengan
masyarakat Yogyakarta dan tidak
mengidentifikasi diri mereka sebagai yang
paling benar.

Peneliti merujuk pada penelitian sebelumnya yang berjudul


"Komunikasi Antarbudaya Madura dan Yogyakarta (Studi
Etnografi Adaptasi Speech Code Pada Mahasiswa Madura di
Masyarakat Yogyakarta)," yang disusun oleh Khefti Al Mawaldia
dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga pada tahun 2017,
sebagai sumber referensi utama atau landasan dalam penelitian ini.
Referensi ini dipilih karena memiliki kesamaan tema penelitian
yang signifikan, yaitu "Komunikasi Antarbudaya." Penelitian
terdahulu menerapkan teori komunikasi antarbudaya dengan
mengamati fenomena di sekitar lingkungannya. Seiring dengan itu,
penelitian yang akan dilakukan peneliti memiliki kesesuaian dengan
fenomena yang terjadi di lingkungan kampus. Dalam hal metode
penelitian, terdapat kesamaan antara penelitian terdahulu dan
penelitian ini, keduanya menggunakan metode penelitian kualitatif.
Perbedaannya terletak pada lokasi penelitian, di mana penelitian
terdahulu dilakukan di lingkungan masyarakat, sedangkan
penelitian yang akan dilakukan peneliti akan berfokus pada
lingkungan kampus Universitas Islam Negeri Mataram.

Nama Peneliti dan Ima Hidanyati Utami, Danrsono Wisadirana,


Asal Instansi Zulkarnain Nasution. Universitas Brawijaya
Judul Penelitian Analisis Model Komunikasi

9
Antarbudaya (Studi Kasus Komunikasi
Mahasiswa Papua dan Lombok di
Universitas Brawijaya)
Tahun Penelitian 2013
Metode Penelitian Kualitatif
Teori Penelitian Teori Komunikasi Antarbudaya
Hasil Penelitian Temuan dari penelitian ini dapat dirangkum
sebagai berikut: Pertama, dari segi budaya,
terdapat hambatan komunikasi antara
mahasiswa Papua dan mahasiswa Jawa yang
berasal dari perbedaan bahasa dan
dipengaruhi oleh latar belakang budaya
kolektif yang kuat. Dalam konteks
sosiobudaya, persepsi terhadap batasan-
batasan pelanggaran norma dan aturan sosial
di daerah asal membuat mahasiswa Papua
kurang sensitif terhadap norma dan aturan
sosial yang berlaku di lingkungan baru
mereka. Dari sudut pandang psikobudaya,
stereotip, etnosentrisme, dan prasangka yang
dimiliki oleh mahasiswa Papua menjadi
kendala dalam berbaur dan berinteraksi
dengan mahasiswa Jawa, walaupun beberapa
mahasiswa Lombok justru menunjukkan
empati yang mendorong mereka untuk
membantu teman-teman mereka beradaptasi
dengan lingkungan dan iklim kampus.
Kedua, penelitian ini menghasilkan dua
model, yaitu: (1) model KAB (Komunikasi
Antarbudaya) mahasiswa Papua dan
Lombok dengan melibatkan mahasiswa
Jawa sebagai mediator untuk beradaptasi; (2)
model KAB mahasiswa Papua dan Jawa
tanpa keterlibatan mediator.

10
Peneliti mengacu pada penelitian sebelumnya berjudul
"Analisis Model Komunikasi Antarbudaya: Studi Kasus
Komunikasi Mahasiswa Papua dan Lombok di Universitas
Brawijaya" yang ditulis oleh Ima Hidanyati Utami, Danrsono
Wisadirana, dan Zulkarnain Nasution Marselina pada tahun 2013,
sebagai sumber referensi utama atau panduan dalam penelitian ini.
Pemilihan referensi ini didasarkan pada kesamaan tema penelitian,
yaitu "Komunikasi Antarbudaya di Kalangan Mahasiswa."
Penelitian sebelumnya mengaplikasikan teori Komunikasi
Antarbudaya (KAB) sebagai dasar teoretis, sebuah kesamaan yang
juga ditemukan dalam pendekatan teoretis yang akan digunakan
peneliti untuk menangani permasalahan dalam penelitian ini. Dalam
hal metode penelitian, terdapat kesesuaian antara penelitian
terdahulu dan penelitian ini, keduanya menerapkan metode
penelitian kualitatif. Perbedaan utama antara penelitian ini dan
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh peneliti adalah lokasi
penelitian, di mana penelitian sebelumnya dilaksanakan di
Universitas Brawijaya, sementara penelitian yang akan dilakukan
oleh peneliti berfokus pada lingkungan Universitas Islam Negeri
Mataram.

Nama Peneliti dan Philep M. Regar, Evelin Kawung, Joanne


Asal Instansi P. M. Tangkudung

Judul Penelitian Pola Komunikasi Antar Budaya dan


Identitas Etnik Sangihe-Talaud-Sitaro
(Studi pada Masyarakat Etnik Sangihe-
Talaud- Sitaro di Kota Manado) Tahun ke
1 dari rencana 3 Tahun

Tahun Penelitian 2014

Metode Penelitian Kualitatif

Teori Penelitian Teori Komunikasi Antarbudaya dan


Identitas Etnik

11
Hasil Penelitian Dari hasil penelitian ini tergambar bahwa
terdapat pola komunikasi primer dan
sirkular. Sementara itu, perbedaan dalam
identitas etnik tampak terjadi antara
generasi orang tua dan anak muda. Orang
tua masih aktif menggunakan bahasa,
sedangkan anak muda cenderung kurang
aktif, terutama pada mereka yang memiliki
orang tua dari latar belakang etnik yang
berbeda. Hal yang serupa juga terlihat pada
pemaknaan dan keaktifan dalam mengikuti
acara, dimana orang tua lebih mendalam
dalam memberikan makna pada acara
tersebut dibandingkan dengan anak muda
yang melihatnya hanya dari perspektif
ramainya acara.

Peneliti merujuk pada penelitian sebelumnya berjudul "Pola


Komunikasi Antar Budaya dan Identitas Etnik Sangihe-Talaud-
Sitaro (Studi pada Masyarakat Etnik Sangihe-Talaud-Sitaro di Kota
Manado) Tahun ke 1 dari rencana 3 Tahun" yang disusun oleh
Philep M. Regar, Evelin Kawung, Joanne P. M. Tangkudung pada
tahun 2014, sebagai sumber referensi utama atau panduan dalam
penelitian ini. Pemilihan referensi ini didasarkan pada kesamaan
tema penelitian, yakni komunikasi antarbudaya. Penelitian
sebelumnya mengadopsi teori Komunikasi Antarbudaya (KAB) dan
Identitas Etnik sebagai kerangka teoretis, persamaan yang juga
diterapkan oleh peneliti untuk menangani permasalahan dalam
penelitian ini. Dalam hal metode penelitian, terdapat kesamaan
antara penelitian terdahulu dan penelitian ini, keduanya
menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Perbedaan utama
antara penelitian ini dan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
peneliti adalah subjek penelitian, di mana penelitian sebelumnya
melibatkan lingkungan masyarakat sebagai subjek, sedangkan
subjek penelitian ini adalah mahasiswa.

12
Nama Peneliti Yiska Mardolina, Universitas Hasanudin
dan Asal Instansi Makassar

Judul Penelitian Pola Komunikasi Lintas Budaya Mahasiswa


Asing dengan Mahasiswa Lokal di
Universitas Hasanudin

Tahun Penelitian 2015

Metode Penelitian Kualitatif

Teori Penelitian Teori Anxiety/Uncertainty Management


(AUM)

Hasil Penelitian Hasil Penelitian ini memperlihatkan bahwa


pada awalnya, perbedaan budaya, terutama
dalam bahasa, menjadi tantangan bagi
mahasiswa asing dan lokal dalam
berkomunikasi. Sehingga, pola komunikasi
lintas budaya antara keduanya di kampus
mengalami perjalanan yang rumit dan penuh
kesulitan. Meskipun demikian, seiring
berjalannya waktu, interaksi antara mereka
mulai membaik. Selain itu, kebutuhan sosial
sebagai manusia untuk berinteraksi dan
berkomunikasi menjadi faktor pendukung
yang mendorong keduanya untuk terus
terlibat dalam percakapan.

Peneliti mengacu pada penelitian sebelumnya yang berjudul


"Pola Komunikasi Lintas Budaya Mahasiswa Asing dengan
Mahasiswa Lokal di Universitas Hasanudin" yang disusun oleh Yiska
Mardolina pada tahun 2015, sebagai rujukan utama dalam penelitian
ini. Pemilihan referensi ini dilakukan karena adanya kesamaan tema
penelitian, yaitu komunikasi antarbudaya. Dalam hal metode
penelitian, penelitian sebelumnya dan penelitian ini memiliki

13
kesamaan dengan keduanya menerapkan metode penelitian kualitatif.
Perbedaan signifikan antara penelitian ini dan penelitian sebelumnya
yang dilakukan oleh peneliti terletak pada teori yang digunakan.
Penelitian terdahulu mengadopsi teori Anxiety/Uncertainty
Management (AUM), sementara peneliti dalam penelitian ini
menggunakan teori Komunikasi Antarbudaya. Selain itu, perbedaan
lokasi penelitian juga terdapat antara penelitian sebelumnya yang
dilakukan di Universitas Hasanudin dan penelitian ini yang berlokasi
di Universitas Islam Negeri Mataram.
F. Kerangka Teori
Penelitian ini merujuk pada beberapa teori sebagai dasar
pembentukan konsep dan dasar dalam menganalisis serta
menginterpretasi data. Dasar teori penelitian ini melibatkan:
1. Pola Komunikasi Antarbudaya
Pola komunikasi terdiri dari dua kata yang memiliki hubungan
makna, saling mendukung dengan makna lainnya. Oleh karena itu,
kedua kata tersebut, "pola" dan "komunikasi," akan dijelaskan
secara terperinci. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), kata "pola" memiliki arti sebagai bentuk atau sistem, cara
atau bentuk (struktur) yang tetap, di mana pola bisa dianggap
sebagai contoh atau cetakan.8 Sedangkan menurut Alex Sobur
dalam Ensiklopedi Komunikasi menyatakan bahwa:
Pola merujuk pada bentuk atau model, bahkan dapat menjadi
suatu set peraturan yang digunakan untuk menciptakan atau
menghasilkan sesuatu, terutama jika apa yang dihasilkan memiliki
kemiripan dengan suatu pola dasar yang dapat diidentifikasi atau
terlihat, sehingga sesuatu itu dianggap menunjukkan pola.9
Pola juga dapat disebut sebagai model, yang merupakan cara
untuk merepresentasikan suatu objek dengan kompleksitas proses
internal dan hubungan antar unsur pendukungnya.10
Istilah "komunikasi" atau "communication" berasal dari bahasa
Latin, yakni "communicatos," yang artinya berbagi atau memiliki

8
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hlm 778.
9
Alex Sobur, Ensiklopedia Komunikasi (Jakarta: Simbiosa Rekatama, 2006),
hlm 376.
10
Wiryanto, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: Gramedia, 2004), hlm 9.

14
bersama. Sifatnya, "communis," memiliki arti umum atau
bersama-sama.11
Menurut kutipan Marhaeni Fajar dari Sarah Trenholm dan
Arthur Jensen, komunikasi dapat didefinisikan sebagai suatu
proses di mana sumber mengirimkan pesan kepada penerima
melalui berbagai saluran. 12
Sedangkan menurut Everett M. Rogers dan Lawrence Kincaid,
Komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih
terlibat dalam pertukaran informasi, menciptakan saling
pemahaman yang mendalam di antara mereka. 13
Jadi menurut Effendy Pola komunikasi merujuk pada suatu
proses yang disusun untuk merepresentasikan realitas dengan
menyertakan unsur-unsur yang terlibat beserta perjalanannya. Hal
ini bertujuan untuk mempermudah pemikiran secara sistematis dan
logis.14
Pola komunikasi dapat dianggap sebagai bagian integral dari
proses komunikasi, karena melibatkan serangkaian aktivitas untuk
menyampaikan pesan dan memperoleh respons dari penerima
pesan. Dalam pelaksanaan proses komunikasi, pola, model,
bentuk, serta komponen-komponen kecil yang saling terkait akan
muncul. 15
Berdasarkan definisi tersebut, penulis menyimpulkan bahwa
pola komunikasi merujuk pada gambaran interaksi antara dua
orang atau lebih dalam proses saling mengirim dan menerima
pesan dengan cara yang sesuai, sehingga pesan yang disampaikan
dapat dimengerti. Selanjutnya, akan dijelaskan proses komunikasi
yang telah dikategorikan sebagai pola komunikasi, termasuk pola
komunikasi primer, pola komunikasi sekunder, pola komunikasi
linear, dan pola komunikasi sirkular. Berikut adalah penjelasan
mengenai pola komunikasi beserta uraian masing-masing:

11
Marhaeni Fajar, Ilmu Komunikasi Teori & Praktik (Yogyakarta: Graha Ilmu,
2009), hlm 31
12
Ibid.
13
Ibid. hlm 32.

14
Onong Uchjana Effendy, Dinamika Komunikasi (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya,
1993), hlm 30.
15
Ibid., hlm 31.

15
a) Pola Komunikasi Primer
Pola komunikasi primer adalah sebuah proses dimana
komunikator menyampaikan ide atau pikiran kepada
komunikan dengan menggunakan lambang sebagai saluran atau
media. Dalam pola ini, lambang dapat terdiri dari dua jenis,
yakni lambang verbal dan lambang nonverbal.
1) Lambang verbal
Dalam perjalanan komunikasi, bahasa berfungsi
sebagai simbol verbal yang paling umum dan sering
dipakai. Ini disebabkan oleh kemampuan unik bahasa
dalam menyampaikan pemikiran komunikator
tentang berbagai hal, baik yang bersifat konkret
maupun abstrak, yang terjadi dalam berbagai periode
waktu, mulai dari masa kini, masa lalu, hingga masa
yang akan datang..16
2) Lambang nonverbal
Simbol nonverbal adalah representasi yang
digunakan dalam berkomunikasi, yang tidak
menggunakan bahasa. Contohnya termasuk suara,
isyarat menggunakan bagian tubuh, seperti kepala,
mata, bibir, tangan, dan jari. 17
Model komunikasi ini dianggap sebagai pola
klasik, karena merupakan model awal yang
dirumuskan oleh Aristoteles, kemudian
dikembangkan oleh Lasswell, serta diikuti oleh
kontribusi dari Shannon dan Weaver.18 Aristoteles
mengembangkan suatu model komunikasi yang
terdiri dari tiga elemen, yaitu:

Komunikator Pesan Komunikan

Gambar 3

16
Onong Uchjana Efendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi (Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti, 2003), hlm 33.
17
Ibid., hlm 35.
18
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi (Jakarta: Raja Grafindo
Persada,1998), hlm 45.

16
Pola Komunikasi Primer Sumber: Aristoteles

Aristoteles menguji bentuk komunikasi yang dikenal


sebagai komunikasi retoris, yang saat ini lebih umum dikenal
sebagai komunikasi publik atau pidato. Model komunikasi
ini selanjutnya dikenal sebagai komunikasi primer, di mana
penggunaan lambang atau bahasa menjadi sarana utama
dalam proses komunikasi.19
b) Pola Komunikasi Sekunder
Proses komunikasi sekunder adalah tahapan dalam
komunikasi di mana komunikator menyampaikan pesan
kepada komunikan dengan menggunakan alat atau media
sebagai pendukung setelah menggunakan lambang sebagai
media utama.20
Komunikator memanfaatkan media kedua ini karena
komunikan yang menjadi target komunikasinya berada di
lokasi yang jauh, memiliki jumlah yang banyak, atau
keduanya. Proses komunikasi sekunder ini menjadi lebih
efektif dan efisien seiring dengan kemajuan teknologi
komunikasi yang semakin canggih, didukung oleh
teknologi-teknologi lain yang bukan merupakan bagian dari
teknologi komunikasi. 21
Pola komunikasi sekunder ini terinspirasi oleh pola
komunikasi sederhana yang diperkenalkan oleh Aristoteles.
Pengaruh tersebut kemudian memotivasi Harold D. Laswell
untuk menciptakan model komunikasi yang dikenal sebagai
formula Laswell pada tahun 1948. Model komunikasi
Laswell, khususnya, sering digunakan dalam konteks
komunikasi massa. Laswell menjelaskan bahwa untuk
memahami proses komunikasi, perlu dianalisis setiap
tahapan komunikasi.22
ola komunikasi Laswell mencakup lima elemen
komunikasi, yaitu Who (siapa), Say what (mengatakan apa),

19
Ibid.
20
Dedy Mulyana, Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2010), hlm 260.
21
Ibid., hlm 216.
22
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, hlm 45.

17
In which channel (menggunakan saluran apa), to whom
(kepada siapa), dan what effect (apa efeknya).23
Oleh karena itu, pola komunikasi Laswell mencakup
lima elemen komunikasi yang terkait satu sama lain, yaitu
komunikator, pesan, media, komunikan, dan efek. Kelima
elemen dasar Laswell ini memberikan cara yang bermanfaat
untuk menganalisis proses komunikasi. Ilustrasi dari pola
komunikasi Laswell dapat dilihat sebagai berikut:

Mengatakan Melalui Kepada Apa


Siapa
Apa Apa Siapa Akibatnya

Gambar 4
Pola Komunikasi Sekunder Sumber: Lasswell

c) Pola Komunikasi Linear


Pengertian linear mengandung arti terdiri dari satu titik
ke titik lainnya secara langsung. Dalam hal ini, proses
komunikasi linear mengacu pada perjalanan pesan dari
komunikator ke komunikan sebagai titik akhir. Proses
komunikasi linear dapat terjadi baik dalam situasi tatap muka
maupun melibatkan penggunaan media.24
Proses komunikasi tatap muka, baik dalam komunikasi
antarpribadi maupun kelompok, meskipun mungkin
melibatkan dialog, terkadang dapat bersifat linear.
Sementara itu, komunikasi linear umumnya terjadi dalam
konteks komunikasi bermedia, kecuali dalam komunikasi
telepon yang lebih cenderung bersifat dialogis dengan
pertanyaan dan jawaban. Meskipun komunikasi linear
umumnya terkait dengan media, prinsip tersebut juga dapat
diterapkan dalam komunikasi tatap muka jika melibatkan
komunikasi yang pasif. 25 Berikut gambaran pola komunikasi
linear.

23
Ibid., hlm 46.
24
Ibid., hlm 38.
25
Ibid., hlm 39.

18
Sumber Decoding
Informas Transmitter Receiver
i

Sumber
Gangguan

Gambar 5
Pola Komunikasi Linear Sumber: Shannon dan Weaver

d) Pola Komunikasi Sirkular


Sirkular, secara harfiah mengartikan bulat, bundar, atau
keliling, merupakan konsep yang menekankan adanya
umpan balik atau feedback dalam proses komunikasi. Dalam
hal ini, sirkularitas mengacu pada aliran pesan yang kembali
dari komunikan ke komunikator. Feedback ini seringkali
berupa respons atau tanggapan dari komunikan terhadap
pesan yang diterimanya dari komunikator.26
Pola komunikasi sirkular ini berakar pada perspektif
interaksi, yang menyoroti bahwa komunikator atau sumber
merespons satu sama lain secara timbal balik. Perspektif
interaksional ini menitikberatkan pada tindakan simbolis
dalam evolusi proses komunikasi manusia. 27
Dalam pola komunikasi sirkular, mekanisme umpan
balik dilakukan antara komunikator dan komunikan, di mana
keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. Pada tahun
1954, Osgood bersama Schramm menetapkan peran utama
komunikator dan penerima sebagai aktor dalam proses
komunikasi. Pola sirkular ini diilustrasikan oleh Schramm. 28

26
Ibid., hlm 39-40.
27
Muhammad Arni, Komunikasi Organisasi (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm
41.
28
Ibid.

19
Message

Encoder Encoder
Interpeter Interpeter
Decoder Decoder

Message

Gambar 6
Pola Komunikasi Sirkular Sumber: Osgood dan Schramm

Dari ilustrasi pola di atas, dapat disimpulkan bahwa pola


komunikasi ini mencerminkan suatu proses komunikasi yang
dinamis, pesan mengalami tahap encoding dan decoding.
Dalam proses ini, komunikator dan komunikan memiliki
peran yang setara. Dengan adanya proses komunikasi secara
sirkular, ini menunjukkan bahwa komunikasi terus
berlangsung secara berkelanjutan. Dalam pola komunikasi
ini, tidak ada perbedaan yang mencolok antara satu
komunikan dengan komunikan lainnya. Pola komunikasi ini
dengan jelas tidak menetapkan perbedaan antara
komunikator dan komunikan. Model komunikasi
interpersonal dan praktek komunikasi dalam kelompok juga
dapat mengadopsi pola ini.
2. Teori Komunikasi Antarbudaya
Mengulas tentang komunikasi antarbudaya melibatkan dua
konsep yang kompleks, yakni budaya dan komunikasi. Para
ilmuwan sosial sering memandang keduanya sebagai hubungan
timbal balik, di mana budaya menjadi komponen integral dari
proses komunikasi. Sebaliknya, komunikasi juga memiliki

20
peran dalam menentukan, memelihara, mengembangkan, atau
mewariskan budaya. 29
Komunikasi antarbudaya merujuk pada interaksi antar
kelompok etnis yang ditandai oleh perbedaan dalam bahasa,
tradisi, dan norma budaya yang berlaku. Terdapat tiga aspek
krusial dalam memahami komunikasi antarbudaya, yaitu
persepsi, komunikasi lisan, dan komunikasi nonverbal. Ketiga
unsur ini menjadi dasar yang memengaruhi baik keberhasilan
maupun kegagalan dalam komunikasi antarbudaya 30.
a. Persepsi adalah langkah menghimpun data mengenai
lingkungan melalui indera yang dimiliki31. Persepsi tidak
selalu mencerminkan realitas yang sebenarnya. Hal ini
dikarenakan persepsi seseorang terhadap suatu hal
dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pengalaman
pribadi, situasi sosial ekonomi, kondisi lingkungan, latar
belakang suku, dan tingkat pendidikan.
b. Komunikasi verbal melibatkan penggunaan kata-kata,
baik dalam bentuk lisan maupun tertulis. Jenis
komunikasi ini sering digunakan dalam interaksi manusia
untuk menyampaikan perasaan, ekspresi emosi, ide,
gagasan, fakta, data, dan informasi. Melalui komunikasi
verbal, individu dapat saling menuangkan perasaan dan
pikiran, terlibat dalam diskusi, atau bahkan berkonflik32.
c. Komunikasi nonverbal mencakup segala bentuk isyarat
yang tidak menggunakan kata-kata. Isyarat-isyarat
nonverbal memiliki dampak yang signifikan pada
komunikasi. Pesan-pesan atau simbol-simbol nonverbal
seringkali lebih sulit diinterpretasikan daripada simbol-
simbol verbal. Bahasa verbal seringkali disertai dengan
bahasa nonverbal; sebagai contoh, ketika kita

29
Ruldiana, Poppy dan Puji Lestari, Teori Komunikasi. (Depok: PT
RajaGrafindo Persada, 2019), hlm 149.
30
Ibid.
31
Sarwono, Sarlito W, Psikologi Lintas Budaya, (Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2014), hlm 24.
32
[Link]
[Link] diakses 23 desember 2023 jam 23:45.

21
menyatakan "ya," kita biasanya mengangguk.
Komunikasi nonverbal cenderung lebih jujur dalam
menyampaikan maksud karena bersifat spontan33.
Komunikasi antarbudaya terjadi ketika pengirim pesan
(sender) berasal dari suatu budaya tertentu, sedangkan
penerima (receiver) berasal dari budaya yang berbeda.
Dalam situasi komunikasi semacam itu, timbul
permasalahan di mana pesan yang dienkripsi (encoding)
dalam satu budaya harus diuraikan kembali (decoding)
dalam budaya yang berbeda. Penting untuk
memperhatikan hal ini karena budaya memiliki pengaruh
signifikan terhadap cara orang berkomunikasi. Oleh
karena itu, untuk memastikan kelancaran komunikasi
antarbudaya, semua pihak yang terlibat harus saling
memahami budaya dan nilai-nilai budaya yang dianut
oleh mitra komunikasinya 34. Bagaimana terjadinya
komunikasi antarbudaya dapat digambarkan sebagai
berikut menurut model komunikasi antarbudaya Porter &
Larry A. Samovar dalam Ruldiana, Poppy & Puji
Lestari35.

33
Ibid.
34
Ruldiana, Poppy dan Puji Lestari, Teori Komunikasi, hlm 150.
35
Ibid.

22
Gambar 1.1: Model Komunikasi Antarbudaya

Ilustrasi tersebut memperlihatkan interaksi komunikasi


antara tiga budaya, budaya A, B, dan C. Budaya A dan B
memiliki kesamaan relatif, yang diwakili oleh bentuk segi
empat dan segi delapan tidak beraturan yang menyerupai segi
empat. Sementara itu, Budaya C secara signifikan berbeda
dengan kedua budaya sebelumnya, ditunjukkan melalui bentuk
lingkaran yang mewakili identitasnya. Perbedaan bentuk ini
terutama terlihat ketika lingkaran mencakup individu-individu
di dalamnya. Selain dari perbedaan bentuk tersebut, budaya
juga berbeda dalam hal individu yang terbentuk dari budaya
tersebut, yang direpresentasikan oleh isi lingkaran. Perbedaan
antara individu dari budaya A dan B relatif kecil, dengan
keduanya digambarkan oleh segi delapan tak beraturan. Namun,
individu dalam budaya C memiliki perbedaan yang mencolok,
terlihat dari lingkaran yang tidak utuh. Sebagai contoh, ketika
individu dari budaya A menyampaikan pesan kepada individu
dari budaya B dan budaya C, kesamaan antara budaya A dan B
membuat pesan yang diterima oleh B hanya sedikit berubah,
karena memiliki persepsi budaya yang mirip dengan A.
Sebaliknya, pesan yang diterima oleh individu dari budaya C

23
akan sangat berbeda, karena dipengaruhi oleh budaya yang
sangat berbeda pula.36 .
Ilustrasi komunikasi antarbudaya menggambarkan proses
encoding dan decoding melalui panah-panah yang
menghubungkan satu budaya dengan budaya lainnya. Panah-
panah ini mencerminkan pengiriman pesan dari individu dalam
suatu budaya kepada individu dalam budaya lain. Saat pesan
meninggalkan budaya pengirim (encoding), pesan tersebut
membawa makna yang diinginkan oleh pengirim pesan, yang
dapat dilihat dari pola yang sama dengan individu yang
melakukan encoding. Begitu pesan mencapai budaya penerima
dan disandi ulang (decoding), pesan akan mengalami
perubahan. Dengan demikian, pengaruh budaya dari pihak
penerima telah menjadi bagian dari makna pesan. Dalam
konteks komunikasi antarbudaya, makna pesan kadang-kadang
mengalami perubahan selama tahap decoding, sehingga
perilaku komunikatif dan pemahaman yang dimiliki oleh pihak
penerima tidak selalu mencakup makna yang sama seperti yang
dimiliki oleh pengirim pesan37.
Tingkat atau intensitas pengaruh budaya dalam komunikasi
antarbudaya mencerminkan sejauh mana perbedaan antara satu
budaya dengan budaya lainnya. Dalam gambar, tingkat
perbedaan antarbudaya tercermin melalui perubahan pola
panah-panah pesan. Perubahan panah dari budaya A ke budaya
B, atau sebaliknya, lebih kecil dibandingkan dengan perubahan
panah dari budaya A ke budaya C. Hal ini disebabkan oleh
tingkat kesamaan yang lebih besar antara budaya A dan budaya
B. Perilaku komunikatif, makna, dan decoding antarbudaya A
dan budaya B relatif serupa, sehingga menghasilkan makna
yang mendekati maksud pengirim pesan. Namun, karena
budaya C memiliki perbedaan signifikan dari kedua budaya
sebelumnya, makna yang diterima juga berbeda dari maksud
yang dimaksudkan oleh pengirim pesan. 38.

36
Ibid, hlm 151-152.
37
Ibid.
38
Ibid.

24
Model ini memberikan petunjuk mengenai beragamnya
perbedaan budaya dalam konteks komunikasi antarbudaya.
Proses komunikasi antarbudaya terjadi dalam berbagai situasi,
mulai dari interaksi yang melibatkan individu dengan
perbedaan budaya yang sangat ekstrem hingga interaksi antara
individu yang memiliki kesamaan budaya tetapi perbedaan pada
subbudaya dan subkelompoknya. Besarnya perbedaan antara
satu budaya dengan budaya lainnya bergantung pada tingkat
keunikan suatu budaya jika dibandingkan dengan budaya
lainnya.
Dalam penelitian ini, akan diulas pola komunikasi
antarbudaya antara mahasiswa asal Sumbawa, Bima, dan
Dompu dengan mahasiswa Lombok yang berasal dari etnik
Lombok. Beberapa mahasiswa dengan latar belakang budaya
yang berbeda akan dijadikan pembanding untuk melihat
terjalinnya komunikasi antarbudaya, dengan
mempertimbangkan faktor-faktor seperti penampilan fisik,
agama, filsafat, sikap sosial, bahasa, dan tingkat perkembangan
teknologi.
Komunikasi antarbudaya menjadi fokus dalam bidang studi
ilmu komunikasi. Sebagai objek formal, komunikasi
antarbudaya telah menjadi bidang kajian yang memiliki teori-
teori khusus. Teori-teori tersebut memiliki kegunaan untuk
membahas isu-isu antarbudaya yang bersifat manusiawi,
khususnya dalam menggeneralisasi konsep komunikasi antara
individu yang berasal dari budaya yang berbeda, serta
membahas dampak kebudayaan terhadap kegiatan
komunikasi. 39.
Tubbs dan Moss dalam Sihabudin 40, Komunikasi
antarbudaya melibatkan interaksi antara individu-individu yang
berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, yang
mencakup perbedaan ras, etnis, atau tingkat sosioekonomi.

39
Hadiono,
Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII-D SMPN 2 Kamal Materi

2016.
40
Ahmad Sihabudin, Komunikasi Antarbudaya, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013),
hlm 13.

25
Menurut Young Yung Kim dalam Suranto41, Komunikasi
antarbudaya mengacu pada kejadian komunikasi di mana
peserta memiliki asal budaya yang berbeda dan terlibat dalam
interaksi satu sama lain, baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Dalam bukunya Alo Liliweri42 mengutip dari beberpa ahli
mengemukakan pendapatnya tentang definisi komunikasi
antarbudaya sebagai berikut:

a. Andrea L. Rich dan Dennis M. Ogawa


Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-
orang yang berbeda kebudayaan, misalnya antar suku

b. Samovar dan Porter

antara produser pesan dan penerima pesan yang latar


belakang
c. Charley H. Dood

komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang


mewakili pribadi, antarpribadi, dan kelompok dengan
tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang
mempengaruhi
d. Lustig dan Koester

simbolikm interpretatif, transaksional, kontekstual yang


dilakukan oleh sejumlah orang karena memiliki perbedaan
derajat kepentingan tertentu, memberikan interpretasi dan
harapan secara berbeda terhadap apa yang disampaikan
dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna yang

e. Intercultural Communication (ICC)

41
Suranto, Komunikasi Sosial Budaya, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), hlm 32.

42
Liliweri, Alo, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hlm 10-11.

26
interaksi antar
pribadi antara seorang anggota dengan kelompok yang

f. Guo-Ming Chen dan Willdiam J. Starosta

proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang


membimbing perilaku manusia dan membatasi mereka
dalam menjalankan fungsinya sebagai
g. Young Yung Kim

komunikasi di mana pesertanya masing-masing memiliki


latar belakang budaya yang berbeda terlibat dalam suatu
kontak antara satu dengan yang lainnya, baik secara
43

Berdasarkan beberapa definisi komunikasi antarbudaya di


atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi antarbudaya
melibatkan interaksi antara individu dengan individu lainnya,
atau antara individu dengan kelompok, yang memiliki latar
belakang budaya yang berbeda, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dengan tujuan mencapai suatu tujuan tertentu.
Oleh karena itu, interaksi dan komunikasi yang terjadi
memerlukan adanya sikap toleransi untuk saling memahami.
Selain itu, tujuan lain dari komunikasi antarbudaya adalah 44:
a. Menyadari dampak praktik komunikasi oleh perbedaan
latar belakang sosial budaya.
b. Mengenali tantangan yang timbul dalam komunikasi
antarbudaya.
c. Memperbaiki keterampilan berkomunikasi, baik verbal
maupun nonverbal.
d. Membuat kita mampu berkomunikasi dengan efektif.
Dalam pembahasan mengenai komunikasi antarbudaya,
seringkali kita mendengar istilah komunikasi lintas budaya.
Meskipun ada sedikit perbedaan antara konsep komunikasi
antarbudaya dan komunikasi lintas budaya. Komunikasi

43
Ibid.
44
Suranto, Komunikasi Sosial Budaya, hlm 32.

27
antarbudaya mengacu pada interaksi komunikatif antara dua
orang atau lebih yang memiliki latar belakang budaya yang
berbeda, tetapi peserta dalam komunikasi tersebut berasal dari
satu negara. Di sisi lain, komunikasi lintas budaya lebih
menekankan pada proses komunikasi antara individu atau
kelompok dari berbagai negara yang dipengaruhi oleh
perbedaan latar belakang budaya mereka.
Pada dasarnya, esensi dari proses komunikasi
antarbudaya mirip dengan proses komunikasi lainnya, yaitu
merupakan suatu interaksi yang bersifat transaksional dan
dinamis45. Komunikasi antarbudaya interaktif merujuk pada
suatu bentuk komunikasi di mana komunikator berinteraksi
dengan komunikan secara dua arah, namun masih berada pada
tingkat rendah. Jika proses pertukaran pesan tersebut mencapai
tingkat yang lebih tinggi, seperti pemahaman, mengerti
perasaan, dan berbagi tindakan, maka komunikasi telah
berkembang menjadi tahap transaksional. Komunikasi
transaksional melibatkan tiga aspek kunci, yaitu: (1)
keterlibatan emosional yang intens, yang berlangsung secara
berkelanjutan selama pertukaran pesan; (2) peristiwa
komunikasi melibatkan serangkaian waktu, terkait dengan masa
lalu, kini, dan masa depan; dan (3) partisipan dalam komunikasi
antarbudaya memiliki peran masing-masing46.
Proses komunikasi interaktif maupun transaksional
memiliki sifat dinamis, karena berlangsung dalam konteks
sosial yang senantiasa hidup, berkembang, dan dapat berubah-
ubah sesuai dengan waktu, situasi, serta kondisi tertentu. Dalam
konteks komunikasi antarbudaya, kebudayaan menjadi
pendorong atau elemen yang memberi kehidupan pada proses
komunikasi [Link] Liliweri47 menyebutkan unsur-unsur
proses komunikasi antarbudaya meliputi:

45
Liliweri, Alo, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, hlm 24.
46
Ibid., hlm 25
47
Ibid., hlm 25-31

28
a. Komunikator
Komunikator dalam komunikasi antarbudaya adalah
pihak yang memprakarsai komunikasi, artinya dia
mengawali pengiriman pesan tertentu kepada pihak lain
yang disebut komunikan. Dalam komunikasi antarbudaya
seorang komunikator berasal dari latar belakang
kebudayaan tertentu, misalnya kebudayaan A yang berbeda
dengan komunikan yang berkebudayaan B.
b. Komunikan
Komunikan adalah pihak yang menerima pesan.
Dalam memahami pesan sangat tergantung dari tiga bentuk
pemahaman, yakni: (1) kognitif, komunikan menerima isi
pesan sebagai sesuatu yang benar; (2) afektif, komunikan
percaya bahwa pesan itu tidak hanya benar tetapi baik dan
disukai; dan (3) overt action atau tindakan nyata, di mana
seorang komunikan percaya atas pesan yang benar dan baik
sehingga mendorong tindakan yang.
c. Pesan/ Simbol
Dalam proses komunikasi, pesan berisi pikiran, ide
atau gagasan, perasaan yang dikirim komunikator kepada
komunikan dalam bentuk simbol. Simbol adalah sesuatu
yang digunakan untuk mewakili suatu maksud tertentu baik
verbal atau nonverbal. Setiap pesan mengandung aspek
utama: content and treatment, yaitu isi dan perlakuan. Isi
pesan meliputi aspek daya tarik pesan, misalnya
kontroversi, keaktualan (baru), argumentatif, rasional atau
emosional. Sedangkan perlakuan atas pesan berkaitan
dengan penjelasan atau penataan isi pesan oleh
komunikator. Pilihan isi perlakuan atas pesan tergantung
dari keterampilan komunikasi, sikap, tingkat pengetahuan,
posisi dalam sistem sosial dan kebudayaan.
d. Media
Media adalah tempat atau jalur yang digunakan
untuk menyampaikan pesan atau simbol, baik melalui
media tertulis maupun media massa. Namun, terkadang
pesan-pesan tersebut tidak disampaikan melalui media,
terutama dalam komunikasi antarbudaya tatap muka. Para
ahli sosial umumnya sepakat mengenai dua jenis jalur

29
komunikasi, yaitu (1) saluran sensoris, yang mentransfer
pesan agar dapat diresapi oleh lima indra manusia, yaitu
mata, telinga, tangan, hidung, dan lidah; (2) sarana
institusional, yang merupakan saluran yang sudah umum
dikenal dan digunakan oleh manusia, seperti percakapan
tatap muka dan media massa. Setiap saluran institusional
membutuhkan dukungan dari satu atau lebih saluran
sensoris untuk memperlancar pertukaran pesan dari
komunikator kepada komunikan.48.
e. Efek atau Umpan Balik
Tanggapan balik atau umpan balik adalah respons
yang diberikan oleh Pesan yang telah disampaikan oleh
komunikan kepada komunikator terkait dengan pesan
tersebut. Dalam konteks komunikasi antarbudaya, tanpa
adanya umpan balik, komunikator dan komunikan tidak
dapat sepenuhnya memahami ide, pemikiran, dan perasaan
yang terkandung dalam pesan tersebut.
f. Suasana (Setting dan Context)
Konteks komunikasi antarbudaya melibatkan
elemen-elemen seperti lokasi (ruang, tempat), waktu
(jadwal, durasi), dan suasana (kondisi sosial dan
psikologis) saat berlangsungnya komunikasi. Hal ini
melibatkan pertimbangan tentang waktu yang sesuai untuk
berkomunikasi, serta lokasi yang tepat (rumah, kantor,
tempat ibadah) untuk berinteraksi. Kualitas hubungan
(formalitas, informalitas) juga memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap dinamika komunikasi antarbudaya.
g. Gangguan (Noise atau Interference)
Gangguan dalam komunikasi antarbudaya mencakup
semua faktor yang dapat menghambat aliran pesan yang
dipertukarkan antara komunikator dan komunikan, bahkan
dapat secara signifikan mengurangi makna pesan
antarbudaya. Terdapat tiga jenis hambatan utama: (1) Fisik,
yang melibatkan intervensi terhadap transmisi fisik isyarat
atau pesan, seperti kebisingan dari mobil yang melintas,

48
Ibid.

30
suara komputer, atau kacamata; (2) Psikologis, yang
melibatkan intervensi kognitif atau mental, seperti
prasangka dan bias dalam pikiran sumber atau penerima;
dan (3) Semantik, yang melibatkan pemberian makna yang
berbeda oleh pembicara dan pendengar, contohnya
berbicara dalam bahasa yang berbeda, menggunakan
jargon atau istilah yang terlalu kompleks yang tidak
dipahami oleh pendengar.
Dalam komunikasi antarbudaya, kita tentu menghadapi
hambatan dan masalah komunikasi yang serupa dengan bentuk-
bentuk komunikasi lainnya. Hambatan dalam komunikasi
antarbudaya timbul dari tiga faktor utama, yakni faktor
psikologis, faktor ekologis, dan faktor mekanis. Faktor
psikologis terkait dengan kondisi mental seseorang yang dapat
mempengaruhi dinamika komunikasi, baik secara positif
maupun negatif. Faktor ekologis berkaitan dengan pengaruh
luar yang memengaruhi partisipan komunikasi, seperti
perbedaan sosial ekonomi atau kondisi lingkungan, termasuk
kebisingan, hujan, petir, dan faktor alam lain yang mungkin
memengaruhi komunikasi. Sementara faktor mekanis
berhubungan dengan media atau teknologi yang digunakan
dalam berkomunikasi, seperti pertemuan langsung, festival,
telekonferensi, obrolan daring, dan lainnya 49.
Selain ketiga hambatan tersebut, hambatan yang timbul dari
perbedaan budaya memiliki dampak yang signifikan pada
terbentuknya komunikasi antara komunikator dan komunikan.
Purwasito mengungkapkan bahwa hambatan yang muncul
akibat perbedaan kebudayaan lebih terlihat pada faktor
heterofili, yang dapat menghambat kelancaran komunikasi.
Kelancaran komunikasi dapat dicapai lebih baik jika partisipan
komunikasi memiliki kesamaan atau homofili dalam mencapai
tujuan komunikasi.
Hambatan-hambatan dalam komunikasi yang terkait dengan
faktor budaya bisa dikelompokkan sebagai berikut 50:

49
Shoelhi, Mohammad, Komunikasi Lintas Budaya dalam Dinamika
Komunikasi Internasional, hlm 17-18.
50
Ibid.

31
a. Perbedaan norma sosial
Norma sosial merujuk pada aturan, kebiasaan, tata
karma, adat istiadat, dan keyakinan yang diwariskan
secara turun-temurun, memberikan pedoman kepada
individu untuk berperilaku dan berinteraksi dalam
kehidupan masyarakat. Diversitas etnik menyebabkan
variasi dalam norma sosial, yang dapat menyebabkan
perbedaan nilai-nilai dan potensial konflik. Apa yang
dianggap baik dalam kebiasaan dan adat istiadat oleh
suatu kelompok masyarakat belum tentu dianggap baik
oleh kelompok masyarakat lain. Untuk mencegah
terjadinya hambatan, penting bagi komunikator untuk
mempertimbangkan apakah pesan yang disampaikan
sesuai dengan norma sosial yang [Link]
Etnosentrisme adalah penilaian terhadap kebudayaan
lain atas dasar nilai dan standar budaya sendiri. Dalam
etnosentrisme sebuah komunitas menganggap budaya
superior dibanding budaya lain. Peserta komunikasi yang
berbeda budaya dapat menggagalkan komunikasi.
b. Stereotip dan prasangka
Stereotip merupakan pandangan umum terhadap
karakteristik suatu Masyarakat mengelompokkan
individu berdasarkan prasangka yang bersifat subyektif
dan tidak akurat. Stereotip dapat menjadi penghambat
dalam komunikasi antarbudaya karena individu yang
bersikap stereotip cenderung memandang orang di luar
kelompoknya sebagai kelompok yang berbeda atau
"outgroup".
c. Perbedaan perspektif
Perspektif merujuk pada sudut pandang seseorang
terhadap objek, benda, atau peristiwa yang didasarkan
pada pengamatan individu tersebut. Cara pandang
seseorang sangat dipengaruhi oleh budaya yang
dianutnya. Kesamaan persepsi dapat memfasilitasi dan
meningkatkan kelancaran dalam berkomunikasi.

32
d. Perbedaan pola pikir
Pola pikir terkait dengan upaya seseorang dalam
mencari kebenaran dengan mengandalkan rasionalitas.
Setiap individu atau kelompok cenderung memiliki pola
pikir yang berbeda-beda, dipengaruhi oleh pengalaman
dan acuan yang mereka gunakan. Pola pikir memainkan
peran yang signifikan dalam menentukan reaksi,
rangsangan, dan tanggapan individu ketika
berkomunikasi dengan orang yang berasal dari budaya
yang berbeda.
e. Faktor Bahasa
Komunikasi sering mengalami kendala utama ketika
peserta komunikasi tidak memiliki kesamaan bahasa,
menjadikan bahasa sebagai penghalang utama.
f. Faktor sintaksis dan semantic
Hambatan semantik dapat muncul dalam berbagai
bentuk. Pertama, terdapat perbedaan dalam pengertian
konotatif atau denotatif. Kedua, terdapat perbedaan
makna dan pemahaman atas kata atau istilah yang sama,
disebabkan oleh faktor psikologis. Ketiga, komunikator
bisa keliru dalam menyampaikan kata-kata karena
tergesa-gesa.
g. Ketidakmerataan Pendidikan
Kesenjangan pendidikan antara masing-masing
masyarakat sering menyebabkan terjadinya kegagalan
komunikasi.
h. Gegar budaya
Gegar budaya merupakan Disorientasi psikologis
terjadi ketika seseorang pindah ke suatu lingkungan
budaya yang berbeda dari budaya asal mereka. Adapun
berada dalam lingkungan budaya yang berbeda dapat
menimbulkan perasaan canggung pada individu, sehingga
mengakibatkan komunikasi menjadi kurang efektif dan
terhambat51.

51
Ibid., hlm 17-25.

33
Di samping masalah-masalah yang terjadi di atas, ada pula
yang dikemukakan dalam pola komunikasi yang harus
diperhitungkan dalam sistem sosial, yaitu: Katz tahun 1982
dikutip dari buku52 Hutauruk, Gunawan:
a. Kurangnya perencanaan berkomunikasi
Komunikasi efektif jarang terjadi tanpa
perencanaan. Seringkali, orang mulai berbicara atau
menulis tanpa mempertimbangkan secara matang,
merencanakan, atau menyatakan tujuan pesan terlebih
dahulu. Meskipun pemilihan saluran yang sesuai dan
penentuan waktu yang tepat memiliki peran penting dalam
meningkatkan pemahaman serta mengurangi penolakan
terhadap perubahan.
b. Asumsi yang tidak jelas
Meskipun sangat penting, tetapi yang sering terjadi
diabaikan adalah asumsi yang mendasari pesan yang tidak
dikomunikasikan.
c. Distorsi semantic
Hambatan lain bagi komunikasi yang efektif adalah
yang mungkin disengaja atau tidak disengaja.
d. Pesan yang diungkapkan secara tidak baik

Penggunaan kalimat yang tidak tepat, kurang


diperhatikan struktur kalimatnya. Sehingga implikasi pesan
yang disampaikan tidak mampu dijelaskan.
e. Kurang menyimak dan evaluasi terlalu dini

Terdapat banyak pembicara tetapi hanya sedikit orang


menyimak. Setiap orang barangkali pernah mengamati
orang-orang mengikuti diskusi dengan komentar-komentar
yang tidak berkaitan dengan topik diskusi.

52
Hutauruk, Gunawan, manajemen 2. (jakarta: Erlangga, 1989), hlm 182

34
f. Komunikasi impersonal
Komunikasi yang efektif melibatkan lebih dari
sekadar usaha untuk menyampaikan informasi. Peristiwa
ini menunjukkan bahwa peningkatan komunikasi yang
efektif seringkali tidak bergantung pada penggunaan
media komunikasi yang mahal dan canggih (serta bersifat
impersonal), melainkan dapat tercapai melalui komunikasi
tatap muka.
g. Ketidakpercayaan, ancaman, dan rasa takut
Ketidakpercayaan seorang atasan yang berasal dari
perilaku yang tidak konsisten, dalam suasana yang berisi
faktor-faktor itu,s etiap pesan akan dipandang dengan
skeptis.

3. Teori Interaksi Simbolik


Herbert Blumer yang mengenalkan teori interaksi simbolik
melalui tulisan di jurnal Abdi Fauji Hadiono. 53 mengawali
pemikirannya mengenai interaksi simbolik dengan tiga dasar
pemikiran penting sebagai berikut:
a. Perilaku manusia tergantung pada makna yang diberikan
kepadanya terkait dengan berbagai hal.
b. Makna tersebut berasal dari interaksi sosial yang telah
dilakukan dengan orang lain.
c. Makna-makna tersebut dikelola dan diubah melalui proses
penafsiran yang digunakan oleh individu yang terlibat
dengan hal-hal yang dihadapinya.
Perspektif interaksi simbolik berfokus pada pemahaman
perilaku manusia melalui pendekatan simbolik, di mana
komunikasi terjadi baik melalui bahasa verbal maupun
nonverbal. Blumer menekankan bahwa proses sosial

53

Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII-D SMPN 2 Kamal Materi
Sains, Universitas Trunojoyo Madura Bangkalan, Vol. 3, No. 2.
2016.

35
melibatkan interaksi komunikasi antar anggota kelompok yang
membentuk kesepakatan terkait norma dan aturan kelompok.
Kesepakatan ini bersifat dinamis dan dapat berubah seiring
dengan perkembangan proses sosialKegagalan dalam
menggunakan simbol-simbol yang tidak sesuai dengan
kesepakatan bisa mengakibatkan sanksi sosial, seperti
cemoohan, penolakan, atau kehilangan kepercayaan. Hal ini
mendorong anggota kelompok untuk mematuhi kesepakatan
dan budaya kelompok mereka54.
Teori interaksi simbolik terkait erat dengan apa yang
disampaikan. Sebagai perspektif penelitian, fokusnya adalah
memahami bagaimana mahasiswa asal Sumbawa, Bima, dan
Dompu menyesuaikan diri dalam lingkungan baru. Penelitian
bertujuan untuk mengidentifikasi hambatan-hambatan yang
dihadapi mahasiswa selama proses penyesuaian dan untuk
mengevaluasi perubahan-perubahan yang dirasakan oleh
mereka dalam konteks komunikasi antarbudaya.
4. Teori Persepsi
Komunikasi antar pribadi merupakan bentuk komunikasi
yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk
menjalankan komunikasi antar pribadi secara efektif, kita perlu
memahami teori persepsi dalam konteks tersebut. Hal ini
dikarenakan cara kita berkomunikasi dengan orang lain sangat
dipengaruhi oleh persepsi kita terhadap proses komunikasi dan
konteks komunikatif yang terjalin. Dalam pembahasan ini, kita
akan secara singkat membahas teori persepsi dalam konteks
komunikasi antar pribadi55.
Seorang ahli yang membahas topik persepsi adalah Joseph
A. DeVito. Menurutnya, Persepsi adalah proses kesadaran
individu terhadap objek atau peristiwa, terutama dalam
hubungannya dengan orang lain yang diinterpretasikan melalui
panca indera. Dari penjelasan tersebut, terdapat dua aspek kunci
dari persepsi, yaitu persepsi terhadap objek dan persepsi

54
Ibid.
55
Ibid.

36
terhadap individu. Namun, lebih dari sekadar kesadaran,
persepsi juga melibatkan suatu proses interpretasi yang
memungkinkan individu untuk memahami makna dari apa yang
mereka lihat atau alami. Terdapat berbagai faktor yang
memengaruhi proses persepsi individu, seperti yang
diungkapkan oleh Rakhmat, terutama dalam konteks persepsi
interpersonal.
Suatu persepsi akan melalui suatu rangkaian proses tertentu.
Dalam hal ini, persepsi dalam komunikasi antar personal
memiliki serangkaian tahapan, yang menurut DeVito
melingkupi stimulasi, organisasi, interpretasi dan evaluasi,
memori dan pengingatan. Detail dari masing-masing proses
tersebut, di antaranya adalah sebagai berikut 56:
a. Stimulasi
Proses awal dalam suatu interaksi persepsi antar
pribadi dimulai dengan rangsangan terhadap indera yang
dimiliki oleh individu. Dalam menghadapi berbagai stimulus
yang mungkin diterima, manusia memiliki keterbatasan
untuk menangkap semua rangsangan tersebut. Oleh karena
itu, hanya beberapa hal yang dianggap penting yang akan
difokuskan, Memperhatikan keterbatasan manusia dalam
menangkap semua rangsangan. Proses ini terutama
dipengaruhi oleh perhatian selektif dan terpaan selektif, di
mana individu akan cenderung hanya memilih beberapa
stimulus dari lingkungan sekitar yang dianggap menarik atau
yang memperkuat pandangan mereka sebelumnya 57.
b. Organisasi
Setelah menerima semua rangsangan, kita akan
mengelola informasi-informasi tersebut dengan cepat
melalui suatu proses organisasi. Ada berbagai cara
pengaturan stimulus, Melibatkan kesamaan dan perbedaan,
skemata, atau merujuk pada kejadian yang umumnya terjadi.
Mengelompokkan stimulus berdasarkan persamaan dan

56
Ibid.
57
Ibid.

37
perbedaan membantu organisasi dengan merujuk pada
informasi sebelumnya yang didasarkan pada perbedaan atau
persamaan dengan hal lain yang telah diperhatikan. Sebagai
contoh, jika seseorang memakai cincin di jari manisnya, kita
mungkin akan mengasumsikan bahwa orang tersebut sudah
menikah.
Organisasi berdasarkan skemata melibatkan proses
mental yang menghubungkan prasangka terhadap
karakteristik tertentu. Sebagai contoh, kita mungkin
memiliki prasangka bahwa orang tampan atau cantik
cenderung pintar, sehingga ketika melihat orang yang
tampan atau cantik, kita mungkin berasumsi bahwa dia
pintar. Sementara itu, organisasi berdasarkan rujukan
rangkaian peristiwa umumnya merujuk pada upaya
memahami bagaimana suatu proses kejadian berlangsung,
seperti langkah-langkah dalam memasak yang melibatkan
persiapan bahan, pengupasan. Dalam proses tersebut,
pengaruh konsep diri pada komunikasi interpersonal dapat
teramati.
c. Interpretasi dan evaluasi
Setelah mengatur data yang dimiliki, langkah
berikutnya adalah interpretasi dan evaluasi. Tahap ini
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pengalaman,
kebutuhan, keinginan, nilai-nilai, dan keyakinan terhadap
bagaimana sesuatu seharusnya, harapan, pernyataan fisik
dan emosi, dan sebagainya, sehingga dapat bersifat
subjektif. Oleh karena itu, penilaian sebaiknya tidak hanya
berdasarkan persepsi, karena penting untuk membuktikan
apa yang telah kita persepsikan. Proses ini membantu
pemahaman terhadap dampak persepsi dalam komunikasi
interpersonal.
d. Memori
Setelah melewati tahap interpretasi dan evaluasi,
langkah selanjutnya adalah memori. Pada tahap ini, hasil
interpretasi dan evaluasi akan disimpan dalam memori
jangka pendek, yang nantinya bisa digunakan untuk

38
memulai komunikasi atau interaksi dengan lawan bicara.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa proses ini
berlangsung dengan cepat dan hampir tidak terlihat58.
e. Pengingatan
Langkah untuk mengingat hasil dari persepsi
sebenarnya tidak termasuk dalam proses terjadinya persepsi
itu sendiri. Lebih tepatnya, dapat dijelaskan sebagai suatu
proses mengingat kembali hasil persepsi yang telah dimiliki
sebelumnya. Dengan kata lain, proses ini tidak terjadi secara
bersamaan dengan empat tahap di atas. Sebaliknya, subjek
akan mengalami langkah ini setelah melewati suatu proses
persepsi tertentu dan berusaha mengingatnya untuk
keperluan lain dalam konteks peristiwa yang berbeda. Hal ini
dapat menjadi salah satu aspek yang dipengaruhi oleh
budaya dalam konteks komunikasi interpersonal.

G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Dari segi jenisnya, studi ini dapat dikategorikan sebagai
penelitian deskriptif, yaitu suatu penelitian yang menggambarkan
dan menjelaskan objek tertentu secara sistematis dengan fokus
pada fakta-fakta atau karakteristik dari suatu populasi dalam
bidang khusus. Penelitian ini memiliki sifat deskriptif karena
tujuannya adalah untuk memberikan gambaran yang faktual,
akurat, dan sistematis mengenai fakta serta sifat dari Pendekatan
deskriptif digunakan untuk meneliti suatu populasi atau objek
tertentu dengan tujuan untuk membuat kesimpulan umum.
Pemilihan metode deskriptif disesuaikan dengan jenis data yang
akan dikumpulkan, yaitu data berupa kata-kata dan bukan angka.
Penelitian ini mengambil pendekatan kualitatif, yang
bertujuan untuk merinci fenomena melalui pengumpulan data
secara mendalam. Tujuan penelitian kualitatif tidak selalu mencari
penyebab dan akibat suatu peristiwa, tetapi lebih berorientasi pada
pemahaman mendalam terhadap situasi tertentu untuk mencapai
kesimpulan yang objektif. Metode kualitatif berusaha untuk

58
Ibid.

39
menggali dan menginterpretasikan masalah dengan cara yang lebih
alami. menurut Denzin dan Lincoln (1987), penelitian kualitatif
adalah penelitian yang dilakukan dengan cara yang alami, dengan
maksud untuk menafsirkan fenomena yang terjadi dan melibatkan
berbagai metode yang tersedia. 59.
2. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini melibatkan dua
aspek:
Data yang diperoleh secara langsung dari lapangan penelitian,
termasuk data dari kuesioner yang dibagikan atau wawancara
langsung dengan sumbernya, yang melibatkan mahasiswa dari
Lombok dan mahasiswa dari Sumbawa, Bima, serta Dompu.
Data yang tidak diperoleh secara langsung dari lapangan
penelitian. Proses pengambilannya bersumber dari data pendukung
untuk penelitian yang sedang dilakukan, seperti dokumen dan
literatur.
Penting bagi peneliti untuk memilih dan menentukan sumber
data dengan cermat, karena akurasi dalam pemilihan jenis sumber
data akan mempengaruhi kualitas dan keberagaman data atau
informasi yang diperoleh. Sumber data dalam penelitian ini
mencakup:
a. Informan
Sumber data dalam penelitian ini adalah responden yang
merupakan individu manusia. Dalam penelitian ini, informan
terdiri dari mahasiswa asal Lombok dan mahasiswa yang
berasal dari Sumbawa, Bima, serta Dompu yang berkuliah di
Universitas Islam Negeri Mataram, yang berjumlah total 9
orang sebagai berikut, 5 orang asal Lombok, 2 orang asal
Sumbawa, 1 orang asal Bima, 1 orang asal Dompu.
b. Peristiwa atau aktivitas
Informasi atau data yang diperoleh berasal dari peristiwa,
kegiatan, atau tingkah laku yang menjadi sumber data terkait

59
Moleong, J Lexy, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja
Rosdankarya, 2009).

40
dengan tujuan penelitian. Dalam konteks ini, peneliti
mengamati kegiatan yang dilakukan oleh para informan dalam
kehidupan mereka.
c. Tempat atau lokasi
Tempat atau lokasi yang terkait dengan tujuan atau masalah
peneliti dapat digunakan sebagai sumber data oleh peneliti.
Informasi mengenai kondisi lokasi peristiwa atau aktivitas
dapat diperoleh melalui penelusuran pada sumber lokasi,
termasuk tempat dan lingkungannya. Dalam hal ini,
lingkungan tersebut terletak di sekitar kampus Universitas
Islam Negeri Mataram.
3. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini,
maka peneliti menggunakan beberapa metode dalam proses
pengumpulan data. Adapun data yang digunakan untuk
mengumpulkan data di lapangan adalah metode observasi,
wawancara dan dokumentasi.
a. Metode Observasi

Observasi digunakan untuk melihat perilaku manusia


sebagai peristiwa aktual, memungkinkan peneliti untuk
mengamati tingkah laku sebagai suatu proses, serupa dengan
cara menanggapi angket atau wawancara. Fokus utama
observasi adalah menyajikan gambaran-gambaran sosial,
sementara metode ini dapat dipadukan dengan cara-cara lain
secara simultan untuk mendapatkan pemahaman
menyeluruh terhadap realitas penelitian yang dilakukan oleh
seorang peneliti. 60
Observasi ini dilakukan untuk melihat aktifitas
kegiatan yang ada di UKM Olahraga, bagaimana mereka
berkomunikasi dan apa saja hambatan yang mereka alami
dalam melakukan komunikasinya selama berkegiatan di
UKM Olahraga.

60
James Black A, Metode dan Masalah Penelitian Sosial (Bandung: PT Refika
Aditama
1999) hlm. 287.

41
b. Metode Wawancara
Wawancara adalah metode pengumpulan data yang
melibatkan komunikasi langsung antara peneliti dan
responden. Komunikasi ini terjadi melalui pertanyaan yang
diajukan oleh peneliti kepada responden dalam pertemuan
tatap muka. Wawancara merupakan bentuk percakapan yang
diarahkan pada tujuan tertentu, melibatkan dua pihak, yaitu
pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan responden
yang memberikan tanggapan terhadap pertanyaan tersebut 61.
Wawancara dilakukan dengan tujuan untuk
menggambarkan konstruksi saat ini dalam suatu konteks
terkait dengan berbagai aspek, seperti individu, peristiwa,
aktivitas, organisasi, perasaan, motivasi, tanggapan, persepsi,
tingkat dan bentuk keterlibatan, dan sebagainya. Pendekatan
wawancara mendalam ini tidak mengikuti format yang ketat,
terstruktur, tertutup, atau formal sebaliknya, lebih
menekankan suasana akrab dengan menggunakan pertanyaan
terbuka. Pelaksanaan wawancara yang bersifat fleksibel dan
santai ini bertujuan untuk menggali dan menangkap informasi
dengan kejujuran, terutama ketika informasi yang dicari
terkait dengan pendapat, menggunakan pedoman wawancara
umum seperti daftar pertanyaan yang telah disiapkan
sebelumnya dapat membantu memfasilitasi jalannya
wawancara di lapangan.
Mewawancara informan dari UKM Olahraga untuk
mengetahui bagaimana pola mereka dalam berkomunikasi
selama di UKM Olahraga dan apa saja hambatan yang ada
dalam berkomunikasi disaat mereka berkegiatan yang
dilakukan secara langsung dan menggunakan pertanyaan yang
sudah disiapkan oleh peneliti.
c. Metode Dokumentasi
Menurut Sugiyono62 dokumen merupakan rekaman
peristiwa yang telah terjadi di masa lalu dan dapat berupa

61
Moleong, J Lexy, Metodelogi Penelitian Kualitatif, hlm 135.
62
Sugiyono, Metodelogi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung:
Alfabeta, 2012), hlm 240.

42
tulisan, gambar, atau karya monumental individu. Contoh
dokumen berbentuk tulisan mencakup catatan harian, sejarah
kehidupan (life histories), cerita, biografi, peraturan, dan
kebijakan. Dokumen berbentuk gambar dapat berupa foto,
gambar hidup, sketsa, dan lainnya, sedangkan dokumen
berbentuk karya mencakup karya seni seperti gambar, patung,
film, dan sebagainya. Penggunaan studi dokumen menjadi
pelengkap dalam penelitian kualitatif bersama metode
observasi dan wawancara.
Dokumentasi UKM Olahraga dimana peneliti memotret
informan dan meminta data kegiatan yang sudah di lakukan
oleh UKM Olahraga dalam cabang olahraganya maupun
kegiatan atau acara besar dari UKM Olahraga itu sendiri.

4. Teknik Analisis Data


Analisis data merupakan melakukan kajian untuk
memahami struktur suatu fenomena-fenomena yang berlaku
di lapangan. Analisis data dapat dilakukan melalui tiga
langkah yaitu:
a. Reduksi data
Reduksi data merupakan tahap dalam penelitian di
mana peneliti mengumpulkan data sepanjang waktu untuk
mendapatkan sejumlah besar informasi, terutama dengan
menerapkan metode observasi, wawancara, atau
mengakses berbagai dokumen yang relevan dengan
subjek penelitian. 63
b. Penyajian data
Dalam penelitian kualitatif, data dapat disajikan
melalui uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori,
dan format lainnya. Miles dan Huberman menyatakan
bahwa penyajian data dalam penelitian kualitatif
umumnya menggunakan teks naratif sebagai bentuk yang
paling umum digunakan.
c. Verifikasi data

63
Iskandar, Metodelogi Penelitian dan Sosial, (Jakarta: Refrensi 2013) hlm. 225.

43
Verifikasi data adalah tahap analisis yang lebih
lanjut setelah proses reduksi data dan penyajian data
selesai. Selama tahap ini, peneliti memiliki kesempatan
untuk menerima masukan atau feedback tambahan.64

Gambar 1.2
Bagan Model Interaktif Miles and Hubberman 201

H. Validitas Data
Bertujuan untuk membuktikan bahwa apa yang diteliti
atau diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang sesungguhnya
ada dalam kenyataan, guna memperoleh keabsahan data atau data
yang valid diperlukan teknik pemeriksaan, agar diperoleh
temuan-temuan dan informasi yang absah dan valid dapat
digunakan sebagai berikut:
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis hanya akan
menggunakan dua teknik pemeriksaan, agar temuan-temuan
dalam penelitian valid, yaitu:
1. Triangulasi
Triangulasi adalah suatu metode pemeriksaan
keabsahan data yang memanfaatkan elemen di luar data
untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding
terhadap data tersebut. Dengan demikian, triangulasi
merupakan suatu proses pengecekan kembali terhadap data
kualitatif yang diperoleh dari penelitian, sehingga dapat
memastikan kesesuaian data dengan hasil yang diharapkan.

64
Ibid., hlm.226.

44
Penggunaan triangulasi memungkinkan peneliti untuk tidak
hanya mengumpulkan data, tetapi juga menguji kredibilitas
data dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan
data dan berbagai sumber data.65
2. Kecukupan referensi
Referensi yang digunakan dalam pelaksanaan
penelitian akan terdiri dari berbagai sumber, seperti bahan
dokumentasi, catatan yang terarsipkan, serta buku-buku
yang relevan dengan permasalahan penelitian. Materi
referensi ini dijadikan sebagai sarana untuk mengumpulkan
dan menyesuaikan dengan kritik tertulis guna keperluan
evaluasi.66

65
Beni Ahmad Saeban, Metode Penelitian (Bandung, CV Pustaka Setia, 2008)
hlm. 189.
66
Moleong L. J, Metode Penelitian Kualitatif, hlm 175.

45
I. Sistematika Pembahasan
Penyusunan skripsi ini akan diuraikan secara sistematis dala m
l l l l l l l l l l

beberapa bab dan tiap-tiap bab terdapat sub-sub bab sebagai rincian.
l l l l l l l l l l l l l

Adapun mengenai sistemat ika penulisan dalam skripsi ini


L l l l l l l l

adalahsebagai berikut:
l l l l l

BAB I L Pendahuluan ini berisi tentang Latar Belakang l l l l l l l

Masala h, Rumusan Masalah, Tujuan, Manfaat, l l l l l l l l l l l

Ruang lingkup dan Setting Penelitian yang l l l l

membahas seputar judul Proposal ini. Selain itu l l l l l

juga memba has beberapa susunan isi BAB yaitu: l l l l l l L l

Telaah Pustaka, Kerangka Teori, dan Metode l l l l l l l

Penelitian. l

BAB II L paparan data, temua dan pembahasan, paparan data


merupakan uraian yang di tampilkan untuk
mengetahui karakteristik data pokok yang berkaitan
dengan penelitian yang dilakukan, temuan
penelitian merupakan deskripsi dari data yang
diperoleh dalam pengumpulan data dari lapangan
melalui proses wawancara, obeservasi,
dokumentasi.
BAB III L paparan data, temuan, dan pembahasan, pada
bagian ini diuangkapkan seluruh data, temuan, dan
pembahasan penelitian, peneliti menjadikan
rumusan masalah kedua menjadi judul BAB III
dengan menyesuaikan redaksi kalimatnya
BAB IV L Penutup di bagian BAB ini berisi kesimpulan dari l l L l l

hasil penelitian yang didapatkan sesuai dengan teori


l l l l l l l l

yang digunakan. Dan berisi saran dari peneliti untuk


l l l l l l l

orang yang akan meneliti tema yang sama, untukl l l l l l l l

mendapatkan kekurangan dan kelebihannya sebaga i l l l l l l l l l l

pedoman peneliti selanjutnya. l l l

46
BAB II
POLA KOMUNIKASI ANTARBUDAYA MAHASISWA
UKM OLAHRAGA
A. Profil UIN Mataram Dan UKM Olahraga
Pada awal berdirinya UIN Mataram merupakan perwujudan
dari gagasan dan hasrat umat Islam Nusa Tenggara Barat yang
merupakan penduduk mayoritas untuk mencetak kader pemimpin
dan intelektual muslim bagi keperluan perjuangan bangsa. Embrio
dari pendirian UIN Mataram diawali dengan adanya sekolah
persiapan IAIN Al-
berdirinya berdasarkan SK Menteri Agama No. 93 tanggal 16
September 1963. Sekolah Persiapan IAIN tersebut sampai tahun
1965 telah 2 (dua) kali menamatkan siswanya. Pada tahun yang
sama pula 1965 dikeluarkan SK Menteri Agama No. 63 Tahun 1965
tentang Pembentukan Panitia Persiapan Pembukaan Fakultas
Tarbiyah IAIN Al-
25 Desember 1965 yang diketuai oleh Kolonel [Link] Abubakar.
Fakultas Tarbiyah ini kemudian diresmikan oleh Menteri Agama
Prof.K.H. Saifuddin Zohri, pada Tanggal 24 Oktober 1966 dengan
SK Menteri Agama No. 63 Tahun 1966 bertempat di Pendopo
Gubernur Nusa Tenggara Barat. Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan
Ampel Mataram tahun 1966 mempunyai satu jurusan yaitu Jurusan
Pendidikan Agama Islam. Program Sarjana Muda. Pada tahun 1982
dirintis pembukaan Program Doktoral (Sarjana Lengkap). Program
ini disetujui oleh Dirjen Bimbaga Islam Departemen Agama dengan
Surat No. F/x/1748, tanggal 06 Mei 1982, dan dimulai pada tahun
akademik 1983 s/d 1987. Seiring dengan perkembangan Fakultas
Tarbiyah maka Fakultas Syariah Mataram IAIN Sunan Ampel yang
berasal dari STIS diresmikan berdasarkan SK Menag RI Nomor 27/
1994. Pada tahun 1997 fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel Cabang
Mataram membuka jurusan Peradilan Agama, Muamalah, dan
Jinayah Siyasah67.

67
[Link] diakses pada 9 desember 2023 jam 10.32

47
1. Struktur UIN Mataram

2. Visi UIN Mataram


Visi Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram adalah
menjadi universitas yang berdaya saing
internasional dengan integrasi keilmuan dalam membangun

3. Misi UIN Mataram


Berdasarkan visi Universitas Islam Negeri (UIN)
Mataram tersebut di atas, dirumuskan empat misi sebagai
langkah strategis dalam mewujudkan visi:
Berdasarkan visi Universitas Islam Negeri (UIN)
Mataram tersebut di atas, dirumuskan misi sebagai langkah
strategis dalam mewujudkan visi68:

a. Meningkatkan penyelenggaraan pendidikan dan


pengajaran yang inovatif dan berkualitas dengan berbasis
horizon ilmu.
b. Meningkatkan produktivitas dan kualitas penelitian dan
publikasi ilmiah berbasis horizon ilmu.

68
Ibid.

48
c. Meningkatkan relevansi pengabdian kepada masyarakat
dengan pemecahan masalah sosial dan penguatan moderasi
beragama.
d. Mengembangkan kerja sama nasional dan internasional
dalam rangka penguatan kapasitas kelembagaan dan
tridharma perguruan tinggi.
e. Meningkatkan kualitas tata kelola kepemimpinan
universitas yang dilandasi nilai-nilai good governance.
4. Tujuan UIN Mataram
a. Peningkatan penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran
yang inovatif dan berkualitas dengan berbasis horizon ilmu
untuk menghasilkan lulusan yang cendekia, terbuka, dan
unggul.
b. Peningkatan produktivitas dan kualitas penelitian dan
publikasi ilmiah berbasis horizon ilmu untuk
pengembangan khazanah keilmuan.
c. Peningkatan relevansi pengabdian kepada masyarakat
dengan pemecahan masalah sosial dan penguatan moderasi
beragama untuk kualitas kesalehan umat.
5. Sasaran UIN Mataram
a. Terselenggaranya program pendidikan dan
pengajaran secara baik dan bereputasi di tingkat nasional.
b. Meningkatnya kualitas dan standar SDM dosen,
mahasiswa, dan tenaga kependidikan.
c. Berkembangnya riset-riset unggulan dan publikasi
karya ilmiah yang bermutu.
d. meningkatnya kuantitas dan kualitas peran sosial dan
agenda pengabdian kepada masyarakat.
e. Terbangunnya sistem tata kelola lembaga yang efektif,
efisien, dan akuntabel.
f. Percepatan pengembangan kelembagaan.
g. Terbangunnya sarana dan infrastruktur yang memadai
untuk kegiatan akademik dan kemahasiswaan.
h. Terwujudnya sistem pengelolaan keuangan yang akuntabel
dan sumber pendapatan strategis untuk peningkatan
kapasitas institusi.

49
i. Meningkatnya citra lembaga di hadapan stakeholder
j. Terbangunnya networking dengan mitra-mitra strategis di
dalam dan luar negri.
6. Sejarah UKM Olahraga
Awal dibentuk setelah PIONIR PTKIN yang
dilangsungkan di malang pada tanggal 15-21 juli 2019, karena
pada saat itu seluruh PTKIN mempunyai delegasi dalam bidang
Olahraga dan hanya UIN Mataram yang tidak mempunyai
degelasinya sehingga kemudian dari situlah muncul ide atau
alasan untuk mendirikan UKM Olahraga oleh ibu wakil rektor
III ibu hj nurul yaqin, M.H dan Pembina nya adalah pak Drs.
Nuruddin, M.H dan yang menjadi ketua pertama pada saat itu
adalah deden yang beralasan dari daerah Bima dan bergelut di
cabor silat dan akhirnya pencentusan logo oleh lalu siswandi
yang merancang logo UKM Olahraga dengan filosofinya dan
tanggal milad UKM Olahraga pada 18 november dan
selanjutnya pelantikan pertama terjadi pada 5 februari 2020.69
7. Visi UKM Olahraga
Mewujudkan mahasiswa yang unggul dalam bidang Olahraga

8. Misi UKM Olahraga


a. Meningkatkan bakat dan minat mahasiswa dalam bidang
Olahraga
b. Meraih prestasi dalam bidang Olahraga dengan harapan
mewujudkan UIN yang unggul
c. Menguatkan jaringan Kerjasama dalam bidang Olahraga
9. Cabang Olahraga Di UKM Olahraga
a. Futsal
1) Nama Kegiatan
a) Latihan mingguan
b) Latihan fisik satu kali sebulan
c) Mengikuti Event yang diadakan UKM lain

69
David, Wawancara, Mataram, 14 Desember 2023.

50
d) Melanjutkan Program Unggulan yang diadakan
UKM Olahraga UIN Mataram (OTF) Open
Turnamen Futsal 2023
2) Tujuan Kegiatan
a) Untuk melatih kemampuan anggota dalam
bermain
b) Untuk melatih fisik setiap anggota
c) Untuk mencari pengalaman dan mengasah skill
anggota
d) Untuk memperkenalkan UKM Olahraga UIN
Mataram dan sebagai ajang meraih prestasi
dalam bidang olahraga khususnya futsal.
3) Waktu dan Tempat Pelaksanaan
a) setiap hari selasa sore bertempat di Futsal Gajah
Mada
b)
mada
c) Ivent-ivent yang di ikuti :
- Pekan Olahraga JSC FH UNRAM
- Pekan Olahraga FEB UNRAM /POFEB 2023
- Turnamen Futsal SOCCUS CUP 2023
b. Badminton
1) Nama Kegiatan
a) Latihan mingguan
b) Evaluasi bulanan
c) Kompetisi badminton se-uin mataram
d) Sparing internal maupun external
e) Mengikuti kegiatan lomba
2) Tujuan Kegiatan
a) Untuk melatih kemampuan anggota dalam
bermain
b) Mengevaluasi cara bermain anggota
c) Untuk membangun solidaritas antar fakultas se-
UIN Mataram
d) Untuk membangun solidaritas dan relasi antar
fakultas, UKM, dan universitas lain.
e) Untuk mencari pengalaman perlombaan.

51
3) Waktu dan Tempat Pelaksanaan
a) setiap hari selasa sore bertempat di Auditorium
Kampus 1
b) Setiap hari Sabtu siang bertempat di GOR
Fatimah Merembu-Bengkel
c) Setiap 1 bulan sekali Bertempat di Sekret
d) Rabu Jumat, bertempat di Auditorium
Kampus 1

c. Basket
1) Nama Kegiatan
a) Latihan mingguan
b) Evaluasi mingguan
c) Melaksanakan Kompetisi 3on3 Basket Internal
UIN Mataram
d) Sparing
e) Mengikuti kegiatan lomba yang ada
f) Camp anggota Basket UIN Mataram
2) Tujuan Kegiatan
a) Umtuk mealtih para atlit agar lebih berkembang
dari sebelumnya, mulai dari latihan dasar hingga
level seterusnya
b) Mengevaluasi para atlit, jika ada kekuranga atau
kesalahan agar di perbaiki dikemudian hari agar
tim basket UIN Mataram makin solid dan kemistri
antar atlit meningkat
c) Selain menambah pengalaman dan jam terbang
atlit, dengan di laksanakannya perlombaan ini di
harapkan para atlit dan juga anggota Basket UIN
Mataram dapat meningkatkan rasa kekeluargaan
dan gotong royong sesama anggota Basket
d) Untuk melihat/menguji sudah sampai mana
perkembangan tim Basket UIN Mataram,
menambah pengalaman dan mengambil ilmu dari
atlit basket lainnya
e) Untuk menambah pengalaman para atlit Basket
UIN Mataram

52
f) Merayakan kesuksesan perlombaan yang telah kita
buat
3) Waktu dan Tempat Pelaksanaan
a) Setiap 3 kali seminggu di kampus dan lapangan
indor Gor Bhakti Mulia
b) Setiap selesai Latihan
c) Senin di lapangan basket kampus 2 UIN Mataram
d) 1 kali dalam 2 minggu di Ghor Bhakti Mulia dan
lainnya (kondisional)
e) Selalu di usahakan untuk dapat mengikuti lomba
yang ada, terakhir tim Basket UIN Matram
mengikuti lomba pada tanggal 28 November 2023
pada acara Basketbal 3on3 Competion yang di
adakan di mayung basketball arena oleh anak-anak
Hukum Unram

d. Voli
1) Nama Kegiatan
a) Latihan mingguan
b) Latihan fisik
c) Sparing internal maupun exsternal
d) Mengikuti kegiatan lomba
2) Tujuan kegiatan
a) Untuk melatih kemampuan anggota dalam bermain
b) Untuk meningkatkan power otot lengan dan kaki
c) Untuk membangun solidaritas dan relasi antar
fakultas, UKM, dan universitas lain
d) Untuk mencari pengalaman perlombaan.
3) Waktu dan Tempat pelaksanaan
a) setiap hari selasa dan kamis jam 16.30 WITA di
lapangan voli kampus 2 UIN Mataram.
b) setiap hari sabtu (2x dalam 1 bulan) di pantai loang
balok/lapangan voli kampus 2 UIN Mataram.
c) Lapangan voli UIN Mataram.

53
e. Karate
1) Nama Kegiatan
Latihan mingguan
2) Tujuan Kegiatan
Kegiatan karate bertujuan untuk meningkatkan
kemampuan sumber daya manusiadan
mengembangkan potensi dalam memenuhi kebutuhan
mahasiswa dan memecahkan problem mahasiswa yang
ingin mengembangkan bakat di bidang seni bela diri
karate sesuai dengan visi dan misinya kompak,
berkarakter, berprestasi.
3) Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Jumat & sabtu, lokasi Kampus 1 dan 2
Universitas Islam Negeri Mataram diadakan pada jam
16.00
f. Silat
1) Nama Kegiatan
a) Latihan mingguan (3x/minggu)
b) Tes kenaikan sabuk (2 bulan sekali)
c) Sparing internal maupun external
d) Mengikuti kegiatan lomba
e) Latihan gabungan antar perguruan pencak silat
UIN Mataram
2) Tujuan Kegiatan
a) Untuk melatih kemampuan anggota
b) Untuk menaikkan pangkat
c) Untuk melihat sejauh mana kemampuan anggota
d) Untuk mencari pengalaman perlombaan.
e) Memperkuat rasa solidaritas antar perguruan
pencak silat
3) Waktu dan Tempat Pelaksanaan
a) Setiap hari senin, kamis, jumat bertempat di
Kampus 1 UIN Mataram

54
b) Setiap 2 bulan sekali Bertempat di Kampus 1
UIN Mataram
c) Setiap Jumat bertempat di Kampus 1 UIN
Mataram
d) Kondisional
e) Setiap 2 bulan sekali di Kampus UIN Mataram

g. Tenis meja
1) Nama Kegiatan
a) Latihan mingguan
b) Evaluasi bulanan
c) Kompetisi tenis meja se-uin mataram
d) Mengikuti kegiatan lomba
2) Tujuan Kegiatan
a) Untuk melatih dan mengasah bakat atau
kemampuan anggota dalam bermain
b) Mengevaluasi cara bermain anggota
c) Untuk membangun solidaritas dan relasi baik antar
fakultas maupun UKM.
d) Untuk mencari pengalaman perlombaan.
3) Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Setiap hari rabu sore bertempat di Sekretariat Kampus
1

10. Sususan Kepengurusan Di UKM Olahraga


Pembina : Drs. Nuruddin, M.H
Penanggung Jawab : Sesa Mia Audenada
Ketua Panitia : Muhammad Taufik Hidayat
Sekertaris : Sabrina Tririzki
Bendahara : Eka M Nandita
Koordinator
1. Acara
Ketua: Habiel
Anggota:
a. Sulistiamikasari
b. Karunia Hidayati
c. Lalu Muhammad Alief Ziqro

55
2. Konsumsi
Ketua: Feby Rahayu Etikarini
Anggota:
a. Septia Rizki Sukma W
3. Perlengkapan
Ketua: Alwi
Anggota:
a. Alimurrabbani Azmi
b. Anand
c. Joeniar Bayu Saputra
4. Pubdekdok
Ketua: Surahman Septiadin
Anggota:
a. Aulia Safira
b. Dewi Safitri
5. Humas
Ketua: Ilzan Ramdani
Anggota:
a. Bintan Khumairo
b. Dwi Surya
[Link]
Ketua: Muhammad Bilal
Anggota:
a. Fadrul Amizan
[Link]
Ketua: Muliani
Anggota:
a. M. Haerik Fatoni
b. Sindy Ayudia

56
B. Pola Komunikasi Mahasiswa UKM Olahraga
Pola komunikasi antarbudaya mahasiswa Lombok, Sumbawa,
Bima, dan Dompu di Universitas Islam Negeri Mataram yang
memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Universitas Islam
Negeri Mataram dipilih sebagai lokasi penelitian ini karena memiliki
sejumlah mahasiswa yang berasal dari Sumbawa, Bima, dan Dompu.
Jumlah mahasiswa yang diwawancara sebanyak 9, terdiri dari 5 orang
asal Lombok, 2 orang asal Sumbawa, 1 orang asal Bima, dan 1 orang
asal Dompu.
1. Deskripsi Sulistiamikasari (20 tahun )70
Informan dari penelitian ini Bernama Sulistiamikasari yang
adalah seorang perempuan berusia 20 tahun yang merupakan
masyarakat dari Sumbawa, lape yang sekarang bertempat tinggal
di Lombok Barat dan sedang menempuh Pendidikan prodi
Bimbingan Konseling Islam atau yang singkat dengan (BKI) dan
Sulistiamikasari adalah masiswa semester 3 dan sudah pergi
merantau selama lebih dari 3 tahun dan alasan utamanya
merantau adalah untuk melanjutkan Pendidikan di Universitas
Islam Negeri Mataram dan memilih merantau ke mataram karena
tertarik untuk berkuliah di UIN Mataram dan tidak tertarik untuk
diam di daerahnya karena ingin kenal dengan banyak orang serta
membangun relasi dan juga ingin menjadi mandiri dan menurut
Sulistiamikasari daerahnya juga memiliki kampus yang tidak
kalah akan tetapi ia berminat untuk ke UIN Mataram dan kesan
Sulistiamikasari selama di UIN Mataram adalah mahasiswanya
yang banyak serta banyak orang dari berbagai daerah berkumpul
dan sulistiamikasari tidak butuh waktu dalam dalam beradaptasi
di UIN Mataram dan juga ia merasa nyaman saat berkuliah di
UIN Mataram dan Sulistiamikasari mengenal UKM Olaharaga
dari temannya yang mengenalkannya dan alasannya bergabung
dengan UKM Olahraga adalah karena sulistiamikasi suka dengan
Olahraga Karate dan juga Sulistiamikasari telah menjadi senior
saat ini di UKM Olahraga dan pernah menjabat sebagai bagian
pengurus cabor Karate.71

70
Sulistiamikasari, Wawancara, Mataram: 20 Desember 2023.
71
Sulistiamikasari, Wawancara, Mataram: 20 Desember 2023.

57
2. Deskripsi Tengku (22 tahun)
Informan kedua dari penelitian ini Bernama Tengku yang
adalah seorang laki-laki yang berusia 22 tahun yang merupakan
masyarakat dari Sumbawa, Taliwang yang sekarang bertempat
tinggal di Karang Genteng, Mataram dan sedang menempuh
Pendidikan prodi Pendidikan Agama Islam atau yang sering
disebut dengan (PAI) dan Tengku adalah mahasiswa semester 7
dan Tengku sudah 2 tahun lamanya merantau ke Lombok untuk
melanjutkan Pendidikan dan tujuan Tengku memilih Mataram
sebagai tujuan perantauan adalah karena merasa cocok tidak jauh
dari asalnya dan juga lulus berkuliah di Mataram dan Tengku
memilih untuk tidak diam di daerahnya karena belum ada
universitas daerahnya yang mempunyai jurusan yang ingin dia
tempuh dan kesan Tengku berkuliah di UIN Mataram adalah
lingkungan yang bagus, dosen yang ramah dan Tengku memiliki
waktu beradaptasi yang lumayan lama sampai yaitu 1-2 bulan
lamanya dan Tengku mengenal UKM Olahraga dari teman yang
memberikan informasi dan Tengku tertarik dengan Olahraga
Basket dan karena itu juga ia masuk ke dalam UKM Olahraga
dengan dengan tujuan meningkatkan skill Basketnya dan juga
karena Tengku telah menjabat sebagai ketua cabor Basket
periode saat ini72.

3. Deskripsi Dimas (20 tahun)


Informan keempat dari penelitian ini Bernama Dimas yang
adalah seorang laki-laki yang berusia 20 tahun yang merupakan
masyarakat kota Bima, yang sekarang tinggal di Pajang, Mataram
dan sedang menempuh Pendidikan prodi Ekonomi Syariah dan
Dimas sekarang semester 3 di jurusannya dan Dimas juga
menjadi HMPS di jurusannya dan sudah merantau dari maret
2022 lalu hingga kini dan alasan Dimas merantau keluar dari kota
asalnya adalah untuk melanjutkan Pendidikan dikota besar dan
mencari pengalaman baru dengan merantau dan Dimas memilih
merantau ke Mataram karena tidak terlalu jauh dari kota asalnya
dan jika ada libur ia mudah untuk pulang kampung dan Dimas
merasa jika Universitas yang ada di daerahnya masih kurang

72
Tengku, Wawancara, Mataram, 9 Desember 2023.

58
bagus untuk melanjutkan Pendidikan oleh karena itu juga dia
memilih untuk melanjutkan ke UIN Mataram tapi juga Bima
menurut Dimas banyak destinasi wisata yang bisa dijelajahi dan
akhirnya Dimas mengenal UKM Olahraga dari seniornya yang
bermain Basket bersamanya di kampus dan oleh sebab itu ia
tertarik untuk masuk UKM Olahraga dan dimas menjadi anggota
baru di UKM Olahraga karena baru masuk di UKM Olahraga 73.
4. Deskripsi Gunawan (23 tahun)
Informan kelima dari penelitian ini Bernama Gunawan yang
adalah seorang laki-laki yang berusia 23 tahun yang merupakan
masyarakat Dompu yang sekarang sedang tinggal di Kekalik
Swasembada, Mataram dan Gunawan sedang menempuh
Pendidikan prodi Komunikasi Penyiaran Islam atau yang sering
di kenal dengan (KPI) dan Gunawan sekarang semester 9 dan
Gunawan sudah merantau selama 4 tahun lamanya dan alasannya
merantau adalah untuk melanjutkan Pendidikan di perguruan
tinggi serta menambah pengetahuan, relasi dan mendapatkan apa
yang tidak di dapatkan didaerahnya dan juga Gunawan merasa
tata Kelola daerahnya masih belum teratur serta ketersedian
sarana public yang belum memadai juga dan hal ini yang
membuat Gunawan juga memilih mataram sebagai kota rantauan
karena dekat dengan Sumbawa dan lebih mudah untuk pulang ke
Dompu dan Gunawan tidak diam didaerah asalnya karena ingin
berkembang dari segi kualitas pendidikannya karena juga
Gunawan merasa disana kurang memadai untuk kualitas
pendidikannya dan kesan Gunawan selama di UIN Mataram
yaitu dosen yang sangat baik dan teman-teman mahasiswanya
yang cukup baik namun ada sedikit kesusahan dari segi bahas
dan Gunawan butuh waktu sekitar 1 bulan lamanya untuk
beradaptasi di UIN Mataram dan Gunawan aktif di beberpa
Lembaga kampus maupun luar kampus yaitu Lembaga Pers
Mahasiswa (LPM),Pergerakan Mahasiswa Islam (PMII), Pelajar
Islam indonesia (PII), Komunitas Stand Up Indo Lombok dan
akhirnya Gunawan Mengenal UKM Olahraga dari ajakan teman
sekelasnya yang ikut dalam kegiatan Latihan Olahraga di UKM
Olahraga dan alasan Gunawan masuk UKM adalah untuk

73
Dimas, Wawancara, Mataram, 9 Desember 2023.

59
meningkatkan skill Basketnya dan juga ingin menambah
pengalaman serta memperbanyak teman dan Gunawan sudah
menjadi senior di UKM Olahraga karena dia termasuk salah satu
pengurus awal terbentuknya UKM Olahraga dan juga kesan
selama berada di UKM Olahraga sangat baik walaupun ada
beberapa problematic tapi justru itu yang membuat Gunawan
tertarik. 74.
5. Deskripsi David (21 tahun)
Informan keenam dari penelitian ini Bernama David yang
adalah seorang laki-laki yang berusia 21 tahun yang merupakan
masyarakat dari Jerowaru, Lombok Timur dan sekarang sedang
menempuh Pendidikan prodi Hukum Ekonomi Syariah dan
David sekarang semester 3 dan alasan David untuk menetap
adalah untuk Melanjutkan Pendidikan sesuai prodi yang
ditempuhnya dan kesan David di UIN Mataram dosen adalah
peraturan yang lumayan mengikat dan untuk lingkungan
kampusnya yang kurangnya kesadaran mahasiswa akan
penindasan yang dilakukan birokrasi kampus dan kurangnya
minat mahasiswa dalam melakukan diskusi akan masalah yang
ada di kampus tapi David suka dengan budaya yang ada di
kampus dan David cepat dalam beradaptasi karena dia tipikal
orang yang gampang bergaul dan beradaptasi dalam lingkungan
yang baru dan David juga ikut dalam kegiatan di FMN Front
Mahasiswa Nasional dan David mengenal UKM Olahraga dari
ospek PBAK dan alasan David tertarik masuk ke UKM Olahraga
adalah untuk mengembangkan minat dan bakatnya dalam
berorganisasi dan kesan di UKM adalah dia menemukan keluarga
baru dan teman-teman baru yang asik dan lucu walaupun kadang
menyebalkan dan juga sekarang David sudah menjadi ketua
umum UKM Olahraga dengan terpilihnya dia dalam pemilihan
yang lalu75.
6. Deskripsi Irfani (20 tahun)
Informan ketujuh dari penelitian ini bernama Irfani yang
adalah seorang perempuan yang berusia 20 tahun yang
merupakan masyarakat Lombok Timur dan sekarang sedang

74
Gunawan, Wawancara, Mataram: 10 Desember 2023.
75
David, Wawancara, Mataram, 14 Desember 2023.

60
menetap di dasan Agung, Mataram dan Irfani bertujuan masuk ke
UIN Mataram karena untuk menempuh Pendidikan dan
mengenal UIN Mataram melalui saudara yang lulu di UIN
Mataram dan sosialisasi yang diadakan di sekolahnya dan juga
kesan pertama Irfani di UIN Mataram adalah banyak mendengar
dosen killer teman-teman egois tapi sampai sejauh tidak
menemukan seperti yang orang-orang ceritakan dan Irfani butuh
waktu sekitar 1 minggu untuk beradaptasi sedang menempuh
Pendidikan prodi Tadris Matematika dan Irfani sekarang
semester 3 dan Irfani mengenal UKM Olahraga dari ospek
PBAK dan alasan Irfani tertarik untuk masuk UKM Olahraga
adalah karena ia senang dengan Olahraga dan Irfani juga masuk
ke dalam cabor Basket dan mengikuti kegiatan yang ada di UKM
sebagai anggota dan kesan Irfani selama berada di UKM
Olahraga adalah rasa kekurangan karena kecewa dengan
lingkungannya76.
7. Deskripsi Dias (21 tahun)
Informan yang kedelapan dari penelitian in Bernama Dias
yang adalah seorang laki-laki yang berusia 21 tahun yang
merupakan masyarakat asli Mataram dan sedang menempuh
Pendidikan prodi Tadris Matematika yang sekarang semester 5
dan Dias memilih untuk untuk diam di daerah asalnya karena
peluang untuk diterima di daerah asal lebih besar daripada di luar
dan Dias mengenal UIN Mataram dari informasi yang ada di
sekolahnya dan Dias tertarik dengan UIN karena nyaman dengan
lingkungannya dan tujuan Dias berkuliah karena ingin
menambah prestasi, meningkatkan kemampuan berpikir, dan
juga berorganisasi dan Dias beradaptasi dengan lingkungan
kampus selama 1 bulan lamanya dan Dias mengenal UKM
Olahraga dari saat ospek PBAK dan alasan dia masuk ke UKM
Olahraga adalah lingkungan UKM yang terlihat nyaman serta
orang-orangnya yang ramah dan ingin masuk cabor Basket dan
juga dia dias menjadi anggota di UKM Olahraga tapi tidak terlalu
aktif. 77

76
Irfani, Wawancara, Mataram, 14 Desember 2023.
77
Dias, Wawancara, Mataram, 10 Desember 2023.

61
8. Deskripis Melika (19 tahun)
Informan yang kesembilan dari penelitian ini bernama
Melika yang adalah seorang perempuan yang berusia 19 tahun
yang merupakan masyarakat dari Lombok Timur dan sedang
menetap di Tanjung Karang, Mataram pada saat ini dan Melika
menempuh Pendidikan prodi Pemikiran Politik Islam dan
sekarang Melika semester 5 dan Melika masuk UIN Mataram
karena hanya keterima di UIN Mataram dan tujuannya ber
kuliahnya hanya untuk sarjana dan tidak ada kesan mendalam
tentang kampus yang dirasakan oleh Melika tapi dia suka dengan
mempunyai banyak teman baru di kampus dan Melika juga tidak
terlalu intens untuk melakukan interaksi dengan teman-teman
kampus maupun temen-teman yang ada di UKM Olahraga dan
juga Melika aktif berkegiatan di FMN Front Mahasiswa Nasional
dan Melika mengenal UKM Olahraga dari lingkungan
pertemanan yang ada di kampus dan alasan tertarik masuk ke
UKM Olahraga adalah karena suka dengan Olahraga jadi
berkeinginan untuk ikut berkegiatan di UKM Olahraga dan juga
Melika masuk ke dalam cabor karate dan sekarang sedang
menjabat sebagai wakil ketua umum UKM Olahraga78.
9. Deskripsi Sri (22 tahun)
Informan yang kesepuluh dari penelitian ini Bernama Sri
yang adalah seorang perempuan yang berusia 22 tahun dari
Gunung Sari, Lombok Barat dan sekarang sedang menempuh
Pendidikan prodi Perbankan Syariah dan sekarang Sri semester 9
dan Sri mengenal UIN Mataram dari keluarganya dan alasanya
ingin berkuliah di UIN Mataram adalah karena setelah lulus SMA
tidak ada kerjaan jadi ia melanjutkan Pendidikan dengan
berkuliah di UIN Mataram dan juga Sri tujuannya juga berkuliah
adalah menambah relasi dengan banyak bergaul di kampus dan
kesan dalam berkuliah di UIN Mataram adalah mahasiswanya
ramah-ramah dan tidak suka dengan anda beberapa mahasiswa
yang berkelompok-kelompok dalam melakukan pertemanan dan
Sri beradaptasi di lingkungan kampus selama 1 minggu lamanya
dan Sri mengenal UKM Olahraga dari temen-teman kelasnya dan
alasannya tertarik untuk masuk ke UKM Olahraga adalah karena

78
Melika, Wawancara, Mataram, 14 Desember 2023.

62
ingin melakukan kegiatan Olahraga Bersama teman-teman
karena dia tidak suka Olahraga seorang diri saja dan kesan Sri
selama di UKM Olahraga merasa nyaman dengan teman-teman
yang ada di UKM Olahraga dan yang ada di UKM dan Sri pernah
menjabat sebagai sekretaris umum di UKM Olahraga tapi saat ini
telah menjadi senior di UKM Olahraga 79.
C. Analisis Dan Pembahasan
Pada sebagian ini, akan dijelaskan hasil temuan yang diperoleh
penulis melalui wawancara yang dilakukan dengan seluruh informan,
yaitu mahasiswa Lombok, Sumbawa, Bima, dan Dompu yang
tergabung dalam UKM Olahraga UIN Mataram.
1. Pola Komunikasi Personal/Pribadi
Ketika membicarakan mengenai komunikasi personal
atau pribadi, hal tersebut melibatkan pemahaman terhadap
suatu proses, baik dalam penyampaian pesan secara
langsung maupun tidak langsung, yang mencakup beberapa
aspek, seperti:
a. Komunikasi intrapribadi
Ini adalah bentuk komunikasi internal, di mana
seorang ketua UKM berfungsi sebagai pengirim dan
penerima pesan. Komunikasi ini dapat terjadi baik
secara langsung maupun tidak langsung.
b. Komunikasi antarpribadi
Ini merujuk pada komunikasi antara satu anggota
dengan anggota lainnya, di mana setiap individu
berperan sebagai pengirim pesan. Interaksi ini dilakukan
melalui pertemuan langsung dengan sesama anggota.
2. Pola Komunikasi Kelompok
Struktur komunikasi dalam kelompok UKM mencakup
interaksi antara ketua dan cabang olahraga di dalam UKM,
serta saling berkomunikasi dengan cabang olahraga tersebut.
Ini dilakukan melalui kegiatan internal UKM, seperti rapat,
latihan, dan acara lainnya.

79
Sri, Wawancara, Mataram, 14 Desember 2023.

63
3. Pola Komunikasi Massa
Komunikasi massa di dalam UKM melibatkan
serangkaian langkah, di mana organisasi menggunakan
perangkat teknis atau alat komunikasi untuk menyampaikan
pesan secara luas dan efisien. Alat yang digunakan termasuk
telepon dan internet.
4. Kendala-kendala yang Dihadapi
a. Dari sumber informasi
Dalam pengembangan UKM, hambatan yang muncul
terletak pada kurangnya kelancaran atau gangguan
dalam penyampaian informasi dari anggota kepada
ketua, karena presepsi dari anggota yang masih ada rasa
malu dan sungkan dalam bertanya kepada ketua ataupun
kepada anggota lainnya, dan juga miskomunikasi yang
terjadi dalam UKM karena perbedaan presepsi dalam
memahami suatu konteks masalah yang ada dalam
UKM itu sendiri.
b. Dari Cabang Olahraga
Didalam UKM karena masih ada anggota yang hanya
aktif di dalam cabang olahraga dan tidak aktif untuk
berkegiatan di dalam UKM, karena rasa kurang percaya
diri dan malas dalam menerima tanggung jawab untuk
berkegiataan.
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Dilihat dari 2 aspek,
yaitu:
a. Internal
Struktur komunikasi di dalam suatu UKM
melibatkan interaksi antara anggota yang
berkomunikasi satu sama lain. Hal ini disebabkan oleh
pemberian kebebasan kepada setiap anggota untuk
mengemukakan pendapatnya dalam setiap kegiatan
yang diadakan. Dengan demikian, terjalinlah hubungan
yang harmonis antara anggota dan ketua UKM.

64
b. Eksternal
Komunikasi dalam suatu UKM juga memerlukan
keterkaitan dengan UKM lainnya. Hal ini melibatkan
pertukaran informasi mengenai kegiatan yang
dilakukan, untuk mencegah miskomunikasi saat
melaksanakan kegiatan serupa. Selain itu, hal ini
bertujuan untuk membina hubungan yang baik dan
memungkinkan kerjasama antara UKM tersebut dengan
UKM lainnya.
6. Langkah-langkah Dalam Proses Pola Komunikasi
a. Perencanaan ide/gagasan
Gagasan atau ide yang diajukan oleh anggota
masih berupa konsep abstrak atau belum menjadi
kenyataan, yang perlu mendapatkan persetujuan dari
seluruh anggota UKM agar dapat diusulkan dan
didiskusikan dalam rapat.
b. Penyusunan ide/gagasan
Gagasan atau ide yang telah mendapatkan persetujuan
dari seluruh anggota UKM dalam rapat akan
disampaikan kepada ketua, lalu di infokan kepada senior
yang ada untuk menjalin komunikasi yang harmonis
antara anggota ketua dan senior jika telah sepakat maka
akan di lanjutkan ke pembina UKM.
c. Ide/gagasan berubah menjadi pesan
Setelah pembina menyetujui dan mengubahnya
menjadi pesan, pesan tersebut yang berupa informasi
diberikan kembali kepada anggota sebagai pedoman
dalam melaksanakan kegiatan UKM.
d. Pesan dikirim
Setelah pesan yang berupa informasi disetujui oleh
anggota, pesan informasi tersebut dikirimkan kepada
ketua, lalu di lanjutkan ke senior lalu dilanjutkan oleh
ketua ke pembina UKM.

65
e. Pesan disetujui
Setelah pesan informasi yang di setujui oleh anggota,
kemudian pesan tersebut dijadikan sebuah ide baru yang
agar dapat memajukan UKM. Setelah itu ide baru
tersebut diserahkan ke seluruh anggota untuk sebagai
agenda kegiatan UKM.
7. Media-media apa saja yang digunakan anggota dalam
berkomunikasi UKM Olahraga:
a. Telepon
Digunakan untuk mempermudah dalam melakukan
informasi dari anggota bagian yang satu ke bagian yang
lain, begitu pula untuk mempermudah penyampaian
pesan yang berasal dari anggota disampaikan kepada
ketua dengan cara cepat dan praktis menggunakan
aplikasi WA (Whats App).
b. Komputer
Digunakan untuk menyimpan data-data penting UKM
dan untuk mempermudah kegiatan antara lain untuk
mempermudah mendata anggota baru, membuat surat
menyurat, membuat laporan UKM, membuat proposal
kegiatan UKM.
8. Pola komunikasi primer
Adalah dimana pesan dari budaya yang lain dengan
menggunakan lambang atau symbol seperti, jika dari
Lombok mahasiswanya sering menggunakan tangan kanan
untuk menunjuk karena tidak diperbolehkan untuk menunjuk
dengan tangan kiri akan tetapi jika dari Sumbawa, Bima,
Dompu tidak ada budaya untuk mengharuskan mereka
menggunakan tangan kiri atau kanan dalam menunjuk
sesuatu.
9. Pola komunikasi sekunder
Adalah dimana setelah menggunakan lambang atau
simbol komunikasi menggunakan media seperti, media
internet, sosial media, spanduk, banner, poster dan lain-
lainnya.

66
10. Pola komunikasi linear
Adalah dimana ketua melakukan instruksi kepada
anggota secara langsung tanpa memandang adat budaya dari
seorang anggotanya karena dalam UKM Olahraga ketua
harus bersikap netral dan bijak
11. Pola komunikasi sirkuler
Adalah dimana anggota terus menerus melakukan
komunikasi sesame anggotanya disaat melakukan diskusi
yang ada di dalam UKM Olahraga, terutama juga disaat
melakukan rapat ataupun kegiatan lainnya.
12. Teori Interaksi Simbolik menurut Herbert Blumer
Teori interaksi simbolik bertujuan untuk menggali
pemahaman mengenai perilaku manusia dari suatu
perspektif tertentu. Dalam kerangka ini, dipahami bahwa
manusia menggunakan bahasa, baik verbal maupun
nonverbal, sebagai alat komunikasi. Penelitian ini
mengumpulkan informasi dari responden mahasiswa yang
berasal dari Sumbawa, Bima, dan Dompu, khususnya dalam
konteks interaksi mereka dengan mahasiswa asal Lombok,
terutama terkait dengan perilaku terhadap Gunawan. Peneliti
kemudian menginterpretasikan data ini berdasarkan tiga
prinsip dasar pemikiran Blumer terkait teori interaksi
simbolik:
a. Manusia berperilaku sesuai dengan makna yang
diberikan kepada hal-hal tersebut menurut pandangan
mereka.

di lingkungan kampus dimana ada oknum mahasiswa


yang mengejek daerah asal saya dan kesusahan kami
dalam mengunakan bahasa indonesia yang baik sesuai
dengan pelafalan yang benar. Ejekan itu berupa kata
umpatan yang mungkin di anggap bercanda oleh
mereka seperti di Dompu ngga ada sekolah yang bagus
makanya sampe kalian merantau ke sini?
Berdasarkan kejadia tersebut, mahasiswa Lombok
memberikan perilaku kepada Gunawan yang menurut

67
mereka untuk bergurau tapi makna yang diterima oleh
Gunawan adalah ejekan untuk dia.
b. Makna dari hal-hal tersebut berasal atau timbul melalui
interaksi sosial yang pernah dilakukan. Perilaku yang di
dapatkan gunawan mungkin temannya tersebut pernah
melakukannya dengan orang lain. Kemudian, orang
tersebut tidak keberatan dan menerima perlakuan yang
diberikan kepadanya. Namun, perlakuan tersebut tidak
berlaku untuk Gunawan.
c. Makna-makna tersebut dikelola dan mengalami
perubahan melalui proses penafsiran yang dilakukan
oleh individu yang terkait dengan hal-hal yang mereka
alami. Misalnya, kejadian yang dialami oleh gunawan
membuatnya berpikir bahwa mahasiswa Lombok tidak
memiliki sikap yang baik.

dan marah.
Blumer menyatakan bahwa proses sosial ikut
terlibat dalam interaksi komunikasi di antara anggota
kelompok, yang kemudian menciptakan kesepakatan
terkait keberlakuan peraturan di dalam kelompok tersebut.
Perjanjian ini mengalami perubahan yang dinamis sejalan
dengan perkembangan proses sosial yang terjadi.
Penggunaan simbol-simbol yang tidak sesuai dengan
kesepakatan dapat berkonsekuensi pada penerapan sanksi
sosial, seperti ejeksi, pengucilan, dan kehilangan
kepercayaan80.
13. Teori Presepsi Interpersonal Menurut De Vito
Proses persepsi melibatkan serangkaian tahapan tertentu
yang akan diterapkan oleh peneliti berdasarkan hasil
wawancara atau pengalaman dari informan, yang dalam hal

80

Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII-D SMPN 2 Kamal Materi
No. 2.
2016.

68
ini adalah Sumaya, seorang mahasiswa asli Lombok.
Tahapan ini menjadi pedoman ketika Sumaya pertama kali
berinteraksi dengan mahasiswa asal Lombok, Sumbawa,
Bima, Dompu.
a. Stimulasi
Pada fase stimulasi, individu mengalami proses
setelah menerima rangsangan terhadap inderanya.
Ketika pertama kali melihat mahasiswa asal Lombok,
Dimas segera tertarik dengan perbedaan bentuk
wajahnya 81.

cukup kaget karna orang di sini cantik2 dan sedikit syok


dari cara berpakaian orang di sini, namun di balik itu
semua mataram terutama pulau lombok
b. Organisasi
Semua stimulus yang diterima akan diindra, dan
selanjutnya kita akan segera mengelola atau mengatur
informasi tersebut melalui proses organisasi. Organisasi
stimulus dapat dilakukan dengan berbagai metode,
seperti menemukan persamaan-perbedaan, membentuk
skemata, atau merujuk pada peristiwa umum yang
terjadi82.
Dalam penelitian ini, metode organisasi skemata
digunakan. Organisasi skemata merujuk pada proses
mental di dalam diri kita yang mengaitkan prasangka
yang dimiliki terhadap karakteristik tertentu.
c. Interpretasi dan evaluasi
Tahapan ini dipengaruhi oleh pengalaman,
kebutuhan, keinginan, nilai-nilai, dan kepercayaan, serta
faktor-faktor lain yang memengaruhi persepsi seseorang
tentang bagaimana situasi seharusnya, harapan,
pernyataan fisik dan emosi, dan lain sebagainya,
sehingga dapat memiliki sifat yang subjektif. Dalam
konteks penelitian ini, tahapan ini terjadi ketika

81
[Link] interpersonal
diakses 19 desember 2023 jam 09.15
82
Ibid.

69
mahasiswa asal Sumbawa, Bima, Dompu, dan
mahasiswa Lombok berinteraksi dan memulai
komunikasi. Dugaan awal terhadap mahasiswa asal
Sumbawa, Bima, Dompu yang dianggap memiliki
watak keras dan galak terbantahkan saat terjadi interaksi
langsung. Mahasiswa Lombok menemukan bahwa
mahasiswa asal Sumbawa, Bima, Dompu menunjukkan
keramahan dan sopan santun yang patut diapresiasi.
Selain itu, mahasiswa asal Sumbawa, Bima, Dompu
juga terlihat sangat terbuka dan ramah terhadap mereka.
d. Memori
Proses ini menunjukkan bahwa hasil interpretasi
dan evaluasi akan disimpan dalam memori jangka
pendek, yang nantinya dapat digunakan untuk memulai
komunikasi atau berinteraksi dengan orang yang
menjadi lawan bicara. Dalam kerangka penelitian ini,
persepsi individu terhadap mahasiswa asal Lombok,
Sumbawa, Bima, Dompu dapat mengalami transformasi
ketika terlibat dalam proses komunikasi dan dicatat
dalam memori jangka pendek individu tersebut.
e. Pengingatan
Proses ini secara alami terjadi bersamaan dengan
keempat proses sebelumnya, karena subjek akan
menjalani atau mengalami hal ini setelah mengalami
suatu proses persepsi khusus. Subjek kemudian
berupaya mengingatnya untuk memenuhi kebutuhan
yang berbeda dalam situasi lain.

70
BAB III
HAMBATAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA MAHASISWA
UKM OLAHRAGA
A. Hamabatan-Hambatan Dalam Komunikasi Mahasiswa Di
UKM Olahraga
a. Kurangnya perencanaan berkomunikasi
Yaitu komunikasi yang terlalu sering dilakukan anggota
mulai dari berbicara tanpa memikirkan terlebih dahulu
rencana dan tujuan pesan tersebut.
b. Asumsi yang tidak jelas
Yaitu informasi yang diberikan ketua sering diabaikan
oleh anggota. Berakibat asumsi yang diabaikan dapat
menimbulkan kesan tidak baik antara anggota dengan anggota
lainnya dan ketua.
c. Distorsi semantik
Yaitu penyampaian informasi yang diterima
menggunakan kalimat-kalimat atau kata-kata berupa
singkatan, baik itu berasal dari ketua atau pun dari anggota,
sehingga menimbulkan tanggapan makna yang berbeda.
d. Pesan yang diungkapkan tidak baik
Yaitu penyampaian ide atau gagasan yang berupa pesan
dari anggota disampaikan secara mentah atau melalui
ungkapan kosong.
e. Hilang pada saat penyampaian dan pengungkapan yang tidak
baik
Yaitu penyampaian informasi yang kurang akurat,
disebabkan kemampuan anggota menangkap informasi dari
anggota lain. Penyebabnya sering mengabaikan komunikasi
yang terdapat di dalam UKM Olahraga.
f. Kurang menyimak dan evaluasi terlalu dini
yaitu penyampaian informasi dari ketua pada saat
diadakan rapat UKM Olahraga kurang ditanggapi atau
diperhatikan dengan baik oleh anggota, karena anggota sering
menganggap enteng informasi yang disampaikan ketua dan
anggota lainnya dalam rapat.
g. Ketidakpercayaan, ancaman, dan rasa takut
Yaitu sifat saling tidak percaya, saling tertutup. Dan sifat
saling menjatuhkan antar sesama anggota. anggota cenderung

71
bersikap kaku, defensif dalam menyampaikan informasi
kepada ketua dan anggota lainnya.
h. Tidak memadainya waktu untuk menyesuaikan pada
perubahan
Yaitu sering terjadi perdebatan antara anggota UKM
Olahraga akan tetapi waktu dalam melakukan rapat sangatlah
terbatas dan akhirnya sering menimbulkan presepsi dan
makna yang berdeda antara ketua dan anggota, karena tidak
adanya pelurusan atau klarifikasi dalam penutup rapat
dikarenakan waktu yang sering habis.
B. Hambatan-Hambatan Dalam Komunikasi Antarbudaya Di
UKM Olahraga
a. Perbedaan norma sosial
Kebiasaan mahasiswa dalam bertingkah laku karena
sudah menjadi kebiasaan atau sikap dalam kehidupan sehari-
hari seperti mahasiwa Lombok yang sering keras dalam
menyampaikan pendapat sendiri.
b. Etnosentrisme
Mahsiswa di UKM Olahraga sering merasa bahwa
sukunya lebih baik daripada suku yang lainnya dalam segala
hal, karena sudah menjadi identitas diri sejak lahir, dan
mahasiswa juga merasa jika sukunya lah mempunyai Bahasa
yang lebih baik dari suku lainnya.
c. Stereotip dan prasangka
Mahasiswa memiliki stereotip dari mahasiswa di
Lombok jika mahasiswa dari sumbawa, bima, dompu
orangnya keras-keras dalam berkomunikasi maksudnya
adalah mahasiswa dari Sumbawa, Bima, Dompu memiliki
karekter yang tegas, keras kepala, susah untuk diajak
berdiskusi. Dan juga mahasiswa Sumbawa, Bima, Dompu
memiliki stereotip untuk mahasiswa Lombok yang sering
melakukan hal-hal yang berlebihan kepada mahasiswa dari
daerah lain karena merasa sukunya lebih baik.
d. Perbedaan perspektif
Perbedaan perspektif dalam memandang mahasiswa
lainnya sangat sering terjadi di dalam UKM mahasiswa
memberikan pendapat karena kebebasan berpendapat akan

72
tetapi pandangan mereka akan tujuan berbeda kerena latar
belakang budaya dan suku.
e. Perbedaan pola pikir
Pola pikir berkaitan dengan mahasiswa karena
pengalama yang mereka dapat sebelum masuk ke dalam
lingkungan kampus sangatlah jauh berbeda dengan mahasiswa
lainnya dan ini lah yang menyebakan perbedaan pola fikir
mahasiswa dalam memandang sesuatu.
f. Faktor Bahasa
Bahasa sebagai alat komunikasi sering menjadi hambatan
utama dalam komunikasi ketika para mahasiswa sering
menggunakan Bahasa dari daerah mereka masing-masing dan
tidak menggunakan Bahasa Indonesia untuk melakukan
komunikasi ini lah yang sering menjadi hambatan dalam
komunikasi di dalam UKM Olahraga.
g. Faktor sintaksis dan semantic
Hambatan semantik dapat muncul dalam beberapa
bentuk. Pertama, terdapat perbedaan dalam makna konotatif
atau denotatif. Kedua, terdapat variasi dalam makna dan
pemahaman untuk kata atau istilah yang sama, disebabkan
oleh aspek psikologis. Ketiga, seringkali mahasiswa
menggunakan kata-kata dalam Bahasa daerah mereka.
h. Ketidakmerataan Pendidikan
Faktor dari asal Pendidikan yang berbeda dan asal yang
berbeda menyebabkan hambatan dalam melakukan
komunikasi karena mahasiswa di UKM Olahraga ada yang
pernah bersekolah di SMA, MAN, SMK, dan pondok
pesantren.
i. Gegar budaya
Gegar budaya adalah kondisi psikologis yang membuat
seseorang merasa kacau ketika mengalami perubahan
lingkungan budaya yang berbeda dari budaya asal mereka
dalam periode tertentu, seperti mahasiswa Sumbawa, Bima,
Dompu yang merantau untuk melanjutkan Pendidikan
akhirnya mengalami geger budaya yang ada di Lombok
karena perbedaan lingkungan.

73
C. Analisis Dan Pembahasan
1. Mahasiswa Asal Lombok Di UKM Olahraga
David, Irfani, Melika, Sri, Dias merupakan mahasiswa
Universitas Islam Negeri Mataram. Mereka memiliki
lingkungan pergaulan yang berbeda-beda di luar daripada
UKM Olahraga itu sendiri. Dan semua informan mempunyai
teman-teman dari Sumbawa. Bima, Dompu yang mereka
pernah melakukan komunikasi atau berhubungan secara
langsung maupun tidak langsung dengan mereka.
Selanjutnya peneliti meminta informan menjelaskan apa
saja hambatan saat berkomunikasi dengan mahasiswa dari
Sumbawa, Bima, Dompu. Berikut lebih lanjut penjelasan
yang dirasakan oleh Irfani saat berkomunikasi dengan
mahasiswa dari Sumbawa, Bima, Dompu.

daerah selebihnya Lombok semua, kalo di UKM Olahraga


83
jadi menurut Irfani
hampir tidak ada hambatan dalam melakukan komunikasi
dengan mahasiswa dari luar daerahnya.
Dan sama halnya dengan David juga tidak ada masalah
dalam melakukan komunikasi dengan mahasiswa dari
daerah lain.
karena teman kelas saya banyak orang Bima
dan Sumbawa, hanya teman kuliah yang ada, Setelah sy
masuk UKM Olahraga sy tidak lagi sering nongkrong gak
jelas sy nongkrong jika ada teman yg mengajak sy diskusi
akan permasalah yg ada di kampus sampai permasalah yg
ada di negara ini,dan Mereka lumayan sopan klk
84
berinteraksi de .
Dan malah David juga sering keluar bersama dengan
mahasiswa-mahasiswa dari daerah lainnya. Dan kalo Melika
jarang melakukan komunikasi dengan mahasiswa dari
daerah lainnya dan hanya memiliki teman kuliah saja dari
daerah lainnya.

83
Irfani, Wawancara, Mataram, 14 Desember 2023.
84
David, Wawancara, Mataram, 14 Desember 2023.

74
berinteraksi dengan
85
mahasiswa daerah lain (
Melika, hasil wawancara).
dapat dilihat jika intensitas Melika dalam melakukan
komunikasi sangat kurang dengan mahasiswa daerah lain
jika melakukan komunikasi pun Melika terlihat tidak ada
kendala.
Dan Sri dalam melakukan komunikasi dengan mahasiswa
Lancar karena menggunakan bahasa
tapi juga
ternyata ada hambatan yang dialami ole Terkendala
86
bahasa yg tidak dipahami .
Dan Dias dalam melakukan komunikasinya dengan
mahasiswa dari daerah lain. Dias mengalami hambatan
karena bahasa sama seperti Sri tapi Dias lebih aktif dalam
melakukan komunikasi dibandingkan Tidak
bisa sama sekali bahasanya, Kurang belajar bahasa yang di
Iya setiap hari di
dan Dias
Verbal atau
secara langsung karena saat di telpon pasti masing masing
punya kesibukan dan ada saatnya tidak mau diganggu dan
87
(Dias, hasil
wawancara).
2. Mahasiswa Asal Sumbawa, Bima, Dompu di UKM
Olahraga
Tengku, Dimas, Gunawan, Sulistiamikasari yang adalah
mahasiswa yang masih aktif di Universitas Islam Negeri
Mataram yang berasal dari luar Lombok yaitu Tengku dan
Sulistiamikasi dari Sumbawa dan Dimas dari Bima dan
Gunawan dari Dompu. Mereka memiliki rasa dan budaya
yang berbeda, dan pengalaman informan di daerah rantau
pasti berbeda tentunya.

85
Melika, Wawancara, Mataram, 14 Desember 2023.
86
Sri, Wawancara, Mataram, 14 Desember 2023.
87
Dias, Wawancara, Mataram, 10 Desember 2023.

75
peneliti meminta kepada informan bagaimana mereka
melakukan komunikasi dengan mahasiswa yang ada di
Lombok.
Menurut Tengku dalam melakukan komunikasi dengan
Gada hambatan, cuma kita
aja yg berbeda bahasa jadi ada beberapa hal mungkin yang
88
dan menurut Tengku hanya
melakukan komunikasi jika perlu saja dengan mahasiswa
dari Lombok.
Dan Dimas dalam melakukan komunikasinya
mendapatkan banyak hal dari pengalaman pertama sampai di
Saat
merantau di Mataram pengalaman pertama sama cukup
kaget karna orang disini cantik2 dan sedikit syok dari cara
berpakaian orang di sini, namun dibalik itu semua Mataram
te Dimas mendapatkan
impresi awal yang bagus di daerah Lombok tetapi dengan
kebanyakan mahasiswa nya itu songong
ketika kita menyapa dan Dimas
mengalami banyak dari mahasiswa Lombok yang acuh
Awal²
kurang enak karena ada lumayan banyak teman² dari
Lombok yang kurang fasih berbahasa Indonesia dan masih
mahasiswa dari Lombok
masih banyak yang belum mampu untuk melakukan
komunikasi menggunakan Bahasa Indonesia dengan lancar
buat teman² dari
Lombok tolong kalau orang Bima/Dompu ngomong gk usah
89
.
Gunawan disisi yang lainnya juga sering mengalami
rasisme oleh teman-teman mahasiswa dari Lombok
Rasisme yang pernah saya dapatkan adalah pada saat di
lingkungan kampus dimana ada oknum mahasiswa yang
mengejek daerah asal saya dan kesusahan kami dalam
menggunakan bahasa indonesia yang baik sesuai dengan

88
Tengku, Wawancara, Mataram, 9 Desember 2023.
89
Dimas, Wawancara, Mataram, 9 Desember 2023.

76
pelafalan yang benar. Ejekan itu berupa kata umpatan yang
mungkin dianggap bercanda oleh mereka seperti di Dompu
ngga ada sekolah yang bagus makanya sampe kalian
Dan juga Gunawan pernah mengalami
Pernah pada saat
itu saya sedang belajar bahasa Lombok kebetulan saya
belajar dengan teman sekelas saya namun malah di jahili
oleh dia dengan mengajarkan bahasa kotor dalam bahasa
Lombok namun dia bilang itu merupakan ungkapan pujian
setelah itu saya coba praktekan dan berujung kemarahan
Oleh karena itu semua gunawa
mencoba untuk melakukan komunikasi dengan cara yang
Verbal-secara langsung, Menurut saya
yang lebih efektif adalah komunikasi secara langsung
karena kita dapat melihat serta mendengar secara langsung
mimik muka dan intonasi bicara dari lawan bicara. Jika
chatingan atau telpon tidak jarang terjadi nya kesalah
pahaman dari pesan yang ingin disampaikan dan pada
akhirnya hambatan yang dialami oleh Gunawan adalah
bahasanya Untuk
kelancaran komunikasi dengan mahasiswa Lombok sendiri
bisa dibilang sedikit lancar tapi tidak begitu lancar.
Hambatan tentu datang dari pemahaman akan bahasa yang
digunakan apalagi di Lombok memiliki perbedaan bahasa di
90
masing- .
Dan sulistiamikasi dalam melakukan komunikasi dengan
mahasiswa dari Lombok terhebat lagi lagi oleh Bahasa yang
digunakan mahasiswa dari Lombok itu sendiri
Menggunakan bahasa Indonesia, kadang tidak mengerti
apa yang orang Lombok bicarakan karena menggunakan
tetapi Sulistiamikasari intens dalam
melakukan komunikasi dengan mahasiswa dari Lombok
walaupun terkendala oleh Bahasa tetapi sulistiamikasi
berharap jika mahasiswa Lombok melakukan
Bisa menggunakan bahasa

90
Gunawan, Wawancara, Mataram: 10 Desember 2023.

77
indonesia saat komunikasi agar mahasiswa dari luar tidak
91

91
Sulistiamikasari, Wawancara, Mataram: 20 Desember 2023.

78
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian ini, maka
peneliti memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1) Mahasiswa lebih mudah dalam mengirim pesan antar
anggota karena kebebasan berpendapat yang ada di UKM
Olahraga. Namun, saat berkomunikasi dengan anggota yang
memiliki latar belakang budaya berbeda anggota memiliki
hambatan Bahasa dalam berkomunikasi, karena mahasiswa
sering merasa suku atau budayanya lebih baik dari yang lain,
dan akhirnya mereka tidak menggunakan Bahasa Indonesia
dalam berkomunikasi.
2) Hambatan komunikasi antarbudaya yang telah ditemukan
oleh peneliti dalam penelitian ini adalah bahasa,
penyampaian pesan, cara pandang, pola fikir, pemahaman
Bahasa, pemaknaan Bahasa, latar belakang Pendidikan yang
berbeda dalam proses komunikasi mahasiswa asal Lombok,
Sumbawa, Bima, Dompu.
B. Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan, berikut beberapa hal yang
menjadi masukan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Memperkuat toleransi, empati, penghargaan mutual, dan sikap
rendah hati, sehingga tidak ada lagi yang menganggap
sukunya lebih unggul daripada sukunya yang lain.
2. Menjalin kerja sama yang harmonis antara mahasiswa
Lombok, Sumbawa, Bima, Dompu dalam menyesuaikan diri
di lingkungan bersama, guna mencapai pemahaman yang
mendalam terkait latar belakang budaya yang beragam.
3. Menerapkan pemikiran terbuka, melebarkan perspektif, dan
meningkatkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar untuk
mempromosikan pemahaman lintas budaya.
4. Diharapkan untuk peneliti selanjut agar lebih detail untuk
meneliti bagaimana komunikasi organisasi yang ada di dalam
UKM Olahraga ini.

79
Daftar Pustaka
Alex Sobur, Ensiklopedia Komunikasi, Jakarta: Simbiosa Rekatama,
2006.

Beni Ahmad Saeban, Metode Penelitian, Bandung, CV Pustaka Setia,


2008.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Jakarta: Balai Pustaka, 1996.
Desiderdia, dkk, Komunikasi Antarbudaya, Jakarta: Universitas Terbuka,
2011.
Effendy, Uchjana, Onong, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2013.
Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 1998.
Haryanto, Sindung, Dunia Simbol Orang Lombok. Yogyakarta: Kepel
Press, 2013.
Hutauruk, Gunawan. manajemen 2. jakarta: Erlangga, 1989.
Iskandar, Metodelogi Penelitian dan Sosial, Jakarta: Refrensi 2013.
James Black A, Metode dan Masalah Penelitian Sosial, Bandung: PT Refika
Aditama, 1999.
Liliweri, Alo, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.
Littlejohn, Stephen W & Karen A. Foss, Theories Of Human
Communication, 9thed. Terj. Mohammad Yusuf Hamdan, Jakarta
Selatan: Salemba Humanika, 2008.
Marhaeni Fajar, Ilmu Komunikasi Teori & Praktik, Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2009.
Maryati, Kun dan Juju Suryawati, Sosiologi dan Antropologi untuk
SMA/MA Kelas X Kurikulum 2013, Jakarta: Penerbit Erlangga,
2013.

80
Maryati, Kun dan Juju Suryawati, Sosiologi Kelompok Peminatan Ilmu-
ilmu Sosial untuk SMA/MA Kelas XI Kurikulum 2013, Jakarta:
Penerbit Erlangga, 2014.
Moleong, J Lexy, Metodelogi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja
Rosdankarya, 2009.
Muhammad Arni, Komunikasi Organisasi,
Jakarta: Bumi Aksara, 2004.
Mulyana, Deddy, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: PT.
Remaja Rosdankarya, 2010.
Mulyana, Dedy, Pengantar Komunikasi Lintas Budaya Menerobos Era
Digital Dengan Sukses, Bandung: PT Remaja Rosdankarya, 2019.
Mulyana, Deddy, Komunikasi Lintar Budaya: Pemikiran, Perjalanan, dan
Khayalan, Bandung: Remaja Rosdankarya, 2010.
Mulyana, Deddy & Jalaludin Rakhmat, Komunikasi Antarbudaya,
Bandung: PT Remaja Rosdankarya, 2010.
Neuman, W. L, Basic of social research: Qualitative and quantitative
approach. Boston, United State of America: Pearson Education, 2007.
Onong Uchjana Effendy, Dinamika Komunikasi, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1993.
Onong Uchjana Efendy, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung:
PT. Citra Aditya Bakti, 2003.
Rizak, Mochamad, Pola komunikasi antarbudaya antara masyarakat Syiah
Nuruts Tsaqolain dan masyarakat Sunni Semarang, Master thesis,
UIN Walisongo Semarang, 2018.
Ruldiana, Poppy dan Puji Lestari, Teori Komunikasi, Depok: PT
RajaGrafindo Persada, 2019.
Sarwono, Sarlito W, Psikologi Lintas Budaya. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2014.
Shoelhi, Mohammad, Komunikasi Lintas Budaya dalam Dinamika.
Komunikasi Internasional, Bandung: Simbiosa Rekatama Media,
2015.

81
Silalahi, Ulber, Metodelogi Penelitian Sosial, Bandung: PT Refika
Aditama, 2012.
Suranto, Komunikasi Sosial Budaya. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010.
Sugiyono, Metodelogi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung:
Alfabeta, 2012.
Wiryanto, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Gramedia, 2004.
Hadiono. Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning Untuk
Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII-D SMPN
2 Kamal Materi Cahaya. Jurnal Pena Sains, Universitas Trunojoyo
Madura Bangkalan, Vol. 3, No. 2, 2016.
[Link] diakses pada 9 desember 2023 jam 10.32
htpps://[Link]/arti-381954-tinjauan diakses 10 desember 2023
jam 13:30
[Link]
634d5/k emajemukan-Indonesia diakses 15 desember 2023 jam 15:08
[Link]
penduduk- Indonesia-2020?page=all diakses 20 desember 2023 jam 12:04
[Link]
79f4a3 [Link] diakses 23 desember 2023 jam 23:45
[Link]
79f4a3 [Link] diakses 23 Juli 2023 jam 23:55
[Link]
penduduk-nusa-tenggara-barat-menurut-kabupaten-kota-dan-jenis-
[Link] diakses pada 25 desember 2023 jam 12.01
David, Mataram: 14 Desember 2023.
Irfani, Mataram: 14 Desember 2023
Melika, Mataram: 14 Desember 2023

Dias, Mataram: 10 Desember 2023


Sri, Mataram: 14 Desember 2023

82
Tengku, Mataram: 9 Desember 2023

Dimas, Mataram: 9 Desember 2023

83
LAMPIRAN 1
Bagan Pertanyaan Mahasiswa
1. Draft pertanyaan untuk mahasiswa asal Lombok Universitas
Islam Negeri Mataram di UKM Olahraga

NO PERTANYAAN KEYWORDS
1. Siapa nama anda ? Nama informan
2. Berapa usia anda ? Usia informan
3. Dimana anda tinggal ? Alamat informan
4. Tempat tinggal sekarang Tempat tinggal informan saat ini
dimana ?
5. Mahasiswa prodi apa - Prodi yang diambil
anda ? - Semester berapa

6. Mengapa anda memilih Alasan informan memilih stay di


Stay di daerah anda? daerah asal dari pada mernatau
7. Menurut anda bagaimana Informan medeskripsikan bagaimana
daerah asal anda ? daerah asalnya
8. Bagaimana anda tahu informan menjelaskan bagaimana
tentang UIN mataram? akhirnya tahu tentang UIN mataram
9. Bagaimana anda tahu Informan menejlaskan bagaimana
tentang UKM olahraga di akhirnya tahu tentang UKM olahraga
UIN mataram? yang ada di UIN mataram
10. Apa yang membuat anda Alasan yang membuat informan
tertarik dengan tertarik melanjutkan Pendidikan di
melanjutkan Pendidikan UIN mataram
di UIN mataram?
11. apa yang membuat anda alasan yang membuat informan
tertarik untuk masuk ke tertarik untuk masuk ke UKM
ukm olahraga uin olahraga di UIN mataram
mataram ?
12. selain belajar, tujuan apa Jika ada alasan lain selain belajar,
yang akan anda capai jelaskan alasan apa yang mendukung
dengan berkuliah di uin informan melanjutkan pendidikan di
mataram ? UIN mataram

85
13. Apa kesan anda setelah - Kesan terhadap lingkungan
menjadi mahasiswa di uin kampus
mataram? - Kesan terhadap dosen dan
teman-teman mahaiswa
- Kesan terhadap instansi?

14. Apakah anda memiliki - Teman kuliah


teman dekat asli dari - Teman kosan
daerah sumbawa, bima, - Teman dekat
dompu ?
15. Apa yang anda sukai dari - Jelaskan bagaimana
UIN mataram dan UKM masyarakatnya
olahraga? - - Jelaskan Bagaimana
budayanya

16. apa yang anda tidak sukai - jelaskan hal yang tidak
dari uin mataram dan disukai dilihat dari
ukm olahraga ? mahasiswanya
- jelaskan hal yang tidak
disukai dilihat dari
budayanya

17. berapa lama waktu yang - dan berapa lama waktu


anda butuhkan untuk untuk anda beradaptasi di
beradaptasi di uin ukm olahraga
mataram ?
- sebutkan dengan waktu
perkiraan saja

18. apakah anda merasa aman - jelaskan perasaan yang


menjadi mahasiswa di uin membuat anda merasa
mataram ? nyaman
- jelaskan perasaan yang
membuat and merasa tidak
nyaman

19. bagaimana proses - jelaskan kelancaran


komunikasi selama anda komunikasi dengan

86
berinteraksi dengan mahsiswa dari sumbawa,
mahasiswa lainnya ? bima, dompu
- jelaskan jika ada hambatan
dengan mahasiswa dari
sumbawa, bima, dompu

20. seberapa intens anda - setiap hari kah ?


melakukan interkasi - atau hanya saat ada
dengan mahasiswa dari kepentingan saja
sumbawa, bima, dompu ?
21. selain di kampus apakah - jika anda keluar apakah
anda juga keluar bersama anda memilih tempat yang
teman teman untuk sepi atau yang ramai
nongkrong, dll ?
- jelaskan alasannya

22. bentuk komunikasi - verbal - secara langsung


seperti apa yang membuat - non verbal - secara tidak
anda nyaman saat langsung seperti chatingan
berinteraksi dengan
atau telponan
temen temen dari
sumbawa, bima, dompu ? - menurut anda mana yang
lebih efektif dalam
komunikasinya

23. pernah ada kesalah menceritakan kesalahpahaman yang


pahaman dalam pernah di alami dengan mahasiswa
berinteraksi yang anda sumbawa, bima, dompu
lakukan ?
24. apakah anda mengikuti sebutkan kegiatannya apa saja dan
kegiatan selain di ukm sebutkan jika itu organisasi selain
olahraga ? ukm olahraga
25. apakah ada perbedaan jelaskan perbedaan antara
perlakuan yang dirasakan lingkungan kampus dan ukm
saat di lingkungan olahraga
kampus dan di ukm
olahraga ?
26. hambatan apa yang anda menceritakan hambatan apa saja
rasakan saat melakukan yang pernah dirasakan
komunikasi dengan

87
mahasiswa dari sumbawa,
bima, dompu ?
27. apakah teman teman ukm jelaskan bantuan seperti apa yang
olahraga pernah pernah di terima
membantu anda ?
28. pernahkah anda jelaskan dan ceritakan pengalaman
mengalami rasisme atau rasisme atau diskriminasi yang
diskriminasi di pernah di alami
lingkungan kampus
ataupun ukm olahraga ?
29. pernahkah ada yang bagaiman perasaan jika pernah di
berbicara atau perlakukan seperti itu
memperlakukan anda
secara kasar verbal
ataupun fisik ?
30. apakah harapan anda saran dan masukan untuk mahasiswa
kepada mahasiswa sumbawa, bima, dompu
sumbawa, bima, dompu
untuk kedapannya ?

2. Draft pertanyaan untuk mahasiswa asal Sumbawa, Bima,


Dompu Universitas Islam Negeri Mataram di UKM Olahraga

NO PERTANYAAN KEYWORDS
1. Siapa nama anda ? Nama Informan
2. Berapa usia anda ? Usia informan
3. Darimana anda berasal Asal daerah informan
?
4. Tempat tinggal sekarang Ngekos, rumah, atau tinggal dengan
dimana ? keluarga
5. Mahasiswa prodi apaanda - Prodi yang diambil di
? Uiversitaspancasakti Lombok
- Semester berapa
6. Sejak kapan anda - Berapa lama merantau
merantau ? - Jelaskan pengalaman daerah

88
yang sudahpernah disinggahi
7. Apa alasan anda memilih - Jelaskan alasan merantau
merantau ? seperti melanjutkan pendidikan
mencari pekerjaan, ikut
saudara, dll
8. Apa tujuan anda memilih - Jelasakan alasan memilih
merantau ? merantau
9. Mengapa anda tidak - Menjelaskan alasannya
memilih stay di daerah memilih merantau
asal anda ? Menjelaskan perbedaan jika
tetap stay di daerah asal
dengan merantau ke daerah
lain
- Apa yang di dapatkan
ketika andamerantau
- Apa yang tidak di
dapatkan ketika merantau
10. Menurut anda bagaimana Informan medeskripsikan bagaimana
daerah asal anda ? daerah asalnya
11. Bagaimana anda tau Mejelaskan bagaimana akhirnya
tentang UIN mataram mengetahui UIN mataram
12. bagaimana anda tahu Mejelaskan bagaimana akhirnya
tentang ukm olahtaga uin mengetahui UKM olahraga
mataram?
13. Apa yang memebuat Alasan yang membuat informan tertarik
anda tertarik melanjutkan masukUIN mataram
pendidikan di UIN
mataram
14. apa yang membuat anda Alasan yang membuat informan tertarik
tertarik untuk masuk ke masuk UKM olahraga
ukm olahraga uin
mataram ?
15. Selain belajar, tujuan apa Jika ada alasan lain selain belajar,
yang akan anda capai jelaskan alasan apa yang mendukung

89
dengan berkuliah di UIN informan melanjutkan pendidikan di
mataram UIN mataram
16. Apa kesan pertama anda - Kesan terhadap lingkungan
setelah menjadi kampus
mahasiswa UIN mataram?
- Kesan terhadap dosen dan
teman-temanmahaiswa
- Kesan terhadap instansi?
17. Apakah anda memiliki - Teman kuliah
teman dekat asli dari
- Teman kosan
Lombok ?
- Teman dekat
18. Apa yang anda sukai - Jelaskan bagaimana
UIN mataram dan UKM mahasiswanya?
olahraga? - Jelaskan Bagaimana
budayanya ?
19. Apa yang tidak anda - Jelaskan hal yang tidak
sukai dari UIN mataram disukai informan
dan UKM olahraga? - dilihat dari mahasiswanya dan
budayanya
20. Berapa lamanya waktu - Informan manyebutkan
yang anda butuhkanunruk berapa waktu lamanya
beradaptasi di UIN beradaptasi
mataram? - dan berapa lama waktu untuk
anda beradaptasi di ukm
olahraga ?
- sebutkan dengan waktu
perkiraan saja ?
21. Sudahkah ada merasa - Jelaskan perasaan yang
aman menjadi mahasiswa membuat informan merasa
rantau di UIN mataram? aman
- Jelaskan perasaan yang
membuat informan tidak aman
22. Bagaimana proses Jelaskan kelancaran komunikasi
Komunikasi selama anda denganmahasiswa lombok atau justru
berinteraksi dengan mengalami hambatan
90
mahasiswa lainnya ?
23. Seberapa intents anda - Setiap hari kah ?
melakukan interaksi - Atau hanya saat ada
dengan mahasiswa kepentingan saja
Dari Lombok?
24. Selain dikampus, apakah - Jika hangout anda
anda juga hangout memilih tempat yang
bersama teman anda ramai atau tempat yang
seperti nongkrong dll ? lebih sepi?
- Jelaskan alasannya
25. Bentuk komunikasiseperti - Verbal (interaksi secara
apa yang membuat anda langsung)
nyaman saat berinteraksi
-
Non verbal ( interaksi
dengan teman-teman dari
tidak langsung melaui
Lombok?
media seperti chatting dan
telefon )
- Menurut informan mana
yang lebih efektif dalam
berkomunikasi
26. Pernah ada Menceritakan kesalahpahaman apa
kesalahpahaman dalam yangpernah di alami dengan mahasiswa
interaksi yang anda lombok
lakukan ?
27. Apakah anda mengikuti sebutkan kegiatannya apa saja dan
kegiatan selain di UKM sebutkan jika itu organisasi selain ukm
olahraga olahraga ?
28. apakah ada perbedaan jelaskan perbedaan antara lingkungan
perlakuan yang dirasakan kampus dan ukm olahraga
saat di lingkungan
kampus dan di ukm
olahraga ?
29. Hambatan apa yang anda Menceritakan hambatan apa saja yang
rasakan saat melakukan pernah di rasakan
komunikasi dengan

91
mahasiswa
Dari lombok ?
30. apakah teman teman ukm jelaskan bantuan seperti apa yang
olahraga pernah pernah diterima
membantu anda ?
31. pernahkah anda - Jelaskan pengalaman
mengalami rasisme atau informan saat mengalami
diskriminasi di rasisme di lingkungan kampus
lingkungan kampus - Menceritakan pengalaman
ataupun ukm olahraga ? tentang deskriminasi
Pernha ada yang Menceritakan pengalam yang pernah
32. berbicara atau dialami oleh informan Bagaimana
memperlakukan anda perasaan informan atasperlakuan seperti
secara kasar secara itu
verbal maupun fisik ?
33. apakah harapan anda Informan mengungkapkan harpannya
kepada mahasiswa terhadap pengakuan keberasaanya di
lombok untuk lingkungan kampus
kedapannya ?

92
LAMPIRAN 2

Foto Wawancara Informan

a. Wawancara Irfani

b. Wawancara David

93
c. Wawancara Melika

d. Wawancara Dias

94
e. Wawancara Sri

f. Wawancara Tengku

g. Wawancara Dimas

95
h. Wawancara Gunawan

i. Wawancara Sulistiamikasari

96
97
98
99
100
101

Anda mungkin juga menyukai