0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan6 halaman

15 Contoh Cerpen Singkat Menarik

Dokumen ini membahas tentang cerpen, menjelaskan pengertian, jenis-jenis, dan memberikan contoh cerpen singkat yang menarik. Cerpen adalah prosa pendek dengan konflik tunggal yang tidak lebih dari 10.000 kata. Terdapat tiga jenis cerpen yaitu cerpen pendek, sedang, dan panjang, serta contoh cerpen berjudul 'Hutan Merah' karya Fauzia yang menggambarkan situasi darurat di hutan.

Diunggah oleh

ningsihdopo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan6 halaman

15 Contoh Cerpen Singkat Menarik

Dokumen ini membahas tentang cerpen, menjelaskan pengertian, jenis-jenis, dan memberikan contoh cerpen singkat yang menarik. Cerpen adalah prosa pendek dengan konflik tunggal yang tidak lebih dari 10.000 kata. Terdapat tiga jenis cerpen yaitu cerpen pendek, sedang, dan panjang, serta contoh cerpen berjudul 'Hutan Merah' karya Fauzia yang menggambarkan situasi darurat di hutan.

Diunggah oleh

ningsihdopo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

 Latihan Soal

 Pojok Kampus
 Brainies Bertanya
 Counselling & Parenting
 What's New in BA

Search for:

Brainies Bertanya Materi Belajar Pojok Sekolah

15 Contoh Cerpen Singkat berbagai Tema


yang Seru Dibaca
Fauzia Astuti

May 21, 2024 • 33 minutes read


Cerpen merupakan prosa pendek yang terdiri tidak lebih dari 10.000 kata, dan hanya
memiliki konflik tunggal. Ada beberapa contoh cerpen yang bisa kamu jadikan bahan
belajar. Yuk simak!

Waktu sekolah dulu, jujur aja aku suka banget sama pelajaran Bahasa Indonesia. Apalagi
kalau udah disuruh menulis dan membaca cerpen. Ibaratnya, mengarang cerpen itu sama saja
dengan menerapkan seluruh ilmu yang kamu pelajari di pelajaran Bahasa Indonesia. Seperti
contohnya, tanda baca, berbagai imbuhan, ataupun penerapan jenis-jenis teks.

Nah, bagi kamu yang juga suka membaca cerpen, yuk lihat beberapa contoh cerpen singkat
dari berbagai macam tema yang seru dan menarik berikut ini.

Pengertian Cerpen
Jadi … cerpen itu apa, sih? Cerpen itu singkatan dari “cerita pendek”. Seperti namanya,
cerpen adalah bentuk prosa fiksi singkat yang memiliki konflik tunggal. Kalau mau
gampangnya, sih, cerpen itu cerita fiksi yang sekali habis, mulai dari pengenalan tokoh,
konflik, sampai penyelesaian. Panjang cerpen juga nggak boleh lebih dari 10.000 kata, loh.

Jenis-Jenis Cerpen
Cerpen sendiri memiliki tiga jenis, yaitu:

1. Cerpen Pendek

Loh, kan cerpen itu udah “pendek”, apa ada yang lebih pendek? Hehe, seperti namanya,
cerpen pendek hanya terdiri dari 500 – 700 kata. Bahkan, terkadang ada juga yang
menyebutnya dengan ficlet.

2. Cerpen Sedang

Cerpen sedang adalah cerita yang memiliki panjang 700 – 1000 kata.

3. Cerpen Panjang

Cerpen ini tersusun lebih dari 1000 kata. Bahkan ada yang sampai mencapai 5000 – 10.000
kata.

Baca juga: Memahami Ciri-ciri, Struktur, dan Contoh Cerita Pendek


Psst, udah tau belum kalau di Aplikasi belajar Ruangguru, ada fitur Drill Soal? Aplikasi ini
berisi kumpulan contoh soal latihan beserta pembahasannya, loh. Pas banget buat kamu
mempersiapkan ujian. Langsung aja cobain dengan klik banner di bawah ini!

Contoh Cerpen
Supaya lebih paham, ada beberapa contoh cerita pendek yang bisa kamu jadikan acuan dalam
belajar. Yuk, disimak!

1. Contoh Cerpen berjudul Hutan Merah karya Fauzia. A

Matahari bersinar terik di Lampung. Sinarnya terhalang rimbunnya pepohonan, sehingga


hanya menyisakan berkas tipis. Burung-burung berkicau seolah sedang menyanyikan lagu
untuk alam. Bunyi riak jernih sungai beradu dengan batu kali berpadu dengan sahutan dari
beberapa penghuni hutan yang lainnya. Ya, inilah tempat tinggal Bora, si anak gajah
Lampung yang sekarang tengah asyik bermain bersama teman-temannya di sebuah sungai.

Ketika Bora menyemprotkan air ke arah Dodo—anak gajah lainnya—dengan belalainya,


ia pun memekik nyaring. Sampai akhirnya, kegembiraan mereka terpecah oleh bunyi bising
dari sebelah utara hutan. Bunyi bising itu bercampur dengan deru sesuatu yang sama sekali
tidak Bora kenal.
“Hei, lihat itu!”

Semua serentak menghentikan kegiatan mereka dan menengok ke langit yang ditunjuk
Dodo. Asap hitam tebal yang membumbung tinggi dari sana. Asap itu semakin tebal dan
terus menebal. Itu merupakan fenomena aneh yang baru pertama kali mereka saksikan.
Selama ini yang mereka tahu, langit selalu berwarna biru cerah dengan awan putih berarakan.

Keheningan hutan itu kemudian pecah saat Teo tiba-tiba saja datang sambil memekik
nyaring, “Hutan terbakar! Hutan terbakar!”

Semua ikut memekik ketakutan. Hutan terbakar! Tempat tinggal mereka terbakar!

“Bora! Apa yang kau lakukan!? Cepat pergi!” Pipin berteriak sambil menarik belalai
Bora dengan belalainya..

Suasana hutan yang tadinya damai tenteram, seketika menjadi neraka bagi semua hewan.
Asap hitam pekat yang mulai menyelimuti seluruh hutan ini. Suhu udara mulai panas,
membuat para hewan makin berteriak nyaring.

Bora panik bukan main. Sambil mengikuti langkah Pipin, matanya bergerak ke sana-ke
mari, mencari sosok ibunya.

“Pipin! Di mana ibuku?” tanya Bora.

“I-ibu … ibumu ….” Pipin tidak bisa menjawab karena sama-sama tidak tahu di mana
ibu Bora berada.

“Aku harus kembali ke sarang!” Bora melepaskan belalainya dari belalai Pipin, lalu
berbalik untuk kembali ke sarangnya.

Namun, sebelum Bora melancarkan niatnya itu, Pipin sudah menarik kembali belalainya.
“Ibumu pasti sudah berada di depan. Bersama gajah dewasa lainnya.”

Bora menghiraukan ucapan Pipin, lalu kembali meloloskan belalainya dan berlari sekuat
mungkin menuju sarangnya.

“Bora!” Pipin berteriak di belakangnya.

Bora sampai di dekat sarangnya berada dengan napas terengah. Ia langsung


membelalakkan mata begitu melihat sosok ibunya sedang bersusah payah keluar dari sarang.
Api sudah menjalar di setiap pohon di dekat sarangnya itu.

“Ibu!” teriak Bora sekuat tenaga.

“Sedang apa kamu?! Cepat pergi dari sini!” teriak ibu Bora sambil menggerakkan
belalainya, menyuruh Bora menjauh dari tempat ini.

“Tidak! Aku tidak mau!” balas Bora keras kepala. Kenapa ibunya masih bisa berkata
seperti itu? Padahal jelas-jelas ia dalam keadaan terjebak api?
“Cepat pergi, Bora!”

“Bora! Ayo pergi!” Tiba-tiba saja Pipin datang ke tempatnya dan langsung menarik
belalai Bora.

“Tidak mau!” Bora menyentak belalai Pipin keras. “Ibu! Aku akan menyelamatkanmu!”

“Jangan, Bora!” bentak Pipin

Kraaak! Braaak!

“IBU!! IBU!!” Bora terus meraung memanggil ibunya. Pohon yang sedang terbakar itu
jatuh dan kemudian menimpa tubuh payah ibu Bora.

“Ayo, Bora, kita harus pergi,” lirih Pipin sambil menarik Bora.

Sekali lagi Bora menoleh ke belakang saat dirinya sudah cukup jauh dari sarangnya.
Tidak ada lagi hutan hijau dengan tumbuhan rindang di sekitarnya. Hutan hijau yang selalu ia
kagumi sudah berubah menjadi hutan merah yang sangat panas.

Anda mungkin juga menyukai